JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

22 

Teks penuh

(1)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

STUDI TEROWONGAN JALAN RAYA PADANG – SOLOK

Yoszi Mingsi Anaperta1

ABSTRACT

Padang – Solok roadway has Solok hillsides are unstable due to pruning as well as human activity itself, so it will be at high risk for landslide occurrence. The tunnel is one of the transportation infrastructures that enable future in addressing this matter. Most of the tunnels are now constructed by several methods, one of which is the empirical method.

Rock mass classification is the forerunner of the empirical design method that is widely used in rock engineering. This empirical method consists of the classification system Tenaha with rock load concept, classification Laufer with the concept of stand-up time, Deere classification with concept index Rock Quality Designation (RQD), the concept of Rock Structure Rating (RSR) was developed by Wickham, Geomechanics classification of Bieniawski with Classification (RMR system) and the Q system by Carton.

The design of a tunnel construction is not only dealing with land that generally considered to be isotropic (homogeneous and continuous), but often have to deal with the rock mass is anisotropic and not continuous (discontinuous). These discontinuous areas greatly affects the load calculation-load acting on the tunnel, especially the rock mass above the hole openings in the works that will be useful for the design of tunnel support and the tunnel wall. Empirical results of the calculations used in the Padang-Solok lane tunnel is 74.809 cm thick walls; width 10 m, height 6 m. Further study for the realization of the tunnel need to be more thorough and focused.

Keywords : The Empirical Methode, Rock Quality Designation (RQD), the

concept of Rock Structure Rating (RSR), RMR system, Q system INTISARI

Padang - Solok jalan Solok memiliki lereng bukit tidak stabil akibat pemangkasan serta aktivitas manusia itu sendiri, sehingga akan beresiko tinggi untuk terjadinya longsor. Terowongan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang memungkinkan masa depan dalam mengatasi masalah ini. Sebagian besar terowongan sekarang dibangun dengan beberapa metode, salah satunya adalah metode empiris.

Klasifikasi massa batuan adalah pelopor metode desain empiris yang banyak digunakan dalam rekayasa batuan. Metode ini empiris terdiri dari sistem

(2)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

66

Wickham , Geomechanics klasifikasi Bieniawski dengan klasifikasi (sistem RMR) dan sistem Q oleh Karton.

Desain konstruksi terowongan tidak hanya berurusan dengan tanah yang umumnya dianggap isotropik (homogen dan terus menerus), tetapi sering harus berurusan dengan massa batuan anisotropik dan tidak kontinu (terputus). Daerah-daerah terputus sangat mempengaruhi beban perhitungan-beban yang bekerja pada terowongan, terutama massa batuan di atas lubang bukaan dalam karya-karya yang akan berguna untuk desain dukungan terowongan dan dinding terowongan.

Hasil empiris dari perhitungan yang digunakan di jalur terowongan Padang-Solok adalah 74,809 cm dinding tebal, lebar 10 m, tinggi 6 m. Studi lebih lanjut untuk realisasi terowongan perlu lebih menyeluruh dan terfokus.

Kata kunci: Metode Empiris, Penandaan Kualitas Batu (RQD), konsep Batu

(3)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

PENDAHULUAN

Propinsi Sumatera Barat terletak di bagian tengah dari pantai barat Pulau Sumatera dengan luas sekitar 4. 143.271 ha (41.432,7 km2) atau sepersepuluh dari luas Pulau Sumatera dan terdiri dari 14 Kabupaten/Kotamadya dengan 98 Kecamatan. Secara geografis propinsi Sumatera Barat terletak antara 0° 54' LU - 3° 30' LS dan antara 98° 36' BT 101° 53' BT, dengan kondisi topografi sebahagian besar adalah perbukitan. Kondisi topografi demikian akan menimbulkan permasalahan dihidang perhubungan darat yang banyak melewati lereng-lereng bukit terjal sehingga membutuhkan waktu perjalanan yang relatif lama untuk sampai pada tujuan.

Jalur Padang-Solok merupakan jalur yang sering dilewati oleh kendaraan antar kota dan antar propinsi yang membawa berbagai macam barang dan jasa yang sangat membutuhkan waktu perjalanan yang relatif singkat. Seperti diketahui jalur ini dibuat dengan jalan memotong lereng-lereng bukit yang tidak stabil sehingga akan beresiko tinggi terjadinya kelongsoran. Apabila terjadi kelongsoran, maka aktivitas transportasi pada jalur tersebut akan terganggu beberapa lama sampai jalur tersebut selesai diperbaiki. Tentunya hal ini akan menimbulkan permasalahan dihidang perekonomian masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan suatu jalur alternatif yang menghubungkan kedua daerah dengan membuat terowongan.

Terowongan merupakan salah satu alternatif prasarana perhubungan masa depan yang memungkinkan untuk mempersingkat

menembus rintangan akibat aktivitas manusia misalnya permukiman yang padat huni, kota, industri, tempat-tempat keramaian atau adanya pegunungan terjal yang sulit untuk dibuat jalur transportasi di permukaan tanah.

PENDEKATAN DAN PEMECAHAN MASALAH

Metode Rancangan Terowongan

Menurut Hoek dan Brown (1980) kebanyakan terowongan sekarang dibangun berdasarkan beberapa metode sistem klasifikasi, yang terdiri dari metode empiris, metode analitik dan metode observasi. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode empiris.

Metode empiris

Metode ini merupakan metode yang banyak digunakan pada saat sekarang. Metode ini dirumuskan pertama kali oleh Terzaghi (seorang geolog teknik terkemuka dan perintis ilmu mekanika tanah dari Amerika Serikat) yang kemudian dikenal dengan sistem klasifikasi beban batuan Terzaghi (1946). Pengalaman membuktikan bahwa pada metode Tarzaghi ditemukan kelemahan dan kemudian dimodifikasi oleh Deere (1970). Sistem yang baru ini memperkenalkan teknologi penyangga batuan yang baru, yaitu rock bolt dan shotcrete yang digunakan untuk keperluan berbagai proyek seperti terowongan, tambang, lereng dan fondasi. Sekarang ini ada beberapa sistem klasifikasi batuan seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Sistem klasifikasi beban batuan Terzaghi (1946) merupakan klasifikasi pertama diperkenalkan di Amerika Serikat dengan penyangga

(4)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

68

Klasifikasi Deere, et. al (1968) memperkenalkan indeks Rock Quality Designation (RQD) yang merupakan suatu metode sederhana dan praktis untuk mendeskripsikan kualitas inti batuan dari lubang bor. Konsep Rock Structure Rating (RSR) dikembangkan oleh Wickham, et. al (1972) di Amerika Serikat yang merupakan sistem pertama yang memberikan gambaran rating klasifikasi untuk memberikan bobot yang relatif penting dari parameter klasifikasi. Klasifikasi Bieniawski (1974) dengan Geomechanics Gasification (RMR system) dan Q-system oleh Barton, et. al (1974) dikembangkan secara terpisah dan keduanya menyediakan data kuantitatif untuk memilih penguatan terowongan yang modern seperti rock bolt dan shotcrete.

(5)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

Tabel 1. Klasifikasi massa batuan yang banyak digunakan Naina klasifikasi Penyusun dan

tahun

Negara asal

Aplikasi

Rock Load Terzaghi, 1946 USA Tunnels with steel support Stand-up Time Laufer, 1958 Austria Tunneling

NATM Pacheretal, 1964 Austria Tunneling Rock Quality

Designation

Deere etat, 1967 USA Core logging, Tunneling

RSR Concept Wickham et al., 1973 USA Tunneling RMR System (Geomechanics Classification) Bieniawski, 1973 (last modified, 1979-USA)

South Africa Tunnel, mines, slope, foundations RMR System Extension Weaver, 1975 Laubscher, 1977 Oliver, 1979 Ghose&Raju, 1981 Moreno Tallon, 1982 Kendoski et al., 1983 Nakaoetal., 1983 Serafini & Pereira, 1983 Gonzales de Vallejo, 1983 Unal, 1983 Romana, 1985 Newman, 1985 Sandbak, 1985 Smith, 1986 Venkateswarlu, 1986 Robertson, 1988 South Africa South Africa South Africa India Spain USA Japan Portugal Spain USA Spain USA USA USA India Canada Rippability Mining Weatherability Coal Mining Tunneling

Hard rock mining Tunneling

Foundation Tunneling

Roof bolting in coal mines Slope stability Coal mining Boreability Dredgeability Coal mining Slope stability

Q-System Barton etat, 1974 Norwey Tunnels, chambers Q-System Extension Kirsten, 1982 Kirsten, 1983 South Africa South Africa Excavatabili ty Tunneling

Strength-size Franklin, 1975 Canada Tunneling Basic

Geotechnical Description

International Society for Rock Mechanics (ISRM), 1981

General communication

Unified Clasification

Williamson, 1984 USA General communication

(6)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

70 HASIL DAN PEMBAHASAN

Evaluasi Metode Rancangan Empiris

1. Metode rock load clasification

Konsep umum dari klasifikasi Terzaghi ditampilkan pada Gambar 13 dan dijelaskan pada Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 2 menyatakan bahwa nilai rock load digunakan untuk mendeskripsikan kondisi tanah jika terowongan terletak di bawah muka air tanah. Jika terowongan

terletak di atas muka air tanah, rock load untuk kelas 4 - 6 dapat dikurangi dengan 50 %. Revisi dari koefisien rock load klasifikasi Terzaghi diberikan pada Tabel 3, yang memperlihatkan kondisi batuan Terzaghi pada point 4, 5 dan 6 (pada Tabel 3) harus dikurangi dengan 50 % dari nilai rock load awal karena muka air tanah efekya kecil terhadap rock load.

Gambar 1. Konsep beban batuan terowongan oleh Terzaghi (1946)

(7)

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN

ISSN : 2086 – 4981

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

(8)

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN

ISSN : 2086 – 4981

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

72

(9)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

2. Klasifikasi stand-up time

Stand-up time adalah jangka waktu dimana terowongan dapat stabil tanpa penyangga sesudah penggalian. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi stand-up time seperti orientasi dari sumbu terowongan, bentuk pe-nampang terowongan, metode penggalian dan metode penyangga. Klasifikasi Laufer (1958) ini tidak lama digunakan, karena dimodifikasi beberapa kali oleh engineer Austria yang mempelopori pengembangan New Austria Tunneling Method (NATM).

3. Indeks rock quality designation (RQD)

Untuk menentukan RQD, International Society for Rock Mechanics (ISRM) merekomendasikan ukuran inti paling kecil berdiameter NX (54,7 mm) yang dibor dengan menggunakan double tube core barréis. Hubungan antara indeks RQD dengan kualitas teknik dari batuan (Deere, et al. 1968) diperlihatkan pada Tabel 4

Tabel 4. Hubungan antara indeks RQD dengan kualitas teknik batuan

Gambar 2. Prosedur untuk mengukur dan perhitungan RQD

(Deere, et al. 1968) 4. Konsep rock structure

rating (RSR)

Ada 2 faktor pada konsep RSR yang harus diperhatikan sehubungan dengan perilaku massa batuan di dalam terowongan:

a. Parameter geologi 1. Tipe batuan

2. Pola kekar (jarak rata-rata kekar)

3. Orientasi kekar (dip dan strike)

4. Tipe diskontinuitas 5. Major fault, shears dan

folds 6. Sifat-sifat material batuan 7. Pelapukan atau alterasi b. Parameter konstruksi. 1. Ukuran terowongan

(10)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

74

dan C (Tabel 6, 7 dan 8). Ketiga parameter tersebut adalah:

a. Paramater A: penilaian umum dari struktur batuan berdasarkan:

1. Tipe batuan asal (Igeneous,

methamorphic, sedimentary)

2. Kekerasan batuan (keras, medium, lunak, decomposed) 3. Struktur geologi (masif, sedikit dipatahkan/dilipat, cukup dipatah-kan/dilipat, secara intensif dipatahkan/dilipat) b. Paramater B: efek pola

diskontinuitas terhadap arah penggalian tero- wongan berdasarkan: 1. Jarak kekar 2. Orientasi kekar (strike dan dip)

3. Arah penggalian terowongan

c. Parameter C: efek aliran air tanah berdasarkan: 1. Kualitas massa

batuan total yang disebabkan oleh kombinasi parameter A dan B

2. Tidak seperti indeks RQD yang hanya dibatasi pada kualitas inti 3. Merupakan klasifikasi yang lengkap yang mempunyai input dan output.

Nilai RSR untuk tiap seksi terowongan diperoleh dengan menjum-lahkan bobot nilai angka untuk tiap parameter. RSR mencerminkan kualitas massa batuan dengan kebutuhan akan

penyangga. Nilai RSR = A + B + C dengan nilai maksimum 100.

Jika digunakan Tunnel Boring Machine (TBM) untuk menggantikan metode penggalian dengan pemboran dan peledakan, maka RSR harus dikoreksi dengan menggunakan Adjustment Factor (AF) untuk berbagai diamater terowongan sebagai pada Tabel 5.

(11)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

Tabel 5. Adjustment Factor untuk berbagai diameter terowongan

Penaksiran kebutuhan rock bolt dibuat dengan menganggap rock load terhadap kuat tarik dari rock bolt. Untuk mendapatkan hubungan pada diameter rock bolt 25 mm dengan beban kerja 24.000 lb adalah sebagai berikut:

W

ft

Spacing

(

)

24

Dimana W adalah beban batuan lb/ft2.

Tidak ada koreksi yang dapat ditemukan antara kondisi geologi dan persyaratan shotcrete, sehingga disarankan hubungan empiris tersebut di bawah ini

150

65

25

,

1

1

W

atau

t

D

RSR

t

Dimana :

t = tebal shotcrete (inch) W = beban batuan (lb/ft2) D = diameter terowongan (ft)

(12)

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN

ISSN : 2086 – 4981

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

76

Tabel 6. Rock structur parameter A : daerah geologi umum

a

(13)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

(14)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

78

Gambar 3 memperlihatkan kurva untuk menentukan sistem ground support tipikal berdasarkan prediksi RSR yang menyangkut kualitas massa batuan sampai arah penggalian terowongan. Kurva ini dapat digunakan untuk bentuk terowongan bulat atau tapal kuda. Konsep RSR adalah metode yang sangat berguna untuk memilih penyangga steel rib untuk terowongan batuan.

Gambar 3. Konsep RSR kurva penyangga untuk terowongan

Ada 6 langkah dalam

menggunakan sistem klasifikasi RMR ini:

1. Hitung rating total dari lima parameter yang ada pada Tabel 9 sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya

2. Tentukan kedudukan sumbu terowongan terhadap jurus (strike) dan kemiringan (dip) bidang-bidang diskontinuitas seperti ditunjukan pada Tabel 10.

3. Setelah langkah kedua ditentukan, maka raungnya ditetapkan berdasarkan Tabel 11. Langkah ini disebut juga sebagai

penyesuaian rating (rating adjustment)

4. Jumlahkan rating yang didapat dari langkah pertama dengan rating yang didapat dari langkah ketiga, sehingga didapat rating total sesudah penyesuaian. Dari rating ini diketahui kelas dari massa batuan berdasarkan Tabel 12.

5. Setelah kelas massa batuan diketahui maka dapat diketahui stand-up time dari massa batuan tersebut dengan span tertentu serta kohesi dan sudut geser dalamnya seperti diperlihatkan pada Tabel 13. Bieniawski (1981) menggambarkan hubungan antara waktu stabil tanpa penyangga (stand up time) dengan span untuk berbagai kelas massa batuan menurut klasifikasi RMR seperti terlihat pada Gambar 5 6. Berdasarkan pada klasifikasi geomekanika ini, Bieniawski memberikan petunjuk untuk penggalian dan penyanggaan terowongan batuan dalam hubungan dengan sistem RMR seperti diperlihatkan pada Tabel 14

(15)

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN

ISSN : 2086 – 4981

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

(16)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

80

Tabel 10. Efek orientasi jurus dan kemiringan diskontinuitas di dalam penerowongan

Tabel 11. Penyesuaian rating untuk orientasi bidang-bidang diskontinuitas

elas massa batuan yang ditentukan dari rating total

Tabel 13. Arti dari kelas massa batuan

Gambar 5. Hubungan antara stand up time dengan span untuk berbagai kelas massa batuan

(17)

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN

ISSN : 2086 – 4981

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

(18)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

82

5. Klasifikasi Q-System

Kualitas massa batuan Q secara total sebagai berikut :

SRF Jw Ja Jr Jn RQD Q Dimana : RQD = rock quality designation

Jn = joint set number Jr = joint roughness number

Ja = joint alteration number

Jw = joint water reduction number

SRF = stress reduction factor

Nilai Q dihubungkan dengan kebutuhan penyangga terowongan dengan menetapkan dimensi ekivalen (equivalen dimension) dari galian. Dimensi ekivalen merupakan fungsi dari ukuran dan kegunaan dari galian, didapat dengan membagi span, diameter atau tinggi dinding galian dengan harga yang disebut excavation support ratio (ESR). ESR m tinggi atau sapan ekivalen Dimensi  ( )

Tabel 15. Harga ESR

Hubungan antara indeks Q dan dimensi ekivalen dapat menentukan

ukuran penyangga yang sesuai seperti diperlihatkan pada gambar 5.

Gambar 5. Hubungan antara dimensi ekivalen dengan kualitas

massa batuan (Barton et, 1974)

Untuk menentukan penyangga sementara (temporary support), indeks Q harus ditambah menjadi 5Q atau ESR ditambah menjadi 1,5 ESR. Panjang baut (L) ditentukan dari persamaan:

ESR B L20,15

dimana B adalah lebar lubang bukaan. Sedangkan untuk beban batuan (rock load) dapat digunakan persamaan berikut : 3 / 1 1 2 / 1 3 2    Jn Jr Q Proof

HASIL DAN PEMBAHASAN Prosedur Klasifikasi

1. Klasifikasi Kondisi Massa

Batuan

Klasifikasi massa batuan dilakukan untuk mendapatkan beban- beban yang bekerja pada terowongan. Pada tulisan ini, digunakan metoda empiris yang terdiri dari sistem klasifikasi menurut Terzaghi (1946), Rock Strukture Rating (RSR)

(19)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

concept oleh Wickham et. al (1972), Geomechanics Clasification (RMR system) oleh Bieniawski (1974) serta sistem klasifikasi menurut Q-System oleh Barton et. al (1974). Sedangkan untuk data lapangan dan laboratorium yang digunakan berdasarkan data yang telah ada pada jalur Padang-Solok yang rawan terhadap bahaya longsoran. Data tersebut diambil dari berbagai instansi terkait dan dari berbagai sumber lainnya. Data laboratorium dan lapangan tersebut adalah sebagai berikut : Data laboratorium : - c = 0,58 kg/cm2 -  = 1,090 -  = 0,001809 kg/cm3 - c = 9,08 kg/cm2 Data lapangan : - i (kemiringan lereng) = 600 - h = 57 m

Berikut ini adalah hasil perhitungan keempat sistem klasifikasi yaitu Terzaghi, RSR, RMR dan Q-System yaitu pada tabel 16.

Tabel 16. Tabulasi dari perhitungan klasifikasi massa batuan

Sistem klasifikasi Hasil Terzaghi RSR RMR Q-System Very blocky and seamy 77 43 fair rock mass 8,76 fair rock mass - jari-jari bukaan = 5 m -  = 1,809 gr/cm3 = 1809 kg/m3

(20)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

84

Tabel 17 Tabulasi perolehan beban batuan (rock load)

3. Self Supporting Span dan

Maximum Span (RMR dan Q System)

Dengan menggunakan Gambar 16 akan diperoleh self supporting span dan

maximum span seperti diperlihatkan pada tabel...

Tabel 18. Self supporting span dan maximum span pada sistem klasifikasi RMR dan Q System

(21)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

4. Stand-up time

Untuk RMR = 43 dan span = 6m; stand-up time kira-kira 20 jam atau sekitar 1 hari.

5. Rekomendasi penyangga Terzaghi : Ribs at 1,5 m, concrete lining RSR : (Gambar 4) 6H25 ribs on 2 m centres plus concrete lining RMR : (Tabel 14) systematic bolt 4 m long, spaced 1,5 m in crown and walls with wire mesh

Q-System : spot bolting spacing 1 m

Tabel 19. Tabulasi masing-masing sistem klasifikasi dari metoda rancangan empiris

Disain Dinding Terowongan

Pada disain tebal dinding terowongan ini, sebagian data telah didapatkan dari sistem penyanggaan yang telah dibahas sebelumnya. Jenis batuan: Jenis batuan :

 = 1809 kg/m3 = 0,001809 kg/cm3

c = 9,08 kg/cm2

H = 57 meter (rata-rata dari

permukaan tanah)

ri (lebar bukaan) = 5 meter = v = h =  . h = 1809 kg/m3

x 57 m = 10,31 kg/cm2

Diperoleh nilai tebal dinding tebal terowongan adalah 74,809 m

Geometri Terowongan 1. Alinemen vertikal

Kelandaian maksimum mutlak ditetapkan 4% lebih tinggi dari pada nilai maksimum standar. Sehingga untuk kecepatan 20 sampai 80 km/jam diberikan gradien sebesar 8 sampai 13 %.

2. Kestabilan lereng

Data tanah adalah c = 0,58 kg/cm2 dan  = 0,001809 kg/cm3, sudut kemiringan talud  = 600 > 530, maka lingkaran kritis nya merupakan toe circle. Untuk nilai  = 600 maka angka stabilitas m = 0,187 sehingga diperoleh nilai tinggi kritis dari talud adalah Hcr = 17,145 m

Dari hasil perhitungan jari-jari

r = 15,53 m dan nilai Fs =

1,706. dengan nilai Fs = 1,706 maka talud tersebut dikatakan stabil dari bahaya longsor.

KESIMPULAN

1. Dari analisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

(22)

VOL. 6 NO. 1 Maret 2013

86 Item Terzaghi RSR RMR Q-Syste m Rock Quali ty Very blocky and seamy 77 43 8,76 Rock load height (m) 4,8 N/Aa 5,7 N/Aa Rock load (kg/m2) 8683,2 8300, 54 8905, 52 2160 Stand-up time N/Aa N/A3 20 jam N/Aa 2. Penyangga yang direkomendasikan adalah : Terzaghi : Ribs at 1,5 m, concrete lining RSR : 6H25 ribs on 2 m centres plus concrete lining

RMR : systematic bolt 4 m long spaces 1,5 m

Q-System : spot bolting spacing 1 m

3. Untuk ketebalan dinding terowongan, dihitung dengan cara silinder dinding tebal, sehingga diperoleh ketebalan dinding yang disarankan adalah setebal 74,809 cm

4. Lebar dan tinggi terowongan adalah 10 m dan 6 meter

DAFTAR KEPUSTAKAAN

[1] AASHTO. 1984. A Policy on Geometric Design of Highway and Street. National Press Building, Wasington, D. C.

[2] Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung. 1995. Prosiding Seminar Nasional Terowongan. ITB. Bandung.

[3] Hoek, E., and Brown, E.T. 1980. Underground Excavations in Rock. Institution of Mining and Mettalurgy, London.

[4] Rai Made, A. 1988. Mekanika BAtuan. Laboratorium Geoteknik. Pusat Studi ANtar Universitas Rekayasa. Istitut Teknologi Bandung. Bandung.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :