• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi 6s Di Perusahaan Cahaya Abadi Sukoharjo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Implementasi 6s Di Perusahaan Cahaya Abadi Sukoharjo"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

98

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai

berikut:

a. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, Perusahaan Cahaya Abadi

belum menerapkan 6S secara optimal, hal ini terlihat dari beberapa hal

diantaranya pada faktor kebersihan perusahaan yang kurang dijaga , belum

adanya tempat penyimpanan bahan-bahan dan peralatan yang tetap di

Perusahaan Cahaya Abadi yang mengakibatkan terjadinya pemborosan

waktu proses pembuatan abon dan kebiasaan kerja dari pekerja di

Perusahaan yang masih tidak sesuai dengan standar kerja perusahaan.

b. Nilai rata-rata penilaian audit checklist 6S sebelum implementasi 6S sebesar

1,5 dengan rincian kegiatan sort dengan nilai 1,5, set in order dengan nilai 1,

shine dengan nilai 1,3, standardize dengan nilai 1,3, sustain dengan nilai 1,5

dan safety dengan nilai 2,5.

c. Berdasarkan audit checklist 6S yang dilakukan di Perusahaan Cahaya Abadi

menunjukkan bahwa pada setiap pilar kegiatan 6S mulai dari pilar

sort,pilar

set in order, pilar shine, pilar standardize, pilar sustain, dan pilar safety masih

terdapat 17 kegiatan yang nilainya masih dibawah batas minimal yang dapat

diterima atau minimum acceptable level yaitu berada pada angka 3 sehingga

perlu dilakukan perbaikan atau implementasi 6S untuk kegiatan

–kegiatan

dengan nilai dibawah 3 tersebut.

d. Nilai rata-rata penilaian audit

checklist 6S setelah implementasi 6S

mengalami kenaikkan sebesar 1,6 dari 1.5 menjadi 3,1 dengan rincian

kegiatan

sort sebesar 3,0,

set in order sebesar 3,0,

shine sebesar 3,1,

standardize sebesar 3,1, sustain sebesar 3,1, dan safety sebesar 3,0.

e. Penurunan rata-rata waktu proses pembuatan abon sebelum dan setelah

implementasi 6S adalah sebesar 14.44%

(2)

99

6.2. Saran

Penulis memberikan saran kepada Perusahaan Cahaya Abadi untuk secara rutin

melakukan penilaian audit

checklist 6S di perusahaan, yang bertujuan untuk

melakukan kontrol dan untuk mengetahui sejauh mana penerapan 6S di

Perusahaan Cahaya Abadi, sehingga dapat segera dilakukan implementasi

perbaikan apabila hasil dari audit

checklist 6S berada di bawah nilai

minimum

acceptable level.

Penulis juga memberikan saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu dengan

membuat standar dan prosedur kerja yang jelas dan sistematis, sehingga dapat

diketahui rata-rata lama waktu dari setiap proses kerja dan terdapat alur proses

kerja yang runtut dan jelas. Penulis juga memberikan saran untuk melakukan

perhitungan efisiensi dari penggunaan mesin, sehingga dapat diketahui

seberapa besar pengaruh dari penggunaan mesin tersebut, terhadap waktu

proses dan produktivitas di perusahaan.

(3)

100

DAFTAR PUSAKA

Agustinus, A. (2015). Implementasi 6S untuk Memperbaiki Waktu Proses

Pembuatan Donat di Vitania Donat Salatiga. Yogyakarta: Universitas

Atma Jaya Yogyakarta.

Badan

Standardisasi

Nasional,

2005,

Standar

Nasional

Indonesia

ICS

13.020.sni_19_19011_2005_auditmutu.

Imai, M. (2001). Kaizen (Ky'zen) : Kunci sukses Jepang dalam persaingan.

Cetakan kelima, PPM, Jakarta.

MacAdam, T. Blank Daftar Periksa Audit 6S. Retrieved from

http://www.leadingedgegroup.com/assets/uploads/6s__auditchecklist.xls

di akses 4 Januari 2017.

Osada, T. (2000). Sikap Kerja 5S . Jakarta: PPM.

Rimawan, E., & Sutowo, E. (2011). Analisa Penerapan 5S + Safety pada Area

Warehouse di PT. Multifilling Mitra Indonesia.

Jurnal Ilmiah PASTI

Voulme VI Edisi 1 - ISSN 2085-5869, 41-49.

Setiono, D. (2008). Perancangan dan Implementasi 5S di PT. Ekasapta

Hidupmaju.

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,

Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Sitompul, Z. (2015). Pengukuran Nilai Efisiensi Penerapan 5S Pada IKM Logam

Alumunium. (Skripsi), Program Studi Teknik Industri, Fakultas Sains dan

Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Syukur, A. (2010). 5R, ISO 9001:2008 dan POKA YOKE. Yogyakarta: Kata

Buku.

Yunita, S. (2007). Perancangan dan implementasi 5s di Biro X Universitas Y.

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas

Kristen Petra, Surabaya.

Tanson, V. (2011).

Implementasi 6S di CV. Pandanus Internusa. Yogyakarta:

Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

(4)

101

Wahyudin, Septian. (2012).

Proposal Analisis Pengaruh Kebijakan Pemerintah

Mengenai Tingkat Suku Bunga, Inflasi, Nilai Tukar, Jumlah Uang

Beredar, dan Volume Perdagangan Terhadap Harga Saham Sektor

Perbankan.

Skripsi Program S-1 Program Studi Analisis Efek. Sekolah

Tinggi Ilmu Ekonomi Bussiness Indonesia. Jakarta.

(5)

Lampiran 1

6S AUDIT

CHECKLIST

SEBELUM IMPLEMENTASI

AREA: Pembuatan abon sapi DATE: 20 Maret 2017 - 21 Maret

2017

SORT SET IN SHINE STANDARDIZE SUSTAIN SAFETY TOTAL

ORDER

Total Nilai 6 4 8

5 3 23 49

# Pertanyaan 4 4 6

4 2 9 29

Rata-rata Nilai 1.5 1 1.3

1.3 1.5 2.5 1.5

Pedoman Pemberian Nilai

0 1 2 3 3.5 (4) 4.5 (5)

ZERO SLIGHT EFFORT MODERATE MINIMUM ABOVE AVERAGE OUTSTANDING

EFFORT EFFORT ACCEPTABLE RESULTS (3 RESULTS (6

LEVEL AUDITS) AUDITS)

Deskripsi Kegiatan Sort SCORE

1) Hanya bahan yang diperlukan atau produk yang sedang dikerjakan saja yang ada di area kerja. Benda/ bahan 0

yang tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

2) Hanya peralatan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. Alat yang tidak diperlukan untuk membuat

0

produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

3) Hanya dokumen atau catatan yang diperlukan saja yang berada di area kerja. Dokumen atau catatan yang N/A

tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

4) Hanya perlengkapan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. Perlengkapan yang sudah rusak, yang 3

tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

5) Hanya perabotan / fasilitas yang diperlukan saja yang berada di area kerja. Kursi, tempat penyimpanan, dan

3 lainya yang sudah rusak, yang tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

Deskripsi Kegiatan Set In Order SCORE

6) Penempatan kontainer, kotak, keranjang, bahan, produk setangah jadi, dan lainnya ditandai dengan garis cat 0

dan berlabel (nomor bagian, jumlah, dan lain-lain)

7) Peralatan diletakkan di tempat yang mudah di jangkau oleh pekerja tanpa harus mencari. Tempat 1

penyimpanan ini diberi label sehingga mudah untuk diidentifikasi jika tidak berada ditempat.

8) Penempatan dokumen diberi label dan dijaga kebersihannya serta penempatan label dapat dilihat oleh pekerja. N/A

9) Perlengkapan diberi label dengan jelas (nomor, nama, kode warna, dan lain-lain) dan diletakkan di tempat 0

yang tepat. Perlengkapan yang perlu perawatan ditandai dengan jelas.

10) Perabotan / fasilitas diberi label dengan jelas (nomor, nama, kode warna, dan lain-lain) dan diletakkan di 3

tempat kerja yang tepat.

Deskripsi Kegiatan Shine SCORE

11) Kontainer, kotak, keranjang, dan benda lainnya dalam keadaan bersih, tidak retak, robek, atau rusak. 0

Peletakannya tersusun rapi.

12) Peralatan disimpan dengan rapi dan teratur sehingga tetap bersih dan bebas dari resiko kerusakaan. 1

13) Dokumen tidak robek, dijaga kebersihannya, dan dilindungi dari kotoran. N/A

14) Mesin, kursi, dan perlengkapan lainnya dalam keadaaan bersih dan dicat. 3

15) Lantai bebas dari kotoran, sampah, minyak, kotak kemasan bahan, sisa material, dan lainnya yang tidak 2

diperlukan.

16) Dinding, partisi, pembatas area kerja, dan lain-lain di cat dan selalu bersih. 0

17) Ada jadwal piket yang menunjukkan waktu, jumlah, dan tanggung jawab untuk membersihkan area kerja. N/A

18) Semua perlengkapan kebersihan disimpan rapi disuatu tempat tertentu dan selalu tersedia saat diperlukan. 2

Deskripsi Kegiatan Standardize SCORE

19) Peralatan, perlengkapan, dokumen, perabotan, dan lainnya disimpan rapi ditempat yang telah ditentukan dan 0

dikembalikan langsung setelah digunakan

20) Dokumen / catatan untuk kontrol dan perbaikan berisi tanggal dan nomor perbaikan yang jelas. 0

21) Pada catatan pemeriksaan dan pemeliharaan perlengkapan dapat dilihat dengan jelas kapan pemeriksaan N/A

terakhir dilakukan dan kapan jadwal pemeriksaan berikutnya.

22) Limbah produk (misalnya serutan, potongan karton, sisa bahan, air pewarna, dan lain-lain) selalu dibersihkan 2

dengan dikeluarkan dari area kerja.

23) Langkah-langkah pencegahan dilakukan untuk memastikan area kerja mengikuti pedoman 6S. Ada tempat 3

untuk mengumpulkan sisa produk.

24) Hasil audit sebelumnya dipasang sehingga dapat dilihat oleh semua pekerja. N/A

25) Area kerja yang memerlukan perbaikan pada audit sebelumnya telah diperbaiki. N/A

(6)

Lampiran 1. Lanjutan

Deskripsi Kegiatan Sustain SCORE

26) Seorang manajemen atau pengawas telah ikut serta dalam kegiatan 6S seperti audit atau aktivitas lainnya N/A

sebanyak 3 kali.

27) Memberikan penghargaan kepada pekerja yang ikut serta dalam kegiatan 6S. N/A

28) Waktu dan sumber daya yang dialokasikan untuk kegiatan 6S (misalnya waktu pembersihan harian / 2

mingguan, pemimpin tim 6S).

29) Semua pekerja, pemimpin tim, dan pengawas mengerjakan kegiatan 6S minimal sekali / minggu 1

30) Tim mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan tempat kerja yang tidak teridentifikasi selama audit 6S N/A

terakhir.

Deskripsi Kegiatan Safety SCORE

31) Area kerja yang memerlukan alat pelindung diri diberi label secara jelas. 3

32) Semua perlengkapan pelindung diri dirawat dan dijaga agar tetap bersih dan dalam kondisi baik serta disimpan 3

di tempat yang mudah dijangkau dan diberi label ketika digunakan.

33) Selang dan alat pemadam kebakaran serta peralatan darurat lainnya diletakkan di tempat yang terlihat dan

1

tidak terhalang oleh benda lain.

34) Perlengkapan keamaan teridentifikasi dengan jelas, dicat dan dijaga dalam kondisi baik sehingga dapat N/A

bekerja sesuai fungsinya.

35) Saklar dan tombol berhenti berada di tempat kerja yang terlihat dan mudah dijangkau dalam keadaan darurat. 3 36) Kabel listrik dan lainnya yang dapat menyebabkan bahaya tersandung disingkirkan dari tempat yang dilewati 1

orang.

37) Kondisi kerja sesuai dengan posisi ergonomi. Peralatan disimpan pada ketinggian yang tepat, alat bantu 3

angkat disediakan jika diperlukan.

38) Lingkungan kerja memenuhi persyaratan dari segi pencahayaan (kecerahan dan warna), kualitas udara,

3

temperatur, dan lainnya.

39) Tata letak area kerja terakomodasi sehingga mudah untuk menyelamatkan diri pada saat keadaaan darurat. 3

40) Jalan untuk dilewati bersih dan tidak terhalang apapun. Pintu keluar diberi label yang jelas dan tidak terhalang, 3

6S Scoring Guidelines

SCORE

CATEGORY DESCRIPTION

0

Zero Effort Tidak ada kegiatan 6S diarea kerja yang terkait dengan kriteria tersebut

1 Slight Effort Upaya 6S hanya dikerjakan oleh 1-2 orang. Tidak ada upaya terorganisir dan

kesempatan untuk melakukan perbaikan.

2 Moderate Effort Beberapa upaya telah dilakukan untuk menerapkan 6S, tetapi upaya ini bersifat

sementara.

3 Minimum Acceptable Level Seluruh pekerja berupaya untuk meningkatkan pelaksanaan 6S. Perkembangan

sebelumnya menjadi pedoman.

3.5

Above Average Results Penerapan 6S di area kerja sangat baik, namun masih ada beberapa perbaikan

yang harus dilakukan.

4 Sustained Above Average Setiap 3 kali berturut-turut mendapat nilai 3.5, maka nilai 4 dapat diberikan. Results (3 audits)

4.5 Outstanding Results Penerapan 6S telah sepenuhnya dijalankan di seluruh area kerja dan mengikuti

standar yang berlaku. 6S telah menjadi budaya atau kebiasaan di area kerja.

5 Sustained Outstanding Setelah 6 kali berturut-turut mendapat nilai 4.5 maka nilai 5 dapat diberikan

Results (6 audits)

AREAS FOR IMPROVEMENT

Sort (1,2,)

Set In Order (6,7,9)

Shine (11,12,15,16,18)

Standardize (19,20,22)

Sustain (28,29)

Safety (33,36)

103

(7)

Lampiran 2

6S AUDIT

CHECKLIST

SETELAH IMPLEMENTASI

AREA: Pembuatan Abon Sapi DATE: 29 Mei 2017 – 30 Mei

2017

SORT SET IN SHINE STANDARDIZE SUSTAIN SAFETY TOTAL

ORDER

Total Nilai 12 12 22

22 15.5 27

110.5

# Pertanyaan 4 4 7

7 5 9

36

Rata-rata Nilai 3.0 3.0 3.1

3.1 3.1 3.0

3.1

Pedoman Pemberian Nilai

0 1 2 3 3.5 (4) 4.5 (5)

ZERO SLIGHT EFFORT MODERATE MINIMUM ABOVE AVERAGE OUTSTANDING

EFFORT EFFORT ACCEPTABLE RESULTS (3 RESULTS (6

LEVEL AUDITS) AUDITS)

Deskripsi Kegiatan Sort SCORE

1) Hanya bahan yang diperlukan atau produk yang sedang dikerjakan saja yang ada di area kerja. Benda/ bahan 3

yang tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

2) Hanya peralatan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. Alat yang tidak diperlukan untuk membuat

3

produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

3) Hanya dokumen atau catatan yang diperlukan saja yang berada di area kerja. Dokumen atau catatan yang N/A

tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

4) Hanya perlengkapan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. Perlengkapan yang sudah rusak, yang

3

tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

5) Hanya perabotan / fasilitas yang diperlukan saja yang berada di area kerja. Kursi, tempat penyimpanan, dan

3 lainya yang sudah rusak, yang tidak diperlukan untuk membuat produk saat ini dikeluarkan dari area kerja.

Deskripsi Kegiatan Set In Order SCORE

6) Penempatan kontainer, kotak, keranjang, bahan, produk setangah jadi, dan lainnya ditandai dengan garis cat 3

dan berlabel (nomor bagian, jumlah, dan lain-lain)

7) Peralatan diletakkan di tempat yang mudah di jangkau oleh pekerja tanpa harus mencari. Tempat 3

penyimpanan ini diberi label sehingga mudah untuk diidentifikasi jika tidak berada ditempat.

8) Penempatan dokumen diberi label dan dijaga kebersihannya serta penempatan label dapat dilihat oleh pekerja. N/A

9) Perlengkapan diberi label dengan jelas (nomor, nama, kode warna, dan lain-lain) dan diletakkan di tempat 3

yang tepat. Perlengkapan yang perlu perawatan ditandai dengan jelas.

10) Perabotan / fasilitas diberi label dengan jelas (nomor, nama, kode warna, dan lain-lain) dan diletakkan di 3

tempat kerja yang tepat.

Deskripsi Kegiatan Shine SCORE

11) Kontainer, kotak, keranjang, dan benda lainnya dalam keadaan bersih, tidak retak, robek, atau rusak. 3

Peletakannya tersusun rapi.

12) Peralatan disimpan dengan rapi dan teratur sehingga tetap bersih dan bebas dari resiko kerusakaan. 3

13) Dokumen tidak robek, dijaga kebersihannya, dan dilindungi dari kotoran. N/A

14) Mesin, kursi, dan perlengkapan lainnya dalam keadaaan bersih dan dicat. 3

15) Lantai bebas dari kotoran, sampah, minyak, kotak kemasan bahan, sisa material, dan lainnya yang tidak

3.5

diperlukan.

16) Dinding, partisi, pembatas area kerja, dan lain-lain di cat dan selalu bersih. 3

17) Ada jadwal piket yang menunjukkan waktu, jumlah, dan tanggung jawab untuk membersihkan area kerja. 3

18) Semua perlengkapan kebersihan disimpan rapi disuatu tempat tertentu dan selalu tersedia saat diperlukan. 3.5

Deskripsi Kegiatan Standardize SCORE

19) Peralatan, perlengkapan, dokumen, perabotan, dan lainnya disimpan rapi ditempat yang telah ditentukan dan 3.5

dikembalikan langsung setelah digunakan

20) Dokumen / catatan untuk kontrol dan perbaikan berisi tanggal dan nomor perbaikan yang jelas. 3

21) Pada catatan pemeriksaan dan pemeliharaan perlengkapan dapat dilihat dengan jelas kapan pemeriksaan 3

terakhir dilakukan dan kapan jadwal pemeriksaan berikutnya.

22) Limbah produk (misalnya serutan, potongan karton, sisa bahan, air pewarna, dan lain-lain) selalu dibersihkan 3.5

dengan dikeluarkan dari area kerja.

23) Langkah-langkah pencegahan dilakukan untuk memastikan area kerja mengikuti pedoman 6S. Ada tempat

3

untuk mengumpulkan sisa produk.

24) Hasil audit sebelumnya dipasang sehingga dapat dilihat oleh semua pekerja. 3

25) Area kerja yang memerlukan perbaikan pada audit sebelumnya telah diperbaiki. 3

(8)

Lampiran 2. Lanjutan

Deskripsi Kegiatan Sustain SCORE

26) Seorang manajemen atau pengawas telah ikut serta dalam kegiatan 6S seperti audit atau aktivitas lainnya 3

sebanyak 3 kali.

27) Memberikan penghargaan kepada pekerja yang ikut serta dalam kegiatan 6S. 3

28) Waktu dan sumber daya yang dialokasikan untuk kegiatan 6S (misalnya waktu pembersihan harian / 3.5

mingguan, pemimpin tim 6S).

29) Semua pekerja, pemimpin tim, dan pengawas mengerjakan kegiatan 6S minimal sekali / minggu 3

30) Tim mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan tempat kerja yang tidak teridentifikasi selama audit 6S 3

terakhir.

Deskripsi Kegiatan Safety SCORE

31) Area kerja yang memerlukan alat pelindung diri diberi label secara jelas. 3

32) Semua perlengkapan pelindung diri dirawat dan dijaga agar tetap bersih dan dalam kondisi baik serta disimpan 3

di tempat yang mudah dijangkau dan diberi label ketika digunakan.

33) Selang dan alat pemadam kebakaran serta peralatan darurat lainnya diletakkan di tempat yang terlihat dan

3

tidak terhalang oleh benda lain.

34) Perlengkapan keamaan teridentifikasi dengan jelas, dicat dan dijaga dalam kondisi baik sehingga dapat N/A

bekerja sesuai fungsinya.

35) Saklar dan tombol berhenti berada di tempat kerja yang terlihat dan mudah dijangkau dalam keadaan darurat. 3 36) Kabel listrik dan lainnya yang dapat menyebabkan bahaya tersandung disingkirkan dari tempat yang dilewati

3

orang.

37) Kondisi kerja sesuai dengan posisi ergonomi. Peralatan disimpan pada ketinggian yang tepat, alat bantu 3

angkat disediakan jika diperlukan.

38) Lingkungan kerja memenuhi persyaratan dari segi pencahayaan (kecerahan dan warna), kualitas udara,

3

temperatur, dan lainnya.

39) Tata letak area kerja terakomodasi sehingga mudah untuk menyelamatkan diri pada saat keadaaan darurat. 3

40) Jalan untuk dilewati bersih dan tidak terhalang apapun. Pintu keluar diberi label yang jelas dan tidak terhalang, 3

6S Scoring Guidelines

SCORE

CATEGORY DESCRIPTION

0

Zero Effort Tidak ada kegiatan 6S diarea kerja yang terkait dengan kriteria tersebut

1 Slight Effort Upaya 6S hanya dikerjakan oleh 1-2 orang. Tidak ada upaya terorganisir dan

kesempatan untuk melakukan perbaikan.

2 Moderate Effort Beberapa upaya telah dilakukan untuk menerapkan 6S, tetapi upaya ini bersifat

sementara.

3 Minimum Acceptable Level Seluruh pekerja berupaya untuk meningkatkan pelaksanaan 6S. Perkembangan

sebelumnya menjadi pedoman.

3.5

Above Average Results Penerapan 6S di area kerja sangat baik, namun masih ada beberapa perbaikan

yang harus dilakukan.

4 Sustained Above Average Setiap 3 kali berturut-turut mendapat nilai 3.5, maka nilai 4 dapat diberikan. Results (3 audits)

4.5 Outstanding Results Penerapan 6S telah sepenuhnya dijalankan di seluruh area kerja dan mengikuti

standar yang berlaku. 6S telah menjadi budaya atau kebiasaan di area kerja.

5 Sustained Outstanding Setelah 6 kali berturut-turut mendapat nilai 4.5 maka nilai 5 dapat diberikan

Results (6 audits)

AREAS FOR IMPROVEMENT

105

(9)

106

Lampiran 3. Lembar Audit 6S

LEMBAR AUDIT 6S

Perusahaan Cahaya Abadi

No.Audit : 1

Tanggal : 8 April 2017 Auditor : Adit

No Kegiatan Sort S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Bahan yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

2 Peralatan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

3 Perlengkapan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

4 Perabotan/fasilitas yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

No Kegiatan Set In Order S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Penempatan kotak dan bahan ditandai dengan label. V

2 Peralatan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh pekerja. V

3 Perlengkapan diletakkan di tempat yang tepat V

4 Perabotan/fasilitas diletakkan di tempat kerja yang tepat. V

No Kegiatan Shine S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Kotak dalam kondisi bersih, tidak retak, atau rusak. Peletakkanya

tersusun rapi. V

Terdapat dua kotak yang kondisinya rusak atau pecah.

Mengganti kotak yang rusak tersebut dengan kotak yang baru.

2 Peralatan disimpan dengan rapi dan teratur sehingga tetap bersih V Timbangan masih terdapat sisa gula 5 menit 6S dan poster

3 Meja, kursi, dan perlengkapan lainnya dalam keadaan bersih V

4 Lantai bebas dari kotoran, sampah, minyak, dan kotoran lainnya. V Lantai kondisinya masih berminyak 5 menit 6S dan poster

5 Dinding, partisi, pembatas area kerja, dan lain-lain selalu bersih. V

6 Semua perlengkapan kebersihan disimpan rapi dan selalu tersedia saat V diperlukan.

Keterangan : S : Sesuai TS : Tidak Sesuai

(10)

107

Lampiran 4. Lembar Audit 6S

LEMBAR AUDIT 6S

Perusahaan Cahaya Abadi

No.Audit : 2

Tanggal : 15 April 2017 Auditor : Adit

No Kegiatan Sort S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Bahan yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

2 Peralatan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

3 Perlengkapan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

4 Perabotan/fasilitas yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

No Kegiatan Set In Order S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Penempatan kotak dan bahan ditandai dengan label. V

2 Peralatan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh pekerja. V

3 Perlengkapan diletakkan di tempat yang tepat V

4 Perabotan/fasilitas diletakkan di tempat kerja yang tepat. V

No Kegiatan Shine S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Kotak dalam kondisi bersih, tidak retak, atau rusak. Peletakkanya

tersusun rapi. V

2 Peralatan disimpan dengan rapi dan teratur sehingga tetap bersih V

3 Meja, kursi, dan perlengkapan lainnya dalam keadaan bersih V

4 Lantai bebas dari kotoran, sampah, minyak, dan kotoran lainnya. V

5 Dinding, partisi, pembatas area kerja, dan lain-lain selalu bersih. V

6 Semua perlengkapan kebersihan disimpan rapi dan selalu tersedia saat V

Sapu yang telah selesai digunakan tidak langsung dikembalikan ke tempat semula.

Menegur dan melakukan 5menit 6S diperlukan. Keterangan : S : Sesuai TS : Tidak Sesuai Auditee Auditor

(11)

108

Lampiran 5. Lembar Audit 6S

LEMBAR AUDIT 6S

Perusahaan Cahaya Abadi

No.Audit : 3

Tanggal : 22 April 2017 Auditor : Adit

No Kegiatan Sort S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Bahan yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

2 Peralatan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

3 Perlengkapan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

4 Perabotan/fasilitas yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

No Kegiatan Set In Order S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Penempatan kotak dan bahan ditandai dengan label. V

2 Peralatan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh pekerja. V

3 Perlengkapan diletakkan di tempat yang tepat V

4 Perabotan/fasilitas diletakkan di tempat kerja yang tepat. V

No Kegiatan Shine S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Kotak dalam kondisi bersih, tidak retak, atau rusak. Peletakkanya

tersusun rapi. V

2 Peralatan disimpan dengan rapi dan teratur sehingga tetap bersih V

3 Meja, kursi, dan perlengkapan lainnya dalam keadaan bersih V

4 Lantai bebas dari kotoran, sampah, minyak, dan kotoran lainnya. V

5 Dinding, partisi, pembatas area kerja, dan lain-lain selalu bersih. V

6 Semua perlengkapan kebersihan disimpan rapi dan selalu tersedia saat V diperlukan.

Keterangan : S : Sesuai TS : Tidak Sesuai

(12)

109

Lampiran 6. Lembar Audit 6S

LEMBAR AUDIT 6S

Perusahaan Cahaya Abadi

No.Audit : 4

Tanggal : 29 April 2017 Auditor : Adit

No Kegiatan Sort S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Bahan yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

2 Peralatan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

3 Perlengkapan yang dibutuhkan saja yang berada di area kerja. V

4 Perabotan/fasilitas yang diperlukan saja yang berada di area kerja. V

No Kegiatan Set In Order S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Penempatan kotak dan bahan ditandai dengan label. V

2 Peralatan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh pekerja. V

3 Perlengkapan diletakkan di tempat yang tepat V

4 Perabotan/fasilitas diletakkan di tempat kerja yang tepat. V

No Kegiatan Shine S TS Keterangan Tindak Lanjut

1 Kotak dalam kondisi bersih, tidak retak, atau rusak. Peletakkanya

tersusun rapi. V

2 Peralatan disimpan dengan rapi dan teratur sehingga tetap bersih V

3 Meja, kursi, dan perlengkapan lainnya dalam keadaan bersih V

4 Lantai bebas dari kotoran, sampah, minyak, dan kotoran lainnya. V

5 Dinding, partisi, pembatas area kerja, dan lain-lain selalu bersih. V

6 Semua perlengkapan kebersihan disimpan rapi dan selalu tersedia saat V diperlukan.

Keterangan : S : Sesuai TS : Tidak Sesuai

(13)

110

Lampiran 7. Data Waktu Proses Sebelum Implementasi

NO

AREA / DEPARTEMEN

PROSES

WAKTU PROSES SEBELUM

IMPLEMENTASI

(detik)

Hari-1

1

Area Perebusan dan Penggorengan Perebusan koro , Santan

dan daging sapi

9124 detik

2

Area Penggilingan Koro dan

Pencampuran Daging

Penggilingan koro dengan

mesin penggiling koro

1267.4 detik

3

Area Pencampuran Bahan Baku

Pencampuran koro yang

sudah

selesai

digiling

dengan santan bawang, gula

dan garam

844.3 detik

4

Area Pencampuran Bahan Baku

Penggilingan campuran

dengan menggunakan mesin

mixing

1682 detik

5

Area Penggilingan Koro dan

Pencampuran Daging

Pencampuran hasil adonan

dengan daging yang sudah

matang

1628.4 detik

6

Area Perebusan dan Penggorengan Penggorengan adonan

912.3 detik

7

Area Penirisan Minyak dan

Pendinginan Abon

Penirisan minyak dengan

mesin press

3252.1 detik

8

Area Penirisan Minyak dan

Pendinginan Abon

Pencacahan abon

670.5 detik

9

Area Penirisan Minyak dan

Pendinginan Abon

Pendinginan abon

3858 detik

10

Area Packing

Packing

540 detik

(14)

111

Lampiran 8. Data Waktu Proses Setelah Implementasi

NO AREA / DEPARTEMEN PROSES WAKTU PROSES SETELAH

IMPLEMENTASI (detik) Hari-1

1 Area Perebusan dan Penggorengan Perebusan koro , santan , dan

daging sapi

9121 detik

2 Area Penggilingan Koro dan

Pencampuran Daging

Penggilingan koro dengan mesin penggiling koro

1254.6 detik

3 Area Pencampuran Bahan Baku Pencampuran koro yang sudah

selesai digiling dengan santan bawang, gula dan garam

826.9 detik

4 Area Pencampuran Bahan Baku Penggilingan campuran dengan

menggunakan mesin mixing

1724 detik

5 Area Penggilingan Koro dan

Pencampuran Daging

Pencampuran hasil adonan dengan daging yang sudah matang

1624.3 detik

6 Area Perebusan dan Penggorengan Penggorengan adonan 912.3 detik

7 Area Penirisan Minyak dan

Pendinginan Abon

Penirisan minyak dengan mesin spinner

2746 detik

8 Area Penirisan Minyak dan

Pendinginan Abon

Pencacahan abon 679.4 detik

9 Area Penirisan Minyak dan

Pendinginan Abon

Pendinginan abon 923.5 detik

10 Area Packing Packing 540 detik

(15)

112

(16)

113

(17)

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,