• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. awal di daerah adalah sumber pendapatan pemerintah daerah yang berasal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. awal di daerah adalah sumber pendapatan pemerintah daerah yang berasal"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pendapatan Pariwisata

Secara hukum Undang-undang No. 32 Pada tahun 2004, pendapatan awal di daerah adalah sumber pendapatan pemerintah daerah yang berasal dari daerah yang sama sesuai dengan kemampuannya. Pendapatan awal daerah termasuk pajak daerah, pajak daerah, hasil pengelolaan kegiatan regional yang terpisah, serta pemerolehan legal lainnya (Kawedar, et al, 2008). Melalui peningkatan PAD, diharapkan belanja investasi modal di pemerintah daerah akan meningkat sehingga pemerintah akan memberikan layanan publik yang berkualitas. Dalam pendapat Halim (2004: 67), definisi pendapatan awal daerah, yaitu pendapatan awal daerah (PAD), terdiri dari semua pendapatan daerah dari sumber ekonomi. daerah asli. area dan hasil manajemen kepemilikan dari wilayah yang terpisah, dll. Penghasilan legal suatu wilayah".

Menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah (2007) dalam Peta Profil Perjalanan dan Pariwisata Daerah, bahwa yang dapat dikategorikan sebagai pendapatan pariwisata adalah perolehan dari hal-hal seperti di bawah ini :

a. Pajak hotel

Penarikan wajib diberlakukan untuk tiap hotel yang memiliki syarat penuh.

(2)

11 b. Pajak restoran

Penarikan wajib pajak berlaku untuk semua restoran yang memenuhi syarat. c. Pajak hiburan

Penarikan yang diwajibkan berlaku untuk tempat hiburan yang memenuhi persyaratan pajak.

d. Retribusi kios

Pajak lokal dikumpulkan untuk membayar pelayanan maupun lisensi terkait penjagaan kios pada suatu lokasi.

e. Retribusi kamar kecil

Pajak lokal seperti pembayaran untuk layanan penggunaan toilet di tujuan wisata. f. Retribusi iklan

Kontribusi regional seperti pembayaran untuk layanan yang menggunakan fasilitas publik untuk mempromosikan beberapa produk.

g. Karcis masuk obyek wisata

Biaya yang dibebankan pada setiap orang yang berkunjung ke suatu destinasi wisata.

h. Retribusi parkir obyek wisata

Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa penggunaan fasilitas umum untuk memarkir kendaraan.

i. Pajak pembangunan

Penarikan wajib dibebankan kepada setiap hotel serta restoran yang persyaratan dikukuhkannya sebagai wajib pajak telah terpenuhi.

j. Dinas pariwisata setempat

(3)

12

Banyak pemerintah daerah bahkan mayoritas pemerintah daerah dalam mengumpulkan pendapatan belum optimal dalam pelaksanaan sebab mereka masih menerima uang dari pemerintah pusat. Pendapatan daerah dapat terus diupayakan untuk meningkat melalui dari industri pariwisata harus ditinjau oleh manajemen untuk mengetahui apa potensi sebenarnya atau yang masuk akal, tingkat efisiensi dan efektivitas. Meningkatkan proporsi pengguna potensial juga akan meningkatkan pendapatan industri pariwisata.

2. Tingkat Hunian Hotel a. Pengertian Hotel

Dalam industri pariwisata, akomodasi dibedakan menjadi 2 yaitu akomodasi yang berbentuk hotel dan akomodasi diluat hotel (suplementary accomodation) seperti in, bungalow and homestay. Sedangkna hotel merupakan salah satu elemen yang memegang peranan yang sangat penting didalam industri pariwisata yang bersifat komersil, dan fungsi dari hotel tersebut adalah untuk menyediakan fasilitas akomodasi, fasilitas makanan dan minuman dan fasilitas yang menunjang untuk para tamu. Pengetian hotel berdasarkan pendapat Sulastiyono (1999: 5) sebuah hotel ialah perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya yang menyediakan makanan, minuman dan kamar tidur untuk mereka yang bepergian dan dapat membayar jumlah yang wajar berdasarkan Layanan diterima tanpa perjanjian khusus.

b. Pengertian Tingkat Hunian Hotel

Menurut Damaryanti (2006:121) tingkat hunian kamar (occupancy) merupakan presentasi dari dari ruangan yang tersisi maupun yangtersewakan kepada tamu yang dibandingkan dengan jumlah keseluruhan yang diperhitungkan dalam jangka waktu dari hari, bulana atau tahunan. Dalam kompetensi kepenghunian persaingan akan memperkirakan kinerja operasi bulanan atau tahuna masing-masing properti (Permana,

(4)

13

2013:113). Kinerja dapat diukur dari segi hunian persen dari tarif kamar rata-rata hunian yaitu sebagai berikut

Occupancy Perent = Number of rooms sold

number of room available

Average Daily Room rate = Total room revenue

number of room sold

Agin dan Christiono (2012) dalam tulisan jurnalnya menyampaikan bahwa tingkat hunian hotel yaitu jumlah kmar yang difugnsikan dibagi dengan ketersediaan jumlah kamar yang dikali 100 persen. Tingkat hunian adalah salah satu faktor untuk menghitung pendapatan sebuah hotel. Tarif hunian kamar merupakan kondisi dimana sejumlah kamar terjual dari total kamar dapat dijual. Memahami tingkat pekerjaan adalah ukuran keberhasilan hotel dalam menjual produk utama mereka.

Dalam sebuah majalah berjudul DIY PAD Discovering the Resources of the Tourism Industry (2001), yang merupakan tulisan dari Barudin dalam jurnalnya, ia mengatakan bahwasannya saat banyaknya kamar hotel yang tersedia adalah Cukup, jumlah kunjungan wisatawan meningkat dan permintaan kamar hotel meningkat. Ketika sebuah hotel terasa nyaman, seseorang akan memutuskan untuk berdiam lebih lama di tempat tersebut. Hal ini yang kemudian pendapatan pariwisata dapat diperoleh oleh industri pariwisata dan kegiatan terkait akomodasi, terutama hotel, baik bintang dan melati. lebih tinggi jika wisatawan tinggal lebih lama. Pendapatan daerah melalui pajak penghasilan.

Jumlah wisatawan yang dilacak berdasarkan lama menginap di destinasi wisata tertentu akan berdampak positif pada hunian hotel. Meningkatnya aktivitas wisata, yang lebih menuntut daripada keseriusan manajer hotel dalam meningkatkan layanan tamu, membuat tamu hotel betah dan memutuskan untuk tinggal. hotel lebih lama. Semakin banyak kamar hotel terjual, semakin tinggi manajer hotel akan menerima.

(5)

14 c. Peran Hotel dalam Pariwisata

Wahab (2003) seperti yang dikutip dalam Pleanggra (2012), menyebutkan bahwa kontribusi yang diberikan hotel di dunia pariwisata yaitu :

1) Seseorang yang bepergian pada dasarnya akan terus memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, yaitu makan dan tidur. Hotel ini menawarkan akomodasi, tempat makan, dan minuman, serta layanan lain yang dirancang dalam rangka pemenuhan hajat hidup para pelancong.

2) Hotel ini sebagai substitusi dari fungsi "tak di dalam rumah” bagi turis maupun wisatawan, melalui upaya menghadirkan: keamanan (secure), rasa nyaman yang membuat senang (comfort) dan sifat menyendiri (privacy).

3) Hotel selayaknya rumah yaitu titik permulaan atau dasar bagi seseorang untuk merencanakan serta melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya pekerjaan, hiburan, kehidupan sosial, pendidikan dan kegiatan lainnya. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut, hotel menyuguhkan serta memfasilitasi peralatan yang diperlukan seperti televisi, telepon, lobi, gedung serba guna, komputer, dan layanan lainnya.

d. Objek Pajak Hotel

Subjek pajak perjalanan merupakan layanan yang disiapkan oleh hotel untuk pembayaran, termasuk layanan pendukung seperti hotel yang memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan. Layanan pendukung adalah ATM, telepon, faks, teleks, internet, binatu, menyetrika, transportasi dan fasilitas serupa lainnya yang difasilitasi maupun dioperasikan oleh hotel (Pendit, 2003). Tidak termasuk subjek pajak hotel, mereka adalah:

(6)

15 2) Jasa sewa apartemen, flat dan sebagainya.

3) Jasa tempat tinggal yang berdekatan dengan sarana pendidikan maupun kegiatan keagamaan.

4) Jasa menginap di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, dan panti social lainnya yang sejenis.

5) Jasa tur maupun darmawisata yang diadakan oleh pihak manajemen hotel yang bisa didapatkan manfaatnya.

6) Jasa servis tempat inap bagi perwakilan negara, konsulat maupun lembaga-lembaga perwakilan negara lainnya.

3. Wisatawan

Jumlah wisatawan yang mengunjungi tujuan wisata tertentu adalah bukti bahwa daerah tersebut memiliki objek wisata utama. Ada sejumlah pakar yang mencoba mengartikan kata turis, menurut Sammeng dalam Nasrul (2010), turis atau wisatawan merupakan individu yang bepergian ataupun berkunjung dengan senanghati ketika mereka berada disuatu daerah di luar daerah tempat mereka hidup sehari-hari untuk tujuan tertentu dan tidak memiliki penghasilan stabil di tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Asosiasi Pariwisata Regional Pasifik membatasi turis yang bepergian dalam waktu 24 jam dan hingga 3 bulan di negara selain negara tempat mereka biasanya tinggal, termasuk:

a. Individu maupun sekelompok orang yang tengah bepergian dengan berbagai keperluan baik untuk pribadi maupun kesehatan

b. Individu maupun sekelompok orang yang tengah bepergian untuk melakukan musyawarah, konferensi ataupun menjadi utusan bagai suatu badan atau organisasi

(7)

16

c. Individu maupun sekelompok orang yang tengah melakukan perjalanan dengan tujuan urusan dinas serta militer yang menyertakan keluarga yang kemudian bertempat di negara lain tidak termasuk kategori ini, namun jika mereka melakukan perjalanan ke negeri lain, tentu bisa dikategorikan wisatawan (Pendit, 2003).

Mengadakan perjalanan wisata berdasarkan tujuannya terdapat banyak macamnya. Di bawah ini adalah macam-macam serta karakteristik wisatawan :

a. Wisatawan lokal (local tourist), yakni wisatawan yang mengadakan darmawisata ke suatu destinasi wisata yang lokasinya berada di dalam negeri.

b. Wisatawan mancanegara (international tourist), yakni wisatawan yang melakukan darmawisata ke suatu destinasi wisata yang lokasinya di luar negeri. c. Holiday tourist merupakan wisatawan yang mengadakan darmawisata ke suatu

destinasi wisata dalam rangka liburan maupun bersenang-senang.

d. Business tourist adalah wisatawan yang mengadakan ekspedisi ke suatu destinasi wisata dalam rangka megnurusi perdagangan maupun kepentingan pekerjaan. e. Common interest tourist merupakan wisatawan yang mengadakan ekspedisi ke

suatu destinasi wisata dalam rangka melakukan tujuan khusus seperti studi ilmu pengetahuan, mengunjungi sanak keluarga atau untuk berobat dan lain-lain. f. Individual tourist merupakan wisatawan yang melakukan perjalanan ke suatu

destinasi wisata dengan cara sendiri-sendiri.

g. Group tourist merupakan wisatawan yang melakukan perjalanan ke suatu destinasi wisata dengan cara berkelompok ataupun bersama-sama.

Terdapat banyak keuntungan apabila banyak turis berkunjung ke destinasi wisata tertentu, diantaranya yaitu lewat pemerolehan bermacam-macam serta biaya yang dibayarkan di wilayah setempat. Nawawi di dalam tulisannya mengutip pandangan dari

(8)

17

Ramdani, yang pada dasarnya mengandung efek langsung dari kunjungan wisatawan terhadap pendapatan dan ekonomi daerah. Semakin lama pengunjung menginap di setiap tur, semakin langsung dampak ekonomi dari kehadiran wisatawan juga meningkat.

Teori konsumen canggih JM. Keynes mengatakan bahwa skala belanja konsumen hanya didasarkan pada ukuran tingkat pendapatan masyarakat. Keynes mengungkapkan bahwasannya terdapat pengeluaran konsumen minimal yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat (konsumsi otonom) serta bahwa pengeluaran konsumen akan meningkat dengan meningkatnya pendapatan (Arsyad, 2010).

Dari segi teoritis, jika pendapatan pribadi meningkat, itu akan mendorong konsumsi individu itu. Peningkatan konsumsi publik menyebabkan peningkatan pajak dan pembayaran pajak. Menurut Apriori yang dikutip dalam Austriana (2005) menyatakan pendapatnya tentang hal tersebut, bahwasanya dengan bertambah banyaknya jumlah turis yang memutuskan tinggal di lokasi wisata, maka akan bertambah banyak pula uang yang keluar dari mereka baik untuk keperluan menginap, makan, oleh-oleh dan tujuan lainnya. Banyak jenis kebutuhn perjalanan saat bepergian menyebabkan gejaala konsumen untuk prduk di tujuan wisata. Dengan kegiatan konsumsi wisatawan asing dan domestik, pendapatan industri pariwisata daerah akan meningkat. Ardiwijaya (2008) dalam "Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia" mengungkapkan bahwasannya strategi terkait peningkatan pendapatan daerah bisa diwujudkan dengan meningkatkan pajak dan hak pengguna terkait. untuk bepergian. Ini sejalan terkait meningkatnya populasi wisatawan yang bertandang dan mengunjungi negara Indonesia sebagaimana yang diharapkan. Dapat diasumsikan bahwa semakin banyak kunjungan wisatawan, semakin tinggi pula tingkat pendapatan dari berbagai pajak pariwisata.

(9)

18

Turis atau wisatawan menurut IUOTO dan WTO yang dikutip oleh Muljadi (2009) didefinisikan sebagai seseorang yang mengadakan tur atau darmawisata menuju negara lain yang bukan negara maupun lokasi tempat kediamanya yang bertujuan pokok untuk kunjungan bukan dalam rangka mendapatkan ataupun mencari honorarium.

Menurut Sugiama (2014) wisatawan yakni oran yang melakukan perjalana wisata untuk mencari hiburan maupun istirahat sejenak dari pekerjaan, melakukan kegiatan bisnis maupun perjalanan dengan tujuan pemulihan, tujuan religi serta kegiatan dalam urusan pendidikan atau studi. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa wisatawan adalah seseorang yang mengadakan darmawisata ke suatu destinasi yang lokasi di luar tempat ia bermukim namun bukan untukmenetap.

4. Jumlah Hotel a. Pengertian Hotel

Definisi sebuah hotel menurut Prastowo dan Suryo (2002: 11), "Sebuah hotel adalah kamar yang diperlukan untuk memenuhi aturan akomodasi, makanan, dan perlindungan bagasi saat ini untuk tamu mereka. Hotel ini adalah kompleks yang terdiri dari sejumlah kamar yang digunakan oleh para tamu untuk sementara waktu dan menyediakan layanan dan fasilitas yang diperlukan untuk para tamu".

Di samping itu, pengertian hotel berdasarkan SK Menparpostel Nomor : KM 34/HK 103/MPT-87 yaitu seperti berikut (Sugiarto, 1997 : 20) : Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bagiannya untuk menyediakan jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersil serta memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan di dalam keputusan pemerintah.

(10)

19

Prastowo dan Suryo (2002:12) mengelompokkan tipe hotel ke dalam empat kelompok yaitu sebagai berikut:

1. Transient Hotel

Transient Hotel atau hotel transit adalah bentuk hotel yang serupa dengan tempat inap tua yang dijalankan terutama untuk menyediakan tempat tinggal bagi para pelancong maupun traveler.

2. Residential Hotel

Residential Hotel atau Hotel residen ialah rumah tinggal berbentuk seperti kondominium namun dengan pelayanan hotel hal tersebut yang membuat hotel ini seringkali disebut sebagai hotel apartemen.

3. Semiresidential Hotel

Hotel Semiresiden memberikan tawaran berupa kamar tinggal yang memiliki harga bayar per minggu maupun per bulan serta per hari dan akan diberikan potongan untuk pemesan jika mereka memutuskan lebih lama menginap.

4. Resort Hotel

Resort Hotel atau Hotel peristirahatan serupa bentuknya dengan hotel semiresiden, dimana keduanya juga memberikan harga sewa per hari, per minggu bahkan per bulannya dikarenakan para pengunjung merupakan seseorang yang hendak bersenangsenang, maka hotel ini harus menyajikan pelayanan yang memberikan kepuasan bagi keinginan ini melebihi tipe hotel lainnya.

c. Kategorisasi Industri Perhotelan

Berdasarkan perekonomian, jasa dan fasilitas yang disediakan oleh tiap hotel diklasifikasikan ke dalam 5 pembagian (Prastowo dan Suryo, 2002:14), yaitu sebagai berikut:

(11)

20 1) Limited Service Hotels

Limited Service Hotels atau yang biasa disebut Hotel ekonomis merupakan hotel yang memfasilitasi hajat pendatang secara mendasar, kamar dan ruang tinggal yang nyaman serta dekorasi yang secara umum dapat diterima oleh tamu. Jasa dan fasilitas yang disediakan adalah dalam bentuk standart.

2) Mid Market Hotels

Mid Market Hotels yang biasa disebut Hotel Melati merupakan hotel yang bernuansa modern serta memiliki basis dengan unsur-unsur komersil. Dari tampilannya secara luar, hotel melati memiliki ruang tinggal cukup banyak yang mencapai 50 hingga 100 kamar.

3) All Suited Hotels

All Suited Hotels atau yang biasa disebut Hotel bintang merupakan hotel yang bernuansa modern, komersil serta memiliki upaya saing dengan beberapa hotel kelas eksekutif. Fasilitas dan pelayanan yang diberikan hotel ini umumnya memiliki harga yang dapat bersaing dengan harga pada hotel lainnya.

4) First Class Hotels

First Class Hotels atau hotel eksekutif ini sering disebut hotel superior atau hotel kelas yang memiliki Ciri hotel ini yaitu terdapat nuansa yang sarat dengan unsur-unsur yang mewah maupun mendekati kemewahan yang dihiasi serta diberi kenyamanan.

5) Luxury Hotels

Luxury Hotels atau Hotel mewah pada dasarnya telah menampakkan unsur-unsur fasilitas dan pelayanan yang pada beberapa hal mengandung

(12)

21

kemewahan dan kenyamanan. Pada hotel mewah ini memiliki tarif khusus, bergantung pada pasar, lokasi serta akomodasi yang disediakan.

(13)

22 d. Potensi Pasar Perhotelan

Atas dasar potensi pasar perhotelan tiap hotel diklasifikasikan kedalam empat segmentasi, yaitu sebagai berikut: (Yoeti, 1999)

1. Pasar Wisatawan

Wisatawan dapat pula diklasifikasikan atas dua kelompok besar, yaitu wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik.

2. Pasar Usahawan

Para pengusaha dapat berupa pengikut suatu konferensi, kongres, seminar , lokakarya, rapat kerja dan lain sebagainya.

3. Pasar Lokal

Yang dimaksud pasar lokal bagi pemasaran hotel yaitu orang-orang atau kelompok , organisasi atau lembaga yang menggunakan fasilitas hotel dapat diartikan berupa kamar, retoran, night club, kolam renag, sarana olah raga taupun fasilitas lainnya.

4. Pasar Khusus

Dalam bisnis perhotelan, pasar khusus merupakan tamu yang memiliki potensi yang memiliki kecenderungan untuk memakai kamar hotel untuk para eksekutifnya, contohnya kru-kru kapal pesiar, kapal laut, perusahaan-perusahaan penerbangan, perusahaan asing, maupun orang yang bertandang ke suatu daerah untuk melakukan pekerjaannya yang mengharuskan orang-orang tersebut menginap di Hotel.

(14)

23 A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini antara lain: Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

No Nama

Penulis/Tahun

Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Eko Satriadi Putra

(2017)

Pengaruh Jumlh Wisatawan, Tingkat Hunian Hotel, Jumlah Objek Wisata dan Retribusi Objk Wisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pesisir Selatan

Hasil menunjukkan bahwa:

1) terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel, jumlah objek wisata dan retribusi objek wisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pesisir Selatan,

2) terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel, jumlah objek wisata, dan retribusi objek wisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pesisir Selatan.

Sedangkan berdasarkan pengujian koefisien perubahan pada variabel dependen (pendapatan) dapat dijelaskan oleh variabel independen (jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel, jumlah objek wisata, dan retribusi objek wisata) sedangkan sisanya sebesar 2 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk kedalam penelitian ini. 2 Kadek Dewi Udayantini, I Wayan Bagia , I Wayan Suwendra (2015) Pengaruh Jumlah Wisatawan dan Tingkat Hunian Hotel Terhadap Pendapatan Sektor Pariwisata di Kabupaten Buleleng Periode 2010-2013

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

1) ada pengaruh dari jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata

2) ada pengaruh positif dari jumlah wisatawan terhadap pendapatan sektor pariwisata

3) ada pengaruh positif dari tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata

4) ada pengaruh positif dari jumlah wisatawan terhadap tingkat hunian hotel di Kabupaten Buleleng.

(15)

24 3 Eti Ibrianti (2015) Pengaruh Jumlah

Kunjungan Wisata, Jumlah Objek Wisata, Dan Tingkat Hunian Hotel Terhadap Pendapatan Daerah Sektor Pariwisata Di Kabupaten Lingga Periode 2011-2013

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa pendapatan sektor pariwisata dipengaruhi oleh ketiga variabel bebas Kunjungan wisatawan, tingkat hunian hotel, serta jumlah objek wisata. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar model 4 Rizki Munanda, Syamsul Amar (2019) Pengaruh Kunjungan Wisatawan Mancanegara, Rata-Rata Pengeluaran dan Tingkat Hunian Hotel Terhadap Pendapatan Indonesia Pada Sektor Pariwisata

Hasil dari penelitian ini menemukakan adanya pengaruh positif dan signikan antara jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata di Indonesia. 5 Fauziah Afriyani (2015) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kontribusi Sektor Pariwisata Untuk Mendukung

Peningkatan Paddi Kota Palembang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah objek wisata, jumlah wisatawan, dan tingkat hunian hotel dapat mempengaruhi tingkat pendapatan daerah di sektor pariwisata.

Sehingga sektor pariwisata harus memberikan kontribusi untuk PAD dengan mempertimbangkan untuk meningkatkan faktor-faktor pendukung seperti fasilitas akomodasi, restoran, biro perjalanan, pariwisata, atraksi pariwisata listrik, lembaga pendidikan pariwisata dan menghambat konsolidasi industri pariwisata sebagai merek dagang Palembang sebagai tujuan wisata dan aksesibilitas penerbangan asing langsung ke Palembang.

6 Rheza Prima Putra (2018)

Analisis Pengaruh Pendapatan Domestik Regional Bruto, Jumlah Wisatawan Dan Jumlah Hotel Terhadap Pendapatan Asli Daerah Di Provinsi Bali Tahun 2011-2015

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang mempengaruhi pendapatan asli daerah adalah pendapatan domestik regional bruto dan jumlah hotel. Disamping itu, variabel jumlah wisatawan tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah di Provinsi Bali pada tahun 2011-2015.

7 Fiqih Umi Zakiah (2019)

Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah

Hasil penelitian ini menunjukan yaitu secara simultan Variabel Jumlah Objek

(16)

25 (PAD) Dalam Membangun Infrastruktur Kota Bandar Lampung Ditinjau Berdasarkan Perspektif Ekonomi Islam Periode 2010-2017 Wisata,Jumlah Wisatawan,Jumlah Hotel,dan PDRB

berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pendapatan Asli Daerah

(17)

26 B. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan tinjauan teori maka dapat digambarkan kerangka pemikiran sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan kajian teori diatas, dapat disimpulkan hipotesis penelitian sebagai berikut :

H1 : Terdapat pengaruh tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata di kota Batu

H2 : Terdapat pengaruh jumlah wisatawan terhadap pendapatan sektor pariwisata di kota Batu

H3 : Terdapat pengaruh jumlah hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata di kota Batu

H4 : Terdapat pengaruh tingkat huniian hotel, jumlh wisatawan, dan Jumlah Hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata di kota Batu

Tingkat Hunian Hotel (X1) Pendapatan Sektor Pariwisata (Y) Jumlah Wisatawan (X2) Jumlah Hotel (X3)

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran  C.  Hipotesis Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Ini merupakan makna global/ umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita.. Ini merupakan struktur

Kekurangpahaman tentang konsep-konsep dasar adalah penyebab utama kesulitan dalam mempelajari prinsip-prinsip dengan metode penemuan terbimbing.. Kegiatan

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul: Karakteristik Penderita Kanker Serviks Yang Dirawat di Rumah Sakit Pemerintah Di Kota Medan tahun 2014

Faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam memahami materi larutan penyangga, antara lain: (a) kurangnya minat dan perhatian siswa pada saat proses

Selain itu, hasil signifikansi yang diperoleh lewat uji-t pada SPSS, didapatkan hasil signifikansi variabel X nya adalah 0.000 dimana nilai tersebut < 0.1

Sulistyorini, R., Tamin, O.Z., (2008), The Application of Gravity Model Combined With Multi-Nomial-Logit Model under Equilibrium Assignment, Seminar Nasional Forum Studi

Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV Sekolah Dasar Muhammadiyah 036 Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar tahun ajaran 2014-2015 dengan jumlah siswa

Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian di SMP Negeri 1 Bandar Mataram ini adalah manajemen diri, yaitu untuk mengontrol atau mengatur proses belajar siswa yang