Peternakan Bisa Berkembang,
Tapi…
UNAIR NEWS – Salah satu penyebab peternakan di Indonesia
kurang berkembang adalah manajemen pengelolaan yang masih tradisional. Hal itu disampaikan oleh dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si, saat diwawancarai oleh tim UNAIR NEWS. Manajemen pengelolaan tradisional yang dimaksud adalah rencana-rencana untuk mengembangkan peternakan, misalnya pengembangbiakan, nutrisi makanan, dan pengetahuan peternak.
Pengelolaan yang masih tradisional itu diakibatkan oleh paradigma peternak yang memandang bahwa peternakan merupakan usaha sampingan atau sekadar investasi jangka pendek. Sehingga bukan tak mungkin peternakan itu berjalan tanpa perencanaan. “Pengelolaannya masih tradisional. Peternakannya belum sebagai usaha, tetapi masih sebatas tabungan saja. Itu yang nggak bisa. Misalnya, kalau anaknya mau nikah, maka sapi itu dijual. Itu yang bikin nggak bisa (berkembang),” tutur Trilas.
Selain faktor paradigma, perkembangan peternakan juga dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, terutama rumput dan konsentrat. Ketersediaan rumput bergantung pada musim, sementara harga konsentrat di Indonesia berkisar di angka enam ribu rupiah. Dibandingkan Tiongkok, harga konsentrat di Negeri Tirai Bambu dengan kualitas yang sama berada di angka Rp 2.500,00. Sedangkan, pemerintah tak memberi subsidi terhadap pakan ternak. Akibatnya, peternak hanya memberi pakan berupa rumput nirkonsentrat.
Selanjutnya, selain paradigma dan pakan, faktor ketiga adalah pengetahuan yang dimiliki peternak. Menurut Trilas, pengetahuan peternak selama ini didapat secara turun temurun dari keluarga atau lingkungan sekitarnya yang terlebih dulu
memelihara hewan ternak. Akibatnya, ilmu pengetahuan terbaru di bidang peternakan jarang didapat oleh para peternak tradisional.
“Padahal sekarang kondisinya sudah tidak sama dengan kondisi leluhurnya. Berarti perlu kreasi, nah itu yang tidak tersampaikan ke peternak. Itu yang tahu adalah perguruan tinggi, tapi perguruan tinggi untuk turun juga susah karena butuh biaya. Kita turun kan berarti harus meninggalkan urusan akademis dan membutuhkan fasilitas. Kita sih siap saja dan tidak bisa kalau di sana hanya sehari karena harus berkelanjutan,” ujar ahli inseminasi buatan FKH UNAIR. Apabila pemerintah ingin mencapai swasembada pangan sebelum tahun 2045, maka ketiga faktor itu perlu diperbaiki secara bersama oleh pemerintah, peternak, dan akademisi perguruan tinggi.
Akibatnya, menurut Trilas, peternak bisa jadi tak memahami masa biakan hewan yang mereka ternakkan. “Kalau rata-rata hanya untuk sampingan, ya, mereka berpikir beranak atau tidak ya terserah. Yang penting diberi makan, ya, sudah. Peternak kita itu seperti itu,” tutur Trilas. (*)
Penulis: Defrina Sukma S. Editor: Nuri Hermawan
AHSI
Kerahkan
Jejaring
Target WCU
UNAIR NEWS – Salah satu mimpi Universitas Airlangga adalah
menjadi kampus bertaraf dunia. Hal itu ditangkap benar oleh Airlangga Health Science Institute (AHSI) yang juga siap bersaing di kancah global. Selama ini, Institute of Tropical Disease sebagai salah satu unit pendukung AHSI sudah berupaya keras untuk bisa melakukan riset berlevel internasional. Harapannya, dengan AHSI, riset dan publikasi internasional bisa tergenjot naik.
“Ini merupakan kesempatan untuk saling melengkapi. Dengan terkoordinasinya unit-unit, kerjasama akan terasah dan tujuan dapat lebih mudah diraih,” kata Ketua ITD Prof. Maria Lucia Inge Lusida, M.Kes., Ph.D., dr., Sp.MK.
Di tempat terpisah, Sekretaris AHSI Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dr., Sp.THT-KL (K) mengutarakan, di luar negeri, ada banyak lembaga atau institusi yang setara AHSI. Dengan lembaga semacam itulah AHSI bisa menjalin mitra. Yang otomatis, unit-unit di bawahnya pun bisa ikut merajut kerjasama pula. Maka itu, kata lelaki yang biasa disapa Dhoni tersebut, keberadaan AHSI akan memudahkan riset dan publikasi internasional di ITD. Lebih lanjut, para sumber daya manusia yang ada di Rumah Sakit UNAIR-Rumah Sakit Penyakit Tropik Infeksi, dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut pun sangat mungkin melakukan exchange ke luar negeri. Baik terkait penelitian, penambahan wawasan terkait layanan, juga sebagai media pendidikan dan pelatihan.
Sejauh ini, AHSI sudah menggariskan banyak target penelitian dan publikasi. Baik di level nasional maupun internasional. Target-target itu selalu tercapai. Tinggal bagaimana mengembangkan dan melakukan hilirisasi pada penelitian dan penemuan yang sudah dibuat itu.
“Yang jelas, kami ingin ikut memecahkan problem nasional, bahkan di ranah global. UNAIR wajib berpartisipasi. Karena,
kampus ini memiliki modal yang mencukupi dan komponen penunjang yang memadai,” ujar Direktur AHSI Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp.PD-KPTI., FINASIM. (*)
Penulis: Rio F. Rachman Editor: Defrina Sukma S
Inilah Pertolongan Pertama
pada Orang yang Mendadak
Pingsan
UNAIR NEWS – Keadaan gawat darurat yang mengancam nyawa bisa
terjadi sewaktu-waktu, tak pandang kelompok maupun tempat. Oleh karena itu, siapapun –termasuk masyarakat awam– hendaknya mengetahui dan bisa melakukan bantuan hidup dasar (BHD) atau
basic life support (BLS).
BHD merupakan pertolongan pertama pada pasien dalam kondisi tidak sadar. Kondisi ini bisa menimpa pasien yang mengalami kecelakaan, serangan jantung, komplikasi penyakit, maupun keadaan lainnya yang mengakibatkan pasien kehilangan kesadaran.
Menurut dokter spesialis anestesiologi dan reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prananda Surya Airlangga, M.Kes., dr., Sp.An (K), ada dua langkah yang sebaiknya dilakukan oleh masyarakat awam untuk menyelamatkan nyawa dalam kondisi gawat darurat.
Berikut langkah-langkah yang perlu diketahui oleh masyarakat awam dalam memberikan BHD kepada pasien:
Cek kondisi pernapasan
Untuk mengetahui apakah dia tersebut sadar atau tidak, sebaiknya cek terlebih dahulu hela pernapasan pasien. Para penolong bisa menaruh jari telunjuk di lubang hidung penderita untuk mengetahui kondisi pernapasan.
Cari bala pertolongan
2.
Apabila pasien memang tidak bernapas, maka si penolong disarankan mencari bala pertolongan. Si penolong bisa mengaktifkan alarm bahaya, atau sekadar berteriak minta tolong kepada orang-orang sekitar. Selain itu, segera hubungi petugas medis atau fasilitas kesehatan.
“Salah satu langkah awalnya adalah minta tolong atau mengaktifkan alarm bahaya sehingga orang lain juga bisa membantu. Ketika ada orang yang tidak sadar maka kita minta tolong. Mari kita tolong orang itu bersama-sama, jadi nggak bisa sendirian,” tutur dokter Prananda.
Lakukan pijat jantung
3.
Bila memang pasien diketahui tidak bernapas, maka segera lakukan pijat jantung. Pijat jantung dilakukan semampunya oleh si penolong. Apabila si penolong tidak sendiri, maka pijat jantung bisa dilakukan secara bergantian dengan orang lain. “Kita bantu dia untuk menjadi sedikit lebih sadar atau sadar. Sehingga, jantung kembali berdenyut. Harapannya, mampu memompa agar paru-paru mendapatkan oksigen, dipompa ke jantung, jantung kembali berdenyut sehingga sirkulasi dalam tubuh kembali berjalan, sehingga otak dan segala macam mendapatkan aliran darah,” tutur dokter yang juga penggagas BLS Community Surabaya itu.
Selain itu, bila dimungkinkan, pijat jantung terus dilakukan sampai tenaga medis datang untuk menolong korban. (*)
Penulis : Defrina Sukma S. Editor : Binti Q. Masruroh
Manfaatkan Ilmu, Alumnus
UNAIR Raup Puluhan Juta Tanpa
Modal Sepeser pun
UNAIR NEWS – Muda, berani, dan sarat akan prestasi
menggambarkan kesuksesan sosok Dewi Arum Muqqadimah. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Alumnus Manajemen Pemasaran Universitas Airlangga angkatan 2010 ini memberanikan diri untuk memulai usaha tanpa modal uang sepeser pun.
Berlatar belakang keluarga yang gemar merajut, Dewi berinisiatif untuk mencoba memasarkan produk hasil karya tantenya, berupa barang – barang rajutan yang kebetulan sudah banyak tersedia di rumahnya.
Saat masih menjadi mahasiswa baru di UNAIR, Dewi memanfaatkan fitur Broadcast Message BBM dan mulai gencar memasarkan dagangan dari mulut ke mulut. Tak lama kemudian, respon positif berdatangan atas produk rajutan yang ia pasarkan. Banyak pesanan yang ia terima dengan berbagai macam permintaan bentuk dan model rajutan seperti tas, sarung handphone (case), tempat pensil bahkan sepatu. Untuk branding, Dewi memilih nama “My Knitted Indonesia”.
Di awal pemasaran, Dewi masih sangat minim pengalaman dan pengetahuan tentang manajemen. Ia pun merasa kesulitan untuk menjual produknya ke pasar dagang. Selain itu, ia juga kesulitan dalam mengelola keuangan. Kendati demikian, ia tetap mencoba mengelola sendiri keuangan dari hasil omzet yang ia dapatkan untuk menambah jumlah produksi.
Berkesempatan menjadi mahasiswa Manajemen Pemasaran UNAIR tidak di sia-siakan oleh Dewi, ia banyak mendapat ilmu tentang manajemen keuangan, salah satunya adalah strategi pemasaran yang ia gunakan untuk memasarkan produknya.
Tak hanya itu, di setiap mata kuliahnya yang memuat mengenai presentasi produk, Dewi dengan bangga selalu mempresentasikan produk rajutannya, sekaligus untuk memperkenalkan produk rajutannya kepada teman-teman maupun dosennya. Selain itu, Dewi juga gemar mengikuti kompetisi Business Plan yang diadakan antar universitas di berbagai wilayah.
“Kami pernah sekelompok waktu kuliah mengikuti business plan di Yogyakarta dan semua dibiayai kampus. Alhamdulillah, kami peringkat ke-empat tingkat nasional,” tutur Dewi saat di wawancarai di Radio Unair.
Strategi pemasaran yang ia gunakan untuk mengenalkan produknya juga melalui pameran – pameran atau bazar yang diselenggarakan di dalam kampus maupun di luar kampus. Dewi selalu mengikuti pameran usaha kecil menengah di beberapa wilayah di Indonesia sebagai ajang untuk pengenalan produknya. Hasilnya, produk My Knitted Indonesia sudah tersebar di seluruh Indonesia.
“Justru kebanyakan orang – orang luar Jawa yang suka dengan produk rajutan ini. Karena kata mereka ini sangat unik dan indah, makannya produk saya ramai terbeli di daerah luar Jawa sampai mereka rela menunggu untuk mendapatkan produk saya,” tandasnya.
Lambat laun menjalani bisnis dengan berkuliah, Dewi mulai tergesit ide membuat sepatu rajut untuk orang dewasa. Mulanya, produk sepatu rajut yang ia produksi dikhususkan untuk anak – anak dan balita saja. Setelah mengobservasi beberapa tempat pembuatan sepatu dan mendapat ilmu dari ahlinya, Dewi mulai membuat produk sepatu rajut untuk dewasa dengan berbagai macam model. Dan sepatu rajutnya ini menjadi produk Best Selling di antara produknya yang lain.
Terkait prestasi, Dewi pernah mencapai peringkat ketiga di ajang wirausaha muda pemula berprestasi tingkat Jawa Timur (Jatim) oleh Dispora Jatim. Di tahun 2012, My Knitted Indonesia pernah dianugerahi Best Development Product Expo UNAIR dan peringkat lima besar Bussiness Plan Competition yang diadakan UII Yogyakarta. Masih banyak lagi prestasi yang sudah diukir Dewi untuk Produk Rajutannya tersebut.
Melalui kerja kerasnya, ia mampu menghasilkan omzet mencapai 20 juta per bulan. Dewi juga memiliki workshop rajut di daerah Ketintang Surabaya dan juga toko offline di ITC Mega Grosir Surabaya. Bahkan, ia juga sudah mendaftarkan My Knitted Indonesia pada Hak Paten Merk untuk SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).
Ke depan, ia berharap produknya bisa berkembang menjadi perusahaan besar yang tersebar di seluruh Indonesia. Karena ia yakin, keunikan dari produk rajutannya memiliki nilai jual yang tinggi.(*)
Penulis : Faridah Hari Editor : Dilan Salsabila