PENATALAKSANAAN MASSAGE PUMPKIN SEED OIL,
HYDROTHERAPY DAN ACTIVE EXERCISE UNTUK
MENINGKATKAN ELASTISITAS KULIT PADA KASUS
XEROSIS AKIBAT MORBUS HANSEN MULTI BASILER
REAKSI DI RSUD KELET JAWA TENGAH
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Diploma III pada Jurusan Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan
Oleh : IRMA RISKIMA
J100160051
PROGRAM STUDI DIII FISIOTERAPI FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2019
2 i
3 ii
4 iii
1
PENATALAKSANAAN MASSAGE PUMPKIN SEED OIL, HYDROTHERAPY DAN ACTIVE EXERCISE UNTUK MENINGKATKAN ELASTISITAS KULIT PADA KASUS XEROSIS AKIBAT MORBUS HANSEN MULTI
BASILER REAKSI DI RSUD KELET JAWA TENGAH Abstrak
Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi oleh bakteri Mycobacterium Leprae yang menyerang stratum korneum sehingga menyebabkan kulit kering dan pecah-pecah terganggungnya sistem sekresi kulit. Untuk mengetahui manfaat SPA Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy dan Active Exercise untuk kasus Xerosis akibat
Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi. Setelah dilakukan terapi sebanyak 7 kali, terdapat perubahan meningkatnya elastisitas kulit T0 : 7 menjadi T7 : 4, adanya perubahan kulit kering dan pecah-pecah menjadi halus T0 : 4 menjadi T7 : 3, adanya penurunan lingkar segmen pada oedem ankle kanan 5 cm dari maleolus medialis T0 : 23 menjadi T7 : 21, 10 cm dari maleolus medialis T0 : 21 menjadi T7 : 19, 15 cm dari maleolus medialis T0 : 22 menjadi T7 : 21,5. Pemberian modalitas SPA Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy dan Active Exercise dapat membuat berkurangnya kulit yang kering dan pecah-pecah menjadi halus, meningkatnya lingkar segmen pada kaki yang atrofi, serta meningkatnya elastisitas kulit pada kedua ankle dengan meningkatnya LGSpada kedua ankle.
Kata Kunci: Xerosis, SPA Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy, Active Exercise.
Abstract
Xerosis due to Morbus Hansen Multi Basiler the reaction by the bacterium
Mycobacterium Leprae which attacks the stratum corneum causing dry and cracked skin to be damaged by the skin secretion system. To find out the benefits of pumpkin seed oil SPA, hydrotherapy and active exercise for Xerosis cases due to Morbus Hansen Multi Basiler Reaction. After 7 times, make changes to the skin elasticity T0: 7 to T7: 4, change dry and cracked skin to be smooth T0: 4 to T7: 3, select the relationship between the layer segments on the right ankle edema 5 cm from the maleolus medial T0: 23 becomes T7: 21, 10 cm from medial malleolus T0: 21 to T7: 19, 15 cm from medial malleolus T0: 22 to 21.5. Giving SPA modality Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy and Active Exercise can reduce dry and cracked skin to smooth, rotate the circumference of segments on smooth legs, and also the elasticity of the skin on the ankles by helping LGS on both ankles.
1 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit kusta dengan nama lain penyakit leprae disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae dan mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2-3 minggu. Di luar tubuh manusia kuman kusta mampu hidup mencapai 9 hari dan masa inkubasi 2-5 tahun bahkan memakan waktu lebih dari 5 tahun. Kusta dapat menjadi progresif dampak dari penatalaksanaan yang buruk sehingga menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan dan mata. Maka dari itu agar tidak terjadi penurunan kualitas hidup penderitanya harus diobati secara dini (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2017).
Xerosis berupa dampak dari reaksi kusta yang mengganggu kelenjar tiroid yaitu kulit kering yang merupakan reaksi kulit indikasi deskuamasi abnormal yang menghasilkan tekstur dan penampilan kulit yang kasar (Ritter, 2018). RSUD Kelet Jawa Tengah selalu menangani kasus xerosis karena hampir semua pasien rawat inap dengan diagnosis tersebut, diberikan berupa terapi Massage, Hydrotherapy dan Active Exercise. Diberikaannya hydrotherapy bertujuan untuk melembabkan kulit pasien dan membersihkan kulit mati, begitu pula dengan terapi latihan diberikan active exercise agar mencegah kontraktur pada sendi pasien. Hanya pada kesempatan tertentu RSUD Kelet Jawa Tengah memberikan bahan massage dengan lotion pumpkin seed oil. Tidak semua pasien diberikan lotion tersebut, mengingat harganya yang begitu mahal dari baby oil. Pumpkin seed oil ini berupa ekstrak biji labu kuning dalam bentuk lotion dan siap dioleskan pada kulit pasien.
1.2Tujuan
a. Mengetahui manfaat pemberian Massage dengan Pumpkin Seed Oil
untuk menghaluskan kulit yang pecah-pecah dan kasar pada kondisi
2
b. Mengetahui manfaat pemberian Hydroterapy untuk mengurangi kulit yang kering pada kondisi Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi.
c. Mengetahui manfaat pemberian Active Exercise untuk menjaga dan meningkatkan elastisitas kulit pada kondisi Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi.
2. METODE
2.1Teknologi Intervensi Fisioterapi 2.1.1 Massage Pumpkin Seed Oil
Pijat atau massage sudah dikenal dalam budaya Indonesia, sebab pijat berasal dari gerakan refleks manusia. Begitu pula yang terjadi di lapangan seperti RSUD Kelet Jawa Tengah, bahwasanya pasien penderita reaksi kusta seperti diagnosis xerosis diberikan
massage pumpkin seed oil yaitu diusapkan ke kulit. Guna menjaga kelembaban kulit agar tidak terjadi kontraktur pada sendi diakibatkan tidak adanya keringat dihasilkan oleh startum korneum yang berfungsi mencegah dehidrasi dan menjaga elastisitas kulit (Sutanto, 2016).
2.1.2 Hydrotherapy
Hydrotherapy bekerja melalui sistem saraf seperti halnya obat-obatan, obat ini bekerja di pusat otak dan ekstensi mereka, dan kemudian melalui area refleks. Peran saraf membantu sensasi kulit lebih dalam ke dalam tubuh, kemudian vital dalam merangsang sistem kekebalan tubuh, meningkatkan sirkulasi dan pencernaan, memengaruhi produksi hormon stres, mengurangi kepekaan tubuh terhadap rasa sakit dan mendorong aliran darah (Sudhakar & Sathish, 2016)
2.1.3 Active Exercise
Jaringan lunak dapat terbatas dan mengganggu mobilitas pada otot dengan eleman kontraktil dan non kontraktilnya serta berbagai jenis jaringan ikat (tendon, ligamen, kapsul sendi, fasia,
3
kulit). Penurunan ekstensibilitas jaringan ikat merupakan bukan elemen kontraktil jaringan otot, penyebab utama keterbatasan ROM pada individu sehat dan pasien pada gangguan mobilitas cedera, penyakit dan pembedahan (Pristianto, Wijianto, & Rahman, 2018).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1Hasil
3.1.1 Hasil pengukuran tingkat elastisitas kulit dengan Turgor Test
0 2 4 6 8 T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7
Turgor Test
Turgor TestGrafik 1. Pemeriksaan Tugor Test
Setelah dilakukan terapi sebanyak 7 kali dengan
Masage Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy dan Active Exercise
elastisitas kulit meningkat dari T0 : 7 menjadi T7 : 4. 3.1.2 Hasil pemeriksaan kulit kering dan kasar dengan skala (ODSS)
Overall Dry Skin Score
0 2 4 6 T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7
ODSS
ODSS4
Setelah dilakukan 7 kali terapi Massage Pumkin Seed Oil, Hydrotherapy dan Active Exercise kulit kering menjadi berkurang, kehitaman pada kulit menjadi hilang dengan meningkatnya kelembaban dan mengelupasnya kulit mati pada
xerosis dan kulit kasar manjadi lebih lembut T0 : 4 menjadi T7 : 3.
3.1.3 Hasil pemeriksaan Girth and Volumetric Test dengan menggunakan
meterline 0 5 10 15 20 25 T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 10 cm dari tuberositas tibia
Grafik 3. hasil pemeriksaan lingkar segmen kanan dengan
girth and volumetric test
Setelah melakukan terapi sebanyak 7 kali dengan
Massage Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy dan Active Exercise terjadi penurunana lingkar segmen pada tungkai kanan 10 cm dari tuberositas tibia T0 : 20,5 menjadi T7 : 19,5 , 20 cm dari tuberositas tibia T0 : 17 menjadi T7 : 15,9, 30 cm dari tuberositas tibia T0 : 19 menjadi T7 : 18.
5
Tabel 1. Hasil lingkup gerak sendi ankle
Terapi Dorsal fleksi – Plantar fleksi
Kanan Kiri T0 30º-0º-50º 30º-0º-50º T1 30º-0º-50º 30º-0º-50º T2 32º-0º-51º 31º-0º-51º T3 31º-0º-51º 31º-0º-51º T4 30º-0º-51º 30º-0º-51º T5 30º-0º-51º 30º-0º-51º T6 32º-0º-51º 31º-0º-52º T7 32º-0º-52º 32º-0º-52º
Setelah melakukan terapi sebanyak 7 kali dengan
Massage Pumpkin Seed Oil, Hydrotherapy dan Active Exercise
terjadi peningkatan lingkup gerak sendi pada ankle dorsi fleksi dan plantar fleksi kanan T0 : 30º-0º-50º menjadi T7 : 32º-0º-52º, ankle dorsi fleksi dan plantar fleksi T0 : 30º-0º-50º menjadi 32º-0º-52º.
3.2 Pembahasan
3.2.1 Massage Pumpkin Seed Oil
Mekanisme khasiat dari Pumkin Seed Oil pada Xerosis
akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi karena terdapat bahan yang digunakan dalam lotion pumpkin seed oil merupakan zat yang mampu melunakkan kulit seperti zat emolient, ada pula sebagai pengatur kelembaban baik pada kulit maupun pada sediaan fungsi dari zat hukmektan, zat pengental, zat pengelmusi berfungsi untuk menstabilkan emulis pada sediaan, serta zat yang mampu mencegah timbulnya mikroorganisme yang bisa merusak sediaan fungsi dari zat pengawet di dalamnya. (Sulandjari, Hj Siti and Si, M, Triharjiati, 2015).
3.2.2 Hydrotherapy
Penatalaksanaan hydrotherapy untuk pasien Xerosis akibat
Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi berpengaruh besar untuk proses lembabnya kulit dan meningkatnya elastisitas kulit serta revitalisasi
6
pada kulit yang menghitam akibat dehidrasi (Windiyati, 2019). Dilakukan selama berada di RSUD Kelet Jawa Tengah setiap pagi dan sore, sedangkan pasien pada penelitian ini sulit untuk melakukan aktifitas fungsional maka dilakukan setiap pagi. Hasilnya kulit yang menghitam dan kering akibat xerosis pada pasien mulai mengelupas dan lembab sehingga kulit mulai tampak seperti kulit normal biasanya 3.2.3 Active Exercise
Active exercise bermanfaat menjaga elastisitas fisiologis seperti kulit dan kontraktilitas otot yang berpartisipasi, mengaktifkan umpan balik indera dari otot-otot yang berkontraksi, adanya rangsangan untuk integritas tulang dan jaringan sendi, meningkatkan sirkulasi dan mencegah pembentukan thrombus serta mengembangkan keterampilan koordinasi dan motorik untuk kegiatan fungsional pasien Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler
Reaksi (Kisner, Colby, & John, 2017).
4. PENUTUP 4.1Simpulan
Simpulan yang dapat diambil setelah melakukan program fisioterapi pada kasus Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi sebanyak enam kali menggunakan dengan pasien bernama Bapak A didapatkan hasil sebagai berikut:
a. Massage dengan Pumpkin Seed Oil mampu melembabkan kulit pada kasus Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi.
b. Hydrotherapy mampu melembabkan kulit dan membersihkan kulit mati pada kasus Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi. c. Active Exercise mampu meningkatkan elastisitas kulit dengan
7 4.2Saran
Pemberian saran setelah melakukan terapi pada pasien Xerosis diharapkan dapat menjadi motivasi yang membangun berbagai pihak diantaranya:
4.2.1 Pasien
Pasien harus memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh terutama ketika penatalaksanaan fisioterapi berlangsung. Respon pasien terhadap latihan yang diberikan oleh terapis dilakukan dengan tertib dan tepat guna berhasilnya suatu program latihan. Menjaga kebugaran dengan makanan yang sehat dan latihan active exercise bentuk dari mencegah bertambahnya xerosis serta timbulnya reaksi kusta. Rutin untuk meminum MDT untuk mengobati atau memberhentikan mycobacterium leprae. Serta menjalankan jadwal latihan home program pasien yang telah diberikan.
4.2.2 Fisioterapis
Terapis harus lebih detail dalam melakukan pemeriksaan awal agar mendapatkan diagnosa yang tepat. Hasil yang tepat pada pameriksaan mampu mempermudah terapis untuk melakukan terapi dalam menangani kasus Xerosis akibat Morbus Hansen Multi Basiler Reaksi. Selama melakukan pemeriksaan pada pasien kusta terapis tetap menggunakan alat pelindung diri, mencegah dari
mycobacterium leprae atau pun bakteri lainnya. 4.2.3 Masyarakat
Sebaiknya bila masyarakat merasakan dirinya dan kerabat terdapat bercak putih serta mati rasa pada tubuh, atau merasakan gangguan sensorik pada kaki dan tangan. Masyarakat harus segera memeriksakannya ke puskesmas terdekat atau rumah sakit lainnya. Penyakit ini bukan penyakit kutukan yang harus kita abaikan, melainkan turut serta masyarakat dalam membasmi mycobacterium leprae. Agar terputus rantai berkembangnya bakteri tersebut.
8 DAFTAR PUSTAKA
Gimenez-arnau, A. M. (2014). Xerosis Means "Dry Skin" : Mechanism, Skin Conditions, and Its Management 22 : 235–249. https://doi.org/10.1007/978-3-642-54379-1
Kalangi, S. J. R. (2013). Histofisiologi kulit. Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi Manado, hal : 12-20
Kemenkes RI. (2018). Hapuskan Stigma dan Diskriminasi Terhadap Kusta. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1213/01.ANE.0000403381.51061.df
Kenhub. 2019. Anatomi of The Skin. Diakses tanggal 1/5/2019. https://www.kenhub.com/en/library/anatomy/anatomy-of-the-skin
Kisner, C., Colby, L. A., & John, B. (2007). Therapeutic exercise, foundations and techniques, hal. 957
Kreatif, D. (2014). Lebih Dekat Dengan Anak Tunadaksa, hal : 31. https://doi.org/10.1186/1750-9378-2-15.Voir
Marianti, dr. (2017). Pengertian Sirosis ALODOKTER. Diakses tanggal 1/5/2019 dari https://www.alodokter.com/sirosis
Parker, J., Scharfbillig, R., & Jones, S. (2017). Moisturisers for the treatment of foot xerosis : a systematic review, 1–10. https://doi.org/10.1186/s13047-017-0190-9
Prakoeswa, F. R. S. (2018). Buku Ajar Kusta. Surakarta : Muhammadiyah University Press
Prawitasari, S. (2018). Inti Sari Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Malang : Universitas Brawijaya Press, hal : 373.
Pristianto, A., Wijianto, & Rahman, F. (2018). Terapi Latihan Dasar. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Press, hal : 2
Putry, Devie. 2015. Pemeriksaan Tugor. Diakses tanggal 1/5/2019, dari https://www.scribd.com/document/281064310/Pemeriksaan-turgor
Rademaker, Marius BM FRCP & Lowe, Patricia MBBS MMed F.A.C.D. (2015). Reseacrh Review Educational Series, Management of Dry Skin in Diabetes Melitus. www.researchreview.co.nz
Ritter, C. G. (2018). Xerosis : Springer International Publishing Switzerland https://doi.org/10.1007/978-3-319-33919-1_66
9
Shim, J. H., Park, J. H., Lee, J. H., Lee, D. Y., Lee, J. H., & Yang, J. M. (2016). Moisturizers are effective in the treatment of xerosis irrespectively from their particular formulation : results from a prospective , randomized , double-blind controlled trial, 276–281. https://doi.org/10.1111/jdv.13472
Sudhakar, S., & Sathish, G. (2016). Effectiveness of Physiotherapy in Skin
Grafting, hal : 33–38.
https://www.researchgate.net/publication/310063047
Sulandjari, Hj Siti and Si, M, Triharjiati, M. (2015). Pengaruh Perbandingan Ekstrak Biji Labu Kuning Dan Ekstrak Kulit Manggis Terhadap Hasil Jadi Hand and Body Lotion. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya vol 04, hal. 66-73
Sutanto, D. K. (2016). Spa, Pengetahuan, Aplikasi dan Manfaatnya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, hal. 256
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. (2017). Profil Kesehatan Jawa Tengah; Semarang, hal. 35
Uchida, Y., & Park, K. (2016). Stratum Corneum, hal. 15–31. https://doi.org/10.1007/978-4-431-55855-2
Vionni, V., Arifputra, J., & Arifputra, Y. (2016). Reaksi Kusta, 43(7), 501.
Retrieved from
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/article/viewFile/79/76
Windiyati. (2019). Perawatan Kecantikan Kulit. Jakarta Z: Gramedia Pustaka Utama, hal. 29
Wulandari. (2016). Pengaruh Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat dengan Campuran Garam dan Serai Terhadap Penurunan Tekanan Darah, hal. 43–47.