PENYANGKALAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM DI INDONESIA (Studi Kasus Penetapan Pengadilan Agama Surabaya Nomor 0792/Pdt.G/2014/PA.Sby)
Teks penuh
Dokumen terkait
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa apabila ditinjau melalui UU Perkawinan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VIII/2012, maka
“Interpretasi Hakim Tentang Anak di Luar Kawin Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tentang Pengujian UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Studi
Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 46/PUU- VIII/2010 dalam amar putusannya menegaskan bahwa Pasal 43 ayat (2) Undang- Undang Perkawinan yang berbunyi
Putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VIII/2010 terhadap Pasal 43 ayat (1) tentang Perkawinan selanjutnya disebut (Undang-Undang Perkawinan), dikabulkan karena hubungan
“Interpretasi Hakim Tentang Anak di Luar Kawin Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tentang Pengujian UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Studi
tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan) mengatur kedudukan anak luar kawin dalam Pasal 43 (1) yang kemudian oleh Mahkamah Konstitusi (selanjutnya
Perubahan status anak di luar nikah muncul ketika Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010, dengan amar putusan sebagai berikut: Pasal 43 ayat 1 Undang-Undang
Status hukum perlindungan anak di luar nikah dalam Hukum Islam dan Hukum Positif Dalam Hukum Positif telah diatur peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang menyatakan