TERJEMAH KITAB MABADI AL-AWALIYAH ( kaidah Ushul Fiqh )
SEKAPUR SIRIH ٗذاوشتٚ الله حّؼسٚ ُى١ٍػ َلاغٌا يال ٞزٌا ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٟط ذّؽِ أذ١ع ٍٟػ َلاغٌاٚ جلاظٌا ٓ١ٍّؼٌا بس لله ذّؽٌا " ٍُغِ ًو ٍٟػ حؼ٠شف ٍُؼٌا ةٍؽ حٍّغِٚ " ٓ١ّظأ ٗتاؽطأٚ ٌٗأ ٍٟػٚPuji syukur, kami haturkan kepada Allah 'azza wa jalla. Shalawat serta salam dari Allah semoga tercurahkan kepada beliau uswah hasanah Muhammad SAW. Al-nabiy, rosul 'ala al-alamiin.
Berawal dari sebuah obrolan ma'a ashabiy alias bareng teman-teman sambil ngopi dan nyete 76 diwarung selatan pondok putra Ponpes An-nawawi, kemudian berlanjut pada bahasan yang lebih serius untuk belajar ushul fiqh dengan metode diskusi -walaupun diskusinya belum berjalan seperti yang diinginkan-, kami dan teman-teman mencoba untuk belajar membaca dan memahamui kitab usul fiqh Mabadi' al-Awaliyah. Kemudian kami berniat untuk
menterjemahkannya. Termotivasi oleh semangat beliau mas H. M. Khoirul Fata (al-marhum) "ghofara Allah lah" dalam belajar ketika beliau masih bersama-sama kami (fi hayati al-dunya) serta dengan harapan semoga kami dan teman-teman santri PP. An-Nawawi bisa mempunyai semangat seperti beliau dalam belajar. Dan yang pasti beliau KH. Achmad Chalwani beserta zdurriyahnya ridho pada kita sehingga Allah pun ridha pada kita.
Harapan kami, terjemahan kitab Mabadi' al-Awaliyah ini dapat menjadi motivasi para santri khususnya teman-teman di PP. An-Nawawi Berjan Purworejo dalam bwelajar baik dengan metode membaca, menulis atau lainnya. Dan semoga bisa menjadikan washilah bagi kami untuk mendapatkan ilmu yang nafi' fiy al-dunya wa al-akhirat.
Tidak lupa ucapan terimakasih kami kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penterjemahan ini. Terlebih guru fan kitab Mabadi' al-Awaliyah kami yaitu bapak Sahlan, S.Ag., MSI.dan mustahiq kelas II MDU yang senantiasa memberi suport dan membesarkan hati kami sehingga dengan kemampuan yang kami miliki akhirnya dapat terselesaikan apa yang telah menjadi harapan kami. Terakhir, untuk koreksi, tentunya dalam terjemahan ini tidak sesempurna sesuai apa yang diharapkan. Apabila ditemukan kekurangan sangat kami harapkan masukan dan saran dari para pembaca yang budiman.
ٗذاوشتٚ الله حّؼسٚ ُى١ٍػ َلاغٌاٚ Berjan, 9 juni 2009-06-09 TTM DAFTAR ISI Halaman Judul I Sambutan Mustahiq II Sekapur sirih III Daftar isi IV
1. Al-Qism al-awwal Ushul al-Fiqh 1 2. Al-Ahkam 2
3. Al-Mabhats al-awwal fiy al-Amr 4 4. Al-Mabhats al-tsani fiy al-Nahyi 5 5. Al-Mabhats al-talits fiy al-'Am 7
6. Al-Mabhats al-al-rabi' fiy al-Khas wa al-Takhshis 8 7. Al-Mabhats al-khamis fiy al-Naskh 12
8. Al-Mabhats al-sadis fiy al-Mujmal 15
9. Al-Mabhats al-sabi' fiy al-Muthlaq wa al-Muqayyad 16 10. Al-Mabhats al-tsamin fiy al-Mafhum wa al-Mantuq 17 11. Al-Mabhats al-tasi' fiy Fi'l shahib al-syari'ah 19
12. Al-Mabhats al-'asyir fiy Iqrar shahib al-syari'ah 20 13. Al-Mabhats al-hadiy 'asyara fiy al-Ijma' 21
14. Al-Mabhats al-tsani 'asyara fiy al-Qiyas 22
15. Al-Mabhats al-tsalits 'asyara fiy al-Ijtihad, al-Ittiba', al-Taqlid 23 16. Al-Qism al-tsani Qawa'id al-Fiqh 25
17. Kaidah ke-1 25 18. Kaidah ke-2 25 19. Kaidah ke-3 25 20. Kaidah ke-4 26 22. Kaidah ke-6 27 21. Kaidah ke-5 26 23. Kaidah ke-7 27 24. Kaidah ke-8 27 25. Kaidah ke-9 28 26. Kaidah ke-10 28 27. Kaidah ke-11 28 28. Kaidah ke-12 29 29. Kaidah ke-13 30 30. Kaidah ke-14 30 31. Kaidah ke-15 30 32. Kaidah ke-16 31 33. Kaidah ke-17 31 34. Kaidah ke-18 31 35. Kaidah ke-19 32
36. Kaidah ke-20 32 37. Kaidah ke-21 33 38. Kaidah ke-22 33 39. Kaidah ke-23 33 40. Kaidah ke-24 34 41. Kaidah ke-25 34 42. Kaidah ke-26 35 43. Kaidah ke-27 35 44. Kaidah ke-28 35 45. Kaidah ke-29 36 46. Kaidah ke-30 36 47. Kaidah ke-31 37 48. Kaidah ke-32 37 49. Kaidah ke-33 37 50. Kaidah ke-34 38 51. Kaidah ke-35 38 52. Kaidah ke-36 38 53. Kaidah ke-37 39 54. Kaidah ke-38 39 55. Kaidah ke-39 39 56. Kaidah ke-40 40 ﴾ يٚلأا ُغمٌا ﴿ ٗمفٌا يٛطا ٝف ٗعاعأ ٗمفٌا يٛطأف عسلأا ٝف دتاصٌا اٙفشؽ ٜأ جشعشٌا ًطأٚ ٗعاعأ ٞأ جشعشٌا ًطأو ٖش١غ ٗ١ٍػ ٟٕت اِ حغٌ ًطلأا ٌٗٛطلأ ٗمفٌا عٚشفٚ اٍٙطلأ جشعشٌا عٚشفو ٖش١غ ٗ١ٍػ ٟٕت اِ عشفٌاٚ الله يال بارىٌا اٙتٛظٚ ٍٝػ ً١ٌذٌا ٞأ بارىٌا جلاظٌا بٛظٚ ًطأ ٌُٙٛمو ح١ٍىٌا جذػامٌاٚ ً١ٌذٌا ٍٝػ يام٠ اؼلاططئ ًطلأاٚ جلاظٌا اّٛ١لأ ٌٝاؼذ ... الله يال َاشؼ حر١ِ ًو ٟ٘ٚ ح١ٍىٌا جذػامٌٍ فٌاخِ ٞا ًطلاا ُفلاخ شطؼٌٍّ حر١ٌّا حؼاتئ ٌُٙٛلٚ ح٠لاا حر١ٌّا ُى١ٍػ َشؼ أّا ٌٝاؼذ ... ح٠لاا ٌُٙٛمو ياّظلاا ً١ثع ٍٝػ ٗمفٌا ً١ٌد ٗمفٌا يٛطأ : الله ٍٝط ٝثٌٕا ًؼف كٍطِٚ ُ٠شؽرٌٍ ٌٟٕٙا كٍطِٚ بٛظٌٍٛ شِلأا كٍطِ طعؼ طا١مٌا كٍطِٚ عاّظلاا كٍطِٚ ٍُعٚ ٗ١ٍػ ٚ ٗرّٙف ٜأ هِلاو دٙمف ُٙفٌا حغٌ ٗمفٌا ئ ءٛػٌٛا ٝف ح١ٌٕا ْأت ٍُؼٌاو داٙرظلاا اٙم٠شؽ ٝرٌا ح١ػششٌا َاىؼلأات ٍُؼٌا اؼلاطط ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٟثٌٕا يال ح٠داٙرظلاا ً٠اغٌّا ِٓ هٌر ٛؽٔٚ حثظاٚ " ئ ح١ٌٕات ياّػلأا أّ " ٜساخثٌا ٖاٚس . ٍُؼٌا فلاخت لاف ح١ؼطمٌا ً٠اغٌّا ِٓ هٌر ٛؽٔٚ َشؽِ أضٌا ْأٚ حثظاٚ ظّخٌا خاٍٛظٌا ْأت ٍُؼٌاو داٙرظلاا اٙم٠شؽ ظ١ٌ ٝرٌا َاىؼلأات اٙمف شور اّت ٍُؼٌا ّٝغ٠. ٍُؼٌا : بٍٛطٌّا اٙت فشىٕ٠ حفط ئ اِاذ افاشىٔ ًٙعٌاٚ : ءٟشٌات ٍُؼٌا َذػ ٓظٌاٚ : ٓ٠شِلأا ذؼلأ ػظاشٌا ناسدلاا ٓ٠شِلأا ذؼلأ غٛظشٌّا ناسدلاا ٌُ٘ٛاٚ هشٌاٚ : ٓ٠شِلأا ٓ١ت ٜٛرغٌّا ناسدلاا ٝف ٍُؼٌات داشٌّاٚ ُ٘ٚ اّ٘ذؼأ ٝف غٛظشِ غِٚ ٓظ ءافرٔلااٚ خٛثصٌا ْاؽظس غِٚ هش ءاٛغٌا ٍٝػ ٗ١فٔٚ ذ٠ص َا١ل ٝف ددشرف ٓظٌا ًّش٠ ٗمفٌا ف٠شؼذ BAGIAN AWAL USHUL FIQH
dasar tumbuhnya sebuah pohon dan ushul al-fiqh yang menjadi pondasi fiqh. Sedangkan cabang (al-far') adalah sesuatu yang dididrikan diatas sesuatu yang lain. Seperti cabang-cabang pohon (batang dan lainnya) yang berdiri diatas akarnya, dan fiqh yang berdiri diatas ushul-nya. Menurut istilah asal adalah dalil dan kaidah kulliyat. Seperti perkataan ulama' bahwa dasar wajibnya shalat adalah Kitab (Quran). Maksudnya dalil yang mewajibkan shalat adalah al-Quran. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah (2): 43.
...ح٠لاا Artinya : “….dan dirikanlah shalat…”
Pendapat ulama' yang menyatakan diperbolehkannya memakan bangkai dalam kondisi darurat (emergency), adalah bertentangan dengan kaidah kulliyat yang berbunyi; "kullu mayyitah harām" artinya : setiap bangkai haram hukumnya. Kaidah ini bersumber dari firman Allah SWT. Yang berbunyi :
" " حر١ٌّا ُى١ٍػ َشؼ أّا
Ushul fiqh merupakan dalil fiqh global. Seperti kemutlakan amr (perintah) menunjukkan makna wajib, mutlaknya nahi (larangan) menunjukkan keharaman, mutlaknya perbuatan Nabi (af'al al-Nabi), mutlaknya ijma', dan mutlaknya qiyas yang kesemuanya itu merupakan hujjah.
lafal “fiqh” dalam bahasa Arab mempunyai arti faham (al-fahm). Sedangkan dalam terminologi syar'iy, fiqh ialah mengetahui hukum-hukum syari'at yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Seperti mengetahui bahwa niat dalam wudhu merupakan suatu kewajiban, dan berbagai permasalahan lain yang masuk dalam ranah ijtihadiyah. Fiqh, berbeda dengan hukum-hukum syari'at yang diketahui tanpa menggunakan metode ijtihad. Seperti mengetahui bahwa shalat lima waktu adalah wajib, perbuatan zina adalah haram, dan berbagai permasalahan lain yang ditetapkan dengan dalil qath'iy. Ilmu seperti ini tidak dinamakan fiqih.
Sedangkan ilmu (ٍُؼٌا) adalah sifat yang dengannya sesuatu yang di kehendaki bisa diketahui dengan sempurna. bodoh (ًٙعٌا) adalah tidak adanya pengetahuan akan sesuatu perkara. Dzan (ٓظٌا) adalah menilai sesuatu yang lebih kuat dari dua perkara. Wahm (ٌُ٘ٛا) adalah menemukan sesuatu yang kurang kuat dari dua perkara. Syak (هشٌا) adalah menemukan persamaan pada dua perkara.
Keraguan yang timbul tentanga antara apakah seseorang bernama Zaid sedang berdiri atau tidak yang sama-sama kuat dinamakan syak, jika lebih unggul salah satunya dinamakan dzan, dan ketika mengunggulkan salah satu antara keadaan Zaid sedang berdiri atau tidak sedang berdiri dinamakan wahm. Dalam kaitan ini, ilmu dalam pengertian fiqih mengandung pengertian dzan (prasangka). Maksudnya, sebagaimana dalam pembahasan selanjutnya, akan diketemukan adanya kaidah yang menyatakan bahwa produk ijtihad sebagai salah satu mekanisme metode penggalian hukum dalam islam masuk dalam kategori zdanniy (prasangka) dan bukannya qath'iy (pasti). ﴾ َاىؼلأا ﴿ حؼغذ َاىؼلأا : حّ٠ضؼٌاٚ حظخشٌاٚ ًؽاثٌاٚ ػ١ؽظٌاٚ ٖٚشىٌّاٚ َاشؽٌاٚ غاثٌّاٚ بٚذٌّٕاٚ ةظاٌٛا . ةظاٌٛاف : ٗوشذ ٍٝػ ةلاؼ٠ٚ ٍٗؼف ٍٝػ باص٠اِ . ْاؼِس َٛطٚ ظّخٌا خاٍٛظٌاو . بٚذٌّٕا : ٗوشذ ٍٝػ ةلاؼ٠لاٚ ٍٗؼف ٍٝػ باص٠اِ . ذعغٌّا ح١ؽرو . َاشؽٌا : ٍٗؼف ٍٝػ ةلاؼ٠ٚ ٗوشذ ٍٝػ باص٠اِ . جذغفٌّا ًؼفٚ اتشٌاو ٖٚشىٌّا : ٍٗؼف ٍٝػ ةلاؼ٠لاٚ ٗوشذ ٍٝػ باص٠اِ . ءٛػٌٛا ٝف ّٕٝ١ٌا ٍٝػ ٜشغ١ٌا ُ٠ذمرو غاثٌّا : ٗوشذ ٍٝػ ةلاؼ٠لاٚ ٍٗؼف ٍٝػ باص٠ لا اِ . سإٌٙا ٝف ٌَٕٛاو . ػ١ؽظٌا : ؽششٌاٚ ٓوشٌا ٗ١ف غّرع٠ اِ
ًؽاثٌا : ؽششٌاٚ ٓوشٌا ٗ١ف غّرع٠ لا اِ ٓوشٌا : ِٕٗ أضظ ْاوٚ ءٟشٌا حؽط ٗ١ٍػ فلٛر٠ اِ . جلاظٌٍ َاشؼلاا جش١ثىذٚ ءٛػٌٍٛ ٗظٌٛا ًغغو ؽششٌا : ِٕٗ أضظ ظ١ٌٚ ءٟشٌا حؽط ٗ١ٍػ فلٛر٠ اِ . جلاظٌٍ جسٛؼٌا شرعٚ ءٛػٌٍٛ كٍطِ ءاّو . حظخشٌا : ٍٟطلاا ُىؽٌا ةثع َا١ل غِ حٌٛٙع ٌٝا حتٛؼع ِٓ ش١غر٠ ٜزٌا ُىؽٌا ٟ٘ . َٛظٌا ٖذٙع٠ لا شفاغٌٍّ شطفٌا صٛعو شطؼٌٍّ حر١ٌّا ًوأٚ حّ٠ضؼٌا : شطؼٌّا ش١غٌ حر١ٌّا ًوا حِشؼٚ ظّخٌا دتاٍٛظٌا بٛظٛو ُىؽٌا ٟ٘ . PEMBAGIAN HUKUM SYARI'AT
Al-Ahkam al-Syar‟iy (hukum-hukum syariat) dibagi menjadi sembilan, yaitu: wajib, mandub, mubah, haram, makruh, sahih, bathil, rukhshah dan 'azimah. Adapun definisi masing-masing sembilan hukum tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wajib, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan ketika ditinggalkan akan disiksa. Seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
2. Mandub, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan disiksa. Seperti shalat tahiyat masjid.
3. Haram, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila dikerjakan akan disiksa. Seperti riba dan melakukan kerusakan.
4. Makruh, yaitu sesuatu yang diberi pahala apabila ditinggalkan, tapi tidak disiksa apabila dikerjakan. Seperti mendahulukan bagian yang kiri dalam wudhu.
5. Mubah, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan dan dikerjakan tidak mendapat pahala dan siksa. Seperti tidur siang hari.
6. Shahih, yaitu sesuatu yang didalamnya mencakup rukun dan syarat. 7. Bathil, yaitu sesuatu yang didalamnya tidak mencakup rukun dan syarat.
Rukun adalah sesuatu yang menyebabakan sahnya sesuatu (pekerjaan) dan ia merupakan bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) itu. Seperti membasuh wajah dalam berwudhu dan takbiratul ihram dalam shalat. Adapun syarat adalah sesuatu yang menyebabkan sahnya sesuatu (pekerjaan), namun ia bukanlah bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) tersebut.
8. Rukhshah, yaitu perubahan hukum dari berat menjadi ringan, sedangkan sebab hukum asalnya masih tetap. Seperti diperbolehkannya membatalkan puasa bagi musafir meskipun ia tidak merasa keberatan untuk melanjutkan puasanya. Dan diperbolehkan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa.
9. „Azimah, yaitu hukum seperti kewajiban shalat lima waktu dan haramnya memakan bangkai bagi yang tidak terpaksa.
سؼاثِ ٗمفٌا يٛطات كٍؼر٠ٚ ﴾ شِلاا ٟف يٚلاا سؽثٌّا ﴿ ٟٔدلاا ٌٟا ٍٟػلأا ِٓ ًؼفٌا ةٍؽ ٛ٘ٚ ذػاٛل ٗ١ف : ۱. ح٠لاا...جاوضٌا اٛذاٚ جلاظٌا اّٛ١لاٚ ٌٝاؼذ يال ٗفلاخ ٍٟػ ً١ٌذٌا يد اِ لاا بٛظٌٍٛ شِلاا ٝف ًطلاا ...ح٠لأا٢. ً١ٌذٌا يد اِ لاا ساشىرٌا ٝؼرم٠ لا شِلاا ٝف ًطلاا ٌٝاؼذ يال ٗفلاخ ٍٟػ ٣. ٟٔاصٌا ِٓضٌا ْٚد يٚلاا ِٓضٌات صاظرخا ش١غ ِٓ ًؼفٌا داع٠ا ِٕٗ عشغٌا ْلا .سٛفٌا ٝؼرم٠ لا شِلاا ٝف ًطلاا. ٤. جساٙطٌات شِا جلاظٌات شِلاا .ٍٗ٠اعٛت شِا ءٟشٌات شِلاا. ...ح٠لأا••٥. ٌٝاؼذ الله يال .ٖذػ ٓػ ٟٙٔ ءٟشٌات شِلاا
٦. .شِلاا جذٙػ ٓػ ضشخ ٍٟظف ُّ١رف ءاٌّا ضخشٌا َذػ اراف .شِلاا جذٙػ ٓػ سِٛأٌّا ضشخ٠ ٗٙظٚ ٍٝػ ٗت سِٛأٌّا ًِؼُف ارا ءاٌّا ذظٚ ارا ٗ١ٍػ ءاؼل لاف.
Pembahasan Ke - 1 AL-AMR
Al-Amr (perintah) yaitu tuntutan untuk mengerjakan dari atasan kepada bawahannya. Dalam pembahasan amr ini terdapat beberapa kaidah sebagai berikut :
1. Perintah (amr) pada dasarnya menunjukkan wujub, kecuali ada dalil yang menunjukkan selainnya.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2): 43.
...ح٠لاا Artinya: “…dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…”
2. Perintah (amr) pada dasarnya tidak memiliki konsekuensi pengulangan, kecuali ada dalil yang menunjukkan selainnya.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2):196.
..ح٠لأا
Artinya : “…dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah…”
3. Perintah (amr) pada dasarnya tidak memiliki konsekuensi untuk segera dikerjakan. Tujuan amr (perintah) adalah terwujudnya suatu pekerjaan tanpa adanya pengkhususan dengan waktu awal. 4. Perintah (amr) terhadap sesuatu berarti juga perintah kepada hal-hal yang menjadi wasilah (medium) timbulnya sesuatu tersebut.
Contoh perintah shalat berarti perintah untuk bersuci.
5. Perintah terhadap sesuatu berarti larangan (nahi) terhadap hal-hal yang berlawanan dengan sesuatu tersebut.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2):83. ..ح٠لأا ••
Artinya : “….dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia...”
6. Ketika suatu perintah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya maka orang yang dikenai perintah telah terbebas dari ikatan (perjanjian) amr tersebut. seperti ketika seseorang yang tidak menemukan air (untuk wudhu) kemudian tayamum dan mengerjakan shalat, maka ia tidak wajib qadha (mengulang) shalat ketika menemukan air.
﴾ ٌٟٕٙا ٝف ٝٔاصٌا سؽثٌّا ﴿ ٟٔدلاا ٌٟا ٍٟػلاا ِٓ نشرٌا ةٍؽ ٛ٘ٚ ذػاٛل ٗ١ف : ۱. اٙؼلاطا ذؼت عسلاا ٝف اٚذغفذ لاٚ ٌٝاؼذ يال ٗفلاخ ٍٟػ ً١ٌذٌا يد اِ لاا ُ٠شؽرٌٍ ٌٟٕٙا ٝف ًطلاا. ٢. ٌٝاؼذ يال .ٖذؼتشِا ءٟشٌا ٓػ ٌٟٕٙا •• ٣. اِٙٛظٌاٚ غ٠اؽٌا جلاظٌاو .جداثؼٌا ٝف ٕٗػ ٌّٟٕٙا داغف ٍٝػ يذ٠ ٌٟٕٙا ٟف ًطلاا. ٤. ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٟط ٟٙٔ .جاظؽٌا غ١ت ٝف اّو ذمؼٌا ظفٔ ٌٟا ٌٟٕٙا غظس ِْْا خلاِاؼٌّا ٝف ٕٗػ ٌّٟٕٙا داغف ٍٝػ يذ٠ ٌٟٕٙا ٍُغِ ٖاٚس جاظؽٌا غ١ت ٓػ. ءاذٔ دلٚ غ١ثٌا ٝف اّو .لاف َصلا ش١غ ذمؼٌا ٓػ ضساخ شِا ٌٝا غظس ْا ٌٝاؼذ الله يال .حؼّعٌا ... ٌٟا ةظاٌٛا ٟؼغٌات يلاخلاٌ .ح٠لاا
حؼّعٌا. ًولأاو ٖش١غتٚ غ١ثٌات ذظٛ٠ يلاخلااٚ. Pembahasan Ke - 2
AL-NAHY
Al-Nahy (larangan) adalah tuntutan untuk meninggalkan (suatu pekerjaan) dari atasan kepada bawahannya. Pembahasan larangan (al-nahy) meliputi beberapa kaidah sebagai berikut:
1. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan keharaman (sesuatu yang dilarang), kecuali adanya petunjuk (dalil) sebaliknya.
2. Larangan (al-nahy) akan suatu hal (dapat diartikan sebagai) perintah akan hal-hal yang berlawanan atau kebalikan dari yang dilarang. Allah berfirman QS. al-Baqarah (2):188.
••
Artinya: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”
3. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang dalam ibadah. Seperti shalat dan puasanya perempuan yang haidh.
4. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang dalam muamalah. Hal ini terjadi ketika larangan itu dikembalikan kepada kondisi akad (nafs al-'aqd), seperti bai' al-hashot (jual beli dengan cara melemparkan batu kecil atau spekulasi). Namun ketika larangan itu dikembalikan kepada sesuatu yang keluar dari transaksi (faktor eksternal) yang tidak tetap, maka sesuatu yang dilarang tersebut tidak rusak. Seperti hanya jual beli pada waktu adzan jum'at.
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Jum‟ah (62):9.
Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. al-Jum'ah 9).
﴾ َاؼٌا ٝف سٌاصٌا سؽثٌّا ﴿ شظؼ ش١غ ِٓ اذػاظف ٓ١١١ش ُػ اِ ٛ٘ٚ . حؼتسا ٌٗ حؽػٌّٛا ظافٌلااٚ : ...ح٠لاا " َلاٌات فشؼٌّا ذؼاٌٛا ُعلاا ٌٝاؼذ يال " • ٌٝاؼذ يال َلاٌات فشؼٌّا غّعٌا ُعلااٚ " • " ...ح٠لاا• يال خاشىٌٕا ٝف لاٚ ٌٝاؼذ ٌٝاؼذ يال ًمؼ٠ ِٓ ٝف ّٓو حّٙثٌّا ءاّعلااٚ " " اِ ٝف اِٚ ٌٝاؼذ يال ًمؼ٠ لا " " ٍٗف اٛػذذ اِّا٠ا " ٌٝاؼذ يال ٞاٚ
ٌٝاؼذ يامٔاىٌّا ٝف ٓ٠اٚ " ح٠لأا...ٕٝغؽٌاءاّعلاا " ... ٝرِ .ِٓضٌا ٝف ٝرِٚ " ح٠لأا كٌاؽ دٔاف خشفع
Pembahasan Ke - 3 AL-'AM
Al-' ِ ِ Am (َاؼٌا) adalah sesuatu yang meliputi dua hal atau lebih tanpa adanya batasan. Lafazd-lafazd yang digunakan untuk menunjukkan makna 'am ada empat, yaitu:
1. Isim wahid (mufrod) yang di-ma'rifat-kan dengan huruf lam. Seperti QS. al-Ashr (103): 2-3. ..ح٠لاا•
Artinya : "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali mereka yang beriman…"
2. Isim jama' yang di-ma'rifat-kan dengan huruf lam. Contoh QS. al-Baqarah (2):195.
•
Artinya : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
3. huruf la yang me-nafi-kan pada isim nakiroh. Contoh QS. al-Baqarah(2): 48.
•
Artinya: “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”
4. Isim-isim mubham
a) Lafal “ِٓ“ bagi sesuatu yang berakal. Contoh firman Allah QS. al-Zalzalah (99): 7.
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
b) Lafal اِ bagi yang tidak berakal. Contoh firman Allah QS. al-Hujarat (49): 18.
•
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
c) Lafal يٌّٞا. Contoh : ٕٝغؽٌاءاّعلاا ٍٗف اٛػذذ اِّا٠ا ..
ح٠لأا
d) Lafal آَْ٠اَا yang menunjukkan tempat. Contoh QS. al-Nisa' (4): 78.
Artinya: “Dimanapun kamu berada kematian akan mendapatkan kamu…” e) Lafal ٝرِyang menunjukkan zaman. Contoh :
كٌاؽ ِدٔاف ِخشفع ٝرِ ﴾ض١ظخرٌاٚ صاخٌا ٝف سٌاصٌا سؽثٌّا﴿ صاخٌاٚ : شظؼ ش١غ ِٓ اذػاظف ٓ١١١ش يٚإر٠ لا اِ ض١ظخرٌاٚ : َاؼٌا يٌٛذِ غؼت ضاشخا ْاّغل ٛ٘ٚ : ًظفِٕٚ ًظرِ عاٛٔا ًظرٌّاف :
...ح٠٢ا " يال .ءإصرعلاا إِٙ ٌٝاؼذ " • ...ح٠٢ا "ٌٝاؼذ يال .حفظٌات ذ١مرٌا إِٙ " ...ح٠٢ا "ٌٝاؼذ يال .ح١غٌات ض١ظخرٌا إِٙ " يذثٌات ض١ظخرٌا إِٙ . ٌٝاؼذ يال " لا١ثع ٗ١ٌا عاطرعا ِٓ د١ثٌا طؼ طإٌا ٍٝػ للهٚ ... ح٠٢ا " عاٛٔا ًظفٌّٕاف : ۱. ٌٝاؼذ يال .بارىٌات بارىٌا ض١ظخذ " ... ٌٗٛمت ضظخ " ح٠٢ا ٌٝاؼذ ٌٗٛل ٌٝا ًؼا َٛ١ٌا ٌٝاؼذ ..." ُىٍثل ِٓ بارىٌا ٛذٚا ٓ٠زٌا ِٓ خإظؽٌّاٚ ... ح٠لاا " ُىٌ ًؼ ٞا ٢. ٌٝاؼذ الله يال . حٕغٌات بارىٌا ض١ظخذ " ...ًِاشٌا " ح٠٢ا ٍُغٌّا زش٠لا " ٓ١ؽ١ؽظٌا س٠ذؽت ضظخ شفاىٌا ذٌٌٍٛ ٍُغٌّا شفاىٌا لاٚ شفاىٌا " ٣. ْاٚ " ٌٝاؼذ ٌٗٛمت " أػٛر٠ ٝرؼ زذؼا ارا ُوذؼا جلاط ًثم٠ لا " ٓ١ؽ١ؽظٌا س٠ذؼ ض١ظؽرو , بارىٌات حٕغٌا ض١ظخذ اّّٛ١رف ءاِ اٚذعذ ٍُف ٌٝاؼذ ٌٗٛل ٌٟا ٝػشِ ُرٕو ... ح٠لاا " ٤. حلذط كعٚا حغّخ ْٚد اّ١ف ظ١ٌ " اّٙص٠ذؽت "ششؼٌا ءاّغٌا دمع اّ١ف " ٓ١ؽ١ؽظٌا س٠ذؼ ض١ظؽرو ض١ظخذ " ٥. إِٙ ضظخ ٗٔاف " ح٠لاا...جذٍظ ح٠اِ إِّٙ ذؼاٚ ًو اٚذٍظاف ٝٔاضٌاٚ ح١ٔاضٌا " ٌٝاؼذ ٌٗٛمو , طا١مٌات بارىٌا ض١ظخذ ٌٝاؼذ ٌٗٛمت هٌر فظٔ اٙ١ٍؼف حِلاا " ...حِلاا ٍٝػ طا١مٌاف ذثؼٌاٚ " ح٠لاا فظٌٕا ٝف اؼ٠ا ٦. ش١غ ٝف از٘ٚ " ٗظاِ ٓتاٚ ذّؼا ٖاٚس ٗرتٛمػٚ ٗػشػ ًؽ٠ ذظاٌٛا ٌٟ " ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٌٗٛمو طا١مٌات حٕغٌا ض١ظخذ ٗٔاف ٛ٘ اِا ٖذٌٚ غِ ذٌاٌٛاٌٝاؼذ ٌٗٛمت دتاصٌا فا يٛل َذػ ٍٝػ اعا١ل ٗرتٛمػٚ ٗػشػ ًؽ٠لا " ... ح٠لاا " ٌٝٚلأات Pembahasan Ke - 4
AL-KHAS DAN AL-TAKHSHIS
Al-khas (صاخٌا) adalah sesuatu yang tidak mengandung dua makna atau lebih tanpa adanya batasan. Sedangkan al-takhshish (ض١ظخرٌا) adalah mengeluarkan sebagian yang ditunjukkan 'am. Takhshis dibagi menjadi dua, yaitu; takhshis muttashil (bersamaan) dan takhshis munfashil (terpisah).
Macam-macam takhshis muttasil :
1) Pengecualian (al-Istisna'). Contoh: QS. al-„Ashr (103): 2-3.
..ح٠لاا•
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali mereka yang beriman…”
2) Pembatasan (al-taqyid) dengan sifat. Contoh firman Allah SWT dalam QS. al-Nisa' (4): 96. ...ح٠٢ا
Artinya: “(Hendaklah) Ia memerdekakan seorang hamba yang beriman…” 3) Pengecualian dengan dengan batas (ghayah). Contoh QS. al-Baqarah (2): 222.
..ح٠لاا
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci…” 4) Pengecualian dengan pengganti (badal). Contoh QS. Ali „Imron(3): 97.
...ح٠٢ا••
Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...”
1) Pengecualian al-kitab (al-Qur‟an) dengan al-kitab (al-Qur‟an). Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2): 221.
...ح٠٢ا
Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik…” ayat ini ditakhsis dengan Firman Allah SWT dalam QS. al-Maidah (5): 5,
ٌٝاؼذ ٌٗٛل ٌٝا ًؼا َٛ١ٌا ... ُىٍثل ِٓ بارىٌا ٛذٚا ٓ٠زٌا ِٓ خإظؽٌّاٚ ... ح٠لاا •
Artinya: “Pada hari ini dihalalkan –sampai pada firman Allah ta'ala- Dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang di beri al-kitab sebelum kamu…”
2) Pengecualian kitab (Qur‟an) dengan sunah (Hadits). Firman Allah dalam QS. al-Nisa' (4):11.
...ح٠٢ا
Artinya: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pustaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan…”
Ayat diatas mengandung pengertian bahwa yang mendapat waris termasuk anak kafir tapi ayat tersebut ditakhsis dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:
ٍُغٌّا شفاىٌا لاٚ شفاىٌا ٍُغٌّا زش٠لا
Artinya: “Seorang anak muslim tidak mendapatkan warisan dari orang tua kafir dan anak kafir tidak mendapatkan warisan dari orang tua muslim.”
3) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Kitab (al-Qur‟an). Seperti hadits riwayat Bukhari Muslim yang menerangkan bahwa Allah SWT tidak akan menerima shalat seseorang yang masih dalam keadaan hadats sampai dia berwudhu.
أػٛر٠ ٝرؼ زذؼا ارا ُوذؼا جلاط ًثم٠ لا
Artinya : Allah tidak menerima shalat kalian, ketika berhadast sehingga kalian berwudhu. Hadits ini di takhsis dengan firman Allah QS.al-Nisa' (4): 43.
...ح٠لاا
Artinya: “Dan jika kamu sakit –sampai pada firman Allah- kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah…”
4) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Sunnah (al-Hadits). Contoh hadits Riwayat Bukhari dan Muslim:
ششؼٌا ءاّغٌا دمع اّ١ف
Artinya: “Setiap (zar') yang disirami dengan air hujan zakatnya sebesar seper sepuluh.” Hadits ini ditakhsis dengan hadits riwayat Bukhori dan Muslim :
حلذط كعٚا حغّخ ْٚد اّ١ف ظ١ٌ
Artinya: “Setiap (zar') yang kurang dari lima wasaq tidak ada zakat.”
•••
Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Ayat tersebut di takhsis dengan ayat yang menerangkan hukum derap/jilid terhadap budak perempuan (amat) yang hanya dijilid separuh dari ketentuan ayat. Allah SWT. berfirman QS. al-Nisa' (4):25.
...ح٠لاا
Artinya: “Kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami…”
Adapun untuk seorang budak („abd) di-qiyas-kan kepada amat yaitu setengah dari ketentuan yang telah disebutkan diatas.
6) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Qiyas. Contoh sabda Rasulullah SAW. : ٗظاِ ٓتاٚ ذّؼا ٖاٚس ٗرتٛمػٚ ا ٗػشػ ًؽ٠ ذظاٌٛا ٌٟ
Artinya: “Orang kaya yang berpaling dari membayar hutang maka halal kehormatan dan keperwiraannya “ (HR. Ahmad dan Ibn Majjah.)
Dikecualikan dari ketentuan hadits diatas, yaitu orang tua yang menunda-nunda membayar hutang pada anaknya meskipun sudah mampu untuk membayarnya. Maka bagi orang tua yang berpaling dari membayar hutang tidak dihalalkan kehormatan dan keperwiraannya karena dengan memakai qiyas awla tidak diperbolehkannya mengucapkan kata-kata kasar kepada mereka yang telah ditetapkan dalam QS. Al-Isra' (17):23.
...ح٠لاا
Artinya: “…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"…” ﴾خغٌٕا ٝف ظِاخٌا سؽثٌّا﴿ حٌاصلاا حغٌ ٛ٘ٚ . ارا بارىٌا از٘ ٝف اِ دخغٔ ٌُٙٛل ِٓ ًمٌٕا ٖإؼِ ً١لٚ اٙؽاغثٔات ٗرؼفسٚ ٗرٌاصا ارا ًظٌا ظّشٌا دخغٔ يام٠ شخا ٌٝا ٗ١ف اِ دٍمٔ اػششٚ : شخأرِ ٝػشش ً١ٌذت ٟػشش ُىؼ غفس . َاغلا ٌٝا ُٙؼؼت ذٕػ خغٌٕا ُغمٕ٠ٚ : ۱. ٖاٚس .ا٘أأشل ذل يأاف ٕٗػ الله ٟػس شّػ يال .حرثٌا اّّ٘ٛظساف ا١ٔص ارا حخ١شٌاٚ خ١شٌا ٛؽٔ ُىؽٌا ءامتٚ ُعشٌا خغٔ ٖش١غٚ ٝؼفاشٌا . ٗ١ٍػ كفرِ ٓ١ٕظؽٌّا ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ُظس ذلٚ . حخ١شٌاٚ خ١شٌات داشٌّا اّ٘ٚ ٢. اظاٚصا ْٚسز٠ٚ ُىِٕ ْٛفٛر٠ ٓ٠زٌاٚ " ٌٝاؼذ يال .ُعشٌا ءامتٚ ُىؽٌا خغٔٚ ٌٝا اػارِ ُٙظاٚصلا ح١طٚ يٛؽٌا ... ح٠لاا " ح٠ات خغٔ " ...ح٠لاا " ٣. خاٍِٛؼِ ظّخت ٓخغٕف " ِٓشؽ٠ خاٍِٛؼِ خاؼػس ششػ يضٔا اّْ١ِف ْاو " حغ٠اػ ٓػ ٍُغٌّا س٠ذؽو اؼِ ٓ٠شِلاا خغٔٚ ِٓشؽ٠ . جذؼٌا ح٠ا ٝف َذمذ اّو بارىٌات بارىٌا خغٔ صٛع٠ٚ . ٤. ٝف ٍٗثمرعا ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٗٔاف ٓ١ؽ١ؽظٌا س٠ذؼ ٝف ح١ٍؼفٌا حٕغٌات دتاصٌا طذمٌّا د١ت ياثمرعاو .بارىٌات حٕغٌا خغٔٚ خغٔ اشٙش ششػ حرع جلاظٌا ...ح٠لاا " ٌٝاؼذ ٌٗٛمت " ٥. ا٘سٚضف شثمٌا جسا٠ص ٓػ ُىر١ٙٔ دٕو " ٍُغِ س٠ذؽو حٕغٌات حٕغٌا خغٔٚ " ٌٗٛمو حٕغٌات بارىٌا خغٔ صٛع٠ ُٙؼؼت يالٚ ٌٝاؼذ " ٓ١تشللااٚ ٓ٠ذٌٌٍٛ ح١طٌٛا اش١خ نشذ ْا خٌّٛا ُوذؼا شؼؼ ارا ُى١ٍػ ةرو ... ح٠لاا " ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٌٗٛمت خغٔ " زسٌٛ ح١طٚلا " ٗظاِ ٓتاٚ ٞزِشرٌا ٖاٚس .
Pembahasan Ke - 5
NASIKH DAN MANSUKH
Al-Nãsikh (خعإٌا) secara bahasa berarti menghilangkan, menghapus, atau memindah. Dalam tinjauan syara', al-nãsikh adalah menghilangkan atau membatalkan hukum syara' yang telah ditetapkan terdahulu dengan dalil syara' yang baru. Al-Nãsikh menurut sebagian ulama' terbagi menjadi:
1) Menghapus tulisan (al-rasm) dan menetapkan hukum. Contoh hadits Nabi SAW:
حرثٌا اّّ٘ٛظساف ا١ٔص ارا حخ١شٌاٚ خ١شٌا
Sahabat „umar RA berkata bahwa sesungguhnya kami telah membaca hadits dan bahwasanya nabi SAW telah memberlakukan hukum ranjam terhadap dua orang yang berzina muhshon. Maksud lafal ٓ١ٕظؽِ dalam hadits diatas adalah حعخ١شٌاٚ خ١شٌا
2) Menghapus hukum dan menetapkan tulisan (al-rasm). Contoh QS. al-Baqarah (2): 240.
••
•
Artinya: Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat ini di nasikh dengan QS. al-Baqarah (2): 234.
...ح٠لاا
Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. 3) Menghapus dua perkara (hukum dan tulisan) secara bersamaan.
Seperti hadits riwayat Muslim dari 'aisyah ra. ِٓشؽ٠ خاٍِٛؼِ خاؼػس ششػ يضٔا اّ١ِف ْاو
Hadits yang menerangkan bahwa yang dapat menyebabkan haramnya sebuah pernikahan sepuluh kali susushan yang diketahui ini kemudian dinasikh dengan hadits yang menerangkan lima kali susuan yang mengharamkan:
ِٓشؽ٠ خاٍِٛؼِ ظّخت
Me-nasikh al-Kitab (ayat Al-Quran) dengan al-Kitab (ayat al-Quran lain) juga diperbolehkan, seperti dalam ayat tentang 'iddah perempuan sebagaimana yang diterangkan diatas.
4) Menghapus al-Sunah dengan al-Kitab.
Seperti menghadap Baitul maqdis dalam shalat yang ditetapkan dengan sunah fi'liyah (perbuatan Nabi). Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim disebutkan "bahwasahnya Nabi SAW menghadap baitul maqdis dalam shalatnya selama 16 bulan ". Hadits kemudian dinasikh dengan firman Allah QS. al-Baqarah (2): 144.
•
Artinya: “Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langi, Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
5) Nasikh al-Sunah dengan al-Sunah. Seperti hadits riwayat imam Muslim: ا٘سٚضف شثمٌا جسا٠ص ٓػ ُىر١ٙٔ دٕو
Artinya: “(dulu) Aku (Nabi) melarang kalian ziarah kubur. Maka (sekarang) Berziarahlah kalian. “
Sebagian ulama' juga ada yang berpendapat tentang diperbolehkannya menasikh al-kitab dengan al-sunah. Seperti firman Allah QS al-Baqarah :(2) 180,
•
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.”
Ayat diatas dinaskh oleh sabda Nabi SAW: ٗظاِ ٓتاٚ ٞزِشرٌا ٖاٚس زسٌٛ ح١طٚلا
Artiny: “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majjah.) ﴾ًّعٌّا ٝف طداغٌا سؽثٌّا﴿ ًّعٌّا : ٌٝاؼذ ٌٗٛل ِٓ ءشل عفٍو ْا١ثٌا ٌٝا شمرف٠ اِ " ءٚشل حشلاش ٓٙغفٔات ٓظتشر٠ خامٍطٌّاٚ " غ١ؽٌا ًّرؽ٠ ٗٔاف شٙطٌاٚ غ١ؽٌا ٓ١ت ءشمٌا ناشرشلا ساٙؽلااٚ. ْا١ثٌاٚ : عاٛٔا ٛ٘ٚ ٍٝعرٌا ض١ؼ ٌٝا ياىشلاا ض١ؼ ِٓ ءٟشٌا ضاشخا : ۱. حٍِاو جششػ هٍذ ُرؼظس ارا حؼثعٚ طؽٌا ٝف َا٠ا حشلاش َا١ظف " غرّرٌا َٛط ٝف ٌٝاؼذ ٌٗٛمو يٛمٌات ْا١ت " ٢. ا٘ش١غٚ جلاظٌا ح١ف١و ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٝثٌٕا ًؼف ْا١ثو ًؼفٌات ْا١ت ٣. جسٛٙشٌّا ٗثرىت إّٙ١ت ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٗٔاف , ءاؼػلاا خا٠دٚ جاوضٌا سدامِ ْا١ثو بارىٌات ْا١ت. ٤. خاشِ زلاش ٗؼتاطات جساشلاا داػا ُش ,اِٛ٠ ٓ١شلاش ٕٝؼ٠ " ازوٚ ازوٚ ازو شٙشٌا " ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٌٗٛمو جساشلاات ْا١ت ٓ٠شغػٚ حؼغذ ْٛى٠ ذل شٙشٌا ْا ٌٝا جساشا حصٌاصٌا ٝف ِٗاٙتا ظثؼٚ. Pembahasan Ke - 6 MUJMAL DAN BAYAN
Mujmal (ًّعٌّا) adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan. Contoh seperti lafal ءٚشل pada ayat:
ءٚشل حشلاش ٓٙغفٔات ٓظتشر٠ خامٍطٌّاٚ
karena ada persekutuan makna dalam lafal al-quru' maka memungkinkan lafal tersebut mempunyai arti haidh dan suci.
Bayan (ْا١ثٌا) adalah mengeluarkan sesuatu dari kondisi musykil kepada kondisi jelas. Bayan dibagi menjadi:
1) Bayan (penjelas) dengan ucapan (bi al-qawl) seperti pada firman Allah SWT. yang menerangkan puasa tamatu' QS. Al-Baqarah (2): 196.
...ح٠لاا
Artinya: “…Maka wajib puasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kalian semua telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna...”
2) Bayan dengan perbuatan atau pekerjaan. seperti pekerjaan Nabi yang menjelaskan tata cara shalat dan lainnya.
3) Bayan dengan tulisan (kutub). Seperti bayan akan kadar zakat, dan diyat anggota badan sebagaimana yang telah dijelaskan Nabi SAW. melalui hadits-haditsnya.
4) Bayan dengan isyarat, seperti isyarat nabi SAW sambil menunjukkan semua jari tangan dalam satu isyarat “satu bulan adalah seperti ini, seperti ini dan seperti ini. Maksudnya 30 hari.
Kemudian nabi memebrikan isyarat lagi dengan telapak tangannya sampai tiga kali, dan pada urutan ketiga beliau tidak menunjukkan ibu jarinya sebagai isyarat bahwa dalam bulan terkadang ada yang hanya sejumlah 29 hari.
﴾ذ١مٌّاٚ كٍطٌّا ٟف غتاغٌا سؽثٌّا﴿ كٍطٌّا : ا٘دٛ١ل ِٓ ذ١ل لات ح١٘اٌّا ٍٝػ يد اِ ذ١مٌّاٚ : ا٘دٛ١ل ِٓ ذ١مت ح١٘اٌّا ٍٝػ يد اِ ٖذ١مذ ٍٝػ ٝمث٠ اذ١مِ دسٚ ْاٚ ٗللاؽا ٝمث٠ امٍطِ ٍٝػ دسٚ ارا باطخٌا ْا ٍُػاٚ . غػِٛ ٝف اذ١مِٚ غػِٛ ٝف امٍطِ دسٚ ْاٚ ٌٝاؼذ ٌٗٛل ٝف ًرمٌا جاشفو ٝف غػاٌّٛا غؼت ٝف ْاّ٠لاات خذ١ل حثلشٌاو ذ١مٌّا ٍٝػ كٍطٌّا ًّؽ٠ شخا ... ٝف دمٍؽاٚ ح٠٢ا ٝف اّو غػاٌّٛا غؼت حثلس ش٠شؽرف ٌٝاؼذ ٌٗٛل ٝف ساٙظٌا جسافو Pembahasan Ke - 7
MUTLAQ DAN MUQOYYAD
Mutlaq (كٍطٌّا) adalah lafal yang menunjukkan hakikat sesuatu hal tanpa adanya batasan. Sedangkan muqoyyad (ذ١مٌّا) adalah lafal yang menunjukkan suatu hal dengan adanya batasan (taqyid).
Penting diketahui bahwa apabila terdapat perintah (khithab) yang bersifat mutlak atau umum, maka ia harus diberlakukan seperti keumumannya. Begitupun ketika terdapat perintah yang dibatasi (muqoyyad) atau bersifat khusus, maka ia harus diberlakukan berdasarkan kadar pembatasan atau kekhususannya tersebut. Namun ketika perintah itu bersifat mutlak pada satu sisi dan muqoyyad pada sisi yang lain, maka sisi kemutlakannya harus ditangguhkan dan diberlakukan sisi kekhususannya. Contohnya seperti lafal “roqobah” (budak) yang dibatasi dengan sifat beriman dalam hal kafarat membunuh. Allah SWT berfirman QS. al-Nisa' (4): 96. ...ح٠٢ا
Artinya : (Hendaklah) Ia memerdekakan seorang hamba yang beriman…
Dalam bagian lain, lafal roqobah berlaku umum seperti pada kafarat zhihar dalam firman Allah SWT QS. al-Mujadalah )58): 3.
Artinya: Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan." ﴾قٛطٌّٕاٚ َٛٙفٌّا ٝف ِٓاصٌا سؽثٌّا﴿
قٛطٌّٕاف : كطٌٕا ًؽِ ٝف عفٌٍا ٗ١ٍػ يد اِ َٛٙفٌّاٚ : كطٌٕا ًؽِ ٝف لا عفٌٍا ٗ١ٍػ يد اِ ٓ١ّغل ٌٝا ُغمٕ٠ قٛطٌّٕاف : يٚلاا : ً٠ٚأرٌا ًّرؽ٠ لا اِ , ضٌٕا ّٝغ٠ٚ , ٌٝاؼذ ٌٗٛمو " جششػ هٍذ ُرؼظس ارا حؼثعٚ طؽٌا ٝف َا٠ا حشلاش َا١طاف حٍِاو ... ح٠لاا " ٌٝاؼذ ٌٗٛمو , ش٘اظٌا ّٝغ٠ٚ , ً٠ٚأرٌا ًّرؽ٠ اِ : ٝٔاصٌا " ... ٝف ياؽِ نارٚ ذ٠ا غّظ ٖش٘اظ " ح٠لاا الله كؼ جٛمٌا ٕٝؼِ ٌٝا فشظف ٌٝاؼذ ٓ١ّغل ٌٝا ُغمٕ٠ اؼ٠ا َٛٙفٌّاٚ : حمفاٌّٛا َٛٙفِ : عشؼٌا غّٕو ٗت قٛرٌٍّٕ امفاِٛ ٕٗػ خٛىغٌّا ْاو اِ ٛ٘ٚ ...ح٠لاا " ٌٝاؼذ ٌٗٛل ِٓ َٛٙفٌّا ٓ٠ٛتلاٌ " ٌٝاؼذ ٌٗٛل ِٓ ِٝا١ر١ٌا ياِ قاشؼا غّٕوٚ " • ... ح٠لاا حفٌاخٌّا َٛٙفٌّاٚ : ٗت قٛطٌٍّٕ افٌاخِ ٕٗػ خٛىغٌّا ْاو اِ ٛ٘ٚ , ٍٝط ٌٗٛل ِٓ َٛٙفٌّا حفٌٛأٌّا ٍٝػ جاوضٌا بٛظٚ َذؼو ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله " جاوص َإغٌا حّ٠ْاع ٝف " ٝؼفاشٌا ٖاٚس . خاٍِٛؼِ شٙشا ش١غ ٝف طؽٌا َذػٚ . ٌٝاؼذ يال " ... صاٛظٚ ." ح٠لاا ٌُ ارا حؼّعٌا َٛ٠ غ١ثٌا• ٌٝاؼذ يال .ْرإِ ْرإ٠ " ...ح٠لاا " Pembahasan Ke - 8
MANTUQ DAN MAFHUM
Mantuq (قٛطٌّٕا) adalah penunjukan lafal terhadap suatu hal (hukum) ketika diucapkan, sedangkan Mafhum (َٛٙفٌّا) adalah penunjukan lafal terhadap hukum yang tidak diucapkan. Pembagian Mantuq
1. Al-Nash. Yaitu lafal yang tidak mengandung takwil. Seperti firman Allah SWT. QS. al-Baqarah (2):196.
...ح٠لاا
Artinya: “…Maka wajib puasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kalian semua telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna.”
2. Al-Zahir. Yaitu lafal yang mengandung takwil atau perlu takwil. Contohnya seperti firman Allah QS. al-Dzariyat (51):47.
Artinya: “Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa.”
Lafal ذ٠ا adalah bentuk jamak dari lafal ذ٠ yang berarti tangan, dan hal itu (tangan) mustahil bagi Allah SWT. Maka dari itu lafal ذ٠ا dalam ayat tersebut dipalingkan ke makna جٛمٌا yang berarti kekuatan.
Pembagian Mafhum
1. Mafhum muwafaqoh. Yaitu penunjukan hukum yang tidak disebutkan mempunyai kesamaan dengan hukum yang diucapkan. Seperti pencegahan atau larangan memukul kedua orang tua yang dapat dipahami dari firman Allah QS. al-Isra' (17):23.
••
Artinya: “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Larangan membakar (atau hal-hal yang sifatnya merusak) harta anak yatim yang dapat dipahami dari firman Allah QS. al-Nisa' (4): 10.
•
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
2. Mafhum mukholafah. Yaitu lafal yang disebutkan tidak sama dengan yang diucapkan. Contohnya antara lain adalah sebagai berikut:
1) Tidak adanya kewajiban zakat bagi hewan yang digunakan untuk bekerja yang dipahami dari sabda Nabi SAW:
جاوص َإغٌا حّ٠ْاع ٝف
Artinya: “Pada hewan-hewan yang digembalakan terdapat (wajib) zakat.”
2) Tidak adanya haji kecuali pada bulan-bulan tertentu yang telah masyhur dari pemahaman firman Allah QS. al-Baqarah (2):197.
•
•
•
•
Artinya: “Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.”
3) Diperbolehkannya jual beli pada hari Jum'at sebelum dikumandangkannya azdan yang dipahami dari firman Allah QS. al-Jum'ah (62): 9.
Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
﴾ غعارٌا سؽثٌّا ﴿ ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط حؼ٠ششٌا ةؼاط ًؼف ٝف ْٛى٠ لا ٚا حػاطٌاٚ حتشمٌا ٗظٚ ٍٝػ ْٛى٠ ْا اِا ٍٛخ٠ لا الله ٍٝط ٟثٌٕا ًؼف. يد ْاف حػاطٌاٚ حتشمٌا ٗظٚ ٍٝػ ْاو ْاف جٛغٔ غتسا ٍٝػ غاىٌٕا ٝف جدا٠ضو صاظرخلاا ٍٝػ ًّؼ ٗت صاظرخلاا ٍٝػ ً١ٌذٌا . ٌٝاؼذ الله يال " ُىٌ باؽ اِ اٛؽىٔاف عاتسٚ زلاشٚ ٕٝصِ ... ح٠لاا ." ٗ١ٍػ الله ٍٝط شِاف ٗؼِ ٍّٓعاف ح١ٍ٘اعٌا ٝف جٛغٔ ششػ ٗرؽذٚ ْلا١غ َلاعا يال شّػ ٓتا ٓػٚ اؼتسا ِٕٓٙ سارخ٠ ْا ٍُعٚ . ٞزِشرٌاٚ ٗظاِ ٓتاٚ ذّؼا ٖاٚس . ٗرِا ٗوساش٠ ًت ٗت ضرخ٠ لا ٗت صاظرخلاا ٍٝػ يذ٠ ٌُ ْاف . ٌٝاؼذ الله يال " ...ح٠لاا "
اٌٛال هٌزٌٚ :
ٗت صاظرخلاا ٍٝػ ً١ٌذٌا يد اِ لاا ءاذرللاا ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٝثٌٕا ياؼفا ٝف ًطلاا . Pembahasan Ke - 9
PERBUATAN NABI SAW.
Perbuatan Nabi SAW. terkadang bersifat qurbah (ibadah taqorrub) dalam artian taat dan kadang juga tidak bersifat demikian. Ketika perbuatan Nabi bersifat taqorrub atau taat serta adanya dalil yang menunjukkan kekhususan pada diri Nabi maka hal itu berlaku khusus untuk Nabi SAW. Seperti memiliki istri lebih dari empat. Allah berfirman QS al- Nisa' (4): 3.
...ح٠لاا
Artinya: “Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu sengangi dua, tiga, atau empat…”
Namun ketika perbuatan Nabi SAW. tidak disertai dalil yang menunjukkan kekhususannya pada diri Nabi SAW. maka perbuatan tersebut tidak berlaku khusus pada Nabi SAW., tetapi juga meliputi umatnya. Alllah berfirman QS. al-Ahzab (33): 21.
Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hukum asal semua perbuatan Nabi SAW. itu untuk diikuti kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan pada Nabi SAW. saja dalam suatu perbuatan. ﴾ ششاؼٌا سؽثٌّا ﴿ حؼ٠ششٌا ةؼاط ساشلا ٝف ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٌٗٛمو ذؼا ِٓ يٛل ٍٝػ ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٝثٌٕا ساشلا. ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٍٗؼفو ذؼا ِٓ ًؼفٌا ٍٝػ ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٖساشلا , هٌر ياصِ .شىٌّٕا ٍٝػ اذؼا شم٠ ْا ِٓ َٛظؼِ ٗٔلا ٍٗذامٌ ً١رمٌا ةٍع ءاطػءات ٕٗػ الله ٟػس ٌٗٛل ٍٝػ شىت اتا ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٖساشلا , ٓت ذٌاخ ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٖساشلا ةؼٌا ًولاا ٍٝػ ٕٗػ الله ٝػس ذ١ٌاٌٛا . ْاخ١ش ٖاٚس . فٍؽٌ ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٍّٗؼو ٗغٍعِ ٝف ً١ل اِ ٚا ًؼف اِ ُىؼ ّٗىؽف ٖشىٕ٠ ٌُٚ ٗت ٍُػٚ ٗغٍعِ ش١غ ٝف ً١ل اِ ٚا ًؼف اِٚ اش١خ ًولأا ٜأس اٌّ ًوا ُش ٗظ١غ دلٚ ٝفِاؼطٌا ًوأ٠ لا ٗٔا ٕٗػ الله ٝػس شىت ٟتا . ٍُغِ ٖاٚس . افرغ٠ٚ \ اش١خ ْاو ارا فٍؽٌا ذؼت ٗتذٔ ًت سٕؽٌا صاٛظ ِٕٗ . Pembahasan Ke - 10
KETETAPAN NABI SAW.
Ketetapan Nabi SAW. atas ucapan seseorang memiliki kedudukan yang sama dengan ucapan Nabi SAW. sendiri. Begitu juga ketetapan Nabi SAW. atas pekerjaan seseorang memiliki
kedudukan yang sama dengan pekerjaan Nabi SAW. hal itu karena Nabi SAW. bersifat maksum (terjaga) untuk mengakui perbuatan ingkar seseorang. Contoh dari keterangan diatas adalah pengakuan Nabi SAW. pada sahabat Abu Bakr RA. yang memberikan harta rampasan perang orang kafir yang terbunuh kepada pasukan muslim yang berhasil membunuhnya dan pengakuan Nabi SAW terhadap sahabat Khalid bin Walid RA. yang memakan biawak.
Sesuatu yang dikerjakan atau diucapkan tidak dihadapan (majlis) Nabi SAW. namun terjadi atas sepengetahuan Nabi SAW. mengetahui dan tidak pula mengingkarinya maka memiliki
kedudukan hukum yang sama dengan pekerjaan atau perkataan yang dilakukan dihadapan Nabi SAW. Seperti pengetahuan Nabi SAW. Dengan sahabat Abu Bakr RA. yang pada saat murka bersumpah untuk tidak makan, namun kemudian melanggar sumpahnya sendiri setelah meyakini
adanya kebaikan dalam makan, yakni menjaga kesehatan tubuh
berdasarkan contoh dan keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan diperbolehkannya melanggar sumpah, bahkan disunatkan untuk melanggar sumpah ketika hal itu mengandung sesuatu yang lebih baik. ﴾ ششػ ٜداؽٌا سؽثٌّا ﴿ عاّظلاا ٝف حغٌ عاّظلاا : قافذلاا اؼلاططٚ : سِٛلاا ِٓ شِا ٍٝػ ساظػلاا ِٓ شظػ ٝف ٗذافٚ ذؼت ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ذّؽِ حِا قافذا . ذٕػ طعؼ عاّظلااٚ سّٛٙعٌا . ٍُعٚ ٗ١ٍػ الله ٍٝط ٝثٌٕا ٓػ شّػ ٓتا ٓػ ٜزِشرٌا ٗظشخا اٌّ " ٍٝػ الله ذ٠ٚ حٌلاؼٌا ٍٝغ ٟرِا غّرعذ لا حػاّعٌا " ٍُٙؼفتٚ ٌُٙٛمت ػظ٠ ضاّظلااٚ , ٗ١ٍػ ٓ١لاثٌا خٛىعٚ ًؼفٌا ٚا يٛمٌا هٌر ساشرٔاٚ غؼثٌا ًؼفتٚ غؼثٌا يٛمت اؼ٠أ ػظ٠ٚ , ٝذٛىغٌا عاّظلاات هٌر ّٝغ٠ٚ. ؾ٠اغٌاٚ يٛثٌا ٛ٘ٚ ٓ١ٍثغٌا ِٓ دارؼٌّا ضساخٌات ءٛػٌٛا غمٔ ٍٟػ اٛؼّرظاٚ. هٌر ْاىف ساىٔا ٓ١لاثٌا ِٓ شٙظ٠ ٌُٚ ٗت ًّػ حتاؽظٌا غؼت ْات ذؼاٌٛا شثخٚ طا١مٌا خاثشا ٍٝػ يذرعا ذل ٝؼفاشٌا ْا ٍُػاٚ ا١ذٛىع اػاّظا. Pembahasan Ke - 11 IJMA'
Ijma' menurut bahasa adalah kesepakatan atau konsensus. Sedangkan menurut pengertian istilah, Ijma berarti kesepakatan umat islam setelah wafatnya Nabi SAW. pada suatu masa terhadap satu dari beberapa perkara atau permasalahan. Ijma' menurut jumhur ulama' adalah hujjah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW.:
حػاّعٌا ٍٝػ الله ذ٠ٚ حٌلاؼٌا ٍٝغ ٟرِا غّرعذ لا "
ٞزِشرٌا ٗظشخا "
Artinya: “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Pertolongan Allah atas jamaah.” Ijma' bisa atau sah terjadi dengan ucapan sebagian ulama' dan perbuatan sebagian yang lain, tersiarnya kabar mengenai perkataan atau perbuatan tersebut. Adapun sikap diamnya sebagian ulama' yang lain terhadap terjadinya kesepakatan itu disebut dengan ijma‟ sukutiy. Para ulama' telah bersepakat bahwa sesuatu yang biasa keluar dari dubur (anus) dan qubul (kelamin) yaitu kencing dan buang air besar adalah membatalkan wudhu.
Perlu juga diketahui bahwa imam Syafi'i RA. telah menetapkan qiyas dan hadits ahadd untuk kegiatan penetapan (istinbat) hukum, sebagaimana telah dilakukan oleh sebagian sahabat dan tanpa adanya pengingkaran dari sahabat yang lain. Dengan demikian, hal ini juga dinamakan ijma' sukutiy. ﴾ ششػ ٝٔاصٌا سؽثٌّا ﴿ طا١مٌا ٝف طعؼ طا١مٌا . ٌٝاؼذ الله يال " ساظتلاا ٌٝٚأ ا٠ اٚشثرػاف " حغٌ طا١مٌا : إّٙ١ت جاٚاغٌّا ٍُؼ١ٌ شخأت ءٟشٌا ش٠ذمذ . ٗت ٗذسذل ٞا عاسزٌات بٛصٌا دغل يٛمذ اؼلاططاٚ : ُىؽٌا ٝف اّٙؼّعذ حٍؼت ًطلاا ٌٝا عشفٌا دس . َاؼطٌا غِاعت اتشٌا ٝف شثٌا ٍٝػ صسلاا طا١مو . حؼتسا ٗٔاوساٚ : عشفٌا , ًطلاا , ًطلاا ُىؼ , ًطلاا ُىؼ حٍػ . َاغلا حشلاش ٛ٘ٚ : ۱. ٌٝاؼذ الله يال .ءاز٠ءلاا حٍؼت ُ٠شؽرٌا ٝف ٓ٠ذٌاٌٍٛ ف١فأرٌا ٍٝػ بشؼٌا طا١مو .ُىؽٌٍ حثظِٛ ٗ١ف حٍؼٌا ْاو اِ ٛ٘ٚ حٍؼٌا طا١ل " فا اٌّٙ ًمذ لاٚ " ٢.ُىؽٌٍ حثظِٛ ٓىذ لاٚ ُىؽٌا ٍٝػ حٌلاد ٗ١ف حٍؼٌا ْاو اِ ٛ٘ٚ حٌلاذٌا طا١ل. بٛظٚ ٝف غٌاثٌا ياِ ٍٝػ ٝثظٌا ياِ طا١مو َاذ ياِ ٗٔا غِاعت ٗ١ف جاوضٌا. ٍٝػ ةع٠ ٗٔاف طؽٌا ٍٝػ اعا١ل ٗ١ف حف١ٕؼ ٛتا ٗت يال اّو ٟثظٌا ياِ ٝف ةع٠لا : يام٠ ْا صٛظٚ ٟثظٌا ٍٝػ ةع٠لاٚ غٌاثٌا ٣. ْاغٔلاا ٓ١ت ْاّؼٌا ٝف ددشِ ٗٔاف فٍذا ارا ذثؼٌا ٟف اّو .اٙثش اّ٘شصوات ٓ١ٍطلاا ٓ١ت ددشٌّا عشفٌا قاؽٌا ٛ٘ٚ ٗثشٌا طا١ل ً١ٌذت شؽٌا ِٓ اٙثش شصوا ياٌّات ٛ٘ٚ ٗرّ١ل ٗ١ٍػ ةع١ف ياِ ٗٔا حّ١ٙثٌا ٓ١تٚ صاظمٌا ٗفٍذا ِٓ ٍٝػ ةع١ف ِٟدا ٗٔا ِٓ شؽٌا
ٗرّ١ل ِٓ ضمٔ اّت ٖؤاضظأٚ ّٓؼ٠ٚ فلٛ٠ٚ زسٛ٠ٚ عاث٠ ٗٔا. Pembahasan Ke - 12
QIYAS
Qiyas adalah hujjah. Allah SWT. berfirman QS. al-Hasyr (59):2.
Artinya: “…Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”
Al-Qiyas (طا١مٌا) menurut bahasa adalah mengukur atau memperkirakan sesuatu atas sesuatu yang lain untuk mengetahui persamaan diantara keduanya, seperti mengukur pakaian dengan lengan. Sedangkan menurut istilah, qiyas berarti mengembalikan hukum cabang (far') kepada hukum asal karena adanya „illat (alasan) yang mempertemukan keduanya dalam hukum. Seperti menqiaskan beras terhadap gandum dalam harta ribawiy dengan titik temu berupa keduanya sama-sama makanan pokok.
Rukun Qiyas ada empat yaitu: 1) far',
2) asal,
3) hukum asal, dan 4) illat hukum asal.
Macam-macam qiyas, di bagi menjadi tiga: a. Qiyas al-illat
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menetapkan hukum. Seperti menqiyaskan memukul dengan ucapan yang tercela kepada kedua orang tua dalam keharamannya dengan alasan menyakitkan hati orang tua. Allah berfirman QS. Al-Isra' (17):23.
...ح٠لاا
Artinya: “…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah".” b. Qiyas al-dilalah
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menunjukkan pada hukum akan tetapi illat tersebut tidak menetapkan pada hukum. Seperti menqiyaskan harta anak kecil dengan harta orang dewasa dalam kewajiban zakat dengan adanya titik temu bahwa harta anak kecil termasuk harta yang sempurna (al-mãl al-tãmm). Boleh juga mengatakan tidak wajib zakat -seperti yang dikatakan Abu Hanifah- dengan menqiyaskan pada haji yang mana, haji wajib bagi orang dewasa adapun anak kecil tidak wajib untuk haji.
c. Qiyas al-syibh
Yaitu mempersamakan hukum cabang (far') yang masih diragukan antara dua asal dengan mengambil keserupaan yang lebih banyak dari asal tersebut. Contohnya dalam pembahasan budak yang dibunuh, apakah sipembunuh wajib dikenai hukum qishas karena budak juga termasuk manusia, ataukah cukup hanya dengan membayar ganti rugi dengan alasan adanya keserupaan budak dengan binatang, bahwa budak adalah harta. Dalam hal ini budak lebih banyak keserupaannya dengan binatang (harta) sebab, budak bisa diperjual-belikan, diwariskan, dan diwakafkan.
﴾ ششػ سٌاصٌا سؽثٌّا ﴿ ذ١ٍمرٌاٚ عاثذلااٚ داٙرظلاا ٝف