KABUPATEN PINRANG Disusun dan diusulkan oleh:
IKBAL
Nomor Stambuk: 105640 1014 10
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan
Disusun dan Diajukan oleh: IKBAL
Nomor Stambuk: 105640 1014 10
Kepada
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
iii
Alhamdulillah, puji dan syukur atas izin dan petunjuk Allah SWT, sehingga skripsi dengan Judul : “Implementasi Kebijakan Distribusi Pupuk Bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang” dapat diselesaikan. Pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan karya ini yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata dan dituliskan dengan kalimat apapun. Tak lupa juga penulis panjatkan salawat dan salam atas junjungan Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang senantiasa istiqomah memperjuangkan agama Allah hingga akhir zaman.
Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :
1. Kedua orang tuaku tercinta H. Tahir dan Hj. Suheda yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tak berpamrih. 2. Bapak Dr. H. Rahman Rahim,MM., Rektor Universitas Muhammadiyah
Makassar.
3. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M. Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiya Makassar.
iii
meluangkan waktunya untuk memberikan masukan yang membangun sehingga penyusun skripsi ini dapat penulis rampungkan., dan Bapak Adnan Ma’ruf, S. Sos., M. Si., pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberikan masukan yang membangun sehingga penyusun skripsi ini dapat penulis rampungkan
6. Bapak/ibu dan asisten Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.
7. Kawan-kawan seperjuangan di organisasi, yang atsas berkat transpormasi pemikiran doa dan dukungannya,sehingga penulis dapat merampungkan penulis skripsi ini.
Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa skipsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh krnaitu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan skipsi ini. Mudah-mudahan skipsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Alma Mater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 6 Februari 2017
Ikbal
vii DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ... i
Halaman Persetujuan ... ii
Halaman Pengesahan ... iii
Kata Pengantar ... iv
Abstrak ... vi
Daftar Isi ... vii
Daftar Tabel ... viii
Daftar Gambar ... ix Daftar Lampiran ... x BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Tinjauan Pustaka ... 8
B. Kerangka Pikir ... 34
BAB III METODE PENELITIAN ... 36
A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 36
B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 36
C. Sumber dan Jenis Data ……… 36
D. Informan Penelitian ... 37
E. Teknik Pengumpulan Data ... 37
F. Teknik Analisis Data ……….. 38
G. Keabsahan Data ………. . 38
BAB IV HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN... 39
A. Gambaran Umum Objek Penelitian ……… 39
B. Implementasi Kebijakan Distribusi Pupuk...47
C. Pengaruh Tepat Harga ………. 50
D. Pengaruh Tepat Jumlah……… 52
E. Kesesuaian Harga dan Jumlah Pupuk Bersubsidi ……… 53
BAB V PENUTUP ... 56
A. Kesimpulan ... 56
B. Saran ... 56
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
Tabel 3.1
Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3
Informan atau Responden ... Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.... Karakteristik Responden Berdasarkan Umru ... Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...
…………... 25 ... 33 ... 34 ... . 34
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
x
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A
A.1 Nama Informan atau Responden A.2 Persuratan
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah pupuk di Indonesia selalu menjadi persoalan yang menyentuh langsung pada kebutuhan dan keberlangsungan petani dalam mengelolah lahan. Oleh karena itu, ketika pupuk langkah dan harganya mahal maka petanilah yang akan menjadi korban utamanya. Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan subsidi pupuk bagi petani. Dengan adanya keterbatasan Pemerintah dalam penyediaan subsidi pupuk dalam rangka pogram pemerintah, maka pupuk bersubsidi hanya diperuntukan bagi usaha pertanian yang meliputi petani tanaman pangan, peternakan dan perkebunan rakyat.
Masalah yang terjadi adalah keterlambatan dalam penyaluran pupuk subsidi, sementara satu minggu saja terlambat maka berpengaruh besar terhadap tanaman.Permasalahan lainnya adalah harga tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Harga pupuk bersubsidi malah lebih tinggi dijual di kios-kios pupuk
Pupuk merupakan sarana produksi yang strategis dan menjadi salah satu faktor penentu dalam meningkatkan produksi komoditas pertanian.
Kebijakan ini diharapkan dapat melindungi petani yang pada akhirnya bisa meningkatkan produktivitas dan meningkatkan taraf ekonomi para petani. Melalui kementerian pertanian (Kementan), pemerintah telah
mengalokasikan subsidi pupuk untuk petani. Program ini dilakukan sebagai bagian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sangat diperlukan adanya dukungan penyediaan pupuk yang memenuhi prinsip dari segi jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, dan mutu.
Pada awalnya penggunaan pupuk kimia mampu meningkatkan hasil panen, akan tetapi lama kelamaan hasil panen makin merosot dan kondisi tanah makin lama makin tidak subur. Dari berbagai penelitian yang mendalam dan memakan waktu lama akhirnya diketahui bahwa kekurangan unsur biologilah salah satunya yang menyebabkan tanah semakin lama semakin tidak subur. Unsur biologi tanah dibagi menjadi dua, yaitu mikroba tanah dan hormon pertumbuhan pada tumbuhan
Pedoman pelaksanaan penyediaan pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian tahun 2016, pupuk adalah bahan kimia atau organisme yang berperan dalam penyediaan unsur hara bagi keperluan tanaman secara langsung atau tidak langsung.
Pupuk mengandung bahan baku pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Pupuk juga dapat diartikan sebagai bahan alami atau buatan yang mengandung unsur-unsur kimia yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Pupuk dapat meningkatkan kesuburan alami tanah atau mengganti unsur-unsur kimia yang sebelumnya yang diambil dari tanah oleh tanaman. dalam kandungan pupuk memiliki satu atau lebih dari tiga unsur penting atau
unsur primer dalam nutrisi tanaman yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium. sedangkan unsur sekunder yaitu sulfur, magnesium dan kalsium.
Pupuk bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program Pemerintah, sedangkan pupuk non subsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya di luar program Pemerintah dan tidak mendapat subsidi.
Jenis subsidi pupuk yang dijalankan selama ini adalah subsidi harga atau subsidi tidak langsung di mana alokasi pupuk subsidi yang telah diusulkan oleh pemda dan ditetapkan oleh pemerintah pusat itu dilanjutkan dengan pengiriman dari produsen yang ditugaskan kedistributor hingga pengecer, ke kelompok petani dan petani.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan tahun 2016 bahwa saat ini di pasar terdapat dua harga pupuk yaitu harga subsidi dan harga non subsidi, Panjangnya rantai distribusi pada pupuk bersubsidi dan terdapatnya dua harga pupuk di pasaran memicu munculnya beberapa masalah dan potensi masalah di lapangan yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat, diantaranya adalah terjadinya pengoplosan pupuk subsidi dan non subsidi, terjadinya pemalsuan pupuk bersubsdi, panjangnya rantai bersubsidi sehingga melemahkan tingkat pengawasan dari pemerintah, terjadinya penyelundupan pupuk bersubsidi, terjadinya pemalsuan kuota pupuk dari daerah yang harga pupuknya murah ke daerah yang harganya mahal.
Untuk mengatasi permasalahan distribusi pupuk bersubsidi tersebut, muncul pemikiran untuk menyalurkan subsidi pupuk secara langsung kepada petani yang berhak dan bukan lagi dalam bentuk subsidi harga/subsidi tidak langsung/subsidi input kepada perusahaan-perusahaan pupuk seperti yang dilakukan selama ini.
Definisi singkat dari kebijakan subsidi pupuk secara langsung adalah bahwa suatu kebijakan subsidi dimana petani menerima dana subsidi harga secara langsung dari pemerintah (berupa uang atau yang semisalnya) sehingga dalam transaksi pembelian pupuk, seorang petani akan dikenakan harga pasar, namun petani tersebut hanya membayar harga neto sebesar harga pasar dikurangi dengan subsidi harga yang petani terima.
Beberapa potensi keuntungan dari kebijakan subsidi pupuk secara langsung adalah harga pupuk untuk suatu jenis pupuk di pasar hanya satu macam sehingga potensi terjadinya penyelewengan dalam masalah persediaan pupuk yang disebabkan oleh dualisme harga dapat diminimalisir, mekasisme distribusi akan lebih sederhana dan lebih dirasakan oleh petani karena subsidi pupuk dapat diterima secara langsung, perhitungan besaran subsidi bisa lebih sederhana jika data jumlah petani yang berhak menerima dan volume pupuk yang subsidi dapat diperoleh secara valid.
Beberapa masalah yang mungkin akan menghambat pelaksanaan kebijakan subsidi pupuk langsung adalah belum tersedianya data tentang petani yang berhak menerima subsidi pupuk secara langsung. Setelah melakukan evaluasi dan penelaahan, skema, dan instansi yang selama ini
terlibat dalam penyaluran subsidi tidak langsung maka subsidi pupuk secara langsung yang sederhana mungkin dan mudah di implementasikan dilapangan yaitu dengan menggunakan kartu elektrik dan bekerjasama dengan perbankan di Indonesia yang mempunyai jaringan luas serta berkoordinasi dengan seluruh instansi/pihak yang terlibat selama ini seperti pegecer, distributor, dan perusahaan pupuk.
Skema mekanisme dalam mengimlementasi kebijakan distribusi pupuk dimulai dari keputusan Kementerian Pertanian yang dianggap akan tetap menggunakan akumulasi data RDKK (tahun lalu) sebagai basis data dalam penentuan target penerima subsidi pupuk tahun berjalan. Dari akumulasi data RDKK tersebut Kementerian Pertanian dapat mengetahui berapa volume total dan jenis pupuk bersubsidi secara nasional perprovinsi (yang merupakan agregasi dari jenjang-jenjang di bawahnya) dan alokasi dana subsidi yang diperlukan untuk menutup kebutuhan pupuk bersubsidi tersebut.
Kementerian pertanian melakukan pembahasan dan meminta alokasi pupuk tersebut kepada Kementerian Keuangan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60/Permentan/SR.130/12/2015 tentang kebutuhan pupuk bersubsidi di sektor pertanian tahun anggaran 2016 guna kelancaran pelaksanaan dan penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2016 di mulai 1 januari 2016.
Kebijakan pupuk bersubsidi di Indonesia telah berhasil mendorong adopsi penggunaan pupuk di tingkat petani yang berdampak pada peningkatan produksi pertanian, misalnya pada kasus padi kebijakan ini telah
mengantarkan Indonesia pada swasembada beras pada tahun 1984. Disisi lain, kebijakan subsidi pupuk ini telah menciptakan ketergantungan yang tinggi pada penggunaan pupuk ditingkat petani. Oleh karena itu disuatu kebijakan pengurangan/pencabutan subsidi yang mendorong terjadinya kenaikan harga pupuk akan berdampak langsung pada penurunan penggunaan pupuk.
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan maka peneliti mengangkat judul penelitian dengan judul: “Implementasi Kebijakan Distribusi Pupuk Bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang menjadi masalah pokok dalam penulisan ini adalah:
1. Bagaimana kebijakan distribusi pupuk bersubsidi diDesa Samaenre Kecamatan Mattriro Sompe?
2. Bagaimana pengaruh tepat harga dan tepat jumlah pupuk terhadap pendapatan petani?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan proposal iniadalah :
1. Untuk mengetahui kebijakan distribusi pupuk bersubsidi diDesa Samaenre Kecamatan Mattriro Sompe.
2. Untuk mengetahui pengaruh tepat harga dan tepat jumlah pupuk terhadap pendapatan petani.
D. Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai kebijakan distribusi pupuk bersubsidi Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang.
b. Manfaat Praktis
1. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan strategi pembangunan dalam mengembangkan potensi sektor pertanian pangan.
2. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi peneliti lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Sebagai bahan informasi dan sumber ilmu pengetahuan bagi penulis atau peneliti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Pupuk
Pupuk adalah zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk dapat diberikan melalui tanah atau disemprotkan ke daun. Dalam arti luas yang dimaksud pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Sedangkan pengertian yang khusus pupuk ialah suatu bahan yamg mengandung satu atau lebih hara tanaman.
Menurut Pedoman Pelaksanaan Penyediaan Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun 2012, pupuk adalah bahan kimia atau organisme yang berperan dalam penyediaan unsur hara bagi keperluan tanaman secara langsung atau tidak langsung.
Pupuk mengandung bahan baku pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Pupuk juga dapat diartikan sebagai bahan alami atau buatan yang
mengandung unsur-unsur kimia yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Pupuk dapat meningkatkan kesuburan alami tanah atau mengganti unsur-unsur kimia yang sebelumnya yang diambil dari tanah oleh tanaman. Dalam kandungan pupuk memiliki satu atau lebih dari tiga unsur penting atau unsur primer dalam nutrisi tanaman yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sekunder yaitu sulfur, magnesium dan kalsium.
Komponen utama dalam pupuk adalah nutrisi yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman menggunakan nitrogen dalam proses sintesis protein, asam nukleat dan hormon. Ketika tanaman kekurangan nitrogen pertumbuhan tanaman akan terganggu yang biasanya ditandai dengan menguningnya daun. Tanaman juga membutuhkan fosfor, komponen asam nukleat, fosfolipid, dan beberapa protein. Unsur-unsur tersebut juga diperlukan untuk menyediakan energi untuk mendorong reaksi kimia metabolisme.
2. Sejarah Pupuk
Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5000 tahun yang lalu. Pemikiran mereka yang menyatakan bahwa kebutuhan bahan kimia sintetik atau bahan yang telah dikembangkan dengan pengetahuan kimia dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas makanan. Kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai Nil, Euphrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin. Dalam perkembangannya petani kuno telah mengetahui bahwa hasil panen yang pertama kali pada sebidang tanah jauh lebih baik dari pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini menyebabkan pola pertanian yang
dilakukan petani pada waktu itu bersifat nomaden yaitu berpindah dari lahan yang satu ke lahan yang lain yang lebih subur.
Waktu ke waktu akhirnya ditemukan bahwa pertumbuhan tanaman pada sebidang tanah dapat ditingkatkan dengan menyebarkan kotoran hewan ternak sebagai pupuk kandang di seluruh lahan pertanian mereka. Seiring waktu teknologi pupuk menjadi lebih maju, zat baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman telah ditemukan. Dari tulisan-tulisan Yunani dan Romawi kuno menunjukan bahwa para petani sudah menggunakan kotoran ternak mereka sebagai pupuk kandang, mereka menyebarkan di seluruh lahan pertanian mereka.
Peradaban islam juga mencatat pemupukan telah menjadi bagian dari pertanian. Dari berbagai temuan teknologi pupuk, maka dalam pembuatan pupuk juga telah ditambahkan bahan lain yang dapat membantu proses pertumbuhan tanaman yang diantaranya yaitu, kerang laut, tanah liat, limbah sayuran, limbah dari proses manufaktur yang berbeda, dan berbagai macam sampah.
Dimulai pada awal abad ke tujuh belas penelitian dan pengembangan dalam teknologi pupuk dilakukan, Francis Bacon dan Johan Glauber seorang ilmuwan kimia telah berhasil mengembangkan pupuk mineral lengkap untuk yang pertama kalinya, pupuk tersebut merupakan campuran dari berbagai zat yang diantaranya yaitu, sendawa, zat kapur, asam fosfat, nitrogen dan kalium. Selanjutnya diceritakan menurut buku The World Without Us karya Alan Weisman tahun 2007, dituliskan bahwa awal penenemuan pupuk dimulai saat seorang John Bannet Lewis mengamati petani hertfordshire yang menggali kapur sisa mahluk laut purba yang terkubur di bawah lapisan lempung tanah untuk
ditebarkan pada parit-parit di sekitar ladang mereka. Lewis menemukan bahwa kapur sisa mahluk purba laut tersebut dapat menyuburkan tanaman lobak dan biji-bijian. Dari kuliahnya di Oxford, lewis mengetahui bahwa kapur yang ditebarkan petani bukan sebagai makanan tambahan bagi tanaman, melainkan bahan pelunak tanah sehingga tanah tidak terlalu asam.
Proses penambahan zat untuk tanah untuk meningkatkan kapasitasnya semakin dikembangkan pada hari-hari awal pertanian. Petani kuno tahu bahwa hasil pertama pada sebidang tanah jauh lebih baik daripada tahun-tahun berikutnya. Hal ini menyebabkan mereka pindah ke yang baru, digarap daerah, yang kembali menunjukkan pola yang sama dari hasil berkurang dari waktu ke waktu. Akhirnya ditemukan bahwa pertumbuhan tanaman di sebidang tanah dapat ditingkatkan dengan menyebarkan hewan kotoran seluruh tanah.
Seiring berjalannya waktu, teknologi pupuk menjadi lebih halus. Zat baru yang meningkatkan pertumbuhan tanaman ditemukan. Orang Mesir diketahui telah menambahkan abu dari membakar gulma ke tanah. Tulisan-tulisan Yunani dan Romawi kuno menunjukkan bahwa kotoran hewan yang digunakan, tergantung pada jenis tanah atau tanaman tumbuh. Itu juga diketahui saat ini bahwa tumbuh tanaman polongan di lahan sebelum penanaman gandum adalah menguntungkan. Jenis lain dari bahan ditambahkan termasuk kerang laut, tanah liat, limbah sayuran, limbah dari proses manufaktur yang berbeda, dan lain berbagai macam sampah.
Penelitian disusun dalam teknologi pupuk dimulai pada awal abad ketujuh belas. Awal ilmuwan seperti Francis Bacon dan Johann Glauber menjelaskan efek
menguntungkan dari penambahan sendawa ke tanah. Glauber mengembangkan pupuk mineral lengkap pertama, yang merupakan campuran sendawa, kapur, asam fosfat, nitrogen, dan kalium. Seperti teori-teori ilmiah yang dikembangkan kimia, kebutuhan kimia tanaman ditemukan, yang menyebabkan komposisi pupuk ditingkatkan.
Organik kimia Justus von Liebig menunjukkan bahwa tanaman membutuhkan unsur mineral seperti nitrogen dan fosfor untuk tumbuh. Industri pupuk kimia bisa dikatakan memiliki awal dengan paten yang dikeluarkan untuk Sir John Lawes, yang diuraikan metode untuk memproduksi suatu bentuk fosfat yang merupakan pupuk yang efektif. Industri pupuk sintetis mengalami pertumbuhan yang signifikan setelah Perang Dunia Pertama, ketika fasilitas yang telah menghasilkan amonia dan nitrat sintetis untuk bahan peledak dikonversi menjadi produksi nitrogen pupuk berbasis.
3. Bahan Baku Pupuk
Pupuk diuraikan di sini adalah senyawa pupuk terdiri dari pupuk primer dan sekunder nutrisi. Ini hanya mewakili satu jenis pupuk, dan tunggal lainnya nutrisi jenis juga dibuat. Bahan baku, dalam bentuk padat, dapat diberikan kepada produsen pupuk dalam jumlah massal ribu ton, jumlah drum, atau wadah drum logam dan tas.
Pupuk utama termasuk zat yang berasal dari nitrogen, fosfor, dan kalium. Berbagai bahan baku yang digunakan untuk memproduksi senyawa ini. Ketika amonia digunakan sebagai sumber nitrogen dalam pupuk, salah satu metode produksi sintetik memerlukan penggunaan gas alam dan udara.
Komponen fosfor dibuat menggunakan belerang, batubara, dan batu fosfat. Sumber kalium berasal dari kalium klorida, komponen utama kalium.
Nutrisi sekunder ditambahkan ke beberapa pupuk untuk membantu membuat mereka lebih efektif. Kalsium diperoleh dari batu gamping, yang berisi kalsium karbonat, kalsium sulfat, dan kalsium magnesium karbonat. Sumber magnesium dalam pupuk berasal dari dolomit. Sulfur merupakan bahan yang ditambang dan ditambahkan ke pupuk. Bahan ditambang lainnya termasuk besi dari besi sulfat, tembaga, dan molibdenum dari molibdenum oksida.
Penggunaan pupuk kimia an-organik yang tidak terkendali menjadi salah satu penyebab penurunan kualitas kesuburan fisik dan kimia tanah. Keadaan ini semakin diperparah oleh kegiatan pertanian secara terus-menerus (intensif), sedang pengembalian ke tanah pertanian hanya berupa pupuk kimia Urea, TSP, dan KCl (unsur N, P, K saja), bahkan pada keadaan ekstrim hanya unsur N lewat pemberian pupuk Urea saja dan hanya sangat sedikit unsur-unsur organik yang dikembalikan ke dalam tanah. Hal ini mengakibatkan terdegradasinya daya dukung dan kualitas tanah pertanian di Indonesia, sehingga produktivitas lahan semakin turun.
Penumpukan sisa atau residu pupuk kimia an-organik merupakan salah satu penyebab utama mengerasnya daripada sisa bahan organik. Jika tanah semakin keras maka tanah semakin tidak responsif terhadap pupuk kimia an-organik tanah-tanah pertanian. Keadaan ini banyak terjadi di sentra-sentra pertanian terutama di Pulau Jawa. Residu pupuk kimia an-organik di dalam tanah ini mengakibatkan terhambatnya proses dekomposisi secara alami oleh mikroba di
dalam tanah. Hal ini dikarenakan sifat bahan kimia an-organik yang lebih sukar terurai, sehingga berapapun banyaknya tanah diberi pupuk kimia an-organik hasilnya tetap tidak optimal. Mengerasnya tanah pertanian juga akan mengakibatkan porositas tanah menurun, sehingga ketersediaan oksigen bagi tanaman maupun mikrobia tanah menjadi sangat berkurang. Dampak lainnya adalah terhadap pertumbuhan tanaman.
Terbatasnya penyebaran akar dan terhambatnya suplai oksigen ke akar mengakibatkan fungsi akar tidak optimal, yang pada gilirannya menurunkan produktivitas tanaman.
4. Pemakaian Pupuk Kimia di Pertanian
Pada awalnya penggunaan pupuk kimia mampu meningkatkan hasil panen, akan tetapi lama kelamaan hasil panen makin merosot dan kondisi tanah makin lama makin tidak subur. Dari berbagai penelitian yang mendalam dan memakan waktu lama akhirnya diketahui bahwa kekurangan unsur biologilah salah satunya yang menyebabkan tanah semakin lama semakin tidak subur. Unsur biologi tanah dibagi menjadi dua, yaitu mikroba tanah dan hormon pertumbuhan pada tumbuhan.
Pupuk organik secara temporer telah meningkatkan hasil pertanian akan tetapi keuntungan hasil panen akhirnya berkurang banyak dengan adanyapenggunaan pupuk ini karena adanya sesuatu yang timbul akibat adanya degradasi (pencemaran) lingkungan pada lahan pertanian. Pencemaran kimia dari pupuk merupakan pencemaran unsur-unsur hara tanaman.Tanah-tanah yang dipindahkan oleh erosi umumnya mengandung unsur hara yang lebih tinggi
daripada tanah yang ditinggalkan karena lapisan tanah yang tererosi umumnya adalah lapisan atas yang subur. Akibat pencemaran dari pemakaian pupuk organik yang terlalu banyak secara terus-menerus akan menyebabkan unsur hara yang ada dalam tanah menurun.
Di Indonesia sendiri, sebagian besar lahan pertanian menjadi lahan kritis. Lahan pertanian yang telah masuk dalam kondisi kritis mencapai 66% dari total 7 juta hektar lahan pertanian yang ada di Indonesia. Kesuburan tanah di lahan-lahan yang menggunakan pupuk anorganik dari tahun ke tahun menurun. Keberhasilan diukur dan ditentukan dari berapa banyaknya hasil dari panen yang dihasilkan, bukan diukur dari kondisi dan keadaan tanah serta hasil panennya. Semakin banyak hasil panen, maka pertanian akan dianggap semakin maju.
Bahan organik merupakan salah satu komponen tanah yang sangat penting bagi ekosistem tanah, dimana bahan organik merupakan sumber pengikat hara dan substrat bagi mikrobia tanah. Bahan organik tanah merupakan bahan penting untuk memperbaiki kesuburan tanah, baik secara fisik, kimia maupun biologi.
Usaha untuk memperbaiki dan mempertahankan kandungan bahan organik untuk menjaga produktivitas tanah mineral masam di daerah tropis perlu dilakukan.
Bahan organik yang berasal dari sisa tumbuhan dan binatang yang secara terus menerus mengalami perubahan bentuk karena dipengaruhi oleh proses fisika, kimia dan biologi. Bahan organik tersebut terdiri dari karbohidrat, protein kasar, selulose, hemiselulose, lignin dan lemak. Penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan mendorong perkembangan populasi
mikroorganisme tanah. Bahan organik secara fisik mendorong granulasi, mengurangi plastisitas dan meningkatkan daya pegang air. Apabila tidak ada masukan bahan organik ke dalam tanah akan terjadi masalah pencucian sekaligus kelambatan penyediaan hara. Pada kondisi seperti ini penyediaan hara hanya terjadi dari mineralisasi bahan organik yang masih terdapat dalam tanah, sehingga mengakibatkan cadangan total C tanah semakin berkurang. Pupuk memiliki kandungan nitrogen di dalamnya. Unsur nitrogen yang ada dalam pupuk ini mudah larut. Pemberian nitrogen berlebih di samping menurunkan efisiensi pupuk, juga dapat memberikan dampak negatif di antaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut,sehingga pengolahan sumber daya secara efektif, efisien dan aman lingkungan dapat diberlakukan.
Selain disebabkan oleh adanya penggunaan pupuk an-organik yang tidak sesuai takaran secara rutin. Hal ini juga disebabkan pemalsuan pupuk yang dijual kepada para petani. Pupuk palsu ini adalah pupuk yang dipalsukan atau disamarkan kandungan zat dan kadar zat di dalamnya. Hal ini menyebabkan tanaman dan tanah mendapat nutrisi yang tidak tepat dan dapat mengganggu keadaan tanah maupun tanaman tersebut.
5. Dampak Dari Pupuk Kimia pada Tanah
Alasan utama kenapa pupuk kimia dapat menimbulkan pencemaran pada tanah karena dalam prakteknya, banyak kandungan yang terbuang. Penggunaan pupuk buatan yang terus-menerus akan mempercepat habisnya zat-zat organik,
merusak keseimbangan zat-zat makanan di dalam tanah, sehingga menimbulkan berbagai penyakit tanaman.
Pupuk kimia adalah zat substansi kandungan hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Akan tetapi seharusnya unsur hara tersebut ada di tanah secara alami dengan adanya siklus hara tanah misalnya tanaman yang mati kemudian dimakan binatang pengerat/herbivora, kotorannya atau sisa tumbuhan tersebut diuraikan oleh organisme seperti bakteri, cacing, jamur dan lainnya. Siklus inilah yang seharusnya dijaga, jika menggunakan pupuk kimia terutama bila berlebihan maka akan memutuskan siklus hara tanah tersebut terutama akan mematikan organisme tanah, jadinya akan hanya subur di masa sekarang tetapi tidak subur di masa mendatang. Untuk itu sebenarnya perlu dijaga dengan pola tetap menggunakan pupuk organik bukan pupuk kimia.
Dampaknya zat hara yang terkandung dalam tanah menjadi diikat oleh molekul-molekul kimiawi dari pupuk sehingga proses regenerasi humus tak dapat dilakukan lagi. Akibatnya ketahanan tanah/daya dukung tanah dalam memproduksi menjadi kurang hingga nantinya tandus. Tak hanya itu penggunaan pupuk kimiawi secara terus-menerus menjadikan menguatnya resistensi hama akan suatu pestisida pertanian. Masalah lainnya adalah penggunaan Urea biasanya sangat boros. Selama pemupukan Nitrogen dengan urea tidak pernah maksimal karena kandungan nitrogen pada urea hanya sekitar 40-60% saja. Jumlah yang hilang mencapai 50% disebabkan oleh penguapan, pencucian serta terbawa air hujan.
Efek lain dari penggunaan pupuk kimia juga mengurangi dan menekan populasi mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanah yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Lapisan tanah yang saat ini ada sudah parah kondisi kerusakannya oleh karena pemakaian pupuk kimia yang terus menerus dan berlangsung lama, sehingga mengakibatkan:
a. Kondisi tanah menjadi keras
b. Tanah semakin lapar dan haus pupuk
c. Banyak residu pestisida dan insektisida yang tertinggal dalam tanah d. Mikroorganisme tanah semakin menipis
e. Banyak Mikroorganisme yang merugikan berkembang biak dengan baik
f. Tanah semakin miskin unsur hara baik makro maupun mikro g. Tidak semua pupuk dapat diserap oleh tanaman.
6. Pengertian Pupuk Bersubsidi
Kebijakan pupuk bersubsidi di Indonesia sudah mulai diterapkan yakni sejak tahun 1970 an. Pemberian subsidi pupuk oleh pemerintah kepada petani bertujuan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian melalui teknologi pemupukan. Selain itu, kebijakan pupuk bersubsidi juga sebagai upaya peningkatan komoditas pertanian untuk ketahanan pangan yang berkelanjutan. Agar kebijakan pupuk bersubsidi dapat diterima oleh petani secara 6 (enam) tepat yakni tepat jenis, jumlah, harga, mutu, waktu dan tempat, maka pemerintah perlu mengatur mekanisme penyaluran dan pendistribusian .
Kebijakan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi bertujuan untuk:
1. Memberikan kemudahan dan jaminan kepada Kelompok Tani/Petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi secara tepat jenis, jumlah, harga, mutu, waktu dan tempat.
2. Memberikan pedoman dalam pendistribusian pupuk bersubsidi yang efektif dan efisien bagi PT. Pupuk Indonesia beserta anak perusahaannya/Produsen, Distributor, dan Pengecer untuk menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi bagi Kelompok Tani/Petani.
3. Menanamkan persepsi bahwa pupuk bersubsidi bukan komoditi yang bebas diperdagangkan, sehingga dapat menghindari pola pikir pelaku usaha yang memperlakukan pupuk bersubsidi sebagai komoditi untuk mencari keuntungan belaka tanpa memikirkan kebutuhan pupuk untuk Kelompok Tani/Petani.
4. Menghindari terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi dan penyimpangan pendistribusian pupuk bersubsidi ke sektor yang tidak sesuai peruntukannya.
Kebijakan subsidi pupuk di Indonesia secara historis mengalami beberapa kali perubahan. Pada periode 1970-1993, sistem subsidi yang diberlakukan adalah subsidi harga dengan sumber pembiayaan berasal dari APBN.
Pada periode ini, pupuk yang disubsidi adalah harga pupuk yang berasal dari impor dan pupuk produksi dalam negeri. Periode 1999-2001,
dikarenakan pada tahun 1998 terjadi krisis ekonomi, maka subsidi harga pupuk dicabut dan sistem subsidi harga diganti menjadi subsidi harga bahan baku untuk pembuatan pupuk yakni subsidi gas. Pada Periode 2003-2005, sistem subsidi yang berlaku merupakan kombinasi subsidi gas dan subsidi harga.
Pemberian subsidi gas diperuntukkan bagi pupuk Urea, sementara subsidi harga untuk pupuk non urea. Sedanglan pada periode 2006 hingga saat ini, subsidi yang berlaku adalah subsidi harga, yang dihitung dengan formula, selisih antara HET dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) dan biaya produksi dikalikan volume produksi yang merupakan angka subsidi yang ditanggung oleh pemerintah dengan sumber subsidi berasal dari APBN.
Saat ini, pihak yang berwenang dalam mengatur dan mengawasi sistem distribusi pupuk bersubsidi adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan pemerintah (pusat dan kabupaten/kota).
Mekanisme pembagian kewenangan masing-masing kementerian dan pemerintah daerah adalah sebagai berikut:
1. Permendag mengatur mekanisme pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi dari Lini I sampai dengan Lini IV.
2. Permentan mengatur alokasi pupuk bersubsidi per propinsi serta pengaturan sistim Rencana Definitif Kebutuan kelompok Tani (RDKK). 3. Peraturan Gubernur mengatur alokasi pupuk bersubsidi per kabupaten
4. Peraturan Bupati/Walikota mengatur alokasi pupuk bersubsidi per kecamatan
Adapun penerapan mekanisme dan tanggung jawab penyaluran pupuk bersubsidi diatur secara berjenjang, sbb:
1. PT. Pupuk Indonesia (Persero) bertanggung jawab atas pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi di dalam negeri untuk sektor pertanian secara nasional sesuai dengan prinsip 6 (enam).Tepat mulai dari Lini I sampai dengan Lini IV.
2. Produsen bertanggung jawab atas pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan prinsip 6 (enam) Tepat mulai dari Lini I sampai dengan Lini IV di wilayah tanggung jawabnya.
3. Distributor bertanggung jawab atas penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan prinsip 6 (enam) Tepat mulai dari Lini III sampai dengan Lini IV di wilayah tanggung jawabnya; dan
4. Pengecer bertanggung jawab atas penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani/kelompok tani di lokasi kios pengecer.
Peraturan pupuk bersubsidi untuk kabupaten Pinrang diatur dalam Peraturan Bupati Pinrang Nomor 4 Tahun 2012. Peraturan ini membahas tentang penyaluran pupuk bersubsidi untuk pertanian dan perikanan. Selain itu peraturan ini juga membahas tentang pengertian istilah-istilah yang terkait dengan subsidi pupuk.
Menurut peraturan ini pupuk bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya ditataniagakan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan di penyalur resmi Lini IV.
Lini IV adalah lokasi gudang atau kios pengecer di wilayah kecamatan dan atau desa yang ditunjukkan atau ditetapkan oleh distributor.
Pupuk bersubsidi diperuntukan bagi sektor pertanian atau sektor yang berkaitan dengan budidaya tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, hijauan pakan ternak dan budidaya ikan atau udang.
Sasaran pupuk besubsidi adalah petani, pekebun, dan peternak yang mengusahakan lahan paling luas 2 hektar setiap musim tanam per keluarga petani kecuali pembudidaya ikan atau udang paling luas 1 hektar.
Pupuk bersubsidi tidak diperuntukan bagi perusahaan tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perternakan, atau perusahaan perikanan budidaya. Petani adalah perorangan warga Indonesia yang mengusahakan lahan milik sendiri atau bukan untuk budidaya tanaman pangan atau holtikultura dengan luasan tertentu. Pekebun adalah perorangan warga negara Indonesia yang mengusahakan budidaya tanaman perkebunan dengan luasan tertentu.
Peternak adalah perorangan warga negara Indonesia yang mengusahakan budidaya tanaman hijauan pakan ternak dengan luasan tertentu.
Pembudidaya ikan atau udang adalah perorangan warga negara Indonesia yang mengusahakan lahan, milik sendiri atau bukan untuk budidaya ikan atau udang yang tidak memiliki ijin usaha.
Kebijakan subsidi pupuk bagi petani masih menimbulkan banyak permasalahan. Dari aspek penerima manfaat, petani masih kesulitan mengakses pupuk bersubsidi. Bahkan, petani kerap kali merasakan kelangkaan pupuk. Selain itu, harga pupuk berada diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) dan ditemukannya masalah penyalahgunaan mekanisme distribusi pupuk.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) bekerja sama dengan USAID yang dilakukan di sepuluh daerah di Indonesia, dilaporkan bahwa implementasi kebijakan subsidi pupuk selama periode 2009-2011 masih banyak menemui kendala dan permasalahan terutama pada aspek pendataan, penganggaran, penyaluran/distribusi, serta pengawasan.
Pada aspek pendataan, permasalahan yang ditemukan adalah tidak validnya data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), di mana terdapat penggelembungan (mark up) luas lahan dan jumlah petani. Sementara pada aspek penganggaran, ditemukan audit yang mengoreksi jumlah perhitungan subsidi karena masih terdapatnya sejumlah pupuk delivery order (DO) yang belum disalurkan. Selain itu dalam penghitungan subsidi, masih terdapat biaya-biaya yang tidak termasuk komponen-komponen produksi dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang dijadikan sebagai dasar perhitungan nilai subsidi pupuk.
Pada aspek penyaluran, ditemukan indikasi penjualan pupuk dengan harga diatas HET, penjualan pupuk kepada petani yang tidak terdaftar dalam RDKK, tidak terpasangnya spanduk pengumuman harga, penyaluran pupuk yang tidak
sesuai dengan DO, keterlambatan distribusi, kelangkaan, penggantian kemasan, penimbunan, penjualan di luar wilayah distribusi, serta terdapat beberapa pengecer yang tidak resmi. Sedangkan terkait aspek pengawasan, Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KPPP) di tingkat propinsi maupun kabupaten belum menjalankan fungsi pengawasan secara optimal. Mereka dinilai tidak memahami sepenuhnya tugas dan fungsinya, tidak membuat laporan pengawasan, serta kurangnya dana untuk melakukan pengawasan.
Sementara, menurut hasil telaah dari Kementerian yang berwenang, ditemukan masalah sebagai berikut:
1. Intensitas kenaikan harga gabah yang lebih tinggi daripada harga pupuk. Hal ini mejadikan rasio harga gabah/ pupuk terus meningkat, dari 1,64 tahun 2003 menjadi 2,31 tahun 2013 (catatan : rumus tani tahun 1970-an adalah 1,0). Hal ini di satu sisi menguntungkan petani, namun di sisi lain mendorong petani menjadi tidak efisien.
2. Rendahnya harga pupuk di dalam negeri menimbulkan disparitas harga pupuk non-subsidi semakin besar, sehingga mendorong terjadinya penyelewengan penggunaan pupuk bersubsidi ke sektor non-subsidi atau ekspor ilegal.
3. Beban subsidi semakin besar yaitu tahun 2003 hanya 0,8 triliun menjadi Rp 23,1 triliun pada tahun 2014; dan tren selanjutnya semakin tinggi, sebagai akibat terus meningkatnya biaya produksi pupuk. Hal ini akan mengurangi kemampuan negara dalam pembiayaan pembangunan lainnya.
Untuk itu, perlu adanya upaya untuk mengurangi/menghapus subsidi pupuk yang dapat dilakukan dengan menaikkan HET pupuk secara bertahap, dan/ atau mengurangi volume pupuk bersubsidi. Di samping itu, perlu adanya phasing out subsidi pupuk secara bertahap sehingga pendapatan petani tetap meningkat, tercapainya rasio harga gabah/pupuk yang rasional, penggunaan pupuk yang lebih efisien, berkurangnya disparitas harga, serta efisiensi anggaran untuk meningkatkan sumber pembiayaan pembangunan.
Untuk mendukung peningkatan kesejahteraan petani/penduduk di pedesaan, maka dana penghematan subsidi pupuk agar diarahkan untuk pembangunan sektor yang mendukung peningkatan kapasitas petani dan pertanian/pedesaan, termasuk misalnya pengadaan dan peningkatan sarana produksi pertanian (saprotan) jenis baru.
Melihat permasalahan yang muncul dalam penerapan kebijakan distribusi pupuk bersubsidi tersebut, maka pemerintah menganggap perlu adanya perbaikan dalam mekanisme sistem penyaluran dan pengawasan pupuk bersubsidi sehingga lebih efektif dan efisien.
7. Alokasi Pupuk Bersubsidi
Kebutuhan pupuk bersubsidi dihitung melalui beberapa tahapan, yaitu berdasarkan usulan kebutuhan teknis di lapangan yang diajukan oleh pemerintah daerah secara berjenjang dari Bupati/Walikota kepada Gubernur dan selanjutnya disampaikan kepada Menteri Pertanian dan didasari pada Program Peningkatan Produksi Pertanian.
Usulan kebutuhan pupuk bersubsidi secara buttom up tersebut diproses di tingkat pusat dengan memperhatikan kemampuan daya serap pupuk di masing-masing wilayah selama beberapa tahun terakhir serta anggaran subsidi pupuk yang ditetapkan pemerintah.
Penetapan alokasi pupuk bersubsidi untuk masing-masing provinsi pada umumnya di bawah kebutuhan teknis yang diusulkan daerah karena terbatasnya anggaran subsidi, sehingga dengan jumlah pupuk bersubsidi yang terbatas tersebut, diharapkan agar tetap dapat dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan azas prioritas, baik terhadap daerah yang dinilai sebagai sentra produksi, maupun terhadap jenis komoditas.
Menurut Peraturan Bupati Pinrang Nomor 4 tahun 2012 alokasi pupuk bersubsidi dihitung sesuai anjuran pemupukan berimbang spesifikasi lokasi dengan mempertimbangkan Alokasi pupuk bersubsidi Tahun Anggaran 2012. Sebagaimana telah tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 40/Permentan/OT.140/4/2007 menjelaskan pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk bagi tanaman sesuai dengan status hara tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai produktivitas yang optimal dan berkelanjutan.
Alokasi pupuk bersubsidi tersebut dirinci menurut Subsektor, Kecamatan, jenis dan jumlah. Selain itu alokasi pupuk bersubsidi harus memperhatikan usulan yang diajukan oleh petani, pekebun, peternak, pembudidaya ikan atau udang berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang disetujui oleh penyuluh pertanian dan kepala desa setempat.
8. Pengertian Kebijakan
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan/kepemimpinan dan cara bertindak.
Kebijakan adalah sebuah ketetapan yang berlaku, dicirikan oleh perilaku yang konsisten dan berulang baik dari yang membuat atau yang melaksanakan kebijakan tersebut. Menurut Titmuss (1974), kebijakan adalah prinsip-prinsip yang mengatur tindakan dan diarahkan pada tujuan tertentu.
Kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip untuk mengarahkan cara bertindak yang dibuat secara terencana dan konsisten untuk mencapai tujuan tertentu serta kebijakan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan.
Anderson merumuskan kebijakan sebagai langkah tindakan secara sengaja dilakukan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor berkenaan dengan adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi.
9. Pengertian Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. Beberapa definisi implementasi kebijakan yang dirangkum oleh Agustino (2006) adalah sebagai berikut :
a. Bardach
Implementasi kebijakan adalah cukup untuk membuat sebuah program dan kebijakan umum yang kelihatannya bagus di atas kertas.
Lebih sulit lagi merumuskannya dalam kata-kata dan slogan-slogan yang kedengarannya mengenakkan bagi telinga para pemimpin dan para pemilih yang mendengarkannya, dan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya dalam bentuk yang memuaskan orang.
b. Metter dan Horn(1975)
Implementasi kebijakan ialah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.
c. Mazmanian dan Sabatier(1983:61)
Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, 10. Faktor-faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Implementasi Kebijakan
Keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh banyak variabel atau faktor dan masing-masing variabel atau faktor tersebut saling berhubungan satu sama lain. Untuk memperdalam pemahaman kita terhadap variabel atau faktor apa saja yang memengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, maka berikut ini dipaparkan beberapa teori implementasi adalah;
a. Teori George C.Edward III (1980)
Menurut George C. Edward III, ada empat faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan implementasi suatu kebijakan, yaitu faktor sumber daya, birokrasi, komunikasi, dan disposisi.
b. Teori Merilee S. Grindle (1980)
Keberhasilan implementasi menurut Merilee S.Grindle yang menjelaskan bahwa implementasi dipengaruhi oleh dua variabel besar, yaitu isi kebijakan dan lingkungan (konteks) implementasi, kedua hal tersebut harus didukung oleh program aksi dan proyek individu yang didesain dan dibiayai berdasarkan tujuan kebijakan, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan akan memberikan hasil berupa dampak pada masyarakat, individu dan kelompok serta perubahan dan penerimaan d.Teori David L. Weimer dan Aidan R. Vining (1980)
Pandangan Weimer dan Vining ada tiga kelompok variabel besar yang dapat memengaruhi keberhasilan implementasi suatu program yaitu :
1. Logika dari suatu Kebijakan
2. Lingkungan tempat kebijakan tersebut dioperasikan akan memengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan.
11. Faktor-faktor Penghambat atau Pendukung Implementasi Kebijakan Faktor-faktor penghambat atau pendukung implementasi kebijakan adalah; a. Isi kebijakan
Pertama,implementasi kebijakan gagal karena masih samarnya isi kebijakan, maksudnya apa yang menjadi tujuan tidak cukup terperinci, sarana-sarana dan penerapan prioritas, atau program-program kebijakan terlalu umum atau sama sekali tidak ada. Kedua, karena kurangnya ketetapan intern maupun ekstern dari kebijakan yang akan dilaksanakan. Ketiga, kebijakan yang akan diimplementasikan dapat juga menunjukkan adanya kekurangan-kekurangan yang sangat berarti. Keempat, penyebab lain dari timbulnya kegagalan implementasi suatu kebijakan publikdapat terjadi karena kekurangan-kekurangan yang menyangkut sumber daya daya pembantu, misalnya yang menyangkut waktu, biaya/dana dan tenaga manusia.
b. Informasi
Implementasi kebijakan public mengasumsikan bahwa para pemegang peran yang terlibat langsung mempunyai informasi yang perlu atau sangat berkaitan untuk dapat memainkan perannya dengan baik.informasi ini justru tidak ada, misalnya akibat adanya gangguan komunikasi.
c. Dukungan
Pelaksanaan suatu kebijakan public akan sangat sulit apabila pada pengimplementasi tidak cukup dukungan untuk pelaksanaan kebijakan tersebut. d. Pembagian potensi
Sebab musabab yang berkaitan dengan gagalnya implementasi suatu kebijakan public juga ditentukan aspek pembagian potensi diantara para pelaku yang terlibat dalam implementasi. Dalam hal ini berkaitan dengan diferensiasi tugas dan wewenang organisasi pelaksana. Struktur organisasi pelaksanaan dapat menimbulkan masalah-masalah apabila pembagian wewenang dan tanggung jawab kurang disesuaikan dengan pembagian tugas atau ditandai oleh adanya pembatasan-pembatasan yang kurang jelas.
12. Teori Implementasi
Teori Implementasi adalah; 1. Komunikasi
Dalam berbagai kasus, implementasi sebuah program terkadang perlu didukung dan dikoordinasikan dengan instansi lain agar tercapai keberhasilan yang diinginkan
2. Sumberdaya
Kebijakan perlu didukung oleh sumber daya, baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia
3. Disposisi
Disposisi implementor mencakup tiga hal penting, yaitu :
a. respons implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan;
b. kognisi, yakni pemahamannya terhadap kebijakan;
c. Intensitas disposisi implementor yakni preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor.
4. Struktur birokrasi.
Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang mengikuti.
13. Pengertian Masyarakat
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, memiliki naluri untuk hidup dengan lainnya. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut gregariousness sehingga manusia disebut social animal (hewan sosial). 1. Karena sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua kecenderungan pokok, yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (masyarakat), dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Kecenderungan manusia untuk hidup bersosial-bermasyarakat sudah ada sejak lahir.
Masyarakat adalah kelompok manusia yang hidup bersama dan yang menghasilkan kebudayaan.Dengan demikian, tak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya.Terdapat hubungan timbal balik antara kebudayaan dengan masyarakat.
Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama.Seperti; sekolah, keluarga,perkumpulan, Negara semua adalah masyarakat
definisilain dari Masyarakat juga merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya adalah society , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab Syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi.Dalam ilmu sosiologi kita kit mengenal ada dua macam masyarakat, yaitu masyarakat paguyuban dan masyarakat petambayan.
Masyarakat paguyuban terdapat hubungan pribadi antara anggota- anggota yang menimbulkan suatu ikatan batin antara mereka.Kalau pada masyarakat patambayan terdapat hubungan pamrih antara anggota-angota nya.
14. Unsur-unsur suatu Masyarakat
Unsur-unsur suatu masyarakat adalah:
1. Harus ada perkumpulan manusia dan harus banyak
2. Telaah bertempat tinggal dalam waktu lama disuatu daerah tertentu. 3. Adanya aturan atau undang-undang yang mengatur masyarakat untuk
menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.
Bila dipandang cara terbentuknya masyaraka:
a. Masyarakat paksaan,misalnya negara, masyarakat tawanan b. Masyarakat mardeka
Masyarakat merdeka terdiri dari:
1. MasyarakatNatur,yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendiri nya,seperti: geromboklan (harde), suku (stam), yang bertaliankarena hubungandarah atau keturunan.
2. MasyarakatKultur,yaitu masyarakat yang terjadi karena kapantingn kedunian atau kepercayaan.Masyarakat dipandang dari sudut
B. Kerangka Pikir
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan/kepemimpinan dan cara bertindak.
Kebijakan subsidi pupuk ditetapkan adalah untuk membantu sektor pertanian terutama berkaitan dengan penghematan input produksi bagi petani. Pengadaan pupuk bersubsidi adalah dari produsen dengan sistem rayonisasi.
Penyaluran pupuk bersubsidi diatur berdasarkan mekanisme penyaluran yang telah ditetapkan pemerintah dari Lini I sampai kepada petani. Pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi ini juga diadakan pengawasan terutama berkaitan dengan prinsip enam tepat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Dari pengawasan ini akan ada suatu evaluasi tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi oleh KP3 daerah bahwa kebijakan subsidi pupuk untuk sektor pertanian berupa penetapan HET pada pupuk. Penetapan HET ini bertujuan untuk membantu biaya produksi pertanian. Untuk mengukur kebijakan subsidi pupuk terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan, namun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah indikator tepat harga dan tepat jumlah. Indikator tepat harga dapat dilihat berdasarkan kesesuaian harga pupuk bersubsidi yang dibeli petani dengan HET yang ditetapkan pemerintah, untuk indikator tepat jumlah dapat dilihat berdasarkan penggunaan pupuk oleh para petani. Kerangka pikir akan dijelaskan pada gambar 2.1 adalah;
Gambar2.1
Skema Alur Kerangka Pikir
Implementasi Kebijakan Distribusi Pupuk Bersubsidi
Kesesuaian harga dan jumlah pupuk bersubsidi Tepat harga Tepat jumlah
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan diDesa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang, Sedangkan waktu yang diperlukaan untuk penelitian membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan lamanya.
B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap studi kasus fenomena sosial tertentu.
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif yang merujuk pada penelitian studi kasus tentang Implementasi kebijakan distribusi pupuk bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang.
C. Sumber Data
1. Data Primer, yaitu data empiris yang diperoleh dari informanberdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.
2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan, referensi-referensi, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen yang diperoleh dari lokasi penelitian.
D. Informan Penelitian
Pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling di mana informan dipilih secara langsung karena mereka melaksanakan kebijakan distribusi pupuk bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang. Adapun informan yaitu:
Tabel 3.1.Nama Informan atau Responden
No Nama Informan Inisial Jabatan Jumlah
1. Hj. Andi Mustiah Adinda AMA Kepala Dinas
Pertanian 1 Orang 2. Drs. Muh. Amran Kudus MAK Karyawan Dinas
Pertanian 1 Orang
3. H. Sultan SN Tokoh Masyarakat 1 Orang
4. Rusman RM Petani 1 Orang
5. Budiman MN Petani 1 Orang
6. Muh. Tahir MT Petani 1 Orang
7. Muh. Arif MAR Petani 1 Orang
Jumlah Informan 7 Orang
(Sumber BPS: 2016)
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang relevan sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan penelitian, maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Observasi (pengamatan)
Pengamatan langsung adalah pengamatan yang dilakukan tanpa perantara terhadap objek yang diteliti.
Wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data atau mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada informan dengan berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk menyediakan dokumen-dokumen dengan menggunakan bukti yang akurat dari pencatatan
sumber-sumber informasi dari hasil pelaksanaan penelitian. F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif model miles dan huberman. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari:
1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi G. Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep keasahihan data (Validitas) dan keandalan (Realibitas).
Menurut Moleong dalam bukunya Sugiyono (2010 :324) mengemukakan bahwa untuk menentukan keabsahan data dalam penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Letak Geografis Kabupaten Pinrang 1.1.Karakteristik Kab. Pinrang
1.1.1. Luas dan Batas Administrasi
Kabupaten Pinrang mempunyai luas wilayah 1.967 km persegi, memiliki daerah administratif 12 kecamatan, dan terdiri 39 Kelurahan dan 69 Desa yang meliputi 81 Lingkungan dan 168 Dusun.
Adapun batas wilayah Kabupaten Pinrang sebagai berikut : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan Sidrap 3. Sebelah Barat dengan Selat Makassar serta Kabupaten Polewali Mandar 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Parepare.
1.1.2. Letak dan Kondisi Geografis
Kabupaten Pinrang berada ± 180 Km dari Kota Makassar terletak pada koordinat antara 4º10’30” sampai 3º19’13” Lintang Selatan dan 119º26’30” sampai 119º47’20”Bujur Timur. Kabupaten Pinrang berada pada perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat, serta menjadi jalur lintas darat dari dua jalur utama, baik antar provinsi dan antar kabupaten di Selawesi Selatan, yakni dari arah selatan: Makassar, Parepare ke wilayah Provinsi Sulawesi Barat, dan dari arah Timur: kabupaten-kabupaten di bagian timur dan tengah Sulawesi Selatan menuju Provinsi Sulawesi Barat.
1.1.3. Topografi
Kondisi topografi Kabupaten Pinrang memiliki rentang yang cukup lebar, mulai dari dataran dengan ketinggian 0 m di atas permukaan laut hingga dataran yang memiliki ketinggian di atas 1000 m di atas permukaan laut (dpl). Dataran yang terletak pada ketinggian 1000 m di atas permukaan laut sebagian besar terletak di bagian tengah hingga utara Kabupaten Pinrang terutama pada daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Toraja. Klasifikasi ketinggian/ topografi di Kabupaten Pinrang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Ketinggian 0 – 100 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam daerah ketinggian ini sebagian besar terletak di wilayah pesisir yang meliputi beberapa wilayah kecamatan yakni Kecamatan Mattiro Sompe, Lanrisang, Watang Sawitto, Tiroang, Patampanua dan Kecamatan Cempa.
2. Ketinggian 100 – 400 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam daerah dengan ketinggian ini meliputi beberapa wilayah kecamatan yakni Kecamatan Suppa, Mattiro Bulu, dan Kecamatan Paleteang.
3. Ketinggian 400 – 1000 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam klasifikasi ketinggian ini sebagian kecil wilayah meliputi Kecamatan Duampanua.
4. Ketinggian di atas 1000 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam klasifikasi ketinggian ini terdiri dari sebagian Kecamatan Lembang dan Batulappa
1.1.4. Letak dan Kondisi Geografis
Kabupaten Pinrang berada ± 180 Km dari Kota Makassar terletak pada koordinat antara 4º10’30” sampai 3º19’13” Lintang Selatan dan 119º26’30” sampai 119º47’20”Bujur Timur. Kabupaten Pinrang berada pada perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat, serta menjadi jalur lintas darat dari dua jalur utama, baik antar provinsi dan antar kabupaten di Selawesi Selatan, yakni dari arah selatan: Makassar, Parepare ke wilayah Provinsi Sulawesi Barat, dan dari arah Timur: kabupaten-kabupaten di bagian timur dan tengah Sulawesi Selatan menuju Provinsi Sulawesi Barat.
1.1.5. Geologi
Geologi wilayah Kabupaten Pinrang dari hasil pengamatan dan kompilasi Peta Geologi Kabupaten Pinrang, maka susunan lapisan batuan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Endapan alluvium dan sungai, Endapan alluvium dan sungai mempunyai ketebalan antara 100-150 meter, terdiri dari atas lempung, lanau, pasir dan kerikil. Pada umumnya endapan lapisan ini mempunyai kelulusan air yang bervariasi dan kecil hingga tinggi. Potensi air tanah dangkal cukup besar tetapi sebagian wilayah kualitasnya kurang baik. Muka air tanah dangkal 1-1,50 meter.
2. Batuan gunung api tersusun atas breksi dengan komponen bersusun trakhit dan andesit, tufa batu apung, batu pasir terfaan, konglomerat dan breki terfaan, ketebalannya berkisar 500 meter, penyebarannya dibagian utara Kota Pinrang, Sekitar Bulu Lemo, Bulu Pakoro sedangkan dibagian selatan sekitar
Bulu Manarang, Bulu Paleteang, Bulu Lasako (berbatasan dengan Parepare). Kearah Bungin terdapat batu gamping terumbu yang umumnya relatif sama dengan batuan gunung api.
3. Batuan aliran lava, Batuan aliran lava bersusun trakhit abu-abu muda hingga putih, bekekar tiang, penyebarannya kearah daerah Kabupaten Pinrang, yaitu sekitar Kecamatan Lembang dan Kecamatan Duampanua.
4. Batuan konglomerat (Formasi Walanae), Batuan ini terletak dibagian Timur Laut Pinrang, sekitar Malimpung sampai kewilayah Kabupaten Sidrap, satuan batuan ini terdiri atas konglomerat, sedikit batu pasir glakonit dan serpih dan membentuk morfologi bergelombang dan tebalnya kira-kira hingga 400 meter.
5. Batuan lava bersusun basol hingga andesit, Satuan batuan ini berbentuk lava bantal, breksi andesit piroksin dan andesit trakhit. Tebalnya 50 hingga 100 meter dengan penyebaran sekitar Bulu Tirasa dan Pakoro.
6. Batu pasir, Satuan batuan ini bersusun andesit, batu lanau, konglomerat dan breksi. Struktur sesar diperkirakan terdapat pada batuan aliran lava dan batu pasir bersusun andesit, berupa sesar normal.
1.1.6. Hidrologi
Di Kabupaten Pinrang, terdapat dua sungai besar yaitu sungai Mamasa dan Sungai Saddang, dimana sungai Mamasa sebenarnya masih merupakan anak sungai Saddang.
Saat ini sungai Mamasa dimanfaatkan untuk keperluan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru yang berlokasi di Desa Ulu Saddang. Kecamatan Lembang.
PLTA yang ada ini selain untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Pinrang, juga untuk memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan Sungai Saddang dimanfaatkan untuk pengairan pertanian dengan cakupan pelayanan selain Kabupaten Pinrang juga melayani Kabupaten
Sidrap.
1.1.7. Klimatologi
Klasifikasi iklim menurut Smith-Ferguson, tipe iklim Wilayah Kabupaten Pinrang termasuk tipe A dan B dengan curah hujan terjadi pada bulan Desember hingga Juni dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret. Musim kemarau terjadi pada bulan Juni sampai September. Kriteria tipe iklim menurut Oldeman Syarifuddin bulan basah di Kabupaten Pinrang tercatat 7 - 9 bulan, bulan lembab 1-2 bulan dan bulan kering 2-4 bulan. Tipe iklim menurut klasifikasi Oldeman Syarifuddin adalah iklim B dan C. Curah hujan tahunan berkisar antara 1073 mm sampai 2910 mm, Evaporasi rata-rata tahunan di Kabupaten Pinrang berkisar antara 5,5 mm/hari sampai 8,7 mm/hari. Suhu rata-rata normal antara 27°C dengan kelembaban udara 82% - 85%.
Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Pinrang, rata-rata curah hujan di Kabupaten Pinrang pada tahun 2012 sebesar 102,58 mm/bulan. Curah hujan terendah terjadi pada bulan September yakni sebesar 32 Mm, sedangkan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April yakni sebesar 179 Mm.
1.1.8. Kawasan Budidaya
Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Pinrang merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah Kabupaten Pinrang yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Pinrang berfungsi :
1. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah Kabupaten Pinrang. 2. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang.
3. Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan untuk dua puluh tahun, dan
4. Sebagai dasar dalam pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah Kabupaten Pinrang.
1.1.9. Kawasan Pertanian
Kabupaten Pinrang merupakan salah satu wilayah sentra produksi beras di Provinsi Sulawesi Selatan yang termasuk Kawasan Bosowasipilu (kawasan sentra produksi beras) dengan luas areal persawahan potensial ± 44.861 Ha (22,87% luas wilayah Kabupaten Pinrang).
Jenis komoditi tanaman pangan selain padi yang merupakan komoditi unggulan antara lain: jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang hijau, dan kedele. Pada dasarnya persebaran produksi tanaman pangan jenis padi di wilayah Kabupaten Pinrang tersebar secara merata di seluruh wilayah, dimana semua
wilayah kecamatan memiliki areal persawahan yang produktif dengan sumber pengairan dari irigasi teknis.
Sedangkan kawasan tanaman pangan lahan kering yang merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi tanaman pangan lahan kering untuk tanaman palawija, holtikultura atau tanaman pangan tahunan, pengembangan kegiatannya tersebar merata diseluruh wilayah kecamatan dengan luas areal yang diarahkan untuk pengembangan lahan kering adalah 30.914 ha.
B. Hasil Penelitian Berdasarkan Karakterisrik Responden
Berdasarkan karakteristik responden sebanyak 7 orang responden dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan tingkat pendidikan
a. Jenis kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Frekuensi Persentase
Laki-laki 6 85
Perempuan 1 14,2
Jumlah 7 100
Sumber : Data Primer (diolah), 2017
Tabel di atas menunjukkan bahwa jenis umur yang merespons tentang Implementasi kebijakan distribusi pupuk bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang, Tabel di atas menunjukkan bahwa jenis kelamin yang merespons tentang, yang terlihat dari perbedaan persentase berjenis kelamin laki-laki (85,7) dan berjenis kelamin perempuan (14,2).
b. Umur
Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur Frekuensi Persentase
30 2 28,57
35 1 14,28
55 1 14,28
56 3 42,85
Jumlah 7 100
Sumber : Data Primer (diolah), 2017
Tabel di atas menunjukkan bahwa jenis umur yang merespons tentang Implementasi kebijakan distribusi pupuk bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang, yang terlihat dari perbedaan persentase umur adalah umur 30 tahun berjumlah 2 orang dengan persentase 28,57, umur 35 tahun berjumlah 1 orang dengan persentase 14,28, umur 55 tahun berjumlah 1 orang dengan persentase 14,28, dan umur 56 tahun berjumlah 3 orang dengan persentase 42,85.
c. Tingkat Pendidikan
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Frekuensi Persentase
SD 1 14,28
SMP 0 0
SMA 2 28,57
S1 4 57,14
Jumlah 30 100
Sumber : Data primer ( diolah ), 2017
Tabel diatas menunjukkan bahwa jenis tingkat pendidikan yang merespon Implementasi kebijakan distribusi pupuk bersubsidi di Desa Samaenre Kecamatan