Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Padi
Tanaman padi (Oryza sativa) sebagai sumber utama makanan pokok memegang peranan yang sangat penting dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan. Dalam usaha pertanian padi adalah potensi hasil yang maksimal,
meskipun menggunakan varietas unggul, pemupukan, pengairan dan perbaikan cara bercocok tanam telah diterapkan. Pengenalan terhadap jenis hama dan penyakit yang menyerang merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan dalam usaha pengendalian. Apalagi dengan penggunaan Pupuk Organik Nasa Dan Pestisida Organik Nasa dimana produk ini sudah banyak petani yang telah membuktikannya.Adapun Hama Dan Penyakit pada tanaman padi sebagai berikut :
A. Penggerek Batang / Sundep beluk .
Penggerek batang merupakan hama paling menakutkan pada pertanaman padi, karena sering menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil yang tinggi. Di lapang, kehadiran hama ini ditandai oleh kehadiran ngengat (kupu-kupu) dan kematian tunas padi, kematian malai, dan ulat penggerek batang.
Hama ini merusak tanaman pada semua fase tumbuh, baik pada saat pembibitan, fase anakan, maupun fase berbunga. Bila serangan terjadi pada pembibitan sampai fase anakan, hama ini disebut sundep, dan jika terjadi pada saat berbunga, disebut beluk.
Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang. Oleh karena itu gejala serangan hama ini perlu diwaspadai, terutama pada pertanaman di musim hujan.
Waktu tanam yang tepat, merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang.
Hindari penanaman pada musim Desember-Januari, karena suhu, kelembaban, dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam, sangat sensitif pada hama ini. Tindakan pengendalian harus segera dilakukan, kalau > 10% rumpun memperlihatkan gejala sundep atau beluk.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural BVR dari awal tanam sangat efektif untuk mencegah hama sundep beluk tersebut.Natural BVR yang mengandung jamur
Beuveria bassiana, dengan kandungan 10 pangkat 10 spora per gram nya mampu mencegah sundep beluk dengan tidak mematikan musuh alaminya. Jadi, dengan sekali semprot, maka hama dan penyakit pada padi serta merta tercegah dan terkendali, dengan didukung sertifikasi serta kualitas yang tidak perlu diragukan maka pemakaian NATURAL BVR sangat dianjurkan bagi petani dari awal tanam.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural Glio di awal tanam dengan di campurkan pupuk kandang atau dengan di campurkan Super Nasa.
Pemupukan yang teratur dengan menyeimbangkan unsur makro maupun mikro yang di perlukan tanaman padi.Yaitu dengan pemakaian pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan di campurkan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
B. Wereng Hijau.
Adapun gejala tanaman padi yang terkena serangan Werwng hijau ( WH ) :
WH menyebabkan daun-daun padi berwarna kuning sampai kuning oranye.
Penurunan jumlah anakan, dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek).
Pemupukan unsur nitrogen ( Urea / ZA ) yang tinggi sangat memicu perkembangan WH.
Cara Pengendaliannya :
Dianjurkan menanam varietas tahan tungro seperti Tukad insektisida.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural BVR dari awal tanam sangat efektif untuk mencegah hama sundep beluk tersebut.Natural BVR yang mengandung jamur
Beuveria bassiana, dengan kandungan 10 pangkat 10 spora per gram nya mampu mencegah wereng hijau ( WH ) dengan tidak mematikan musuh alaminya. Jadi, dengan sekali semprot, maka hama dan penyakit pada padi serta merta tercegah dan terkendali, dengan didukung sertifikasi serta kualitas yang tidak perlu diragukan maka pemakaian NATURAL BVR sangat dianjurkan bagi petani dari awal tanam.
C. Walang sangit.
Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Selain sebagai mekanisme mempertahankan diri, bau yang dikeluarkan juga untuk menarik walang sangit lain dari species yang sama. Walang sangat merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa.
Cara Pengendaliannya :
Meratakan lahan dengan baik dan pemupukan yang teratur dengan menyeimbangkan unsur makro maupun mikro yang di perlukan tanaman padi.Yaitu dengan pemakaian pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan di campurkan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural BVR dari awal tanam sangat efektif untuk mencegah hama sundep beluk tersebut.Natural BVR yang mengandung jamur
Beuveria bassiana, dengan kandungan 10 pangkat 10 spora per gram nya mampu mencegah walang sangit dengan tidak mematikan musuh alaminya. Jadi, dengan sekali semprot, maka hama dan penyakit pada padi serta merta tercegah dan
terkendali, dengan didukung sertifikasi serta kualitas yang tidak perlu diragukan maka pemakaian NATURAL BVR sangat dianjurkan bagi petani dari awal tanam.
Menyemprotkan Pestisida Organik Nasa yang berupa Pestona + Aero-810 dengan interval 10 hari sekali.Lakukan dari awal tanam dan diwaktu sore hari.
D. Wereng Coklat (WCK)
Wereng coklat dapat menyebabkan daun berubah kuning oranye sebelum menjadi coklat dan mati. Dalam keadaan populasi wereng tinggi dan varietas yang ditanam rentan wereng coklat, dapat mengakibatkan tanaman seperti terbakar atau “hopperburn“. Wereng coklat juga dapat menularkan penyakit virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput, dua penyakit yang sangat merusak.
Ledakan WCK biasanya terjadi akibat penggunaan pestisida yang tidak tepat, penanaman varietas rentan, pemeliharaan tanaman, terutama pemupukan, yang kurang tepat, dan kondisi lingkungan yang cocok untuk WCK (lembab, panas, dan pengap).
Cara pengendaliannya :
Melakukan pemantauan secara rutin dan terjadwal yang dilakukan dengan cara mengamati areal tanaman padi dalam interval waktu tertentu (misalnya seminggu sekali), sejak awal persemaian, penanaman sampai panen.
Menanam padi varietas unggul tahan hama. Penanaman varietas tahan hama terbukti mampu dan efektif mengurangi serangan wereng coklat.
Melakukan pemusnahan selektif terhadap tanaman padi yang terserang ringan. Artinya memilih tanaman padi yang terserang dengan cara mengambilnya untuk kemudian dibuang/dibakar di tempat lain. Bila terjadi serangan berat, maka perlu dilakukan pemusnahan (eradikasi) total.
Pemupukan yang teratur dengan menyeimbangkan unsur makro maupun mikro yang di perlukan tanaman padi.Yaitu dengan pemakaian pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan di campurkan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural BVR dari awal tanam sangat efektif untuk mencegah hama sundep beluk tersebut.Natural BVR yang mengandung jamur
Beuveria bassiana, dengan kandungan 10 pangkat 10 spora per gram nya mampu mencegah wereng coklat dengan tidak mematikan musuh alaminya. Jadi, dengan sekali semprot, maka hama dan penyakit pada padi serta merta tercegah dan
terkendali, dengan didukung sertifikasi serta kualitas yang tidak perlu diragukan maka pemakaian NATURAL BVR sangat dianjurkan bagi petani dari awal tanam.
Menyemprotkan Pestisida Organik Nasa yang berupa Pestona + Aero-810 dengan interval 10 hari sekali.Lakukan dari awal tanam dan diwaktu sore hari.
E. Hawar Daun Bakteri.
Hawar daun bakteri (HBD) merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil sampai 36 %. Penyakit terjadi pada saat musim hujan atau musim kemarau yang basah, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang, dan dipupuk N tinggi (> 250 kg Urea/ha).
Penyakit HDB menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari (persemaian atau yang baru pindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah keadaan daun
Gejala diawali dengan timbulnya bercak abu-abu (kekuningan) umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya gejala akan meluas, membentuk hawar, dan akhirnya daun mengering. Dalam keadaan lembab (terutama pagi hari), kelompok bakteri, berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah ditemukan pada daun-daun yang
menunjukkan gejala hawar. Dengan bantuan angin, gesekkan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit HDB.
Cara pengendaliannya :
Pemupukan yang teratur dengan menyeimbangkan unsur makro maupun mikro yang di perlukan tanaman padi.Yaitu dengan pemakaian pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan di campurkan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
pengaturan air air yang cukup.
Hindari penggenangan air yang terus menerus, misalkan 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural Glio di saat olah tanah dengan di campurkan pupuk kandang atau dengan di campurkan Super Nasa.
Menyemprotkan Pestisida Organik Nasa yang berupa Pestona + Aero-810 dengan interval 10 hari sekali.Lakukan dari awal tanam dan diwaktu sore hari.
F. Busuk batang .
Busuk batang merupakan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman dalam kanopi dan menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah. Untuk mengamati penyakit ini, kanopi
pertanaman perlu dibuka. Perlu diwaspadai apabila terjadi kerebahan pada pertanaman, tanpa sebelumnya terjadi hujan dengan angin yang kencang.
Gejala awal berupa bercak berwarna kehitaman, bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar. Akhirnya, cendawan menembus batang padi yang kemudian menjadi lemah, anakan mati, dan akibatnya tanaman menjadi rebah.
Cara pencegahannya :
Tunggul-tunggul padi sesudah panen dibakar atau didekomposisi.
Pemupukan yang teratur dengan menyeimbangkan unsur makro maupun mikro yang di perlukan tanaman padi.Yaitu dengan pemakaian pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan di campurkan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
Pemakaian produk nasa yang berupa Natural Glio di saat olah tanah dengan di campurkan pupuk kandang atau dengan di campurkan Super Nasa.
G. Bercak Cercospora.
Bercak cercospora disebabkan oleh jamur Cercospora oryzae. Penyakit menyebabkan kerusakan yang serius pada pertanaman dilahan yang kurang subur. Penyakit menghasilkan gejala lurus sempit berwarna coklat pada helaian daun bendera, pada fase
tumbuh-pemasakan. Gejala juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah.
Cara pengendaliannya :
Pemupukan yang teratur dengan menyeimbangkan unsur makro maupun mikro yang di perlukan tanaman padi.Yaitu dengan pemakaian pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa dengan di campurkan 50% pupuk kimia yang biasa di pakai.
1. Tikus
Gejala serangan:
1. Tikus menyerang berbagai tumbuhan.
tempat penyimpanan.
3. Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya bijibijian tetapi juga batang
tumbuhan muda.
4. Tikus membuat lubanglubang pada pematang sawah dan sering berlindung
di semaksemak.
Pengendaliannya:
1. Membongkar dan menutup lubang tempat bersembunyi para tikus dan
menangkap tikusnya.
2. Menggunakan musuh alami tikus, yaitu ular.
3. Menanam tanaman secara bersamaan agar dapat menuai dalam waktu
yang bersamaan pula sehingga tidak ada kesempatan bigi tikus untuk
mendapatkan makanan setelah tanaman dipanen.
4. Menggunakan rodentisida (pembasmi tikus) atau dengan memasang umpan
beracun, yaitu irisan ubi jalar atau singkong yang telah direndam sebelumnya
dengan fosforus. Peracunan ini sebaiknya dilakukna sebelum tanaman padi
berbunga dan berbiji. Selain itu penggunaan racun harus hatihati karena juga
berbahaya bagi hewan ternak dan manusia.
Gejala serangan:
1. Menyebabkan daun dan batang tumbuhan berlubanglubang.
2. Daun dan batang kemudian kering, dan pada akhirnya mati.
Pengendaliannya:
1. Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara
serentak maupun dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan
untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara menanam tanaman palawija
atau tanah dibiarkan selama 1 s/d 2 bulan.
2. b. Pengandalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng,
misalnya labalaba predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi
dan Cyrtorhinuss lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea
nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.
3. Pengandalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida, dilakukan
apabila cara lain tidak mungkin untuk dilakukan. Penggunaan insektisida
lingkungan.
3. Walang Sangit
Gejala serangan:
1. Menghisap butirbutir padi yang masih cair.
2. Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat.
3. Kulit biji iu akan berwarna kehitamhitaman.
4. Walang sangit muda (nimfa) lebih aktif dibandingkan dewasanya (imago),
tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih hebat karenya hidupnya lebih lama.
5. Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji biji yang sudah mengeras,
yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.
6. Faktor faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit
antara lain sebagai berikut:
Sawah sangat dekat dengat perhutanan.
Populasi gulma di sekitar sawah cukup tinggi.
Penanaman tidak serentak
1. Menanam tanaman secara serentak.
2. Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar
sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi walang sangit.
3. Menangkap walang sangit pada pagi hari dengan menggunakan jala
penangkap.
4. Penangkapan menggunakan unmpan bangkai kodok, ketam sawah, atau
dengan alga.
5. Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami
beruba labalaba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit.
6. Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.
4. Ulat
Gejala serangan:
1. Aktif memakan dedaunan bahkan pangkal batang, terutama pada malam
hari.
Pengendaliannya:
1. Membuang telurtelur kupukupu yang melekat pada bagian bawah daun.
2. Menggenangi tempat persemaian dengan air dalam jumlah banyak sehingga
ulat akan bergerak ke atas sehingga mudah untuk dikumpulkan dan dibasmi.
3. Apabila kedua cara diatas tidak berhasil, maka dapat dilakukan
penyemprotan dengan menggunakan pertisida.
5. Tungau
Gejala serangan:
1. Tungau (kutu kecil) bisaanya terdapat di sebuah bawah daun untuk
mengisap daun tersebut.
2. Pada daun yang terserang kutu akan timbul bercakbercak kecil kemudian
daun akan menjadi kuning lalu gugur.
Pengendaliannya:
terserang hama pada suatu tempat dan dibakar.
6. Lalat bibit (Atherigona exigua, A. Oryzae)
Gejala serangan:
1. Lalat bibit meletakkan telur pada pelepah daun padi pada senja hari.
2. Telur menetas setelah dua hari dan larva merusak titik tumbuh. Pupa
berwarna kuning kecoklatan terletak di dalam tanah. Setelah keluar dari pupa
selama 1 minggu menjadi imago yang siap kimpoi.
3. Hama ini menyerang terutama pada kondisi kelembaban udara tinggi.
Pengendaliannya:
1. Pengendaliannya diutamakan pada penanaman varitas yang tahan.
7. Anjing tanah atau orongorong (Gryllotalpa hirsuta atau Gryllotalpa
Gejala serangan:
1. Hidup dibawah tanah yang lembab dengan membuat terowongan.
2. Memakan hewanhewan kecil (predator), tetapi tingkat kerusakan tanaman
lebih besar dari pada manfaatnya sebagai predator.
3. Nimfa muda memakan humus dan akar tanaman, imago betina sayapnya
berkembang setengah, yang jantan dapat mengerik di senja hari.
Pengendaliannya:
1. Pengendaliannya diarahkan pada pengolahan tanah yang baik agar
terowongan rusak.
Gejala serangan:
1. Uret yang merusak tanaman padi terdiri dari spesies Exopholis hypoleuca,
Leucopholis rorida, Phyllophaga helleri
2. Perkembangan hidup ketiga uret tersebut sama yaitu dari telur larva (uret)
pupa imago (kumbang).
3. Kumbang hanya makan sedikit daundaunan dan tidak begitu merusak
dibanding uretnya.
Pengendaliannya:
1. Pengendalian diarahkan pada sistem bercocok tanam yang baik agar vigor
tanaman baik.
Gejala serangan:
1. Hama ganjur sejenis lalat ordo Diptera. Ngengat betina hanya kimpoi satu
kali seumur hidupnya, bertelur antara 100250 telur. Telur berwarna coklat
kemerahan dan menetas setelah 3 hari.
2. Larva makan jaringan tanaman diantara lipatan daun padi, pertumbuhan
daun padi jadi tidak normal.
3. Pucuk tanaman menjadi kering dan mudah dicabut. Masa larva selama 6
12 hari. Siklus hidup keseluruhan 19 26 hari.
Pengendaliannya:
1. Pengendalian diarahkan pada penanaman varietas yang resisten,
penggenangan areal pertanaman sesudah panen agar pupanya mati.
10. Pengorok daun atau hama putih (Nymphola depunctalis) dan hama
Gejala serangan:
1. Pengorok daun atau hama putih (Nymphola depunctalis) menyerang daun
padi sejak dipesemaian hingga dilapang.
2. Daun padi yang telah dikorok menjadi putih, tinggal kerangka daunnya saja.
3. Larva bersifat semi aquatik, memanfaatkan air sebagai sumber oksigen.
4. Larva membuat gulungan/kantung dari daun padi kemudian menjatuhkan diri
ke air. Larva berwarna hijau, perkembangan sampai menjadi pupa 14 s/d 20
hari. Stadia pupa 4 s/d 7 hari.
Pengendaliannya:
1. Meniadakan genangan air pada pesemaian sehingga larva tidak dapat
memanfaatkan air sebagai sumber oksigen.
2.Lalat Tabanidae dan semut Solenopsis gemitata merupakan musuh alami.
Gejala serangan:
1. Menyebabkan batang jagung retak dan patah.
2. Kupu sebagai induk dari hama Ostrinia furnacalis muncul di pertanaman
pada malam hari, antara pk. 20.00 sampai pk. 22.00 dan meletakkan telurnya
pada jamjam tersebut. Kupu betina meletakkan telur sebanyak 300500 butir
pada daun ketiga. Telur berwarna putih kekuningan diletakkan di bawah
permukaan daun secara berkelompok. Biasanya ditutupi oleh bulubulu.
3. Setelah 45 hari telur menetas, ulat akan masuk ke dalam batang setelah
berumur 710 hari melalui pucuknya dan sering merusak malai yang belum
keluar. Selanjutnya ulat menggerek ke dalam batang dan kebanyakan pada
ruas batangnya, dan setelah habis digereknya pula ruas yang disebelah
bawah. Umur ulat 1841 hari
4. Gejala serangan ulat yang masih muda, tanda daun kelihatan garisgaris
putih bekas gigitan.
5. Serangan berikutnya tampak adanya lubang gerekan pada batang yang
disertai adanya tepung gerek berwarna coklat. Apabila batang jagung patah,
tanaman akan mati.
6. Tanaman inang selain jagung adalah cantel, Panicum viride, bayam dan
Pengendaliannya:
1. Dengan cara pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan merupakan
inangnya.
2. Tanaman yang terserang dipotong dan ditimbun dalam tanah atau diberikan
pada hewan ternak.
3. Menghilangkan tanaman inang yang lain yang tumbuh diantara dua waktu
tanam.
4. Membersihkan rumputrumputan
5. Cara kimiawi, pengendalian dilakukan sebelum ulat masuk ke dalam batang.
Beberapa jenis insektisida yang dinyatakan efektif adalah: Azodrin 15 WSC,
DAFTAR PUSTAKA
Ngapio, 2010, BBU, kepala laboratorium pengamat hama dan penyakit, kab. Musi rawas
Soemartono dkk, 1974 “bercocok tanam padi” CV. Yasa guna Jakarta