• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKAWINAN DAN PELANGGARAN ADAT DI KOMUNITAS KAJANG, KABUPATEN BULUKUMBA MARRIAGE AND CUSTOMARY VIOLATIONS IN KAJANG COMMUNITY, BULUKUMBA REGENCY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKAWINAN DAN PELANGGARAN ADAT DI KOMUNITAS KAJANG, KABUPATEN BULUKUMBA MARRIAGE AND CUSTOMARY VIOLATIONS IN KAJANG COMMUNITY, BULUKUMBA REGENCY"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

PERKAWINAN DAN PELANGGARAN ADAT

DI KOMUNITAS KAJANG, KABUPATEN BULUKUMBA

MARRIAGE AND CUSTOMARY VIOLATIONS

IN KAJANG COMMUNITY, BULUKUMBA REGENCY

Raodah

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Jalan Sultan Alauddin / Tala Salapang Km. 7 Makassar, 90221

Telepon (0411) 885119, 883748, Faksimile (0411) 865166 Pos-el: [email protected]

ABSTRACT

This article is the research result conducted in Kajang community, Bulukumba Regency, which aims to describe and to analyze the customary violations in marriage that are not in accordance with the rule contained on pasang (message). If there is customary violation in a marriage, the violators will be subject to material and social sanctions in accordance with their violations occurred. This research applies a qualitative descriptive method, with data collection techniques through library study, interview, observation, and documentation. The result study shows that the forms of customary violations in marriage in Kajang community are silariang (eloping), nipitianangngi (pregnancy out of marriage), sexual harassment, and salimara (marriage with different social stratification). These customary violations in marriage are subject to customary sanctions of money and buffalo, while social sanction is nipassalai (excommunicated), either the pairs of marriage or their both family parties. The resolving rule of customary violations in marriage is carried out through customary deliberation attended by the traditional apparatus ammatoa, galla-galla, and the customary violators’ parties.

Keywords: marriage, customary violation, traditional sanction, pasang.

ABSTRAK

Artikel ini adalah hasil penelitian yang dilakukan di komunitas adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, yang bertujuan mendekripsikan dan menganalisis pelanggaran adat pada perkawinan yang tidak sesuai dengan aturan yang terdapat dalam pasang (pesan) leluhur orang Kajang. Apabila terjadi pelanggaran adat pada perkawinan, pelanggar dikenakan sanksi material dan sosial sesuai dengan bentuk pelanggaran adat yang telah dilakukannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelanggaran adat pada perkawinan di komunitas adat Kajang, meliputi: silariang (kawin lari), nipitianangngi (hamil di luar nikah), pelecehan seksual, dan salimara (perkawinan beda stratifikasi sosial). Bentuk-bentuk pelanggaran adat dalam perkawinan ini mendapat sanksi adat berupa denda uang dan kerbau, sedangkan sanksi sosial berupa nipassalai (dikucilkan), baik kedua pasangan yang melakukan perkawinan maupun keluarga besar dari kedua belah pihak. Tata cara penyelesaian pelanggaran adat pada perkawinan dilakukan dengan musyawarah adat yang dihadiri oleh perangkat adat ammatoa, galla-galla, dan pihak yang melakukan pelanggaran adat.

Kata kunci: perkawinan, pelanggaran adat, sanksi adat, pasang. PENDAHULUAN

Perkawinan adat merupakan salah satu budaya masa lampau dan sampai sekarang ini masih diselenggarakan juga merupakan salah satu aspek kehidupan manusia yang penting

untuk kelangsungan keturunannya. Perkawinan tidak hanya peristiwa yang dialami oleh dua orang yang berlainan jenis kelamin, tetapi lebih dari itu yakni turut melibatkan berbagai pihak baik keluarga inti maupun kerabat lainnya.

(2)

Masyarakat adat di Indonesia yang memiliki dan memegang teguh adat istiadat dalam perkawinannya yaitu komunitas adat Kajang. Adat istiadat sebagai suatu kearifan lokal perlu dipertahankan sebagai suatu kebutuhan hidup yang nyata. Masyarakat adat Kajang adalah salah satu komunitas yang ada di Sulawesi Selatan yang bermukim di Desa Tana Towa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Komunitas ini masih tetap memegang adat istiadat, pola hidup sederhana dan senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan alamnya. Kehidupan yang jauh dari modernisasi dan teknologi modern membuat sebagian komunitas ini tidak memiliki fasilitas yang berhubungan dengan listrik. Mereka hidup dalam bingkai tallasa kamase-masea yaitu hidup dalam kesederhanaan dan keperihatinan. Komunitas adat Kajang memiliki aturan adat tidak tertulis yaitu pasang artinya pesan dari leluhurnya yaitu ammatoa mariolo. Komunitas adat ini tetap eksis dengan tetap mempertahankan adat istiadatnya dan dipimpin oleh ketua adat yang bergelar Ammatoa. Komunitas adat Kajang bermukim dalam kawasan adat dan memiliki borong (hutan) sebagai sumber kehidupan masyarakatnya, yang senantiasa dijaga kelestariannya (Salle, 2000).

Pasang sebagai sumber hukum adat yang

tidak tertulis mengatur semua aspek kehidupan komunitas adat Kajang, termasuk adat istiadat dalam perkawinan. Orang Kajang sangat patuh dengan aturan adat yang telah ditetapkan dalam pasang dan aturan adat ini berlaku secara turun temurun. Dalam hal perkawinan, yang dianggap ideal adalah perkawinan yang mendapat pesetujuan kedua belah pihak dengan melalui proses lamaran dan tahapan tahapan pelaksanaan sesuai adat kebiasaan yang berlaku, yaitu bunting sipabasa. Pada komunitas adat Kajang perkawinan terikat oleh adat yang mengharuskan menikah dengan sesama orang Kajang yang tinggal dalam kawasan adat. Aturan ini dilakukan untuk mempertahankan adat istiadat, stratifikasi sosial dan pelestarian Menurut Koetjaraningrat (1992:29) perkawinan

merupakan pengantar kelakuan manuasia yang bukan hanya bersangkut paut dengan kehidupan seks, tetapi juga perkawinan mempunyai fungsi lain, yakni mengatur ketentuan akan hak dan kewajiban serta perlindungan dari hasil perkawinan. Memenuhi kebutuhan akan harta, gengsi sosial dan memelihara hubungan kekerabatan dalam masyarakat. Suatu perkawinan dianggap sah apabila sesuai dengan hukum adat, agama, undang-undang negara yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan.

Perkawinan menurut kitab undang-undang hukum perdata, perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Dalam pasal 1 Undang-Undang No. 1, Tahun 1974 dinyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bagi masyarakat adat aturan dalam undang-undang perkawinan adalah legitimasi sahnya perkawinan berdasarkan hukum negara, sehingga sebagian besar masyarakat adat di Indonesia menggunakan kedua aturan sebagai sahnya suatu perkawinan. Perkawinan menurut hukum adat di Indonesia umumnya bukan saja sebagai perikatan perdata, tetapi juga merupakan perikatan adat dan sekaligus menjadi perikatan kekerabataan dan ketetanggaan. Jadi terjadinya suatu ikatan perkawinan bukan semata-mata membawa kepada hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami istri harta bersama kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan adat istiadat, kewarisan, kekeluargaan, kekerabatan dan ketetanggan, serta menyangkut upacara-upacara adat dan keagamaan. Perkawinan dalam arti perikatan adat ialah perkawinan yang mempunyai akibat hukum terhadap hukum adat yang berlaku dalam adat yang bersangkutan (Hadikusuma, 2007).

(3)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

alamnya kepada generasi keturunannya. Apabila perkawinan berlangsung tidak sesuai dengan aturan adat, atau terjadi pelanggaran adat yang tidak sesuai dengan ketentuan pasang, maka perkawinan dianggap tidak sah. Apabila terjadi pelanggaran dalam perkawinan, maka cara penyelesaiannya dilakukan peradilan adat.

Pelanggaran adat dalam perkawinan dalam komunitas adat Kajang merupakan pidana adat yang menimbulkan konsekwensi

siri atau malu bukan hanya pada pelaku yang

bersangkutan akan tetapi keluarga, kerabat dan komunitas Kajang sebagai lembaga yang menetapkan aturan atau hukum adat yang berlaku dalam komunitasnya. Akibat dari pelanggaran tersebut akan dikenakan sanksi adat, baik yang ringan maupun yang berat sesuai pelanggaran yang dilakukan. Segala tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan norma kesusilaan akan dikenakan sanksi adat. Komunitas adat Kajang memiliki tata cara menerapkan sanksi adat dengan berpedoman pada pasang dan adat kebiasaan yang berlaku. Pelanggaran ringan dan sedang hanya dikenakan sanksi adat berupa denda uang dan kerbau, sedangkan pelanggaran yang berat akan mendapat sanksi nipassalai (dikucilkan) baik sipelaku maupun keluarganya, dan sanksi lainnya adalah membayar denda serta melakukan ritual. Bagi komunitas adat Kajang perkawinan karena perbedaan strata sosial, merupakan perkawinan yang sangat terlarang menurut aturan adat Kajang. Perkawinan yang memiliki sanksi pelanggaran yang sangat berat, sehingga apabila terjadi perkawinan demikian, maka pihak pemangku adat akan melakukan musyawarah adat atau abborong untuk mengambil tindakan terhadap pelaku perkawinan ini. Masyarakat adat Kajang sangat menjaga strata sosialnya, sehingga orang Kajang dilarang kawin dengan orang yang status sosialnya rendah misalnya ata (budak).

Menurut Bushar (2006:19), hukum adat adalah hukum yang mengatur tingkah laku manusia di Indonesia dalam hubungan satu sama lain, baik yang merupakan keseluruhan

kelaziman dan kebiasaan (kesusilaan) yang benar-benar hidup di masyarakat adat, karena dianut dan dipertahankan oleh anggota masyarakat itu, maupun yang merupakan keseluruhan peraturan-peraturan yang mengenai sanksi atas pelanggaran yang ditetapkan dalam keputusan-keputusan para penguasa adat yaitu mereka mempunyai kewibawaan dan berkuasa memberi keputusan dalam masyarakat adat yaitu lurah, penghulu agama, pembantu lurah, wali tanah, kepala adat hakim.

Berdasarkan pengertian hukum adat yang dikemukakan Bushar, maka hukum adat Kajang hanya berlaku pada komunitas adat tersebut sesuai dengan keputusan yang ditetapkan oleh Ammatoa selaku ketua adat. Bagaimana tata cara penyelesaian masalah dalam kaitannya dengan pelanggaran yang terjadi dalam perkawinan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini. Adapun bentuk-bentuk pelanggaran adat dalam perkawinan menurut hukum adat Kajang yang harus diselesaikan secara adat misalnya silariang, nipatianangngi, (hamil diluar nikah), salimara (perkawinan beda stratifikasi sosial). Pelanggaran adat ini dianggap aib yang membuat malu keluarga dan kerabat, sehingga akibat yang timbulkan akan mendapat sanksi adat sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku di komunitas adat Kajang akan mendapat sanksi, baik yang ringan maupun yang berat tergantung dari tindakan atau yang diperbuat.

Beberapa hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pelanggaran adat pada perkawinan adat yang dilakukan oleh para peneliti menjadi perhatian penulis dan dijadikan sebagai bahan perbandingan dan referensi untuk penelitian ini. Penelitian yang dilakukan Rahmayanti Ana (2017) Tinjauan Yuridis Tentang Silariang Menurut Hukum Adat (Studi Kasus di Kabupaten Takalar) mengungkapkan

silariang atau kawin lari adalah perkawinan

yang menyimpang dari aturan adat orang Makassar dan berkonsekwensi siri (harga diri), menurutnya penyebab terjadinya silariang karena mahalnya uang panai yang tidak dapat

(4)

dijangkau oleh pihak laki-laki, disisi lain adanya kebutuhan untuk membina rumah tangga. Tulisan Nurmarhama (2018) tentang Eksistensi perkawinan Silariang Dalam Perspektif Hukum Adat di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto, mengatakan bahwa upaya untuk mencegah perkawinan silariang adalah tidak melakukan perjodohan anak secara sepihak, tidak memberatkan uang panai dan jangan menolak lamaran yang datang dari laki-laki pilihan anak gadisnya dengan alasan beda strata sosial. Pada tulisan lain Annisa (2018) berjudul Larangan perkawinan Sesuku Pada Masyarakat Hukum Adat Suku Jambak Padang Pariaman di Bandar Lampung, mengemukakan akibat hukum tentang pelanggaran yang melakukan perkawinan sesuku pada masyarakat suku Jambak apabila perkawinan itu dilakukan dengan 2 orang yang memiliki hubungan darah, maka sanksi yang diberikan adalah buang saro. Apabila perkawinan dilakukan sesuku tapi tidak memiliki hubungan darah, maka setelah sanksi dijatuhkan terhadap pelaku perkawinan sesuku akan dikucilkan dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan tidak dibawa sailia samudiak oleh orang kampungnya sampai ia membayar denda yaitu mandabiah saikua kace dan mengundang ninik mamak dalam sebuah perjamuan.

Hasil penelitian pelanggaran adat dalam dari berbagai etnik menjadi referensi dalam tulisan ini untuk mengungkapkan pelanggaran adat dalam perkawinan di Komunitas adat Kajang. Pelanggaran terkait dengan perkawinan pada umumnya diselesaikan melalui musyawarah adat. Bagaimana aturan adat dalam perkawinan, dan pelanggaran adat yang biasa terjadi pada perkawinan di Komunitas adat Kajang, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana tata cara penyelesaian pelanggaran adat pada perkawinan di komunitas adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, meliputi bagaimana bentuk-bentuk pelanggaran adat pada perkawinan di Komunitas adat Kajang, dan bagaimana tata cara penyelesaiannya.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tata cara penyelesaian pelanggaran adat pada perkawinan di Komunitas adat Kajang di Kabupaten Bulukumba. Data yang dikumpulkan di lapangan dikaji untuk menjawab masalah-masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini. Data yang digunakan berasal dari wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara

(interview guide) terhadap informan kunci yaitu ammatoa (ketua adat), galla (perangkat adat)

dan tokoh masyarakat, sebagai sumber data primer. Data ini kemudian dianalisis mengenai tata cara penyelesaian pelanggaran adat pada perkawinan di Komunitas adat. Kajang. Selain wawancara dilakukan pula observasi di lokasi penelitian yaitu di Desa Tana Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, dengan mengamati secara langsung kondisi masyarakat Kajang, perilaku komunitas adat kajang dalam berintraksi sosial. Studi Kepustakaan dilakukan untuk dapat memperkuat data hasil dari wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini digunakan metode analisis deskriftif- kualitatif, yaitu analisis data dilakukan sejak awal penelitian dan selama proses penelitian dilaksanakan. Data diperoleh, kemudian dikumpulkan untuk diolah secara sistematis. Dimulai dari wawancara, observasi, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi, selanjutnya aktivitas penyajian data serta menyimpulkan data. Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif . Pada penelitian ini, verifikasi data dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian dilakukan. Sejak pertama memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan. Pada akhirnya, data diinterpretasikan dalam kaitannya dengan materi penelitian.

Hasil analisis data merupakan jawaban terhadap masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini. Keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik

(5)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

triangulasi. Triangulasi dilakukan agar hasil penelitian ini valid, agar mendapatkan data yang lebih valid dan ada kecocokan satu sama lain, dilakukan triangulasi dari data wawancara dan data observasi, serta dokumentasi yang berupa rekaman dan foto atau gambar. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Pengambilan data dilakukan pada sejumlah sumber data yang berbeda-beda. Data dianggap valid bila jawaban sumber data yang satu sesuai atau sama dengan jawaban sumber yang lainnya.

PEMBAHASAN

Profil Komunitas adat Kajang

Komunitas adat yang masih bertahan hingga saat ini adalah komunitas adat Kajang yang ada di Desa Tanah Towa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Komunitas ini, masih sangat memegang kuat tradisi dan pola hidup yang senantiasa harmonis dengan alam. Masyarakat yang tinggal di kawasan Kajang dalam masih sepenuhnya berpegang teguh kepada ajaran dan adat Ammatoa, dengan mempraktekkan cara hidup sederhana dengan menolak segala sesuatu yang berbau teknolog modern, mereka menggunakan teknologi tradisional. Bagi mereka teknologi modern dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakatnya dan alam lingkungan, ketentuan ini hanya berlaku bagi masyarat yang bermukim dalam kawasan (Ilalang embayya) Berbeda halnya dengan masyarakat kajang yang ada di luar kawasan (ipantarang embayya) pada umumnya telah menikmati fasilitas teknologi modern.

Kawasan komunitas adat Kajang terbagi atas dua wilayah yaitu Kajang dalam (ilalang

embayya) dan Kajang luar (ipantanrang embayya). Kawasan ini masuk dalam wilayah

Desa Tana Towa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Desa Tana Towa mempunyai luas wilayah 3.728 Ha, Secara keseluruhan masyarakat kawasan Kajang tersebar di beberapa desa yaitu Desa Bonto Baji,

Malleleng, Pattinroang, Batu Nilamung dan sebagian Desa Tambangan, yang merupakan batas-batas wilayah Desa Tana Towa. Dahulu wilayah komunitas adat Kajang sangat luas meliputi seluruh wilayah Bulukumba dan sebagian Kabupaten Bantaeng. Namun setelah terbentuk pemerintahan Desa sekitar tahun 1974 maka wilayahnya semakin kecil hanya berada dalam satu desa. Desa Tana Towa merupakan wilayah bermukimnya komunitas adat Kajang, yang terbagi atas Sembilan dusun, tujuh dusun yang berada dalam kawasan adat Ammatowa (ilalang embayya) dan 2 dusun yang berada diluar kawasan (ipantarang embayya). Adapun tujuh dusun ilalang embayya yaitu dusun pangi, dusun Tombolo, dusun Balangbina, dusun Luraya, dusun Bongkina, dan dusun Benteng. Kawasan ini ditandai dengan empat sungai kecil yang dijadikan batas wilayahnya, walaupun posisi masing-masing dari sungai tidak berdekatan. Sungai itu terdapat dalam kawasan hutan yang dikeramatkan sehingga selalu dijaga kelestariannya.

Gambar 1. Pintu gerbang memasuki kawasan dalam (ilalang embayya)

Sumber : Dokumen Pribadi

Kehidupan masyarakat yang ada di

ilalang embayya berbeda dengan kehidupan

di ipatanrang embayya. Masyarakat di kawasan dalam (ilalang embayya) menerapkan sepenuhnya aturan adat Pasang yaitu

tallasa kamase-masea artinya hidup dalam

keprihatinan atau kesederhanaan yang tidak menggunakan fasilitas teknologi modern

(6)

seperti listrik, handphone, televisi dan peralatan lainnya. Mereka hanya menggunakan lampu teplok sebagai alat penerang, dan menggunakan kayu bakar untuk memasak. Kehidupannya jauh dari modernisasi, adalah aturan yang mesti dipatuhi, sesuai dengan pasang. Pasang merupakan amanat atau pesan leluhur mereka yang dipesankan oleh ammatowa pertama melalui Turi’Akrana (Tuhan yang Maha Esa). Menurut pemahaman orang Kajang bahwa Ammatowa Mariolo atau Ammatowa pertama adalah manusia pertama yang ada di bumi ini, sehingga dianggap sebagai wakil dari Tuhannya. Kepercayaan ini tertuang dalam ajaran

patuntung yang dianutnya, sebagai bentuk

perwujudan pengabdian kepada Turi’Akrana. Ammatowa menerima panggamaseang battu

ri Turi’Akrana semacam ilham baik dalam

permohonan doa atau hal yang berkaitan dengan tugas ammatowa.

Pakaian serba hitam merupakan identitas dan karakter orang Kajang, warna hitam merupakan simbol dari dua alam kehidupan manusia. Menurut pemahaman orang Kajang warna pertama kali terlihat oleh manusia ketika berada di alam dunia adalah warna hitam, baru warna putih sehingga warna hitam ini menjadi dasar pakaian orang Kajang. Orang Kajang tidak menggunakan alas kaki ketika berjalan di luar rumah, menurut pemahaman mereka bahwa manusia harus menyatu dengan tanah sebagai asal mula kejadian manusia dan pada akhirnya manusia akan kembali ke tanah. Aktivitas keseharian komunitas adat ini jauh dari hiruk pikuk kehidupan modern, karena segala bentuk modernisasi dilarang masuk dalam kawasan ini. Menurut Ammatowa modernisasi boleh dinikmati masyarakat Kajang tapi dilakukan di ipantaran embayya atau di luar kawasan, seperti penggunaan listrik handphone dan teknologi modern lainnya diperkenankan. Aturan adat pasang tidak melarang orang Kajang menggunakan teknologi modern asal jangan masuk dalam kawasan adat ammatowa.

Pola pemukiman komunitas adat Kajang dalam kawasan ilalang embayya, mengikuti

aturan pasang semua rumah menghadap ke arah Barat menghadap ke gunung Bawakaraeng dan gunung Lompo Battang. Sebaliknya rumah dilarang menghadap ke hutan karama atau

borong karama yang terdapat dalam kawasan Ammatowa, pelarangan ini dimaksudkan untuk

menghindari penglihatan manusia terhadap sumber daya alam yang terdapat dalam hutan karama jangan sampai tergiur untuk mengambilnya atau menggunakannya. Hutan

karama sangat disakralkan dan tetap dijaga

kelestariannya hingga saat ini. Dalam kawasan adat Kajang terdapat dua hutan yaitu hutan

karama dan hutan batasayya yang menjadi

lingkungan hidup komunitas adat Kajang. Kelestarian hutan karama sangat terjaga karena semua sumberdaya yang ada di dalam hutan karama tidak boleh diambil oleh siapa pun kecuali atas izin ammatowa dan hanya digunakan untuk kepentingan upacara adat. Apabila terjadi pengambilan secara sengaja atau dengan cara penebangan kayu, pencurian kayu , perburuan hewan, pembakaran hutan dan sebagainya, maka akan dikenakan sanksi adat atau hukuman adat.

Masyarakat adat Kajang sangat patuh dengan aturan adat dalam pasang, sehingga mereka sangat takut untuk melakukan perbuatan yang melanggar adat. Selain sanksi denda, ada pula sanksi alam berupa tula yang menimpa seseorang apabila melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan adat yang berlaku. Ada beberapa hukum adat atau sanksi adat yang berlaku di Kajang yaitu hukuman ringan atau

cappa babbala, adalah keharusan membayar

denda sebesar 12 real setara dengan 12 juta rupiah menurut perhitungan orang Kajang ditambah dengan satu ekor kerbau. Hukuman sedang atau tangnga babala dengan denda sebesar 24 real atau 24 juta rupiah dan satu ekor kerbau, sedang sanksi berat poko babbala denda sebesar 44 real atau 44 juta rupiah dengan dua ekor kerbau. Sanksi adat akan dikenakan pada semua pelanggaran adat termasuk pelanggaran dalam perkawinan adat.

(7)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

menghargai demokrasi dalam bermasyarakat, semua keputusan masalah dilakukan secara musyawarah atau abborong dipimpin oleh

ammatowa, sebagai bentuk implementasi

dari berbagai permasalahan yang terjadi. Dalam pemerintahan ammatowa memiliki 26 pemangku adat, yang membatu ammatowa dalam menjalankan pemerintahan selaku menteri. Pemangku adat ini berfungsi sebagai pelaksana pasang dan termasuk dalam ada’

limayya dan Karaeng Tallua yang mempunyai

fungsi dan tugas masing-masing. Pemangku adat dalam Ada’ Limayya yaitu 1. Galla

Pantama yang mengurusi pertanian, 2. Galla Lombo yang bertugas mengurusi urusan

pemerintahan luar dan dalam kawasan (kepala Desa Tana Towa), 3. Galla Puto bertugas sebagai juru bicara ammatowa, 4. Galla Malleleng untuk urusan perikanan, 5. Galla Kajang yang bertugas mengurusi masalah ritual (upacara-upacara adat). Adapun yang termasuk dalam

Karaeng Tallua yaitu 1. Karaeng Labbiriya ri Kajang, sebagai camat Kajang 2. Sullehatang

sebagai kepala administrasi pemerintahan yang bertugas sebagai penyiar berita atau informasi atas ketentuan dari pemimpin tertinggi. 3.

Moncong Buloa bertugas sebagai koordinator

dalam implementasi tugas pemerintahan. Selain ada limayya dan karaeng tallua, ada juga sub perangkat adat yang pelengkap yang bertujuan membantu ada’ limayya dalam menjalankan fungsi dan aturan adat, ri tana

Lohea yaitu, Galla Jojjolo, Karaeng Pattongko,

Anrong Guru, Kandahaia, Puto Toa Sangkala.

Ada’ Limayya ri Tana Kekea masing-masing: Galla anjuru, Galla Ganta, Galla Sangkala, Galla Bantalang, Galla Sapa. (Pallamai &

Mappasomba, 2012).

Identitas lain yang sangat menonjol dari masyarakat adat Kajang sampai saat ini adalah kepatuhannya menjalankan ritual yang dilakukan di dalam borong karama (hutan yang dikeramatkan) yang bernama Tombolo yaitu tempat turunnya leluhur mereka. Menurut cerita dalam pasang di tempat itulah muncul “Mulatauwa” (Manusia pertama yang kemudian

menjadi Ammatowa mariolo (pertama). Tempat itu sangat disucikan yang bertujuan untuk meminta keselamatan kepada turi

akrana dan pemujaan kepada leluhur mereka.

Pelaksanaan upacara ritual dilaksanakan apabila terjadi peristiwa atas kehendak alam atau ada pelanggaran akibat perbuatan manusia misalnya: Tanaman tidak jadi, kemarau yang berkepanjangan, terjadi wabah penyakit, apabila ada diantara mereka yang melanggar pasang dan tidak menghiraukan pasang, upacara pelantikan ammatowa, ziarah ke makam Tau

Salamaka dan upacara daur hidup.

Upacara daur hidup yang selalu dilakukan komunitas adat Kajang meliputi upacara

attompolo (pesta hari ketujuh kelahiran anak),

upacara akkalomba (pesta yang bertujuan memohon keselamatan bagi sianak apabila sianak sering sakit-sakitan). Akkattere (pesta pemotongan rambut anak dalam upacara ini masing-masing anak menghadap badik, pesta ini umumnya dilakukan di tanah kuasaya dan jarang di tanah kamase-masea. Khitanan atau sunatan yang sering dirangkaikan dengan suatu upacara antara lain: Pengukiran gigi yang disebut topa rassa, pabuntingan (pesta perkawinan) dan pesta kematian (ulapo, dampo,

lajo-lajo dan pa’dangngangang). Sedang

upacara-upacara kecil nai ribola ( masuk rumah baru), pesta situnru-tunru (gotong royong membangun rumah) yang dipimpin seorang

uragi, (panrita balla). Upacara pemujaan roh

leluhur (umattang), selamatan (dangang),

tinja dan samaja adalah pesta-pesta adat yang

senantiasa dilakukan komunitas adat Kajang.

Tata Cara Perkawinan Adat di Komunitas Kajang

Menurut hukum adat perkawinan adalah suatu ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk rumah tangga yang dilaksanakan secara adat dan agamanya dengan melibatkan pihak saudara, maupun kerabat. Merupakan peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat adat, sebab perkawinan itu tidak hanya

(8)

menyangkut kedua mempelai saja, kedua keluarga, tetapi juga menyangkut masyarakat bahkan menyangkut arwah leluhur-leluhur kedua belah pihak (Soerjono, 1988:5). Bagi komunitas adat Kajang penyelenggaraan perkawinan adat adalah salah satu tradisi dan upacara adat daur hidup yang senantiasa dilaksanakan sesuai adat dan tradisi yang berlaku di Komunitas adat Kajang. Perkawinan yang dianggap ideal bagi komunitas adalah kawin sesama orang Kajang, dan melakukan perkawinan melalui pelamaran yang disetujui oleh seluruh keluarga dan dilakukan berdasarkan tahapan-tahapannya. Orang Kajang apabila melaksanakanan pesta perkawinana, maka seluruh keluarga dan kerabat ikut terlibat memberi bantuan seperti dalam pepatah yang mengatakan bunting

sipabasa artinya saling memberi bantuan

dalam melaksanakan pesta perkawinan. Adapun tata cara pelaksanaan perkawinan adat Kajang berbeda dengan perkawinan adat pada umumnya suku-suku bangsa yang ada di Sulawesi Selatan. Komunitas adat Kajang melaksanakan pernikahan atau akad nikah/ ijab kabul pada malam hari, waktunya sekitar 19.00 wita atau ba’da magrib dianggap bahwa malam hari suasananya dingin, dan dimaknai sebagai kesejukan (andingngini) dan ketentraman. Semua tahapan dalam prosesi perkawinan adat dilaksanakan dimalam hari, Adapun tahapan-tahapan dalam proses perkawinan adat Kajang adalah sebagai berikut :

Ajjaga leko

Acara ajjaga leko dilakukan sebelum ijab Kabul atau akad nikah. Ritual ini sama halnya dengan acara mappacci pada perkawinan adat Bugis atau acara akkorontigi pada suku Makassar. Dalam prosesi ajjaga leko terdapat beberapa rangkaian ritual adat yaitu abbara yaitu memberi bedak kepada calon pengantin. Acara ini merupakan acara keluarga, semua kerabat dan keluarga berkumpul untuk memberi doa restu kepada calon pengantin. Acara abbara dilakukan secara bergiliran oleh keluarga dan kerabat dengan menyuguhkan serangkaian alat

ritual yang terdiri dari leko kalomping ( ikatan daun sirih yang ), satu ikat daun tinappasa , tiga buah piring berisi bedak berwarna putih satu pring, bedak berwarna kuning satu piring dan sepiring beras, serta semangkuk air putih. Prosesi abbara dilakukan dengan cara daun tinappasa direndam ke dalam mangkuk yang berisi air kemudian dipercikkan kepada calon pengantin. Selanjutnya adalah acara kelong

ajjaga yaitu nyanyian pesta adat yang diiringi

dua gendang. Nyanyian ini dilantunkan ketika ketua adat Asmatoa datang dan menghadap ke depan pemangku adat, para pemangku adat ikut bernyanyi yang berlangsung sekitar sepuluh menit. Prosesi selanjutnya yaitu acara

angngada yaitu prosesi menyuguhkan makanan

dan minuman berupa tuak atau arak dan lahara (makanan khas komunitas adat kajang yang terbuat dari ikan yang dicampur dengan kelapa parut yang sangrai dan ditambahkan cuka atau jeruk nipis). Makanan ini disuguhkan kepada ammatoa dan pemangku adat yang hadir, makan dalam pesta adat ini disebut sikohang.

Angngatta Sunrang

Angngata sunrang artinya menghitung mahar atau mas kawin, untuk calon pengantin perempuan. Sebelum mahar itu dibawah ke tempat mempelai wanita, ada prosesi adat yang disebut angngatta sunrang yang dilakukan oleh

suro, yaitu perwakilan dari keluarga mempelai

laki-laki. Setelah suro atau duta menerima

sunrang dari orang tua mempelai laki-laki, maka sunrang itu di bawah menghadap kepada galla puto dan perangkat adat yang hadir. Sunrang

tersebut di buka untuk disaksikan bersama keluarga dan perangkat adat, setelah itu sunrang dihitung bersama. Suro kemudian menjelaskan kepada perangkat adat dan galla puto prosesi jalannya pelamaran kepada pihak calon mempelai perempuan sampai penentuan hari perkawinan. Galla Puto menerima penjelasan dari suro dan mengatakan bahwa perkawinan ini baik karena mendapat persetujuan dari keluarga kedua belah pihak. Setelah acara

(9)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020: angngatta sunrang selesai dilanjutkan dengan

acara makan bersama. Ajjaga Roa

Ajjaga roa atau pesta perkawinan,

yang merupakan inti dari seluruh tahapan prosesi perkawinan. Pada malam itu kedua calon pengantin masing-masing melangsungkan pesta, yang pertama adalah pesta yang dilakukan di rumah pengantin laki yaitu sebelum calon pengantin laki-laki diberangkatkan ke rumah calon mempelai wanita untuk melaksanakan akad nikah sekitar jam 18.30 sampai pukul 20.30 wita malam. Pihak laki-laki sudah melakukan pesta dan melakukan acara mangadat yaitu menjamu para tamu termasuk perangkat adat, setelah acara mangadat selesai, maka acara ajjaga roa di rumah calon pengantin selesai. Selanjutnya dilakukan acara akad nikah di rumah mempelai wanita, namun sebelum pengantin laki-laki diantar ke rumah mempelai wanita terlebih dahulu diutus suro untuk membawa mahar atau

sunrang ke rumah pengantin perempuan untuk

menyerahkan mahar yang telah disepakati pada malam ajjaga leko. Sunrang lalu dihitung oleh galla puto dihadapan keluarga dan perangkat adat yang hadir, dan dinyatakan sesuai dengan kesepakatan dan mahar tersebut diserahkan kepada keluarga pihak calon pengantin perempuan. Setelah acara angngatta

sunrang selesai maka acara selanjutnya adalah

pembacaan doa yang dipimpin oleh imam desa dan dilanjutkan dengan makan bersama.

Akad nikah dilaksanakan sekitar jam 22.00 wita, sebelum calon pengantin laki-laki berangkat kerumah mempelai wanita, diutus terlebih dahulu keluarga ke rumah pengantin perempuan untuk membawa baku puli yaitu dua buah bakul yang berisi songkolo (nasi ketan) dan selanjutnya diutus lagi

urang-urang (budak) untuk membawa tindrolo nikka yaitu bakul yang beri kue dumpi eja, songkolo dan kampalo dan satu lagi bakul

yang disebut papakkatoa yang berisi songkolo,

dumpi eja, ruhu-ruhu dan kampalo. Sebelum

berangkat pengantin laki-laki melakukan prosesi angngare bunting (memberi makan pengantin), orang tua atau ibu mempelai laki-laki menyuapi anaknya dengan kerak nasi yang dicampur dengan gula merah dan garam, dan suapan selanjutnya oleh saudara-sauradanya. Pengantin laki-laki diberi nasehat untuk selalu setia kepada istrinya dan malu untuk meninggalkan istrinya dan diharapkan pula jangan selalu bertengkar. Kemudian pengantin laki-laki berkemas kemas (nipatarangka) untuk berangkat ke rumah mempelai wanita yang diantar oleh rombongan keluarga dan didampingi oleh anrong bunting. Setelah tiba di rumah mempelai wanita dijemput oleh pallaha

tuka atau penjagan tangga yang menghalangi

pengantin laki-laki dan rombongannya untuk naik ke rumah pengantin perempuan sebelum diberi uang. Biasa rombongan pengantin laki-laki telah menyediakan uang penghalang tangga sebesar Rp. 20.000 sampai Rp.50.000,-, barulah pengantin dan rombongan bisa masuk. Setelah pengantin dan rombongan disambut dengan taburan beras sebagai ucapan selamat datang. Selanjutnya pengantin laki-laki diantar oleh

anrong bunting untuk melakukan ijab kabul

dan dinikahkan oleh imam kampung. Prosesi selanjutnya adalah assaling dan dilanjutkan dengan adeppo (nasehat perkawinan oleh galla puto), dan terakhir adalah abbua yaitu perkenalan dengan keluarga mempelai wanita. Mange Basa

Acara mange basa atau sama dengan

alekka bunting (perkawinan adat Makassar)

dan mapparola (perkawinan adat Bugis). Keluarga pengantin laki-laki datang ke rumah pengantin perempuan untuk menyampaikan panggilan, agar kedua mempelai melakukan prosesi mange basa yaitu mendatangi rumah pengantin laki-laki, prosesi ini berlangsung pada pukul 24.00 wita. Setelah kedua mempelai tiba di rumah pengantin laki-laki, selanjutnya dilakukan acara appakanre bunting (memberi makan pengantin) untuk pengantin wanita yang dilakukan oleh tamu yang hadir. Setelah pakanre

(10)

bunting selesai, dilanjutkan acara assolo yaitu

keluarga pengantin laki-laki datang bersalaman kepada pengantin wanita dan memberikan hadiah berupa peralatan rumah tangga yang akan digunakan dalam kehidupan rumah tangganya. Ketika kedua mempelai kembali ke rumah pengantin wanita, maka pihak orang tua pengantin laki-laki memberikan lagi bekal berupa bahan makanan seperti beras, jagung untuk dibawah pulang. Setelah acara mange

basa ini selesai, maka seluruh rangkaian prosesi

perkawinan adat Kajang selesai, ketika itu jam sudah menunjukan pukul 3.30 wita.

Bentuk Pelanggaran Adat Pada Perkawinan di Kajang

Tata cara perkawinan seperti yang telah diuraikan di atas merupakan bentuk perkawinan yang ideal yang disepakati secara adat berdasarkan pasang. Bagi orang Kajang bunting

si pabasa, adalah perkawinan yang melalui

pelamaran dan mendapat restu dari kedua belah pihak, saling memberi dan berpartisipasi dalam melaksanakan suatu perkawinan merupakan perwujudan dari nilai-nilai luhur dalam komunitas adat Kajang. Perkawinan yang tidak sesuai dengan aturan adat atau terjadi pelanggaran adat dalam perkawinannya disebut

assalimara, maka akan ditolak kehadirannya

secara adat, bukan hanya pada kedua pasangan yang melakukan pelanggaran perkawinan, akan tetapi keluarganya pun akan terkucilkan dari kehidupan sosial masyarakat adat Kajang. Adapun bentuk-bentuk perkawinan yang melanggar aturan adat yang ditetapkan komunitas adat Kajang adalah sebagai berikut: a. Silariang (kawin Lari)

Silariang artinya kawin lari, suatu

bentuk perkawinan yang dilakukan apabila pihak keluarga laki-laki atau perempuan tidak menyetujui terjadinya perkawinan. Kawin lari dibedakan atas kawin lari bersama dan kawin lari paksaan. Kawin lari bersama artinya ada persetujuan antara sigadis dan sibujang untuk melaksanakan perkawinan di luar lingkungan

keluarga kedua belah pihak pada waktu yang sudah ditentukan. Sedang kawin lari paksaan adalah perkawinan yang dilakukan tanpa persetujuan si gadis dengan cara memaksa atau melakukan tipu daya kepada sigadis dan melakukan tindak kekerasan, seperti menodai kehormatan sigadis, sehingga terpaksa dilakukan perkawinan. Perkawinan lari paksaan dapat diadukan kepihak berwajib sesuai pasal 332 KUHP. Sahnya suatu perkawinan menurut hukum adat apabila dilakukan sesuai agama dan kepercayaan komunitas adat yang bersangkutan. Perkawinan silariang menurut pemahaman adat Kajang, hampir sama dengan

silariang yang terdapat pada suku Bugis

Makassar dan suku lainnya yang terdapat di Sulawesi Selatan. Menurut Galla puto perkawinan silariang terjadi karena adanya perasaan suka sama suka antara pria dan wanita kemudian mendapat rintangan dari keluarga, misalnya penolakan dari pihak wanita disebabkan ketidak sukaan terhadap si laki-laki, apakah karena perbedaan status sosial, atau si laki-laki tidak memenuhi mahar yang diminta keluarga perempuan. Sehingga si perempuan dan laki-laki bersepakat untuk keluar dari kampung kemudian melangsungkan perkawinan. Orang dikatakan silariang apabila telah diketahui statusnya atau dikatakan telah melakukan akad nikah dan diketahui keberadaanya atau berada di luar kawasan adat, maka pihak keluarga perempuan dapat melaporkannya ke Ammatoa untuk diselesaikan secara adat, atau kepada pihak yang berwajib sebagai delik aduan dari pihak perempuan . Akan tetapi apabila tidak diketahui statusnya apakah sudah menikah atau belum, maka pihak keluarga perempuan terlebih dahulu melakukan penyelidikan untuk menentukan statusnya. Selama dalam pelarian pihak laki-laki harus menjauh dari lingkungan keluarga perempuan atau tunipakasirikna, karena kalau kedapatan atau terlihat oleh keluarga perempuan maka bisa akan dilakukan tindak kekerasaan karena siri (dipermalukan).

Komunitas Kajang memiliki beberapa kasus silariang pernah terjadi, dan beberapa

(11)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

pasangan yang melakukan silariang telah kembali ke kampung dengan melakukan ritual

abbaji dan menyelesaikan sanksi pelanggaran

adat yang dilakukan sesuai dengan aturan adat yang berlaku di Kajang. Apabila pihak keluarga laki-laki dan perempuan sepakat untuk menerima, maka seluruh persyaratan yang telah ditentukan secara adat dipenuhi, sehingga yang bersangkutan sudah bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan kembalikan hak-haknya sebagai warga komunitas adat Kajang.

Perkawinan silariang karena paksaan dari pihak laki-laki, atau membawa paksa si perempuan untuk dikawini. Bentuk perkawinan seperti ini sanksi adat yang akan dikenakan lebih besar dibanding perkawinan silariang karena suka sama suka. Dalam hukum adat Kajang sangat menghargai norma-norma yang berkaitan dengan ketata susilaan, menyangkut harkat dan martabat wanita. Ketika ada seorang laki-laki yang melakukan pelecehan seksual dalam artian menggoda dan menyetuh bagian vital tubuh wanita dan dilakukan di depan umum, maka orang melihat kejadian ini melaporkan kepada pemangku adat untuk diberi sanksi adat. Komunitas adat Kajang sangat menghargai wanita, hal ini terlihat ketika di sumur umum yang terdapat di dalam kawasan adat, ada wanita mandi atau mencuci, maka kaum laki-laki dilarang untuk mendekati sumur, atau melintas. Kalau hal tersebut terjadi maka laki-laki tersebut dianggap melakukan pelanggaran adat.

b. Nipatianangngi (Hamil di luar Nikah/ Pelecehan Seksual

Perkawinan yang terjadi karena perempuan hamil sebelum dilangsungkan pernikahan, maka dalam aturan adat di Kajang perkawinan ini melanggar adat. Perkawinan terpaksa akibat si wanita hamil, apabila terjadi perkawinan seperti ini maka pihak keluarga laki-laki dan perempuan melaporkan kepada pemangku adat untuk diselesaikan secara adat. Perkawinan akibat hamil sebelum nikah dianggap tabu dan mempermalukan keluarga,

tidak hanya berdampak pada kedua pasangan yang melakukan perbuatan zina, akan tetapi berdampak pula pada keluarga besar kedua belah pihak. Apabila terjadi pelanggaran adat seperti hamil diluar nikah, maka keluarga kedua belah pihak berusaha mengembalikan kehormatan keluarga dengan cara penyelesaiannya adalah mengawinkan mereka secara agama atau adat. Dalam hal ini tidak dikenakan sanksi adat, namun pihak laki-laki harus menyediakan

sunrang atau mahar yang lebih tinggi.

Menurut penuturan Galla Puto (60 tahun), bahwa dahulu pernah terjadi kasus di Komunitas adat Kajang sekitar 6 tahun yang lalu (2013), seorang wanita Kajang hamil diluar nikah oleh seseorang laki-laki yang sudah memiliki istri, namun laki-laki tersebut tidak bisa menikahi karena dilarang oleh istrinya, sehingga laki-laki tersebut kemudian lari bersama istrinya meninggalkan kampung halamannya. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada galla lombo (kepada Desa Tana Toa) untuk menangani kasus tersebut. Setelah melalui musyawarah akhirnya pihak laki-laki tersebut bersedia memberi sunrang kepada wanita yang dihamilinya, namun dengan syarat tidak mau menikahi atau melakukan ijab Kabul dihadapan imam Kampung, si laki-laki tersebut hanya menyerahkan badik dan bajunya sebagai penganti dirinya. Pernikahan itu pun dilakukan tanpa kehadiran laki-laki tersebut, namun secara adat perkawinan itu sudah dianggap sah disebut nikah tappu. (wawancara, 12 Agustus 2019).

Masyarakat Kajang mempunyai istri lebih dari satu diperbolehkan secara adat, asal mampu untuk menafkahi semua istrinya, kecuali

ammatoa dan 26 permangku adat (galla-galla)

yang diharuskan hanya memiliki satu istri saja, apabila ada pemangku adat yang memiliki lebih dari satu istri, maka akan diberhentikan sebagai pemangku adat. Perkawinan yang melanggar adat adalah poliandri yaitu perempuan yang masih berstatus istri kemudian menikah lagi tanpa ada peceraian disebut allingkai batang. Kasus ini pernah terjadi di komunitas adat

(12)

Kajang, sekitar 3 tahun yang lalu (2016), seorang wanita Kajang menikah lagi sementara statusnya masih sebagai istri orang. Walaupun kasus perkawinan menimbulkan aib bagi keluarga yang bersangkutan, namun penyelesaian dari kasus perkawinan seperti ini hanya dikenakan denda uang kepada perempuan yang melakukan poliandri sebagai pembersihan kampung

c. Assalimara (Perkawinan Beda Strata Sosial)

Masyarakat adat Kajang sangat menjaga strata sosialnya, sehingga orang Kajang dilarang kawin dengan orang yang status sosialnya rendah misalnya ata (budak). Apabila terjadi perkawinan dengan budak, maka sangat berat sanksi sosialnya karena selain harus menanggung sanksi denda yang sangat besar, mereka harus pula melakukan perceraian. Seorang perempuan bangsawan Kajang apabila diketahui melakukan perkawinan dengan seorang yang memiliki keturunan ata, maka yang bersangkutan harus diusir keluar dari kampung Kajang, dan keluarganya akan mendapat sanksi sosial dikucilkan dari seluruh aktivitas adat yang ada di Kajang. Pelanggaran adat ini berlaku bagi perempuan Kajang yang menikah dengan laki-laki keturunan budak, yang harus bercerai terlebih dahulu apabila ingin kembali ke kampung Kajang. Namun berbeda dengan laki-laki yang menikah dengan perempuan keturunan budak, tetap mendapat sanksi adat keluar dari Kampung Kajang dan dikenakan denda sosial apabila ingin kembali ke kampung halamannya, tapi tidak dikenakan sanksi untuk melakukan perceraian, karena strata sosial anak ikut pada ayahnya.

Masyarakat adat Ammatoa sangat menentang perkawinan yang berbeda strata sosialnya atau derajat keturunannya. Dalam struktur sosial masyarakat mengenal 4 golongan pelapisan sosial yaitu : 1) Keturunan Karaeng (raja) seperti labbiria ri Kajang (camat Kajang,

ammatoa. 2) Keturunan pemangku adat

(galla-galla). 3) keturunan orang biasa (pattola), 4) Keturunan ata (budak). Secara adat, keturunan

dari pemangku adat (ammatoa) lebih tinggi dari keturunan karaeng, akan tetapi dalam pemerintahan keturunan karaeng berada dalam tingkatan yang lebih tinggi. Perkawinan antara keturunan karaeng dan pemangku adat dianggap ideal, namun keturunan pattola boleh saja apabila disetujui oleh kedua belah pihak. Pelanggaran adat yang terbesar apabila seorang perempuan keturunan karaeng kawin dengan keturunan laki-laki keturunan ata (budak), perkawinan ini melanggar aturan dalam pasang. Dalam kawasan adat Kajang pernah terjadi kasus yang dilakukan seorang perempuan sebut saja berisinial O keturunan karaeng, kawin dengan seorang laki-laki berinisial S keturunan ata. Mereka silariang dan melakukan perkawinan ini di luar wilayah Kabupaten Bulukumba, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Setelah beberapa lama menghilang perempuan O mengabari orang tuanya tentang keberadaan mereka, sehingga orang tuanya datang berkunjung ke tempat anaknya. Setelah pertemuan dengan anaknya yang telah menikah dan diusut tentang asal keturunan dari laki-laki yang telah menjadi suami O diketahui bahwa S memiliki keturunan

ata, maka dengan serta merta orang tua dari

perempuan O marah dan kembali ke kampung dan melaporkan peristiwa tersebut kepada galla kajang yang bertugas menangani permasalahan kawin lari. Apabila orang tua O telah mengetahui pelanggaran yang dilakukan anaknya dan menyembunyikan perihal tersebut, maka orang tua O akan dikenakan sanksi berupa denda uang. Secara adat perkawinan yang dilakukan oleh O adalah perkawinan yang terlarang secara adat, sehingga wanita tersebut dilarang masuk di dalam wilayah kawasan adat. Keluarga atau orang tua dari wanita tersebut dilarang untuk bertemu dengan anaknya, sampai anak tersebut menyelesaikan persoalannya secara adat dan bercerai dengan suaminya.

Bentuk perkawinan beda status menjadi penghalang di komunitas adat Kajang untuk kawin mawin dengan orang yang tidak diketahui asal usulnya, untuk mengantisipasi pelanggaran perkawinan seperti ini, maka pada umumnya

(13)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

orang Kajang kawin mawin sesama orang Kajang, untuk menghindari garis keturunan dari ata atau budak. Demikian halnya apabila seorang laki-laki Kajang menikahi seorang perempuan yang keturunan ata, maka sebagai sanksinya kedua pasangan tersebut tidak bisa tinggal dalam kawasan adat, kecuali telah menyelesaikan ritual adat dan pembayaran denda sesuai pelanggaran adat yang dilakukan.

Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Adat Pada perkawinan

Pelanggaran adat pada perkawinan mendapat sanksi berupa denda material juga mendapat sanksi sosial berupa pengucilan dari berbagai upacara adat yang dilakukan dalam kawasan adat Kajang. Selain itu berdampak pula pada sanksi alam, menurut Galla Puto apabila ada pelanggaran yang dilakukan komunitas ada Kajang, maka kondisi alam akan terpengaruh seperti tanapaturungi

bosi, tanapara’rangi allo, tanapanaingi juku

artinya terjadi hujan terus menerus, kemarau berkepanjangan, ikan di sungai akan menjauh dan tanam tanaman tidak jadi berkembang dan sebagainya. Apabila terjadi pelanggaran adat, maka alam akan memberikan tanda-tanda berupa tanam-tanaman yang tidak jadi, terjadi wabah penyakit dan sebagainya. Apabila terjadi hal yang demikian, maka, para pemangku adat mencari tahu pelanggaran adat apa telah yang dilakukan manusia dalam kawasan ammatoa, sehingga alam memperlihatkan responnya. Pelanggaran adat yang telah dilakukan dan tidak dilaporkan kepada pemangku adat, maka sanksi yang terkena pula pada orang yang menyembunyikan pelanggaran adat tersebut. Menurut penuturan Galla Puto, masyarakat

ammatoa tidak boleh menyembunyikan sesuatu

hal yang diketahui melanggar adat, dan tidak dilaporkan kepada pemangku adat, karena akan berdampak pada alam lingkungan. Oleh sebab itu apabila terjadi pelanggaran adat misalnya ada yang melakukan silariang, hamil diluar nikah, dan perkawinan beda status, maka pihak-pihak yang mengetahui hal tersebut harus

melaporkan kepada galla Kajang atau galla

puto untuk diberi tindakan sesuai dengan sanksi

adat yang berlaku. Apabila seluruh persyaratan sanksi denda yang belum bisa dipenuhi, maka yang bersangkutan harus dipassala yaitu meninggalkan kampung halaman yaitu keluar dari wilayah kawasan adat Kajang dan baru bisa kembali apabila semua aturan dalam pelanggaran adat telah diselesaikan.

Perkawinan silariang

Kasus perkawinan silariang pada komunitas adat Kajang, penyelesaian pelanggaran dilakukan berdasarkan aturan adat yang berlaku, yaitu dilaporkan terlebih dahulu kepada galla Kajang, yang bertanggungjawab menangani persoalan apabila permasalahan ini tidak mencapai kesepakatan baru diserahkan kepada ammatoa. Akan tetapi apabila telah diputuskan oleh galla Kajang, maka keputusan itulah yang dianggap sah. Dalam hal perkawinan

silariang pihak perempuan yang menuntut

kepada pihak keluarga laki-laki untuk mencari dimana keberadaan mereka dengan jaminan tanah gilereng (tanah adat yang berikan secara bergiliran kepada masyarakat untuk diolah dan diambil hasilnya), tanah yang digarap oleh pihak laki-laki. Tanah tersebut akan dikembalikan apabila anak perempuan yang dibawa kabur telah ditemukan atau dikembalikan, akan tetapi tidak diketemukan maka hasil tanah gilereng menjadi bagian dari pihak keluarga perempuan yang menuntut.

Peristiwa silariang yang merasa dipermalukan (siri) adalah keluarga pihak perempuan, sehingga pihak laki-laki harus menghindari pertemuan dengan keluarga perempuan yang dilarikan, karena apabila terjadi pertemuan yang tak terduga bisa saja menimbulkan tindak kekerasan yang dilakukan keluarga pihak perempuan sebagai orang

tunipasiri. Apabila kedua pasangan ini mau

kembali kepada keluarganya, maka harus melalui proses abbaji (kembali baik), dengan melalui proses mediasi yang difasilitasi oleh

galla lombo (kepala desa), kepala dusun atau Perkawinan dan Pelanggaran Adat ...Raodah

(14)

pemangku adat (ammatoa, galla puto) untuk menyampaikan kepada keluarga perempuan, apabila abbaji ditolak maka kedua pasangan ini tidak bisa melakukan proses abbaji untuk kedua kalinya. Berdasarkan adat yang berlaku di Kajang, apabila orang kawin lari mau menyelesaikan permasalahannya, maka harus memenuhi persyaratan yang diajukan oleh pihak keluarga perempuan yaitu sunrang (mahar), biasanya mahar dari perkawinan silariang lebih besar dari sunrang dalam perkawinan jujur artinya perkawinan yang melalui pelamaran. Kalau kedua pasangan tersebut belum melaksanakan pernikahan, maka mereka dinikahkan setelah memberi sunrang kepada pihak perempuan dan menyerahkan denda 40 juta dengan 1 ekor kerbau. Kegiatan ritual

abbaji dilakukan di rumah keluarga perempuan.

Prosesi pelaksanaan ammiro abbaji dihadiri oleh pemerintah setempat yaitu galla

lombo (kepala desa), dan beberapa pemangku

adat serta keluarga pihak perempuan terdiri dari kedua orang tua, kakek/nenek, saudara, kerabat dekat dan seluruh warga yang mengetahui adanya prosesi ini hadir untuk. Uang denda sebesar 40 juta rupiah dibagi dua, yaitu 20 juta untuk pihak keluarga perempuan dan 20 juta dibagi kepada pemangku adat dan masyarakat yang hadir diacara tersebut. Pembagian uang denda dilakukan oleh

galla puto (juru bicara ammatoa). Uang denda

yang dibagikan secara adat dilakukan dengan cara satu bagian untuk ammatoa, dan satu bagian dibagi secara rata kepada semua pemangku adat yang hadir. Sisa uang yang kemudian dibagikan kepada warga yang dihadir. Akan tetapi yang tidak bisa mendapatkan bagian dari uang denda itu yaitu orang tua, saudara, kakek/ nenek, sepupu-sepupuh dari pihak perempuan. Apabila warga masyarakat Kajang mendengar ada pasangan yang akan melakukan abbaji, mereka berbondong-bondong menghadiri ritual tersebut untuk mendapatkan bagian dari uang denda yang dibagikan oleh pemangku adat. Selain uang denda yang dibagikan orang yang hadir mendapat pula daging kerbau yang dibagi secara merata kepada orang yang hadir.

Pembagian uang denda sengaja dibagikan kepada warga masyarakat sebagai pembelajaran, bahwa perbuatan silariang sangat merugikan kedua belah pihak karena mendapat sanksi adat dan membuat malu keluarga, sehingga diharapkan jangan sampai perbuatan ini terjadi pada orang lain. Dalam acara abbaji kedua mempelai diberi petuah yang disebut adeppo, yang dilakukan oleh galla puto yang berbunyi.

“Langngeriki Baco/Becce innehajimako

tangngakodi, ritattongtong rimatea, ammajo ajo rikodia, tallasamako ta’mate. Inne alloa riemako haji nasabbimako ada na pamarenta, tangsahe ammuko embarang rie appassambangiko kaleleng appatinjakiko katinting, taliamo dahuna ada na pamarenta dahunamami babba bangkeng”.

Artinya:

Dengar Baco/Bace, (nama kedua mempelai) hari ini kamu sudah datang untuk baik, kalau kemarin kamu

silariang dan dibayang bayangngi

ketakutan antara hidup dan mati. Hari ini kamu hadir disini disaksikan oleh adat dan pemerintah. Apabila besok ada yang mempermasalahkan perbuatan kamu, maka bukan lagi urusan adat dan pemerintah, akan tetapi kamu dapat melaporkan ke polisi.

Hamil di Luar Nikah/pelecehan seksual

Tata cara penyelesaian pelanggaran adat pada perkawinan hamil diluar nikah, menurut adat. Pelanggaran hamil di luar nikah tidak dikenakan denda hanya di kenakan

sunrang lebih tinggi dari sunrang atau mahar

perkawinan yang ideal, yaitu 44 juta dan satu ekor kerbau. Kalau disetujui oleh pihak laki-laki, maka kedua mempelai dinikahkan secara adat dan agama. Pernah terjadi kasus ada wanita Kajang hamil di luar nikah, namun wanita tersebut menyembunyikann kehamilannya, karena dilarang oleh laki-laki yang menghamilinya, akibat perbuatan tersebut

(15)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

terjadi tanda tanda alam. Menurut galla

pantama, apabila ada orang yang melakukan

pelanggaran adat misalnya ada seorang wanita hamil di luar nikah di kampung ini, maka alam akan memperlihatkan tanda-tandanya, sehingga perlu segera dilakukan pencarian terhadap orang yang melakukan pelanggaran adat. Setelah diketahui oleh pihak adat kasus tersebut, maka dicari laki-laki yang menghamilinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Berdasarkan aturan adat penyelesaian pelanggaran adat pada hamil diluar nikah, maka pihak laki-laki tidak dikenakan denda, akan tetapi harus membayar sunrang (mahar) dua kali lipat sesuai ketentuan adat, misalnya

sunrangnya (mahar) 12 juta rupiah akan

menjadi 24 juta rupiah. secara adat maupun agama. (wawancara, 7 Agustus 2019).

Pelecehan seksual, misalnya seorang laki-laki melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap seorang perempuan dan keduanya masih berstatus gadis dan perjaka. Kemudian keluarga perempuan mempermasalahkan perbuatan tersebut dan melaporkan kepada Ammatoa, maka laki-laki harus mempertanggungjawabkan perbuatan dengan membayar sanksi adat sebesar 12 juta rupiah dan diberi tenggang waktu untuk mengawinin perempuan tersebut. Apabila setelah tenggang waktu yang telah ditentukan si laki-laki tidak mengawini perempuan tersebut, maka uang denda itu hangus dan menjadi milik perempuan dan pihak adat. Namun, apabila laki-laki itu setuju untuk mengawini perempuan itu, maka uang denda sebesar 12 juta menjadi sunrang atau mahar kemudian ditambah besarannya menjadi 24 juta rupiah.

Kawin Beda Strata Sosial

Pelanggaran adat terbesar dalam perkawi-nan pada komunitas adat Kajang adalah perkawinan beda strata sosial yaitu antara

karaeng (bangsawan) dengan ata (budak),

atau perkawinan sedarah yaitu anak dan orang tua, paman dan kemanakan. Walaupun kasus perkawinan sedarah tidak pernah diketemukan

dalam komunitas adat, yang ada adalah beberapa kasus yang terjadi pada perkawinan beda strata sosial. Seorang perempuan karaeng kawin dengan laki-laki keturunan ata, maka sanksi sosialnya nipassala, diusir keluar dari kampung atau istilah lain adalah nipaompangi

tana artinya dianggap sudah mati. Dahulu kedua

pasangan ini di buang di laut, namun sekarang ini aturan tersebut tidak dilakukan lagi dengan pertimbangan kemanusian, mereka hanya di usir ke luar wilayah dan diputuskan hubungan dengan keluarganya, termasuk menghubungi atau mencari informasi tentang keberadaanya sangat dilarang. Apabila diketahui oleh pemangku adat bahwa keluarganya (orang tuanya) masih sering berhubungan dengan anaknya yang melakukan pelanggaran adat, maka keluarganya tersebut dikenakan sanksi denda berupa uang sebagai pembersih kampung. Menurut aturan adat, melarang keras seorang perempuan berstrata karaeng yang melakukan perkawinan beda strata sosial untuk mendekati kawasan adat atau melintas dekat kawasan, karena berdampak pada sanksi alam, yaitu tanapaturungi bosi, tanapara’rangi

allo, tanapanaingi juku artinya kemarau

berkepanjangan, hujan terus menerus, ikan di sungai akan menjauh dan tanam tanaman tidak jadi berkembang dan sebagainya. Menurut pemahaman komunitas adat Kajang, bahwa apabila ada orang yang melakukan perkawinan beda strata, dianggap manusia kotor yang berdampak kepada masyarakat dan alam di mana ia berpijak.

Menurut Puto Pantama (Bungko), bahwa orang yang melakukan perkawinan beda strata sosial, apabila ingin kembali ke keluarganya yang berada di kawasan adat, maka terlebih dahulu harus bercerai dengan suaminya dan melalui proses adat yaitu membayar denda dan melakukan ritual pembersihan diri. Apabila persyaratan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka pasangan ini selamanya tidak akan kembali ke kawasan sampai tiga turunan yaitu anak cucunya (ampungnya). Kalaupun anak cucunya mau ke kembali ke kawasan maka terlebih dahulu

(16)

harus ada diantara mereka yang kawin dengan strata sosial karaeng, tapi kalau anak cucunya masih ada menikah dengan strata patola atau ata, sehingga garis keturunannya masih menjalar di bawah artinya masih rata dalam bahasa Konjo disebut (lambeng lame jaha) maka mereka tetap tidak diterima masuk dalam kawasan atau berkumpul dengan keluarganya yang ada di dalam kawasan adat. Akan tetapi apabila anak cucunya sudah ada yang kawin dengan strata karaeng, disebut lambeng sekka artinya keturunannya sudah menjalar ke atas, maka secara adat sudah bisa masuk ke dalam kawasan menemui keluarga kakek neneknya, dengan membayar pabbissa kampong yaitu denda, namun kedua orang tuanya tetap tidak diperkenankan masuk ke dalam kawasan adat Kajang (wawancara 8 Agustus 2019) .

Menurut aturan adat dalam pasang perempuan yang melakukan pelanggaran adat kawin dengan beda strata, maka setelah melakukan perceraian diharuskan melakukan ritual abbissa kampung (pencucian kampung) dan dikenakan denda ohang (uang) 48 real sama dengan 48 juta rupiah , tedong sikaju (satu ekor kerbau), berasa sipattung (satu ton beras), jenne

tuak lohe (air nira/tuak sekitar 10 liter), jangan assingkamma tingkokona (beberapa ekor ayam

yang sama suaranya) dan birang (kain kafan) 12 singkulu (siku). Setelah diadakan ritual pembacaan doa yang dihadiri perangkat adat dan pemerintah setempat di rumah perempuan yang. Selanjutnya dilakukan ritual pembersihan diri, yaitu dengan mandi untuk mensucikan kampung yang dilakukan dipersimpangan sungai yang ada dalam kawasan. Ritual ini dilakukan pada malam hari yang dipimpin oleh Angronta ( perangkat adat). Adapun prosesi pelaksanaannya yaitu wanita tersebut bersama dengan keluarganya dibawa ke sungai untuk dimandikan, oleh

angronta dengan membersihkan seluruh

tubuh perempuan tersebut, termasuk bagian kemaluannya untuk mengeluarkan segala kotoran yang ada ditubuhnya. Setelah dimandikan pakaian yang dikenakan saat mandi kemudian dilepas selanjutnya dihanyutkan ke

sungai sebagai simbol untuk menghilangkan segala kesialan yang akan menimpah dirinya dan seluruh isi kampung. Setelah ritual ini dilakukan barulah wanita tersebut diterima oleh masyarakat adat dan keluarganya.

Beda halnya apabila laki-laki keturunan

karaeng kawin dengan seorang perempuan ata

(budak), perkawinan ini merupakan pelanggaran adat. Apabila kasus seperti ini terjadi, maka tata cara penyelesaiannya dilakukan secara adat mereka tidak diusir keluar kampung hanya dikenakan sanksi adat berupa denda sebagai pembersih kampung terhadap istrinya yang berstrata ata (budak) berupa denda uang sebesar Rp.24 juta dan 1 ekor kerbau. Sanksi ini bertujuan sebagai tata cara menaikkan strata sosial wanita tersebut. Walaupun setelah membayar denda, derajat sosial wanita atau istrinya tidak bisa disamakan dengan derajat

karaeng, dalam adat mereka masih diperlakukan

sebagai orang yang biasa. Misalnya pada upacara adat wanita tersebut tidak boleh duduk bersama-sama dengan wanita karaeng, mereka masih diposisikan duduk di sudut rumah tidak boleh duduk berdampingan dengan pemangku adat. Sanksi dalam pelanggaran adat ini lebih ringan dibanding apabila wanita berstrata

karaeng menikah dengan laki-laki berstrata ata

(budak). Pada masyarakat Kajang berlaku garis keturunan (strata sosial) patrilineal artinya garis keturunan ditarik dari pihak bapaknya, kalau laki-laki adalah karaeng maka garis keturunan anak-anaknya mengikut ke bapaknya, akan tetapi ia tetap masuk sebagai anggota kerabat pihak ayah dan ibunya (bilateral).

PENUTUP

Perkawinan silariang atau kawin lari pada umumnya terjadi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan yang membedakan hanya tata cara penyelesaiannya. Berdasarkan aturan adat di komunitas adat Kajang kasus perkawinan

silariang sering terjadi, karena ada penolakan

dari pihak keluarga perempuan atau karena ada unsur paksaan dari pihak laki-laki. Penyelesaian

(17)

WALASUJI

Volume 11, No. 2, Desember 2020:

pelanggaran adat dalam perkawinan silariang untuk kembali tinggal di Kajang dan berkumpul dengan sanak saudaranya, dengan cara melaksanakan ritual ammiro baji/abbaji dengan membayar denda sesuai aturan adat yang berlaku. Ada pula sebagain pasangan yang kawin lari tidak kembali ke kampung halamannya dengan alasan tidak sanggup membayar denda yang dipersyaratkan oleh adat. Sampai sekarang masyarakat adat Kajang masih ketat melakasanakan sanksi adat apabila ada anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran adat dalam perkawinan silariang. Tindakan yang dilakukan pemangku adat berupa sanksi denda, sebagai manefestasi penegakan hukum adat yang dapat menimbulkan efek jera bagi pelakunya.

Perkawinan terjadi akibat hamil di luar nikah, kasus ini merupakan aib yang membuat malu khususnya keluarga dan masyarakat Kajang secara umum. Pelanggaran adat, dalam kasus ini walaupun terbilang ringan karena tidak membayar denda melainkan hanya membayar mahar, namun besaran maharnya (sunrang dua kali lipat dari perkawinan biasa atau perkawinan jujur). Masyarakat adat Kajang sangat menghargai harkat dan martabat kaum perempuan, apabila terjadi pelecehan seksual maka yang melakukan perbuatan tersebut dikenakan sanksi berupa denda uang, sehingga kasus-kasus pelecehan seksual sangat terjaga, karena ada aturan adat yang melindunginya.

Perkawinan beda strata sosial yang dianggap sangat fatal bagi komunitas adat Kajang, merupakan suatu tindakan yang merusak tatanan sosial masyarakat adat Kajang. Masyarakat Kajang yang menganut pewarisan strata sosial secara patrilineal melarang perempuan yang berdarah bangasawan/

karaeng kawin dengan laki-laki berdarah ata

atau budak. Sanksi yang dikenakan sangat berat yaitu nipassala atau pengusiran keluar dari wilayah Kajang dan nipatompangi tana (dianggap mati) atau dibuang di laut. Tata cara penyelesaian pelanggaran dalam perkawinan seperti ini sangat berat, selain sanksi denda yang

besar, kedua pasangan harus bercerai. Sampai sekarang kasus perkawinan seperti ini tidak pernah lagi diselesaikan secara adat karena pasangan yang melakukan pelanggaran adat tidak ada yang kembali ke kampung halamannya atau berhubungan dengan keluarganya. Mereka menjalani kehidupannya di perantauan sampai akhir hayatnya.

Keberadaan masyarakat adat Kajang merupakan salah satu asset budaya bangsa yang tetap berupaya mempertahankan pranata-pranata sosial sesuai aturan adat atau hukum adat yang berlaku dalam komunitasnya. Asset budaya ini tentunya tidak dapat bertahan apabila tidak ada perlindungan dan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, pemerhati budaya dan lembaga adat. Oleh sebab itu diharapkan semua stakeholder tetap memberi ruang dan dukungan untuk keberadaan komunitas adat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Adhan, Syamsurijal.2005. Islam dan Patuntung di Tanah Toa Kajang: Pergulatan Tiada Akhir. Dalam Hikmat Budiman,ed.Hak-Hak Minoritas: Dilema Multikulturisme di Indonesa. Jakarta: Yayasan Interaksi Bekerjasama dengan Tifa Foundation. Annisa Sahibah Sahju. 2018. Larangan

Perkawinan Sesuku Pada Masyarakat Hukum Adat Suku Jambak Padang Pariaman Di Bandar Lampung. Skripsi. Fakultas Hukum Lampung Bandar Lampung

Bushar Muhammad. 2006. Azas-Azas Hukum Adat. Jakarta: PT Pradnya Paramitha Hafid, Abdul. 2010. Adat Perkawinan Orang

Tolaki.Makassar : Penerbit Dian Istana. Hadikusuma, Hilman. 2003. Pengantar ilmu

hukum adat Indonesia. Bandung: Mondar Maju.

--- 2007.Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama. Bandung: Mondar Maju Cet.3.

Kotjaraningrat.1992. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.

(18)

Moloeng,L.J.2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Nurmarhama, Puput. 2018. Eksistensi perkawinan Silariang Dalam Perspektif Hukum Adat di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto. Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Sosial. Jurusan PPKn. Universitas Negeri Makassar.

Rahmayanti,Ana.2017. Tinjauan Yuridis Menurut Hukum Adat: Studi Kasus di Kabupaten Takalar. Jurnal Legal Opinion Vol.5 no.3

Salle, Kaimuddin. 2000. Kebijakan Lingkungan Menurut Pasang: Sebuah Kajian Hukum Lingkungan Adat Pada Masyarakat

Ammatoa Kecamatan Kajang Kabupaten Daerah Tingkat II Bulukumba. Makassar: Jurnal Pascasarjana Universitas Hasanuddin Vol.1

Setiady, Tolib. 2009. Intisari Hukum Adat Indonesia. Bandung: Alfabeta

Soepomo. 1977. Bab Bab Tentang Hukum Adat. Penerbit Balai Pustaka

Soerjono Wignjodipoere.1988. Asas-asas Hukum Adat. Jakarta: Gunung Agung Ter Haar.1950. Asas-Asas dan Susunan Hukum

Adat (terjemahan). Balai Pustaka

Ihromi. T.O. 2001. Antropologi Hukum (Sebuah Bunga Rampai). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Undang Undang No.1 tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Gambar

Gambar 1. Pintu gerbang memasuki kawasan  dalam (ilalang embayya)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil identifikasi menyimpulkan bahwa, faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan usaha komoditi kemiri lokal di Kampung

Pola penghambatan komponen bioaktif EMM juga akan dibandingkan dengan fraksi D dari ekstrak etil asetat yang telah diperoleh dari hasil penelitian

Dari ketiga penyelenggaraan IP Telephony adanya perbedaan antara PSTN, VoIP Rakyat dan VoIP Merdeka yaitu melalui cara kerja dari sistem, harga, jaringan, bit rate, penomoran

Kombinasi yang paling optimal belum dapat ditentukan pada penelitian ini walaupun konsentrasi ekstrak gambir sudah mencapai 40 mg/mL dan waktu kontaknya mencapai 120

Ketika seseorang karyawan dapat menerima informasi terkait pekerjaan atau tugas dengan baik, maka hal tersebut akan membuat ia dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut sesuai dengan

Batik Madura khususnya dari Tanjung Bumi merupakan pesona batik Nusantara dari Pulau Madura yang telah menjadi salah satu ciri khas Indonesia dan telah menjadi

Keadaan tersebut menyebabkan fundamental ekonomi yang kurang baik dan kemudian berdampak pula pada makroekonomi di Indonesia sehingga masyarakat Indonesia lebih memilih

Dapat disimpulkan bahwa hadiṡ yang memperbolehkan turun setelah hadiṡ larangan, ini artinya dalam memahami hadiṡ tersebut haruslah tidak melarang secara mutlak