Jurnal Kebidanan STIKes Tuanku Tambusai Riau Page 68 HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSU KABANJAHE TAHUN 2014
Elvi Era Liesmayani
Dosen STIKes Helvetia Medan, Indonesia
ABSTRACT
Anemia in pregnan mothers is a health problem experienced by women all over the world especislly in the developing countries including Indonesia. The World Health Organization (WHO) argued that the prevalence of pregnant women experiencing deficiency was about 35% - 75% and it has influenced almost half of all pregnant women suffering anemia in the world in which 52% in the developing countries and 23% in the developed countries and this condition keeps increasing in line with the increase of gestational age. The purpose of thsis study was to find out the relationship between anemia in pregnant mothers and the incident of the baby with low birth weight at Kabanjahe General Hospital in 2014.The samples for this descriptive analytical study with cross-sectional design were 69 pregnant mothers. The data used in this study were the secondary data. The data obtained were statistically analyzed through Chi-square test.The rersult of this study showed that of the 69 pregnant mothers, 38 of them (55.1%) delivered the babies with low birth weight and 31 of them (44.9%) did not deliver the babies with low birth weight. The result of Chi-square test showed that p = 0.04 < α = 0.05 meaning that there was a relationship between pregnant mother suffering from anemia and the incident of the baby delivered with low birth weight.The conclusion drawn is that there is a relationship between pregnant mother suffering from anemia and the incident of the baby delivered with low birth weight.
Keywors : Anemia, Low Birth Weight Babies Bibliography : 13 (2010-2013)
PENDAHULUAN
Anemia defisiensi pada wanita hamil merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita diseluruh dunia terutama dinegara berkembang (Indonesia).WHO melaporkan bahwa prevalensi wanita hamil yang mengalami defisiensi sekitar 35- 75%, dan mempengaruhi hampir separuh dari semua wanita hamil di dunia. 52% terdapat di negara berkembang, sedangkan untuk negara maju 23% serta semakin meningkat seiring dengan bertambah usia kehamilan.
pada ibu hamil.Anemia atau yang sering di sebut orang awam sebagai penyakit kurang darah atau kelelahan itu adalah merupakan suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Ibu hamil yang anemia biasanya akan merasa lemas, pusing, berkunang-kunang dan tidak dapat berdiri terlalu lama. Ibu yag anemia akan mudah lelah dan tidak dapat melakukan pekerjaan berat. Biasanya ibu yang hamil dengan Anemia itu memiliki resiko ketika kehamilan dan persalinan berupa abortus, bayi lahir premature atau BBLR, perdarahan dan dapat juga terjadi kematian perinatal.
Anemia merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika jumlah sel darah merah (eritrosit) dan jumlah hemoglobin yang ditemukan da lam sel-sel darah merah menurun dibawah normal.Sel darah merah dan hemoglobin yang terkandung di dalamnya diperlukan untuk tranportasi dan pengiriman oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh.Anemia dapat ringan, sedang atau berat tergantung pada sejauh mana menghitung tingkat hemoglobin yang menurun (2).
Anemia pada saat hamil jikaa tidakdalampengawasan dapat mengakibatkan efek buruk, baik bagi ibu maupun kepada bayi yang dilahirkannya. Anemia dapat mengurangi suplai oksigen pada metabolisme ibu karena kekurangan kadar hemoglobin untuk mengikat oksigen yang dapat mengakibatkan efek tidak langsung pada ibu dan bayi antara lain kematian bayi, bertambahnya kerentanan ibu terhadap infeksi dan anemia pada ibu hamil mempunyai konstribusi terhadap tingginya angka BBLR di
mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya. Oleh karena itu penanggulangan anemia menjadi satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang telah dilaksanakan pemerintah sejak pembangunan jangka panjang.(3)
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil seperti perbaikan asupan gizi, program pemberian tablet zat besi, dan pemberian preparat besi jauh
sebelum merencanakan
kehamilan.Akan tetapi upaya – upaya tersebut belum memuaskan, dimana anemia pada ibu hamil masih terjadi. Penyebab anemia biasanya bisa terjadi karena banyak kehilangan darah karena perdarahan, rusaknya sel darah merah karena penyakit seperti malaria, dan kurang produksi sel darah merah karena ibu kurang mengkonsumsi makanan. Kegagalan kenaikan berat badan ibu pada trimester I dan II akan meningkatkan kemungkinan lahirnya bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Hal ini terjadi karena plasenta mengecil
sehingga mengakibatkan
berkurangnya zat-zat makanan kejanin.Bayi dengan berat badan lahir rendah mempunyai resiko kematian lebih tinggi dibanding dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal (4).
70 dari 2500 gr. Secara nasional
berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5% (5).
Dalam pernyataan yang diterbitkan di laman resmi WHO itu dijelaskan, untuk mencapai target MDGs penurunan angka kematian ibu antara 1990 dan 2015 seharusnya 5,5 persen per tahun. Namun data WHO, UNICEF, UNFPA dan Bank Dunia menunjukkan angka kematian ibu dengan komplikasi anemia hingga saat ini masih kurang dari satu persen per tahun, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran terlebih lagi, rendahnya penurunan angka kematian ibu global tersebut merupakan cerminan belum adanya penurunan angka kematian ibu secara bermakna di negara-negara yang angka kematian ibunya rendah. Hanya Asia Timur yang penurunannya telah mendekati target yakni 4,2 persen per tahun serta Afrika Utara, Asia Tenggara. Di Sumatera Utara, data tahun 2008 menunjukkan jumlah Angka Kematian Ibu yaitu 113,96/100000 kelahiran hidup. Sedangkan tahun 2009, tercatat jumlah AKI 100,04/100000 kelahiran hidup. Target AKI 2014 RPJMN adalah
114/100.000KH dan target MDG’s
AKI Tahun 2015 102/100.000KH. Tingginya angka kematian ibu (AKI ), serta penurunannya yang relatif lambat menandakan bahwa derajat kesehatan ibu masih belum seperti yang diharapkan. Kematian banyak terjadi pada kasus rujukan kebidanan yang terlantar atau terlambat dirujuk
kekomplikasi abortus dan penanganan abortus yang tidak aman. Kejadian komplikasi kehamilan dan persalinan masih sering dijumpai, antara lain umur ibu yang terlalu muda atau terlalu tua, paritas tinggi dan jarak antara kehamilan dan persalinan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun). Selain itu ternyata 63,5% ibu hamil menderita anemia. Tingkat pendidikan ibu, tingkat sosial ekonomi serta faktor budaya juga mempengaruhi tingginya kematian ibu (6).
Berdasarkan hasil survei awal data Medical Record RSU Kabanjahe pada tahun 2014, didapati kasus anemia dengan kelahiran BBLR pada tahun 2011 sebanyak 33 orang, pada tahun 2012 sebanyak 39 orang dan pada tahun 2013 sebanyak 40 orang. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang ibu hamil dengananemia yang melahirkan dengan BBLR di rumah sakit tersebut karena makin meningkatnya angka BBLR selama 3 tahun belakangan ini. Pemantauan kesehatan dan status gizi ibu hamil baik pada awal kehamilan dan selama masa kehamilan merupakan upaya pendekatan yang potensial dalam kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan ibu dan anak, sehingga dapat disimpulkan bahwa dari data diatas apabila ibu hamil mengalami anemia dapat menyebabkan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) .
RUMUSAN MASALAH RumusanMasalah penelitian :
Apakah ada Hubungan anemia pada ibu hamil dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSU Kabanjahe Tahun 2014 ?
pada ibu hamil dengan kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSU Kabanjahe Tahun 2014..
METODE PENELITIAN Desain Penelitian
Penelitian inimenggunakan desain deskriptif analitik dengan rancangan crossectinal, karena pengukuran variabel bebas ( anemia) dengan variabel terikat ( Kejadian BBR) dilakukan sekali waktu pada saat yang bersamaan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSU Kabanjahepada bulan Maret sampai dengan September 2014.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil dengan anemia yang memeriksakan kehamilannya dan melahirkan di RSU Kabanjahe dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2014 berdasarkan catatan medical record yang ada, yaitu sebanyak 69 orang ibu hamil dengan anemia.
Sampel
Peneliti mengambil sampel dan seluruh jumlah populasi (total populasi), yaitu 69 orang ibu hamil dengan anemia.
Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang diambil berdasarkan pencatatan pada Medical Record di RSU Kabanjahe tahun 2014.
Metode Analisis Data
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian.
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variable penelitian dengan uji statistik chi square pada batas kemaknaan 95%.
HASIL PENELITIAN Analisis Univariat
Dapat diketahui bahwa dari 69 ibu hamil yang mengalami anemia, distribusi frekuensi yang anemia RSU kabanjahe, dapat diketahui distribusi frekuensi dengan BBLR sebanyak 38 bayi (55,1%),dan bayi yang tidak mengalami BBLR sebesar 31 bayi (44,9%).
Analisis Bivariat
Hasil tabulasi silang bahwa antara BBLR dan tidak BBLR dari 69 ibu hamil penderita anemia didapati sebanyak 38 orang (55,1%) yang melahirkan BBLR dan yang tidak melahirkan BBLR sebanyak 31 orang (44,9%). Hasil uji statistik chi square pada tingkat kepercayaan 0,05 diperoleh nilai p = 0,039< 0,05 maka ada hubungan anemia dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dengan perbedaan 10,2% di RSU Kabanjahe Tahun 2014.
72 Total 38 55,131 44,9 69 100,0
PEMBAHASAN
Prevalensi Ibu Hamil Anemia Pada umumnya ibu hamil yang berkunjung ke RSU Kabanjahe cenderung mengalami anemia, dari 69 orang ibu hamil sebanyak 14 orang denagn anemia ringan (20,3%), dan ibu hamil anemia sedang sebanyak 28 orang (40,6%) sedangkan ibu hamil anemia berat sebanyak 27 orang (39,1%). Menurut peneliti bahwa ibu hamil penderita anemia masih tinggi. Walaupun anemia dalam kehamilan merupakan fisiologis, namun perlu dicegah dengan pemberian tablet zat besi selama masa kehamilan, agar ibu hamil tidak mengalami anemia berat dan bayi yang dilahirkan tidak mengalami BBLR. Selain itu perlunya peningkatan kesadaran dan pengetahuan wanita usia subur dalam pencegahan anemia dengan melakukan pola hidup yang baik. Prevalensi Berat Badan Lahir Rendah
Diketahui bahwa bayi yang dilahirkan dari 69 orang ibu hamil denagna anemia , yang mengalami BBLR sebanyak 38 bayi (55,1%) dan yang tidak mengalami BBLR sebanyak 31 bayi (44,9%). Bayi berat lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. Ibu penderita anemia saat kehamilan berpengaruh terhadap janin sehingga keadaan anemia mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.(22). Menurut peneliti bahwa BBLR sangat rentan untuk mengalami komplikasi dan meningkatkan angka kematian pada bayi. Maka dari itu dianjurkan kepada ibu hamil agar mengkonsumsi makanan yang bergizi dengan menu
seimbang dan banyak mengandung zat besi serta asam folat
Hubungan Anemia dengan kejadian BBLR
Hasil penelitian pada tabulasi silang menunjukkan bahwa anemia berat pada ibu hamil paling banyak menyebabkan kejadian BBLR, yaitu sebanyak 20 orang (29%) dan yang tidak melahirkan BBLR sebanyak 7 orang (10,1%). Dan untuk ibu hamil dengan anemia sedang menyebabkan kejadian BBLR lebih kecil, yaitu sebanyak 12 orang (17,4%) dan tidak menyebabkan BBLR sebanyak 16 orang (23,2%). Namun ternyata ibu hamil dengan anemia ringan juga dapat menyebabkan kejadian BBLR, yaitu sebanyak 6 orang (8,7%) dan yang tidak BBLR sebanyak 8 orang ( 11,%). Diketahui dalam tabel 1 bahwa P Value yang diperoleh adalah 0,039, nilai ini menunjukkan bahwa P Value 0,039 (< alpha0,05). Hasil penelitian ini lebih kecil dibandingkan jumlah kejadian BBLR pada ibu dengan anemia yang dilakukan pada penelitian Masrifah, bahwa ibu hamil yang menderita anemia melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sebesar 41,7% (8).
rendah atau sangat tinggi akan meningkatkan insiden BBLR dan kelahiran prematur. Karena kadar Hb yang rendah akan mempengaruhi kemampuan sistem maternal untuk memindahkan oksigen dan nutrisi yang cukup ke janin. Sedangkan kadar Hb yang tinggi dianggap mencerminkan ekspansi volume plasma yang buruk seperti pada kondisi patologis, misalnya pre-eklamsia (2).
Anemia pada saat hamil dapat mengakibatkan efek buruk baik pada ibu maupun kepada bayi yang dilahirkannya. Anemia dapat mengurangi suplay oksigen pada metabolisme ibu karena kekurangan kadar hemoglobin untuk mengikat oksigen yang dapat mengakibatkan efek tidak langsung pada ibu dan bayi antara lain kematian bayi, bertambahnya kerentanan ibu terhadap infeksi dan kemungkinan bayi lahir prematur.
Pada anemia ringan mengakibatkan terjadinya kelahiran prematur dan BBLR.Sedangkan pada anemia berat selama masa hamil dapat mengakibatkan resiko morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi yang dilahirkan.Selain itu anemia juga dapat mengakibatkan hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, ketuban pecah dini (KPD).
Anemia pada ibu hamil bukan tanpa resiko, menurut penelitian tingginya angka kematian ibu berkaitan dengan anemia.Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen.Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan.Resiko kematian maternal, angka prematuritas, bayi berat badan lahir rendah, dan angka
Perdrahan antepartum juga sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah (13). Pengaruh anemia saat kehamilan dapat mengakibatkan
keletihan, sakit kepala, sesak nafas, nyeri dada, takikardia, penurunan daya tahan terhadap infeksi, gangguan fungsi otot, peningkatan kehilangan darah selama persalinan, toleransi yang rendah terhadap kehilangan darah, abortus, persalianan prematuritas, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), dll. Bahaya terhadap janin sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sampai pada kemampuan kognitif yang buruk (7).
Pendapat peneliti berdasarkan hasil penelitian di RSU Kabanjahe, bahwa anemia dalam kehamilan dapat mempengaruhi kesejahteraan ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun dalam masa nifas terutama juga pada bayi yang ajkan dilahirkan, diantaranya dapat mengalami BBLR dan beresiko komplikasi yang serius. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian, bahwa ditemukan ada hubungan antara BBLR dengan ibu hamil penderita anemia.
PENUTUP Kesimpulan
74 Kabanjahe Tahun 2014, maka dapat
diambil simpulan sebagai berikut : Distribusi frekuensi ibu hamil anemia terbanyak dengan anemia sedang sebanyak 28 orang (40,6%). Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemenuhan gizi seimbang dalam kehamilan dan tidak teraturnya ibu memeriksakan kehamilannya serta mengkonsumsi tablet zat besi. Masih dijumpainya berat badan lahir bayi rendah di RSU Kabanjahe dengan prevalensi sebanyak 38 bayi (55,1%). Ada hubungan anemia dengan kejadian bayi berat badan lahir rendah di RSU Kabanjahe Tahun 2014 (P 0,04< α 0,05).
Saran
Tenaga kesehatan di RSU Kabanjahe, khususnya bidan, untuk melakukan konseling dan peendidikan kesehatan kepada ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilannya, diantaranya tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan sebagai deteksi dini ibu hamil resiko tinggi dalam rangka mencegah kelahiran bayi BBLR.
Ibu hamil, diharapkan untuk lebih memperhatikan setiap perubahan pada kehamilannya, aail perubahan fisik maupun psikologisnya, dan mau memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan sebagai upaya memantau kesehatan janin, seperti kontrol Anc minimal selama kehamila 4 kali, pada trimester 1 satu kali kunjungan, trimester II satu kali kujungan dan trimester III dua kali kujungan, sebagaiupaya deteksi dini tanda bahaya pada kehamilan.
DAFTAR PUSTAKA
WHO, Problema kesehatan yang dialami wanita, 2012
Proverawati, Atikah, Anemia dan Anemia Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika, 2011
Ai Yeyeh Rukiyah. Asuhan Kebidanan Patologi 4. Trans Info Media: Jakarta, 2013
Maryunani, A, Puspita, EAsuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media: Jakarta, 2013.
Pantiawati, Ika, Bayi Dengan BBLR. Yogyakarta: Nuha Medika, 2010.
Dr. Luh Seri Ani, Anemia Defisiensi Besi. Jakarta: ECG, 2013.
Soleha, N., Hubungan Anemia Dengan Kejadian BBLR di RSU.Haji Medan., Akademi Kebidanan Helvetia: Medan, 2013.
Masrifah, H.,Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Kejadian BBLR Di RSUD. Dr. Pirngadi Medan, Universitas Prima Indonesia: Medan, 2010.
Agustini, Nelly, Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah(BBLR) di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2008 , 2009.
Prawirohardjo, Sarwono, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Cetakan V. Jakarta: Bina Pustaka, 2010.
Prof.Dr.Rustam Mochtar M. Sinopsis Obstetri. Jakarta: ECG; 2010.
Rukiyah, A & Lia Yulianti, Asuhan Kebidanan 4 (Patologi). Jakarta: CV. Trans Info Media, 2010. Tarwoto & Wasnidar, 2010. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Jakarta: Trans Info Medica
Ismawati,. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Yogyakarta: Nuha Medica, 2010
Wylie,L, & Helen Bryce, Manajemen Kebidanan Gangguan Medis Kehamilan Dan Persalinan. Alih bahasa: Monica Ester & Anastasia Onny Tampubolon, Jakarta: EGC, 2010.
Sunita almatsier. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta Gramedia Pustaka Utama, 2009.
Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Arikunto, S., Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010. Muhammad, Iman,.Panduan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bidang Kesehatan. Bandung: Cipta Pustaka Media Perintis, 2011.
Profil Kesehatan Rumah Sakit Umum Kabanjahe, 2014