BAB IV TARI TOPENG CIREBON DI WILAYAH SLANGIT-CIREBON

35  71  Download (1)

Full text

(1)

BAB IV

TARI TOPENG CIREBON DI WILAYAH SLANGIT-CIREBON

IV.1 Pertunjukan Seni Tari Topeng di Slangit-Cirebon

Pertunjukan topeng yang ada di Cirebon sebenarnya memperlihatkan gabungan unsur campuran budaya, yaitu yang berifat mistis-magis sebagai serapan kebudayaan Jawa, serta serapan nilai-nilai filosofis agama Islam.

Salah satu bentuknya adalah waktu penyelenggaraan hajat sering dipilih waktu berdasarkan penanggalan hitungan bulan-bulan Jawa, biasanya diselenggarakan pada bulan Mulud sesudah tanggal 12, Syawal Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Syawal dan Rayagung, sedangkan sisi bulan lainnya dianggap sebagai waktu larangan atau waktu pantangan untuk melaksanakan pertunjukan ini. Hal ini dipandang sebagai keyakinan masyarakat Cirebon terhadap kekuatan-kekuatan yang ada di alam serta bentuk pemujaan kepada leluhur (R.I. Maman Suriatmadja, 1980:48).

Pertunjukan tari Topeng Cirebon semula berkonsentrasi di keraton lama kelamaan mulai melepaskan diri dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat. Atas sentuhan dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar ajaran Islam, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis, dan diberikan perwatakan atau wanda, yaitu gambaran ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, yaitu :

a. Marifat atau Insan kamil, yaitu manusia yang telah mencapai tahap tertinggi dalam tingkatan agama dan sesuai dengan aturan agama.

b. Hakikat, gambaran manusia yang sudah paham mana yang menjadi hak manusia dan mana yang hak sang Khalik.

c. Tarekat, gambaran manusia yang telah menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari

d. Syariat, gambaran manusia yang mulai memasuki atau baru mengenal ajaran Islam.

Bagi masyarakat Cirebon sendiri istilah topeng terbentuk dari kata ’camboran tugel’ yaitu dua kata yang tidak sama artinya dipotong suku kata akhirnya dan digabungkan, dan dua kata tersebut adalah ’ketop-ketop’ yang artinya berkilauan dan

(2)

’gepeng’ yang artinya pipih (Irawati Durban,1982:6). Kedua istilah tersebut merujuk pada sebuah elemen yang ada di bagian muka sobrah atau tekes, yaitu hiasan yang digunakan penari di kepalanya.

Dalam perjalanannya, bentuk kesenian topeng yang berkembang Cirebon banyak pula dipengaruhi oleh topeng Jawa. Hal ini dikarenakan adanya kontak politik yang terjadi pada masa kerajaan Majapahit dan kerajaan Pajajaran. Jenis kesenian ini sering digunakan dalam pagelaran pertunjukan yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan.

Pengaruh yang lain diduga berasal dari kerajaan Mataram Islam dan Bali, setidaknya pengaruh dari kedua kerajaan ini mempengaruhi beberapa aspek, contohnya pada doa yang diucapkan oleh pedalang saat akan memulai pertunjukan topeng, umumnya para pedalang mengucapkan Bismillah dan diakhiri dengan Syahadat, namun di tengah-tengahnya mereka mengucapkan mantra-mantra berisi puisi atau biasa disebut Jangjawokan, berikut mantra yang diucapkan oleh pedalang saat akan menari (Tati Narawati, 2003:65)

Diawali :

Bismillahiramanirrahim...

Gusti sinuwun gusti Sunana Kalijaga, Sunana Panggung, Pangeran Bonang sakabatin pun kang gadha tari niki. Kula bede nyuwun ijin, kula bade nopeng ing...

Disaksiakeun dudhu tarian bae, ning tarian para wali sadaya, gede cilik tua enom lanang wadon kum pada melas asih ning badan salira ingsun, tegesing wadon sejati... diakhiri Syahadat

Pada dasarnya kedua bentuk kesenian ini memiliki banyak kesamaan baik dari karakteristik tokoh, gerakan dan dialog, yang membedakan hanyalah pada gamelan musik yang mengiringi dan lakonnya saja. Walaupun kesenian ini mengakar pada budaya Jawa, perbedaan tetap akan ditemukan, contohnya adalah sebutan dalang, jika di wilayah Jawa Tengah dalang adalah sebutan bagi seniman yang memainkan media wayangnya sedangkan di Cirebon justru sebutan dalang ditujukan bagi para seniman topeng.

Kejayaan tari topeng di Slangit mengalami perkambangan bererapa fase, yaitu saat masuknya tarian ini kedaerah tersebut, imbas politik dan terakhir masa modern.

(3)

Tari topeng Cirebon dianggap memiliki konsep dasar dari tayuban bentuk tari pergaulan di kalangan menak, namun tetap memiliki karakter yang khas ditengah dominasi gaya budaya Mataram dan Jawa Tengah.

Karena identik dengan tayuban atau ronggeng, maka ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa penari topeng adalah ronggeng, dan di dalamnya terlihat ada unsur maksiat. Hal tersebut tentunya bertolak belakang dengan kenyataan-kenyataan yang berlaku dalam aktifitas tari topeng, dimana untuk menjadi seorang penari pun dalam keadaan suci dan bersih hati.

Bahkan ada beberapa syarat yang berlaku bagi seorang penari topeng. Syarat tersebut dinamakan kalunglungan kalung jagat, artinya ia memiliki garis ibu atau bapak yang turunan seorang dalang atau penari topeng. Selain garis darah yang kuat, mereka juga harus memiliki tingkat keilmuan yang disebut tauhid, dan telah berada pada tahap wishnu atau wishnunggal yang diartikan dirinya telah menyatu dengan Tuhan.

IV.2 Rumpun Tari Topeng

Tari Topeng Cirebon memiliki beberapa tiga rumpun gaya, yang dibedakan oleh gerak, versi tokoh dan wilayahnya, yaitu : gaya Slangit , termasuk wilayah Kreyo, gaya Ciliwung, yang meliputi Kalianyar, Susukan, dan Gegesik, dan gaya Losari. Perbedaan dari kelima gaya ini adalah pada urutan penampilan setiap tokoh yang diperankan. Berikut adalah deskripsi gaya tarian topeng yang ada di Cirebon.

IV.2.1 Gaya Slangit

Pertunjukan topeng pada gaya Slangit terdapat urutan tari topeng yang dimulai dari topeng Panji, topeng Pamindo, topeng Rumyang, topeng Tumenggung, dan terakhir topeng Klana. Pada umumnya dalam pertunjukan ini disisipi adengan pertarungan pada topeng Tumenggung melawan topeng Jingga Anom.

(4)

Ciri khas dari pertunjukan topeng di wilayah ini adalah gerakan bahu dan pinggang yang kuat, gesit dan sangat detail pada setiap perpindahan gerakan satu ke gerakan berikutnya, sehingga keseluruhan komposisi tarian tersebut terlihat harmonis Karena urutan gerakan sangat detail dan terperinci, maka gaya tari topeng Slangit dianggap pula sebagai acuan pada pengajaran tari topeng di wilayah akademik.

. Urutan dalam setiap pertunjukan biasanya terdiri dari :

1. Tetalu atau gagalan, yaitu musik yang dimainkan sebelum penari topeng muncul

2. Penampilan pokok tarian 3. Bodoran atau lawakan 4. Lakon atau drama 5. Penutup atau Rumyang

Sedangkan untuk lagu pengiringnya adalah sebagai berikut 1. Kembang Sungsang untuk tari Panji

2. Singa Kawung untuk tari Samba atau Pamindo 3. Kembang Kapas atau tari Rumyang

4. Tumenggungan atau bendrong untuk tari Patih 5. Gonjing untuk Klana

Gaya dan gerakan tari dari Slangit dianggap sangat khas, antara lain gerakan bahu dan pinggang yang kuat, gesit, detail dan terlihat harmonis. Yang dimaksud dengan gerakan detail adalah adanya susunan atau perubahan yang sangat halus saat melakukan perpindahan gerak satu ke gerak lainnya. Karena urutannya yang sangat detail dari setiap gerakan, maka gaya tari topeng Slangit dianggap pula sebagai acuan pada pengajaran tari topeng di wilayah akademik.

IV.2.2 Gaya Ciliwung

Pertunjukan tari topeng gaya Ciliwung meliputi beberapa wilayah kesenian. Di antaranya Kedungbunder, Palimanan dan Gegesik. Pada gaya tarian Ciliwung, topeng Rumyang ditampilkan pada urutan keempat atau urutan kelima. Sedangkan pada

(5)

gaya Slangit topeng Rumyang ditampilkan pada urutan ke tiga. Berikut urutan tarian di wilayah Ciliwung : 1. Panji 2. Pamindo 3. Patih 4. Klana 5. Rumyang

Untuk lagu pengiringnya ternyata memiliki kesamaan dengan iringan lagu yang ada di wilayah Slangit, yaitu :.

1. Kembang Sungsang untuk tari Panji

2. Singa Kawung untuk tari Samba atau Pamindo 3. Kembang Kapas atau tari Rumyang

4. Tumenggungan untuk tari Tumenggung 5. Gonjing untuk Klana

IV.2.3 Gaya Losari

Gaya tarian topeng di Losari dipandang memiliki perbedaan yang cukup besar dibandingkan dengan kedua gaya sebelumnya. Baik dari susunan pertunjukan, juga dari aspek kostum yang digunakan penarinya. Pementasannya pada umumnya dimulai dengan tetalu atau gagalan, kemudian ditampilkan tarian yang berbentuk lakonan atau drama. Tarian yang ditampilkan biasanya meliputi

1. Tari Panji Sutrawinangun 2. Tari Kili Padukanata 3. Patih Jaya Badra 4. Tarian Jingga Anom 5. Tumenggung Magang Dirja 6. Klana Bando Pati

7. Tari Samba diiringi lagu Rumyang.

Sedangkan lagu pengiringya adalah sebagai berikut : 1. Pamindo naek Barlen untuk Pamindo

2. Barlen untuk Tari Kili Padukanata 3. Barlen untuk Tari Patih Jaya Badra

(6)

4. Bendrong untuk Tarian Jingga Anom

5. Bendrong untuk Tumenggung Magang Dirja, versi lain menyebutkan lagu Ombak Banyu untuk Tumenggung Magang Dirja dari Negara Bawarna

6. Gonjing Pangebat untuk Klana Bando Pati 7. Lagu Rumyang untuk tokoh Samba

Selain perbedaan gaya, di setiap wilayah kesenian ini juga memiliki perbedaan pada gerakan tariannya. Pada gaya Slangit gerakan tari cenderung menyesuaikan dengan karakter topeng yang dimainkan. Pada topeng Panji, yang berkarakter halus, maka gerakan yang dihadirkan pun terlihat sangat lembut, perlahan-lahan, tetapi menampakan keagungan. Kemudian tampil topeng Pamindo, gayanya sangat lincah dan genit, seperti layaknya seorang anak kecil yang baru melihat dunia.

Setelah itu muncul topeng Rumyang dengan gerak gerik lengan dan tangannya seakan-akan ingin menyucikan keadaan sekelilingnya. Setelah topeng Rumyang, maka muncul topeng Patih. Dalam tariannya sering diselipkan dialog-dialog yang lucu dan penuh humor, dan terakhir adalah topeng Klana. Dengan wajah topeng berwarna merah padam, mata membelalak seolah memancarkan amarah serta keangkuhan. Gerakan pada tari topeng Klana ini penuh dinamik, jantan, gagah dan terkadang terlihat kasar. Tarian Klana dianggap sebagai puncak dramatis serangkaian tarian-tarian tersebut.

IV.3 Keberadaan Tari Topeng Cirebon di Slangit-Cirebon

Keberadaan kesenian ini diduga telah lahir sejak 200 tahun yang lalu. Kesenian ini dibawa dan dikembangkan oleh Buyut Sarinten yang mewariskannya pada putranya Arja dan diteruskan oleh putera-puterinya, antaralain Sutija, Suparta, Wijaya atau Sujaya, Sujana dan Keni. Kini hampir seluruh pedalang keturunan Arja telah wafat dan tidak meneruskan tradisi topeng, kecuali Keni Arja.

Proses pewarisan dengan sistem kekeluargaan merupakan dasar dari perkembangan tari topeng di wilayah ini, walaupun kini sudah tidak seketat masa sebelumnya. Contohnya, adalah orang yang boleh menjadi penari topeng adalah mereka yang masih memiliki pertalian darah dengan Sunan Panggung atau Sunan Kalijaga.

(7)

Bentuk kepatuhan pada garis keturunan tersebut merupakan wujud dari betapa luhurnya nilai yang terkandung dalam kesenian ini. Bahkan dalam suatu pertunjukan ngunjung atau ngeruwat, penari topeng yang memimpin upacara tersebut adalah seorang penari yang memiliki kemampuan khusus, serta menjadi panutan dalam masyarakat. Dan pada umumnya para penari topeng sering dianggap pula orang yang memiliki kelebihan tertentu, bahkan sering dijadikan sebagai orang yang mampu memberikan doa dan petunjuk.

Keberadaan seni topeng di wilayah Slangit tak luput dari keberadaan generasi-generasi sebelumnya, pada bab awal disebutkan bahwa penari topeng yang dijadikan sampel penelitian adalah penari topeng Keni Arja, ia dianggap masih memiliki garis keturunan dari Sunan Panggung, walaupun sudah tidak dapat diurutkan lagi, tetapi pada intinya leluhur mereka berasal dari Buyut Ki Kijar yang menyebarkan kesenian ini di wilayah Cirebon (Usep Kustiawan,1996:194). Pada skema di bawah ini silsilah akan dimulai dari Kriyan dan Nyi Bendari sebagai orangtua dari Madaham atau Arja.

(8)

Bagan IV.1 Silsilah Keluarga Penari Topeng di Slangit (sumber : Nunung Nurasih,puteri Keni Arja)

Akibat sistem pewarisan tersebut, maka pengembangan topeng di Cirebon sempat tersendat. Ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhinya, antaralain adanya rasa persaingan yang tidak sehat antara penari, yang berpangkal pada jumlah order pementasan, juga adanya trauma psikologis dari penari terhadap kondisi politik yang terjadi di Indonesia.

(9)

Trauma psikologis tersebut mengakibatkan perubahan pada bentuk kesenian ini. Contohnya pada masa setelah pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) di tahun 1965, para penari topeng ini dikabarkan menjadi anggota LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat), akibatnya para pemilik hajat mengalami ketakutan untuk menanggap mereka. Karena rasa kecurigaan tersebut maka kebanyakan penari topeng akhirnya masuk pesantren, bahkan adapula seniman yang akhirnya dipenjara karena keterlibatannya dengan LEKRA, dan acara kesenian dalam sebuah hajatan di desa-desa akhirnya diganti oleh acara-acara dakwah dan pengajian.

Pada masa dahulu, sistem pembayarannya dalam setiap pementasan bersifat sangat kekeluargaan dan tidak menggunakan uang, melainkan dengan cara memberi padi satu bakdeng, artinya untuk satu babak tarian dibayar dengan satu bedeng padi, yaitu sekitar 8-10 kilogram, sedangkan untuk masa sekarang sistem pembayaran banyak dilakukan dengan uang.

Sebagai antisipasinya atas kepunahan kesenian ini, maka para penari yang masih memiliki garis keturunan dari Sunan Panggung mulai mengajarkan tarian ini pada masyarakat di sekitarnya dengan mendirikan paguron. Dengan syarat murid tersebut harus mau mengikuti tata cara yang diberikan oleh gurunya, dengan cara nyantrik atau berguru dengan sistem mengikuti cara hidup dari sang guru.

IV.4 Konsep Seni Pertunjukan Tari Topeng Cirebon -Slangit

Di kalangan penggarap topeng pada umumnya mereka meyakini bahwa tarian ini berasal dari Sunan Panggung yang berasal dari Demak. Dan Sunan Panggung sendiri bagi sebagian orang disebutkan sebagai anak dari Sunan Gunung Jati. Dugaan tersebut lahir karena Sunan Gunung Jati diceritakan memiliki anak yang senang mementaskan wayang, dan diberinya anak tersebut dengan nama Pangeran Panggung, namun sumber lain ada pula yang mengatakan bahwa Sunan Panggung itu tak lain adalah Sunan Gunung Jati sendiri. (R.I. Maman Suriatmadja, 1980: 39).

Sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Sunan Pangung, maka dalam setiap pementasannya para penari topeng tersebut memanjatkan doa meminta restu kepada Sunan Panggung, karena ia dianggap sebagai pemilik sejati kesenian yang memiliki kesenian ini. Contohnya saat menentukan hidup untuk menjadi penari, maka mereka akan mengunjungi makan Sunan Panggung, bersemedi, memanjatkan doa dan meminta restu pada Sunan panggung. Jika tiba-tiba obor yang digunakannya menyala

(10)

lebih besar dari pada nyala obor yang dibawa hal itu menandakan bahwa keputusannya untuk mentas telah direstui oleh Sunan Panggung sebagai pemilik sejati kesenian ini.

Sikap dan perlakuan yang dilakukan penari topeng seperti ini, dipandang sebagai manisfestasi atas kepercayaan terhadap tokoh besar dalam kesenian tersebut, mengingat dalam kegiatan melacak siapa pencipta produk seni yang tidak ada data historinya kita selalu mengaitkan dengan tokoh besar dan penting dalam sejarah masyarakat tersebut (Tati Narawati, 2003:63). Terlebih saat seseorang memutuskan ingin menjadi penari topeng, mereka harus memiliki garis keturunan dari Sunan Panggung, baik dari silsilah pihak perempuan atau dari silsilah dari pihak laki-laki.

Bentuk kepatuhan terhadap aturan-aturan yang tidak tersurat tersebut tidak hanya pada aturan siapa yang berhak menjadi penari, melainkan pada pakaian, doa atau mantra, komposisi, urutan tampilan bahkan penempatan alat gamelan pun tidak berani di rubah, mereka beranggapan bahwa penataan sedemikian rupa telah sesuai pakem yang telah di buat oleh nenek moyang mereka.

Dalam pertunjukan topeng terdapat lima jenis tarian, setiap gerak tarian memperlihatkan lima karakter yang berbeda. Perbedaan gerak antara satu karakter dengan karakter lainnya adalah gambaran dari satu siklus hidup manusia, dari bayi atau awal lahir , hingga ke masa dewasa.

Karakter-karakter tersebut adalah Panji, Pamindo, Rumyang, Patih dan Klana. Penokohan terhadap setiap karakter memiliki nilai-nilai simbolis yang hingga kini tetap dijadikan patokan bagi penerusnya, contohnya adalah aspek warna pada topeng, baju yang digunakan oleh suatu karakter, bahkan beberapa atribut lainnya.

Warna pada topeng tidak sekedar pengisi warna semata, melainkan ada makna-makna khusus yang menyertainya. Di dalamnya tersirat nilai-nilai mistis namun juga sarat dengan nilai ke agamaan.

Kelima unsur warna tersebut diurutkan dengan hari pasaran Jawa dan lima arah mata angin, yaitu Pon-Utara, Wage-Selatan, Kliwon-Barat, Legi-Timur, dan Pahing -Tengah. Hal ini disesuaikan pula dengan falsafah Jawa, yang menyatakan bahwa manusia terdiri atas lima unsur nafsu, yaitu Mutmainah, Amarah, Supiyah, Luwamah, dan Manusia yang terdiri atas aneka warna.

(11)

Tabel IV.1 Konsep dalam Topeng Cirebon

Warna Arah Sifat Simbol Pasaran

Putih Utara Mutmainah Suci Pon

Merah Selatan Amarah Nafsu Amarah Wage

Kuning Barat Supiyah Menonjolkan diri Kliwon

Hitam Timur Luwamah Bijaksana Legi

Aneka warna Tengah - Pandai bicara

dalam berbagai cara

Pahing

(sumber : dari berbagai sumber)

IV.5 Konsep Rupa dalam Seni Tari Topeng Cirebon-Slangit

Dari aspek geografis posisi Cirebon berada di wilayah pesisir. Dan wilayah pesisir dianggap sebagai statu wilayah terbuka yang cukup strategis dalam sebuah jalur perdagangan serta pelayaran sejak masa kuna. Sehingga perkembangan serta kemajuan di wilayah khususnya daerah dekat pantai, selalu mengalami percepatan seiring dengan maraknya hubungan perkapalan dan perdagangan di wilayah ini.

Kondisi geografis pantai selatan lebih menyulitkan pelaut bila dibandingkan dengan kondisi geografis pantai utara, akibatnya pantai utara lebih berkembang dan menjadi daerah perikanan maupun perdagangan besar. (Ira Adriati, 2004:44)

Kesenian yang lahir di wilayah pesisir, tumbuh seiring dengan proses akulturasi budaya, selain kondisi masyarakat yang adaptif, mereka juga menggunakan kesenian sebagai sarana religi yang bersifat ritual juga sebagai sarana penyebaran agama.

Bentuk kesenian di Cirebon pada umumnya memiliki nilai estetika visual dan estetika spiritual yang bermuatan filosofis. Hal ini berkait dengan kehadiran dan pengaruh Sunan Gunung Jati sebagai pemegang otoritas pemerintahan dan spritual tertinggi di Cirebon di masa itu.

Hingga saat ini masyarakat Cirebon pada umumnya masih terikat pada hal-hal yang bersifat mistis. Keunikan lainnya adalah kecenderungan kaum laki-laki menjadi seniman, sehingga refleksi dari karya-karya yang dihasilkan berkesan kuat dan berani, dan hal ini terjadi juga pada kesenian tari topeng, dimana kaum laki-laki terlihat lebih mendominasi dalam sistem pewarisannya.

(12)

Ditinjau dari aspek geografi wilayah pesisir memiliki pandangan budaya maritim, namun yang terjadi di Cirebon justru sebaliknya. Pola budaya yang mereka anut menyiratkan mereka adalah masyarakat pesawahan. Ciri khas dari masyarakat pesawahan adalah apa yang ada di alam sekitarnya menjadi bagian dalam kehidupannya, serta terkonsentrasi pada sistem pengaturan pusat (Jakob Sumardjo, 2006:173).

Disebutkan pula bahwa masyarakat pesawah memiliki kaidah estetika yang mengacu pada sistem kosmologi semesta, yang terbagi pada pola mancopat kalimo pancer, yang terdiri atas alam rohani, alam semesta atau jagad besar, manusia berada di jagad kecil dan budaya, yaitu negara, seni teknologi, agama.

Refleksi seni yang mengadaptasi dari alam dapat terlihat pada pola-pola yang dihasilkan dalam berbagai bentuk kesenian masyarakat Cirebon. Stilasi alam mendominasi pada motif-motif dan ornamen dekoratif, juga pada penamaan maupun pada ornamen-ornamen yang diaplikasikan pada topeng.

Bagi pada masyarakat Cirebon, dikenal pula istilah susunan warna ’saderek gangsal manunggal baju’, pembagian ini berdasarkan pada lambang warna yang digunakan pada desain batik di Cirebon, dan setiap unsur menggambarkan nafsu manusia dan pusatnya adalah nafsu mulhimah.

Dalam wayang kelima unsur tersebut dilambangkan oleh kain yang digunakan oleh Bhima, yang melambangkan berkumpulnya saderek gangsal manunggal baju. Sedangkan dalam masyarakat Sunda, dikenal penempatan warna nu opat kalima pancer yang melambnagkan alam manusia dengan arah mata angin yang disebut vuana panca tengah. (Usep Kustiawan, 1996:295).

Kedua penempatan warna tersebut dibedakan pada arah Utara dan Timur, pada masyarakat Sunda, Utara memiliki warna hitam, Timur memiliki warna putih, sedangkan pada masyarakat Cirebon, Utara memiliki warna putih dan timur memiliki warna hitam.

Di bawah ini penulis menguraikan perbandingan konsep warna ’Buana Panca Tengah’ dengan ’Saderek Gangsal Manunggal Baju’ :

(13)

Gambar IV.1

Konsep Warna Masyarakat Sunda ’Buana Panca Tengah’

PAHING MANUSIA ANEKA WARNA MULHIMAH PON UTARA PUTIH MUTMAINAH WAGE SELATAN WARNA MERAH AMARAH LEGI TIMUR WARNA HITAM LAUWAMAH KLIWON BARAT WARNA KUNING SUFIYAH Gambar IV.2

Konsep Warna Masyarakat Cirebon ‘Saderek Gangsal Manunggal Baju’

(sumber : Usep Kustiawan, 1996: 292-296)

Berikut adalah tabel arah, warna, simbol dan figur pada konsep ’Buana Panca Tengah’ :

Tabel IV.2 Konsep ‘Buana Panca Tengah’

Arah Warna Simbol Figur

Utara Hitam Bersifat kokoh, patuh, kaku Pembantu atau pengabdi yang patuh Selatan Merah Bersifat tamak dan congkak Pedagang yang

tamak Timur Putih Jujur, bersih, suci, tenang.

penuh pengabdian

Manusia petani

Barat Kuning Pamer, gagah. penuh

keberanian, sombong

Pejabat atau pemangku suatu kedudukan

Tengah Segala warna Lugu, polos, berwatak baik Pejabat atau puncak pimpinan yang baik (sumber : Usep Kustiawan, 1996)

Berikut adalah tabel arah, warna, simbol dan figur pada konsep ’Saderek Gangsal Baju’:

(14)

Tabel IV.3 Konsep ’Saderek Gangsal Baju’

Arah Warna Nafsu Sifat

Utara Putih Mutmainah ƒ Berwatak Jujur

ƒ Sabar ƒ Berbakti

ƒ Kekuatan daya hidup atau daya murni

Selatan Merah Amarah ƒ Angkara murka

ƒ Sifat manusia yang jahat

Timur Hitam Lauwamah ƒ Mampu mengatasi aneka kesulitan ƒ Seimbang

Barat Kuning Sufiyah ƒ Nafsu birahi

ƒ Baik budi

ƒ Kekuatan yang abadi

Pusat Aneka warna Mulhimah ƒ Kemampuan untuk menghalangi nafsu yang buruk

ƒ Mampu memberi petunjuk yang baik (sumber : Usep Kustiawan, 1996)

IV.6 Fungsi Pertunjukan Tari Topeng Cirebon

Awalnya fungsi seni pertunjukan yang ada di wilayah Indonesia sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat mistis, hal tersebut berkait dengan peninggalan budaya masa pra-Hindu dan masa Hindu-Budha. Sedangkan pertunjukan tari topeng yang diciptakan para Wali lebih berkonsentrasi pada sarana menyebarkan agama Islam. Sehingga Sunan Kalijaga sampai saat ini tetap dipandang sebagai tokoh yang sangat berperan dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kesenian topeng, yang semula bersifat Hindu menjadi bermuatan Islam.

Pertunjukan topeng yang ada di Cirebon sebenarnya memperlihatkan gabungan unsur campuran budaya, yaitu yang berifat mistis-magis sebagai serapan kebudayaan Jawa, serta serapan nilai-nilai filosofis agama Islam. Salah satu bentuknya adalah waktu penyelenggaraan hajat sering dipilih waktu berdasarkan penanggalan hitungan bulan-bulan Jawa, biasanya diselenggarakan pada bulan Mulud sesudah tanggal 12, Syawal Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Syawal dan Rayagung, sedangkan sisi bulan lainnya dianggap sebagai waktu larangan atau waktu pantangan untuk melaksanakan pertunjukan ini.

Hal ini adalah sebuah refleksi atas kekuatan-kekuatan yang ada di alam, bentuk kepatuhan pada adat serta keyakinan pada agama yang dianutnya. Tidak heran bila pertunjukan topeng diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai sarana tradisi dalam pemujaan kepada leluhur (R.I. Maman Suriatmadja, 1980:48).

(15)

Dalam perkembangannya pertunjukan topeng mengalami dinamika sosial dan budaya, walaupun dalam penyelenggaraannya tetap memiliki dua fungsi, yaitu untuk kepentingan sakral atau keagamaan dan profan bernilai keduniawian. Pertunjukan ini dapat juga berperan sebagai simbol atau representasi dari komunitas pendukungnya, seperti pada acara-acara perayaan yang bernuansa ritual untuk meminta berkah atau keselamatan desa.

Berikut penyelenggaraan tari topeng yang sering digunakan untuk kegiatan ritual tradisi atau hajatan dalam masyarakat tradisi di Cirebon :

1. Mapag Sri - Sedekah Bumi, dilaksanakan sebelum memasuki masa panen dan Sedekah Bumi dilakukan setelah masa panen usai. Acara ini dilakukan sebagai ungkapan terimakasih pada Dewi Sri.

2. Mitóni, adalah upacara yang dilakukan untuk wanita yang sedang hamil tujuh bulan, tujuannya adalah meminta berkah keselamatan agar anak yang dikandung sehat saat kelahiran, dalam ritualnya si pedalang atau penari topeng turut memandikan si pemilik hajat dengan air kembang disertai doa-doa, karena pada umumnya pedalang di Cirebon sering dianggap juga sebagai orang yang ‘pintar’ dan mampu mengobati.

3. Ngarot, penyelenggaraannya dilakukan satu tahun sekali sebelum musim tanam. Asal kata dari ngaruat itu sendiri adalah meruwat yang artinya melawan, menghindari, meniadakan pengaruh yang merugikan yang bersifat ghaib dan tak dapat dilihat orang, terkadang didalamnya dilakukan acara menari bersama para pedalang, khusus untuk kegiatan ini pedalangnya adalah laki-laki, dan kegiatan menari bersama pedalang adalah simbol dari sebuah pengharapan bahwa kelak si anak gadis akan mendapatkan jodohnya. Istilah ngarot sebenarnya memiliki dua pengertian, dalam bahasa Sunda berarti ‘minum’ sedangkan istilah lainnya berasal dari kata ‘ngaruat’ yang artinya ‘pembebasan dosa’. Dan umumnya diselenggarakan pada hari rabu sekitar bulan November-Desember. Berkait dengan ritual pencarian jodoh, dimana pada penyelenggaraan ngarot terdapat juga acara inisiasi bagi para remaja yang dianggap telah memasuki usia dewasa dan dipandang siap berumah tangga yang disebut Kasinoman. Upacara ngarot selama ini dikaitkan dengan latar belakang kepercayan masyarakat setempat dengan kepercayaan dan mitos Dewi Sri atau dewi padi.

4. Ngunjung, berasal dari istilah kata ‘kunjung’, yang berarti datang. Dilaksanakan untuk menghormati para arwah nenek moyang yang telah meninggal, dan mereka

(16)

berdoa untuk memohon berkah dan keselamatan, dengan mendatangi makam-makam yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Menurut K.T Preusz, kegiatan ini dipandang sebagai naluri emosi mistikal yang bersifat keagamaan manusia, dan mendorongnya untuk berbakti pada kekuatan tertinggi yang olehnya atau manusia tampak nyata di sekitarnya, dalam keteraturan dari alam, proses pergantian musim, dan kedahsyatan alam dalam hubungannya dengan masalah hidup dan maut. Pada kegiatan ini pementasan topeng dilakukan di tempat yang berbeda dengan daerah asal di pedalang dan hal tersebut harus ditaati, walaupun sebenarnya setiap desa memiliki tata cara yang dianutnya sendiri-sendiri, namun pokoknya hampir sama, biasanya diawali dengan membersihkan makam-makan tersebut lantas dipimpin oleh sesepuh desa untuk melaksanakan tahlil bersama. 5. Upacara Hajatan, biasanya berupa hajatan yang dilaksanakan dalam rangka

pernikahanm sunatan dan acara kaulan atau nadzar yaitu janji ketika suatu keinginan telah tercapai. Sebenarnya kegiatan ini lebih menekankan pada aspek sosial, dimana berkumpulnya sanak saudara untuk menjalin silahturahmi dan diselenggarakan selama satu harian atau dinaan.

6. Bebarang, dikenal pula dengan istilah mengamen, yang diartikan sebagai pertunjukan keliling dari satu desa ke desa yang lainnya.Mengamen umumnya dilakukan sat musim paceklik atau kemarau panjang dan mereka juga menjadikan kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menambah penghasilan, namun kegiatan ini akhirnya dihentikan oleh pemerintah pada tahun 1970-an, karena dianggap memalukan.

IV.7 Jenis Pertunjukan Tari Topeng Cirebon di Slangit

Jenis pertunjukan topeng di wilayah Cirebon antara lain Topeng Dalang, Topeng Babakan atau Topeng Barangan, Topeng Kreo, Topeng Barong, Topeng Badaya dan terakhir Kupu Tarung. Semuanya memiliki perbedaan serta memiliki ciri masing-masing. Bila ditinjau dari jenis pertunjukannya, seni tari topeng memiliki bentuk seperti yang diuraikan di bawah ini :

(17)

Jenis Deskripsi

Topeng Kecil atau Babakan Menceritakan fragmen atau potongan cerita Panji Topeng Besar atau Topeng

Dalang

Menceritakan cerita utuh, seperti lakon Jaka Bluwo, Jaka Buntet. Topeng Kreo atau Topeng

Doger)

Penari wanita bergerak bebas, erotis,

Topeng Badaya Modern, menampilkan wanita muda berpakaian lengkap dan gerakan harus lebih berani dan

Topeng Barong Penari menggunakan kedok binatang. Topeng Dinaan/Hajatan Bentuk dan urutan sama dengan topeng kecil.

Topeng Kupu Tarung Mempertandingkan martabat atau derajat dua atau empat dalang sekaligus, dan pedalang tampil bersamaan, dua atau empat orang

sekaligus (sumber : dirangkum dari berbagai sumber)

IV.8 Tari Topeng Babakan di Wilayah Slangit-Cirebon

Kesenian tari topeng yang berkembang di wilayah Slangit atau wilayah lainnya, sebenarnya tak luput dari pengaruh dari budaya Jawa. Hal ini dikaitkan sejarah yang menceritakan adanya kedekatan antara dua kerajaan Islam di masa itu, yaitu dinasti Mataram dan Cirebon. Hal ini semakin menjelaskan bahwa kesenian ini pun diyakini mendapat pengaruh yang sangat besar dari budaya priyayi dari kerajaan Mataram. Jenis pertunjukannya sendiri dapat dibagi menjadi dua kategori besar,yaitu :

1. Pertunjukan topeng besar (grote maskerpel), yang terdiri atas topeng dhalang yang menampilkan drama tari bertopeng yang membawakan cerita lakon dari Panji, dan wayang wong menampilkan drama cerita dari kisah Mahabrata dan Ramayana.

2. Pertunjukan topeng kecil (kleine maskerpel) yang terdiri atas pertunjukan yang menampilkan cerita lakon Panji secara terpisah atau ditampilkan perbabak.

Keberadaan pertunjukan topeng ’Babakan’ atau disebut juga topeng kecil diungkapkan dalam buku ’Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami Ing Jaman Kina’ (Hazeu dalam Toto Sudarto, 2001:53), yang menuliskan :

’..Ingkang nama topeng babakan utawi barangan punika tetinggalan ingkang kaideraken utawi kabarangaken turut margi dhateng ing pundi-pundi, lampahaning topeng kaparanging babakan, pambayaripun ingkang nanggap

(18)

inggih manut babakan, ingkang kerep kalampahaken ing topeng babakan utawi barangan namun lampahan ingkang mawi dipun salundhingi lelucon utawi banyolan’.

Artinya :

yang dimaksud topeng babakan atau topeng barangan,yakni pertunjukan topeng berkelana kemana-mana untuk mencari uang, dapat ditanggap di tepi jalan, dimana saja. Disini lakon dibagi menjadi babak demi babak. Orang yang menanggap topeng dengan cara membayar perbabak. Yang biasa dipertunjukan jeni adalah lakon-lakon yang diselingi lelucon

T.J Bezemer dalam ensiklopedia Van Nederlandsch-Indie juga mengungkapkan definisi tentang topeng babakan, yaitu sebuah pementasan yang biasa ditarikan di jalan saat mereka melakukan bebarang. Pertunjukan bebarang sendiri biasa dilakukan saat musim kemarau atau paceklik, dan mereka memungut bayaran untuk menghidupi keperluan kesehariannya (Toto Sudarto, 2001:53)

Lahirnya bentuk tari topeng babakan adalah akibat adanya pengaruh agama Islam yang kuat, baik di kalangan istana maupun di kalangan masyarakat di Cirebon, selain mereka menyukai wiracarita Ramayana dan Mahabarata, mereka juga ingin melihat cerita roman Jawa yang asli yaitu Panji dan Damar Wulan (Tati Narawati, 2003:72).

Maka pertunjukan topeng yang menceritakan Panji dan Damar Wulan ini menjadi awal perkembangan dari topeng dhalang. Selanjutnya penampilan kesenian ini tidak menampilkan cerita yang utuh, namun hanya menampilkan babak demi babak serta pertunjukan ini lebih menekankan pada tariannya daripada isi ceritanya. Dapat disimpulkan pengertian topeng babakan sendiri adalah :

a. Adalah tarian yang penyajiannya terdiri atas beberapa babak/tahap.

b. Setiap penyajian menampilkan lima atau enam karakter tokoh, dapat dilakukan oleh satu atau enam orang.

c. Lebih mengutamakan kualitas gerak dan nilai artistik dari gerakan tarian, sedangkan unsur cerita dalam pertunjukan tarian tersebut tidak menjadi perhatian utama.

d. Menceritakan siklus kehidupan manusia sejak lahir hingga beranjak dewasa hingga masa tua.

(19)

Penari topeng yang berada di wilayah ini pada umumnya adalah berasal dari generasi Arja. Salah satu seniman topeng yang masih ada adalah Keni Arja, yang mendapatkan pelajaran menari topeng tersebut justru dari kakak-kakaknya, dan kemampuannya semakin terasah saat melakukan bebarang hingga pelosok daerah. Ciri khas gaya di wilayah ini sangat teratur dalam setiap gerakannya. Keteraturan yang dimaksud adalah adanya peralihan yang sangat teratur antara perpindahan gerak satu ke gerakan yang lain, sehingga komposisinya terlihat harmonis.

Selama ini banyak kalangan yang mengetahui seniman topeng dari Slangit adalah Sudjana Arja, hal ini tampaknya berkaitan dengan pola pewarisan yang tidak menguntungkan bagi penari perempuan, karena kebanyakan pihak perempuan harus meminta ijin terlebih dulu pada suaminya untuk menari, sehingga konsentrasi dan kesempatan kaum perempuan sangat kurang dalam kesenian ini.

Tetapi kondisi ini tidak dialami oleh Keni Arja, karena ia direstui oleh suaminya untuk menjadi penari topeng, namun ia lebih mengutamakan pentas di kalangan masyarakat sehingga sosok Keni Arja tidak terpublikasi seperti penari yang lain.

Dari aspek kualitas, penari Keni Arja sebenarnya seniman yang sangat patuh pada ritual-ritual yang harus dilakukan seorang pedalang. Ritual yang dijalankan hingga kini adalah Mapag Tanggal , yang dilaksanakan setiap menyambut pergantian bulan. Dalam ritualnya, ia membuat sesaji berupa nasi tumpeng, bubur merah-bubur putih, kopi, air putih dan kelengkapan lain, kemudian setelah dilakukan pembacaan doa yang dipersembahkan pada Allah SWT dan Sunan Panggung, maka sesaji itu diberikan pada orang-orang disekitarnya.

Gambar IV.3 Siklus Ritual ’Mapag Tanggal’

(20)

Ritual yang kedua adalah Buka Panggung, yang dimaksud adalah ritual yang berkenaan dengan dimulainya musim hajatan. Waktu pelaksanannya adalah mengikuti siklus seperti ini : Buka Panggung-dua kali masa panen-musim kemarau panjang-masa tanam-panjang-masa panen-Buka Panggung. Acaranya berbentuk penyajian tari, dapat dilakukan di rumah atau di lapangan, dan mengundang orang-orang sekitar termasuk pejabat di lingkungannya untuk menonton ia menari topeng. Tujuan dari ritual ini adalah menyambut kebaikan dari alam setelah melewati musim kemarau yang sangat panjang

Gambar IV.4 Siklus Ritual ’Buka Panggung’

(sumber : hasil wawancara dengan Nunung Nurasih, puteri penari topeng Keni Arja)

Di antara seniman lainnya, sebenarnya Keni Arja adalah seniman yang lebih disukai oleh masyarakat dalam acara hajatan. Hal ini dikarenakan Keni Arja sering memenuhi permintan dari pihak penanggap maupun penontonnya untuk menyanyikan di sela-sela pertunjukan topengnya. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu tua seperti dermayon atau dandang gula, sedangkan penari laki-laki, pada umumnya tidak mau menerima permintaan untuk menyanyi, sehingga jarang mendapatkan tawaran untuk mentas di wilayahnya sendiri.

Keberadaan seorang penari topeng di lingkungan masyarakatnya sering pula dipandang sebagai orang memiliki kelebihan, seperti mampu mengobati anak yang sakit atau meminta doa atas sebuah musibah dan lainnya. Mengingat kelebihan itu, tidak jarang jika dalam suatu pementasan, ternyata ada anak tetangga dari si penanggap yang melahirkan, maka anak tersebut akan dijadikan sebagai anak panggung. Proses pengangkatan anak panggung dilakukan setelah anak tersebut diberikan doa di atas panggung, dan pada umumnya anak tersebut dijadikan anak angkat

(21)

Gambar IV.5 Keni Arja bersama puteranya Wiyono (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Dalam kesehariannya kini Keni Arja juga menyelenggarakan pelatihan tari topeng kepada masyarakat di sekitar rumahnya. Kegiatan ini adalah salah satu upaya bagi Keni untuk melestarikan kesenian ini. Selain mendirikan tempat berlatih, ia juga memiliki sanggar yang dinamakan sanggar ’Adiningrum’, biasanya jadwal pertunjukannya akan penuh pada saat menjelang musim tanam dan setelah bulan ramadhan.

Berikut adalah beberapa perangkat gamelan yang digunakan Keni Arja dalam setiap pementasannya :

Gambar IV.6 Kotak atau Peti

Kotak atau Peti berfungsi sebagai tempat menyimpan kelengkapan kostum dalam

pertunjukan

Gambar IV.7 Gamelan Topeng

Satu perangkat gamelan, saron, titil, kenong dan lainnya

(22)

Gambar IV.8 Gantungan Gong Gantungan buat gamelan gong

Gambar IV.9 Kala

Kala, detail pada bagian penyangga gong, hiasan berbentuk kala atau kepala (sumber : dokumentasi penulis, Mei 2006)

IV.10 Kostum Tari Topeng Cirebon Gaya Slangit

Dalam sebuah pertunjukan tari, faktor keberhasilan atas suatu pembawaan karakter, selain ditentukan oleh gerakan juga ditunjang dengan pemakaian kostum yang dikenakan penarinya. Oleh sebab itu pengidentifikasian terhadap suatu karakter harus tercapai dengan pemberian atribut yang tepat dengan karakter yang sedang dibawakannya. Dengan demikian akan terlihat suatu jalinan yang erat antara penari dengan kostum yang dikenakannya, karena ia mampu menggambarkan dan menonjolkan gambaran dari identitas karakter tersebut.

Penggunaan kostum dalam kegiatan tari atau busana tari juga ditekankan dalam tulisan Endang Caturwati (1997:34), yang mengungkapkan bahwa kostum atau busana adalah sebagai satu kesatuan yang saling mendukung, dan dapat memberikan keserasian badan, penekanan pada postur yang statis atau dinamis serta dapat memberikan kontras pada komponen pola gerakan.

(23)

Kostum pun kini telah menjadi bagian penting dalam kegiatan kesenian, selain berperan sebagai pelengkap estetika, juga memiliki kandungan sebagai nilai pembeda atau pengungkap identitas antar pertunjukan, yang memiliki kesamaan bentuk pada jenis kostum yang dikenakan. Hal ini tersirat dalam artikel majalah Parahiangan (dalam Tati Narawati, 2003: 33), sebagai berikut :

...Topeng tea asalna pisan mah kabinangkitan ti Djawa Tengah, sakoemaha anoe geus dicaritakeun di loehoer : sabangsa wajang wong ngan beda papakean jeung lalakona bae...

Hal senada juga dituliskan oleh R.I Maman Suryaatmadja (1983:16), yang mengutip pernyataan dari Seriere, bahwa keadaan berbusana para pelaku utama topeng tampak berbeda satu sama lainnya, pada pelaku utama pakaian tampak khusus, sedangkan yang lainnya berpakaian biasa.

Secara umum gambaran kostum tari topeng yang hingga kini ada adalah gambaran pakaian yang dikenakan oleh para bangsawan atau kalangan raja. Karena jika kita bandingkan dengan visual kostum tari yang lain, maka unsur-unsur kelengkapan dalan tari topeng lebih mengarah pada kelengkapan yang lengkap dari hiasan kalung, gelang sampai kain panjang.

Tampaknya kostum yang dikenakan penari topeng memperlihatkan pakaian yang dikenakan masyarakat kalangan atas atau kaum bangsawan, karena terlihat berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh rakyat jelata. Contohnya adalah dari cara penggunaan kain panjang dan aksesoris pada beberapa bagian tubuh. Tampaknya hal ini berkait dengan peristiwa awal kesenian ini tumbuh, yaitu dikalangan kerajaan atau keraton.

Keberadaan kostum sendiri dalam sebuah pertunjukan bersifat mutlak, karena pada dasarnya suatu tarian dapat terungkap dengan sempurna, bila seluruh unsur pendukung hadir di dalamnya, yaitu musik pengiring yaitu gending, tata rias, busana termasuk ungkapan gerak dan ekspresinya. Dengan kata lain penggunaan busana selain untuk menambah keindahan tampilan, juga menggambarkan identitas si penarinya. Sedangkan dalam sebuah kostum tari topeng, ada beberapa unsur pokok yang harus digunakan oleh penarinya, hal ini diuraikan oleh R. Gaos Harja Somantri (1978:20) sebagai berikut :

(24)

1. Hiasan kepala, terdiri dari tekes, makuta siger dan rarawis atau sumping. Tekes atau sobrah berfungsi sebagai penutup kepala dan terbuat dari rambut sintesis atau rambut manusia yang dijalin membentuk setengah lingkaran 2. Kedok, terbuat dari kayu, berbentuk wajah manusia, dengan warna yang

disesuai dengan karakter yang dibawakan.

3. Aksesoris atau hiasan badan, yang dikenakan pada leher, lengan, kaki dan bagian dada.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa kelengkapan dalam sebuah kegiatan pertunjukan berbeda dengan cara berpakaian keseharian. Pada kostum tari topeng Cirebon, beberapa kelengkapan yang dipakai terlihat khas antaralain penutup muka yang dinamakan topeng, penutup kepala berbentuk setengah lingkaran yang dinamakan tekes atau sobrah. Pada bagian atas dan belakang tekes biasanya terdapat hiasan-hiasan berupa manik-manik dan di samping kiri dan kanannya terdapat hiasan kembang melok , kemudian disambung dengan rarawis atau sumping, yaitu hiasan yang berjuntai panjang hingga batas ujung lengan penari. Hiasan lainnya adalah jamang yang terbuat dari kulit, letaknya melingkar dari area depan tekes hingga belakang, berhiaskan motif ukelan dan daun sirih bersusun dengan warna-warna yang disesuaikan dengan warna rarawis nya

Tekes yang digunakan dalam sebuah pementasan tari topeng, pada umunnya berjumlah empat buah, dan masing-masing dipakai pada setiap karakter. Ciri khas dari kostum tari topeng ternyata telah menjadi perhatian dari Tuan Hardouin dan Tuan Ritter (Pigeaud, 1938 ) sebagai berikut :

..penari topeng yang wanita pada umunya memakai semacam tekes, sebangsa wig dari rambut manusia berbentuk setengah bulatan. Busananya terdiri dari sarung, baju dan toka-toka, yang berasal dari bahasa Portugis dan artinya serban dan ikat pinggang.yang terdiri dari dua potong kain yang berbeda warnanya dan disampirkan ke atas bahu.

Pada catatan di atas sangat jelas terungkap bahwa tekes dan selendang dan kain yang dinamakan toka-toka adalah unsur yang paling terlihat untuk membedakan karakter busana topeng dengan tari lainnya, tentunya selain kedok yang dikenakan para penarinya. Istilah toka-toka sendiri berasal dari bahas Portugis, yaitu ’tocca’, yang artinya adalah serban dan ikat pinggang.

Perhatian mengenai penutup kepala dalam pertunjukan topeng yang disebut tekes, ternyata terdapat pula dalam catatan Dr. Juynboll (Pigeaud, 1938:60), ia menuliskan bahwa penutup kepala pemain topeng itu dinamakan ketu dan

(25)

penggunaannya pun hanya diperuntukan pada karakter ponggawa saja. Selain istilah ketu, ia menyebutkan pula istilah dester bulet yang kini disebut udeng giling, yaitu hiasan kepala dimana bagian pusat atau tengah yang disebut unyeng-unyeng kepala dibiarkan terlihat, dan biasanya dikenakan pada karakter Sabrangan atau Bugis.

Penggunaan kostum pada masa perkembangan kesenian ini sempat menjadi sebuah perlambangan atas status sosial bagi si penanggapnya. Karena pada awal abad 19, dalam catatan Pigeaud, disebutkan bahwa penari topeng dalam kegiatan bebarang-nya atau ngamen dari desa ke desa, saat itu hanya berbekal sebuah tekes dan sumping, sedangkan si penanggap harus menyediakan soder, yaitu sebuah selendang panjang, celana panjang dan kain. Keterangan ini juga diperjelas oleh Endo Suanda, seorang pemerhati kebudayaan Cirebon, yang menyatakan bahwa pada masa dahulu penari topeng menari dengan kain pemberian dari si penanggapnya dan tidak ditentukan jenis atau motif kain yang akan diberikan pada penarinya. Gambar kostum tari topeng gaya Slangit dapat dilihat pada lampiran

Kostum yang digunakan Keni Arja pada periode tahun 2006, pada dasarnya terbagi atas dua jenis. Pembagiannya sebagai berikut, untuk kostum raja yang berkarakter halus, maka warna yang dipakai umumnya bernuansa terang, sedangkan untuk kostum karakter raja gagah atau kasar, maka warna kostum yang digunakan bernunasa gelap. Di bawah ini contoh kostum milik Keni Arja, yang dibedakan atas dua karakter, yaitu karakter raja gagah dan raja halus.

(26)

Gambar IV.10

Kostum Gaya Slangit pada Tokoh Gagah yaitu Patih

Gambar IV.11

Kostum Gaya Slangit pada Tokoh Halus, yaitu Panji

(sumber : dokumentasi penulis, Mei 2006)

Bentuk kostum tari topeng yang digunakan oleh Keni Arja hingga saat ini diakuinya sebagai kostum yang bentuknya masih menggunakan pakem-pakem yang telah digariskan oleh para pendahulunya. Salah satu bentuk kepatuhannya adalah Keni Arja tetap menggunakannya kain krodong bermotif lokcan yang berasal dari desa Juwana - Jawa Tengah. Walaupun kondisi kain tersebut sudah rusak, namun tetap dipertahankan, karena hingga saat ini ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan kain dengan kualitas yang sama dengan krodong yang dimilikinya.

Selain krodong, Keni Arja juga tetap menggunakan topeng pemberian dari kedua orangtuanya, walaupun kondisinya sendiri sudah rusak dan telah pudar. Tidak dijelaskan mengapa topeng tersebut masih tetap dipertahankan, namun menurut Toto Amsar Suanda, seorang penari topeng sekaligus pemerhati kebudayaan Cirebon, menjelaskan bahwa setiap topeng tua pasti memiliki ’isi’, dan cara memperlakukannya pun tidak boleh sembarangan. Bahkan pada beberapa topeng-topeng tua yang digunakan penari topeng-topeng, sering ditemukan pula rajah-rajah bertuliskan Arab gundul, isinya adalah doa-doa yang harus dilafalkan oleh si pedalang saat akan melakukan pertunjukan.

IV.11 Kelengkapan Kostum Tari Topeng Slangit-Cirebon

Sebelum mencapai bentuk kostum yang sekarang, tentunya kita harus melacak bentuk tua dari kostum tari topeng yang pernah ada. Bagaimanapun telah kita

(27)

ketahui bersama bahwa kesenian tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kita mengalami perjalanan yang panjang dalam sejarah perkembangannya.

Perkembangan dan perubahan terhadap kesenian ini tidak dapat terelakkan lagi, sehingga bermunculan nilai-nilai dan bentuk-bentuk yang baru, baik yang telah ada sebelumnya, atau yang lahir sebagai kesenian baru.

Dalam pertunjukan tari topeng perubahan-perubahan pun terjadi, terutama dari aspek apa yang dikenakannya oleh penarinya. Apa yang dikenakan oleh penari mungkin lebih rentan mendapat pengaruh daripada kandungan nilai dari tarian tersebut.

Unsur kostum dalam pertunjukan topeng adalah keseluruhan unsur visual yang ada da digunakan oleh penarinya saat melakukan pertunjukan. Secara umum kelengkapan kostum tari topeng yang utama dan tetap digunakan hingga sekarang adalah sebagai berikut :

Tabel IV.5 Bagian dan Kelengkapan pada Kostum Tari Topeng Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah: Terdiri hiasan kepala yang

terdiri, yaitu : 1. Topeng 2. Makuta 3. Jamang

Terdiri dari hiasan pada leher, tangan dan pinggang, yaitu : 1. Kalung 2. Kelat bahu 3. Sabuk 4. Gelang 5. Baju Terdiri dari :

1. Ikat pinggang atau sabuk 2. Tutup rasa atau katok 3. Kain batik yang disebut

dodot dan selendang yang dinamakan sampur atau soder.

(sumber : dirangkum dari berbagai sumber)

IV.11.1 Unsur dalam Kostum Tari Topeng Slangit IV.11.1.1 Topeng

Topeng yang digunakan Keni Arja terdiri dari lima buah topeng, yaitu Panji, Pamindo, rumyang, Patih dan Klana. Ternyata topeng yang dimiliki oleh setiap penari walaupun terlihat sama, namun dari aspek rupa terdapat unsur-unsur visual yang berbeda. Pada topeng milik Keni Arja, bentuk alis terlihat lebih tipis, dan bentuk bibir cenderung dalam posisi tersenyum pada tokoh Panji, Pamindo dan Rumyang.

(28)

Sedangkan pada tokoh Patih dan Klana, bentuk bibir walaupun terlihat tebal, tapi tidak membuka terlalu lebar. Di bawah ini adalah topeng yang dipakai oleh Keni Arja dalam setiap pementasannya :

Panji Pamindo Rumyang Patih Klana

Gambar IV.12 Lima Karakter Topeng di Cirebon (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Selain bentuk topeng yang digunakannya, di bawah ini juga dijelaskan gambaran atas karakter yang terdapat pada muka topeng, sebagai berikut :

Tabel IV.6 Karakter pada Topeng

Tokoh Karakter dan Simbol Warna Tingkatan

Panji Karakter : Ksatria, Dewa dan Raja.

Simbol : keagungan, suci, kesabaran, ketinggian budi, penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa

Putih Marifat

Pamindo Karakter : Pangeran

Simbol : Keikhlasan dan kesabaran

Putih Hakikat

Rumyang Karakter : Ksatria

Simbol : keikhlasan dan kesabaran

Merah muda Insan kamil Patih Karakter : Pejabat

Simbol : kemauan keras, ambisius dan berani karena benar

Merah Hakekat

Klana Karakter : Ksatria jahat

Simbol : amarah, nafsu dan angkara murka

Merah Kelang (tua)

Syariat

(29)

IV.11.1.2 Sobrah atau Tekes

Sobrah atau tekes adalah penutup kepala pada penari topeng saat melakukan pertunjukan. Berikut di bawah ini adalah bagian-bagian pada sebuah sobrah :

Gambar IV.13 Unsur –unsur pada Sobrah (sumber : Usep Kutiawan, 1996)

Untuk jenis rambut yang ada pada sobrah atau tekes yang digunakan Keni Arja, umumnya terdapat dua jenis, yaitu yang jalinan rambutnya rapat dan terjahit, disebut jejepan dan rambut sobrah yang dapat disisir, yang disebut dianyam atau anyaman.

Gambar IV.14 Sobrah Jenis Jejepan

Jalinan rambut pada sobrah terlihat lebih rapat dan rapih kerena rambut dijahit

Gambar IV.15

Sobrah Jenis Anyaman atau Sisiran Rambut pada sobrah dibiarkan tidak terjalin dan mengarah keatas, namun

rambut tersebut bisa di sisir (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Makuta atau mahkota Kembang Melok Rarawis atau Sumping Jamang Rambut Sasak atau Wig

berbentuk setengah lingkaran

(30)

Pada bentuk sobrah yang digunakan penari Keni Arja, umumnya ia membedakan atas penggunaan dua karakter, yaitu karakter gagah dan karakter halus. Untuk karakter yang halus bentuk sasakan rambut lebih kecil, dan ornamen pada jamang lebih sederhana, sedangkan pada karakter gagah, bentuk sasakan dan ornamen pada jamang lebih besar serta warna yang disesuaikan dengan karakter gagahan, yaitu merah.

Gambar IV.16 Tampak Depan Sobrah atau Tekes

Karakter Halus

Gambar IV.17 Tampak Belakang Sobrah atau Tekes

Karakter Halus Gambar IV.18 Tampak Depan Sobrah atau Tekes Karakter Kasar Gambar IV.19 Tampak Belakang Sobrah atau Tekes

Karakter Kasar

(sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Untuk tokoh Patih, penutup kepala yang digunakan bukan berbentuk sobrah, namun telah diganti dengan bentuk peci-bendo, seperti di bawah ini :

Gambar IV.20

Penggunaan Peci-bendo pada Patih

Gambar IV.21 Detail Peci-bendo pada Patih

(31)

Untuk kostum yang digunakan pada bagian tengah penari atau tubuh penari, uraiannya adalah berikut :

Gambar IV.22 Unsur Kostum pada Bagian Tengah (Sumber : dokumentasi penulis, 2006)

(32)

Untuk hiasan di pinggang, Keni Arja sempat menggunakan ikat pinggang yang etrbuat dari logam, yang disebut Badong. Akibat sulitnya mencari ikat pinggan dari logam, maka ia menggantikannya dengan ikat pinggang yang bersifat praktis, terbuat dari kain dan ada penutup pada bagian bawahnya, yang disebut Tutup Rasa.

Gambar IV.23

Badong Ikat Pinggang dan Tutup Rasa Gambar IV.24

(sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Pada penutup tubuh tokoh Patih, terdapat penambahan dalam kostum tariannya, yaitu Klambi Gulu, uraianya adalah sebagai berikut :

Terbuat dari kain putih yang dibentuk menyerupai bagian depan kemeja dan bagian belakangnya menyerupai potongan sebuah jas.

Gambar IV.25 Unsur Kostum Bagian Atas untuk Tokoh Patih (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Pada bagian bawah atau penutup bagian bawah, unsur kostumnya adalah kain panjang , selendang panjang atau soder dan celana sontog, berikut uraiannya :

(33)

Kelengkapan pada bagian bawah terdapat celana, soder, keris, sabuk dan tutup rasa atau katok. Penggunaan tutup rasa adalah alternatif dari penggunaan ikat pinggang, yang semula bernama badong dan terbuat dari logam. Sedangkan ikat pinggang yang sekarang terbuat dari

kain beludru

Gambar IV.26 Unsur Kostum Bagian Bawah (sumber : Dokumentasi Penulis,2006)

Bentuk kain dodot yang digunakan pun terdapat perbedaan, yaitu untuk tokoh halus dan tokoh lincah, uraiannya sebagai berikut :

Gambar IV.27 Lancar Gelar tokoh halus

Gambar IV.28 Lancar Cangcut Tampak depan pada tokoh

lincah

Gambar IV.29 Bentuk Lancar Cangcut Tampak belakang pada tokoh

lincah (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Untuk memperlihatkan bagiamana perbedaan bentuk antara kain dodot lancar gelar yang digunakan untuk tokoh Panji dengan kain dodot lancar cangcut untuk

(34)

karakter lincah, maka di bawah ini diperlihatkan cara penggunaan kain jenis tersebut, berikut uraiannya :

1 2 3

4 5 6

Gambar IV.30 Penggunaan Kain Lancar Gelar (sumber : dokumentasi penulis, 2007)

Gambar IV.31 Penggunaan Kain Lancar Cangcut (sumber : dokumentasi penulis, 2007)

(35)

Figure

Tabel IV.1  Konsep dalam Topeng Cirebon

Tabel IV.1

Konsep dalam Topeng Cirebon p.11
Gambar IV.1

Gambar IV.1

p.13
Tabel IV.2   Konsep ‘Buana Panca Tengah’

Tabel IV.2

Konsep ‘Buana Panca Tengah’ p.13
Tabel IV.3   Konsep ’Saderek Gangsal Baju’

Tabel IV.3

Konsep ’Saderek Gangsal Baju’ p.14
Gambar  IV.6  Kotak atau  Peti

Gambar IV.6

Kotak atau Peti p.21
Gambar IV.5  Keni Arja bersama puteranya Wiyono  (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Gambar IV.5

Keni Arja bersama puteranya Wiyono (sumber : dokumentasi penulis, 2006) p.21
Gambar IV.8  Gantungan Gong  Gantungan buat gamelan gong

Gambar IV.8

Gantungan Gong Gantungan buat gamelan gong p.22
Gambar IV.10

Gambar IV.10

p.26
Tabel IV.5  Bagian dan Kelengkapan pada Kostum Tari Topeng

Tabel IV.5

Bagian dan Kelengkapan pada Kostum Tari Topeng p.27
Gambar IV.12  Lima Karakter Topeng di Cirebon  (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Gambar IV.12

Lima Karakter Topeng di Cirebon (sumber : dokumentasi penulis, 2006) p.28
Tabel IV.6   Karakter pada Topeng

Tabel IV.6

Karakter pada Topeng p.28
Gambar IV.13 Unsur –unsur pada Sobrah   (sumber : Usep Kutiawan, 1996)

Gambar IV.13

Unsur –unsur pada Sobrah (sumber : Usep Kutiawan, 1996) p.29
Gambar IV.16  Tampak Depan  Sobrah atau Tekes

Gambar IV.16

Tampak Depan Sobrah atau Tekes p.30
Gambar IV.20

Gambar IV.20

p.30
Gambar IV.17  Tampak Belakang  Sobrah atau Tekes

Gambar IV.17

Tampak Belakang Sobrah atau Tekes p.30
Gambar IV.22 Unsur  Kostum pada Bagian Tengah   (Sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Gambar IV.22

Unsur Kostum pada Bagian Tengah (Sumber : dokumentasi penulis, 2006) p.31
Gambar IV.25  Unsur Kostum Bagian Atas untuk Tokoh Patih  (sumber : dokumentasi penulis, 2006)

Gambar IV.25

Unsur Kostum Bagian Atas untuk Tokoh Patih (sumber : dokumentasi penulis, 2006) p.32
Gambar IV.23

Gambar IV.23

p.32
Gambar IV.26  Unsur Kostum Bagian Bawah  (sumber : Dokumentasi Penulis,2006)

Gambar IV.26

Unsur Kostum Bagian Bawah (sumber : Dokumentasi Penulis,2006) p.33
Gambar IV.27    Lancar Gelar tokoh halus

Gambar IV.27

Lancar Gelar tokoh halus p.33
Gambar IV.31 Penggunaan Kain Lancar Cangcut  (sumber : dokumentasi penulis, 2007)

Gambar IV.31

Penggunaan Kain Lancar Cangcut (sumber : dokumentasi penulis, 2007) p.34

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in