• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENDALIAN VEKTOR DAN RODENT RESTORAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGENDALIAN VEKTOR DAN RODENT RESTORAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PENGENDALIAN VEKTOR DAN RODENT DI RESTORAN Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah pengendalian vektor dan Rodent

Disusun Oleh: Kelompok 3 : Alih Jenis - 2B

Arie Aulia Affandi 101611123024

Rohmanur Izzani 101611123026 Aulia Radhika 101611123028 Ilafi Rumaisya Nursyi 101611123030 Zulfia Husnia 101611123032 Hardian bimanto 101611123034 Richa Frastia Prahardani 101611123060

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas segala limpahan Rahmat, Taufik dan Hidayahnya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Pengendalian Vector Dan Rodent di Restoran” sebagai salah satu bahan tugas Mata Kuliah Pengendalian Vector Dan Rodent.

Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang penyusun hadapi. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Penyusun juga menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini juga didapatkan berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen mata kuliah, orang tua, serta teman-teman kelompok sehingga kendala yang penyusun hadapi dapat teratasi.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Pengendalian Vector dan Rodent di Restoran yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Alih Jenis 2B Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan

makalah kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Surabaya, Juni 2017

(3)

DAFTAR ISI

BAB I ... 1

PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan ... 2

BAB II ... 3

TINJAUAN PUSTAKA... 3

2.1 Pengendalian Rodent ... 3

2.2 Pengendalian Vektor ... 6

2.3 Pengendalian rodent dan vektor di restoran ... 6

2.3.1 Restoran ... 6

2.3.2 Cara Pengendalian Rodent dan vector di Restoran ... 7

BAB III... 14

PENUTUP ... 14

3.1 Simpulan ... 14

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Upaya pengendalian hama serangga, tikus dan rayap baik dilingkungan

perumahan (residential) dilingkungan komersial (commercial), di kantor, di gedung bertingkat, rumah sakit, restoran, swalayan, museum, hotel, maupun di lingkungan industrial telah dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama. Pengendalian hama yang dilakukan selama ini lebih banyak dilakukan dengan mengandalkan penggunaan pestisida & rodentisida saja, sangat jarang pengendalian dilakukan secara komprehensive, yang melibatkan semua aspek yang mempengaruhi keberadaan atau tempat yang biasanya di tempati oleh hama tersebut. Apabila pengendalian hama hanya mengandalkan penggunaan pestisida saja, maka untuk jangka panjang masalah yang timbul tidak akan teratasi dengan baik, malahan akan menimbulkan masalah baru yakni terjadinya Resistance atau Persistence serta menimbulkan potensial kesehatan manusia, mengancam species non target, dll.

Kehadiran binatang pengganggu mulai dirasakan menimbulkan masalah bila populasinya telah melampaui batas dan menimbulkan problematika kesehatan dan aspek hygiene lingkungan, berbagai kerugian ekonomi dapat ditimbulkan, demikian pula berbagai penyakit tanaman, hewan ataupun manusia dapat ditularkan oleh hama tersebut, antara lain dengan timbulnya berbagai macam penyakit seperti typhus, cholera, pes, malaria dan demam

berdarah yang dibawa oleh hama-hama tersebut. Tindakan antisipatif untuk menekan akibat langsung ataupun tidak langsung perlu diupayakan pengelolaan yang komprehensif dan terpadu antara lain dengan program Integrated Pest Management (IPM). Program pengelolaan ini dapat meliputi Pengendalian Hama Serangga (lalat, kecoa,dan nyamuk) dan Pengendalian Hama Rondensia (tikus).

(5)

rodent pasti ada di tempat mananpun,sehingga yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana meminimalkan dampak buruk terutama dampak kesehatan akibat dari rodent. Maka dari itu suatu restauran atau tempat makan harus meminimalkan adanya rodent dan vektor agar tidak menimbulkan penyakit pada pelanggan sehingga pelanggan dapat makan dengan puas dan bisnis restoran akan banyak dikunjungi pelanggan dan restoran memperoleh keuntungan yang maksimal.

Banyaknya isu pangan dan masalah hama dalam usaha makanan dan minuman (F&B) telah menyebabkan meningkatnya kesadaran publik akan kualitas dan keamanan makanan di setiap belahan dunia termasuk Indonesia. Adanya hama pada sebuah outlet F&B tidak hanya merusak pengalaman bersantap pelanggan juga memiliki resiko kontaminasi makanan. Sebagai contoh, selain memilih restoran berdasarkan rasa yang enak, reputasi koki, pilihan menu, desain makanan yang menarik, suasana dan dekorasi ruangan, pelanggan biasanya juga akan memperhatikan kualitas pelayanan dari staff restoran dan yang lebih penting adalah standar kebersihan dan hygiene dari restoran. Ada beberapa contoh pelaporan seperti terdapat lalat di makanan tamu atau makanan yang terkontaminasi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengendalian vector dan rodent secara umum ? 2. Bagaimana pengendalian vector dan rodent di restoran ?

1.3 Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui dampak adanya rodent dan vektor di tempat-tempat umum

2. Tujuan Khusus.

2.1 Memberikan pengetahuan pada restoran untuk mengendalikan keberadaan rodent dan vektor yang dapat merugikan semua pihak di restoran.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengendalian Rodent

Rodent adalah hewan pengerat yang memiliki gigi depan yang selalu

tumbuh dan biasanya pada manusia bisa menyebabkan penyakit dan dapat digunakan sebagai hewan percobaan. Tikus adalah suatu jenis binatang pengerat yang perkembangbiakannya sangat cepat dan sering merugikan manusia karena dalam kehidupan sehari - harinya tikus sering merusak bahan makanan dan peralatan manusia baik di rumah, kantor, gudang, restauran, dsb.

Banyak metode yang digunakan dalam mengendalikan tikus, pengendalian terpadu hama tikus dapat dilakukan 4 tahap yaitu :

1. Inspeksi tikus dan initial survey 2. Sanitasi

3. Rat proofing

4. Rodent killing (trapping program dan rodentisida program)

Kombinasi beberapa metode akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada hanya menggunakan satu macam metode yang digunakan sesuai dengan sasaran dan kondisi lingkungan.

1. Inspeksi tikus dan initial survey

Inspeksi tikus sangat penting dilakukan sebelum dilaksanakan program pengendalian tikus, inspeksi yang baik akan memberikan hasil maksimal dalam pengendalian. Initial Survey, ditujukan untuk menentukan kondisi

awal atau tingkat serangan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus sebelum dilakukan program pengendalian tikus.

2. Sanitasi

(7)

menjaga kebersihan area, sistem tata letak barang digudang dengan susunan berjarak dari dinding dan tertata diatas palet, dll.Tikus menyukai tempat-tempat yang kotor dan lembab. Melakukan sanitasi berarti menghilangkan tempat beristirahat, bersembunyi, berteduh dan berkembang biak bagi tikus, disamping juga menghilangkan makanan tikus.

3. Rat proofing

Untuk mengendalikan tikus disuatu lokasi diupayakan agar lokasi tersebut tertutup dari celah yang memungkinkan tikus masuk dari luar. Tikus dapat leluasa masuk lewat bawah pintu yang renggang, lewat lubang pembuangan air yang tidak tertutup kawat kasa, lewat shaft yang tidak bersekat atau lewat jalur kabel telepon dan listrik dari bangunan yang tersambung disekitarnya.

4. Rodent killing (trapping program dan rodentisida program)

Pengendalian tikus dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara non kimia dan cara kimia :

a. Pengendalian non kimia

Pada pengendalian non kimia cara yang dilakukan adalah trapping. Trapping adalah cara yang paling efektif untuk mengendalikan tikus

yaitu dengan membuat kandang yang diletakkan di tempat yang biasanya

dilewati oleh tikus sehingga tikus bisa masuk dan terperangkap di tempat tersebut.

Kelebihan menggunakan metode trapping :

a. Sangat aman karena tidak mengandung racun seperti halnya umpan. b. Cepat mendatangkan hasil.

c. Manghindari tersebarnya bangkai tikus yang sangat sulit ditemukan dan menimbulkan bau yang sangat menyengat.

b. Pengendalian kimia 1. Poisoning

(8)

disekitarnya.

Umpan makanan haruslah yang preference bagi tikus dan pemasangannya ditempat yang tempatnya mudah didapatkan oleh tikus. 1. Rodentisida

Rodentisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan tikus, rodentisida yang digunakan adalah rodentisida antikoagulan yang mempunyai sifat sebagai berikut :

1) Slow acting yaitu membunuh tikus secara perlahan-lahan, tikus baru mati setelah memakan beberapa kali.

2) Tidak menyebabkan tikus jera umpan. 3) Tidak berbau dan tidak berasa.

4) Memetikan tikus dengan merusak mekanisme pembekuan darah. Jenis bahan aktif rodentisida adalah boadfakum, kumatetralil atau bromadiolone. Sedangkan untuk area khusus yang sangat sensitive dan memerlukan perlakuan khusus akan dilakukan pengumpanan dengan lem tikus.

Dengan menggunakan sistem peracunan dengan rodentisida anti coagulant. Berdasarkan cara kerja bahan aktif rodentisida, termasuk racun kronis. Rodentisida atau anti coagulant beraksi dalam

pembekuan darah merah, setelah tikus memakan racun ini menjadi lemah dan mengalami pendarahan, tiga hari kemudian sifat rakus tikus akan berkurang dan tikus akan mati. Untuk memastikan tikus mati diperlukan waktu 4 - 7 hari, dengan dosis 0,005 % dan dengan pemasangan umpan yang tidak menimbulkan kecurigaan dan pencemaran lingkungan serta relatif aman terhadap hewan bukan sasaran dan aman bagi manusia.

Teknik kerjanya yaitu pemasangan umpan secara total dilakukan 1 bulan sekali dan pengecekan atau penambahan setiap saat sesuai kebutuhan.Adapun teknik kerjanya adalah sebagai berikut: 1. Pemasangan kotak-kotak umpan pada seluruh ruangan,terutama

(9)

2. Pemasangan kotak -kotak umpan di atas plafon yang dipandang perlu. 3. Pemasangan kotak umpan di sekeliling luar bangunan.

4. Pencarian / pengambilan bangkai dan pengamanannya.

Agar memperoleh hasil pengendalian yang baik dianjurkan agar setiap 1 bulan dilakukan service ulang untuk mencegah terjadinya gangguan tikus yang datang dari luar atau tikus - tikus yang pada gebrakan pertama masih bayi dan tidak terperangkap papan lem .

2.2 Pengendalian Vektor

Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka memurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhanapun, yang penting d dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut :

1. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara

pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.

2. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup

2.3 Pengendalian rodent dan vektor di restoran 2.3.1 Restoran

(10)

1098/Menkes/Sk/Vii/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran.

Persyaratan kualitas sanitasi restoran yang baik apabila ruang makanan yaitu dapur harus bebas dari serangga, tikus dan hewan lainnya. Hal tersebut menunjukan bahwa indicator suatu restoran dikatakan baik apabila jumlah vector ataupun rodent tidak ada (bebas).

2.3.2 Cara Pengendalian Rodent dan vector di Restoran

Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita harus di seleksi, sebab zat – zat atau virus yang terbawa vector dan

rodent bisa masuk ke dalam makanan melalui perantara. dimungkinkan juga sumber tempat pembuangan sampah dekat

dengan makanan sehingga kemungkinan penyakit yang dibawa oleh vector seperti lalat dan rodent sehingga virus tersebut masuk ke makanan dan dapat mengkontaminasi makanan. Hal tersebut bisa terjadi karena oleh pengelolaan makan yang kurang memperhatikan pemilihan sumber bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, cara mengolah yang kurang higienis atau tempat sangat terbuka dekat dengan tempat sampah sehingga vektor dan rodent yang ada di udara dan kuman – kuman penyakit bisa masuk ke dalam makanan.

Sanitasi restoran sangat perlu diperhatikan yaitu tempat penyimpanan air bersih harus tertutup sehingga dapat menahan masuknya tikus dan serangga termasuk juga nyamuk aedes Aegypti. setiap lubang pada bangunan harus dipasang alat yang dapat mencegah masuknya serangga (kawat kassa berukuran 32 mata per inchi) dan tikus teralis dengan jarak 2 cm). Setiap persilangan pipa dan dinding harus rapat sehingga tidak dapat dimasuki rodent.

(11)

perkembangbiakan vector dan rodent ini agar tidak banyak menimbulkan kerugian baik bagi pemilik restoran, pekerja, dan pelanggannya. Pengendalian vector dan rodent sangat perlu di lakukan di restoran karena berhubungan dengan makanan atau minuman yang masuk kedalam tubuh manusia sehingga untuk menjaga kualitas dan juga terhindar dari kontaminasi makanan yang tidak diinginkan serta tidak enimbulkan efek kesehatan di kemudian hari. Hal yang harus diperhatikan oleh pengelola restoran, yaitu : 1. Cari tahu apakah terdapat larva atau pupa di area seperti tempat sampah,

saluran air yang kotor, selokan, bahan yang membusuk

a. Tempat beristirahat disiang hari: dinding, plafon, permukaan interior, tempat sampah

b. Tempat beristirahat malam hari: plafon, stop kontak dan kabel listrik 2. Perhatikan apakah ada lalat disekitar tempat anda.

3. Cuci tempat sampah secara rutin dan jaga agar selalu tertutup

4. Simpan persediaan makanan di wadah kedap udara atau lemari es. Jangan tinggalkan buah, sayur atau cairan fermentasi di area terbuka. 5. Jaga agar pintu selalu tertutup (lalat dapat masuk dari luar)

6. Jangan biarkan ember penuh air dimana terdapat partikel makanan

dipermukaannya yang bercampur dengan lap kotor (kosongkan, cuci dan keringkan segera)

7. Jaga agar tempat selalu bersih dan kering. Pastikan kebersihan sudah diterapkan dengan benar agar tidak ada makanan atau sampah yang dapat dijadikan tempat berkembang biak lalat. Contoh, jaga agar saluran air tetap bersih dan bebas dari serpihan yang dapat dijadikan tempat bertelur bagi lalat.

8. Pasang kawat atau layar penghalang lalat pada jendela khususnya sekitar area dapur dan tempat pembuangan

9. Gunakan keset yang bersih untuk menghindari tertimbunnya minyak dari tumpahan atau kaki di keset tersebut

(12)

Lalat adalah hama yang paling umum di Indonesia dapat ditemui di hampir seluruh area beresiko di restoran. Keamanan pangan dimulai tepat ketika makanan disimpan. Menjaga kebersihan untuk menghindari lalat bertelur pada makanan atau sumber air adalah sangat disarankan. Selain itu selalu pastikan agar seluruh makanan dapat disimpat dan tertutup dengan baik. Persiapan masakan memerankan peranan yang paling beresiko untuk adanya infestasi hama seperti lalat. Sebagai contoh, lalat buah memakan buah, sayuran dan cairan fermentasi, sementara lalat rumah memakan makanan manusia, sampah dan kotoran. Sumber makanan lalat tersebut banyak ditemukan di sekitar dapur seperti sisa makanan. Hal terburuk bisa saja terjadi seperti dapat ditemukannya lalat pada area penyajian atau area makan.

Lalat dikenal sebagai hama yang menularkan penyakit seperti Salmonellosis, polio, disentri, demam typhoid dan kolera. Lalat dapat membawa lebih dari 100 macam oranisme pathogen dan sangat mungkin dapat membahayakan kesehatan para tamu melalui kontaminasi makanan.

Area pembuangan dan tempat sampah tidak boleh diabaikan. Hal ini dikarenakan lalat sangat tertarik oleh sisa fermentasi, saluran air yang kotor,

sampah busuk dan material sampah lainnya. Jika tempat sampah tidak tertutup atau tidak dibersihkan, lalat mungkin akan berkembang biak dan terbang ke area persiapan makanan atau bahkan area makan.

Tidak hanya lalat, pembuangan sampah secara tidak rutin juga dapat mengundang tikus. Tikus adalah suatu jenis binatang pengerat yang perkembangbiakannya sangat cepat dan sering merugikan manusia karena dalam kehidupan sehari - harinya tikus sering merusak bahan makanan. Berikut adalah beberapa cara mengendalikan populasi tikus di restoran. 1. Mengenali tanda kehidupan tikus

(13)

a. Gnawing (bekas gigitan)

b. Burrows (galian/lubang tanah)

c. Dropping (kotoran tikus)

d. Runways (jalan tikus)

e. Foot print (bekas telapak kaki)

f. Tanda lain: adanya bau tikus, bekas urine dan kotoran tikus, suara, bangkai tikus (WHO, 1972).

2. Perbaikan Sanitasi Lingkungan

Tujuan dari perbaikan sanitasi lingkungan adalah menciptakan lingkungan yang tidak favourableuntuk kehidupan tikus. Dalam pelaksanaannya dapat ditempuh dengan (Ehlers et. Al, 1950) :

a. Menyimpan semua makanan atau bahan makanan dengan rapi di tempat yang kedap tikus

b. Menampung sampah dan sisa makanan ditempat sampah yang terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, mudah dibersihkan, bertutup rapi dan terpelihara dengan baik

c. Tempat sampah tersebut hendaknya diletakkan di atas fondasi beton atau semen, rak atau tonggak

d. Sampah harus selalu diangkut secara rutin minimal sekali sehari e. Meningkatkan sanitasi tempat penyimpanan barang/alat sehingga

tidak dapat dipergunakan tikus untuk berlindung atau bersarang.

3. Rat Proofing

Upaya rat proofing bertujuan untuk mencegah masuk dan keluarnya tikus dalam ruangan serta mencegah tikus bersarang di bangunan tersebut. Upaya rat proofing dapat ditempuh dengan jalan (Ristiyanto dan Hadi, 1992) :

a. Membuat fondasi, lantai dan dinding bangunan terbuat dari bahan yang kuat, dan tidak di tembus oleh tikus.

b. Lantai hendaknya terbuat dari bahan beton minimal 10 cm.

(14)

d. Semua pintu dan dinding yang dapat ditembus oleh tikus (dengan gigitannya), dilapisi plat logamhingga sekurang-kurangnya 30 cm dari lantai. Celah antara pintu dan lantai maksimal 6 mm.

e. Semua lubang atau celah yang ukurannya lebih dari 6 mm, harus ditutup dengan adukan semen.

f. Lubang ventilasi hendaknya ditutup dengan kawat kasa yang kuat dengan ukuran lubang maksimal 6 mm.

4. Pemasangan perangkap (trapping)

Macam perangkap tikus yang beredar di pasaran adalah jenis snap/guillotine dan cage trap. Jenis cage trap digunakan untuk mendapatkantikus hidup, guna diteliti pinjalnya. Biasanya perangkap diletakkan di tempat jalan tikus atau di tepi bangunan. Pemasangan perangkap lebih efektif digunakan setelah dilakukan poisoning, dimana tikus yang tidak mati karena poisoning, dapat ditangkap dengan perangkap (Ehler et.al, 1950).

5. Peracunan (poisoning)

Pada umumnya peracunan dapat dilakukan apabila tidak membahayakan manusia ataupun binatang peliharaan. Racun tikus terbagi menjadi dua golongan, yaitu :

a. Single Dose Poison

Merupakan rodentisida yang berdosis akut dan bersifat letal terhadap tikus. Tikus akan mati sesudah makan rodentisida ini satu kali saja.

b. Multiple Dose Poison

Merupakan tipe pengendalian dengan rodentisida yang memerlukan pemberian yang berulang selama 3 hari atau lebih. Rodentisida ini memiliki zat anti koagulan yang dapat menyebabkan pendarahan internal dan kematian yang lambat dalam waktu 4-10 hari. Pemakaian rodentisida anti koagulan secara terus menerus akan mengakibatkan tesistensi.

(15)

mengandung salah satu atau lebih dari yang tersebut di atas. Termasuk didalamnya rodentisida yang relatif lebih baru yaitu1080 (ten eighty), Antu, Warfarin, dan Pival.

6. Warfarin dan Pival

Merupakan umpan padat dengan warficida dan/atau pivalin yang berupa cairan, mempunyai pengaruh keracunan yang khas pada tikus. Sifat racun ini adalah anti coagulants, apabila ditelan dengan interval waktu beberapa hari, menyebabkan perdarahan dalam dan mengakibatkan kematian. Biasanya tikus mati dalam 4 sampai 7 hari setelah makan racun dengan dosis yang adekuat. Efek toksik lebih lambat dibandingkan 1080, Antu, Redsquill, dan racun tikus lainnya. Dengan cara kerja yang lambat ini, tidak terjadi penolakan terhadap bahan oleh tikus, sehingga tikus akan memakan bahan ini hingga habis sampai mereka mati. Walaupun cara kerja anti koagulan dari Warfarin dan Pival juga berlaku untuk binatang berdarah panas termasuk manusia, tetapi racun ini dianggap tidak berbahaya seperti racun lainnya karena tersedia antidotenya, yaitu vitamin D yang mudah didapat. Dosis yang dipakai biasanya 0,5% dengan umpan tepung jagung, havermout, tepung roti, tepung kacang, gula, jagung, dan minyak kacang.

7. Red Squill

(16)

8. 1080 (Ten Eighty)

1080 adalah nama umum untuk Natrium Fluoro Acetat, merupakan racun tikus yang sangat efektif. Kelemahannya adalah terlalu beracun terhadap manusia dan binatang peliharaan serta tidak adanya antidotenya. Oleh karenanya hanya direkomendasikan khusus bagi pekerja yang terlatih dan bertanggung jawab. Racun ini dilarang dipergunakan di daerah perumahan / pemukiman karena efek racunnya yang sangat toksik.

9. Antu (Alpha Napthyl Thio Urea)

(17)

BAB III

PENUTUP

3.1Simpulan

Rodent adalah hewan pengerat yang memiliki gigi depan yang selalu

tumbuh dan biasanya pada manusia bisa menyebabkan penyakit dan dapat digunakan sebagai hewan percobaan. Banyak metode yang digunakan dalam mengendalikan tikus,pengendalian terpadu hama tikus dapat dilakukan 4 tahap yaitu Inspeksi tikus dan initial survey, Sanitasi, Rat proofing, dan Rodent killing (trapping program dan rodentisida program). Prinsip dasar dalam pengendalian vektor yaitu pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan dan Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup.

Pengendalian vektor dan rodent di area restoran harus sangat diperhatikan agar tidak merugikan banyak pihak termasuk pemilik restoran sendiri. Pengendaliaannya dengan memperhatikan dimana tempat perindukan larva atau vector lain, menjaga kebersihan lingkungan Restoran, dan memasang perangkap jika ditemukan adanya vector dan rodent disekitar Restoran.

3.2 Saran

1. Bagi Penulis

Dapat menambah pengetahuan tentang dampak yang akan timbul dengan adanya rodent dan vektor di restoran.

2. Bagi Fakultas

(18)

3. Bagi Instansi (restoran)

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, fumigasi karantina. http://www.retonkil.co.id/kostumer-komersial/fumigasi/fumigasi-karantina (di akses 25 mei 2017 )

Hanang, 2005 . Pengendalian roden. http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-KESLING-2-1-06.pdf (di akses 25 mei 2017)

Ehlers,Victor M.,CE and Steel,Ernest W. C E. (1950). Municipal & Rural Sanitation. Fifth Edition Mc Graw Hill Book Company Inc, New

York, Toronto, London

[PERMENKES] Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/Sk/Vii/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya informasi mengenai efektifitas malathion dalam pengendalian vektor DBD dan status kerentanan larva Aedes aegypti terhadap temephos di Kota

19 Agar berhasil dalam persaingan rumah makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Makassar harus mampu secara efisien menyediakan produk kepada pelanggan, dengan

Dengan adanya informasi mengenai efektifitas malathion dalam pengendalian vektor DBD dan status kerentanan larva Aedes aegypti terhadap temephos di Kota

Dengan adanya informasi mengenai efektifitas malathion dalam pengendalian vektor DBD dan status kerentanan larva Aedes aegypti terhadap temephos di Kota Palembang

tahun 2002). Tingginya penularan malaria di daerah tersebut dapat disebabkan karena adanya : lingkungan tempat perkembangan vektor, perilaku masyarakat yang mendukung

(1) Dalam hal Pimpinan Usaha Restoran, Rumah Makan, Tempat Makan dan Jasa Boga akan melakukan perubahan fasilitas dan kapasitas usahanya harus sesuai dengan

19 Agar berhasil dalam persaingan rumah makan Ayam Bakar Wong Solo Cabang Makassar harus mampu secara efisien menyediakan produk kepada pelanggan, dengan pelayanan dan mutu yang lebih

Irmalinda Wona Wula, Ety Rahmawati Kepada masyarakat disarankan agar melaksanakan gerakan PSN 3M Plus yang merupakan kegiatan yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penyakit DBD