Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-1
BAB IV
ANALISIS SOSIAL, EKONOMI DAN LINGKUNGAN
KOTA SURAKARTA
4.1. ANALISIS SOSIAL
4.1.1. Pengarusutamaan Gender
Pengarusutamaan Gender merupakan strategi yang dilakukan secara rasional dan sistematis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia (rumah tangga, masyarakat dan negara), melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
Dasar hukum pelaksanaan PUG juga diatur dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di Daerah yang diperbaharui dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011. Selama ini masih terdapat berbagai permasalahan dan tantangan dalam implementasi PUG. Di tingkat daerah, permasalahan dan tantangan tersebut antara lain:
1. Dasar Hukum
Diperlukan dasar hukum yang lebih kuat sebagai dasar pelaksanaan implementasi PUG di daerah. Hingga saat ini, belum semua daerah memiliki peraturan daerah tentang PUG dalam pembangunan di daerah;
2. Pemahaman, komitmen dan kelembagaan
Kurangnya pemahaman dan komitmen pejabat di daerah mengenai PUG dan Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) sehingga kelembagaan yang menangani PUG lebih bersifat formalitas dan tidak dapat berfungsi secara optimal;
3. Instrumen PPRG
Dasar hukum instrumen PPRG belum ada. Instrumen yang digunakan merupakan adaptasi dari Paraturan Menteri Keuangan.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-2
Kompetensi SDM pelaksana PPRG sebagian SKPD masih kurang memadai. 5. Data Terpilah dan Informasi
Keterbatasan atau ketiadaan data terpilah (antara laki-laki dan perempuan) menjadi kendala utama dalam analisis gender. Pendataan secara terpilah belum menjadi mekanisme yang terintegrasi dalam pendataan di daerah.
Tujuan dalam Pengarusutamaan Gender ini khususnya pada Kota Surakarta adalah berupa:
1. Kesamaan akses agar perempuan berpartisipasi secara optimal bersama laki-laki dalam penyusunan perencanaan, pelaksaaan, monitoring maupun evaluasi dalam setiap kebijakan-kebijakan yang tersusun di Kota Surakarta.
2. Kesamaan partisipasi perempuan bersama laki-laki dalam penyusunan perencanaan, pelaksaaan, monitoring maupun evaluasi dalam setiap kebijakan-kebijakan yang tersusun di Kota Surakarta.
3. Peningkatan kontrol perempuan bersama laki-laki dalam penyusunan perencanaan, pelaksaaan, monitoring maupun evaluasi dalam setiap kebijakan-kebijakan yang tersusun di Kota Surakarta.
4. Adanya jaminan agar perempuan memperoleh manfaat yang setara dengan laki-laki. Adapun prinsip dalam Pengarusutamaan Gender pada Kota Surakarta, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kesetaraan dan keadilan sosial, 2. Demokrasi dan partisipasi masyarakat, 3. Pembangunan berkelanjutan.
Hal ini bertujuan untuk memperkuat dan melegitimasi kebijakan yang sudah dibangun bersama, perlu membangun prinsip-prinsip saling menghargai dan mempercayai, akuntabilitas yang trasparan, proses timbal balik, saling memahami konteks dan isu yang menjadi fokus perjuangan, sikap saling terbuka untuk belajar bersama dari sesamanya, serta adanya komitmen jangka panjang untuk terus saling menjaga kerjasama.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
IPM diperkenalkan oleh United Nation Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). Kemajuan pembangunan manusia secara umum dapat ditunjukkan dengan melihat
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-3
perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan capaian kemajuan di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencerminkan gambaran akumulatif dari hasil pembangunan lintas sektor. Hal ini mengingat komponen IPM adalah indeks komposit yang merupakan rata-rata gabungan dari 3 (tiga) komponen penilai kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Jika ketiga komponen tersebut memiliki kualitas yang baik, maka secara otomatis sumber daya manusianya memiliki kualitas yang baik pula. Masing-masing indeks dari komponen IPM memperlihatkan seberapa besar tingkat pencapaian yang telah dilakukan selama ini di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. IPM merupakan indikator komposit yang dibentuk oleh Indeks Kesehatan yang dicerminkan dengan Angka Harapan Hidup, Indeks Pendidikan yang terdiri dari Harapan Lama Sekolah dan rata-rata lama sekolah serta Indeks Hidup layak yang digambarkan melalui pengeluaran per kapita. Perkembangan IPM Surakarta dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik dari 78,89 tahun 2013, menjadi 79,34 pada tahun 2014 dan pada tahun 2015 sebesar 80,14. Pada tahun 2015 Surakarta peringkat ke-3 diantara ke-35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Tabel 4.1. Komponen IPM Kota Surakarta Tahun 2013-2015
No Uraian Tahun
2013 2014 2015
1 Peringkat Jawa Tengah 2 2 3
2 IPM (dengan Metode baru) 78.89 79.34 80.14
3 Komponen IPM
4 Angka harapan Hidup (AHH) 76.97 76.99 77.00
5 Harapan Lama Sekolah (HLS) / (EYS) 13.64 13.92 14.14 6 Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 25 th+ / (MYS ) 10.25 10.33 10.36 7 Pengeluaran per kapita/tahun (000 rupiah) 12,820 12,907 13,604
Sumber : Statistik Daerah Kota Surakarta tahun 2016
4.1.2. Kebutuhan Penanganan Sosial Pasca Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya
Aspek yang perlu diperhatikan dalam penanganan sosial adalah responsivitas kegiatan pembangunan bidang cipta karya terhadap gender dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan aspek yang perlu dilakukan suatu penanganan sesuai dengan kebijakan internasional SDGs dan Agenda pasca 2015, serta arahan kebijakan pro rakyat sesuai direktif presiden. Saat ini terdapat kegiatan responsif gender oleh bidang cipta karya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah (PISEW), penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAs), Program pembangunan infrastruktur
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-4
perdesaan (PPIP), Sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS), Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) dan studi evalusi kinerja program pemberdayaan masyarakat bidang cipta karya.
Pelaksanaan pembangunan bidang cipta karya secara lokasi, besaran kegiatan dan durasi pelaksanaan kegiatan, memberikan dampak kepada masyarakat, seperti kegiatan pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur publik. Untuk meminimalisir dampak tersebut perlu adanya langkah-langkah antisipasi seperti konsultasi, pengadaan lahan dan pemberian kompensasi untuk tanah dan bangunan, serta permukiman kembali. Output kegiatan pembangunan bidang cipta karya seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat. Manfaat tersebut diharapkan dapat terlihat secara fisik dan dapat terukur seperti kemudahan dalam mendapatkan pelayanan publik, waktu tempuh yang semakin singkat dengan biaya yang murah dalam pencapaian infrastruktur publik atau untuk mendapatkan akses pelayanan publik.
4.2. ANALISIS EKONOMI
4.2.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah adalah PDRB. PDRB juga sering dipakai sebagai ukuran produktivitas serta mencerminkan seluruh nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari suatu wilayah dalam satu tahun. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas perekonomian daerah. PDRB diukur baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan.
Pendapatan per kapita dapat mencerminkan tingkat produktivitas tiap penduduk. PDRB per kapita Surakarta tahun 2015 sebesar Rp. 55.442.204,69. Angka ini lebih tinggi dari PDRB per kapita tahun sebelumnya sebesar Rp.52.791.260,94.
Pertumbuhan ekonomi di Kota Surakarta menunjukkan kecenderungan naik dan berada pada kisaran yang sama dengan pertumbuhan ekonomi provinsi, yang berkisar pada angka 5%. Dominasi sektor konstruksi 26,90% disusul sektor perdagangan sebesar 22,56% juga menjadi ciri khusus perekonomian Kota Surakarta yang merupakan kota perdagangan untuk wilayah sekitar.
Tiga pilar terpenting penyangga ekonomi Surakarta dipegang oleh sektor konstruksi (26,90%), sektor Perdagangan (22,56 %), Industri (8,58 %) dan Sektor informasi dan komunikasi (10,62 %). Pertumbuhan ekonomi Surakarta 2015 melaju sebesar 5,44 %. Laju pertumbuhan tersebut lebih cepat dibanding tahun sebelumnya (5,24 %).
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-5 Tabel 4.2. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta
Tahun 2014 dan 2015 (Juta Rupiah)
Kategori Uraian 2014 2015
A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 167,748.49 182,751.51
1.Pertanian, Peternakan, Perburuan dan
Jasa Pertanian 167,057.60 181,997.00
2.Kehutanan dan Penebangan Kayu 10.31 10.93
3.Perikanan 680.59 743.58
B Pertambangan dan Penggalian 697.25 770.26
C Industri Pengolahan 2,789,563.68 3,002,990.09
D Pengadaan Listrik dan Gas 60,379.07 61,213.06
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah 52,562.74 55,285.78
F Konstruksi 8,591,705.73 7,893,738.82
G Perdagangan Besar dan Eceran, Raparasi Mobil dan Motor 7,307,631.60 9,410,744.97
H Transportasi dan Pergudangan 828,699.95 932,398.98
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,826,367.28 2,015,814.83
J Informasi dan Komunikasi 3,453,784.47 3,715,658.93
K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,173,873.01 1,326,074.81
L Real Estate 1,296,580.03 1,436,443.80
M, N Jasa Perusahaan 235,080.88 272,952.59
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan 1,888,650.12 2,086,163.83
P Jasa Pendidikan 1,734,114.99 1,877,495.85
Q Jasa Kesehatan dan dan Kegiatan Sosial 346,392.98 385,675.46
R,S,T,U Jasa lainnya 305,614.62 326,200.52
PRODUK DOMESTIK 32,059,446.90 34,982,374.09
PDRB per Kapita (Rupiah) 511,152 513,210
Penduduk pertengahan tahun (Jiwa) 62,719,987.20 68,163,859.02
Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016
Tabel 4.3. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta Tahun 2014 dan 2015 (Juta Rupiah)
Kategori Uraian 2014 2015
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 127,634.25 129,926.80 1.Pertanian, Peternakan,
Perburuanndan Jasa Pertanian 127,112.81 129,399.81
2.Kehutanan dan Penebangan Kayu 7.56 7.47
3.Perikanan 513.88 519.52
B Pertambangan dan Penggalian 549.59 535.17
C Industri Pengolahan 2,184,105.67 2,263,993.97
D Pengadaan Listrik dan Gas 63,499.68 61,092.81
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah 48,594.69 49,454.24
F Konstruksi 7,014,333.33 7,390,395.31
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-6
Kategori Uraian 2014 2015
Raparasi Mobil dan Motor
H Transportasi dan Pergudangan 750,350.60 811,007.78
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,377,875.81 1,463,048.48
J Informasi dan Komunikasi 3,490,330.91 3,723,082.11
K Jasa Keuangan dan Asuransi 907,659.83 968,341.37
L Real Estate 1,164,923.59 1,249,065.08
M, N Jasa Perusahaan 189,915.26 207,530.85
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan 1,524,921.96 1,623,466.15
P Jasa Pendidikan 1,144,903.75 1,223,370.41
Q Jasa Kesehatan dan dan Kegiatan Sosial 268,758.62 285,590.16
R,S,T,U Jasa lainnya 264,987.02 273,171.04
PRODUK BRUTO 26,984,358.61 28,453,493.87
PDRB per Kapita (Rupiah) 511,152 513,210
Penduduk pertengahan tahun (Jiwa) 52,791,260.94 55,442,204.69
Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016
Tabel 4.4. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta Tahun 2012-2015 (Juta Rupiah)
Kategori Uraian 2012 2013 2014 2015
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2,40 5,03 1,87 1,80
1.Pertanian, Peternakan, Perburuanndan
Jasa Pertanian 2,41 5,03 1,89 1,80
2.Kehutanan dan Penebangan Kayu -4,20 1,77 -2,21 -1,16
3.Perikanan -0,36 6,24 -3,21 1,10
B Pertambangan dan Penggalian -0,42 -0,41 -2,29 -2,62
C Industri Pengolahan 7,35 9,02 6,85 3,66
D Pengadaan Listrik dan Gas 12,55 7,90 2,71 -3,79
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah -2,54 -1,67 2,55 1,77
F Konstruksi 5,45 3,92 3,65 5,36
G Perdagangan Besar dan Eceran, Raparasi Mobil dan Motor 2,06 7,44 4,32 4,17
H Transportasi dan Pergudangan 6,44 10,32 7,95 8,08
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 7,82 5,73 6,95 6,18
J Informasi dan Komunikasi 11,81 8,27 8,94 6,67
K Jasa Keuangan dan Asuransi 2,98 3,49 4,08 6,69
L Real Estate 7,07 5,20 6,41 7,22
M, N Jasa Perusahaan 7,18 9,36 6,86 9,28
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan 1,66 3,88 1,23 6,46
P Jasa Pendidikan 10,56 7,95 7,98 6,85
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-7
Kategori Uraian 2012 2013 2014 2015
R,S,T,U Jasa lainnya 4,35 6,03 4,25 3,09
PDRB Bruto 5,58 6,25 5,28 5,44
Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016
4.2.2. Inflasi
Inflasi atau perubahan Indeks Harga Konsumen sering digunakan sebagai satu indikasi stabilitas ekonomi melalui pantauan gejolak harga-harga barang kebutuhan masyarakat. Kumulatif laju inflasi Kota Surakarta pada tahun 2015 sebesar 2,56%, lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014 yaitu 8,01%. Hal ini berarti perkembangan harga secara umum sampai dengan akhir tahun 2015 lebih rendah jika dibandingkan harga tahun 2014. Inflasi Kota Surakarta lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi kota-kota lainnya di Jawa Tengah.
Dalam jumlah yang tepat maka akan menjadi hal yang positif untuk menggairahkan roda ekonomi. Laju Inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan berdampak pada daya beli masyarakat dan dinamika ekonomi. Besarnya inflasi berdasarkan kelompok barang dan jasa dari yang terbesar sampai yang terkecil secara berurutan sebagai berikut: Transportasi (-2,12%), Sandang (2,55%), Makanan Jadi (2,98%), Perumahan (3,20%), Pendidikan (3,81%), Kesehatan (4,11%), dan Bahan Makanan (4,15%).
Tabel 4.5. Inflasi Kota Surakarta Menurut Kelompok Tahun 2013. 2014 dan 2015
No Kelompok 2013 2014 2015 1 Bahan Makanan 15.34 14.02 4.15 2 Makanan Jadi 4.15 3.24 2.98 3 Perumahan 3.65 3.61 3.20 4 Sandang 6.59 6.33 2.55 5 Kesehatan 5.10 4.62 4.11 6 Pendidikan 2.19 2.21 3.81 7 Transportasi 14.13 14.20 -2.12 UMUM 8.32 8.01 2,56
Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2016
4.2.3. Kemiskinan
Kemiskinan berkaitan erat dalam hal kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam hal ini kondisi kesejahteraan masyarakat juga perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial masyarakat. Masalah Kemiskinan merupakan persoalan mendasar yang menjadi perhatian pemerintah. Dengan berbagai program pro-rakyat pemerintah berusaha keras menurunkan angka kemiskinan.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-8
Pada tahun 2014 masih ada 10,95% penduduk Kota Surakarta yang tergolong miskin. Jumlah tersebut semakin berkurang selama 3 tahun terakhir. Tahun 2012 penduduk miskin Kota Surakarta mencapai 12,00%. Kendati belum dapat dikatakan maksimal, akan tetapi tren penurunan menunjukkan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan yang diluncurkan pemerintah telah memberikan efek positif bagi peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan hak-hak dasar mereka.
Penduduk yang dikategorikan miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan Kota Surakarta tiap tahun meningkat seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Garis kemiskinan Kota Surakarta pada tahun 2014 sebesar Rp. 385.467,- /kapita/bulan, dimana tahun sebelumnya tercatat hanya sebesar Rp.371.918,- /kapita/bulan.
Tabel 4.6. Jumlah Penduduk Per Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2015
No Kecamatan Pra
Sejahtera (jiwa)
Keluarga Sejahtera (jiwa) Jumlah
Total KK I II III III+ 1 Laweyan 1.194 15.840 4.830 - - 21.876 2 Serengan 714 8.471 2.670 - - 11.855 3 Pasar Kliwon 1.634 13.125 3.916 - - 18.675 4 Jebres 3.189 24.288 8.459 - - 35.936 5 Banjarsari 3.519 29.425 9.947 - - 42.894 Jumlah 10.250 91.158 29.828 - - 131.230
Sumber: Surakarta Dalam Angka, 2016
Untuk tingkat kemiskinan di Kota Surakarta pada tahun 2015 mengalami penurunan jika dibandingan dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Surakarta meningkat menjadi lebih baik, dan berikut merupakan data garis kemiskinan dan penduduk miskin di Kota Surakarta dalam kurun waktu 5 tahun.
Tabel 4.7. Garis Kemiskinan dan Penduduk Miskin di Kota Surakarta Tahun 2010-2015
No Tahun Garis
Kemiskinan Jumlah (jiwa) Penduduk Miskin Presentase (%)
1 2010 306.584 69.805 13,96 2 2011 326.233 64.498 12,90 3 2012 361.517 60.745 12,00 4 2013 403.121 59.679 11,74 5 2014 385.467 55.920 10,95 6 2015 406.840 55.710 10,89
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-9 4.2.4. Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya terhadap
Ekonomi Masyarakat
Pembangunan merupakan proses yang direncanakan melalui berbagai macam kebijakan dengan tujuan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat. Pembangunan dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan manusia baik secara individu maupun kelompok. Menurut Ndraha (1990, hlm. 16) pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk mempengaruhi masa depanya. Selain itu pembangunan juga merupakan suatu proses perubahan sosial dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan untuk kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya kebebasan, keadilan dan kualitas lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol yang lebih besar yang mereka peroleh terhadap lingkungan mereka.
Dari pendapat tersebut, dapat diartikan bahwa pembangunan merupakan proses perubahan yang didalamnya mengandung perubahan bagi kehidupan masyarakat ke arah yang lebih maju. Salah satu dampak dari pembaharuan tersebut adalah terjadinya perubahan sosial ekonomi terhadap masyarakat. Dan berkaitan dengan RPIJM adalah berupa rencana program pembangunan yang berhubungan dengan bidang keciptakaryaan yang berdampak pada ekonomi masyarakat. Dalam hal ini yang berkaitan erat dengan RPIJM bidang keciptakaryaan berupa sektor-sektor yang terkai diantaranya adalah sektor Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP), Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL), Pengembangan Air Minum (SPAM) dan Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP).
1. Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP)
Rencana program dalam sektor Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP) yang berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat adalah Pembangunan Rusunawa di Kota Surakarta. Rencana pembangunan rusunawa ini akan dilaksanakan pada tahun 2018-2021 di wilayah Kecamatan Banjarsari. Dampak ekonomi yang ditimbulkan dengan adanya pembangunan rusunawa ini nantinya akan berpengaruh pada masyarakat diantaranya adalah harga sewa pada Rusunawa lebih rendah jika dibandingkan dengan harga sewa rumah. Harga sewa tersebut akan berpengaruh terhadap jumlah pengeluaran rumah tangga untuk setiap bulannya. Selain itu jika rusunawa diberikan penyediaan fasilitas berupa fasilitas transportasi secara gratis atau tidak dipungut biaya seperti bus sekolah atau bus untuk para pekerja ini pun akan berpengaruh terhadap perekonomian penghuni rusunawa.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-10 2. Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL)
Rencana program dalam sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) yang berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat adalah berupa rencana pengembangan kawasan wisata. Dalam rencana pengembangan kawasan wisata di Kota Surakarta ini berupa pengembangan wisata kuliner dan pengembangan wisata batik. Pengembangan wisata erat kaitannya dengan pengembangan perekonomian masyarakat, selain itu merupakan salah satu cara dalam peningkatan perekonomian masyarakat. Dimana yang berperan dalam kegiatan tersebut adalah masyarakat. Dengan adanya pengembangan wisata ini memberikan kesempatan masyarakat untuk berdagang kuliner khas dari Kota Surakarta dengan adanya penyediaan kawasan. Dan untuk wisata batik masyarakat akan lebih mudah dalam memasarkan hasil kerajinannya.
3. Pengembangan Air Minum (SPAM)
Rencana program dalam sektor Pengembangan Air Minum (SPAM) yang berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat adalah berupa pengembangan air siap minum. Dalam pengembangan air siap minum ini akan dilakukan dengan beberapa tahap, agar menghasilkan kualitas air minum yang dapat dikonsumsi langsung sesuai dengan standart yang ada. Dalam rencana ini, dampak ekonomi untuk masyarakat yang ditimbulkan berupa berkurangnya pengeluaran masyarakat untuk penyediaan air bersih. Karena dengan kualitas air yang bagus dan sudah tersedia berupa air siap minum masyarakat tidak perlu lagi menyediakan air untuk konsumsi.
4. Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP)
Rencana program dalam sektor Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) yang berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat adalah berupa pengadaan bank sampah. Pengadaan bank sampah ini berdampak banyak pada lingkungan, perekonomian dan sosial. Namun kaitannya dengan ini dampak pada perekonomian berupa penambahan pendapatan masyarakat yang diakibatkan dari menabung sampah yang berupa sampah plastik, pendapatan dari hasil kerajinan yang diproduksi oleh masyarakat yang dapat difungsikan untuk benda hias atau benda lainnya yang didaur ulang dari sampah plastik.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-11 4.3. ANALISIS LINGKUNGAN
Menurut UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana dan/atau program. KLHS perlu diterapkan di dalam RPIJM antara lain karena: 1) RPIJM membutuhkan kajian aspek lingkungan dalam perencanaan pembangunan
infrastruktur.
2) KLHS dijadikan sebagai alat kajian lingkungan dalam RPIJM karena RPIJM bidang Cipta Karya berada pada tataran Kebijakan/Rencana/Program. Dalam hal ini, KLHS menerapkan prinsip-prinsip kehati-hatian, dimana kebijakan, rencana dan/atau program menjadi garda depan dalam menyaring kegiatan pembangunan yang berpotensi mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
Tahap ke-2 setelah penapisan terdapat dua kegiatan. Jika melalui proses penapisan di atas tidak teridentifikasi bahwa rencana/program dalam RPIJM tidak berpengaruh terhadap kriteria penapisan di atas maka berdasarkan Permen Lingkungan Hidup No. 9/2011 tentang Pedoman Umum KLHS, Tim Satgas RPIJM Kabupaten/Kota dapat menyertakan Surat Pernyataan bahwa KLHS tidak perlu dilaksanakan, dengan ditandatangani oleh Ketua Satgas RPIJM dengan persetujuan DLH dan dijadikan lampiran dalam dokumen RPIJM.
Namun, jika teridentifikasi bahwa rencana/program dalam RPIJM berpengaruh terhadap kriteria penapisan di atas maka Satgas RPIJM didukung dinas lingkungan hidup dapat menyusun KLHS dengan tahapan pengkajian pengaruh KRP terhadap kondisi lingkungan hidup di wilayah perencanaan, yang dilaksanakan melalui 4 (empat) tahapan sebagai berikut:
a) Identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang bertujuan untuk: 1) Menentukan secara tepat pihak-pihak yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan
KLHS;
2) Menjamin diterapkannya azas partisipasi yang diamanatkan oleh UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3) Menjamin bahwa hasil perencanaan dan evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program memperoleh legitimasi atau penerimaan oleh publik;
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-12
4) Memberikan akses kepada masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menyampaikan informasi, saran, pendapat, dan pertimbangan tentang pembangunan berkelanjutan melalui proses penyelenggaraan KLHS.
b) Identifikasi isu pembangunan berkelanjutan yang bertujuan untuk:
1) Menetapkan isu-isu pembangunan berkelanjutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidup atau keterkaitan antar ketiga aspek tersebut; 2) Membahas isu-isu yang signifikan secara terarah; dan
3) Membantu penentuan capaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
c) Identifikasi muatan kebijakan, rencana dan/atau program yang berpotensi menimbulkan pengaruh terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan yang relevan dan signifikan di wilayah perencanaan yaitu Kota Surakarta.
d) Telaah pengaruh kebijakan, rencana dan/atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah.
Tabel 4.8. Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Kota Surakarta
Pengelompokan Isu-Isu Pembangunan
Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Penjelasan Singkat Lingkungan Hidup Permukiman
Isu 1: Ketersediaan air baku yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat
Belum optimalnya sistem penyediaan air minum regional dan pengembangan air minum terlindungi dikarenakan kurangnya ketersediaan sarana prasarana pendukung penyediaan sumber daya air
Isu 2: Kualitas lingkungan permukiman sehat yang belum terwujud secara menyeluruh
Pengelolaan dan pelayanan terkait pengolahan air limbah dan pengelolaan persampahan masih belum dilakukan secara optimal dan kurang bersinergi dengan wilayah lainnya. Seperti halnya pengelolaan sampah kota yang masih belum terintegrasi secara regional (Solo Raya).
Isu 3: Kawasan-kawasan kumuh di lingkungan perkotaan yang mengurangi nilai estetika dan tidak sesuai dari sisi daya dukung lingkungan
Munculnya kawasan kumuh di wilayah perkotaan merupakan salah satu dampak dari pertumbuhan penduduk yang tinggi disana. Hal tersebut seharusnya perlu diimbangi dengan ketegasan terkait relokasi permukiman-permukiman yang berada pada wilayah yang bukan peruntukannya. Selain itu, kawasan kumuh yang ada juga timbul dari adanya degradasi lingkungan serta kurang meratanya pembangunan infrastruktur.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Surakarta IV-13 Pengelompokan Isu-Isu Pembangunan
Berkelanjutan Bidang Cipta Karya Penjelasan Singkat Ekonomi
Isu 4: Kemiskinan yang identik dengan kurang sehatnya lingkungan permukiman. Contoh: permukiman kumuh yang merupakan cerminan rendahnya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat perkotaan
Kekumuhan permukiman merupakan kombinasi yang terjadi pada permukiman perkotaan dan perdesaan, disamping itu kekumuhan yang terjadi diakibatkan dengan pola kehidupan masyarakat itu sendiri, sehingga berdampak pada lingkungan seperti sulitnya pencapaian ke dan dalam suatu wilayah.
Sosial
Isu 5: Rendahnya akses untuk memiliki cakupan rumah sehat dikarenakan tidak seimbangnya tingkat kesejahteraan dengan harga lahan dan rumah di kawasan perkotaan.
• Penyediaan kemudahan akses dalam pemenuhan lahan dan perumahan merupakan salah satu upaya yang perlu dilakukan guna mendukung terus berkembangnya lingkungan rumah sehat yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.
• Selain itu, penyediaan lahan dan rumah yang terjangkau juga sebaiknya diimbangi dengan peningkatan kemampuan masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal ini dapat terwujud melalui dilaksanakannya program-program kemasyarakatan yang mampu meningkatkan keterampilan, kemampuan bekerja, serta kemampuan untuk berwirausaha secara mandiri.