• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

Variabilitas Spasial dan Temporal Parameter Fisika-Kimia Lingkungan Perairan

Variabilitas Spasial dan Temporal Parameter Fisika-Kimia Air Laut

Hasil pengukuran parameter fisika-kimia air laut dapat dilihat pada Lampiran 2. Berdasarkan pada data itu, nilai parameter fisika-kimia air laut bervariasi secara spasial dan temporal. Masing-masing parameter tersebut dapat dijelaskan berikut ini.

Kecerahan

Hasil pengukuran diperoleh nilai kecerahan di perairan Selat Dompak berkisar 0.40-1.40 m (Lampiran 2). Dari nilai-nilai tersebut terlihat bahwa kecerahan perairan cukup berfluktuasi selama penelitian (Gambar 9). Dari analisis varians, kecerahan perairan berbeda signifikan (p<0.05) secara spasial dan temporal (Lampiran 3). Dari uji lanjut Tukey, secara spasial nilai kecerahan di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun Bl (Lampiran 3). Nilai rata-rata kecerahan tertinggi terdapat di stasiun Al sebesar 1.1150 m, sedangkan nilai rata-rata terendah didapatkan di stasiun Bl sebesar 0.5175 m. Secara temporal, nilai kecerahan pada musim Timur berbeda signifikan dengan musim Barat dan Peralihan II (Lampiran 3). Nilai rata-rata kecerahan tertinggi terdapat pada musim Timur (1.0700 m), sedangkan nilai terendah terdapat pada musim Peralihan II (0.6100 m).

(2)

Rendahnya nilai kecerahan pada musim Barat disebabkan oleh limpasan air tawar yang banyak mengandung partikel-partikel terlarut dan tersuspensi, sehingga mempengaruhi tingkat kecerahan dan penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Padatan tersuspensi berkorelasi negatif dengan kecerahan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi, nilai kecerahan semakin rendah.

Suhu

Hasil pengukuran suhu air di semua stasiun selama penelitian berkisar 29.03-31.50 °C (Lampiran 2). Kisaran nilai tersebut memperlihatkan bahwa suhu air di semua lokasi pengamatan berada dalam kisaran suhu normal untuk daerah tropis. Heip et al. (1985) melaporkan bahwa suhu yang optimum untuk perkembangan meiofauna adalah 20-30 °C. Hal ini berarti bahwa kisaran nilai suhu di perairan Selat Dompak dapat mendukung kehidupan meiofauna.

Kisaran nilai suhu di atas menunjukkan bahwa sebaran nilai suhu perairan antar stasiun selama penelitian cukup bervariasi (Gambar 10). Namun, berdasarkan pada hasil analisis varians ternyata secara spasial nilai rata-rata suhu perairan tidak berbeda signifikan antar stasiun (p>0.05), berarti bahwa setiap stasiun memiliki nilai rata-rata suhu perairan yang hampir sama (Lampiran 3). Secara temporal, terdapat perbedaan nilai rata-rata suhu yang signifikan antar musim (p<0.05). Dari uji lanjut Tukey diperoleh bahwa nilai rata-rata suhu perairan pada musim Barat berbeda signifikan dengan musim lainnya (Lampiran 3). Rata-rata suhu tertinggi terdapat pada musim Timur sebesar 30.6°C, sedangkan suhu terendah diperoleh pada musim Barat dengan suhu rata-rata sebesar 29.2 °C.

(3)

Walaupun hasil uji Anova menunjukkan suhu perairan tidak berbeda signifikan secara spasial, namun secara umum dapat dikatakan bahwa suhu perairan di lokasi penelitian (stasiun Al, A2, A3, Bl dan B2) lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun C. Hal ini disebabkan oleh faktor letak geografis daerah dan kondisi hidrologi perairan. Stasiun Al, A2, A3, Bl dan B2 merupakan perairan semi tertutup yang menjadikan perairan relatif tenang sehingga pengadukan massa air baik oleh arus maupun turbulensi sangat kecil sekali. Kondisi yang demikian menyebabkan suhu tidak menyebar secara merata. Akibatnya, suhu permukaan perairan akan lebih tinggi. Sementara, kondisi lokasi stasiun C yang berhadapan langsung dengan laut terbuka, akan memberikan kesempatan lebih sering terjadinya pengadukan, sehingga di lokasi ini suhu akan tersebar secara merata yang mengakibatkan nilainya lebih rendah dibandingkan dengan stasiun lainnya.

Kecepatan arus

Kecepatan arus perairan Selat Dompak berkisar 0.02-0.35 m/det (Lampiran 2). Dari nilai-nilai tersebut terlihat bahwa kecepatan arus perairan cukup berfluktuasi selama penelitian (Gambar 11). Berdasarkan pada hasil analisis varians, kecepatan arus berbeda signifikan (p<0.05) secara spasial dan secara temporal tidak berbeda signifikan (p>0.05) (Lampiran 3). Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa kecepatan arus di stasiun C berbeda signifikan dengan setiap stasiun lainnya (Lampiran 3). Kecepatan arus di stasiun C memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu 0.2625 m/det, sementara itu nilai rata-rata terendah didapatkan di stasiun B2 yaitu 0.0525 m/det.

Gambar 11. Variasi kecepatan arus secara spasial dan temporal di perairan Selat Dompak.

(4)

Kecepatan arus di stasiun C relatif lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. Tingginya kecepatan arus di stasiun C disebabkan oleh letak lokasi ini yang langsung berhadapan dengan laut terbuka. Sementara, rendahnya kecepatan arus di stasiun B2 disebabkan oleh letaknya yang terlindung oleh pulau Bintan dan pulau Dompak. Di Stasiun Al, A2 dan A3 yang merupakan lokasi padang lamun memiliki nilai kecepatan arus yang juga berbeda signifikan dengan stasiun C, di mana kecepatan arusnya lebih rendah dibandingkan dengan stasiun C. Lemahnya kecepatan arus oleh vegetasi lamun, terutama vegetasi lamun yang padat di stasiun Al, tentu saja dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap perairan di sekitarnya. Vegetasi lamun yang lebat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan ombak, serta menyebabkan perairan di sekitarnya tenang (Nybakken & Bertness 2005). Dengan demikian, ekosistem ini bertindak sebagai pencegah erosi dan sebagai perangkap sedimen. Arus ini relatif tenang karena Selat Dompak merupakan perairan semi tertutup.

Arus merupakan faktor yang penting di perairan Selat Dompak. Pergerakan arus dapat menentukan tipe partikel yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi kecepatan arus maka fraksi sedimen akan semakin kasar. Sebaliknya, semakin lemah kecepatan arus maka fraksi sedimen akan semakin halus. Pada dasar perairan yang lunak, jalur arus dapat menimbulkan gerakan bergelombang di dasar tersebut. Pergerakan arus yang kuat ini dapat mengaduk-aduk dasar perairan dan memindahkan partikel sedimen halus serta tersuspensi ke kolom air. Hal ini dapat mempengaruhi stabilitas sedimen, sehingga sangat berpengaruh terhadap meiofauna yang hidup di dalamnya. Stabilitas sedimen dapat terbentuk pada dasar perairan yang pergerakan arusnya lemah atau letaknya lebih dalam sehingga tidak terlalu dipengaruhi oleh arus.

Padatan tersuspensi total (TSS)

Hasil pengukuran TSS di semua stasiun selama penelitian berkisar antara 86.0-315.0 ppm (Lampiran2). Dari nilai-nilai tersebut terlihat bahwa nilai TSS cukup berfluktuasi di berbagai stasiun selama penelitian (Garnbar 12). Hasil analisis varians menunjukkan bahwa nilai TSS secara spasial berbeda signifikan (p<0.05), sedangkan secara temporal tidak berbeda signifikan (p>0.05) (Lampiran

(5)

3). Dari uji lanjut Tukey dihasilkan bahwa nilai TSS di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun A3, Bl, B2 dan C, sedangkan dengan stasiun A2 tidak berbeda signifikan (Lampiran 3). Nilai TSS di stasiun Al (lamun rapat/lebat) memiliki nilai rata-rata terendah (143.5000 ppm), sedangkan nilai rata-rata tertinggi terdapat di stasiun Bl yaitu sebesar 279.7500 ppm.

Gambar 12. Variasi TSS secara spasial dan temporal di perairan Selat Dompak. Rendahnya nilai TSS di stasiun Al disebabkan oleh lamun yang rapat dan lebat dapat menurunkan sedimentasi dan kekeruhan air karena lamun mampu meredam atau mengurangi kecepatan arus yang melalui padang lamun, akibatnya partikel tersuspensi di kolom air akan mengendap ke dasar perairan. Perairan yang ditumbuhi lamun (stasiun Al, A2 dan A3) mempunyai TSS yang lebih rendah daripada perairan yang tidak ditumbuhi lamun (stasiun Bl, B2 dan C), karena lamun selain dapat menangkap sedimen, juga mampu menstabilkan substrat sehingga tidak mudah teraduk. Rimpang dan akar lamun dapat menangkap dan menggabungkan sedimen, sehingga meningkatkan stabilitas permukaan sedimen dan menjadikan air lebih jernih (Bostrom & Bonsdorff 2000; Moberg & Ronnback 2003; Zulkifli & Efrieldi 2003).

Salinitas

Salinitas perairan Selat Dompak menunjukkan kisaran 30.0-32.5%o (Lampiran 2). Salinitas perairan ini selalu berubah dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh adanya penguapan, curah hujan dan masukan air tawar dari sungai yang bermuara ke Selat Dompak. Namun demikian, nilai salinitas perairan ini hampir merata sepanjang tahun (Gambar 13). Dari hasil analisis varians, nilai salinitas secara spasial tidak berbeda signifikan (p>0.05), sedangkan secara

(6)

temporal berbeda signifikan (p<0.05) (Lampiran 3). Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa nilai salinitas pada musim Barat berbeda signifikan dengan setiap musim lainnya (Lampiran 3). Nilai rata-rata salinitas tertinggi terdapat pada musim Peralihan II sebesar 31.4167%o, hal ini lebih berkaitan dengan kondisi suhu perairan yang cukup tinggi. Sementara itu, nilai terendah diperoleh pada musim Barat yaitu 30.1500%o, hal ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan banyaknya limpasan air tawar yang masuk ke dalam perairan.

Gambar 13. Variasi salinitas air laut secara spasial dan temporal di perairan Selat Dompak.

Pada setiap musim, salinitas di stasiun C memiliki nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hal ini disebabkan oleh lokasi stasiun C langsung berhadapan dengan laut terbuka dan tidak ada pengaruh limpasan air sungai, sehingga massa air yang ada di stasiun ini lebih didominasi oleh massa air dari laut terbuka yang bersalinitas tinggi. Nybakken dan Bertness (2005) menyatakan bahwa salinitas di lautan terbuka lebih besar daripada salinitas di perairan pantai. Pada daerah pantai, banyaknya sungai yang bermuara ke laut mengakibatkan salinitasnya lebih rendah dari laut terbuka. Dari kenyataan di atas dapat dikatakan bahwa nilai salinitas di lokasi penelitian dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor penguapan pada permukaan perairan, banyaknya air tawar yang masuk ke perairan, dan adanya pengaruh musim (musim timur dan musim barat).

Meiofauna yang hidup di stasiun C dapat menerima kadar garam yang tinggi dalam jaringan tubuhnya tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan. Keberadaan meiofauna di lokasi ini dapat beradaptasi terhadap salinitas tinggi yang dilakukan dengan cara mengubah cairan tubuhnya sesuai dengan konsentrasi garam di luar tubuhnya.

(7)
(8)
(9)
(10)

Sementara itu, hasil analisis varians untuk PO4-P menunjukkan bahwa konsentrasinya secara spasial berbeda signifikan (p<0.05), sedangkan secara temporal tidak berbeda signifikan (p>0.05) (Lampiran 3). Dari uji lanjut Tukey, diperoleh nilai rata-rata konsentrasi PO4-P di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun C (Lampiran 3). Nilai rata-rata konsentrasi PCVP tertinggi dijumpai di stasiun Al yaitu sebesar 0.3365 ppm, sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat di stasiun C sebesar 0.1163 ppm.

Konsentrasi NOs-N tertinggi terdapat pada musim Peralihan II berkisar antara 0.466-0.545 ppm dengan nilai tertinggi terdapat pada stasiun A3, sedangkan nilai terendah terdapat pada musim Timur di stasiun Bl, B2 dan C maing-masingnya sebesar 0.380 ppm. Sementara, konsentrasi PCVP tertinggi juga terdapat pada musim Peralihan II, namun nilai tertinggi terdapat di stasiun Al yaitu sebesar 0.510 ppm, sedangkan nilai terendah terdapat pada musim Timur yaitu di stasiun C sebesar 0.020 ppm. Seperti halnya NCVN, PCVP juga dimanfaatkan oleh fitoplankton, sehingga dapat mengurangi ketersediaannya di perairan pada musim ini. Fosfat yang terdapat dalam air, tidak hanya bergantung pada pembentukan dan perombakan bahan-bahan organik serta pertukaran vertikal air, tetapi juga dipengaruhi oleh kimia dasar perairan.

Dalam memasuki musim Barat banyak bahan organik masuk ke dalam perairan yang berasal dari daratan melalui sungai dan run-off yang dapat mengakibatkan terjadinya pengayaan nutrien di perairan ini. Biasanya mikroalga dalam kolom air dan mikroalga bentik (diatom) segera memanfaatkan nutrien yang tersedia dalam musim ini untuk pertumbuhannya (Dailey 2006). Pada akhir musim Barat mikroalga mencapai puncak tertinggi, di mana nutrien yang ada dalam kolom air setelah musim Barat dimanfaatkan secara optimum oleh mikroalga dan tumbuhan lamun untuk pertumbuhannya. Akibatnya, persediaan nutrien di perairan akan berkurang dalam memasuki musim selanjutnya, yaitu musim Peralihan II. Namun kenyataannya, pada musim ini ketersediaan nutrien cukup tinggi meskipun masukan bahan organik dari luar atau daratan relatif lebih sedikit dibandingkan dengan musim Barat. Hal ini disebabkan oleh adanya pelepasan nutrien dari sedimen ke kolom air melalui proses difusi.

(11)

Di ekosistem padang lamun biasanya terjadi proses difusi (pergerakan) nutrien dari sedimen ke kolom air di atasnya. Proses tersebut bergantung pada tipe sedimen dan faktor-faktor lingkungan kolom air seperti suhu air, konsentrasi oksigen terlarut, nutrien dan pH. Difusi nutrien (ortofosfat) dari sedimen ke kolom air ditentukan oleh dua proses yang saling berlawanan, yaitu proses pengikatan dan pelepasan nutrien yang berlangsung dalam keadaan anaerob (Erftemeijer & Middelburg 1993). Pelepasan nutrien dari sedimen dapat mensuplai bagi keperluan mikroalga bentik dan produktivitas primer di wilayah pantai (Gibblin et al. 1997). Berbeda dengan alga yang bergantung pada konsentrasi nutrien dalam air, lamun merupakan tumbuhan berakar yang menyerap nutrien dari sedimen. Jadi, lamun mampu mendaurulangkan nutrien kembali ke dalam ekosistem padang lamun agar tidak terperangkap di dasar perairan.

Bahan organik total (TOM)

Perairan Selat Dompak didominasi oleh vegetasi mangrove dan lamun, baik serasah mangrove maupun lamun akan mengalami penguraian yang intensif secara biokimia untuk menghasilkan TOM. Nilai TOM di perairan Selat Dompak selama penelitian berkisar 25.0-102.0 ppm (Lampiran 2). Nilainya bervariasi secara spasial dan temporal, yaitu pada musim Timur berkisar 31.0-102.0 ppm, musim Peralihan I berkisar 35.0-94.0 ppm, musim Barat berkisar 40.0-98.0 ppm, dan musim Peralihan II berkisar 25.0-95.0 ppm (Gambar 17).

Hasil analisis varians menunjukkan bahwa nilai TOM air laut secara spasial berbeda signifikan (p<0.05), sedangkan secara temporal tidak berbeda signifikan (p>0.05) (Lampiran 3). Dari uji lanjut Tukey, diperoleh nilai TOM di stasiun C berbeda signifikan dengan setiap stasiun lainnya, stasiun Al berbeda dengan stasiun A3, Bl, B2 dan C, serta stasiun A2 berbeda dengan stasiun Bl dan C (Lampiran 3). Nilai rata-rata TOM tertinggi dijumpai di stasiun Bl sebesar 92.2500 ppm, sedangkan nilai terendah di stasiun C sebesar 32.7500 ppm.

Hasil analisis TOM ditinjau dari variabilitas musiman menunjukkan bahwa nilainya dari musim Timur menurun sampai musim Peralihan I, kemudian meningkat pada musim barat, dan menurun pada musim Peralihan II. Pada musim Barat, debit air meningkat drastis. Dengan tingginya debit air, air dengan

(12)
(13)

dalam substrat mangrove berperan sebagai sumber keasaman. Dengan kata lain, bila pH sedimen rendah maka pH pada kolom air di kawasan mangrove menjadi rendah sehingga perairan dalam suasana anaerob. Stumm dan Morgan (1981) diacu dalam Manik et al. (1997) melaporkan bahwa dalam kondisi anaerob, penguraian bahan organik oleh bakteri akan lancar untuk membentuk senyawa asam asetat, asam sitrat, asam laktat, asam butirat dan asam sulfida. Jika penguraian intensif terhadap serasah kulit kayu, akar dan serasah daun mangrove akan terbentuk senyawa tannin. Sejalan dengan ini, meningkat dan menurunya kadar TOM diduga disebabkan oleh adanya senyawa tannin di dalam perairan.

Peningkatan kandungan bahan organik di perairan Selat Dompak cenderung diikuti oleh meningkatnya konsentrasi nutrien. Bahan organik memainkan peranan yang sangat penting dalam fungsi ekosistem selain sebagai sumber makanan dan energi bagi organisme bentik, juga berfungsi dalam resiklus nutrien dalam ekosistem. Bahan organik di dalam air secara alami akan mengalami proses dekomposisi oleh bakteri. Hasil dekomposisi adalah bahan-bahan anorganik yang sangat bermanfaat bagi tumbuhan air, baik yang mikro (fitoplankton) maupun yang berukuran makro (lamun dan rumput laut). Proses dekomposisi bahan organik di dalam air sangat membutuhkan keberadaan oksigen terlarut di dalam air. Keberadaan oksigen di dalam air dapat berasal dari difusi oksigen dari udara ke dalam air dan hasil dari proses fotosintesis tumbuhan air dan fitoplankton.

Variabilitas Spasial dan Temporal Parameter Fisika-Kimia Sedimen Fraksi Sedimen

Hasil pengukuran fraksi sedimen di semua lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 4. Penamaan ini berdasarkan pada nilai fraksi-fraksi yang ditemukan pada masing-masing stasiun penelitian menurut segitiga Shepard, yaitu lumpur, lumpur berpasir, dan pasir berkerikil. Fraksi lumpur umumnya terdapat di stasiun-stasiun yang terletak di daerah padang lamun kurang rapat/lebat (stasiun A2) dan padang lamun sangat jarang (stasiun A3) serta stasiun-stasiun yang berada di daerah mangrove (stasiun Bl dan B2). Fraksi lumpur berpasir hanya dijumpai di stasiun padang lamun yang rapat/lebat (stasiun Al). Sementara, fraksi

(14)

pasir berkerikil hanya ditemukan di stasiun C (bare area) yang langsung berhadapan dengan laut terbuka.

Butiran sedimen yang halus terbawa memasuki hamparan padang lamun dan terperangkap untuk tetap berada di sana. Sementara hancuran daun yang gugur, organisme-organisme yang mati serta senyawa organik lainnya juga memberikan kontribusi terhadap kehadiran lumpur melalui proses dekomposisi di lingkungan padang lamun. Lamun akan memodifikasi sedimen di areal yang ditumbuhinya. Lamun dapat memodifikasi sedimen dengan cara menstabilkan ukuran pasir, dan hamparan lamun yang lebat menyebabkan perairan menjadi tenang. Ketika sedimen halus mengendap dan berada di antara akar, sedimen tidak dapat tersuspensi lagi oleh kekuatan arus dan ombak. Daun lamun sendiri pun dapat menangkap sedimen halus melalui kontak, karena daun-daun tersebut diliputi oleh mikroorganisme (Bostrom & Bonsdorff 2000; Moberg & Ronnback 2003).

Fraksi pasir berkerikil yang hanya ditemukan di stasiun C. Tingginya fraksi pasir berkerikil di stasiun ini disebabkan oleh letaknya yang langsung berhadapan dengan laut terbuka. Kondisi demikian menyebabkan hempasan gelombang dan ombak serta arus yang kuat dapat mengubah bentuk, ukuran, komposisi dan penyebaran fraksi sedimen. Nybakken dan Bertness (2005) menyatakan bahwa pengangkutan sedimen dapat mengubah bentuk, ukuran, komposisi dan juga penyebaranya. Ini berarti gerakan ombak menyebabkan terjadinya pergerakan partikel-partikel sedimen terangkut, teraduk dan kemudian terdeposit kembali. Butiran sedimen itu akan selalu berpindah-pindah dan jauhnya setiap butiran terbawa arus bergantung pada kecepatan pengendapan, arus dan turbulensi. Partikel berukuran besar mengendap dengan cepat di sekitar pantai, sedangkan partikel yang halus terbawa jauh oleh arus.

Jenis sedimen di lokasi penelitian sangat penting diketahui, karena merupakan salah satu faktor pembatas penyebaran meiofauna. Jenis sedimen ini erat kaitannya dengan konsentrasi oksigen dan ketersediaan bahan organik dalam sedimen. Pada sedimen berbutiran kasar (berpasir), konsentrasi oksigen relatif lebih besar dibandingkan dengan sedimen berbutiran yang lebih halus (berlumpur). Hal ini disebabkan oleh sedimen berbutiran kasar terdapat pori udara yang memungkinkan terjadinya percampuran yang lebih intensif dengan air di

(15)
(16)

komposisi ukuran partikel sedimen (Erftemeijer 1993; Erftemeijer & Middelburg 1993). Ortofosfat yang terikat pada sedimen berbutiran halus lebih tinggi daripada sedimen berbutiran kasar. Hal ini disebabkan oleh permukaan sedimen berbutiran halus lebih luas sehingga lebih mudah mengikat nutrien. Nutrien yang terikat pada sedimen ini merupakan proses penting yang mempengaruhi keseluruhan produktivitas ekosistem perairan.

Hasil analisis varians (Anova) menunjukkan bahwa secara spasial konsentrasi NOs-N dan PCVP sedimen ternyata tidak berbeda signifikan (p>0.05), sementara nilainya berbeda signifikan (p<0.05) secara temporal (Lampiran 6). Dari uji lanjut Tukey, diperoleh nilai rata-rata konsentrasi NOs-N sedimen pada musim Timur dan Peralihan I berbeda signifikan dengan musim Barat dan Peralihan II (Lampiran 6). Nilai rata-rata konsentrasi NOs-N tertinggi dijumpai pada musim Peralihan II sebesar 0.6650 ppm, sedangkan nilai terendah dihasilkan pada musim Barat sebesar 0.3550 ppm. Sementara itu, dari uji lanjut Tukey diperoleh pula konsentrasi PCVP sedimen pada musim Peralihan II berbeda signifikan dengan setiap musim lainnya (Lampiran 6). Nilai rata-rata konsentrasi PCVP sedimen yang tertinggi dihasilkan pada musim Barat yaitu sebesar 1.8742 ppm, sedangkan konsentrasi terendah dijumpai pada musim Peralihan II sebesar 0.5447 ppm.

Berfluktuasi nilai kedua nutrien ini berkaitan dengan dekomposisi bahan organik dalam sedimen, dan proses ini merupakan sumber utama nutrien di padang lamun. Umumnya sedimen yang ditumbuhi lamun bahan organiknya lebih tinggi daripada yang tidak ditumbuhi lamun. Hal ini disebabkan oleh keberadaan tumbuhan lamun dapat menyediakan bahan organik secara kontinyu dalam sedimen (Hines 1991). Selain itu, perbedaan tipe sedimen cenderung mengakibatkan perbedaan konsentrasi nitrat NOs-N dan PO4-P dalam sedimen, dan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (Erftemeijer 1993; Erftemeijer & Middelburg 1993). Mereka menemukan bahwa pada tipe sedimen yang berbeda, konsentrasi nutrien N dan P sedimen juga berbeda.

Komposisi dasar perairan penting artinya bagi perairan di atasnya. Salah satu proses yang terpenting ialah hubungan antara oksigen dan besi (Fe) dalam air. Apabila konsentrasi oksigen tinggi, maka akan terjadi ferrifosfat yang tidak larut

(17)

yang dapat mengendap di dasar perairan, akibatnya di kolom air bagian atas miskin akan fosfat yang tentunya akan mempengaruhi produktivitas perairan. Ferrifosfat yang tidak larut dalam air dapat diubah menjadi ferrofosfat yang larut dalam air. Hal ini dapat terjadi bila konsentrasi oksigen berkurang dalam air. Kekurangan akan oksigen ini, akan terjadi reduksi ferrifosfat menjadi ferrofosfat, sehingga kembali tersedia ion fosfat dalam air yang dapat digunakan dalam proses produksi primer. Jadi, dasar perairan dapat menjadi perangkap bagi fosfat yang terdapat dalam kolom air di atasnya.

Dari hasil penelitian juga diperoleh bahwa konsentrasi nutrien dalam air interstisial lebih tinggi dibandingkan dengan air di atasnya. Hal ini disebabkan oleh: 1) adanya ikatan kompleks elemen dengan bahan organik (ligand) dalam sedimen; 2) adanya proses mineralisasi deposit; 3) adanya aktivitas bakteri dan meiofauna dalam merombak atau menghancurkan (dekomposisi/degradasi) bahan organik; dan 4) adanya proses oksidasi-reduksi dalam sedimen. Beberapa keterangan menunjukkan bahwa regenerasi fosfat bentik mempengaruhi konsentrasi P dalam kolom air. Sedimen anoksik cenderung meningkatkan pelepasan fosfat dari sedimen ke air bagian atasnya. Difusi fosfat ini memberikan sekitar 5% dari total konsentrasi P kolom air (Libes 1992; Valiela 1995).

N-total dan P-total Sedimen

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai N-total dan P-total sedimen di setiap stasiun selama penelitian cukup bervariasi, yaitu masing-masing berkisar antara 0.0230-3.921% dan 0.0237-0.0812% (Lampiran 5 dan Gambar 19). Nilai N-total tertinggi dijumpai di stasiun A2 (3.9210%) pada musim Barat, sedangkan nilai terendah terdapat di stasiun C (0.0230%) pada musim Timur. Nilai P-total sedimen tertinggi terdapat di stasiun Al (0.0812%) pada musim Peralihan II, sedangkan nilai terendah di stasiun C (0.0237%) pada musim Peralihan I.

Berdasarkan pada hasil analisis varians (Anova), diperoleh konsentrasi N-total sedimen berbeda signifikan secara spasial (p<0.05), sedangkan secara temporal konsentrasinya tidak berbeda signifikan (p>0.05). Sementara itu, konsentrasi P-total sedimen secara spasial tidak berbeda signifikan (p>0.05), namun secara temporal konsentrasinya berbeda signifikan (p<0.05) (Lampiran 6).

(18)
(19)
(20)

nilai TOC pada musim Peralihan I berbeda dengan musim Timur dan Peralihan II, sementara di stasiun B2 nilainya pada Peralihan I berbeda dengan musim Barat dan Peralihan II. Jika dilihat dari hasil uji analisis varians antar kedalaman sedimen (Lampiran 9), ternyata hanya di stasiun Bl yang tidak berbeda signifikan (p>0.05). Ini berarti nilai TOC dianggap sama di semua kedalaman sedimen di stasiun Bl. Sementara, di stasiun Al, A2, A3, B2 dan C menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0.05) antar kedalaman sedimen. Hasil uji lanjut Tukey nilai TOC antar kedalaman sedimen di setiap stasiun dapat dilihat pada Lampiran 9.

Dari hasil analisis varians (Anova) di setiap kedalaman sedimen, diperoleh nilai rata-rata TOC yang berbeda signifikan (p<0.05) antar stasiun terdapat di kedalaman 0-5 cm, 5-10, 10-15 cm, 15-20 cm dan 20-25 cm, namun nilainya tidak berbeda signifikan (p>0.05) di kedalaman 25-30 cm. Sementara, nilai rata-rata TOC yang berbeda signifikan (p<0.05) antar musim hanya dijumpai di kedalaman 15-20 cm dan 25-30 cm (Lampiran 10). Hasil uji lanjut Tukey nilai TOC antar stasiun dan antar musim di setiap kedalaman sedimen dapat dilihat pada Lampiran 10.

Bervariasinya nilai TOC sedimen di perairan Selat Dompak tampaknya berkaitan dengan fraksi sedimen. Kadar karbon dan nutrien sedimen meningkat dengan penurunan ukuran butir sedimen karena adsorbsi bahan organik di atas permukaan mineral dan mempunyai daya ikat (afmitas) yang tinggi pada sedimen halus. Proses adsorpsi membantu mempertahankan bahan organik dan berkorelasi positif dengan lumpur. Hedges dan Keil (1995) menyatakan bahwa akumulasi bahan organik di perairan pantai dikontrol oleh sejumlah besar proses yang berpengaruh atas transpor dan deposisi sedimen halus. Bahan organik ditransportasikan dari daratan melalui run-off 'ke laut dapat memberikan kontribusi karbon dalam sedimen, misalnya lignin yang berasal dari tumbuhan mangrove. Bahan organik yang masuk ke laut melalui sistem sungai, dapat berbentuk partikulat (POC) maupun terlarut (DOC). Karbon organik dapat berasal dari tumbuhan atau biota perairan, baik yang hidup maupun mati dan menjadi detritus, kemudian mengendap di sedimen.

Perubahan karbon sedimen dan konsentrasi nutrien dalam sedimen disebabkan oleh faktor-faktor berikut: Pertama, peningkatan laju produksi bahan

(21)

organik dalam ekosistem karena bahan organik partikel disuplai ke sedimen yang menyebabkan pemasukan nutrien yang berlebihan (Nixon 1995). Kedua,

mineralisasi (perombakan bahan organik) menurunkan konsentrasi karbon dan nutrien sedimen. Nutrien terlarut dilepaskan dari sedimen ke kolom air. Karbon dilepaskan sebagai gas COi dan sebagai DOC. Laju meneralisasi lebih cepat ketika oksigen terlarut berada di bawah kondisi anaerob. Nilai pH yang rendah dapat juga menurunkan laju mineralisasi dan memperbesar akumulasi bahan organik (Kristensen et al. 1995). Ketiga, laju sedimentasi yang tinggi dapat mengurangi kontak antara bahan organik dan oksigen terlarut dalam kolom air, dan oleh karena itu dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap konsentrasi karbon dan nutrien dalam sedimen (Harnett et al. 1998). Keempat,

adanya mekanisme penyangga fosfat, yaitu total fosfat yang dipertukarkan antara sedimen dan air untuk mempertahankan konsentrasi P kolom air (Erftemeijer & Middelburg 1993). Kelima, reduksi sulfat meningkatkan pelepasan P dari sedimen karena beberapa besi oksihidroksida yang berikatan dengan fosfat dikonversi menjadi besi sulfida yang tidak berikatan dengan P (Roden & Edmunds 1997).

Keenam, permukaan sedimen dapat menghasilkan peningkatan P jika P dilepaskan

oleh reduksi sulfat pada kedalaman sedimen dan kemudian dijebak oleh besi oksihidroksida dalam lapisan permukaan sedimen yang beroksigen (Roden & Edmunds 1997). Ketujuh, peningkatan transpor sedimen yang disebabkan oleh erosi dapat melemahkan konsentrasi total nitrogen dan TOC dalam sedimen karena unsur-unsur pokok anorganik (mineral dan lempung) dapat mencairkan konsentrasi bahan organik. Erosi dapat meningkatkan konsentrasi total fosfat dalam sedimen karena P melekat pada permukaan mineral (Koster & Meyer-Reil 2001). Kedelapan, konsentrasi karbon dan nutrien sedimen meningkat dengan penurunan ukuran butiran karena adsorbsi bahan organik di atas permukaan mineral dan mempunyai daya ikat (afmitas) yang tinggi pada sedimen halus (Hedges & Keil 1995). Kesembilan, penurunan aliran air payau dapat mengubah jumlah bahan organik yang masuk ke perairan pantai yang dapat mengubah laju akumulasi bahan organik tersebut ke dalam sedimen (Koster & Meyer-Reil 2001).

(22)
(23)

stasiun Bl dan C pada musim Timur. Pada musim Peralihan I dan Barat, nilai rata-rata TOM di stasiun C berbeda signifikan dengan setiap stasiun lainnya, dan stasiun Al berbeda dengan stasiun A2, A3, Bl dan C. Sementara, pada musim Peralihan II, stasiun Al berbeda signifikan dengan setiap stasiun lainnya, stasiun C juga berbeda signifikan dengan setiap stasiun lainnya, stasiun Bl berbeda dengan stasiun Al, A2, B2 dan C. Nilai rata-rata TOM tertinggi pada setiap musim terdapat di stasiun Al, sedangkan terendah dijumpai di stasiun C.

Berdasarkan pada hasil analisis varians nilai TOM antar musim di setiap stasiun (Lampiran 12), ternyata nilainya yang berbeda sinifikan (p<0.05) hanya dijumpai di stasiun A2, sedangkan di stasiun lainnya tidak berbeda signifikan (p>0.05) antar musim. Hasil uji lanjut Tukey antar musim di stasiun A2 menunjukkan bahwa nilai TOM pada musim Timur berbeda signifikan dengan musim Barat (Lampiran 12). Nilai rata-rata TOM tertinggi dijumpai pada musim Timur, sedangkan nilai terendah terdapat pada musim Barat. Sementara itu, hasil uji analisis varians nilai TOM antar kedalaman sedimen di setiap stasiun (Lampiran 12) menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0.05). Ini berarti bahwa nilai TOM mempunyai sebaran yang tidak merata secara vertikal di setiap stasiun. Hasil uji lanjut Tukey antar nilai TOM kedalaman sedimen di setiap stasiun dapat dilihat pada Lampiran 12.

Dari hasil analisis varians (Anova) nilai TOM antar stasiun di setiap kedalaman sedimen, ternyata yang tidak berbeda signifikan (p>0.05) hanya terdapat di kedalaman 0-5 cm, sedangkan nilainya di setiap kedalaman sedimen yang lainnya berbeda signifikan (p<0.05). Sementara, nilai rata-rata TOM antar musim di setiap kedalaman sedimen tidak berbeda signifikan (p>0.05). Hasil uji lanjut Tukey nilai TOM antar stasiun di setiap kedalaman sedimen dapat dilihat pada Lampiran 13.

Bervariasinya nilai TOM sedimen antar stasiun di lokasi penelitian selain berkaitan dengan tipe sedimen dan kondisi lingkungannya, juga berhubungan dengan sumbernya. Keberadaan nilai TOM yang cukup tinggi di stasiun Al, A2, A3, Bl dan B2 disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang berperan sebagai pensuplai bahan organik dalam jumlah besar di areal ini. Sumber utama bahan organik sedimen di ekosistem padang lamun (stasiun Al, A2 dan A3) adalah

(24)

jaringan tumbuhan lamun, baik yang berupa serasah maupun sisa-sisa tumbuhan lamun, yang setiap tahunnya dapat tersedia dalam jumlah besar, serta adanya suplai bahan organik dari sungai dan ekosistem mangrove di sekitarnya. Batang dan akar tumbuhan lamun akan terombak oleh meiofauna dan jasad renik, yang akhirnya akan menjadi komponen sedimen. Dengan demikian, jaringan tumbuhan lamun itu merupakan makanan bagi meiofauna dan jasad renik sedimen. Sementara, hewan pemakan tumbuhan lamun, kotorannya ataupun hewan yang telah mati akan mengalami proses perombakan (dekomposisi) yang sama seperti di atas, yang pada akhirnya menjadi bahan organik sedimen pula.

Di samping itu, kondisi hidrologi perairan (seperti arus) merupakan pendukung keberadaan TOM di lingkungan tersebut. Arus akan membawa bahan-bahan organik dari lingkungan mangrove di sekitar perairan. Kawasan hutan mangrove mampu menghasilkan bahan organik yang besar sumbangannya terhadap produktivitas perairan pantai, karena partikel yang ada dalam air berasal dari pohon-pohon mangrove terutama dari daun dan ranting yang jatuh. Pada lingkungan yang tidak terganggu, aliran nutrien dari kawasan mangrove akan meningkatkan produktivitas ekosistem padang lamun yang selanjutnya berfungsi sebagai produktivitas primer. Bahan organik yang berasal dari lingkungan mangrove tersebut akan disebarkan oleh arus ke perairan sekitarnya (padang lamun) dan terkurung atau terperangkap di lingkungan padang lamun. Dengan melemahnya arus, bahan organik tersebut akan terendapkan dan menyatu dengan sedimen oleh cengkraman akar lamun yang saling mengikat.

Sementara, rendahnya nilai TOM sedimen di stasiun C disebabkan oleh tidak adanya faktor-faktor yang berperan sebagai pensuplai bahan organik dalam jumlah besar ke lokasi ini, seperti sungai, padang lamun, dan hutan mangrove. Pengaruh arus yang kuat dan kondisi sedimen dengan butiran fraksi yang kasar menyebabkan bahan organik sulit untuk terakumulasi di sedimen. Nybakken dan Bertness (2005) menyatakan bahwa sedimen berpasir umumnya mempunyai kandungan bahan organik lebih sedikit dibandingkan dengan sedimen berlumpur. Namun, keberadaannya dalam sedimen berpasir dapat berasal dari pengendapan organisme yang mati dan sisa-sisa berbagai organisme dan plankton yang tersuspensi dalam kolom air dan terbawa pada waktu terjadi arus pasang dan

(25)

gelombang. Peningkatan kandungan bahan organik di lingkungan tersebut sulit terjadi, tetapi keberadaannya di dalam sedimen cenderung stabil.

Kandungan bahan organik sedimen mempunyai berperanan penting terhadap sifat fisik-kimiawi sedimen, antara lain mempengaruhi kemantapan agregat sedimen, penyedia nutrien dan komponen pembentuk tubuh jasad dalam sedimen. Bahan organik juga mempengaruhi sifat-sifat mekanikal sedimen. Sebagian besar pengaruhnya adalah meningkatkan kohesi antara partikel-partikel sehingga resuspensi dibatasi. Zabel dan Hensen (2006) mengatakan bahwa akumulasi dan laju penenggelaman bahan organik ke dalam sedimen, dapat mempengaruhi komposisi kimia sedimen dan berperan penting dalam siklus nutrien.

Bahan organik yang tersedimentasi merupakan sumber makanan bagi meiofauna, jasad renik dan organisme bentos lainnya. Libes (1992) mengatakan bahwa organisme-organisme ini juga mengubah karakteristik fisika, kimia dan geologi sedimen. Sebagai contoh, organisme pemakan deposit (Deposit feeders)

mengubah distribusi ukuran partikel. Tipe bioturbasi (gangguan biologis) ini menyebabkan gradien kimia yang homogen dan meningkatkan suplai oksigen ke dalam sedimen. Organisme lain, seperti organisme penggali dan pembuat tabung menyebabkan heterogennya kimia sedimen. Adanya aktivitas penggalian sedimen oleh makrofauna dapat mengalirkan oksigen ke dalam lapisan sedimen, sehingga sedimen dalam kondisi beroksigen. Dengan demikian, hal ini dapat membantu meiofauna dan mikroorganisme dalam proses perombakan bahan organik yang terdeposit pada sedimen. Selain itu, keberadaan makrofauna pada sedimen dapat mempengaruhi laju penghancuran atau perombakan bahan organik dan detritus yang terdeposit pada permukaan sedimen (Kristensen & Mikkelsen 2003).

Di samping faktor yang disebutkan di atas, keberadaan oksigen di dalam sedimen juga dapat berasal dari proses pertukaran nutrien dan oksigen dari air ke sedimen yang melibatkan interaksi dua proses biologi dan kimia dalam metabolisme komunitas bentik. Pertukaran material dari sedimen-air

(sediment-water exchange) atau sebaliknya merupakan komponen integral dari siklus nutrien

dan oksigen terlarut dalam badan air di perairan dangkal. Pengaliran ini menggambarkan interaksi kedua proses biologi dan kimia yang dapat dijadikan sebagai indikator metabolisme komunitas bentik (Dailey 2006).

(26)

Konsentrasi oksigen dalam sedimen akan sangat berpengaruh baik terhadap kegiatan jasad renik dan meiofauna maupun terhadap keadaan bahan organik dalam sedimen. Dalam hal ini, penurunan konsentrasi oksigen dalam sedimen akan mengurangi kegiatan jasad renik dan meiofauna, sehingga penguraian bahan organik tidak berlangsung dengan baik. Pelapukan yang berlangsung hanya akan membebaskan asam-asam organik, karbondioksida, gas hidrogen, metana, senyawa sulfida dan senyawa-senyawa lainnya. Oleh sebab itu, oksigen yang cukup sangat diperlukan dalam proses penguraian bahan organik tersebut.

Faktor utama yang mengontrol keberadaan oksigen dan siklus biogeokimia oksigen di dalam sedimen adalah suplai bahan organik ke dalam sedimen. Pengambilan oksigen maksimum di sedimen terjadi selama musim panas ketika suplai bahan organik dari kolom air cukup besar. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan tingginya kandungan bahan organik dalam sedimen sehingga terjadi penurunan oksigen yang nyata (Libes 1992). Meiofauna dan jasad renik yang kurang aktif hanya akan memperbesar penumpukan bahan organik sehingga unsur hara tertentu menjadi tidak tersedia bagi pertumbuhan tumbuhan lamun. Dengan demikian, jelaslah bahwa oksigen bereranan penting dalam pelapukan bahan-bahan organik dalam sedimen.

Pada sedimen yang bertekstur halus, kegiatan meiofauna dan jasad renik dalam proses perombakan bahan organik akan mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan oleh sedimen yang bertekstur demikian berkemampuan menimbun bahan-bahan organik yang lebih tinggi yang kemudian terjerap pada kisi-kisi mineral sedimen. Dalam keadaan terjerap pada kisi-kisi mineral sedimen tersebut, meiofauna dan jasad renik akan sulit merombaknya.

Derajat Keasaman (pH) Sedimen

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai pH sedimen berkisar 6.4-7.9 (Lampiran 7). Nilai pH sedimen di lokasi penelitian menunjukkan nilai yang cukup beragam atau bervariasi secara spasial dan temporal (Gambar 22). Nilai pH sedimen menurun dengan bertambahnya kedalaman sedimen. Nilai pH ini sangat bergantung pada nilai Eh sedimen (Golterman 1990).

(27)
(28)

Nilai pH sedimen antar musim di setiap stasiun berdasarkan pada uji analisis varians menunjukkan nilai yang berbeda signifikan (p<0.05) (Lampiran 15). Dari uji lanjut Tukey (Lampiran 15), diperoleh nilai rata-rata pH di stasiun Al pada musim Barat berbeda signifikan dengan setiap musim lainnya, dan musim Timur berbeda dengan musim Peralihan I. Di stasiun A2, nilai rata-rata pH pada musim Timur dan Peralihan II berbeda signifikan dengan musim Peralihan I dan Barat. Di stasiun A3, nilai rata-rata pH pada musim Peralihan II berbeda signifikan dengan setiap musim lainnya, dan musim Timur berbeda dengan musim Barat. Di stasiun Bl, nilai rata-rata pH pada musim Peralihan II berbeda signifikan dengan setiap musim lainnya, dan musim Peralihan I berbeda dengan musim Barat. Di stasiun B2, nilai rata-rata pH pada musim Peralihan I dan Peralihan II berbeda signifikan dengan setiap musim lainnya. Di stasiun C, nilai rata-rata pH pada musim Barat berbeda signifikan dengan musim Peralihan I dan Peralihan II. Nilai rata-rata pH tertinggi di stasiun Al dijumpai pada musim Timur dan terendah musim Barat, sedangkan di stasiun A2, A3, Bl, B2 dan C, nilai tertinggi terdapat pada musim Peralihan II dan terendah pada musim Barat.

Sementara itu, dari hasil uji analisis varians nilai pH antar kedalaman sedimen di setiap stasiun (Lampiran 15), ternyata nilai pH yang berbeda signifikan (p<0.05) antar kedalaman sedimen hanya dijumpai di stasiun C, sedangkan di stasiun lainnya sebaran nilai pH tidak berbeda signifikan (p>0.05) antar kedalaman sedimen. Hasil uji lanjut Tukey antar kedalaman sedimen di stasiun C menunjukkan bahwa nilai pH yang berbeda signifikan hanya di kedalaman 0-5 cm dengan kedalaman 25-30 cm saja (Lampiran 15).

Dari hasil analisis varians (Anova) nilai pH di setiap kedalaman sedimen ternyata tidak berbeda signifikan (p>0.05) antar stasiun, namun nilainya berbeda signifikan antar musim (p<0.05) (Lampiran 16). Sehubungan dengan adanya perbedaan nilai pH yang signifikan antar musim di setiap kedalaman sedimen, maka hasil uji lanjut Tukey (Lampiran 16) menunjukkan bahwa di kedalaman 0-5 cm, nilainya pada musim Peralihan II berbeda dengan musim Peralihan I dan Barat. Di kedalaman 5-10 cm, nilai pH pada musim Barat berbeda dengan musim Timur dan Peralihan II, musim Peralihan I berbeda dengan musim Peralihan II, dan musim Timur berbeda dengan musim Barat. Di kedalaman 10-15 cm, 20-25

(29)

cm dan 25-30 cm, nilai pH pada musim pada musim Barat berbeda dengan musim Peralihan II. Di kedalaman 15-20 cm, nilai pH pada musim Barat berbeda dengan musim Timur dan Peralihan II. Nilai rata-rata pH tertinggi di semua kedalaman sedimen diperoleh pada musim Peralihan II dan nilai terendah pada musim Barat.

Peningkatan bahan organik ke arah bawah diikuti oleh penurunan pH sedimen. Peningkatan kadar bahan organik dapat menurunkan pH, atau justru sebaliknya dapat meningkatkan pH. Pada kejadian pertama bahan organik membawa senyawa-senyawa asam, sedangkan pada kejadian kedua bahan organik memperkuat daya sangga sedimen. Bahan organik dalam sedimen mangrove juga berperanan sebagai sumber kemasaman sedimen. Dalam suasana anaerob bahan organik mengalami proses perombakan yang kurang sempurna sehingga menghasilkan asam-asam organik, seperti asam asetat dan butirat yang beracun.

Nilai pH yang terlalu rendah dapat menghambat kelancaran perombakan bahan organik, sehingga terjadi pelonggokan bahan organik. Sebaliknya, perombakan bahan organik menjadi lancar jika pH cukup tinggi. Hal ini sangat berkenaan dengan pengaruh pH terhadap aktivitas mikroorganisme dalam merombak bahan organik. Nilai pH sedimen yang tinggi mempunyai kadar bahan organik kurang lebih seragam sepanjang profil sedimen, meskipun distribusi vertikal pH tidak seragam.

Nilai pH sedimen yang rendah dapat menurunkan daya sangga dan daya simpan hara di sedimen, sehingga dapat berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara dalam sedimen. Selain itu, ketersediaan ion Al, Fe, Mn dan Bo di dalam sedimen akan meningkat di mana organisme yang hidup dalam sedimen akan mengalami keracunan.

Potensial Redoks (Eh) Sedimen

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai Eh sedimen berkisar -389 hingga -51 mV (Lampiran 7). Nilai Eh sedimen di lokasi penelitian berfluktuasi atau bervariasi secara spasial dan temporal (Gambar 23). Nilai rata-rata sedimen tertinggi terdapat di stasiun Al (-101 mV) pada musim Peralihan II, sedangkan nilai rata-rata Eh terendah dijumpai di stasiun A3 (-359 mV) pada musim Barat. Nilai sedimen menurun dengan bertambahnya kedalaman sedimen.

(30)

Muslm Timur Eh (mVolt) Musim Peralihan I Eh (mVolt) Musim Barat £h (mVolt) Musim Peralihan II Eh (mVolt) "/•> C** 7 7 7 7 7 t "

¥

5

-

10

.

I 10-15 VI | 15-20 ^ 20-25 u W 25-30 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 25-30 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 25-30 0-5 5-10 10-15 15-20 20-25 25-30 • Stasiun Al A2 A3 Bl B2

Gambar 23. Variasi Eh sedimen secara spasial dan temporal serta profil vertikalnya di perairan Selat Dompak (Al = padang lamun rapat/lebat; A2 = padang lamun kurang rapat/lebat; A3 = padang lamun sangat jarang; Bl = mangrove Rhizophora sp.; B2 = mangrove Sonneratia sp.; C = bare area).

Berdasarkan pada hasil analisis varians (Anova) nilai Eh sedimen antar stasiun pada setiap musim (Lampiran 11), diperoleh perbedaan yang signifikan (p<0.05) pada musim Timur, Barat dan Peralihan II, sedangkan pada musim Peralihan I nilainya tidak berbeda signifikan (p>0.05). Dari uji lanjut Tukey (Lampiran 11), diperoleh nilai rata-rata Eh pada musim Timur di stasiun Al dan A2 berbeda signifikan dengan stasiun A3, Bl, B2 dan C. Nilai rata-rata Eh

sedimen tertinggi pada musim ini terdapat di stasiun Al dan terendah di stasiun Bl dan B2. Pada musim Barat, nilai Eh di stasiun Al berbeda signifikan dengan setiap stasiun lainnya. Nilai rata-rata Eh sedimen tertinggi pada musim ini terdapat di stasiun Al dan terendah di stasiun A3. Pada musim Peralihan II, nilai

Eh di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun Bl dan B2. Nilai rata-rata Eh

sedimen tertinggi pada musim ini terdapat di stasiun Al dan terendah di stasiun Bl.

Nilai Eh antar kedalaman sedimen pada setiap musim yang berbeda signifikan (p<0.05) diperoleh pada musim Peralihan I, Barat dan Peralihan II

(31)

(p>0.05) atau dianggap sama antar kedalaman sedimen. Hasil uji lanjut Tukey nilai Eh antar kedalaman sedimen pada musim Peralihan I dan Peralihan II dapat dilihat pada Lampiran 11.

(32)

Hasil uji analisis varians nilai Eh sedimen antar musim di setiap stasiun (Al, A2, A3, Bl, B2 dan C) menunjukkan nilai yang berbeda signifikan (p<0.05) (Lampiran 18). Dari uji lanjut Tukey (Lampiran 18), diperoleh nilai rata-rata Eh

sedimen di stasiun Al dan A2 pada musim Timur dan Peralihan II berbeda signifikan dengan musim Peralihan I dan Barat. Di stasiun A3, Bl, B2 dan C, nilai rata-rata Eh pada musim Barat berbeda signifikan dengan musim Peralihan II. Nilai rata-rata Eh sedimen tertinggi di stasiun Al, A3, Bl, B2 dan C dijumpai pada musim Peralihan II dan nilai terendah terdapat pada musim Barat. Sementara, nilai rata-rata Eh sedimen di stasiun A2 tertinggi pada musim Timur dan nilai terendah pada musim Barat.

Hasil uji analisis varians nilai Eh antar kedalaman sedimen di setiap stasiun (Lampiran 18) menunjukkan bahwa nilai Eh di stasiun A3, Bl, B2 dan C memiliki perbedaan yang sinifikan (p<0.05) antar kedalaman sedimen, sedangkan di stasiun Al dan A2 nilainya tidak berbeda signifikan (p>0.05). Dari uji lanjut Tukey (Lampiran 18), diperoleh hasil bahwa di stasiun A3, Bl, B2 dan C nilai rata-rata Eh sedimen di kedalaman 0-5 cm berbeda signifikan dengan kedalaman 25-30 cm. Nilai rata-rata Eh tertinggi dijumpai di kedalaman 0-5 cm dan nilai terendah terdapat di kedalaman 25-30 cm.

Dari uji analisis varians (Anova) nilai Eh antar stasiun di setiap kedalaman sedimen (Lampiran 19), diperoleh hasil nilai Eh di kedalaman 0-5 cm, 5-10 cm dan 10-15 cm tidak berbeda signifikan (p>0.05) antar stasiun, sedangkan di kedalaman sedimen lainnya berbeda signifikan (p<0.05). Dari uji lanjut Tukey (Lampiran 19), di kedalaman 15-20 cm, nilai Eh sedimen di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun A3 dan B2. Nilai rata-rata Eh tertinggi terdapat di stasiun Al dan nilai terendah di stasiun A3. Di kedalaman 20-25 cm, nilai Eh

sedimen di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun A3, Bl dan B2. Nilai rata-rata Eh tertinggi terdapat di stasiun Al dan nilai terendah di stasiun Bl. Di kedalaman 25-30 cm, nilai Eh sedimen di stasiun Al berbeda signifikan dengan stasiun A3, Bl, B2 dan C. Nilai rata-rata Eh tertinggi terdapat di stasiun Al dan nilai terendah di stasiun A3.

Jika dilihat dari nilai Eh antar musim di setiap kedalaman sedimen, maka nilai Eh di kedalaman 0-5 cm, 5-10 cm dan 10-15 cm berbeda signifikan

(33)

(p<0.05) antar musim (Lampiran 19), sedangkan di kedalaman sedimen lainnya tidak berbeda signifikan (p>0.05). Hasil uji lanjut Tukey nilai Eh sedimen antar musim di setiap kedalaman sedimen (Lampiran 19) menunjukkan bahwa di kedalaman 0-5 cm, 5-10 cm dan 10-15 cm, nilai Eh sedimen pada musim Peralihan II berbeda signifikan dengan musim Barat. Nilai rata-rata Eh tertinggi di semua kedalaman sedimen diperoleh pada musim Peralihan II dan nilai terendah pada musim Barat.

Distribusi Eh sedimen dapat digunakan sebagai ciri dari suatu habitat dasar (bentik), terutama dalam hubungannya dengan bahan organik dan oksigen dalam sedimen. Nilai Eh sedimen dapat menunjukkan kualitas sedimen bagi kehidupan organisme bentik, termasuk meiofauna. Banyaknya bahan organik, jumlah bakteri dalam sedimen dan kurangnya sirkulasi air menyebabkan kadar oksigen dalam sedimen menurun (Golterman 1990; Libes 1992; Kester 2001; Barnes & Hughes 2004). Biasanya, nilai Eh sedimen dapat dipakai untuk menilai adanya oksigen di dalam sedimen (Golterman 1990; Libes 1992; Giere 1993; Kester 2001; Barnes & Hughes 2004). Nilai Eh sedimen yang tinggi pada suatu saat tertentu tidak selalu bersifat oksik pada saat itu. Nilai Eh itu hanyalah merupakan gambaran adanya senyawa kimia teroksidasi, yang mana proses oksidasinya sendiri kemungkinan sudah berlangsung lama. Dengan demikian, sedimen yang teroksidasi tidak selalu harus bersifat oksik, karena pengertian oksik sama dengan aerob yaitu adanya oksigen bebas atau oksigen terlarut di dalam ruang-ruang interstisial.

Komposisi dan Kelimpahan Taksa Meiofauna Interstisial di Seluruh Lokasi Penelitian

Berdasarkan pada data Lampiran 20, 21, 22 dan 23, maka tampak bahwa komunitas meiofauna interstisial di seluruh lokasi penelitian dalam kawasan perairan Selat Dompak Kepulauan Riau terdiri atas 19 kelompok taksa meiofauna. Jumlah genus dan jumlah individu meiofauna interstisial yang dijumpai adalah sebagai berikut: 1) pada musim Timur sebanyak 167 genus dengan kelimpahan individu meiofauna interstisial sebesar 976 individu yang berasal dari 19 taksa meiofauna interstisial; 2) pada musim Peralihan I sebanyak 146 genus dengan kelimpahan meiofauna sebesar 883 individu yang berasal dari 19 taksa meiofauna

(34)

interstisial; 3) pada musim Barat sebanyak 110 genus dengan kelimpahan meiofauna interstisial sebesar 465 individu yang berasal dari 15 taksa meiofauna interstisial; dan 4) pada musim Peralihan II sebanyak 132 genus dengan kelimpahan meiofauna interstisial sebesar 637 individu yang berasal dari 17 taksa meiofauna interstisial (Tabel 4).

Tabel 4. Komposisi genus dan kelimpahan masing-masing taksa meiofauna interstisial di seluruh lokasi penelitian pada setiap musim.

Musim Timur Musim Peralihan I Musim Barat Musim Peralihan n Jumlah Genus Kelimpahan Individu Jumlah Genus Kelimpahan Individu Jumlah Genus Kelimpahan Individu Jumlah Genus Kelimpahan Individu Taksa Meiofauna E G (%) E N (%) E G (%) EN (%) E G (%) EN (%) EG (%) EN (%) Nematoda 39 23.35 322 32.99 32 21.92 309 34.99 25 22.73 151 32.47 29 21.97 208 32.65 Copepoda 32 19.16 170 17.42 29 19.86 150 16.99 22 20.00 74 15.91 25 18.94 125 19.62 Polychaeta 29 17.37 116 11.88 25 17.12 116 13.14 20 18.18 70 15.06 22 16.67 87 13.66 Foraminifera 10 5.99 109 11.17 8 5.48 81 9.17 8 7.27 46 9.89 10 7.57 71 11.15 Turbellaria 8 4.79 81 8.30 7 4.80 78 8.83 7 6.36 41 8.82 8 6.06 54 8.48 Lainnya * 49 29.34 178 18.24 45 30.82 149 16.88 28 25.46 83 17.85 38 28.79 92 14.44 Total 167 100 976 100 146 100 883 100 110 100 465 100 132 100 637 100 Keterangan: E G= Jumlah genus meiofauna interstisial

E N= Jumlah individu meiofauna interstisial * = Oligochaeta, Ciliata, Nemertina, Amphipoda, Gastrotricha, Ostracoda, Halacarida, Rotifera, Cladocera, Syncarida, Tanaidacea, Tardigrada, Cnidaria, dan Cumacea

Dari 19 taksa meiofauna interstisial yang ditemukan di perairan Selat Dompak, ada 5 (lima) taksa meiofauna interstisial yang cukup menonjol baik dari segi jumlah genus (Gambar 24) maupun kelimpahan individunya (Gambar 25) pada setiap musim, serta mempunyai sebaran yang luas ditandai dengan kehadirannya pada semua tipe habitat. Hal ini mengindikasikan kesuksesan keberadaan fauna ini di berbagai tipe habitat. Ke lima taksa meiofauna interstisial tersebut adalah Nematoda, Copepoda, Polychaeta, Foraminifera, dan Turbellaria. Ke lima taksa meiofauna interstisial ini disebut dengan kelompok mayor, yaitu kelompok yang dominan dan sebagai kelompok utama penyusun komunitas meiofauna interstisial di berbagai tipe habitat di lokasi penelitian. Dengan kata lain, kelompok mayor ini merupakan sentral atau menjadi penentu karakter dari komunitas meiofauna interstisial di berbagai tipe habitat.

Di seluruh lokasi penelitian, jumlah genus dan jumlah individu meiofauna interstisial yang tertinggi terdapat pada musim Timur, sedangkan yang terendah dijumpai pada musim Barat. Selama penelitian, taksa Nematoda memiliki komposisi genus dan komposisi individu yang tertinggi dibandingkan dengan taksa meiofauna interstisial lainnya, seperti yang tampak pada Gambar 26.

(35)
(36)
(37)

(23.35%) dari 167 genus yang ada dan kelimpahan individu sebanyak 322 individu (32.99%) dari 976 individu yang ada di semua lokasi penelitian (Gambar 24, 25 dan 26). Lebih menonjolnya taksa Nematoda ini disebabkan oleh kesesuaian habitat dan adanya beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Nematoda seperti keunggulan morfologis, keunggulan fisiologis dan keunggulan perilaku.

Terkait dengan kesesuaian habitat, maka tipe habitat yang umumnya sesuai bagi Nematoda adalah habitat lumpur berpasir dan lumpur yang kaya bahan organik. Selain itu, Nematoda juga banyak dijumpai di habitat berpasir, hal ini ditandai dengan cukup melimpahnya jumlah individu yang terdapat di habitat tersebut. Biasanya habitat lumpur berpasir dan lumpur kaya bahan organik tetapi habitat ini kadar oksigennya rendah atau miskin oksigen. Pada habitat yang miskin oksigen, umumnya Nematoda cukup toleran dan dapat beradaptasi dengan baik (Higgins & Thiel 1988; Giere 1993), sedangkan meiofauna interstisial taksa lainnya (seperti Copepoda) kurang dapat bertahan terhadap kondisi tersebut (Kotwicki 2002). Oleh sebab itu, keberadaan Nematoda lebih dominan dibandingkan dengan meiofauna interstisial taksa lainnya. Kesesuaian Nematoda terhadap habitat yang demikian, tampaknya berkaitan dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh taksa ini. Keunggulan-keunggulan-keunggulan tersebut adalah: 1) keunggulan morfologis; 2) keunggulan fisiologis; dan 3) keunggulan perilaku.

Dalam kaitannya dengan keunggulan morfologis, maka meiofauna interstisial taksa Nematoda memiliki tiga keunggulan, yaitu: 1) bentuk tubuhnya yang langsing memanjang dan fleksibel dapat membuat taksa ini dengan mudah bergerak dan menyusup di dalam sedimen atau meliang ke dalam lapisan sedimen serta mampu memanfaatkan ruang-ruang interstisial yang sangat sempit; 2) dinding tubuh Nematoda terbuat dari kutikula yang tebal dan licin sebagai pelindung tubuhnya agar terhindar dari luka goresan dan himpitan sedimen ketika bergerak dan menyusup di dalam sedimen; dan 3) bentuk dan struktur alat-alat mulut Nematoda beragam sesuai dengan jenis makanannya sehingga taksa ini dapat memilih jenis makanannya (Riemann 1988; Higgins & Thiel 1988; Webber & Thurman 1991; Giere 1993; Chen et al. 2004; Nybakken & Bertness 2005).

Berkenaan dengan keunggulan fisiologis, maka keungggulan yang dimiliki oleh meiofauna interstisial taksa Nematoda adalah: 1) memiliki toleransi yang

(38)

tinggi terhadap kondisi habitat yang kadar oksigennya rendah atau miskin oksigen dan tahan terhadap HiS yang tinggi, sehingga taksa ini mampu bertahan dan dapat hidup pada sedimen lumpur yang tereduksi (Heip et al. 1985; Higgins & Thiel 1988; Webber & Thurman 1991; Giere 1993; Coull 1999; Nybakken & Bertness 2005); 2) memiliki keragaman dalam fisiologi pencernaannya sehingga Nematoda dapat beragam dalam hal jenis makanannya; 3) memiliki kemampuan pertumbuhan yang cepat, cepat dewasa dan cepat berbiak, di mana dalam setahun ada sekitar delapan hingga 10 generasi dalam setahun; dan 4) memiliki kemampuan bereproduksi secara hermaprodit dan partenogenesis, serta sifat reproduksinya yang berulang-ulang sehingga dapat meningkatkan populasi Nematoda dengan cepat (Higgins & Thiel 1988; Giere 1993; Chen et al. 2004).

Dalam hubungannya dengan keunggulan perilaku, maka Nematoda memiliki kemampuan untuk bermigrasi secara vertikal dan horizontal karena taksa ini dapat bergerak dan menyusup serta meliang dengan cepat di dalam sedimen, sehingga dapat menghindari predator (Riemann 1988; Higgins & Thiel 1988; Webber & Thurman 1991; Giere 1993; Nybakken & Bertness 2005).

Taksa Copepoda

Copepoda juga merupakan kelompok yang cukup menonjol dalam komunitas meiofauna interstisial di seluruh lokasi penelitian pada setiap musim (Tabel 4). Kelompok meiofauna interstisial ini menempati urutan ke dua terbesar dari kelompok meiofauna interstisial yang ada, baik dari segi jumlah genus maupun kelimpahan individunya (Gambar 24, 25 dan 26). Kelompok Copepoda ini memiliki wakil sebanyak 32 genus (19.16%) dengan kelimpahan individu sebesar 170 individu (17.42%) pada musim Timur, 29 genus (19.86%) dengan kelimpahan individu sebesar 150 individu (16.99%) pada musim Peralihan I, 22 genus (20%) dengan kelimpahan individu sebesar 74 individu (15.91%) pada musim Barat, dan 25 genus (18.94%) dengan kelimpahan individu sebesar 125 individu (19.62%) pada musim Peralihan II. Menonjolnya kelompok Copepoda disebabkan oleh adanya beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Copepoda, yaitu 1) adanya keunggulan morfologis/struktur; 2) adanya keunggulan fisiologis; dan 3) adanya keunggulan perilaku. Dengan adanya keunggulan-keunggulan yang

(39)

dimiliki oleh kelompok Copepoda ini memungkinkannya untuk dapat hidup dan eksis pada berbagai tipe dan kondisi habitat.

Terkait dengan keunggulan morfologis/struktur, maka Copepoda memiliki beberapa keunggulan, yaitu: 1) adanya berbagai bentuk morfologi dan ukuran tubuh sehingga Copepoda memiliki berbagai alternatif dalam hal pemilihan bentuk ruang untuk habitatnya; 2) adanya pelindung tubuh yang efektif berupa karapaks yang membalut tubuhnya sehingga Copepoda lebih aman dari bahaya gesekan dan benturan; 3) adanya tungkai yang bercakar yang digunakan untuk berpegangan dan mencengkram substrat (sedimen dan vegetasi) sehingga Copepoda lebih aman dari bahaya hempasan arus dan gelombang yang kuat; dan 4) adanya struktur antena yang dapat mendeteksi kodisi lingkungan yang kurang menguntungkan (Wells 1988; Giere 1993).

Dalam hubungannya dengan keunggulan fisiologis, maka Copepoda memiliki berbagai keunggulan fisiologis, yaitu: 1) adanya keragaman dalam hal struktur dan fisiologi pencernaan yang membuat Copepoda mampu untuk menerima berbagai jenis bahan makanan, seperti mikroalga (diatom), detritus, bakteri, protozoa, bahan organik dan tubuh meiofauna interstisial lainnya, sehingga Copepoda ada yang bersifat herbivora, carnivora, omnivora, pemakan detritus, pemakan bakteri, pemakan deposit, dan pemakan zat-zat terlarut atau tersuspensi (Giere 1993; Coull 1999; Sandulli & Pinckney 1999; De Troch 2001).; 2) adanya sistem reproduksi yang bersifat progenesis sehingga Copepoda dapat berbiak lebih awal; 3) adanya cara reproduksi yang bersifat iteroporitas sehingga Copepoda dapat dengan cepat meningkatkan populasinya; 4) adanya kemampuan untuk bereproduksi yang cepat sehingga Copepoda dapat mengganti jumlah individu yang hilang; 5) adanya sifat prekoksitas (perkembangan yang cepat) sehingga Copepoda dapat cepat tumbuh, cepat dewasa dan cepat berbiak (masa siklus generasinya pendek); dan 6) adanya kemampuan untuk mengurangi stres terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik melalui mekanisme pergantian kulit (molting) yang juga dapat berfungsi dalam proses pertumbuhan (Wells 1988; Giere 1993; Coull 1999).

Dalam kaitannya dengan keunggulan perilaku, maka Copepoda memiliki keunggulan-keunggulan, seperti: 1) adanya kemampuan berenang yang tinggi

(40)

sehingga Copepoda dapat melakukan migrasi secara vertikal dan horizontal yang lebih luas (Kern 1990; Kurdziel & Bell 1992; Giere 1993; Bostrom & Bonsdorff 2000; Punch et al. 2002); dan 2) adanya kemampuan bergerak dan bereaksi dengan cepat terutama untuk menghindari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (Coull 1988; Olafsson et al. 1990; Rosa & Bemvenuti 2005). Berkenaan dengan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, maka Copepoda terutama famili Thalestridae, Laophontidae dan Diosaccidae dapat beradaptasi dengan baik dan mempunyai preferensi yang kuat terhadap daerah yang mendapat pengaruh arus pasang yang kuat (stasiun C, bare area). Sementara itu, famili Paramesochridae (Apodopsyllus sp. dan Paramesochra sp.) dan famili Canuellidae (Canuella sp.) dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan yang stres dan terkonsentrasi di lapisan sedimen yang lebih dalam. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian De Troch (2001) dan De Troch et al. (2003).

Selain disebabkan oleh adanya berbagai keunggulan yang dimiliki oleh Copepoda, maka menonjolnya kelompok Copepoda ini juga didukung oleh tipe dan kondisi habitatnya. Seperti diketahui bahwa tipe habitat meiofauna interstisial di lokasi penelitian adalah berupa habitat berlumpur, habitat lumpur berpasir dan habitat berpasir. Copepoda dapat berasosiasi dengan semua bentuk substrat dan mampu menerima berbagai tipe dan kondisi habitat yang ada di lokasi ini. Kalau dikaji lebih jauh, maka Copepoda tidak hanya terbatas pada lapisan sedimen yang beroksigen, mereka juga ditemukan pada atau hanya di bawah permukaan lumpur, namun dapat juga ditemukan dalam sedimen berpasir dan berkerikil yang lebih dalam. Di laut, mereka berasosiasi dengan makrofauna epibentik yang menempel dan cukup melimpah pada makrofita (Kotwicki 2002). Sebagian besar Copepoda ada sepanjang tahun, walaupun mereka melimpah, sering menunjukkan fluktuasi musiman yang luas, biasanya berasosiasi dengan puncak aktivitas reproduksinya (Wells 1988; Punch et al. 2002). Oleh sebab itu, dengan adanya kemampuan Copepoda menerima berbagai tipe dan kondisi habitat tersebut memungkinkannya tersebar secara luas dengan kelimpahan yang cukup tinggi sepanjang tahun.

(41)

Taksa Polychaeta

Dalam komunitas meiofauna interstisial di seluruh lokasi penelitian, kelompok Polychaeta merupakan kelompok meiofauna interstisial yang cukup menonjol sepanjang tahun (Tabel 4). Kelompok Polychaeta ini memiliki wakil sebanyak 29 genus (17.37%) dengan kelimpahan individu sebesar 116 individu (11.88%) pada musim Timur, 25 genus (17.12%) dengan kelimpahan individu sebesar 116 individu 13.14%) pada musim Peralihan I, 20 genus (18.18%) dengan kelimpahan individu sebesar 70 individu (15.05%) pada musim Barat, dan 22 genus (16.67%) dengan kelimpahan individu sebesar 87 individu (13.66%) pada musim Peralihan II. Kalau dilihat dari data tersebut, maka kelompok Polychaeta merupakan kelompok yang juga cukup menonjol dan menduduki peringkat ke tiga dalam komunitas meiofauna interstisial, baik dari segi jumlah genus maupun kelimpahan individunya pada setiap musim (Gambar 24, 25 dan 26). Hal ini sesuai dengan Nybakken dan Bertness (2005) yang menyatakan bahwa Polychaeta merupakan anggota meiofauna interstisial yang cukup menonjol dalam komunitasnya di seluruh ekosistem perairan dunia. Giere (1993) melaporkan bahwa kelimpahan Polychaeta biasanya menempati urutan ke empat dalam komunitas meiofauna interstisial.

Menonjolnya kelompok Polychaeta ini dalam komunitas meiofauna interstisial disebabkan oleh beberapa faktor yang ikut mendukung keberadaannya, yaitu: 1) adanya berbagai bentuk tubuh yang memungkinkan Polychaeta untuk berada pada berbagai bentuk dan struktur ruang; 2) adanya sistem pencernaan Polychaeta yang cukup beragam yang ditandai oleh beragamnya jenis makanan yang dapat dimakan, seperti mikroalga, detritus, deposit, bakteri dan protozoa, sehingga Polychaeta dapat digolongkan sebagai meiofauna interstisial yang eurifagik; 3) adanya sifat eurycious yang dimiliki oleh Polychaeta sehingga kelompok meiofauna interstisial ini mampu untuk menerima berbagai tipe dan kondisi habitat; 4) adanya kemampuan untuk dapat bertahan pada kondisi fisik-kimia lingkungan yang sering berfluktuasi di daerah pasang surut sehingga Polychaeta dapat digolongkan sebagai meiofauna yang bersifat eurihalin dan euritermal; dan 5) adanya berbagai sistem reproduksi yang dimiliki oleh

(42)

Polychaeta, seperti parthenogenesis, progenesis dan hermafrodit protandri sehingga Polychaeta dapat berbiak lebih cepat (Westbeide 1988; Giere 1993).

Polychaeta merupakan taksa meiofauna interstisial yang bersifat pemakan deposit (deposit feeder). Keberadaan sedimen berlumpur merupakan habitat yang cocok bagi organisme ini. Nybakken dan Bertness (2005) mengatakan bahwa kelas Polychaeta sebagai organisme penggali dan pemakan deposit cenderung melimpah pada sedimen lumpur lunak, karena merupakan daerah yang banyak mengandung bahan organik. Selanjutnya, Fressi et al. (1994) menyatakan bahwa tekstur sedimen yang semakin halus akan dapat mengurangi evaporasi dan habitat ini cocok untuk hewan yang meliang (infauna) seperti Polychaeta. Beberapa Polychaeta menempati celah-celah sedimen/infauna, yaitu dengan cara menggali sedimen lunak dengan mendorong partikel-partikel sedimen untuk membuat tempat tinggalnya (Westbeide 1988; Punch et al. 2002). Mereka tidak bergantung pada tersedianya ruang yang luas untuk kolonisasi (Punch et al. 2002). Bagi Polychaeta yang menempati partikel sedimen pasir, mereka beradaptasi dengan memiliki organ penghasil bahan perekat dan organ reproduksi yang spesifik (Westbeide 1988). Selain hidup dalam sedimen, Polychaeta juga hidup sebagai sesil, misalnya pada alga dan permukaan terumbu karang (Westbeide 1988) dan makan dengan cara menyaring air (Punch et al. 2002).

Taksa Foraminifera

Foraminifera juga merupakan kelompok yang juga cukup menonjol dalam komunitas meiofauna interstisial di seluruh lokasi penelitian pada setiap musim (Tabel 4). Kelompok meiofauna interstisial ini menduduki peringkat ke empat terbesar dari kelompok meiofauna interstisial yang ada, baik dari segi jumlah genus maupun kelimpahan individunya (Gambar 24, 25 dan 26). Kelompok Foraminifera ini memiliki wakil sebanyak 10 genus (5.99%) dengan kelimpahan individu sebesar 109 individu (11.17%) pada musim Timur, 8 genus (5.47%) dengan kelimpahan individu sebesar 81 individu (9.17%) pada musim Peralihan I, 8 genus (7.27%) dengan kelimpahan individu sebesar 46 individu (9.89%) pada musim Barat, dan 10 genus (7.57%) dengan kelimpahan individu sebesar 71 individu (11.15%) pada musim Peralihan II.

(43)

Keberadaan Foraminifera yang tergolong cukup menonjol ini diperkirakan disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang ikut mendukung. Faktor-faktor yang dimaksud adalah: 1) adanya berbagai bentuk tubuh yang memungkinkan Foraminifera untuk berada pada berbagai bentuk dan struktur ruang; 2) adanya kemampuan untuk menerima berbagai tipe dan kondisi habitat; 3) adanya kemampuan untuk menerima berbagai jenis makanan; dan 4) adanya kemampuan untuk meningkatkan populasinya dengan sistem reproduksi melalui pembelahan sel (Gooday 1988; Higgins & Thiel 1988; Lee & Anderson 1991; Giere 1993; Pringgoprawiro & Kapid 2000).

Terkait dengan bentuk tubuh, maka Foraminifera memiliki berbagai bentuk morfologi dan ukuran tubuh, seperti bentuk anyaman, bentuk pita, bentuk cakram, bentuk kantung dan bentuk cangkang siput. Dengan adanya bentuk tubuh yang sangat bervariasi ini, maka Foraminifera memiliki berbagai alternatif dalam hal pemilihan bentuk ruang untuk habitatnya dan juga memungkinkannya untuk berada pada berbagai bentuk dan struktur ruang yang sempit di dalam sedimen.

Dalam hubungannya dengan kemampuan menerima berbagai tipe dan kondisi habitat, maka hal ini memungkinkan Foraminifera dapat tersebar secara luas. Keberadaan Foraminifera di perairan Selat Dompak dapat dijumpai pada semua tipe habitat mulai dari habitat berlumpur, habitat lumpur berpasir hingga habitat berpasir. Gooday (1988) menyatakan bahwa Foraminifera dapat hidup pada semua lingkungan laut.

Dalam kaitannya dengan kemampuan menerima berbagai jenis makanan, maka makanan Foraminifera tergolong bervariasi. Beberapa jenis makanan yang biasa dimakan oleh Foraminifera adalah mikroalga (diatom), bakteri, protozoa, detritus dan deposit bahan organik yang terjebak di dalam sedimen (Giere 1993). Berkenaan dengan hal tersebut, maka jenis makanan yang tersedia di perairan Selat Dompak diprediksi juga cukup beragam. Dengan beragamnya jenis makanan yang tersedia di dalam habitatnya, maka hal ini tentu dapat mendukung keragaman dan kelimpahan Foraminifera dalam habitatnya.

Umumnya Foraminifera terdapat di sedimen halus. Dalam sebagian besar habitat, Foraminifera merupakan anggota meiofauna interstisial yang penting. Biasanya, kelimpahan Foraminifera sedikit dalam sedimen pasir kasar, hal ini

Gambar

Gambar 11. Variasi kecepatan arus secara spasial dan temporal di perairan Selat  Dompak.
Gambar 12. Variasi TSS secara spasial dan temporal di perairan Selat Dompak.
Gambar 13. Variasi salinitas air laut secara spasial dan temporal di perairan Selat  Dompak.
Gambar  23.  Variasi  Eh  sedimen  secara  spasial  dan  temporal  serta  profil  vertikalnya  di  perairan Selat Dompak (Al = padang lamun rapat/lebat; A2 = padang lamun  kurang  rapat/lebat;  A3  =  padang  lamun  sangat  jarang;  Bl  =  mangrove  Rhizop
+7

Referensi

Dokumen terkait

3.2.5 PENGUJIAN RANGKAIAN PADA TUBUH Dengan menggunakan sinyal keluaran dari keseluruhan rangkaian yang sudah terhubung, sinyal ini yang akan digunakan sebagai stimulus

Ini adalah struktur sederhana yang dapat digunakan untuk menyimpan kentang di lapangan. 7al ini berguna ketika seseorang tidak ingin berin'estasi dalam

Berdasarkan persoalan ini, maka judul yang diangkat adalah Bagaimana Dampak Iklan Kampanye pemilihan Gubernur NTT Periode 2008-2013 di Surat Kabar Harian Umum (SKHU)

Thomas mengeluhkan kenyataan bahwa sistem akuntansi biaya (historis dan arus) sangat bergantung pada alokasi exit price adalah bahwa laporan keuangan bebas

Kami harap dengan sarana dan program yang kami berikan, masyarakat pengguna jasa layanan bidan dapat memperoleh akses pelayanan yang bermutu dari standarisasi pelayanan praktik

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMK Negeri Mojoagung pada mata pelajaran Administrasi Pajak untuk kelas XI Akuntansi tahun pelajaran

penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan. Pada bab kedua ini adalah kajian pustaka, pada bab ini akan dijelaskan mengenai

Dari kelima perairan penerima limbah laundry, kadar paling tinggi adalah limbah cair yang terdapat pada sampel Laundry 1 yaitu sebesar 10,3 mg/L, dalam proses