• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Harga Lahan Di Kota Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Harga Lahan Di Kota Bogor"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Harga Lahan Di Kota Bogor

Mochammad Fadhil Safrizal Ghifariansyah

mochammadfadhilsg@gmail.com

Su Ritohardoyo

surito@ugm.ac.id

Abtract

The land is one of the basic human needs that must be met. The increase of population can

also enhance human needs on the land. The fulfillment of those needs is causing the land as

commodity which has perfect elasticity. It makes the price of land increasingly high due to its

demand. The rapid development in the urban areas aggravates the condition with the

development and changes in physically, especially on land use, accessibility and the

fulfillment of public facilities. Analysis of correlation and multiple regression analysis is used

to be able to see how big the influence and relationship between landuse change,

accessibility of public facilities and also to changes in the price of land occurred in Bogor

City between the years 2010 and the year 2015

Keywords: land, landuse change, accessibility, public facilities, land price.

Abstrak

Lahan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Pertambahan jumlah

penduduk juga dapat meningkatkan kebutuhan manusia atas lahan. Pemenuhan kebutuhan

tersebut menyebabkan lahan menjadi komoditas yang memiliki elastisitas sempurna. Hal itu

menyebabkan harga lahan menjadi semakin tinggi seiring bertambahnya permintaan terhadap

lahan. Pembangunan pesat pada kawasan perkotaan memperparah kondisi tersebut dengan

perkembangan dan perubahan secara fisik, terutama pada pengunnan lahan, aksesibilitas dan

pemenuhan fasilitas umum. Analisis korelasi dan analisis regresi berganda digunakan untuk

dapat melihat seberapa besar pengaruh dan hubungan antara perubahan penggunaan lahan,

aksesibilitas dan juga fasilitas umum terhadap perubahan harga lahan yang terjadi di Kota

Bogor antara tahun 2010 dan tahun 2015.

Kata Kunci: lahan, perubahan penggunaan lahan, aksesibilitas, fasilitas umum, harga lahan.

PENDAHULUAN

Lahan adalah salah satu komoditas penting dalam kehidupan manusia. Salah satu kebutuhan fundamental manusia terkait lahan adalah untuk digunakan sebagai permukiman. FAO (1976) mengemukakan bahwa lahan merupakan bagian dari bentang alam yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi dan keadaan vegetasi yang berpengaruh terhadap penggunaan lahan yang ada. Lahan pun merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dan dioptimalkan untuk menghasilkan produk tertentu. Kondisi

tersebut juga menyebabkan lahan menjadi suatu komoditas vital yang harus terpenuhi oleh siapapun, sehingga hal tersebut menyebabkan lahan menjadi barang dengan penawaran inelastis sempurna.

Semakin meningkatnya laju pembangunan yang ada dan didorong dengan pertambahan jumlah penduduk yang ada di suatu wilayah, hal ini memberikan dampak semakin meningkatnya perubahan penggunaan lahan (Surni, dkk., 2015). Perubahan penggunaan lahan yang ada di suatu wilayah dapat memberikan gambaran seberapa besar

(2)

2 perkembangan dan pembangunan yang telah terjadi di wilayah tersebut.

Penggunaan lahan adalah segala bentuk intervensi campur tangan manusia terhadap lahan yang ada dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia (Arsyad,, 2010). Malingreau (1978) mengutarakan bahwa penggunaan lahan adalah segala bentuk campur tangan manusia baik secara permanen maupun siklus terhadap suatu kelompok sumber daya alam dan sumberdaya buatan yang secara keseluruhan disebut lahan dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhannya baik secara kebendaan maupun spiritual.

Dinamika lahan juga terjadi dengan kondisi penawaran inelastis sempurna. Berdasarkan teori permintaan dan penawaran bahwa pada barang yang memiliki penawaran inelastis sempurna akan mengakibatkan harga yang di sangat mahal. Hal tersebut terjadi karena barang yang ada bersifat tetap, tetapi permintaan akan terus meningkat. Sebagai akibat dari adanya perbedaan harga lahan di setiap wilayahnya, sehingga pemanfaatan terhadap lahannya pun akan terpengaruhi.

Hal ini juga banyak terjadi di wilayah yang sedang mengalami perkembangan kearah perkotaan, dimana wilayah yang sedang dalam perkembangan kearah perkotaan akan menimbulkan permintaan yang banyak untuk dijadikan berbagai kawasan yang ada di perkotaan. Selain itu banyak faktor-faktor yang memengaruhi harga lahan yang ada di suatu wilayah seperti aksesibilitas, fasilitas pelayanan dan lain sebagainya. Pemanfaatan atas lahan berupa jenis penggunaan juga memiliki pengaruh terhadap adanya fluktuasi harga lahan yang ada di kawasan perkotaan. Oleh karena itu harga lahan juga menjadi bagian penting dalam dinamika lahan yang terjadi di kawasan perkotaan.

Perkembangan yang terjadi di wilayah ini meningkat dari tahun ke tahunnya karena interaksi antarwilayah yang terjadi. Hal tersebut juga didukung dengan aksesibilitas dan konektivitas wilayah berupa jalan tol JAGORAWI yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi sehingga meningkatkan tingkat mobilisasi yang ada di ketiga daerah tersebut. Kota Bogor juga merupakan wilayah dengan

tingkat aktivitas ekonomi yang tinggi sehingga hal tersebut menimbulkan perkembangan baik secara fisik, sosial maupun ekonomi pada wilayah ini. Perkembangan wilayah yang terjadi di Kota Bogor menimbulkan banyak fenomena, beberapa fenomena yang terjadi adalah fenomena dinamika lahan terkait perubahan penggunaan lahan dan perubahan harga lahan yang ada di Kota ini. Perkembangan kota secara terus-menerus menyebabkan dinamika lahan di Kota Bogor menjadi bervariasi. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya fasilitas pelayanan yang ada dan tingkat aksesibilitas wilayah yang sangat tinggi (Fahirah, dkk., 2010).

Penelitian ini memiliki tujuan untuk dapat memberikan penjelasan secara empiris terhadap perubahan pengguaan lahan, perubahan harga lahan dan pengaruh penggunaan lahan terhadap harga lahan yang terjadi di Kota Bogor pada tahun 2010 dan tahun 2015.

METODE PENLITIAN

Penelitian ini menekankan pada hubungan dan pengaruh dari perubahan fenomena fisik dan budaya yang dapat dilihat dari pemerolehan data secara sekunder dengan pendekatan kuantitatif. Wilayah kajian penelitian dilakukan di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pertimbangan pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan melihat dinamika perkotaan yang terjadi dari tingkat konektivtas dan produktivitas wilayah. Pertimbangan selanjutnya adalah dengan melihat kedudukan Kota Bogor sebagai central business district sekaligus civic center. Tingkat konektivitas dan juga kedudukan kota bogor akan menimbulkan banyaknya dinamika perkembangan wilayah perkotaan sehingga memungkinkan mempengaruhi fluktuasi harga lahan yang terjadi selama lima tahun terakhir.

Data dan Variabel

Data yang digunakan adalah sepenuhnya data sekunder. Unit analisis dari penelitian ini adalah wialyah secara umum atau lebih spesifik mengenai pengaruh penggunaan lahan terhadap harga lahan. Data yang akan digunakan dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu data penggunaan lahan dan data

(3)

3 harga lahan. Data-data penggunaan lahan merupakan data yang dibutuhkan sebagai variable independen dalam pengujian. Data penggunaan lahan terdiri data penggunaan lahan tahun 2010 dan tahun 2015, jumlah fasilitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, lokasi kantor Walikota Bogor, dan jaringan jalan. Sedangkan data harga lahanadalah data yang dibutuhkan sebagai variable dependen. Data harga laham terdiri dari satu komponen utama yaitu harga lahan NJOP tahun 2010 dan tahun 2015.

Satuan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data interval dan data rasio. Hal tersebut dilakukan karena untuk dapat menyamakan satuan data yang ada sehingga nantinya akan mempermudah dalam proses pengolahan data statistik yang akan dilakukan.

Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian tentang penggunaan lahan dan harga lahan ini adalah data sekunder. Data Sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua. Secara umum data utama yang dibutuhkan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu tentang penggunaan lahan dan harga lahan. Data sekunder yang terkait dengan penggunaan lahan diperoleh dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Bogor. Sementara itu untuk data sekunder yang terkait dengan harga tanah NJOP akan diperoleh dari lembaga yang menentukan nilai NJOP Kota Bogor, yaitu Dinas Pendapatan Daerah Kota Bogor.

Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan beberapa perangkat lunak, yaitu perangkat lunak pengolahan data spasial ArcMap, perangkat lunak pengolahan angka Excel dan perangkat lunak pengolahan statistika SPSS. Proses pengolahan data yang akan dilakukan pada penelitian ini terbagi dalam tiga tahapan besar. Ketiga tahapan terserbut adalah tahapan pemrosesan data spasial, pemrosesan data angka dan pemrosesan statistika. Tahap pertama adalah pemrosesan data spasial. Proses pengolahan data spasial terdiri dari interpretasi citra, digitasi on-screen, koreksi data dan skoring.

Teknik Analisis Data

Data yang telah dilakukan pemrosesan selanjutnya akan dianalisis dengan beberapa analisis, diantaranya adalah analisis peta, analisis statistik regresi berganda, dan analisis statistik korelasi bivariat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perubahan Penggunaan Lahan Kota Bogor Tahun 2010 dan Tahun 2015

Penggunaan Lahan Kota Bogor tahun 2010 didominasi oleh penggunaan empat jenis penggunaan lahan yaitu permukiman, pertanian, tanah kosong, dan ruang terbuka hijau. Permukiman menjadi penggunaan lahan dengan luasan terbesar yaitu 50.955.000 m2 atau 43% dari total luasan Kota Bogor. Sedangkan untuk penggunaan lahan terendah merupakan penggunaan lahan pemerintahan yang memiliki luas sebesar 82.950 m2 atau 0,07% dari total luasan Kota Bogor.

Deskripsi penggunaan lahan yang ada di Kota Bogor pada tahun 2010 menggambarkan bahwa permukiman merupakan penggunaan lahan yang penting untuk menunjang aktivitas manusia sebagai tempat untuk tinggal. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk Kota Bogor pada tahun 2010. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika, pada tahun 2010 Kota Bogor memiliki jumlah penduduk tercatat sebesar 950.334 jiwa. Sehingga memang kebutuhan terhadap permukiman menjadi fundamental untuk dipenuhi. Penggunaan lahan pemerintahan terdiri dari kantor pemerintahan dan juga komplek militer. Besar persentase luasan dari penggunaan lahan ini adalah sebesar 0,07% dari total luasan Kota Bogor. Hal tersebut dipengaruhi kebutuhan akan fasilitas pemerintahan yang tidak sebesar dengan kebutuhan permukiman yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Sebaran dari penggunaan lahan ini berada dekat dengan permukiman dan juga jalan-jalan utama yang ada di Kota Bogor.

Tahun 2015, penggunaan lahan terluas di Kota Bogor memiliki persentase luasan terbesar adalah permukiman dengan luas 64.582.500 m2 atau sebesar 54,50% dari total

(4)

4 luasan Kota Bogor. Sedangkan untuk penggunaan lahan dengan persentase luasan terendah adalah tubuh air dengan total persentase luasan sebesar 0,16% atau sebesar 189.600 m2.

Permukiman menjadi penggunaan lahan dengan luasan terbesar dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Hal tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh jumlah penduduk Kota Bogor tahun 2015. Badan Pusat Statistika pada Kota Bogor dalam angka 2016 menjelaskan jumlah penduduk yang tercatat pada tahun 2015 sebesar 1.047.922 jiwa. Jumlah penduduk yang besar tentu akan sangat berpengaruh terhadap kebutuhan permukiman sebagai kebutuhan fundamental. Sehingga fakta ini berbanding lurus antara jumlah penduduk dengan kebutuhan lahan untuk permukiman. Penggunaan lahan dengan luasan terendah adalah tubuh air. Penggunaan lahan tubuh air ini terdiri dari empang atau kolam, situ atau danau, serta sungai yang berada di Kota Bogor.

Perubahan Penggunaan lahan dapat dilihat dan dianalisis dengan melakukan suatu perbandingan. Perbandingan yang dilakukan adalah perbandingan penggunaan lahan tahun sebelum dengan tahun setelahnya. Perbedaan tahun tersebut tentu akan sangat memengaruhi perubahan yang terjadi diantara kedua tahun tersebut. Terdapat dua bagian utama yang dapat dilihat dari perbandingan perubahan penggunaan lahan yang ada di suatu wilayah, yaitu perubahan bentuk

penggunaan lahan dan luasan perubahan.

Berdasarkan hasil analisis perbandingan penggunaan lahan yang ada di Kota Bogor tahun 2010 dan tahun 2015 bahwa perubahan penggunaan lahan yang terjadi selama 5 tahun memiliki dinamika yang beragam. Menurut sembilan jenis penggunaan lahan yang sudah menjadi acuan dalam analisis perubahan penggunaan lahan. Setiap bentuk penggunaan lahan tersebut mengalami perubahan yang sangat beragam berdasarkan perubahan persentase luas. Terdapat bentuk penggunaan lahan yang mengalami perluasan dan juga terdapat bentuk penggunaan lahan yang mengalami penyempitan sebagai bentuk

akibat dari alih fungsi lahan menjadi bentuk penggunaan lahan yang lain.

Bentuk penggunaan lahan yang mengalami perluasan yang sangat signifikan selama lima tahun terakhir adalah permukiman. Tahun 2010 memperilhatkan bahwa penggunaan lahan ini memiliki persentase luasan sebesar 43,00%, sedangkan pada tahun 2015 memiliki persentase luasan sebesar 54,50%. Hal tersebut menggambarkan bahwa telah terjadi perluasan penggunaan lahan permukiman sebesar 11,50% atau sebesar 13.627.500 m2 selama lima tahun terakhir. Sedangkan untuk penggunaan lahan yang mengalami perluasan yang paling rendah adalah pemerintahan. Pada tahun 2010 persentase luasan pemerintahan adalah sebesar 0,07%. Tahun 2015 persentase luasan pemerintahan bertambah menjadi 0,39%. Hal tersebut menggambarkan bahwa selama lima tahun terakhir penggunaan lahan pamaerintahan bertambah sebesar 0,32% atau sebesar 651.750 m2 .

Perubahan yang terjadi pada tahun 2010 dan tahun 2015 tidak hanya menyebabkan pertambahan luasan pada suatu bentuk penggunaan lahan. Sebagai konsekuensi dari pertambahan luasan suatu bentuk penggunaan lahan, terdapat bentuk penggunaan lahan yang mengalami penyempitan. Hal tersebut terjadi karena alih fungsi lahan. Penggunaan lahan yang mengalami pengurangan persentase luasan cukup besar adalah ruang terbuka hijau. Tahun 2010 menunjukan bahwa persentase luasan ruang terbuka hijau yang ada di Kota Bogor sebesar 14,42%. Tahun 2015 persentase luasan ruang terbuka hijau hanya 1,17%. Data tersebut memperlihatkan bahwa terjadi alih fungsi ruang terbuka hijau yang sangat besar yaitu sebesar 13,25% atau seluas 15.701.250 m2 selama lima tahun terakhir.

Perubahan Harga Lahan Kota Bogor Tahun 2010 dan Tahun 2015

Hubungan manusia terhadap lahan serta kebutuhan manusia terhadapnya menyebabkan terjadinya dinamika lahan. Selain penggunaan lahan terdapat dinamika lahan lainnya yaitu harga lahan. Harga lahan itu sendiri adalah suatu nilai yang tercipta sebagai akibat dari permintaan terhadap lahan

(5)

5 untuk dimanfaatkan dalam kegiatan aktivitas manusia. Fluktuasi permintaan dan penawaran terhadap lahan akan sangat bepengaruh terhadap harga lahan yang ada di suatu wilayah. Selain itu juga terdapat faktor lain yang dapat memengaruhi harga lahan yang ada di suatu wilayah seperti ketersediaan fasilitas dan aksesibilitas wilayah.

Berdasarkan data yang diperoleh menunjukan bahwa terdapat keberagaman harga lahan yang ada di Kota Bogor secara umum dan setiap kelurahan secara khususnya. Data Nilai Jual Objek Pajak Bumi Kota Bogor tahun 2010 menunjukan bahwa kelurahan yang memiliki harga lahan tertinggi adalah Kelurahan Cibogor dan Kelurahan Pabaton. Tahun 2010 kedua kelurahan tersebut memiliki harga lahan Rp. 1.850.000,00- setiap meter perseginya. Sedangkan untuk kelurahan yang memiliki harga lahan terendah pada tahun 2010 adalah Kelurahan Balumbangjaya dengan nilai Rp. 425.000,00- setiap meter perseginya. Data tersebut menunjukan bahwa terjadi perbedaan nilai yang sangat signifikan terjadi pada dinamika lahan yang ada di Kota Bogor. Perbedaan harga yang terjadi adalah sebesar Rp. 1.425.000,00-. Nilai tersebut menunjukan ketimpangan harga lahan yang ada. Berdasarkan perhitungan rata-rata harga lahan yang ada di Kota Bogor tahun 2010 menunjukan nilai sebesar Rp. 1.133.744,00- per meter perseginya.

Ragam nilai yang diperoleh kemudian dilakukan klasifikasi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengelompokan kelurahan berdasarkan harga tanah yang dimilikinya. Sistem klasifikasi yang digunakan adalah Natual Breaks (Jenks) yang sudah disediakan oleh aplikasi ArcMap. Berdasarkan klasifikasi yang dilakukan, terdapat lima klasifikasi harga tanah Kota Bogor, diantaranya adalah 1) rendah: Rp. 425.000,00- Rp. 820.000,00, 2) sedang: Rp. 821.000,00- Rp. 1.160.000,00, 3) tinggi: Rp. 1.161.000,00- Rp. 1.464.000,00, 4) sangat tinggi: Rp. 1.465.000,00- Rp. 1.850.000,00.Berdasarkan klasifikasi yang telah dilakukan, terdapat 23 kelurahan yang terkelaskan kedalam harga lahan rendah, 11 kelurahan sedang, 23 kelurahan tinggi, 11 kelurahan sangat tinggi.

Harga lahan merupakan sautu hal yang dinamis dan akan berkembang seiring dengan

berjalannya waktu. Berdasarkan data yang diperoleh didasarkan pada Nilai Jual Objek Pajak Bumi Kota Bogor tahun 2015 didapatkan harga lahan yang sangat beragam. Kelurahan yang memiliki harga lahan tertinggi adalah Kelurahan Babakan dengan harga lahan Rp. 5.800.000,00- per meter perseginya. Kelurahan dengan harga lahan terendah adalah Kelurahan Muarasari dengan harga lahan sebesar Rp. 1.030.000,00- per meter perseginya. Mengacu pada data tersebut dapat digambarkan bahwa pada tahun 2015 Kota Bogor memiliki perbedaan jarak harga lahan setiap kelurahannya yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp. 4.770.000,00-. Tahun 2015 Kota Bogor memiliki nilai rata-rata harga lahan sebesar Rp. 3.396.285,00-.

Keberagaman nilai harga lahan tersebut selanjutnya dilakukan klasifikasi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengelompokan kelurahan berdasarkan harga lahan yang dimilikinya. Sistem klasifikasi yang digunakan adalah Natual Breaks (Jenks) yang sudah disediakan oleh aplikasi ArcMap mengacu pada klasifikasi tahun awal yaitu pada tahun 2010, 1) rendah: Rp. 425.000,00- Rp. 820.000,00-, 2) sedang: Rp. 821.000,00- Rp. 1.160.000,00, 3) tinggi: Rp. 1.161.000,00- Rp. 1.464.000,00-, 4) sangat tinggi: Rp. 1.465.000,00- Rp. 1.850.000,00-. Berdasarkan klasifikasi yang telah dilakukan, terdapat 6 kelurahan yang terkelaskan kedalam harga lahan sedang, 6 kelurahan tinggi, dan 56 kelurahan sangat tinggi, 4 kelurahan tinggi.

Perubahan harga lahan dapat dianalisis dengan melakukan perbandingan antara dua tahun yang berbeda. Perbedaan tahun tersebut dimaksudkan untuk melihat perubahan harga lahan yang terjadi. Tahun yang dipilih sebagai acuan adalah tahun 2010 dan tahun 2015. Perbedaan 5 tahun yang ada diantara keduanya diharapkan dapat memberikan gambaran perubahan harga lahan. Berdasarkan hasil perbandingan data harga lahan Kota Bogor tahun 2010 dan tahun 2015, kelurahan yang memiliki apresiasi harga lahan terbesar adalah Kelurahan Tegalega dengan besar nilai pertumbuhan Rp. 4.001.000,00- selama lima tahun. Sedangkan untuk kelurahan yang mengalami apresiasi harga lahan terendah adalah kelurahan Muarasari yaitu sebesar Rp. 295.000,00-.

(6)

6 Perubahan harga lahan juga dapat dilihat dari perubahan kelas harga lahan yang terjadi antara tahun 2010 dan tahun 2015. Berdasarkan hasil perbandingan klasifikasi harga lahan tahun 2010 dan tahun 2015 yang dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat 57 kelurahan yang mengalami perubahan kelas harga lahan. Kelurahan-kelurahan yang mengalami perubahan kelas harga tanah diantaranya adalah, Kelurahan Balumbangjaya, Baranangsiang, Batutulis, Bojongkerta, Bondongan, Bubulak, CIbadak, Cibuluh, Cikaret, Cilendek Barat, Cilendek Timur, Ciluar, Cimahpar, Cipaku, Ciparigi, Curug, Curugmekar, Empang, Genteng, Gunungbatu, Harjasari, Katulampa, Kayumanis, Kebonkelapa, Kebonpedes, Kedungbadak, Kedunghalang, Kedungjaya, Kedungwaringin, Kencana, Kertamaya, Lawanggintung, Loji, Margajaya, Mekarwangi, Menteng, Muarasari, Mulyaharja, Pakuan, Pamoyanan, Pasirjaya, Pasirkuda, Pasirmulya, Rancamaya, Ranggamekar, Semplak, Sindangbarang, Sindangrasa, Sindangsari, Situgede, Sukadamai, Sukaresmi, Sukasari, Tajur, Tanahbaru, Tanahsareal dan Tegalega.

Perubahan kelas yang terjadi adalah kenaikan kelas harga lahan dari sebelumnya. Hal tersebut terjadi karena adanya pertambahan harga lahan selama lima tahun terakhir. Tahun 2010 memiliki harga lahan tertinggi sebesar Rp. 1.850.000,00-. Tahun 2015 Kota Bogor memiliki harga lahan tertinggi sebesar Rp. 5.800.000,00-. Hal tersebut yang menyebabkan perbedaan rentang nilai setiap kelasnya sehingga akan menimbulkan perbedaan kelas di tahun 2010 dan tahun 2015. Selain itu klasifikasi harga tanah yang digunakan mengacu pada hasil klasifikasi yang dilakukan pada harga tanah tahun awal atau tahun 2010.

Kelurahan yang tidak mengalami perubahan kelas harga lahan berjumlah 11 kelurahan. Kelurahan-kelurahan tersebut diantaranya adalah Kelurahan Babakan, Babakanpasar, Bantarjati, Cibogor, Ciwaringin, Gudang, Pabaton, Paledang, Panaragan, Tegalgundil, dan Sempur. Kelurahan-kelurahan tersebut tidak mengalami perubahan kelas harga lahan karena baik di tahun 2010 maupun tahun 2015 memiliki harga tanah yang sangat tinggi.

Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Harga Lahan

Analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap harga lahan di Kota Bogor dilakukan dengan menggunakan metode statistik uji regresi berganda dan uji korelasi bivariat. Terdapat beberapa variabel yang digunakan dalam pengujian statistik ini untuk bisa melihat seberapa besar pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap harga lahan. Variabel-variabel yang dilakukan pengujian diantaranya adalah: : 1) perubahan luasan jenis penggunaan lahan Kota Bogor tahun 2010 dan tahun 2015, 2) radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan Kota Bogor, 3) Jarak terhadap pusat kota, 4) radius jarak terhadap jalan, dan 5) perubahan harga lahan NJOP Bumi Kota Bogor tahun 2010 dan tahun 2015. Variabel pengaruh dalam penelitian ini adalah variabel 1 hingga 4, sedangkan untuk variabel terpengaruh adalah variabel 5. Informasi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.14 tentang pengaruh penggunaan lahan terhadap harga lahan.

Hasil pengujian regresi berganda menjunjukan Nilai Adjusted R square pada tabel tersebut memiliki nilai sebesar 0,615 atau 61,5%. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pengaruh yang diberikan variabel persentase perubahan luasan jenis penggunaan lahan, jarak terhadap pusat kota, radius jarak terhadap jalan kepada perubahan harga lahan dalam penelitian ini memiliki pengaruh sebesar 61,5%. Hal tersebut menunjukan bahwa variabel pengaruh memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap variabel terpengaruh karena memiliki besar pengaruh lebih dari 50% dari hasil pengujian statistik regresi berganda yang telah dilakukan.

Tabel ANOVA memberikan informasi secara lebih rinci untuk dapat melihat pengaruh minimal satu variabel independen terhadap variabel dependen yang dilakukan pengujian. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil nilai signifikansi. Nilai signifikansi alfa yang ada pada tabel tersebut bernilai 0,000. Nilai tersebut tidak melebihi tinggi ambang batas signifikansi alfa 0,05, sehingga kondisi itu dapat menyimpulkan bahwa dalam proses analisis regresi yang dilakukan terdapat variabel independen yang memiliki pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

(7)

7 Tabel Output Coefficients dapat menunjukan hasil yang lebih spesifik terhadap masing-masing variable perubahan luasan jenis penggunaan lahan, radius pelayanan fasilitas, jarak terhadap pusat kota, radius jarak terhadap jalan kepada perubahan harga lahan. Tabel ini dianalisis untuk dapat melihat pengaruh dari setiap variabel perubahan luasan jenis penggunaan lahan, radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan, jarak terhadap pusat kota, radius jarak terhadap jalan kepada perubahan harga lahan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai signifikansi yang dihasilkan setiap variabel perubahan luasan jenis penggunaan lahan, jarak terhadap pusat kota, dan radius jarak terhadap jalan adalah 0,519, 0,000 dan 0,103. Satu hasil nilai signifikansi yang diperoleh kurang dari 0,05 dan kedua lainnya lebih dari 0,05. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa terdapat variabel independen yang berpengaruh dan variabel independen yang tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Variabel independen yang memiliki pengaruh terhadap variabel depeneden adalah jarak terhadap pusat kota. Sedangkan untuk variabel independen yang memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel dependen adalah radius jarak terhadap jalan dan perubahan luasan jenis penggunaan lahan.

Kekuatan pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen dapat dilihat dari nilai sigfikansi itu sendiri. Variabel jarak terhadap pusat kota memiliki nilai signifikansi 0,000. Nilai tersebut memiliki nilai kurang dari 0,05, hal tersebut menunjukan bahwa variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga lahan. Kesimpulan yang diperoleh adalah variabel independen yang memiliki berpengaruh lebih besar terhadap perubahan harga lahan adalah variabel jarak terhadap pusat kota.

Bagian dari tabel Output Coefficients yang lebih menguatkan asumsi bahwa jarak terhadap pusat kota merupakan variabel yang sangat berpengaruh secara signifikan terhadap variabel perubahahan harga lahan adalah pada bagian unstandardized coefficients kolom B. Tabel tersebut menjelaskan seberapa besar pengaruh seluruh variabel dependen terhadap variabel independen. Tabel tersebut memberikan informasi bahwa nilai B terbesar

adalah jarak terhadap pusat kota yaitu sebesar 0,836, sedangkan untuk radius jarak terhadap jalan adalah 0,196 dan perubahan luasan jenis penggunaan lahan sebesar 0,051. Nilai tersebut memberikan gambaran bahwa setiap satu kenaikan pada jarak terhadap pusat kota akan berpengaruh terhadap 0,836 perubahan harga lahan.

Pengujian hubungan antar masing-masing variabel yang dilakukan menggunakan metode uji korelasi bivariate. Uji korelasi bivariat adalah metode yang digunakan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh secara signifikan antar suatu variabel terhadap variabel lain yang ditunjukan dengan nilai besar korelasi yang terbentuk. Pengambilan kesimpulan pada pengujian korelasi bivariat mengacu pada tiga hal penting yaitu uji hipotesis, nilai tingkat signifikasi, dan nilai korelasi yang ada pada setiap tabel korelasi.

Pengujian korelasi pertama adalah pada variabel perubahan luasan jenis penggunaan lahan terhadap perubahan harga lahan. Mengacu pada tabel 4.18 memberikan informasi bahwa nilai tingkat signifikansi yang dihasilkan adalah 0,450. Hal tersebut menunjukan bahwa nilai signifikasi yang lebih dari 0,05, sehingga mengacu pada dasar pengambilan kesimpulan bahwa jika nilai tingkat signifikansi lebih dari 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. H1 adalah ada hubungan korelasi yang signifikan antara variabel perubahan jenis penggunaan lahan terhadap variabel harga lahan. Sedangkan untuk nilai korelasi 0,093 menunjukan kekuatan hubungan sebesar 0,86%, hal tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan hubungan antara variabel perubahan jenis penggunaan lahan terhadap perubahan harga lahan memiliki kekuatan yang sangat kecil.

Pengujian korelasi selanjutnya adalah antara variabel jarak pusat kota terhadap harga lahan. Berdasakan hasil yang diperoleh pada tabel 4.19 menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebut menunjukan bahwa nilai signifikasi yang kurang dari 0,05, sehingga mengacu pada dasar pengambilan kesimpulan bahwa jika nilai tingkat signifikansi kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. H1 adalah ada hubungan korelasi yang signifikan antara variabel jarak pusat kota terhadap variabel perubahan harga

(8)

8 lahan. Nilai korelasi menunjukan 0,784, hal tersebut memberikan gambaran bahwa variabel jarak pusat kota terhadap perubahan harga lahan memiliki kekuatan hubungan sebesar 61,46%. Kekuatan hubungan itu memperlihatkan bahwa variabel jarak terhadap pusat kota kepada variabel perubahan harga lahan memiliki hubungan yang kuat.

Pengujian ketiga adalah antara variabel radius jarak jalan terhadap variabel perubahan harga lahan. Tabel 4.20 memberikan informasi bahwa nilai signifikansi yang diperoleh dari hasil pengujian dua variabel tersebut adalah 0,000. Hal tersebut menunjukan bahwa nilai signifikasi yang kurang dari 0,05, sehingga mengacu pada dasar pengambilan kesimpulan bahwa jika nilai tingkat signifikansi kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. H1 adalah ada hubungan korelasi yang signifikan antara variabel radius jarak jalan terhadap variabel perubahan harga lahan. Nilai korelasi menunjukan angak sebesar 0,430, hal tersebut memberikan gambaran bahwa variabel radius jarak pusat kota terhadap perubahan harga lahan memiliki kekuatan hubungan sebesar 18,49%. Nilai tersebut memberikan gambaran kekuatan hubungan kedua variabel tersebut tidak terlalu kuat.

Pengujian korelasi terakhir adalah antara variabel radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan terhadap perubahan harga lahan. Menurut hasil yang diperoleh dan ditunjukan oleh tabel 4.21 memberikan informasi bahwa nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000. Hal tersebut menunjukan bahwa nilai signifikasi yang kurang dari 0,05, sehingga mengacu pada dasar pengambilan kesimpulan bahwa jika nilai tingkat signifikansi kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. H1 adalah ada hubungan korelasi yang signifikan antara variabel radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan terhadap variabel perubahan harga lahan. Nilai korelasi menunjukan 0,575, hal tersebut memberikan gambaran bahwa variabel radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan terhadap perubahan harga lahan memiliki kekuatan hubungan sebesar 33,06%. Nilai kekuatan tersebut menunjukan bahwa kekutan hubungan antara variabel radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan

terhadap perubahan harga lahan memiliki hubungan yang cukup kuat.

Berdasarkan empat kali pengujian kepada seluruh variabel yang ada dalam penelitian ini yaitu variabel pengaruh yang terdiri dari variabel perubahan jenis penggunaan lahan, radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan, jarak terhadap pusat kota, radius jarak terhadap jalan, terhadap variabel terpengaruh yaitu variabel perubahan mendapatkan hasil yang beragam. Hasil yang diperoleh menunjukan terdapat tiga variabel independen yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap variabel perubahan harga lahan, diantaranya adalah variabel jarak terhadap pusat kota, radius jarak terhadap jalan, dan radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan sedangkan untuk variabel perubahan jenis penggunaan lahan tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Mengacu pada kekuatan hubungan yang dihasilkan. Keempat variabel indpenden yang memiliki hubungan yang signifikan memiliki ragam nilai kekuatan hubungan. Nilai kekuatan hubungan yang diperoleh adalah 61,46% untuk variabel jarak terhadap pusat kota, 33,06% untuk variabel radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan, 18,49% untuk variabel radius terhadap jalan, dan 0,86% untuk variabel perubahan luasan jenis penggunaan lahan. Mendasari pada hasil kekuatan hubungan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa variabel pengaruh yang memiliki kekuatan hubungan yang besar terhadap variabel perubahan harga lahan adalah variabel jarak terhadap pusat kota. Nilai yang diperoleh dari variabel ini menunjukan angka besar hubungan lebih dari 50% yaitu 61,46%. Hal tersebut menunjukan bahwa variabel jarak terhadap pusat kota memiliki kekuatan hubungan yang besar terhadap variabel perubahan harga lahan.

KESIMPULAN

1. Analisis perubahan penggunaan lahan di Kota Bogor tahun 2010 dan tahun 2015 menunjukan bahwa terjadi perubahan yang dinamis dan signifikan terutama pada kawasan permukiman yang memiliki fluktuasi pertambahan luas sebesar 11,5% atau 13.627.500 m2 dalam lima tahun

(9)

9 terakhir. Sedangkan ruang terbuka hijau memiliki fluktuasi pengurangan luas terbesar yaitu -13,25% atau -15.701.250 m2.

2. Analisis perubahan harga lahan NJOP Kota Bogor tahun 2010 dan tahun 2015 menunjukan perubahan kelurahan yang memiliki nilai apresiasi harga lahan terbesar adalah Kelurahan Tegalega dengan besar nilai pertambahan Rp. 4.001.000,00- selama lima tahun terakhir. Sedangkan untuk kelurahan yang mengalami apresiasi harga lahan terendah adalah Kelurahan Muarasari sebesar Rp. 295.000,00- selama lima tahun terakhir. Selain itu terdapat 57 kelurahan yang mengalami perubahan kelas harga lahan dan 11 kelurahan yang tidak mengalami perubahan kelas harga lahan.

3. Analisis regresi berganda dan uji korelasi bivariat menunjukan hasil yang sama bahwa terdapat hubungan ataupun pengaruh dari variabel perubahan luasan jenis penggunaan lahan, radius pelayanan fasilitas pendidikan dan kesehatan, jarak terhadap pusat kota, radius jarak terhadap jalan kepada variabel perubahan harga lahan. Variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel perubahan harga lahan adalah variabel jarak terhadap pusat kota.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad Sitanala, (2010). Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua, IPB Press. Bogor.

FAO (Food and Agriculture Organization).1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soil Buletin 52. Soil Resources Management and Conservation Service Land and Water Development Division.

Fahirah, dkk. 2010. Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Nilai Jual Lahan dan Bangunan pada Perumahan Tipe Sederhana,Jurnal SMARTek, Vol. 8 No. 4,Nopember 2010:251–269. Malingreau, Jean Paul.1978.Penggunaan

Lahan Perdesaan Penafsiran Citra

Inventarisasi dan

Analisisnya.Yogyakarta:PUSPICS

Surni, dkk., 2015.Pro Sem Nas Masy Biodiv Indon..Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan, Penutupan Lahan Terhadap Hilangnya Biodiversitas di

DAS Tallo, Sulawesi Selatan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil perhitungan teknis didapat hasil tingkat pemanfaatan fasilitas di kawasan PPS Belawan antara lain: lahan pelabuhan termasuk ke dalam tingkat

calon nasabah pembiayaan baru yang bertanggung jawab dan tidak bermalasah dalam pengembalian pembiayaan. Hal tersebut dilakukan agar avalis tidak dapat lagi

Setiap skenario pengujian, aplikasi akan dieksekusi dan diakhiri sebanyak 10x untuk menghitung kecepatan dan akurasi aplikasi mendeteksi dan mengenali wajah pengguna

Tingkat pelayanan tersebut memiliki arti ruang pada segmen I memberikan kebebeasan pejalan kaki untuk berdiri dan bergerak sesuai yang diinginkan tanpa menggangu pejalan

Distribusi pasien PPOK di rawat inap RSUD Arifin Achmad Pekanbaru berdasarkan risiko malnutrisi dengan menggunakan skor Malnutrition Universal Screening Tools (MUST)

Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan persepsi siswa tentang metode mengajar guru terhadap hasil belajar fiqih

Perkembangan transportasi online dalam mendukung penerapan konsep Smart Mobility di Indonesia dilakukan dengan menggunakan metode deskripsi komparatif,

Kriteria penilaian kuisioner mencakup apakah aplikasi mudah dioperasikan, apakah tata letak tampilan aplikasi menarik, apakah setiap tombol didalamnya dapat berfungsi dengan