PERANAN PENDIDIKAN KONSERVASI
DALAM PENYELAMATAN HUTAN
DI KAWASAN EKOSISTEM SEULAWAH ACEH BESAR
RENCANA KERJA
”Hutanku Hutanmu Jua, Selamatkan Dia”
Cut Meurah Intan
Yayasan Masyarakat Penyayang Alam dan Lingkungan Hidup
MAPAYAH
Jl. Prada Utama No. 21B, Banda Aceh
Banda Aceh
Februari 2007
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...1 DAFTAR GAMBAR...2 DAFTAR TABEL ...3 RINGKASAN EKSEKUTIF ...5 1 PENJELASAN UMUM ...81.1 Profil Kawasan Ekosistem Seulawah (KES) ...8
1.2 Batasan Kawasan Target ...9
1.3 Iklim ...9
1.4 Kondisi Umum KES di Kabupaten Aceh Besar ... 10
1.5 Gambaran Keanekaragaman Hayati ... 11
1.6 Gambaran Umum Masyarakat Aceh Besar... 12
1.6.1 Populasi dan Demografi... 12
1.6.2 Kondisi Sosial-Budaya ... 12
1.7 Situasi Politik ... 13
1.8 Kearifan Tradisional dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam ... 13
1.9 Sejarah Pengelolaan Kawasan ... 16
1.10 Kepemilikan dan Status Lahan ... 17
1.11 Permasalahan Konservasi ... 17
1.12 Program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lembaga Lain yang Terlibat ... 22
2 MATRIKS STAKEHOLDER ... 23
3 MODEL KONSEP... 32
4 FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)... 34
4.1 Proses FGD ... 34
4.2 Deskripsi Responden dan Kerangka Pertanyaan FGD ... 35
4.3 Konsensus ... 37 4.4 Perbedaan Pendapat ... 39 4.5 Perbedaan Pengalaman ... 39 4.6 Gagasan Masyarakat ... 39 5 SURVEI MASYARAKAT ... 40 5.1 Proses Survei ... 40 5.2 Deskripsi Responden... 41 5.2.1 Desa Target ... 41 5.2.2 Kelompok Kontrol ... 43
5.3 Preferensi Media & Saluran Komunikasi ... 44
5.3.1 Desa Target ... 44 5.3.2 Kelompok Kontrol ... 49 5.4 Tingkat Pengetahuan ... 50 5.4.1 Desa Target ... 50 5.4.2 Kelompok Kontrol ... 51 5.5 Sikap ... 52 5.5.1 Desa Target ... 52 5.5.2 Kelompok Kontrol ... 54 5.6 Perilaku ... 55 5.6.1 Desa Target ... 55 5.6.2 Kelompok Kontrol ... 57
5.7 Isu Kesehatan ... 58
5.7.1 Desa Target ... 58
5.7.2 Kelompok Kontrol ... 59
5.8 Maskot dan Slogan ... 59
5.8.1 Desa Target ... 59 5.8.2 Kelompok Kontrol ... 60 6 GAJAH SUMATRA ... 61 6.1 Klasifikasi Taksonomi ... 61 6.2 Karakteristik Morfologis ... 61 6.2.1 Perilaku Sosial... 62 6.2.2 Perilaku Individu ... 63
6.3 Distribusi Gajah Sumatera ... 64
6.4 Habitat Gajah Sumatera ... 64
6.5 Persyaratan Hidup di Alam... 64
6.6 Ancaman ... 65
6.7 Ikatan Budaya... 66
6.8 Status Konservasi... 66
7 REVISI MODEL KONSEP... 67
8 RENCANA KERJA... 69 9 STRATEGI MONITORING... 99 10 KALENDER KEGIATAN ... 104 11 UCAPAN TERIMAKASIH... 107 12 DAFTAR PUSTAKA... 108
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.Peta Lokasi Target Kampanye Bangga KES Aceh Besar ... 10Gambar 2. Penebangan Liar dalam Kawasan Lindung KES Aceh Besar ... 19
Gambar 3.Ternak Warga Kecamatan Kota Jantho yang Menjadi Korban Harimau Sumatera di Akhir Tahun 2006 ... 21
Gambar 4: Proses Fasilitasi Pembuatan Model Konsep dalam Lokakarya Stakeholder Pertama... 30
Gambar 5: Peserta Lokakarya Stakeholder Pertama Membuat Analisa Ancaman ... 31
Gambar 6: Model Konsep Awal yang Dikembangkan oleh Peserta Lokakarya Stakeholder Pertama ... 33
Gambar 7: Komposisi Gender Responden Desa Target (N=376) ... 41
Gambar 8: Tingkat Pendidikan Responden Desa Target (N=376) ... 42
Gambar 9: Pekerjaan Utama Responden Kelompok Kontrol (N=102)... 43
Gambar 10: Tingkat Pendidikan Responden Kelompok Kontrol (N=102) ... 44
Gambar 11: Stasiun TV yang Digemari Responden per Kecamatan Desa Target (N=376) ... 45 Gambar 12: Stasiun Radio yang Digemari oleh Responden
Gambar 13: Jenis Program Radio yang Digemari per Gender
di Desa Target (N=376) ... 48 Gambar 14: Pertunjukan Seni yang Digemari Responden Desa Target
Berdasarkan Gender(N=376) ... 48 Gambar 15: Sikap Terhadap Peraturan Desa untuk Pengelolaan Hutan
per Jenis Kelamin (N=376) ... 53 Gambar 16: Sikap Terhadap Kesepakatan Bersama Masyarakat untuk
Pengelolaan Hutan per Jenis Kelamin (N=376) ... 53 Gambar 17: Sikap Terhadap Penguatan Hukum Adat untuk Mengurangi
Penebangan Hutan per Jenis Kelamin (N=376) ... 54 Gambar 18: Sikap Terhadap Kesepakatan Bersama Masyarakat untuk
Pengelolaan Hutan per Jenis Kelamin (N=102) ... 55 Gambar 19: Sikap Terhadap Hukum Adat untuk Mengurangi Penebangan
Hutan per Jenis Kelamin (N=102) ... 55 Gambar 20: Persentase Responden Desa Target yang Pernah
Mengalami Diare (N=376) ... 58 Gambar 21: Perilaku Responden Desa Target yang Biasa Dilakukan
Setelah Buang Air Besar (N=376) ... 58 Gambar 22: Pengetahuan Responden Desa Target Mengenai
Dampak Buang Air Besar Langsung di Sungai (N=376)... 59 Gambar 23: Maskot dan Slogan Kampanye Pilihan Responden
Desa Target (N=376) ... 59 Gambar 24: Revisi Model Konsep Hutan Saree dan Jantho ... 68
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Matriks Analisa Stakeholder Peserta yang Hadir di Lokakarya
Stakeholder Pertama dan Kedua ... 23 Tabel 2: Kerangka Pertanyaan FGD... 35 Tabel 3: Pekerjaan utama responden pada lokasi target (N=376) ... 43 Tabel 4: Tingkat Kepercayaan Responden Desa Target kepada
Media Audio-Vidual (N=376) ... 46 Tabel 5: Program Radio yang Paling Digemari per Umur Responden
Desa Target (N=376) ... 46 Tabel 6: Tingkat Kepercayaan Responden Desa Target kepada Sumber
Informasi Lain (N=376) ... 47 Tabel 7: Tingkat Kepercayaan Responden Kelompok Kontrol
kepada Sumber Informasi (N=102)... 49 Tabel 8: Tingkat Pengetahuan Responden Desa Target Mengenai
Kaitan Antara Hutan yang Sehat dengan Ketersediaan Air
per Pekerjaan Utama (N=376) ... 51 Tabel 9: Tingkat Pengetahuan Responden Kelompok Kontrol
Mengenai Kaitan Antara Hutan yang Sehat dengan Ketersediaan
Tabel 10: Kecenderungan Perilaku Responden Desa Target per Kecamatan; Kampung Seulawah (S1 dan S2) dan
Kota Jantho (J1 dan J2) (N=376)... 56 Tabel 11: Perilaku Responden Desa Target Berkenaan dengan
Membicarakan Dampak Menebang Pohon di Kawasan
Hutan Lindung (N=376) ... 57 Tabel 12: Perilaku Responden Kelompok Kontrol Berkenaan dengan
Membicarakan Dampak Menebang Pohon di Kawasan
RINGKASAN EKSEKUTIF
Yayasan Mapayah Banda Aceh melalui dukungan dana dari USAID/ESP akan melaksanakan sebuah program pendidikan konservasi di Kawasan Ekosistem Seulawah Kabupaten Aceh Besar selama periode satu tahun (2007–2008). Hutan di Kawasan Ekosistem Seulawah menjadi fokus Mapayah selain karena nilai keanekaragaman hayati yang tinggi juga rumah bagi beberapa spesies yang terancam punah seperti Gajah Sumatera, Kedih dan Harimau Sumatera. Selain nilai keanekaragaman hayatinya, masyarakat di sekitar kawasan sangat merasakan dampak dari degradasi hutan seperti masyarakat di Saree yang terancam kekurangan sumber air bersih dan masyarakat di Jantho yang terkendala permasalahan konflik satwa.
Program ini menggunakan metodologi kerja yang dikembangkan oleh RARE yang dikenal dengan Kampanye Bangga Melestarikan Alam (Kampanye Bangga atau Kampanye Pride) dimana isu-isu sosial seperti isu konservasi disampaikan dengan mengadopsi teknik pemasaran sosial (social marketing). Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di Kawasan Ekosistem Seulawah melalui perbaikan pengetahuan, sikap dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Kampanye akan difokuskan di dua kecamatan
di Aceh Besar yaitu Kecamatan Lembah Seulawah dan Kecamatan Kota Jantho. Tahapan Perencanaan Proyek meliputi proses pengumpulan informasi melalui
studi literatur, pertemuan dengan pemangku kepentingan, diskusi kelompok terfokus dan survei pra kampanye. Informasi tersebut digunakan untuk menyusun sebuah Rencana Kerja yang menjadi dasar pelaksanaan Program Kampanye Bangga ini.
Sasaran umum dari program ini adalah:
S.1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat lokal dalam tata kelola sumber daya hutan yang lestari (berkesinambungan)
S.2. Meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat lokal sehingga mampu berperan strategis dalam upaya penanggulangan masalah-masalah lingkungan hidup seperti penebangan liar, perburuan liar, konflik satwa dan ketersediaan sumber air.
S.3 Terbentuknya konstituen yang mampu menghalangi upaya-upaya perusakan Kawasan Ekosistem Seulawah.
Sasaran yang disusun berhubungan dengan sasaran yang disusun oleh WSM- ESP Regional Aceh sehingga tercapainya sasaran program kampanye akan mendukung ketercapaian sasaran WSM-ESP Reg.Aceh. Program ini disusun sebagai sebuah upaya untuk mengurangi tingkat kerusakan ekosistem karena adanya perbaikan pengetahuan, sikap dan partisipasi masyarakat di dalam kawasan.
Untuk memastikan bahwa ketiga sasaran di atas dapat tercapai, maka ketiga sasaran tersebut kemudian dioperasionalkan ke dalam empat buah sasaran antara (intermediate objective) sebagai berikut:
1. Di bulan ke 12 program, ada kesepakatan pengelolaan hutan bersama antara masyarakat di setidaknya 2 desa di Kecamatan Jantho dengan instansi terkait mengenai pengelolaan hutan lindung Jantho seluas 28.043 hektar sehingga dapat menekan kejadian konflik satwa manusia sampai di bawah 10 kali per tahun.
2. Pada akhir program, terbentuk kesepakatan pengelolaan hutan bersama seluas kurang lebih 20 hektar guna melindungi mata air Labieng-Tahura Pocut Meurah Intan Kemukiman Saree sehingga dapat menjamin ketersediaan air bersih bagi kehidupan mereka.
3. Pada akhir program, petani di kedua kecamatan target yang tidak tahu tentang hubungan hutan yang sehat dengan ketersediaan air bersih menurun dari 22% menjadi 5%.
4. Di bulan ke 12 program, 50 % petani di kedua kecamatan target mengatakan mudah untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan demi menjamin ketersediaan air bersih.
Serangkaian kegiatan seperti penyebaran poster, stiker, leaflet, booklet, lembar dakwah, pertunjukan dan perlombaan seni, lagu konservasi, penyuluhan, pelatihan, kunjungan sekolah, pemutaran film, buku komik, dan pembentukan kelompok masyarakat akan dilakukan. Berikut ini adalah ringkasan kegiatan yang akan dilakukan untuk setiap sasaran yang dicanangkan. Kegiatan Sasaran Antara 1 Sasaran Antara 2 Sasaran Antara 3 Sasaran Antara 4 Factsheet X X X X Poster X X X X Pin X X X X Workshop harimau X Billboard X X X X Membangun kesepakatan X X Booklet perundang-undangan X
Lagu konservasi anak-anak X X X X
Lembar dakwah X X X X
Booklet hutan X X X X
Kunjungan sekolah X X X X Press release X X X Sticker X X X X Ceramah radio X X X Bulletin perempuan X X Pemutaran film X X X Lomba masak X X Komik konservasi X X X X Puzzle hutan-satwa X X X Payung X
Lagu konservasi pop/dangdut X X X X
Family fun game X
Lomba DAI konservasi X
Lomba puisi konservasi X
Surat konservasi u/ anak X
Kesenian lokal X
Talkshow TVAceh X
Pembuatan film dokumenter X
Kalender X
Festival hutan untuk anak2 X X X X
Festival musik pop/dangdut X
Ceramah akbar X X X X
Club pelestarian ala (CBMA) X X
Pengajian X X
Penyuluhan ternak X
Penyuluhan pertanian X X
Kantog kertas X
Kelompok pelindung air X
Demonstration site X
Kampanye ini akan menggunakan gajah sebagai maskotnya dan mengusung “Hutanku Hutanmu Jua, Selamatkan Dia” sebagai slogannya. Maskot dan slogan ini akan muncul di semua materi dan kegiatan kampanye yang berlangsung sampai bulan Pebruari 2008.
1
PENJELASAN UMUM
Permasalahan konservasi pada akhirnya disadari sebagai sebuah masalah yang tidak dapat dipisahkan dari upaya-upaya memperbaiki kehidupan manusia. Manusia adalah bagian dari penyebab timbulnya permasalahan konservasi juga merupakan bagian dari solusinya. Pada banyak kasus, permasalahan konservasi merupakan contoh klasik rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, yang menggantungkan hidupnya kepada sumberdaya alam, terhadap lingkungannya.
Oleh karenanya, pemecahan permasalahan konservasi tidak akan berhasil maksimal tanpa penguatan kapasitas masyarakat yang hidup di sekitar kawasan. Pendidikan yang bermuatan pengetahuan dan tanggung jawab sebagai modal dasar dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat memberi pengaruh positif terhadap lingkungan sehingga program pendidikan konservasi dalam penyelamatan menjadi sebuah kebutuhan.
Untuk ikut berperan dalam memberikan sumbangan kepada upaya pemecahan masalah konservasi, Mapayah melaksanakan sebuah program pendidikan dan kampanye konservasi penyelamatan hutan di Kawasan Ekosistem Seulawah (KES) Aceh Besar. Program pendidikan dan kampanye ini akan menggunakan pendekatan pemasaran sosial (social marketing) yang disebut dengan Kampanye Bangga Melestarikan Alam (Kampanye Bangga atau Kampanye Pride).
1.1
1.1
1.1
1.1
Profil Kawasan Ekosistem Seulawah (KES)
Profil Kawasan Ekosistem Seulawah (KES)
Profil Kawasan Ekosistem Seulawah (KES)
Profil Kawasan Ekosistem Seulawah (KES)
Kawasan Ekosistem Seulawah (KES) berada di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang secara topografi dan pembagian wilayah berhubungan dengan Kawasan Ekosistem Leuser. KES merupakan suatu ekosistem dengan daerah yang meliputi 5 kabupaten yaitu: Aceh Besar, Aceh jaya, Aceh Barat, Aceh Pidie dan Aceh Tengah.
Kawasan Ekosistem Seulawah bagian Aceh Besar ini berada pada N 05o26’ - E 95o43’ dengan luas total sebesar 1.4 juta hektar. Berdasarkan hotspot keragaman hayati yang dirancang oleh Conservation International (CI) tahun 2001, KES merupakan bagian dari Hotspot Keragaman hayati Sundaland dimana 1,9 juta km2 luas Sundaland didominasi oleh dataran Sumatera dan Kalimantan (www.conservation.or.id). KES dalam periode tahun 2001-2005 merupakan fokus kerja proyek Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) karena nilai keragaman hayatinya yang tinggi.
Kawasan ini diusulkan oleh banyak pihak untuk menjadi kawasan konservasi karena selain nilai keragaman hayatinya, kawasan ini juga merupakan sistem daerah tangkapan air bagi Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng (Kr.) Aceh. Kebutuhan hidup manusia telah mengubah ekosistem alami menjadi beberapa ekosistem buatan seperti sawah, ladang berpindah, dan kolam ikan. Masyarakat di sekitar KES bagian Aceh Besar ini berprofesi sebagai petani
menjadi ancaman bagi kawasan ini. Adanya komoditi unggulan seperti ubi, ketela, jagung, dan kacang-kacangan di wilayah Aceh Besar maka masyarakat memperluas lahan-lahan pertanian di sekitar kawasan hutan lindung.
1.2
1.2
1.2
1.2
Batasan Kawasan Target
Batasan Kawasan Target
Batasan Kawasan Target
Batasan Kawasan Target
Kabupaten Aceh Besar yang menjadi target kawasan kegiatan Kampanye Bangga terbentuk menjadi daerah otonom melalui Undang-Undang No 7 Tahun 1956 dengan ibukotanya pada waktu itu adalah kota Banda Aceh. Baru pada tahun 1983 ibukota Aceh Besar dipindahkan ke kota Jantho seiring pemindahan seluruh aktifitas perkantoran ke ibu kota Aceh Besar tersebut. Kabupaten Aceh Besar memayungi 22 kecamatan, 68 kemukiman, dan 596 desa (BPS, 2004).
Secara geografis Kabupaten Aceh Besar terletak pada 5.2° - 5.8° LU dan 95.0°-95.8°BT dengan luas kawasan sebesar 2.974,12 km2. Kabupaten ini berbatasan dengan Selat Malaka dan Kota Banda Aceh di sebelah Utara, Kabupaten Aceh Jaya di sebelah Selatan, Kabupaten Pidie di sebelah Timur, dan Samudera Hindia di sebelah Barat (BPS, 2004).
Kampanye Bangga difokuskan pada dua kecamatan di Aceh Besar yaitu Kecamatan Lembah Seulawah dan Kota Jantho. Kecamatan Lembah Seulawah terbagi menjadi 2 Kemukiman yaitu Mukim Gle Birah yang memayungi 9 desa dan Mukim Saree yang memayungi 3 desa. Luas wilayah kecamatan ini adalah 307.85 km2. Sementara itu, Kecamatan Kota Jantho adalah juga sebagai Mukim Jantho yang memayungi 13 desa dengan luas wilayah 274.04 km2. Jumlah total populasi di kedua kecamatan ini adalah 18.511 jiwa (BPS, 2004). Selanjutnya dalam rencana kerja ini jika disebutkan Saree maka dapat diasosiasikan dengan Kecamatan Lembah Seulawah dan Jantho sebagai Kecamatan Kota Jantho.
Kawasan lindung yang berada dalam Kabupaten Aceh Besar adalah Cagar Alam Jantho seluas 16.640 ha, Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan seluas 6.030 ha dan hutan lindung seluas 59.614 ha sehingga total kawasan lindung di lokasi target adalah 82.284 ha (BPS, 2004).
1.3
1.3
1.3
1.3
Iklim
Iklim
Iklim
Iklim
Tipe iklim di kawasan ini adalah tipe B dan C (lima sampai sembilan bulan berturut-turut hujan dan tiga bulan atau kurang berturut-turut kering). Curah hujan tahunan berkisar antara 1.750-2.000 mm dengan suhu udara rata-rata 27oC, sedangkan kelembaban udaranya 92,7% per tahun dan tekanan udara rata-rata 1.212,1 mB per tahun (BPS, 2004).
1.4
1.4
1.4
1.4
Kondisi Umum
Kondisi Umum
Kondisi Umum KES
Kondisi Umum
KES
KES
KES di Kab
di Kabupaten
di Kab
di Kab
upaten
upaten Aceh Besar
upaten
Aceh Besar
Aceh Besar
Aceh Besar
Berdasarkan perbedaan ketinggian dan tipe vegetasi, maka KES bagian Aceh Besar memiliki beberapa tipe ekosistem penyusun. Tipe ekosistem penyusun ini di antaranya adalah ekosistem hutan tropis dataran rendah, ekosistem pegunungan dan ekosistem buatan.
Ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah didominasi oleh pohon Dipterocarpaceae dimana jenis Shorea sangat diburu oleh penebang liar. Ekosistem alami yang berubah menjadi ekosistem buatan disebabkan kebutuhan hidup manusia akan sumber pangan, disamping itu karena di Aceh Besar memiliki komoditi unggulan seperti ubi, ketela, jagung, dan kacang-kacangan maka ada kecendrungan untuk memperluas lahan di sekitar atau di dalam kawasan lindung.
Selain lahan pertanian, ekosistem alami juga diubah menjadi kolam peternakan ikan. Komoditi unggulan dari sektor peternakan adalah ikan gurame, mas, mujair, dan lele. Ikan-ikan ini dipasarkan ke kota Banda Aceh, kota Medan dan sekitarnya.
Gambar 1.Peta Lokasi Target Kampanye Bangga KES Aceh Besar
1.5
1.5
1.5
1.5
Gambaran Keanekaragaman Hayati
Gambaran Keanekaragaman Hayati
Gambaran Keanekaragaman Hayati
Gambaran Keanekaragaman Hayati
KES menyimpan potensi keanekaragaman hayati, baik yang telah dimanfaatkan maupun yang belum dimanfaatkan dan belum diketahui jenisnya. Saat ini pemanfaatan hutan masih terfokus pada sumber hutan kayu. Kayu yang sangat dicari adalah dari jenis meranti (Shorea sp.) dan damar. Meskipun demikian, kayu manis dan kayu ulin juga masih terdapat disini selain rotan, pinus dan aren.
Salah satu satwa langka yang bisa dijumpai di kawasan ini adalah harimau sumatera. Berdasarkan data WWF, populasi harimau sumatera hanya tinggal sekitar 400 ekor dengan tingkat kematian 44 ekor per tahun (http://www.wwf.org). Masyarakat lokal menyebut harimau dengan istilah “nenek” karena dianggap berkuasa di hutan. Habitat harimau adalah hutan dataran rendah, hutan perbukitan sampai ketinggian 1500 m dpl. Makanannya adalah mamalia kecil seperti rusa, kancil, babi hutan dan buah-buahan seperti durian. Harimau sumatera adalah satu satwa yang menjadi incaran pemburu. Para kolektor bisa memesan satwa ini dalam bentuk hidup atau mati. Bagian yang dipesan bervariasi seperti kulit, kuku, sampai gigi. Bagi yang memesan hidup-hidup harganya lebih mahal. Berdasarkan survei Mapayah tahun 2006, tingkat konflik harimau sumatera dengan penduduk di sekitar KES cukup tinggi dimana pada tahun 2006 ini saja hampir 20 ekor sapi milik masyarakat Kota Jantho menjadi mangsa harimau sumatera. Sampai saat ini, menurut pengakuan masyarakat Jantho turunnya harimau sumatera ke desa mereka belum memakan korban manusia.
Selain itu, di KES juga dijumpai beruang madu. Beruang madu adalah beruang yang paling kecil di dunia dan penyebarannya hanya terbatas di Sumatera dan Kalimantan (http://www.kerinci.org). Beruang madu adalah hewan yang mudah terkejut dan agresif sehingga ditakuti oleh masyarakat. Habitatnya adalah hutan dataran rendah, hutan perbukitan sampai ketinggian 1500 m dpl. Makanannya adalah buah-buahan, serangga, jagung, tebu, durian, kelapa. Berdasarkan wawancara informal dengan masyarakat di Kecamatan Lembah Seulawah pada tahun 1990-an orangutan masih dijumpai di kawasan ini. Namun sekarang tidak dijumpai lagi, diduga karena tingginya tingkat kerusakan pada hutan di KES atau juga karena perburuan. Masyarakat Aceh menyebut satwa ini dengan sebutan Maweh.
Untuk jenis burung, dahulu banyak dijumpai burung sejenis burung murai yaitu cempala kuneng (Copsychus pirropigus). Cempala kuneng juga dijadikan fauna maskot bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Namun saat ini cempala kuneng sudah sangat jarang dijumpai, bahkan banyak orang menyangsikan kalau burung ini masih hidup di alam. Perburuan dan rusaknya kondisi habitat diduga menyebabkan kelangkaan spesies ini. Burung murai yang mirip dengan burung cempala kuneng adalah cempala rimueng
(Copsycus malabaracus) dan menurut masyarakat jumlahnya juga semakin
1.6
1.6
1.6
1.6
Gambaran Umum Masyarakat Aceh Besar
Gambaran Umum Masyarakat Aceh Besar
Gambaran Umum Masyarakat Aceh Besar
Gambaran Umum Masyarakat Aceh Besar
1.6.1
Populasi dan Demografi
Populasi dan Demografi
Populasi dan Demografi
Populasi dan Demografi
Total populasi di kecamatan Lembah Seulawah dan Jantho adalah 18.511 jiwa yang menetap pada total 25 desa. Penduduk di kedua kecamatan ini terdiri dari suku Aceh dan suku Jawa dan umumnya menggunakan Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-harinya. Penduduk Aceh Besar sebagaimana penduduk Aceh lainnya semuanya menganut agama Islam dan nuansa keislaman terlihat dalam kegiatan sosial mereka. Suku Jawa yang telah lama berbaur dengan suku Aceh dalam kegiatan sosial telah mengikuti tradisi masyarakat Aceh pada umumnya.
Secara umum, sebagian besar mata pencaharian utama masyarakat adalah sebagai petani. Sebagian lain mempunyai penghasilan dari beternak sapi, kambing, menjadi tauke/pedagang, menampung atau menjual hasil pertanian, menjadi pengrajin, mengembangkan industri kecil pengolahan hasil pertanian (keripik ubi dan ketela), dan menjadi buruh angkat ubi. Produksi pertanian dari Kecamatan Lembah Seulawah sangat terkenal dan sering dijadikan buah tangan bagi pendatang dari luar. Sebagian kecil mempunyai pekerjaan sebagai tukang, pekerja bengkel dan dukun (Survei Mapayah, 2006).
1.6.2
Kondisi S
Kondisi S
Kondisi S
Kondisi Sosial
osial
osial----Budaya
osial
Budaya
Budaya
Budaya
Aceh sebagai identitas etnis dan wilayah memiliki ciri khas dimana masyarakatnya sangat pluralistis dan terbuka. Pada saat Aceh masih dalam bentuk kerajaan, yang dimaksud dengan Aceh adalah Aceh Besar atau dalam istilah Aceh disebut Aceh Rayeuk. Semasa masih berbentuk kerajaan, Aceh Besar adalah inti dari kerajaan Aceh. Berdasarkan pendekatan historis, struktur masyarakat Aceh yang paling menonjol dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan yaitu golongan ulama dan golongan umara.
Golongan umara adalah pemimpin pemerintahan, contohnya Sultan sebagai pemimpin tertinggi kerajaan; Uleebalang sebagai pemimpin unit pemerintahan negeri; Panglima Sagoe sebagai pemimpin pemerintahan sagi; dan Kepala Mukim yang memimpin unit pemerintahan mukim serta Geuchiek yang memimpin unit pemerintahan gampong (kampung). Sementara golongan ulama adalah pimpinan yang mengurusi masalah-masalah keagamaan dan syariat Islam. Yang termasuk ke dalam golongan ulama adalah (Dinas Pariwisata Aceh, 2004):
1. Tengku Meunasah, yang memimpin masalah-masalah yang berhubungan
dengan keagamaan pada satu unit pemerintah gampong (kampung).
2. Imum Mukim (Imam Mukim), yaitu yang mengurusi maslah keagamaan
pada tingkat pemerintahan mukim, yang bertindak sebagai imam sembahyang pada setiap hari Jumat di sebuah mesjid pada wilayah mukim
3. Qadli (kadli), yaitu orang yang memimpin pengadilan agama atau yang dipandang menerti mengenai hukum agama pada tingkat kerajaan dan juga pada tingkat Nanggroe yang disebut Kadli Uleebalang.
4. Teungku-teungku, yaitu pengelola lembaga-lembaga pendidikan
keagamaan seperti dayah dan rangkang, juga termasuk murid-muridnya. Bagi mereka yang sudah cukup tinggi tingkat keilmuannya, disebut dengan istilah Teungku Chiek.
Masyarakat memiliki kebiasaan mendamaikan perselisihan antar warga dengan kenduri potong kambing. Pada awal masa tanam padi masyarakat juga mengadakan upacara “kenduri blang”. Selain itu, Gunung Seulawah merupakan simbol yang melambangkan ciri khas Aceh Besar. Dalam prosesi acara adat yang paling sering digunakan adalah sirih (piper betle) sebagai lambang kemulian. Sirih diberikan pada tamu-tamu yang datang sebagai tanda penghormatan.
1.7
1.7
1.7
1.7
Situasi Politik
Situasi Politik
Situasi Politik
Situasi Politik
Saat ini, masyarakat di Kabupaten Aceh Besar seperti di Kecamatan Lembah Seulawah dan Kecamatan Kota Jantho turut merasakan dampak positif dari perjanjian damai antara pemerintah Indonesia (RI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada Agustus tahun 2005 lalu. Saat konflik berlangsung, sebagian besar penduduk di kawasan ini eksodus ke wilayah yang relatif lebih aman. Hal ini disebabkan karena tekanan dari pihak-pihak bersenjata sehingga masyarakat menghindari situasi yang tidak kondusif ini. Sejak penandatanganan naskah perdamaian antara RI dan GAM masyarakat sudah mulai kembali ke kampung. Mereka mulai melaksanakan aktivitas berkebun dan berladang dengan rasa aman. Bagi masyarakat Aceh yang sejak lama berada dalam situasi konflik berkepanjangan, musibah gempa dan tsunami pada 26 Desember 2006 dianggap sebagai katalisator dalam proses perdamaian antara TNI dan GAM. Sekarang, masyarakat sedang menikmati perdamaian di bumi Aceh dan mencoba menggantungkan harapan baru di bawah kepala pemerintahan baru Nanggroe Aceh Darussalam.
1.8
1.8
1.8
1.8
Kearifan Tradision
Kearifan Tradision
Kearifan Tradision
Kearifan Tradisional dalam Pengelolaan Sumberdaya
al dalam Pengelolaan Sumberdaya
al dalam Pengelolaan Sumberdaya
al dalam Pengelolaan Sumberdaya
Alam
Alam
Alam
Alam
Dilihat dari sejarahnya, masyarakat Aceh telah memiliki kearifan tradisional mengenai pengelolaan sumber daya alam. Masyarakat Aceh sejak zaman dahulu telah memiliki hukum adat dalam pemanfaatan dan tata kelola sumber daya alam tersebut. Beberapa sektor yang dikelola melalui hukum adat adalah:
1. Laut (Laot)
Masyarakat di pesisir pantai yang umumnya berprofesi sebagai nelayan memiliki kehidupan adat untuk mengatur kehidupan mereka dalam mengambil sumber daya laut. Kelompok nelayan pada suatu kuala disebut “lhok” dimana mereka menguasai kuala dengan hak menangkap ikan pada kuala atau pantai sepanjang pantai dan orang lain tidak diperkenankan mengambil ikan di wilayah “lhok” tersebut. Kelompok nelayan pada suatu “lhok” selain menguasai hak penangkapan ikan juga mempunyai norma-norma yang disepakati bersama serta ditaati sebagai suatu kewajiban demi kepentingan bersama. Masyarakat nelayan di suatu desa nelayan (lhok) dipimpin oleh seorang pengetua adat laot yang disebut Panglima Laot Lhok. Tugas Panglima Laot Lhok adalah mengatur tata cara penangkapan ikan (meupayang), menyelesaikan perselisihan antar nelayan, melaksanakan ketentuan adat laot, menetapkan hari yang boleh dan yang tidak boleh menangkap ikan, menetapkan kenduri laot, dan menjadi penghubung antara nelayan dengan pemerintah (dahulu dengan Ulee Balang). Seiring perkembangan teknologi maka wilayah penangkapan ikan semakin luas dan menjangkau lautan antar kabupaten bahkan laut lepas. Oleh karena itu saat ini selain Panglima Laot Lhok telah dibentuk juga Panglima Laot Kabupaten dan Panglima Laot Provinsi. Kedudukan Panglima Laot telah mendapat pengakuan dari pemerintah dengan ditetapkan Perda No 7 Tahun 2000.
Dalam hukum adat laot, siapa saja boleh menjadi nelayan dan memanfaatkan wilayah persekutuan secara terus menerus atau temporer. Untuk yang ini harus memperoleh izin dari Panglima Laot dan membayar sejumlah uang pemasukan. Beberapa kegiatan yang menjadi adat masyarakat nelayan adalah wajib membantu nelayan yang mengalami musibah di laut, mencari nelayan yang hilang atau tenggelam di laut, mematuhi larangan untuk menangkap ikan yang dilindungi, merusak terumbu karang, menebang pohon di tepi pantai, meracun atau mengebom ikan serta mengamankan barang yang ditemukan di laut. Dalam kegiatan menangkap ikan tahyul memegang peranan penting seperti pantangan mengucapkan nama-nama gunung, atau tanah tinggi untuk menghindari datangnya ombak tinggi (Daud, 2002).
2. Hutan (Glee atau Uteun)
Wilayah hutan juga telah sejak lama diatur oleh masyarakat adat di Aceh. Di hutan ada seorang Panglima Hutan (Panglima Uteun). Hanya saja tugas dan fungsi Pawang Uteun tidak serupa dengan Panglima Laot. Pawang Uteun hanya bertugas memberi nasehat dan petunjuk dalam perjalanan dalam hutan. Biasanya seorang Pawang Uteun memiliki ilmu mantra untuk menangkal jin dan binatang buas. Perselisihan dalam pelanggaran hukum adat uteun diselesaikan oleh Keujreun namun dengan tetap mendengar pendapat dari para Pawang Uteun. Beberepa larangan yang diatur adalah:
sarang lebah. Menebang pohon ini bukan hanya dilarang tetapi menjadi pantangan karena diyakini menebang pohon-pohon besar tersebut dapat merugikan orang banyak, larangan baru terlepas jika telah mendapat izin dari Keujreun atau Raja.
2. Orang dilarang menebang pohon kayu meudang ara, bungo merbau, dan kayu-kayu besar lainnya kecuali hanya untuk membuat tongkang atau perahu.
3. Orang dilarang menebang pohon yang kulitnya sudak ditetak sedikit dan diatasnya dililit dengan akar kayu.
4. Orang dilarang mengambil kayu yang sudah ditumpuk dan di atasnya sudah diletakkan batu. Ini pertanda kayu tersebut sudah ada yang punya. 5. Orang dilarang atau pantang menyebutkan nama-nama hewan buas di
dalam hutan. Jika terpaksa harus menyebutkan maka harus memakai nama samaran umpamanya Nek Kaum untuk harimau, Po Meurah untuk gajah, Nek Lubuk untuk buaya, Po Meucula untuk badak.
6. Orang juga dilarang lari ke kanan jika melihat binatang buas tapi harus mengambil jalan ke kiri.
7. Untuk berburu rusa alat yang digunakan adalah jaring. Tenaga yang digunakan adalah 4 – 5 orang dan diketuai oleh seorang Pawang. Bila rusa sudah terjaring dan ada orang yang meminta sebagian daging rusa ketika perjalanan mereka pulang ke rumah maka harus diberikan (Zainuddin, 1961).
3. Persawahan (Blang)
Pada sebuah mukim atau gampong yang banyak penduduknya terdapat seorang Keujreun Blang. Keureun Blang adalah orang yang menjaga bandar air (lueng) untuk mengalir air ke sawah, menjaga pintu air (daka) dan menjaga waduk (seuneulop). Petani yang tidak memiliki sawah boleh menyewa dan tata cara penyewaan juga telah diatur. Setiap tahun juga diadakan kenduri blang (Zainuddin, 1961)
4. Perkebunan (Seuneubok)
Pengusaha Aceh yang ingin membuat kebun lada menamakan kebunnya dengan Seuneubok. Penguasa seuneubok adalah orang yang memiliki modal. Untuk membuka seuneubok, pemilik modal harus menjumpai hulubalang atau keujreun. Jika tanahnya sudah didapat maka akan dicari pekerja (Aneuk Seuneubok) untuk membuka lahan. Jika yang akan dibuka adalah hutan besar maka bayarannya adalah satu parang, beliung, satu gunca padi, dan uang 5 ringgit.Uang dan padi itu kira-kira untuk kebutuhan 6 bulan. Dalam seuneubok dilakukan rotasi penanaman (Zainuddin,1961).
Revitalisasi Hukum Adat dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam penyelesaian masalah-masalah pelestarian alam di Nanggroe Aceh Darussalam. Namun banyak pihak yang juga merasa pesimis dengan kekuatan hukum adat karena permasalahan degradasi hutan lebih banyak disebabkan karena pengaruh kekuatan bersenjata.
1.9
1.9
1.9
1.9
Sejarah Pengelolaan Kawasan
Sejarah Pengelolaan Kawasan
Sejarah Pengelolaan Kawasan
Sejarah Pengelolaan Kawasan
Pemerintah Indonesia sampai saat ini masih belum memberikan status apapaun untuk KES, namun beberapa kawasan di dalam KES Aceh Besar telah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Kawasan lindung yang berada dalam KES Aceh Besar adalah:
1. Tahura Pocut Meurah Intan
Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan atau juga dikenal dengan nama Tahura Cut Nyak Dien adalah satu-satunya Tahura yang dimiliki oleh propinsi NAD. Melingkupi lahan seluas 6.300 ha, Tahura ini dideklarasikan bulan Maret tahun 2001 melalui SK Menhut No. 95/Kpts-I/2001. Berdasarkan data lapangan, tampaknya masih ada konflik kepemilikan dengan Sekolah Polisi Negara (SPN).
Sarana dan prasarana yang telah dibangun Dinas Kehutanan sampai dengan tahun 2004 diantaranya: sudah membuat arboretum seluas 50 ha dan membuka akses jalan ke lokasi air terjun yang ada di sini, membangun pagar pengaman tanaman sepanjang 6 km. Rencana pengembangan selanjutnya adalahmembuat tanda batas Tahura sepanjang 76 km dan menambah luasan arboretum dan pembuatan taman safari mini seluas 35 ha. Termasuk diantaranya pengembangan ekowisata di sekitar air terjun dan pesantren modern seluas 5 ha.
2. Cagar Alam Pinus Jantho
Cagar Alam Pinus Jantho secara geografis terletak pada 5°6’ LU - 5°16,2’ LU dan 95°37,2’ BT - 95°45’BT. Dalam administrasi pemerintahan cagar alam ini terletak di Kecamatan Jantho Kabupaten Aceh Besar. Cagar Alam Jantho seluas 16.640 hektar telah ditata batas dan ditunjuk sebagai kawasan konservasi berdasarkan SK MenHut No.186/Kpts-II/1984 tanggal 4 Oktober 1984. Kawasan ini ditunjuk sebagai cagar alam karena merupakan perwakilan hutan alam Pinus merkusii strain Aceh dengan potensi tegakan pinus yang besar serta habitat satwa yang dilindungi seperti Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera. Belum ada rencana pengelolaan dari instansi terkait untuk kawasan ini. Cagar Alam Jantho merupakan hulu dari sungai Krueng Aceh yang menjadi sumber air PDAM Kota Banda Aceh sehingga termasuk dalam DAS Krueng Aceh (BKSDA, 2007).
3. Hutan Lindung Jantho
Hutan lindung Jantho adalah salah satu kawasan penting yang ada di KES. Pentinganya melindungi keberadaan hutan lindung Jantho bukan hanya semata-mata untuk menjaga keutuhan kawasan hutan KES akan tetapi karena kawasan hutan ini juga menjadi daerah jelajah beberapa satwa penting yang sudah langka termasuk diantaranya harimau sumatra. Selain itu, hutan lindung ini juga merupakan kawasan tangkapan air penting bagi DAS Kr. Aceh. Sebagai informasi tambahan, bendungan Jantho yang dibangun tahun 1980-an juga terletak di hutan lindung ini.
1.10
1.10
1.10
1.10
Kepemilikan
Kepemilikan
Kepemilikan
Kepemilikan dan
dan
dan SSSStatus
dan
tatus
tatus L
tatus
LL
Lahan
ahan
ahan
ahan
Sebagian masyarakat yang melakukan transmigrasi ke kawasan ini diberi lahan oleh pemerintah untuk dikelola. Bagi setiap keluarga diberikan lahan seluas 2 hektar, yang terdiri atas lahan pekarangan 2500 m2, lahan usaha 17.500 m2 yang dibagi menjadi dua tempat dimana lahan usaha pertama seluas 10.000 m2 dan lahan usaha kedua seluas 7500 m2. Letak lahan usaha ini jauh dengan lokasi rumah dengan alasan agar masyarakat dapat saling bersosialisasi, bahkan ada yang lahan usahanya berada di desa lain. Selain warga transmigran, ada penduduk lokal yang umumnya memiliki 1 hektar lahan untuk tiap keluarga. Bagi yang tidak memiliki lahan maka biasanya warga menyewa lahan atau menggarap lahan milik orang lain (John, et.al, 2005).
1.11
1.11
1.11
1.11
Permasalahan Konservasi
Permasalahan Konservasi
Permasalahan Konservasi
Permasalahan Konservasi
KES bagian Aceh Besar merupakan daerah tangkapan air yang mengalirkan airnya ke Sungai Krueng Aceh. Sungai Krueng Aceh merupakan sumber air bagi masyarakat Aceh, terutama di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 284/Kpts-II/1999, mengelompokkan DAS Kr. Aceh ke dalam prioritas DAS I yang artinya, aliran sungai utama ini membutuhkan penanganan segera dalam mengatasi ekstensifikasi lahan yang kritis, tingginya erosi dan sedimentasi, serta besarnya tekanan akibat pertumbuhan penduduk.
Secara umum, perusakan hutan selain mempengaruhi kepada menurunnya nilai keanekaragaman hayati di kawasan ini juga mempengaruhi keadaan DAS Krueng Aceh. Lebih lanjut, permasalahan pengelolaan lingkungan yang ada di KES terutama terkait dengan DAS Kr. Aceh adalah sebagai berikut:
1. Penebangan Liar
Masalah lingkungan yang paling parah adalah kegiatan penebangan liar. Sebelum musibah tsunami, laju kerusakan hutan di Aceh berdasarkan Pusat Data dan Perpetaan Badan Planologi selama periode waktu 13 tahun sebesar 270.347 ha atau ± 20.796 ha/tahun. Laju kerusakan hutan semakin
meningkat seiring meningkatnya kebutuhan kayu untuk kegiatan rekontruksi dan rehabilitasi pasca tsunami. Hasil survei Pokja Advokasi Hutan Aceh (2006) sekitar 15 m3 kayu keluar dari kawasan hutan ini setiap harinya. Sebelum tsunami produksi kayu dari Aceh hanya 47 ribu meter kubik per tahunnya. Di tahun 2006 (pasca tsunami) pemerintah mengaktifkan kembali 5 HPH dan memberi kuota 300 ribu meter kubik untuk mencapai kuota produksi sebesar 500 ribu meter kubik per tahun. Padahal angka ini melebihi kebutuhan kayu untuk kegiatan rekonstruksi yang hanya sebesar dua ratus ribuan meter kubik per tahun.
Penebangan liar kini terus berlangsung di kawasan Tahura dan kawasan hutan lindung Aceh Besar. Akibatnya muncul berbagai permasalahan di masyarakat sekitar kawasan hutan lindung, diantaranya adalah fragmentasi habitat satwa yang mengakibatkan konflik satwa dengan manusia, menurunnya produksi panen karena sawah terendam banjir saat musim hujan tiba, kekeringan saat musim kemarau datang, menurunnya jumlah dan kualitas sumber daya air bersih. Belum diketahui jumlah penurunannya namun menurut pengakuan warga dalam survei Mapayah (2006) kualitas air sungai menurun karena erosi tanah yang diakibatkan penebangan liar.
Kasus terendamnya sawah di musim hujan di desa-desa sekitar kawasan hutan KES menurut Rushayati (1999) disebabkan karena hutan yang ditebang habis memutuskan siklus hara dalam hutan. Tanah menjadi terbuka dan pukulan air hujan akan melepas partikel tanah dan menutupi pori-pori tanah. Tanah menjadi cepat jenuh air sehingga akhirnya air menjadi limpasan ke sungai-sungai. Karena hanya sedikit air yang terserap ke tanah, dan banyak yang mengalir menjadi limpasan, maka akan terjadi banjir pada musim penghujan. Pada musim kemarau, karena tidak adanya cadangan air di dalam sungai maka hanya mengalirkan sedikit air bahkan sungai tersebut dapat kering. Kondisi ini menurut Harini (2000) karena fungsi hutan sebagai pelindung tanah dari erosi menurun seiring meningkatnya aktivitas ilegal dalam hutan. Seharusnya dengan adanya hutan, air hujan tidak langsung menimpa tanah tapi akan jatuh ke tajuk pohon lalu menetes ke bagian bawahnya atau mengalir melalui ranting, dahan, batang, dan akhirnya sampai ke tanah.
Dampak praktek penebangan liar memiliki spektrum yang luas dan tidak hanya berdampak negatif terhadap sisi ekologi tetapi juga mempengaruhi aspek sosial, aspek perdagangan dan aspek keberlanjutan (Buletin Environment, 2006). Aspek sosial diantaranya adalah suburnya praktik korupsi seperti dalam pengurusan ijin pemungutan kayu dan sebagainya. Aspek perdagangan adalah harga kayu yang dibalak secara liar lebih murah daripada harga produk legal sehingga permintaan kayu ilegal meningkat. Sedangkan aspek keberlanjutan adalah kesempatan generasi mendatang untuk mendapatkan kehidupan lebih baik menjadi berkurang akibat menurunnya kemampuan ekosistem hutan untuk memberikan produk dan jasa lingkungan.
Gambar 2. Penebangan Liar dalam Kawasan Lindung KES Aceh Besar
Sumber: MAPAYAH, 2006
2. Konversi Lahan
Selain penebangan liar, praktek ilegal lainnya adalah konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan dan lahan hunian. Departemen Kehutanan menyatakan bahwa banyak pengelola perkebunan yang tidak memandang hutan sebagai kesatuan ekosistem yang perlu dijaga kelestariannya (Buletin Environment, 2006). Tidak ada upaya untuk mempertahankan daerah aliran sungai sepanjang perkebunan bahkan tidak terlibat kegiatan penyelamatan satwa dengan mempertahankan kawasan berupa koridor biologis. Banyak hutan alam diubah menjadi hutan tanaman monokultur. Secara teoritis, hutan tanaman monokultur rentan terhadap hama dan penyakit tanaman. Akibatnya kondisi fisik dan biologis tanah berubah dan menyebabkan ketidakseimbangan biologis.
Hasil diskusi terfokus tahun 2006 dengan masyarakat di Kecamatan Lembah Seulawah dan Kota Jantho diperoleh informasi bahwa laju kerusakan hutan Saree dan Jantho telah mengancam kehidupan penduduk dari segi menurunnya ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pertanian. Selain itu berkurangnya sumber air telahmenyebabkan sulitnya mengatur masa panen karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan masyarakat mengenai masa turun hujan (siklus hujan) untuk
keperluan masa tanam. Hutan tidak lagi memberi manfaat yang optimal karena komplek hutan dan penyusun sistem ekologisnya tidak lagi utuh.
3. Kebakaran Hutan
Permasalahan yang juga dipandang cukup serius adalah kasus kebakaran hutan. Kasus ini biasanya terjadi saat musim kemarau. Menurut BKSDA, kasus kebakaran hutan biasanya terjadi karena tindakan masyarakat yang membuka lahan pertanian (InfoSumatera.com, 2006). Kasus terakhir adalah terbakarnya puluhan hektar hutan lindung pinus di Desa Suka Damai Aceh Besar pada akhir Agustus 2006 lalu. Menurut diskusi terfokus dengan masyarakat, masyarakat masih menggunakan cara membakar untuk membuka lahan pertanian. Kasus kebakaran juga ditimbulkan karena dalam kegiatan berburu masyarakat membakar lahan hutan agar mangsa lebih cepat diperoleh. Selain itu, tindakan membuang puntung rokok dengan sengaja atau tidak sengaja terutama di musim kemarau diduga memicu terjadinya kebakaran hutan. Menurut penelitian yang dilakukan Yayat Ruchiat mengenai dampak dan penyebab kebakaran hutan (www.pdf.doc.org) kasus kebakaran hutan terjadi karena tiga faktor yaitu api yang digunakan untuk:
Alat, seperti aktivitas penggunaan dan persiapan lahan baik dalam skala kecil maupun skala besar.
Senjata, usaha perolehan atau konflik lahan.
Kecelakaan, tergantung karakteristik lahan. 4. Konflik Satwa-Manusia
Salah satu dampak aktivitas ilegal di Kawasan Ekosistem Seulawah adalah munculnya konflik satwa dengan masyarakat di sekitar kawasan ini. Hasil survei Mapayah (2006) di Desa Saree Aceh, beberapa satwa liar seperti harimau sumatera, gajah sumatera, dan beruang madu terancam terkena sengatan pagar listrik yang dipasang warga untuk melindungi tanamannya. Selain itu, pada tahun 2006 Mapayah juga menerima laporan dari penduduk di Kecamatan Kota Jantho bahwa konflik dengan harimau sumatera semakin meningkat. Dalam tahun 2006 ini hampir 20 ekor ternak warga yang menjadi mangsa harimau sumatera.
Rusaknya kawasan hutan mempersempit ruang hidup satwa dan memusnahkan tapak bagi tumbuhan alam untuk hidup sehingga peluang terjadinya spesies hilang makin tinggi (Buletin Environment, 2006). Menurut Primarks (2005), jika ditinjau dari ilmu ekologi populasi maka punahnya suatu jenis tumbuhan atau hewan akan menggangu sistem rantai makanan dan menganggu keseimbangan ekologi secara global. Praktek penebangan liar juga menyebabkan semakin tingginya konflik satwa liar dengan manusia ini.
Gambar 3.Ternak Warga Kecamatan Kota Jantho yang Menjadi Korban Harimau Sumatera di Akhir Tahun 2006
Sumber: MAPAYAH, 2006
5. Perburuan Liar
Penebangan liar yang memberi dampak sosial ekonomi menyebabkan masyarakat berburu satwa liar untuk menunjang pendapatan keluarga. Hasil survei Mapayah (2006) di Jantho Baru, burung murai dijual seharga Rp 100.000 per ekor, harimau sumatera dijual hidup atau mati untuk diambil kulit dan giginya. Rusa juga diburu untuk dijual ke warung nasi karena daging rusa termasuk menu makanan yang disukai. Perilaku yang cenderung mengeksploitasi atau mengambil langsung dari hutan tanpa upaya penangkaran sangat berpotensi punahnya spesies tertentu. Punahnya potensi tumbuhan dan satwa yang belum diketahui manfaatnya merupakan salah satu bencana kemanusiaan karena apabila spesies itu punah maka tidak semua sumber daya alam hayati dalam ekosistem hutan bersifat dapat diperbarui tetapi sebagian besarnya adalah tidak dapat diperbarui, termasuk keanekaragaman tumbuhan dan satwa (Buletin Environment, 2006). Harini (2000) menyebutkan bahwa penyebab kepunahan dan kelangkaan adalah peningkatan populasi manusia dan konsumsi sumber daya alam, pengurangan jenis tanaman pertanian, kehutanan dan perkebunan, segala sesuatunya
hanya mementingkan kepentingan ekonominya saja, sumber daya hayati belum dimaknai dengan semestinya, kurangnya pengetahuan dan cara penerapan, lemahnya penegakan hukum, dan sikap antroposentrisme (menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan).
6. Penambangan Bahan Galian C
Penambangan pasir kerikil (bahan galian C) baik oleh masyarakat maupun pihak swasta telah berlangsung lama. Seiring dengan meningkatnya laju pembangunan, kegiatan penambangan pun terus meningkat. Sebelum musibah tsunami 26 Desember 2004, kegiatan penambangan pasir di kawasan larang tambang sepanjang ruas badan Krueng Aceh dilakukan oleh 75 perahu oleh 250 orang penambang dan alat berat dengan volume pengambilan mencapai 600 m3 per hari. Pasca tsunami, eksploitasi sumber daya alam tersebut meningkat terutama sebagai bahan baku dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain dalam jumlah besar, juga menggunakan berbagai jenis alat berat, bahkan para pelakunya didominasi oleh pihak pengusaha papan atas (Mukhlisudin dalam Serambi online, 2006).
1.12
1.12
1.12
1.12
Program Peng
Program Peng
Program Peng
Program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lembaga
elolaan Sumberdaya Alam dan Lembaga
elolaan Sumberdaya Alam dan Lembaga
elolaan Sumberdaya Alam dan Lembaga
Lain yang Terlibat
Lain yang Terlibat
Lain yang Terlibat
Lain yang Terlibat
Beberapa lembaga seperti Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) pada periode tahun 2001–2005 pernah menjadikan KES sebagai fokus kerja mereka. Flora Fauna International (FFI) juga pernah memiliki program Manajemen Gajah Sumatera di kawasan ini tahun 1996-2004 karena di KES gajah sumatera masih tersisa. FFI saat ini sedang menginisiasi kawasan ini menjadi kawasan konservasi yang dinamakan dengan Kawasan Ulu Masen (Workshop FFI, 2006). Saat ini usaha-usaha pelestarian hutan di KES juga sedang dilakukan oleh ESP/USAID dibawah program Watershed Management (Manajemen DAS) seperti kegiatan rehabilitasi lahan, pengelolaan DAS dan kampanye pendidikan lingkungan, dimana kampanye ini pelaksanaannya dilakukan oleh Mapayah Foundation dan PeNA.
Selain itu, lembaga yang sangat fokus dengan hukum adat di Aceh saat ini adalah Yayasan Rumpun Bambu Indonesia (YRBI) dan salah satu wilayah kerjanya ada di KES Aceh Besar. Yayasan Mapayah sendiri mengawali kerjanya di KES Aceh Besar bersama dengan ESP/USAID untuk melakukan survei Daerah Aliran Sungai pada tahun 2005.
2
MATRIKS STAKEHOLDER
Keterlibatan masyarakat dari awal perencanaan program Kampanye Bangga adalah mutlak. Hal ini untuk menjamin bahwa ide dan gagasan yang muncul dari bawah dapat terakomodasikan. Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat juga dapat membangun dukungan dan komitmen luas untuk bertindak. Lokakarya pemangku kepentingan atau pertemuan stakeholder (stakeholder
workshop) merupakan salah satu forum yang dipakai untuk dapat menampung
keterlibatan masyarakat. Dalam stakheholder workshop, ide, masukan dan suara dari berbagai kelompok yang berkepentingan dirangkum menjadi gagasan kolektif.
Tahapan yang paling penting adalah mendapatkan anggota masyarakat yang dapat mewakili kepentingan masyarakat keseluruhan. Isu representasi mengemuka terutama karena dengan segala keterbatasan yang dimiliki, sangatlah tidak mungkin melibatkan seluruh anggota masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan waktu yang tersedia dan kompleksitas sosial budaya masyarakatnya. Untuk itu, diperlukan suatu pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu dalam menilai kepentingan dan keterwakilan anggota kelompok masyarakat yang dilibatkan.
Dalam Kampanye Bangga digunakan pendekatan yang disebut dengan analisa stakeholder. Pendekatan ini menitikberatkan kepada isu dan motif yang dibawa oleh seorang peserta, serta konsekuensi dan sumbangan potensial yang dapat diberikan untuk program secara keseluruhan. Keluaran dari analisa stakeholder adalah suatu matriks yang disebut dengan matriks analisa stakeholder. Berdasarkan matriks ini, peserta pertemuan stakeholder ditentukan. Tidak semua peserta atau individu atau wakil kelompok masyarakat yang ada di dalam matriks ini akan dilibatkan. Terutama jika kepentingannya dan sumba-ngannya sudah dapat diwakili oleh peserta lain. Berikut ini adalah matriks analisa stakeholder final (peserta yang hadir).
Tabel 1: Matriks Analisa Stakeholder Peserta yang Hadir di Lokakarya Stakeholder Pertama dan Kedua
No Peserta Nama Isu Kunci Motif Potensial Kontribusi
Konsekuensi
1 BKSDA Adhi Nurul Manajemen
Konservasi Sumber Daya Alam
Link program
Pengemba-ngan kapasi-tas Pendampi-ngan program /monitoring kawasan 2 Ketua PKK Blang Lambaro, Saree
Nining Pengaruh keluarga dalam pemanfa-atan SDA, gender
Eksistensi perempuan Dukungan/ kerjasama kelompok pe-rempuan utk konservasi keterlibatan perempuan dalam program
3 Ketua Kel.Tani Blang Lambaro Mustaji Pengembangan Pertanian, metode pertanian ingin mendapat informasi ten-tang Program Pride yang me-miliki dampak terhadap sektor pertanian Pengemba-ngan kapasi-tas Keikutsertaan dalam pro-gram yang berhubungan dengan pe-ngembangan pertanian 4 Pawang Uteun Saree /Mukim Saree Suardi B. Dukungan masyarakat,Nilai Tradisional Ingin menge-tahui tentang kondisi sumber daya alam, ingin mengetahui bagaimana program dapat meningkatkan pengetahuan Informasi tentang sumber daya alam yang dapat mengangkat kearifan lokal Keikutsertaan mukim dalam program, Menyediakan data sejarah dan nilai tradisional 5 Geuchiek Saree Aceh
Syarbaini Alternatif Program
yang mendukung kesejahteraan masya-rakat desa Tanggung jawab administratif; ingin mendapat kepastian bahwa partisipasi warga dalam program ini akan membe-rikan keuntungan bagi dirinya/ wilayahnya Dapat melihat bahwa pro-gram membu-tuhkan duku-ngan dan ke-ahlian masya-rakat desa Memperoleh perspektif Kades me-ngenai cara-cara yang dapat ditem-puh untuk dapat meng-galang duku-ngan masya-rakat 6 Tokoh Agama Saree Aceh Tgk. Ramli Aji Nilai-nilai keislaman dan etika Ingin menge-tahui apakah program sesuai dengan ajaran Islam; bagai-mana program dapat membe-rikan keuntungan dalam syiar Islam Memperlihatk an keterkaitan ajaran agama dalam praktik sehari-hari pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan Dukungan dan Kerja-sama dari Komunitas Islam; Cera-mah Konser-vasi, studi tentang kaitan Islam dengan konservasi 7 Masyarakat Tani Blang Lambaro Amin Jamal Pengembangan Pertanian, metode pertanian ingin mendapat informasi tentang Program Pride yang memiliki dampak terhadap sektor pertanian Pengemba-ngan kapasi-tas Keikutsertaan dalam pro-gram yang berhubungan dengan pe-ngembangan pertanian 8 Ketua Pemuda Blang Lambaro M. Sujarwo Pengembangan Kapasitas, Organisasi Pemuda, Kesenian Daerah ingin tahu tentang kaitan program dengan pemuda Pengemba-ngan potensi pemuda setempat Keterlibatan pemuda secara kontinyu
9 Kepala Dusun Blang Lambaro
Mahdi Alternatif Program
yang mendukung kesejahteraan masyarakat dusun Tanggung jawab administratif; ingin mendapat kepastian bahwa partisipasi warga dalam program ini akan membe-rikan keuntungan bagi dirinya/ wilayahnya Dapat melihat bahwa pro-gram membu-tuhkan duku-ngan dan ke-ahlian masya-rakat dusun Memperoleh perspektif Kadus mengenai cara-cara yang dapat ditempuh untuk dapat menggalang dukungan masyarakat 10 Guru Blang Lambaro Sulaiman Pengembangan Pendidikan, kurikulum sekolah, dukungan instansi pendidikan pengembangan model pendi-dikan Dukungan sekolah, guru, dan material sekolah integrasi dengan kurikulum, pelatihan guru, keterlibatan langsung
11 BKSDA Hadi Manajemen
Konservasi Sumber Daya Alam
Link program
Pengemba-ngan kapasi-tas Pendampi-ngan program /monitoring kawasan 12 STPP Saree Nurfari-dhah Dukungan instansi pendidikan, Penyuluhan pertanian Ingin mendapat informasi ten-tang Pride yang memilki dampak terhadap pengembangan penyuluhan pertanian Dukungan kampus, do-sen, dan pe-ngembangan kapasitas Keikutsertaan langsung dalam program 13 BRR NAD-Nias Saodah Lubis Integrasi Manajemen Konservasi Sumber Daya Alam Ingin mendapat informasi ten-tang program Pride yang dapat memberi alter-natif konservasi sumber daya alam di wilayah kerja BRR
Link Program Keikutsertaan
dalam program, dukungan material 14 Masyarakat Tani Blang Lambaro Zulkifli T. Pengembangan Pertanian, metode pertanian ingin mendapat informasi ten-tang Program Pride yang me-miliki dampak terhadap sektor pertanian Pengemba-ngan Kapasi-tas Keikutsertaan dalam program yang berhubungan dengan pengembang an pertanian
15 Masyarakat Tani Blang Lambaro Ramdan Pengembangan Pertanian, metode pertanian mendapat infor-masi tentang Pride yang ber-dampak pd sek-tor pertanian Pengemba-ngan Kapasi-tas Keikutsertaan dalam program pengembang an pertanian 16 SekCam Lembah Seulawah Supriadi Dukungan Pemerintah, Program Pemerintah Tanggung jawab administratif; ingin mendapat kepastian bahwa partisipasi warga dalam program ini akan memberikan keuntungan bagi dirinya/ wilayahnya Alternatif da-lam pembu-atan proposal untuk pe-ngembangan daerah Mendapat perspektif kepala wilayah kecamatan tentang visi dan rencana pengembang an wilayah ataupun pemberdayaa n masyarakat; Informasi Kawasan
17 SL-ESP Aceh
Yusna-ningsih Pengelolaan DAS, Kesehatan Lingkungan, Ketersediaan Air Bersih Integrasi kegiatan
Link program Rencana
kerja yang disusun harus memperlihatk an integrasi dengan program ESP
18 WSM-ESP Aceh Ivan
Krisna Pengelolaan DAS, Kesehatan Lingkungan, Ketersediaan Air Bersih Integrasi kegiatan
Link program Rencana
kerja yang disusun harus memperlihatk an integrasi dengan program ESP 19 Pemuda Jantho Baru Roby Pengembangan Kapasitas, Organisasi Pemuda, Kesenian Daerah ingin tahu tentang kaitan program dengan pemuda informasi bahwa program dapat mengembang kan potensi pemuda setempat Keterlibatan pemuda secara kontinyu 20 Tokoh Agama Jantho Baru Tgk. Juned Nilai-nilai keislaman dan etika Ingin menge-tahui apakah program sesuai dengan ajaran Islam; bagai-mana program dapat membe-rikan keuntungan dalam syiar Islam Memperlihatk an keterka-itan ajaran agama dalam praktik sehari-hari pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan Dukungan dan kerjasa-ma dari ko-munitas Is-lam; ceramah konservasi, studi tentang kaitan Islam dengan konservasi
21 Tokoh Adat Saree Muham-mad Abd. Dukungan masyarakat ,Nilai Tradisional mengetahui tentang kondisi sumber daya alam peningkatan pengetahuan Informasi tentang sumber daya alam yang dapat mengangkat kearifan lokal Keikutsertaan dalam pro-gram, menyediakan data sejarah/nilai tradisional 22 Masyarakat Saree Juanda M.S Pengembangan Pertanian, metode pertanian ingin mendapat informasi tentang Program Pride yang memiliki dampak terhadap sektor pertanian Pengemba-ngan Kapasi-tas Keikutsertaan dalam program yang berhubungan dengan pengembang an pertanian 23 Pemuda Jantho Baru Ismawarni Pengembangan Kapasitas, Organisasi Pemuda, Kesenian Daerah ingin tahu tentang kaitan program dengan pemuda Informasi bahwa program dapat mengembang kan potensi pemuda setempat Keterlibatan pemuda secara kontinyu
24 Karang Taruna
Vebriyan-thie Or-cheva Pengembangan Kapasitas, Organisasi Pemuda, Kesenian Daerah ingin tahu tentang kaitan program dengan pemuda informasi bahwa program dapat mengembang kan potensi pemuda setempat Keterlibatan pemuda secara kontinyu 25 Ketua PKK Jantho Baru Siti Rohayati Pengaruh keluarga dalam pemanfaatan SDA, gender Eksistensi perempuan dukungan dan kerjasama kelompok perempuan untuk konservasi keterlibatan perempuan dalam program 26 CARE Amma Mala Putri Isu manajemen bencana alam Ingin mendapat informasi tentang program Pride dan peluang kerjasama
Link program Koordinasi
Kegiatan di Lapangan 27 CARE Fitri Handa-yani Isu manajemen bencana alam Mendapat infor-masi tentang program Pride dan peluang kerjasama
Link program Koordinasi
Kegiatan di Lapangan
28 BRR NAD-Nias Teuku Zulahyar Integrasi Manajemen Konservasi Sumber Daya Alam Ingin mendapat informasi tentang program Pride yang dapat memberi alternatif konservasi sumber daya alam di wilayah kerja BRR
Link Program Keikutsertaan
dalam program, dukungan material 29 BRR NAD-NIas Ruth Mumby Integrasi Manajemen Konservasi Sumber Daya Alam Ingin mendapat informasi tentang program Pride yang dapat memberi alternatif konservasi sumber daya alam di wilayah kerja BRR
Link Program Keikutsertaan
dalam program, dukungan material
30 BKSDA Jantho Zulkifli Manajemen
Konservasi Sumber Daya Alam
link program
Pengemba-ngan Kapasi-tas Pendampi-ngan program /monitoring kawasan
31 Mukim Saree Abdul
Wahab S.Pd Dukungan masyarakat ,Nilai Tradisional Ingin mengetahui tentang kondisi sumber daya alam ,ingin mengetahui bagaimana program dapat meningkatkan pengetahuan Informasi tentang sumber daya alam yang dapat mengangkat kearifan lokal Keikutsertaan mukim dalam program, Menyediakan data sejarah dan nilai tradisional 32 Dinas Kehutanan A.Besar Edi Saputra Program DisHut, dukungan Dishut, dan pengelolaan SDH Pengembangan Kapasitas
Link program
Pendampi-ngan Program
33 BKSDA Jantho
Muham-mad
Manajemen
Konservasi Sumber Daya Alam
link program
Pengemba-ngan Kapasi-tas Pendampi-ngan program /monitoring kawasan
34 Camat Lembah Seulawah Ir. Bakhti-ar Sufi Dukungan Pemerintah, Program Pemerintah Tanggung jawab administratif; ingin mendapat kepastian bahwa partisipasi warga dalam program ini akan membe-rikan keuntungan bagi dirinya/ wilayahnya Alternatif dalam pembuatan proposal untuk pe-ngembangan daerah Mendapat perspektif kepala wilayah kecamatan tentang visi dan rencana pengemba-ngan wilayah ataupun pemberda-yaan masya-rakat; Infor-masi Kawasan 35 Tokoh Adat Jantho Baru Sofyan B.Ganto Dukungan masyarakat ,Nilai Tradisional Ingin mengetahui tentang kondisi sumber daya alam, ingin mengetahui bagaimana program dapat meningkatkan pengetahuan Informasi tentang sumber daya alam yang dapat mengangkat kearifan lokal Keikutsertaan dalam program, Menyediakan data sejarah dan nilai tradisional 36 Masyarakat Jantho Baru Fitrian-syah Pengembangan Kapasitas, Organisasi Pemuda, Kesenian Daerah ingin tahu tentang kaitan program dengan pemuda informasi bahwa program dapat mengembang kan potensi pemuda setempat Keterlibatan pemuda secara kontinyu 37 Dinas Pendidikan A.Besar Anita S.Pd,M.Pd Pengembangan Pendidikan, kurikulum sekolah, dukungan instansi pendidikan dukungan sekolah, guru, dan material sekolah Pengemba-ngan model pendidikan integrasi de-ngan kuriku-lum, pelati-han guru, keterlibatan langsung 38 Pemuda Jantho Baru Iwan Bustana Pengembangan Kapasitas, Organisasi Pemuda, Kesenian Daerah ingin tahu tentang kaitan program dengan pemuda informasi bahwa program dapat mengembang kan potensi pemuda setempat Keterlibatan pemuda secara kontinyu
Keterangan: Peserta Lokakarya Stakeholder Pertama, Peserta Lokakarya Stakeholder Kedua,
Lokakarya stakeholder pertama dilaksanakan di Aula STPP Saree, Kecamatan Lembah Seulawah pada bulan September 2006. Pertemuan ini dihadiri oleh 16 orang peserta dari beberapa kelompok masyarakat. Tujuan pertemuan dengan para stakeholder adalah untuk memperkenalkan program Kampanye Bangga juga untuk membuat model konseptual sebagai landasan merancang kegiatan Kampanye Bangga, serta untuk melibatkan para stakeholder dalam kegiatan sejak proses perencanaan. Lokakarya stakeholder kedua dilakukan pada tanggal 22 Februari 2007 di Balai Pertemuan Desa Jantho Baru, Kecamatan Kota Jantho. Lokakarya ini dihadiri oleh 25 orang stakeholder dari kedua kecamatan. Tujuan pertemuan kedua ini adalah untuk menyampaikan hasil temuan di lapangan, revisi Model Konseptual Awal dan diskusi kegiatan.
Gambar 4: Proses Fasilitasi Pembuatan Model Konsep dalam Lokakarya Stakeholder Pertama
Gambar 5: Peserta Lokakarya Stakeholder Pertama Membuat Analisa Ancaman
3
MODEL KONSEP
Kondisi target yang ditinjau adalah Hutan Saree dan Jantho yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Kawasan Ekosistem Seulawah Aceh Besar. Kawasan Ekosistem Seulawah merupakan kawasan yang memiliki peranan penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat di sekitarnya, baik yang hidup dari sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Selain itu di Kawasan Ekosistem Seulawah Aceh Besar ini terdapat Daerah Aliran Sungai Utama yaitu DAS Krueng Aceh yang menjadi sumber air penduduk kota Banda Aceh.
Beberapa kegiatan yang berlangsung di Hutan Saree dan Jantho telah menjadi ancaman bagi kelestarian hutan tersebut. Namun yang menjadi ancaman utama saat ini adalah penebangan liar(ilegal logging). Kegiatan ini semakin meningkat setelah tragedi tsunami karena meningkatnya kebutuhan kayu untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa kondisi Aceh yang mulai kondusif juga memberi kontribusi terhadap kelestarian hutan Saree dan Jantho karena saat ini oknum GAM dan oknum TNI juga ikut melakukan kegiatan penebangan liar.
Kegiatan pembangunan tanpa izin, pembukaan lahan, penebangan liar, keba-karan, galian C, perambahan hutan, dan perburuan liar adalah faktor langsung yang mempengaruhi kondisi target. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan mengenai pemanfaatan sumber daya hutan Saree dan Jantho yang berkelanjutan. Masyarakat merasakan bahwa kurangnya lahan pekerjaan membuat orang berada dalam kemiskinan, dan kemiskinan menjadi sebab kurangnya pengetahuan. Kurangnya kegiatan penyuluhan terhadap masyarakat di sekitar hutan Saree dan Jantho juga menjadi sebab kurangnya pengetahuan.
Kegiatan perburuan liar selain mempengaruhi langsung kondisi hutan Saree dan Jantho secara tidak langsung juga turut mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan. Para pemburu ada yang sengaja membakar hutan agar tumbuh rumput muda sehingga memancing hewan buruan seperti rusa datang. Namun ada juga yang sengaja atau tidak sengaja membuang puntung rokok saat berburu sehingga terjadi kebakaran hutan. Hal ini sering terjadi pada saat musim kemarau.
Kegiatan galian C setahun belakangan semakin meningkat karena kebutuhan bahan bangunan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Hal ini selain karena kurang pengetahuan juga disebabkan karena tidak adanya penegakan hukum. Tidak adanya penegakan hukum turut melanggengkan kegiatan pembangunan tanpa izin di hutan lindung dan penebangan liar.
Pembukaan lahan untuk kegiatan pertanian juga mempengaruhi langsung hutan Saree dan Jantho. Umumnya pembukaan lahan dilakukan di pinggir-pinggir hutan atau di pinggir-pinggir-pinggir-pinggir jalan. Masyarakat sering kali tidak mengetahui batas-batas kawasan lindung sehingga terus memperluas lahan ke dalam kawasan lindung.
o k u m e n R e n ca n a K a m p a n y e B a n g g a u n tu k P e n y e la m a ta n K a w a s a n E k o s is te m S e u la w a h u t M e u ra h I n ta n ( M A P A Y A H F o u n d a ti o n )
3
3
G a m b a r 6 : M o d e l K o n s e p A w a l y a n g D ik e m b a n g k a n o le h P e s e rt a L o k a k a ry a S ta k e h o ld e r P e rt a m a H u ta n S e u la wa h H u ta n S e u la wa h H u ta n S e u la wa h H u ta n S e u la wa h ((((S a re e S a re e S a re e S a re e & & & & J a n th o J a n th o J a n th o J a n th o )))) P e m b a n g u n a n ta n p a i jin P e m b u k a a n la h a n P e n e b a n g a n lia r K e b a k a ra n G a lia n C P e ra m b a h a n h u ta n P e rb u ru a n l ia r K u ra n g p e n y u lu h a n K u ra n g p e n g e ta h u a n P e n e g a k a n h u k u m K u ra n g m e m ili k i L o w o n g a n p e k e rj a a n K e m is k in a n S e ra k a h (k o n s u m ti f) K u ra n g k e s a d a ra n T a rg e t k o n d is i Fa k tor la ngs un g Fa k tor ti da k la ngs un g Fa k tor k ont ri bus i L e g e n d a :4
FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)
4.1
4.1
4.1
4.1
Proses
Proses
Proses
Proses FGD
FGD
FGD
FGD
Tujuan FGD adalah untuk mengumpulkan informasi mengenai tiga ancaman terbesar (penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan) di Hutan Saree dan Jantho. Pertanyaan umum yang dibawa adalah: hal-hal apa saja yang mendorong orang untuk melakukan kegiatan penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan di dalam ekosistem hutan Saree dan Jantho. Pada tanggal 7 Oktober 2006 tim Kampanye Bangga Melestarikan Alam untuk Kawasan Ekosistem Seulawah dari Lembaga Mapayah Banda Aceh telah melakukan 8 kali diskusi terfokus yang dilaksanakan di Dusun Blang Lambaro,Desa Saree Aceh dan Desa Jantho Baru. Serangkaian diskusi terfokus dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai tiga ancaman terbesar (penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan) di Ekosistem Hutan Saree dan Jantho. Pelaksanaan FGD dirancang untuk menjawab sebuah pertanyaan tentang hal-hal apa saja yang mendorong orang untuk melakukan kegiatan penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan di dalam Ekosistem Hutan Saree dan Jantho.
Proses ini diawali dengan pembentukan tim pelaksana FGD dan melatih tim untuk memandu jalannya diskusi terfokus.Manajer Kampanye bersama-sama dengan tim mendiskusikan Kerangka Perencanaan FGD yang menetapkan kriteria peserta FGD, jumlah FGD, dan merancang pertanyaan panduan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hasil diskusi dikonsultasikan kepada pihak Rare Indonesia.
Setelah menghasilkan sebuah Kerangka Perencanaan FGD Final, tim yang bertindak sebagai penghubung peserta mulai menuju lokasi untuk menghubungi peserta. Diskusi ini telah diberitahukan melalui surat pemberitahuan kepada Camat Lembah Seulawah dan Camat Kota Jantho dengan tujuan agar pihak kecamatan dapat mengetahui proses terkini dari Kampanye Bangga di kecamatan mereka. Surat Pemberitahuan juga ditujukan kepada Geuchik (Kades) Saree Aceh dan Geuchik Jantho Baru. Mereka menjadi pihak yang sangat membantu dalam mencari orang-orang yang dapat diundang sesuai dengan kriteria peserta FGD yang telah ditetapkan. Proses identifikasi peserta ini akan sangat sulit tanpa bantuan pihak lokal seperti geuchik karena tim Mapayah belum tahu orang-orang yang pernah melakukan penebangan liar, pembakaran hutan, dan pembukaan lahan untuk pertanian. Dari diskusi dengan geuchik banyak diperoleh masukan diantaranya tenggang waktu antara mengundang dengan hari pelaksaan acara, sebagai contoh pihak Mapayah menghubungi peserta pada tanggal 4 dan 5 Oktober 2006 untuk diundang pada acara FGD tanggal 7 Oktober 2006, masukan dari mereka alangkah baiknya kalau diberitahukan seminggu sebelumnya. Proses mendatangi peserta dengan mendatangi langsung orang yang diundang dianggap sudah tepat oleh Geuchik Jantho Baru.