• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frasa Preposisi Lokatif Sebagai Adjung… 65

Dalam dokumen Thesis Titi Rahardjanti (Halaman 77-108)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Frasa Preposisi Sebagai Adjung

4.2.1 Pengujian Adjung

4.2.1.1 Frasa Preposisi Lokatif Sebagai Adjung… 65

A. Data pada nomor (5) dapat direkonstruksikan sebagai berikut.

(a) Wǒmen [ Prepcóng guóyǒu gōngsī ] [Prepdào Kami dari BUMN perusahaan hingga

jiāyóuzhànde yùnshū xiànlù ] jiāndū gōngsī yíngyè.

SPBU transportasi jalur mengawasi perusahaan operasional

„Kami mengawasi operasional perusahaan dari perusahaan BUMN hingga jalur transportasi SPBU‟

(Guoji, 1 Nopember 2014)

(b) Wǒmen jiāndū gōngsī yíngyè.

Kami mengawasi perusahaan operasional „Kami mengawasi operasional perusahaan‟

(c) *Wǒmen [ Prep dào jiāyóuzhàn de yùnshū xiànlù ] Kami hingga SPBU transportasi jalur

66

[ Prepcóng guóyǒu gōngsī ] jiāndū. dari BUMN perusahaan mengawasi

„Kami hingga jalur transportasi SPBU dari perusahaan BUMN mengawas.

Pada kalimat data nomor (5a) merupakan sebuah kalimat lengkap yang mengandung semua fungsi gramatikal yang diwajibkan/diperlukan, agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang berterima (gramatikal), maupun fungsi gramatikal yang tidak wajib. Unsur fungsi gramatikal tersebut meliputi subjek berupa FN Pada kalimat (5a) unsur fungsi gramatikal tersebut meliputi subjek berupa FN pronomina Wǒmen„kami, predikat dalam bentuk verba jiāndū„mengawasi, objek

dalam bentuk FN gōngsī yíngyè „operasional perusahaan‟ dan terdapat dua buah

FPrL, yakni FPrL cóng guóyǒu gōngsī „dari perusahaan BUMN dan dào

jiāyóuzhàn de yùnshū xiànlù „hingga jalur transportasi SPBU‟.

SO dan CP dan digunakan bersama (berpasangan) untuk menguji apakah frasa tersebut sebagai adjung atau komplemen. Oleh karena itu dibahas dalam satu pembahasan .

Berdasarkan penggunaan piranti SO sebagai piranti analisis penentuan kategori kata/frasa pengisi fungsi adjung, kalimat pada (5a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (5.a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (5a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (5b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat,

67

kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP pada kalimat (5) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, sebagaimana pada dan (5a), merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau dengan bahasa lain keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (5a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

Keberadaan FP BM sebagai kategori frasa pengisi BM sebagai mana penjelasan di atas, yang didasarkan para piranti pengujian SO, juga berlaku sama ketika diuji dengan piranti CP. Secara semantis merupakan partisipan yang kehadirannya tidak diperlukan oleh predikat (verba), yakni verba jiànshè „membangun‟ (29a) dan jiāndū„mengawasi‟ (5a).

Pada kalimat (5a) predikatnya adalah jiāndū „mengawasi‟, merupakan verba transitif, agennya berupa FN gōngsī yíngyè„operasional perusahaan‟. Maka,

kehadiran partisipan yang lain selain dua partisipan tersebut secara semantis tidak diperlukan oleh predikat (verba) yang dalam kasus kalimat ini berupa FP BM., Maka penulis berpendapat bahwa FP BM dapat mengisi fungsi BM berdasarkan dua piranti pengujian argumen-adjung SO dan CP.

B. Data pada nomor (9) dapat direkonstruksikan sebagai berikut.

(a)Campina bīngqílín gōngsī [ Prep zài Sìshuǐ lúngǔ Campina es krim perusahaan di Surabaya Rungkut

68

gōngyè qūde gōngchǎnglǐ ] jǔxíng xīn biāozhì

industri kawasan pabrik menyelenggarakan baru logo qǐyòng diǎnlǐ.

peluncuran acara

„Perusahaan es krim Campina menyelenggarakan acara peluncuran logo baru di pabrik kawasan industri Rungkut Surabaya‟

(Guoji, 1 Desember 2014)

(b)Campina bīngqílín gōngsī jǔxíng xīn

Campina es krim perusahaan menyelenggarakan baru biāozhì qǐyòng diǎnlǐ.

logo peluncuran acara

Campina es krim perusahaan menyelenggarakan baru logo qǐyòng diǎnlǐ.

peluncuran acara

„Perusahaan es krim Campina menyelenggarakan acara peluncuran

logo baru‟

(c)*Campina bīngqílín gōngsī [ Prep zài sìshuǐ lúngǔ gōngyè

Campina es krim perusahaan di Surabaya Rungkut industri gōngyè qū de gōngchǎnglǐ ] jǔxíng. kawasan pabrik menyelenggarakan

„Perusahaan es krim Campina di pabrik kawasan industri Rungkut

Surabaya menyelenggarakan‟

Konstituen zài sìshuǐ lúngǔ gōngyè qū de gōngchǎnglǐ „di pabrik kawasan industri Rungkut Surabaya‟ merupakan FPrL. FP itu dibentuk oleh preposisi zài „di‟ sebagai inti leksikal, FN sìshuǐ lúngǔ gōngyè qū de

69

gōngchǎnglǐ sebagai komplemen, Bukti tentang fungsi sintaksis FP tersebut sebagai adjung maupun komplemen kita lihat sebagai berikut.

Unsur gramatikal pada kalimat (9a) subjeknya adalah FN Campina

bīngqílín gōngsī „perusahaan es krim Campina‟, unsur predikat verba adalah

jǔxíng „menyelenggarakan‟ dan unsur objeknya adalah FN biāozhì qǐyòng diǎnlǐ„acara peluncuran logo baru.

Berdasarkan penggunaan piranti SO, maka kalimat (9a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (9a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (9a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (9b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat (9c), kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP BM pada kalimat (9a) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, seperti pada (9a), merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (9a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

Keberadaan FP BM sebagai kategori frasa pengisi BM sebagai mana penjelasan di atas, yang didasarkan para piranti pengujian SO, juga berlaku sama ketika diuji dengan piranti CP. Secara semantis merupakan partisipan yang

70

kehadirannya tidak diperlukan oleh predikat (verba), yakni verba jǔxíng

„menyelenggarakan‟ (9a) Predikat pada (9a) merupakan verba transitif yang secara semantis hanya memerlukan dua partisipan, yakni agen dan pasien, sebagai partisipan intinya (core participant). Dalam kasus kalimat (9a), agennya berupa FN Campina bīngqílín gōngsī „perusahaan es krim Campina‟, sedangkan pasiennya adalah FN xīn biāozhì qǐyòng diǎnlǐ „acara peluncuran logo baru‟ pada

kalimat (9a)

C. Data pada nomor (12) dapat direkonstruksikan sebagai berikut. (a) Kǎchē [ Prep zài yǎjiādá 7 gè qū ] jǔbàn liánjià Truk di Jakarta 7 wilayah ] mengadakan operasi shìchǎng huódòng.

Pasar kegiatan

Untuk mengadakan kegiatan operasi pasar murah disediakan truk di 7 wilayah Jakarta.

(Guoji, 11 Nopember 2014)

(b) Kǎchē jǔbàn liánjià shìchǎng huódòng. Truk mengadakan operasi pasar kegiatan

„Untuk mengadakan kegiatan operasi pasar murah disediakan truk‟

(c) Kǎchē [ Prep zài yǎjiādá 7 gè qū ] jǔbàn.

Truk di Jakarta 7 wilayah ] mengadakan

Pada kalimat data nomor (12a) merupakan satu kalimat lengkap yang mengandung semua fungsi gramatikal yang diwajibkan/diperlukan, agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang berterima (gramatikal), maupun fungsi gramatikal yang tidak wajib. Unsur fungsi gramatikal tersebut meliputi subjek berupa FN Kǎchē „truk‟ (12a), dengan predikat verba jǔbàn „mengadakan‟ (12a) dan dan

71

objek dalam bentuk FN liánjià shìchǎng huódòng „kegiatan operasi pasar murah‟ (12a ).

Berdasarkan penggunaan piranti SO sebagai piranti analisis penentuan kategori kata/frasa pengisi fungsi adjung, kalimat pada (12a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (12a/b/c sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (12a) ihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi

kalimat pada (12.b) kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat (12c) kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP pada kalimat (12a) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, sebagai mana pada (12a) merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau dengan bahasa lain keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

72

Diagram X-bar Data nomor (12) Preposisi zai

Struktur frasa dari diagram diatas terdiri dari satu konstituen P-bar. Konstituen P-bar tersebut mendominasi inti leksikal preposisi ( P) zai „di‟ dan frasa nomina

(FN) yǎjiādá 7 gè qū. Pada diagram X-bar di atas, FV membawahi V-bar (V‟)

yang didominasi oleh FP zài yǎjiādá 7 gè qū „di 7 wilayah Jakarta‟, posisi FP

di depan predikat verba jǔbàn „mengadakan‟ dan V-bar kedua. FP zài yǎjiādá 7

Lianjia shichang huodong Kegiatan pasar murah F P V‟ N‟ FI I‟ FN F I N Kache truk FP V‟ V‟ FN Yajiada 7 ge qu 7 wilayah Jkt Juban meyeleng-garakan Zai di P‟

73

gè qū berfungsi sebagai adjung, karena posisinya langsung di bawah V‟

pertama, serta adjung didominasi oleh X-bar kedua.

D. Data pada nomor (22) dapat direkonstruksikan sebagai berikut. (a) Gǎigé bùzhǎng yōu dí [Prepdào Yǎjiādá shěng fǔ ]

RB-PAN Menteri Yudy ke DKI Jakarta Pemda kantor bàifǎng Zhōng Wànxuě.

mengunjungi Ahok

„„Menteri RB-PAN Yuddy Chrisnandi ke kantor Pemda DKI Jakarta

mengunjungi Ahok‟.

(Guoji, 4 Desember 2014)

(b) Gǎigé bùzhǎng yōu dí bàifǎng Zhōng Wànxuě. RB-PAN Menteri Yudy mengunjungi Ahok

„Menteri RB-PAN Yuddy Chrisnandi mengunjungi Ahok‟

(c) Gǎigé bùzhǎng yōu dí [Prep dào Yǎjiādá shěng fǔ ]

bàifǎng.

PAN-RB Menteri Yudy ke DKI Jakarta Pemda kantor mengunjungi

„Menteri RB-PAN Yuddy Chrisnandi ke kantor Pemda DKI Jakarta

mengunjungi‟

Pada kalimat data nomor (22a) merupakan satu kalimat lengkap yang mengandung semua fungsi gramatikal yang diwajibkan/diperlukan, agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang berterima (gramatikal), maupun fungsi gramatikal yang tidak wajib. Unsur fungsi gramatikal tersebut meliputi subjek berupa FN Gǎigé bùzhǎng yōudí „Menteri RB-PAN (22a), dengan predikat verba bàifǎng

74

„mengunjungi‟ (22a), dan objek dalam bentuk FN Zhōng Wànxuě„Ahok‟, serta

FPrL dàoYǎjiādá shěng fǔ „kantor Pemda DKI Jakarta‟ (22a).

Berdasarkan penggunaan piranti SO sebagai piranti analisis penentuan kategori kata/frasa pengisi fungsi adjung, kalimat pada (22a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (22a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (22a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (22b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada (22c), kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP pada kalimat (22a) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, sebagaimana pada (22a), merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau dengan bahasa lain keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (22a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

E. Data pada nomor 29 dapat direkonstruksikan sebagai berikut.

(a) AKRA gōngsī [ PrT [Prep míngnián ] ] [ PrL [ Prep zài Akra perusahaan pada tahun depan di dōng zhua shěng jǐnshí ] ] jiànshè liǎng tái

Timur Jawa propinsi Gresik membangun dua buah.

diànjī.

75

„Perusahaan AKRA pada tahun depan membangun dua buah pembangkit listrik di Gresik Propinsi Jawa Timur‟.

(Guoji, 16 Desember 2014)

(b) AKRA gōngsī jiànshè diànjī.

Perusahaan membangun pembangkit listrik

„Perusahaan AKRA membangun pembangkit listrik‟

(c) *AKRA gōngsī [ PrL [ Prepzài dōng zhua shěng jǐnshí ] Akra perusahaan di Timur Jawa Propinsi Gresik [ [ PrT [ Prep míngnián ] ] jiànshè.

pada tahun depan membangun

Perusahaan Akra di Gresik Propinsi Jawa Timur pada tahun depan membangun.

Pada kalimat data nomor (29a) merupakan kalimat lengkap yang mengandung semua fungsi gramatikal yang diwajibkan/diperlukan, agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang berterima (gramatikal), maupun fungsi gramatikal yang tidak wajib. Unsur fungsi gramatikal tersebut meliputi subjek berupa FN

AKRA gōngsī „perusahaan Akra‟ , predikat dalam bentuk verba jiànshè „membangun‟, objek dalam bentuk frasa nomina liǎng tái diànjī „dua buah pembangkit listrik‟ dan frasa preposisi temporal míngnián„pada tahun depan‟

serta zài dōng zhua shěng jǐnshí „di Gresik Propinsi Jawa Timur‟ pada kalimat

(29a).

SO dan CP dan digunakan bersama (berpasangan) untuk menguji apakah frasa tersebut sebagai adjung atau komplemen. Oleh karena itu dibahas dalam satu pembahasan .

76

Berdasarkan penggunaan piranti SO sebagai piranti analisis penentuan kategori kata/frasa pengisi fungsi adjung, kalimat pada (29a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (29.a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (29a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (29.b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat (29c), kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP pada kalimat (29) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, sebagai mana pada (29a) dan (5a), merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau dengan bahasa lain keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (29a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

Keberadaan FP BM sebagai kategori frasa pengisi BM sebagai mana penjelasan di atas, yang didasarkan para piranti pengujian SO, juga berlaku sama ketika diuji dengan piranti CP. Secara semantis merupakan partisipan yang kehadirannya tidak diperlukan oleh predikat (verba), yakni verba jiànshè „membangun‟ (29a). Predikat pada (29a) merupakan verba transitif yang secara semantis hanya memerlukan dua partisipan, yakni agen dan pasien, sebagai partisipan intinya (core participant). Dalam kasus kalimat (29), agennya berupa

77

FN AKRA gōngsī„Perusahaan AKRA‟, sedangkan pasiennya adalah FN liǎng tái diànjī „dua buah pembangkit listrik‟ pada (29a).

Maka, kehadiran partisipan yang lain selain dua partisipan tersebut secara semantis tidak diperlukan oleh predikat (verba) yang dalam kasus kalimat ini berupa FP BM., Maka penulis berpendapat bahwa FP BM dapat mengisi fungsi BM berdasarkan dua piranti pengujian argumen-adjung SO dan CP. Di bawah ini merupakan diagram X-bar data nomor 29.

78

Diagram X-bar Data nomor (29) Preposisi Y

I

V‟

Yu mingnian Pada tahun depan FI I‟ FN F V‟ FP V‟ Jianshe membangun V‟ F Zai dongzhuang Sheng jinshi Di Gresik provinsi Jatim Dianji Pembangkit listrik V N N Liang tai 2 buah N‟ FP

79

Pada diagram X-bar di atas, FV membawahi V-bar (V‟) yang didominasi oleh FP míngnián „pada tahun depan‟, posisi FP di depan predikat verba jiànshè „membangun‟ dan V-bar kedua. FP míngnián berfungsi sebagai adjung, karena

posisinya langsung di bawah V‟ pertama, serta adjung didominasi oleh X-bar kedua.

4.2.1.2 Frasa Preposisi Temporal Sebagai Adjung

A. Data pada nomor (2) dapat direkonstruksikan sebagai berikut.

(a)Yìnní quánguó [ Prep 2017 nián 1 yuè 1 rì ] Indonesia nasional dari 2017 tahun 1 bulan 1 tanggal jìnzhǐ chūkǒu yuán kuàngshí.

melarang ekspor mentah bijih

„Indonesia melarang ekspor nasional bijih mentah dari tanggai 1 Januari tahun 2017‟.

(Guoji, 1 Nopember 2014)

Frasa preposisi 2017 nián 1 yuè 1 rì „dari bulan Januari 2017‟ pada contoh data no. 2 diatas disebut FPrT. FPrT ini dibentuk oleh preposisi „dari‟ sebagai

inti leksikal, dan nominakewaktuan 2017 nián 1 yuè 1 rì „bulan Januari 2017‟.

(b)Yìnní quánguó jìnzhǐ chukou yuán kuàngshí Indonesia nasional melarang ekspor mentah bijih „Indonesia secara nasional melarang ekspor bijih mentah‟

80

(c)*Yìnní quánguó [ Prep 2017 nián 1 yuè 1 rì ] jìnzhǐ. Indonesia nasional dari 2017 tahun 1 bulan 1 tanggal melarang

„Indonesia secara nasional dari bulan Januari tahun 2017 melarang‟

Unsur gramatikal pada kalimat (2a) subjeknya adalah FN Yìnní

„Indonesia‟, unsur predikat verba adalah jìnzhǐ „melarang‟ dan unsur objeknya adalah FN chukou yuán kuàngshí „ekspor bijih mentah‟.

Berdasarkan penggunaan piranti SO, maka kalimat (2a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (2a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (2a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (2b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat (2c), kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP BM pada kalimat (2a) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, seperti pada (2a), merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (2a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

Keberadaan FP BM sebagai kategori frasa pengisi BM sebagaimana penjelasan di atas, yang didasarkan para piranti pengujian SO, juga berlaku sama ketika diuji dengan piranti CP. Secara semantis merupakan partisipan yang

81

kehadirannya tidak diperlukan oleh predikat (verba), yakni verba jìnzhǐ

„melarang‟ mengadakan‟. (2a) Predikat pada (2a) merupakan verba transitif yang secara semantis hanya memerlukan dua partisipan, yakni agen dan pasien, sebagai partisipan intinya (core participant). Dalam kasus kalimat (2a), agennya berupa FN Yìnní „Indonesia‟, sedangkan pasiennya adalah FN chukou yuán kuàngshí

ekspor bijih mentah‟pada kalimat (2a).

Berikut adalah diagram X-bar data nomor 2.

Diagram X-bar Data nomor (2) Preposisi Zi 2017 nian Tahun 2017 V‟ N N‟ FI I‟ FN F I N Yinni Indonesia Quanguo nasional FP V‟ P P‟ FN Jinzhi melarang N‟ FN N V N Chukou ekspor Yuan kuangshi Biji mentah 1 yue 1 ri Tgl 1 Januari N N‟ N‟ F Zi dari

82

Pada diagram X-bar di atas, FV membawahi V-bar (V‟) yang didominasi oleh FP 2017 nián 1 yuè 1 rì „dari 1 Januari tahun 2017, posisi FP di depan predikat

verba jìnzhǐ „melarang‟ dan V-bar kedua. FP 2017 nián 1 yuè 1 rì berfungsi

sebagai adjung, karena posisinya langsung di bawah V‟ pertama, serta adjung

didominasi oleh X-bar kedua.

(B) Data pada nomor (12) dapat direkonstruksikan sebagai berikut.

(a) Tā [Prep 4 rì ] zhàokāi fābù huì.

Dia pada 4 tanggal mengadakan konferensi pers „Dia mengadakan konferensi pers pada tanggal 4‟

(Guoji, 4 Januari 2015)

Konstituen yú 4 rì „pada tanggal 4‟ contoh (4a) disebut FPrT. FP itu dibentuk oleh preposisi „pada‟ sebagai inti leksikal, nomina 4 rì sebagai komplemen, Pada kalimat (4a) fungsi sintaksis FPrT sebagai adjung, karena kehadiran adjung ini dapat dilesapkan, secara gramatika masih dapat berterima.

(b) Tā zhàokāi fābù huì.

Dia mengadakan konferensi pers

„Dia mengadakan konferensi pers‟

(c) * Tā [Prep 4 rì ] zhàokāi . Dia pada tanggal mengadakan

„Dia mengadakan pada tanggal 4‟

83

Konstituen yú 4 rì„pada tanggal 4 merupakan FPrT. FP itu dibentuk oleh

preposisi yú„pada sebagai inti leksikal, FN 4 rì „tanggal 4‟ sebagai komplemen, Bukti tentang fungsi sintaksis FP tersebut sebagai adjung maupun komplemen kita lihat sebagai berikut.

Unsur gramatikal pada kalimat (4a) subjeknya adalah pronomina „dia‟, unsur predikat verba zhàokāi„mengadakan‟ dan unsur objeknya adalah FN fābù

huì„konferensi pers.

Berdasarkan penggunaan piranti SO, maka kalimat (4a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (4a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (4a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (4b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat (4c), kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP BM pada kalimat (4a) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM, seperti pada (4a), merupakan frasa yang keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (4a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

Keberadaan FP BM sebagai kategori frasa pengisi BM sebagai mana penjelasan di atas, yang didasarkan para piranti pengujian SO, juga berlaku sama

84

ketika diuji dengan piranti CP. Secara semantis merupakan partisipan yang kehadirannya tidak diperlukan oleh predikat (verba), yakni verba zhàokāi

„mengadakan‟ (4a). Predikat pada (4a) merupakan verba transitif yang secara

semantis hanya memerlukan dua partisipan, yakni agen dan pasien, sebagai partisipan intinya (core participant). Dalam kasus kalimat (4a), agennya berupa FN „dia‟, sedangkan pasiennya adalah FN fābù huì „konferensi pers‟ pada kalimat (4a).

C. Data pada nomor (16) dapat direkonstruksikan sebagai berikut. (a) Zēngzhǎng lǜ [ Prepzài qùnián ] tóngqí dádào 10.59%. Pertumbuhan nilai pada tahun lalu mencapai 10.59% „Nilai pertumbuhan pada tahun lalu mencapai 10.59%.

(Guoji, 1 Desember 2014)

(b) Zēngzhǎng lǜ dádào 10.59%. Pertumbuhan nilai mencapai 10.59%‟

„Nilai pertumbuhan mencapai 10.59%‟

(c) *Zēngzhǎng lǜ [Prepzài qùnián ] dádào . Pertumbuhan nilai pada tahun lalu mencapai.

„Nilai pertumbuhan pada tahun lalu mencapai‟

Konstituen merupakan zài qùnián „pada tahun lalu‟ FPrT. Frasa preposisi itu dibentuk oleh preposisi zài pada sebagai inti leksikal, FN qùnián „tahun lalu‟

sebagai komplemen, Bukti tentang fungsi sintaksis FP tersebut sebagai adjung maupun komplemen kita lihat sebagai berikut.

85

Unsur gramatikal pada kalimat (16a) subjeknya adalah FN Zēngzhǎng lǜ „nilai pertumbuhan, unsur predikat verba adalah dádào „mencapaidan unsur objeknya adalah FN 10.59%.

Berdasarkan penggunaan piranti SO, maka kalimat (16a) setelah dimodifikasi ke dalam 3 (tiga) jenis kontruksi kalimat yang berbeda (16a/b/c) sebagaimana di atas, dapat penulis deskripsikan bahwa ketika FP pada kalimat (16a) dihilangkan/dibuang sehingga membentuk konstruksi kalimat pada (16b), kalimat tersebut masih tetap berterima (gramatis). Namun, pada konstruksi yang lain, yakni ketika FP tersebut dipertahankan, tapi FN dihilangkan seperti pada kalimat (16c), kalimat tersebut justru menjadi tidak berterima (ungramatical). Sehingga dengan pengujian keberadaan fungsi adjung dengan menggunakan piranti SO ini, penulis menyimpulkan bahwa FP BM pada kalimat (16a) mempunyai fungsi sintaksis sebagai adjung. Hal ini disebabkan karena FP BM zài qùnián „pada tahun lalu‟, seperti pada (16a), merupakan frasa yang

keberadaannya secara sintaksis tidak wajib atau keberadaanya tidak mempengaruhi keberterimaan (kegramatikalan) sebuah kalimat, berbeda dengan keberadaan FN pada (16a) yang mempengaruhi keberterimaan kalimat yang disusunnya.

Keberadaan FP BM sebagai kategori frasa pengisi BM sebagai mana penjelasan di atas, yang didasarkan para piranti pengujian SO, juga berlaku sama ketika diuji dengan piranti CP. Secara semantis merupakan partisipan yang kehadirannya tidak diperlukan oleh predikat (verba), yakni verba dádào

86

semantis hanya memerlukan dua partisipan, yakni agen dan pasien, sebagai partisipan intinya (core participant). Dalam kasus kalimat (16a), agennya berupa FN Zēngzhǎng lǜ , sedangkan pasiennya adalah FN 10.59%. pada kalimat (16a).

Berikut adalah diagram X-bar data nomor 16.

Diagram X-bar Data nomor (16) Preposisi Zi F V‟ N N‟ FI I‟ FN I N Zheng zhang pertumbuhan Lu tingkat tingkat V‟ FP V FN N 10,59% N N‟ N qunian tahun lalu tongqi periode yg sama Dadao mencapai P P‟ FN Zi‟ dari N‟

87

Pada diagram X-bar di atas, frasa verba (FV) membawahi V-bar (V‟) yang didominasi oleh FP zài qùnián dan V-bar kedua. FP zài qùnián yang

berfungsi sebagai adjung, karena posisinya langsung di bawah V‟ pertama,

serta adjung didominansi oleh X-bar kedua.

D. Data pada nomor (41) dapat direkonstruksikan sebagai berikut.

(a)Liángshí gōngsī [ Prep cóng Tàiguó ] jìnkǒu yōuzhì dàmǐ.

Pangan perusahaan dari Thailand mengimpor unggul beras

„Bulog mengimpor beras unggul dari Thailand.

(Guoji, 7 Januari 2015)

(b)Liángshí gōngsī jìnkǒu yōuzhì dàmǐ.

Pangan perusahaan mengimpor unggul beras „Bulog mengimpor beras unggul‟

(c)*Liángshí gōngsī [ Prep cóng Tàiguó ] jìnkǒu.. Pangan perusahaan dari Thailand mengimpor. „Bulog dari Thailand mengimpor‟

Konstituen cóng Tàiguó „dari Thailand‟ merupakan FPrL. FP itu

Dalam dokumen Thesis Titi Rahardjanti (Halaman 77-108)

Dokumen terkait