Terminologi
Kriptografi (cryptography) merupakan ilmu dan seni
untuk menjaga pesan agar aman. “Crypto” berarti “secret” (rahasia) dan “graphy” berarti “writing” (tulisan).
Para pelaku atau praktisi kriptografi disebut
cryptographers.
Sebuah algoritma kriptografik (cryptographic algorithm),
disebut cipher, merupakan persamaan matematik yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi.
Enkripsi merupkan proses yang dilakukan untuk
mengamankan sebuah pesan (yang disebut plaintext) menjadi pesan yang tersembunyi (disebut ciphertext)
Terminologi
Ciphertext adalah pesan yang sudah tidak dapat
dibaca dengan mudah.
Dekripsi merupakan proses sebaliknya, untuk
mengubah ciphertext menjadi plaintext.
Cryptanalysis adalah seni dan ilmu untuk memecahkan
ciphertext tanpa bantuan kunci.
Cryptanalyst adalah pelaku atau praktisi yang
Enkripsi
Enkripsi digunakan untuk menyandikan data-data
atau informasi sehingga tidak dapat dibaca oleh orang yang tidak berhak.
Dengan enkripsi data anda disandikan (encrypted)
dengan menggunakan sebuah kunci (key).
Untuk membuka (decrypt) data tersebut
digunakan juga sebuah kunci yang dapat sama dengan kunci untuk mengenkripsi (untuk kasus
private key cryptography) atau dengan kunci yang
Proses Enkripsi
Secara matematis, proses atau fungsi enkripsi (E) dapat dituliskan sebagai:
E(M) = C
dimana: M adalah plaintext (message) dan C adalah ciphertext. Proses atau fungsi dekripsi (D) dapat dituliskan sebagai:
Pendahuluan
Algoritma kriptografi klasik berbasis karakter
Menggunakan pena dan kertas saja, belum ada
komputer
Termasuk ke dalam kriptografi kunci-simetri Algoritma kriptografi klasik:
Cipher Substitusi (Substitution Ciphers)
Teknik Dasar Kriptografi
Substitusi Blocking Permutasi Ekspansi PemampatanSubstitusi
Langkah pertama adalah membuat suatu tabel substitusi. Tabel
substitusi dapat dibuat sesuka hati, dengan catatan bahwa penerima pesan memiliki tabel yang sama untuk keperluan dekripsi.
Bila tabel substitusi dibuat secara acak, akan semakin sulit
pemecahan ciphertext oleh orang yang tidak berhak.
Contoh :
Tabel subsitusi Caesar Chipher ROT 13
Tabel Subsitusi
A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-Z-1-2-3-4-5-6-7-8-9-0-.-, B-F-1-K-Q-G-A-T-P-J-6-H-Y-D-2-X-5-M-V-7-C-8-4-I-9-N-R-E-U-3-L-S-W-,-.-O-Z-0 Contoh : SISTEM 7P7CQY (TABEL SUBSITUSI) VLVWHP (CAESAR CHIPHER) FVFGRZ (ROT13)
Caesar Cipher
Metode Caesar Cipher yang digunakan oleh Julius Caesar.
Pada prinsipnya, setiap huruf digantikan dengan huruf yang berada tiga (3) posisi dalam urutan alfabet.
Sebagai contoh huruf “a” digantikan dengan huruf “D” dan
seterusnya.
Transformasi yang digunakan adalah:
plain : a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
cipher: D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A
1. Cipher Substitusi
Monoalfabet : setiap karakter chipertext menggantikan satu
macam karakter plaintext
Polyalfabet : setiap karakter chipertext menggantikan lebih
dari satu macam karakter plaintext
Monograf /unilateral: satu enkripsi dilakukan terhadap satu
karakter plaintext
Polygraf /multilateral: satu enkripsi dilakukan terhadap lebih
1. Cipher Substitusi - Caesar Cipher
Tiap huruf alfabet digeser 3 huruf ke kanan
pi : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
ci : D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C
Contoh:
Plainteks: AWASI ASTERIX DAN TEMANNYA OBELIX Cipherteks: DZDVL DVWHULA GDQ WHPDQQBA REHOLA
1. Cipher Substitusi - Caesar Cipher
Dalam praktek, cipherteks dikelompokkan ke dalam
kelompok n-huruf, misalnya kelompok 4-huruf:
DZDV LDVW HULA GDQW HPDQ QBAR EHOL A
Atau membuang semua spasi:
DZDVLDVWHULAGDQWHPDQQBAREHOLA
1. Cipher Substitusi - Vigènere Cipher
Termasuk ke dalam cipher abjad-majemuk (polyalpabetic
substitution cipher ).
Algoritma tersebut baru dikenal luas 200 tahun kemudian
yang oleh penemunya cipher tersebut kemudian dinamakan Vigènere Cipher.
Vigènere Cipher menggunakan Bujursangkar Vigènere untuk
melakukan enkripsi.
Setiap baris di dalam bujursangkar menyatakan huruf-huruf
1. Cipher Substitusi - Vigènere Cipher
P la in te k s A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z a A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z b B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A c C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B d D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C e E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D f F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E g G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F h H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G i I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H j J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I K K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J l L M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K m M N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L n N O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M o O P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N p P Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O q Q R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P r R S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q s S T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R t T U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S u U V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T v V W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U w W X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V x X Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W y Y Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X K u n c i z Z A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y G am b ar 4.2 B ujursangkar V igènere1. Cipher Substitusi - Vigènere Cipher
Contoh penerapan Vigènere Cipher :
Plainteks : THIS PLAINTEXT
Kunci : sony sonysonys
Cipherteks : LVVQ HZNGFHRVL
Jika panjang kunci lebih pendek daripada panjang plainteks,
maka kunci diulang secara periodik. Dalam hal ini Kunci “sony” diulang sebanyak panjang plaintext-nya
Pada dasarnya, setiap enkripsi huruf adalah Caesar cipher
dengan kunci yang berbeda-beda. c(‘T’) = (‘T’ + ‘s’) mod 26 = L
T = 20 dan s= 19 (20+19)%26=13 L c(‘H’) = (‘H’ + ‘o’) mod 26 = V, dst
ROT13
Pada sistem ini sebuah huruf digantikan dengan huruf yang
letaknya 13 posisi darinya.
Sebagai contoh, huruf “A” digantikan dengan huruf “N”,
huruf “B” digantikan dengan huruf “O”, dan seterusnya.
Secara matematis, hal ini dapat dituliskan sebagai:
C ROT13 = (M)
Untuk mengembalikan kembali ke bentuk semulanya
dilakukan proses enkripsi ROT13 dua kali.
Blocking
Sistem enkripsi terkadang membagi plaintext menjadi blok-blok
yang terdiri dari beberapa karakter yang kemudian dienkripsikan secara independen.
Dengan menggunakan enkripsi blocking dipilih jumlah lajur dan
kolom untuk penulisan pesan. Jumlah lajur atau kolom menjadi kunci bagi kriptografi dengan teknik ini.
Plaintext dituliskan secara vertikal ke bawah berurutan pada
lajur, dan dilanjutkan pada kolom berikutnya sampai seluruhnya tertulis. Ciphertext-nya adalah hasil pembacaan plaintext
Blocking (lanj.)
BLOK 1 BLOK 2 BLOK 3 BLOK 4 BLOK 5 BLOK 6 BLOK 7Jadi ciphertext yang dihasilkan dengan teknik ini adalah "5K G KRTDRAEAIFKSPINAT IRO".
Plaintext dapat pula ditulis secara horizontal dan ciphertextnya adalah hasil pembacaan secara vertikal.
Jika plaintext adalah 5 TEKNIK DASAR KRIPTOGRAFI maka hasil chipertext ) . Jika menggunakan teknik blocking dengan 1blok berisi 4 karakter.
2. Cipher Transposisi
Cipherteks diperoleh dengan mengubah posisi huruf di dalam
plainteks.
Dengan kata lain, algoritma ini melakukan transpose
terhadap rangkaian huruf di dalam plainteks.
Nama lain untuk metode ini adalah permutasi, karena
transpose setiap karakter di dalam teks sama dengan
2. Cipher Transposisi (Contoh)
Contoh: Misalkan plainteks adalah
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA Enkripsi: POLITEK NIKELEK TRONIKA NEGERIS URABAYA
Cipherteks: (baca secara vertikal)
PNTNUOIRERLKOGAIENEBTLIRAEEKIYKKASA
Permutasi
Salah satu teknik enkripsi yang terpenting adalah permutasi
atau sering juga disebut transposisi. Teknik ini memindahkan atau merotasikan karakter dengan aturan tertentu. Prinsipnya adalah berlawanan dengan teknik substitusi.
Dalam teknik substitusi, karakter berada pada posisi yang tetap
tapi identitasnya yang diacak. Pada teknik permutasi, identitas karakternya tetap, namun posisinya yang diacak.
Sebelum dilakukan permutasi, umumnya plaintext terlebih
Permutasi (Lanj.)
Untuk contoh diatas, plaintext akan dibagi menjadi
blok-blok yang terdiri dari 6 karakter, dengan aturan permutasi sebagai berikut :
Permutasi (Lanj.)
Dengan menggunakan aturan diatas, maka proses enkripsi dengan permutasi dari plaintext adalah sebagai berikut :
Ciphertext yang dihasilkan dengan teknik permutasi ini adalah "N ETK5 SKD AIIRK RAATGORP FI".
Ekspansi
Suatu metode sederhana untuk mengacak pesan
adalah dengan memelarkan pesan itu dengan aturan tertentu.
Salah satu contoh penggunaan teknik ini adalah
dengan meletakkan huruf konsonan atau bilangan ganjil yang menjadi awal dari suatu kata di akhir kata itu dan menambahkan akhiran "an".
Bila suatu kata dimulai dengan huruf vokal atau
Ekspansi (Lanj.)
Proses enkripsi dengan cara ekspansi terhadap plaintext terjadi sebagai berikut :
Ciphertextnya adalah
Pemampatan
Mengurangi panjang pesan atau jumlah bloknya
adalah cara lain untuk menyembunyikan isi pesan. Contoh sederhana ini menggunakan cara
menghilangkan setiap karakter ke-tiga secara berurutan.
Karakter-karakter yang dihilangkan disatukan
kembali dan disusulkan sebagai "lampiran" dari pesan utama, dengan diawali oleh suatu karakter khusus, dalam contoh ini digunakan "&".
Pemampatan (Lanj.)
LATIHAN
Diketahui plain text :
UJIAN SISTEM KEAMANAN INTERNET SUDAH DILAKSANAKAN
Ditanya : Apa hasil chiphernya, jika menggunakan teknik :
1. Subsitusi : ROT 13
2. Bloking ( 1 blocking terdiri 6) 3. Permutasi
4. Ekspansi
Algoritma Asimetris
Algoritma asimetris (asymmetric algorithm) adalah suatu
algoritma dimana kunci enkripsi yang digunakan tidak sama dengan kunci dekripsi.
Pada algoritma ini menggunakan dua kunci yakni kunci
publik (public key) dan kunci privat (private key).
Kunci publik disebarkan secara umum sedangkan kunci
privat disimpan secara rahasia oleh si pengguna. Walau kunci publik telah diketahui namun akan sangat sukar mengetahui kunci privat yang digunakan.
Pendahuluan
Beroperasi dalam mode bit (algoritma kriptografi
klasik beroperasi dalam mode karakter)
kunci, plainteks, cipherteks, diproses dalam
rangkaian bit
Pendahuluan
Tetap menggunakan gagasan pada algoritma
klasik: substitusi dan transposisi, tetapi lebih rumit (sangat sulit dipecahkan)
Perkembangan algoritma kriptografi modern
didorong oleh penggunaan komputer digital untuk keamanan pesan.
Komputer digital merepresentasikan data dalam
Penggunaan Kunci
Salah satu cara untuk menambah tingkat keamanan sebuah
algoritma enkripsi dan dekripsi adalah dengan menggunakan sebuah kunci (key) yang biasanya disebut K.
Sehingga persamaan matematisnya menjadi:
EK (M) = C DK(C) = M
Terdapat 2 macam kunci :
1. Algoritma Simetris 2. Algoritma Asimetris
Algoritma kriptografi berdasarkan jenis kunci
yang digunakan
Algoritma simetris
Dimana kunci yang digunakan untuk proses enkripsi dan dekripsi adalah kunci yang sama
Algoritma asimetris
Dimana kunci yang digunakan untuk proses
enkripsi dan dekripsi menggunakan kunci yang berbeda.
Algoritma Simetris
Algoritma simetris (symmetric algorithm) adalah suatu
algoritma dimana kunci enkripsi yang digunakan sama dengan kunci dekripsi sehingga algoritma ini disebut juga sebagai single-key algorithm.
Sebelum melakukan pengiriman pesan, pengirim dan
penerima harus memilih suatu suatu kunci tertentu yang sama untuk dipakai bersama, dan kunci ini haruslah rahasia bagi pihak yang tidak berkepentingan sehingga algoritma ini disebut juga algoritma kunci rahasia (secret-key algorithm).
Algoritma Enkripsi dengan rangkaian bit
Pesan (dalam bentuk rangkaian bit) dipecah
menjadi beberapa blok
Contoh: Plainteks 100111010110
Bila dibagi menjadi blok 4-bit 1001 1101 0110
maka setiap blok menyatakan 0 sampai 15:
Algoritma Enkripsi dengan rangkaian bit
Bila plainteks dibagi menjadi blok 3-bit: 100 111 010 110
maka setiap blok menyatakan 0 sampai 7:
Jenis Algoritma Kriptografi
Algoritma Simetri
a. Blok Chiper : DES, IDEA, AES
b. Stream Chiper : OTP, A5 dan RC4
Algoritma Asimetri : RSA, DH, ECC, DSA Fungsi Hash : MD5, SHA1
Berdasarkan besar data yang diolah dalam satu
kali proses
Algoritma block cipher
Informasi/data yang hendak dikirim dalam bentuk blok-blok besar (misal 64-bit) dimana blok-blok ini dioperasikan dengan fungsi enkripsi yang sama dan akan menghasilkan informasi rahasia dalam blok-blok yang berukuran sama.
Algoritma stream cipher
Informasi/data yang hendak dikirim dioperasikan dalam bentuk blok-blok yang lebih kecil (byte atau bit), biasanya satu karakter persatuan persatuan waktu proses, menggunakan tranformasi enkripsi yang berubah setiap waktu.
TUGAS
Buatlah makalah tentang Algortima Kriptografi
berikut :
DES, IDEA, AES OTP, A5, RC4
RSA, DH, ECC, DSA MD5, SHA1
AES (Advanced Encryption Standard)
AES (Advanced Encryption Standard)
DES dianggap sudah tidak aman.
Perlu diusulkan standard algoritma baru sebagai pengganti
DES.
National Institute of Standards and Technology (NIST)
mengusulkan kepada Pemerintah Federal AS untuk sebuah standard kriptografi kriptografi yang baru.
NIST mengadakan lomba membuat standard algoritma
kriptografi yang baru. Standard tersebut kelak diberi nama Advanced Encryption Standard (AES).
AES (Advanced Encryption Standard)
Pada bulan Oktober 2000, NIST mengumumkan
untuk memilih Rijndael (dibaca: Rhine-doll)
Pada bulan November 2001, Rijndael ditetapkan
sebagai AES
Diharapkan Rijndael menjadi standard kriptografi
AES (Advanced Encryption Standard)
Tidak seperti DES yang berorientasi bit, Rijndael beroperasi dalam
orientasi byte.
Setiap putaran mengunakan kunci internal yang berbeda (disebut
round key).
Enciphering melibatkan operasi substitusi dan permutasi.
Karena AES menetapkan panjang kunci adalah 128, 192, dan 256,
maka dikenal AES-128, AES-192, dan AES-256
Panjang Kunci (Nk words) Ukuran Blok (Nb words) Jumlah Putaran (Nr) AES-128 4 4 10 AES-192 6 4 12 AES-256 8 4 14
AES (Advanced Encryption Standard)
Garis besar Algoritma Rijndael yang beroperasi pada blok
128-bit dengan kunci 128-128-bit adalah sebagai berikut (di luar proses pembangkitan round key):
AddRoundKey: melakukan XOR antara state awal (plainteks) dengan
cipher key. Tahap ini disebut juga initial round.
Putaran sebanyak Nr – 1 kali. Proses yang dilakukan pada setiap putaran
adalah:
SubBytes: substitusi byte dengan menggunakan tabel substitusi
(S-box).
ShiftRows: pergeseran baris-baris array state secara wrapping. MixColumns: mengacak data di masing-masing kolom array state. AddRoundKey: melakukan XOR antara state sekarang round key.
Final round: proses untuk putaran terakhir:
SubBytes ShiftRows
AES (Advanced Encryption Standard)
Selama kalkulasi plainteks menjadi cipherteks, status sekarang
dari data disimpan di dalam array of bytes dua dimensi, state, yang berukuran NROWS NCOLS.
Untuk blok data 128-bit, ukuran state adalah 4 4.
Elemen array state diacu sebagai S[r,c], 0 r < 4 dan 0 c <
Nb (Nb adalah panjang blok dibagi 32.
Pada AES-128, Nb = 128/32 = 4) in8 in7 in3 in4 in6 in5 in0 in1 in2 in9 in10 in11 in12 in13 in14 in15 S0,2 S3,1 S3,0 S0,1 S2,1 S1,1 S0,0 S1,0 S2,0 S1,2 S2,2 S3,2 S0,3 S1,3 S2,3 S3,3 out8 out7 out3 out4 out6 out5 out0 out1 out2 out9 out10 out11 out12 out13 out14 out15
AES (Advanced Encryption Standard)
RSA
RSA
Ditemukan oleh tiga orang yaitu Ron Rivest, Adi
Shamir, dan Leonard Adleman yang kemudian disingkat menjadi RSA.
Termasuk algritma asimetri karena mempunyai dua
kunci, yaitu kunci publik dan kunci privat.
Algoritma kunci-publik yang paling terkenal dan paling
banyak aplikasinya.
Ditemukan oleh tiga peneliti dari MIT (Massachussets
Institute of Technology), yaitu Ron Rivest, Adi Shamir, dan Len Adleman, pada tahun 1976.
Keamanan algoritma RSA terletak pada sulitnya
memfaktorkan bilangan yang besar menjadi faktor-faktor prima.
RSA
Pembangkitan pasangan kunci
1. Pilih dua bilangan prima, a dan b (rahasia)
2. Hitung n = a b. Besaran n tidak perlu dirahasiakan. 3. Hitung (n) = (a – 1)(b – 1).
4. Pilih sebuah bilangan bulat untuk kunci publik, sebut namanya e,
yang relatif prima terhadap (n) .
5. Hitung kunci dekripsi, d, melalui ed 1 (mod m) atau d e-1 mod
((n) )
Hasil dari algoritma di atas:
- Kunci publik adalah pasangan (e, n) - Kunci privat adalah pasangan (d, n)
Catatan: n tidak bersifat rahasia, namun ia diperlukan pada perhitungan enkripsi/dekripsi
RSA
Kunci Publik
Misalkan a = 47 dan b = 71 (keduanya prima), maka dapat dihitung:
n = a b = 3337
(n) = (a – 1)(b – 1) = 46 x 70 = 3220.
Pilih kunci publik e = 79 (yang relatif prima dengan 3220 karena pembagi bersama
terbesarnya adalah 1).
Hapus a dan b dan kunci publiknya adalah n=3337 dan e=79 Kunci Privat
Selanjutnya akan dihitung kunci privat d dengan kekongruenan:
e d 1 (mod m) = =>
Dengan mencoba nilai-nilai k = 1, 2, 3, …, diperoleh nilai d yang bulat adalah 1019. Ini adalah kunci privat (untuk dekripsi).
79 ) 3220 ( 1 k d
RSA
Misalkan plainteks M = HARI INI
atau dalam ASCII: 7265827332737873
Pecah M menjadi blok yang lebih kecil (misal 3 digit):
m1 = 726 m4 = 273
m2 = 582 m5 = 787
m3 = 733 m6 = 003
RSA
Enkripsi setiap blok:
c1 = 72679 mod 3337 = 215
c2 = 58279 mod 3337 = 776, dst
Chiperteks C = 215 776 1743 933 1731 158.
Dekripsi (menggunakan kunci privat d = 1019)
m1 = 2151019 mod 3337 = 726
m2 = 7761019 mod 3337 = 582 dst untuk sisi blok lainnya
Plainteks M = 7265827332737873 yang dalam ASCII karakternya adalah HARI INI.
RSA
Kekuatan dan Keamanan RSA
Kekuatan algoritma RSA terletak pada tingkat kesulitan
dalam memfaktorkan bilangan non prima menjadi faktor primanya, yang dalam hal ini n = a b.
Sekali n berhasil difaktorkan menjadi a dan b, maka (n) = (a
– 1)(b – 1) dapat dihitung. Selanjutnya, karena kunci enkripsi e diumumkan (tidak rahasia), maka kunci dekripsi d dapat dihitung dari persamaan ed 1 (mod n).
Penemu algoritma RSA menyarankan nilai a dan b
panjangnya lebih dari 100 digit. Dengan demikian hasil kali n = a b akan berukuran lebih dari 200 digit.
Menurut Rivest dan kawan-kawan, usaha untuk mencari
faktor bilangan 200 digit membutuhkan waktu komputasi selama 4 milyar tahun! (dengan asumsi bahwa algoritma pemfaktoran yang digunakan adalah algoritma yang tercepat saat ini dan komputer yang dipakai mempunyai kecepatan 1 milidetik).
Algoritma MD5
MD5
MD5 adalah fungsi hash satu-arah yang dibuat oleh Ron
Rivest.
MD5 merupakan perbaikan dari MD4 setelah MD4 berhasil
diserang oleh kriptanalis.
Algoritma MD5 menerima masukan berupa pesan dengan
ukuran sembarang dan menghasilkan message digest yang panjangnya 128 bit.
Dengan panjang message digest 128 bit, maka secara brute
force dibutuhkan percobaan sebanyak 2128 kali untuk
menemukan dua buah pesan atau lebih yang mempunyai message digest yang sama.
MD5 (Algoritma)
Penambahan Bit-bit Pengganjal
Pesan ditambah dengan sejumlah bit pengganjal
sedemikian sehingga panjang pesan (dalam satuan bit) kongruen dengan 448 modulo 512.
Jika panjang pesan 448 bit, maka pesan tersebut
ditambah dengan 512 bit menjadi 960 bit. Jadi, panjang bit-bit pengganjal adalah antara 1 sampai 512.
Bit-bit pengganjal terdiri dari sebuah bit 1 diikuti dengan
MD5 (Algoritma)
Penambahan Nilai Panjang Pesan
Pesan yang telah diberi bit-bit pengganjal selanjutnya ditambah lagi
dengan 64 bit yang menyatakan panjang pesan semula.
Jika panjang pesan > 264 maka yang diambil adalah panjangnya
dalam modulo 264. Dengan kata lain, jika panjang pesan semula
adalah K bit, maka 64 bit yang ditambahkan menyatakan K modulo 264.
Setelah ditambah dengan 64 bit, panjang pesan sekarang menjadi
MD5 (Algoritma)
Inisialisai Penyangga MD
MD5 membutuhkan 4 buah penyangga (buffer) yang masing-masing
panjangnya 32 bit. Total panjang penyangga adalah 4 32 = 128 bit. Keempat penyangga ini menampung hasil antara dan hasil akhir.
Keempat penyangga ini diberi nama A, B, C, dan D. Setiap
penyangga diinisialisasi dengan nilai-nilai (dalam notasi HEX) sebagai berikut:
A = 01234567 B = 89ABCDEF C = FEDCBA98 D = 76543210
MD5 (Algoritma)
Pengolahan Pesan dalam Blok Berukuran 512 bit
Pesan dibagi menjadi L buah blok yang masing-masing
panjangnya 512 bit (Y0 sampai YL – 1).
Setiap blok 512-bit diproses bersama dengan penyangga MD menjadi keluaran 128-bit, dan ini disebut proses HMD5
MD5 (Algoritma)
]) 16 .. 1 [ , , (ABCD Y T f ABCD F q ]) 32 .. 17 [ , , (ABCD Y T f ABCD G q ]) 48 .. 33 [ , , (ABCD Y T f ABCD H q ]) 64 .. 49 [ , , (ABCD Y T f ABCD I q A B C D A B C D A B C D + + + + MDq MDq + 1 128 Yq 512 Yq :blok 512-bit ke-q daripesan + bit-bit pengganjal + 64 bit nilai panjang pesan semula
Fungsi-fungsi fF, fG, fH, dan
fI masing-masing berisi 16
kali operasi dasar terhadap masukan, setiap operasi dasar menggunakan
MD5 (Algoritma)
Tabel 1. Fungsi-fungsi dasar M D5
Nam a Notasi g(b, c, d)
fF F (b, c, d) (b c) (~b d)
fG G (b, c, d) (b d) (c ~d)
fH H (b, c, d) b c d
fI I(b, c, d) c (b ~ d)
Catatan: operator logika AND, OR, NOT, XOR masing-masing dilambangkan dengan , , ~,
MD5 (Algoritma)
Tabel 2. Nilai T[i]
T [ 1 ] = D 7 6 A A 4 7 8 T [ 2 ] = E 8 C 7 B 7 5 6 T [ 3 ] = 2 4 2 0 7 0 D B T [ 4 ] = C 1 B D C E E E T [ 5 ] = F 5 7 C 0 F A F T [ 6 ] = 4 7 8 7 C 6 2 A T [ 7 ] = A 8 3 0 4 6 1 3 T [ 8 ] = F D 4 6 9 5 0 1 T [ 9 ] = 6 9 8 0 9 8 D 8 T [ 1 0 ] = 8 B 4 4 F 7 A F T [ 1 1 ] = F F F F 5 B B 1 T [ 1 2 ] = 8 9 5 C D 7 B E T [ 1 3 ] = 6 B 9 0 1 1 2 2 T [ 1 4 ] = F D 9 8 7 1 9 3 T [ 1 5 ] = A 6 7 9 4 3 8 E T [ 1 6 ] = 4 9 B 4 0 8 2 1 T [ 1 7 ] = F 6 1 E 2 5 6 2 T [ 1 8 ] = C 0 4 0 B 3 4 0 T [ 1 9 ] = 2 6 5 E 5 A 5 1 T [ 2 0 ] = E 9 B 6 C 7 A A T [ 2 1 ] = D 6 2 F 1 0 5 D T [ 2 2 ] = 0 2 4 4 1 4 5 3 T [ 2 3 ] = D 8 A 1 E 6 8 1 T [ 2 4 ] = E 7 D 3 F B C B T [ 2 5 ] = 2 1 E 1 C D E 6 T [ 2 6 ] = C 3 3 7 0 7 D 6 T [ 2 7 ] = F 4 D 5 0 D 8 7 T [ 2 8 ] = 4 5 5 A 1 4 E D T [ 2 9 ] = A 9 E 3 E 9 0 5 T [ 3 0 ] = F C E F A 3 F 8 T [ 3 1 ] = 6 7 6 F 0 2 D 9 T [ 3 2 ] = 8 D 2 A 4 C 8 A T [ 3 3 ] = F F F A 3 9 4 2 T [ 3 4 ] = 8 7 7 1 F 6 8 1 T [ 3 5 ] = 6 9 D 9 6 1 2 2 T [ 3 6 ] = F D E 5 3 8 0 C T [ 3 7 ] = A 4 B E E A 4 4 T [ 3 8 ] = 4 B D E C F A 9 T [ 3 9 ] = F 6 B B 4 B 6 0 T [ 4 0 ] = B E B F B C 7 0 T [ 4 1 ] = 2 8 9 B 7 E C 6 T [ 4 2 ] = E A A 1 2 7 F A T [ 4 3 ] = D 4 E F 3 0 8 5 T [ 4 4 ] = 0 4 8 8 1 D 0 5 T [ 4 5 ] = D 9 D 4 D 0 3 9 T [ 4 6 ] = E 6 D B 9 9 E 5 T [ 4 7 ] = 1 F A 2 7 C F 8 T [ 4 8 ] = C 4 A C 5 6 6 5 T [ 4 9 ] = F 4 2 9 2 2 4 4 T [ 5 0 ] = 4 3 2 A F F 9 7 T [ 5 1 ] = A B 9 4 2 3 A 7 T [ 5 2 ] = F C 9 3 A 0 3 9 T [ 5 3 ] = 6 5 5 B 5 9 C 3 T [ 5 4 ] = 8 F 0 C C C 9 2 T [ 5 5 ] = F F E F F 4 7 D T [ 5 6 ] = 8 5 8 4 5 D D 1 T [ 5 7 ] = 6 F A 8 7 E 4 F T [ 5 8 ] = F E 2 C E 6 E 0 T [ 5 9 ] = A 3 0 1 4 3 1 4 T [ 6 0 ] = 4 E 0 8 1 1 A 1 T [ 6 1 ] = F 7 5 3 7 E 8 2 T [ 6 2 ] = B D 3 A F 2 3 5 T [ 6 3 ] = 2 A D 7 D 2 B B T [ 6 4 ] = E B 8 6 D 3 9 1
MD5 (Algoritma)
Putaran 1 : 16 kali operasi
dasar dengan g(b,c,d) =
F(b,c,d)
Tabel 3. Rincian operasi pada fungsi F(b, c, d) N o . [ a b c d k s i ] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 [ A B C D 0 7 1 ] [ D A B C 1 1 2 2 ] [ C D A B 2 1 7 3 ] [ B C D A 3 2 2 4 ] [ A B C D 4 7 5 ] [ D A B C 5 1 2 6 ] [ C D A B 6 1 7 7 ] [ B C D A 7 2 2 8 ] [ A B C D 8 7 9 ] [ D A B C 9 1 2 1 0 ] [ C D A B 1 0 1 7 1 1 ] [ B C D A 1 1 2 2 1 2 ] [ A B C D 1 2 7 1 3 ] [ D A B C 1 3 1 2 1 4 ] [ C D A B 1 4 1 7 1 5 ] [ B C D A 1 5 2 2 1 6 ]
MD5 (Algoritma)
Putaran 2 : 16 kali operasi
dasar dengan g(b,c,d) =
G(b,c,d)
Tabel 4. Rincian operasi pada fungsi G(b, c, d)
N o . [ a b c d k s i ] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 [ A B C D 1 5 1 7 ] [ D A B C 6 9 1 8 ] [ C D A B 1 1 1 4 1 9 ] [ B C D A 0 2 0 2 0 ] [ A B C D 5 5 2 1 ] [ D A B C 1 0 9 2 2 ] [ C D A B 1 5 1 4 2 3 ] [ B C D A 4 2 0 2 4 ] [ A B C D 9 5 2 5 ] [ D A B C 1 4 9 2 6 ] [ C D A B 3 1 4 2 7 ] [ B C D A 8 2 0 2 8 ] [ A B C D 1 3 5 2 9 ] [ D A B C 2 9 3 0 ] [ C D A B 7 1 4 3 1 ] [ B C D A 1 2 2 0 3 2 ]
MD5 (Algoritma)
Putaran 3 : 16 kali operasi
dasar dengan g(b,c,d) =
H(b,c,d)
Tabel 5. Rincian operasi pada fungsi H(b, c, d)
N o . [ a b c d k s i ] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 [ A B C D 5 4 3 3 ] [ D A B C 8 1 1 3 4 ] [ C D A B 1 1 1 6 3 5 ] [ B C D A 1 4 2 3 3 6 ] [ A B C D 1 4 3 7 ] [ D A B C 4 1 1 3 8 ] [ C D A B 7 1 6 3 9 ] [ B C D A 1 0 2 3 4 0 ] [ A B C D 1 3 4 4 1 ] [ D A B C 0 1 1 4 2 ] [ C D A B 3 1 6 4 3 ] [ B C D A 6 2 3 4 4 ] [ A B C D 9 4 4 5 ] [ D A B C 1 2 1 1 4 6 ] [ C D A B 1 5 1 6 4 7 ] [ B C D A 2 2 3 4 8 ]
MD5 (Algoritma)
Putaran 4 : 16 kali operasi
dasar dengan g(b,c,d) =
I(b,c,d)
Tabel 6. Rincian operasi pada fungsi I(b, c, d)
N o . [ a b c d k s i ] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 [ A B C D 0 6 4 9 ] [ D A B C 7 1 0 5 0 ] [ C D A B 1 4 1 5 5 1 ] [ B C D A 5 2 1 5 2 ] [ A B C D 1 2 6 5 3 ] [ D A B C 3 1 0 5 4 ] [ C D A B 1 0 1 5 5 5 ] [ B C D A 1 2 1 5 6 ] [ A B C D 8 6 5 7 ] [ D A B C 1 5 1 0 5 8 ] [ C D A B 6 1 5 5 9 ] [ B C D A 1 3 2 1 6 0 ] [ A B C D 4 6 6 1 ] [ D A B C 1 1 1 0 6 2 ] [ C D A B 2 1 5 6 3 ] [ B C D A 9 2 1 6 4 ]
MD5 (Algoritma)
Setelah putaran keempat, a, b, c, dan d
ditambahkan ke A, B, C, dan D, dan selanjutnya algoritma memproses untuk blok data berikutnya (Yq+1).
Keluaran akhir dari algoritma MD5 adalah hasil