4.1
4.1
4.1 Proses Proses Proses Proses FGDFGDFGD FGD
Tujuan FGD adalah untuk mengumpulkan informasi mengenai tiga ancaman terbesar (penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan) di Hutan Saree dan Jantho. Pertanyaan umum yang dibawa adalah: hal-hal apa saja yang mendorong orang untuk melakukan kegiatan penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan di dalam ekosistem hutan Saree dan Jantho. Pada tanggal 7 Oktober 2006 tim Kampanye Bangga Melestarikan Alam untuk Kawasan Ekosistem Seulawah dari Lembaga Mapayah Banda Aceh telah melakukan 8 kali diskusi terfokus yang dilaksanakan di Dusun Blang Lambaro,Desa Saree Aceh dan Desa Jantho Baru. Serangkaian diskusi terfokus dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai tiga ancaman terbesar (penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan) di Ekosistem Hutan Saree dan Jantho. Pelaksanaan FGD dirancang untuk menjawab sebuah pertanyaan tentang hal-hal apa saja yang mendorong orang untuk melakukan kegiatan penebangan liar, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan di dalam Ekosistem Hutan Saree dan Jantho.
Proses ini diawali dengan pembentukan tim pelaksana FGD dan melatih tim untuk memandu jalannya diskusi terfokus.Manajer Kampanye bersama-sama dengan tim mendiskusikan Kerangka Perencanaan FGD yang menetapkan kriteria peserta FGD, jumlah FGD, dan merancang pertanyaan panduan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hasil diskusi dikonsultasikan kepada pihak Rare Indonesia.
Setelah menghasilkan sebuah Kerangka Perencanaan FGD Final, tim yang bertindak sebagai penghubung peserta mulai menuju lokasi untuk menghubungi peserta. Diskusi ini telah diberitahukan melalui surat pemberitahuan kepada Camat Lembah Seulawah dan Camat Kota Jantho dengan tujuan agar pihak kecamatan dapat mengetahui proses terkini dari Kampanye Bangga di kecamatan mereka. Surat Pemberitahuan juga ditujukan kepada Geuchik (Kades) Saree Aceh dan Geuchik Jantho Baru. Mereka menjadi pihak yang sangat membantu dalam mencari orang-orang yang dapat diundang sesuai dengan kriteria peserta FGD yang telah ditetapkan. Proses identifikasi peserta ini akan sangat sulit tanpa bantuan pihak lokal seperti geuchik karena tim Mapayah belum tahu orang-orang yang pernah melakukan penebangan liar, pembakaran hutan, dan pembukaan lahan untuk pertanian. Dari diskusi dengan geuchik banyak diperoleh masukan diantaranya tenggang waktu antara mengundang dengan hari pelaksaan acara, sebagai contoh pihak Mapayah menghubungi peserta pada tanggal 4 dan 5 Oktober 2006 untuk diundang pada acara FGD tanggal 7 Oktober 2006, masukan dari mereka alangkah baiknya kalau diberitahukan seminggu sebelumnya. Proses mendatangi peserta dengan mendatangi langsung orang yang diundang dianggap sudah tepat oleh Geuchik Jantho Baru.
Proses menghubungi peserta dengan isu-isu sensitif seperti penebangan liar relatif tidak mudah karena bagi mereka pertemuan seperti ini harus menjamin mereka bahwa tidak diinterogasi, disalahkan lalu dimasukkan ke penjara. Penjelasan yang baik dari tim Mapayah membantu peserta merasa nyaman untuk membagi pengalaman hidup mereka dalam acara diskusi terfokus.Namun kekhawatiran itu tetap ada sehingga peserta FGD dari kelompok penebang liar hanya diwakili dari 3 orang peserta baik di Saree maupun di Jantho.
Pengalaman menarik adalah tim Mapayah diajak oleh masyarakat lokal untuk melihat langsung lokasi penebangan liar di dalam hutan lindung Seulawah yang dimiliki AURI.
Hal-hal yang diluar dugaan adalah bahwa ternyata proses FGD di Mesjid Jantho menarik minat orang lain (diluar peserta FGD) untuk menyaksikan proses diskusi. Misalnya datangnya beberapa orang ibu-ibu untuk mengaji di mesjid namun sebelumnya melihat proses diskusi dan ingin terlibat dalam diskusi sehingga blocker (pengendali diskusi) sangat dibutuhkan di sana.
4.2
4.2
4.2
4.2 Deskripsi RespondenDeskripsi RespondenDeskripsi RespondenDeskripsi Responden dan Kerangka Pertanyaan FGD dan Kerangka Pertanyaan FGD dan Kerangka Pertanyaan FGD dan Kerangka Pertanyaan FGD
Responden dibagi ke dalam 4 kelompok responden yaitu:KELOMPOK 1: Laki-laki, Usia 25 – 40 tahun, Pekerjaan Petani dan Penebang Pohon
KELOMPOK 2: Laki-laki, Usia 25 – 40 tahun, Pekerjaan Petani dan Pemburu KELOMPOK 3: Perempuan, Usia 25 – 40 tahun, Pekerjaan Petani
KELOMPOK 4 : Laki-laki, Usia 25 – 40 tahun, Pekerjaan Petani
Tabel 2: Kerangka Pertanyaan FGD
Struktur Pertanyaan Tema 1: Penebangan
Liar Tema 2: Kebakaran Hutan Tema 3: Pembukaan Lahan 1. Pertanyaan Pembuka Siapakah nama anda? Apa kesibukan saat bulan puasa ini?
Siapakah nama anda? Apa kesibukan saat bulan puasa ini?
Siapakah nama anda? Apa kesibukan saat bulan puasa ini? 2. Pertanyaan
Perkenalan
Apa saja yang anda lakukan kalau ke hutan?
Apa yang paling anda cari kalau pergi ke hutan?
Dimana saja lahan pertanian anda? Apa saja yang anda tanam? 3. Pertanyaan transisi Jika Anda membandingkan kondisi hutan/lahan sekarang dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu
Jika Anda membandingkan kondisi hutan/lahan sekarang dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu
Jika Anda memban-dingkan kondisi hutan/lahan seka-rang dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu (tidak
(tidak termasuk tsunami) apa yang membedakan?
(tidak termasuk tsunami) apa yang membedakan?
termasuk tsunami) apa yang
membedakan?
Apa kendala anda dalam mendapatkan sumber penghasilan lain selain dari menebang pohon?
Bagaimana pendapat anda mengenai kebakaran hutan Saree dan Jantho baru-baru ini?
Apakah yang melatarbelakangi petani membuka lahan baru di Hutan Saree dan Jantho?
4. Pertanyaan Kunci Apakah kalau di Hutan Saree dan Jantho terus
berlangsung kegiatan penebangan pohon, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan akan berpengaruh langsung terhadap penghasilan para penebang pohon di masa depan?Bagaimana pengaruhnya? Apakah kalau di Hutan Saree dan Jantho terus
berlangsung kegiatan penebangan pohon, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan akan berpengaruh langsung terhadap penghasilan para petani dan orang yang berburu di masa depan?Bagaimana pengaruhnya?
Apakah kalau di Hutan Saree dan Jantho terus berlangsung kegiatan penebangan pohon, kebakaran hutan, dan pembukaan lahan akan berpengaruh langsung terhadap penghasilan para petani di masa depan?Bagaimana pengaruhnya?
Menurut Anda, hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk membantu para penebang mendapatkan penghasilan yang cukup tetapi juga saat yang bersamaan menjamin
tersedianya air bersih secara terus
menerus?
Apakah pengguna-an api dalam pembu-kaan lahan atau ber-buru sebaiknya dihentikan, terutama jika melihat bahwa kebakaran hutan bisa sangat tidak
terkendali dan dampaknya bisa mempengaruhi kehi-dupan kita keselu-ruhan, sekarang dan masa datang?
Menurut Anda, hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk membantu para petani menda-patkan penghasilan yang cukup tetapi juga saat yang ber-samaan menjamin tersedianya air bersih secara terus menerus?
Apa yang
menghalangi anda dalam mencari pekerjaan lain selain menebang pohon?
Apa yang mengha-langi anda melakukan hal-hal positif untuk pelestarian Hutan Saree dan Jantho?
Mohon jelaskan cara-cara yang dapat ditempuh untuk membuka lahan? Dari berbagai cara yang Anda jelaskan itu, bagai-mana pengaruhnya terhadap hutan dan kelestarian air?
Pengetahuan apa yang diperlukan oleh para penebang liar untuk menjaga kelestarian air?
Pengetahuan apa yang diperlukan oleh para pembakar hutan untuk menjaga kelestarian air? Pengetahuan apa yang diperlukan oleh para petani/pembuka lahan/untuk menjaga kelestarian air? 5. Pertanyaan Penutup
Hewan apakah yang sangat spesifik (unik atau istilah lokal lainnya) disini (tidak dapat ditemukan di daerah lain) dan dapat mewakili alam juga masyarakat yang ada disini?
Hewan apakah yang sangat spesifik (unik atau istilah lokal lainnya) disini (tidak dapat ditemukan di daerah lain) dan dapat mewakili alam juga masyarakat yang ada disini?
Hewan apakah yang sangat spesifik (unik atau istilah lokal lainnya) disini (tidak dapat ditemukan di daerah lain) dan dapat mewakili alam juga masyarakat yang ada disini?
Bagaimana sebaiknya hubungan antara alam dan masyarakat yang ada disini, bagaimana sebaiknya alam ini digunakan?
Bagaimana sebaiknya hubungan antara alam dan masyarakat yang ada disini, bagaimana sebaiknya alam ini digunakan?
Bagaimana
sebaiknya hubungan antara alam dan masyarakat yang ada disini, bagaimana
sebaiknya alam ini digunakan?
4.3
4.3
4.3
4.3 KonsensusKonsensusKonsensusKonsensus
Dari 8 kali FGD, ada beberapa isu atau kesamaaan topik mengenai Hutan Saree dan Jantho yang dapat dikemukanan disini, yaitu:
Ancaman terbesar saat ini terhadap Hutan Saree dan Jantho adalah kegiatan penebangan liar. Masyarakat Saree umumnya sepakat bahwa kegiatan ini sangat berpengaruh cepat terhadap ketersediaan air, seperti yang diutarakan oleh salah seorang peserta FGD dari kelompok ibu-ibu petani yang bernama Kimi: ”... salah satu mata pencaharian kami ya bertani, tapi kalau kemarau kami nggak bisa bekerja, salah satu pilihannya ya hutan kita jaga, jangan ditebang lagi biar hutannya bisa menampung air hujan”, demikian juga yang diutarakan oleh Pak Safrianil dari kelompok Bapak Petani:”... air yang paling bermasalah, bisa jadi karena penebangan liar airnya jadi berkurang”. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bapak Kasmuri dari kelompok pembakar lahan hutan:” ... jika hutan ditebang terus, dibakar terus, kita bisa-bisa gak ada air lagi. Kita bisa-bisa pindah dari Saree ini” dan serupa seperti yang disampaikan Bapak Sulaiman dari kelompok penebang kayu: ”...O, pasti kalau menebang terus mata air kering, musibah!”.
Pembukaan lahan dilakukan untuk mencari tanah yang subur sehingga kualitas hasil pertanian lebih baik. Seperti dinyatakan oleh Ibu Nurfaridhah: “Lahan
baru itu kan lebih banyak humusnya jadi tanah itu lebih subur jika dibandingkan lahan yang sudah berkali-kali dipakai untuk menanam”, “... lahan lama kita tinggalkan dulu sampai kembali berhutan dan kita buka kembali”
Orang membakar hutan untuk berburu karena hasil buruan dapat diperoleh lebih cepat dibandingkan memakai jerat. Seperti yang dikemukakan oleh Babak Muchlisin: “...kalau kita pakai jerat itu lama sekali karena rusa susah untuk mendekati karena penciumannya tajam beda kalau dibakar dulu lalu tumbuh rumput muda 2 hari rusa sudah datang”
Sedangkan yang mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang merusak Hutan Saree dan Jantho adalah keuntungan ekonomi. Umumya, pekerjaan utama masyarakat adalah bertani dan kegiatan menebang dan berburu adalah pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Jadi mereka membutuhkan bantuan modal untuk pertanian. Hal ini dikemukan oleh Bapak Kasmuri: “... itu kan masalah ekonomi misalnya saya memberi uang untuk masyarakat maka masyarakat akan menebang”
Pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat juga umumnya adalah pengetahuan yang berhubungan dengan pertanian baik itu pemupukan, waktu tanam, cara-cara melindungi tanaman dari gangguan satwa liar atau pemasaran hasil produksi sehingga hutan sebagai penjaga ketersediaan air tidak beresiko dirusak oleh masyarakat sekitar hutan .
Faktor yang menjadi penghalang masyarakat untuk melakukan hal-hal positif dalam menjaga kelestarian hutan Saree dan Jantho adalah rasa takut terhadap kekuatan bersenjata baik militer maupun GAM dan kurangnya modal untuk melakukan usaha lain yang lebih menjaga kelestarian hutan. Bapak Fadhli menyatakan bahwa: “... penebangan liar ini tidak hanya didasari oleh ekonomi tetapi juga hal ini dipengaruhi oleh adanya pihak-pihak yang mendukung dan orang-orang itu (militer dan pejabat) punya pengaruh kuat”
Masyarakat merasakan bahwa perbedaan yang sangat nyata adalah perubahan cuaca dimana kalau sekitar sepuluh tahun yang lalu udara masih sejuk, sedangkan saat ini suhu udara jauh lebih panas. Bapak Sulaiman menceritakan: “ ... saya pernah masuk ke Saree ini tahun 1993, disini (menunjuk desa Blang lambaro) saya sudah mulai angkat kayu di daerah Seunom Panah itu, dinginnya sampai membuat minyak makan beku, tapi sekarang jam 2 malam kita sanggup nggak pakai baju”
Sebagian besar kerusakan hutan Saree dan Jantho bukan disebabkan masyarakat lokal tetapi disebabkan oleh pihak-pihak di luar masyarakat. Masyarakat lebih banyak memanfaatkan hutan adat yang memang legal untuk dikelola. Menurut Bapak Mustari: “... kalau penebangan liar, dunia sudah tahu cuma nggak berani ngomong, TNI nebang masyarakat nggak berani ngomong, geuchik nebang, GAM nebang, masyarakat ya nggak berani ngomong, contohnya TNI datang (Memperagakan memegang senjata) siapa coba yang berani?”
Masyarakat pada dasarnya merasa tidak berdaya, karena praktek penebangan liar ini. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Zul: “... orang Dinas Kehutanan itu suruh turun, apa juga kerja orang-orang itu, orang itu yang makan gaji, orang itu yang ambil manfaat hutan, kenapa suruh masyarakat yang jaga hutan?Apa juga kerja orang itu, saya pun mau kerja di Kehutanan”
4.4
4.4
4.4
4.4 Perbedaan PendapatPerbedaan PendapatPerbedaan PendapatPerbedaan Pendapat
Ada yang berpendapat bahwa hutan Saree dan Jantho lebih baik sekarang dibandingkan 10 tahun yang lalu namun ada yang berpendapat lebih buruk daripada 10 tahun yang lalu. Seperti terekam dalam diskusi terfokus di Jantho: Pak Rustam: “... hutan sekarang lebih bagus dibandingkan dulu karena dapat ditanam tanaman tua dan bisa bermanfaat”
Sementara Bapak Supardi menyampaikan: “... banyak hewan liar turun ke kampung, air menjadi berkurang, apalagi kalau musim kemarau”.
4.5
4.5
4.5
4.5 Perbedaan PengalamanPerbedaan PengalamanPerbedaan PengalamanPerbedaan Pengalaman
Terdapat perbedaan pengalaman antara masyarakat Saree dengan masyarakat Jantho dimana masyarakat Saree sudah merasakan kesulitan air akibat penebangan liar meskipun diluar musim kemarau sementara masyarakat Jantho sangat merasakan kekurangan air apabila musim kemarau. Masyarakat di kecamatan Jantho lebih banyak mengalami konflik satwa dibandingkan masyarakat di Kecamatan Saree.
4.6
4.6
4.6
4.6 Gagasan MasyarakatGagasan MasyarakatGagasan MasyarakatGagasan Masyarakat
Beberapa gagasan yang muncul dari masyarakat adalah diantaranya dibentuk sebuah kelompok tani binaan Mapayah sehingga melalui kelompok ini dapat meningkatkan kualitas produksi pertanian.
Mengajak pihak terkait terutama Dinas Kehutanan untuk melihat langsung kondisi Hutan Saree dan Jantho yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari mereka. Seperti apa yang diusulkan oleh Bapak Zul: “... ayo kita pantau secara langsung, jangan cuma duduk-duduk seperti ini (nada marah sekali), lihat sendiri bagaimana rusaknya Seulawah, semua pejabat itu diajak melihat kondisi Seulawah itu baru pas! Ini cuma lihat-lihat di pinggir jalan ya mana ada penebangan”.