MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 39/PUU-XIV/2016
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN
JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
(I)
J A K A R T A
SELASA, 17 MEI 2016
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 39/PUU-XIV/2016 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON
Dolly Hutari P. Sutejo
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Selasa, 17 Mei 2016, Pukul 14.15 –15.10WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Arief Hidayat (Ketua)
2) Aswanto (Anggota)
3) Patrialis Akbar (Anggota)
Pihak yang Hadir: A. Pemohon:
1. Dolly Hutari P. 2. Sutejo
B. Kuasa Hukum Pemohon:
1. Edu Hardi Ginting 2. Shilviana
3. Putu Bravo Timothi 4. Farengga Aceng 5. Hendrawan Agusta
1. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang dalam perkara Nomor 39/PUU-XIV/2016 dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.
Pemohon yang hadir siapa silakan memperkenalkan diri.
2. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Perkenankan kami dari tim pejuang hak pangan rakyat yaitu dari para advokat dari law office Edu Ginting dan Associate dan dari SSCO advokat dengan ini memperkenalkan diri. Sebelah kanan saya Bapak Farengga Aceng, kemudian Bapak Edu Ginting, saya sendiri Shilviana, sebelah kiri saya adalah Putu Bravo Timothi, dan yang paling ujung adalah Hendrawan Agusta.
3. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih. Agenda sidang panel pada siang hari ini adalah sidang yang pertama pemeriksaan pendahuluan. Saudara Pemohon sudah menyampaikan permohonan secara tertulis, maka sesuai dengan hukum acara di Mahkamah Konstitusi Saudara dipersilakan setelah permohonan ini diregistrasi diterima di Mahkamah pada hari Kamis, 28 April tahun 2016 pada pukul 09.00. kemudian Saudara pada kesempatan ini diberi kesempatan untuk menyampaikan secara lisan pokok-pokok permohonan Anda. Jadi, tidak perlu disampaikan seluruhnya. Saudara cukup menyampaikan dalam garis besar pasal atau undang-undang apa yang dimintakan diujikan.
Kemudian Pasal atau Undang-Undang Dasar yang dijadikan landasan konstitusional untuk menguji undang-undang ini atau pasal yang diujikan itu. Kemudian Saudara cukup menyampaikan pokok-pokok posita atau alasan permohonan kenapa dikatakan pasal itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar.
Kemudian Saudara juga diminta untuk menyampaikan petitumnya saja. Jadi, tidak perlu seluruhnya disampaikan. Setelah itu selesai nanti Saudara akan diberi nasihat oleh Hakim dalam rangka perbaikan permohonan, tapi nasihat Hakim ini adalah nasihat yang wajib dilakukan oleh Hakim tetapi bagi Saudara nasihat ini adalah sesuatu yang tidak mengikat, boleh Saudara pergunakan dan diharapkan juga digunakan karena untuk perbaikan ini untuk kepentingan Saudara sendiri tapi bisa
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.15 WIB
saja Saudara tidak menggunakan nasihat itu. Saudara tetap berpandangan bahwa permohonan Anda lah yang betul, maka Saudara bisa tidak melakukan perbaikan tetapi kalau Saudara akan memperbaiki maka diberi waktu 14 hari untuk melakukan perbaikan tapi kalau belum sampai 14 hari sudah bisa selesai dan disampaikan ke Mahkamah maka kita akan mengadakan persidangan pemeriksaan yang kedua dalam rangka menerima perbaikan permohonan Anda.
Itu urut-urutan agendanya yang harus kita ikuti bersama dalam rangka mematuhi hukum acara dalam rangka judicial review atau pengujian perundang-undangan di Mahkamah. Silakan Saudara menyampaikan pokok-pokok sebagaimana yang sudah saya mintakan tadi. Silakan.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Terima kasih. Kepada yang terhormat Bapak Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia kami yang bertanda tangan di bawah ini para advokat yang tergabung dalam tim pejuang hak pangan rakyat dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama;
1. Dolly Hutari P, S.E., warga negara Indonesia selaku ibu rumah tangga dan konsumen komoditas pangan selanjutnya disebut Pemohon 1. 2. Bapak Sutejo warga negara Indonesia, pedagang selaku pedagang
komoditas pangan di pasar bambu kuning selanjutnya disebut Pemohon 2.
Pemohon 1 dan Pemohon 2 apabila bersama-sama akan disebut para Pemohon dengan ini mengajukan permohonan uji materiil atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai atau PPN barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 51, tambahan Lembaran Negara Nomor 3264 sebagaimana telah diubah tiga kali. Terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan jasa … barang dan jasa dan PPNbm yang selanjutnya disebut Undang-Undang PPN terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, selanjutnya disebut UUDNRI 1945.
Kemudian kami langsung ke kewenangan Mahkamah Konstitusi ke halaman 3. Berdasarkan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, kemudian Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, dan Pasal 57-nya.
Kemudian, Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, maka (suara tidak terdengar jelas) nasionalitas suatu undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam hal ini Pemohon memohon agar Mahkamah Konstitusi melakukan pengujian terhadap penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kedudukan hukum atau legal standing Para Pemohon.
Halaman 5. Pertama, kualifikasi Para Pemohon. Kualifikasi Pemohon I dan Pemohon II adalah perorangan warga negara Indonesia, di mana Pemohon I dalam kedudukannya sebagai konsumen komoditas pangan dan Pemohon II dalam kedudukannya selaku pedagang komoditas pangan dalam skala kecil pada pasar tradisional.
Kedua. Kerugian konstitusional Para Pemohon. Mengenai parameter kerugian konstitusional, yurisprudensi Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 6/PUU-III/2005, dan putusan–putusan selanjutnya telah memberikan penjelasan tentang kerugian konstitusional yang dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang MK, yaitu:
a. Adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional Para Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh Para Pemohon dianggap dirugikan dengan berlakunya undang-undang. c. Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut bersifat
spesifik dan aktual atau setidak-tidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi.
d. Ada hubungan sebab akibat antara kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional dengan undang-undang yang dimohonkan pengujian.
e. Ada kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Para Pemohon dalam perkara a quo memiliki hak konstitusional yang telah secara jelas dilindungi oleh konstitusi sebagaimana Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai berikut.
Di sini batu uji kami adalah ada empat, yaitu:
a. Hak untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan kualitas hidup, yaitu Pasal 28C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Hak untuk mendapatkan jaminan, perlakuan yang sama di hadapan hukum, perlindungan, serta kepastian hukum, yaitu Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
c. Hak untuk bebas dari perlakuan yang diskriminatif dan perlindungan atas perlakuan yang diskriminatif tersebut, yaitu Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
d. Hak atas penghormatan terhadap identitas budaya, yaitu Pasal 28I ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Uraian kerugian konstitusional Para Pemohon. Pemohon I dan Pemohon II sebagai perorangan dalam kapasitasnya selaku konsumen, komoditas pangan dan berprofesi sebagai pedangan kecil komoditas pangan telah dirugikan pemenuhan hak konstitusionalnya, yaitu:
a. Kerugian konstitusional Pemohon dalam hal pengembangan diri dan pemenuhan kualitas hidup, yaitu penjelasan Pasal 4A huruf ... maaf ... penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN mengurangi hak konstitusional Pemohon I dan Pemohon II, untuk pengembangan diri dan pemenuhan kualitas hidupnya.
Dalam kapasitas selaku konsumen komoditas pangan maupun selaku pedagang karena komoditi pangan yang dikonsumsi sehari-hari oleh keluarga Pemohon I dan diperdagangkan oleh Pemohon II, dikecualikan dari 11 jenis komoditi yang tidak dikenakan ... yang dikecualikan dari 11 komoditi yang tidak dikenakan PPN.
Padahal, bahan pangan konsumsi perdangangan Pemohon I dan Pemohon II juga merupakan bahan pangan yang diperlukan rakyat banyak, serta termasuk dalam komoditi pangan yang dikategorikan kebutuhan dasar, antara lain:
a. sumber tenaga atau karbohidrat seperti kentang, ubi-ubian, terigu, dan gandum.
b. Kacang-kacangan, seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, yang kandungan gizinya sangat tinggi tidak kalah dari daging. c. Rempah atau bumubu-bumbu dapur yang merupakan ciri khas
identitas dan kebutuhan pokok rutin bangsa Indonesia. Seperti cabai, bawang, merica, lengkuas, dan lain-lain. Pemenuhan hak konstitusionalitas Pemohon I dan Pemohon II akan kebutuhan pangan sehari-hari tersebut menjadi mahal, eksklusif, dan semakin berat untuk dapat dipenuhi akibat berlakunya penjelasan pasal a quo. Menjadikan potensi pengembangan diri melalui konsumsi atau pemenuhan kebutusan dasar akan pangan serta usaha perdagangan atas komoditi-komoditi tersebut menjadi terhambat.
d. Kerugian konstitusional Pemohon dalam hal tidak mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum. Dengan berlakunya penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN mengurangi hak Pemohon I dan Pemohon II untuk mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum.
Pemohon I dan Pemohon II mendapat perlakuan yang tidak sama ketika akan mengakses komoditas pangan, antara lain berupa komoditi pangan non beras, kacang-kacangan, akibat pemberlakuan penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN yang mengakibatkan terjadinya perbedaan harga di antara komoditas tersebut. Antara lain kacang-kacangan yang sama-sama kandungan gizi dan proteinnya lebih
tinggi dari 11 jenis pangan yang disebutkan dalam penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN, akibat pengenaan pasal a quo.
Di dalam satu peraturan terdapat diskriminasi atas komoditas yang memiliki fungsi, tujuan, dan kegunaan yang sama, yaitu komoditas makanan pangan ... makanan pokok non beras sebagai karbohidrat yang setara dengan beras, jagung, dan sagu di mana beras, jagung, sagu tidak dikenakan PPN, tetapi seperti kentang, ubi, talas, singkong, dan terigu dikenakan PPN. Mengapa masyarakat beberapa suku di Papua yang makanan pokoknya singkong harus diperlakukan berbeda dengan masyarakat yang makan beras dan jagung.
Komoditas kacang-kacangan merupakan barang pangan yang serupa dengan kedelai di dalam 11 jenis pangan yang tidak dikenakan PPN, di mana komoditas pangan berupa kacang-kacangan tersebut tidak lepas dari kebutuhan pokok konsumsi masyarakat Indonesia sehari-hari, seperti gado-gado, pecel, karedok, lotek, kupat tahu, ketoprak, bubur kacang hijau yang merupakan makanan sehari-hari. Mengapa harus dibedakan perlakuannya dengan hanya kedelai dan daging saja yang tidak dikenakan PPN.
Pengenaan PPN juga terhadap produk-produk tersebut berimbas pada maraknya komoditi impor hasil selundupan yang tidak membayar PPN dan bea masuk yang mengakibatkan disparitas harga sangat jauh, sehingga produk tersebut menjadi kalah bersaing dengan komiditi pangan ilegal. Di mana produk yang ilegal tersebut menjadi lebih murah karena tidak membayar PPN, sehingga persaingan dagang pun tidak dapat dilakukan dengan sehat akibat hal tersebut.
Penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN dapat dikatakan merupakan peraturan yang sangat diskriminatif, di mana Pemohon I dan Pemohon II tidak mendapat perlindungan hukum ataupun kepastian hukum saat mengakses komoditas pangan selain 11 jenis yang dijabarkan dalam penjelasan pasal a quo.
Kerugian konstitusional Pemohon dalam hal pemenuhan hak untuk tidak diberlakukan diskriminatif. Dalam pemberlakuan penjelasan pasal Undang-Undang PPN a quo, perlakuan yang sama atas komoditas pangan lain yang sangat dibutuhkan rakyat banyak dan juga merupakan sumber gizi serta protein yang sangat dibutuhkan menjadi tidak terpenuhi. Penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN hanya menyertakan 11 jenis kategori pangan yang tidak dikenakan PPN, sedangkan komoditas lainnya dikenakan PPN, sehingga komoditas pangan di luar 11 jenis tersebut menjadi lebih mahal. Kemudian timbul tadi maraknya penyelundupan, sehingga kebutuhan pangan dan gizi masyarakat yang layak serta identitas kuliner bangsa terancam tidak dapat dipenuhi.
Nuansa diskriminasi dalam penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b a quo setidaknya pembatasan 11 jenis pangan tersebut apabila ditelaah lebih dalam pengklasifikasiannya juga tidak jelas dasarnya. Contohnya
untuk komoditas lain selain kedelai, seperti kacang-kacangan yang juga merupakan sumber protein yang tinggi, bahkan lebih tinggi apabila dibandingkan daging menjadi dikenakan PPN. Kemudian mengapa pula masyarakat Indonesia Timur yang makan singkong harus didiskriminasi dari fasilitas tidak dikenainya PPN dibandingkan masyarakat Indonesia bagian Barat yang makan beras.
Kerugian konstitusional Pemohon dalam hal tidak adanya perlindungan atas identitas budaya. Keanekaragaman kuliner dan pangan yang dimiliki masyarakat Indonesia harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu bahwa kuliner, pangan, serta cita rasa kuliner tersebut merupakan identitas budaya yang harus mendapat perlindungan negara. Identitas yang beranekaragam tersebut tidak dapat dipisahkan dari takdir keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, akibat memiliki keanekaragaman suku, agama, bahasa, dan adat-istiadiat, bangsa Indonesia menjadi memiliki keanekaragaman pangan yang membentuk kultur dan adat-istiadat tiap suku di dalamnya.
Kita mengenal jagung sebagai pangan pokok beberapa suku di NTT dan Madura, lalu ada sagu yang menjadi makanan pokok di Maluku dan Papua. Beras untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, ubi dan singkong untuk beberapa suku di Papua. Demikian juga dengan pola makan setiap suku yang berbeda, misalnya bagi masyarakat Sulawesi dan Maluku lebih memilih ikan sebagai lauk utama dibandingkan dengan daging. Berbeda dengan masyarakat Papua yang setiap ritual adat harus menggunakan daging sebagai santapan, tetapi ikan didiskriminasikan dari fasilitas tidak dikenai PPN.
Mengapa hanya daging yang dikenakan PPN, ikan tidak? perbedaan serta keaneka pangan tersebut mulai dari komoditi pangan pokok, preferensi sumber, preferensi makanan, sumber pangan, hingga kepada cara pengolahan pangan tersebut menggunakan aneka rempah atau bumbu khas Indonesia merupakan identitas budaya yang harus dilindungi oleh negara. Perlindungan negara (...)
5. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, agak dipersingkat.
6. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Maaf?
7. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Agak dipersingkat. Kita sudah membaca seluruh permohonan ini, ya.
8. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Kemudian masyarakat yang memiliki keragaman dipaksa untuk memilih hal yang telah ditentukan sehingga akan mencabut masyarakat dari akar budayanya. Kemudian demikian dengan adanya hal tersebut (...)
9. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Langsung petitumnya.
10. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Maka para Pemohon telah memenuhi legal standing untuk mengajukan permohonan uji meteril ini. Kemudian untuk alasan permohonan pengujian Undang-Undang PPN akan dibacakan rekan saya Farengga.
11. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, kita juga sudah membaca. Alasannya beberapa saja yang pokok saja, itu yang alasan pada waktu legal standing juga sebetulnya sudah ada alasan itu.
12. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Inti dari alasan yang huruf a itu adalah dengan penjelasan ... ketentuan penjelasan Pasal 4 ayat (2) huruf b Undang-Undang PPN tersebut di mana sebetulnya di Pasal 4A nya sendiri menyatakan bahwa huruf b, barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat banyak itu tidak dikenai PPN. Tetapi dalam penjelasan undang-undangnya, penjelasan Pasal 4 tersebut, barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat banyak hanya dibatasi sebanyak 11 komoditi, sedangkan kebutuhan pokok pasti lebih dari 11 ini. Sehingga inilah yang kita menafsirkan bertentangan dengan Pasal 28C ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
13. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, petitumnya?
14. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
15. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Langsung ke petitum saja.
16. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Akan dibacakan rekan saya, Putu.
17. KUASA HUKUM PEMOHON: PUTU BRAVO TIMOTHY
Baik, akan kami bacakan petitumnya. Berdasarkan seluruh uraian di atas dan bukti-bukti terlampir, jelas bahwa di dalam permohonan uji materil ini terbukti bahwa penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah merugikan hak konstitusional para Pemohon yang dilindungi, dihormati, dimajukan, dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian para Pemohon mohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Yang Mulia berkenan memberikan putusan sebagai berikut. Primer.
1. Menerima dan mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya.
2. Menyatakan penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa, dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah tiga kali, terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat sepanjang dimaknai barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak meliputi. a. Beras. b. Gabah. c. Jangung. d. Sagu. e. Kedelai.
f. Garam baik yang beryodium maupun yang tidak beryodium. g. Daging, yaitu daging segar tanpa diolah dan seterusnya. h. Telur, yaitu yang tidak diolah dan seterusnya.
i. Susu, yaitu susu perah baik yang telah melalui proses dan seterusnya.
j. Buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yang dipetik dan seterusnya.
k. Sayur-sayuran, yaitu sayur-sayuran segar yang dipetik, dicuci, dan seterusnya.
3. Menyatakan penafsiran frasa barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak pada penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah menjadi barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak adalah barang pangan yang berasal dari hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, dan air yang diambil langsung dari sumbernya atau diolah sebatas kegiatan pascapanen dan bukan merupakan hasil dari proses pengolahan atau industri sebagaimana dimaksud dalam pengertian menghasilkan dalam Pasal 1 angka 16 undang-undang ini tidak dikenai PPN.
4. Memerintahkan untuk memuat putusan ini dalam berita negara Republik Indonesia sebagai mana mestinya.
Subsider. Apabila Mahkamah berpendapat lain, mohon putusan seadil-adilnya. Hormat kami Kuasa Hukum para Pemohon. Terima kasih, Yang Mulia.
18. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Terima kasih. Sekarang kita sampai pada kewajiban panel Hakim untuk memberikan nasihat dalam rangka perbaikan permohonan ini. Saya persilakan, Prof Aswanto atau … Prof Aswanto, saya persilakan.
19. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO
Terima kasih, Yang Mulia.
Saudara Pemohon ya. Pertama, permohonannya saya kira ini cukup panjang, padahal sebenarnya penjelasan yang terakhir yang disampaikan oleh Pemohon tadi mengenai Pasal 4A yang memasukkan barang-barang … Pasal 4A ya … penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf B sebenarnya itu intinya yang diminta untuk diuji karena dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Sementara penje … uraiannya sangat panjang sekali ini, ada berapa … 72 halaman lebih gitu. Sehingga ya, ketika kami membaca ini juga jadi … jadi lari ke mana ini, permohonan ini. Padahal sebenarnya intinya ada di situ.
Nah, saran saya yang pertama kalau bisa di apa … dielaborasi kembali sehingga banyak hal yang saya kira tidak perlu dijelaskan di dalam permohonan ini karena itu justru semakin membuat kami nanti susah untuk menentukan mana fokus dari permohonan ini sebenarnya. Itu dari segi apa … jumlah halaman permohonan gitu ya. Saya kira lebih bagus kalau singkat dan jelas, sehingga kami lebih mudah menangkap bahwa sebenarnya persoalan konstitusional yang dipersoalkan oleh Pemohon adalah sebagai berikut misalnya. Ya, intinya kan hanya ada di Pasal 42A itu, yang uraiannya panjang lebar tadi gitu. Nah, itu yang pertama.
Yang kedua saya kembali ke soal Pemohon. Pemohon Prinsipal. Prinsipalnya … Pemohon Prinsipal ada ya. Satu sebagai Ibu Rumah Tangga yang sekaligus menurut Pemohon itu adalah konsumen. Yang satu lagi sebagai pedagang. Nah, ini kelihatannya di … di apa … digabung kerugian yang dialami oleh kedua Pemohon ini, diuraikan secara gabung gitu. Nah, menurut saya ini mungkin perlu Saudara menguraikan secara sendiri-sendiri. Apa kerugian yang dialami oleh Pemohon atau Prinsipal … Pemohon Prinsipal satu gitu, sebagai konsumen?
Di dalam permohonan ini kami bisa menangkap dengan jelas apa kerugian yang dialami oleh Pemohon 1, Pemohon Prinsipal sebagai konsumen ya. Sebenarnya sebagai Ibu Rumah Tangga ya mungkin tidak terlalu ini, tetapi sebagai konsumen gitu.
Yang kedua … Prinsipal yang kedua … Pemohon Prinsipal kedua itu adalah sebagai pedagang. Nah, ini yang belum ter apa … terlihat secara jelas. Apa kerugian konstitusional yang dialami oleh Pemohon 2 itu? Dan lebih dari itu, di dalam permohonan ini Saudara menjelaskan bahwa ada kerugian-kerugian yang dialami karena kenaikan harga gitu. Saya ingin mengingatkan saja bahwa itu bisa menjadi pintu masuk, tetapi yang harus menjadi pokok persoalan adalah bukan kerugian materil, kalau ini tadi kan kerugian materil. Yang menjadi pokok persoalan adalah kerugian konstitusional, sehingga mestinya Saudara bisa me … me apa … menguraikan secara singkat sebenarnya. Misalnya Pemohon 1 sebagai konsumen, kerugian konstitusional yang dialami dengan berlakunya penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf B itu adalah bla, bla, bla, itu lebih mudah. Sehingga kami bisa lebih mudah menangkap bahwa, oh, ternyata Pemohon 1 punya legal standing. Demikian juga dengan Pemohon kedua. Saudara menguraikan bahwa sebagai pedagang, kerugian konstitusional yang dialami adalah bla, bla, bukan kerugian materil. Bahwa ini pintu masuk kerugian materil bisa saja, tetapi nanti ujungnya adalah Saudara harus menggambarkan bahwa dengan berlakunya norma Pasal 4 … Pasal 4A ayat (2) huruf B itu adalah bla, bla, bla, di samping itu juga belum tergambar di dalam permohonan Saudara bahwa Saudara juga harus menjelaskan atau menggambarkan di dalam permohonan Saudara bahwa dengan adanya norma yang Saudara minta untuk diuji itu, maka kerugian konstitusional yang dialami oleh Pemohon adalah bla, bla. Dan Saudara belum memberikan gambaran secara jelas bahwa kalau norma itu dihilangkan atau ditafsirkan lain, maka kerugian konstitusional yang akan dialami atau potensi kerugian yang akan dialami itu tidak akan terjadi lagi. Ini belum Saudara elaborasi, sehingga perlu Saudara elaborasi di situ.
Nah, tadi Pak Ketua sudah menyampaikan bahwa sebenarnya ketika Saudara menjelaskan legal standing secara tidak langsung juga Saudara sudah menyinggung persoalan apa namanya … alasan permohonan. Nah, ini masih bingung kita, Saudara mencampuradukkan
antara legal standing dengan posita, begitu. Tolong nanti diurai secara singkat, ini alasan Pemohon, sehingga Pemohon menganggap bahwa kami punya legal standing, kemudian ini pokok permohonan atau menjadi posita kami, sehingga kami dianggap mempunyai kerugian konstitusional, begitu. Itu yang kedua. Yang berikutnya, ini Saudara mengambil empat pasal, ya?
20. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya.
21. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO
Empat pasal menjadi batu uji. Coba nanti dilihat kembali mana yang paling tepat dijadikan sebagai batu uji. Maksudnya pasal di dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 ada empat yang Saudara jadikan sebagai batu uji, nanti Saudara coba lihat kembali apakah Pasal 28D ayat (1), Pasal 28I, atau pasal yang lain yang Saudara … ada empat pasal, ya, yang Saudara jadikan sebagai batu uji. Tolong nanti dicermati kembali apakah betul empat-empatnya pasal itu memang bisa dijadikan sebagai batu uji.
Kemudian, soal tadi legal standing sudah, ini perlu juga Saudara, tadi panjang sekali Saudara menguraikan, tapi tampaknya Saudara belum masuk, begitu. Apa … kalau bisa Saudara menggambarkan apa yang menjadi parameter untuk menentukan ini kebutuhan pokok, ini bukan kebutuhan pokok, begitu. Coba Saudara, sehingga nanti kita bisa melihat bahwa apakah benar 11 apa namanya … 11 jenis itu adalah kebutuhan pokok atau memang bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan pokok.
22. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Jadi (…)
23. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO
Ya, silakan.
24. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Mohon izin, Majelis. Jadi, justru kami melihat tidak ada klasifikasi yang jelas dari pembuat undang-undang. Karena kalau melihat dari … kalau bunyi Pasal 4A nya sendiri itu kan, “Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat banyak.” Kemudian oleh penjelasannya, barang kebutuhan pokok itu ditafsirkan hanya ada 11 dengan klasifikasi
yang tidak jelas. Kalau dilihat … kalau kita mengacu kepada makanan, kebutuhan makan 4 sehat 5 sempurna, berarti kan karbohidrat, protein, sayur, buah. Tetapi di sini karbohidrat juga tidak semua, singkong tidak masuk, dia hanya masuk beras, gabah, jagung, sagu, sementara singkong dan ubi-ubian tidak masuk. Kemudian, untuk protein itu, protein hewani hanya masuk daging.
25. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO
Oke, kita sudah dengar itu. Justru itulah yang kita minta, kami minta, coba Saudara pada di bagian posita nanti Saudara coba mengelaborasi, mencoba mencari teori-teori apa sebenarnya dasar untuk penentuan itu? Parameter untuk penentuannya itu kebutuhan pokok yang mendasar apa, begitu? Nah, ini yang perlu Saudara elaborasi lebih apa namanya … lebih tajam, sehingga nanti kita melihat bahwa betul ada yang bertentangan dengan norma yang ada di dalam konstitusi.
Yang terakhir dari saya, ini soal petitum, ya. Petitum Saudara yang petitum kedua dan petitum ketiga itu sebenarnya kalau kita perhatikan maknanya sama, begitu. Coba Saudara nanti cermati kembali antara petitum nomor dua … angka dua dengan petitum angka tiga, begitu ya, itu mempunyai makna yang sama. Nah, persoalan yang penting di sini sebenarnya kelihatannya kan Saudara meminta, apakah yang Saudara minta itu adalah inkonstitusional bersyarat atau konstitusional bersyarat, begitu? Nah, itu nanti yang Saudara perlu cermati kembali apa sebenarnya yang Saudara mau minta? Jangan Saudara sendiri bingung apa yang Saudara mau minta. Nah, kalau Saudara sendiri yang bingung apa yang Saudara mau minta nanti bagaimana kita mengabulkan permintaan Saudara. Saudara sendiri bingung apa yang Saudara mau minta, begitu ya. Jadi, apakah Saudara harus pertegas, apakah yang Saudara mau minta itu adalah inkonstitusional bersyarat atau konstitusional bersyarat? Karena kalau kita baca petitum Saudara angka dua dan angka tiga itu, ya maknanya sama sebenarnya. Dari saya cukup, Yang Mulia.
26. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih, Yang Mulia. Selanjutnya, Yang Mulia Dr. Patrialis Akbar, saya persilakan.
27. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Ya, terima kasih, Pak Ketua. Saudara Kuasa Hukum, ya, kalau saya baca permohonannya. Kemudian juga apa yang dijelaskan tadi, saya menangkap ini ada satu semangat yang luar biasa di mana Saudara ingin betul membantu kepentingan rakyat banyak khususnya adalah hak
pangan rakyat ini. Semangatnya kelihatannya bagus ini, ya. Jadi, untuk kepentingan orang banyak. Ya, kepentingan orang banyak.
Tentu ketika kita berada di Mahkamah Konstitusi, kita harus menyesuaikan fungsi, tugas, dan kewenangan Mahkamah Konstitusi itu. Semangat itu coba di … disesuaikan.
Jadi, kalau saya enggak salah tangkap sementara ini, Saudara ini atau Para Pemohon itu kan merasa keberatan dan merasa diskriminasi bahwa kenapa di dalam penjelasan Pasal 4 undang-undang a quo ini hanya 11 butir, ya, bahan pokok itu yang tidak dikena … yang tidak dikenakan pajak pertambahan nilai dan barang mewah. Sementara ada ribuan lainnya mungkin, kalau kita rinci. Begitu, ya? Sehingga Saudara mengatakan bahwa ini diskriminatif, kan begitu.
Jadi begini, tolong dipahami Saudara berlima, kalau kita ke Mahkamah Konstitusi ini yang kita uji itu adalah satu norma maupun juga dan/atau penjelasan yang bertentangan dengan norma yang mengatur terhadap sesuatu. Isi norma itu, itu mengatur terhadap sesuatu, tetapi isinya itu bertentangan dengan konstitusi, bertentangan dengan hak asasi, isinya itu diskriminatif, ya, itu. Intinya seperti itu.
Nah, sekarang coba saya ingin mengajak Saudara untuk mendalami. Apakah 11 butir bahan pokok pangan yang ada di dalam penjelasan itu bertentangan dengan konstitusi apa tidak? Sepertinya tidak, ya. Kalau itu dimasukkan, Saudara setuju kan itu dimasukkan, tidak dikenakan PPN? Apa Saudara keberatan?
28. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Pada prinsipnya menurut kami memang sebaiknya tidak dikenai PPN. Tapi (…)
29. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Ah, itu. Sudah, situ dulu, situ dulu. Situ, ya. Artinya, Saudara tidak keberatan kalau 11 masalah ini tidak dikenai PPN. Cuma Saudara katakan, “Jangan hak itu saja, tapi banyak lagi yang lain.” Kan begitu?
30. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya.
31. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Nah, coba bayangkan kalau 11 masalah itu Saudara menyatakan keberatan dan Saudara menyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, maka 11 itu pun dihapus, dihapus. Kalau itu dihapus, artinya dia akan dikenakan PPN nanti. Tapi karena itu secara eksplisit
dinyatakan tidak kena PPN, ya kan, berarti itu kan mesti dipertahankan, ya. Ini paham ini?
32. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya.
33. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Berlima itu nanti didiskusikan, ya. Ini enggak apa, ini bagus, ya. Di MK ini itulah semangatnya kita coba salurkan.
Nah, yang kedua. Mahkamah ini itu kan tugas utamanya kan menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Tapi kalau Saudara minta nanti juga dimasukkan semuanya, ya saya katakan tadi mungkin ada ribuan lainnya. Tadi Pak Aswanto sudah mengatakan kalau begini saja kan juga kurang jelas. Kemudian Saudara masukkan juga nanti banyak lagi, artinya Saudara minta MK menetapkan bahwa ya jagung, ya ikan, ya apa segala macam itu masuk, begitu maksudnya?
34. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Tidak seperti itu.
35. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Ah, bagaimana?
36. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Jadi, yang kami mohonkan adalah pembatasan itu tidak menyebutkan per jenis komoditi secara spesifik. Bukan beras (…)
37. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
He eh, terus?
38. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Jagung, seperti itu.
39. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
40. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Tetapi pada intinya mengacu kepada definisi PPN itu kan harus dia sudah melalui suatu proses, sehingga bendanya itu ada value added-nya. Jadi, ada nilai tambah dari suatu benda, sehingga dia menjadi PPN. Contoh ya, dari kayu itu sudah menjadi pensil. Itulah value added-nya di sana. Tapi kalau (…)
41. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Itu tapi siapa yang menentukan?
42. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Itu di dalam undang-undang sudah ada, Majelis. Jadi (…)
43. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
He eh.
44. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Jadi, di dalam undang-undang nanti ada rujukannya, yaitu di dalam Undang-Undang PPN itu sendiri dia ada menafsirkan bahwa kata menghasilkan, menghasilkan itu tidak termasuk di dalamnya, menanam, memetik itu tidak termasuk. Sehingga penafsirannya adalah hasil pertanian itu otomatis harusnya tidak masuk (...)
45. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Jadi Saudara inginkan yang 11 itu dihilangkan?
46. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Bukan yang 11 dihilangkan, tetapi semua bahan kebutuhan pokok berupa pangan yang belum diolah, dia masih bentuk aslinya atau dia sekedar diolah untuk dikonsumsi. Misalnya padi itu kan sekedar dikupas (...)
47. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
48. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya, jadi dia masih berupa aslinya yang tidak melalui proses industri dan tidak mengubah bentuk.
49. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Oke, baik. Ya, artinya itu ... ya, artinya saya paham, ya, artinya Saudara ingin mengembalikan kepada substansi masalah tanpa diuraikan.
50. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya.
51. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Sehingga nanti apa kualifikasinya, ya, itukan nanti bisa diuraikan lebih lanjut mungkin bukan dalam undang-undang, ya kan, mungkin dalam aturan pelaksanaan. Oke, kalau begitu saya bisa memahami yang penting tadi saya khawatir tergiring kepada positif legislator, tapi ternyata enggak, ya, oke.
Kemudian itu, ya, kemudian persoalan diskriminatif, ya, penafsiran persoalan diskriminatif. Nah, ini coba tolong didalami lagi sudah banyak putusan-putusan Mahkamah kayaknya diskriminatif itu enggak ke sana perginya, ya, diskriminatif itu bukan berarti seperti yang Saudara tafsirkan bahwa ini ada kok yang lain enggak ada karena kalau diskriminatif itu lebih pada posisi bahwa satu aturan hukum itu tidak berlakukan kepada semua orang, tapi hanya kepada kelompok-kelompok tertentu yang sebetulnya dia juga mempunyai hak sebagai warga negara di Indonesia ini, ya. Nah, mereka kalau tidak terjangkau atau ditiadakan oleh satu aturan maka itu namanya diskriminatif, kalau ini bukannya diskriminatif, ya, tapi lebih pada penjelasan ini keluar dari semangat atau hakikat dari normanya. Nah, Saudara bisa mencoba menganalisis apakah penjelasan boleh mengatur keluar dari norma, substansi norma lebih kepada itu.
Nah, di dalam sistem peraturan perundang-undangan kita undang-undang tentang tata cara pembuatan peraturan perundang-undangan itu juga sudah jelas bahwa penjelasan tidak boleh melanggar norma, mungkin lebih ke sana arahnya, ya, gitu. Kemudian petitum tadi, ya, saya juga sama dengan Pak Aswanto, Saudara bisa mengatakan ada tiga alternatif yang Saudara bisa sebutkan di dalam petitum. Antara lain, kalau Saudara menganggap itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar secara keseluruhan Saudara tetap hanya cukup mengatakan bahwa pasal sekian bertentangan dengan Undang-Undang Dasar.
Uraiannya kan sudah ada di atas tadi, yakan? Nah, atau Saudara mengnyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar apabila dimaknai, atau bertentangan dengan Undang-Undang Dasar apabila tidak dimaknai, terserah pilih mana yang lebih pas gitu.
Nah, oleh karena itu di dalam petitum selanjutnya Saudara harus mengikuti itu. Kalau dia bertentangan dengan Undang-Undang Dasar maka di bawahnya dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, ya, gitu. Bisa juga kalau Saudara ingin menambah, ya, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar apabila dimaknai Saudara menambahkan apa, tapi jangan menggiring kepada positif legislator, ya.
Ya, saya kira itu saja Pak Ketua. Terima kasih.
52. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih, Yang Mulia. Sudah banyak apa yang disampaikan oleh rekan Hakim Yang Mulia Prof. Aswanto dan Yang Mulia Dr. Patrialis Akbar. Saya tidak akan mengulang, saya hanya menambahkan saja satu saja.
Intinya sebetulnya persoalan yang akan Anda mintakan di-judicial review, tadi sudah disampaikan oleh Prof. Aswanto batu ujinya sebetulnya yang paling utama adalah masalah diskriminasi sehingga pasal Undang-Undang Dasar yang paling tepat digunakan adalah pasal yang mengatur masalah diskriminasi, ya, itu yang pertama. Kemudian yang kedua diskriminasinya di mana? Ini lebih diperkuat di dalam positanya, diskriminasi yang pertama terjadi antar barang kebutuhan pokok dengan barang kebutuhan yang sekunder atau tersier, malah Anda di situ sudah menggambarkan ada tas branded dan ada barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh rakyat, sehingga diskriminasinya itu yang di sini begitu, yang di sini kok begini.
Itu diskriminasinya ditunjukkan secara jelas bahwa semestinya malah yang kebutuhan tersier, yang sekunder itulah yang sebetulnya harus dikenai pajak atau pajak barang mewah, ya kan. Tapi barang kebutuhan pokok itu tidak pantas untuk diberi bebani pajak atau PPN.
Nah, kemudian internal di dalam barang kebutuhan pokok kan dia … Anda temukan ada diskriminasi berdasarkan penjelasannya kan. Yang ini dikasih PPN, yang ini kok tidak, padahal itu sama-sama kebutuhan pokok. Nah, itu juga Anda jelaskan gimana? Sehingga tadi waktu Anda berdiskusi dengan Yang Mulia Pak Patrialis Akbar ketemu. Bahwa kalau itu juga dihilangkan maka sebetulnya malah kemudian malah kena PPN, kan gitu. Makanya Saudara tadi menjelaskan itu lebih dipertajam.
Semestinya barang hasil pertanian yang belum diolah atau diolah dengan sederhana yang untuk bisa dimakan, maka itu tidak dikenakan. Itu kan berarti ada diskriminasi. Nah, ya jadi dilebih ditekankan positanya ada diskriminasi di 2 kebutuhan. Kebutuhan pokok, dengan kebutuhan yang sekunder atau tersier ada diskriminasi. Yang semestinya
ini begini, yang semestinya ini begini, kemudian antar barang kebutuhan pokok kok kenapa juga terjadi diskriminasi. Mestinya tidak. Karena masyarakat Indonesia misalnya di situ sangat heterogen. Kebutuhan pokoknya tidak bisa digeneralisasi hanya itu, itu, itu. Sehingga itu … itu anu ya. Itu sama semua. Sehingga barang-barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke itu bisa bersamaan. Perlakuannya tidak ada diskriminasi.
Itu yang harus Anda uraikan di dalam posita, sehingga memberikan pemahaman kepada kita Hakim yang memeriksa. Oh, ya memang ini betul ada hal atau ada masalah dengan pasal ini atau penjelasan pasal ini. Sehingga itu bertentangan dengan batu ujinya atau Pasal Undang-Undang Dasar yang diujikan. Itu saja tambahan dari saya. Ada yang akan disampaikan?
53. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Boleh bertanya, Majelis?
54. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya.
55. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Jadi di halaman 31.
56. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya.
57. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Itu sebetulnya ada kami menguraikan mungkin cuma kurang tajam mungkin di situ.
58. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Halaman 31, ya silakan.
59. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Nomor 65. Jadi di sini kriteria pangan yang dapat dikenakan PPN. Di sini kami menguraikan bahwa di dalam Pasal 1 huruf m Undang-Undang yang awal sebelum ada perubahan yang 3 kali itu. Sudah ada definisi bahwa menghasilkan adalah kegiatan mengolah, mengubah
bentuk atau sifat dari bentuk asli menjadi barang baru. Jadi inilah kriteria suatu barang dikenakan PPN atau tidak, itu seharusnya kembali ke definisi PPN ini. Itu dia menjadi suatu barang baru.
Nah, di sini Pasal 1 huruf m itu sendiri sudah … sebetulnya sudah mendefinisikan bahwa tidak termasuk menghasilkan adalah menanam, memetik. Artinya harusnya hasil pertanian yang masih asli itu harusnya tidak kena PPN. Kemudian membungkus, mengepak. Artinya pada saat padi kemudian dikupas menjadi beras dan dibungkus dikarungi. Itu seharusnya masih belum kena PPN.
60. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, ya. Ya, bisa dimengerti. Silakan Saudara lebih pertajam dan ini karena banyak tadi yang juga sudah di anu … sampaikan kritiknya oleh Prof. Aswanto. Bahwa Saudara ini lebih baik anu … jangan terlalu panjang, tapi cukup fokus kepada masalah intinya saja ya.
61. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya.
62. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Supaya lebih mudah untuk dipahami dan nanti di dalam pemeriksaan selanjutnya bisa lebih mendapat perhatian sehingga itu betul-betul menunjukkan keingingan Anda sebagaimana yang sudah dimasukan di dalam petitumnya ya. Ya, ada lagi yang akan disampaikan?
63. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Yang kedua, Yang Mulia. Apakah ini diperkenankan bahwa di dalam petitum.
64. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya.
65. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Di sini kami berdasarkan definisi tadi, definisi barang yang dapat dikenakan PPN tadi. Di sini kami meminta penafsiran oleh Mahkamah Konstitusi (…)
66. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya itu tadi, yang sudah disampaikan oleh Yang Mulia Pak Aswanto dan Pak Patrialis sudah mengatakan begitu.
67. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya.
68. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, boleh. Enggak masalah.
69. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Ya, jadi (…)
70. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ditasirkan ini atau tidak ditafsirkan ini. Tadi disilakan memilih yang pas dan yang sesuai ya.
71. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Apabila penafsiran tersebut, kami mengacu kepada undang-undang lain apakah itu boleh Yang Mulia? Jadi ini kata tadi menghasilkan, itu kami sandingkan dengan Undang-Undang Industri. Di mana di situ (…)
72. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, boleh saja. Itu digunakan untuk pada waktu Anda (…)
73. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Acuan.
74. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya.
75. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
76. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Bukan acuan. Tapi itu disalin untuk kepentingan petitum Saudara.
77. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Untuk penafsiran.
78. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, boleh.
79. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Boleh ya?
80. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, boleh. Silakan ya. Cukup?
81. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Cukup, Yang Mulia.
82. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik.
83. KUASA HUKUM PEMOHON: SHILVIANA
Terima kasih.
84. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Saudara mempunyai waktu untuk memperbaiki dan perbaikan itu paling lambat diserahkan pada Majelis pada hari Senin, 30 Mei tahun 2016. Diserahkan dulu … kepaniteraan ya. Nanti setelah itu diagendakan untuk sidang yang kedua dalam rangka menerima perbaikan permohonan Anda. Tapi kalau dalam 1, 2, 3, hari sudah selesai, langsung diserahkan ke kepaniteraan, nanti akan kita sidangkan lebih awal dari agenda 14 hari itu ya.
Baik, Saudara juga harus nanti melengkapi bukti-buktinya secara lengkap. Kalau masih perlu ada nanti ditambahkan ya. Nanti pada persidangan yang kedua, alat bukti yang sudah Anda ajukan nanti akan
disahkan dalam persidangan ya. Baik, kalau sudah cukup maka sidang selesai dan ditutup.
Jakarta, 17 Mei 2016 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004
SIDANG DITUTUP PUKUL 15.10WIB