• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ruang Kuliner dan Kelas Sosial di Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ruang Kuliner dan Kelas Sosial di Jakarta"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

73

Ruang Kuliner dan Kelas Sosial di Jakarta

ADE ARIYANI SARI FAJARWATI, FABIANUS H. KOESOEMADINATA,

SONYA INDRIATI SONDAKH

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected],

[email protected]

ABSTRACT Jakarta as a metropolitan city provides various types of public space. This paper focused on culinary spaces in urban Jakarta. Food is not only basic necessity for human, it also delivers symbolic messages. Through public dining areas, we could reveal various problems regarding social class of the visitors. On this paper, we will analyze three public dining areas: Plataran Dharmawangsa, Waroeng Solo, and Warung Mbak Yati which are considered to represent the upper, middle, and lower social classes. This paper uses Bourdieu’s distinction, arena, and capital and Lefebvre’s concept of space -which is specified by Low and Smith. This paper reveals that Bourdieu’s notions explained several things about culinary spaces and social class in urban Jakarta.

ABSTRAK Sebagai kota metropolitan, Jakarta menyediakan banyak jenis ruang – dalam berbagai arti – kepada penduduknya. Ruang yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah ruang kuliner di urban Jakarta. Makanan bukan hanya kebutuhan, tetapi juga menyampaikan pesan simbolis. Dengan demikian, melalui ruang tempat makan sebagai ruang publik dapat diungkap berbagai hal terkait kelas sosial pengunjungnya. Dengan melihat tiga jenis tempat makan: Plataran Dharmawangsa, Waroeng Solo, Warung Mbak Yati yang dianggap mewakili kelas sosial atas, menengah, dan bawah, penelitian kecil ini akan mencoba mengungkap relasi tempat makan dan kelas sosial dalam masyarakat Jakarta. Analisis menggunakan pemikiran Bourdieu tentang distingsi (distinction), arena, dan kapital sementara konsep ruang didasarkan kepada Lefebvre yang dispesifikkan oleh Low dan Smith. Penelitian kecil ini mengungkap bahwa pemikiran Bourdieu menjelaskan beberapa hal tentang ruang kuliner dan kelas sosial di urban Jakarta.

Keywords: culinary spaces, Bourdieu, distinction, social class Kata Kunci: Ruang kuliner, Bourdieu, distinction, kelas sosial

Makan di Luar dan

Makanan Etnik

Kebiasaan makan di luar rumah dapat dikatakan belum terlalu lama menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari manusia. Alan Warde dan Lydia Martens dalam buku

Eating Out (2000:23) mengungkapkan

bahwa munculnya tempat-tempat khusus untuk makan di luar, khususnya tempat yang menawarkan pilihan makanan dan tidak sekadar menu yang terbatas, adalah inovasi abad ke-20. Evolusi makan di luar sebagai aktivitas mengisi waktu senggang adalah ciri yang baru ditemukan pada seratus tahun belakangan. Temuan Warde

dan Martens ini menunjukkan bahwa baru pada abad ke-20 tempat khusus untuk makan di luar dikembangkan secara serius. Sebelumnya, tempat makan di luar bukan ditujukan untuk mengisi waktu senggang gaya perkotaan, tetapi antara lain untuk melayani mereka yang sedang dalam perjalanan.

Saat ini banyak jenis tempat makan yang diberi berbagai nama sesuai dengan sifat, suasana, menu yang ditawarkan di tempat itu. Kita bisa menemukan mulai dari warung, restoran, rumah makan,

(2)

74

cafe, hingga bistro, dan seterusnya yang

tersedia di seluruh pelosok Jakarta. Secara arsitektur yang jelas secara visual cukup distingtif, berbagai jenis tempat makan ini menggunakan gaya arsitektur dan elemen-elemen dekoratif yang sangat beragam, inspirasi dapat diperoleh dari etnis di dalam negeri dan dari negeri-negeri jauh di sana.

Dalam dasawarsa terakhir ini, semakin banyak tempat makan yang memanfaatkan identitas etnik dari penjuru Indonesia seperti gaya arsitektur, interior, dan menu makanan semakin banyak tumbuh di ibu kota Jakarta. Secara cepat fenomena ini barangkali dapat disimpulkan sebagai respons atas kondisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, pusat budaya, dan seterusnya. Jakarta dalam kenyataannya menghidupi semua etnik dari seluruh Nusantara serta para imigran asing yang mencari penghidupan di ibu kota negara yang memang menawarkan begitu banyak sumber penghidupan. Jakarta memang identik dengan keragaman. Jakarta menggeliat secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang motor penggeraknya adalah penduduknya yang berasal dari berbagai etnis yang membawa adat istiadat dan kebiasaan. Jakarta, sebagai ruang tempat manusia dari berbagai latar belakang etnis, memunculkan bentuk-bentuk ruang publik yang dikonstruksi berdasarkan identitas yang terkait dengan asal-usul.

Tentang ikatan dengan asal-usul, Seno Gumira Ajidarma (di dalam Kusno, 2009:101) berpendapat bahwa setiap orang tampaknya memiliki asumsi

bahwa ia memiliki tanah kelahiran di tempat lain. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Sarwono Kusumaatmadja bahwa sebenarnya penduduk Jakarta tidak mencintai Jakarta sepenuhnya, karena mereka tidak mempunyai ikatan emosi yang mengikat dengan kota mereka. Ikatan emosi yang masih kuat muncul dari identitas etnik masyarakat yang berkumpul di Jakarta.

Dalam perkembangan migrasi yang terjadi di seluruh dunia, penduduk yang menjadi diaspora di negeri lain kemudian mencari identitas mereka melalui makanan yang mereka konsumsi di negeri asalnya, maka muncullah apa yang dinamakan restoran dengan makanan etnik, meskipun istilah ‘etnik’ masih menyisakan masalah terkait istilah etnik yang oleh sebagian orang dirasakan sebagai merendahkan.1 Berbicara tentang wilayah Jakarta, banyak restoran makanan etnik yang menjadi tempat mengidentifikasikan diri dengan asal-usul, dan lebih jauh lagi mengidentifikasikan diri sebagai etnik tertentu dari kelas tertentu. Tempat-tempat yang menyediakan ruang untuk kembali ke diri yang sesungguhnya bermunculan di Jakarta. Bagi orang Batak ada lapo, ada tempat makan khusus makanan Aceh,

1 Istilah itu tidak ditemukan dalam Oxford

Eng-lish Dictionary dan sia-sia saja mencari istilah itu dalam

kamus makanan penting, seperti Larousse

Gastronom-ique, Alan Davidson’s incomparable “Oxford Companion to Food”, dan bahkan dalam Waverley Root’s “Food” dan

“The Cook’s Companion.” Frase ethnic food sulit didefin-isikan karena pada akhirnya tampaknya ethnic food be-rarti makanan yang dimakan oleh orang yang lebih mis-kin dari kita. Saya tidak pernah mendengar ada masakan Prancis, Skandinavia atau Jepang yang disebut ethnic

food, tetapi biasanya dipakai untuk, misalnya, masakan

(3)

75

Padang2, Palembang, Sunda, Jawa, Banjar, Bali, Makassar, Manado, dan seterusnya.

Bourdieu dan Ruang Kuliner

Tentang sistem representasi kelas sosial yang ditawarkan oleh Bourdieu (dalam Haryatmoko, 2016), pemikir Perancis ini menentang pandangan umum yang menyatakan bahwa hal-hal terkait selera bersumber dari bakat yang diterima secara alamiah. Dari hasil pengamatannya, Bourdieu mengatakan bahwa selera ditentukan dan diorganisasi sesuai dengan posisi di dalam masyarakat. Selera juga ditentukan oleh pendapatan (kapital ekonomi) yang menyebabkan semua praktik yang dikaitkan dengan kegiatan budaya tidak dapat dilepaskan dari sistem representasi khas suatu kelompok sosial,

Di bagian lain Bourdieu (1979) mengatakan bahwa membedakan diri adalah inti permainan sosial; ia merupakan

2 Khusus tentang rumah makan Padang, seja-rahnya agak berbeda, Restoran Padang tampaknya su-dah menjadi “milik semua” karena susu-dah begitu dekat dengan setiap manusia warga negeri Indonesia. Di mana pun di Indonesia, bahkan di luar negeri, kita dengan mudah menemukan rumah makan Padang. Akan tetapi, apakah kita bisa langsung setuju jika mengatakan ren-dang, soto madura, cotto makassar, bubur manado, atau gudeg yogya sebagai makanan nasional, dan dapat diberi nama makanan Indonesia. Makanan Indonesia yang dikenal luas di luar negeri hanya terbatas pada nasi goreng dan sate. Makanan ini bisa dikatakan adalah ma-kanan nasional Indonesia dan itu sudah bisa diterima oleh semua warga Indonesia. Namun, ketika menyebut jenis makanan rendang, soto Madura, cotto Makassar, Bubur Manado, Gudeg Yogya, apakah para pemilik ma-kanan itu rela melepaskan mama-kanannya untuk disebut sebagai makanan nasional? Sebuah penelitian tentang masakan Indonesia ‘Indonesian cuisine’, yang dilakukan oleh Michiko Kubo (2009), mengangkat isu identitas makanan ini. Kubo mengatakan, “Ketika kita meminta kepada orang Indonesia manapun untuk menyebut satu masakan Indonesia, mereka akan terlihat malu dan sulit memenuhi permintaan kita. Jika kita bertanya apakah karedok adalah makanan Indonesia, jawabannya akan seperti ini, “Boleh saja menyebut itu masakan Indonesia, tetapi sebetulnya itu masakan Sunda.” Atau jika bertan-ya, apakah ikan rica-rica dari Sulawesi Utara adalah ma-sakan Indonesia, jawabannya adalah, “Ya mungkin saja, tapi sebetulnya itu masakan Manado.” (Sonya Sondakh, 2013)

pendorong perilaku sosial baik dalam bidang pendidikan, kerja, hiburan, dan juga praktik-praktik masakan. Salah satu cara untuk membedakan diri dari kelas yang lain adalah melalui tiga struktur konsumsi: makanan, budaya, dan penampilan. Makan di restoran harus diperhitungkan sebagai bagian dari konsumsi makanan (Haryatmoko, 2016: 46).

Memahami Tempat Makan

Sebagai Ruang Publik

Ketika bicara tentang public sphere, nama Habermas langsung muncul di benak mereka yang sudah membaca pikirannya soal ruang. Dalam tulisannya “Revisiting the Notion of “Public” in Habermas’s Theory-Toward a Theory of Politics of Public Credibility ”, Agnes S. Ku (2000) mencoba melihat kembali gagasan tentang publik dalam teori Habermas. Ada tiga dikotomi dalam tataran analisis yang menyangkut istilah publik: public (sphere)

versus private (sphere), public versus mass,

dan publicness versus privacy/secrecy. Habermas [1962]1985 memasukkan semua dikotomi tersebut tanpa menuntaskan masalah makna yang bertentangan dan tidak menjembatani celah di antara ketiganya. Akibatnya, menurut Ko (2000), konsepsi yang ditawarkannya tentang

public sphere menjadi paradoksikal dan

ia kurang men-teorisasi properti budaya dari publicness. Oleh karena itu, tulisan ini hanya meminjam konsep Habermas tentang

public sphere sebagai pintu masuk untuk

berbicara tentang ruang yang publik dan yang privat, yang dapat diterapkan dalam ruang publik berbentuk restoran atau tempat makan sederhana.

(4)

76

Ruang-ruang bernuansa etnik yang semakin banyak dikonstruksi di urban Jakarta mengalami proses transformasi dari yang privat menjadi publik. Hal-hal yang tadinya berada di ruang privat bertransformasi ke ruang publik karena kepentingan untuk mengidentifikasikan diri dalam ruang. Ruang publik telah memanfaatkan identitas-identitas yang lebih privat sifatnya menjadi identitas kelompok tertentu yang menjadi khalayak sasaran mereka. Ketika bertransformasi menjadi ruang komersial dalam bentuk restoran, ruang dengan identitas etnik yang berada di wilayah urban akan menjadi bagian dari ruang publik. Ruang Publik adalah suatu tempat yang secara fisik bisa ditunjukkan dan bisa ditempati, yang sebenarnya mempunyai dua arti yaitu

public space dan public sphere.

Dalam tulisannya “Spatializing Culture”, Low (2014) memulai diskusi tentang ruang dengan mengangkat pemikiran Henri Lefebvre (1991) yang mendasar tentang produksi sosial ruang: “ruang tidak pernah kosong: ruang selalu mencakup makna”. Argumennya yang terkenal mengungkap bahwa ruang tidak pernah transparan, tetapi harus diteliti melalui analisis representasi spasial, praktik spasial, dan ruang representasi. Low melihat juga pemikiran Nancy Munn (1996) dan Stuart Rockefeller (2010) yang mengambil pemikiran Lefebvre untuk menautkan ruang konseptual dengan yang nyata/berwujud dengan mengatakan bahwa ruang sosial merupakan bidang tindakan (field of action) dan basis tindakan. Margaret Rodman (2001) dan Miles Richardson (1982), di lain pihak, bersandar pada fenomenologi dan teori-teori

ruang yang ditinggali untuk memusatkan perhatian pada seberapa berbeda para aktor mengonstruksi, mengontestasi, dan mendasarkan pengalaman pribadi mereka.

Dalam kerja etnografis-nya, Low awalnya mengusulkan proses dialogis yang tersusun dari produksi sosial ruang dan konstruksi sosial ruang untuk menjelaskan bagaimana budaya di-spasialisasi-kan (Low 1996, 2000). Dalam analisis ini, produksi sosial ruang mencakup semua faktor: sosial, ekonomi, ideologis, dan teknologis – yang menghasilkan, atau mencoba menghasilkan, dalam penciptaan fisik dari setting material. Konstruksi sosial, di sisi lain, mengacu kepada transformasi spasial melalui interaksi, percakapan, memori, perasaan, bayangan, dan penggunaan – atau ketidakhadiran—menjadi tempat, adegan, aksi/tindakan yang menyampaikan makna tertentu. Kedua proses ini bersifat sosial dalam arti bahwa baik produksi maupun konstruksi ruang dimediasi oleh proses sosial, khususnya yang dikontestasi dan diperjuangkan demi alasan ekonomi dan ideologis. Memahami semua itu dapat membantu kita melihat bagaimana konflik lokal atas ruang dapat digunakan untuk mengungkap dan menjelaskan isu-isu yang lebih besar.

Lebih lanjut, menurut Low & Smith (2006), public space adalah geografi dari public sphere yang mencakup dua hal yaitu ruang fisik dan nonfisik. Ruang publik, sebagai ruang yang konkret yang melampaui bentuk fisiknya, tidak pernah bebas dari pemaknaan oleh berbagai pihak yang mengisi ruang publik tersebut. Lebih lanjut, Abidin Kusno (2008:3) berpendapat bahwa ruang publik merupakan ruang aktif

(5)

77

yang mengontrol dan membentuk kesadaran masyarakat. Pemaknaan ruang seringkali menentukan kondisi ruang tersebut, karena makna mempunyai peranan kuat dalam pembentukan tindakan sosial, pengalaman, dan persepsi yang berlaku di masyarakat.

Tempat Makan dengan Identitas

Jawa di Jakarta

“Mangan ora mangan kumpul” -begitu keyakinan orang Jawa. Falsafah itu dapat dimaknai bahwa orang Jawa mengutamakan kebersamaan di tempat yang sama atau berkumpul di suatu tempat. Urbanisasi yang dilakukan oleh etnis Jawa yang mencari penghidupan lebih baik di kota besar memunculkan diaspora (lokal) etnis Jawa sebagaimana yang terjadi di Jakarta. Masyarakat etnis Jawa yang berada di Jakarta membentuk identitas kelompok mereka dengan membuat ruang yang terkait pada identitas dan memori mereka terhadap daerah tempat asal. Beberapa pemodal bahkan mengangkut bagian bangunan dari tanah Jawa untuk dijadikan ruang baru yang dimanfaatkan ulang yang bisa dinikmati bersama-sama dengan kelompok etnis mereka. Pemanfaatan bangunan etnis Jawa menjadi restoran merupakan salah satu perwujudan melanggengkan identitas melalui ruang komersial. Raap (2013; vii) mengungkapkan bahwa meskipun sudah hidup di kota, orang Jawa selalu ingat tanah kelahiran mereka. Mengingat ada rumah, tanah, dan anggota keluarga yang tidak ikut diboyong ke kota. Manusia urban yang masih mempunyai akar kehidupan sebagai manusia Jawa, merindukan suasana kehidupan sebagaimana lingkungan

kebudayaan Jawa yang melekat pada ingatan mereka (Fajarwati, 2013: 63).

Sebagai ruang publik yang diklasifikasikan sebagai wilayah komersial yang menggunakan elemen arsitektur dan interior bergaya Jawa, identitas yang terdapat di restoran etnik di Jakarta ini menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung. Restoran bukan hanya sebagai tempat untuk mencari makanan, tetapi juga menjadi arena untuk berkumpul. Banyak restoran/rumah makan yang menjual makanan yang membawa menu-menu etnik Jawa yang terdapat di Jakarta. Namun, restoran bercirikan etnis Jawa, mempunyai kekhususan dengan adanya suasana dan makanan yang berbeda dengan ‘sekadar’ makan untuk memuaskan rasa lapar. Levi Strauss dalam Barker, 2018: 19 menyatakan bahwa yang menjadi soal dalam makanan bukanlah ‘makanan yang enak dimakan’ namun ‘mana yang enak untuk dipikirkan’. Artinya, makanan adalah penanda dari makna-makna simbolis.

Penanda Ke-Jawa-an pada

Bangunan

Masyarakat urban di Jakarta menandai bangunan etnis Jawa yang dimanfaatkan untuk restoran etnik ini melalui bentuk atap dan ruangan yang terbuat dari kayu yang sering disebut bangunan joglo. Jenis-jenis bangunan ini mempunyai kekhasan yang membedakan dari mana bangunan itu berasal dilihat dari bentuk atapnya. Bentuk atap yang menjulang dengan tritisan yang lebar, merupakan bentuk bangunan yang disesuaikan dengan daerah tropis Nusantara. Fungsi atap ini menjadi

(6)

78

peredam hawa panas dan tritisan/emperan untuk mencegah cipratan air hujan masuk bangunan utama. Di Jawa atap bangunan merupakan penanda kelas masyarakat. Misalnya, atap tajug biasanya digunakan untuk menandai bangunan sebagai tempat ibadah atau makam. Atap berbentuk joglo untuk rumah bangsawan, dan atap berbentuk limasan, merupakan atap rumah

masyarakat kebanyakan, dan atap rumah kampung, merupakan atap bagi masyarakat menengah ke bawah. Bentuk atap-atap bangunan yang menandai kelas sosial masyarakat Jawa, ketika dimanfaatkan menjadi restoran di Jakarta, mempunyai penanda yang sama, meskipun difungsikan berbeda.

Restoran ini terletak di daerah perumahan elite Kebayoran Baru. Plataran Dharmawangsa menawarkan masakan Indonesia yang autentik dengan suasana kerajaan Jawa. Restoran ini sudah memperoleh pengakuan dan anugerah yang antara lain sebagai “Best Indonesian Restaurant in Jakarta’ yang diberikan oleh Restoran ini menjadi pilihan tempat makan untuk masyarakat kelas atas Jakarta dan orang-orang asing.

Tempat makan ini dirancang menyerupai rumah besar keluarga bangsawan Jawa, yang terdiri atas rumah joglo yang terbuat dari kayu berusia 150 tahun, pavilion bergaya Jawa, ruang sembahyang yang berusia lebih dari 50 tahun, dan sebuah konservatori beratap kaca, yang semuanya menghadap kebun yang indah bergaya tempo dulu, yang juga merupakan ciri rumah-rumah di daerah eksklusif tersebut.

Plataran Dharmawangsa: The Cultural Elegance of Indonesian Dining

Plataran Dharmawangsa yang menawarkan ruang yang tidak biasa, yang serba eksklusif dengan tata cara internasional untuk 200 pengunjung juga menyediakan tempat yang memastikan kenyamanan untuk peristiwa-peristiwa istimewa, mulai dari perayaan-perayaan privat hingga resepsi pernikahan serta acara-acara korporasi di mana para elite menikmati interior tradisional Jawa dan Indonesia yang dikelilingi lingkungan yang hijau menyamankan perasaan.

Restoran ini juga tidak lupa menyediakan WiFi untuk para pelanggannya yang tentu memer lukan koneksi untuk berkomunikasi untuk tujuan apa pun. Ada pula pertunjukan music hidup di sini. (sumber: laman Plataran Dharmawangsa)

(7)
(8)

80 Semua penanda ke-Jawa-an yang

dihadirkan di Plataran Dharmawangsa mendukung konstruksi tempat makan untuk kelas atas. Restoran ini dengan sadar menjadikan pengunjung dengan kapital ekonomi yang relatif sangat tinggi sebagai khalayak sasaran mereka. Hal ini dapat dibuktikan dalam harga yang ditawarkan oleh restoran tersebut yang berkisar antara 500-700 ribu per dua orang untuk menu, dan penanda lain yang menjadi bukti sangat nyata adalah jenis kendaraan yang diparkir di halaman restoran yang digunakan untuk mengunjungi tempat tersebut. Ketika berkumpul di restoran ini, para pengunjung memang mengharapkan dan memang siap dengan eksploitasi suasana ruang Jawa yang mempengaruhi perilaku ketika berada di tempat tersebut. Arena yang dibentuk melalui suasana Jawa yang mempunyai

kelas sosial tinggi, dengan tata krama dan cara makan meniru habitus para bangsawan. Pakaian yang dipergunakan untuk mengunjungi tempat ini biasanya untuk menandai sebagai orang yang mempunyai kelas sosial tinggi. Ruangan di Restoran Plataran Dharmawangsa menggunakan elemen-elemen yang merupakan material terpilih dengan kualitas tinggi. Suasana di restoran ini juga dibentuk oleh musik yang menjadi bagian pembentuk atmosfer kelas atas. Semua ini harus dilakukan untuk semakin menegaskan identitas kelas yang hadir dan menjadi bagian dari ruang kuliner kelas tinggi ini. Dengan dibungkus identitas Jawa, Plataran Dharmawangsa tetap dapat merangkul kelas atas yang tidak terbatas pada orang Jawa kelas atas, tetapi juga kelompok dominan yang berasal dari korporasi internasional.

(9)

81 Restoran etnik Jawa “Warung Solo” berada

di daerah Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Mengusung identitas Jawa, restoran ini menggunakan rumah bedholan dari daerah Jawa Tengah yang konon memang dibawa secara utuh dari asalnya. Atapnya berbentuk limasan yang menggunakan material kayu jati tanpa ukiran yang menjadi penanda sebagai ruangan untuk kelas menengah.

Furnitur yang dipergunakan adalah dingklik dan bangku kayu panjang yang digunakan untuk tempat duduk bersama-sama. Untuk mencapai posisi duduk yang nyaman, pengunjung restoran ini harus berada pada

Waroeng Solo, Jeruk Purut, Jakarta Selatan

kesepakatan bersama. Kelompok kelas menengah yang merasa nyaman berada di ‘habitat’-nya hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp 170.000,00 untuk dua orang. Dalam gaya masyarakat biasa, tidak mewah, tidak mahal, kelompok kelas menengah yang merindukan identitas kejawaan dipenuhi kebutuhannya di ruang komersial Waroeng Solo ini.

Tampak luar dan isi Warung Solo dengan identitas Jawa yang kuat: rumah bedholan, atap bentuk limasan, dan material kayu jati tanpa ukiran. Furniturnya dingklik panjang yang dipakai bersama.

(10)

82

Setelah melihat Restoran Plataran Dharmawangsa yang memakai identitas ke-Jawa-an (dan muncul pula ke-Indonesia-an) sebagai penandanya, sekarang mari melihat sebuah warung dengan identitas Jawa juga. Restoran yang menggunakan rumah bedholan dari daerah Jawa Tengah merupakan bangunan yang sebelumnya merupakan bangunan rumah tinggal masyarakat menengah. Atap berbentuk limasan, dengan material kayu jati tanpa ukiran menjadi penanda sebagai ruangan untuk kelas menengah. Pengunjung restoran ini banyak berasal dari kalangan eksekutif muda di sekitar daerah Kemang, sebagian lagi, merupakan kalangan yang mempunyai kaitan dengan daerah Jawa tempat mereka berasal. Furnitur yang dipergunakan menggunakan dingklik, bangku kayu panjang yang digunakan

untuk tempat duduk bersama-sama. Untuk mencapai posisi duduk yang nyaman, pengunjung restoran ini harus berada pada kesepakatan bersama. Biaya yang dikeluarkan pada kelas menengah di Jakarta ini berada pada kisaran 170 ribu rupiah per dua orang. Pengunjung yang hadir di tempat ini menggunakan material

culture kelas menengah, mulai pakaian

hingga kendaraan. Cara duduk, berdialog dan berbicara pada kelas ini relatif lebih santai, dengan menu-menu makanan Jawa dengan rasa yang bisa diterima masyarakat urban di Jakarta. Suasana Jawa yang dirindukan semakin diperkuat oleh gending Jawa yang terdengar samar-samar menemani para pengunjung yang sedang menikmati santapan yang membawanya ke asal-usulnya.

Warung Mbak Yati dikelola oleh seorang perempuan asal Yogyakarta yang bersuamikan laki-laki asal Solo. Mereka sejak kecil sudah merantau ke Jakarta dan, menurut pengakuan Mbak Yati, mereka pernah ditampung artis besar Betawi, Benyamin S. Menempati rumah miliknya sendiri, warung Mbak Yati ini melayani kelas (menengah) bawah yang rindu

Warung Mba Yati

pada makanan Jawa atau memang hanya berselera makan jika yang di depannya adalah makanan Jawa. Suasana yang ditemukan di warung ini tentu saja sangat berbeda dari dua restoran yang dibahas sebelumnya: Plataran Dharmawangsa dan Warung Solo, Jeruk Purut.

Gudeg Mbak Yati, Kertamukti-Cirendeu,Ciputat

(11)

83

Penanda Kejawaan DharmawangsaPlataran Warung Solo Gudeg Mbak Yati

● • Bangunan (Arsitektur) Bangunan joglo bedholan yang sebelumnya merupakan rumah bangsawan ditandai dari bentuk atapnya

Rumah limasan bedholan dari Jawa tengah yang digunakan masyarakat menengah

Rumah sederhana dengan atap yang di Jawa merupakan bangunan

masyarakat kelas bawah

● • Interior/Furnitur Meja dengan kursi ukir dengan desain yang biasa digunakan masyarakat kelas atas

Dingklik, bangku kayu panjang denga ukuran yang standar, kursi jati.

Kursi plastik fabrikan, dan kursi kayu

● • Elemen dekoratif Lampu kristal, gebyok, cabinet ukiran, alat makan yang dipergunakan

Hiasan gambar Sukarno, piring kaleng, toples vintage berisi, dll

Kalender

● • Menu Menu Jawa bangsawan,

Indonesia, Internasional

Menu autentik Jawa masyarakat menengah

Fokus gudeg dan berbagai jenis masakan Jawa ● • Penyajian hidangan Standar internasional

dengan plating ala chef internasional

Menggunakan plating makanan rumahan dengan piranti yang biasa digunakan rumah masyarakat di Jawa

Dilayani langsung di tempat pemesanan, dan pada kondisi tertentu pembeli bisa membungkus sendiri makanan yang diinginkan. ● • Harga makanan 500k-700k (2 orang) 170k (2 orang) 20k-25k /orang ● • Pakaian pelayan Untuk perempuan,

kebaya modern dan kain; untuk laki-laki menggunakan busana gaya Betawi dengan peci

Pakaian adat Jawa laki-lakinya hem batik

Pakaian sehari-hari

● • Bahasa Bahasa Indonesia

dengan salam bahasa Jawa halus.

Disambut dengan bahasa Jawa

Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia sehari-hari ● • Musik hidup Musik tradisional dan

klasik (piano)

Gending Jawa hidup Lagu dari siaran radio

(12)

Jurnal Urban Vol 2, No.1, Januari - Juni 2019: 1 - 91

84

Plataran Dharmawangsa, Warung

Solo, dan Warung Mbak Yati:

Ruang Kuliner Tiga Kelas Sosial

di Jakarta

Dalam pembahasan di atas kita sudah melihat bagaimana Plataran Dharmawangsa, Warung Solo, dan Warung Mbak Yati mengkonstruksi ruang. Plataran Dharmawangsa menggunakan identitas Jawa berselera tinggi untuk kelas atas; Warung Solo menggunakan identitas Jawa kelas menengah yang sangat kuat dengan memboyong rumah bedholan; dan Warung Mbak Yati menempati rumah kecil berciri umum saja yang dengan jelas menunjukkan dari kelas mana pemiliknya berasal dan siapa yang menjadi pelanggan utamanya.

Plataran Dharmawangsa dengan memanfaatkan identitas Jawa dan Indonesia menawarkan ruang bagi kelas atas untuk membedakan diri dan eksklusif. Di satu sisi restoran ini tetap mengangkat identitas dan selera lokal seperti tampak pada , tetapi di sisi lain membedakan diri dengan material

culture yang merupakan representasi kelas

atas. Berada di Plataran Dharmawangsa artinya menjadi bagian ruang dengan selera tinggi yang dikonstruksi sedemikian rupa dalam penataan interior yang serba eksklusif, menunjukkan kelas, membedakan diri. Apa yang dikonstruksi di Plataran Dharmawangsa yang digunakan untuk

membedakan diri sejalan dengan yang ditegaskan Bourdieu, dalam bukunya

Distinction, bahwa membedakan diri dari

kelas yang ada di bawahnya adalah perilaku kelas dominan. Salah satu cara membedakan diri dari kelas-kelas yang lain adalah melalui tiga struktur konsumsi: makanan, budaya, dan penampilan. Dengan mengonsumsi makanan dengan selera kelas tinggi di ruang yang juga berkelas, maka tujuan untuk membedakan diri (distingsi) dapat dicapai. Semua yang terkonstruksi di Plataran Dharmawangsa dapat disejajarkan dengan apa yang dikatakan oleh Hoed (2014) yang menjelaskan bahwa konsumerisme adalah budaya “membeli untuk membeli” dengan tujuan untuk menjadi “berbeda” (eksklusif), khususnya sebagai simbol menjadi bagian dari “kebudayaan internasional” (tinggi).

Warung Solo juga menggunakan identitas Jawa, tetapi terasa berbeda dari yang ditemukan di Plataran Dharmawangsa. Ornamen-ornamen yang menjadi elemen dekoratif Warung Solo merupakan penanda identitas pemilik dan pengunjungnya yang merupakan kelas menengah. Warung Solo merepresentasikan orang Jawa dari kelas menengah yang hadir dalam bentuk rumah bedholan. Warung Solo mengadopsi penanda-penanda tempat makan modern seperti menu yang menawarkan banyak jenis makanan, meja makan sederhana tetapi dari kayu (seperti di rumah orang

sebelumnya merupakan rumah bangsawan ditandai dari bentuk atapnya

Jawa tengah yang digunakan masyarakat menengah di Jawa merupakan bangunan masyarakat kelas bawah

● • Interior/Furnitur Meja dengan kursi ukir dengan desain yang biasa digunakan masyarakat kelas atas

Dingklik, bangku kayu panjang denga ukuran yang standar, kursi jati.

Kursi plastik fabrikan, dan kursi kayu

● • Elemen dekoratif Lampu kristal, gebyok, cabinet ukiran, alat makan yang dipergunakan

Hiasan gambar Sukarno, piring kaleng, toples vintage berisi, dll

Kalender

● • Menu Menu Jawa bangsawan,

Indonesia, Internasional

Menu autentik Jawa masyarakat menengah

Fokus gudeg dan berbagai jenis masakan Jawa ● • Penyajian hidangan Standar internasional

dengan plating ala chef internasional

Menggunakan plating makanan rumahan dengan piranti yang biasa digunakan rumah masyarakat di Jawa

Dilayani langsung di tempat pemesanan, dan pada kondisi tertentu pembeli bisa membungkus sendiri makanan yang diinginkan. ● • Harga makanan 500k-700k (2 orang) 170k (2 orang) 20k-25k /orang ● • Pakaian pelayan Untuk perempuan,

kebaya modern dan kain; untuk laki-laki menggunakan busana gaya Betawi dengan peci

Pakaian adat Jawa laki-lakinya hem batik

Pakaian sehari-hari

● • Bahasa Bahasa Indonesia

dengan salam bahasa Jawa halus.

Disambut dengan bahasa Jawa

Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia sehari-hari ● • Musik hidup Musik tradisional dan

klasik (piano)

Gending Jawa hidup Lagu dari siaran radio

(13)

85

Jawa lama), ada pelayan berseragam tetapi berbeda dari seragam di Plataran Dharmawangsa. Warung Solo barangkali menjadi representasi dari apa yang dikatakan oleh Benedict Anderson bahwa orang Jawa tampaknya tidak mengalami kesulitan dalam menerima kebudayaan modern, tetapi mereka mengalami kesulitan untuk meninggalkan cara-cara tradisional. Sementara itu, di Jakarta juga tersedia warung makan etnik Jawa yang tidak mengusung identitas Jawa melalui arsitektur atau interiornya, tetapi tetap terasa kuat sebagai representasi Jawa. Identitas Warung Mbak Yati bukan dari bangunan atau pilihan interior tetapi tampak dari sosok pemiliknya yang menggunakan nama Mbak Yati (panggilan khas Jawa untuk perempuan) dan dilengkapi dengan apa yang dimasak oleh Mbak Yati dalam bentuk gudeg, dan masakan Jawa lainnya. Dengan tidak adanya segala macam ornamen dan tata cara restoran kelas atas dan menengah, harga di warung ini dapat ditekan untuk menampung pelanggan dari kelas bawah. Ada hal menarik yang tidak ditemukan di dua tempat makan lain, yaitu pelanggan dibolehkan untuk melayani diri sendiri ketika pengunjung sedang ramai. Keleluasan ini memang adalah ciri penting kelas bawah yang tidak terikat pada aturan-aturan kelas atas dalam rangka membedakan diri. Manusia urban yang hadir di tempat ini mencari kaitan dengan identitas tempat asal mereka melalui rasa yang terekam melalui indra pengecap.

Simpulan

Dari pembahasan di atas beberapa kesimpulan dapat ditarik. Ruang kuliner beridentitas etnis merupakan ruang yang dikonstruksi untuk merespons kebutuhan warga urban untuk mengidentifikasikan diri. Ruang kuliner etnis sebagai arena muncul membentuk kelas sosial yang diidentifikasi di Jakarta, melalui jenis pengunjung, suasana, hingga makanan yang disajikan.

Di dalam ruang kuliner Plataran Dharmawangsa terjadi dua tindakan terkait ruang: ruang mencari kesamaan asal-usul dan ruang membedakan diri sebagai kelas atas. Sementara itu, di Warung Solo, ruang dapat dimaknai sebagai tempat kebersamaan asal-usul (Jawa), tetapi lebih cenderung sebagai ruang kuliner kelas sosial menengah. Suasana di Warung Solo berbeda dengan yang terdapat di Plataran Dharmawangsa yang dengan ketat menunjukkan identitas untuk membedakan kelas sosial masing-masing. Ketika berbicara tentang Warung Mbak Yati, ruang kuliner kembali menjadi ruang tempat makanan menjadi kebutuhan hidup, bukan untuk menunjukkan kelas sosial.

Temuan dari pengamatan atas tiga tempat makan yang merepresentasikan tiga kelas sosial terkait dengan pemikiran Bourdieu adalah seperti yang dikatakan pemikir Prancis ini bahwa selera ditentukan dan dikelola sesuai dengan posisi di dalam masyarakat dan selera ditentukan oleh kapital ekonomi. Apa yang dikatakan oleh Bourdieu terbukti di tiga tempat makan tersebut. Pertama, Plataran Dharmawangsa membuktikan bahwa

(14)

86

selera memang ditentukan dan dikelola sesuai dengan posisi di dalam masyarakat. Plataran Dharmawangsa menentukan dan mengelola dengan sungguh-sungguh selera para pelanggannya yang kelas atas dengan memberi perhatian pada detail-detail terkait harga diri dan kenyamanan sehingga menjadi restoran pilihan kelas tersebut untuk menguatkan posisinya di dalam masyarakat. Kedua, Warung Solo memposisikan diri sebagai tempat kelas menengah, maka tempat makan ini mengonstruksi ruang Jawa yang berciri kelas menengah: tidak mewah, harga sedang, dan suasana lebih cair untuk menikmati waktu luang. Ketiga, Warung Mbak Yati merepresentasikan kelas bawah yang secara ekonomi tidak memiliki banyak pilihan sehingga makan adalah benar-benar kebutuhan, bukan gaya hidup.

Daftar Rujukan

Alkatiri, Z., & Fabianus, H. K. (2012). “Kebersamaan di Ruang Publik pada Pawai Perayaan Gotong Toa Pe Kong Masyarakat Majemuk di Slawi Pasca Orde Baru 2010”, Jurnal Antropologi

Indonesia, 2(2), 43-58.

Fajarwati, Ade. (2014) “Pemanfaatan Omah sebagai Ruang Komersial di Jakarta: antara Identitas dan Gaya Hidup Studi Kasus Restoran Warung Solo, Jeruk Purut, Jakarta Selatan.” (Tesis S2). Jakarta: Institut Kesenian Jakarta

Haryatmoko (2016) Membongkar Rezim

Kepastian Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. DI Yogyakarta: Penerbit

Kanisius

Ku, Agnes S. (2000) “Revisiting the Notion of “Public” in Habermas’s Theory-Toward a Theory of Politics of Public Credibility ”. Sociological Theory. Vol. 18, (hlm. 216-240). Juli.

Kusno, Abidin. (2008) Ruang publik,

identitas, dan memori kolektif: Jakarta pasca-Soeharto. Yogyakarta:

Penerbit Ombak.

Low, Setha (2014). “Spatializing Culture: An Engaged Anthropological Approach to Space and Place” dalam The People, Place, and Space

Reading, Jen Jack Gieseking dan

William Mangold (eds). New York dan London: Routledge.

Sondakh, Sonya. (2013). “Negosiasi dan Redefinisi Identitas Ke-Minahasa-an” di Restoran Manado di Jakarta” (Tesis S2). Jakarta: Institut Kesenian Jakarta.

Warde, Alan dan Martens, Lydia (2000).

Eating Out: Social Differentiation, Consumption and Pleasure.

Cambridge: Cambridge University Press.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu dalam penelitian yang dilakukan oleh Arief Nugroho yang berjudul Analisis Framing Pemberitaan Program bela Negara di media online metrotvnews.com dan

The UP and UP-UN-Ov strategies recorded the same results, suggesting that at every round of rule refinement, UP features exist and therefore, only rules without negation are

1) Penggundulan hutan yang mengakibatkan debit dasar sungai (base flow) di musim kemarau menjadi menurun. 2) Meningkatnya erosi dan sedimentasi di sungai, sebagai akibat

(6) Bantuan Pemerintah dalam bentuk pemberian bantuan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf g, bantuan operasional potensi dan sumber

Tuliskan ayat beserta isi ayat tentang saat ketika Tokoh Alkitab bisa mendapatkan sesuatu yang dilakukan karena hubungan Tokoh Alkitab miliki dengan orang lain?. Kis.10;1

dan hasil observasi guru dan observer yang dikumpulkan dari penelitian tindakan. Peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran serta menganalisis. kekurangannya.

Pemikiran mengenai kereversibelan reaksi kimia mula-mula dinyatakan secara jelas dalam 1799 oleh C. Berthollet yang menyatakan adanya deposit natrium karbonat dalam

The writer wishes to express the highest gratitude to Allah SWT for the blessing with health and great power, so the writer can finish this final project entitled