BAB II
ANALISIS DATA
Berdasarkan permasalah dalam penelitian ini, maka yang akan dideskripsikan dalam analisis data meliputi bentuk, makna leksikal dan makna kultural dan fungsi yang terkandung dalam sesaji pada rangkaian upacara tradisi dhekahan dhusun di Dusun Mangurejo Desa Guli Kecamataan Nogosari Kabupaten Boyolali. Adapun uraiannya sebagai berikut.
A. Bentuk Istilah Perlengkapan Sesaji dalam Tradisi Dhekahan Dhusun
di Dusun Mangurejo Desa Guli Kecamatan Nogosari Kabupaten
Boyolali
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bentuk Istilah Perlengkapan Sesaji dalam Tradisi Dhekahan Dhusun di Dusun Mangurejo Desa Guli Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali, berupa monomorfemis, polimorfemis, dan frasa. Bentuk sesaji meliputi semua sesaji yang digunakan dalam upacara tradisi dhekahan dhusun. Uraiannya sebagai berikut.
1. Monomorfemis
Monomorfemis adalah kata bermorfem satu, tidak dibagi atas bagian yang lebih kecil, dan merupakan satuan bahasa terkecil. Istilah sesaji yang termasuk monomorfemis adalah sebagai berikut:
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
Ambeng ‘nasi yang dibentuk seperti gunungan’, ambeng berkategori nomina (N).
2) Ampyang [ampyaG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
ampyang ‘makanan yang terbuat dari gula jawa dan kacang tanah’, ampyang berkategori nomina (N).
3) Apem [ap|m]
apem ‘makanan yang terbuat dari tepung beras’, apem berkategori nomina (N).
4) Bawang [bawaG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
bawang ‘bawang putih’, bawang berkategori nomina (N). 5) Bongkrek [boGkrE?]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
bongkrek ‘lauk pauk yang terbuat dari sari kedelai’, bongkrek berkategori nomina (N).
6) Brambang [brambaG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
jadah ‘makanan yang terbuat dari beras ketan’, jadah berkategori nomina (N).
8) Jungkat [juGkat]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
jungkat ‘sisir’, jungkat berkategori nomina (N). 9) Kinang [kinaG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
kinang ‘terdiri dari daun sirih, gambir, tembakau, dan enjet’, kinang berkategori nomina (N).
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
krupuk ‘kerupuk’, krupuk berkategori nomina (N). 11)Lombok [lOmbO?]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
lombok ‘cabai’, lombok berkategori nomina (N). 12)Peyek [pEyE?]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
peyek ‘sejenis kerupuk yang terbuat dari tepung beras dan kacang tanah’, peyek berkategori nomina (N).
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
rengginan ‘makanan sejenis kerupuk yang terbuat dari beras ketan’, rengginan berkategori nomina (N).
14)Tahu [tahu]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
tahu ‘lauk-pauk yang terbuat dari kedelai’, tahu berkategori nomina (N).
15)Takir [takIr]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
takir ‘wadah yang dalamnya berisi sesaji’, takir berkategori nomina (N).
16)Tampah [tampah]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
tampah ‘anyaman bambu yang berbentuk lingkaran, dijadikan tempat sesaji’, tampah berkategori nomina (N).
17)Tape [tape]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
tape ‘makanan yang terbuat dari beras ketan’, tape berkategori nomina (N).
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
tempe ‘makanan yang terbuat dari kedelai’, tempe berkategori nomina (N).
19)Panggang [paGgaG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
panggang ‘ayam yang dipanggang’panggang berkategori nomina (N).
20)Wajib [wajIb]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015)
wajib ‘pemberian seikhlasnya berupa uang’, wajib berkategori nomina (N).
2. Polimorfemis
Polimorfemis merupakan kata yang telah mengalami proses morfologis, yang meliputi pengimbuhan/afiksasi, pengulangan/reduplikasi, pemajemukan/komposisi. Adapun istilah sesaji yang termasuk dalam polimorfemis adalah sebagai berikut. 2.1 Pengimbuhan atau afiksasi
21)Gudhangan [guDaGan]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) gudhangan
gudhang -an (sufiks)
gudhang [guDaG] ‘beberapa macam dedaunan yang dimasak’ gudhangan [guDaGan] ‘makanan yang terbuat dari beberapa dedauan biasanya daun bayam dan daun kacang panjang yang dikasih bumbu’.
gudhangan merupakan Nomina.
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) ngilon
ngilo -an (sufiks)
ngilo [Gilo] ‘melihat wujudnya di kaca atau cermin’
ngilon [GilOn] ‘cermin atau kaca digunakan untuk melihat wujud bayangan dirinya’.
ngilon merupakan Nomina. 23)Sonthongan [sonToGan]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) sonthongan
sonthong -an (sufiks)
sonthong [sOnTOG] ‘daun pisang yang dibentuk seperti wadah yang dipincuk kedua pinggirnya mengunakan lidi’
sonthongan [sOnTOGan] ‘suatu wadah yang terbuat dari daun pisang yang berisi berbagai macam makanan yang diletakkan di atas tampah’.
sonthongan merupakan Nomina. 2.2 Pemajemukan atau komposisi
24) Gedhang raja [g|DaG rOjO]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) gedhang raja
gedhang raja
Merupakan pemajemukan dari kata gedhang ‘pisang’ dan raja gedhang raja ‘jenis pisang yang rasanya paling enak dan bentuknya tidak terlalu panjang.’
gedhang raja merupakan kategori Nomina.
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) jenang sengkala
jenang sengkala
Merupakan pemajemukan dari kata jenang ‘sejenis bubur yang terbuat dari tepung beras ’ dan sengkala ‘marabahaya’ jenang sengkala ‘sejenis bubur yang berwarna putih dan merah.’ jenang sengkala merupakan kategori Nomina.
26)Kembang setaman [k|mbaG s|taman]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) kembang setaman
kembang setaman
Merupakan pemajemukan dari kata kembang ‘bunga’ dan setaman ‘ada beberapa macam’ kembang setaman ‘bunga
yang terdiri dari empat macam yaitu bunga mawar, bunga melati, bunga kantil, dan bunga kenanga.’
kembang setaman merupakan kategori Nomina. 27)Sambel goreng [samb|l gorEG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) sambel goreng
sambel goreng
Merupakan pemajemukan dari kata sambel ‘sambal yang terbuat dari cabe rawit’ dan goreng ‘memasak menggunakan minyak’ sambel goreng ‘sejenis sayuran yang bersantan dan rasanya pedas.’
sambel goreng merupakan kategori Nomina.
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) sega asahan
sega asahan
Merupakan pemajemukan dari kata sega ‘nasi’ dan asahan ‘nasi yang dibentuk gunungan atau setengah lingkaran’ sega asahan ‘nasi yang ditaruh di atas tampah lengkap dengan lauk pauknya, digunakan untuk kenduri.’
sega asahan merupakan kategori Nomina. 29)Sega golong [s|gO gOlOG]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) sega golong
Merupakan pemajemukan dari kata sega’nasi’ dan golong ‘berbentuk lingkaran’ sega golong ‘nasi yang dibentuk bulan untuk kenduri dan biasanya jumlahnya ganjil.’
sega golong merupakan kategori Nomina. 30)Endhog jawa [|nDOg jOwO]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) endhog jawa
endhog jawa
Merupakan pemajemukan dari kata endhog ‘telur’ dan jawa ‘nama pulau’ endhog jawa ‘telur ayam kampung.’
Endhog jawa merupakan kategori Nomina. 31)Palawija [pOlOwijO]
palawija ‘hasil bumi berupa umbi-umbian’ palawija merupakan kategori Nomina. 32)Dhuwit receh [DuwIt rEcEh]
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) dhuwit receh
dhuwit receh
Merupakan pemajemukan dari kata dhuwit dan receh
dhuwit receh ‘uang koin/logam yang jumlahnya lebiah dari satu’
dhuwit receh merupakan Nomina.
(dokumen Lina, 07 Agustus 2015) Jajan pasar
Jajan pasar
Merupakan pemajemukan dari kata jajan dan pasar Jajan pasar ‘makanan yang dibeli di pasar’ jajan pasar merupakan Nomina.
B. Makna Leksikal dan Makna Kultural Bentuk Istilah Sesaji dalam
Tradisi Dhekahan Dhusun di DusunMangurejo Desa Guli Kecamatan
Nogosari Kabupaten Boyolali
1. Makna Leksikal
1.1Monomorfemis 1) Ambeng [amb|G]
Makna leksikal ambeng adalah sega sarampadane kang dikepoeng ing nalikane slametan (Poerwadarminta, 1939:8) ‘nasi seisinya yang dikepung ketika selamatan.’
Makna leksikal apem adalah srabi legi (dianggo slametan) (Poerwadarminta, 1939:17) ‘serabi manis untuk selamatan.’
4) Bawang [bawaG]
Makna leksikal bawang adalahbrambang roepane poetih (Poerwadarminta, 1939:34) ‘bawang berwarna putih.’
5) Bongkrek [boGkrE?]
Makna leksikal bongkrek adalah tempe gembus. 6) Brambang [brambaG]
Makna leksikal brambang adalah bawang roepane abang (Poerwadarminta, 1939:59) ‘bawang berwarna merah.’
7) Jadah [jadah]
Makna leksikal jadah adalah jadah. 8) Jungkat [juGkat]
Makna leksikal jungkat adalah sisir.
Makna leksikal kinang adalah soeroeh saadoene (dianggo ngabang lambe) (Poerwadarminta, 1939:223) ‘daun sirih saadune untuk membuat bibir merah.’
10)Krupuk [krupU?]
Makna leksikal krupuk adalah lawoeh gorengan (kang digawe glepoeng ditjampoer bleng, oerang) (Poerwadarminta, 1939:252) ‘lauk yang digoreng terbuat dari tepung campur bleng, udang.’ 11)Lombok [lOmbO?]
Makna leksikal lombok adalah tetoewoehan wohe rasane pedes dianggo njambel (Poerwadarminta, 1939:282) ‘tumbuhan buahnya rasanya pedas untuk membuat sambal.’
12)Panggang [paGgaG]
Makna leksikal panggang adalah panggang. 13)Peyek [pEyE?]
Makna leksikal peyek adalah rempeyek. 14)Rengginan [r|Gginan]
Makna leksikal rengginan adalah panganan sing digawe ketan (Poerwadarminta, 1939:528) ‘makanan yang dibuat dari ketan.’ 15)Tahu [tahu]
Makna leksikal tahu adalah lelawoehan sing digawe dele poetih digiling (Poerwadarminta, 1939:585) ‘lauk pauk terbuat dari kedelai putih yang digiling.’
18)Tape [tape]
Makna leksikal tape adalah panganan sing digawe ketan, ketela, diragi (Poerwadarminta, 1939:593) ‘makanan terbuat dari ketan, ketela, diragi.’
19)Tempe [tempe]
Makna leksikal tempe adalah lawoeh sing digawe kedele, diragi (Poerwadarminta, 1939:596) ‘lauk yang dibuat dari kedelai, diragi.’
20)Wajib [wajIb]
Makna leksikal wajib adalah wajib. 1.2Polimorfemis
2.1 Pengimbuhan atau afiksasi 21)Gudhangan [guDaGan]
Makna leksikal gudhang adalah gudhang.
Makna leksikal gudhangan adalah djanganan sing diolah dikrawoe krambil (Poerwadarminta, 1939:153) ‘sayuran yang dimasak dicurap dengan kelapa.’
Makna leksikal ngilo adalah nonton woedjoede ing pangilon (Poerwadarminta, 1939: 401) ‘melihat wujudnya di cermin atau kaca.’
Makna leksikal ngilon adalah cermin atau kaca. 23)Sonthongan [sonToGan]
Makna leksikal sonthong adalah sonthong. Makna leksikal sonthongan adalah sonthongan. 2.2 Pemajemukan atau komposisi
24)Dhuwit receh [DuwIt rEcEh]
Makna leksikal dhuwit adalah sarananing oeroep-oeroepan kang diwoedjoedi ing tjitakan tembaga, slaka (Poerwadarminta, 1939:110) ‘sarana jual-beli yang berwujud cetakan tembaga atau kertas.’
Makna leksikal receh adalah receh.
Makna leksikal dhuwit receh adalah uang receh. 25)Endhog jawa [|nDOg jOwO]
Makna leksikal endhog adalah djasad oerip kang kaboentel ing kendangan , tjangkok bakal dadi kewan (Poerwadarminta, 1939:122) ‘jasad hidup yang berada di cangkang, nantinya bakal jadi hewan.’
Makna leksikal jawa adalah djawa (Poerwadarminta, 1939:176) ‘jawa.’
Makna leksikal endhog jawa adalah telur ayam kampung. 26)Gedhang raja [g|DaG rOjO]
Makna leksikal gedhang raja adalah pisang raja. 27)Jajan pasar [jajan pasar]
Makna leksikal jajan adalah membeli.
Makna leksikal pasar adalah papan kang dianggo dol tinoekoe barang-barang (Poerwadarminta, 1939:474) ‘tempat yang digunakan untuk jual-beli barang.’
Makna leksikal jajan pasar adalah makanan yang dibeli dipasar. 28)Jenang sengkala [j|naG s|GkOlO]
Makna leksikal jenang adalah jenang. Makna leksikal sengkala adalah sengkala.
Makna leksikal jenang sengkala adalah jenang merah dan putih. 29)Kembang setaman [k|mbaG s|taman]
Makna leksikal kembang adalah bunga. Makna leksikal setaman adalah setaman.
Makna leksikal kembang setaman addalah bunga setaman. 30)Palawija [pOlOwijO]
Makna leksikal pala adalah pala. Makna leksikal wija adalah wija.
Makna leksikal palawija adalah umbi-umbian. 31)Sambel goreng [samb|l gorEG]
Makna leksikal sambel adalah lelawoehan sing digawe lombok diboemboni warna-warna digawe sambel (Poerwadarminta, 1939:541) ‘lauk-pauk yang dibuat dari cabai dikasih bumbu macam-macam dibuat sambal.’
Makna leksikal goreng adalah sing dikongseng, diratengi ing lenga (Poerwadarminta, 1939:160) ‘yang digoreng, dimatangkan menggunakan minyak.’
Makna leksikal sambel goreng adalah sambal goreng. 32)Sega asahan [s|gO asahan]
Makna leksikal sega adalah beras sing wis mateng (diliwet, diedang) (Poerwadarminta, 1939:552) ‘beras yang sudah matang.’ Makna leksikal asahan adalah asahan.
Makna leksikal sega asahan adalah nasi asahan. 33)Sega golong [s|gO gOlOG]
Makna leksikal sega adalah beras sing wis mateng (diliwet, diedang) (Poerwadarminta, 1939:552) ‘beras yang sudah matang.’ Makna leksikal golong adalah wis noenggal (koempoel) dadi sidji, gloendoengane gede (Poerwadarminta, 1939:159) ‘sudah berkumpul menjadi satu, bentuknya bulat besar.’
Makna leksikal sega golong adalahsega diglindingi dianggo slametan (Poerwadarminta, 1939:552)‘sega dibentuk bulat untuk selamatan.’
Dusun Mangurejo, amberng berasal dari kata pambeng ‘hambatan’. Hambatan bisa dilalui dengan adanya gotong royong dan kebersamaan tanpa membedakan pangkat, usia, kekayaan sehingga terjalinlah suatu kerukunan, kesejahteraan, persatuan antar warga Dusun Mangurejo dan dan warga bisa makan bersama-sama yang dirangkum dalam tradisi dhekahan dhusun. Kerukunan, kesejahteraan, persatuan antar warga Dusun Mangurejo digambarkan seperti nasi yang nglumpuk dadi siji ‘berkumpul menjadi satu’ tanpa membedakan status sosial.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 2) Ampyang [ampyaG]
Makna kultural ampyang adalah makanan tradisional khas Jawa yang terbuat dari gula jawa dan kacang tanah, rasanya manis bentuknya bundar pipih. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo ampyang sebagai simbol agar kehidupan warga Dusun mangurejo selalu bahagia, damai, dan tentram yang digambarkan seperti rasa ampyang yaitu manis. Dengan demikian, masyarakat berharap kehidupan warga Dusun Mangurejo akan terus terikat maksudnya selalu bermusyawarah dalam mengambil keputusan, bersatu maksudnya selalu bergotong royong dalam segala hal, dan tidak
lepas maksudnya selalu bersama-sama menjaga kerukunan dan keharmonisan antara warga Dusun Mangurejo.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 3) Apem [ap|m]
Makna kultural apem adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang didiamkan semalam dengan mencampurkan telur, santan, gula, dan tape serta sedikit garam kemudian dibakar atau dikukus dalam cetakan, bentuknya mirip serabi namun lebih tebal. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo apem sebagai simbol memohonkan ampunan untuk arwah leluhurnya yang sudah meninggal supaya diterima disisiNya. Apem menurut masyarakat setempat sebagai seperangkat sesaji secara simbolis sebagai pernyataan saling memaafkan maksudnya kita sebagai manusia diharapkan selalu bisa memberi maaf atau memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Dengan demikian warga masyarakat Dusun Mangurejo hidup rukun.
(Informan bapak Samlani (Selasa, 04 Agustus 2015)) 4) Bawang [bawaG]
Makna kultural bawang adalah sejenis umbi yang bisa digunakan sebagai salah satu bahan rempah utama dalam berbagai masakan. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo bawang dijadikan simbol sebagai bumbu dalam kehidupan agar tidak hambar, dalam menjalani kehidupan pasti ada suka maupun duka. Warna putih dalam bawang melambangkan kebaikan dalam hidup. Secara
membantu.
(Informan bapak Jumadi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 5) Bongkrek [boGkrE?]
Makna kultural bongkrek adalah sejenis lauk pauk yang terbuat dari ampas kedelai atau ampas tahu dan ampas kelapa yang sudah diambil minyaknya.
(Informan ibu Wartini (Selasa, 04 Agustus 2015)) 6) Brambang [brambaG]
Makna kultural brambang adalah bawang merah yang digunakan sebagai bumbu untuk memasak, jika diiris bisa membuat mata pedih. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo bramban sebagai simbol bumbu dalam kehidupan agar tidak hambar. Warna merah pada brambang sebagai lambang bahwa dalam menjalani hidup dibutuhkan keberanian untuk menghadapi gangguan.
(Informan bapak Jumadi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 7) Dhuwit receh [DuwIt rEcEh]
Makna kultural dhuwit receh adalah alat untuk transaksi jual beli dalam bentuk koin dan jumlahnya lebih dari satu. Dhuwit receh biasanya sebagai isi takir. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo dhuwit receh sebagai simbol agar saat panen padi yang dihasilkan
banyak seperti dhuwit receh yang jumlahnya lebih dari satu. Hasil panennya bagus tidak banyak yang gabug ‘tidak berisi’ dan tidak diserang hama yang dapat merusak padi.
(Informan bapak Suyatno (Selasa, 04 Agustus 2015)) 8) Endhog jawa [|nDOg jOwO]
Makna kultural endhog jawa adalah telur yang bentuknya lebih kecil dari telur pada umumnya, berwarna putih, berasal dari ayam kampung. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo endhog jawa sebagai simbol kanggo ngedhemake ‘untuk mendinginkan’ maksudnya agar dalam pelaksanaan tradisi dhekahan dhusun suasananya tetap dingin dan emosi-emosi dapat terkontrol dengan baik, dapat menerima pendapat/masukan dari orang lain pada saat sedang bermusyawarah bersama sepanjang pelaksanaan dhekahan dhususn.
(Informan bapak Suyatno (Selasa, 04 Agustus 2015)) 9) Gedhang raja [g|DaG rOjO]
Makna kultural gedhang raja adalah jenis pisang yang sering digunakan dalam sesajian. Pisang raja ini berwarna kuning dan rasanya paling enak diantara pisang yang lain bentuknya tidak terlalu panjang. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo adalah sebagai simbol agar pemimpin (raja) didukung oleh seluruh rakyatnya. Suatu masyarakat akan hidup tentram dan bahagia jika antara pemimpin dan rakyatnya akan saling mendukung dan saling melengkapi. Pemimpin (raja) tidak semena-mena pada rakyatnya
Makna kultural gudhangan adalah beberapa macam sayuran yang direbus dan disajikan dengan menggunakan bumbu sambal kelapa parut. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo gudhangan sebagai simbol kesegaran dalam sayuran melambangkan kesegaran jasmani dan rohani. Kesegaran jasmani diharapkan akan selalu diberikan kesehatan, sedangkan kesegaran rohani diharapkan akan selalu berpikir jernih (berbuat baik) sehingga terhindar dari sifat jelek. Sayur sebagai simbol perbedaan agama, sosial, dan pendidikan tetapi disatukan dengan diurap ‘dicampur’ sebagai simbol bersatunya perbedaan yang ada dengan satu tujuan tercipta suasana aman, tenteram, dan penuh kekeluargaan. Gudhangan biasanya terdiri dari bayem, kacang lanjaran, dan bumbu ‘bayam, kacang panjang dan bumbu.’Bayem mempunyai makna supaya hidupnya ayem ‘tenteram’ yaitu selalu rukun, saling tolong menolong. Kacang lanjaran mempunyai makna dalam menjalani hidup harus sabar narima ‘sabar menerima’ selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Bumbu mempunyai makna karena terasa pedas jadi dalam menjalani hidup kadang terasa manis dan pedas ‘suka maupun duka.’
11)Jadah [jadah]
Makna kultural jadah adalah sejenis makanan yang terbuat dari beras ketan yang di masak dengan cara ‘diadang’ yang dicampur dengan parutan kelapa dan garam kemudian ditumbuk sampai halus, rasanya gurih dan biasanya ditaruh dijajan pasar. Jadah bagi masyarakat Dusun Mangurejo mempunyai simbol sebagai lambang kebenaran dan kesucian untuk menjauhkan diri dari gangguan alam gaib dengan cara selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa dan selalu berada dijalan Allah. Lambang kebenaran dan kesucian diambil dari warna jadah yang putih. Makna sesuai cara membuatnya yaitu dalam menumbuk harus sungguh-sungguh supaya hasilnya lembut, begitu pula dalam memohon sesuatu keinginan harus mantap ‘madhep mantep’ dan dalam memohon harus bersungguh-sungguh supaya keinginan dapat terkabulkan dan harus disertai dengan usaha, karena dengan berdoa saja tidak akan cukup.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 12)Jajan pasar [jajan pasar]
Makna kultural jajan pasar adalah beberapa jenis makanan atau buah-buahan yang dibeli dipasar untuk perlengkapan sesaji. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo Jajan pasar memiliki simbol anggota masyarakat yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sosial, sehingga sebagai masyarakat harus bisa menyesuaikan sedemikian rupa agar dapat diterima masyarakat
13)Jenang sengkala [j|naG s|GkOlO]
Makna kultural jenang sengkala adalah jenang yang berwarna merah dan putih yang terbuat dari tepung beras, santan dan gula jawa, rasanya gurih dan manis. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo jenang sengkala mempunyai simbol sebagai penolak bala menolak marabahaya baik dari hal-hal ghaib ataupun manusia yang mungkin akan datang dan merusak jalannya upacara tadisi dhekahan dhusun.
(Informan bapak Sutar (Rabu, 05 Agustus 2015)) 14)Jungkat [juGkat]
Makna kultural jungkat adalah sebuah alat yang terbuat dari plastik, biasanya berbentuk pipih, bergigi, dan digunakan untuk menata rambut. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo jungkat mempunyai simbol sebagai penyisir biji-biji padi yang keluar supaya tidak banyak yang gabug ‘tidak berisi.
(Informan ibu Wartini (Selasa, 04 Agustus 2015)) 15)Kembang setaman [k|mbaG s|taman]
Makna kultural kembang setaman adalah bunga yang digunakan untuk sesaji yang terdiri dari bunga mawar, bunga melati, bunga kanthil. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo kembang setaman
mempunyai arti bunga melati sabagai simbol kesucian, bunga kanthil berwarna kuning sebagai simbol kehidupan, bunga mawar sebagai simbol manusia yang berasal dari perpaduan antara darah merah dan darah putih. Kembang setaman secara keseluruhan merupakan simbol trimurti antara pencipta, makhluk dan alam semesta atau antara Tuhan, manusia, dan kehidupan. Selain makna tersebut kembang setaman juga mempunyai makna salah satu simbol untuk mencapai tujuan utama yaitu keselamatan warga desa dari kejahatan baik kejahatan manusia maupun kejahatan ghaib. (Informan bapak Samlani (Selasa, 04 Agustus 2015))
16)Kinang [kinaG]
Makna kultural kinang adalah suruh atau daun sirih yang dikasih enjet, dan gambir yang biasanya digunakan para nenek untuk ‘nginang’ dengan cara dikunyah. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo kinang sebagai simbol penghormatan kepada roh nenek moyang. Karena pada jaman dahulu banyak nenek moyang yang suka nginang.
(Informan bapak Suyatno (Selasa, 04 Agustus 2015)) 17)Krupuk [krupU?]
Makna kultural krupuk adalah makanan ringan yang pada umumnya terbuat dari adonan tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sampai matang, kemudian dipotong tipis-tipis, dikeringkan dibawah sinar matahari sampai kering dan digoreng dengan minyak goreng yang
pantang menyerah. Selain itu krupuk juga mempunyai makna simbolis agar masyarakat Dusun Mangurejo selalu diberi keringanan/diringankan oleh Tuhan Yang Mahaesa dalam menghadapi suatu masalah-masalah dalam kehidupan.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 18)Lombok [lOmbO?]
Makna kultural lombok adalah tanaman perdu yang buahnya berbentuk bulat panjang dengan ujung meruncing, apabila sudah tua berwarna merah atau hujau tua, berisi banyak biji dan rasanya pedas. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo lombok mempunyai simbol salah satu bumbu dalam hidup manusia agar tidak hambar. Pedas yang dihasilkan lombok sebagi lambang rintangan yang biasanya berup masalah-masalah yang harus dihadapi dalam kedidupan, tetapi dalam menghadapi masalah harus dengan kepala dingin, jangan emosi, dan harus sabar. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015))
Makna kultural ngilon adalah sebuah benda dengan permukaan yang dapat memantulkan bayangan benda dengan sempurna. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo kaca mempunyai simbol sebagai instrofeksi diri agar terjalin kerukunan dan tidak membeda bedakan status sosial.
(Informan bapak Sutar (Rabu, 05 Agustus 2015)) 20) Palawija [pOlOwijO]
Makna kultural palawija adalah tanaman selain padi biasanya ditanam di sawah atau di ladang. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo palawija mempunyai simbol warna-warni sikap dan sifat manusia dalam hidup seperti halnya umbi-umbian yang banyak macamnya. Karena dalam kehidupan sifat manusia tidak selalu sama, ada yang baik dan ada yang buruk. Tetapi dalam hal ini yang diharapkan adalah agar masyarakat Dusun Mangurejo mempunyai sifat yang baik.
(Informan bapak Samlani (Selasa, 04 Agustus 2015)) 21)Panggang [paGgaG]
Makna kultural panggang adalah satu ekor ayam yang disembelih dan dibersihkan bulunya serta kotoran yang ada didalamnya, bagian dada ayam dibelah kemudian bagian tengahnya ditusuk menggunakan kayu. Setelah itu dipanggang diatas mawa tanpa dikasih bumbu. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo adalah sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberi perlindungan dan kemakmuran bagi masyarakat dusun. Dengan
Panggang iku ngalap gegadhuhipun raja kaya maksudnya panggang itu sebagi korban persembahan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Panggang juga menjadi simbol bagi orang Jawa yakni dalam menjalani kehidupan kita harus pasrah, selalu bersyukur pada saat keadaan di atas maupun di bawah.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 22)Peyek [pEyE?]
Makna kultural peyek adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan air hingga membentuk adonan kental, diberi bumbu dan biasanya dicampur dengan kacang, masaknya dengan cara digoreng tipis-tipis sampai kering berwarna kuning kecoklatan. Bagi Dusun Mangurejo peyek mempunyai simbol sebagai lambang bersatunya kebudayaan dan masyarakat dalam mencapai tujuan bersama, dalam hal ini supaya terlaksana dengan baik dalam upacara dhekahan dhusun. Terlihat dari adonan peyek yang diberi kacang tanah, adonan sebagai simbol kehidupan, kacang tanah sebagai simbol kebudayaan artinya meskipun mempunyai budaya yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu hidup tentram, bahagia, terikat, tidak goyah, dan bersatu.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 23)Rengginan [r|Gginan]
Makna kultural rengginan adalah makanan sejenis kerupuk yang ditaruh disesaji jajan pasar terbuat dari beras ketan dan santan, kemudian dikukus, setelah itu dicetak menjadi bundar pipih dan dijemur sampai kering. Memasaknya dengan cara digoreng menggunakan minyak yang banyak. Bagi Dusun Mangurejo rengginan mempunyai simbol berbentuk bundar gepeng ‘pipih’ menyerupai bunga, sehingga diharapkan warga Dusun Mangurejo dalam menjalani hidup selalu harmonis, bahagia, bersatu, dan saling gotong royong untuk menjalin suatu kerukunan.
(Informan bapak Suyatno (Selasa, 04 Agustus 2015)) 24)Sambel goreng [samb|l gorEG]
Makna kultural sambel goreng adalah makanan sejenis sayuran bersantan rasanya pedas yang terbuat dari sambal, santan, jepan, brabasan atau krecek kulit dan diberi bumbu. Memasaknya dengan cara sambal dan bumbu ditumis dengan menggunakan sedikit minyak lalu dicampur dengan kentang yang dipotong kecil-kecil berbentuk dadu, brabasan atau krecek kulit, santan dan diaduk jadi satu dibiarkan sampai santannya habis. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo sambel gorang sebagai simbol dalam berjuang butuh keberanian dan persatuan. Keberanian digambarkan dengan bumbu dengan cabe merah, sedangkan persatuan digambarkan dengan
Makna kultural sega asahan adalah nasi yang dibentuk seperti gunungan atau setengah lingkaran yang ditahur diatas tampah yang dilengkapi dengan lauk pauk, digunakan untuk kenduri. Sega asahan sebagai simbol dari semua harapan yang telah selesai (sah) atau telah terlaksana tidah ada hal-hal yang kurang dan diharapkan semua warga masyarakat selalu mendapat berkah dari Tuhan dengan kehidupan yang tenteram. Selain itu sega asahan juga mempunyai makna lambang kebersamaan dan kerukunan antar warga. Dapat dilihat dari nasi yang ditata lengkap dengan lauk paiknya menjadi satu rapat padat.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 26)Sega golong [s|gO gOlOG]
Makna kultural sega golong adalah nasi yang dibentuk lingkaran yang ditaruh diatas tampah dan digunakan untuk kenduri. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo sega golong sebagai simbol bahwa masyarakat Dusun Mangurejo harus mempunyai tekad yang bulat (golong) sehingga apa yang dicita-citakan akan terwujud dan komponen masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya sega golong yang dikepal sampai benar-benar menyatu.
(Informan bapak Samlani (Selasa, 04 Agustus 2015))
27)Sonthongan [sonToGan]
Makna kultural sonthongan adalah tempat atau wadah yang digunana untuk tempat sesaji, terbuat dari daun pisang. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo sonthongan sebagai simbol kanggo nylameti kabeh sing anan ing desa ‘untuk selamatan keseluruhan yang ada di Dusun Mangurejo, baik masyarakat maupun alamnya.’ (Informan bapak Semi (Rabu, 05 Agustus 2015))
28)Tahu [tahu]
Makna kultural tahu adalah lauk pauk yang ada dalam sesaji, terbuat dari kedelai yang sudah dihaluskan dan ambil sarinya, memasaknya dengan cara digoreng dengan minyak yang banyak. Tahu hanya sebagai pelengkap lauk pauk.
(Informan bapak Sutar (Rabu, 05 Agustus 2015)) 29)Takir [takIr]
Makna kultural takir adalah suatu tempat atau wadah yang didalamnya, cabai, bawang putih, bawang merah, uang logam/koin dan telur ayam kampung. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo takir mempunyai simbol kerukunan antara warga yang satu dengan yang lainya yang digambarkan melalui beberapa macam sesaji yang berbeda-beda yang ada didalam takir.
(Informan ibu Wartini (Selasa, 04 Agustus 2015)) 30)Tampah [tampah]
tempat hidup masyarakat yang mempunyai bermacam-macam karakter dan juga memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam. Keanekaragaman tersebut digambarkan melalui tampah sebagai tempat untuk segala macam makanan didalamnya sebagai penggambaran keanekaragaman masyarakat dan alam Dusun Mangurejo.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 31)Tape [tape]
Makna kultural tape adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang sudah dikukus dan dicampur dengan ragi, dibungkus menggunakan daun pisang, didiamkan selama dua malam. Tape biasanya ditaruh disesaji jajan pasar. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo tape sebagai simbol tanpa petung ‘tanpa perhitungan’ maksudnya dalam kehidupan harus saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan tanpa mengharapkan imbalan apapun
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015))
Makna kultural tempe adalah lauk pauk yang terbuat dari kedelai dan dicampur dengan ragi. Tempe hanya digunakan sebagai pelengkap sesaji.
(Informan ibu Semi (Rabu, 05 Agustus 2015)) 33)Wajib [wajIb]
Makna kultural wajib adalah pemberian uang seikhlasnya, yang dijadikan upah untuk seseorang yang memimpin doa. Bagi masyarakat Dusun Mangurejo wajib sebagai simbol pengganti jika sesaji masih ada yang kurang atau belum lengkap, sehingga diharapkan uang dapat digunakan sebagai pengganti sesaji yang kurang, karena menurut masyarakat jika dalam suatu upacara tradisional masih ada sesaji yang kurang atau belum lengkap maka akan muncul bencana atau mara bahaya. Hasil uangnya nanti diberikan kepada seseorang yang memimpin doa.
(Informan bapak Wakidi (Rabu, 05 Agustus 2015))
3. Fungsi Tradisi Dhekahan Dhusun di Dusun Mangurejo Desa Guli
Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali
1. Fungsi Religius
Dalam fungsi religius upacara dhekahan dhusun hanya ditujukan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dhekahan dhusun diadakan masyarakat Dusun Mangurejo sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan yaitu atas rizki yang telah diberikan kepada mereka berupa hasil panen yang melimpah. Masyarakat Dusun Mangurejo juga berharap kepada Tuhan,
dengan Tuhan dapat terjalin dengan baik jika mereka menjalankan agama dan tradisi upacara dhekahan dhusun setiap tahunnya. 2. Fungsi Sosial
Dalam fungsi sosial, upacara dhekahan dhusun mengandung nilai luhur yaitu kebersamaan dan gotong royong sehingga menciptakan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Dusun Mangurejo, ketentraman, dan kerukunan antarwarga, melestarikan budaya nenek moyang, dan memohon keselamatan untuk Dusun Mangurejo agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Aktivitas inilah yang menjadikan satu pandangan sebuah kebersamaan sosial masyarakat dan mempunyai rasa saling memiliki.
3. Fungsi Ekonomi
Dalam fungsi ekonomi, adanya tradisi dhekahan dhusun banyak pedagang yang datang pada saat pelaksanaan tradisi dhekahan dhusun sehingga dapat menambah penghasilan bagi warga sekitar yang sedang berjualan di sekitar pelaksanaan tradisi itu, karena di situ banyak anak-anak yang ikut orang tuanya untuk menghadiri upacara tradisi dhekahan dhusun. Selain itu, dengan tetap melaksanakan upacara tradisi dhekahan dhusun masyarakat akan
lebih mudah dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, serta hasil panen akan meningkat di tahun depan.
4. Fungsi Kultural
Dalam fungsi kultural, dengan adanya tradisi dhekahan dhusun masyarakat Dusun Mangurejo bisa terbebas dari bencana dan agar terhindar dari jiwa egois karena jarang berkumpul, banyak warga yang bekerja di luar kota, silaturahmi tetap terjalin dengan baik dan seluruh dusun akan merasa aman. Maka dari itu sampai saat ini upacara tradisi dhekahan dhusun masih menjadi suatu tradisi yang penting bagi masyarakat Dusun Mangurejo sehingga tidak mengherankan apabila di Dusun Mangurejo tradisi dhekahan dhusun masih terus dilestarikan sampai sekarang dan dilaksanakan secara turun-temurun.