• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI KOTA PANGKALPINANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI KOTA PANGKALPINANG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

 Pada Februari 2016 Kota Pangkalpinang mengalami inflasi sebesar 0,39 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 125,41 setelah sebelumnya Januari 2014 juga mengalami inflasi yakni sebesar 0,93 persen dengan IHK 124,92.

 Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naikknya indeks di enam kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,44 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,79 persen; kelompok sandang sebesar 0,38 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,09 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,04 persen; serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,51 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,47 persen.

 Tingkat inflasi tahun kalender Februari 2016 adalah inflasi sebesar 1,33 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2016 terhadap Februari 2015) sebesar 5,99 persen.

 Komponen inti pada Februari 2016 memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen demikian pula komponen yang harganya diatur oleh pemerintah deflasi sebesar 0,02 persen. Sementara komponen bergejolak inflasi sebesar 0,47 persen.

No. 16/03/19/Th.XIV, 1 Maret 2016

P

ERKEMBANGAN

I

NDEKS

H

ARGA

K

ONSUMEN

/I

NFLASI

K

OTA

P

ANGKALPINANG

FEBRUARI 2016 INFLASI 0,39 PERSEN

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan hasil pemantauan BPS di pasar tradisional maupun modern pada Februari 2016, di Kota Pangkalpinang terjadi inflasi sebesar 0,39 persen, atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari

(2)

124,92 pada Januari 2016 menjadi 125,41 pada Februari 2016. Tingkat inflasi tahun kalender bulan ini adalah sebesar 1,33 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2016 terhadap Februari 2015) adalah sebesar 5,99 persen.

Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naikknya indeks di enam kelompok pengeluaran yakni

kelompok bahan makanan sebesar 0,44 persen; kelompok makanan jadi, minuman,

rokok, dan tembakau sebesar 0,79 persen; kelompok sandang sebesar 0,38 persen; kelompok kesehatan

sebesar 0,09 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,04 persen; serta kelompok

transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,51 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang

mengalami deflasi adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,47 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga pada Februari 2016 adalah bayam, mobil, rokok kretek filter, sawi hijau, kacang panjang, kangkung, pepaya, angkutan udara, rokok putih, dan apel. Sementara beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga adalah ikan tenggiri, udang basah, sotong, ikan selar, cumi-cumi, ikan tongkol, ayam hidup, ikan kembung, tarif listrik, dan ikan kerisi.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi pada Februari 2016, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,12 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,15 persen; kelompok sandang sebesar 0,02 persen; Kelompok kesehatan sebesar 0,004 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,003 persen; serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,22 persen. Sementara itu kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,12 persen.

Tabel 1

IHK dan Tingkat Inflasi Kota Pangkalpinang Februari 2016, Tahun Kalender 2016, dan Tahun ke Tahun Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)

Kelompok Pengeluaran IHK Januari 2016 IHK Februari 2016 Inflasi Januari 20161) Laju Inflasi Tahun Kalender 20162) Inflasi Tahun ke Tahun 3) (1) (2) (3) (4) (5) (6) U m u m (Headline) 124,92 125,41 0,39 1,33 5,99 1 Bahan Makanan 128,36 128,93 0,44 3,92 6,55

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 129,53 130,55 0,79 0,80 9,16 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan bakar 124,68 124,09 -0,47 0,31 3,11

4 Sandang 117,08 117,52 0,38 0,84 2,65

5 Kesehatan 121,60 121,71 0,09 0,09 4,37

6 Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga 126,26 126,31 0,04 0,10 8,40 7 Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 116,90 118,67 1,51 0,24 6,46

(3)

Tabel 2

Sumbangan Kelompok Pengeluaran Terhadap Inflasi Kota Pangkalpinang (2012=100) Februari 2016

Kelompok Pengeluaran Sumbangan Inflasi

(%)

(1) (2)

U M U M 0,39

1. Bahan Makanan 0,12

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok,dan Tembakau 0,15 3. Perumahan, Air, Listrik, Gas,dan Bahan Bakar -0,12

4. Sandang 0,02

5. Kesehatan 0,004

6. Pendidikan, Rekreasi,dan Olahraga 0,003 7. Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 0,22

Gambar 1

Sumbangan Kelompok Pengeluaran Terhadap Inflasi Kota Pangkalpinang Februari 2016 -0,2 -0,1 0 0,1 0,2 0,3 0,4 A nd il (% ) Kelompok Pengeluaran Umum 1. Bahan Makanan 2. Makanan Jadi 3. Perumahan 4. Sandang 5. Kesehatan 6. Pendidikan 7. Transpor

(4)

Tabel 3

Sumbangan Komoditi Terbesar Terhadap Inflasi/Deflasi Kota Pangkalpinang Februari 2016

Komoditi Persentase Perubahan Harga Inflasi/Deflasi (%) Sumbangan

(1) (2) (3)

1. BAYAM 100,00 0,34

2. MOBIL 7,05 0,18

3. ROKOK KRETEK FILTER 2,49 0,09

4. SAWI HIJAU 25,96 0,08 5. KACANG PANJANG 51,86 0,05 6. KANGKUNG 20,00 0,05 7. PEPAYA 37,50 0,04 8. ANGKUTAN UDARA 3,06 0,04 9. ROKOK PUTIH 2,81 0,03 10. APEL 8,03 0,03 11. IKAN TENGGIRI -6,08 -0,03 12. UDANG BASAH -7,95 -0,04 13. SOTONG -11,21 -0,04 14. IKAN SELAR -6,35 -0,04 15. CUMI-CUMI -9,74 -0,04 16. IKAN TONGKOL -13,34 -0,05 17. AYAM HIDUP -12,50 -0,06 18. IKAN KEMBUNG -7,76 -0,07 19. TARIF LISTRIK -3,44 -0,15 20. IKAN KERISI -22,59 -0,25

(5)

URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

1. Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan pada Februari 2016 mengalami inflasi 0,44 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 128,36 pada Januari 2016 menjadi 128,93 pada Februari 2016.

Dari 11 subkelompok dalam kelompok bahan makanan pada bulan ini, 7 subkelompok mengalami inflasi, 3 subkelompok mengalami deflasi, dan 1 subkelompok stabil. Subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah subkelompok sayur-sayuran 26,88 persen dan inflasi terendah terjadi pada subkelompok padi-padian, umbi-umbian, dan hasilnya sebesar 0,03 persen. Subkelompok yang mengalami deflasi adalah subkelompok ikan segar sebesar 9,59 persen; subkelompok daging dan hasilnya sebesar 0,21 persen; serta subkelompok telur, susu, dan hasil-hasilnya sebesar 0,07 persen. Sementara subkelompok bahan makanan lainnya stabil.

Kelompok ini pada Februari 2016 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain bayam, sawi hijau, kacang panjang, kangkung, pepaya, dan apel.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

Kelompok ini pada Februari 2016 mengalami inflasi 0,79 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 129,53 pada Januari 2016 menjadi 130,55 pada Februari 2016.

Subkelompok minuman yang tidak beralkohol inflasi sebesar 0,79 persen. Sementara subkelompok makanan jadi inflasi sebesar 0,02 persen dan subkelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 2,32 persen.

Kelompok ini pada Februari 2016 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,15 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah komoditas rokok kretek filter, rokok putih, rokok kretek, gula pasir, dan teh.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

Kelompok ini pada Februari 2016 mengalami deflasi sebesar 0,47 persen atau terjadi penurunan indeks dari 124,68 pada Januari 2016 menjadi 124,09 pada Februari 2016.

Subkelompok mengalami inflasi yakni subkelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,12 persen; subkelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 0,12 persen; serta subkelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,44 persen. Subkelompok bahan bakar, penerangan dan air deflasi sebesar 2,30 persen.

Pada Februari 2016 kelompok ini secara umum memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi adalah komoditas tarif listrik, pembasmi nyamuk bakar, pemutih, dan sabun cream detergen.

4. S a n d a n g

Kelompok sandang pada Februari 2016 mengalami inflasi 0,38 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 117,08 pada Januari 2016 menjadi 117,52 pada Februari 2016.

Subkelompok yang mengalami inflasi yakni subkelompok sandang wanita sebesar 0,93 persen dan subkelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 1,21 persen. Sementara subkelompok sandang laki-laki serta subkelompok sandang anak-anak stabil.

(6)

Kelompok ini pada Februari 2016 secara keseluruhan memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah emas perhiasan dan pembalut wanita.

5. K e s e h a t a n

Kelompok kesehatan pada Februari 2016 mengalami inflasi sebesar 0,09 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 121,60 pada Januari 2016 menjadi 121,71 di Februari 2016.

Subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika inflasi sebesar 0,23 persen, sementara subkelompok lainnya tetap yakni subkelompok jasa kesehatan, subkelompok obat-obatan, serta subkelompok jasa perawatan jasmani.

Kelompok ini pada Februari 2016 secara keseluruhan memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,004 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi minyak rambut, sabun mandi cair, sikat gigi, dan bedak bayi

6. Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga pada bulan ini mengalami inflasi sebesar 0,04 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 126,26 baik pada Januari 2016 menjadi 126,31 pada Februari 2016.

Hanya dua subkelompok yang mengalami inflasi yakni subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan inflasi sebesar 0,21 persen dan subkelompok rekreasi sebesar 0,18 persen. Sementara subkelompok pendidikan; subkelompok kursus-kursus/pelatihan; dan subkelompok olahraga stabil.

Secara keseluruhan kelompok ini pada Februari 2016 memberikan sumbangan inflasi 0,003 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan/andil inflasi yaitu komoditas VCD/DVD player dan laptop/notebook.

7. Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan pada Februari 2016 mengalami inflasi 1,51 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 116,90 pada Januari 2016 menjadi 118,67 pada Februari 2016.

Subkelompok transpor inflasi sebesar 2,16 persen. Sementara subkelompok lainnya stabil yakni subkelompok komunikasi dan pengiriman; subkelompok sarana dan penunjang transpor; serta subkelompok jasa keuangan.

Secara keseluruhan kelompok ini pada Februari 2016 memberikan sumbangan inflasi 0,22 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan/andil inflasi yaitu komoditas mobil, angkutan udara, sepeda motor, serta ban luar motor.

(7)

PERBANDINGAN INFLASI TAHUNAN

Tingkat inflasi tahun kalender Februari 2016 maupun tahun ke tahun (Februari 2016 terhadap Februari 2015) pada empat kota pantauan IHK menunjukkan arah yang sama meskipun berbeda di arah inflasi bulanannya. Inflasi tahun kalender Pangkalpinang adalah sebesar 1,33 persen; Tanjungpandan sebesar 0,99 persen; serta Palembang dan DKI Jakarta masing-masing sebesar 0,21 persen dan 0,18 persen. Sementara untuk inflasi tahun ke tahun Kota Pangkalpinang tertinggi sebesar 5,99 persen; diikuti Palembang dengan 4,98 persen; DKI Jakarta 3,67 persen; serta Tanjungpandan sebesar 2,48 persen. (Lihat Tabel 4).

Tabel 4

Inflasi Februari 2016, Tahun Kalender 2016, dan Tahun ke Tahun Kota Pangkalpinang, Tanjungpandan, Palembang, dan DKI Jakarta

Inflasi Pangkalpinang Tanjungpandan Palembang DKI Jakarta

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Februari 2016 0,39 1,02 -0,11 -0,06

2. Tahun Kalender 2016 1,33 0,99 0,21 0,18

3. Februari 2016 terhadap Februari 2015

(year on year) 5,99 2,48 4,98 3,67

Gambar 2

Inflasi Februari 2016, Tahun Kalender 2016, dan Tahun ke Tahun Kota Pangkalpinang, Tanjungpandan, Palembang, dan DKI Jakarta

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8

INFLASI FEBRUARI 2016 INFLASI TAHUN KALENDER

FEBRUARI 2016

INFLASI YEAR ON YEAR FEBRUARI 2016 TERHADAP

FEBRUARI 2015

(8)

PERBANDINGAN ANTARKOTA

Pada Februari 2016 di 82 kota pantaun IHK, tercatat 30 kota mengalami inflasi dan 52 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan 1,02 persen dengan IHK 129,21 diikuti Padang dengan inflasi 0,86 persen dan IHK 128,21. Sementara inflasi terendah terjadi di Banda Aceh sebesar 0,02 persen dengan IHK 117,03. Deflasi tertinggi di Merauke sebesar 2,95 persen dengan IHK 128,60 dan terrendah di Sibolga sebesar 0,02 persen dengan IHK 125,62.

Inflasi sangat dipengaruhi oleh kelancaran distribusi dan ketersediaan berbagai kebutuhan rumahtangga yang tentu saja berimbas langsung terhadap tingkat harga, serta kebijakan pemerintah akan sektor strategis, seperti bahan bakar minyak, tarif listrik dan bahan bakar rumahtangga. Tingkat permintaan dari konsumen yang dipengaruhi faktor musiman seperti hari raya keagamaan dan liburan sekolah memberikan dampak yang cukup signifikan pula. Februari ini, bencana banjir yang melanda beberapa kota juga memberikan dampak terhadap laju inflasi.

Perbandingan Antarkota di Pulau Sumatera

Kota-kota IHK di wilayah Pulau Sumatera yang berjumlah 23 kota, pada Februari 2016 tercatat 11 kota inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Tanjungpandan 1,02 persen dengan IHK 129,21. Deflasi tertinggi di Bandar Lampung sebesar 0,51 persen dengan IHK 123,59. (Lihat Tabel 5).

Tabel 5

Perbandingan Indeks dan Inflasi/Deflasi Februari 2016 Kota-Kota di Pulau Sumatera, (2012=100)

K O T A Februari 2016 IHK Inflasi/Deflasi (%) (1) (2) (3) 1. Meulaboh 122,27 0,37 2. Banda Aceh 117,03 0,02 3. Lhokseumawe 118,49 -0,13 4. Sibolga 125,62 -0,02 5. Pematang Siantar 126,21 -0,33 6. Medan 126,31 0,38 7. Padang Sidempuan 120,86 -0,19 8. Padang 128,21 0,86 9. Bukit Tinggi 121,62 -0,21 10. Tembilahan 127,14 -0,06 11. Pekanbaru 122,50 -0,50 12. Dumai 123,94 0,32 13. Bungo 121,76 0,18 14. Jambi 122,47 0,22 15. Palembang 120,78 -0,11 16. Lubuklinggau 120,58 -0,43 17. Bengkulu 129,14 -0,25 18. Bandar Lampung 123,59 -0,51 19. Metro 131,67 0,42 20. Tanjungpandan 129,21 1,02 21. Pangkalpinang 125,41 0,39 22. Batam 122,61 -0,43 23. Tanjung Pinang 123,84 0,35 PANGKALPINANG 125,41 0,39

(9)

Perbandingan Antarkota di Pulau Jawa

Pada Februari 2016 dari kota-kota IHK di wilayah Pulau Jawa yang berjumlah 26 kota, tercatat hanya 4 kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember 0,12 persen dengan IHK 120,91 dan Banyuwangi 0,12 persen dengan IHK 121,15. Deflasi tertinggi terjadi di Depok sebesar 0,43 persen dengan IHK 121,51 sementara deflasi terendah di Bogor sebesar 0,02 persen dengan IHK 122,73. (Lihat Tabel 6).

Tabel 6

Perbandingan Indeks dan Inflasi/Deflasi Februari 2016 Kota-Kota di Pulau Jawa, (2012=100)

K O T A Februari 2016 IHK Inflasi/Deflasi (%) (1) (2) (3) 1. DKI Jakarta 123,57 -0,06 2. Bogor 122,73 -0,02 3. Sukabumi 122,82 0,03 4. Bandung 122,18 -0,15 5. Cirebon 119,22 -0,26 6. Bekasi 120,50 -0,03 7. Depok 121,51 -0,43 8. Tasikmalaya 121,85 -0,31 9. Cilacap 125,18 -0,11 10. Purwokerto 120,65 -0,29 11. Kudus 128,50 -0,23 12. Surakarta 120,32 -0,11 13. Semarang 121,88 -0,30 14. Tegal 119,75 -0,21 15. Yogyakarta 120,98 -0,09 16. Jember 120,91 0,12 17. Banyuwangi 121,15 0,12 18. Sumenep 121,13 -0,02 19. Kediri 121,16 -0,33 20. Malang 123,66 -0,15 21. Probolinggo 121,64 -0,08 22. Madiun 120,67 0,03 23. Surabaya 122,60 -0,11 24. Tangerang 131,04 -0,21 25. Cilegon 126,46 -0,14 26. Serang 129,76 -0,17 PANGKALPINANG 125,41 0,39

(10)

Perbandingan Antarkota di Luar Pulau Jawa dan Sumatera

Pada Februari 2016 dari kota-kota IHK di wilayah luar Pulau Jawa dan Sumatera yang berjumlah 33, tercatat 15 kota mengalami inflasi dan 18 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Gorontalo sebesar 0,67 persen dengan IHK 120,32 dan terrendah di Samarinda 0,05 persen dengan IHK 125,98. Deflasi tertinggi terjadi di Merauke 2,95 persen dengan IHK 128,60 dan terrendah di Makasar 0,02 persen dengan IHK 124,19. (Lihat Tabel 7).

Tabel 7

Perbandingan Indeks dan Inflasi/Deflasi Februari 2016 Kota-Kota di Luar Pulau Jawa dan Sumatera

(2012=100) K O T A Februari 2016 IHK Inflasi/Deflasi (%) (1) (2) (3) 1. Singaraja 130,17 -0,28 2. Denpasar 120,25 0,07 3. Mataram 122,49 -0,12 4. Bima 127,32 0,38 5. Maumere 118,41 0,27 6. Kupang 126,60 -0,42 7. Pontianak 130,66 0,33 8. Singkawang 122,86 0,26 9. Sampit 124,26 -0,44 10. Palangkaraya 120,74 -0,41 11. Tanjung 124,16 -0,28 12. Banjarmasin 122,62 0,18 13. Balikpapan 126,72 0,50 14. Samarinda 125,98 0,05 15. Tarakan 132,27 0,17 16. Manado 123,96 -0,82 17. Palu 123,95 -0,61 18. Bulukumba 127,58 -1,05 19. Watampone 118,22 -0,72 20. Makassar 124,19 -0,02 21. Pare-Pare 120,86 -0,03 22. Palopo 121,30 0,07 23. Kendari 119,90 0,07 24. Bau-Bau 126,99 -0,97 25. Gorontalo 120,32 0,67 26. Mamuju 122,25 -0,37 27. Ambon 122,41 0,18 28. Tual 134,68 -1,33 29. Ternate 127,28 -0,95 30. Manokwari 115,94 -0,11 31. Sorong 124,69 0,10 32. Merauke 128,60 -2,95 33. Jayapura 124,70 0,17 PANGKALPINANG 125,41 0,39

(11)

INFLASI KOMPONEN INTI, HARGA DIATUR PEMERINTAH, DAN BERGEJOLAK

Komponen yang harganya diatur pemerintah pada bulan ini memberikan andil deflasi 0,02 persen dan sejalan dengan bulan sebelumnya yang memberikan andil deflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas tarif listrik memberikan andil deflasi di komponen ini.

Sementara komponen bergejolak memberikan andil inflasi 0,47 persen yang sejalan dengan Januari 2016 dengan andil inflasi juga sebesar 0,83 persen. Andil inflasi di bulan ini dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditas diantaranya di subkelompok sayur-sayuran (bayam, kacang panjang, kangkung, dan sawi hijau) serta subkelompok daging dan hasil-hasilnya (daging ayam ras, daging sapi, dan daging babi).

Komponen inti pada Februari 2016 memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen dan tidak sejalan dengan Januari 2016 yang juga memberikan andil inflasi sebesar 0,22 persen. Andil deflasi ini dipicu oleh turunnya harga di beberapa komoditas diantaranya ikan segar (kerang, ikan hapau, ikan kerisi, dan sotong) serta gula pasir dan teh di subkelompok minuman yang tidak beralkohol. (Lihat Tabel 8).

Tabel 8

Dekomposisi Laju dan Andil Inflasi/Deflasi Januari 2016-Februari 2016 Menurut Kelompok Komponen, (2012=100)

Komponen

Januari 2016 Februari 2016

IHK Inflasi/Deflasi Laju Inflasi/Deflasi Andil IHK Inflasi/Deflasi Laju Inflasi/Deflasi Andil

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Umum 124,92 0,93 0,93 125,41 0,39 0,39

Harga Diatur Pemerintah 140,43 -0,65 -0,12 140,31 -0,09 -0,02

Bergejolak 127,68 4,05 0,83 130,52 2,22 0,47

(12)

BPS PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Informasi lebih lanjut hubungi:

Darwis Sitorus, S.Si., M.Si

Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Telepon: 0717-439422 Fax: 0717-439425

Email: [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

KETIGA Dalam melaksanakan tugasnya Forum Penerbit Provinsi Lampung dibantu oleh Sekretariat Forum Penerbit Provinsi Lampung yang berkedudukan di Badan Perpustakaan, Arsip

Suhu pengeringan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap organoleptik warna dan indeks pencoklatan, serta memberikan pengaruh berbeda tidak nyata

Hasil pengujian hipotesis ketujuh (H7) menunjukkan bahwa kesadaran merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian ulang dengan menggunakan loyalitas merek

Menurut Hanafiyah, jilid sebagai sebagai ta’zi>r harus harus dicambukan lebih keras dari jilid dalam had agar dengan ta’zi>r orang yang terhukum akan menjadi jera,

Pelaksanaan pembelajaran didasarkan pada RPP yang telah dibuat sehingga prosesnya sesuai arah yang diinginkan. Dengan kata lain, pelaksanaan tindakan ini meliputi siapa melakukan

a) Penelitian yang dilakukan oleh Elis Darnita (2013) terdapat persamaan penggunaan variabel independen (X) yaitu ROA dan EPS, serta variabel dependen (Y) yaitu Harga

Istilah management berasal dari kata “to manage” yang berarti mengatur, melaksanakan, mengelola, mengendalikan, dan memperlakukan. Namun kata manajemen sendiri

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN ISLAMIC