• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polemik Manusia Perdana Antara Islam dan Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Polemik Manusia Perdana Antara Islam dan Barat"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis: Jurnal Studi Keislaman P-ISSN2088-9046, E-ISSN 2502-3969

http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/analisis DOI: http://dx.doi.org/10.24042/ajsk.v19i1.3369 Volume 19. No. 1, Juli 2019, h. 129-154

Polemik Manusia Perdana Antara Islam dan Barat

Moh. Rosyid

Institut Agama Islam Negeri Kudus

[email protected]

Abstrak: Al Quran as a source of Muslim inspiration has not been exhumed

for the benefit of life. It makes no difference to explore the polemic about early humans when juxtaposed with Western concepts that Charles Darwin revealed in the Theory of Evolution in 1859. The Qur'an does not provide complete data that Adam was the first human being on earth, predicted there were three previous people before Adam, namely Banul Jan, Banul Tires, and Ijajil from the last genie. It's just that the interpretation of the verse of the Qur'an states that Adam was the first man. Thus, this polemic requires deepening which includes cross-scientific knowledge as dialogue capital. The Qur'an emphasizes that the stages of the process of human creation have been fixed, the elements of events include the body (body), life (nafs), spirit (spirit), human events do not go through phases that develop form, as Darwin proposes that humans are allied to chimpanzees. This text uses the method of interpretation of bi ar-Ra'yi or al-'aqli with the type of interpretation of the maudhu'i and the study of the codification era, with the interpretation of muqorin in examining the theme. Dialogizing the contents of the Qur'an with Western theory is not a taboo matter, as Muslim scientists must be in principle that the shrewdness of human reason must submit to the truth of the message in the Qur'an

Abstrak: Al Quran sebagai sumber inspirasi muslim tak habis digali untuk

kemaslahatan kehidupan. Tak bedanya menggali polemik tentang manusia perdana bila disandingkan dengan konsep Barat yang

(2)

dimotori Charles Darwin dalam Teori Evolusi tahun 1859. Al Quran tak memberi data yang utuh bahwa Adam adalah manusia perdana di bumi, diprediksi ada tiga umat terdahulu sebelum Adam, yakni Banul Jan, Banul Ban, dan Ijajil dari golongan jin yang terakhir. Hanya saja, tafsir atas ayat al-Quranlah yang menyatakan bahwa Adam manusia perdana. Dengan demikian, polemik ini memerlukan pendalaman yang menyertakan lintas keilmuwan sebagai modal dialog. Al-Quran menandaskan bahwa tahapan proses diciptakannya manusia sudah fix, unsur kejadiannya meliputi badan (jasad), nyawa (nafs), roh (ruh), kejadian manusia tidak melalui fase yang mengalami perkembangan bentuk, sebagaimana tawaran konsep Darwin bahwa manusia serumpun dengan simpanse. Naskah ini menggunakan metode tafsir bi ar-Ra’yi atau al-’aqli dengan tipe tafsir maudhu’i dan kajian era kodifikasi, dengan tafsir muqorin dalam mengkaji temanya. Mendialogkan muatan al-Quran dengan teori Barat bukan hal tabu, sebagai ilmuwan muslim harus berprinsip bahwa kelihaian nalar manusia harus tunduk pada kebenaran pesan dalam al-Quran.

Kata Kunci: al-Quran, Adam, teori barat, polemik, kebenaran Ilahi.

A. Pendahuluan

Al-Quran sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW dan membacanya dinilai ibadah telah melahirkan komunitas pembaca. Mereka berusaha memahami dan mengartikulasikan nilai quran dalam kehidupan. Hal ini karena adanya kesadaran bahwa al-Quran sebagai wujud bimbingan Tuhan kepada manusia.1 Sebagai wahyu Ilahi, Al-Quran diyakini mencakup segala hal dan bersifat universal. Kandungannya yang istimewa menyebabkannya dianggap sebagai mukjizat paling agung sepanjang zaman. Ia merupakan sumber inspirasi dan petunjuk yang kaya, luas, dan mendalam sehingga setiap lafalnya bisa memunculkan banyak makna dan arti.2 Al-Quran

merupakan fenomena menarik sepanjang sejarah agama. Ia menjadi obyek perhatian manusia yang percaya padanya dan tertarik untuk menelitinya sebagai salah satu karya sejarah. Pada saat umat bergairah

1 Mahmud Arif, Wacana Naskh Dalam Tafsir Fi Dilal Al-Quran Dalam

Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir

(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 109.

(3)

untuk mencari petunjuknya memuncak, pada saat itu pula pemahaman mereka terhadap al-Quran tertutup oleh kerak ideologis sehingga kehilangan pertimbangan kritis terhadap keseluruhan persoalan yang disajikan oleh kitab tersebut.3 Pembahasan tentang teks al-Quran tidak bisa dilepaskan dari konsep wahyu dalam budaya Arab pra-Islam dan ketika Islam lahir. Tekstualitas Quran mengarahkan pemahaman dan penafsiran seseorang atas pesan-pesan Quran.4 Dalam peta sejarah al-Quran konvensional, tafsir pada kenyataannya banyak pendefinisian. Hal mendasar, yakni inti kegiatan menafsirkan adalah melacak maksud Allah dalam teks Quran dan pencariannya sebatas kemampuan manusia.5 Studi terhadap al-Quran dan metodologi tafsir sebenarnya

mengalami perkembangan signifikan seiring dengan akselerasi perkembangan kondisi sosial budaya dan peradaban manusia. Hal ini sejak turunnya al-Quran hingga kini. Fenomena itu merupakan konsekuensi logis keinginan umat Islam untuk mendialogkan antara al-Quran sebagai teks (nash) yang terbatas, dengan perkembangan problem sosial kemanusiaan yang dihadapi manusia sebagai konteks

(waqa’i) yang tak terbatas.6

Memahami makna al-Quran merupakan hal kompleks karena tafsir terus berkembang seakan tak pernah berhenti. Setiap zaman menghasilkan historisitas, penemuan, wacana, dan teori penafsiran terhadap al-Quran yang berbeda dengan zaman lainnya.7 Dinamika penafsiran al-Quran tak pernah mengalami kemandegan. Berbagai corak penafsiran telah ditawarkan oleh mufasir baik klasik maupun modern. Hal ini tak akan sampai pada titik final selama akal masih

3 Waryono Abdul Ghafur, Al-Quran Dan Tafsirnya Dalam Perspektif

Arkoun Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 167.

4 Moch Nor Ichwan, Al-Quran Sebagai Teks (Teori Teks Dalam

Hermeneutika Quran Nasr Hamid Abu Zayd) Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 155.

5 M Mansur, Metodologi Tafsir ‘Realis’ (Telaah Kritis Terhadap

Pemikiran Hassan Hanafi) Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 97.

6 Abdul Mustaqim, Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru

Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), ix.

7 Al Makin, Apakah Tafsir Masih Mungkin? Dalam Studi Al-Quran

Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 3.

(4)

eksis dalam diri manusia.8 Sebagai firman Allah, Al-Quran sesungguhnya merupakan bentuk nyata campur tangan Tuhan dalam sejarah manusia. Namun, ia tak bermakna tanpa intervensi pikiran dan kesadaran manusia itu sendiri.9 Tak terbatasnya konteks dapat berupa polemik jati diri manusia perdana di bumi yang termaktub dalam al-Quran.

Polemik manusia pertama di bumi sebagai nenek moyang manusia menjadi bahan diskusi para ilmuwan. Memahami jati diri manusia perdana di bumi menjadi bahan kajian penting karena manusia ingin mengetahui siapa jati diri leluhur dan jati dirinya. Ilmuwan Barat yang dimotori Charles Darwin menuangkan teori evolusi yang tertuang dalam bukunya Origin of Species (OS) tahun 1859. Dalam pendekatan medis dan rasional, Darwin memotret jati diri manusia. Darwin menyatakan bahwa segala makhluk hidup (termasuk manusia) adalah anak cucu leluhur bersama dengan kera yang lolos seleksi alam. Hipotesis tersebut menjadi teori Evolusi Darwin. Sejak 1859 hingga kini banyak teori tentang proses evolusi manusia yang ‘jatuh-gugur’ karena adanya hipotesa baru sehingga selalu aktual. Dalam al-Quran manusia sejak lahir hingga mengakhiri hayat melalui proses baku. Di sisi lain, belum ditemukan secara eksplisit dalam al-Quran bahwa Nabi Adam sebagai manusia perdana di dunia. Untuk memahami polemik tersebut, naskah ini ditulis dengan harapan menambah khazanah dan pemahaman tentang manusia perdana dalam al-Quran.

Naskah ini memaparkan kandungan al-Quran tentang jati diri manusia dan proses penciptaan manusia. Kandungan tersebut dihadaplawankan (versus) dengan konsep ilmuwan Barat kaitannya dengan penciptaan dan tahapan kondisi manusia secara fisik. Hasil perpaduan antara al-Quran dengan ilmuwan Barat sebagai bekal bagi pembaca memahami lintas bidang keilmuan. Konsep Barat dengan al-Quran tentang penciptaan manusia perlu ditelaah secara mendalam dengan pendekatan ilmu tafsir. Islam menandaskan dengan rinci tentang manusia, mulai dari unsur kejadian meliputi badan (jasad), nyawa (nafs), roh (ruh).

8 Sahiron Syamsuddin, Metode Intratekstualitas Muhammad Shahrur

Dalam Penafsiran Al-Quran Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 131.

9 Zakiyuddin Baidhawy, Hermeneutika Pembebasan Al-Quran

Perspektif Farid Esack Dalam Penafsiran al-Quran Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 193.

(5)

Penelitian terkait Adam sebagai manusia perdana banyak diperdebatkan dan dikaji oleh beberapa peneliti diantaranya adalah Ahmad Syafi’i10

yang mencoba mengkritisi teori darwin dengan mengangkat tema penciptaan manusia dalam al-qur’an. Tulisan ini menyimpulkan bahwa teori evolusi menurut Islam dapat ditolak keberadaannya dan hanya dianggap sebagai hipotesa belaka. Berbeda dengan artikel yang ditulis oleh Wahyudi Sutrisno dan Sofyan Anif11, dalam tulisannya mengemukakan bahwa wacana yang dikemukakan yang berkembang dalam menafsirkan teori evolusi Darwin terdiri dari tiga kelompok yakni, kelompok penolak (kreasionisme), Penerima (modernis), dan Moderat. Teori evolusi Darwin menjadi salah satu faktor pemicu munculnya sains agama dari tokoh islam ditengah masyarakat islam. Berbeda dengan tulisan sebelumnya, Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan temuan sebelumnya tentang manusia pertama, Permasalahan dalam naskah ini adalah bagaimana pandangan Al-Quran tentang manusia perdana di bumi dan bagaimana teori Charles Dharwin tentang evolusi manusia di bumi.

B. Metode Penelitian

Para ilmuwan tafsir mendalami kandungan al-Quran dengan ragam metode (1) tafsir bi al-ma’tsur yakni menafsirkan al-Quran dengan menelusuri jejak generasi masa lalu hingga era Nabi SAW, (2)

tafsir bi ar-Ra’yi atau al-’aqli, yakni mufasir berijtihad menerangkan

maksud ayat demi ayat secara garis besar atau terinci berbekal ilmu bahasa Arab (nahwu, shorof, balaghah, fiqih lughoh), ilmu qiroah, ulumul quran dan ulumul hadis, (3) kontekstual atau historis yakni memahami kehidupan Nabi SAW dan adat istiadat di mana Nabi SAW hidup, (4) hermeneutik, yakni mendapat kesimpulan makna memahami konteks apa yang menyebabkan ditulisnya ayat, komposisi teks ayat, dan keseluruhan teks ayat sebagai pandangan hidup. Naskah ini dengan metode tafsir bi ar-Ra’yi atau al-’aqli.Adapun sistematikanya dikenal (1) sistematika tahlili yakni memahami aspek bahasa, korelasi antar-ayat, aspek makna, dan hukum yang terkandung, (2) tartib nuzuli, yakni berdasarkan kronologi turunnya ayat demi ayat, (3) maudhu’i, yakni

10 Ahmad Syafi’i, “Kritik Islam Atas Teori Evolusi Darwin: Suatu Kajian Tentang Asal-Usul Kajian Manusia,” Jurnal Hunafa 3, no. 3 (2006): 264– 74.

11 lihat Wahyudi Sutrisno and Sofyan Anif, “Teori Evolusi Darwin Dalam Islam” (Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2015).

(6)

menelaah tema tertentu.12 Naskah ini menggunakan sistematika

maudhu’i yang menelaah tema tertentu, yakni jati diri manusia perdana

di bumi.

Klasifikasi produk tafsir dapat dikategorikan tiga hal (1) tafsir tradisional dengan menggunakan pokok bahasan tertentu sesuai minat dan kemampuan mufasir, (2) tafsir reaktif, yakni reaksi pemikir modern atas sejumlah hambatan yang dialami orang yang hambatannya dianggap dari al-Quran, dan (3) tafsir holistik, yakni tafsir yang menggunakan seluruh metode penafsiran dan mengaitkan dengan berbagai persoalan hidup.13 Naskah ini kategori tafsir tradisional menggunakan pokok bahasan tertentu, yakni jati diri manusia perdana di bumi.

Dari aspek tipe kajian tafsir terpilah tafsir tahlili (tajzi’i), tafsir

maudhu’i (tauhidi). Menurut ukuran waktu terpilah tafsir era Nabi dan

sahabatnya, era tabi’in, dan era kodifikasi. Naskah ini menggunakan aspek tipe tafsir maudhu’i dan kajian era kodifikasi. Berdasarkan pijakan waktu terpilah tafsir klasik (tafsir bahasa, tafsir riwayat, tafsir fikih, tafsir tasawuf, tafsir filsafat, dan tafsir akidah), tafsir modern (tafsir ilmi, tafsir reformis (ishlahi), dan tafsir sosial (ijtima’i). Naskah ini kategori tafsir modern/ilmi. Berdasarkan tema, dipilah atas tafsir

ijmali, tahlili, muqorin (membandingkan antar-ayat atau antar-tafsir),

dan tafsir maudhu’i (urutan tema kajian). Tafsir maudhu’i dibagi dalam tiga tipe, yakni menggunakan al-Quran sesuai tertib mushaf dan disusun sesuai tema kajian, menggunakan al-Quran sesuai tema surah, dan menggunakan al-Quran sesuai tertib nuzul.14 Naskah ini berdasarkan tema muqorin tentang jati diri manusia perdana di bumi. Menafsirkan al-Quran dapat pula dilakukan dengan pendekatan historis dengan tipe memahami pesan inti ayat, mengeksplorasi relasi antara wahyu Quran dan realitas kehidupan, dan hubungan teks al-Quran dengan teks al-al-Quran lainnya.15 Jadi, naskah ini mendalami

12 Yunahar Ilyas, Feminisme Dalam Kajian Tafsir Al-Quran Klasik Dan

Kontemporer. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), 22–28.

13 Abdul Mustaqim, Paradigma Tafsir Feminis Membaca Al-Quran

Dengan Optik Perempuan (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2008), 28–29.

14 Aksin Wijaya, Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli

Muhammad Izzat Darwazah (Bandung: Mizan, 2006), 44.

15 Sahiron Syamsuddin, Tipologi Penafsiran Historis Atas Al-Quran

Dalam Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah (Bandung: Mizan, 2016), 16.

(7)

aspek tema surat tentang manusia perdana di bumi. Analisis yang digunakan adalah kontens analisis.

Kajian keislaman (islamic studies) merupakan disiplin ilmu yang membahas Islam dalam hal ajaran, kelembagaan, sejarah, dan kehidupan umatnya.16 Penelitian agama di antaranya mencari

kebenaran substansi dalam ajaran agama.17 Untuk memahami

kandungan kitab suci, ada tiga pendekatan, yakni mengenali sifatnya, mengenali peringkat pesan yang terkandung di dalamnya, dan menggali isinya dengan metode tafsir.18 Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam di dalamnya di antaranya membahas ilmu ’am dan khas.19 Untuk mengetahui siapa manusia perdana di bumi ini dibahas dalam naskah ini.

C. Pandangan Al-Quran tentang Manusia Perdana di Bumi Bila didalami, Al-Quran tidak menyebut Adam sebagai manusia pertama dan Hawa diciptakan setelah Adam. Banyak ayat dalam Al-Quran memberi indikasi kuat bahwa Adam dan Hawa adalah salah satu (saja) dari makhluk yang sudah ada pada waktu itu.20 Ayat

di atas dimulai dengan kalimat ‘menciptakan kamu sekalian, lalu kami bentuk tubuh kalian’. Artinya, waktu itu Allah sudah menciptakan manusia di muka bumi, kemudian memerintah para malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Akan tetapi, dalam kitab terjemahan bahasa Indonesia kata kum

ditafsiri sebagai Adam, di sebelah kata kum diberi penjelasan dengan kata dalam kurung (Adam). Padahal kum adalah bermakna jamak (kalian semua). Makin jelas bila membaca ayat sebelumnya, yang dimaksud dengan kum adalah bangsa manusia secara keseluruhan, spesies manusia. QS. Al A'raaf (7):10 “Sesungguhnya Kami (Allah)

telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami (Allah)

16 Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam Menelusuri Jejak Historis

Kajian Islam Ala Sarjana Orientalis (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 37. 17 Imam Suprayogo and Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama (Bandung: Rosda Karya, 2001), 15.

18 Syahrin Harahap, Metodologi Studi Dan Penelitian Ilmu-Ilmu

Ushuluddin (Jakarta: Rajawali Press, 2000), 11.

19 Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Quran Kritik Terhadap Ulumul

Quran (Yogyakarta: LKiS, 2001), 263. 20 Lihat QS. Al A’raaf (7): 11

(8)

ciptakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat

sedikitlah kamu bersyukur”.

Dari dua ayat yang berurutan di atas, dapat kesimpulan bahwa Allah terlebih dahulu menciptakan bangsa manusia di muka bumi, dengan segala sumber penghidupannya kemudian memilih salah satu di antaranya sebagai khalifah di muka bumi, dialah Adam. Ditandai dengan perintah kepada malaikat untuk bersujud kepadanya. Bila Adam manusia pertama, ayat diawalnya (tentunya) Allah mengatakan kepada Adam dalam bentuk tunggal: “Walaqad khalaqnaka” (sungguh telah Kami (Allah) ciptakan kamu). Tapi, yang digunakan dzomir kum.

Bukti lain tentang Adam bukan manusia pertama adalah ketika Allah berkata kepada malaikat akan menjadikan Adam sebagai khalifah. QS. Al Baqarah (2): 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Ayat ini sering untuk menjelaskan bahwa Adam adalah manusia pertama karena digambarkan dialog antara Allah dengan malaikat, untuk menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Padahal ayat ini menegaskan bahwa Adam bukanlah manusia pertama, melainkan salah satu manusia yang terpilih dari sekian banyak manusia yang sudah ada di zaman itu.

Ada dua hal yang menunjukkannya, pertama, kata inni ja'ilun

fil ardhi khalifah “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang

khalifah di muka bumi”. Kalimat tersebut tidak menggunakan kata ‘menciptakan’ (khalq) tapi ‘menjadikan’ (ja'ala). Jadi, bukan mengadakan dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’, melainkan ‘memilih’ dari yang sudah ada menjadi khalifah. Dengan kata lain, pemimpin bagi umat manusia di zaman itu. Kata ‘memilih’ itu lebih jelas lagi pada QS. Ali Imran (3): 33 “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Allah menggunakan kata isthofaa yang secara eksplisit berarti ‘memilih dari yang sudah ada’. Lebih jelas lagi, dalam ayat itu Allah membandingkan dengan nabi-nabi lainnya seperti Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Mereka semua adalah orang-orang yang terpilih pada zamannya.

(9)

Ada ayat yang memberikan pemahaman bahwa Adam bukanlah manusia pertama di bumi, meski pada beberapa ayat, seringkali agak membingungkan jika dipahami sebagian karena ayat itu dijelaskan pada ayat lainnya. Allah mengatakan bahwa Dia telah menciptakan manusia (al Insaan) dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Ada kesan, seakan-akan Allah bercerita tentang penciptaan manusia pertama (Adam) dari tanah liat. QS. Al Hijr (15): 26 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia

(insan) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang

diberi bentuk. Akan tetapi bila dicermati, ayat di atas tidak bercerita tentang penciptaan seorang manusia melainkan manusia secara kolektif. Yang digunakan adalah kata al-insan. Dalam kitab terjemahan seringkali diberi penjelasan dalam kurung (Adam). Ini mengarahkan pemahaman bagi orang yang hanya membaca dari terjemahan bahasa Indonesianya. Seakan-akan ayat itu bercerita tentang penciptaan Adam sebagai manusia pertama. Lebih jelasnya memahami QS. Al Hijr (15): 28-30 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia (basyaran) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat. Allah memberikan penjelasan lebih rinci bahwa yang diciptakan dari ‘tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam’ adalah basyaran yaitu manusia sebelum al insaan atau nenek moyang al insan yang sudah ada selama jutaan tahun sebelumnya. Ayat berikutnya memberikan penjelasan bahwa basyaran masih perlu disempurnakan lagi oleh Allah agar menjadi al insan. ‘Maka bila telah Ku-sempurnakan kejadiannya

dan telah Ku-tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud’. Para malaikat pun bersujud bersama-sama, bukan kepada al basyar melainkan kepada al insan.

Jadi, kurang tepat bila menafsiri ayat tersebut sebagai proses penciptaan Adam (manusia pertama) dari tanah liat. Itu adalah cerita tentang penciptaan al basyar secara kolektif yang ‘ditumbuhkan’ oleh Allah dari tanah. Setelah disempurnakan kejadiannya (menjadi al

insaan) barulah malaikat diperintahkan bersujud kepada salah satu dari

al insaan yaitu Adam. Dari keturunan Adam inilah manusia modern

berkembang biak, sedangkan manusia-manusia lain selain keturunan Adam mengalami kepunahan. Maka manusia modern ini disebut sebagai ‘bani Adam’ alias keturunan Adam.

(10)

Ada ayat yang menjelaskan bahwa para nabi adalah keturunan Adam, sebagiannya lagi keturunan Nuh, Ibrahim, dan Imran. Jalur manusia modern adalah jalur keturunan Adam. Maka ia pun disebut sebagai bapaknya manusia. QS. Maryam (19):58 “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.

Perbedaan yang paling mendasar antara al-basyar (manusia purba) dengan al-insaan (manusia modern) adalah pada kemampuan akalnya. Secara fisik diwakili oleh kualitas dan kapasitas otaknya. Malaikat yang semula ‘ragu-ragu’ untuk bersujud kepada Adam ternyata mau bersujud kepadanya ketika Allah menunjukkan bahwa kemampuan akal Adam di luar dugaan malaikat. Adam dengan mudahnya menguasai ilmu pengetahuan alam yang diajarkan Allah kepadanya. QS. Al-Baqarah (2):31-34 “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman "Sebutkanlah (wahai malaikat) kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" Mereka (malaikat) menjawab "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan padamu, sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Berkatalah Kami kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Al-Baqarah ayat 30 "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan

Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak

menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji danmenyucikan-Mu?"Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak mengetahuinya".

(11)

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah berfirman kepada para malaikat. Menurut pemahaman lazimnya bahwa ketika itu manusia belum diciptakan. Padahal Nabi Adam hendak diciptakan, mungkinkah malaikat sudah mengetahui bahwa manusia itu makhluk yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah? Dengan merujuk al-Quran dapat dikatakan bahwa sebelum Nabi Adam terdapat generasi atau beberapa generasi manusia disebut sebagai “insan atau bangsa nisnas” meski terkait dengan hal-hal detilnya, tipologi personal dan model kehidupan mereka, kita tidak memiliki informasi yang akurat. Dalam sejarah Yahudi disebutkan bahwa usia jenis manusia semenjak diciptakan hingga kini tidak lebih dari tujuh ribu tahun lamanya. Namun, para ilmuan geologi meyakini bahwa usia genus manusia lebih dari jutaan tahun lamanya. Mereka menyuguhkan sejumlah argumen dari fosil-fosil yang menyebutkan bahwa terdapat peninggalan manusia pada fosil tersebut. Di samping itu, mereka juga membeberkan dalil-dalil adanya skeleton (tengkorak) manusia purbakala yang membatu usianya berdasarkan kriteria ilmiah kira-kira lebih dari lima ratus ribu tahun. Namun dalil-dalil yang disuguhkan tidak memuaskan, tidak ada dalil yang dapat menetapkan bahwa fosil ini adalah badan yang telah membatu milik nenek moyang manusia. Demikian juga tidak ada dalil yang dapat menolak kemungkinan bahwa tengkorak yang telah membatu ini berhubungan dengan salah satu dari periode manusia yang hidup di muka bumi. Artinya, periode manusia boleh jadi tidak bersambung dengan periode fosil yang telah disebutkan, bahkan boleh jadi berhubungan dengan manusia yang hidup di muka bumi sebelum penciptaan Adam sebagai bapak manusia

(Abu al-Basyar) kemudian punah.

Demikian juga kemunculan manusia yang kepunahannya berulang, hingga setelah beberapa periode tibalah giliran generasi manusia masa kini. Karena itu, dapat dihipotesakan bahwa terdapat manusia sebelum penciptaan Adam, kemudian malaikat ditugaskan untuk sujud kepadanya. Hanya saja al-Quran tidak menyebutkan secara tegas tentang proses kemunculan manusia di muka bumi, apakah jenis makhluk ini (manusia) terbatas hanya pada periode sekarang yang hidup atau periode manusia sekarang ini merupakan periode terakhir, Kendati sebagian ayat al-Quran menengarai bahwa sebelum penciptaan Adam ada manusia yang hidup, di mana para malaikat dengan ingatan pikiran mereka tentang manusia bertanya kepada Allah: “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan

(12)

darah?”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat masa yang telah berlalu sebelum penciptaan Nabi Adam.

Namun terdapat beberapa riwayat dari Imam Ahlulbait bahwa sebelum generasi ini, terdapat generasi-generasi sebelumnya yang telah punah dan riwayat-riwayat ini menetapkan periode-periode manusia sebelum periode yang ada sekarang ini. Sebagai contoh hadis berikut: Penyusun Tafsir Ayyasyi meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dari Imam Shadiq As, “Apabila malaikat-malaikat tidak melihat makhluk-makhluk bumi sebelumnya yang menumpahkan darah, kemudian dari mana mereka dapat berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah?” Apakah Adam merupakan manusia kedelapan di muka bumi ini harus dikatakan bahwa kami tidak menjumpai teks-teks agama yang menetapkan bahwa Adam adalah manusia kedelapan di muka bumi. Terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa generasi Nabi Adam setelah tujuh periode dan tujuh generasi semenjak penciptaan Adam. Namun riwayat ini menyinggung banyaknya periode-periode masa lalu. Misalnya Syaikh Shaduq dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As, “Allah

Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya (kemudian punah) di mana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi Adam Bapak Manusia dan Allah senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan mengadakan generasi demi generasi dan masing-masing, alam demi alam muncul hingga akhirnya, (Allah Swt) menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya.

Riwayat ini dengan memperhatikan riwayat lainnya yang menetapkan periode masa silam, tengah menyinggung banyaknya periode pada masa silam; misalnya Syaikh Shaduq dalam kitab Tauhid

mengutip riwayat dari Imam Shadiq, “Kalian mengira bahwa Allah Swt tidak menciptakan manusia lain selain kalian. Bahkan (Allah Swt) menciptakan ribuan Adam di mana kalian adalah generasi terakhir Adam dari generasi-generasi Adam (lainnya).” Demikian juga dalam

al-Khisâl diriwayatkan dari Imam Shadiq As bersabda, “Allah Swt

menciptakan dua belas ribu alam yang masing-masing lebih besar dari tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Tiada satu pun dari penghuni satu alam pernah berpikir bahwa Allah Swt menciptakan alam lainnya selain alam yang ia huni.”

Akan tetapi riwayat terakhir menyinggung tentang penciptaan alam dan boleh jadi alam tersebut berada di luar planet bumi dan kita

(13)

dapat memandang riwayat yang menyebutkan tentang tujuh periode sebelumnya di muka bumi itu tidak bertentangan satu sama lain. Namun (dengan asumsi adanya manusia-manusia sebelum Adam) apakah tatkala penciptaan Adam manusia dari generasi manusia sebelumnya masih tersisa? Dengan memperhatikan beberapa indikasi bukan mustahil bahwa pada masa penciptaan Adam terdapat orang-orang dari generasi sebelumnya yang masih tersisa dan tengah mengalami kepunahan. Artinya mereka masih tetap ada (pada masa penciptaan Adam) sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama.

Ulama kontemporer terkait dengan pernikahan anak-anak Adam berkata, “Di sini juga terdapat kemungkinan lain bahwa anak-anak Adam menikah dengan manusia-manusia yang tersisa dari generasi sebelum Adam karena sesuai dengan riwayat Adam bukanlah manusia pertama yang hidup di muka bumi. Penelitian ilmiah manusia hari ini menunjukkan bahwa genus manusia kemungkinan telah hidup di muka bumi semenjak beberapa juta tahun sebelumnya. Padahal sejarah kemunculan Adam hingga masa sekarang ini tidak terlalu lama (kurang lebih 7000 tahun). Karena itu muncul hipotesa bahwa sebelum Adam terdapat manusia-manusia lainnya yang hidup di muka bumi yang tatkala kemunculan Adam tengah mengalami kepunahan. Apa halangannya anak-anak Adam menikah dengan manusia dari salah satu generasi sebelumnya yang masih tersisa?” Tentu saja tidak terdapat keraguan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama dari generasi yang ada sekarang ini.

Dalam aspek lain, Al-Quran menegaskan bahwa generasi kini berasal dari ayah dan ibu yang berujung pada satu ayah (bernama Adam) dan satu ibu (bernama Hawa) dan kedua manusia ini adalah ayah dan ibu seluruh manusia. Demikian juga ayat-ayat berikut menyokong makna ini “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. Al-Sajdah[32]:8); “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah dia.” (Qs. Ali Imran [3]:59); “(Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman pada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS. Shad [38]:71&72) Ayat-ayat tersebut memberikan kesaksian bahwa Tuhan menjamin lestarinya generasi manusia melalui pembuahan sperma,

(14)

namun penciptaan dengan sperma ini terjadi setelah dua orang dari jenis ini (manusia sekarang ini) diciptakan dari tanah liat dan Dia menciptakan Adam, kemudian istri Adam yang diciptakan dari tanah liat (dan setelah memiliki badan dan alat reproduksi, Allah menciptakan anak-anaknya dengan menciptakan sperma pada badan Adam dan istrinya). Karena itu, tidak terdapat keraguan bahwa generasi manusia (sekarang ini) berujung pada Adam dan istrinya berdasarkan bentuk lahir ayat-ayat yang disebutkan di atas.

Adapun pertanyaan berikutnya apakah di antara generasi tersebut terdapat seorang nabi? Apakah mereka juga termasuk orang-orang yang memiliki intelegensia? Kita tidak menemukan penjelasan tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat. Namun mereka sama dengan kita, manusia (atau Nisnas) tentu saja mereka memiliki intelegensia dan kecerdasan serta dapat dikatakan bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau nabi-nabi kepada mereka.

D. Manusia sebelum Adam

Bangsa Atlantis ataupun Dinasti Rama bukanlah dari ras manusia keturunan Adam. Dialah yang dinamakan tiga umat terdahulu sebelum Nabi Adam, yakni Banul Jan, Banul Ban, dan Ijajil dari golongan jin yang terakhir. Golongan inilah yang berada dan berdarah dari golongan tiga umat terdahulu. Muncul pertanyaan, siapakah makhluk sebelum Adam? Sebelum Adam turun ke bumi diceritakan bahwa yang menempati bumi ini adalah bangsa jin yang dikelompokkan menjadi Abaljan dan Banuljan yang selalu konflik, kemudian malaikat menanyakan kepada Allah apa akan membuat orang untuk menjadikan khalifah di bumi yang selalu yasfiquddima

(pertumpahan darah). Allah memerintah ‘azajil yang memimpin malaikat Jibril, Mikail, Izroil dan malaikat lainnya untuk menaklukan

Abaljan dan Januljan di bumi ini. Setelah ditaklukkan, Allah

menciptakan nabi Adam. ‘Azajil, malaikat, dan Adam diberi ilmu oleh Allah karena tujuannya untuk menjadikan khalifah di bumi. Setelah diuji ternyata yang lulus dari ujian tersebut adalah nabi Adam. Akhirnya semuanya diperintah Allah untuk sujud untuk menghormat kepada Adam fasajaduu illa Iblis.

Keberadaan Adam menjadi khalifah kedudukannya sebagai pengganti. Dengan demikian, tentunya ada yang diganti atau Adam bukan makhluk pertama di bumi. Allah tidak mengatakan untuk mengganti manusia sebelumnya, tapi pengganti makhluk di bumi,

(15)

yaitu Abaljan dan Banuljan. Mereka itu adalah penghuni bumi sebelum manusia. Bentuk basyariahnya tak jauh berbeda dengan manusia, maka bisa dibuktikan bahwa makhluk selain manusia mempunyai badan yang sama seperti manusia, yaitu banuljan (anak turun jin), banulban (anak turun dedemit), maka ketika bumi rusak oleh mereka, mereka diusir bahkan dibasmi oleh malaikat, hingga mencari tempat yang jauh dari anak Adam (Abaljan/Abujaan adalah bapak seluruh jin).

Tuhan akhirnya menurunkannya ke bumi dari surga dengan kompensasi dapat menerobos alam arsy dan tubuhnya tak bisa dilihat oleh seluruh makhluk kecuali yang dikehendaki Tuhan. Tatkala di bumi, abaljan melahirkan anak yang bernama banuljan. Di bumi, mereka mendirikan kerajaan jin di semua penjuru bumi, yakni utara, selatan, barat, timur, barat laut, timur laut, tenggara, barat daya, bawah/dasar bumi. Akan tetapi, antar-mereka terjadi konflik yang diungkapkan oleh jin ketika ada informasi bahwa Tuhan akan mengutus khalifah (Adam).

Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan, ada makhluk lain sebelum manusia tapi seperti manusia, karakteristiknya lebih primitif, otak mereka lebih kecil, kemampuan berbicara terbatas karena tidak banyak suara yang mereka bunyikan yakni Neanderthal. Datanglah Adam yang diklasifikasikan sebagai homosapiens mulai ada sekitar 200 ribu tahun lalu. Neonderthal ada pada 130 ribu tahun dulu, kemudian ia lenyap. Sebelum homosapiens muncul. Kebanyakan teori berdasarkan sumber fosil, namun makhluk sebelum Adam saling membunuh, mereka adalah jin. Ada juga yang mengatakan bahwa ada tiga umat yang utama sebelum Adam, dua di antaranya dari kaum jin, kaum yang ketiga dari golongan yang berbeda dari Jin karena mereka berdarah dan berdaging. Golongan ketiga sebagai man yufsidu fihaa

wa yasfiku al-dimaa (golongan yang membuat kerusakan dan

menumpahkan darah).

Sebelum Allah menciptakan Nabi Adam, Allah sudah menjadikan dua makhluk yang berakal yakni malaikat dan banul-jan/iblis. Asal mula kejadian keduanya, malaikat dari Nur (cahaya) yang suci, berupa ruh, akal, tidak ada syahwatnya, tidak makan dan minum, tidak beristri, hidupnya hanya melaksanakan perintah Tuhan. Banuljan dari api, sebagaimana manusia membutuhkan makan dan minum, beristri dan berketurunan. Adam hidup selama 930 tahun (sekitar 3760-2830 SM), Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat di antaranya

(16)

Al-Baqarah (2): 30-38 dan Al-A’raaf (7): 11-25. Dalam ajaran agama Abrahamik, anak-anak Adam dan Hawa tiap dilahirkan kembar, setiap bayi lelaki bersamaan dengan bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya. E. Wujud Adam

Hadis riwayat Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadis lain dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda. Sosok Adam digambarkan beradab, berilmu, dan bukan makhluk purba, berasal dari surga. Turun ke muka bumi sebagai manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dari peradaban manusia. Oleh karena itu, Allah menunjuknya sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Dalam Islam, Adam tidak diciptakan di bumi, tetapi diturunkan di bumi sebagai manusia dan diangkat/ditunjuk Allah sebagai khalifah (pemimpin/pengganti /penerus) di bumi atau sebagai makhluk pengganti yang tentunya ada makhluk lain yang diganti. Dengan kata lain, Adam 'bukanlah makhluk berakal pertama' yang memimpin di bumi. Al-Quran menyebut tiga jenis makhluk berakal, manusia, jin, dan malaikat. Manusia dan Jin diciptakan yang sama karena sama-sama berakal yang dinamis dan nafsu namun hidup pada dimensi yang berbeda. Malaikat hanya berakal yang statis dan tidak memiliki nafsu karena tujuan penciptaannya sebagai pesuruh Allah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ada makhluk berakal lain selain ketiga makhluk ini. Al-Baqarah:30 banyak mengundang pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat di atas.

Dalam Arkeologi, berdasarkan fosil yang ditemukan, ada makhluk lain sebelum manusia, tapi seperti manusia, tetapi memiliki karakteristik yang primitif dan tidak berbudaya. Volume otak mereka lebih kecil dari manusia. Oleh karena itu, kemampuan mereka berbicara sangat terbatas karena tidak banyak suara vowel yang mampu mereka bunyikan. Sebagai contoh Phitecanthropus Erectus memiliki volume otak sekitar 900 cc, sementara Homo Sapiens memiliki volume otak di atas 1000 cc (otak kera maksimal sebesar 600 cc). Maka dapat dihipotesakan bahwa semenjak 20.000 tahun yang lalu, telah ada sosok makhluk yang memiliki kemampuan akal yang

(17)

mendekati kemampuan berpikir manusia pada zaman sebelum Adam.21 Dari ayat ini, sebagian ulama berpendapat bahwa makhluk berakal yang dimaksud tidak lain adalah Jin seperti dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan: "Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam

diciptakan adalah Jin yang suka berbuat kerusuhan."Menurut salah

seorang perawi hadis Thawus al-Yamani, salah satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi adalah dari golongan jin. Pendapat ini masih diragukan karena manusia dan jin hidup pada dimensi yang berbeda sehingga tidak mungkin manusia menjadi pengganti bagi Jin.

F. Konsep Phitecanthropus

Situs Sangiran di Kabupaten Sragen digali pertama kali tahun 1934 oleh Koenigswald dan MWF Tweedlw. Keberadaan Sangiran dikenal karena ‘ulah’ arkeolog dunia, Eugene Dubois penemu manusia purba. Pendokumentasiannya di museum scientific cultural Sangiran seluas 56 km persegi, wilayah tandus, dihuni 205 ribu jiwa tersebar di 22 desa dan 4 kecamatan di 2 kabupaten (Sragen dan Karanganyar). Dokter E. Dubois tahun 1887 dengan kapal The SS Princess Amalia

mendarat di Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat menelusuri jejak

missing link dengan teori evolusi yang dicanangkan Charles Darwin

(wafat 1882). Dubois beraksi pasca-membaca karya Alfred Russel Wallace (1869, biolog asal Inggris). Tahun 1889 Dubois ke Tulungagung, Jawa Timur karena ada yang menemukan manusia purba dengan usia 40 ribu tahun. Tahun 1891 ditemukan pithecanthropus

erectus (PE) (manusia yang berjalan tegak) di pinggir Bengawan Solo,

dekat Ngawi, Jawa Timur diperkirakan hidup antara tahun 700 ribu-1.200 ribu tahun. Adapun di Tulungagung, Dubois menemukan tengkorak Wadjak yang kedua, dilanjutkan menggali endapan purba di Sungai Bengawan Solo, di Desa Trinil, Ngawi menemukan gigi primata purba, ratusan fosil binatang, batu cokelat kehitaman serupai cangkang kura-kura, atap tengkorak, tulang paha kiri manusia dan sebagainya. Ia yakini fosil berasal dari manusia menyerupai kera. Sejak itulah dipublikasikan penemuan PE dengan kapasitas otak 1300-1500 cc. Aksi Debuois dikokohkan Ernst Haeckel dan Charles Lyell, geolog asal Jerman, dalam The History of Natural Creation (1874) manusia pada awalnya muncul berbentuk primitif (homo primigenius) didahului

21 Surah Al-Hijr ayat 27 berisi: Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Al Hijr 15:27).

(18)

mata rantai yang terputus, sejenis manusia secara fisik mirip monyet, tanpa artikulasi bahasa/bisu (phitecanthropus alalus). Manusia purba (diidentikkan pithecanthropus, dari kata pithekos/anthropus:kera) mendiami Pulau Jawa (khususnya Jateng) di era plestosen sekitar 1,8 juta sampai dengan 10 ribu tahun lalu, jejaknya diketahui sejak 1891 ketika E. Dubois menemukan fosil manusia purba di Trinil

(Pithecanthropus Erectus). Penemuan yang sama terjadi tahun

1939-1941, Von Koningswald menemukan manusia kera raksasa

(Meganthropus Palaeojavanicus) di Sangiran. Meskipun masa

penemuan kedua fosil terpaut tiga dasawarsa. Kedua spesies merupakan kelompok manusia purba hidup sezaman sekitar 300.000-500.000 tahun lalu. Manusia purba merupakan fase perkembangan kedua setelah manusia kera yang ditemukan di kawasan Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Fase terakhir dari evolusi manusia adalah manusia modern (homosapiens) kapasitas otak 1800-2000 cc hidup sekitar 15.000-150.000 tahun lalu, terbesar ditemukan di kawasan Eropa dan Timur Tengah.22 Penelitian Duyfjeys tahun 1926 di Kepuh Klagen, sebelah utara Mojokerto, menemukan fosil manusia purba berupa era plestosen bawah, dikategorikan Pithecanthropus

Mojokertensis. Juga ditemukan di Sangiran berupa atap tengkorak,

rahang atas-bawah, dan gigi lepas, manusia purba lapisan tengah tipe lapisan kabuh dari plestosen tengah di Sangiran berumur 0,8-0,4 juta tahun lalu, homoerectus progresif ditemukan di Ngandong sekitar 100.000 tahun lalu era plestosen atas. Pulau Jawa sangat penting bagi dunia karena penemuan ratusan manusia purba (homo erectus), 50 persennya ada di Indonesia bermanfaat mengetahui tahapan evolusi perkembangan manusia. Pemetaan manusia purba:

1. Jenis manusia kera/Australopithecus Africanus, di Afrika Selatan, oleh Raymond Dart 1924

2. Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensis, di

Amerika Selatan, volume otak 600

3. jenis manusia purba (homo erectus) Sinanthropus Pekinensis, di China, oleh Davidson Black dan Franz Weidenreich, volume otak 900-1.200,

4. Meganthropus Palaeojavanicus, di Sangiran, oleh Von

Koningswald, 1939-1941

5. Pithecanthropus Erectus, di Trinil, oleh Eugene Dubois, 1891,

volume otak 770-1.000

(19)

6. Jenis manusia modern (homo sapiens) yakni manusia

Swanscombe, di Inggris dan Cromagnon (Prancis), Shanidar,

di Irak dengan volume otak 1.450.23

Penelitian Prof.Tetsuro Matsuzawa dari Primate Research

Institute Kyoto University Jepang bahwa simpanse muda berkapasitas

memori luar biasa berupa mampu mengingat angka yang muncul per sekian detik dari layar komputer dalam satu kedipan. Penelitian terhadap 3 pasang simpanse, masing-masing induk dengan anaknya lahir tahun 2000 melawan 9 mahasiswa. Hasilnya, simpanse muda kecepatan mengingat dan akurasinya lebih baik.24 Pulau Jawa sangat penting bagi dunia karena penemuan 100-an individu manusia purba

(homo erectus), 50 persennya ada di Indonesia bermanfaat mengetahui

tahapan evolusi perkembangan manusia. Fosil temuan tahun 2010 di Sangiran berupa tanduk banteng (cornu bibos paleosondaicus), tulang gajah stegodon (vertebrae thoracalis elephantidae), dan tulang rusuk stegodon (costae elephantidae). Temuan tersebut tidak mendapatkan data penguat bahwa manusia berasal dari keturunan kera.

G. Manusia Menurut Teori Charles Darwin

Berkat riset genetika molekuler mutakhir dapat memberikan jawaban bahwa sekitar 13 juta tahun yang lalu paling tidak dua dari sekian banyak keturunan leluhur bersama kera-manusia berpisah dari garis genetik leluhur mereka. Sekurangnya satu dari dua spesies menjadi leluhur gorila dan satu lagi leluhur simpanse-manusia. Sekitar 6-8 juta juta tahun, leluhur simpanse berpisah, satu spesies menjadi leluhur simpanse modern dan yang satunya menjadi leluhur hominid. Bila dikaitkan dengan keberadaan Adam yang dipandang bahwa Adam sebagai orang pertama di dunia berpolemik. Ada yang menyepakatinya dan ada yang meragukannya. Penelusuran asal-usul manusia perdana pun masih menjadi teka-teki. Pakar Paleontologi, direktur di Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Dr. Harry Widianto menyatakan belum ditemukan formula untuk menggabungkan antara data empiris dan doktrin agama.

Menurut Harry, ia tak berani berbicara teori tentang manusia pertama adalah Adam. Referensi riset ilmiahnya Teori Darwin dengan bukti material fosil manusia yang tertuang dalam bukunya Origin of

23 Kompas,18 April 2009 ibid. 24 Jawa Pos, 5 Desember 2008.

(20)

Species (1859) dan Design of Man (1871). Darwin tak pernah menyatakan manusia itu dari kera, hanya mengetahui asal-usul manusia dengan teori evolusi yang bertumpu pada tiga hal: spesies, adaptasi, dan evolusi. Spesies artinya yang hidup hingga saat ini (manusia, hewan, tumbuhan) merupakan spesies tangguh karena menyesuaikan lingkungan ekologis. Mampu beradaptasi sehingga

survive dan yang tak mampu beradaptasi menjadi mati. Hal ini dapat

ditemukan di endapan purba lapisan bumi. Lanjut Harry, teori manusia pertama adalah Adam merupakan dogma agama untuk dipercayai. Adapun antara teori Darwin dengan dogma agama hingga kini belum ketemu dalam satu rel. Manusia diberi kemampuan untuk membaca rahasia. Secara perlahan keduanya (teori Darwin degan dogma agama) akan sejajar pada titik temu, merupakan pekerjaan besar yang belum selesai. Di sisi lain, pandangan umum masih kokoh bahwa berbagai bangsa dan suku di dunia berasal dari keturunan Nabi Nuh yang berpusat di wilayah Timur Tengah dengan bahasa Suriyani. Tetapi karena ungkapan tiap kelompok dikembangkan maka menjadi ragam bahasa dunia.25

Evolusi manusia berdasarkan Teori Evolusi Darwin, pertama, manusia berkarakter sama seperti binatang. Sebelum diberikan ilmu, makhluk yang dinamakan manusia levelnya sama dengan binatang, yang bertindak hanya mempergunakan tiga hal: harta (memperkaya diri), tahta (kekuasaan), wanita (kebutuhan seks). Dalam Al-Quran disebut dalam level dabbah (QS An-Nur ayat 45). Kedua, manusia beradab (homo sapiens). Setelah diberikan wahyu/pemahaman ilmu hidup menurut ajaran Allah, maka level manusia naik menjadi level

basyar/nas/insan (Alquran memanggilnya dengan: yaa ayyuhannas).

Level ini manusia belum menentukan pilihan hidup yang ditawarkan oleh ajaran Allah. Mereka mau memilih hidup yang haq atau memilih hidup yang bathil. Level manusia ini masih dalam kondisi try and error

di dalam menjalani hidupnya. Ketiga, manusia modern. Level terakhir manusia adalah level mukmin (yaa ayyuhalladziina aamanuu).26

25 Republika, 9 Maret 2014.

26 Istilah mukmin pun terbagi dua, yaitu mukmin haq adalah mukmin yang memilih hidupnya dengan aturan Allah disebut sebagai bani/kaum Adam, bani Nuh, bani Ibrahim, dst sampai kepada bani Muhammad. Satu lagi mukmin bathil (QS 16:72, QS 29:52, 67) yaitu mukmin yang memilih hidupnya dengan ajaran antara ajaran Allah dan selera dirinya (harta, tahta, wanita), maka disebut sebagai bani Iblis, bani Firaun, kafir, kadzaba, tawala, munafiq, dst. Konsekuensinya adalah kehidupan naar. N.d.

(21)

Manusia modern bukan diukur oleh maju tidaknya teknologi, tapi manusia yang memilih jalan hidupnya hanya dengan ajaran Allah.

Darwin mengajukan penyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent

of Man, terbitan tahun 1871. Sejak saat itu hingga sekarang, para

pengikut jalan Darwin telah mencoba mendukung pernyataannya. Tetapi "evolusi manusia" tidak didukung oleh penemuan ilmiah, khususnya dalam hal fosil. Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga dimulai dari 5 atau 6 juta tahun lalu bahwa ada beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang dibuat-buat ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar yakni Australophithecines

(berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus), homo

habilis, homo erectus, dan homo sapiens. Genus yang dianggap sebagai

nenek moyang manusia mirip kera tersebut oleh evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti "kera dari selatan"

yakni jenis kera purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai

bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat ("tegap"), sementara yang lain lebih kecil dan rapuh ("lemah"). Para evolusionis menggolongkan tahapan selanjutnya dari evolusi manusia sebagai genus homo yaitu "manusia." Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok homo lebih berkembang daripada

Australopithecus, dan tidak begitu berbeda dengan manusia moderen.

Manusia moderen saat ini, yaitu spesies Homo sapiens, terbentuk pada tahapan evolusi paling akhir dari genus homo ini. Fosil seperti "Manusia Jawa," "Manusia Peking," dan "Lucy," yang muncul dalam media publikasi dan buku acuan evolusionis digolongkan dalam salah satu dari empat kelompok di atas. Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang menjadi spesies dan sub-spesies. Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan dulunya, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan pohon kekerabatan manusia setelah disadari mereka hanyalah kera biasa.

Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai "Australopithecus > Homo Habilis > Homo erectus > Homo sapiens," evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi, penemuan terbaru ahli paleoanthropologi mengungkap bahwa australopithecines, homo

habilis dan homo erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat

(22)

sebagai Homo erectus kemungkinan hidup hingga masa yang sangat moderen. Dalam sebuah artikel berjudul "Latest Homo erectus of Java:

Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast Asia,"

bahwa fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki umur rata-rata 27± 2 hingga 53.3 ± 4 juta tahun yang lalu yang memunculkan kemungkinan bahwa homo erectus hidup semasa dengan manusia beranatomi moderen (homo sapiens) di Asia Tenggara. Lebih jauh lagi

homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan homo

sapiens sapiens (manusia moderen) juga dengan jelas hidup

bersamaan. Hal ini sepertinya menunjukkan tidak sahnya pernyataan bahwa yang satu merupakan nenek moyang bagi yang lain. Pada dasarnya, semua penemuan dan penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa rekaman fosil tidak menunjukkan suatu proses evolusi seperti yang diusulkan para evolusionis. Fosil-fosil yang dinyatakan sebagai nenek moyang manusia oleh evolusionis, sebenarnya ras selain manusia atau milik spesies kera.

Tidak ada landasan ilmiah/tak adanya bukti perihal evolusi manusia, sebagaimana dinyatakan David Pilbeam, ahli paleoanthropologi dari Harvard University. Begitu pula William Fix paleoanthropolog menyatakan evolusionis membangun tafsir khayal. Sepanjang sejarah, telah hidup lebih dari 6.000 spesies kera, kebanyakan dari mereka telah punah. Saat ini, hanya 120 spesies yang hidup di bumi. Enam ribu atau lebih spesies kera sebagian besar punah. Pernyataan evolusi ini, yang terbatas buktinya, memulai pohon kekerabatan manusia dengan satu kelompok kera yang membentuk satu genus tersendiri, Australopithecus. Secara bertahap mulai berjalan tegak, otaknya membesar, melewati tahapan hingga menjadi manusia sekarang (homosapiens), tetapi rekaman fosil tidak mendukung skenario ini. Semua bentuk peralihan ada, terdapat rintangan yang tidak dapat dilalui antara jejak fosil manusia dan kera. Lebih jauh lagi, telah terungkap bahwa spesies yang digambarkan sebagai nenek moyang satu sama lain sebenarnya spesies masa itu hidup pada periode yang sama. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori evolusi abad ke-20 dalam bukunya One Long Argument bahwa [teka-teki] bersejarah seperti asal usul kehidupan atau homosapiens adalah sangat sulit dan bahkan mungkin tidak akan pernah menerima penjelasan yang memuaskan. Di lain pihak, terdapat perbedaan dalam susunan anatomi berbagai ras manusia. Terlebih lagi, perbedaannya semakin besar antara ras prasejarah karena seiring dengan waktu ras manusia telah bercampur satu sama lain dan terasimilasi. Perbedaan penting masih terlihat antara berbagai kelompok populasi yang hidup di dunia saat

(23)

ini, seperti ras Scandinavia, suku Pigmi Afrika, Inuits, penduduk asli Australia, dsb. Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa fosil yang disebut hominid oleh ahli paleontologi evolusi sebenarnya bukanlah milik spesies kera yang berbeda atau ras manusia yang telah punah. Dengan kata lain, tidak ada contoh bagi satu bentuk peralihan antara manusia dan kera yang telah ditemukan.

Proses penciptaan manusia oleh Tuhan kategori ‘unik’ karena manusia dibekali beberapa kemampuan yang luar biasa. Dengan demikian, bekal yang ekstra tersebut sewajarnya jika mendapatkan porsi perhatian ilmuwan Barat yang dimotori oleh Charles Darwin dengan teori evolusi dalam bukunya Origin of Species tahun 1859 dengan pendekatan medis dan rasional. Dalam Origin of Species, Charles Darwin menyatakan bahwa segala makhluk hidup (termasuk manusia) adalah anak cucu leluhur bersama yang lolos seleksi alam, hipotesis tersebut kini menjadi teori Evolusi Darwin. Sejak 1859 hingga kini banyak teori tentang proses evolusi manusia yang ‘jatuh-bangun’ karena hipotesa baru. Hipotesis Darwin tentang asal-usul manusia dalam The Descent of Man (1871) menyodorkan dua hipotesa (i) Afrika adalah tanah leluhur manusia berdasarkan kemiripan anatomi manusia dengan kera Afrika (simpanse dan gorila) dan (ii) ciri makhluk yang dianggap manusia yakni bipedal (berjalan dengan dua kaki), memiliki otak relatif besar, dan menggunakan teknologi. Teori tersebut mendapat pertentangan dari JZ Young dalam The Life of Vertebrates

(1950) apakah manusia berasal dari keturunan leluhur bersama kera-manusia atau berkembang secara terpisah dari primata lebih dari 16 juta tahun lalu? Berkat riset genetika molekuler mutakhir menjawab bahwa sekitar 13 juta tahun lalu paling tidak ada dua dari sekian banyak keturunan leluhur bersama kera-manusia berpisah dari garis genetik leluhur mereka. Sekurangnya satu dari dua spesies menjadi leluhur gorila dan satu lagi leluhur simpanse-manusia. Sekitar 6-8 juta juta tahun, leluhur simpanse berpisah, satu spesies menjadi leluhur simpanse modern dan yang satunya menjadi leluhur hominid.

Dari kronologi itu bahwa kera Afrika (simpanse dan gorila) bukan nenek moyang manusia, tapi saudara evolusioner dari leluhur bersama yang berevolusi di jalur masing-masing. Jika dianalogikakan sebagai keluarga, simpanse berjarak lebih dekat dengan hominid

sebagai saudara kandung, sementara gorila adalah sepupu. Berikut ini daftar spesies anggota hominid (a) Sahelanthropus Tchadensis; merupakan hominid tertua yang hidup 7-6 juta tahun yang lalu, persis pada batas periode yang diduga sebagai waktu perpisahan leluhur

(24)

hominid dengan simpanse, (b) Orrorin Tugenensis dan Ardiphitecus

Ramidus Anamensis; 4-3 juta tahun lalu, (c) Kenyanthropus Platyops,

Australopithecus Bahrelghazali dan Australophitecus Afarensis; fosil

Afarensis ini ada yang berkelamin perempuan disebut lucy, (d)

Australopithecus Aethiopicus, Australoppithecus Africanus,

Australophiticus Garhi, dan anggota genus homo tertua yakni Homo

Rudolfensis, kemunculannya antara 3-2 juta tahun lalu, (e)

Austraphitecus; periode kepunahan genus antara tahun 2-1 juta tahun

lalu karena masa itu hanya ditemukan dua yakni A boisei dan A

Robustus. Sebaliknya anggota genus homo bertambah tiga yakni

hergaster, habiis, dan herectus. Antara 1 juta hingga kini tercatat 4

genus homo yakni homo antecessor, homo eildelbergensis, homo

eanderthalensis, dan homo Sapiens.27

H. Simpulan

Memperbincangkan manusia dalam konsep Islam mendapat telaah yang mendasar, mulai dari unsur penciptaan hingga potensi positif dan negatif yang dimiliki manusia sebagai fitrahnya. Akan tetapi, konsep Barat berdasarkan hasil risetnya jika dihadapkan dengan konsep Islam terdapat perbedaan fundamental. Islam dengan tegas menandaskan bahwa leluhur manusia adalah nabiyullah Adam AS, sedangkan leluhur manusia versi ilmuwan Barat adalah serumpun dengan simpanse, kera, gorilla, dan lainnya yang fasenya bertahap. Konsep Barat dimotori Charles Darwin dengan teori evolusi tersebut terdapat kelemahan yang mendasar bahwa mata rantai rumpun manusia tersebut belum atau tidak ditemukan satu titik rangkaian yang disebut

missing link (mata rantai yang terputus).

Pemahaman umum bahwa Nabi Adam sebagai manusia perdana di bumi mendapat respon dengan hipotesa bahwa ada kehidupan makhluk Tuhan di bumi sebelum Adam. Sosok dan aktivitasnya yang belum terungkap dengan utuh sehingga menjadi polemik. Kajian tentang manusia perdana di bumi selalu menarik bila menggunakan pendekatan lintas keilmuan. Polemik ini semakin menarik bila ditemukan fakta baru untuk pendalaman telaah. Mengkaji manusia perdana di bumi sebagai bahan pendalaman tafsir bil-Riwayah

(bil ma’tsur) yang mendasarkan pada penjelasan Al-Quran sendiri,

penjelasan nabi, penjelasan para sahabat melalui ijtihadnya dan

27 lihat C. Sri Sutyoko Hermawan, “Merangkai Riwayat Asal-Usul Manusia,” Kompas, September 6, 2002.

(25)

penjelasan para tabi’in. Polemik pro-kontra siapa jati diri manusia yang perdana di bumi perlu mengedepankan pendalaman dengan memanfaatkan kajian lintas keilmuan dengan bekal hati nurani sehingga mendapatkan pemahaman yang paripurna. Dengan kata kunci, kelihaian nalar manusia harus tunduk pada kebenaran pesan dalam al-Quran. [.]

Referensi

Al Makin. Apakah Tafsir Masih Mungkin? Dalam Studi Al-Quran

Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir.

Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Arif, Mahmud. Wacana Naskh Dalam Tafsir Fi Dilal Al-Quran Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai

Metodologi Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Baedhowi. Antropologi Al-Quran. Yogyakarta: LKiS, 2009.

Baidhawy, Zakiyuddin. Hermeneutika Pembebasan Al-Quran Perspektif Farid Esack Dalam Penafsiran al-Quran Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai

Metodologi Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Ghafur, Waryono Abdul. Al-Quran Dan Tafsirnya Dalam Perspektif Arkoun Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru

Berbagai Metodologi Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Harahap, Syahrin. Metodologi Studi Dan Penelitian Ilmu-Ilmu

Ushuluddin. Jakarta: Rajawali Press, 2000.

Hermawan, C. Sri Sutyoko. “Merangkai Riwayat Asal-Usul Manusia.”

Kompas, September 6, 2002.

Ichwan, Moch Nor. Al-Quran Sebagai Teks (Teori Teks Dalam Hermeneutika Quran Nasr Hamid Abu Zayd) Dalam Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi

Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Ilyas, Yunahar. Feminisme Dalam Kajian Tafsir Al-Quran Klasik Dan

Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

M Mansur. Metodologi Tafsir ‘Realis’ (Telaah Kritis Terhadap

(26)

Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Mustaqim, Abdul. Paradigma Tafsir Feminis Membaca Al-Quran

Dengan Optik Perempuan. Yogyakarta: Logung Pustaka,

2008.

———. Studi Al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai

Metodologi Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Sahiron Syamsuddin. Metode Intratekstualitas Muhammad Shahrur Dalam Penafsiran Al-Quran Dalam Studi Al-Quran

Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir.

Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Sahrodi, Jamali. Metodologi Studi Islam Menelusuri Jejak Historis

Kajian Islam Ala Sarjana Orientalis. Bandung: Pustaka Setia,

2008.

Suprayogo, Imam, and Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: Rosda Karya, 2001.

Sutrisno, Wahyudi, and Sofyan Anif. “Teori Evolusi Darwin Dalam Islam.” Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2015.

Syafi’i, Ahmad. “Kritik Islam Atas Teori Evolusi Darwin: Suatu Kajian Tentang Asal-Usul Kajian Manusia.” Jurnal Hunafa 3, no. 3 (2006): 263–74.

Syamsuddin, Sahiron. Tipologi Penafsiran Historis Atas Al-Quran Dalam Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli

Muhammad Izzat Darwazah. Bandung: Mizan, 2016.

Wijaya, Aksin. Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli

Muhammad Izzat Darwazah. Bandung: Mizan, 2006.

Zaid, Nasr Hamid Abu. Tekstualitas Al-Quran Kritik Terhadap Ulumul

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga pendidikan Islam berfungsi untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah tersebut, yaitu menjalankan tugas-tugasnya hidupnya di muka

Hanif (kecenderungan kepada kebaikan) yang terjadinya proses persaksian sebelum digelar ke muka bumi. Manusia memiliki potensi baik sejak kelahirannya. Ketiga

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, telah kita ketahui bahwa sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini, sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah yang mempunyai akal sudah seharusnya

Manusia adalah makhluk Allah, yaitu makhluk hidup yang sempurna karena memiliki nafsu dan akal, serta berbudi pekerti 1 maka disebut juga makhluk sosial yaitu

Manusia merupakan makhluk yang paling dominan di permukaan bumi. Hampir semua lini di bumi ini dikuasai oleh manusia. Kenapa bisa demikian? Karena manusia memiliki beberapa

Sebagai konsekuensi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi, maka manusia merupakan: makhluk ciptaan Tuhan, makhluk yang terlahir dalam kondisi tidak

Al-Quran secara terang telah mengajak manusia untuk mencari pekerjaan di muka bumi ini khususnya menceburi bidang perniagaan dan keusahawanan yang dianggap sebagai pekerjaan

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT dan merupakan makhluk utuh yang terdiri dari jasmani, akal, dan