• Tidak ada hasil yang ditemukan

Thesis Titi Rahardjanti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Thesis Titi Rahardjanti"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

FRASA PREPOSISI BAHASA MANDARIN

ANALISIS TEORI X

BAR

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Mencapai derajat Sarjana Strata 2

Magister Linguistik

Titi Rahardjanti

A4C009031

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

TESIS

FRASA PREPOSISI BAHASA MANDARIN

ANALISIS TEORI X–BAR

Disusun oleh

Titi Rahardjanti

A4C009031

Telah disetujui oleh Pembimbing

Penulisan Tesis pada tanggal 31 Agustus 2015

Pembimbing

Dr. Nurhayati, M.Hum.

NIP. 196610041990012001

Ketua Program Studi

Magister Linguistik

Dr. Agus Subiyanto, M.A.

(3)

TESIS

FRASA PREPOSISI BAHASA MANDARIN

ANALISIS TEORI X–BAR

Disusun oleh

Titi Rahardjanti

A4C009031

Telah dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Tesis

pada tanggal Agustus 2015

dan Dinyatakan Diterima

Ketua Penguji

Dr. Nurhayati, M.Hum. _______________________

Penguji I

Dr. Agus Subiyanto, M.A. _______________________

Penguji II

Dr. M. Suryadi, M.Hum _______________________

Penguji III

(4)

PERNYATAAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini adalah hasil pekerjaan penulis sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum/tidak diterbitkan, sumbernya disebutkan dan dijelaskan di dalam teks dan daftar pustaka.

Semarang, 31 Agustus 2015

(5)

PRAKATA

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Agus Subiyanto, M.A. selaku Ketua Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, atas kebijaksanaan, dorongan, serta motivasi yang diberikan kepada penulis untuk segera menyelesaikan penyusunan tesis ini;

2. Dr. Deli Nirmala, M.Hum. selaku Sekretaris Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, atas kesabaran dan dorongan yang diberikan penulis untuk dapat menyelesaikan tesis;

3. Dr. Nurhayati, M.Hum. selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran dengan penuh kesabaran untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam penulisan tesis ini;

4. Dr. M. Suryadi, M.Hum selaku penguji yang telah memberikan kritik dan sarannya untuk penyempurnaan tesis ini;

5. Para Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, atas segala pengetahuan yang sudah diberikan selama penulis menjalani periode perkuliahan di Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro;

6. Rekan-rekan di Program Studi D-3 Bahasa Mandarin, Universitas Nasional atas dukungan dan bantuannya dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis ini;

(6)

penulisan tesis ini, senyum, kehangatan dan keceriaan kalian selalu menyegarkanku untuk selalu bersemangat sepanjang waktu;

8. Guru dan sahabat, Ibu Soen Ai Ling, M.A., PhD dan Ibu Ucu Fadhilah, S.S., M.Hum yang setiap saat menyediakan waktu dan ilmu untuk penulis;

9. Sahabat Sri Muryati, yang membantu dan menyemangati penulis pada detik-detik terakhir penyelesaian tesis yang harus berpacu dengan tenggat waktu tesis;

10.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-satu yang telah membantu kelancaran penulisan tesis.

Mudah-mudahan tesis ini memberikan manfaat bagi semua pihak.

Semarang, 31 Agustus 2015

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

PRAKATA ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ... ix

ABSTRAK ... xi

INTISARI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... . 1

1.2. Rumusan Masalah ……….... 6

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……… 6

1.4. Ruang Lingkup Penelitian ……… 7

1.5. Metode dan Langkah Kerja Penelitian ... .... 7

1.6. Definisi Operasional ... .. 9

1.7. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Penelitian Terdahulu ……… 11

2.2. Landasan Teori ... 15

2.2.1 Konsep Frasa Bahasa Mandarin…….………….. 15

2.2.2 Frasa Preposisi Bahasa Mandarin……….… 19

2.2.2.1. Frasa Preposisi Lokatif Bahasa Mandarin ……… 20

(8)

2.2.3 Kaidah Struktur Frasa Preposisi …..………. 27

4.2.1.1 Frasa Preposisi Lokatif Sebagai Adjung… 65 4.2.1.2 Frasa Preposisi Temporal Sebagai Adjung 79 4.3 Frasa Preposisi Sebagai Komplemen ……….. 97

4.3.1 Pengujian Komplemen ………..… 97

4.3.1.1 Frasa Preposisi Lokatif Sebagai Komplemen ………... 97

4.3.1.2 Frasa Preposisi Temporal Sebagai Komplemen ……… 102

BAB V PENUTUP ... 104

5.1. Simpulan ... 104

5.2. Saran ... 104

(9)

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

FPrL = Frasa Preposisi Lokatif FPrT = Frasa Preposisi Temporal

(10)

S = Subjek

V = Verba

ZW = Zhang Wenyan (informan natif)

LAMBANG

* = Tidak Berterima

(11)

ABSTRACT

This study investigates Mandarin locative and temporal prepositional phrases based on the X-bar theory. The aim of this research is to describe the structure of phrase of Mandarin locative and temporal prepositional phrases. The method used is descriptive qualitative. The data source was from Guoji Ribao newspaper, and were collected by simak method. The analysis used by agih method which is adjusted to the X-bar theory. The results of the analysis show that (1) prepositions zài „at‟, „at‟, cóng „from‟, „from‟ and dào „to‟ have function as locative prepositions and temporal prepositions or the combination of both; (2) the prepositions of zài at‟, „at‟, cóng „from‟, „from‟, dào „towhen combine into prepositional phrases in sentences have a syntactical function as an adjunct or a complement (3) the rules of forming Prepositional Phrasae cover : PPP‟ FN.

(12)

INTISARI

Penelitian ini mengkaji frasa preposisi lokatif dan temporal bahasa Mandarin berdasarkan teori X-bar. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan struktur frasa preposisi lokatif dan frasa preposisi temporal, adapun metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak, metode analisis data menggunakan metode agih yang perilakunya disesuaikan dengan teori X-bar. Temuan penelitian ini adalah (1) preposisi zài „di/pada‟, „dari‟, cóng „dari‟, „dari dan dào „ke/hingga‟, dapat berperan sebagai preposisi lokatif , preposisi temporal maupun gabungan keduanya (2) preposisi zài „di/pada‟, „dari‟, cóng „dari‟, „dari dan dào „ke/hingga‟ jika bergabung menjadi frasa preposisi dalam kalimat memiliki fungsi sintaksis sebagai adjung atau komplemen (3) kaidah pembentukan frasa preposisi dirumuskan menjadi FP P‟ FN.

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggunaan Bahasa Mandarin (BM) di Indonesia semakin meluas setelah diterbitkannya kebijakan pemerintah melalui Instruksi Presiden RI No 4 Tahun 1999 tentang Pencabutan Larangan Pembelajaran BM di Lembaga Pendidikan Non Formal. Penerbitan instruksi tersebut tidak hanya berdampak pada bermunculannya lembaga-lembaga pendidikan non formal seperti kursus BM, melainkan juga diikuti oleh lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan pembelajaran BM mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Berdasarkan survei/informasi APSMI (Asosiasi Program Studi Bahasa Mandarin Indonesia hingga saat ini perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia yang membuka Program Studi Sastra Cina untuk jenjang S1 dan Program Studi BM untuk jenjang D3 berjumlah 26 Program Studi dan penyebarannya menyeluruh dari wilayah Barat sampai Timur Indonesia. Demikian juga kursus BM di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya terus bertumbuhan.

(14)

2

sejumlah sekolah terutama yang siswanya mayoritas keturunan Cina mengajarkan BM sebagai mata pelajaran wajib atau ekstrakurikuler (Sutami, 2007:227).

Penerbitan kedua kebijakan tersebut tampaknya sejalan dengan kebutuhan akan penggunaan BM di dunia yang terus meningkat di berbagai bidang, terutama di bidang ekonomi. Bahkan dalam KTT ASEAN baru-baru ini muncul wacana bahwa Renminbi sebagai mata uang resmi negara China akan dijadikan mata uang internasional kelima di dunia setelah Dolar Amerika, Euro, Pounsterling, dan Yen Jepang. Pengakuan Renminbi sebagai mata uang internasional tersebut akan diumumkan pada tanggal 30 November mendatang oleh IMF (Kompas, 22 November 2015). Melihat kondisi tersebut, penulis berasumsi bahwa pembelajaran BM di Indonesia di masa mendatang menjadi satu kebutuhan yang tak terelakkan.

(15)

3

Bahasa Mandarin mengenal aksen nada. Aksen nada ini terdapat dalam tataran kata. Suatu kata akan memiliki makna beragam jika dilafalkan dengan nada yang berbeda-beda, seperti kata “mǎ” jika dilafalkan dengan “mā” bermakna

„ibu‟, namun jika dilafalkan akan bermakna „kuda‟. Sebagaimana

dikemukakan oleh Li & Thompson (1989:26) bahwa bentuk kata dalam BM tidak mengalami perubahan secara morfologis, melainkan disebabkan oleh perubahan nada dalam pelafalannya. .

Selanjutnya, jika dilihat dari struktur gramatikalnya, BM termasuk dalam rumpun bahasa Sino-Tibet. Struktur gramatikal BM didasarkan pada urutan kata. Urutan kata dalam kalimat/struktur kalimat BM sama dengan bahasa Inggris, yaitu SVO (Subjek – Verba – Objek). Contoh :

(1) Wǒ xuéxí Hànyǔ. S P (V) O

Saya belajar bahasa Mandarin

(Liu, 2005:23)

Struktur kalimat (1) di atas memiliki urutan S – V -- O, unsur subjek adalah wo „saya‟ (nomina), unsur predikat adalah xuéxí „belajar‟ (verba), dan

objeknya adalah hànyǔ„bahasa Mandarin‟ (nomina).

Selain didasarkan pada urutan kata, struktur gramatikal kalimat BM ditentukan oleh urutan waktu (The Principle of Temporal Sequence) (Tai, 1985), contoh :

(2)Xiǎo mǎ zài gōngchǎng gōngzuò. S FP P

(16)

4

Urutan kata dalam kalimat (2) di atas adalah S – FP – P, unsur subjeknya berupa nomina Xiaoma (nama orang), unsur frasa preposisi (FP) adalah zài

gōngchǎng „di pabrik‟ dan unsur predikat diisi oleh verba gōngzuò „bekerja‟.

Berdasarkan konsep urutan waktu dalam BM seperti disebutkan di atas, Xiaoma

(nama orang) tiba terlebih dahulu di pabrik, setelah itu melakukan aktivitas

bekerja gōngzuò Berkaitan dengan hal tersebut, FP dalam BM diletakkan di depan predikat yang berupa verba.

Konsep urutan waktu yang berlaku dalam penempatan FP / preposisi dalam kalimat BM seperti contoh di atas, berbeda dengan bahasa Indonesia seperti terlihat pada contoh berikut ini.

(3)Saya belajar di rumah (4)Dia datang dari Inggris (5)Mereka baik pada saya

Bentuk di rumah, dari Inggris, dan pada saya merupakan FP yang diletakkan setelah predikat yang berupa verba dan predikat berupa adjektiva. Bandingkan dengan FP dalam BM yang terdapat dalam kalimat di bawah ini.

(17)

5

Kalimat di atas (6), (7) FP Wo zai jia xue „Saya di rumah belajar‟, Ta cong Yingguo lai „Dia dari Inggris datang‟, diletakkan sebelum predikat yang berupa verba, sedangkan kalimat (8) FP Tamen dui wo hen hao „Mereka pada saya baik‟ terletak sebelum predikat yang berupa adjektiva

Bahasa Mandarin jenis preposisi sangat beragam. Ada beberapa preposisi BM memiliki fungsi dan makna ganda, yakni lain zài „di/pada‟, yu„pada‟, cóng

dari‟, dào „ke‟, dan zì „dari‟ mempunyai fungsi. Adapun jenis preposisi tersebut

mempunyai fungsi sebagai (a) verba, (b) preposisi (c) adverbia. Di bawah ini diberikan contoh penggunaan zài sebagai verba.

(9) Wǒ yéyé hé nǎinai zài nóngcūn. FN V N Saya kakek dan nenek tinggal desa

„Kakek dan nenek saya tinggal di desa. (Zhiqi et.al, 1995:1103)

Zài dalam kalimat (9) berfungsi sebagai verba yang menyatakan makna eksistensi/keberadaan (Borong & Xudong, 2002:38). Pakar linguistik Cina menyatakan bahwa FP tidak dapat menjadi subjek dan predikat dalam kalimat BM (Zhang & Changlai, 2002:84).

(18)

6

menjadi signifikan dilakukan guna meningkatkan pemahaman pembelajar BM di Indonesia terhadap BM yang baik.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

a. Bagaimanakah kaidah struktur frasa preposisi (FP) BM ? b. Bagaimanakah fungsi sintaksis FP BM ?

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Mendeskripsikan kaidah struktur FP BM.

b. Membuktikan FP sebagai adjung dan komplemen.

Manfaat penelitian ini dapat diperinci secara teoritis dan praktis. Manfaat secara teoritis adalah sebagai berikut.

a. Memberi kontribusi terhadap pengembangan keilmuan linguistik BM, khususnya pemahaman tentang penggunaan preposisi.

(19)

7

Manfaat secara praktis adalah sebagai berikut:

a. Memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran preposisi lokatif dan preposisi temporal.

b. Memberikan kontribusi pada pembelajar BM agar dapat memahami penggunaa preposisi lokatif dan preposisi temporal secara benar.

c. Menjadi masukan bagi jurnalis agar dapat menggunakan preposisi lokatif dan preposisi temporal BM secara tepat.

1.4

Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis membatasi ruang lingkup penelitian pada penggunaan preposisi lokatif dan preposisi temporal zai „di‟ , yu „di‟, cong „dari‟, zi „dari‟, dao „ke‟dalam artikel surat kabar atau harian Guoji, dari bulan

Nopember 2014 sampai Januari 2015, Koran Guoji merupakan surat kabar berbahasa Mandarin yang terbit dan beroplah terbesar di Indonesia, sehingga mudah dikenal oleh pembelajar BM di Indonesia dan mudah diperoleh.

1.5

Metode dan Langkah Kerja Penelitian

(20)

8

penelitian deskriptif adalah metode yang bertujuan membuat deskripsi, yaitu membuat gambaran atau lukisan secara sistematis faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti. Oleh karena itu metode penelitian ini menggunakan gabungan dari kedua jenis penelitian tersebut yaitu penelitian deskritif kualitatif. Selanjutnya, langkah kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Pengumpulan data dimulai dengan mengidentifikasi kalimat yang di dalamnya mengandung FP zai „di‟ , yu „di‟, cong „dari‟, zi „dari‟, dao „ke‟, dan unsur obyek nominal. Selanjutnya kalimat yang mengandung FP tersebut ditandai dengan menggunakan penanda/marker, lalu dicatat dalam komputer sesuai dengan jenis preposisinya. Langkah selanjutnya adalah memilah FP yang sudah dikumpulkan ke dalam jenis PrL atau jenis PrT. Langkah terakhir dari pengumpulan data adalah mengidentifikasi struktur dan fungsi sintaksis kedua preposisi tersebut.

b. Analisis data dilakukan berdasarkan teori yang sudah ditetapkan. Untuk mengategorisasi jenis FP ke dalam lokatif dan temporal digunakan teori yang dikemukakan oleh Liu (2005) Selanjutnya untuk membuktikan fungsi sintaksis dari frasa preposisi lokatif (FPrL) dan frasa preposisi temporal (FPrT) digunakan teori X-Bar.

(21)

9

informal adalah penyajian data dengan menggunakan uraian kata kata biasa yang mudah dipahami.

Secara rinci mengenai metode dan langkah kerja penelitian akan disajikan dalam Bab III dalam laporan penelitian ini.

1.6

Definisi Operasional

Definisi Operasional dalam penelitian ini meliputi:

a. Frasa adalah kata-kata dalam kalimat yang disusun berdasarkan hierarki menjadi satuan yang lebih besar (Haegeman, 1992: 26). Sejalan dengan itu Radford (dalam Mulyadi, 2008: 23) (dalam Mulyadi , 2008 :23) mengemukakan bahwa frasa adalah perangkat elemen yang membentuk suatu konstituen tanpa dibatasi oleh jumlah elemen.

b. Frasa preposisi adalah frasa yang terbentuk dari preposisi yang digunakan untuk mengacu pada sebuah kategori kata yang terletak di depan kategori lain, terutama nomina (Tarigan, dalam Mulyadi, 2010: 2, Ramlan, 1997: 178; Chaer, 1994: 373).

c. Kategori leksikal adalah kategori kata dan kategori ini menentukan

kategori frasanya. Misalnya, FP terbentuk dari sebuah preposisi dan sebuah kategori lain sebagai komplemennya (Radford, dalam Mulyadi, 2010: 2).

(22)

10

e. Komplemen adalah argumen internal yang posisinya dibawahi langsung oleh X-bar dan kehadirannya pada posisi itu merupakan realisasi dari properti leksikal. Komplemen merupakan argumen wajib dalam struktur frasa (Mulyadi, 2010: 5).

f. Kaidah struktur frasa adalah kaidah untuk menentukan relasi konstituen secara hierarkis dalam sebuah frasa. Dalam hal ini, konstituen mengacu kepada kategori leksikal dan kategori frasa yang berfungsi sebagai komplemen, keterangan, dan spesifier (Haegeman, 1992: 87, 95).

1.7 Sistematika Penulisan

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Bagian ini menguraikan penelitian terdahulu tentang preposisi dalam bahasa Mandarin (BM). Penelitian-penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, disertasi dengan judul “Jiècí Duǎnyǔ „Zài +X‟ de Jùfǎ Wèizhì Jí Jiècí „Zài‟ de Yǐnxiàn Wèntí Kǎochá Research on the Syntactic Position of the

Prepositional Phrase „Zai+ X‟ and the Occurrence of the Preposition „Zai‟

oleh Leng (2008). Penelitian Leng menelaah penggunaan dan pelesapan

preposisi zài „di‟ dalam kalimat BM. Leng lebih memfokuskan zài „di‟ yang

berada di depan dan di belakang predikat verba. Temuan penelitian Leng bahwa jika zài „di‟ berada di belakang predikat tidak dapat dilesapkan. Sedangkan, zài cenderung lesap ketika berada di depan predikat. Penelitian yang dilakukan Leng

dapat dikatakan cukup luas karena ia menelaah tidak hanya pada tataran kalimat sederhana, tetapi pada kalimat kompleks.

Selanjutnya, Liang (2008) dalam penelitiannya yang berjudul

Comparison and Researches on the Location and Time Preposition in Present

(24)

12

temporal dan lokatif seringkali sama. Artinya, preposisi yang dapat digunakan sebagai penanda lokatif sekaligus dapat digunakan sebagai temporal, dan (4) menunjukkan perbedaan aspek semantik dari kedua preposisi tersebut berdasarkan posisi keduanya di dalam kalimat. Dari temuan tidak terlihat secara jelas perbedaannya karena pemaparannya hanya berisi tentang posisi PrL dan PrT dalam kalimat, yakni di depan dan belakang subjek.

Penelitian yang dilakukan Zelia (2012) : “Perbandingan Frasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin (Suatu Analisis Kontrastif)”. Dalam penelitian

tersebut Zelia (2012) membandingkan Frasa Preposisi (FP) bahasa Indonesia (BI) dan bahasa Mandarin dengan menelaah susunan unsur kalimat yang mengandung preposisi atau FP. Zelia (2012) mengemukakan bahwa pola frasa dalam BM adalah pola Menerangkan Diterangkan (MD), berbeda dengan BI yang berpola Diterangkan Menerangkan (DM). Meskipun demikian, menurut Zelia FP dalam BM dapat berpola MD atau DM karena dalam BM terdapat FP yang berfungsi sebagai keterangan, yaitu zhuangyu „keterangan‟ . Keterangan (zhuangyu) lazim diletakkan di depan verba atau adjektiva yang dapat membentuk pola MD. Selain itu, FP dalam BM dapat berfungsi sebagai komplemen/pelengkap (buyu). Letak komplemen (buyu) tersebut di belakang verba atau adjektiva sehingga dapat membentuk pola DM.

(25)

13

frasa yang dinamakan frasa preposisi. Contohnya seperti ke toko, sampai kosong, dan dengan segera.

Menurut penulis, “zai” dengan bentuk aksara dan lafal yang sama, kata ini

memiliki tiga kelas kata: (1) sebagai preposisi, sepadan dengan "di" dalam BI, dan biasanya diikuti nomina, membentuk FP, (2) sebagai verba, dengan makna leksikal "berada", (3) sebagai adverbia temporal, dengan makna leksikal "sedang".

Pertama, frasa preposisi BM seperti zai jiali bermakna „di rumah‟, memiliki struktur yang sama dengan BI, yaitu Prep + FN. Kedua, perbedaan susunan unsur kalimat antara BM dan BI terletak pada posisi keterangan, termasuk yang dibentuk oleh FP. Jika dibandingkan letak keterangan dalam BI dengan BM, posisi keterangan dalam BM tidak sebebas posisi keterangan dalam BI. Hal itu tampak seperti dikemukakan oleh Alwi, et. al (1998:330) bahwa keterangan dalam BI merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya.

Meskipun penelitian Zelia tersebut berisi pemaparan beberapa preposisi dan FP BM, jika ditinjau dari aspek sintaksis, masih terdapat rumpang di dalamnya. Analisis Zelia tentang preposisi BM sangat terbatas karena data yang digunakan dalam analisis itu belum memadai. Akibatnya, inti persoalan dalam penelitian ini belum tersentuh.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Anas (2012) dalam

disertasinya : “Yìnní Xuéshēng Xí dé Hànyǔ Jiècí Duǎnyǔ “zài +NP” Shí

(26)

14

Indonesian Students Learning Chinese Prepositional Phrase “zài +NP”. Anas

membahas beragam preposisi dalam BM. Anas (2012) membandingkan preposisi

zai dengan preposisi BI pada/di, lalu menelaah FP BM " + FN" dan FP

dalam BI "di / pada + FN" melalui analisis kesalahan. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa kesalahan-kesalahan tersebut terletak pada (1) pembelajar tidak dapat menempatkan preposisi sesuai dengan urutan yang tepat (2) pembelajar tidak menggunakan preposisi yang seharusnya digunakan, dan (3) pembelajar tidak dapat membedakan preposisi dengan kata arah. Selanjutnya, kesalahan tersebut disebabkan oleh tiga hal, yakni (1) interferensi bahasa ibu (2) kesalahan guru, dan (3) kesalahan materi ajar.

Data penelitian yang digunakan oleh Anas adalah BM yang digunakan oleh pembelajar Indonesia tingkat menengah, sehingga penulis berasumsi bahwa data yang digunakan kurang memadai. Hal ini menyebabkan telaah preposisi zai sebagai PrT atau PrL secara khusus tidak mendalam.

(27)

15

2.2 Landasan Teori

Teori yang digunakan untuk melandasi penelitian ini meliputi: (1) Konsep Frasa Bahasa Mandarin (2) Kaidah Struktur Frasa Preposisi (3) Teori X-Bar.

2.2.1 Konsep Frasa Bahasa Mandarin

Li dan Cheng (2008:155) mengatakan bahwa frasa adalah kombinasi kata-kata yang berhubungan secara gramatikal dan memiliki fungsi yang sama dengan kata yaitu sebagai bagian kalimat. Beberapa frasa dapat juga berdiri sendiri ebagai sebuah kalimat. Dalam BM frasa disebut cízǔ atau duǎnyǔ. Pada umumnya frasa dapat dipecah menjadi beberapa kata, dan dapat diperluas dengan menyisipkan unsur-unsur lain, atau dapat mengganti salah satu katanya dengan kata lain.

Frasa dalam BM terdapat beberapa jenis, yaitu (1) frasa koordinatif, (2) frasa subyek-predikat, (3) frasa verba-obyek, (4) frasa endosentris, (5) frasa kata bantu bilangan, (6) frasa kata pelengkap, (7) frasa lokatif, (8) frasa apositif, (9) frasa pelengkap, (10) frasa preposisi, dan (11) frasa de (Li dan Cheng, 2008:155--156).

(1) Frasa koordinatif

Frasa koordinatif adalah frasa yang terdiri dari dua kata atau lebih dan memiliki kelas kata yang sama.

Laoshi xuesheng (guru murid). Guru dan murid adalah nomina.

Wo he ta (saya dan dia).

(28)

16

Jiji nuli (giat rajin)

Giat dan rajin adalah adjektiva

(2) Frasa subyek-predikat

Frasa subyek predikat adalah frasa yang salah satu konstituennya dikombinasikan dalam hubungan subyek-predikat.

Toufa zhang (rambut tumbuh).

Toufa adalah subyek dan zhang adalah predikat.

(3) Frasa verba-obyek.

Frasa verba-obyek adalah frasa yang salah satu konstituennya dikombinasikan dalam hubungan verba-obyek.

Chi fan (makan makanan).

Chi adalah kata kerja/ verba, fan adalah kata benda atau obyek.

Xie Hanzi (menulis huruf Mandarin).

Xie adalah kata kerja/ verba, Hanzi adalah kata benda atau obyek.

(4) Frasa endosentris.

Frasa endosentris adalah frasa yang konstituen pertamanya memodifikasi konstituen kedua. Frasa ini dibagi menjadi dua, yaitu (1) frasa endosentris nomina, yakni frasa yang berupa konstituen kedua adalah kata benda, dan (2) frasa endosentris verba dan ajektiva, konstituen kedua adalah kata benda atau kata sifat.

(5) Frasa kata bantu bilangan.

Frasa ini adalah kombinasi dari suatu bilangan dan suatu kata bantu.

Yi zhang (satu lembar).

(29)

17

San zhi (tiga batang).

San adalah kata bilangan, zhi adalah kata bantu.

(6) Frasa kata pelengkap.

Frasa kata pelengkap adalah frasa yang salah satu konstituennya dikombinasikan dalam suatu hubungan pelengkap.

Xi ganjing (mencuci bersih).

Xi adalah kata kerja, ganjing adalah kata sifat. Ganjing (bersih) merupakan pelengkap dari xi (mencuci).

(7) Frasa lokasi.

Frasa lokasi adalah frasa, kata benda merupakan kata yang menunjukkan tempat atau posisi, waktu atau kuantitas.

Menunjukkan posisi.

Xuexiaoqianbian (sekolah depan). Depan sekolah.

Zhuozi shang (meja atas). Atas meja

(8) Frasa apositif.

Frasa apositif adalah kombinasi dua kata yang mengacu kepada orang yang sama dari aspek yang berbeda. Farasa ini satu sama lain merupakan informasi tambahan.

Zhang Ping pengyou (Zhang Ping teman) Zhang Ping adalah nama seseorang,

(30)

18

(9) Frasa pelengkap.

Frasa pelengkap adalah frasa yang berupa istilah teknis atau idiom yang terdiri atas konstituen-konstituen pasti untuk menyatakan konsep yang spesifik dan digunakan sebagai suatu kesatuan.

Quanguo renmin daibiao da hui. Negara rakyat orang kongres. Kongres rakyat nasional.

Zhongguo renmin gongheguo. Cina rakyat negara. Negara Republik Rakyat Cina.

(10) Frasa preposisi.

Frasa preposisi dibentuk dari preposisi dan obyeknya. Mengacu kepada petunjuk, tempat atau posisi, waktu, obyek, tujuan, alasan, atau sikap suatu tindakan, dan menyatakan kepasifan, perbandingan atau pengecualian.

(11) Frasa de

Frasa de ini adalah frasa yamg memiliki struktur partikel de (kepunyaan) yang mengacu kepada orang atau sesuatu.

Zhe be n shu shi wo de.

Ini jilid buku adalah saya punya. Buku ini milik saya.

De mengacu kepada kata ganti „saya‟.

Canjia de you er shi ge ren.

(31)

19

Yang turut serta ada dua puluh orang.

De mengacu kepada kata kerja „turut serta‟.

2.2.2 Frasa Preposisi Bahasa Mandarin

Frasa preposisi menurut Li dan Cheng (2008:213) adalah frasa yang dibentuk dari preposisi dan obyeknya. Mengacu kepada petunjuk, tempat atau posisi, waktu, obyek, tujuan, alasan, atau sikap suatu tindakan, dan menyatakan kepasifan, perbandingan atau pengecualian.

Ciri frasa preposisi menurut Li dan Cheng (2008:214) ada empat yaitu; a. Sebuah frasa preposisi memiliki urutan kata yang baku, preposisi selalu di

dahului objeknya

b. Kata benda, kata ganti, frasa kata bantu bilangan, kata benda dan frasa

lokasi, kata benda “waktu” frasa endosentris nomina dapat menjadi

objeknya preposisi

c. Tidak ada kata tugas yang bisa digunakan untuk menghubungkan preposisi dan objeknya

d. Penekanan pada frasa preposisi terletak pada objeknya

2.2.2.1 Frasa Preposisi Lokatif Bahasa Mandarin

Menurut Liang (2008:26) lokasi adalah tempat atau ruang berlangsungnya suatu gerakan atau kejadian. Secara konkret menunjukkan tempat keberadaan benda dan pergeseran dari suatu benda, termasuk titik awal, titik akhir, titik yang

(32)

20

oleh preposisi yang muncul di depan nomina tersebut atau nomina lokasi. Preposisi seperti inilah yang disebut preposisi lokatif. Dengan kata lain, preposisi lokatif diikuti nomina dengan makna lokasi. Berikut ini adalah jenis-jenis kata yang termasuk dalam preposisi lokatif.

a. Preposisi zài „di‟

(11) Lǎo Wáng [ Prep zài Běijīng ] zhù le sān nián le.

Pak Wang di Beijing tinggal sudah 3 tahun sudah

„Pak Wang sudah tinggal di Beijing 3 tahun.‟ (Liu, 2005:264)

Preposisi zài „di‟ pada kalimat di atas merupakan preposisi lokatif karena diikuti oleh nomina yang menunjukkan tempat, yakni zàiběijīng „ di Beijing‟. Pada kalimat tersebut frasa preposisi muncul sebelum predikat, dengan fungsi sintaksis sebagai adverbial.

(b) Preposisi „di‟

(12) zhè zhǒng cǎoyào duō shēngcháng { Prep shāndì }

Ini macam tanaman obat banyak tumbuh di pegunungan

„Tanaman obat semacam ini banyak tumbuh di pegunungan.‟

(Liu, 2005:264)

Preposisi „di‟ pada frasa yú shāndì „di pegunungan‟ menandakan lokasi kejadian verba shēng zháng „tumbuh‟. Pada kalimat tersebut frasa preposisi

(33)

21

adjung di dalam struktur kalimat posisinya di depan predikat, biasanya terdiri dari verba atau adjektiva.

(c) Preposisi cóng „dari‟

(13) Wàipó [ Prep cóng nóngcūn] bān { Prep dào chéngshì lǐ } lái le.

Nenek dari desa pindah ke kota datang

„Nenek datang dari desa pindah ke kota.‟ (Liu, 2005:264)

Pada kalimat tersebut terdapat dua preposisi, yaitu preposisi cóng „dari‟ dan dào „ke‟.” Karena preposisi cóng menandakan awal keberangkatan dan dào

menandakan lokasi tujuan terakhir, kedua preposisi ini biasa muncul bersamaan dalam kalimat agar informasi menjadi lengkap. Pada kalimat tersebut bisa juga kedua preposisi dipisahkan menjadi dua kalimat sebagai berikut.

(14) Wàipó [ Prepcóng nóngcūn ] lái le.

Nenek [ dari desa ] datang.

„Nenek datang dari desa.‟

(15) Wàipó bān { Prepdào chéngshì lǐ } lái le.

Nenek pindah ke kota datang.

„Nenek datang dari kota‟

(Liu, 2005:264)

(34)

22

(16) [ Prepyóu Tiānjīn ] [ Prep dào Běijīng ] zhǐ yào liǎng gèxiǎoshí

dari Tianjin ke Beijing hanya akan dua jam

„Perjalanan dari Tianjin keBeijing hanya perlu dua jam.‟

(17) [ Prep Yóu Tiānjīn] zhǐ yào liǎng gè xiǎoshí.

dari Tianjin] hanya perlu dua jam

Dari Tianjin hanya perlu dua jam‟

(18) [ Prepdào Běijīng ] zhǐ yào liǎng gè xiǎoshí.

ke Beijing hanya perlu dua jam

„Hanya perlu dua jam ke Beijing‟

(d) Preposisi „dari‟

(19) Wǒmen dōu lái [ Prep wǔ hú sì hǎi ]

Kita semua datang dari 5 danau 4 lautan

„Kita datang dari semua penjuru.‟ (Liu, 2005:264)

Pada frasa zì wǔ hú sì hǎi „dari 5 danau 4 lautan‟ merupakan penanda awal kejadian verba lái ‟datang‟

(e) Preposisi „dari‟

(20) Nǐmen [ Prep nǎ'r lái ] ?

Kalian dari mana datang ?

„Kalian datang dari mana ?‟ (Liu, 2005:264)

Preposisi „dari‟ merupakan penanda awal tempat kejadian verba lái

(35)

23

(f) Preposisi cháo „ ke‟

(21) Lǐ hǔ [ Prep cháo tiān ] shàng kāi le liǎng qiāng

Li Hu ke langit atas membuka dua tembakan

„Li Hu melepaskan tembakan ke langit.‟

„Jalan ini menuju taman belakang‟.

(Liu, 2005:264)

Preposisi xiàng „menuju‟ pada frasa xiàng hòu huāyuán „menuju taman

belakang‟ merupakan penanda lokasi dari frasa nomina hòu huayuan .

(36)

24

„Besok dia pergi ke Shanghai menangani suatu hal.‟ (Liu, 2005)

Preposisi dào „ke‟ pada frasa dào Shànghǎi „ke Shanghai‟ merupakan penanda lokasi, karena diikuti oleh nomina tempat „Shanghai‟.

2.2.2.2 Frasa Preposisi Temporal Bahasa Mandarin

Teori tentang preposisi temporal yang akan digunakan untuk mengupas permasalahan penelitian adalah teori yang dikemukakan oleh Liu (2005:260) tentang jenis preposisi temporal tentang konteks penggunaannya. Preposisi temporal diklasifikasikan menjadi preposisi (1) cóng (2) (3) zìcóng (4) yóu

(5)(6) zài, dan (7) yú . Preposisicóng, zì, zìcóng, yóu, dǎ bermakna „dari‟ yang menunjukkan titik awal suatu perbuatan, sedangkan zài danbermakna

„pada‟ menunjukkan jangka waktu suatu perbuatan dilakukan. Berikut adalah

pembahasan tentang masing-masing preposisi tersebut. (j) Preposisi cóng „dari‟

(25) Wǒmen [ Prep cóng zuótiān ] kāishǐ fàng shǔjià le.

Kami dari kemarin mulai libur musim panas

„Kami mulai libur musim panas dari kemarin.‟ (Liu, 2005:264)

Preposisi cóng „dari‟ pada kalimat tersebut di atas merupakan preposisi temporal karena diikuti oleh nomina yang menunjukkan waktu, yakni zuótiān „kemarin‟.

(k) Preposisi „dari‟

(26) Túshū guǎn měitiān [ Prep ba diǎn ] kai [ Prepdào shí'èr diǎn]

Perpustakaan setiap hari [ dari 8 jam ] buka hingga dua belas jam]

(37)

25

(Liu, 2005:264)

Preposisi „dari‟ pada kalimat tersebut di atas merupakan preposisi temporal

karena diikuti oleh pada nomina yang menunjukkan waktu, yakni ba diǎn „jam

delapan.‟

(l) Preposisi zìcóng „sejak‟

(27) [ Prep zìcóng dào zhōngguó ] yǐhòu, tā de shēntǐ

sejak ke China setelah, dia tubuh

hǎo qǐ lái le baik menjadi

„Sejak ke China, kondisi kesehatannya membaik. (Liu, 2005:264)

Preposisi zìcóng „sejak‟ pada zìcóng dào zhōngguó yǐhòu „sejak ke Cina‟ pada kalimat tersebut di atas merupakan preposisi temporal karena menandakan titik mulai dari verba dào „ke‟.

(m) Preposisi yóu „dari‟

(28) běn shūdiàn yíngyè shíjiān : [ Prepyóu ba diǎn ]

Ini toko buku operasional waktu dari delapan jam [ Prep dào 17 diǎn ]

hingga 17 jam

„Jam operasional toko buku ini darijam 8 hingga jam 5 sore.‟

(Liu, 2005:265)

Pada kalimat di atas terdapat dua preposisi, yaitu you ba dian „dari jam 8,

dan dào17 diǎn „hinggajam 5 sore‟. Preposisi yóu „dari‟ penanda titik awal dari

(38)

26

(n) Preposisi dǎ „dari‟

(29) Yóuyǒngchí [ Prep nǎ tiān ] kāi de

Kolam renang | dari mana hari buka ?

„Kolam renang buka dari hari apa ? (Liu, 2005:265)

Preposisi „dari‟ pada kalimat tersebut di atas merupakan preposisi temporal karena diikuti oleh pada nomina yang menunjukkan waktu, yakni nǎ tiān

„hari itu‟. Preposisi ini banyak digunakan dalam ragam bahasa percakapan.

(o) Preposisi zài „pada‟

(30) Zhè ge gōngchǎng shì [ Prep zài jiěfàng chū qí ] bàn qǐlái de.

Ini pabrik adalah pada pembebasan awal beroperasi „Pabrik ini berdiri padaawal masa pembebasan.‟ (Liu, 2005:265)

Preposisi zài „pada‟ pada frasa zài jiěfàng chū qí „pada awal periode pembebasan‟ pada kalimat (2.22) di atas merupakan preposisi temporal karena

diikuti oleh nomina yang menunjukkan kewaktuan menandakan waktu dimulainya suatu kejadian verba bàn qǐlái „mulai beroperasi‟.

(p) Preposisi yú „pada‟

(31) zhè wèi zuòjiā shēng [ 1818 nián ] Ini penulis lahir [ pada 1818 tahun ]

„Penulis ini lahir pada tahun 1818. (Liu, 2005:265)

(39)

27

preposisi hanya dapat digunakan dalam ragam percakapan nonformal. Pemakaian kata cóng dapat digunakan baik dalam ragam bahasa lisan maupun tulisan. Sementara itu, dan yóu hanya digunakan dalam ragam bahasa tertulis dan sejak dahulu sudah digunakan oleh penutur asli bahasa Mandarin, oleh karena itu, dapat dikategorikan sebagai preposisi bahasa Mandarin klasik.

2.2.3 Kaidah Struktur Frasa Preposisi

Kaidah struktur frasa menurut Rodman dan Fromkin (1983:222) adalah

Phrase structure rules is the rules that determine the basic constituent structure

of sentence”. Kemudian Mc. Manis, et, al. (1998:153) mengemukakan bahwa

“What the phrase (constituent) structure rules actually do is to specify the

internal composition and ordering of different syntactic categories.” Dari kedua

definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kaidah struktur frasa atau PS rules

adalah kaidah yang menjabarkan atau menentukan komposisi internal satuan sintaksis (struktur dasar), seperti kalimat, frasa dan menjelaskan struktur satuan-satuan kategori sintaksis yang berbeda. Kemudian Mc. Manis, et, al (1987:725) menambahkan bahwa PS Rules juga bisa dikatakan sebagai kaidah untuk membuat diagram pohon yang menunjukkan struktur dan pengkategorisasian

konstituen-konstituen yang terdapat dalam sebuah kalimat. Menurut O‟Grady, et, al, (1996:725)

bahwa “phrase structure rule is a rule of grammar that states the composition of

phrase.”

(40)

28

kategori leksikal dan kategori frasa yang berfungsi sebagai komplemen, keterangan, dan spesifier (Haegeman, 1992: 87, 95)

Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa phrase structure rules (PS Rules) adalah suatu kaidah bahasa yang merumuskan komposisi frasa. Dari semua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa PS Rules merupakan kaidah yang menjabarkan bagaimana konstituen-konstituen pada frasa dan kalimat dikonstruksikan dan dikategorikan. Kaidah struktur frasa Preposisi (FP) dalam teori X-bar berhubungan dengan tiga fungsi gramatikal, yaitu komplemen, Keterangan (ket), dan specifier (spec). Komplemen adalah argumen internal yang posisinya di bawahi langsung oleh P-bar (P‟). Keterangan juga terletak di bawah P-bar, tetapi tatarannya berbeda. Spesifier sebagai satuan argumen di bawahi langsung oleh P-bar ganda (P‟‟). Hubungan ketiganya dijelaskan sebagai berikut,Komplemen memperluas P menjadi P-bar. Keterangan memperluas P-bar menjadi P-bar. Spesifier memperluas P-bar menjadi P-bar ganda (FP). (Radford dalam Mulyadi, 2010: 5)

Menurut Haegemen (1992:32) konstituen keterangan dalam struktur frasa bersifat opsional (tidak wajib), sedangkan komplemen bersifat wajib. Specifier

merupakan pewatas yang bersifat opsional karena dapat terletak di awal atau di akhir frasa. Pada posisi awal specifier berfungsi menerangkan frasa yang di depannya dan pada posisi akhir berfungsi menutup frasa.

2.2.4 Teori X-Bar

(41)

29

memilah dan menentukan struktur frasa kalimat di tingkat struktur batin (d-structure) yang mengandung beberapa prinsip umum dan sederhana yang

menjelaskan struktur internal bahasa. Teori ini berusaha menerapkan tata bahasa semesta, sehingga penerapan teorinya dapat bersifat kategori silang di dalam bahasa tertentu maupun antarbahasa (Cook, 1988-94 dalam Ghazali, 2004).

Teori X-Bar adalah bagian dari Government and Binding Theory (GB) yang dikemukakan oleh Radford (1997) dan Newson (2006). Teori GB merupakan sebuah teori lanjutan dari teori tata bahasa Transformasi Gramatika Generatif (TTG) yang bertujuan untuk memberikan pemerian yang sistematik tentang kalimat bahasa dengan mengajukan satu analisis gramatikal sangat diperlukan untuk mendapatkan deskripsi gramatikal yang baik (Pujiono, 2014).

Dalam teori X-bar, semua frasa dijelaskan dengan satu inti leksikal. Inti

merupakan pemarkah bagi ciri kategorinya. Setiap inti proyeksi yang ditandai (X‟)

merupakan simpul akhir (terminal node) yang mendominasi kata dan dapat iteratif (berulang) (Hargemen, 1991: 84). Inti yang dimaksudkan adalah inti dari FV adalah verba, inti dari FN adalah nomina, inti dari FA adalah adjektiva, dan inti dari Fnum adalah numeralia. Misalnya, menulis merupakan inti verba pada frasa

“sedang menulis”. Maka sedang menulis dikatakan FV. Selanjutnya teori

(42)

30

lebih tinggi (X‟) dan spesifier berkombinasi dengan X-bar lebih tinggi

membentuk proyeksi maksimal frasa X. Jadi proyeksi X merupakan kategori bar. Inti mempunyai properti berikut. Pertama, inti memarkahi ciri kategorinya, contohnya, inti dari FN adalah nomina, inti dari FV adalah verba dan inti dari FP adalah preposisi. Kedua, inti terletak satu level lebih rendah dalam hierarki X-bar daripada konstituen yang menjadi inti tersebut. Sehingga, dalam hierarki X – bar preposisi ( P ), sebagai inti dari FP terletak satu level lebih rendah dari frasanya. Kategori ini mempunyai bar kosong atau tanpa bar.

Haegemen (1992:95) dalam Introduction to Government on Binding Theory mengatakan bahwa semua frasa dalam teori X-bar didominasi oleh sebuah inti leksikal. Inti adalah simpul akhir (terminal node) yang mendominasi kata. Inti merupakan pemarkah bagi ciri kategorinya. FP misalnya didominasi oleh P (Preposisi) sebagai inti. Berdasarkan pendapat (Haegeman,1992: 95), secara umum kaidah struktur frasa menurut teori X-Bar adalah sebagai berikut.

1. X”Spec ; X‟ 2. X‟X‟ : YP 3. X‟ X ;YP

Kaidah ini dapat berarti bahwa:

(1) X” adalah proyeksi maksimal suatu frasa yang terdiri dari Specifier

(43)

31

Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut.

X”

Spec X‟

Diagram 2.1. Proyeksi Maksimal suatu frasa

(2) X‟ adalah sebuah proyeksi antara yang terdiri dari X-bar yang berkombinasi dengan Adjung ( keterangan ) yaitu YP.

Diagram pohonnya adalah sebagai berikut:

X‟

X‟ Adjung (YP) Diagram 2.2 X-bar + adjung

(3) X‟ adalah sebuah proyeksi yang terdiri dari X ( kategori leksikal frasa ) yang berkombinasi dengan komplemen yaitu YP.

Diagram pohon dari pernyataan ini adalah:

X‟

X komplemen( YP)

(44)

32

Secara umum diagram pohon dari kaidah struktur frasa di atas adalah

X”

Spec X‟

X‟ Adjung

X YP ( Komplemen)

Diagram 2.4 Kaidah struktur frasa

(Pujiono, 2004)

Dari diagram pohon struktur frasa di atas, terlihat ada tiga cabang, yaitu cabang X sebagai inti frasa, kedua, cabang yang berada di sebelah kanan, dan ketiga adalah cabang yang berada di sebelah kiri. Cabang yang berada di sebelah kiri dari inti frasa disebut sebagai subjek atau penentu (specifier), cabang yang berada di sebelah kanan merupakan objek atau komplemen. Jika frasa mempunyai keterangan (adjung), keterangan itu di munculkan pada kategori X yang lain. Keterangan (adjung) merupakan elemen yang tidak disubkategorikan dalam kerangka argumen bagi suatu frasa, tidak berlaku pada penentu (specifier), dan komplemen, yang merupakan keterangan tambahan pada struktur itu.

2.2.3.1 Kategori Leksikal

(45)

33

(N), preposisi (P), verba (V), adjektiva (A), dan adverbia (ADV). Kategori-kategori leksikal ini berturut-turut merupakan inti (head) dari frasa nominal (FN), frasa preposisi (FP), frasa verbal (FV), frasa adjektival (FA), dan frasa adverbial (FADV).

a. Frasa Nominal (FN)

Frasa nominal adalah frasa modifikatif yang terjadi dari nomina sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induk, yaitu adjektiva, verba, numeralia, demostrativva, pronomina, artikula, frasa

preposisi, frasa dengan yang, konstruksi yang…nya, atau frasa lain. Frasa nominal

dapat bertugas sebagai subjek, objek, atau komplemen dalam konstruksi predikatif. Frasa Nominal (FN) adalah frasa yang memiliki inti berupa N.

b. Frasa Preposisional (FP)

Frasa preposisional (FP) adalah frasa yang memiliki inti berupa preposisi. Preposisi sebagai inti FP selalu berada pada posisi di depan dan diikuti oleh kategori lain sebagai komposisi.

c. Frasa Verbal (FV)

Frasa Verbal (FV) adalah frasa yang memiliki inti berupa V. Menurut

Carnie (2007:68) “Minimally a VP consist of a single verb” artinya, frasa verbal

(46)

34

OBJ yang menjadi KOMP. Dengan demikian FV dapat diisi oleh inti verba saja ataupun inti V dan KOMP.

d. Frasa Adjektival (FA)

Frasa adjektival adalah frasa yang intinya berupa adjektiva. Adjektiva umumnya diikuti oleh modifier, determiner dan qualifier. Carnie ( 2007:68), menggambarkan pola FA  (FADV) A, atau dengan kata lain, sebuah frasa adjektival terdiri dari frasa adverbial(opsional) dan sebuah adjektiva.

e. Frasa Adverbial (FADV)

Frasa adverbial (FADV) dibentuk dari ADV dan modifier (modifier). Carnie (2007:69) menggambarkan pola AdvP (AdvP) Adv, yang berarti sebuah frasa adverbial terdiri dari sebuah frasa adverbial (opsional) dn sebuah adverbial.

2.2.3.2 Kategori Fungsional

Kategori fungsional yang digunakan dalam teori X – Bar ini adalah frasa inleksional dan frasa determina.

a. Frasa Infleksional

Menurut Subiyanto (2013) frasa infleksional (FI) merupakan proyeksi maksimal dari kategori inflesi. Sebagai kategori fungsional, infleksi dapat berbeda untuk bahasa yang berbeda. Dalam bahasa yang memiliki AUX, kategori infleksi diisi oleh AUX finit, yakni AUX yang membawa pemarkah kata.

(47)

35

FI

FN I‟ N I FV

V David is yawning

Stuktur di atas menunjukkan bahwa kalimat David is yawning „David

sedang menguap‟ merupakan frasa inflesional. Klausa tersebut memiliki inti

berupa kategori fungsional infleksional, yakni AUX is, dan KOMP FV. Dalam klausa di atas, AUX is dikatakan sebagai inti karena AUX ini membawa pemarkah kala, yakni bentuk waktu sekarang (present tense). Sementara itu, verba

yawning merupakan KOMP karena kehadiran verba ini diinginkan oleh AUX is, yang menjadi inti predikat. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kalimat yang tidak menggunakan AUX, seperti pada kalimat David yawned „David menguap‟.

Dalrymple (2001:61) mengatakan bahwa kategori infleksional hanya diisi oleh verba AUX yang mendapatkan pemarkah kala, dan untuk kalimat yang tidak memiliki verba AUX, maka posisi infleksional adalah kosong. Dengan demikian, dalam kalimat yang tidak memiliki AUX finit, kategori infleksional‟ langsung diturunkan ke dalam kategori FV, seperti tampak pada str-k berikut.

(48)

36

FI

FN I‟ N FV

V

David yawned (Dalrymple, 2001:62)

Str-k di atas menunjukkan bahwa ketegori infleksional‟ dapat diisi hanya oleh verba, tanpa adanya kategori infleksional. Hal ini mengindikasikan bahwa kehadiran inti dalam sttr-k bersifat opsional. Berkaitan dengan hal ini, Dalrymple (2001:50-60) mengatakan bahwa inti dapat muncul di luar frasa, seperti dalam kasus perpindahan inti, dan dengan demikian inti bersifat opsional atau tidak wajib hadir dalam str-k.

b. Frasa Determina

(49)

37

2.2.5 Adjung

Adjung adalah kata atau frasa yang memodifikasi predikat yang berupa kata keterangan atau kata kerja yang dimodifikasi headword-nya, merupakan kata atau frasa yang memodifikasi atau menjelaskan kata predikat. Kata yang memodifikasi predikat tersebut disebut kata inti (Li & Cheng, 2008:261). Dengan kata lain, penambah kata keterangan adalah elemen yang menunjukkan pramodifikasi untuk menunjukkan waktu, tempat, tingkatan, cakupan, aspek, persetujuan atau penolakan, pengulangan, keaktifan atau kepasifan, sasaran, dan penalaran/alasan kata inti. Contoh penggunaan adjung

a. Posisi adjung di depan predikat verba

Adjung + kata inti (predikat verba) Contoh :

(31) Tā zuótiān cānjiā le yī gè zhāodài huì. Adjung V (P) FN (O) Dia kemarin ikutserta konferensi pers

(32) Tā hěn guānxīn dàjiā de jiànkāng. Adjung V (P) FN (O)

Dia sangat prihatin kesehatan orang

(33) Wǒ zhǐ yǒu yī běn hànyǔ yǔfǎ shū. Adjung V (P) FN (O)

Saya hanya mempunyai sebuah buku tata bahasa Bahasa Mandarin

b. Posisi adjung di depan predikat adjektiva

(50)

38

Contoh :

(34) Tā fēicháng hǎo. Adjung A (P) Dia sangat ramah.

Catatan : A (P) = Ajektiva (Predikat)

(35) Tā duì rén hěn rèqíng. FP Adjung A (P) Dia terhadap orang sangat ramah

c. Posisi adjung di depan predikat tipe lainnya (selain verba dan adjektiva)

(36) Tā yǐjīng èr shí bā suì le Adjung F N (P)

Dia sudah berumur 28 tahun

(37) Jīntiān dàgài shí qī hào Adjung FN (P)

Hari ini kira-kira tanggal 17

Berdasarkan pengertian dan contoh penggunaan adjung di atas, dapat disimpulkan bahwa (1) Posisi Adjung selalu di depan kata inti, (2) Semua kategori kelas kata atau frasa dapat berfungsi sebagai adjung, (3) Di belakang

adjung seringkali diikuti oleh partikel “de”. Selanjutnya, kata atau frasa yang

dapat berfungsi sebagai adjung adalah:

(51)

39

(38) Wǒ hěn xǐhuān zhè zhòng huā. ADV (ADJ) V (P) FN (O) Saya sangat suka bunga semacam ini

(39) Tā jīngcháng qù shi túshū guǎn. ADV (ADJ) V (P) FN (O)

Dia seringkali pergi ke perpustakaan kota

Pada contoh kalimat (1) dan (2), adverbial (ADV) hěn (sangat) dan

jīngcháng (seringkali), adalah adjung ( ADJ)

(b) Frasa preposisi. Contoh :

(40) Kèrén cóng zhè biān zǒu. N FP V Tamu dari s ini samping berjalan „Tamu berjalan dari samping sini‟

(41) Zhè jiàn shì yóu tā fùzé. FN FP (ADJ) V Ini hal oleh dia dipertanggungjawabkan.

(C) Nomina (nomina kewaktuan, arah) Contoh :

(52)

40

(43) Wǒmen wàimiàn sàn sàn bù ba. N (lokasi) (ADJ) V

Kami di luar jalan-jalan

(D) Auxiliary verbs (Kata kerja bantu), berfungsi sebagai adjung. Contoh :

(44) Tā huì zhǔ jīdàn. Aux (ADJ) V N

Dia dapat merebus telur

(45) Tā néng shìyìng zhè'r de qìhòu ma ? Aux (ADJ) V FN

Dia dapat menyesuaikan di sini cuaca apakah „Apakah dia dapat menyesuaikan cuaca di sini‟

(E) Verba. Contoh:

(46) Tā gǎnjī de kàn le kàn tā. V (ADJ) V O Dia bersyukur menatap dia

„Dia menatapnya dengan bersyukur‟

(F) Adjektiva

(53)

41

2.2.6 Komplemen / Pelengkap

Menurut Crystal (2008:92) komplemen atau pelengkap atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan istilah „complement‟ berpendapat bahwa komplemen adalah “A term used in the analysis of grammatical function to refer to a major

constituent of sentence or clause structure, traditionally associated with

„completing‟ the action specified by the verb.” Maksudnya komplemen adalah

sebuah istilah yang digunakan di dalam analisis fungsi gramatikal, yang merujuk kepada sebuah konstituen mayor dari struktur kalimat atau klausa, yang umumnya

diasosiasikan dengan „melengkapi‟ aksi yang dispesifikasikan oleh verba.

Komplemen adalah suatu kata atau frasa yang direkatkan pada kata kerja atau kata sifat untuk melengkapi makna disebut pelengkap. Pelengkap adalah elemen pascamodifikasi yang menunjukkan durasi, kuantitas, tingkatan, hasil, arah atau kemungkinan suatu tindakan; atau untuk mengilustrasikan keadaan, jumlah, dan tingkatan sesuatu (Li & Cheng, 2008: 271). Posisi komplemen dalam bahasa Mandarin, selalu ada di belakang kata inti, dan komplemen terbentuk dari adjektiva, verba , kata bantu bilangan dan FP.

2.2.6.1 Ciri-ciri komplemen

(54)

42

kelengkapan makna kepada Predikat, sementara itu Adjung dapat memberikan kelengkapan makna kepada Predikat dan keseluruhan kalimat (Suhardi, 2013:53). Alwi et.al (1998:329) mengungkapkan beberapa ciri (karakteristik) komplemen sebagai berikut.

(a)berwujud FN, FV, frasa adjektival (FA) atau klausa;

(b)berada langsung di belakang predikat jika tidak ada objek dan di belakang objek jika unsur ini ada;

(c)tidak dapat menjadi subjek akibat pemasifan kalimat;

(d)tidak dapat diganti dengan pronomina –nya, kecuali dalam kombinasi preposisi selain di, ke, dari dan akan.

Atas dasar ciri-ciri komplemen di atas, komplemen dapat memberikan kelengkapan makna kepada S, P, dan O, fungsi sintaksis komplemen tidak dapat berposisi di awal kalmat atau di antara S dan P, tidak dapat berubah mejadi S akibat proses pemasifan kalimat, tidak dapat disulih dengan pronomina –nya, khususnya komplemen yang didahului preposisi di, ke, dari, akan, dan komplemen dapat berupa kata, frasa atau klausa. Contoh komplemen :

(48) a. Pembicaraannya terbagi atas beberapa bagian. S P Komp

b. *Pembicaraannya terbagi atasnya.

*Pembicaraannya atas beberapa bagian terbagi.

(55)

43

Komplemen atas beberapa bagian pada contoh kalimat (48a) tidak dapat disulih pronomina-nya, seperti pada kalimat (48b) , tidak dapat berposisi di antara S dan P, seperti pada kalimat (48c).

Berdasarkan penjelasan di atas, komplemen sebagai salah satu fungsi sintaksis memiliki perilaku sintaktis yang berbeda dari fungsi sintaksis lain khususnya O dan adjung.

2.2.7 Argumenthood Test

Argumenthood test adalah perangkat/ alat yang dapat digunakan untuk menguji sebuah elemen kebahasaan itu dapat dikategorikan sebagai argument atau adjung. Argumenthood test ini secara umum dibedakan dalam tataran sintaksis dan tataran semantik.

Menurut Ida Toivonen (2012) ada delapan belas (18) jenis argumenthood test yang dapat dipergunakan, diantaranya adalah sebagai berikut;

1. The Core Participant Test 2. The optionality test 3. The verb specifity test

4. The prepositional content test 5. The fixed proposition test

(56)

44

Dalam penelitian ini akan digunakan instrument argumenhood test yang memungkinkan untuk digunakan dalam BM, yakni Syntactic Obligatoriness dan Core Participan

2.2.7.1 Syntactic Obligatoriness (SO) dan Core Participant (CP)

Syntactic Obligatory (SO), Core participant (P) adalah piranti dasar untuk menguji keberadaan dikotomi adjung dan komplemen, dan juga piranti/ alat ini digunakan sebagai dasar rujukan berbagai buku-buku maupun hasil penelitian dalam membedakan antara fungsi komplemen dan adjung (Cristie : 2013).

SO ini menguji sebuah kategori frase/klausa dalam sebuah kalimat itu diperlukan atau tidak oleh verba (obligate/wajib). Kategori frasa/klausa jika dibutuhkan (keberadaannya wajib dalam kalimat) oleh verba, maka kategori tersebut merupakan komplemen dan jika keberadaannya tidak diperlukan/diharuskan sehingga sifatnya opsional, kategori frase/klausa tersebut merupakan adjung.

Alat uji selanjutnya Core Participant (CP) atau juga disebut dengan

(57)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1

Metode Penyajian Data

Metode yag digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Ciri-ciri yang menonjol dalam penelitian kualitatif adalah (1) sumber datanya langsung berupa data situasi alami dan peneliti adalah instrumen kunci;(2) bersifat deskriptif; dan (3) lebih menekankan makna proses daripada hasil, perilaku, dan dengan pandangan pendirian yang diperoleh dari pengamatan. Dalam penelitian ini, penerapan model kualitatif dilakukan secara deskriptif, yakni data yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk fenomena deskriptif, tetapi tidak berupa angka-angka atau koefesien tentang hubungan antarvariabel. Dalam hal ini peneliti menganalisis data dengan keragaman informasi sebagaimana terekam dalam kumpulan data (Arikunto, 1989:194).

Sumber data dalam penelitian ini adalah kalimat yang ada dalam artikel surat kabar berbahasa Mandarin Guoji periode tiga bulan, Nopember 2014-Januari 2015. Alasan pemilihan surat kabar Guoji sebagai sumber data adalah (1) berbahasa Mandarin, (2) mudah diperoleh (3), diasumsikan banyak terdapat FPrL dan FPrT. Selanjutnya, data dalam penelitian ini adalah preposisi zai „di‟ , yu „di‟,

cong „dari‟, zi „dari‟, dao „ke‟. Menurut Sudaryanto (1995: 9), data merupakan

(58)

46

konteks. Data, pada hakikatnya adalah obyek penelitian beserta konteksnya. (Sudaryanto, 1998: 10).

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dan catat dengan langkah- langkah seperti dibawah ini:

(1) Pengumpulan data dimulai dengan mengidentifikasi kalimat yang mengandung FP zai „di‟ , yu „di‟, cong „dari‟, zi „dari‟, dao „ke‟

(2) Kalimat yang mengandung FP tersebut ditandai dengan menggunakan penanda/marker

(3) Kalimat yang sudah ditandai dicatat dalam komputer sesuai dengan jenis preposisinya.

(4) Memilah FP yang sudah dikumpulkan ke dalam jenis PrL atau jenis PrT

3.2 Analisis Data

(59)

47

Data temuan penelitian surat kabar Guoji yang telah dipilah, dikelompokkan berdasarkan kategori preposisi yaitu kategori penanda lokatif dan katagori penanda temporal. Setelah itu, baru dianalisis dengan menggunakan metode agih (distribution method), dan teori lain yang relevan. Prosedur analisis data yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(1) Identifikasi jenis FP ke dalam jenis FPrL dan FPrT berdasarkan kategori jenis frasa BM yang dikemukakan oleh Liu (2005).

(2) Menemukan kaidah struktur gramatika FP zai „di‟ , yu „di‟, cong

dari‟, zi „dari‟, dao „ke‟ dengan melihat jenis kata yang mengikutinya

(3) Menentukan fungsi sintaksisnya adjung atau komplemen dengan menggunakan arguementhood test

(4) Melakukan pembuktian fungsi sintaksis yang ditemukan dengan memerikan struktur kalimat menggunakan teori X- Bar

(60)

48

(61)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Struktur Frasa Preposisi Bahasa Mandarin

Frasa preposisi BM pada umumnya terletak sebelum frasa verba. Struktur FP BM terdiri atas preposisi dan frasa nomina (Liu, 2005:263).

4.1.1 Kaidah Struktur Frasa Preposisi Bahasa Mandarin

Kaidah struktur FP BM yang ditemukan setelah menganalisis data sebagai berikut.

a. FPP‟

P‟P N

Kaidah yang pertama adalah FP terdiri dari preposisi yang menjadi inti leksikal dan satu nomina. Hasil analisis data FP yang memiliki kaidah tersebut ada 9 data, 6 data dari FP lokatif dan 3 data dari FP temporal. 6 data dari FP lokatif tersebut adalah data no. 1, 2, 3, 8, 12 dan 24. Contoh hasil penelitian yang memiliki kaidah tersebut.

Preposisi lokatif cóng pada FP data no (1) : (1) [ Prep cóng shā diān ]

(62)

50

Diagram FP X-Bar Data nomor (1) Preposisi cóng

FP

P‟

P N

cóng Shā diān

dari Shadian

„dari Shadian‟

Preposisi lokatif dào pada FP data no (2). (2) { Prep dào Běijīng }

ke Beijing

Diagram FP X-Bar Data nomor (2) Preposisi dào

FP

P‟

P N

(63)

51

Preposisi lokatif cóng pada FP data no (8).

(8) [ Prepcóng guówài ]

dari luar negeri

Diagram FP X-Bar Data nomor (8) Preposisi cóng

FP

P‟

P N

cóng guówài dari luar negeri

Preposisi lokatif zài pada FP data no (24).

(24) [ Prep zài Yìnní ]

di Indonesia

„di Indonesia‟

(64)

52

Diagram FP X-Bar Data nomor (24) Preposisi zài

FP

P‟

P N

zài Yìnní di Indonesia

Frasa preposisi temporal yang memiliki kaidah struktur diatas tersebut ada 3 data (16, 42, 48), Contoh hasil penelitian yang memiliki kaidah tersebut.

Preposisi temporal zài pada FP data no (16). (16) [ Prep zài qùnián ]

pada tahun lalu

„pada tahun lalu‟

Diagram FP X-Bar Data nomor (16) Preposisi zài

FP

P‟

P N

(65)

53

Preposisi temporal dào pada FP data no (48).

(48 ) [ Prep dào jīntiān ]

hingga hari ini

„hingga hari ini‟

Diagram FP X-Bar Data nomor (48) Preposisi dào

FP

P‟

P N

dào jīntiān hingga hari ini

b. FPP‟

P‟P FN

FNN N

(66)

54

Preposisi lokatif cóng pada FP data no (4).

(4) [ Prep cóng guóyǒu gōngsī ]

dari perusahaan BUMN

„dari perusahaan BUMN‟

Diagram FP X-Bar Data nomor (4) Preposisi cóng

FP

P‟

P FN

cóng guóyǒu gōngsī dari perusahan BUMN

Preposisi lokatif pada FP data no (6).

(6 ) { Prep Sū běi Shěng}

di SumateraUtara Propinsi

„di Propinsi Sumatera Utara‟

Referensi

Dokumen terkait