• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Penelitian

“Jam tujuh malam. Eko (31 thn, nama samaran) sedang mengendarai sepeda motornya, sementara saya duduk di boncengan. Tiba-tiba ia menghentikan sepeda motor yang dikendarainya, turun dari sepeda motornya. Hati saya berdebar. Suasana sepi. Ia berbicara, “Sebentar mbak, ini ada yang mau memasuki saya.” Lalu segeralah suaranya berubah menjadi lebih berat dan garang, matanya memerah, badannya bergetar, dan dia berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa. Ia mengaku bahwa dirinya adalah danyang penghuni sebuah candi. Setelah berbicara beberapa saat, lelaki tersebut berteriak seperti mengerang dan ia kembali sadar dengan sendirinya. Ia tampak linglung. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan pulang.”

(field notes peneliti, 21 September 2014) Cuplikan vignette di atas merupakan pengalaman penulis ketika melakukan pengambilan data awal. Kejadian tersebut terjadi tanpa diduga peneliti, dan peneliti melihat sendiri partisipan dalam penelitian ini mengalami kesurupan. Kondisi kehidupan masyarakat kita saat ini yang sudah modern, dengan arus persaingan global yang kuat, tetap menyisakan fenomena-fenomena yang mungkin bagi beberapa kalangan masih dianggap sebagai hal yang mistik dan gaib. Begitu banyak fenomena aneh yang terjadi di sekitar kita dan sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis dan gaib. Salah satunya adalah fenomena kesurupan. Kesurupan merupakan fenomena yang sering terjadi di masyarakat dan bukanlah fenomena yang barusan saja terjadi. Fenomena ini telah terjadi sejak masa lampau dan tercatat dalam berbagai tulisan seperti dalam kitab suci (Alkitab) milik umat Kristiani. Kisah kesurupan yang tertulis dalam kitab suci biasanya menjadi dasar pengkaitan fenomena kesurupan dengan hal mistis, misteri dan seolah berhubungan dengan suatu kehidupan yang ada di

(2)

alam yang berbeda, antara kehidupan manusia, malaikat, orang-orang kudus, jin, setan atau iblis.

Para ahli telah banyak memperdebatkan mengenai fenomena kesurupan ini. Namun, secara umum terdapat kesepakatan bahwa kesurupan tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi saja. Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat fenomena kesurupan dengan tipe patologis. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Rahardanto (2011: 15-16), diajukan sebuah gagasan bahwa:

Kesurupan dibagi menjadi empat jenis yaitu kesurupan patologis, kesurupan religius, kesurupan kuratif, dan kesurupan hiburan. Kesurupan patologis adalah kesurupan yang kemunculannya tidak dikehendaki olehindividu yang mengalaminya dan cenderung menjadi aib atau noda sosial bagi individu yang mengalaminya. Kesurupan religius adalah kesurupan yang terjadi dalam praktik peribadatan agama-agama di dunia, dan umumnya bersifat sintonik-ego (kemunculannya diharapkan oleh individu dalam komunitas tersebut). Contohnya adalah fenomena “dirasuki Roh Kudus” (possessed by the Holy Spirit) yang lazim dijumpai dalam praktik peribadatan jemaat Pentakosta. Kesurupan kurasi adalah kesurupan yang sengaja dihadirkan untuk tujuan penyembuhan (kurasi); contohnya adalah fenomena dukun prewangan atau dukun tiban (perempuan yang menggunakan dirinya sebagai “wadah” bagi makhluk gaib, dan dalam kondisi kesurupan, ia bisa memberikan nasihat atau memiliki kekuatan menyembuhkan orang lain. Kesurupan hiburan adalah kesurupan yang dihadirkan dengan sengaja dan dipertontonkan sebagai hiburan (Rahardanto, 2011: 15-16).

Artinya, dalam penelitian oleh Rahardanto di atas, diidentifikasi adanya empat jenis kesurupan yang berbeda. Namun dalam penelitian ini peneliti secara khusus akan membahas salah satu dari keempat tipe kesurupan tersebut, yaitu kesurupan patologis. Ketertarikan peneliti mengambil kesurupan dengan tipe patologis dikarenakan fenomena kesurupan tipe patologis ini sering terjadi dalam masyarakat Indonesia.

(3)

Secara pribadi, peneliti mempunyai pengalaman khusus mengenai fenomena kesurupan dengan tipe patologis. Peneliti banyak menjumpai dan menyaksikan secara langsung fenomena kesurupan massal maupun kesurupan yang terjadi secara tunggal, yang terjadi ketika peneliti mengenyam bangku pendidikan SMA.

Kasus kesurupan massal banyak terjadi di sekolah maupun di pabrik. Beberapa contoh kasus fenomena kerasukan massal yang banyak dijumpai di Indonesia, salah satu contohnya, seperti kasus kesurupan massal yang terjadi di sebuah SMA di Nganjuk, saat belasan siswi mendadak menjerit dan menangis histeris ketika sedang berlangsung pelajaran matematik (Tribun News, Belasan Siswa Kesurupan, 2014). Kasus berikutnya adalah kasus kesurupan massal yang terjadi di sebuah pabrik garmen di Bogor. saat puluhan karyawan kesurupan, satu per satu karyawan jatuh pingsan dan ada yang berteriak-teriak. (Detik News, Puluhan Karyawan Pabrik Garmen di Bogor Kesurupan, 2009).

Selain beberapa kasus yang dipaparkan di atas, terdapat pula sebuah kasus kesurupan yang dapat digolongkan dalam tipe patologis. Kasus yang pernah terjadi di Eropa, dalam buku yang ditulis oleh Goodman (2010), menceritakan mengenai eksorsisme dan kisah kematian seorang seorang gadis muda berkebangsaan Jerman yang bernama Anneliese Michel. Hasil pemeriksaan ditemukan bahwa Anneliese meninggal dunia karena keracunan obat yang diberikan secara terus menerus. Sebelumnya ia juga mengalami kelaparan, dan sakit yang serius sehingga ia mengalami kekurangan gizi, selain itu Anneliese juga menderita epilepsi. Walaupun demikian, orang tuanya meyakini bahwa ia kerasukan setan, karena dalam episode kerasukannya, Anneliese mengeluarkan kata-kata hujatan dan kebencian terhadap hal-hal yang bersifat religius. Kedua orang tuanya

(4)

akhirnya memanggil dua orang imam Katolik untuk melakukan ritual eksorsisme secara berulang hingga kematiannya (Goodman, 2010).

Kasus berikutnya yang dirangkum dari sebuah artikel mengenai ritual eksorsisme yang dilakukan oleh seorang imam Katolik di Indonesia kepada seorang mahasiswi (Santo, 2010). Artikel tersebut menceritakan mengenai pengalaman seorang imam di Indonesia yang melakukan ritual eksorsisme untuk pertama kalinya kepada seorang mahasiswi yang mengalami kesurupan saat sedang mengikuti rekoleksi. Hampir serupa dengan kasus kesurupan yang dialami oleh Anneliese, mahasiswi tersebut berteriak, menjerit histeris, dan mengatakan kata-kata penghujatan dan kebencian kepada Tuhan dan pengikutnya.

Selain kedua kasus tersebut (yang merupakan kasus kesurupan tunggal), peneliti memperoleh beberapa hal dalam wawancara data awal, yang diambil pada tanggal 21 September 2014. Partisipan dengan nama samaran Eko, umur 31 tahun, mengatakan bahwa dirinya sering kali diejek karena badannya sering bergerak-gerak, seperti bergetar-getar sendiri, kepalanya sering terangguk-angguk sendiri, dan ia meyakini bahwa hal tersebut akibat dari ulah makhluk gaib yang menganggu dan mengikutinya. Menurut partisipan tersebut, makhluk tersebut muncul ketika dia sedang sholat, dan memperkenalkan diri sebagai penunggu candi, dan membuat sholat Eko menjadi “batal”. Berikut yang diungkapkan oleh partisipan Eko yang mengatakan bahwa:

“Yang paling terasa beda itu kalo pas lagi sholat, kalo sholat menganggu, saya bisa ngomong dan gerak-gerak

sendiri, kayak maju mundur, dan makhluk itu

memperkenalkan diri ke saya, seperti penunggu candi. Kalau udah kayak gitu sholat saya jadi batal.”

Ketika partisipan Eko kesurupan, ia sering mengamuk, menjadi brutal, dan berteriak-teriak seperti mengerang, mirip suara binatang.

(5)

Partisipan juga mengaku bahwa yang merasukinya adalah makhluk mistik tertentu, seperti jin, danyang penunggu candi, dan juga arwah seorang yang telah meninggal. Partisipan mengatakan bahwa dirinya, yang dikenal baik oleh orang di sekitarnya, seketika dapat berubah menjadi jahat karena yakin dirinya dirasuki oleh makhluk gaib yang jahat. Hal-hal ini tampak dalam kutipan yang diambil dari wawancara data awal:

“Kalau pas kesurupan biasanya saya suka ngamuk-ngamuk, terus jadi mudah marah, mudah tersinggung, biasanya jadi suka mengingat-ingat kesalahan orang, kayak dendaman gitu. Kalau sudah gitu biasanya saya suka ngamuk dan jadi brutal, jadi jahat gitu. Jadi tergantung makhluk yang ngerasuki, saat sekarang saya biasanya dikenal baik oleh orang-orang, kalau yang ngerasuki jahat, saya berubah menjadi jahat. Saya juga pernah ngamuk sambil pegang pisau dan minta minum darah. Pernah juga saya dirasuki arwah anak cewek yang meninggal karena jatuh di kali, dia minta didoakan gitu”

Selain itu, partisipan Eko memiliki keyakinan bahwa hal-hal yang terjadi pada dirinya saat itu merupakan ulah makhluk gaib, seperti badan yang suka bergerak-gerak sendiri sejak kecil, mengalami pusing, mual, dan gejala fisiologis lainnya, yang diyakini sebagai akibat dari makhluk gaib yang ingin merasukinya. Partisipan juga mempunyai keyakinan bahwa dirinya mudah mengalami kesurupan karena pernah berguru ilmu kekebalan. Berikut ini adalah penuturan dari partisipan Eko:

“ Biasanya saya suka merasa pusing, badan gak enak gitu, mual-mual, dan biasanya kalau sudah begitu saya jadi gampang kesurupan. Badan saya dari kecil itu juga suka gerak-gerak sendiri, itu dari kecil, soalnya mungkin karena dulu saya tinggal di dalam candi, anaknya candi X, candi itu angker mbak. Sebelumnya gak pernah saya mengalami kesurupan, saya jadi mudah kesurupan karena mata bathinnya seperti sudah terbuka gitu. Itu semenjak saya berguru untuk kekebalan.”

Melalui kasus-kasus kesurupan yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan terdapat beberapa kemiripan dalam simtom-simtom yang terjadi, seperti berteriak-teriak, menjadi brutal, histeris, mengungkapkan

(6)

emosi-emosi kebencian seperti marah, mengeluarkan kata-kata penghujatan, dan mengaku bahwa dirinya dirasuki makhluk mistik atau arwah orang yang sudah meninggal.

Kasus-kasus kesurupan yang banyak dijumpai di Indonesia adalah kasus kesurupan massal. Biasanya kasus kesurupan massal diawali dengan kasus kesurupan tunggal, dan kasus kesurupan tunggal ini biasanya bersifat patologis. Kesurupan bagaikan sebuah fenomena gunung es, yang

merupakan sarana atau media untuk meluapkan beban-beban, tekanan-tekanan yang tertimbun, keinginan-keinginan yang dipendam ke ketidaksadaran (karena dianggap memalukan), sehingga menjadi meledak, dan manifestasinya muncul dalam berbagai bentuk (Sari & Basri, 2007). Kesurupan bisa menjadi sebuah media seperti katarsis, atau sebagai bentuk “pelarian” yang dilakukan individu dalam hal-hal yang selama ini membuatnya merasa tertekan atau berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan dalam jangka waktu yang lama (Springate, 2009).

Kehidupan setiap individu tidak akan pernah terlepas dari masalah dan tekanan. Ketika mengalami masalah dan tekanan, individu cenderung akan melakukan mekanisme pertahanan diri agar dirinya tetap dapat berfungsi secara normal dan diterima dalam lingkungan (Semiun, 2006). Semiun (2006) mendefinisikan mekanisme pertahanan sebagai sesuatu yang normal, tetapi apabila dilakukan dengan berlebihan maka akan muncul perilaku yang bersifat neurotik dan menjadi patologis. Tidak semua individu dapat mengalami kesurupan. Individu dengan kepribadian yang mudah tersugesti akan lebih mudah mengalami kesurupan (Sari & Basri, 2007). Selain itu individu yang tidak mampu menyeimbangkan dan mengontrol tuntutan id dan superego akan mengalami kecemasan yang dapat berujung pada kesurupan. Ini terjadi karena individu terlalu banyak menggunakan energi psikisnya dan melakukan represi secara berlebihan (Semiun, 2005).

(7)

Berdasarkan kasus-kasus di atas, dinamika kepribadian menjadi hal yang menarik untuk diteliti, khususnya dalam fenomena kesurupan dengan tipe patologis. Dinamika kepribadian itu sendiri meliputi hal-hal yang sangat kompleks, seperti proses penggunaan sistem-sistem dalam kepribadian individu. Bagian-bagian dalam kepribadian individu dapat digali secara lebih mendalam melalui dinamika kepribadian individu sehingga dapat terlihat dengan secara mendalam hal-hal yang dapat menyebabkan kesurupan dapat terjadi. Selain dinamika kepribadian, faktor-faktor lain seperti faktor-faktor lingkungan dan pola asuh memungkinkan untuk dapat dieksplorasi pada penelitian ini. Sehingga, dalam penelitian ini, akan lebih mengeksplorasi secara luas mengenai pengalaman kesurupan pada individu yang pernah mengalami kesurupan yang bersifat patologis.

Penelitian ini penting untuk dilakukan karena akan mempunyai manfaat yang luas. Melalui eksplorasi pengalaman kesurupan, dan dinamika kepribadian, dapat diketahui karakteristik individu yang mudah mengalami kesurupan. Hal ini dapat digunakan sebagai landasan untuk dilakukannya upaya preventif bagi diri individu sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas, khususnya bagi instansi-instansi tertentu, seperti sekolah, dan asrama.

Kasus kesurupan sendiri menjadi penting untuk diteliti karena fenomena kesurupan ini tidak dapat ditelaah dari satu sudut pandang atau perspektif ilmu saja. Beberapa kalangan masyarakat masih mempercayai hal-hal gaib, dan mistik, contohnya orang Jawa, meyakini bahwa setan dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui ubun-ubunnya atau telapak kakinya, sehingga orang tersebut menjadi kesurupan (Koentjaraningrat, 1984: 340). Padahal dalam lingkungan masyarakat, sering dijumpai orang yang mengalami gangguan kejiwaan atau menderita penyakit tertentu dan dikait-kaitkan dengan hal-hal gaib atau mistik, sebagai bentuk dari gangguan makhluk gaib. Corak budaya setempat sangat berkaitan erat

(8)

dengan kriteria gangguan kejiwaan dan kesehatan mental. Kesurupan hanya kebetulan saja timbul sebelum gangguan mental tampak nyata, dan bisa berkaitan dengan kepercayaan budaya setempat (Wicaksana, 2008: 175).

Kurangnya pengetahuan masyarakat dan pengaruh kepercayaan atau budaya dapat menyebabkan pemberian penanganan yang mungkin tidak sesuai dengan kasus yang terjadi. Pemberian penanganan yang kurang tepat dapat berdampak buruk bahkan fatal bagi yang mengalaminya. Kurangnya literatur dan penelitian mengenai kesurupan membuat pengetahuan mengenai hal ini menjadi terbatas. Sebenarnya sudah ada literatur penelitian terdahulu (contohnya Zulfikhar, 2008) yang mengeksplorasi kesurupan, namun sayangnya hanya dikaji melalui satu perspektif saja dan penanganannya tidak dapat diterapkan secara universal. Misalnya, kesurupan dan terapi Ruqyah hanya membahas kesurupan dengan perspektif terapi secara keagamaan (Ruqyah), yang mungkin hanya cocok diberikan kepada orang yang beragama muslim (Zulfikhar, 2008). Kesurupan yang bersifat patologis juga dianggap sebagai aib yang menimbulkan rasa malu, rendah diri pada individu yang pernah mengalaminya juga keluarga atau masyarakat setempat, sehingga mengakibatkan menurunnnya fungsi sosial bagi individu yang bersangkutan di dalam lingkungannya. Selain itu pemberian label dan stigma sosial kepada individu yang pernah mengalami kesurupan dengan tipe patologis ini, akan menambah tekanan bagi kondisi psikologis individu yang pernah mengalaminya.

(9)

1.2. Fokus Penelitian

Bagaimana pengalaman kesurupan pada individu yang pernah mengalami kesurupan yang bersifat patologis?

1.3. Tujuan Penelitian

Mengetahui dinamika pada kesurupan patologis.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah dapat memberi sumbangan teori ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi, dan juga bidang ilmu lain yang bersangkutan seperti antropologi, teologi dan seni, yang mengkaji mengenai fenomena kesurupan dan membahasnya dari berbagai macam perspektif ilmu.

1.4.2. Manfaat Praktis

Terdapat beberapa manfaat praktis yang diharapkan melalui penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi setiap individu yang pernah mengalami kesurupan:

Melalui penelitian ini diharapkan individu yang pernah mengalami kesurupan, dapat memiliki pengetahuan baru dan memperoleh pemahaman yang lebih mengenai kepribadian, sehingga dengan lebih memahami kepribadian diri sendiri dan dapat meminimalisasi terulangnya kasus serupa dan dapat dilakukan pencegahan yang berguna bagi kesehatan mental individu.

(10)

Penelitian ini diharapkan, akan menjadi langkah pertama dan landasan untuk dilakukannya upaya preventif yang tepat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kasus serupa.

3. Bagi masyarakat luas:

i. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi dan pengetahuan baru mengenai fenomena kesurupan yang digolongkan menjadi kesurupan dengan tipe patologis.

ii. Setelah mengetahui informasi dan pengetahuan yang baru, masyarakat dapat mengetahui dan mengambil upaya preventif yang tepat dalam melakukan penanganan, sehingga dapat meminimalkan terjadinya dampak buruk bagi individu yang mengalami kesurupan. iii. Melalui penelitian ini masyarakat diharapkan dapat mengurangi pemberian label dan stigma sosial yang buruk kepada seseorang yang pernah mengalami kesurupan, apalagi kesurupan yang bersifat patologis, yang dapat menyebabkan tekanan psikologis dan memberikan pengaruh buruk dalam berbagai fungsi sosial dalam lingkungan.

4. Bagi penelitian selanjutnya:

Penelitian ini dapat menjadi sumber referensi dan pengetahuan bagi penelitian yang serupa, sehingga peneliti yang lain diharapkan dapat melakukan penelitian dan mengeksplorasi kesurupan dari berbagai sisi sehingga dapat mengungkap temuan-temuan yang semakin memperkaya literatur mengenai kesurupan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan dan wawasan mengenai pengaruh earnings management terhadap relevansi nilai informasi akuntansi terutama

Dilihat dari fungsinya, kesurupan pada penari jathilan dalam pementasan merupakan kesurupan hiburan karena konsep jathilan adalah memberi hiburan bagi para penonton

Sebagai karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengaruh dalam ilmu pengetahuan mengenai implementasi karakter peduli sosial dan kerja keras dalam

tingkat motivasi terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Islam Al-abidin Surakarta. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan baru mengenai model

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan informasi dan pemahaman secara khusus dibidang manajemen keuangan mengenai pengaruh Total Asset Turn Over (TATO),

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang keuangan, khususnya mengenai pengaruh kinerja keuangan

Hasil penelitian ini akan memberikan wawasan pengetahuan tentang masalah yang diteliti, sehingga dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai peranan sistem pengolahan

Diharapkan dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik dari para remaja mengenai perilaku seksual secara bebas, dapat merubah pola pikir maupun sikap remaja sehingga dapat menurunkan