• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. STANDAR KOMPETENSI KERJA BIDANG TATA RIAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. STANDAR KOMPETENSI KERJA BIDANG TATA RIAS"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1. SKKNI

Secara epistmologis, dapat diartikan sebagai standar yang dibentuk menjadi ukuran dan telah disepakati atas kemampuan individu yang dapat diobsevasi mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai profesi dan kualifikasinya dengan standar performa yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, SKKNI meliputi kesepakatan tentang kompetensi yang diperlukan pada suatu bidang pekerjaan oleh keseluruhan stakeholder di bidangnya yang berisikan rumusan kemampuan yang harus dimiliki individu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaannya berdasar pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang telah disetujui oleh pekerja sebagai syarat sebelum terjun dalam profesi tersebut.

Konsep SKKNI merupakan rumusan kemampuan kerja dengan keterampilan dan keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuann peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. STANDAR KOMPETENSI KERJA BIDANG TATA RIAS SKKNI yang mengatur bidang program studi Tata Rias diantaranya: - KEP.93/MEN/IV/2005, dibentuk dan disahkan pada 20 April 2005. Sektor

Kecantikan Sub Sektor Tata Rias Rambut.

- KEP.248/MEN/XII/2008 dilegalisasi pada 5 Desember 2008. Sektor Jasa Kegiatan Lainnya Bidang Kecantikan Kulit.

- KEP.13/MEN/I/2011, 31 Januari 2011. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan Sub Sektor Pangkas Rambut dan Salon Kecantikan Bidang Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Sub Bidang Modifikasi Rias Pengantin Muslim.

- KEP.19/MEN/II/2011, 10 Februari 2011. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan Sub Sektor Pangkas Rambut dan Salon Kecantikan Bidang Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Sub Bidang Modifikasi Rias Pengantin Melayu.

- KEP.30/MEN/III/2011, 02 Maret 2011. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan Sub Sektor Pangkas Rambut dan Salon Kecantikan Bidang Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Sub Bidang Modifikasi Rias Pengantin Bali.

- KEP.100/MEN/IV/2011, 29 April 2011. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Sub Sektor Pangkas Rambut dan Salon Kecantikan Bidang Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Sub Bidang Modifikasi Rias Pengantin Bugis Makassar.

- KEP.126/MEN/V/2011, 18 Mei 2011. Sektor Jasa Kemasyarakatan dan Perorangan Sub Sektor Pangkas Rambut dan Salon Kecantikan Bidang Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Sub Bidang Modifikasi Rias Pengantin Solo Putri.

- KEP.132/MEN/III/2007, 14 Maret 2007. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perongan Sub Sektor Tata Rias Pengantin Bidang Tata Rias Pengantin Yogya Berkerudung Tanpa Paes.

- KEP.142/MEN/III/2007, 30 Maret 2007. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Sub Sektor Tata Rias Pengantin Bidang Tata Rias Pengantin Betawi.

(2)

- KEP.143/MEN/III/2007, 30 Maret 2007. Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Sub Sektor Tata Rias Pengantin Bidang Tata Rias Pengantin Gaun Panjang.

- KEP.56/MEN Tahun 2014, 11 Februari 2014. Kategori Kegiatan Jasa Lainnya Golongan Pokok Jasa Perorangan Lainnya Kelompok Usaha SPA Area Kerja Manajerial SPA.

- KEP.141/MEN/V/2005, 11 Mei 2005. Sektor Pariwisata Sub Sektor SPA. A. KKNI

KKNI merupakan turunan SKKNI yang berisi konsep hasil pengembangan pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD), Kementrian Tenaga Kerja (KEMENKERTRANS), serta pihak lain yang terkait dengan asosiasi industri, asosiasi profesi, badan atau lembaga sertifikasi profesi, institusi pendidikan dan pelatihan tingkat menengah dan tinggi, badan atau lembaga akreditasi, lembaga sertifikasi profesi, institusi pendidikan dan pelatihan tingkat menengah dan tinggi, badan atau lembaga akreditasi. Pihak-pihak tersebut telah diikutsertakan secara intensif untuk menjamin profesionalitas profesi tertentu, melindungi hak tenaga kerja dan memberi kesetaraan kewajiban kerja bagi pelaku industri.

JENJANG KKNI

Sumber gambar 3 : Penjenjangan KKNI melalui 4 jejak jalan (pathways) serta kombinasi ke-empatnya (Ilustrasi oleh : Rudy Handojo – PII)

Kompetensi yang tertera dalam KKNI mencakup mutu dan jati diri bangsa Indonesia yang berhubungan langsung dengan sistem pendidikan nasional, sistem pelatihan kerja nasional dan sistem penilaian kesetaraan nasional, yang dimiliki Indonesia untuk menghasilkan sumberdaya manusia dari capaian pembelajaran yang telah disepakati dan menjembatani perbedaan antara pihak penyedia kerja dan pihak akademika. Di mana dalam KKNI terdapat kesetaraan antara lapangan pekerjaan dan pedoman akademis yang mengarah pada lapangan kerja sesuai profesi yang akan dituju.

Prinsip dasar yang dikembangkan dalam KKNI ialah memberikan penilaian terhadap unjuk kerja seseorang dalam aspek-aspek keilmuan, keahlian

(3)

dan keterampilan sesuai dengan capaian pembelajaran (learning outcomes) yang diperoleh melalui proses pendidikan, pelatihan atau pengalaman setara dengan deskriptor kualifikasi pada suatu jenjang tertentu, yang telah dilampauinya.

Terkait dengan proses pendidikan, capaian pembelajaran merupakan hasil akhir atau akumulasi proses peningkatan keilmuan, keahlian dan keterampilan seseorang yang diperoleh melalui pendidikan formal, informal atau nonformal. Secara komprehensif, capaian pembelajaran dapat dimaknai sebagai hasil akhir dari suatu proses peningkatan kompetensi atau karir seseorang selama bekerja. Negara-negara lain telah lebih dulu melakukan pengembangan kerangka kualifikasi, yang kemudian sistem tersebut diadopsi oleh Indonesia agar secara kualitas, Indonesia dapat dipadankan dengan asing.

Indonesia sendiri memiliki sistem Unified system atau sistem terpadu sebagai capaian pembelajaran untuk jenis pendidikan akademik, vokasi maupun profesi untuk jenjang kualifikasi yang sama atau setara, bahkan dapat disetarakan dengan hasil pendidikan nonformal atau informal, yang menjadi salah satu dasar dalam pembuatan KKNI. Oleh karena itu, KKNI di Indonesia disusun sebagai satu kesatuan kerangka kualifikasi untuk seluruh sektor pendidikan, pelatihan, dan ketenagakerjaan.

Aplikasi KKNI dalam keterpaduan kurikulum diharapkan dapat: (a) memaksimalkan mutu pendidikan dan pelatihan nasional; (b) meningkatkan pengakuan masyarakat internasional terhadap hasil pendidikan dan pelatihan nasional; (c) meningkatkan pengakuan atas hasil pendidikan nonformal dan informal oleh sistem pendidikan formal; serta (d) menumbuhkan kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap kualitas dan relevansi tenaga kerja yang dihasilkan oleh sistem pendidikan dan pelatihan nasional.

Jenjang kualifikasi yang dibentuk oleh KKNI dibagi menjadi 9 tingkatan, kualifikasi terendah berada pada jenjang 1 dan kualifikasi tertinggi di jenjang 9. Penetapan jenjang 1 sampai 9 dilakukan melalui pemetaan, ditinjau dari sisi sumber (supply push) maupun pengguna (demand pull) tenaga kerja. Deskripsi setiap jenjang kualifikasi dipertimbangkan berdasar kondisi negara secara keseluruhan, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan seni, perkembangan sektor-sektor pendukung perekonomian dan kesejahteraan rakyat dalam aspek perindustrian, pertanian, kesehatan, hukum, dan lain-lain, serta aspek-aspek pembangun jati diri bangsa yang tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika, yaitu komitmen untuk tetap mengakui keragaman agama, suku, budaya, bahasa dan seni sebagai ciri khas bangsa Indonesia.

1. Lulusan pendidikan dasar setara dengan jenjang 1;

2. Lulusan pendidikan menengah paling rendah setara dengan jenjang 2; 3. Lulusan Diploma 1 paling rendah setara dengan jenjang 3;

4. Lulusan Diploma 2 paling rendah setara dengan jenjang 4; 5. Lulusan Diploma 3 paling rendah setara dengan jenjang 5;

6. Lulusan Diploma 4/Sarjana Terapan dan Sarjana paling rendah setara jenjang 6; 7. Lulusan Magister Terapan dan Magister paling rendah setara dengan jenjang 8; 8. Lulusan Doktor Terapan dan Doktor setara dengan jenjang 9;

9. Lulusan pendidikan profesi setara dengan jenjang 7 atau 8; 10. Lulusan pendidikan spesialis setara dengan jenjang 8 atau 9

Terbentuknya setiap jenjang kualifikasi pada KKNI adalah untuk menyetarakan capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan formal, informal, dan non-formal melalui kompetensi kerja yang dicapai di dunia kerja,

(4)

berdasar dari pelatihan berbasis kompetensi (Competence Based Training = CBT) atau program peningkatan jenjang karir. Secara skematik pencapaian setiap jenjang atau peningkatan ke jenjang yang lebih tinggi pada KKNI dapat dilakukan melalui empat metode langkah-langkah (pathways) atau kombinasi dari keempatnya. Langkah tersebut dapat ditempuh melalui pendidikan formal, pengembangan profesi, peningkatan karir di industri, dunia kerja atau melalui akumulasi pengalaman individual.

Fungsi dari beragam pendekatan dalam KKNI, dapat dijadikan rujukan oleh 4 (empat) pemangku kepentingan yang menggunakan KKNI sebagai salah satu solusi peningkatan jenjang kualifikasi. Sektor pendidikan formal dapat memanfaatkan KKNI sebagai acuan dalam merencanakan sistem pembelajaran perguruan tinggi di Indonesia sehingga tepat sasaran sewaktu memposisikan kemampuan lulusannya pada salah satu jenjang kualifikasi KKNI dan memperkirakan kesetaraannya dengan jenjang karir di dunia kerja. Dari sisi lain, pengguna lulusan, asosiasi industri atau dunia kerja secara umum, KKNI sebagai rujukan untuk memperkirakan kualifikasi yang dimiliki oleh pencari kerja dan memberikan posisi yang sesuai jenjang karier serta upah yang tepat.

Hal yang sama juga dapat dilakukan oleh penjenjangan keprofesian di ranah asosiasi profesi. Pemangku kepentingan dari kelompok masyarakat luas juga diakui memiliki jenjang kualifikasi tertentu dalam KKNI apabila memiliki pengalaman otodidak yang dapat memenuhi atau sesuai dengan deskripsi kualifikasi pada level tertentu.

1. PERAN KKNI

Secara umum menurut Kemenristekdikti (2015) KKNI diharapkan dapat menciptakan, mendesain dan mempelopori suatu sistem penyetaraan kualifikasi ketenagakerjaan di Indonesia dan memiliki peran sebagai berikut :

• KKNI harus mampu secara komprehensif dan berkeadilan menampung kebutuhan semua pihak yang terkait dengan ketenagakerjaan serta tidak diragukan oleh masyarakat luas

• KKNI diharapkan memiliki jumlah jenjang dan deskripsi kualifikasi yang jelas dan terukur serta secara transparan dapat dipahami oleh pihak penghasil dan pengguna tenaga kerja baik di tingkat nasional, regional maupun internasional • KKNI yang akan dikembangkan harus bersifat fleksibel, tidak kaku sehingga

dapat mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan keilmuan, keahian dan keterampilan di tempat kerja serta selalu dapat diperbaharui secara berkelanjutan. Sifat lentur yang dimiliki KKNI harus dapat pula memberikan peluang seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai jenjang kualifikasi yang sesuai melalui berbagai jalur pendidikan, pelatihan atau pengalaman kerja termasuk perpindahan dari satu jalur ke jalur kualifikasi yang lain.

• KKNI hendaknya mendorong program-program peningkatan mutu baik dari pihak penghasil maupun pengguna tenaga kerja sehingga kesadaran terhadap peningkatan mutu sumber daya manusia dapat diwujudkan secara nasional. • KKNI cakupannya mengembangkan sistem penjaminan mutu yang memiliki

fungsi pemantauan (monitoring) dan pengkajian (assessment) terhadap badan atau lembaga yang terkait dengan proses-proses penyetaraan capaian pembelajaran dengan jenjang kualifikasi yang sesuai.

(5)

• KKNI memiliki akuntabilitas yang memberikan peluang pada tenaga kerja untuk bergerak dari Indonesia ke negara lain atau sebaliknya.

• KKNI harus dapat menjadi pedoman dan menyamakan persepsi para pencari kerja yang baru maupun lama dalam upaya meningkatkan taraf hidup atau karir ditempat kerja masing-masing.

• KKNI diharapkan dapat menguatkan integrasi dan koordinasi badan atau lembaga penjaminan atau peningkatan mutu yang telah ada, seperti Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Badan Akreditasi Nasional (BAN), Badan Nasional Sertifikasi Pekerja (BNSP), Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan lain-lain.

• KKNI diharapkan mencakup sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sedemikian sehingga dapat menjamin terjadinya fleksibilitas pengembangan karir atau peningkatan jenjang kualifikasi.

2. FORMAT KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (KKNI)

Pada penerapannya, KKNI memiliki format yang terstandar dan terstruktur, berikut akan dijabakan standardisasi KKNI berdasar KKNI Pariwisata subsektor SPA.

FORMAT STANDAR KKNI

Kode Kode unit diisi dan ditetapkan dengan mengacu pada format kodifikasi SKKNI.

Judul Mendefinisikan tugas/pekerjaan suatu unit kompetensi yang menggambarkan sebagian atau keseluruhan standar kompetensi

Deskripsi Unit

Menjelaskan Judul Unit yang mendeskripsikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mencapai standar kompetensi

Elemen Kompetensi

Mengidentifikasi tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk mencapai kompetensi berupa pernyataan yang menunjukkan komponen-komponen pendukung unit kompetensi sasaran apa yang harus dicapai

Kriteria Unjuk Kerja

Menggambarkan kegiatan yang harus dikerjakan untuk memperagakan kompetensi di setiap elemen, apa yang harus dikerjakan pada waktu menilai dan apakah syarat-syarat dari elemen dipenuhi.

Batasan Variabel

Ruang lingkup, situasi dan kondisi dimana kriteria unjuk kerja diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit dan memberikan informasi lebih jauh tentang tingkat otonomi

(6)

perlengkapan dan materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syarat-syarat yang ditetapkan, termasuk peraturan dan produk atau jasa yang dihasilkan.

Panduan Penilaian

Membantu menginterpretasikan dan menilai unit dengan mengkhususkan petunjuk nyata yang perlu dikumpulkan, untuk memperagakan kompetensi sesuai tingkat keterampilan yang digambarkan dalam kriteria unjuk kerja, yang meliputi : - Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk

seseorang dinyatakan kompeten pada tingkatan tertentu. - Ruang lingkup pengujian menyatakan di mana,

bagaimana dan dengan metode apa pengujian seharusnya dilakukan.

- Aspek penting dari pengujian menjelaskan hal-hal pokok dari pengujian dan kunci pokok yang perlu dilihat pada waktu pengujian.

Kompetensi kunci

Keterampilan umum yang diperlukan agar kriteria unjuk kerja tercapai pada tingkatan kinerja yang dipersyaratkan untuk peran / fungsi pada suatu pekerjaan.

Kompetensi kunci meliputi:

- Mengumpulkan, mengorganisi dan menganalisa informasi. - Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi.

- Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas. - Bekerja dengan orang lain dan kelompok.

- Menggunakan ide-ide dan teknik matematika. - Memecahkan masalah.

- Menggunakan teknologi.

Kompetensi kunci dibagi dalam tiga tingkatan yaitu : • Tingkat 1 harus mampu :

- Melaksanakan proses yang telah ditentukan.

- Menilai mutu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

• Tingkat 2 harus mampu : - Mengelola proses.

- Menentukan kriteria untuk mengevaluasi proses. • Tingkat 3 harus mampu :

- Menentukan prinsip-prinsip dan proses. - Mengevaluasi dan mengubah bentuk proses. - Menentukan kriteria untuk pengevaluasian proses. Sumber Tabel 3 : Dokumen KKNI Bidang SPA

(7)

B. UJI KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI

Pasar tenaga kerja membutuhkan tenaga kerja yang profesional dan kompeten dalam setiap bidang profesinya. Dunia industri dan akademik menjembatani tenaga kerja agar lebih mudah diakui profesionalismenya melalui sertifikasi kompetensi yang diterbitkan oleh lembaga otoritas yang sah dan diakui secara hukum negara Indonesia. Kompeensi kerja adalah spesifikasi dari sikap, pengetahuan dan keterampilan terkait keahlian dan implikasi efektivitas kerja yang sesuai standar kerja.

Sertifikasi kompetensi merupakan proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu pada standar kompetensi kerja nasional, regional maupun internasional. Dengan memiliki bukti sertifikat kompetensi, maka individu akan mendapat bukti pengakuan secara tertulis bahwa dirinya ahli dan memiliki kompetensi yang telah dikuasainya sesuai sertifikasi yang dilaksanakan.

C. BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI (BNSP)

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi dinyatakan sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 mengenai ketenagakerjaan. BNSP adalah lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah RI untuk menjalankan tugasnya yakni melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.

BNSP bertanggung jawab terhadap Presiden, untuk :

1. Melaksanakan dan mengembangkan sisem sertifikasi kompetensi kerja

2. Melaksanakan dan mengembangkan sertifikasi pendidikan dan pelatihan vokasional, serta melakukan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan sistem sertifikasi kompetensi kerja nasional

3. Mengembangkan pengakuan sertifikasi kompetensi kerja nasional dan internasional serta mengembangkan kerja sama antar lembaga, baik nasional dan internasional di bidang sertifikasi profesi

4. Melaksanakan dan mengembangkan sistem data dan informasi sertifikasi kompetensi kerja yang terintegrasi.

D. LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI (LSP)

LSP adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan sertifikasi profesi yang telah memenuhi syarat dan memperoleh lisensi dari BNSP. LSP mendapat lisensi atau bentuk pengakuan dari BNSP kepada LSP untuk dapat melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja atas nama BNSP. LSP khusus bidang tata rias, melaksanakan tugasnya untuk menguji kapasitas kompetensi yang dimiliki oleh pekerja bidang tata rias termasuk akademisi yang bekerja dalam ranah tata rias.

LSP berwewenang menguji dan mengeluarkan sertifikat apabila asesi (individu yang diuji atau mengikuti uji kompetensi) telah dinyatakan kompeten selama proses ujian yang dinilai oleh asesor. Pada sektor kecantikan lain, terdapat bidang SPA yang berada di-bawah naungan Pariwisata. Uji Kompetensi dilaksanakan oleh LSP Kecantikan, LSP SPA, LSP Pariwisata, LSP Tirta Nirwana, LSPA SPA Nasional. Di bidang Tata Rias Pengantin, Uji Kompetensi dilakukan oleh LSP Tata Rias Pengantin Modifikasi.

LSP yang telah disebutkan, tergolong sebagai LSP 3 yang berhak menguji sektor non-formal. Terdapat dua jenis LSP lain, yakni LSP 2, untuk sektor indistri

(8)

formal dan LSP 1 yang disediakan untuk menguji kompetensi peserta didik. Anda sebagai seorang guru Tata Rias, diperkenankan memilih bidang kompetensi yang Anda ingin perdalam, kemudian pahami setiap teori maupun praktiknya.

IMPELEMENTASI KKNI

Sumber gambar 4 : Keterkaitan badan atau lembaga penjaminan mutu untuk bidang-bidang pendidikan dan pelatihan dalam dokumen strategi implementasi KKNI oleh Kemenristekdikti, 2015.

Selain LSP, terdapat LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi) di bawah naungan Direktorat Jendral (Ditjend) PLS dan PAUD Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) yang menguji kompetensi para peserta kursus.

E. ALUR DAN SYARAT UJI KOMPETENSI

Sertifikasi merupakan proses terstuktur, sistematis, dan objektif yang dinilai menggunakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), dengan tenaga penilai ialah asesor yang telah berpengalaman dalam bidangnya dan telah teruji kompetensinya untuk memberikan penilaian sesuai persyaratan-persyaratan BNSP. Uji kompetensi, dapat dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan daya saing positif, memacu produktivitas dan syarat seseorang dapat dikatakan profesional.

Syarat-syarat melakukan uji kompetensi berupa: • Berpengalaman dalam bidang profesinya

• Memiliki ijazah sekolah formal maupun non-formal

• Memiliki sertifikat penunjang yang membuktikan bahwa individu tersebut telah bekerja atau berkecimpung dalam kompetensi yang akan diujikan

• Memahami proses pelaksanaan uji kompetensi

• Mengumpulkan bukti-bukti yang dibutuhkan saat pra-uji (pra-assesment) • Setuju akan di uji kompetensinya, dengan menandatangani surat persetujuan

(9)

PROSEDUR SERTIFIKASI

Sumber gambar 5 Contoh prosedur sertifikasi dari LSP bidang SPA : http://www.lspcohespa.org/sertifikasi/index/32

F. KIAT-KIAT LULUS UJI KOMPETENSI

Sebagai tenaga pendidik kompeten dalam bidang tata rias, maka Anda diwajibkan mengikuti uji kompetensi dan diakui keahliannya dengan sertifikat keahlian, minimal satu jenis keahlian. Pendidikan tata rias merupakan pendidikan vokasional yang tidak hanya bertumpu pada kajian teoritis, namun memiliki fokus untuk mempraktikan keterampilan khusus.

(10)

Sumber gambar 6 Prosedur skema uji kompetensi : http://training-yogya.com/wp-content/uploads/2016/09/PPUK.png

Hal-hal yang perlu dibawa saat melaksanakan uji kompetensi, diantaranya adalah:

• Alat tulis (Pensil, pulpen, penghapus, tip-ex)

• Pas foto, sediakan dalam beberapa ukuran (2x3, 3x4 dan 4x6) • Lem untuk merekatkan foto

• Materai yang ditempel di surat persetujuan, sebagai bukti Anda siap dan setuju akan melakukan uji kompetensi

• Baju laboratorium

• Alat dan bahan untuk kompetensi yang akan diuji • Berkas-berkas

Agar Anda dapat lulus dalam uji kompetensi, maka ikuti langkah sederhana berikut.

1. Persiapkan diri Anda secara matang, tingkatkan kepercayaan diri, berpikirlah positif dan bersikap optimis.

2. Ikuti pelatihan sesuai bidang kompetensi, magang dan pahami pra uji kompetensi.

3. Persiapkan teori dan alat serta bahan untuk praktikum 4. Pahami hakikat dari uji kompetensi

5. Pelajari KKNI, SKKNI dan Unit Kompetensi

6. Kuasai Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerjanya

7. Perhatikan penampilan diri sebelum melakukan uji kompetensi, seperti kebersihan diri, pakaian lab atau pakaian terapis, sepatu flat shoes berwarna hitam atau putih polos, rambut dikuncir atau hijab yang digunakan simpel dan nyaman (gunakan hanya dua warna, hitam atau putih), tidak menggunakan aksesoris tangan (jam tangan dan atau gelang).

8. Berlatihlah sering mungkin mengenai materi yang akan Anda uji, baik materi teori maupun praktikum.

(11)

9. Tenang dan rileks saat menghadapi asesor.

10. Kerjakan hal yang biasa Anda lakukan dalam profesi Anda, selama proses ujian berlangsung.

11. Berikan jawaban terbaik saat ujian lisan 12. Kerjakan ujian teori seoptimal mungkin

13. Setelah rangkaian ujian selesai, berdoalah sambil menunggu hasilnya.

Suasana uji kompetensi dalam bidang Tata Rias, akan diilustrasikan dalam dokumentasi berikut.

SUASANA UJI KOMPETENSI TATA RIAS

(12)

CONTOH SERTIFIKAT UJI KOMPETENSI TAMBAK DEPAN DAN BELAKANG

Sumber gambar 8 Contoh Sertifikat Uji Komptensi tampak depan dan belakang : Dokumen pribadi

Referensi

Dokumen terkait

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian, serta sikap

KKNI  merupakan  salah  satu  langkah  untuk  mewujudkan  mutu  dan  jati  diri  bangsa  Indonesia  dalam  sektor  sumber  daya  manusia  yang  dikaitkan 

Standar Kompetensi Lulusan berbasis KKNI adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja

Deskripsi Unit : Unit kompetensi ini mencakup pelaksanaan komisioning sistem proteksi bay kapasitor sesuai prosedur dan persyaratan standar yang berlaku.. Elemen Kompetensi

Kompetensi ditentukan berdasarkan bukti yang ditunjukan secara konsisten melalui penerapan secara umum yang mencakup hal-hal seperti peralatan, rangkaian, sistem pengawatan,

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya disebut SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian,

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan dan mengintegrasikan antara

DESKRIPSI UNIT : Unit kompetensi ini mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku yang diperlukan untuk mampu menerapkan Keahlian dalam Manajemen.. Mutu