Hematothorax
Hematothorax
Oleh: Oleh: I
I Putu Putu Gede Gede Wisnu Wisnu Artanugraha Artanugraha 09701210320970121032 Franisus
Franisus !an"a#a !an"a#a 09701210330970121033
Pengu"i: Pengu"i:
dr$ %ade &'i (oga )harata* !+$),-)& dr$ %ade &'i (oga )harata* !+$),-)&
!.A!/ I% )/&AH
!.A!/ I% )/&AH
F-I- I/4!I.A! WA4%A&/WA 5 4!& !A6IWAI
F-I- I/4!I.A! WA4%A&/WA 5 4!& !A6IWAI
GIA(A4
GIA(A4
201
201
Laporan Kasus Laporan Kasus)A) I )A) I
P/&AHA P/&AHA Tr
Traumauma a tortoraks aks semsemakiakin n memeninningkagkat t sessesuai uai dendengan gan kemkemajuajuan an tratranspnsportortasi asi dandan kon
kondisdisi i sossosial ial ekoekonomnomi i masmasyayarakarakat. t. TrTraumauma a tortoraks aks terjterjadi adi hamhampir pir 50% 50% dardarii seluru
seluruh h kasus kecekasus kecelakaan dan melakaan dan merupakrupakan penyan penyebab kematiebab kematian terbesar (25%an terbesar (25%).). Data yang akurat mengenai trauma toraks di Indonesia belum pernah diteliti. Di Data yang akurat mengenai trauma toraks di Indonesia belum pernah diteliti. Di agia
agian edah !"#I$n edah !"#I$&#'&#'* pada tahun +,-+ did* pada tahun +,-+ didapatkapatkan 20% dari an 20% dari pasienpasien tra
trauma uma menmengengenai ai trautrauma ma tortoraks. aks. Di Di mmerierika ka diddidapaapatkatkan n +-0+-0.00.000 0 kemkematiaatiann pertahun
pertahun karena karena trauma. trauma. 25% 25% diantaranya diantaranya karena karena trauma trauma toraks toraks langsung. langsung. DiDi ustra
ustralia/ 5% dari traulia/ 5% dari trauma tumpuma tumpul mengenai ronl mengenai rongga torakgga toraks. Dengan s. Dengan adanyadanyaa tra
trauma uma padpada a tortoraks aks akaakan n menmeningingkatkatkan kan angangka ka momortalrtalitas itas padpada a paspasien ien dendengangan tr
trauaumama. . 'n'neueumomototorakraks/ s/ hehemamatotototoraraksks/ / kokontntususio io paparu ru dadan n 1l1laiail l chchesest t dadapapatt meningkatkan kematian 3-%/2%/54% dan 4,%. #mumnya pada trauma toraks/ meningkatkan kematian 3-%/2%/54% dan 4,%. #mumnya pada trauma toraks/ tra
trauma tumpuma tumpul lebih serinul lebih sering g terjterjadi dibaadi dibandindingkngkan an tratrauma tajamuma tajam. . *es*eskipkipunun dem
demikiikian an hanhanya +5% ya +5% dardari i seluseluruh traumruh trauma a tortoraks yang memeraks yang memerluklukan an tintindakdakanan bedah karena sebagian besa
bedah karena sebagian besar kasus (-0-5%) dapat ditatalar kasus (-0-5%) dapat ditatalaksana dengan tindakanksana dengan tindakan y
yanang g sesedederhrhanana/ a/ sesepepertrti i pepemamasasangngan an chchesest t tutubebe. . TTraraumuma a ththororak ak dadapapatt me
menynyebebababkakan n kekerurusasakakan n paparu ru yayang ng bebermrmakakna na kakarerena na akakan an memempmpenengagaruruhihi 6entilasi dan menyebabkan rasa nyeri hebat. agaimanapun juga mengatasi nyeri 6entilasi dan menyebabkan rasa nyeri hebat. agaimanapun juga mengatasi nyeri pada
pada pasien pasien dengan dengan trauma trauma toraks toraks tidak tidak hanya hanya membantu membantu meringankan meringankan keluhankeluhan tetapi juga mengurangi ser
tetapi juga mengurangi serta mencegah komplikasi sekunder.ta mencegah komplikasi sekunder.
)A) II
)A) II
.I6AA P!.A-A
.I6AA P!.A-A
AA.O%I &A FI!IOOGI 4OGGA .HO4A-! AA.O%I &A FI!IOOGI 4OGGA .HO4A-! Din
Dindinding g tortoraks aks (da(dada) da) secasecara ra anaanatomtomis is tertersusususun n dardari i kulkulit/ it/ 1asi1asia/ a/ otootot t daddada/a/ neuro6askular pada dinding dada serta kerangka dada. "erangka dada sendiri neuro6askular pada dinding dada serta kerangka dada. "erangka dada sendiri terdiri dari sternum/ +2 pasang tulang iga serta tulang ra7an iga/ dan 6ertebra terdiri dari sternum/ +2 pasang tulang iga serta tulang ra7an iga/ dan 6ertebra torakalis beserta diskus inter6ertebralis. 8tot dada terdiri atas dua bagian/ yaitu torakalis beserta diskus inter6ertebralis. 8tot dada terdiri atas dua bagian/ yaitu otot intrinsik yang membentuk dinding dada yang sesungguhnya dan serta otot otot intrinsik yang membentuk dinding dada yang sesungguhnya dan serta otot ekstrinsik yang berperan pada gerakan dada/ seperti otot ekstremitas superior/ otot ekstrinsik yang berperan pada gerakan dada/ seperti otot ekstremitas superior/ otot dinding abdomen dan punggung. 8tot intrinsik terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan dinding abdomen dan punggung. 8tot intrinsik terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan luar/ tengah dan dalam. 9apisan luar tersusun atas m.interkostalis eksternus dan luar/ tengah dan dalam. 9apisan luar tersusun atas m.interkostalis eksternus dan m.
m. 9e69e6atoatores res kokostarstarum/ um/ laplapisaisan n tentengah gah hanhanya ya dibdibententuk uk oleoleh h m.m.inteinterkorkostalstalisis int
internernus/ us/ sedasedangkngkan an laplapisan isan daldalam am disdisusuusun n oleoleh h m.im.intenterkorkostalstalis is intintimuimus/ s/ mm subkostalis dan m.trans6ersus kostalis. euro6askular pada dinding dada terletak subkostalis dan m.trans6ersus kostalis. euro6askular pada dinding dada terletak pada
pada sulkus sulkus kosta kosta di di antara antara m.interkostalis m.interkostalis internus internus dan dan m. m. interkostalis interkostalis intimus.intimus. ongga dada diatas dibatasi oleh thoracic inlet yaitu bidang yang dibatasi oleh ongga dada diatas dibatasi oleh thoracic inlet yaitu bidang yang dibatasi oleh tulang belakag/ iga I dan manubrium sternum/ sedangkan diba7ah rongga dada tulang belakag/ iga I dan manubrium sternum/ sedangkan diba7ah rongga dada dipisahkan dari rongga perut oleh dia1ragma. !ungsi dinding dada tidak hanya dipisahkan dari rongga perut oleh dia1ragma. !ungsi dinding dada tidak hanya
me
melilindndunungi gi isisi i rorongnggaga d
daadda a nnaammuun n jjuuggaa m
meennyyeeddiiaakkaan n 11uunnggssii mek
mekanianik k perperna1na1asanasan. . IsiIsi rongg
rongga a dada adalah dada adalah orgaorgann 6
6iittaal l ppaarru u ppaarru u ddaann jantung.
jantung.++
'erna1asan 'erna1asan berlangsung
berlangsung dengandengan bantuan
bantuan gerak gerak dindingdinding d
daaddaa. . ::aarriinnggaan n ppaarruu dibentuk oleh jutaan al6eolus yang mengembang dan mengempis sesuai dengan dibentuk oleh jutaan al6eolus yang mengembang dan mengempis sesuai dengan men
mengemgembanbang g dan dan menmengecgecilnilnya ya ronrongga gga daddada. a. InsInspirpirasi asi terjterjadi adi akiakibat bat adaadanynyaa ko
menyebabkan rongga dada membesar dan paru mengembang sehingga udara terhisap ke dalam al6eolus melalui trakea dan bronkus. &ebaliknya/ bila m.interkostalis berelaksasi/ dinding dada mengecil kembali sehingga udara terdorong keluar. &ementara itu/ karena tekanan intra abdomen/ dia1ragma akan naik ketika m.interkostalis tidak berkontraksi. "etiga 1aktor ini/ yaitu kelenturan dinding dada/ kekenyalan jaringan paru/ dan tekanan intraabdomen/ menyebabkan ekspirasi jika m.interkostalis dan dia1ragma kendur sehingga keadaan inspirasi tidak bertahan. Dengan demikian ekspirasi merupakan kegiatan yang pasi1. +
:ika terjadi gagal na1as karena otot perna1asan tidak bekerja/ 6entilasi paru dapat dilakukan dengan tiupan udara yang cukup kuat agar paru mengembang bersamaan dengan mengembangnya dada. "ekuatan tiupan harus melebihi ketiga 1aktor diatas. ;al ini dilakukan pada 6entilasi dengan respirator atau pada resusitasi dengan na1as buatan dari mulut ke mulut. 2
danya lubang didinding dada atau pleura 6iseralis akan menyebabkan udara masuk rongga pleura sehingga pleura 6iseralis terlepas dari pleura parietalis dan paru tidak lagi mengikuti gerak na1as dinding dada dan dia1ragma. ;al ini terjadi pada pneumotoraks. :ika dipasang <&D bertekanan negati1/ udara akan terisap sehingga paru dapat dikembangkan lagi. 2
.4A%A .HO4A-!
'ada trauma dada/ penyebab cedera harus ditentukan dahulu/ kemudian baru ditentukan macamya/ entah cedera tumpul atau tajam. Trauma dada/ yang umumnya merupakan trauma tumpul/ kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Trauma tajam terutama oleh tikaman dan tembakan. edera dada sering disertai dengan cedera perut/ kepala dan ekstremitas sehingga merupakan cedera majemuk. +
Tindakan darurat yang diperlukan ialah pembebasan jalan na1as (air7ay)/ pemberian na1as buatan dan 6entilasi ( breathing )/ dan pemantauan akti1itas jantung serta peredaran darah (circulation). edera dada yang memerlukan tindak
darurat adalah obstruksi jalan na1as/ hematotoraks besar/ tamponade jantung/ tension pneumotoraks/ flail chest, open pneumotoraks dan kebocoran udara trakea bronkus. &emua kelainan ini menyebabkan ga7at dada akut yang analog dengan
ga7at perut akut/ dalam arti diagnosis harus ditentukan secepat mungkin dan penanganan dilakukan segera untuk mempertahankan perna1asan/ 6entilasi paru dan pendarahan. &ering kali tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan pasien bukan merupakan tindakan operati1 seperti pembebasan jalan na1as/ aspirasi rongga perikard dan penutupan sementara luka dada. Tindakan darurat juga mancakup pungsi rongga dada pada tension pneumotoraks/ aspirasi homotoraks massi1 dan aspirasi perikard jika hematoperikard menyebabkan tamponade jantung. kan tetapi/ kadang diperlukan torakotomi darurat. 9uka tembus dada harus segera ditutup dengan jahitan kedap udara. +
&elanjutnya harus cepat dicari diagnosis/ kelainan yang sering terjadi pada trauma thoraks adalah Tension Pneumothoraks, Simple Pneumotoraks, Hemotoraks, Pulmonary Contusio/ "olaps 'aru. Dimana kelainan dapat dibedakan berdasarkan tabel. 3
'emeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah 'emeriksaan ontgen dan #&= !&T. 'emeriksaan ontgen merupakan pemeriksaan yang cepat/ mudah/ dan dengan biaya yang murah untuk mendiagnosis kelainan rongga thoraks. 'ada saat ini #&= !&T ( Focussed Assesment in Sonography on Trauma) harus menjadi pilihan pertama di #nit =a7at Darurat/ karena lebih cepat dan non in6asi1. ontgen toraks pada sikap penderita duduk dengan arah sinar mendatar agar permukaan cairan/ jika ada/ akan tampak. ila keadaan umum tidak memungkinkan penderita duduk/ ia dibaringkan pada sisi kanan atau kiri. ntibiotik diberikan pada luka tembus. +
'ada penanganan trauma dada/ penanganan operati1 merupakan indikasi jika didapati trauma tembus/ dan eksplorasi rongga dada hendaknya dilakukan jika ada dugaan penetrasi ke rongga pleura. &umber perdarahan harus didiagnosis seakurat mungkin/ seperti trauma pada dinding rongga dada/ trauma pada paru/
mediastinum/ dan dia1ragma/ serta sumber perdarahan lainnya. >ksplorasi rongga dada juga sangat berguna dalam penanganan hematotoraks dan kebocoran udara yang persisten/ karena jika keadaan tersebut tidak ditangani dengan baik/ angka kematian/ 7aktu tinggal di rumah sakit dan sekuele akan meningkat. &elain torakotomi kon6ensional/ video-assisted thoracic surgery (?T&) dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengoreksi keadaan diatas. +
&etelah keadaan stabil/ perlu dilakukan secondary survey untuk mencari kelainan lain yang mnyertai seperti fraktur iga, flail chest, kontusio paru, simple pneumotoraks, simple hemotoraks. Dapat Dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk mencari kelainan lain seperti T scan Thoraks/ ronkoscopy, Angiogram, !esophagoscopy . 3
Torakotomi dilakukan dengan beberapa indikasi/ diantaranya indikasi utama/ indikasi relati1 dan kontraindikasi. Indikasi utama adalah trauma tajam dengan saksi mata cardiac arrest / hipotensi ('@A0mm;g) dan trauma tumpul hipotensi ( '@A0mm;g) dan pengeluaran yang cepat dari <&D ( B+500ml). Indikasi elati1 adalah trauma tajam tanpa saksi mata traumatic arrest, trauma tajam bukan didada tapi menyebabkan traumatic arrest, Trauma tumpul dengan traumatic arrest. "ontraindikasi trauma tumpul tanpa traumatic arrest, trauma tumpul multiple/ cedera kepal berat. 3
/+idemiologi
Trauma toraks semakin meningkat sesuai dengan kemajuan transportasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data yang akurat mengenai trauma toraks di Indonesia belum pernah diteliti. Di agian edah !"#I$&#'* pada tahun +,-+ didapatkan 20% dari pasien trauma mengenai trauma toraks. Di merika didapatkan +-0.000 kematian pertahun karena trauma. 25% diantaranya karena trauma toraks langsung. Di ustralia/ 5% dari trauma tumpul mengenai rongga toraks. Dengan adanya trauma pada toraks akan meningkatkan angka mortalitas pada pasien dengan trauma. 'neumotoraks/ hematotoraks/ kontusio paru dan 1lail
chest dapat meningkatkan kematian 3-%/2%/54% dan 4,%. +
Trauma pada toraks dapat dibagi 2 yaitu oleh karena trauma tumpul dan trauma tajam. 'enyebab trauma toraks tersering adalah oleh karena kecelakaan kendaraan bermotor (43CA-%). Dalam trauma akibat kecelakaan/ ada lima jenis tabrakan (impact) yang berbeda/ yaitu depan/ samping/ belakang/ berputar dan terguling. 8leh karena itu harus dipertimbangkan untuk mendapatkan ri7ayat yang lengkap karena setiap orang memiliki pola trauma yang berbeda. 'enyebab trauma toraks oleh karena trauma tajam dibedakan menjadi 3/ berdasarkan tingkat energinya yaitu trauma tusuk atau tembak dengan energi rendah/ berenergi sedang dengan kecepatan kurang dari +500 kaki per detik (seperti pistol) dan trauma toraks oleh karena proyektil berenergi tinggi (senjata militer) dengan kecepatan melebihi 3000 kaki per detik. 'enyebab trauma toraks yang lain oleh karena adanya tekanan yang berlebihan pada paruCparu bisa menimbulkan pecah atau pneumotoraks (seperti pada scuba). +
Gangguan Anatomi &an Fisiologi A8iat .rauma .ora8s
kibat trauma daripada toraks/ ada tiga komponen biomekanika yang dapat menerangkan terjadinya luka yaitu kompresi/ peregangan dan stres. "ompresi terjadi ketika jaringan kulit yang terbentuk tertekan/ peregangan terjadi ketika jaringan kulit terpisah dan stres merupakan tempat benturan pada jaringan kulit yang bergerak berhubungan dengan jaringan kulit yang tidak bergerak. "erusakan anatomi yang terjadi akibat trauma dapat ringan sampai berat tergantung besar kecilnya gaya penyebab terjadinya trauma. "erusakan anatomi yang ringan berupa jejas pada dinding toraks/ 1raktur kosta simpel. &edangkan kerusakan anatomi yang lebih berat berupa 1raktur kosta multiple dengan komplikasi/ pneumotoraks/ hematotoraks dan kontusio paru. Trauma yang lebih berat menyebabkan perobekan pembuluh darah besar dan trauma langsung pada jantung. kibat kerusakan anatomi dinding toraks dan organ didalamnya dapat menganggu 1ungsi 1isiologi dari sistem perna1asan dan sistem kardio6askuler. =angguan sistem perna1asan dan kardio6askuler dapat ringan sampai berat tergantung kerusakan anatominya. =angguan 1aal perna1asan dapat berupa gangguan 1ungsi 6entilasi/ di1usi gas/ per1usi dan gangguan mekanik$alat
perna1asan. &alah satu penyebab kematian pada trauma toraks adalah gangguan 1aal jantung dan pembuluh darah. +
PA.AH .AG IGA
Tulang iga umumnya patah di daerah terjadinya benturan atau di daerah yang struktur tulangnya lemah/ biasanya di sudut posterior. Tulang iga ke sampai ke , adalah yang paling sering terjadi 1raktur. !raktur iga dapat terjadi akibat penetrasi yang menyebabkan hematopneumotoraks dan darah yang dihasilkan
oleh setiap patahan tulang iga dapat mencapai +00+50m9. !raktur iga ke+ dan ke2 dapat terjadi akibat benturan dengan yang besar karena kedua tulang iga tersebut dilindungi oleh otototot yang cukup tebal. Tempat yang paling sering terjadi 1raktur pada iga ke+ adalah di daerah sulkus subkla6ia dan di bagian posterior. *orbiditas dan mortalitas 1raktur iga berhubungan dengan penyebab
cedera dan jumlah tulang iga yang patah dan rerata komplikasi akan meningkat seiring dengan jumlah tulang iga yang patah. 'osisi 1raktur iga di dalam rongga toraks juga menentukan penyebab terjadinya cedera/ seperti 1raktur iga ba7ah lebih banyak menyebabkan gangguan pada organ abdomen dibandingkan parenkim paru. !raktur iga ba7ah kiri dapat merusak limpa (risiko 222-%)/ 1raktur iga ba7ah kanan dapat merusak hati (risiko +,54%) dan 1raktur iga ke++ dan ke+2 dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. !raktur iga merupakan masalah besar pada paru dengan insidens -,% yang berupa hematothora/ pneumotoraks/ dan kontusio paru. 2
"omorbiditas mendapatkan 1raktur iga meningkat sesuai dengan pertambahan umur/ seperti pada orang tua dengan umur lebih dari 45 tahun risiko
mortalitinya mencapai 5 kali dan juga meningkatkan insidens terjadinya pneumonia. *ortalitas dan risiko pneumonia berhubungan dengan jumlah tulang iga yang patah karena setiap penambahan tulang iga yang patah akan meningkatkan mortalitas dan pneumonia sekitar 20%. 8rang tua dengan 1raktur iga yang disertai penyakit kardiopulmoner akan mudah mendapatkan komplikasi yang berakibatpada meningkatnya lama masa ra7at dan masuk rumah sakit kembali. Insidens 1raktur iga pada anakanak lebih rendah karena tulang iga
anakanak masih cukup lentur dan mekanikme benturan dengan tenaga besar yang dapat menyebabkan 1raktur iga pada anakanak. +
!raktur iga umumya terjadi akibat kompresi pada rongga toraks. !raktur seringkali terjadi pada putaran 40 derajat dari sternum karena di daerah ini merupakan lokasi yang lemah dibandingkan lokasi lainnya. !raktur iga dapat terjadi segmental dengan salah satu patahan pada posisi 40 derajat dan lainnya di bagian posterior. +
Diagnosis patah tulang iga ditentukan berdasarkan gejala dan tanda nyeri lokalE nyeri lokal yang timbul berupa nyeri kompresi kiriCkanan/ mukaCbelakang dan nyeri pada gerak na1as. +
'atah tulang iga dapat berupa patah 1raktur tunggal atau multiple. :ika multiple/ bentuk dan gerak dada mungkin masih memadai namun mungkin pula tidak/ contohnya perna1asan paradoksal pada 1lail chest. 'ada patah tulang iga multiple/ dinding dada biasanya masih stabil. kan tetapi jika beberapa iga patah di dua tempat/ suatu segmen dinding dada akan terlepas dari kesatuannya. 'atah tulang iga segmental ini menimbulkan 1lail chest. +
iasanya penatalaksanaan 1raktur iga seperti stabilisasi dengan pembedahan/ tidak langsung pada 1rakturnya karena 1raktur iga cenderung
sembuh dengan hasil yang baik dalam +0 sampai + hari. Terapi ditujukan kepada pencegahan terjadinya masalah gangguan respirasi. "erusakan paru dapat terjadi akibat rasa nyeri yang mengganggu pulmonary toilet serta kontusio paru atau kombinasi keduanya. Terapi inisial yang diberikan berupa mengatasi rasa nyeri yang timbul/ 1isioterapi dada dan mobilisasi. *odaliti untuk mengatasi rasa nyeri berupa terapi sistemik dengan memberikan narkotik/ obat antiin1lamasi nonsteroid (8I&) dan terapi regional seperti blok tulang iga setempat/ pemasangan chest tube dan analgesia
Dua jenis 1iksasi untuk 1raktur iga . a.:udet 'lates b.&ancheF 'lates
epidural. asa nyeri juga dapat diatasi dengan pemberian narkotik intra6ena/ tetapi dapat menyebabkan sedasi/ penekanan batuk dan depresi pernapasan yang mempengaruhi pulmonary toilet. ;al ini sebaiknya dihindari pemakaiannya pada orang tua karena dapat menyebabkan pneumonia obstruksi. nalgesia epidural banyak digunakan sebagai terapi regional untuk mengatasi rasa nyeri pada dinding dada. *eskipun in6asi1 tindakan ini lebih e1ekti1 dalam memperbaiki pulmonary toilet. *odalitas regional lain untuk mengatasi rasa nyeri regional adalah dengan blok ner6us interkostal/ analgesia intrapleura melalui chest tube dan blok para6ertebral toraks. 3
!raktur iga multipel dapat menyebabkan rasa nyeri/ atelektasis dan gagal napas. Diagnosis klinis 1raktur iga didapatkan dari kelainan dada/ pergerakan 1ragmen/ ekimosis dan juga pemeriksaan radiologi. yeri timbul pada saat inspirasi dan pasien berusaha untuk mengurangi gerakan rongga dada yang berakibat pada hipo6entilasi. *engurangi rasa nyeri juga menyebabkan berkurangnya batuk dan dan napas dalam yang berakibat pada retensi sputum/
atelektasis dan penurunan kapasitas residu 1ungsional. +
'emeriksaan 1oto toraks harus dilakukan/ bukan hanya untuk mengidenti1ikasi jumlah dan beratnya 1raktur iga/ tetapi juga untuk menilai apakah ada pneumotoraks/ hematothora ataupun e1usi pleura. nalgesia yang adekuat dan 1isioterapi merupakan hal yang penting dalam mencegah komplikasi+.
erkurangnya rasa nyeri akan memperbaiki pola pernapasan dan e1ekti1itas batuk. :ika batuk tidak adekuat maka dapat dibantu dengan aspirasi kateter atau bronchial toilet dengan bronkoskopi dan jika diperlukan dapat dilakukan intubasi. +
'enanganan 1raktur iga pada dasarnya masuk dalam penatalaksanaan trauma toraks. Tahap penilainan keadaan pasien dimulai dari primary sur6ey/ tindakan resusitasi/ secondary sur6ey/ pemeriksaan penunjang (darah dan 1oto toraks) dan penilaian skor trauma. &etelah itu dilakukan penilaian status trauma toraks/ mulai dari pengkajian (saturasi 82/ pulse oimetry/ endtidal 82/ 1oto toraks/ !&T ultrasound/ gas darah arteri)/ primary sur6ey (obstruksi jalan napas/ pneumotoraks tension/ pneumotoraks terbuka/ hematothora/ 1lail chest/
tamponade jantung)/ secondary sur6ey (1raktur iga/ kontusio paru/ kerusakan trakeobronkial/ eso1agus/ dia1ragma/ aorta dan jantung). 3
H/%A.O.HO4A
;ematothora tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah didinding dada. 9uka dipleura 6iseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Didalam rongga dada/ dapat terkumpul banyak darah tanpa gejala yang menonjol. "adang/ gejala dan tanda anemia atau syok hipo6olemik menjadi keluhan dan gejala yang pertama muncul. +
Diagnosis banding hematothora adalah semua kelainan yang menyebabkan perdarahan dari sumber nontrauma dirongga dada. +
;ematothora kecil/ yaitu yang tampak sebagai bayangan kurang dari +5% dari 1oto ontgen/ cukup diobser6asi dan tidak memerlukan tindakan khusus. ;ematothora sedang/ yaitu yang tampak sebagai bayangan yang menutup +5 35 % pada 1oto ontgen/ ditangani dengan pungsi dan tran1usi darah. 'ada pungsi/ sedapat mungkin semua cairan dikeluarkan. :ika ternyata terjadi kambuhan/ dipasang <&D. ;ematothora besar ( B35%)/ ditangani dengan <&D dan tran1usi. <&D dipasang serendah mungkin pada dasar rongga toraks untuk mengosongkan rongga pleura dan memantau perdarahan. +
Penanganan
Torakostomi merupakan suatu tindakan membuat lubang pada dinding dada di daerah interkostal ? di anterior garis mid aksila pada sisi toraks yang patologis/ kemudian dipasang tube elastik dan di1iksasi/ untuk mengeluarkan cairan/ darah atau udara dari ka6um pleura/ baik secara akti1 maupun pasi1. Tindakan ini dikerjakan untuk menangani kasusCkasus pasien dengan e1usi pleura/ hematotoraks/ pneumotoraks/ silotoraks/ post operasi torakostomi dan empiema/ mendapatkan 5% indikasi pemasangan toraks tube pada pasien trauma oleh karena pneumotoraks/ 20% oleh karena hematotoraks/ +-% oleh karena e1usi pleura/ 2% oleh karena 1raktur kosta multipel dan 4% oleh karena berbagai sebab3.
'ada pemasangan chest tube dapat timbul komplikasi. "omplikasi yang tersering berupa perdarahan dan hematothora yang bersumber dari robeknya arteri interkostal/ per1orasi organ 6iseral (seperti paruCparu/ jantung/ dia1ragma/
atau organ intra abdomen)/ per1orasi struktur pembuluh darah besar seperti aorta atau 6ena subkla6ia/ neuralgia interkostal oleh karena trauma pada neuro6askuler/ subkutaneus empisema/ reekspansi oedem pulmonary/ in1eksi luka insisi/ pneumonia dan empiema. Disamping itu dapat timbul sumbatan berulang pada chest tube oleh karena bekuan darah/ pus atau debris/ atau posisi tube yang tidak benar sehingga 1ungsi drainase tidak e1ekti1. +
Thorakotomi pada hemotoraks dikerjakan apabila terjadi hemotoraks massi6e/ inisial <&D lebih dari +000 cc atau perdarahan berlanjut dengan 200 cc tiap 2 jam. +
F4A-.4
=ejala klasik 1raktur adalah adanya ri7ayat trauma/ rasa nyeri dan bengkak dibagian tulang yang patah/ de1ormitas ( angulasi/ rotasi/ diskrepansi )/ nyeri tekan/ krepitasi/ gangguan 1ungsi muskuloskeletal akibat nyeri/ putusnya kontinuitas tulang/ dan gangguan neuro6askular. pabila gejala klasik tersebut ada/ secara klinis diagnosis 1raktur dapat ditegakkan 7alaupun jenis kon1igurasi 1rakturnya belum dapat ditentukan.
'emeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan 1ragmen 1raktur. !oto ontgen harus memeiliki beberapa syarat/ yaitu letak patah tulang harus diletakkan di bagian pertengahan 1oto dan sinar harus menembus tempat ini secara tegak lurus. ila sinar menembus miring/ gambar menjadi samar/ kurang jelas dan berbeda dari kenyataan. ;arus selalu dibuat dua lembar 1oto ontgen dengan arah yang saling tegak lurus. 'ersendian proksimal maupun distal harus tercakup dalam satu 1oto.bila ada kesangsian atas adanya patah tulang/ sebaiknya dibuat 1oto yang sama dari ekstremitas kontralateral yang sehat untuk perbandingan. ila tidak didapatkan kepastian tentang adanya kelainan seperti
1issura sebaiknya 1oto diulang seminggu setelahnya. etak akan menjadi nyata karena hiperemia setempat disekitar tulang yang retak akan tampak sebagai dekalsi1ikasi. 8steoporosis pasca trauma merupakan tanda ontgennologik normal pasca trauma yang disebabkan oleh hiperemia lokal proses penyembuhan.
'emeriksaan T &can dan *I kadang diperlukan pada kasus 1raktur 6ertebra yang disertai gejala neurologis. 5
F4A-.4 -AI-A
!raktur kla6ikula sering terjadi pada orang de7asa maupun anak. !raktur ini paling sering terjadi akibat jatuh dengan bertumpu pada tangan. =aya disalurkan ke lengan/ sendi bahu dan selanjutnya ke sendi akromiokla6ikular. "arena sendi sternokla6ikular ter1iksasi/ gaya ini mematahkan tulang kla6ikula C biasanya pada di tengah kla6ikula. &etelah terjadi 1raktur kla6ikula/ otot sternocleidomastoid akan meng ele6asi bagian medial dari tulang. 8tot trapeFius tidak dapat menahan bagian lateral oleh karena berat dari ekstremitas atas dan akan terjadi G shoulder
dropH. &elain itu/ bagian lateral dari kla6ikula akan ditarik ke medial oleh otot pectoralis mayor. Tumpang tindih bagian tulang akan mengakibatkan kla6ikula
yang memendek. +
'ada de7asa dan anak/ 1raktur kla6ikula biasanya ditangani secara konser6ati1 tanpa reposisi yaitu dengan pemasangan mitela. eposisi tidak diperlukan apalagi pada anak/ karena malunion kla6ikula jarang menyebabkan gangguan 1ungsi maupun kekuatan bahu. "alus yang menonjol kadang secar akosmetik menganggu meskipun lama kelamaan akan hilang dengan sendirinya. ang penting pada penggunaan mitela adalah letak tangan lebih tinggi daripada siku. 'emberian analgetik disertai latihan gerak jari dan tangan langsung dilakukan pada hari pertama diikuti dengan latihan gerak bahu setelah beberapa hari. pabila terjadi nonCunion dilakukan 8I!. +
)A) III
APO4A -A!!
3$1$ Identitas Pasien
ama y. I* #sia +, tahun :enis kelamin 'erempuan lamat :alan "artini 'ekerjaan
&uku
angsa Indonesia
&tatus elum *enikah o. ekam medis +3,40
Tanggal *& ++ pril 20+4 3$2$ Anamnesis
"eluhan #tama luka tusuk pada punggung kanan i7ayat penyakit sekarang
'asien datang sadar diantar oleh temannya ke #=D &#D *imika dengan keluhan luka tusuk pada punggung kanan setelah ditusuk dengan badik J + jam &*&. 'asien mengeluh sesak dan nyeri dada sebelah
kanan saat berna1as. i7ayat pingsan dan muntah tidak ada.
*8I
Tusukan langsung punggung kanan dengan badik. i7ayat penyakit dahulu
'asien tidak pernah memiliki keluhan seperti yang dirasakan saat ini. 'asien juga tidak ada mempunyai keluhan sesak napas sebelumnya. i7ayat penyakit sistemik disangkal pasien seperti D* dan hipertensi. i7ayat pengobatan C
i7ayat sosial C
'asien merupakan seorang remaja yang kesehariannya lebih banyak berkumpul dengan teman temannya terkadang sambil mengkonsumsi
minuman keras. 3$3$ Pemeri8saan ;isi8
'rimary &ur6ey
A clear (pasien dapat berbicara)
) spontan/ respirasi rate 2- $menit/ &p82 ,A% udara ruangan
&tatus lokalis regio thora
C I simetris/ jejas (K) regio thora posterior detra medial setinggi I& 5 / edema (C)/ perdarahan akti1 (C)/ de1ormitas (C)
C ' nyeri tekan (K)/ 6ocal 1remitus L$/ edema (C)/ krepitasi (C) C ' redup (setinggi I& 5)/ hipersonor (I& +C5) $ sonor
rhonki (C$C)/ 7heeFing (C$C)
cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C)
ssessment ?ulnus ictum regio thora posterior dekstra ;ematopneumothora dekstra
'enatalaksanaan
C hest tube dengan inisial produksi 500 cc C a7at luka/ jahit luka
>6aluasi thora
espirasi rate 2-$menit &p82 ,A% dengan 82liter permenit 6ia
&tatus lokalis regio thora
C I simetris/ jejas (K) regio thora posterior detra medial setinggi I& 5 / edema (C)/ perdarahan akti1 (C)/ de1ormitas (C)/ terpasang <&D 500 cc
C ' nyeri tekan (K)/ 6ocal 1remitus L(perbaikan)$/ edema (C)/ krepitasi (C)
C ' redup (setinggi I& 4)/ sonor $ sonor
C pulmo suara perna1asan kanan membaik/ 6esikuler (C$C)/ rhonki (C$C)/ 7heeFing (C$C)
cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C)
ssessment ?ulnus ictum regio thora posterior dekstra ;ematopneumothora dekstra post chest tube < Tekanan darah -+$50 mm;g
adi ++5 $menit
ssessment syok hipo6olemik
'enatalaksanaan medical resusitasi loading 9 +500 liter >6aluasi Tekanan darah +00$A0 mm;g
adi ++2$menit
ssessment syok hipo6olemik rapid response & lert &econdary &ur6ey ?& 4 =& >?5*4 &tatus general "epala normochepaly
*ata an C$C/ re1lek pupil K$K isokor diameter 2/5mm T;T dalam batas normal
9eher dalam batas normal Thora M status lokalis
bdomen dist (C)/ jejas (C)/ hematome (C)/ bising usus (K)/ de1ans (C) >kstremitas hangat/ T @ 2 detik
&tatus lokalis
egio thora posterior dekstra
C 9 luka tusuk (K) 2/55cm/ perdarahan akti1 (C)/ de1ormitas (C)/ edema (C)/
3$$ Assessment
?ulnus ictum regio thora posterior dekstra ;ematopneumothora dekstra post chest tube 3$=$ Pemeri8saan Penun"ang
'ada pasien ini dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu 1oto thora ' (sebelum N sesudah chest tube)/ pemeriksaan darah lengkap/ hitung jenis/ DD/ =olongan darah.
!oto Thora ' (sebelum chest tube)
"esan
C ir 1luid le6el setinggi I& 5 hemithoraks dekstra
C =ambaran hiperlusen dengan gambaran corakan bronko6askuler hilang setinggi I& +C5
C &inus kosto1renikus dan hemidia1ragma dekstra terselubung
"esan
C Terpasang chest tube pada hemithora dekstra ujung setinggi I& 5 C orakan bronko6askuler O hemithoraks dekstra
C &inus kosto1renikus dan hemidia1ragma dekstra terselubung
'emeriksaan 9aboratorium D9
DD (C) negati1 =olongan darah 8 3$>$ &iagnosis
?ulnus ictum regio thora posterior dekstra ;ematopneumothora dekstra post chest tube &yok hipo6olemik rapid response
3$7$ Penatala8sanaan
C 822 lpm 6ia
C I?!D 9 2000 cc$2 jam C Inj. ntrain + gr$- jam $I?
C Inj. sam Traneksamat + gr$- jam$I? C Inj. e1triaon +gr$- jam$I?
6enis Pemeri8saan Hasil -eterangan !atuan ilai ormal < -/5 ormal +03$P9 5/0 C +0/0
• 9* 2/52 ormal +03$P9 0/, C 5/2 • ># /A4 ormal +03$P9 +/ C -• *88 0/-- ormal +03$P9 0/+4 C + • >8& 0/2A ormal +03$P9 0/05 C 0/ • &8 0/02 ormal +03$P9 0 C + • 9*% 2,/- ormal % 20 C 0 • ># 54/ ormal % 50 C A0 • *88 +0/ ;igh % 2 C -• >8& 3/2 ;igh % +C 3 • &8 0/2 ormal % 0 C + /25 ormal +04$P9 /0 C 5/5 ;= +0/0 9o7 g$d9 ++/5 C +4/5
;T 3+/A 9o7 % 34 C A
*? A/4 9o7 19 -0 C ,A
*; 23/5 9o7 'g 2-
3-*; 3+/5 9o7 g$d9 32 34
C encana trans1usi ' + unit C 8bser6ast TT? dan produksi <&D
3.8. Follo' u+
Tanggal &8 'lanning
+2$-$20+ & nyeri dada (K)/ nyeri saat napas (K)/ 8 6ital sign TD ++5$- mm;g 22 $menit &p82 ,, % adi ,2 $menit T a 34/+0 !tatus general : "epala normocephali *ata an C$C/ ikt C$C/ p K$K isokor T;T dalam batas normal Thoraks M status lokalis bdomen Distensi (C)/ # (K) / ;$9 ttb >tremitas akral hangat (K)/sianosis(C) !tatus lo8alis :
egio shoulder dekstra
C 9 de1ormitas (K)/ edema (K)/ jejas (C)/ pin point (C)
C ! nyeri tekan (K)/ krepitasi (K)/ edema (K)
C * C
egio thora
C I simetris/ jejas (C)/ edema (C)/ hematom (C)/ de1ormitas (C)/ terpasang <&D
C ' nyeri tekan (K)/ 6okal 1remitus $/ edema (C)
C ' sonor $ sonor
C cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C) C 82 - lpm (sungkup) C I?!D 9 2- tpm C *orphin +mcg$jam C e1otaime 3+gr I? C 'aracetamol +gr I? C "alne 3+gr I? C ?it k 32amp I? C "etorolac 330mg I? C Tran1usi ' 3 kol1 * C +,00cc " C +-0cc 'rod. <&D 50cc
pulmo bronkial(K$C)/ rhonki (K$C)/ 7heeFing (C$C)
A : ! costa +/2/3//4/A lateral
dekstra
;ematothora dekstra post <&D ! kla6ikula +$3 lateral
+3$-$20+ & nyeri dada (K)/ nyeri saat napas (K)/ 8 6ital sign TD +23$- mm;g 22 $menit &p82 ,A % adi ,0 $menit T a 34/+0 !tatus general : "epala normocephali *ata an C$C/ ikt C$C/ p K$K isokor T;T dalam batas normal Thoraks M status lokalis bdomen Distensi (C)/ # (K) / ;$9 ttb >tremitas akral hangat (K)/sianosis(C) !tatus lo8alis :
egio shoulder dekstra
C 9 de1ormitas (K)/ edema (K)/ jejas (C)/ pin point (C)
C ! nyeri tekan (K)/ krepitasi (K)/ edema (K)
C * C
egio thora
C I simetris/ jejas (C)/ edema (C)/ hematom (C)/ de1ormitas (C)/ terpasang <&D
C ' nyeri tekan (K)/ 6okal 1remitus $/ edema (C) C ' sonor $ sonor C 82 - lpm (sungkup) C I?!D 9 2- tpm C *orphin +mcg$jam C e1otaime 3+gr I? C 'aracetamol +gr I? C "alne 3+gr I? C ?it k 32amp I? C "etorolac 330mg I? * C +-00cc " C +500cc 'rod. <&D 50cc 'd$ D9 < ++/A =ran% -+/3 ; +0/3 '9T ,3 ;T 3+/+
C cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C)
pulmo bronkial(K$C)/ rhonki (K$C)/ 7heeFing (C$C)
A : ! costa +/2/3//4/A lateral
dekstra
;ematothora dekstra post <&D ! kla6ikula +$3 lateral
+$-$20+ & nyeri dada (K)/ nyeri saat napas (K)/ 8 6ital sign TD +30$-0 mm;g 22 $menit &p82 ,, % adi - $menit T a 34/0 !tatus general : "epala normocephali *ata an C$C/ ikt C$C/ p K$K isokor T;T dalam batas normal Thoraks M status lokalis bdomen Distensi (C)/ # (K) / ;$9 ttb >tremitas akral hangat (K)/sianosis(C) !tatus lo8alis :
egio shoulder dekstra
C 9 de1ormitas (K)/ edema (K)/ jejas (C)/ pin point (C)
C ! nyeri tekan (K)/ krepitasi (K)/ edema (K)
C * C
egio thora
C I simetris/ jejas (C)/ edema (C)/ hematom (C)/ de1ormitas (C)/ terpasang <&D
C ' nyeri tekan (K)/ 6okal 1remitus
C 82 - lpm (sungkup) C I?!D 9 2- tpm C *orphin +mcg$jam C e1otaime 3+gr I? C 'aracetamol +gr I? C "alne 3+gr I? C ?it k 32amp I? C "etorolac 330mg I? C dona 3+ amp * C +500cc " C +4500cc 'rod. <&D C
$/ edema (C) C ' sonor $ sonor
C cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C)
pulmo bronkial(K$C)/ rhonki (K$C)/ 7heeFing (C$C)
A : ! costa +/2/3//4/A lateral
dekstra
;ematothora dekstra post <&D ! kla6ikula +$3 lateral
+5$-$20+ & nyeri dada (K)/ nyeri saat napas (K)/ 8 6ital sign TD +32$A- mm;g +- $menit &p82 ,, % adi - $menit T a 34/0 !tatus general : "epala normocephali *ata an C$C/ ikt C$C/ p K$K isokor T;T dalam batas normal Thoraks M status lokalis bdomen Distensi (C)/ # (K) / ;$9 ttb >tremitas akral hangat (K)/sianosis(C) !tatus lo8alis :
egio shoulder dekstra
C 9 de1ormitas (K)/ edema (K)/ jejas (C)/ pin point (C)
C ! nyeri tekan (K)/ krepitasi (K)/ edema (K)
C * C
egio thora
C I simetris/ jejas (C)/ edema (C)/ hematom (C)/ de1ormitas (C)/ C 82 - lpm (sungkup) C I?!D 9 2- tpm C *orphin +mcg$jam C e1otaime 3+gr I? C 'aracetamol +gr I? C "alne 3+gr I? C ?it k 32amp I? C "etorolac 330mg I? C dona 3+ amp * C +A00cc " C +500cc 'rod. <&D C
terpasang <&D
C ' nyeri tekan (K)/ 6okal 1remitus $/ edema (C)
C ' sonor $ sonor
C cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C)
pulmo bronkial(K↓$C)/ rhonki
(K↓$C)/ 7heeFing (C$C)
A : ! costa +/2/3//4/A lateral
dekstra
;ematothora dekstra post <&D ! kla6ikula +$3 lateral
+4$-$20+ & nyeri dada (K)/ nyeri saat napas (K)/ 8 6ital sign TD +24$4, mm;g +- $menit &p82 ,, % adi A4 $menit T a 34/50 !tatus general : "epala normocephali *ata an C$C/ ikt C$C/ p K$K isokor T;T dalam batas normal Thoraks M status lokalis bdomen Distensi (C)/ # (K) / ;$9 ttb >tremitas akral hangat (K)/sianosis(C) !tatus lo8alis :
egio shoulder dekstra
C 9 de1ormitas (K)/ edema (K)/ jejas (C)/ pin point (C)
C ! nyeri tekan (K)/ krepitasi (K)/ edema (K) C * C egio thora C 82 - lpm (sungkup) C I?!D 9 2- tpm C *orphin +mcg$jam C e1otaime 3+gr I? C 'aracetamol +gr I? C "alne 3+gr I? C ?it k 32amp I? C "etorolac 330mg I? C dona 3+ amp * C +A50cc " C +550cc 'rod. <&D C 'd$ D9 < ++/A =ran% -+/3 ; +0/3 '9T ,3 ;T 3+/+
C I simetris/ jejas (C)/ edema (C)/ hematom (C)/ de1ormitas (C)/ terpasang <&D
C ' nyeri tekan (K)/ 6okal 1remitus $/ edema (C)
C ' sonor $ sonor
C cor s+ s2 tunggal reguler murmur (C)
pulmo bronkial(K↓$C)/ rhonki
(K↓$C)/ 7heeFing (C$C)
A : ! costa +/2/3//4/A lateral
dekstra
;ematothora dekstra post <&D ! kla6ikula +$3 lateral
)A) I P/%)AHA!A
'ada trauma dada/ penyebab cedera harus ditentukan dahulu/ kemudian baru ditentukan macamnya/ entah cedera tumpul atau tajam. Trauma dada/ yang umumnya merupakan trauma tumpul/ kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Trauma tajam terutama oleh tikaman dan tembakan. edera dada sering disertai dengan cedera perut/ kepala dan ekstremitas sehingga merupakan cedera majemuk. 'ada kasus trauma yang dialami maka penatalaksanaan yang harus diberikan adalah sebagai berikut 'enatalaksanaan a7al pasien di ruang resusitasi pada umumnya sesuai dengan tata cara penanganan pasien trauma yaitu mulai dari tahapan primary survey/ resusitasi/ secondary survey dan pemeriksaan penunjang. 'asien dalam keadaan cukup stabil (tanda 6ital). 'emeriksaan 1oto toraks menunjukkan ada 1raktur iga multipel/ dan hematothoraks. 'asien dilakukan pemasangan chest tu"e kanan dan pasca tindakan dira7at di ruang obser6asi intensi1. &etelah beberapa hari dira7at di I# diputuskan untuk dilakukan pemasangan 1iksasi interna.
*asalah yang pertama kali dihadapi ( primary survey) adalah (+) peningkatan respirasi rate (2) syok hipo6olemik/ (3) hematotoraks kanan/ () 1raktur iga multipel kanan dan (5) 1raktur kla6ikula. Tindakan yang dilakukan pada saat pertama kali pasien diterima di instalasi ga7at darurat belum sesuai penanganan pasien trauma/ dimana saat melakukan primary sur6ey pasien terlihat sesak/ respirasi rate meningkat dan die6aluasi apa yang menyebabkan pasien sesak. Disana terlihat pergerakan dada yang asimetris yaitu dada kanan tertinggal saat inspirasi/ suara napas pada paru kanan melemah. &eharusnya pasien die6aluasi terlebih dahulu pada bagian primary survey ("reathing ) namun pada kasus/ langsung ke tahapan berikutnya yaitu circulation. 'ada circulation/ juga ditemukan penurunan tekanan darah yaitu ,0$A0 mm;g dengan nadi yang meningkat +0$menit. 'ada saat ditemukan hal ini/ langsung dilakukan medical resuscitation dengan jalan pemberian cairan sebanyak 2 liter 9 dan berespon pada peningkatan tekanan darah menjadi ++2$-0 mm;g dan nadi turun menjadi --$menit. 8leh karena itu berarti pasien terjadi syok hipo6olemik dan kemungkinan terjadi perdarahan akut pada pasien yang tidak terlihat. &etelah
circulation teratasi pasien dilakukan 1oto thora ' dan ditemukan bah7a pasien mengalami 1raktur iga multiple disertai perselubungan hemithora dekstra. &etelah diketahui hal tersebut pasien dilakukan thorakosentesis untuk mengetahui cairan apa yang terdapat pada paru kanan pasien. 'ada thorakosentesis dengan menggunakan spuit 5 cc didapatkan cairan ber7arna kemerahan (darah). 'asien dilakukan pemasangan thora drain (<&D) dan setelah itu dira7at di ruang intensi1.
&esuai dengan teori seharusnya tindakan yang dilakukan pada saat pertama kali adalah tangani primary survey sesuai dengan urutannya air#ay, "reathing, circulation dan disa"ility. &eperti pada air#ay pemberian 82 untuk oksigenasi. reathing dengan pemasangan chest tu"e untuk menge6akuasi cairan di rongga pleura sehingga masalah restriksi dapat dikurangi. Circulation pemberian cairan dan trans1usi darah untuk mengatasi syok dan anemia/ dan dapat diberi tambahan pemberian mor1in untuk mengatasi rasa nyeri. &etelah tindakan resusitasi
dilakukan maka masuk tahapan secondary survey guna menentukan diagnosis pasti dengan melakukan pemeriksaan 1isis yang menyeluruh diikuti dengan pemeriksaan laboratorium dan radiologis. &eharusnya pemeriksaan 1oto thora dilakukan setelah seluruh pemeriksaan 1isis dikerjakan. 'ada pasien ini pemeriksaan 1oto thora dilakukan lebih a7al kemungkinan untuk menentukan
masalah (diagnosis) sesungguhnya secepat mungkin sehingga komplikasi yang mungkin terjadi dapat segera dicegah. !oto toraks diperlukan karena sebagian besar pasien dengan trauma dada merupakan cedera multipel sehingga pemeriksaan 1isis kadangkala menjadi sulit dilakukan. &eringkali dijumpai kasus trauma toraks dengan pneumotoraks atau hemotoraks yang tidak terdiagnosis pada saat penilaian a7al. 'emeriksaan 1oto toraks pada pasien dengan 1raktur iga dilakukan dalam +0 menit setelah pasien pertama kali datang tanpa menghambat pertolongan pada pasien. Interpretasi yang cepat dan akurat hasil 1oto toraks diperlukan untuk menghindari hilangnya petunjuk yang dapat menyelamatkan nya7a pasien. &ensiti1itas 1oto toraks dalam mendeteksi 1raktur iga berkisar 20 50%. 'emeriksaan 1oto toraks yang harus dilakukan adalah dari posisi lateral dan 1rontal. 'ada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan 1oto toraks lateral sehingga diagnosis hanya 1raktur iga multiple saja dan kemungkinan terjadinya 1raktur iga segmental masih belum dapat disingkirkan. 'emeriksaan laboratorium memang
dilakukan setelah secondary survey dikerjakan termasuk pemeriksaan analisis gas darah. nalisis gas darah diperlukan untuk menetukan apakah pasien dengan trauma toraks harus dilakukan intubasi atau tidak. 'asien dilakukan tindakan bedah berupa pemasangan 1iksasi interna tulang iga yang patah. Tindakan bedah harus dilakukan karena sudah terjadi cedera toraks/ kontusio paru dan gangguan respirasi. <aktu yang tepat kapan seharusnya dilakukan 1iksasi 1raktur pada trauma dada sampai saat ini masih menjadi perdebatan. !iksasi yang dilakukan pada saat a7al menurunkan kejadian in1lamasi di daerah cedera/ menurunkan rasa nyeri dan penggunaan opiat. 'enelitian menunjukkan bah7a 1iksasi akan mengurangi komplikasi paru dan mempercepat mobilisasi. Tetapi morbiditi dan mortaliti tetap tinggi jika trauma dada disertai dengan trauma di organ lain/ seperti kepala/ akibat keluarnya sumsum tulang yang mempengaruhi sistem pulmoner dan susunan sara1 pusat. !iksasi hanya dapat dilakukan jika semua proses resusitasi telah dilaksanakan dengan baik. ;asil pemeriksaan 1oto toraks juga didapatkan ada 1raktur kla6ikula kanan. !raktur kla6ikula umumnya terjadi akibat kecelakaan lalu lintas terutama para pengguna kendaraan roda dua. !raktur kla6ikula pada umumnya akan sembuh sendiri dengan penanganan konser6ati1 dengan pemasangan collar$and$cuff sling dan hanya sedikit yang memerlukan tindakan bedah.
'rognosis berdasarkan pada penyebab dari hematothoraks dan seberapa cepat penanganan diberikan. pabila penanganan tidak dilakukan segera maka kondisi pasien dapat bertambah buruk karena akan terjadi akumulasi darah di rongga thoraks yang menyebabkan paruCparu kolaps dan mendorong mediastinum serta trakea ke sisi yang sehat.
)A) -/!I%PA
dapun kesimpulan yang didapat pada kasus ini adalah sebagai berikut
+. Trauma thoraks terjadi hampir 50% dari seluruh kasus kecelakaan dan merupakan penyebab kematian terbesar (25%).
2. Diagnosis dan penatalaksanaan pada kasus hematothora harus dilakukan secara dini agar tidak meningkatkan angka morbiditas maupun mortalitas. 3. Tujuan utama terapi dari hemothoraks adalah untuk menstabilkan
hemodinamik pasien/ menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta udara dari rongga pleura. 9angkah pertama untuk menstabilkan hemodinamik adalah dengan resusitasi seperti diberikan oksigenasi/ cairan in1us/ trans1usi darah/ dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik.
. 'rognosis berdasarkan pada penyebab dari hematothoraks dan seberapa cepat penanganan diberikan. pabila penanganan tidak dilakukan segera maka kondisi pasien dapat bertambah buruk karena akan terjadi akumulasi darah di rongga thoraks yang menyebabkan paruCparu kolaps dan mendorong mediastinum serta trakea ke sisi yang sehat.
TI:# '#&T"
+. :ong/ De/ &jamsuhidayat. uku jar Ilmu edah >d 3.2002. :akarta >=
2. hmed ;esham. Thoracic trauma.ppt. obert <ood :ohnson *edical &chool. ssesed on 05 ug 20+
3. *oore/ "eith. gus/ nne. >ssential linical natomy 3rd >d. 200A. 9ippincot <iliams N <ilkins