• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI. Gambar 3.1. Lokasi penelitian.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. METODOLOGI. Gambar 3.1. Lokasi penelitian."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

III. METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan, baik kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit I Jawa tengah maupun kawasan hutan konservasi yang menjadi wilayah kerja Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah serta Taman Nasional (TN) Gunung Merapi dan TN Guung Merbabu.. Penelitian dimulai dari bulan April 2008 sampai Februari 2010.

Gambar 3.1. Lokasi penelitian.

3.2 Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan antara lain GPS, kamera, binocular, komputer dengan software Arcview 3.2 (ESRI, 1998); software patch analyst, yang merupakan extension dari ArcView 3.x (Elkie et al., 1999). Bahan-bahan yang digunakan antara lain plastercast (gypsum); alkohol/formalin; peta kawasan hutan Jawa Tengah; peta-peta kerja Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah; laporan margasatwa KPH Perum Perhutani Unit I; laporan margasatwa BKSDA dan Taman Nasional; kuesioner dan peta tutupan lahan Provinsi Jawa Tengah hasil

Lokasi sampel Keterangan :

(2)

interpretasi citra yang dibuat oleh Ditjen Planologi Departemen Kehutanan dengan skala digitasi 1: 50.000.

3.3 Prosedur Penelitian

Untuk efisiensi dan efektifitas penelitian, maka kegiatan penelitian dirancang dalam rangkaian tahapan yang runtut yang terdiri dari empat tahapan utama yaitu: (1) persiapan; (2) orientasi atau penelitian pendahuluan; (3) penelitian utama serta (4) pengolahan dan interpretasi data (Gambar 3.2).

Gambar 3.2. Urutan tahapan prosedur penelitian.

ƒ Konsultasi KSDA & Perhutani ƒ Pengumpulan data sekunder ƒ Pengiriman kuesioner ke responden Pengadaan peta tutupan

lahan hasil interpretasi citra

Pengadaan bahan perlengkapan dan peralatan penelitian

ƒ Ground check lokasi macan tutul dari dari kuesionar ƒ Survei Presence-Absence macan tutul

ƒ Inventarisasi satwa mangsa di lokasi contoh ƒ Analisis struktur cover

ƒ Struktur cover habitat macan tutul

ƒ Keanekaragaman, komposisi, kelimpahan relatif,

keseragaman satwa mangsa ƒ Iklim;

ƒ Status kawasan; ƒ Tipe hutan; topografi;

altitude, air, luas patch Upload data lokasi GPS:

Penyebaran macan tutul (ArcView 3.2)

Peta Penyebaran

Model Spasial Kesesuaian Habitat Macan Tutul Jawa

1

2

3

4

Analisis Fragmentasi Keterangan

Output penelitian (tujuan penelitian)

Karakteristik Habitat Analisis

(3)

Unit analisis penelitian ini adalah kawasan hutan berdasarkan peta kawasan hutan Provinsi Jawa Tengah dari Departemen Kehutanan Tahun 2005 dan status kawasan hutan menjadi salah satu penyusun model kesesuaian habitat. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengelolaan kawasan hutan di Provinsi Jawa Tengah. Dengan demikian, tutupan hutan di luar kawasan hutan tidak menjadi bagian dari penelitian ini. Disamping itu juga diasumsikan, areal berhutan di luar kawasan hutan tidak mungkin akan dikelola oleh pemerintah dalam kerangka konservasi macan tutul. Pertimbangan lain adalah sampai saat ini belum ada laporan bahwa areal berhutan di luar kawasan hutan merupakan habitat macan tutul.

3.4 Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dan sumbernya disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Data yang diperlukan dan sumbernya.

No. Data Sumber

1. Laporan bulanan margasatwa KRPH Perhutani 2. Laporan triwulan margasatwa BKPH Perhutani 3. Laporan Identifikasi High Conservation value

Forest (HCVF) di setiap Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)

Seluruh KPH di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

4. Peta wilayah kerja Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

5. Peta wilayah kerja KPH Seluruh KPH di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

6. Peta Kelas Perusahaan seluruh KPH Seluruh KPH di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

7. Profil KPH Seluruh KPH di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

8. Peta sebaran keanekaragaman hayati di setiap

KPH Seluruh KPH di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah 9. Laporan bulanan inventarisasi/monitoring

satwaliar resor KSDA Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) 10. Laporan tahunan Balai Konservasi Sumberdaya

Alam Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA)

11. Laporan kejadian gangguan satwaliar Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Seksi Wilayah BKSDA; media masa cetak dan televisi; kuesioner

12. Peta tutupan lahan hasil interpretasi citra satelit wilayah Jawa Tengah yang telah didijitasi skala 1:50.000 Tahun 2006

Ditjen Planologi Kehutanan

(4)

No. Data Sumber 14. Peta iklim Jawa Tengah Ditjen Planologi Kehutanan

15. Lokasi indikasi keberadaan macan tutul Survei lapangan (GPS); kuesioner dan laporan (butir 1, 2, 8 dan 9)

16. Struktur vegetasi habitat macan tutul Lapangan (sampel)

17. Jenis satwa mangsa macan tutul Lapangan (sampel); Laporan butir 1,2 dan 3 18. Iklim Peta iklim (butir 14) dan profil KPH (butir 7) 19. Status fungsi kawasan Peta kawasan hutan (butir 13)

20. Topografi Peta RBI 1:25000 dari Bakosurtanal 21. Altitude Peta RBI 1:25000 dari Bakosurtanal 22. Ketersediaan air Peta RBI 1:25000 dari Bakosurtanal. Setiap

patch yang didalamnya ada sungai atau anak sungai atau badan air lainnya dinilai memiliki sumber air.

23. Luas patch hutan Peta tutupan lahan hasil interpretasi citra satelit wilayah Jawa Tengah yang telah didijitasi skala 1:50.000

24. Tipe hutan (hutan tanaman dan hutan alam)

untuk analisis model kesesuaian habitat Peta tutupan lahan hasil interpretasi citra satelit wilayah Jawa Tengah yang telah didijitasi skala 1:50.000

25. Tiipe hutan untuk analisis sekejsi/preferensi habitat (Tanaman pinus, tanaman jati, tanaman campuran, hutan alam dataran rendah, hutan alam pegunungan,

Peta kelas perusahaan 20 KPH Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah dan pengamatan lapangan.

3.4.1. Lokasi Indikasi Keberadaan Macan Tutul

Untuk memperoleh data lokasi sebaran macan tutul jawa dilakukan secara bertahap. Pertama berdasarkan laporan margasatwa bulanan dari KRPH lingkup Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah dan Balai KSDA Jawa Tengah. Data tersebut dicek silang dengan data hasil kuesioner. Laporan bulanan margasatwa dan kuesoner memuat informasi utama : lokasi (nomor petak, RPH, BKPH dan KPH; kelompok hutan; desa, kecamatan dan Kabupaten); indikasi keberadaan (perjumpaan langsung, suara, sarang, jejak, feces dan tanda pada sisa mangsa serta bekas cakaran); waktu ditemukan (jam; tanggal; bulan; tahun); aktivitas waktu dijumpai; fase (tutul atau kumbang) dan jenis mangsa yang ada di sekitar temuan macan tutul jawa.

Kuesioner digunakan sebagai pembanding (cross check) terhadap laporan bulanan margasatwa RPH) dan informasi tambahan bagi lokasi-lokasi yang tidak pernah dilaporkan adanya macan tutul jawa tetapi diduga masih ada berdasarkan literatur, laporan maupun berita koran. Sasaran kuesioner adalah masyarakat sekitar hutan serta petugas lapangan BKSDA dan petugas lapangan Perum Perhutani.

(5)

Pengumpulan data dimulai dengan menyortir laporan triwulan margasatwa dari BKPH, jika dalam laporan tersebut dilaporakan keberadaan macan tutul jawa di suatu wilayah RPH maka pelacakan dilanjutkan dengan memeriksa laporan bulanan margasatwa dari RPH untuk mengetahui waktu dan tempat penemuan keberadaan macan tutul jawa. Laporan dari RPH ini dikelompokkan menurut tingkat kepastian atau kebenaran laporan berdasarkan kriteria sebagaimana Tabel 3.2.

Beberapa lokasi indikasi macan tutul jawa, terutama yang meragukan dilakukan pengecekan ke lapangan (ground check). Pengecekan ke lapangan untuk mencari bukti keberadaan macan tutul jawa, baik langsung maupun tidak langsung melalui keberadaan sarang (breeding site), suara (calls), kotoran (feces), tanda pada mangsa (feeding signs, carrion), jejak (footprints) dan bekas cakaran (van Lavieren, 1982; Alikodra, 1990; Sutherland, 2004). Data posisi GPS lokasi indikasi macan tutul jawa dicatat untuk di-upload ke dalam Arcview 3.2.

Tabel 3.2. Kriteria tingkat kepercayaan kebenaran laporan keberadaan macan tutul Jawa berdasarkan Laporan Bulanan Margasatwa Resort Pemangkuan.

No. Indikasi keberadaan macan tutul jawa berdasarkan laporan bulanan margasatwa

Tingkat kepercayaan kebenaran laporan 1 Pejumpaan langsung, mendengar suara oleh

petugas Perhutani atau BKSDA; cetakan jejak atau sampel feces yang dapat dicek oleh peneliti.

Sangat dapat dipercaya tanpa perlu dicek ke lapangan.

2 Sisa mangsa (ungulata/primata); jejak; cakaran; feces yang ditemukan oleh petugas Perhutani atau KSDA

Dapat dipercaya tapi perlu pengecekan silang (cross check) dengan sumber informasi lain di lokasi yang sama

3 Informasi dari masyarakat Kurang dapat dipercaya, perlu pengecekan ke lapangan dan konfirmasi kepada beberapa sumber informasi untuk pembuktian

Macan tutul jawa merupakan satwa teritorial, maka lokasi-lokasi yang ditandai melalui pembuangan feces, urin atau cakaran adalah bagian dari habitat macan tutul jawa. Karena habitat utama macan tutul jawa adalah hutan, maka hutan terdekat dengan lokasi penemuan tanda teritorial diidentifikasi sebagai habitat utama macan tutul jawa. Pengenalan jejak macan tutul jawa dan cara pengukurannya seperti ditunjukkan pada Gambar 3.3.

(6)

Sumber gambar jejak (inset): http://www.predatorconservation.com/leopard.htm Sumber gambar cara pengukuran jejak van Strien (1983)

Gambar 3.3. Bentuk dan ukuran jejak kaki macan tutul serta cara pengukurannya untuk identifikasi individu.

3.4.2. Struktur Cover

Cover habitat macan tutul jaw hanya akan dilihat strukturnya berupa diagram profil yang menggambarkan stratifikasi tajuk. Untuk itu dibuat suatu bisect dalam suatu jalur contoh (transek) sepanjang 50 - 100 m di setiap tipe habitat macan tutul jawa. Bisect ini merupakan suatu lukisan yang memperlihatkan bentuk dan tinggi pohon (Soerianegara dan Indrawan, 1980). Bisect diambil dari jalur yang dianggap mewakili kondisi lapangan. Data yang dicatat adalah jenis pohon, jarak antar pohon (pemetaan pohon), bentuk tajuk, tinggi pohon, tinggi bebas cabang, bentuk percabangan dan proyeksi tajuk.

3.4.3. Inventarisasi Jenis Mangsa Macan Tutul Jawa

Inventarisasi satwa menggunakan metode transek atau jalur. Pengamat berjalan pada suatu jalur penjelajahan dengan arah kompas konsisten memotong kontur atau mengikuti track yang sudah ada seperti sungai atau jalan setapak. Setiap satwa mamalia besar yang terlihat di dalam transek selebar 50 m dicatat jenis, jumlah dan frekuensi perjumpaannya. Jika satwa tidak terlihat maka pengenalan satwa dilakukan melalui beberapa cara diantaranya: jejak, feses, suara, sarang, bau dan tanda-tanda lain yang ditinggalkan (van Lavieren, 1982; Alikodra, 1990; Sutherland, 2004). Inventarisasi satwa hanya dilakukan di lokasi sampel, yaitu yang mewakili tipe hutan tanaman jati,

(7)

hutan tanaman pinus, hutan tanaman campuran, hutan alam dataran rendah dan hutan alam pegunungan

3.4.4. Kuesioner

Kuesioner dirancang untuk mendapatkan informasi sebagai berikut: 1. Lokasi sebaran macan tutul jawa

2. Tipe-tipe penutupan lahan di habitat macan tutul jawa

3. Kecenderungan populasi macan tutul jawa dalam 10 tahun terakhir 4. Fenomena pemangsaan ternak oleh macan tutul jawa

5. Jenis-jenis satwa mangsa macan tutul jawa dan kecenderungannya dalam 10 tahun terakhir.

6. Lokasi-lokasi yang pernah dihuni macan tutul jawa tetapi sekarang sudah tidak dihuni lagi (punah secara lokal).

Sasaran responden adalah KRPH di wilayah Perum Perhutani unit I Jawa Tengah, KRPH di wilayah Balai KSDA Jawa Tengah dan masyarakat sekitar hutan lokasi penelitian.

3.5 Pengolahan Data

3.5.1 Sebaran dan Perkiraan Populasi

Posisi GPS lokasi indikasi macan tutul jawa di-upload ke dalam file database (*.dbf) di dalam program ArcView 3.2. Selanjutnya data ini akan di-overlay-kan dengan layer penutupan lahan hasil interpretasi citra yang telah di-clip dengan peta kawasan hutan sehingga menjadi peta penyebaran macan tutul jawa menurut tipe tutupan lahan di kawasan hutan.

Lokasi indikasi macan tutul jawa berdasarkan laporan margasatwa Perum Perhutani, BKSDA dan kuesioner umumnya memiliki tingkat ketelitian sampai ke nomor anak petak, sehingga langsung diplotkan dalam peta kerja tersebut di lokasi anak petak yang bersangkutan kemudian di-overlay-kan dan digabung dengan hasil dari GPS. Pembuatan peta sebaran indikasi macan tutul dilakukan di Laboratorium GIS dan Remote Sensing Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

(8)

Penghitungan populasi macan tutul jawa berdasarkan hasil inventarisasi di suatu lokasi diperkirakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

(1) Laporan perjumpaan indikasi macan tutul jawa dari Kepala Resort Hutan Perum Perhutani dan perjumpaan jejak dalam penelitian ini,

(2) Asumsi home range seekor macan tutul adalah 600 ha dan tidak overlap dengan individu lain.

(3) Seekor jantan dewasa memiliki pasangan kawin seekor betina yang home range-nya sebagian overlap denganrange-nya.

(4) Satu betina dapat memiliki 1-2 ekor anak. (5) Jumlah kekayaan jenis mangsa suatu wilayah

(6) Kondisi keamanan habitat dari gangguan manusia seperti perambahan dan aktivitas tumpangsari.

Perkiraan populasi juga dihitung berdasarkan model pemanfaatan habitat dengan asumsi :

(1) Home range seekor individu macan tutul tidak overlap dengan home range individu lain

(2) Asumsi home range seekor macan tutul adalah 600 ha pada habitat dengan pemanfaatan tinggi dan 1000 ha pada habitat dengan pemanfaatan rendah sampai sedang. Dengan demikian perkiraan jumlah individu minimal dan maksimal suatu populasi adalah sebagai berikut:

Jumlah minimal = Luas Patch (ha) : 1000 (ha)... (Formula 3.1a) Jumlah maksimal = Luas Patch (ha) : 600 (ha)... (Formula 3.1b)

Untuk menguji signifikansi perbedaan antara penghitungan populasi berdasarkan inventarisasi dan model pemanfaatan, mula-mula dilakukan uji F untuk mengetahui apakah ragam dua sampel (data dari inventarisasi dan data dari model) sama atau tidak sama. Selanjutnya dilakukan uji t dua sampel dengan ragam sama atau uji t dua sampel dengan ragam tidak sama (dari hasil uji F) (Pollet & Nasrullah, 1994). Semua perhitunagn uji F dan uji t dilakukan menggunakan program Microsoft Excel.

(9)

Kepadatan = Jumlah individu ... (Formula 3.2.) Luasan habitat

Luasan habitat yang dimakasud adalah luasan patch di mana individu-individu macan tutul yang diperhitungkan tersebut berada.

3.5.2. Keanekaragaman Jenis Mangsa

Data mangsa macan tutul diolah sehingga memberikan informasi keanekaragaman jenis Shannon (H’), indeks evenness (E), dan indeks kemiripan dua komunitas (indeks Sorensen). Indeks keanekaragaman jenis dihitung dengan rumus dari Shannon (H’) yaitu (Magurran 1988) :

= pi pi H' log dimana N ni pi= ...(Formula 3.3)

pi adalah perbandingan antara jumlah individu spesies ke i dengan jumlah total individu. Logaritma yang digunakan adalah logaritma dasar 10 atau e. Rumus ini dapat diubah menjadi (Soegianto 1994):

(

)

N ni ni N N

H'= log −

log ... (Formula 3.4) Untuk mengetahui struktur komunitas satwa mangsa dalam setiap tipe habitat maka dihitung nilai keseragaman antar jenis atau indeks evenness (E) Shannon dengan rumus sebagai berikut (Odum 1994) :

S H e ln ' = ... (Formula 3.5)

dimana S adalah banyaknya jenis satwa mangsa pada suatu tipe habitat.

Ragam (variance) dari indeks keanekaragaman jenis (H’) dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Magurran, 1988):

2 2 2 2 1 ) ln ( ) (ln ' N S N p p p p VarH =

i i

i i − − ...(Formula 3.6) Uji t (t test) untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara dua indeks keanekaragaman jenis (H’) menggunakan rumus sebagai berikut (Magurran, 1988):

2 / 1 2 1 2 1 ) ' ' ( ' ' VarH VarH H H t + − = ... (Formula 3.7)

(10)

Untuk menghitung derajat bebas (degree of freedom) digunakan rumus sebagai berikut (Magurran, 1988):

[

] [

2

]

2 2 1 2 1 2 2 1 / ) ' ( / ) ' ( ) ' ' ( N VarH N VarH VarH VarH df + + = ... (Formula 3.8)

Indeks kemiripan komunitas (similarity index) atau dikenal dengan nama indeks Sorensen antara dua sampel dihitung dengan rumus sebagai berikut (Odum 1994) :

B A C SI + = 2 ... (Formula 3.9)

dimana SI adalah indeks kemiripan komunitas, A adalah jumlah jenis dalam sampel A, B adalah jumlah jenis dalam sampel B dan C adalah jumlah jenis yang sama pada kedua sampel. Dengan demikian indeks ketidaksamaan adalah 1 - SI. Nilai indeks kemiripan komunitas berkisar antara 0 - 1. Semakin tinggi nilai indeks kemiripan komunitas antara dua sampel maka semakin miriplah kedua sampel tersebut, demikian pula sebaliknya.

3.5.3. Seleksi/Preferensi Habitat

Seleksi habitat oleh macan tutul jawa diukur menggunakan fungsi-fungsi seleksi sumberdaya (Manly et al., 2002) untuk memperkirakan peluang suatu unit contoh digunakan oleh seekor satwa, sebagai fungsi dari variabel vegetasi habitat (Sawyer et al., 2009). Pengujian signifikansi menggunakan uji Chi-square (χ2) (Fleis, 1981). Hipotesis null (Ho) yang akan diuji adalah: macan tutul jawa tidak melakukan seleksi dalam menempati suatu habitat. Kaidah keputusannya adalah menolak Ho jika nilai χ2

hitung lebih besar daripada χ2tabel pada taraf α = 5% (P=0,05). Nilai χ2hitung dihitung

dengan formula sebagai berikut (Ludwig & Reynolds, 1988):

− = ected ected observed hitung exp ) exp ( 2 2 χ ... (Formula 3.10)

Untuk mengetahui sumberdaya yang paling disukai maka dilakukan penghitungan indeks seleksi menggunakan Neu’s index dengan formula sebagai berikut (Neu et al., 1974; Bibby et al., 1998) :

(11)

Selection index a r w= ... (Formula 3.11) Standardised index

= w w B ... (Formula 3.12) Jika selection index >1 maka sumberdaya yang bersangkutan disukai karena penggunaaan (usage) lebih besar daripada ketersediaan (availability). Standardised Index memberikan perbandingan antar studi kerena jumlahnya selalu satu.

Tabel 3.3. Indeks Seleksi Neu

Tipe Habitat

Availability Usage Index

Proportion (a) Records Proportion (r) Selection (w) Standardised Total 3.5.4. Uji Kebebasan

Untuk mengetahui apakah kepunahan lokal suatu pupulasi macan tutul tergantung atau ada kaitannya dengan faktor ketinggian tempat, kelerengan atau tipe tutupan lahan, maka dapat dibuat tabel kontingensi berukuran b x k (baris x kolom), dimana b adalah banyaknya kelas dari faktor pertama dan k merupakan kelas dari faktor kedua. Selanjutnya dilakukan uji χ2. Untuk itu dibuat tabel kontingensi sebagai berikut

(Gaspersz, 1991):

Tabel 3.4. Contoh tabel kontingensi untuk uji kebebasan antara kepunahan lokal dengan ketinggian tempat.

Ketinggian Tempat Bertahan Punah Lokal Jumlah

< 500 m dpl O11 O12 B1

500 – 1.000 m dpl O21 O22 B2

> 1.000 m dpl O31 Oij Bi

Jumlah Ki Bj T

Dari tabel kontingensi tersebut dapat dilakukan pengujian apakah ketinggian mempengaruhi kepunahan lokal macan tutul jawa, dengan hipotesis null (Ho): tidak ada

(12)

hubungan antara ketinggian tempat dengan kepunahan lokal macan tutul jawa. Formula untuk mengetahui χ2

hitung adalah sebagai berikut (Gaspersz, 1991):

(

)

− = j i ij ij ij E E O , 2 2

χ

... (Formula 3.13)

Dimana Oij merupakan frekuensi observasi dan Eij merupakan frekuensi harapan yang

dihitung dengan formula sebagai berikut:

T K B

Eij = i j ... (Formula 3.14) Kaidah keputusannya adalah menolak Ho jika nilai χ2

hitung lebih besar daripada

χ2

tabel dengan derajat bebas (b-1) (k-1) pada taraf α 5%.

Uji kebebasan juga dilakukan untuk menguji kebebasan antara komponen lain dari habitat dengan keberadaan atau kepunahan lokal macan tutul jawa.

3.5.5. Analisis Fragmentasi

Analisis statistik fragmentasi menggunakan extension patch analyst pada software Arcview 3.2. Analisis fragmentasi ini dilakukan di Laboratorium GIS dan Remote Sensing Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Evaluasi dilakukan pada skala kelas. Analisis fragmentasi pada penelitian ini hanya untuk melihat fragmentasi pada hutan alam lahan kering. Kelas tutupan lahan lain tidak menjadi bahan kajian. Untuk kepentingan penelitian ini, parameter fragmentasi yang akan dipertimbangkan dan dibandingkan secara temporal adalah: class area (CA), number of patch (NumP); total edge (TE) dan edge density (ED).

3.5.6. Identifikasi Tipe-Tipe Metapopulasi

Populasi-populasi yang telah dipetakan di atas peta tutupan lahan dipelajari kemungkinan konektifitas antara satu dengan lainnya kemudian dibandingkan dengan gambaran tipe-tipe metapopulasi yang dibuat oleh Hanski & Simberloff (1997) serta (Harrison & Taylor 1997) yaitu classic metapopulation, mainland-island metapopulation, nonequilibrium metapopulation, patchy population (Gambar 2.5)

(13)

3.5.7. Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Macan Tutul

Pemodelan spasial dilakukan menggunakan fasilitas overlay dengan pembobotan pada program ArcView 3.2. Analisis spasial ini dilakukan di Laboratorium GIS dan Remote Sensing Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Model kesesuaian habitat dibangun dengan mempertimbangkan faktor-faktor kebutuhan hidup macan tutul jawa yang diperoleh dari berbagai literatur. Pembobotan masing-masing faktor dilakukan secara arbitrary berdasarkan expert judgment. Argumen atau landasan ilmiah penetapan bobot masing-masing faktor disajikan pada Tabel 3.5. Bobot masing-masing faktor penyusun model kesesuaian habitat macan tutul jawa disajikan pada Tabel 3.6. Skoring untuk masing-masing faktor disajikan pada Tabel 3.7.

Pembobotan menggunakan metode proporsi/skala (rating method) yaitu dengan cara memberikan langsung bobot secara eksplisit pada setiap faktor dengan mengalokasikan sejumlah nilai yang jika dijumlahkan akan menjadi 100 atau 1,0 (Jaya, 2007).

0< wij < 100; ∑wij = 100 untuk semua faktor i. ...(Formula 3.15)

Pemodelan spasial kesesuaian habitat yang dibuat termasuk kategori coincidence modeling yang melibatkan overlay poligon (AGI, 2010). Metode ini dilakukan dengan memberikan bobot terhadap peubah yang telah diskala (skoring) sehingga skor total merupakan kombinasi yang linear (Jaya, 2007).

∑ atau C = w1x1 + w2x2 + ....wnxn dan ∑ 1,00 ...(Formula 3.17)

Di mana C adalah skor komposit untuk suatu unit spasial tertentu dan n adalah jumlah peubah (variabel) wi adalah bobot ke-i dan xi adalah peubah atau variabel ke-i

Data luas patch diperoleh dari operasi spasial dalam Arcview 3.2; tipe hutan diperoleh dari interpretasi citra tahun 2006 dari Departemen Kehutanan; topografi, altitude, dan sumber air dari peta RBI Bakosurtanal skala 1:25.000. Data satwa diperoleh dari hasil olahan laporan bulanan margasatwa Perum Perhutani di 20 KPH yang kemudian diklasifikasikan dan dispasialkan dalam layer batas KPH. Data tipe curah hujan diperoleh dari masing-masing KPH yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan tipe curah hujan dominan dan dispasialkan dalam layer batas KPH. Data

(14)

status kawasan diperoleh dari peta kawasan hutan Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 dari Departemen kehutanan. Secara skematis, prosedur pembuatan model kesesuaian habitat macan tutul jawa ditunjukkan pada Gambar 3.4.

Tabel 3.5. Argumen ilmiah sebagai pertimbangan dalam pembobotan faktor penyusun model kesesuaian habitat macan tutul jawa.

Faktor/ Aspek

Argumen Referensi

Luasan habitat ƒ Macan tutul memerlukan luasan ruang yang cukup untuk mencari makan, berkembang biak dan bertahan hidup.

ƒ Macan tutul hidup dalam home range dan memiliki teritori

ƒ Macan tutul termasuk satwa yang gemar mengembara dan kurang bersifat menetap ƒ Macan tutul tidak akan keluar dari

teritorinya jika makanan cukup tersedia ƒ Home range seekor macan tutul jantan di

Taman Nasional Royal Chitwan, Nepal yang kaya satwa mangsa adalah 6 – 63 km2 (600 – 6.300 ha), dan di daerah kering Kalahari 400 km2. Umumnya berkisar antara 30 – 78 km2

ƒ Seidentsicker & Susan (1991) ƒ IUCN - The World

Conservation Union (1996) ƒ Bailey (1993)

ƒ Norton & Lawson (1985) ƒ Bothma et al. (1997) ƒ Mizutani & Jewell (1998) ƒ Direktorat PPA (1978) ƒ Grzimek (1975)

Ketersediaan mangsa

ƒ Macan tutul akan membunuh dan makan apa saja yang mudah ditangkapnya.

ƒ Macan tutul lebih menyukai ungulata dengan berat tubuh 20 sampai 50 kg, tetapi kadang-kadang berburu mangsa yang jauh lebih besar.

ƒ Mangsa macan tutul di Jawa antara lain : babi hutan, kijang, rusa, monyet, landak, lutung, burung, teledu, musang dan owa abu-abu, binatang pengerat, ikan dan bahkan buah-buahan yang manis.

ƒ Macan tutul memangsa binatang melata dan ketam, serangga, kelelawar, penyu laut, landak, trenggiling, burung merak, ayam hutan, monyet dan anjing.

ƒ Komposisi makanan macan tutul terdiri dari 53,5 % ungulata dan 25,4% primata dengan rata-rata berat mangsa 24,6 kg.

ƒ Mangsa macan tutul berimbang antara ungulata dan primata yaitu 89-98%.

ƒ Prater (1965) dalam Hoogerwerf (1970) ƒ Seidensticker(2002) ƒ Direktorat PPA (1978) ƒ Bartels (1929) dalam Hoogerwerf (1970) ƒ Grzimek (1975) ƒ Prater (1965) dalam Hoogerwerf (1970)

ƒ Schaller (1969) dalam Lekagul & McNeely (1977)

ƒ Westra (1931) dalam Hoogerwerf (1970) ƒ Direktorat PPA (1982) ƒ Hart et al. (1996) ƒ Karanth & Melvin (1995)

Tipe vegetasi (Hutan)

ƒ Macan tutul dapat beradaptasi dengan baik di berbagai tipe vegetasi, tetapi di Pulau Jawa, macan tutul hanya hidup di hutan-hutan, baik hutan alam maupun hutan tanaman.

ƒ IUCN - The World

Conservation Union. (1996) ƒ Cat Specialist Group (2002) ƒ Bothma & Riche (1994)

(15)

Faktor/ Aspek

Argumen Referensi

ƒ Macan tutul satwa arboreal, menyukai habitat yang ada pohonnya. Macan tutul menggunakan pohon untuk tidur, istirahat, berlindung, mengintai dan menyimpan mangsanya

ƒ Macan tutul betina menyukai vegetasi lebat untuk bersarang dan melindungi anak-anaknya

ƒ Tipe vegetasi berhubungan dengan keberadaan herbivora yang merupakan mangsa macan tutul.

ƒ Semakin beragam jenis tumbuhan, semakin beragam pula habitat yang dapat diberikan kepada satwaliar.

ƒ Bailey (1993)

ƒ Norton and Henley (1987) ƒ Hamilton (1976)

ƒ Alderton (1998)

Air ƒ Walaupun macan tutul dapat bertahan hidup berhari-hari tanpa air, tetapi keberadaan air sangat menguntungkan macan tutul, disamping untuk minum dirinya, air juga dibutuhkan oleh satwa herbivora yang merupakan mangsa macan tutul. Dengan demikian keberadaan air juga akan lebih disukai oleh satwa herbivora dan macan tutul.

ƒ Macan tutul menyukai hutan tepi sungai ƒ Semua jelajah memiliki sedikitnya satu

badan air

ƒ Setelah makan, macan tutul biasanya mencari air untuk minum.

ƒ South Africa Wildlife (2009) ƒ IUCN - The World

Conservation Union. (1996) ƒ Bothma & Riche (1994) ƒ Grzimek (1975)

ƒ Norton and Henley (1987)

Iklim (Tipe

Curah Hujan) ƒ Iklim sangat mempengaruhi habitat satwa herbivora, khususnya ketersediaan air dan pakan yang sebagian besar merupakan tumbuhan bawah. Selanjutnya keberadaan satwa herbivora tersebut berpengaruh pada keberadaan pemangsanya yaitu macan tutul Jawa.

ƒ Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebaran populasi macan tutul banyak terkonsentrasi di daerah beriklim basah (tipe curah hujan A dan B)

Marker and Dickman (2005)

Status fungsi

kawasan ƒ Macan tutul pemalu dan secretive sehingga menyukai hidup di kawasan hutan yang terjamin keamanannya dari gangguan kegiatan manusia

ƒ Hutan-hutan yang relatif kecil kegiatan manusianya berturut-turut adalah hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi tetap

ƒ Bila keluar kawasan hutan dan masuk kampung macan tutul dianggap musuh oleh

ƒ UU No.5/19990 ƒ UU No 41/1999 ƒ PP No. 68/1998 ƒ PP No.34/2002

ƒ South Africa Wildlife (2009) ƒ Nowak (1997)

ƒ Guggisberg (1975) ƒ IUCN - The World

(16)

Faktor/ Aspek

Argumen Referensi

masyarakat dan akan diburu dan dibunuh Conservation Union. (1996) ƒ Veevers-Carter (1978) ƒ Lekagul & McNeely (1977) Topografi ƒ Macan tutul menyukai daerah berlereng

curam dan di dekat patahan tebing atau puncak punggung bukit dekat dengan tebing untuk berlindung karena umumnya sulit dijangkau manusia.

ƒ Chundawat (1990)

ƒ Marker and Dickman (2005)

Ketinggian

tempat (Altitude) ƒ Hutan-hutan yang masih tersisa dan kondisinya baik umumnya ada pada ketinggian > 500 m dpl

ƒ Semakin tinggi suatu fragment hutan semakin menurun intensitas gangguan manusianya karena umumnya pemukiman terkonsentrasi di dataran rendah.

ƒ Macan tutul menghindari aktivitas manusia

ƒ Chundawat (1990)

ƒ Marker and Dickman (2005)

Tabel 3.6. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pembuatan model kesesuaian habitat macan tutul jawa.

Kategori Variabel/ Faktor yang dipertimbangkan Bobot makro

PEMANFAATAN HABITAT

Luas 0,35

Mangsa 0,25

Tipe Hutan 0,15

Tipe curah hujan Schmidt-Ferguson 0,05

Badan air 0,05

KERAWANAN

HABITAT Topografi 0,06

Ketinggian (Altitude) 0,05 Status fungsi kawasan hutan 0,04

Jumlah 1,00

Tabel 3.6. dapat diturunkan ke dalam formula sebagai berikut:

C = 0,35(x1) + 0,25(x2) + 0,15(x3) + 0,05(x4) + 0,05(x5) + 0,06(x6) + 0,05(x7) + 0,04(x8)

Di mana C adalah kesesuaian habitat; x1 adalah luas; x2 adalah mangsa; x3 adalah tipe

vegetasi hutan; x4 adalah curah hujan; x5 adalah sumber air; x5 adalah topografi; x7

(17)

Gambar 3.4. Prosedur pembuatan model spasial kesesuaian habitat macan tutul jawa.

Pembuatan model hanya dilakukan pada kawasan hutan berdasarkan peta kawasan hutan Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 dari Departemen Kehutanan. Hal ini karena salah satu faktor penyusun model adalah status kawasan hutan. Disamping itu juga diasumsikan, areal berhutan di luar kawasan hutan tidak mungkin akan dikelola dalam kerangka konservasi macan tutul.

Validitas model dihitung dengan formula sebagai berikut:

Validitas Model = n/N x 100% ... (Formula 3.18) Dimana n = jumlah lokasi macan tutul di kelas kesesuaian sedang dan tinggi, dan N = jumlah seluruh lokasi macan tutul yang ditemukan.

Kesesuaian model dengan fakta di lapangan juga dapat diuji dengan uji Chi square (χ2) dengan hipotesis null sebagai berikut:

Ho: Distribusi proporsi kesesuaian habitat macan tutul jawa sama dengan disribusi proporsi lokasi macan tutul jawa

Luas patch Data atribut mangsa Penutupan hutan Badan air Status Fungsi Kawasan KELAS KESESUAIAN HABITAT MACAN TUTUL JAWA Kelas kecukupan luas Kelas hutan Kelas ketersediaan air Kelas fungsi Potensi Habitat Dimanfaatkan Kelas Pemanfaatan Habitat

Tipe Curah hujan Kelas Curah Hujan

Kelerengan Kelas lereng

Ketinggian ketinggian Kelas

Kelas Kerawanan Habitat Kelas

Ketersediaan Mangsa

(18)

Kaidah keputusannya adalah menerima Ho apabila nilai χ2

hitung lebih kecil daripada

χ2

tabel pada taraf α = 5%. Formula uji Chi kuadrat adalah sebagai berikut (Gazpersz,

1994):

(

)

− = j i ij ij ij E E O , 2 2

χ

... (Formula 3.19)

Dimana Oij adalah proporsi sebaran macan tutul jawa yang diambil dari jumlah lokasi

macan tutul menurut tingkat kesesuaiannya dan Eij adalah proporsi luasan habitat

menurut tingkat tngkat kesesuaian.

Tabel 3.7. Skoring faktor penyusun model kesesuaian habitat.

Faktor Skor Kriteria

Pemanfaata n Habitat (Habita t Use) Luasan habitat 10 > 1.000 ha 5 600 – 1.000 ha 0 < 600 ha

Mangsa 10 Terdapat 6 jenis mangsa utama (primata dan ungulata) 5 Terdapat 4 jenis mangsa utama

1 Terdapat 1-3 jenis satwa mangsa utama Tipe hutan 10 Hutan alam

5 Hutan tanaman

Air 10 Ada sumber air di dalam patch 0 Tidak ada sumber air patch

Tipe Curah Hujan 1 D atau E 5 C atau C dan D 10 A atau B K era w a na n H a bi tat (Habita t Vulnerability) Status fungsi kawasan

10 Kawasan Pelestarian Alam, Kawasan Suaka Alam, Hutan Lindung

5 Hutan Produksi Terbatas 1 Hutan Produksi Topografi 1 < 15 % 5 15% -25 % 10 > 25% Ketinggian (Altitude) 1 < 500 m dpl 5 500 – 1000 m dpl 10 > 1000 m dpl.

Gambar

Gambar 3.1.  Lokasi penelitian.
Gambar 3.2. Urutan tahapan prosedur penelitian.
Tabel 3.1.  Data yang diperlukan dan sumbernya.
Gambar 3.3. Bentuk dan ukuran jejak kaki macan tutul serta cara pengukurannya untuk  identifikasi individu
+6

Referensi

Dokumen terkait

value 0,01 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pre conference dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dengan Odds Ratio = 12,80 artinya bahwa perawat pelaksana

Dengan mengetahui bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal dapat membantu perusahaan makanan dan minuman dalam menentukan bagaimana seharusnya

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat memetakan pihak - pihak yang berkepentingan (stakeholder) terhadap keberadaan Batur

Kekuatan yang dimiliki oleh Rumah Cup∙Cakes &amp; BBQ adalah produk yang bermutu, variasi akan makanan dan minuman yang ditawarkan dan SDM yang berkualitas yang

Metode simulasi merupakan induk dari metode soiodrama, bermain peran ( role playing ), psikodrama, dan permainan. Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan

Kepala Sekolah harus memiliki kemampuan untuk melihat setiap kemungkinan perubahan yang akan terjadi pada masa yang akan datang agar dapat memberikan gambaran terhadap para

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa 26 butir pernyataan kuisioner yang disebarkan kepada responden mampu digunakan untuk mengukur

Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan