TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena
tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tertier, dan
kuarter. Akar primer tumbuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan
air tanah.Akar sekunder, tertier, dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air
tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang
banyak mengandung zat hara. Di samping itu, tumbuh pula akar nafas yang
muncul di atas permukaan atau di dalam air tanah. Penyebaran akar terkonsentrasi
pada tanah lapisan atas. Dengan perakaran kuat tersebut, jarang ditemukan pohon
kelapa sawit yang tumbang (Wardiana dan Zainal, 2003).
Kelapa sawit termasuk tanaman monokotil maka batangnya tidak
mempunyai kambium dan pada umumnya tidak bercabang. Batang berbentuk
silinder dengan diameter antara 20-75 cm atau tergantung pada keadaan
lingkungan.Kelapa sawit mempunyai pertumbuhan terminal, yang mula-mula
terjadi ialah pembesaran batang tanpa diikuti pertambahan tinggi (Mansjur, 1980).
Pertumbuhan meninggi dimulai setelah tanaman berumur 4 tahun, dengan
kecepatan pertumbuhan (pertambahan tinggi) sekitar 25-40 cm per tahun (Marni,
2009).
Daun dibentuk di dekat titik tumbuh. Setiap bulan biasanya akan tumbuh
dua lembar daun. Pertumbuhan daun awal dan daun berikutnya akan membentuk
sudut 135 0
(Sastrosayono, 2006). Daun-daun tersebut akan membentuk suatu
muda belum membuka dan tegak berdiri. Pada tanah-tanah yang subur daun
akancepat membuka yang berarti makin efektif menjalankan fungsinya sebagai
pusat proses assimilasi, berlangsungnya fotosintesa dan alat respirasi (Mansjur,
1980). Untuk tanaman yang tumbuh normal terdapat 45 sampai 55 pelepah daun.
Kedudukan daun pada batang dirumuskan dengan rumus daun (phylotaxis) 3/8,
pada setiap 3 putaran terdapat 8 daun. Letak daun kesembilan berada di garis lurus
dari daun yang pertama (Sastrosayono, 2006).
Tanaman kelapa sawit dilapangan mulai berbunga pada umur 12-14
bulan, sebagian dari tandan bunga akan gugur (aborsi) sebelum atau sesudah
antesis. Tanaman kelapa sawit termasuk dalam tumbuhan berumah satu
(monocous) artinya karangan bunga jantan dan betina terdapat dalam satu pohon,
tetapi tempatnya berbeda. Karngan bunga jantan dan betina pada satu pohon tidak
matang bersamaan, sehingga bungan betina pada pohon diserbuki oleh serbuk sari
pohon lain (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005)
Tandan bunga terletak pada ketiak daun, mulai muncul setelah tanaman
berumur satu tahun di lapangan. Karena pada setiap ketiak daun terdapat potensi
untuk menghasilkan bakal bunga, maka semua faktor yang mempengaruhi
pembentukan daun juga akan mempengaruhi potensi bakal bunga serta dapat juga
mempengaruhi perkembangan bunga. Bakal bunga terbentuk sekitar 33-34 bulan
sebelum bunga mekar (anthesis), sedangkan pemisahan bunga jantan dan betina
terjadi sekitar 14 bulan sebelum antesis (Siregar, 2003).
Kira-kira lima bulan setelah terjadinya penyerbukan, buah menjadi masak.
Tiap buah panjangnya 2-5 cm dan beratnya dapat melebihi 30 gram.
banyak mengandung minyak, cangkang (tempurung, shell, endocarp), dan inti
(kernel, endosperm), mengandung minyak seperti minyak kelapa. Exocarp dan
mesocarp sering juga disebut sebagai pericarp yaitu bagian buah yang
mengandung sebagian besar minyak kelapa sawit. Rendemen minyak dalam
pericarp sekitar 24%, sedangkan dalam inti hanya sekitar 4%. Kualitas minyak
inti lebih baik daripada minyak yang terkandung dalam pericarp (Marni, 2009)
Iklim
Pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh faktor luar
maupun dalam tanaman kelapa sawit itu sendiri. Faktor luar adalah lingkungan
antara lain iklim dan tanah dan teknik budidaya yang dipakai. Faktor-faktor iklim
yang terpenting adalah curah hujan, suhu udara, kelembaban udara dan radiasi
sinar matahari. Disamping itu factor lain seperti tinggi tempat dari permukaan laut
(elevasi) dan jarak dari khatulistiwa (latitude dinyatakan dalam derajat LU atau
LS). Curah hujan sekitar 2000 mm/tahun yang terbagi merata sepanjang tahun.
Rata-rata suhu maksimum antara 29-32oc dan rata-rata suhu minimum antara
22-24oc. Penyinaran sekurang-kurangnya 5 jam/hari (Mangoensoekarjo dan
Semangun, 2005).
Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawitantara 5-7
jam/hari. Tanaman ini memerlukan curah hujantahunan 1.500-4.000 mm,
temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal untuk sawit antara
1-500 m dpl (di atas permukaan laut). Kelembaban optimum yang idealuntuk
tanaman sawit sekitar 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu
Tanah
Tanah merupakan media tumbuh tanaman yang sangat dipengaruhi sifat fisik
dan kimia tanah. Kelapa sawit merupakan tanaman yang dapat dibudidayakan
dengan baik di tanah mineral maupun di tanah gambut. Dengan demikian,
spektrum jenis tanah yang sesuai untuk kelapa sawit cukup lebar dan dapat
mencakup beragam jenis tanah. Berbagai jenis tanah mineral di Indonesia cukup
sesuai seperti Ultisol, Inceptisol, Entisol, Andisol, maupun Oxisol. Karakteristik
tanah yang digunakan meliputi batuan di permukaan tanah, kedalaman efektif
tanah, tekstur tanah, kondisi drainase tanah, dan tingkat kemasaman tanah (pH).
Tanah yang baik bagi tanaman kelapa sawit adalah tanah lempung berdebu,
lempung liat berdebu, lempung berliat dan lempung liat berpasir. Kedalaman
efektif tanah yang baik adalah jika lebih dalam dari 100 cm. Kemasaman (pH)
tanah yang optimal adalah pada pH 5-6 dan pH 3,5-4 pada lahan gambut. Sifat
kimia tanah seperti kemasaman (pH) dapat diatasi melalui pemupukan dolomite,
kapur pertanian (kaptan) dan fosfat alam (rock phosphate). Sifat fisik dan biologi
tanah dapat diperbaiki dengan penggunaan bahan organik (PPKS,2006).
Secara umum unsur kemampuan lahan yang optimal untuk kelapa sawit harus
mengacu pada tiga faktor yaitu lingkungan, sifat fisik lahan dan sifat kimia tanah
atau kesuburan tanah. Sebagian besar dari lahan-lahan yang dipakai untuk usaha
tani kelapa sawit termasuk jenis tanah adalah Latosol (orisol), alluvial dan laterit
(ultisol). Sedangkan Purba dan Lubis mencatat tujuh jenis tanah yang dapat
andosol, alluvial, latosol, padsolik merah kuning dan padsolik coklat
(Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).
Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada tanah yang memiliki kandungan
unsur hara yang tinggi, dengan C/N mendekati 10 di mana C 1,0% dan N 0,1%.
Daya tukar Mg dan K berada pada batas normal, yaitu untuk Mg 0,4 -1,0 me/100
g, sedangkan K 0,15-1,20 me/100 g. Namun, faktor pengelolaan budi daya atau
teknis agronomis dan sifat genetis tanaman juga sangat menentukan produktivitas
kelapa sawit (Wardiana dan Zainal, 2003).
Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai tanaman
kelapa sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. “Drainase yang jelek
bisa menghambat kelancaran penyerapan unsur hara dan proses nitrifikasi akan
terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan unsur nitrogen (N). Karena itu,
drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa sawit harus baik dan
lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang (Sunarko, 2008).
Kelapa Sawit Menghasilkan
Suatu areal pertanaman dikategorikan menjadi areal tanaman
menghasilkan jika pada areal tersebut 60% dari jumlah pohon yang ditanam telah
mencapai matang panen, berat rata-rata tandan >3 kg, dan buahnya telah
membrondol secara alamiah menurut kriteria yang berlaku (Standar Prosedur
Operasi tanaman kelapa sawit PTPN IV persero, 2007)
Pada umumnya kelapa sawit tumbuh rata-rata 20 – 25 tahun. Pada 3 tahun
pertama disebut sebagai kelapa sawit muda, karena pada umur tersebut pohon
kelapa sawit belum menghasilkan buah. Pohon kelapa sawit akan mulai berbuah
periode matang (the mature periode) di mana pada saat itu tanaman mulai
menghasilkan tandan buah segar (fresh
pohon kelapa sawit akan mengalami penurunan produksi, dan biasanya pada usia
20 – 25 tahun tanaman kelapa sawit akan mati (Fauzi et al., 2002).
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Limbah padat kelapa sawit terdiri dari tandan buah kosong, serat, cangkang
biji, batang pohon dan pelepah daun. Tandan kosong kelapa sawit(TKKS)
merupakan limbah yang dihasilkan sebanyak 23 % dari tandan buah segar (TBS)
(Darnoko dan Sembiring, 2005).
TKKS adalah limbah padat yang terbuang dari proses penebahan setelah
tandan rebus dipisahkan dari buahnya, banyaknya lebih kurang 25 % dari TBS
(Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005). Ketersedian TKKS cukup besar sejalan
dengan peningkatan jumlah dan kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS) untuk
menyerap TBS yang dihasilkan (Tobing, 2003).
Salah satu potensi TKKS yang cukup besar adalah sebagai bahan pembenah
tanah dan sumber hara bagi tanaman.Potensi ini didasarkan pada materi TKKS
yang merupakan bahan organik dengan kandungan hara yang cukup tinggi.
Tandan kosong sawit mengandung 42,8 % C, 2,90 % K2O, 0,80 % N, 0,22 %
P2O5, 0,30 % MgO dan unsur-unsur mikro antara lain 10 ppm B, 23 ppm Cu, dan
51 ppm Zn (Singh et al., 1990). Pemanfaatan TKS sebahai bahan pembenah tanah
dapat dilakukan dengan cara aplikasi langsung sebaagai mulsa dan kompos TKS
(Tobing, 2003).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PPKS (2006), Pabrik Minyak
sebagai pupuk organik bagi tanaman kelapa sawit. Tandan Kosong Kelapa Sawit
(TKKS) merupakan bahan organik yang mengandung ; 42,8 % C, 2,90 % K2O,
0,80% N, 0,22% P2O5, 0,30% MgO dan unsur-unsur mikro antara lain 10 ppm B,
23 ppm Cu dan 51 ppm Zn. Dalam setiap 1 ton Tandan Kosong sawit
mengandung unsur hara yang setara dengan 3 Kg Urea, 0,6 kg RP, 12 kg MOP
dan 2 kg kiserit
Sarah,et al (2008) menyatakan TKS merupakan limbah padat yang dihasilkan
dari prosespengolahan tandan buah segar (TBS) dengan jumlah 22-23% TBS
(Darnoko, 1992). Pada tahun 1994 jumlah TKS yang dihasilkan sebanyak 12,4
juta ton (Republic on-line, 2006) dengan asumsi bahwa 1 Ha kebun menghasilkan
20 ton TBS. Menurut Darnoko(Darnoko, 1993 dalam Haryati,et al,2003), TKS
mengandung 45,95% selulosa, 22,84% hemiselulosa, 16,49% lignin, 1,23% abu,
0,53%nitrogen, dan 2,41% minyak. Sedangkan biladitinjau dari segi unsur
penyusunnya, makakomposisi TKS terdiri dari 42,8% C, 2,9% K2O,0,8% N,
0,22% D2O5, 0,3% MgO, 10 ppm B, 23 ppmCu dan 51 ppm Zn. Deptan (2006)
dalam Sarah menyatakan melalui kegiatan mikroorganisme tanah atau proses
mineralisasi, unsur hara yang didapati pada tandan kosong kelapa sawit kembali
ke dalam tanah. Namun unsur hara tersebut tidak seluruhnya dapat diserap oleh
akar tanaman disebabkan terinmobilisasi (digunakan langsung oleh
mikroorganisme tanah untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan organik memberikan
manfaat yang sangat besar. Bahan organik dapat menjadi sumber unsur hara
N,P,K, dan lainnya, meningkatkan KTK tanah,mengurangi jerapan P melalui
memperbaiki agregasi tanah dan lengas tanah, membentuk khelate dengan unsur
hara mikro, etoksifikasi Al dan meningkatkan biodiversitas tanah(Mukhlis, et al,
2010).
Ketersediaan Air dan Kekeringan pada Kelapa Sawit
Balitklimat (2007) dalam Marni (2007) menyatakan bahwa ketersediaan
air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Pada
fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun
tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah.Pada keadaan
yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang
dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif
kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat
terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan,
pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen
minyak buah rendah.
Hasil penelitian Darmosarkoro, Harahap, dan Syamsuddin (2003) dalam
Marni (2009) di Lampung menunjukkan bahwa setiap kelompok umur tanaman
kelapa sawit memiliki respon yang berbeda terhadap kekeringan. Kelompok umur
7–12 tahun merupakan kelompok yang paling rentan penurunan hasilnya terhadap
kekeringan.Pada kelompok tanaman yang relatif tua (>13 tahun), pertumbuhannya
mulai menurun, sehingga dampaknya relatif lebih ringan.Pada tanaman relatif
muda (<7 tahun), pertumbuhan organ vegetatif lebih dominan, sehingga dampak
Konservasi Tanah Dan Air
Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada
cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan
memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi
kerusakan tanah. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang
jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran
sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu
musim kemarau (Arsyad, 2006).
Rorak dapat berfungsi seperti embung mini yang dibuat di antara tanaman
sawit searah dengan kontur. Di dasar rorak juga dibuat lubang resapan dan ke
dalam rorak serta lubang resapan ditambahkan serasah sisa tanaman atau bahan
organik lain yang berfungsi sebagai mulsa vertikal yang akan meningkatkan
efektifitas peresapan dasar dan dindingdinding rorak yang bersangkutan
(Murtilaksono et al, 2007).
Murtilaksono et al (2007) menyatakan Kedalaman rorak lebih efektif dari
pada guludan dalam menunda kekeringan di kebun kelapa sawit di Afdeling III
Unit Usaha Rejosari hingga 3.5 bulan dari pada perlakuan guludan yang hanya 2.5
bulan dari pada tanpa perlakuan konservasi tanah dan air sama sekali
Rorak adalah lubang-lubang buntu dengan ukuran tertentu yang dibuat
pada bidang olah dan sejajar dengan garis kontur. Fungsi rorak adalah untuk
menjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen
dari bidang olah. Pembuatan rorak dapat dikombinasikan dengan mulsa vertikal
cukup beragam. Arsyad (2006) merekomendasikan dimensi rorak : dalam 60 cm,
lebar 50 cm dengan panjang berkisar antara satu meter sampai 5 meter. Jarak ke
samping disarankan agar sama dengan panjang rorak dan diatur penempatannya di
lapangan dilakukan secara berselang-seling agar terdapat penutupan areal yang
merata. Jarak searah lereng berkisar dari 10 sampai 15 meter pada lahan yang
landai (3% - 8%) dan agak miring (8% - 15%), 5 sampai 3 meter untuk lereng
yang miring (15% ± 30%) (Sakiah, 2012).
Penempatan TKKS Pada Rorak
Disamping sebagai konservasi air, rorak juga dapat berfungsi untuk
penyedia bahan organik sehingga menjadi multi fungsi. Dengan pemberian
sisa-sisa tanaman kedalam rorak seperti tandan kosong kelapa sawit rorak dapat
berfungsi untuk penyedia bahan organik tanah, dan dapat mengurangi run off.
Penelitian Hutasoit menunjukkan bahwa penerapan guludan yang
dikombinasikan dengan mulsa vertikal dapat mengurangi runoff hingga hampir
100% (Murtilkasono et al., 2007).
Pembuatan rorak diharapkan akan mampu menahan laju air permukaan
yang jatuh di atas permukaan tanah sehingga proses kerusakan dan kehilangan
lapisan permukaan atas tanah melalui proses run-off akan berkurang. Penempatan
lapisan tandan kosong akan berperan dalam menyerap dan menahan serta
menyimpan air sehingga kelembaban tanah di sekitarnya relatif terjaga. Dari
kondisi ini akan diperoleh manfaat mutualis, yaitu perbaikan kondisi tanah
melalui konservasi air dan tanah serta perbaikan terhadap sistem perakaran
Pemanfaatan TKKS pada tanah Ultisol diharapkan mampu memperbaiki
sifat buruk liat, hasil penelitian Munar (2009) menunjukan bahwa tanpa maupun
dengan kompos TKKS yang diberi bersamaan dengan kotoran ayam pada 100
maupun 50% pupuk standar sangat nyata meningkatkan kadar K total tanah
setelah pertumbuhan vegetatif kedelai, dengan peningkatan sebesar 130 – 405%
dibandingkan dengan tanpa pemberian kompos TKKS dan amandemen pada
100% pupuk standar. Secara umum kombinasi perlakuan kornpos TKKS dengan
atau tanpa amandemen, menghasilkan serapan P yang lebih tinggi pada pemberian
100% pupuk standar dibandingkan dengan 50% pupuk standar, dengan
penyerapan tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos TKS aerob yang diberi
bersamaan dengan kotoran ayam pada 100% pupuk standar.
Tindakan-tindakan konservasi sangat perlu dilakukan untuk menjaga
kesuburan tanah dan kelangsungan usaha perkebunan itu sendiri. Salah satu
tindakan konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan aplikasi bahan
pembenah tanah berupa bahan organik. Kompos TKS merupakan salah satu bahan
organik yang bahan bakunya tersedia cukup banyak pada pengelolaan perkebunan
kelapa sawit. Selain dapat memperbaiki sifat fisik tanah terutama berperan dalam
memperbaiki struktur tanah, kompos TKS juga memiliki kandungan hara yang
dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kompos TKS yang
halus mempunyai kandungan hara C sebesar 35,1%, N 2,34 %, C/N 15 %, P 0,31
%, K 5,53%, Ca 1,46%, dan Mg 0,96 %.Hasil sementara menunjukkan bahwa
aplikasi 80 % pupuk standar + 15 ton kompos TKS/ha cenderung menaikkan
jumlah tandan. Sedangkan perlakuan pupuk standar 90 % + kompos 20 ton/ha
Biopori
Cara membuat lubang resapan biopori adalah dengan menggali tanah
secara vertikal kedalaman 80 cm dan diameter 10 cm dengan mengunakan bor
tanah. Biopori akan dibuat hingga 12 lobang setiap pokok tanaman kelapa sawit.
Pada lobang biopori ditambahkan bahan organik berupa tandan kosong kelapa
sawit yang diharapkan akan mendukung fungsi biopori sebagai teknik konservasi
padatanah. Penambahan bahan organik diharpkan akan menambah
mikrooganisme yang hidup pada biopori dan organisme tersebut akan berperan
dalam pembentukan pori-pori tanah, bertambahnya pori-pori tanah berbanding
lurus dengan meningkatnya laju resapan air ke dalam tanah. Untuk menentukan
berapa jumlah lubang resapan biopori yang perlu dipasang untuk satuan lahan
kedap, maka perlu diketahui berapa laju resapan air pada masing-masing jenis
tanah (Ginting et al, 2011).
Tindakan konservasi tanah dan air bermanfaat untuk meningkatkan
produksi melalui perbaikan-perbaikan lingkungan tumbuh kelapa sawit sehingga
dapat memanfaatkan nutrisi hara yang dibutuhkan dengan efektif. Manajemen
yang baik dari pengelola kebun sangat diperlukan baik dalam pembuatan serta
pemeliharaan bangunan konservasi untuk mendapatkan hasil yang optimal
(Simangunsong, 2011).
Konservasi tanah merupakan penempatan setiap bidang tanah pada cara
penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan
kerusakan tanah. Upaya konservasi tanah ditujukan untuk (1) mencegah erosi, (2)
memperbaiki tanah yang rusak, dan (3) memelihara serta meningkatkan
produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara berkelanjutan. Konservasi
air adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah dan mengatur waktu aliran air
agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim
kemarau (Arsyad, 2006).
Metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu
(1) metode vegetatif, (2) metode mekanik dan (3) metode kimia. Pada perkebunan
kelapa sawit, teknik konservasi yang banyak digunakan adalah metode vegetatif
serta mekanik. Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau bagian-bagian
tanaman atau sisa-sisanya untuk mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh,
mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan yang pada akhirnya
mengurangi erosi tanah (Arsyad, 2006).
Metode mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanik yang diberikan
terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan
erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Termasuk dalam metode
mekanik dalam konservasi tanah dan air adalah pengolahan tanah, guludan, teras,
penghambat (check dam), waduk, rorak, perbaikan drainase dan irigasi
(Arsyad,2006).
Pemeliharaan tanah pada kondisi topografi areal yang bergelombang
mengharuskan dibangunnya bangunan konservasi tanah dan air yang memadai.
Selain bermanfaat sebagai alat konservasi tanah dan air, bangunan ini juga
mempunyai peranan penting dalam kelancaran kegiatan pemeliharaan dan panen
penyebab rusaknya struktur tanah, drainase terhambat dan kurang efektifnya
pemupukan dan perawatan tanaman, tidak terlaksananya panen secara benar, serta
sulitnya pengawasan kebun (Dirattanhun, 2007).
Kerusakan tanah terutama disebabkan oleh erosi permukaan, akibat proses
pemindahan tanah lapisan atas yang kaya akan unsur hara dari suatu tempat yang
lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Hal ini menimbulkan kerugian yang
sangat besar, karena dapat menurunkan produktivitas tanaman. Salah satu upaya
yang dapat dilakukan untuk mencegah erosi adalah dengan konservasi tanah.
Konservasi tanah meliputi konservasi tanah secara fisik, kimia, maupun biologi.
Konservasi tanah secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya
adalah secara mekanis. Tindakan konservasi tanah secara mekanis ini dilakukan di
areal dengan bentuk wilayah berombak sampai berbukit dengan cara pembuatan
teras kontour, teras individu (tapak kuda), rorak, dan parit drainase. Parit drainase
ini berperan untuk mencegah supaya air tidak tergenang di lapangan, menurunkan
permukaan air tanah sehingga perkembangan akar tanaman tidak terganggu, serta
mencegah terjadinya pencucian pupuk (Dirattanhun, 2007).
Konservasi tanah secara biologi yang umum dilakukan adalah dengan
menanaman tanaman penutup tanah (TPT) atau legume cover crops (LCC).
Beberapa manfaat TPT antara lain: menekan pertumbuhan gulma, melindungi
tanah terhadap penyinaran langsung sinar matahari, melindungi tanah dari tetesan
langsung air hujan, mengurangi aliran permukaan dan menjaga kelembaban tanah
(Dirattanhun, 2007).
Piringan cekung adalah bentuk permukaan tanah yang lebih rendah pada
bagian tengah piringan atau daerah batang tanaman kelapa sawit. Pada tanah
mineral pembuatan piringan cekung ini disebutkan dengan istila Big Hole dengan
tujuan untuk pemanenan air dan pada areal peremajaan kelapa sawit dilakukan
dengan tujuan membersikan ganoderma dari tanah sehingga resiko tanaman baru
akan bebas atau lebih rendah tingkat terserang penyakit ganoderma.
Penerapan piringan cekung pada lahan perkebunan atau teknik konservasi air
dan tanah diharapkan jumlah air yang dapat tersimpan atau terserap oleh tanah
akan semakin tinggi dan erosi tanah tidak terjadi sehingga cadangan air pada
tanah akan meningkat.
Penanaman Rumput Yang Toleran Terhadap Naungan
Penanaman rumput dibawah tegakan tanaman utama atau tanaman kelapa
sawit memiliki tujuan untuk meminimalisasi kerusakan tanah seperti pecahnya
agregat tanah akibat butiran air hujan yang jatuh kepermukaan tanah, mengurangi
erosi dengan memperlambat laju aliran air permukaan tanah, akan menambah
bahan organik pada tanah yang dihasilkan oleh rumput yang ditanam dibawah
tegakan kelapa sawit dan akan mengurangi resiko kekeringan pada saat musim
kemarau (Arsyad, 2006).
Penanaman rumput merupakan salahsaru teknik konservasi tanah secara
biologi yang umum dilakukan adalah dengan menanaman tanaman penutup tanah
(TPT) atau legume cover crops (LCC). Beberapa manfaat TPT antara lain:
menekan pertumbuhan gulma, melindungi tanah terhadap penyinaran langsung
sinar matahari, melindungi tanah dari tetesan langsung air hujan, mengurangi
Dengan memahami teknik konservasi dengan metode vegetatif yaitu
penggunaan tanaman atau bagian-bagian tanaman atau sisa-sisanya untuk
mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan
kecepatan aliran permukaan yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah (Arsyad,
2006), sehingga demham demikian pemanfaatan tanaman dibawah tegakan juga
berperan sebagai teknik konservasi secara vegetatif, karna memanfaatkan
bagian-bagian dari rumput yang tumbuh dibawah tegakan sebagai media untuk
konservasi.
Norton et al. (1991) melaporkan bahwa naungan dapat menurunkan
produksi hijauan, tetapi dapat meningkatkan kandungan nitrogen tanaman.
Dikarenakan kondisi lapangan pada tanaman kelapa sawiy yang sudah
menghasilakn memiliki pertajukan saling menutupi sehingga kondisi areal sudah
ternaungi 70%-90% maka dilakukan pemilihan rumput yang toleren tarhadap
naungan. Pada penelitian ini jenis tanaman atau rumpu yang digunakan sebagai
vegetasi dibawah tegakan adalah Stenotaphrum secundatum. Diharapkan rumput
ini mampu bertahan hidup pada kondisi penyinaaran yang minim.
Pemanfaatan tanaman lain dibawah tegakan tanaman kelapa sawit
diharapkan akan memberikan manfaat yang lebih banyak, selain dari fungsi
konservasi juga akan menjadi penyeimbang, seperti persaingan antar gulma akan
berkurang, menjadi tanaman inang terhadap binatang yang berpotensi menjadi