• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal depik no.1 vol 1 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal depik no.1 vol 1 2012"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 1, Nomor 1

April 2012

ISSN: 2089-7790

DEPIK

(2)

DEPIK

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan

(Journal of Aquatic, Coastal and Fishery Sciences)

ISSN: 2089-7790

Penerbit

: Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala

Penanggung Jawab

: Prof. Dr. Adlim, M.Sc (Ketua Pelaksana Koordinatorat Kelautan dan Perikanan)

Ketua Dewan Editor

: Dr. Muchlisin Z. A., S.Pi, M.Sc (Manajemen SDP dan Budidaya Perairan)

Editor Pelaksana

: Ichsan Setiawan, M.Si (Oseanografi)

Sekretaris Editor

: Drs. Muhammad, M.Si (Hydrodinamika)

Anggota Dewan Editor :

Prof. Dr. Adlim, M.Sc (Kimia Lingkungan)

Prof. Dr. Syamsul Rizal (Fisika Perairan)

Dr. Musri Musman, M.Sc (Kimia Perairan)

Dr. M. Ali Sarong, M.Si (Ekologi Perairan)

Dr. Indra, M.Si (Manejemen Pesisir & Kelautan)

Dr. Edi Rudi, M.Si (Biologi Laut)

Dr. Abrar Muslim, M.Eng (Kimia Lingkungan)

Farok Afero, Ph.D (Biometrik dan Sosial Ekonomi Perikanan)

Teknisi IT/Web Master

: Achmad Muhadjier

Sirkulasi dan Dokumentasi

: Muhammad Saumi, A.Md

(3)

DEPIK

JURNAL ILMU-ILMU PERAIRAN, PESISIR DAN PERIKANAN

VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL 2012

ISSN: 2089-7790

DAFTAR ISI

1. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi tiga jenis ikan yang

tertangkap di perairan Kuala Gigieng, Aceh Besar, Provinsi Aceh……… 1-9 Mulfizar, Zainal A. Muchlisin, Irma Dewiyanti

2. Analisa ekonomi budidaya kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dalam keramba jaring apung di

Indonesia ……… 10-21 Farok Afero

3. Pengaruh salinitas dan daya apung terhadap daya tetas telur ikan

bandeng, Chanos-chanos……… 22-25

Sofyatuddin Karina, Rizwan, Khairunnisak

4. Uji selektivitas ekstrak etil asetat (EtOAc) biji putat air

(Barringtonia racemosa) terhadap keong mas (Pomacea canaliculata) dan

ikan lele lokal (Clarias batrachus)……… 26-30

Musri Musman, Sofyatuddin Karina, Kavinta Melanie

5. Studi sebaran sedimen berdasarkan ukuran butir di perairan Kuala

Gigieng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh ……… 31-36 Syahrul Purnawan, Ichsan Setiawan, Marwantim

6. Komunitas ikan karang herbivora di perairan Aceh bagian utara……… 37-44 Edi Rudi, Nur Fadli

7. Keragaman makrozoobenthos di perairan Kuala Gigieng Kabupaten Aceh

Besar……… 45-52 Nur Fadli, Ichsan Setiawan, Nurul Fadhilah

8. Kajian pendahuluan analisis peramalan thunderstorm untuk penyusunan indeks dasar adaptasi kegiatan pertambakan (Suatu tinjauan meteorologi

di Jakarta)……… 53-60 Yopi Ilhamsyah

9. Pengaruh ENSO (El Niño and Southern Oscillation) terhadap transpor

massa air laut di Selat Malaka ……… 61-67 Muhammad, Syamsul Rizal, Junaidi M. Affan

10. Pemetaan potensi daerah untuk pengembangan kawasan minapolitan di

beberapa lokasi dalam Provinsi Aceh: suatu kajian awal……… 68-77

Z. A. Muchlisin, Muhammad Nazir, Musri Musman

11. Seleksi lokasi pengembangan budidaya dalam keramba jaring apung (KJA) berdasarkan faktor lingkungan dan kualitas air di perairan pantai

timur Bangka Tengah……… 78-85 Junaiadi M. Affan

(4)

April 2012 ISSN 2089-7790

Mulfizar

2

, Zainal A. Muchlisin

1*

, Irma Dewiyanti

1

1Jurusan Budidaya Perairan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan universitas Syiah Kuala, Banda aceh 2311; 2Jurusan Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan universitas Syiah Kuala, Banda aceh 2311. *Email korespondensi: [email protected]

Abstract. The study of the lenght weight relationships and condition factors of the brackiswater fishes found in Kuala Gigeng was conducted. The objective of the present study was to evaluate the growth pattens and condition factor of the belanak (Mugil cephalus), seriding (Ambassis koopsii) and petek (Leiognathus fasciatus). The sampling was conducted for eight time on July 2011 by using gillnet and castnet. The results showed that the belanak (M. cephalus) and seriding (A. koopsii) have allometric negative growth patten, while the petek (L. fasciatus) has an allometric positive. In addition, the relative weight condition factor’s was higher than 100. And the Fulton’s condition factor were not different significantly among fishes. Indicating the condition of the Kuala Gigeng is relatively in good condition and support fish growth as well.

Keywords: Allometric, Fulton’s condition factor, fish relative weight, morphology

Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang hubungan panjang-berat dan faktor kondisi ikan yang ditemukan di muara Kuala Gigeng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pola pertumbuhan dan faktor kondisi dari ikan belanak (Mugil

cephalus), seriding (Ambassis koopsii) dan petek (Leiognathus fasciatus).

Pengambilan sampel dilakukan sebanyak delapan kali pada bulan Juli 2011 dengan menggunakan jaring insang dan jala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan belanak (M. cephalus) dan seriding (A. koopsii) memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif. sementara petek (L. fasciatus) memiliki pola pertumbuhan allometrik positif. Selain itu, faktor kondisi berat relatif lebih tinggi dari 100. Dan faktor kondisi Fulton ketiga jenis ikan tidak berbeda nyata. Kondisi muara Kuala Gigeng mengindikasikan secara relatif dalam keadaan baik dan mendukung pertumbuhan ikan.

Kata kunci : Allometrik, faktor kondisi Fulton, berat relatif ikan, morfologi

(5)

April 2012 ISSN 2089-7790

2

diketahui dalam upaya pengelolaan sumber daya perikanan di kawasan ini. Hal ini mengingat intensitas aktifitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat dan ancaman gangguan terhadap kondisi perairan baik yang disebabkan oleh alam misalnya pemanasan global maupun aktifitas manusia misalnya penangkapan ikan secara berlebihan dan tidak ramah lingkungan.

Dalam biologi perikanan, hubungan panjang–berat ikan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan–ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap (Vanichkul & Hongskul dalam

Merta, 1993). Lebih lanjut Richter (2007) & Blackweel (2000), menyebutkan bahwa pengukuran panjang–berat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok–kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjang–berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan atau individu tertentu (Everhart & Youngs, 1981).

Kajian hubungan panjang-berat ikan telah banyak dilakukan oleh para peneliti, diantaranya; ikan layang (Decapterus ruselli) dari perairan sekitar Teluk Likupang, Sulawesi Utara (Manik, 2009), ikan sebelah (Psettodes erumel) di perairan Jepara (Redjeki, 2003), beberapa jenis ikan asli Danau Sentani, Papua (Umar & Lismining, 2006), ikan kerapu (Serranidae) diperairan Berau, Kalimantan Timur (Nuraini, 2007). Salah satu kajian tentang hubungan panjang-berat ikan yang hidup di perairan Aceh yang pernah dilaporkan adalah dua jenis ikan air tawar yang hidup di Danau Laut Tawar Rasbora tawarensis dan Poropuntius

tawarensis (Muchlisin, 2010a). Namun kajian terhadap spesies ikan yang lain

terutama yang hidup di perairan estuaria dan laut Aceh belum pernah dilaporkan, oleh karena itu penelitian ini penting sebagai upaya penyedia data awal tentang kondisi ikan di perairan estuaria khususnya di Kuala Gigeng.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang-berat dan faktor kondisi ikan belanak (Mugil cephalus), ikan seriding (Ambassis koopsii) dan ikan petek (Leiognathus fasciatus) sehingga dapat diketehui pola pertumbuhannya masing-masing.

Bahan dan Metode

Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Kuala Gigeng yang terletak diantara tiga desa yaitu: Gampong Lambada Lhok, Gampong Lamnga dan Gampong Baro Kabupaten Aceh Besar, pada bulan Juli 2011 (Gambar 1). Penelitian ini menggunakan metode survei, penentuan titik sampling dilakukan secara acak. Pengambilan sampel ikan menggunakan jaring insangdengan ukuran mata jaring 1 inchi, 2 inchi dan 3 inchi dan jala ukuran mata jaring 1 inchi.

Penentuan ikan target

Penentuan ikan target dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan, yaitu dengan mengamati hasil tangkapan yang dominan oleh nelayan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan belanak

(Mugil cephalus), ikan seriding (Ambassis koopsii) dan ikan petek (Leiognathus

fasciatus) adalah jenis-jenis ikan yang dominan dan sering tertangkap di Kuala

Gigeng.

Sampling ikan

(6)

April 2012 ISSN 2089-7790

ikan-ikan yang tertangkap dihitung jumlah untuk masing-masing jenisnya, kemudian dicuci bersih dan dimasukkan ke dalam wadah tertutup (styrofoam box) yang berisi es (4oC). Selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk di analisis lebih lanjut.

Pengukuran panjang-berat ikan

Pengukuran panjang dan berat ikan dilakukan pada hari yang sama ikan diperoleh. Pada pengukuran panjang ikan alat yang digunakan adalah jangka sorong digital (tingkat ketelitian 0.01 mm). Sedangkan pada pengukuran berat total ikan, alat yang digunakan adalah timbangan digital dalam satuan gram dengan ketelitian 0.1 gram.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian (sumber: www.googleearth.com)

Analisis data panjang - berat

Model allometric linear (LAM) di gunakan untuk menghitung parameter a dan

b melalui pengukuran perubahan berat dan panjang. Koreksi bias pada perubahan berat rata-rata dari unit logaritma digunakan untuk memprediksi berat pada parameter panjang sesuai dengan persamaan allometric berikut, berdasarkan DeRobertis & William (2008).

W = a Lb

Dimana W adalah berat ikan (g), L adalah panjang total ikan (mm), a dan b adalah parameter.

Analisis data faktor kondisi

Berat relatif (Wr) dan koefesien (K) faktor kondisi di gunakan untuk mengevaluasi faktor kondisi dari setiap individu. Berat relatif (Wr) di tentukan berdasarkan persamaan Rypel & Richter (2008) sebagai berikut:

Wr = (W/Ws) x 100

(7)

April 2012

(rata-rata 98.57 ±12.61 mm) dan berat berkisar antara 4 g sampai 31 g (rata-rata 12.34 ±4.74 g). Ikan petek (L. fasciatus) memiliki panjang total yang berkisar antara 54.34 mm sampai 127.34 mm (rata-rata 82.46 ±17.82 mm) dan berat berkisar antara 2 g sampai 33 g (rata-rata 10.03± 6.63 g). Sedangkan ikan seriding (A.

koopsii) memiliki kisaran panjang total antara 68.85 mm sampai 95.79 mm

(rata-rata 82.06 ± 4.99 mm) dan kisaran berat antara 3 g sampai 14 g ((rata-rata-(rata-rata 7.12 ±1.51 g).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya variasi pola pertumbuhan ikan dan faktor kondisi (Tabel 1). Ikan belanak (M. cephalus) dan ikan seriding memiliki pola pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif. Sedangkan ikan petek

(L. fasciatus) memiliki pola pertumbuhan bersifat allometrik positif. Grafik

hubungan panjang-berat ketiga jenis ikan yang diteliti disajikan pada (Gambar 2 & Gambar 3). Hasil penelitian juga menunjukkan nilai koefesien korelasi (r) berkisar 0.593 sampai 0.964. Nilai koefesien diterminasi (R2) berkisar 0.352 sampai 0.930 masing-masing ditemukan pada ikan seriding (A. koopsii), ikan petek

(L. fasciatus) secara berurutan.

Kami menemukan bahwa ikan petek memiliki pola pertumbuhan allometrik

positif, hasil yang berbeda diperoleh Djadja & Saadah (2001) pada ikan

Leiognathus splendens diperoleh pola pertumbuhan bersifat isometrik, namun nilai

b keduanya cenderung mendekati 3 (isometrik). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan petek memiliki bentuk tubuh pipih menegak (compressed), diduga penambahan bobot ikan tidak hanya disebabkan oleh pertambahan panjang, tetapi juga disebabkan oleh pertambahan tinggi badan, sehingga tidak memperlihatkan bentuk tubuh yang montok sebagaimana ikan dengan pola allometrik positif pada umumnya. Ikan belanak (M. cephalus) dan ikan seriding (A. koopsii) memiliki pola al., 2001) dan juga kondisi biologis seperti perkembangan gonad dan ketersediaan makanan (Froese, 2006). Dalam penelitian ini ditemukan nilai b relatif kecil dan hasil pengukuran arus menunjukkan kondisi perairan relatif tenang sehingga bertolak belakang dengan Shukor et al., (2008), yang menyebutkan bahwa ikan yang hidup diperairan arus deras umumnya memiliki nilai b yang lebih rendah dan sebaliknya ikan yang hidup pada perairan tenang akan menghasilkan nilai b yang besar. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh tingkah laku ikan, ini sesuai dengan pernyataan Muchlisin (2010b) yang menyebutkan bahwa besar kecilnya nilai b juga dipengaruhi oleh perilaku ikan, misalnya ikan yang berenang aktif (ikan pelagis) menunjukkan nilai b yang lebih rendah bila dibandingkan dengan ikan yang berenang pasif (kebanyakan ikan demersal). Mungkin hal ini terkait dengan alokasi energi yang dikeluarkan untuk pergerakan dan pertumbuhan.

(8)

April 2012 ISSN 2089-7790

Faktor kondisi

Ikan belanak (M. cephalus) memiliki nilai faktor kondisi Fulton (K) berkisar 1.74 sampai 3.07 (rata-rata 2.51±0.22) dan berat relatif (Wr) berkisar 48.76 g sampai 195.41 g (rata-rata 103.18±15.2 g). Ikan petek (L. fasciatus) memiliki nilai faktor kondisi Fulton (K) berkisar 0.96 sampai 3.29 (rata-rata 2.36±0.53) dan berat relatif (Wr) berkisar 55.06 g sampai 158.56 g (rata-rata 104.59 ± 19.34). Sedangkan ikan seriding (A. koopsii) memiliki nilai faktor kondisi Fulton (K) berkisar 1.29 sampai 2.88 (rata-rata 2.26±0.19) dan berat relatif (Wr) berkisar 48.76 g sampai 195.41g (rata-rata 103.51±17.46 g).

Hasil perhitungan menunjukkan nilai berat yang diamati (observed weight) lebih rendah berbanding berat yang diprediksi (predicted weight), ini mengindikasikan kondisi perairan kurang baik untuk mendukung pertumbuhan. Namun nilai faktor kondisi memberikan nilai rata-rata diatas 100. Hal ini menunjukkan bahwa perairan Kuala Gigeng menyediakan cukup makanan atau kepadatan predator rendah disini, ini sesuai dengan pernyataan Effendi (2002) bahwa perairan estuaria memiliki gradien salinitas yang bervariasi, bergantung pada suplai air tawar dari sungai dan air laut melalui pasang surut. Variasi ini menciptakan kondisi yang menekan bagi sebagian besar organisme, tetapi bagi organisme yang dapat menyesuaikan diri akan dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan baik dan kondisi ini juga dapat menangkal predator dari laut yang pada umumnya tidak menyukai perairan dengan salinitas yang rendah. FAO (1983) juga menyatakan bahwa predator yang pada umumnya ditemukan di wilayah muara adalah spesies reptilia seperti ular dan biawak, namun di Asia jumlah spesies reptilia yang ditemukan sedikit.

Variasi pasokan pakan yang terjadi antar musim dapat mengubah faktor kondisi musiman (Offem et al., 2007). Hal ini sesuai dengan pernyataan (Anderson & Neumann, 1996) nilai berat relatif (Wr) berada dibawah 100 bagi suatu individu ataupun populasi menunjukkan adanya masalah seperti rendahnya ketersediaan mangsa atau tingginya kepadatan suatu predator. Sedangkan apabila nilai berat relatif (Wr) berada di atas 100 hal ini menunjukkan kelebihan ketersediaan suatu mangsa atau rendahnya kepadatan suatu predator. Selain ketersediaan pakan atau pemangsa, faktor biotik, abiotik dan manajemen perikanan juga dapat mempengaruhi berbagai faktor kondisi (Murphy et al., 1991; Blackwell et al., 2000).

Faktor kondisi dihitung untuk menilai kesehatan ikan secara umum, produktivitas dan kondisi fisiologi dari populasi ikan (Richter,2007; Blackwell

et al., 2000). Faktor kondisi ini mencerminkan karakteristik morfologi tubuh,

(9)

April 2012 ISSN 2089-7790

6

Tabel 1. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan belanak, petek dan seriding

Parameters

Ikan belanak

(Mugil cephalus)

(n=98)

Ikan petek (Leiognathus

fasciatus)

(n=100)

Ikan seriding (Ambasis

koopsii)

(n=97)

Panjang Total (TL) mm (rata-rata±SD)

68.23-150.84 (98.57 ±12.61)

54.34-127.34 (82.46 ±17.82)

68.85-95.79 (82.06 ± 4.99)

Berat (W) gr (rata-rata ±SD)

4-31

(12.34 ±4.74)

2-33

(10.03 ±6.63)

3-14

(7.12 ±1.51)

Berat yang diprediksikan (Ws)

12 ± 4.55 9.66±6.40 6.88±0.84

Berat Relatif (Wr) (rata-rata ±SD)

48.76-195.41 (103.18±15.20)

55.06-158.56 (104.59±19.34)

48.76-195.41 (103.51±17.46)

Faktor Kondisi Fulton (K) (rata-rata ±SD)

1.74-3.07 (2.51±0.22)

0.96-3.29 (2.36±0.53)

1.29-2.88 (2.26±0.19)

Indek koefesien diterminasi

(R2) 0.860 0.930 0.352

Indek koefesien korelasi

(r) 0.927 0.964 0.593

(10)

April 2012 ISSN 2089-7790

Kesimpulan

Hubungan panjang-berat ketiga jenis ikan bervariasi, ikan petek (Leiognathus

fasciatus) memiliki pola pertumbuhan allometrik positif, sedangkan ikan belanak

(Mugil cephalus) dan ikan seriding (Ambasis koopsii) memiliki pola pertumbuhan

allometrik negatif. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan Kuala Gigeng

merupakan perairan yang lebih menguntungkan bagi ikan petek (L. fasciatus). Faktor kondisi ketiga jenis ikan berdasarkan nilai berat relatif (Wr) berada diatas 100, menunjukkan ketersediaan makanan mencukupi atau kepadatan predator rendah. Nilai

Gambar 2. Hubunganpanjang berat (a) ikan belanak (Mugil cephalus) n=98, (b) ikan petek (Leioghnathus fasciatus) n=100 dan (c) ikan seriding (Ambassis koopsii) n=97. Perbandingan hubungan panjang-berat yang

diamati dan prediksi (d) ikan belanak (Mugil cephalus) (e) ikan petek (Leioghnathus fasciatus) dan (f) ikan seriding (Ambassis koopsii).

(d) (e) (f)

(11)

April 2012 (eds). American Fisheries Society, Bethesda, Maryland. pp 447-481.

Baltz, O.M, P.B. Moyle. 1982. Life history characteristics of tule parch

(Hysterocarpus trask) populations in contrasting environments. Environmental

Biology of Fish, 7: 227-242.

Blackweel, B.G., M.L. Brown & D.W. Willis. 2000. Relative weight (Wr) status and current use in fisheries assessment and management. Reviews in fisheries Science, 8: 1-44.

Bister, T.J., D.W. Willis, M.L. Brown, S.M. Jordan, R.M. Neumann, M.C. Quist, C.S. Guy. 2000. Proposed standard weight (Ws) equations and standard length categories for 18 warmwater nongame andriverine fish species. North American Journal of Fisheries Management. 20:570-574.

De Robert, A., K. William. 2008. Weight-legth relationship in fisheries studies: the standard allometric model should be applied with caution. Transaction of the American Fisheries Society, 137: 707-719.

Djadja, S.S., Saadah. 2001. Beberapa aspek biologi ikan petek, Leioghnathus

splendens cuvier di perairan Teluk Labuan, Banten. Jurnal Ikhtiologi

Indonesia. 1(1): 13-17.

Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta. Everhart, W.H., W.D. Youngs. 1981. Principles of fishery Science. 2nd Edition

Comstock Publishing Associates, a division of Cornell University Press, London.

FAO. 1983. Management and Utilization of Mangroves in Asia Pasific. FAO Environmental Paper 3, FAO, Rome.

Froese, R. 2006. Cube law, condition factor and weight length relationship: history, meta-analysis and recommendations. Journal of Applied Ichthyology,

22: 241-253.

Jennings, S., M.J. Kaiser, J.D. Reynolds. 2001. Marine fishery ecology. Blackwell Sciences, Oxford.

Manik, N. 2009. Hubungan Panjang-berat dan Faktor Kondisi Ikan Layang (Decapterus

ruselli) dari Perairan sekitar Teluk Likupang Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah

Oseanologi dan Limnologi, 35(1): 65-74.

Merta, I.G.S. 1993. Hubungan panjang – berat dan faktor kondisi ikan lemuru,

Sardinella lemuru Bleeker, 1853 dari perairan Selat Bali. Jurnal Penelitian

Perairan Laut, 73 : 35 - 44.

Muchlisin, Z.A., M. Musman, M.N. Siti-Azizah. 2010a. Length-weight relationships and condition factors of two threatened fishes, Rasbora tawarensis and

Poropuntius tawarensis, endemic to Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia.

Journal of Applied Ichthyology, 26: 949-953.

Muchlisin, Z.A. 2010b. Diversity of freswater fishes in Aceh Province, Indonesia with emphasis on several biological aspects of the Depik (Rasbora tawarensis) an endemic Species in Lake Laut Tawar. Disertasi Ph.D Universiti Sains Malaysia, Penang.

Murphy, B.R., M.L. Brown, T.A. Springer. 1990. The relative weight (Wr) index in fisheries management: status and needs. Fisheries, 16(2): 30-38.

Nuraini, S. 2007. Jenis ikan kerapu (Serranidae) dan hubungan panjang – berat di Perairan Berau Kalimantan Timur. Jurnal Iktiologi Indonesia, 7(2): 61-70. Offem, B.O., Y. Akegbejo-Samsons, I.T. Omoniyi. 2007. Biologicalassessment of

Oreochromis niloticus (Pisces: Cichlidae: Linne:1958) in a tropical floodplain

river. African Journal of Biotechnology, 6(16): 1966-1971.

Okgerman, H. 2005. Seasonal variation of the length weight and condition factor of Rudd (Scardinius erythrophthalmus L) in Spanca Lake. International Journal of Zoological Research, 1(1): 6-10.

Redjeki, S. 2003. Faktor kondisi dan hubungan panjang – berat ikan sebelah

(Psettodes erumel) di Perairan Jepara. Laporan Penelitian Universitas

Diponegoro, Semarang.

(12)

April 2012 ISSN 2089-7790

Rypel, A.L., T.J. Richter. 2008. Emperical percentile standard weight equation for the Blacktail Redhorse. North American Journal of Fisheries Management, 28: 1843-1846.

Sani, R., B. K. Gupta, U. K. Sarkar, A. Pandey, V. K. Dubey, W. S. Lakra. 2010. Length–weight relationships of 14 Indian freshwater fish species from the Betwa (Yamuna River tributary) and Gomti (Ganga River tributary) rivers. Journal of Applied Ichthyology, 26: 456-459.

Shukor, M.Y., A. Samat, A.K. Ahmad, J. Ruziaton. 2008. Comparative anaalysis of length-weight relationship of Rasbora sumatrana in relation to the physicochemical characteristic in different geographical areas in peninsular Malaysia. Malaysian Applied Biology, 37(1): 21-29.

Stevenson R.D., W.A. Woods. 2006. Condition indices for conservation: new uses for evolving tools. Integrative and Comparative Biology, 46:1169-1190.

Sulistiono, M. Arwani, K.A. Aziz. 2001. Pertumbuhan ikan belanak Mugil dussumieri

diperairan Ujung Pangkah, Jawa Timur. Jurnal Ikhtiologi Indonesia, 1(2): 39-47.

(13)

ISSN 2089-7790

10

Farok Afero

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, Banda Aceh 23121. Email korespondensi: [email protected]

Abstract. This study presents an economic analysis of tiger and humpback grouper at different production scales in Indonesia. The results highlight the non-viability of small scale tiger grouper, with a 5 years projected negative cumulative cash flow of – Rp. 18.102.650 and a negative net present value (NPV) of – Rp. 22.059.576. An increasing production scale of tiger grouper highlight a marginal viability for medium scale (with a 5 year projected cumulative cash flow of Rp. 198.320.673 and a positive NPV of Rp. 105.578.440; with a benefit cost ratio of 1,25; an internal rate of return (IRR) of 88%; and a payback period of 0,99 year), and an economically viable of large scale cage culture (with a 5 year projected cumulative cash of Rp. 707.746.923; a NPV of Rp. 406.801.749; a benefit cost ratio of 1,33;an internal rate of return of 157%; and a payback period of 0,57 year). The economic analysis of humpback grouper at different production scales highlight positive cumulative cash, a positive NPV, a benefit cost ratio higher than 2, an internal rate of return over 300% and a payback period of less than one year. A sensitivity analysis revealed that increased survival rate up to 80% would increase cumulative cash and NPV of small scale tiger grouper cage culture. Additionally, improved profitability performance was associated with decreased major production costs, increased production and price of the product.

Keywords: Tiger grouper, Humpback grouper, Production scale, profitability

Abstrak. Penelitian ini menyajikan analisa ekonomi budidaya kerapu macan dan bebek dengan skala produksi yang berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa budidaya kerapu macan dalam skala kecil, dengan proyeksi 5 tahun menghasilkan arus kas kumulatif negatif sebesar –Rp. 18.102.650 dan NPV negatif –Rp. 22.059.576. Peningkatan skala produksi (skala menengah) meningkatan keuntungan (proyeksi aliran kas kumulatif selama 5 tahun sebesar Rp. 198.320.673, NPV sebesar Rp. 105.578.440, B/C 1,25; IRR 88%, dan jangka waktu pengembalian modal selama 0,99 tahun), sedangkan untuk skala besar (dengan proyeksi 5 tahun menghasilkan kas kumulatif sebesar Rp. 707.746.923; NPV sebesar Rp. 406.801.749, B/C 1,33; IRR 157%, dan jangka waktu pengembalian modal selama 0,57 tahun). Analisis ekonomi kerapu bebek pada skala produksi yang berbeda menunjukkan kas kumulatif positif, NPV positif, ratio manfaat-biaya (B/C) lebih tinggi dari 2, IRR lebih dari 300% dan jangka waktu pengembalian modal kurang dari satu tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa sintasan kehidupan lebih 80% akan meningkatkan kas kumulatif dan NPV pada budidaya kerapu macan skala kecil. Selain itu, peningkatan profitabilitas berkaitan dengan penurunan biaya produksi, peningkatan produksi dan harga produk.

(14)

ISSN 2089-7790

Pendahuluan

Kerapu adalah ikan karang yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan telah menjadi komoditas ekspor penting terutama ke Hong Kong, Jepang, Singapura dan Cina. Total perdagangan ikan karang di Asia Tenggara adalah sekitar 30.000 ton/tahun dengan 15.000-20.000 ton diperkirakan di ekspor ke Hong Kong (Sadovy

et al., 2003). Produksi kerapu dari usaha budidaya hanya 8,6% dari 52.000 ton

total tangkapan kerapu di Asia dengan nilai 238 juta dollar. Produksi kerapu budidaya meningkat 1,5% setiap tahun dan berkontribusi terhadap total produksi makanan ikan laut (FAO, 2003).

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 13.000 pulau, sekitar 75% (5,8 mill km persegi) dari total luas ditutupi oleh laut. Memiliki garis pantai terpanjang di dunia berkisar 80.000 km. Diperkirakan area untuk budidaya laut di sekitar 62.629 ha, dengan produksi tahunan sebesar 890.074 MT. Indonesia adalah produsen utama kerapu, dimana produksi ikan kerapu budidaya pada tahun 1999 sebesar 759 ton, meningkat menjadi 6.493 ton pada tahun 2005 dengan nilai total sekitar Rp. 116.891.489.000. Budidaya kerapu di Indonesia tersebar dari Sumatera sampai Papua dan terkonsentrasi di beberapa provinsi seperti Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sulawesi Utara. Total produksi ikan kerapu di Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Timur dan Bali pada tahun 2005 masing-masing sebesar 4.496 ton, 388 ton 24 ton dan 180 ton (DKP, 2006). Ketersediaan benih merupakan komponen penting dalam pengembangan budidaya kerapu. Sejumlah balai benih ikan dibangun baik oleh pemerintah dan swasta untuk memenuhi permintaan benih kerapu itu. Kawahara & Ismi (2003) melaporkan terdapat 123 unit pembenihan memproduksi benih kerapu macan di seluruh Indonesia. Lebih lanjut Sugama (2003) melaporan bahwa 3,8 juta benih ikan kerapu macan dengan ukuran 5-10 cm dihasilkan oleh balai benih ikan di Indonesia pada tahun 2002.

Biaya produksi adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi profitabilitas pada budidaya kerapu. Biaya benih, pakan dan tenaga kerja adalah pengeluaran signifikan pada budidaya kerapu. Pomeroy et al. (2006) melaporkan bahwa benih, pakan dan tenaga kerja mencapai 61-74% dari total biaya produksi usaha budidaya kerapu macan dan kerapu bebek. Harga beli benih kerapu macan dan bebek masing-masing berkisar Rp. 600-700/cm dan Rp.1000-1200/cm. Biaya benih adalah biaya terbesar dan mencapai 36,5% dan 36,72% dari total biaya produksi untuk budidaya kerapu macan dan kerapu bebek secara berurutan (DKP, 2001). Pakan merupakan biaya terbesar kedua dan menyumbang 25% dari total biaya produksi (Pomeroy et al., 2006) dan ikan rucah sebagai sumber asupan nutrisi. Tacon et al. (1991) melaporkan bahwa ikan rucah yang umum digunakan di Indonesia adalah sarden (Sarden lemuru), kuwe (Caranx sp.) pepetek (Leiognathus sp.), layang (Decapterus) teri (Engraulis sp.). Biaya tenaga kerja adalah biaya terbesar ketiga dan mencapai 12,3% dari total biaya produksi (Manadiyanto et al.,

2002). Pomeroy et al. (2006) memperkirakan bahwa input tenaga kerja masing-masing menyumbang 18% dan 7% dari total biaya produksi budidaya kerapu macan dan kerapu bebek. Budidaya kerapu membutuhkan tenaga kerja intensif, misalnya untuk memotong ikan rucah, penggolongan (grading) mingguan dan perendaman ikan di air tawar untuk mencegah penyakit. Oleh karena itu, manajemen biaya produksi yang efisien akan meningkatkan profitabilitas usaha.

(15)

ISSN 2089-7790

12

Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengumpulkan informasi dari produsen kerapu dari tiga skala produksi yang berbeda. Sebanyak 65 petani ikan diwawancarai dari lokasi pengambilan sampel dan setelah dilakukan pemeriksaan, 48 sampel digunakan untuk analisa lebih lanjut. Sampel terakhir untuk budidaya kerapu macan berdasarkan skala adalah skala kecil (10 petani ikan), menengah (8 petani ikan) dan besar (6 petani ikan). Sementara sampel untuk usaha kerapu bebek adalah skala kecil (11 petani ikan) menengah (9 petani ikan) dan besar (4 petani ikan). Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan grafik selanjutnya dianalisis secara deskriptif

Hasil dan Pembahasan

Tabel 1 dan 2 meringkas variabel produksi budidaya ikan kerapu macan dan bebek dengan skala produksi berbeda. Tabel 1 menjelaskan padat tebar budidaya kerapu macan untuk skala kecil (9 ekor/m3), skala menengah (15 ekor/m3) dan skala besar (19 ekor/m3). Ukuran tebar benih kerapu berkisar 7,90-9,66 cm. Rasio konversi pakan adalah 3,19 untuk skala kecil dan 4,27 untuk skala besar. Bobot panen lebih besar dari 400 gram dan periode budidaya berkisar antara 9,05 -10,66 bulan. Pada budidaya kerapu bebek kepadatan tebar untuk skala kecil (8 ekor/m3) skala menengah (9,5 ekor/m3) dan skala besar (10 ekor/m3). Tingkat kelangsungan hidup adalah antara 52,50% sampai 62% dan ukuran tebar berkisar 10,27-11,00 cm. Konversi pakan pada skala kecil, menengah dan besar adalah 5,44, 6,02 dan 13,52. Bobot panen di atas 400 gram dan periode budidaya berkisar antara 15,54-16,75 bulan (Table 2).

Tabel 1. Ringkasan produksi kerapu macan dengan skala produksi berbeda

Variabel Kecil Menengah Besar

Padat tebar (m3) 9,00 15,00 19.00

Sintasan kehidupan (%) 72,70 66,50 71.00

Ukuran benih (cm) 7,90 7,12 9,66

Rasio konversi pakan (FCR) 3,19 4,16 4,27

Ukuran panen (gram) 457,00 462,00 516,00

Masa pemeliharaan (bulan) 9,05 10,00 10,66

Produksi (kg) 665,50 3.074,25 8.487.00

Tabel 2. Ringkasan produksi kerapu bebek dengan skala produksi berbeda

Variabel Kecil Menengah Besar

Padat tebar (m3) 8,00 9,50 10,00

Sintasan kehidupan (%) 60,00 62,00 52,50

Ukuran benih (cm) 10,27 10,89 11,00

Rasio konversi pakan (FCR) 5,44 6,02 13,52

Ukuran panen (gram) 472,00 468,00 492,00

Masa pemeliharaan (bulan) 15,54 15,77 16,75

Produksi (kg) 416,82 1.146,89 4.262,50

(16)

ISSN 2089-7790

biaya pakan kecuali pada skala kecil di mana biaya tenaga kerja adalah biaya kedua terbesar (Tabel 4).

Tabel 3. Ringkasan pengeluaran budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda

(17)

ISSN 2089-7790

14

286.822.375) dan skala besar (Rp. 1.088.181.355) selama periode 5 tahun. Analisis keuangan lebih lanjut menunjukkan rasio manfaat-biaya (B/C) lebih dari 2, IRR lebih besar dari 300% untuk semua skala produksi dan jangka waktu pengembalian modal kurang dari satu tahun.

Tabel 4. Ringkasan pengeluaran budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda

(18)

ISSN 2089-7790

Sintasan kehidupan kerapu macan dan bebek pada skala berbeda masing-masing 75% dan 65%. Ikan kerapu adalah ikan kanibalisme dan hampir dari kematian terjadi pada bulan pertama penebaran ke dalam keramba jaring apung (KJA). Sadovy & Lau (2002) melaporkan bahwa tingkat mortalitas ikan kerapu antara 60-80% selama siklus pemeliharaan. Ukuran benih yang lebih disukai untuk tebar di KJA di atas 7 cm mengingat benih kerapu bersifat kanibalisme (Marte, 2003). Yashiro (1999) melaporkan bahwa ukuran minimum benih untuk budidaya dalam KJA berkisar 7-10 cm. Angka kematian selama pemelihaan adalah 60% atau lebih untuk benih ikan kurang dari 5 cm (Sadovy, 2000). Ukuran penebaran 7 sampai 10 cm memiliki tingkat kelangsungan hidup 30 sampai 70% selama dua bulan pertama pemeliharaan (Leong, 1997). Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan ukuran benih seperti pada skala besar tidak meningkatan sintasan kehidupan ikan. Sementara itu, kepadatan tebar yang lebih rendah seperti pada skala kecil tidak memberikan kontribusi positif pada sintasan kehidupan. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas benih dan mengurangi kanibalisme dengan cara pemilahan dapat meningkatkan tingkat sintasan kehidupan yang selanjutnya dapat meningkatkan volume produksi.

Tabel 5. Ringkasan indikator keuangan budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda

Perhitungan

profitabilitas Kecil Menengah Besar

Arus Kas Kumulatif -18.102.650 198.320.673 707.746.923

NPV -22.059.576 105.578.440 406.801.749

B/C 0,84 1,25 1,33

IRR (%) 88% 157%

Payback period (tahun) 0,99 0,57

Tabel 6. Ringkasan indikator keuangan budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda

Perhitungan

profitabilitas Kecil Menengah Besar

Arus Kas Kumulatif 133.344.826 446.749.192 1.692.212.500

NPV 85.009.002 286.822.375 1.088.181.353

B/C 2,36 2,69 2,52

IRR (%) 361% 430% 506%

Payback period (tahun) 0,23 0,20 0,57

(19)

ISSN 2089-7790

16

dan 2,34 dibandingkan dengan skala kecil. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan bahwa meningkatnya skala operasi menyebabkan penggunaan rucah yang tidak efisien, yang berarti bahwa produsen skala besar membuang pakan lebih banyak dari produsen skala kecil. Panjang periode budidaya dan skala operasi membuat produsen skala besar kurang mengontrol manajemen pemberian pakan. Manajemen pemberian pakan pada budidaya kerapu harus di tingkatkan untuk meningkatkan effesiensi pemberian ikan rucah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa persentase biaya tetap menurun dengan meningkatnya skala produksi (Gambar 1). Hasil ini sama dengan pendapat Shang (1990) yang menyatakan bahwa input biaya tetap menurun dengan meningkatnya skala produksi. Biaya variabel utama dalam budidaya kerapu macan dan bebek adalah benih, pakan dan tenaga kerja menyumbang lebih dari 65% dari total biaya produksi. Persentase biaya variabel meningkat dengan meningkatnya skala produksi kecuali untuk biaya tenaga kerja. Studi ini menunjukkan bahwa budidaya kedua kerapu dalam skala besar menghasilkan biaya tenaga kerja menjadi rendah. Budidaya kerapu memerlukan tenaga kerja intensif minimal 3 tenaga kerja untuk pemberian makan dan pemilahan ikan. Peningkatan unit pembesaran pada skala besar membuat tenaga kerja mampu menangani lebih banyak keramba dan memberikan kontribusi pada rendahnya input tenaga kerja. Oleh karena itu, peningkatan skala produksi akan meningkatkan biaya variabel kecuali biaya tetap dan tenaga kerja.

0

Gambar 1. Biaya produksi kerapu macan (a) dan kerapu bebek (b) pada skala produksi berbeda

Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menganalisis kinerja keuangan budidaya kerapu macan dan bebek. Analisis keuangan menunjukkan bahwa usaha budidaya kerapu macan skala kecil tidak layak secara ekonomi. Dengan proyeksi 5 tahun menghasilkan arus kas negative –Rp. 18.102.650 dan NPV negatif-Rp. 22.059.576 (Tabel 5). Proyeksi ini menunjukkan bahwa kerapu macan skala kecil mengalami kerugian besar dan harus ada perubahan besar agar usaha dalam skala ini menjadi layak. Penelitian sebelumnya tentang budidaya kerapu dalam skala kecil oleh Sheriff (2004) menjelaskan bahwa usaha skala kecil menghasilkan keuntungan yang memadai dan investasi cukup menguntungkan. Penelitian tersebut diproyeksikan bahwa skala kecil menghasilkan Rp. 27.390.000, B/C 2,64 dan IRR sebesar 125% berdasarkan asumsi bobot panen 1,2 kg dan penjualan harga Rp. 77.000. Model analisis ekonomi yang dikembangkan oleh Pomeroy et al. (2004) memproyeksikan hasil sebesar Rp. 78.884.850. Mereka berasumsi bahwa tingkat kelangsungan hidup adalah 80%, panen ukuran 600 gram dan harga jual Rp. 66.000. Oleh karena itu, meningkatkan ukuran panen dan sintasan kehidupan mungkin dapat meningkatkan profitabilitas pada usaha skala kecil. Sedangkan analisis keuangan budidaya kerapu bebek skala kecil menunjukkan arus kas kumulatif positif, NPV positif serta IRR yang lebih tinggi. Hasil ini setuju dengan Pomeroy et al.,

(2006) bahwa budidaya kerapu bebek skala kecil memperoleh arus kas positif untuk proyeksi 5 tahun.

(20)

ISSN 2089-7790

Skala ekonomi jelas terlihat sebagai akibat dari meningkatnya skala produksi kerapu macan dan bebek. Berbeda dengan budidaya kerapu macan skala kecil, skala menengah menghasilkan aliran kas positif sebesar Rp. 198.320.673 dan NPV positif sebesar Rp. 105.578.440. Selain itu, usaha kerapu bebek skala menengah menghasilkan arus kas dan NPV, B/C serta IRR yang lebih tinggi. Estimasi ini menyoroti pentingnya skala ekonomi dan potensi kelayakan ekonomi pada tingkat output yang lebih tinggi.

Hasil analisis pada skala besar lebih menekankan skala ekonomi yang penting bagi kelangsungan hidup ekonomi dan potensi keberhasilan pada skala besar. Hasil dari analisis ekonomi skala besar kerapu macan menunjukkan aliran kas positif sebesar Rp. 707.746.923 dan NPV sebesar Rp. 406.801.749. Selain itu, IRR yang lebih tinggi menunjukkan potensi yang besar pada skala besar dibandingkan kecil dan menengah. Proyeksi usaha kerapu bebek skala besar juga menunjukkan arus kas kumulatif dan NPV tertinggi serta IRR lebih dari 300%. Dibandingkan dengan kinerja keuangan budidaya udang windu yang di estimasi oleh Dwijanti (2004) memperoleh kas bersih sebesar Rp. 107.992.997/ha/tahun; B/C 1,23; IRR 24%. DKP (2007) dalam studi budidaya dan analisa ekonomi budidaya udang melaporkan aliran kas bersih sebesar Rp. 226.960.000/ha/ tahun, B/C 1,87 dan periode pengembalian modal 1,2 tahun. Perbedaan besar profitabilitas antara usaha kerapu dan udang menunjukkan kinerja keuangan yang lebih kuat pada budidaya kerapu. Budidaya kerapu menawarkan pendapatan tinggi dan skala besar adalah skala produksi yang paling menguntungkan.

(21)

ISSN 2089-7790

18

Tabel 7. Ringkasan analisa sensitivitas usaha budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda

Net present value (NPV) Benefit cost ratio

(B/C)

IRR (%) Payback period

Kecil Menengah Besar Kecil Menengah Besar Kecil Menengah Besar Kecil Menengah Besar

SR

80% 47.854.657 231.250.002 580.453.076 1,34 1,54 1,46 70 164 212 0.99 0,57 0,43

Biaya benih

+20% -29.688.500 77.740.910 303.563.229 0,80 1,17 1,22 - 65 105 - 1,13 0,67

-20% -14.430.651 133.415.969 510.040.269 0,89 1,34 1,44 - 116 240 - 0,88 0,50

Biaya Pakan

+20% -26.068.448 85.517.318 328.423.198 0,82 1,19 1,25 - 71 116 - 1,09 0,64

-20% -18.050.703 125.639.561 485.180.299 0,87 1,31 1,41 - 108 216 - 0,91 0,51

Biaya Buruh

+20% -28,897,452 88.936,256 374.098.601 0,80 1,20 1,29 - 74 138 - 1,07 0,60

-20% -15.221.700 122.220.623 439.504.896 0,89 1,30 1,36 - 104 179 - 0,93 0,54

Produksi

+20% -1.667.266 194.038.999 681.597.789 0,99 1,46 1,55 - 143 246 - 0,65 0,37

-20% -40.985.752 18.514.080 133.826.441 0,64 0,93 0,99 - 29 67 - 2,10 1,20

Harga

Rp. 70.000 -3.980.118 201.670.517 513.052.759 0,97 1,47 1,41 - 148 192 - 0,63 0,47

(22)

ISSN 2089-7790

Tabel 8. Ringkasan analisa sensitivitas usaha budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda

Net present value (NPV) Benefit cost ratio

(B/C)

IRR (%) Payback period

Kecil Menengah Besar Kecil Menengah Besar Kecil Menengah Besar Kecil Menengah Besar

SR

80% 136.178.120 446.171.022 2.119.419.152 3,17 3,62 3,96 580 668 1028 0,15 0,13 0,09

Biaya benih

+20% 80.899.181 274.648.622 1.041.157.983 2,21 2,51 2,37 343 409 499 0,24 0,20 0,17

-20% 89.083.257 298.519.515 1.143.464.973 2,52 2,89 2,73 378 445 549 0,22 0,19 0,59

Biaya Pakan

+20% 83.484.770 281.511.175 1.053.685.109 2,30 2,60 2,42 354 419 507 0,23 0,20 0,17

-20% 86.497.669 291.895.268 1.126.807.722 2,41 2,77 2,67 367 435 541 0,22 0,19 0,16

Biaya Buruh

+20% 82.705.013 281.600.394 1.075.089.912 2,27 2,61 2,48 351 420 516 0,23 0,20 0,17

-20% 87.277.425 291.567.742 1.109.533.044 2,45 2,76 2,60 370 434 532 0,22 0,19 0,16

Produksi

+20% 112.239.289 372.970.826 1.435.615.828 2,73 3,13 2,97 477 557 692 0,18 0,16 0.13

-20% 57.743.149 200.197.310 749.007.129 1,96 2,21 2,08 246 299 359 0,31 0,27 0.23

Harga

Rp. 350.000 131.046.379 362.726.095 1.270.593.525 3,09 3,13 2,79 557 542 611 0,16 0,16 0,14

(23)

ISSN 2089-7790

20

Kesimpulan

Hasil dari penelitian ini telah memberikan informasi penting tentang kelayakan ekonomi budidaya kerapu macan dan bebek pada skala produksi yang berbeda. Dalam hal kegiatan budidaya, kualitas benih perlu mendapat perhatian karena tingkat sintasan kehidupan masih rendah selama periode pemeliharaan. Produsen perlu memilih benih berkualitas tinggi untuk memastikan tingkat sintasan kehidupan lebih tinggi. Rasio konversi pakan yang lebih besar pada berbagai skala produksi terutama dalam skala besar sehingga manajemen pakan yang lebih baik harus diterapkan untuk mengurangi limbah pakan selama siklus pemeliharaan. Selanjutnya, penelitian ini juga menyoroti bahwa usaha kerapu macan skala kecil tidak layak secara ekonomis tetapi peningkatan sintasan kehidupan menjadi 80% dapat memberikan kontribusi positif pada skala ini. Usaha menengah dan besar menghasilkan usaha yang ekonomis. Akhirnya, usaha kerapu bebek menghasilkan pendapatan paling besar dibandingkan kerapu macan karena perbedaan pada harga pasar.

Daftar Pustaka

Chou, R., F.J. Wong. 1985. Preliminary observation on the growth and dietary performance of grouper, Epinephelus tauvina (Forskal) in floating net cages and fed dry pelleted diet from autofeeds. Singapore J. Primary Ind., 13: 84-91.

DKP. 2001. Pembesaran kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus) dan kerapu tikus

(Cromileptes altivelis) di karamba jaring apung. Balai Budidaya Laut

Lampung, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, Jakarta.

DKP. 2006. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia 2005. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, Jakarta. DKP. 2007. Aplikasi Best management practices pada budidaya intensif udang windu

(Penaeus monodon Fabricius). Balai Air Payau Jepara, Direktorat Jenderal

Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, Jakarta. Dwijanti, R. 2004. Analisa kelayakan proyek budidaya udang windu Tiger prawn

(Penaeus monodon L.) dala rangka pengembangan wilayah pessisir kabupaten

Purworejo. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

FAO. 2003. FISHSTAT Plus 2.3. www. Fao.org/fi/statis/fispft/fishplus.asp/. Cited January 2009.

Kawahara, S., S. Ismi. 2003. Grouper seed production statistics in Indonesia 1999-2002. Research Institute for marine aquaculture-Gondol in cooperation with institute for the Lampung marine aquaculture development and the Situbondo brackish water aquaculture development, Department of Marine Affairs and Fisheries, Indonesia.

Leong, T. S. 1997. Management of marine finfish disease in Malaysia. Paper presented at a Seminar on Sustainable Development of Mariculture Industry in Malaysia, 30-31 July, 1997, Kuala Lumpur, Malaysia.

Manadiyanto, N. Zahri, A.H. Purnomo, S.A. Pranowo, Azizi, A. Tajerin. 2002. Pengembangan model budidaya kerapu di Batam Riau. Pusat Riset Sosial Ekonomi dan Produk Olahan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Marte, C.L. 2003. Larviculture of marine species in Southeast Asia: current

research and industry prospect. Aquaculture, 227: 293-304.

Pomeroy, R.S., R. Agbayani, M. Duray, J. Toledo, G. Quinitio. 2004. The financial feasibility of small scale grouper aquaculture in the Philippines. Aquaculture Economics and Management, 8: 61-83.

Pomeroy, R.S., J.E. Parks, C.M. Balboa. 2006. Farming the reef: is aquaculture a solution for reducing fishing pressure on coral reef? Marine Policy, 30: 111-130.

Sadovy, Y. 2000. Regional survey for fry/fingerling supply and current practices for grouper mariculture: evaluating current status and long-term prospects for grouper mariculture in South East Asia. Final report to the Collaboration APEC grouper research and development network (FWG 01/99). December, 2000.

(24)

ISSN 2089-7790

Sadovy, Y.J., T.J. Donaldson, T.R Graham, F. McGilvray, G.J. Muldoon, M.J. Phillipps, M.A. Rimmer, A. Smith, B. Yeeting. 2003. While stock last: the live reed food fish trade. ADB Pacific Studies Series. Asian Development Bank. Manila.

Shang, Y.C. 1990. Aquaculture economic analysis: An introduction. World Aquaculture Society, Baton Rouge, LA.

Sheriff, N. 2004. Fisher livelihoods in southern Thailand: sustainability and the role of grouper culture. Stirling University, UK.

Sih, S.Y., M.A. Rimmer, J.D. Toledo, K. Sugama, I. Rumengan, K.C. William, M.J. Phillips. 2005. A Practical guide to feeds and feed management for cultured grouper. NACA, Bangkok, Thailand.

Sih, S.Y. 2006. Grouper aquaculture in three Asian countries: farming and economic aspect. Deakin University, Australia.

Sugama, K. 2003. Indonesia focuses on groupers. Asia Aquaculture Magazine September-October 2003.

Tacon, A.G.J., N. Rausin, , M. Kadari, P. Cornelis. 1991 The food and feeding of tropical marine fishes in floating net cages: Asian seabasss, Lates

calcarifer (Bloch), and brown-spotted grouper, Epinephelis tauvina

(Forskal). Aquaculture and Fisheries Management, 22: 165-182.

Wu, R.S.S., K.S. Lam, C.W. Mackay, T.S. Lau, V. Yam. 1994 Impact of marine fish farming on water quality and bottom sediment: a case study in the sub tropical environment. Marine Environmental Research, 38: 115-145.

(25)

ISSN 2089-7790

22

Sofyatuddin Karina*, Rizwan, Khairunnisak

Jurusan Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda aceh 2311. *E-mail : [email protected]

Abstract. The objective of this research was to study the influence of salinity and buoyancy on hatchability of milkfish eggs (Chanos-chanos). The completely random design was used this study. Two factors i.e. salinity and buoyancy were tested where the salinity with three levels concentration; 16, 23 and 30 ppt, while the buoyancy with three egg buoyancy categories i.e. floating, drifting and sinking with three replicates respectively. The result showed that the hatchability of floating eggs in tested salinities were 76,7% ; 78,75% ; 91,7%, for 16, 23 and 30 ppt, respectively. Then drifting eggs were 65,3%; 67,0%; 77,0% and sinking eggs were 54,0% ; 55,3% ; 65,0% for 16, 23 and 30 ppt, respectively. In generally, the hatchability was increased with increasing of salinity. In addition, the hatchability of the floating eggs was higher than the sinking eggs.

Keyword: Salinity, buoyancy, hatchability, milkfish.

Abstrak. Salinitas dan daya apung memiliki peran penting terhadap daya tetas telur ikan bandeng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas dan daya apung terhadap daya tetas telur ikan bandeng

(Chanos-chanos). Rancangan acak lengkap digunakan sebagai analisis statistik

untuk mempelajari pengaruh kedua parameter tersebut dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan untuk setiap perlakuan. Daya apung yang diuji adalah mengapung, melayang dan tenggelam dengan tiga tingkatan salinitas 16, 23 dan 30 ppt. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa persentase daya tetas telur yang mengapung pada ketiga salinitas tersebut secara berturut-turut adalah 76,7%; 78,7%; 91,7%, kemudian telur yang melayang adalah 65,3%; 67%; 77% dan telur yang tenggelam adalah 54%; 55,3%; 65%. Dengan kata lain, daya tetas telur meningkat seiring dengna meningkatnya salinitas. Berdasarkan analisis statistik one-way ANOVA dan uji lanjut Duncan menggunakan software SPSS versi 12 terdapat perbedaan yang nyata dari daya tetas telur pada salinitas 16 atau 23 ppt dengan 30 ppt. Juga dilaporkan bahwa telur yang mengapung memiliki daya tetas yang lebih tinggi dibandingkan telur yang tenggelam.

Kata kunci: Salinitas, daya apung, daya tetas telur, bandeng.

Pendahuluan

(26)

ISSN 2089-7790

bandeng melalui teknologi budidaya dan pembenihan untuk menjamin kuntinyunitas dan kualitas pasokan bibit.

Selama ini, bibit atau nener bandeng yang digunakan untuk pembudidayaan umunya berasal dari alam, kemudian ditebarkan dan dibesarkan dalam tambak. Bibit yang berasal dari alam umumnya berkualitas rendah, ukuran tidak seragam dan berpotensi membawa bibit penyakit sehingga produksi ikan bandeng tidak memuaskan.

Biologi reproduksi ikan bandeng dialam belum banyak diketahui, namun demikian telur ikan bandeng diketahui bersifat pelagik dan setelah menetas larva-larva ikan bandeng terbawa arus hanyut ke daerah pantai memasuki muara-muara sungai dan tambak (Murtidjo, 2002). Daya apung merupakan faktor penting dalam proses penyebaran dan penetasan telur ikan bandeng. Daya apung ini disebabkan oleh adanya perbedaan berat jenis telur dan air dan salah satu faktor penting yang mempengaruhinya adalah salinitas. namun, hal ini tidak menjamin telur ikan bandeng juga memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan salinitas. Sampai saat ini belum diketahui berapa kisaran salinitas yang optimum untuk penetasan telur ikan bandeng dan apakah telur yang tenggelam masih memiliki potensi untuk menetas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai salinitas media penetasan dan daya apung terhadap daya tetas telur ikan bandeng.

Bahan dan Metode Lokasi dan waktu

Penelitian ini dilakukan di hatchery ikan bandeng Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee, Aceh Besar pada tanggal 10-16 Maret, 2011.

Pemijahan dan koleksi telur

Induk ikan bandeng dipijahkan secara alami dan massal dalam wadah berupa bak beton berbentuk bulat berdiameter 7 m dengan volume 250 m2. Induk bandeng berukuran 4-6 kg/ekor dipelihara dalam bak dengan kepadatan 1 ekor/8 m3 air atau sekitar 1 kg induk/2 m3. Induk-induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 38% dan lemak 8% yang diperkaya dengan vitamin dan minyak ikan untuk mempercepat pematangan gonat induk.

Induk-induk ikan bandeng yang telah memijah pada malam hari, telurnya akan mengapung di permukaan air, telur-telur tersebut selanjutnya dihanyutkan/dialirkan melalui pipa yang dipasang menembus dinding bak induk dan dihubungkan dengan bak penampungan telur yang dilengkapi dengan kantong penampung telur (egg collector). Selanjutnya telur-telur dipindahkan ke dalam akuarium kaca untuk memilah telur yang mengapung, melayang dan tenggelam. Hanya telur yang berdiameter rata-rata 1,21 mm yang digunakan dalam kajian ini.

Persiapan salinitas air media

Air yang digunakan untuk media penetasan berasal dari air laut yang telah diendapkan dalam bak penampungan 12 jam sebelum dipakai. Salinitas yang diuji adalah 16, 23 dan 30 ppt, disiapkan dengan menambahkan aquades ke dalam air laut untuk memperoleh salinitas yang diinginkan dengan formula pengenceran menurut Kordi (2009).

Rancangan percobaan

(27)

ISSN 2089-7790 24 jam, daya tetas telur dihitung.

Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan jumlah telur, jumlah larva dan kualitas air. Pengamatan untuk jumlah telur dihitung secara manual menggunakan hand counter dengan bantuan beakerglass 50 mL. Pengamatan terhadap jumlah larva (telur yang menetas) setelah 24 jam juga dilakukan dengan cara yang sama. Menurut Suseno (1983) dalam (Putra, 2010) daya tetas telur ikan dapat dihitung dengan cara menghitung larva satu persatu kemudian dinyatakan dalam persen dengan rumus:

Daya tetas telur = x 100%

Analisa data

Untuk mengetahui pengaruh salinitas dan daya apung terhadap daya tetas telur ikan bandeng (Chanos-chanos) digunakan analisis statistik one-way ANOVA dan uji lanjut Duncan menggunakan SPSS software versi 12.0 untuk menentukan tambak-tambak dimana benih bandeng dipelihara atau dibesarkan mencapai ukuran konsumsi.

Tabel 3. Persentase daya tetas (%) 3 kelompok telur ikan bandeng (Chanos-chanos) pada salinitas 16, 23 dan 30 ppt.

Ulangan Keterangan : Supercript yang berbeda menunjukkan

(28)

ISSN 2089-7790

Gambar 1. Peningkatan daya tetas (%) telur ikan bandeng (Chanos-chanos) yang mengapung, melayang

dan tenggelam dengan kenaikan salinitas dari 16 ppt ke 30 ppt.

Daya tetas telur ikan akan menentukan kualitas larva yang dihasilkan, menurut Bobe dan Labbé (2010) bahwa kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain status nutrisi induk jantan/betina, penanganan/ manajemen induk saat pemijahan (tingkat pembuahan), faktor stress dan kondisi lingkungan seperti suhu, lama pencahayaan dan salinitas.

Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa daya tetas telur beragam untuk ketiga jenis daya apung dan salinitas yang diuji. Daya tetas yang paling tiggi diperoleh pada jenis telur yang mengapung dengan salinitas 30 ppt. Secara umum terlihat terjadi peningkatan yang signifikan pada daya tetas telur dengan meningkatnya salinitas dari 23 ppt ke 30 ppt, baik pada telur mengapung, melayang dan tenggelam, sementara tidak ada perbedaan antara daya tetas telur pada 16 ppt dengan 23 ppt.

Pada penelitian ini, salinitas 30 ppt merupakan salinitas yang memiliki suhu lebih tinggi dari salinitas lainnya (16 dan 23 ppt). Data yang didapatkan adalah bahwa telur ikan bandeng pada ketiga jenis perlakuan masih dapat menetas pada salinitas yang cukup rendah yaitu 16 ppt, dengan laju penetasan 75,7% (mengapung), 65,3% (melayang) dan 54,0% (tenggelam), hal ini membuktikan bahwa telur ikan bandeng memiliki toleransi salinitas yang cukup luas sama halnya dengan sifat yang dimiliki oleh induknya.

(29)

ISSN 2089-7790

26

Daftar Pustaka

Bobe, J., C. Labbé. 2010. Egg and sperm quality in fish. General and Comparative Endocrinology, 165(3):535-548.

Chauduri, H., J.V. Juario, Jurgenne H. Primavera, R. Samson, R. Mateo. 1978. Observations on artificial fertilization of eggs and the embryonic and larval development of milkfish, Chanos-chanos (Forskal). Aquaculture, 13(2):95-113.

Kordi, H., M. Gufran. 2009. Sukses memproduksi bandeng super untuk umpan, ekspor dan indukan. Lily Publisher, Yogyakarta.

Murtidjo, B. Agus. 2002. Budidaya dan pembenihan bandeng. Kasinius, Yogyakarta.

Suseno. 1983. Suatu perbandingan antara pemijahan alami dengan pemijahan stipping ikan mas (Cyprinus caprio. L) terhadap derajat fertilitas dan penetasan telurnya. Tesis magister Fakultas Pasca Sarjana Perikanan. UGM, Yogyakarta.

(30)

ISSN 2089-7790

!

!

Musri Musman*, Sofyatuddin Karina, Kavinta Melanie

Jurusan Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 23111; *Email korespondensi: [email protected]

Abstract. This study examined the selectivity of ethyl acetate extract of putat air (Barringtonia racemosa) in controlling Pomacea canaliculata compared to local catfish (Clarias batrachus). Five concentration of putat air (25, 50, 100, 200, and 400 ppm) with triplicate were tested in this study. The powder of putat air kernel was extracted through increasing the polarity of solvent, i.e. dichloromethane, ethyl acetate, and methanol. The mortality data were analyzed using Trimmed Spearman Karber (TSK) program version 1.5. The

selectivity value was calculated based on LC50 values obtained from TSK. The

results showed that (1) LC50 values of putat air’s kernel extract of putat air

to P. canaliculata and C. batrachus were 25.00 and 87.06 ppm, respectively, (2) the selectivity value of putat air’s kernel extract as molluscicide of P.

canaliculata was 3.48.

Key words: Pomacea canaliculata, local catfish (Clarias batrachus), putat air (Barringtonia racemosa).

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan selektivitas ekstrak etil asetat (EtOAc) biji putat air (Barringtonia racemosa) dalam pengendalian hama keong mas (Pomacea canaliculata) yang dibandingkan terhadap ikan lele lokal

(Clarias batrachus). Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Laut Jurusan

(31)

ISSN 2089-7790

28

Pengendalian hama keong mas menggunakan moluskosida sintesis, bahan kimia ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena mengandung residu seperti metaldehid, niklosamid atau klorothalonil (Niawati, 2007). Penggunaan moluskosida sintesis berbahaya bagi kelangsungan hidup organisme lain di sawah dan dapat menyebabkan kematian bagi ikan - ikan, bahkan hewan peliharaan (Wada, 2004). Pencemaran lingkungan sebagai dampak dari pengendalian hama keong mas pada tanaman padi dapat dihindari dengan mencari alternatif moluskosida alami dari bahan tumbuhan (Suripto, 2009).

Sejumlah tumbuhan tropis telah diketahui memiliki aktivitas antimoluska seperti jambu mente, akasia, dan jayanti (Suripto, 2009). Kelompok senyawa yang berasal dari tumbuhan yang telah diidentifikasi memiliki moluskosida aktif adalah golongan saponin, tanin, alkaloid, dan flavonoid (Musman, 2006). Putat air telah diuji memiliki aktivitas moluskosida dan efektif mengendalikan keong mas yang diuji di laboratorium (Musman, 2009).

Untuk menilai kualitas suatu pestisida secara ekologis, bukan hanya ditentukan toksisitas terhadap organisme sasaran di dalam pengendaliannya, akan tetapi juga toksisitasnya terhadap organisme lain yang bukan sasaran pengendalian, seperti tanaman inang itu sendiri atau organisme lainnya di tempat yang sama dan memiliki manfaat bagi manusia (Suripto, 2009). Berdasarkan uraian di atas, perlu dikaji tentang selektivitas ekstrak etil asetat biji putat air (B. racemosa) terhadap keong mas (P. canaliculata) dan ikan lele lokal (Clarias batrachus). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan selektivitas ekstrak etil asetat biji putat air dalam pengendalian hama keong mas yang dibandingkan terhadap ikan lele lokal.

Bahan dan Metode

Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Laut Jurusan Ilmu Kelautan Koordinatorat Kelautan dan Perikanan dan Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2011.

Pengumpulan buah putat air dan ekstraksi etil asetat

Buah putat air dikumpulkan dari Desa Lubuk, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar pada Juni 2011. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut diklorometana, etil asetat, dan metanol.

Proses ekstraksi biji putat air dalam pelarut diklorometana

Buah putat air dikupas kulitnya untuk diambil bijinya. Ditimbang berat semua biji yang telah dikupas sebagai berat basah (1,9 kg). Biji tersebut dirajang-rajang tipis dengan menggunakan pisau dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama 7 hari. Rajangan tipis biji putat air diblender dan disaring pada ayakan. Ditimbang berat tepung yang diperoleh sebagai berat kering (550 g). Ditimbang 500 g tepung biji putat air dan masukkan ke dalam toples bervolume 1,5 liter. Dialirkan perlahan-lahan 1 liter pelarut diklorometana ke dalam toples dimaksud sambil diaduk-aduk hingga semua tepung terendam homogen, lalu didiamkan selama 24 jam. Campuran disaring dengan kertas Whatman No. 1. Filtrat yang diperoleh kemudian dievaporasi dengan pengawa putar hingga diperoleh padatan/pasta ekstrak kasar diklorometana. Ditimbang ekstrak kasar yang diperoleh dari hasil evaporasi dan disimpan dalam botol untuk uji selektivitas. Penyimpanan dilakukan dalam ruang pendingin.

Proses ekstraksi biji putat air dalam pelarut etil asetat

Diulangi langkah kerja di atas pada residu yang diperoleh dengan mengganti pelarut diklorometana dengan pelarut etil asetat. Residu yang diperoleh direndam dengan pelarut etil asetat. Filtrat yang diperoleh dievaporasi dengan pengawa putar hingga diperoleh padatan/pasta ekstrak kasar etil asetat. Ditimbang ekstrak kasar yang diperoleh dari hasil evaporasi dan disimpan dalam botol untuk uji selektivitas. Penyimpanan juga dilakukan dalam ruang pendingin.

Pengumpulan organisme uji dan persiapan wadah uji

(32)

ISSN 2089-7790

tempat penelitian. Wadah uji yang digunakan untuk penelitian ini adalah aquarium berukuran 45x30x35 cm sebanyak 36 unit. Ketinggian air dalam wadah adalah 10 cm (Musman, 2010).

Proses pencampuran ekstrak biji putat air dalam wadah uji

Ekstrak biji putat air dibuat menjadi beberapa larutan konsentrat yaitu 25, 50, 100, 200, dan 400 ppm. Kelompok aquarium disusun dalam urutan pertama untuk keong mas dan kedua untuk ikan lele lokal. Enam baris aquarium terdiri atas baris pertama untuk kontrol (0 ppm), baris kedua untuk pemberian konsentrat 25 ppm, baris ketiga untuk pemberian konsentrat 50 ppm, baris keempat untuk pemberian konsentrat 100 ppm, baris kelima untuk pemberian konsentrat 200 ppm, dan baris keenam untuk pemberian konsentrat 400 ppm, pada masing-masing kelompok baris dilakukan tiga kali ulangan.

Setiap aquarium diisi air sampai ketinggian 10 cm yang diukur dari dasar aquarium. Setiap aquarium kemudian diisi sebanyak masing-masing 10 ekor hewan uji tiap spesiesnya (Rudiyanti dan Ekasari, 2009; Suripto, 2009). Hewan uji diaklimasi selama 30 menit dalam wadah uji sebelum eksperimen dijalankan (Musman, 2010). Setekah 30 menit, larutan konsentrat ekstrak biji putat air dituangkan sebanyak 100 ml ke dalam masing-masing melalui dinding aquarium dan semua organisme uji telah di dalam air.

Pengamatan kondisi dan mortalitas organisme uji

Pegamatan mortalitas organisme uji dilakukan setelah 48 jam. Mortalitas keong mas ditandai dengan keluarnya lendir melalui celah operculum atau kakunya pergerakan operculum bila ditekan ke arah dalam (Musman, 2004). Rudiyanti dan Ekasari (2009) menyatakan bahwa ikan yang terkena racun dapat diketahui dengan gerakan hiperaktif, lebih sering berada di permukaan, menggelepar, lumpuh sehingga kemampuan ikan untuk beradaptasi semakin berkurang dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Analisa Data

Metode yang digunakan untuk menganalisis data mortalitas keong mas dan ikan lele lokal adalah program TSK (Trimmed Spearman-Karber) versi 1.5 yang diproses dengan perangkat lunak komputer (Hamilton et al., 1997). Hasil yang diperoleh dari TSK ini berupa LC50 (rerata konsentrasi yang mematikan) yaitu konsentrasi kimia yang membunuh 50% hewan uji. Nilai selektivitas ekstrak biji putat air dapat dihitung berdasarkan nilai LC50 yang diperoleh tersebut, dengan menggunakan rumus dari Feng and Wang (1984) yaitu sebagai berikut:

LC50 ikan lele lokal Selektivitas untuk ikan lele lokal = ___________________

LC50 keong mas

Kriteria yang digunakan untuk menentukan nilai selektivitas antimoluska secara fisiologis adalah sebagai berikut:

- Jika S > 1, artinya ekstrak biji putat air memiliki selektivitas tinggi untuk pengendalian keong mas.

- Jika S 1, artinya ekstrak dari biji putat air tidak selektif sebagai anti keong mas.

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ektrak biji putat. Kematian keong mas mulai terjadi pada konsentrasi 25 ppm, sedangkan pada ikan lele kematian mulai terjadi pada konsentrasi 50 ppm (Gambar 1).

Gambar

Tabel 3. Ringkasan pengeluaran budidaya kerapu macan dengan skala  produksi berbeda
Tabel 4. Ringkasan pengeluaran budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda
Tabel 7. Ringkasan analisa sensitivitas usaha budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda
Tabel 8. Ringkasan analisa sensitivitas usaha budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi habitat pada bagian hulu DAS Wampu yaitu bertipe substrat batu besar, kerikil, dan pasir dengan arus yang sedang - besar serta perairan yang jernih.. Parameter

Hasil pengujian dengan kondisi ketiga variasi beban, didapatkan respon yang hampir mendekati referensi yang diinginkan dengan nilai τ pada kondisi minimal, nominal, dan

Metode yang biasa digunakan pada pengukuran resistivitas secara umum yaitu dengan menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi dengan menggunakan dua elektroda arus (A

Berdasarkan Analisis dan pengukuran arus dan potensi daya listrik di tiga buah Pulau yaitu Pulau Sugi, Pulau Abang dan Pulau Mantang, dapat disimpulkan bahwa Pulau Sugi

hidrofilisitas yang dapat meningkatkan fluks yang sesuai dengan hasil pengukuran FESEM, membran PVDF dengan partikel yang lebih kecil memiliki ukuran pori

Hasil RAO dari software MOSES digunakan untuk menganalisa gerak relatif haluan dan selanjutnya untuk mengetaui respon struktur pada gelombang acak yang selanjutnya

Selain itu energi listrik yang disalurkan ke konsumen biasanya akan menyebabkan adanya arus lain yang juga mengkonsumsi energi tersebut sehingga besar arus

Metode yang digunakan dalam penelitian hubungam kondisi parameter fisika dan kimia, dengan kesuburan perairan ini yaitu dengan menggunakan metode analisis deskriptif