• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktorat Jenderal Perkebunan KATA PENGANTAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktorat Jenderal Perkebunan KATA PENGANTAR"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN

(2)

KATA PENGANTAR

Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIN) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 merupakan perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/08/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian.

Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha ditetapkan pertama kali pada bulan Januari 2016. Dalam perjalanan waktu, Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha melakukan revisi Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada bulan April, Agustus dan Desember Tahun 2016, dikarenakan : (1) adanya perubahan nomenklatur Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha berubah menjadi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan; (2) adanya revisi anggaran (refocusing) dan blokir anggaran. Perjanjian Kinerja ini merupakan dokumen pernyataan kinerja antara Direktur Jenderal Perkebunan dan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan dalam rangka meningkatkan pelayanan masyarakat yang meliputi: (a) Pembinaan pascapanen (b) Pembinaan pengolahan (c) Pembinaan pemasaran (d) Pembinaan standardisasi mutu dan usaha perkebunan berkelanjutan.

Realisasi keuangan pelaksanaan kegiatan dukungan penanganan

pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan pada tahun 2016 sebesar Rp. 69.987.723.826,- dari total pagu anggaran setelah refocusing dan

(3)

blokir sebesar Rp. 74.964.414.000,- atau mencapai 93,63 % dengan capaian fisik seluruhnya 95,02 %. Capaian kinerja per kegiatan utama secara berurutan adalah kegiatan pengembangan pascapanen komoditas perkebunan 95,48 %, pengembangan pengolahan hasil perkebunan 94,09 %, pembinaan usaha perkebunan 89,57 %, fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan 88,38 %, pembinaan penerapan standar dam sistem jaminan mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan 85,83 % dan pengembangan pemasaran hasil perkebunan 81,94 %.

Dokumen LAKIN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 ini tersusun atas dukungan dan kerjasama yang sinergis dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih semoga dokumen ini dapat menjadi pertanggungjawaban kinerja Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016.

Jakarta, Januari 2017 Direktur Pengolahan dan Pemasaran

Hasil Perkebunan,

Ir. Dedi Junaedi, M.Sc Nip. 19620601 198603 1 001

(4)

IKHTISAR EKSEKUTIF

Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIN) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 merupakan perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/08/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian.

Laporan ini disusun sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan dalam penyusunannya mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men-PAN & RB) Nomor 29 Tahun 2010 tanggal 31 Desember 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Berdasarkan Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan mempunyai tujuan sebagai berikut : (1) Meningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil perkebunan; (2) Meningkatkan pemasaran hasil perkebunan; (3) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perkebunan; (4) Meningkatkan penerimaan dan devisa negara dari sub sektor perkebunan; (5) Memenuhi kebutuhan konsumsi dan meningkatkan penyediaan bahan baku industri dalam negeri; (6) Mendukung pengembangan bio-energi melalui peningkatan peran sub sektor perkebunan sebagai penyediaan bahan bakar nabati; (7) Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya secara arif dan perkebunan

(5)

berkelanjutan serta mendorong pengembangan wilayah; (8) Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia perkebunan; (9) Meningkatkan peran sub sektor perkebunan sebagai penyedia lapangan kerja; (10) Meningkatkan pelayanan organsisasi yang berkualitas.

Sasaran strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan tahun 2016 yaitu terlaksananya pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan dengan indikator kinerja kegiatan adalah pengembangan pascapanen komoditas perkebunan, pengembangan pengolahan hasil perkebunan, pembinaan usaha perkebunan, pengembangan pemasaran hasil perkebunan, pembinaan penerapan standar dan sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan, dan fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan.

Hasil pengukuran kinerja capaian sasaran kegiatan (Output) yang meliputi capaian kinerja berdasarkan Perjanjian Kinerja/Rencana Kinerja Tahun 2016 yaitu (a) pengembangan pascapanen komoditas perkebunan mencapai 149 kelompok tani dari target 149 kelompok tani atau mencapai 100,00 % dengan kategori sangat berhasil, (b) pengembangan pengolahan hasil perkebunan mencapai 43 unit dari target 45 unit atau mencapai 97,73 % dengan kategori sangat berhasil, (c) pembinaan usaha perkebunan mencapai 24 provinsi dari target 24 provinsi atau mencapai 100,00 % dengan kategori sangat berhasil, (d) pengembangan pemasaran hasil perkebunan mencapai 131 kegiatan dari target 137 kegiatan atau mencapai 95,62 % dengan kategori sangat berhasil, (e) pembinaan penerapan standar dan sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan mencapai 46 kegiatan dari target 46 kegiatan atau mencapai 100,00 % dengan

(6)

kategori sangat berhasil, (f) fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan mencapai 12 bulan dari target 12 bulan atau mencapai 100,00 % dengan kategori sangat berhasil.

Pagu awal APBN Direktorat Pascapanen dan Pembinaa Usaha sebelum adanya perubahan nomenklatur adalah sebesar Rp. 141.358.899.000,-. Setelah perubahan nomenklatur pagu awal APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun Anggaran 2016 adalah sebesar Rp. 116.365.675.000,-. Setelah adanya penghematan, refocusing dan blokir pagu total APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan TA 2016 menjadi sebesar Rp. 74.964.414.000,-. Anggaran tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di pusat dan di daerah. Alokasi anggaran untuk kegiatan pusat sebesar Rp. 8.800.744.000,- dan kegiatan daerah sebesar Rp.

66.163.670.000,-.

Realisasi penyerapan anggaran pelaksanaan kegiatan dukungan penanganan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan pada tahun

2016 sebesar Rp. 69.987.723.826,- dari total pagu anggaran Rp. 74.964.414.000,- atau mencapai 93,36 % dengan capaian fisik

seluruhnya 95,02 %.

Capaian kinerja tahun 2016 apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2015 yaitu untuk jumlah kelompok tani yang menerapkan pascapanen sesuai GHP mengalami penurunan sebesar 35,57 % menjadi 64,43 %, hal ini dikarenakan adanya revisi POK, refocusing dan blokir anggaran yang berdampak juga pada jumlah kelompok tani yang diberikan bantuan pada setiap provinsi. Untuk perusahaan kelapa sawit yang layak mengajukan permohonan sertifikat ISPO mengalami peningkatan sebesar 4,52 % menjadi 104,52 %. Sedangkan untuk kegiatan penerapan standarisasi mutu, pengolahan hasil perkebunan

(7)

dan pemasaran hasil perkebunan tidak dapat dibandingkan karena adanya perubahan nomenklatur Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha menjadi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, dengan perubahan tersebut terjadi penambahan tupoksi pada Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yaitu pengolahan hasil perkebunan, pemasaran hasil perkebunan dan standardisasi mutu hasil perkebunan.

Capaian kinerja per kegiatan utama secara berurutan adalah secara berurutan adalah kegiatan pengembangan pascapanen komoditas perkebunan 95,48 %, pengembangan pengolahan hasil perkebunan 94,09 %, diikuti kegiatan pembinaan usaha perkebunan 89,57 %, fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan 88,20 %, pembinaan penerapan standar dam sistem jaminan mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan 85,83 %, dan pengembangan pemasaran hasil perkebunan 81,94 %.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

IKHTISAR EKSEKUTIF iii

DAFTAR ISI viii

DAFTAR TABEL x

DAFTAR LAMPIRAN xi

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Organisasi 2

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA 8

2.1. Perencanan Strategis Direktorat Pengolahan dan

Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019 8 2.1.1. Visi Direktorat Pengolahan dan

Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

8

2.1.2. Misi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

9

2.1.3. Tujuan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

9

2.1.4. Sasaran Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

12

2.1.5. Arah Kebijakan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

13

2.1.6. Program Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

15

2.1.7. Fokus Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

16

2.1.8. Strategi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

(9)

2.2. Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2016 22 2.2.1. Program Kegiatan Pembangunan

Perkebunan Tahun 2016 22

2.2.2. Sasaran Program dan Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016

23

2.2.3. Perjanjian Kinerja 25

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 28

3.1. Pengukuran Kinerja 28

3.1.1. Pengukuran Kinerja Terhadap Capaian Sasaran Kerja Nasional Perjanjian Kinerja / Rencana Kerja Tahun 2016

29

3.1.2. Pengukuran Kinerja Terhadap Capaian

Sasaran Kegiatan yang Dibiayai APBN 30 3.1.3. Pengukuran Kinerja Terhadap Capaian

Sasaran Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan

31

3.1.4. Capaian Kinerja Tahun 2016 Terhadap

Capaian Kinerja Tahun 2015 38

3.2. Akuntabilitas Keuangan 34

3.2.1. Akuntabilitas terhadap Target Serapan 34 3.3. Permasalahan, Upaya Penyelesaian dan

Rencana Aksi 35

3.4.1. Permasalahan, Hambatan dan Kendala 35

3.4.2. Upaya Penyelesaian 37

BAB IV PENUTUP 39

4.1. Kesimpulan 39

4.2. Saran dan Rekomendasi 41

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Proyeksi Makro Pembangunan Perkebunan Tahun

2015 – 2019 12

Tabel 2. Sasaran dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Kegiatan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016

25

Tabel 3. Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pengolahan

dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 27 Tabel 4. Capaian Sasaran Nasional terhadap PK/RKT 2016 29 Tabel 5. Capaian sasaran Kegiatan yang dibiayai APBN

Tahun 2016

30

Tabel 6. Realisasi Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun Anggaran 2016

32

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Pengukuran Kinerja Tahun 2016

(Berdasarkan Capaian sasaran / Outputs Dari RKT)

43

Lampiran 2. Pengukuran Kinerja Tahun 2016 (Berdasarkan Capaian Sasaran Kegiatan / Output Sesuai PK)

44

Lampiran 3. Capaian Kinerja Utama (Output) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan

46

Lampiran 4. Realisasi Kegiatan APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun Anggaran 2016

47

Lampiran 5. Realisasi Kegiatan Pusat Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun Anggaran 2016

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkebunan merupakan salah satu sub sektor strategis yang secara ekonomis, ekologis dan sosial budaya mempunyai peranan penting dalam pembangunan nasional. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan, pembangunan perkebunan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat; meningkatkan penerimaan negara dan devisa negara; menyediakan lapangan kerja; meningkatkan produktivitas; nilai tambah dan daya saing; memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri; dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Sejalan dengan tuntutan otonomi daerah sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 22 dan 25 tahun 1999 yang telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 dan 33 tahun 2004 terakhir menjadi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 serta peraturan pendukungnya, kebijakan pembangunan perkebunan ke depan harus mampu mengakomodir perubahan lingkungan strategis yang ada serta memilah tugas dan fungsi yang akan dijalankan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di dalam memberikan pelayanan optimal kepada para pelaku usaha perkebunan.

Dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal kepada para pihak (Stakeholder) yang terlibat dalam usaha perkebunan, maka sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah sebagaimana yang

(13)

ditetapkan dalam Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia Nomor 239/IX/6/8/2003 tanggal 25 Maret 2003 yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN & RB) Nomor 29 tahun 2010 tanggal 31 Desember 2010 telah ditetapkan bahwa setiap instansi pemerintah diwajibkan menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIN). LAKIN adalah bagian dari serangkaian proses restrukturisasi program dan kegiatan yang merupakan wujud pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumber daya, kebijakan dan program bagi instansi pemerintah sebagaimana diamanatkan pula dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/08/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian.

Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIN) didasarkan atas Rencana Strategis (Renstra), Rencana Kinerja Tahunan (RKT) dan Penetapan Kinerja (PK). Laporan ini disusun dengan format yang terdiri dari; 1) Ikhtisar Eksekutif; 2) Bab I Pendahuluan; 3) Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja; 4) Bab III Akuntabilitas Kinerja; 5) Bab IV Penutup dan Lampiran.

1.2. Organisasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor

43/Permentan/OT.010/08/2015 tanggal Oktober 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian bahwa Direktorat Jenderal Perkebunan adalah unsur pelaksana pada Kementerian Pertanian yang bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Jenderal Perkebunan mempunyai

(14)

tugas “merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perkebunan”. Untuk melaksanakan

tugas tersebut Direktorat Jenderal Perkebunan menyelenggarakan fungsi :

1) Perumusan kebijakan di bidang perbenihan, budidaya, perlindungan, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan;

2) Pelaksanaan kebijakan di bidang perbenihan, budidaya, perlindungan, dan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan; 3) Penyusunan Norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang

perbenihan, budidaya, perlindungan, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan;

4) Pemberian bimbingan kebijakan di bidang perbenihan, budidaya, perlindungan, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan;

5) Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Perkebunan.

Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Perkebunan terdiri dari Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Tanaman Semusim, Direktorat Tanaman Rempah dan Penyegar, Direktorat Tanaman Tahunan, Direktorat Perlindungan Perkebunan dan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian tersebut, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan mempunyai tugas:

melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan Norma, standar, prosedur dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, Direktorat

(15)

1). Perumusan kebijakan di bidang pascapanen, pengolahan, pemasaran hasil perkebunan, standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan.

2). Pelaksanaan kebijakan di bidang pascapanen, pengolahan, pemasaran hasil perkebunan, standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan

3). Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang pascapanen, pengolahan, pemasaran hasil perkebunan, standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan.

4) Pemberian bimbingan kebijakan di bidang pascapanen, pengolahan, pemasaran hasil perkebunan, standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan

5). Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunana membawahi 4 (empat) Unit Eselon III yaitu : (1) Sub Direktorat Pascapanen (2) Sub Direktorat Pengolahan (3) Sub Direktorat Pemasaran (4) Sub Direktorat Standardisasi Mutu dan Pembinaan Usaha.

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi tersebut Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan berdasarkan pencermatan lingkungan strategis dengan menggunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT) mempunyai kekuatan berupa :

1) Tersedianya landasan hukum untuk penanganan pascapanen yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Sistim Budidaya Tanaman, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang

(16)

Perkebunan, Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 1986 Tentang Peningkatan Penanganan Pascapanen, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22 Tahun 2015 Tentang perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penanganan Pascapanen Hasil Pertanian Asal Tanaman Yang Baik dan Permentan Nomor

43/Permentan/OT.010/08/2015 tanggal 21

Agustus 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian

Pertanian.

Disamping itu, tersedia pula landasan hukum untuk mendukung kegiatan standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan serta kegiatan pemasaran hasil perkebunan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional; Peraturan Menteri Pertanian Nomor 20/Permentan/OT.140/22010 tentang Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian; Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 Tentang Sistim Budidaya Tanaman, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Konflik Sosial, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai atas Tanah, Permentan Nomor 07/Permentan/OT.140/2/2009 tentang Pedoman Penilaian

Usaha Perkebunan, Permentan Nomor

(17)

Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit, Permentan Nomor

43/Permentan/OT.010/08/2015 tanggal 21 Agustus 2015

tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, Permentan Nomor 11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) dan Permentan Nomor 98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan; Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50 tahun 2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan

Pertanian; Peraturan Menteri Pertanian Nomor

29/Permentan/KB.410/5/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 98/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan; Keputusan Menteri Pertanian nomor 46/Kpts/OT.050/10/2015 tentang Penetapan Kawasan Perkebunan Nasional; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

2) Tersedianya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang mencukupi, yaitu jumlah SDM pada tahun 2016 sejumlah 59 orang dengan kualifikasi pendidikan S3 : sebanyak 1 orang, S2 : sebanyak 24 orang, S1 : sebanyak 17 orang, Sarjana Muda/Diploma : sebanyak 3 orang, SLTA : sebanyak 12 orang, dan SD : sebanyak 2 orang. Berdasarkan tingkat golongan terdiri atas Golongan IV sebanyak 13 orang, Golongan III sebanyak 37 orang dan Golongan II sebanyak 9 orang. Tersedianya petugas penilai usaha perkebunan (pusat 26 orang dan daerah 611 orang).

3) Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan kegiatan yaitu tersedianya perangkat komputer dan perlengkapannya, tersedianya furniture yang mencukupi (meja, kursi, lemari,

(18)

kardeks), tersedianya jaringan komunikasi (telepon dan internet) di setiap ruang Eselon III, tersedianya data dan informasi perkebunan (statistik, leaflet, booklet data monitoring dan evaluasi, data penilaian usaha perkebunan).

4) Tersedianya norma, standar, prosedur, kriteria, pedoman umum, pedoman teknis dan kebijakan, yaitu tersedianya Renstra Direktorat Jenderal Perkebunan, Renstra Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Pedoman Pelaksanaan Anggaran, Pedoman Operasional Kegiatan (POK), Pedoman Teknis Penanganan Pascapanen dan Pedoman Pembinaan Usaha.

5) Tersedianya dukungan kelembagaan yang memadai.

Selain itu juga, peluang untuk meningkatkan kinerja Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan berupa :

(1) Ketersediaan data dan informasi yang masih dapat dikembangkan dan dioptimalkan;

(2) Koordinasi diantara pemangku kepentingan yang masih dapat ditingkatkan;

(3) Potensi pelaku usaha yang masih dapat diberdayakan;

(4) Pelayanan kepada perusahaan dan pelaku usaha yang masih dapat ditingkatkan;

Tugas dan fungsi yang menjadi amanah Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan tersebut wajib dipertanggungjawabkan setiap tahun. Berdasarkan hal tersebut, LAKIN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan tahun 2016 ini dimaksudkan untuk memberikan pertanggungjawaban program dan kegiatan yang didukung oleh alokasi dana DIPA tahun 2016.

(19)

BAB II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

2.1. Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Dokumen Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Usaha tahun 2015-2019 disusun berdasarkan analisis dan pencermatan lingkungan strategis atas potensi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan terkini yang dihadapi dalam peningkatan pelayanan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan selama kurun waktu 2015-2019. Renstra ini memberikan arah, dukungan dan memfasilitasi penyiapan perumusan kebijakan; pelaksanaan kebijakan; penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria; pemberian bimbingan usaha teknis dan evaluasi di bidang pascapanen tanaman perkebunan, pengolahan tanaman perkebunan, pemasaran hasil perkebunan, standar mutu dan bimbingan usaha perkebunan berkelanjutan serta urusan tata usaha Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

2.1.1. Visi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan sebagai bagian integral dari Direktorat Jenderal Perkebunan, maka visi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan selaras dengan visi Direktorat Jenderal Perkebunan yaitu Profesional dalam memfasilitasi peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan. Bertitik tolak dari visi Direktorat Jenderal Perkebunan

(20)

maka visi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan adalah ”Profesional dalam mengupayakan peningkatan penanganan

pascapanen, pengolahan, standar mutu dan bimbingan usaha perkebunan berkelanjutan”.

2.1.2. Misi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Mengacu pada salah satu Misi Direktorat Jenderal Perkebunan yaitu ”Mengupayakan penanganan pascapanen, pengolahan, pemasaran dan standardisasi mutu serta pembinaan usaha”, maka misi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan ditetapkan sebagai berikut:

1.

Mendorong pertumbuhan surplus neraca perdagangan sub sektor perkebunan;

2.

Mendorong penerapan sistem jaminan mutu dan pengawasan keamanan pangan dalam mendukung usaha agribisnis terpadu;

3.

Mendorong tumbuh kembangnya agribisnis yang berdaya saing dan

berkelanjutan melalui penguatan kelembagaan usaha, penerapan teknologi tepat guna, kemitraan dan peningkatan investasi pertanian;

4.

Mengembangkan pemasaran produk perkebunan dalam negeri melalui penguatan sistem, infrastruktur pemasaran dan promosi 5. Mengembangkan kapasitas institusi Direktorat Pengolahan dan

Pemasaran Hasil Perkebunan yang professional dan berintegritas tinggi;

6. Memfasilitasi peningkatan penerapan teknologi pascapanen dan pengolahan hasil perkebunan;

(21)

7. Memfasilitasi peningkatan pengembangan pemasaran hasil perkebunan baik domestik maupun internasional;

8. Memfasilitasi peningkatan penanganan pemasaran hasil perkebunan;

9. Memfasilitasi peningkatan penanganan standardisasi mutu hasil perkebunan;

10. Memfasilitasi peningkatan bimbingan dan penanganan usaha perkebunan berkelanjutan;

11. Memfasilitasi penyiapan regulasi sebagai acuan dalam perizinan dan pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan

2.1.3. Tujuan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015 - 2019

Untuk mendukung pencapaian agenda pembangunan pertanian dan tujuan pembangunan perkebunan maka tujuan pembangunan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan ditetapkan sebagai berikut:

1. Meningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil perkebunan; 2. Meningkatkan pemasaran hasil perkebunan;

3. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perkebunan;

4. Meningkatkan penerimaan dan devisa negara dari sub sektor perkebunan;

5. Memenuhi kebutuhan konsumsi dan meningkatkan penyediaan bahan baku industri dalam negeri;

6. Mendukung pengembangan bio-energi melalui peningkatan peran sub sektor perkebunan sebagai penyediaan bahan bakar nabati;

(22)

7. Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya secara arif dan perkebunan berkelanjutan serta mendorong pengembangan wilayah;

8. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia perkebunan; 9. Meningkatkan peran sub sektor perkebunan sebagai penyedia

lapangan kerja;

10.

Meningkatkan pelayanan organsisasi yang berkualitas.

Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut di atas, maka Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Memfasilitasi peningkatkan ketersediaan dan penerapan teknologi pascapanen dan pengolahan hasil perkebunan;

2. Memfasilitasi peningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil tanaman perkebunan;

3. Memfasilitasi peningkatkan akses pemasaran hasil perkebunan; 4. Memfasilitasi pengelolaan sumber daya alam secara arif dan

berkelanjutan serta mendorong pengembangan wilayah berwawasan lingkungan;

5. Memfasilitasi peningkatkan peran sub sektor perkebunan sebagai penyedia lapangan kerja;

6. Memfasilitasi peningkatan kemampuan, kemandirian dan profesionalisme pelaku usaha perkebunan;

7. Memfasilitasi peningkatan dan penumbuhan kemitraan dan hubungan sinergi antar pelaku usaha perkebunan;

(23)

2.1.4. Sasaran Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Sasaran makro kebijakan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan secara umum mengacu pada sasaran makro pembangunan perkebunan yaitu 1) dimensi pembangunan manusia dan masyarakat , 2) Pembangunan sektor unggulan, 3) Dimensi pemerataan dan kewilayahan dengan fokus penurunan kesenjangan perekonomian dan perlindungan sosial petani yang diproyeksikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Proyeksi Makro Pembangunan Perkebunan Tahun 2015 – 2019

No Indikator Proyeksi per Tahun Pertumbuhan Laju 2015 2016 2017 2018 2019 1. Pertumbuhan PDB (%) 5,43 4,85 5,15 5,02 4,90 5,07 2. Neraca Perdagangan (Juta USD) 32,727 36,146 39,914 44,067 48,643 10,42 3. Nilai Ekspor (Juta USD) 35,656 39,221 43,143 47,457 52,203 10,00

Untuk mewujudkan sasaran makro tersebut maka dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan difokuskan pada:

a. Pengembangan pascapanen komoditas perkebunan yang menjadi tugas pokok dan fungsi dari Subdit Pascapanen;

b. Pengembangan pengolahan komoditas perkebunan yang menjadi tugas pokok dan fungsi dari Subdit Pengolahan;

c. Pengembangan standar dan penerapan sistem jaminan mutu bagi pelaku usaha perkebunan dan pembinaan usaha perkebunan yang menjadi tugas pokok dan fungsi dari Subdit Standardisasi Mutu dan Pembinaan Usaha;

(24)

d. Pengembangan pemasaran hasil perkebunan yang merupakan tugas pokok dan fungsi dari Subdit Pemasaran;

e. Pengembangan penyediaan bahan baku untuk bahan bakar nabati dan pemanfaatan energi lainnya;

Fasilitasi teknis dukungan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yang menjadi tugas pokok dan fungsi dari subdit Pascapanen, Pengolahan, Standardisasi Mutu dan Pembinaan Usaha, Pemasaran Hasil, Sub Bag Tata Usaha dan kelompok jabatan fungsional khusus.

2.1.5. Arah Kebijakan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Direktorat Jenderal Perkebunan merumuskan kebijakan yang akan menjadi kebijakan umum dan kebijakan teknis pembangunan perkebunan tahun 2015-2019. Kebijakan umum pembangunan perkebunan adalah mensinergikan seluruh sumber daya perkebunan dalam rangka peningkatan daya saing usaha perkebunan, nilai tambah, produktivitas dan mutu produk perkebunan melalui partisipasi aktif masyarakat perkebunan, dan penerapan organisasi modern yang berlandaskan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi serta didukung dengan tata kelola pemerintahan yang baik.

Adapun kebijakan teknis pembangunan perkebunan yang merupakan penjabaran dari kebijakan umum pembangunan perkebunan yaitu meningkatkan produksi, produktivitas, dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan melalui pengembangan komoditas, SDM, kelembagaan, kemitraan usaha, dan investasi usaha perkebunan sesuai kaidah pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan dukungan pengembangan sistem informasi manajemen perkebunan.

(25)

Arah kebijakan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan meliputi kebijakan umum dan kebijakan teknis. Kebijakan Umum Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yaitu sebagai berikut :

1. Kebijakan pengembangan produk bernilai tambah, berdaya saing, ekspor, substitusi impor serta bahan baku bio industri;

2. Kebijakan pengembangan kawasan perkebunan;

3. Kebijakan pengembangan komoditas perkebunan strategis;

4. Kebijakan re-orienstasi multi produk pertanian sebagai upaya dalam meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan lahan, system air, sumber daya manusia serta adanya saling ketergantungan antar produk adalah melalui system budidaya beragam jenis tanaman yang terintegrasi;

5. Kebijakan Pengembangan sarana dan prasarana, infrastruktur pendukung agroindustripedesaan sebagai landasan pengembangan bioindustri berkelanjutan;

6. Kebijakan Pengembangan Perkebunan Berkelanjutan;

7. Kebijakan tata kelola kepemerintahan yang baik dan reformasi birokrasi;

8. Kebijakan pengelolaan program tematik mendukung pembangunan perkebunan

Adapun Kebijakan Teknis Operasional Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan sebagai berikut :

1. Kebijakan penanganan pascapanen hasil perkebunan guna mengurangi kehilangan hasil, memperpanjang daya simpan, dan meningkatkan mutu hasil serta pendapatan petani perkebunan;

(26)

2. Kebijakan pengolahan hasil perkebunan guna menghasilkan bahan setengah jadi dan bahan baku industri yang berbasis perkebunan; 3. Reorientasi diversifikasi produk pertanian sebagai upaya dalam

meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, sistem air, sumber daya manusia serta saling ketergantungan antar produk melalui budidaya beragam tanaman yang terintegrasi;

4. Pengelolaan program tematik dalam mendukung pembangunan sektor perkebunan.

2.1.6. Program Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Program pembangunan perkebunan tahun 2015 – 2019 adalah Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Perkebunan Berkelanjutan. Program ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan produksi, produktivitas tanaman tebu dan tanaman perkebunan lainnya.

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan menetapkan kegiatan utama yaitu “Dukungan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan” untuk mendukung pencapaian peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil tanaman perkebunan.

Kegiatan utama yang menjadi tanggung jawab Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yang merupakan cerminan dari tugas dan fungsi adalah “Dukungan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan” yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma standar, prosedur dan kriteria, serta bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan yaitu penanganan

(27)

pascapanen, pengolahan, pemasaran, standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan.

2.1.7. Fokus Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Mengingat keterbatasan sumber daya yang ada (SDM, sarana prasarana dan dana), maka kegiatan penanganan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan dilaksanakan berdasarkan skala prioritas, dengan sumberdaya yang ada diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal (efektif dan efisien). Berdasarkan skala prioritas tersebut, maka fokus kegiatan penanganan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan tahun 2015 – 2019 adalah memfasilitasi peningkatan penanganan pascapanen, pengolahan, pemasaran, standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan berkelanjutan.

Sebagai penjabaran dari kegiatan utama Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, maka ditetapkan fokus dan output kegiatan sebagai berikut:

1. Fasilitasi Penanganan Pascapanen Tanaman Komoditas

Perkebunan

Fasilitasi penanganan pascapanen komoditas perkebunan dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan penanganan pascapanen melalui dukungan sarana pascapanen dan peningkatan kapabilitas petani. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kehilangan hasil, memperpanjang daya simpan, meningkatkan nilai tambah produk, serta meningkatkan mutu produk sesuai dengan standar keamanan pangan baik nasional maupun internasional.

(28)

a. Penanganan pascapanen komoditas perkebunan - Penyediaan bantuan sarana pendukung pascapanen;

- Peningkatan keterampilan petani dalam penanganan pascapanen; - Penyusunan pedoman teknis pascpanen/inovasi teknologi

pascpanen;

- Inventarisasi data pascapanen perkebunan; - Pertemuan teknis penanganan pascapanen.

b. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran penanganan pascapanen komoditas perkebunan setiap tahun anggaran.

2. Fasilitasi Penanganan Pengolahan Tanaman Komoditas

Perkebunan

Fasilitasi penanganan pengolahan komoditas perkebunan dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan penanganan pengolahan melalui dukungan sarana pengolahan dan peningkatan kapabilitas petani. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghasilkan bahan baku industri dan bahan olahan berbasis gapoktan serta penyediaan bahan baku bahan bakar nabati. Fokus kegiatannya adalah :

a. Penanganan pengolahan komoditas perkebunan

- Penyediaan bantuan sarana pendukung pengolahan hasil perkebunan;

- Peningkatan keterampilan petani dalam penanganan pengolahan hasil perkebunan;

- Penyusunan pedoman teknis pengolahan hasil perkebunan; - Pertemuan teknis penanganan pengolahan hasil perkebunan. b. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran penanganan

(29)

3. Fasilitasi Pengembangan Pemasaran Hasil Tanaman Perkebunan Fasilitasi penanganan pemasaran komoditas perkebunan dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan penanganan pemasaran melalui dukungan pengembangan akses pemasaran domestik dan internasional. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pangsa pasar sekaligus memperkuat posisi tawar produk perkebunan melalui melakukan promosi dan penyebaran informasi terkait dengan komoditi perkebunan strategis yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Fokus kegiatannya adalah :

a. Pengembangan pemasaran hasil perkebunan

- Peningkatan akses pasar dalam maupun luar negeri;

- Pengembangan infrastruktur dan kelembagaan pasar yang efektif dan adil (Pasar lelang, sistem resi gudang);

- Meningkatkan pelayanan informasi pasar domestik dan internasional;

- Pengembangan kemitraan usaha antara kelembagaan petani dengan pihak terkait;

- Pengembangan agrowisata dan spesialty produk;

- Pengembangan Promosi, diplomasi dan negosiasi produk perkebunan strategis baik dalam maupun luar negeri;

- Harmonisasi tarif Bea Masuk dan Keluar produk perkebunan strategis;

- Pertemuan teknis pengembangan pemasaran hasil perkebunan; - Penyampaian infomasi terkait hasil perundingan luar negeri

kepada para pemangku kepentingan;

b. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran penanganan pemasaran komoditas perkebunan setiap tahun anggaran;

(30)

4. Fasilitasi Penanganan Standarisasi Mutu dan Pembinaan Usaha Perkebunan

Fasilitasi penanganan standarisasi mutu dan pembinaan usaha dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan penanganan peningkatan mutu hasil perkebunan dan pembinaan serta pengawasan perkebunan yang diperlukan untuk mewujudkan penyelenggaraan usaha perkebunan yang optimal, berdaya saing dan berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Fokus kegiatannya adalah:

a. Penanganan Standarisasi, Mutu dan Pembinaan Usaha

- Peningkatan keterampilan petani, pelaku usaha dan petugas dalam penerapan sistem jaminan mutu;

- Penyiapan infrastruktur dalam penerapan sistem jaminan mutu;

- Pengembangan standar dan regulasi teknis mutu produk perkebunan;

- Pembinaan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan penilaian usaha perkebunan;

- Penyiapan regulasi sebagai acuan dalam pelaksanaan perizinan dan pengelolaan usaha perkebunan berkelanjutan

- Pemantauan dan evaluasi, bimbingan teknis terhadap usaha perkebunan;

- Pembinaan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan untuk pengembangan komoditi perkebunan seperti sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan Indonesia (ISPO);

(31)

- Pembinaan, monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pemenuhan kewajiban perusahaan perkebunan (kemitraan, pembangunan kebun masyarakat, CSR, penyiapan peta izin usaha perkebunan dll);

- Penyiapan system database perizinan usaha perkebunan (satu informasi perizinan)

- Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kemitraan pada pola PIR

b. Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran penanganan standarisasi mutu dan pembinaan usaha setiap tahun anggaran

5. Pelaksanaan dukungan administrasi dan keuangan.

Untuk menunjang kelancaran kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan perlu dukungan administrasi dan keunagan yang difokuskan untuk :

a. Terlaksananya pengelolaan administrasi keuangan dan asset yang berkualitas

b. Terlaksananya pelayanan organisasi, tatalaksana, kepegawaian dan adminstrasi perkantoran yang berkualitas.

2.1.8. Strategi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2015-2019

Selain mengacu kepada strategi Direktorat Jenderal Perkebunan, penetapan strategi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan juga mempertimbangkan faktor-faktor internal dan eksternal yang sangat mempengaruhi kinerja organisasi lingkup Direktorat Pengolahann dan Pemasaran Hasil Perkebunan. Untuk

(32)

menetapakan strategi tersebut diperlukan pencermatan lingkungan strategis baik internal maupun eksternal. Pencermatan faktor lingkungan dibagi 2 yaitu : (1) Pencermatan lingkungan internal dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan organisasi, (2) Pencermatan lingkungan eksternal dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai peluang dan ancaman. Adapun strategi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan antara lain:

a. Pengembangan pascapanen, pengolahan, pemasaran, kemitraan dan kewirausahaan hasil perkebunan;

b. Penerapan sistem jaminan mutu yang mengacu kepada standar mutu produk sehingga produk dapat diterima di pasar;

c. Pengembangan agroindustri berbasis tanaman perkebunan;

d. Pengembangan akses pasar domestik maupun internasional melalui pengembangan kelembagaan dan kemitraan usaha, sistem pelayanan informasi pasar, advokasi produk perkebunan, negosiasi, diplomasi dan market inteligen;

e. Memperkuat promosi produk nusantara baik di dalam maupun diluar negeri;

f. Memperkuat kelembagaan dan sistem pelayanan informasi pasar produk perkebunan serta jaringan pasar produk perkebunan dari sentra produksi hingga ke sentra konsumen sehingga kestabilan pasokan dan harga terjaga;

g. Pengembangan sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan Indonesia;

h. Penyiapan system database perizinan perusahaan perkebunan; i. Penyiapan regulasi sebagai acuan dalam perizinan dan pengelolaan

(33)

j. Meningkatkan kampanye positif produk-produk perkebunan di luar negeri;

k. Membuka target pasar baru; l. Memperkuat market intelligent.

2.2. Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2016

2.2.1 Program dan Kegiatan Pembangunan Perkebunan Tahun 2016 Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan tahun 2016 merupakan penjabaran program dalam berbagai kegiatan secara tahunan melalui penetapan target kinerja tahunan untuk seluruh indikator kinerja kegiatan dan merupakan salah satu bagian dari sistem perencanaan yang berbasis kinerja yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan selama periode 5 tahun. Dalam rencana kinerja ini ditetapkan rencana capaian kinerja tahunan yang meliputi sasaran dan seluruh indikator kinerja dari program pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan yang meliputi kegiatan pengembangan pascapanen komoditas perkebunan, pengembangan pengolahan hasil perkebunan, pembinaan usaha perkebunan, pengembangan pemasaran hasil perkebunan, pembinaan penerapan standar sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan, dan fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. RKT ini juga menjadi acuan dalam penyusunan kegiatan dalam rangka pelaksanaan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang penyusunannya berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

(34)

(Men-PAN & RB) Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

2.2.2. Sasaran Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016

Sasaran strategis Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan berdasarkan Renstra Ditjen Perkebunan tahun 2015-2019 adalah meningkatnya penerapan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan pertanian telah ditetapkan indikator kinerja utama Kementerian Pertanian dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 49/PERMENTAN/OT.140/8/2012 Tanggal 15 Agustus 2012 tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014. Untuk Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan telah ditetapkan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut :

(1) Tugas :

Melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan pascapanen, pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan.

(35)

(2) Fungsi :

a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang, pascapanen, pengolahan, standardisasi, penerapan standar mutu dan pembinaan usaha serta pemasaran hasil perkebunan;

b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pascapanen, pengolahan, standardisasi, penerapan standar mutu dan pembinaan usaha serta pemasaran hasil perkebunan;

c. Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang pascapanen, pengolahan, standardisasi, penerapan standar mutu dan pembinaan usaha serta pemasaran hasil perkebunan; d. Pemberian bimbingan usaha teknis dan evaluasi di bidang

pascapanen, pengolahan, standardisasi, penerapan standar mutu dan pembinaan usaha serta pemasaran hasil perkebunan; e. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang

peningkatan pascapanen, pengolahan, standardisasi, penerapan standar mutu dan pembinaan usaha serta pemasaran hasil perkebunan;

f. Koordinasi perumusan dan harmonisasi standar, serta penerapan standar mutu di bidang perkebunan; dan

g. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

(3) Sasaran dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)

Sasaran dalam pelaksanaan kegiatan penanganan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan dikelompokkan menjadi penerapan pascapanen, pengolahan, pemasaran hasil perkebunan dan standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan

(36)

berkelanjutan. Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) untuk dukungan penanganan pengolahan dan pemasaran hasil tahun 2016 sebagai berikut :

Tabel 2. Sasaran dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Kegiatan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016

No Sasaran Indikator Kinerja Kegiatan Volume

1. Meningkatnya Penerapan Pascapanen dan Pengolahan komoditas perkebunan, pemasaran hasil perkebunan, penerapan standardisasi mutu dan pembinaan usaha perkebunan 1. Terfasilitasinya pengembangan pascapanen komoditas perkebunan 190 KT 2. Terfasilitasinya pengembangan pengolahan hasil perkebunan 58 unit 3. Terfasilitasinya pemasaran hasil perkebunan 197 Kegiatan 4. Terfasilitasinya penerapan

standar mutu 53 kegiatan 5. Terfasilitasinya

pembinaan usaha perkebunan

32 provinsi

6. Terfasilitasinya teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil

perkebunan

12 bulan

2.2.3. Perjanjian Kinerja

Dokumen Perjanjian Kinerja merupakan suatu dokumen pernyataan kinerja/kesepakatan kinerja/penetapan kinerja antara atasan dengan bawahan untuk mewujudkan suatu capaian kinerja pembangunan dari sumber daya yang tersedia melalui target kinerja serta indikator kinerja yang menggambarkan keberhasilan pencapaiannya berupa hasil (Outcome) dan keluaran (Output).

(37)

Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha ditetapkan pertama kali pada bulan Januari 2016. Dalam perjalanan waktu, Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha melakukan revisi Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada bulan April, Agustus dan Desember Tahun 2016, dikarenakan : (1) adanya perubahan nomenklatur Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha berubah menjadi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan; (2) adanya revisi anggaran (refocusing) dan blokir anggaran. Perjanjian Kinerja (PK) berdasarkan perubahan/revisi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 pada bulan Desember disajikan pada Tabel 3.

Pagu awal APBN Direktorat Pascapanen dan Pembinaa Usaha sebelum adanya perubahan nomenklatur adalah sebesar Rp. 141.358.899.000,-. Setelah perubahan nomenklatur pagu awal APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun Anggaran 2016 adalah sebesar Rp. 116.365.675.000,-. Setelah adanya penghematan, refocusing dan blokir pagu total APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan TA 2016 menjadi sebesar Rp. 74.964.414.000,-.

(38)

Tabel 3. Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016

PERJANJIAN KINERJA

DIREKTORAT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERKEBUNAN

Unit Kerja Eselon I : Direktorat Jenderal Perkebunan

Unit Kerja Eselon II : Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan

Tahun Anggaran : 2016

Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Target

(1) (2) (3) Terlaksananya pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan

1. Pengembangan pascapanen komoditas perkebunan

149 KT

2. Pengembangan pengolahan hasil perkebunan

43 Unit

3. Pembinaan usaha perkebunan 24 Prov 4. Pengembangan pemasaran hasil

perkebunan

137 Keg

5. Pembinaan penerapan standard an sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan

46 Keg

6. Fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan

12 bulan Kegiatan Dukungan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Anggaran Semula Rp. 84.447.734.000 Anggaran Blokir Rp. 9.483.320.000

Anggaran Non Blokir Rp. 74.964.414.000

Jakarta, Desember 2016 Direktur Jenderal Perkebunan Direktur Pengolahan dan Pemasaran

Hasil Perkebunan

(39)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. Pengukuran Kinerja

Setiap akhir Tahun Anggaran dan berakhirnya kegiatan, instansi harus melakukan Pengukuran Kinerja untuk mengetahui pencapaian target kinerja yang ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja. Pengukuran pencapaian target kinerja dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dan realisasi kinerja dengan menggunakan format Pengukuran Kinerja yang ditetapkan dalam Permen-PAN dan RB No.29 Tahun 2010 dan No.53 Tahun 2014.

Untuk mengukur keberhasilan kinerja sesuai kesepakatan di Lingkup Kementerian Pertanian ditetapkan 4 (empat) kategori keberhasilan yaitu:

1) Sangat berhasil (capaian > 100%); 2) Berhasil (capaian 80% - 100%);

3) Cukup berhasil (capaian 60% - 80%); dan

4) Kurang berhasil (capaian < 60%) dari target sasaran

Pengukuran kinerja capaian sasaran kegiatan (outputs) untuk kegiatan dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan dikelompokkan menjadi (1) Capaian sasaran nasional terhadap Penetapan Kinerja/Rencana Kinerja Tahun 2016 dan (2) Capaian sasaran Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

(40)

3.1.1. Pengukuran Kinerja terhadap Capaian Sasaran Nasional Perjanjian Kinerja/Rencana Kinerja Tahun 2016

Indikator kinerja kegiatan yang digunakan untuk pengukuran kinerja terhadap rencana kinerja tahunan nasional tahun 2016 adalah terfasilitasinya pengembangan pascapanen komoditas perkebunan dan pengolahan hasil perkebunan, serta pemasaran hasil perkebunan, terfasilitasinya pembinaan usaha perkebunan, penerapan standard an sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan dan fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. Capaian sasaran nasional terhadap Penetapan Kinerja/Rencana Kinerja Tahun 2016 disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Capaian Sasaran Nasional terhadap PK/RKT 2016

No Kegiatan

Target dan Capaian Realisasi Kinerja (%) Target PK/RKT 2016 Realisasi PK/RKT 2016 PK/RKT 2016

1 Pengembangan pascapanen komoditas

perkebunan (kelompok tani) 149 149 100,00

2 Pengembangan pengolahan hasil

perkebunan (unit) 44 43 97,73

3 Pembinaan Usaha Perkebunan

(provinsi) 24 24 100,00

4 Pengembangan pemasaran hasil

perkebunan (kegiatan) 137 131 95,62

5 Pembinaan penerapan standar dan sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan (kegiatan)

46 46 100,00

6 Fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan (bulan)

(41)

3.1.2. Pengukuran Kinerja terhadap Capaian Sasaran Kegiatan yang Dibiayai APBN

Pagu awal APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan TA 2016 adalah sebesar Rp. 116.365.675.000,-. Dalam perjalanan TA 2016 terjadi penghematan, refocusing, dan blokir anggaran sehingga total APBN Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan TA 2016 sebesar Rp. 74.964.414.000,-.

Capaian sasaran kegiatan yang dibiayai oleh APBN yaitu terdiri dari kegiatan daerah dan kegiatan pusat. Realisasi anggaran untuk kegiatan daerah sebesar Rp. 62.209.440.878,- atau mencapai 94,02 % dari total pagu anggaran sebesar Rp. 74.964.414.000,- dengan realisasi fisiknya mencapai 95,02 %. Sedangkan untuk realisasi anggaran untuk kegiatan pusat sebesar Rp. 7.778.282.948,- atau mencapai 88,38 % dari total pagu anggaran sebesar Rp. 8.800.744.000,- dengan realisasi fisik mencapai 91,29 %. Rincian capaian sasaran kegiatan yang dibiayai APBN Tahun 2016 disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Capaian sasaran Kegiatan yang dibiayai APBN Tahun 2016

No. Kegiatan Target Realisasi

OUTPUT/ FISIK (Rp.) (Rp.) (%) (%) Dukungan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan 74.964.414.000 69.987.723.826 93,36 95,02 DAERAH 66.163.670.000 62.209.440.878 94,02 95,51 1 Pegembangan Pascapanen Komoditas Perkebunan 25.423.515.000 24.274.472.000 95,48 96,61 2 Pengembangan 17.083.251.000 16.072.953.960 94,09 95,57

(42)

No. Kegiatan Target Realisasi OUTPUT/ FISIK (Rp.) (Rp.) (%) (%) Pengolahan Hasil Perkebunan 3 Pembinaan Usaha Perkebunan 1.723.336.000 1.543.642.937 89,57 92,18 4 Pengembangan Pemasaran Hasil Perkebunan 11.625.021.000 9.525.237.728 81,94 86,45 5 Pembinaan Penerapan Standar Dan Sistem Manajemen Mutu Keamanan Pangan Bagi Pelaku Usaha Perkebunan 4.198.583.000 3.603.600.600 85,83 89,37 PUSAT 8.800.744.000 7.778.282.948 88,38 91,29 1 Fasilitasi Teknis Dukungan Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Perkebunan 8.245.780.000 7.273.198.714 88,20 91,15 2 Layanan Perkantoran 554.964.000 505.084.234 91,01 93,26

Untuk mengetahui secara rinci capaian sasaran kegiatan yang dibiayai APBN Tahun 2016 disajikan pada Lampiran 4 dan 5.

3.1.3. Pengukuran Kinerja terhadap Capaian Sasaran Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan dalam rangka melaksanakan pembangunan perkebunan tahun 2016 mendapat alokasi dana untuk kegiatan di pusat sebesar Rp. 8.800.744.000,-.

(43)

Sasaran kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan di pusat yaitu Fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan serta Layanan Perkantoran.

Realisasi anggaran Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil

Perkebunan untuk sasaran kegiatan di pusat sebesar Rp. 7.778.282.948,- atau mencapai 88,38 % dari pagu anggaran sebesar

Rp. 8.800.744.000,- dengan realisasi fisiknya mencapai 91,29 %. Rincian capaian kinerja sasaran kegiatan (Outputs) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan untuk kegiatan di Pusat disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Realisasi Kegiatan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun Anggaran 2016

No Kegiatan

Anggaran Output

/Fisik (%) Pagu (Rp.000) Realisasi (Rp) (%)

Dukungan Pengolahan dan Pemasaran Hasil

Perkebunan

8.800.744.000 7.778.282.948 88,38 91,29

1 Fasilitasi Teknis Dukungan Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Perkebunan

8.245.780.000 7.273.198.714 88,20 91,15

Perencanaan Kegiatan Pascapanen dan Pembinaan Usaha Perkebunan

227.705.000 214.457.880 94,18 95,64 Pelaksanaan Pembinaan dan

Bimbingan Teknis Kegiatan Pascapanen dan Pembinaan Usaha

1.918.707.000 1.774.056.463 92,46 94,35 Pengolahan dan Pemasaran

Hasil Perkebunan 6.099.368.000 5.284.684.371 86,64 89,98 2 Layanan Perkantoran Pusat 554.964.000 505.084.234 91,01 93,26

Layanan Perkantoran Pusat Direktorat Pengolahan dan Pemsaran Hasil Perkebunan

(44)

3.1.4. Capaian Kinerja Tahun 2016 Terhadap Capaian Kinerja Tahun 2015

Capaian kinerja tahun 2016 apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2015 yaitu untuk jumlah kelompok tani yang menerapkan pascapanen sesuai GHP mengalami penurunan sebesar 35,57 % menjadi 64,43 %, hal ini dikarenakan adanya revisi POK, refocusing dan blokir anggaran yang berdampak juga pada jumlah kelompok tani yang diberikan bantuan pada setiap provinsi. Untuk perusahaan kelapa sawit yang layak mengajukan permohonan sertifikat ISPO mengalami peningkatan sebesar 4,52 % menjadi 104,52 %. Sedangkan untuk kegiatan penerapan standarisasi mutu, pengolahan hasil perkebunan dan pemasaran hasil perkebunan tidak dapat dibandingkan karena adanya perubahan nomenklatur Direktorat Pascapanen dan Pembinaan Usaha menjadi Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, dengan perubahan tersebut terjadi penambahan tupoksi pada Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yaitu pengolahan hasil perkebunan, pemasaran hasil perkebunan dan standardisasi mutu hasil perkebunan. Capaian kinerja tahun 2016 terhadap capaian kinerja tahun 2015 disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Capaian Kinerja Tahun 2016

No Kegiatan

Target dan Capaian Realisasi Kinerja (%) Realisasi 2015 Realisasi 2016 Realisasi 2015 1 Penanganan pascapanen sesuai GHP (KT) 298 192 64,43

2 Perusahaan kelapa sawit yang layak mengajukan permohonan sertifikat ISPO

(45)

3.2. Akuntabilitas Keuangan

Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 ditetapkan pertama kali pada bulan April 2016 dengan pagu anggaran sebesar Rp. 116.365.675.000,-. Dalam perjalanan waktu, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan melakukan revisi PK Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 pada bulan Agustus 2016 dikarenakan adanya revisi anggaran (refocusing) dan blokir anggaran sehingga jumlah pagu anggaran menjadi sebesar Rp. 74.964.414.000,- yang dialokasikan untuk kegiatan Pusat dan Daerah. Alokasi dana tersebut untuk mendukung kegiatan (1) Pengembangan Penanganan Pascapanen Komoditas Perkebunan; (2) Pengembangan Pengolahan Hasil Perkebunan; (3) Pembinaan Usaha Perkebunan; (4) Pengembangan Pemasaran Hasil Perkebunan; (5) Pembinaan Penerapan Standar dan Sistem Manajemen Mutu Keamanan Pangan Bagi Pelaku Usaha Perkebunan; (6) Fasilitasi Teknis Dukungan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

3.2.1. Akuntabilitas Terhadap Target Serapan

Realisasi serapan anggaran untuk kegiatan Dukungan Pengolahan dan

Pemasaran Hasil Perkebunan Perkebunan secara nasional sebesar Rp. 69.987.723.826,- atau (93,36%) dari pagu anggaran yang tersedia

dengan capaian fisik mencapai 95,02 %. Sedangkan untuk Dukungan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan ditingkat pusat serapan anggaran tahun 2016 sebesar Rp. 7.778.282.948,- atau (88,38%) dengan capaian fisik mencapai 91,29 %. Adapun rincian capaian masing-masing output dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5.

(46)

3.3. Permasalahan , Upaya Penyelesaian dan Rencana Aksi

Dalam mendukung keberhasilan pembangunan perkebunan yang terkait dengan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan maka terdapat permasalahan dan upaya penyelesaian serta rencana tindak lanjut yang dapat diuraikan sebagai berikut:

3.3.1. Permasalahan, Hambatan dan Kendala

Permasalahan yang mengakibatkan tidak tercapainya sasaran pembangunan perkebunan secara optimal pada tahun 2016 adalah sebagai berikut :

1. Masih banyaknya Revisi POK/DIPA yang diajukan;

2. Usulan revisi DIPA atau POK belum sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan terdapat pula usulan revisi yang disampaikan lebih dari satu kali dari bidang yang berbeda dalam satu Satker;

3. Lambatnya penetapan CP/CL oleh Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten yang membidangi perkebunan;

4. Terbatasnya panitia pengadaan barang/jasa di daerah dan beban tugas yang tidak seimbang;

5. Jadwal pelaksanaan kegiatan yang tidak mengikuti ROPAK;

6. Kurangnya dukungan pendanaan dari APBD provinsi dan kabupaten; 7. Sering terjadi mutasi pada dinas yang membidangi perkebunan

provinsi/kota yang berdampak pada keterlambatan pelaksanaan kegiatan;

8. Terjadinya revisi anggaran sebagai akibat dari penghematan untuk kegiatan integritas jagung;

9. Terlambatnya usulan proposal kegiatan dari daerah (provinsi dan kabupaten/kota);

(47)

10. Koordinasi provinsi dengan kabupaten dalam penentuan kegiatan kurang optimal;

11. Kurangnya transparansi dan sinergi antara KPA, PPK dan pelaksana kegiatan;

12. Petunjuk teknis seringkali tidak sampai ke tingkat lapangan (petugas dan petani);

13. Sistem informasi dan dokumentasi belum baik;

14. Perizinan dan tata ruang di provinsi maupun kabupaten belum berjalan baik;

15. Terbatasnya pendampingan kepada petani;

16. Implementasi teknologi belum sepenuhnya diterapkan dan belum tersosialisasi dengan baik;

17. Banyaknya permasalahan dalam perizinan usaha perkebunan yang harus ditangani dengan waktu yang terbatas;

18. Pengetahuan dan ketrampilan petani sebagian besar belum memadai;

19. Kurangnya fasilitas infrastruktur khususnya jalan produksi dan jalan usaha tani;

20. Koperasi petani belum berjalan dengan baik karena keterbatasan modal;

21. Monev dan pelaporan terlambat;

22. Kewajiban pembangunan kebun untuk masyarakat sekitar oleh perusahaan perkebunan yang memiliki IUP atau IUP-B seluas 20% dari total luas areal kebun belum semua dilaksanakan;

(48)

3.3.2. Upaya Penyelesaian

Upaya penyelesaian permasalahan yang dihadapi dalam rangka mempercepat pelaksanaan serapan anggaran dan pencapaian fisik yaitu sebagai berikut :

1. Penetapan CP/CL dilaksanakan sesuai jadwal yang direncanakan; 2. Percepatan proses pengadaan barang/jasa;

3. Percepatan proses revisi penggantian pejabat pengelolaan keuangan (KPA, PPK, Bendahara, dll);

4. Penerapan reward dan punishment.

5. Mempercepat penyampaian usulan kegiatan dari daerah (provinsi dan kabupaten/kota) melalui e-proposal;

6. Meningkatkan koordinasi provinsi dengan kabupaten dalam penentuan kegiatan;

7. Mempercepat proses revisi;

8. Mempersiapkan CP/CL dari tahun sebelumnya;

9. Dukungan pemerintah daerah dari sisi perencanaan, sinergitas, dan anggaran;

10. Evaluasi kinerja Satker per triwulan yang disampaikan kepada setiap Satker. Penilaian capaian kinerja yang meliputi realisasi keuangan dan fisik dimaksudkan untuk memotivasi Satker dalam mempercepat pelaksanaan pembangunan perkebunan dan mencapai target sebagaimana ditetapkan Menteri Pertanian;

11. Menugaskan petugas ke lapangan dalam rangka mengidentifikasi masalah keterlambatan pengadaan barang dan jasa serta mencari upaya penyelesaiannya;

12. Perlu diupayakan sharing APBD I dan II untuk mengalokasikan dana dalam rangka bimbingan teknis/pendampingan petani;

(49)

13. Mengambil langkah-langkah percepatan penyerapan keuangan; 14. Meningkatkan intensitas sosialisasi ISPO kepada stakeholder terkait; 15. Memerlukan kontrol dan komitmen pimpinan dalam pelaksanaan

kegiatan;

16. Mengintensifkan pengawalan dan pembinaan petugas pusat ke Satker daerah;

(50)

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan

Laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Tahun 2016 merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan tugas dan fungsi yang diemban pada tahun kedua periode pembangunan perkebunan tahun 2015-2019. Hal ini merupakan penjabaran dari penyelenggaraan program kerja Direktorat Jenderal Perkebunan yang dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) pembangunan perkebunan dan Renstra Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan tahun 2015-2019.

Kegiatan pembangunan perkebunan tahun 2015-2019 yang menjadi tanggung jawab Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan adalah Dukungan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yang dimaksudkan untuk mendukung program “Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Perkebunan Berkelanjutan”. Adapun fokus kegiatan Dukungan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan yaitu antara lain pengembangan pascapanen komoditas perkebunan, pengembangan pengolahan hasil perkebunan, pembinaan usaha perkebunan, pengembangan pemasaran hasil perkebunan, pembinaan penerapan standar dan sistem manajemen mutu keamanan pangan bagi pelaku usaha perkebunan, dan fasilitasi teknis dukungan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan.

Pagu awal APBN Direktorat Pascapanen dan Pembinaa Usaha sebelum adanya perubahan nomenklatur adalah sebesar Rp. 141.358.899.000,-. Setelah perubahan nomenklatur pagu awal APBN Direktorat Pengolahan

Gambar

Tabel 2.  Sasaran  dan  Indikator  Kinerja  Kegiatan  (IKK)  Kegiatan Penanganan Pengolahan dan Pemasaran  Hasil Perkebunan Tahun 2016
Tabel 1. Proyeksi Makro Pembangunan Perkebunan Tahun 2015 – 2019
Tabel  2.  Sasaran  dan  Indikator  Kinerja  Kegiatan  (IKK)  Kegiatan  Penanganan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan  Tahun 2016
Tabel 3. Perjanjian Kinerja (PK) Direktorat Pengolahan dan Pemasaran  Hasil Perkebunan Tahun 2016
+5

Referensi

Dokumen terkait

punggung pemilik rumah makan itu.. Dia hanya bermaksud mengujl orang tua tersebut Tenaga yang digunakannya tentu saja tidak seberapa besar, namun gerakannya cepat sekali. Siapa

Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah

Pada item pertanyaan 10, 48,6% responden menyatakan setuju bahwa BMT telah membuat pedoman operasional untuk memudahkan Pelaksanaan dalam penggunaan dana

 Akhir fase demam merupakan fase kritis, anak terlihat seakan sehat, hati-hati karena fase tersebut dapat sebagai awal kejadian syok. Hari ke 3-7 adalah fase

Ketentuan dalam Undang Undang Perlindungan Varietas Tanaman masih sangat terbatas dalam memberikan perlindungan hukum terhadap hak petani (farmer’s rights), dan belum

bentuk lain peran serta masyarakat adalah semua jenis institusi, lembaga atau kelompok kegiatan masyarakat yang mempunyai aktifitas dibidang kesehatan. Beberapa contohnya

Seorang pendidik harus mampu merancang suatu aktivitas pembelajaran yang membuat kegiatan berpikir itu menjadi mudah dan menarik bagi siswa.. Kegiatan pembelajaran yang

Maka anak laki-laki tertua dari keturunan tertua mempunyai kedudukan sebagai pemimpin (tuwe) yang bertindak memimpin dan bertanggung jawab mengatur anggota