Delegasi UNAIR Raih Juara
Kompetisi Studi Ekonomi Islam
UNAIR NEWS – Delegasi Universitas Airlangga berhasilmemperoleh juara pada kompetisi SELF (Sharia Economic Learning Forum) Student Converence Sustainable Development yang diadakan oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam – Islamic Economist Society (KSEI ICON!) Universitas Udayana, Bali. Kompetisi tingkat nasional tersebut diselenggarakan pada 12-15 Mei lalu. Kompetisi yang telah berjalan ke-13 kali ini mengangkat tema “Pengoptimalan Sumber Daya yang Adil dan Seimbang untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia”. Ada lima subtema bahasan, yakni pariwisata, industri kreatif, agrokomplek, sosial politik, dan kelautan.
Dengan paper berjudul “BERAGAM (Beras Analog Gembili): Upaya Pemanfaatan Gembili (Dioscorea esculenta) sebagai Pengganti Beras Konvensional untuk Mendukung Indonesia Sehat dan Sejahtera” Zuhairoh Naily S., Aprila Dila P., dan Ahmad Farid A. berhasil meraih juara I pada subtema agrokomplek. Ketiganya merupakan anggota dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran UNAIR.
Selain itu, tim lain yang beranggotakan Zakka Farisy B, Lusi Sulistyaningsih, dan Khaula Qurrata’ayun berhasil meraih juara I pada subtema kelautan. Paper yang mereka bawakan berjudul “Strategi Peningkatan Produktivitas Nelayan Gerbangkertosusila Melalui Sistem Tanggung Renteng Pada Koperasi Berbasis ITQS”. Ketiganya merupakan mahasiswa semester empat pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR.
“Yang mendasari kelompok kami mengambil judul itu karena keinginan kami untuk dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sektor kelautan dan perikanan Indonesia, dengan menggunakan koperasi sebagai medianya,” ujar Zakka Farisy yang
juga mendapatkan penghargaan sebagai Best Delegate.
Ada tiga sesi pada kompetisi ini, terdiri dari presentasi paper, Focus Group Discussion (FGD), dan terakhir konferensi. Pada tahap presentasi dan FGD ditentukan pemenang pada masing masing subtema. Sedangkan tahap konferensi menentukan satu orang delegasi terbaik dari seluruh delegasi yang mengikuti rangkain acara kegiatan SELF hingga selesai.
“Kami berharap semoga kedepannya dapat memotivasi teman-teman mahasiswa UNAIR yang lain untuk terus mengembangkan riset menurut keilmuannya masing-masing, sehingga mampu membawa nama Airlangga menjadi semakin baik,” pungkas Zakka. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Nuri Hermawan
Ju Jitsu UNAIR Sabet Medali
di Dua Event Berturut-Turut
UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ju Jitsu takhenti-hentinya menelurkan prestasi gemilang. Kali ini, prestasi tersebut diperoleh kontingen UKM Ju Jitsu pada event “Yogyakarta Super Grappler Submission Challenge 2016” yang diselenggarakan oleh Federasi Grappling Indonesia pada Sabtu, (21/5). Sehari kemudian, kontingen UKM Ju Jitsu memperoleh prestasi lagi pada pertandingan “Han Fighting Champion” yang diselenggarakan oleh Han Academy yakni pada Minggu, (22/5), bertempat di Malioboro Mall, Yogyakarta.
Yogyakarta Super Grappler atau YSG diikuti oleh kurang lebih 100 peserta dari seluruh Indonesia. Empat orang peserta diantaranya adalah peserta dari UKM Ju Jitsu UNAIR. Dari ajang
ini, kontingen UKM Ju Jitsu berhasil meraih 3rd
Place Woman Division dan 3rd
Place Man <55 Kg.
Selain itu, prestasi lain datang dari Vincentius Kevin, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAIR angkatan 2015, yang memperoleh juara 1 pada kelas Absolut, dan Juara 1 kelas Putra 66-67 Kg. Namun, Vincentius Kevin ini tidak tergabung dalam UKM Ju Jitsu.
Selain YGS, dengan atlet yang sama, 1st place <81 Kg berhasil diraih oleh Santoso mahasiswa Fakultas Vokasi, 1st Place
Women’s division oleh Yulia Rahmawati mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), dan 3rd Place Women’s division oleh Galuh
Ajeng Dhiastriani mahasiswa Fakultas Vokasi.
“Melihat prestasi dari UKM Ju Jitsu sendiri saya berharap supaya pengalaman di Jogjakarta ini dijadikan motivasi besar. Terutama untuk adik-adik di UKM Ju Jitsu agar bisa meregenerasi kualitas dari pada atlet hari ini,” kata Ibnu Sina selaku Ketua UKM Ju Jitsu 2016. (*)
Penulis : Disih Sugianti
Editor : Binti Q. Masruroh
Dua Tim UNAIR Raih Jawara
Lomba Debat
UNAIR NEWS – Mewakili almamater dalam sebuah kompetisi
merupakan kebanggan tersendiri, apalagi ketika pulang dengan membawa predikat juara. Itulah yang dirasakan Inka Islamiyah (Sastra Indonesia 2013), Akhmad Mukhlason (Sastra Indonesia 2012), Yeni Masfiyah (Sastra Indonesia 2013) FIB Universitas
Airlangga.
Ketiganya merupakan tim juara I lomba debat yang digelar di Universitas Merdeka Pasuruan. Selain mereka ada satu tim UNAIR lagi yang meraih juara III. Satu tim lagi itu terdiri dari Rizki Ariyo Guntoro (Ilmu hukum 2013), Muhammad Fahmi Abdillah (Ilmu Hukum 2013), dan Febriana Nadapdap (Ilmu Hukum 2013). Kedua tim itu berhasil menyingkirkan 25 tim dalam seleksi paper dan mengalahkan delapan tim di babak penyisihan.
Kompetisi debat dalam rangka Dies Natalis ke-31 Unmer Pasuruan ini mereka ikuti dengan berbagai persiapan. Saat ditemui di gazebo FIB UNAIR, Inka menjelaskan, ada beberapa kesulitan yang dihadapi sebelum bertanding. Pasalnya selain ia dan tim baru saja datang dari Kalimantan untuk mengikuti kompetisi yang sama, mosi yang diberikan panitia dari awal hingga akhir adalah impromtu dan hanya diberi waktu 15 menit untuk menyusun argumen.
”Mau tidak mau ya kami harus belajar dengan waktu yang singkat itu, tapi alhamdulillah kami sudah mencetak materi sejak awal, jadi bisa membantu,” jelasnya.
Senada dengan Inka, Rizki Ario Guntoro juga menjelaskan beberapa kesiapan yang mirip dengan tim Inka. Hanya saja ia menekankan pentingnya bekal wawasan dengan banyak membaca dan mengelola opini dari bacaan yang sudah didapat.
“Debat itu kan konsen dengan public speaking, jadi ya harus banyak membaca, apalagi jika ada mosi seperti itu. Jadi kalau sudah banyak membaca bisa mengelola opini dari bacaan tersebut,” jelasnya.
Ditanya harapannya ke depan mengenai dunia debat di UNAIR, keduanya memiliki pendapat berbeda. Belajar dari debat yang mengusung tema Revoluasi Budaya Generasi Muda tersebut Inka mengatakan bahwa pentingya ada regenarasi dari senior ke junior. Hal ini agar mahasiswa yang memiliki bakat dan kompetensi dalam berolah wacana bisa merasakan pengalaman yang
sama.
“Regenerasi itu penting sekali, agar setiap pengajuan izin ke pihak kampus biar tidak anak itu-itu saja, dan semoga dengan banyaknya juara yang kami raih bisa memotivasi,” imbuhnya.
Rizki juga memiliki harapan tersendiri, ia lebih menekankan pentingnya ada sebuah wadah bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan public speaking yang bagus untuk dibina dalam sebuah unit.
“Saya berharap untuk debat ada pengkaderan yang jelas, ke depan semoga bisa dibentuk di lembaga semacam UKM,” pungkasnya. (*)
Penulis : Nuri Hermawan Editor : Bambang ES
FKG Raih Kemenangan di Ajang
Internasional 3rd DREAM
UNAIR NEWS – Dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi
(FKG) kembali menorehkan prestasi internasional. Tepatnya, di ajang The 3rd Dental Research Exhibition And Meeting (3rd
DREAM). Acara yang mengusung tema Facing Globalization
Challenging In Dentistry ini diselenggarakan oleh FKG
Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, pada 6-7 Mei 2016, di Yogyakarta.
Predikat 1st winner of best poster kategori student award dimenangkan oleh tim yang dipimpin Alexander Patera Nugraha.
Judul karyanya, Drug Utilization Study Of Antifungal In
Soetomo 2014. Kemenangan yang diraih dengan menyisihkan 20
pesaing ini membuktikan kepiawaian mahasiswa FKG dalam menciptakan karya ilmiah.
Untuk kategori dentist award, tim FKG UNAIR di bawah pimpinan Desiana Radithia berhasil meraih 1st winner of best poster. Poster dengan judul Prevalence and Correlations of Oral
Candidiasis and Angular Cheilitis in HIV Positive Transgender in Surabaya Transgender Community ini berhasil menyisihkan 50
peserta lain.
Tentu saja, keberhasilan mahasiswa tidak lepas dari bimbingan para dosen. Sinergitas antar civitas akademika merupakan kunci utama. Yang jelas, prestasi luar biasa tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi fakultas yang berlokasi di Kampus A tersebut. “Bravo FKG. Semoga prestasi terbaik selalu berhasil dicetak di masa yang akan datang”, ungkap Darmawan Setijanto, dekan FKG UNAIR. (*)
Penulis: Humas FKG Editor: Rio F. Rachman
Usung Topik MiRNA, Mahasiswa
FKUA Raih Prestasi di Lomba
Poster Ilmiah
UNAIR NEWS – Makin maju teknologi di bidang kedokteran, makin
kompleks pula efek samping yang dihasilkan ragam terapi pengobatan. Kondisi ini berseberangan dengan harapan banyak o r a n g . Y a k n i , k e s e m b u h a n t o t a l t a n p a e f e k s a m p i n g berkepanjangan.
Untuk memenuhi keinginan tersebut, inovasi teknologi kedokteran terus dilaksanakan. Salah satu yang sedang dikembangkan di berbagai negara adalah metode terapi gen atau Micro RNA (disingkat MiRNA).
Walau metode itu masih terbilang awam di Indonesia, sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FKUA) justru menjadikannya inspirasi berkreasi. Mereka menggagas i n o v a s i p e n g o b a t a n m e n g g u n a k a n t e r a p i g e n d a n mengaplikasikannya pada sejumlah kasus di Indonesia. Ide itu mereka tuangkan pula dalam bentuk poster ilmiah. Baru-baru ini, karya mereka berhasil menyabet sejumlah tropi dari beberapa ajang ilmiah berskala nasional.
Contohnya, yang diraih oleh Maria Arni Stella dan Rizqy Rahmatyah. Mereka menjuarai Scientific Poster Competition di ajang Hipotalamus Competition 2016. Ajang kompetisi ilmiah tahunan ini diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
Dua sekawan ini menawarkan gagasan tentang alternatif pengobatan menggunakan metode genetik berupa MiRNA 34a untuk penderita kanker paru. Tepatnya, dalam bentuk terapi inhalasi atau terapi hirup melalui nanobubble chitosan.
Sejauh ini, metode terapi penderita kanker paru umumnya melalui kemoterapi. Dalam prosesnya, bahan kimia dimasukkan melalui pembuluh darah. Ada pula terapi menggunakan radiologi. Pancaran sinar gelombang tertentu diarahkan ke titik tertentu untuk merusak sel kanker. Sayang, dua cara tersebut berpotensi menyebabkan efek samping yang sistemik. Antara lain, mual, muntah, kerontokan rambut, hingga kerusakan sel normal. Kondisi ini kerap membuat pasien merasa tidak nyaman. Akibatnya, penderita memilih putus obat dan berhenti melakukan terapi.
Ringankan beban pengidap kanker
memodifikasi metode terapi gen. Yakni, dengan menggabungkan mikroRNA 34a dengan nanobubble chitosan. Chitosan merupakan sebuah polisakarida yang dapat dimodifikasi dalam bentuk nanobubble. Dalam hal ini, nanobubble chitosan dimodifikasi agar bekerja lebih spesifik ke kanker sel paru.
Maria menjelaskan, terapi genetik ini menggunakan MiRNA 34a yang dimasukkan ke bubble berukuran nano. Selanjutnya, bubble berukuran nano tersebut dimasukan ke tubuh secara inhalasi atau dihirup langsung oleh penderita. Harapannya, setelah r u t i n t e r a p i d e n g a n c a r a i n i , s e l k a n k e r d i t e k a n pertumbuhannya hanya di area yang rusak. Sehingga, tidak menjalar ke bagian tubuh yang lain.
“Karena sifatnya pengobatan biomolekuler, targetnya lebih spesifik. Efek sampingnya minim. MiRNA ini banyak sekali macamnya dan sedang dikembangkan untuk berbagai macam penyakit seperti jantung koroner , diabetes, kanker,virus, penyakit autoimun, dan sebagainya” jelas Maria.
Seperti karakternya, secara spesifik metode Micro-RNA mampu mengaktifkan kematian sel yang berkelainan, serta mampu menekan pertumbuhan sel kanker. Tentu saja, dalam penyusunan gagasan tersebut, mereka berpedoman pada literatur dan hasil penelitian yang sudah banyak dilakukan di luar negeri.
Di Indonesia, metode terapi gen belum banyak digunakan. Sementara di luar negeri, sudah gencar dilakukan penelitian dan uji klinis. Maria mengaku ingin melakukan pendalaman lebih lanjut tentang hal tersebut. (*)
Penulis: Sefya
Tak Perlu Dicolok, Deteksi
Kanker Usus Lebih Nyaman
dengan Tes Darah
UNAIR NEWS – Deteksi dini kanker usus menjadi topik besar yang
diusung tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bernama Zaufy Verlieza, Binarri Augustya, dan Fauzi Abdillah, ketika mengikuti lomba poster ilmiah Halu Oleo Scientific Competition (HOLISTIC 2016) di Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo (FKU UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu. Dalam kompetisi tingkat nasional tersebut, mereka meraih peringkat tiga kategori poster ilmiah. Ada banyak kampus yang turut serta. Antara lain, Universitas Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Brawijaya, Universita Islam Indonesia, dan Universitas Halu Oleo.
Dalam kesempatan itu, tim FK UNAIR menampilkan gagasan tertulis mengenai deteksi dini dan terapi Non-Invasi berbasis micro-RNA untuk menekan mortalitas pasien. Lebih tepatnya, deteksi dini untuk kasus kanker kolon melalui tes darah. Tujuannya, mengetahui ada tidaknya kerusakan pada usus.
Seperti diketahui, kanker kolon adalah kanker yang menyerang bagian usus besar dan rektum. Kanker ini disebut sebagai penyakit mematikan nomor dua. Kanker kolon, sebagaimana sifat kanker lain, bisa tumbuh relatif cepat. Pun, dapat menyusup atau mengakar (infiltrasi) ke jaringan di sekitar dan merusaknya.
Kanker ini mampu menyebar jauh melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah. Bergerak menuju organ yang jauh dari tempat asalnya tumbuh. Misalnya, ke liver, paru-paru, yang pada akhirnya, dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan baik.
Umumnya, kanker kolon dimulai dengan pembengkakan seperti kancing pada permukaan lapisan usus atau pada polip. Kemudian, kanker akan memasuki dinding usus. Kelenjar getah bening di dekatnya juga bisa kena papar. Karena darah dari dinding usus dibawa ke hati, kanker kolon biasanya menyebar (metastase) ke hati. Sayang, deteksi penyakit ini sering terlambat. Sering kali, baru terdeteksi ketika keadaan sudah relatif parah.
Modifikasi pemeriksaan dengan metode miRNA
Tim FK UNAIR yang dikomandani Zaufy memikirkan, bagaimana cara agar deteksi dini dapat diterapkan dengan lebih mudah. Mengingat, sejauh ini pemeriksaan dilakukan dengan cara colok dubur dan pemeriksaaan colonoscopy.
Mereka memodifikasi pemeriksaaan menggunakan metode miRNA, untuk deteksi dini sebelum metastase, melalui tes darah. Dalam prosesnya, darah dipisahkan dari bagian plasma. Kemudian, diisolasi menggunakan polymerase chain reaction untuk menggandakan gen.
Selain tim Zaufy, delegasi FK UNAIR lainnya juga memenangkan perlombaan dalam ajang Holistic FK UHO 2016. Mereka adalah Bella Patricia, Patricia Tjiongnata, dan Anthomina Maya, sebagai peringkat 2 poster publik . Sedangkan Made Angga meraih peringkat tiga poster ilmiah tunggal dan peringkat tiga lomba karya tulis. (*)
Penulis: Sefya
Baru Ukir Prestasi, UKM
Penalaran Bersiap ke Level
yang Lebih Tinggi
UNAIR NEWS – UKM Penalaran UNAIR baru mengukir prestasi
gemilang pada National University Debating Championship (NUDC). Komunitas ini baru saja meraih peringkat ketiga pada ajang yang digelar pada 29 April hingga 1 Mei 2016 di Malang tersebut. Dalam event yang diadakan oleh Koopertis VII tersebut, delegasi yang berhasil menyabet predikat adalah Mutiara Kasih dan Nur Abdi Pratama. Menariknya, Mutiara Kasih juga terpilih sebagai top 10 best speaker.
Lisda Bunga, salah satu anggota UKM tersebut, mengutarakan, latihan intensif dilakukan sejak dua bulan silam. Sejumlah dosen berperan serta. Salah satunya, dari Fakultas Ilmu Budaya. “Mudah-mudahan kami bisa terus berkiprah dengan konsisten. Bahkan, di level internasional,” kata dia.
Untuk meraih itu, dibutuhkan dukungan semua pihak. Termasuk, para dosen dan kampus sebagai institusi yang memayungi UKM ini. Yang jelas, kata Lisda, saat ini dia dan teman-teman terus berlatih dan berkarya. Adapun event yang akan disongsong dalam waktu dekat antara lain diadakan di Universitas Mercubuana, Jakarta, pada 29 Juli hingga 5 Agustus mendatang. Dalam gelaran tersebut, UKM Penalaran akan mengerahkan segala kemampuan.
Selama ini, semua UKM di UNAIR tak henti unjuk kebolehan. Sudah begitu banyak prestasi yang diukir. Gelar maupun medali kerap dibawa pulang oleh delegasi Ksatria Airlangga. Hal ini membuktikan, di ranah non akademik pun, kampus ini tergolong unggul. (*)
UKM Karate Sabet Medali,
Jadikan Keterbatasan Sebagai
Pemicu Prestasi
UNAIR NEWS – Keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi Unit
Kegiatan Mahasiswa Karate (UKM Karate) untuk menorehkan prestasi. UKM yang tergolong baru dan belum memiliki base camp ini kerap mendulang medali. Misalnya, dalam Kejuaraan UNESA CUP 1 2016, se-Jawa Timur, 30 April sampai 1 Mei lalu.
Pada ajang yang diadakan di Gelanggang Pemuda, UNESA Lidah Wetan Surabaya tersebut, kontingen UNAIR berhasil menyabet banyak medali. Antara lain, 3 emas, 2 perak dan 3 perunggu. Medali emas diraih pada kategori Kata Perororangan Putri Eksebisi, Kata Beregu Putri dan Kumite Beregu Putra. Medali Perak pada kategori Kumite -67 Kg Putra dan Kumite Eksebisi +67 Kg Putri. Sedangkan perolehan medali perunggu pada kategori Kata Beregu Putra, Kumite -87 Kg Putra dan Kata Perororangan Putri. Dengan capaian tersebut, UKM yang 8 sampai 10 April lalu juga bersinar di Kejurnas Danpasmar-1 ini dinobatkan sebagai Runner Up umum.
“Semoga kemenangan ini menjadi motivasi agar kami bisa menjadi lebih baik di masa datang,” jelas Isnaini Rahmawati, salah satu atlet UKM Karate yang mendapatkan medali emas.
Keterbatasan tempat latihan, peralatan latihan dan sekretariat, tak menyurutkan semangat para anggota. Mereka datang berlatih secara rutin meskipun harus menggotong pulang-pergi peralatan masing-masing.
menunggu di tribun SC (Student Center). Terkadang sampai kehujanan. Semangat yang tinggi para anggota membuat keterbatasan itu tidak menjadi halangan,” tambahnya. (*)
Penulis : Disih Sugianti Editor: Rio F. Rachman
Dua Mahasiswi UNAIR Ikuti
ASEAN University Games Juli
Mendatang
UNAIR NEWS – Tidak hanya cerdas, tapi juga tangkas, begitulah
yang menyandang pada dua mahasiswi Universitas Airlangga yang terpilih menjadi perwakilan dari 10 altet panah. Keduanya dipilih oleh Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI), untuk mengikuti ASEAN University Games (AUG) ke 18 di Singapura pada tanggal 10-19 Juli 2016 mendatang. Dua atlet muda tersebut adalah Della Adisty Handayani, mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Tiara Sakti Ramadhani, mahasiswa Manajemen. Della dan Tiara akan berangkat bersama atlet panahan lainya dari berbagai kampus di Indonesia. Ditemui oleh wartawan UNAIR
NEWS, Direktur Kemahasiswaan UNAIR, Dr. Hadi Subhan, SH., MH.,
CN., menuturkan bahwa pihak direktorat kemahasiswaan sangat mendukung beragam kegiatan mahasiswa yang bisa membawa nama baik kampus.
“Kemahasiswaan sangat mendukung semua kegiatan mahasiswa, a p a l a g i y a n g b e r k a i t a n d e n g a n p e r l o m b a a n t i n g k a t internasional,” ujar Hadi Subhan saat kedua atlet yang juga didampingi pembinanya, Nilam Andalia Kurniasari, SH., LL.M. di Ruang Direktur Kemahasiswaan, Senin (2/5).
Optimis
Saat ditanya mengenai kesiapannya mengikuti ajang bergengsi tersebut, Tiara sangat antusias mengikuti kegiatan ini, lantaran mahasiswi ini juga tengah mempersiapkan diri mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (PON) September nanti. Tiara berharap, ajang ini juga menjadi langkah pertamanya untuk berkarir di ajang internasional.
“Persiapan dan latihan kami sudah dimulai bersamaan dengan persiapan PON, BAPOMI pun memantau kami sejak lama untuk diikutsertakan di even mahasiswa se-ASEAN itu,” ujar Tiara. Sementara itu, Della menargetkan diri untuk mendapat medali emas pada ajang tersebut. Senada dengan Tiara, even ini juga menjadi dipersiapkan Della sebelum mengikuti ajang PON nanti. Della yang juga atlet panahan muda ini memiliki banyak prestasi diberbagai even panahan baik nasional maupun internasional seperti; 5 Medali Emas Kejurnas junior 2010; 2 Medali Emas dan 2 Perunggu Kejurnas Umum 2010; 2 Medali Perak Asian Grand Prix 2011, 1 Medali emas di PON 2012 Riau, 1 Medali Emas di SEA Games 2013 Myanmar.
“Kalau buat AUG, saya menargetkan untuk mendapatkan emas,” pungkas Della dengan optimis. (*)
Penulis : Ahalla Tsauro Editor : Nuri Hermawan
Mahasiswa
FKH
Juarai
Birdwatching di Selangor
UNAIR NEWS – Kompetisi internasional bertajuk “Wings of KKB:
Selangor International Bird Race” membawa putra-putri terbaik UNAIR pulang dengan predikat juara I untuk kategori universitas. Mahasiswa dalam satu tim tersebut ialah Gavrila Amadea, Happy Ferdiansyah, dan Fitriah NH. Ketiganya merupakan mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR.
Kompetisi internasional yang dilaksanakan pada 23-24 April lalu, bertempat di Kuala Kubu Bharu, Selangor, Malaysia. Peserta dalam kompetisi ini berasal dari berbagai negara, antara lain Malaysia, Cambodia, United Kingdom, India, Belanda, dan Indonesia.
Penilaian dari bird watching competition dilakukan dengan melihat jenis spesies burung berdasarkan tanda-tanda morfologis tubuhnya. Kompetisi diadakan di Kuala Kubu Bharu, dengan berpindah-pindah dalam 10 check point. Teknisnya dari lomba tersebut, peserta dalam satu tim harus mampu mengidentifikasi burung di waktu dan tempat yang tepat. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah spesies yang ditemukan. “Ada 10 check point dalam dua hari. Terserah pengamatan dilakukan kapan saja. Pengamatan bisa dilakukan hingga 24 jam,” kata Gavrila.
Dari kiri, Gavrila Amadea, Happy Ferdiansyah, dan Fitriah NH sesaat setelah ditetapkan sebagai pemenang pada “Wings of KKB Selangor Bird Watching 2016” (Foto: Istimewa)
Membantu recording data
Salah satu tujuan dari diadakan kompetisi tersebut yaitu untuk mendata, untuk melihat persebaran burung dan jumlah populasi yang ada.
“Menariknya adalah, kita bisa tahu asal burung tersebut dari
mana, bisa kita identifikasi. Kita jadi tahu spesies macam-macam burung yang ada di tempat lain (negara asing, -red),” tambahnya.
Tahun lalu, kejuaraan serupa juga diikuti oleh Gavrila dan tim, dan mendapat juara III. Mereka juga pernah mengikuti kompetisi serupa yang diadakan oleh Bali Birdwatching Race (BBR), Birdwatching Cangar yang diadakan Dinas Kehutanan
Propinsi Jawa Timur, dan juga Birdwatching Baluran.
“Perlombaan ini secara tidak langsung ikut membantu pendataan burung dan persebarannya. Karena yang mengadakan sebagian besar selalu balai taman nasional. Mereka sekalian me-record,” tambahnya.
Menurut Gavrila, birdwatching penting diadakan untuk mengenalkan keanekaragaman hayati ke orang lain, utamanya negara lain. Gavrila berharap masyarakat mampu untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati. Melalui kompetisi di Selangor, Gavrila juga mendapati bahwa mereka banyak memuji keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia.
“Secara global, dari persebaran burung kita bisa tahu persebaran penyakit. Karena penyakit flu burung juga dibawa dari persebaran burung, dan mereka bermigran. Pengontrolan persebaran penyakit lewat satwa liat itu cukup sulit. Setidaknya kita bisa identifikasi penyakit flu burung yang dibawa burung-burung itu,” kata Gavrila mengenai pentingnya identifikasi burung pada sebuah wilayah. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Nuri Hermawan