• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. PERANCANGAN BANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3. PERANCANGAN BANGUNAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

3.1. Agama Buddha dan Perkembangannya 3.1.1. Agama Buddha

Agama Buddha telah berusia dua puluh lima abad dengan jutaan pengikut setia di seluruh dunia yang dikenal sebagai Buddha Dhamma atau Buddhism, yakni ajaran yang menawarkan pendekatan berbeda untuk meraih kebahagiaan yang bersumber pada Kesunyataan Mulia atau Kebenaran Mutlak yang diajarkan oleh Yang Maha Sempurna Buddha Gautama, seorang putra mahkota dari suku Sakya (sebuah negara kecil di bagian Utara India).

Agama Buddha adalah ajaran filsafat yang menawarkan pendekatan berbeda untuk meraih kebahagiaan. Pada hakekatnya mengajarkan manusia akan hukum-hukum abadi, pelajaran tata susila yang mulia dan ajaran agama yang merupakan kesatuan.

Agama Buddha membantu manusia mengatasi masalah kehidupan untuk meraih kebahagiaan sejati. Disebutlah penerangan sempurna oleh penganut Buddha, kebahagiaan ini adalah perubahan yang terjadi di dalam diri, dan disertai dengan ketenangan mendalam, persepsi yang jelas, dan perasaan welas asih terhadap mahluk lain. Setiap orang memiliki kemampuan untuk berubah karena, menurut Agama Buddha, penerangan sempurna sudah ada dalam diri kita, hanya saja dalam keadaan tertidur dan tidak disadari.

3.1.2. Pengertian

Agama Buddha pada dasarnya adalah suatu agama yang meletakkan kepercayaan terhadap diri sendiri sebagai landasannya yang prinsipal. Agama Buddha memberikan kebebasan berpikir dan toleransi yang besar, yang menakjubkan orang banyak. Ia menghormati semua agama sebagai pengejawantahan yang nyata, dari pengertian dan aspirasi spiritual tertinggi dalam berbagai bentuk, yang cocok untuk berbagai pengertian manusia pada berbagai tahap dalam perjalanan evolusi mereka yang panjang.

(2)

Kata Buddha (berasal dari akar kata “budh” atau “sadar”) menunjuk pada seseorang yang telah sadar akan kebenaran sejati, adalah gelar yang diberikan kepada Gautama Sakyamuni atau “Gautama yang waskita dari Sakya”, yang mengajarkan doktrin-doktrin agama Buddha (Penerangan Sempurna, Nirvana, Dhamma, Jalan Tengah, Empat Kesunyataan Mulia, Perlindungan, Hukum Karma).

3.2. Hari Besar

Menurut Sangha Theravada Indonesia terdapat 5 hari raya atau hari besar yang dianggap penting dalam agama Buddha, dimana penanggalan yang digunakan berdasarkan perhitungan Lunar Kalender, yakni perhitungan tanggal berdasarkan “bulan”, antara lain :

- Hari Raya Upposatha

Yaitu : hari kebaktian umat Buddha untuk melaksanakan Atthasila sepenuhnya (Hari Puasa}, dilakukan 4 kali dalam sebulan, yaitu pada tanggal 1, 8, 15, 23 dengan perhitungan Lunar Kalender.

- Hari Raya Tri Suci Waisak

Yaitu : hari suci yang memperingati 3 peristiwa besar (kelahiran Pangeran Sidharta Gautama, Pangeran Sidharta telah mencapai penerangan Sempurna dan menjadi Buddha atas usahanya sendiri, Sang Buddha mangkat dan mencapai Parinibbana atau tidak dilahirkan kembali). Dilakukan pada bulan Mei, pada waktu purnama sidhi (terang bulan).

- Hari Raya Asadha

Yaitu : hari dimana memperingati kotbah pertama Sang Buddha, terbentuknya persamuan para Bhikkhu (Sangha), lahirnya Sang Tiratana (Buddha, Dhamma, Sangha).

- Hari Raya Kathina

Yaitu : hari yang tepat bagi umat Buddha mempersembahkan perlengkapan alat-alat Vihara untuk kebutuhan hidup bagi para Bhikkhu yang telah melaksanakan Vassa (peraturan para Bhikkhu untuk menetap di suatu tempat tanpa berpidah selama tiga bulan, kecuali untuk kepentingan Dhamma, maksimum tujuh malam berturut-turut) selama tiga bulan.

(3)

- Hari Raya Magha Puja

Yaitu : hari untuk memperingati dua kejadian penting yang dialami Sang Buddha pada masa hidupnya, yakni berkumpulnya 1250 arahat tanpa diberitahukan terlebih dahulu ke Vihara Veluvana di kota Rajagaha guna memberi hormat pada Sang Buddha sekembalinya mereka dari tugas menyebarkan Dhamma, mereka semua adalah Ehi Bhikkhu – Bhikkhu yang ditahbiskan sendiri oleh Sang Buddha. Dirayakan pada purnama sidhi di bulan Magha (antara bulan Febuari – Maret).

3.3. Tata Cara Peribadatan

Terdapat tiga kegiatan pokok yang dikategorikan dalam kegiatan peribadatan agama Buddha, antara lain :

3.3.1. Kegiatan yang dilakukan secara rutin (Puja Bhakti)

Merupakan kegiatan yang dilangsungkan di Vihara yang bersifat rutin, biasanya dilakukan pada hari Minggu pagi.

Dimulai dengan bunyi lonceng kemudian pemimpin kebaktian (Pandita atau Bhikkhu) menyalakan dupa harum dan berlangsunglah Puja Bhakti dengan urutan sebagai berikut :

- Umat yang datang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, kemudian melakukan Namakhara, yaitu melakukan penghormatan dengan berlutut dan memanjatkan Namaskara Gatha untuk memuja Sang Tiratana. Membaca beberapa paritta (kalimat atau doa yang diucapkan untuk pemujaan) di dalam Paritta Suci mengikuti pemimpin kebaktian.

- Melakukan meditasi untuk menenangan batin.

- Umat mendengarkan Dhammadesana (khotbah), yang diberikan oleh Dhamma Duta ( Pandita atau Bhikkhu).

- Menyanyikan Gita Namaskara. - Melakukan Namakhara.

(4)

3.3.2. Kegiatan Dalam Upacara Upacara Tri Suci Waisak

- Pemimpin upacara menyalakan dupa harum. - Melakukan Namakhara.

- Pemimpin upacara menyambut prosesi (pradhakina) yang akan memasuki ruangan upacara dengan menyanyikan Vesakha Puja Gatha bersama-sama umat, sampai prosesi (pradhakina) berada di depan altar.

- Penyerahan lilin, air, dupa, dan bunga kepada pembantu pemimpin upacara untuk diletakkan di altar, kemudian umat dudk bersila di depan altar.

- Pemimpin dan umat membacakan Paritta Puja. - Perenungan terhadap sifat-sifat Sang Tiratana. - Melakukan meditasi Waisak.

- Menerima pemercikan tirta paritta dengan sikat anjali. - Mendengarkan khotbah renungan Waisak.

- Menyanyikan lagu-lagu Waisak. - Menyanyikan Namaskara Gatha.

Upacara Asadha

- Pemimpin upacara menyalakan dupa harum. - Melakukan Namakhara.

- Membacakan paritta bersama-sama pemimpin umat. - Melakukan meditasi Asadha.

- Mendengarkan khotbah.

- Menerima pemercikan tirta paritta dengan sikap anjali. - Menyanyikan Gita Asadha.

- Melakukan Namakhara.

Upacara-upacara hari besar yang lain dilakukan dengan cara yang hampir sama, yang berbeda hanya perubahan di dalam membaca paritta, yang mana semuanya telah diatur dalam buku Paritta Suci yang berisi pedoman pokok mengenai tata cara kebaktian dan kegiatan upacara lainnya.

(5)

3.3.3. Kegiatan Dalam Upacara-Upacara Umum

Perkawinan, penyumpahan pejabat, kematian, dan beberapa upacara lainnya yang dilakukan didepan altar; dilakukan dengan tata cara yang hampir sama dan diatur di dalam buku Paritta Suci.

3.4. Sidharta Gautama dan Ajarannya

Pangeran Sidharta dilahirkan sekitar 2500-2600 tahun yang lalu, dan umumnya dianggap pada tahun 563 SM, di Taman Lumbini dekat perbatasan Nepal – India. Beliau kemudian diramalkan menjadi seorang penguasa dunia atau akan menjadi orang suci dan guru agung spiritual. Ibunda Beliau Sri Ratu Mahamaya meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Semenjak itu, Ia dirawat oleh bibinya yang bernama Maha Majapati.

Sang Pangeran tumbuh dengan segala fasilitas dan kebutuhan yang selalu terpenuhi. Akhirnya, Pangeran menjadi bosan oleh kesenangan kehidupan istana yang tiada henti-hentinya, yang sengaja diadakan oleh ayahNya untuk memisahkanNya dengan kehidupan nyata yang menyedihkan di luar tembok istana. Tujuannya adalah menjadikan Sang Pangeran sebagai pewaris tahta seperti yang diinginkan oleh ayahanda raja.

Pada usia enam belas tahun, Beliau menikah dengan Putri Yasodhara dan mempunyai anak yang diberi nama Rahula. Suatu hari, Beliau berjalan-jalan keluar istana dan Beliau melihat empat macam peristiwa yang seharusnya tidak boleh terlihat oleh Sang Pangeran yaitu : orang tua, orang sakit, orang mati, dan orang pertapa. Semenjak itu, Beliau menjadi murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang ada. Akhirnya, Beliau meninggalkan segala miliknya pada usia 29 tahun dan diam-diam mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anakNya ketika mereka sedang tidur. Beliau pergi ke hutan untuk menemukan Penerangan Sempurna dan penangkal kesedihan dunia.

Setelah enam tahun mencari-cari tanpa hasil, Ia bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan berhasil menjadi Buddha, Yang Sadar Sepenuhnya, dan ajranNya yang bertahan selama lebih dua puluh lima abad hingga sekarang.

Sang Buddha mengajarkan Dhamma selama empat puluh lima tahun. Beliau wafat dan mencapai parinibbana di Kusinagara pada tahun 483 SM (dalam

(6)

usia delapan puluh tahun), setelah membawakan perdamaian dan Penerangan Sempurna kepada semua orang yang sungguh-sungguh mengikutiNya.

Pada saat menjelang wafat, murid-murid bahkan binatang-binatang di hutan berkumpul mengelilingiNya. Ananda, saudara sepupu dan pemimpin murid-murid Beliau, dengan tersedu-sedu bertanya, “Apa yang harus kami lakukan tanpa Guru yang membimbing?”

Sang Buddha menghiburnya dengan berkata, “Ketidakkekalan selalu ada pada sesuatu yang berkondisi, demikian pula badan jasmani(Ku) ini yang telah menjadi lapuk dan tidak dapat dipertahankan lagi. Karena itu Ananda, setelah Aku tiada, engkau dan semua muridKu haruslah menganggap Dhamma AjaranKu sebagai Guru yang akan membimbing kalian menuju Penerangan Sempurna. Berusahalah dengan giat untuk mencapainya”. Itulah sabda Beliau yang terakhir, terjadi pada tahun 588 SM (tahun nol, era Buddhis).

Setelah Beliau parinibbana muncul sekte-sekte di dalam agama Buddha, antara lain :

- Sekte dari aliran Theravada

Majelis Pandita Buddhadhamma Indonesia (MAPANBUDHI) dengan Sangha Theravada Indonesia.

- Sekte dari aliran Mahayana

Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia (MAJABUMI) dengan Sangha Mahayana Indonesia, Majelis Dharmaduta Kasogatan Tantrayana Indonesia (MDKTI), Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI), Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia (MATRISIA).

- Sekte Buddhayana

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dengan Sangha Agung Indonesia.

3.5. Perkembangan Agama Buddha di Indonesia

Sejak awal abad pertama sesudah masehi agama Buddha mulai masuk ke Indonesia, hal ini ditandai dengan kedatangan seorang raja India bernama Ajisaka yang beragama Buddha aliran Theravada pada tanggal 14 Maret 78 M ; mulai saat inilah perhitungan tahun Saka dimulai.

(7)

Petunjuk lain tentang masuknya agama Buddha di Indonesia adalah berdasarkan catatan Bhikkhu Fa Hsien dari Tiongkokyang datang di pulau Jawa pada abad ke Empat Masehi, yang menyatakan bahwa agama Buddha telah berkembang di Indonesia.

Setelah itu, sampai pada tahun 600 Masehi, agama Buddha mulai tersebar secara perlahan di pulau Jawa dan Sumatera. Kemudian pada jaman kerajaan Sriwijaya di Palembang, agama Buddha mengalami kemajuan yang sangat pesat, di sana terdapat banyak vihara yang dihuni oleh ribuan Bhikkhu. Pada waktu itu Sriwijaya merupakan mercu suar agama Buddha di Asia Tenggara yang memancarkan cahaya Buddha manusia yang cemerlang. Juga pada masa kerjaan Mataram I (tahun 775 – 850 M ) dengan raja Syailendra. Pda waktu itu banyak didirikan candi-candi agama Buddha, seperti candi Mendut, Pawon dan Borobudur.

Negara Kesatuan II terbentuk pada jaman kerajaan Majapahit (tahun 1293 – 1528 M ) dengan berkembangnya agama Hindu dan agama Buddha bersama-sama. Tetapi bertepatan dengan masuknya agama Islam di Indonesia dan runtuhnya kerajaan Majapahit, agama Buddha mengalami pasang surut dalam perkembangannya.

Setelah Indonesia merdeka dan menemukan kembali kepribadian Negara Indonesia yaitu Pancasila, maka agama Buddha mulai berkembang secara berorganisasi dan dikembangkan dalam arah nasional oleh tokoh-tokoh Theosofie dan Sam Kauw Hwee, sebagai pelopor Kebangkitan Agama Buddha di Indonesia, sehingga berkembang seperti sekarang ini. Kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia (di pulau Jawa) dengan datangnya Bhikkhu Narada Thera dari Srilangka (Ceylon) di bulan Maret tahun 1934, dengan memberikan khotbah-khotbah dan pelajaran-pelajaran Buddha – Dharma di beberapa tempat di Jakarta, Bogor Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Selanjutnya kebangkitan tersebut ditandai pula dengan terbentuknya persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI) pada sekitar tahun 1954.

Sejak tahun 1958, mulai ditahbiskan beberapa Bhikkhu dan Samanera Indonesia oleh Bhikhu-Bhikhu dari Srilangka, Birma, Thailand dan Kamboja. Dengan adanya Bhikhu-Bhikhu tersebut dibentuklah Sangha Suci Indonesia yang

(8)

dalam perkembangannya menjadi Sangha Theravada Indonesia. Mulai saat itulah agama Buddha mulai kembali berkembang di Indonesia hingga seperti apa adanya sekarang.

3.6. Sepintas tentang Ajaran Agama Buddha

Ajaran agama Buddha tertulis dalam kitab suci Tripitaka, yang terbagi dalam tiga bagian, antara lain :

- Vinaya Pitaka

Berisi peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu atau Bhikkhuni. - Sutta Pitaka

Berisikan khotbah-khotbah Sang Buddha. - Abhidhamma Pitaka

Berisikan uraian mendalam, falsafah, metafisika, Dhamma. 3.6.1. Tiratana

- Buddha - Dhamma - Sangha

3.6.2. Empat Kesunyataan Mulia - Dukkha Ariyasacca

Tentang penderitaan atau Dukkha, yaitu : membahas tentang penghidupan seseorang, penderitaannya, kesedihan dan kegembiraannya, ketidakpuasannya, ketidakkekalannya dan kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang kekal dan abadi

- Dukkha Samudaya

Sumber Dukkha : berupa keinginan dan keharusan yang disertai dengan semua nafsu-nafsu lain, noda-noda serta kekotoran batin.

- Dukkha Niroda Lenyapnya Dukkha. - Magga

(9)

3.6.3. Jalan Mulia Berunsur Delapan - Pengertian Benar - Pikiran Benar - Ucapan Benar - Perbuatan Benar - Pencaharian Benar - Daya-upaya Benar - Perhatian Benar - Konsentrasi Benar 3.6.4. Tilakhana - Dukha - Anicca - Anatta 3.7. Fasilitas Bangunan

Fasilitas ruang yang direncanakan dibagi menjadi 4, yakni : 3.7.1. Fasilitas Utama - Dhammasala - R. Meditasi Tertutup - R. Meditasi Terbuka - Dhammaklas - Upposathagara - Kuti Bhikkhu - Kuti Samanera

- R. Makan Bhikkhu dan Samanera 3.7.2. Fasilitas Penunjang

- Perpustakaan - R. Serbaguna - Kios

(10)

- Dapur - Wisma Tamu - WC Umum 3.7.3. Fasilitas Pengelola - R. Pimpinan - R. Sekretaris - R. Bendahara - R. Pengurus - R. Rapat - R. Tamu - Pantry - Gudang - WC 3.7.4. Fasilitas Service - Pos Satpam

- Tempat Tinggal Pegawai - Gudang

- Pantry

- Area Penerimaan Barang - R. Genset - R. Trafo - R. Panel - R. Pompa - R. Tandon - WC

(11)

3.8. Pola Penataan Massa Bangunan

Pola penataan massa bangunan yang digunakan dalam proyek ini, yakni :

Diagram 3.1. Perbandingan

Dari hasil data perbandingan di atas antara cluster dan monolit, jelas terlihat monolit memiliki kemampuan yang hampir sama dengan cluster. Dengan kata lain, pola penataan massa yang digunakan adalah cluster.

3.9. Penataan Ruang Dalam Bangunan

3.9.1. Sistem Struktur

Pada proyek ini, sistem struktur yang digunakan adalah sistem struktur rangka kaku, space truss yang mana menggunakan konstruksi baja.

3.9.2. Pemilihan Bahan Bangunan yang Digunakan

Bahan-bahan yang digunakan disini antara lain : batu bata, kayu, batako, keramik, baja, dan lain-lain.

Gambar

Diagram 3.1. Perbandingan

Referensi

Dokumen terkait

Adriani menyatakan bahwa pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan, dengan

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok juga semakin mempersulit kehidupan tukang becak yang pendapatan semakin berkurang dari hari kehari.Tukang becak sebagai salah

selaku Koordinator Bidang Puskesmas Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang telah memberikan kesempatan

 Bersihkan rongga mulut, telinga, hidung dubur, kemaluan/ luka jenazah boleh dibersihkan dan disumbat dengan kapas yang direndam dengan larutan klorin (gunakan

inderanya ,Anak mulaimeniru perilaku keagamaan secara sederhana danmulai mengekspre-sikan rasa sayang dan cinta kasih,Anak mampu meniru secara terbatas perilaku

Terlihat bahwa kegiatan yang paling ber- pengaruh terhadap fungsi kognitif di kalangan lanjut usia adalah kegiatan masak sendiri - mereka yang tidak pernah masak sendiri 2 kali

Analisis ini digunakan dengan tujuan mengetahui hubungan antara kualitas udara fisik (pencahayaan, suhu, kelembaban, dan laju ventilasi), kualitas udara biologi

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI