PENDEKATAN TEORITIS
Teori dan KonsepKemiskinan dan Penanggulangannya
Kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan di perkotaan ditandai oleh pengangguran dan keterbelakangan, kemudian meningkat menjadi ketimpangan yang memunculkan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasikan basis kekuasaan sosial Pada akhirnya ketidaksamaan ini menciptakan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Friedman dalam Suharto (2006) mendefinisikan kemiskinan dalam kaitannya dengan ketidaksamaan kesempatan mengakumulasikan basis kekuasaan sosial, meliputi :
1. Modal produktif atau aset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan); 2. Sumber keuangan (pekerjaan, kredit);
3. Organisasi sosial dan politik yang dapat di gunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial);
4. Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang dan jasa ; 5. Pengetahuan dan keterampilan; dan
6. Informasi yang berguna untuk kemajuan hidup.
Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi, sehingga tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi (Kartasasmita, 1996). Kemiskinan bukan hanya suatu ketidak mampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi suatu kehidupan yang layak, tetapi juga berkaitan erat dengan keadaan sistem kelembagaan yang tidak mampu memberikan kesempatan yang adil bagi anggota masyarakat untuk memanfaatkan, memperoleh manfaat dari sumber yang tersedia (Jamasy, 2004).
Kemiskinan juga merupakan persoalan multidimensi yang mencakup politik sosial, ekonomi maupun aset. Dimensi politik mewujud pada titik dimilikinya wadah organisasi yang mampu memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan kaum miskin. Dimensi sosial dalam bentuk tidak terintegrasinya masyarakat miskin dalam institusi sosial yang ada. Sementara dimensi ekonomi tampil dalam bentuk rendahnya penghasilan sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup
sampai batas yang layak dan dimensi aset yang ditandai dengan rendahnya kepemilikan masyarakat miskin keberbagai hal yang mampu menjadi modal hidup mereka, termasuk aset, kualitas sumberdaya manusia, dan sebagainya (Kusuma,2002).
Krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997 telah menyebabkan semakin terus meningkatnya jumlah penduduk miskin. Hal ini disebabkan terus melambungnya harga kebutuhan pokok ditunjang dengan adanya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat seperti kenaikan tarif dasar listrik dan kenaikan harga BBM. Dampak dari kebijakan pemerintah ini semakin menekan kehidupan rakyat, harga kebutuhan pokok semakin sulit terjangkau pengangguran terus meningkat yang disebabkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan semakin sulitnya mendapatkan peluang kerja.
Di Jawa Barat jumlah pengangguran terus meningkat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 jumlah pengangguran meningkat 66,94 % (2.260.900 jiwa) dari jumlah pengangguran pada tahun 2003 yang berjumlah 1.513.511 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa imbas dari krisis ekonomi dan kebijakan pemerintah tersebut sangat besar pengaruhnya pada kehidupan rakyat terutama pada masyarakat di perkotaan. Di perkotaan krisis ekonomi ini memberi pengaruh terburuk kepada beberapa sektor ekonomi utama seperti konstruksi, perdagangan dan perbankan yang membawa dampak negatif terhadap pengangguran.
Studi yang dilakukan oleh Jellinek dan Rustanto (1999) tentang kondisi masyarakat miskin perkotaan selama krisis ekonomi menemukan bahwa peningkatan ketidak pastian dalam masyarakat miskin yang disebabkan oleh kehilangan pekerjaan, penurunan upah, peningkatan kriminalitas, konflik sosial, penurunan aksesibilitas terhadap infrastruktur sosial dan ekonomi serta ketidak pastian pelaksanaan tanggungjawab, dan partisipasi sosial dari warga masyarakat.
Untuk mengurangi dan menekan semakin bertambahnya jumlah masyarakat miskin dalam Instruksi Presiden No.5 Tahun 1993 tentang Penanggulangan Kemiskinan, Pemerintah telah menurunkan kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan yang berkaitan dengan:
2. Peningkatan prakarsa dan peran aktif warga masyarakat dalam pemberdayaan fakir miskin,
3. Perlindungan hak-hak dasar fakir miskin, dan
4. Peningkatan kualitas manajemen pemberdayaan fakir miskin.
Karakteristik Penduduk Perkotaan
Kota merupakan wilayah yang berisi orang-orang dengan aneka latar belakang dan mata pencaharian, (Daldjoeni, 1998). Selanjutnya Wirth dalam Daldjoeni (1998) merumuskan kota sebagai pemukiman yang relatif besar padat dan permanen dengan penduduk yang heterogen kedudukan sosialnya. Bintaro (1983) mendefinisikan bahwa kota itu suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya materialistis.
Kepadatan penduduk di perkotaan dipengaruhi selain karena pertumbuhan alami (natural increase) juga dipengaruhi oleh mobilitas (gerak) penduduk. Dalam UU No. 10 Tahun 1992 dinyatakan bahwa mobilitas penduduk adalah gerak keruangan penduduk dengan melewati batas administrasi. Ada dua faktor penentu dalam menggolongkan gerak penduduk, faktor pertama adalah jarak minimal tertentu biasanya dipakai unit wilayah, faktor kedua adalah waktu. Berkenaan dengan faktor waktu secara umum dapat dibedakan dalam gerak penduduk permanen (permanent movement) dan gerak penduduk non permanen (temporary movement). Dimensi permanen dari gerak penduduk disebut dengan migrasi. Migrasi merupakan salah satu variabel yang dapat mempengaruhi perkembangan penduduk suatu wilayah (daerah), sebab terjadinya migrasi adalah karena adanya faktor-faktor pendorong di daerah asal dan faktor-faktor penarik di daerah tujuan. Seperti yang diungkapkan P.Todaro dan Stilkind yang disunting Manning dan Noer Effendi (1983) bahwa migrasi yang pesat berlangsung terus karena tingkat pertumbuhan penduduk di daerah pedesaan tetap tinggi, kemiskinan di desa semakin meningkat, dan upah serta pendapatan di kota tetap lebih tinggi dibanding dengan keadaan di pasar bebas. Pendapat ini didukung oleh Suharso (1978) yang mengungkapkan bahwa sebagian besar migran yang meninggalkan desa umumnya tidak memiliki tanah dan pekerjaan yang tetap,
mereka terpaksa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Umumnya para migran dari desa beranggapan bahwa di kota mudah mendapatkan pekerjaan.
Pada era krisis ekonomi banyak penduduk desa pindah ke kota untuk mencari pekerjaan yang dapat memperbaiki kehidupan mereka, seperti yang di kutip Hugo (1992) dalam Rusli dkk. (2006) bahwa arus gerak penduduk dari desa ke kota, meningkat dengan pesat pada dua dekade terakhir. Kondisi ini menyebabkan semakin tingginya jumlah penduduk perkotaan yang disebabkan arus urbanisasi. Urbanisasi berdampak pada bertambahnya permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan di perkotaan. Dengan semakin banyaknya penduduk perkotaan, fasilitas umum yang melayani masyarakat menjadi sangat terbatas dan dapat mengakibatkan turunnya fasilitas pelayanan masyarakat dari pemerintah, selain itu tingginya jumlah penduduk juga berimplikasi pada meningkatnya jumlah penyandang masalah kesejateraan sosial (PMKS), misalnya jumlah keluarga yang kondisi perumahan dan lingkungan tidak layak huni, jumlah fakir miskin/ keluarga miskin, wanita rawan sosial ekonomi, tunasusila, anak terlantar, gelandangan dan pengemis. Kelebihan penduduk di manapun akan berarti tidak cukup bagi sebagian terbesar penduduk untuk hidup secara layak. (Singarimbun & Penny, 1976)
Batasan dari urbanisasi menurut Suharso (1978) yaitu bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota yang disebabkan antara lain oleh proses perpindahan penduduk dari desa ke kota dan atau dari perluasan daerah kota”. Urbanisasi menciptakan karakteristik khas di perkotaan yang disebut dengan karakteristik masyarakat kota. Menurut Louis Wirth dalam Daldjoeni (1985) kota ditentukan oleh ukurannya yang cukup besar, kepadatan penduduknya dan sifat heterogenitas masyarakatnya. Gaya hidup khas kekotaan disebut
urbanism, dan ini ditentukan oleh ciri-ciri spatial, sekularisasi, asosiasi sukarela,
peranan sosial yang terpisah dan norma-norma yang serba kabur.
L. Wirth (1938) dalam Rahardjo (1999) , mengemukakan teori tentang adanya suatu cara hidup kota (urban way of life) dengan ciri-ciri tertentu di pengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu:
1. Jumlah, yakni jumlah penduduk yang besar, faktor ini berkaitan dengan orang atau penduduk.
2. Kepadatan penduduk yang tinggi.
3. Heterogenitas atau kemajemukan penduduknya, yakni berkaitan dengan adanya berbagai suku, bahasa atau dialek, agama atau bahkan juga bangsa
Soekanto (1990) mengemukakan ciri-ciri menonjol yang hampir sama dari masyarakat (komunitas) kota, yaitu kehidupan keagamaan kurang, orang kota umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, pembagian kerja diantara warga kota lebih tegas dan memiliki batas-batas nyata, peluang kerja lebih banyak, jalan fikiran lebih rasional, faktor waktu dinilai penting oleh komunitas kota dan perubahan sosial tampak nyata.
Selain itu karakteristik masyarakat kota yang menonjol yaitu dalam sikap kehidupan yang cenderung pada individualisme/egoisme, dalam tingkah laku bergerak maju mempunyai sifat kreatif, radikal dan dinamis, dalam perwatakan cenderung pada sifat materialistis. Akibat dari sikap hidup yang egoisme dan pandangan hidup yang radikal dan dinamis menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi yang mana menimbulkan efek-efek negatif yang berbentuk tindakan a moral, indisipliner dan kurang memperhatikan tanggung jawab sosial, mengabaikan faktor-faktor sosial dalam lingkungan masyarakat sekitarnya. Hal tersebut disebabkan masyarakat kota pada umumnya mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi yang menuntut biaya hidup lebih banyak sebagai alat pemuas kebutuhan yang tidak terbatas oleh karenanya orang berlomba-lomba mencari usaha/kesibukan, mencari nafkah demi kelangsungan hidup pribadi/keluarganya. (Mansyur,1977).
Ciri (negatif) yang mewarnai cara hidup kota adalah :
1. Kehilangan hubungan primer (hubungan interaksi di antara orang-orang yang saling mengenal). Hubungan antar orang di kota lebih bersifat rasional, berdasarkan kepentingan pribadi. Individu tidak memiliki komitmen sosial. 2. Kurangnya kontrol sosial, hal ini terjadi disebabkan orang tidak perduli
terhadap orang lain. Kontrol masyarakat terhadap individu dalam kehidupan kota sangat lemah.
3. Dalam masyarakat kota, individu memandang yang lain secara instrumental. Individu berhubungan dengan orang lain karena ingin memanfaatkan hubungan
tersebut. Mereka tidak mau diperalat, tetapi bersedia menjadi alat orang lain dengan imbalan manfaat tertentu.
4. Adanya pembagian kerja yang luas dikalangan masyarakat, mereka membuat pembagian kerja dalam suatu proses produksi dan sosial. Prinsip pembagian kerja ini di dasarkan pada solidaritas organik, di mana orang menyadari kedudukan dan fungsinya sendiri untuk mencapai tujuan bersama. Koperasi merupakan solidaritas mekanik yaitu solidaritas yang di dasarkan pada kepercayaan bersama dan konsensus yang bersumber pada kesadaran kolektif. Di perkotaan koperasi sulit berkembang karena masih di dasarkan atau berasumsi pada solidaritas mekanik.
Selain ciri-ciri negatif, masyarakat kota memiliki ciri positif yang dapat menunjang pembangunan di perkotaan, ciri positif orang perkotaan meliputi : 1. Memiliki kekuatan kompetisi atau persaingan untuk mengakses sumber daya
yang terbatas
2. Sangat menghargai waktu, tenaga manusia sangat dibutuhkan karena kota sebagai pusat industri perdagangan yang berperan dalam kegiatan sekunder dan tersier (Rahardjo, 1999)
Karakteristik masyarakat perkotaan tersebut diduga berpengaruh pada lemahnya modal sosial (social capital) masyarakat di perkotaan. Modal sosial memegang peranan yang sangat penting dalam memfungsikan dan memperkuat kehidupan masarakat modern. Modal sosial sebagai sine qua non bagi pembangunan manusia, pembangunan ekonomi, sosial, politik dan stabilitas demokrasi. Di dalamnya merupakan komponen kultural bagi kehidupan masyarakat modern. Modal sosial yang lemah akan meredupkan semangat gotong royong, memperparah kemiskinan, meningkatkan pengangguran, kriminalitas dan menghalangi setiap upaya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. (Fukuyama, 1999 dalam Hasbullah 2006). Lemahnya modal sosial ini juga yang diduga menyebabkan kapasitas lembaga ekonomi masyarakat di perkotaan sulit untuk meningkat/ berkembang.
Modal Sosial (Social Capital) diyakini sebagai salah satu komponen utama dalam menggerakkan kebersamaan, mobilitas, ide, kesalingpercayaan dan
kesalingmenguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama. Unsur-unsur yang menguatkan modal sosial meliputi :
1. Partisipasi : Pada kelompok yang dibangun atas dasar kesamaan orientasi dan tujuan dan dengan ciri pengelolaan organisasi yang lebih modern, akan memiliki tingkat partisipasi anggota yang lebih baik dan memiliki rentang jaringan yang lebih luas. Pada tipologi ini akan lebih banyak menghadirkan dampak positif baik bagi kemajuan kelompok maupun kontribusinya pada pembangunan masyarakat secara luas.
2. Resiprocity : Pada masyarakat dan pada kelompok yang di dalamnya memiliki bobot resiprositas kuat akan melahirkan suatu masyarakat yang memiliki tingkat modal sosial yang tinggi. Ini akan terefleksikan dengan tingkat kepedulian sosial yang tinggi, saling membantu dan saling memperhatikan. 3. Trust : Suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam
hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak, yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya.
4. Norma Sosial : Sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh anggota masyarakat pada suatu entitas sosial tertentu. Norma-norma ini biasanya terinstusionalisasi dan mengandung sangsi sosial yang dapat mencegah individu berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya. Aturan-aturan kolektif tersebut biasanya tidak tertulis tapi dipahami oleh setiap anggota masyarakatnya dan menentukan pola tingkah laku yang diharapkan dalam konteks hubungan masyarakat. Jika di dalam suatu komunitas, asosiasi, kelompok atau group, norma tersebut tumbuh, dipertahankan dan kuat akan memperkuat masyarakat itu sendiri (Hasbullah, 2006). Norma yang terbentuk dari berulangnya pola pergaulan keseharian akan menciptakan aturan-aturan tersendiri dalam suatu masyarakat. Aturan yang terbentuk tersebut kemudian akan menjadi dasar yang kuat dalam setiap proses transaksi sosial, dan akan sangat membantu menjadikan berbagai urusan sosial lebih efisien. Ketika norma ini kemudian menjadi norma asosiasi atau norma
kelompok akan sangat banyak manfaatnya dan menguntungkan kehidupan institusi sosial tersebut.
Seperti yang diutarakan oleh Hasbullah (2006), bahwa untuk mengukur sejauh mana kekuatan modal sosial di dalam masyarakat, yang sesuai dengan kondisi masyarakat di Indonesia mengacu pada beberapa variabel relevan. Variabel tersebut meliputi sejauhmana : Partisipasi masyarakat di dalam komunitas, tingkat resiprositas dan proaktif di dalam kegiatan sosial, perasaan saling mempercayai dan rasa aman, jaringan dan koneksi dalam komunitas, jaringan dan koneksi antar teman dan keluarga, toleransi dan kebhinekaan, nilai hidup dan kehidupan, koneksi jaringan kerja di luar komunitas, partisipasi dan keanggotaan kelompok di luar komunitas.
Dalam pengembangan modal sosial menurut Rahman (1989) dalam Osira (2004) terdapat beberapa pendekatan diantaranya meliputi :
1. Pendekatan kepemimpinan komunitas (cummunity leader), Tokoh masyarakat atau pemimpin dalam setiap komunitas masyarakat merupakan modal besar bagi pelaksanaan suatu program pembangunan. Tokoh masyarakat dengan kemampuan yang melekat pada dirinya merupakan orang yang dapat dengan mudah menggerakkan masyarakat atau memobilisasi partisipasi masyarakat di bawahnya dibandingkan penggerak partisipasi dari luar komunitas. Sinergi antara kepemimpinan lokal komunitas dengan kepemimpinan formal (aparat pemerintah) merupakan suatu kekuatan bagi pelaksanaan program pengembangan masyarakat;
2. Dana komunitas (community fund). Dana komunitas merupakan segala bentuk dana yang dapat dihimpun oleh dan dari masyarakat. Konsep dana pada masyarakat itu tidak saja mencakup uang, tetapi juga hubungan yang terjalin, kekerabatan dan kebersamaan. Bentuk dana komunitas mempunyai sifat khas sosiobudaya. Dana komunitas seringkali dikelola untuk memecahkan masalah-masalah sosial atau mengembangkan kegiatan sektor sosial.
Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Ekonomi Masyarakat
Menurut Nasdian & Dharmawan (2006) kelembagaan sosial merupakan terjemahan langsung dari istilah social-institution, yang menunjuk pada adanya
unsur-unsur yang mengatur perilaku warga masyarakat. Proses perkembangan kelembagaan sosial dinamakan pelembagaan sosial atau “institutionalization”. Proses ini meliputi lahirnya peraturan dan norma-norma baru yang mengatur antar hubungan dan antar aksi, yakni suatu proses strukturalisasi antar hubungan melalui enkulturasi konsep-konsep kebudayaan baru. Proses-proses seperti ini akan terjadi dimana-mana dan terus menerus dalam suatu komunitas, sepanjang mengenai kebutuhan pokok manusia dan melahirkan sistem yang stabil dan unversal.
Djatiman (1997) menggolongkan institusi/kelembagaan menjadi tiga yaitu : 1. Burreaucratic institution; adalah institusi yang datangnya dari pemerintah
(atas/birokrasi) dan tetap akan menjadi milik birokrasi, contohnya pemerintahan desa;
2. Community Based Institution; adalah institusi yang dibentuk pemerintah berdasarkan atas sumberdaya masyarakat yang diharapkan menjadi milik masyarakat, seperti koperasi;
3. Grassroot institution; adalah institusi yang murni tumbuh dari masyarakat dan merupakan milik masyarakat, contohnya arisan.
Kelembagaan sosial didefinisikan sebagai aturan yang mengatur atau mengikat dan dipatuhi masyarakat. Aturan tersebut merupakan tata cara kerjasama anggota masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya serta membantu menentukan hak dan kewajiban masing-masing. (Iskandar,2001). Soekanto (1985) dalam Nasdian & Dharmawan (2006) mendefinisikan kelembagaan sosial sebagai himpunan norma-norma yang diwujudkan dalam hubungan antar manusia. Suatu norma tertentu dapat dikatakan telah melembaga (institutionalized) apabila norma tersebut : diketahui, dipahami atau dimengerti, ditaati dan dihargai oleh masyarakat dimana norma-norma tersebut dilembagakan.
Kelembagaan sosial dapat dikategorikan berdasarkan jenis-jenis kebutuhan pokok. Kelembagaan sosial bisa didefinisikan sebagai suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. (Koentjaraningrat, 1964). Kelembagaan untuk memenuhi pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, mendistribusikan harta benda, contohnya pertanian,
peternakan, industri, koperasi, perdagangan, sambatan dan lain sebagainya di sebut dengan kelembagaan ekonomi.
Kelembagaan ekonomi yang merujuk pada lokalitas disebut dengan kelembagaan ekonomi lokal, dimensi lokal menunjuk tidak hanya pada kesatuan wilayah geografis, namun juga kesatuan entitas basis sosial untuk tindakan kolektif. Entitas basis sosial menurut Uphoff, (1986) meliputi lokalitas, komunitas dan kelompok. Kelembagaan ekonomi lokal yang erat kaitannya terhadap tingkat partisipasi serta keuntungan bisnis yang diterima oleh partisipan adalah dalam lembaga keswadayaan masyarakat (Haeruman & Eriyanto , 2001).
Suatu kelembagaan sosial mampu mencapai tujuan pengembangan masyarakat apabila kelembagaan tersebut berbasis komunitas, yaitu manakala kelembagaan :
1. Mampu mengembangkan modal sosial dan membangun jejaring sosial berbasis komunitas;
2. Mampu mengembangkan forum inisiasi publik dan mampu mengimplementasikan prinsip partisipasi dalam kegiatannya dan
3. Mampu membangun jejaring usaha produktif serta memelihara jejaring kolaboratif dalam menangani masyarakat miskin. (Hasbullah, 2006)
Peningkatan kapasitas dalam suatu kelembagaan masyarakat adalah suatu proses upaya yang sistematis menjadikan lembaga suatu masyarakat menjadi lebih baik, dinamis, berdaya, dan kuat dalam menghadapi berbagai pemenuhan kebutuhan dan tantangan atau hambatan yang dapat mempengaruhi eksistensinya. Peningkatan kapasitas merupakan suatu proses peningkatan atau perubahan perilaku individu, organisasi dan sistem masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien. Merujuk pendapat Sumpeno (2002), peningkatan kapasitas berarti terjadi perubahan perilaku untuk :
1. Meningkatkan kemampuan individu dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap;
2. Meningkatkan kemampuan kelembagaan dalam organisasi dan manjemen, keuangan dan budaya;
3. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam kemandirian, keswadayaan dan mengantisipasi perubahan.
Hasil yang diharapkan dengan adanya peningkatan kapasitas menurut Sumpeno (2002) adalah :
1. Penguatan individu, organisasi dan masyarakat;
2. Terbentuknya model pengembangan kapasitas dan program; 3. Terbangunnya sinergisitas pelaku dan kelembagaan.
Lebih lanjut Rubin & Rubin (1992) mengemukakan bahwa pengembangan kapasitas masyarakat miskin dapat dilakukan dengan melalui pengembangan kelembagaan masyarakat di mana kelembagaan tersebut menciptakan dan membangun perasaan anggota untuk membangkitkan kapasitas lembaga dalam pemecahan masalah.
Untuk penelaahan lebih lanjut ada dua aspek dalam kelembagaan, yaitu aspek kelembagaan dalam bentuk perilaku dan aspek keorganisasian dalam bentuk struktur. Keduanya merupakan komponen pokok pada setiap kelompok sosial. Perilaku dan struktur sebagai bagian utama aspek kelembagaan dan aspek keorganisasian saling membutuhkan satu sama lain, ibarat dua sisi mata uang (Syahyuti,2003).
Organisasi pada dasarnya adalah unit sosial (pengelompokan manusia) yang sengaja dibentuk dan/atau mungkin dibentuk kembali dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi pencapaian suatu tujuan tertentu. Berelson dan Steiner (1964) dalam Parek (1984) memandang organisasi adalah gejala sosial resmi (formalitas struktur sosial) yang berkaitan dengan seperangkat peraturan tertulis. Organisasi adalah struktur tentang peran yang diterima dan dikenali. Struktur yang diakibatkan oleh interaksi peran dapat sederhana atau kompleks. Semakin kompleks suatu organisasi, semakin bervariasi kemampuannya. Organisasi dapat berbentuk formal ataupun informal. Dua hipotesis yang mendasari kerangka berfikir konseptual tentang organisasi berkelanjutan Goldsmith and Brinkerhofff, (1992) dalam Kolopaking dkk (2003) yaitu Pertama, asumsi bahwa organisasi yang bertahan dalam kurun waktu yang lama dipengaruhi oleh kapabilitas internal dan lingkungan eksternal, sehingga penting untuk melihat ke dalam (in- ward) dan ke luar (out-ward); Kedua, harus dibangun strategi yang fit/ sesuai dengan kapabilitas internal dan lingkungan eksternal.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kapabilitas internal organisasi adalah kinerja sumberdaya manusia pelaksana dari organisasi tersebut, kinerja sumberdaya manusia berkaitan dengan produktivitas. Menurut formulasi National
Productivity Board (NPB) Singapore dalam Sedarmayanti (1995), dikatakan
bahwa produktivitas adalah sikap mental (attitude of mind) yang mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan. Selanjutnya menurut Sedarmayanti (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dalam aspek sikap mental diantaranya adalah motivasi kerja, disiplin kerja dan etika kerja. Sementara pengaruh lingkungan eksternal diantaranya adalah karakteristik lingkungan sosial yang termasuk di dalamnya adalah karakteristik masyarakat. Ada empat ciri organisasi yaitu:
1. Formalitas, mempunyai perumusan tertulis berkenaan dengan tujuan, prosedur, penerimaan anggota dan pengurus dan peraturan-peraturan;
2. Hirarki, pola wewenang berbentuk piramida;
3. Ukuran, jumlah anggota organisasi umumnya besar sehingga relasi sosial diantaranya cenderung tidak langsung tetap ; dan
4. Durasi/kelangsungan, umur organisasi selalu lebih lama dari usia keterlibatan anggotanya.
Bierstedt (1982) dalam Kolopaking dkk (2003) menyebutkan ada tujuh kriteria formalisasi pengelompokkan manusia yang dapat dikategorikan ke dalam organisasi yang di dasarkan atas teori kontinuum dari grup ke organisasi ini meliputi:
1. Mempunyai fungsi dan tujuan yang khas;
2. Mempunyai kebijakan umum (associational norms) dalam mencapai tujuannya;
3. Mempunyai dan mengembangkan susunan hirarki status (associational
statuses);
4. Mempunyai wewenang;
5. Mengenakan test (persyaratan) untuk keanggotaan;
6. Mempunyai property, mencakup aspek material dan non material; 7. Mempunyai nama atau lambang-lambang.
Organisasi merupakan suatu wadah atau sarana kegiatan pencapaian tujuan. Proses dari kegiatan dalam organisasi disebut dengan manajemen, seperti menurut Mc. Farland dalam Handayaningrat (1981) manajemen adalah suatu proses dan badan yang secara langsung memberikan petunjuk, bimbingan kegiatan dari suatu organisasi dalam merealisasikan (melaksanakan) tujuan yang telah di tetapkan. Tujuan dari manajemen adalah untuk mencapai hasil secara efektif dan efisien dalam kata lain ialah pencapaian tujuan yang berhasil guna (efective) dan berdaya guna (efficiency). Selanjutnya menurut Degenaars (1979) dalam Handayaningrat (1981) manajemen didefinisikan sebagai suatu proses yang berhubungan dengan bimbingan kegiatan kelompok dan berdasarkan atas tujuan yang jelas yang harus dicapai dengan menggunakan sumber-sumber tenaga manusia dan bukan tenaga manusia.
Peningkatan Kinerja Kelembagaan
Efektifitas dan efisiensi pencapaian target suatu lembaga dipengaruhi oleh sumberdaya anggota organisasi tersebut, untuk itu perlu adanya pengukuran terhadap kinerja dari sumberdaya manusia yang mengelola organisasi tersebut. Hal yang dapat diukur untuk menilai kinerja sumberdaya manusia pengelola organisasi meliputi kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Efektif atau tidak efektif kinerja sumberdaya manusia pengelola organisasi dipengaruhi oleh faktor individu, organisasi dan lingkungan eksternal. Pengaruh individu berkaitan dengan kelemahan intelektual, kelemahan psikologis, kelemahan fisik, demotivasi, faktor personalitas, keuangan, preparasi jabatan dan orientasi nilai. (Sedarmayanti, 1995)
Kinerja mengacu pada tingkat kemampuan pelaksanaan tugas dengan standar perbandingan ideal antara pelaksanaan tugas dan yang diharapkan (perencanaan) dengan pelaksanaan tugas yang telah dilaksanakan (evaluasi). Pengertian kinerja merujuk kamus bahasa Indonesia yang menjelaskan kinerja sebagai keterampilan dan kemampuan yang dimiliki seseorang dimunculkan melalui perbuatan. (Puwadarminta, 1992)
Kinerja diartikan sebagai perilaku yang diperagakan secara aktual oleh individu sebagai respon terhadap pekerjaan yang diberikan kepadanya, sehingga
kinerja dapat dilihat dari hasil kerja, derajat kecepatan kerja dan kualitas kerja. Kinerja sebagai unsur kegiatan penanggulangan kemiskinan bertumpu pada pemantauan indikator kinerja sesuai tujuan yang ingin dicapai baik yang bersifat objektif maupun subjektif. Dalam Rencana Strategis Penanggulangan Kemiskinan (Departemen Sosial RI 2005) dijabarkan indikator kinerja sebagai berikut:
1. Meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga miskin
2. Mewujudkan kemandirian usaha sosial- ekonomi keluarga miskin
3. Meningkatkan aksesibilitas keluarga miskin terhadap pelayanan sosial dasar dan sistem jaminan kesejahteraan sosial
4. Peningkatan jumlah aset individu miskin anggota kelembagaan sosial
5. Meningkatkan kepedulian dan tanggungjawab sosial masyarakat dan dunia usaha dalam program pemberdayaan keluarga miskin
6. Meningkatkan ketahanan sosial masyarakat keluarga miskin
7. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial terhadap keluarga miskin.
Pengertian kinerja dari uraian di atas bisa disebut sebagai kualitas penatalaksanaan organisasi meliputi sistem pengorganisasian terdiri atas input, proses dan out put pelaksanaan manajemen lembaga. Bila pengertian tersebut diterapkan pada kelembagaan ekonomi masyarakat, maka pengertian input meliputi sarana, bahan, pengurus dan organisasi; proses meliputi sosialisasi program usaha simpan pinjam, pemberian kredit serta kegiatan pelaporan dan tindak lanjutnya; dan pengertian out put yang dimaksud adalah kegiatan pelaporan perguliran dana serta laporan kegiatan pengorganisasian lembaga simpan pinjam.
Kinerja sebagai alat ukur digunakan untuk melihat maju dan mundurnya lembaga dilihat dari pencapaian target, efisiensi dan efektivitas, menurut Mulyono (1993) pengukuran kinerja lembaga dapat dilihat dari :
1. Derajat pencapaian tujuan pokok;
2. Seberapa efisien sumberdaya (dapat berupa masukan, antara lain tenaga kerja, material, jasa pelayanan yang dibeli dan modal) digunakan untuk menghasilkan keluaran yang bermanfaat, dalam arti hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan sebelumnya;
3. Perbandingan mengenai performa organisasi dari waktu terdahulu dengan waktu sekarang, menunjukkan penurunan, statis atau berkembang.
Pengembangan Jejaring Sosial dalam Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Kebijakan dan program yang melibatkan berbagai pihak yang berbeda-beda kepentingannya dan mungkin juga berbeda-beda dalam tingkatan pengambilan keputusannya memerlukan mekanisme yang tepat. Salah satu mekanisme yang memiliki fleksibilitas dan sekaligus menjamin efisiensi adalah melalui pembentukan jejaring (networking). Menurut Tonny (2002) jejaring ini perlu dibangun berlandaskan prinsip-prinsip kesetaraan, transparansi, kejujuran, integrasi dan dedikasi untuk mencapai tujuan bersama, yaitu memajukan usaha-usaha kecil yang merupakan segmen masyarakat yang terbesar dan juga tertinggal. Jejaring yang terbentuk dapat bersifat horizontal maupun vertikal. Jejaring dapat dibentuk dalam bentuk kerjasama antara lembaga pada tingkatan yang sama ataupun yang berbeda yang berada di tingkat pusat dengan yang ada di tingkat propinsi, kabupaten maupun lokal.
Proses interaksi sosial merupakan basis untuk menciptakan hubungan sosial yang terpola yang disebut jaring-jaring hubungan sosial (webs of social
relationship) atau pengorganisasian sosial dan struktur sosial. Menurut Calhoun
et.al (1994) dalam Kolopaking dkk. (2003) jaringan sosial adalah jejaring hubungan diantara sekumpulan orang yang saling terkait bersama, langsung atau tidak langsung melalui beragam komunikasi dan transaksi diantara mereka. Selanjutnya menurut Suparlan (1982), jaringan sosial merupakan “pengelompokan orang yang terdiri atas sejumlah orang (minimal 3 orang) yang masing-masing memiliki identitas tersendiri dan dihubungkan melalui hubungan sosial yang ada, dan melalui hubungan sosial tersebut dapat dikelompokkan sebagai satu kesatuan sosial yang berbeda dengan yang lain”.
Jaringan sosial bukanlah sesuatu yang alamiah melainkan harus dikonstruksikan melalui penentuan strategi yang berorientasi pada hubungan-hubungan kelembagaan dalam kelompok. Hubungan kelembagaan ini dapat digunakan sebagai sumber daya yang dapat dipercaya menghasilkan sumberdaya lain. Melalui kesertaan dalam suatu jaringan, orang dapat menjamin perolehan
manfaat dari interaksinya. (Portes, 1998). Salah satu faktor penting dalam upaya mengembangkan jejaring sosial berbasis komunitas adalah proses penyadaran masyarakat dan proses partisipasi masyarakat dalam program pengembangan masyarakat.
Pentingnya partisipasi masyarakat dalam aktivitas pembangunan sebagai usaha dan kegiatan partisipasi masyarakat yang tumbuh dari bawah dalam bentuk inisiatif dan kreasi yang lahir secara spontan dari rasa kesadaran dan tanggungjawabnya harus dapat terpelihara dan terbina (R.Bintoro,1986). Selanjutnya menurut Mubyarto (1984) partisipasi adalah kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Tujuan dari aktivitas peningkatan kapasitas kelembagaan lokal melalui pengembangan jejaring adalah untuk : membangun kelembagaan berdasarkan
trust di tingkat komunitas dan antar komunitas; meningkatkan kemampuan warga
komunitas mengimplementasikan aksi-aksi kolektif dalam kegiatan konservasi dan pemberdayaan ekonomi lokal; membangun kerjasama kemitraan antar berbagai stakeholders baik di dalam komunitas maupun antar komunitas (Tonny, 2004). Hal ini difahami bahwa dalam peningkatan kapasitas kelembagaan lokal peran stakeholders akan berpengaruh terhadap terwujudnya kelembagaan lokal yang berkelanjutan selain komunitasnya itu sendiri.
BMT sebagai Contoh Kelembagaan Ekonomi Masyarakat
BMT adalah lembaga keuangan mikro atau lembaga keuangan syariah masyarakat atau bisa juga dikatakan sebagai lembaga ekonomi masyarakat berbadan hukum koperasi yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Syariah menurut Imam Fakhrurrazy dalam Ilmi (2002) didefinisikan sebagai ketetapan-ketetapan yang telah diwajibkan Allah atas orang-orang mukallaf (yaitu orang yang menurut syara’ sudah dikenai beban serta tanggungjawab untuk mematuhi segala ketentuan hukum (syariah) yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya).
Bunga uang dikategorikan sebagai riba dalam hukum Islam, oleh karena itu sebagai lembaga syariah Islam BMT di dalam transaksi ekonominya menerapkan sistem bagi hasil (profit sharing) berdasarkan kesepakatan ke dua belah pihak
pada saat perjanjian ditanda tangani.(Antonio dkk, 2006). Lembaga keuangan syariah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dalam menanggung risiko usaha dan berbagi hasil usaha antara pemilik dana yang menyimpan uangnya di lembaga, lembaga selaku pengelola dana, dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa berstatus peminjam dana atau pengelola usaha.
Prinsip bagi hasil dalam sistem ekonomi syariah tercantum dalam UU Perbankan No.10 tahun 1992, pasal 1 ayat 12 menyatakan
”Pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil”.
Selain itu Bank yang dioperasikan berdasarkan prinsip bagi hasil dalam UU No. 7 Tahun 1992 yang dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1992 pada Pasal 1 Ayat (1)
“Yang dimaksud dengan prinsip bagi hasil adalah prinsip Muamalat berdasarkan Syari’at dalam melakukan usaha bank”.
BMT di dalam unsur-unsur kegiatannya selain menerima tabungan/simpanan nasabah, memberikan kredit pengembangan modal usaha bagi nasabah pelaku usaha kecil sektor informal, menampung aspirasi, partisipasi dan kepedulian sosial nasabah serta meningkatkan kemampuan dan keterampilan nasabah pelaku usaha kecil sektor informal dalam mengembangkan usahanya
BMT merupakan perpaduan antara 2 unit usaha bidang pengelolaan ZIS dan perbankan syariah, 2 unit tersebut meliputi Baitul Maal (unit pengelolaan ZIS) dan Baituttamwil (unit perbankan syariah). Baitul Maal adalah lembaga keuangan berorientasi sosial keagamaan yang kegiatan utamanya menampung serta menyalurkan harta masyarakat berupa zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Karena berorientasi sosial keagamaan, Baitul Maal tidak dapat dimanipulasi untuk kepentingan bisnis atau mencari laba (profit), namun dalam kerangka manajemen BMT, secara fungsional lembaga ini berperan dalam beberapa hal antara lain :
1. Membantu Baituttamwil dalam menyediakan kas untuk alokasi pembiayaan non komersial Qardh al-Hasan (yaitu pembiayaan yang diberikan BMT kepada nasabah tanpa pungutan bagi hasil atau keuntungan dalam bentuk apapun atas nasabah)
2. Menyediakan cadangan penyisihan penghapusan pembiayaan macet akibat kebangkrutan usaha nasabah Baituttamwil yang berstatus al-gharim (yaitu orang yang kesempitan karena beban hutang yang terlalu berat dengan pemilikan aset yang tidak memadai, sehinga menyebabkan yang bersangkutan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya secara layak, dalam ukuran paling sederhana sekalipun;
3. Dengan kiprahnya yang nyata dalam usaha-usaha peningkatan bidang kesejahteraan sosial seperti pemberian bea siswa, santunan kesehatan, sumbangan pembangunan sarana umum dan peribadatan dan lain sebagainya. Hal ini dapat membantu Baituttamwil dalam mensukseskan kegiatan promosi produk-produk penghimpunan dana (funding) dan penyalurannya kepada masyarakat (lending).
Baitul Maal mempunyai sistem kerja sendiri yang bertugas mengumpulkan
dan membagikan zakat kepada beberapa sektor yang telah dibatasi sesuai dengan tingkat kebutuhan. Salah satu bentuk pengelolaan dan penyaluran dana zakat tersebut adalah memberikan bantuan usaha produktif bagi masyarakat miskin yang disebut dengan AL Qardul Hasan (pinjaman kebajikan), dalam memberikan pinjaman kebajikan ini bank syari’ah sama sekali tidak mengambil pendapatan dari pinjaman tersebut (Noor, 2006). Al Qardul Hasan adalah sebuah produk yang memiliki biaya sangat kecil jika dilihat dari sudut pandang nasabah, nasabah hanya mengeluarkan biaya administrasi tanpa ada kewajiban untuk menyetorkan hasil (profit) kepada bank syari’ah. Pengusaha kecil dalam hal ini hanya memiliki kewajiban untuk mengembalikan jumlah pinjaman (Djamal,2002).
Baituttamwil adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya
menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan (simpanan) maupun deposito dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah melalui mekanisme yang lazim dalam dunia perbankan. Baitul Maal dan Baituttamwil keduanya merupakan suatu
sistem dalam wadah BMT yang bekerja sinergi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, jika salah satu tidak ada maka bukanlah lagi di sebut BMT tetapi di sebut dengan Baitul Maal saja atau Baituttamwil saja. (Ilmi, 2002).
Dalam kegiatan Baitutttamwil (komersil) produk-produk pelayanan BMT terhadap nasabah meliputi:
1. Produk penghimpunan dana Wadi’ah (titipan) barang atau harta (uang)
2. Produk penghimpunan dan penyaluran dana Mudharabah yaitu kerjasama kemitraan berdasarkan prinsip bagi untung dan bagi rugi, dilakukan sekurang- kurangnya oleh dua belah pihak di mana yang pertama memiliki dan menyediakan modal sedangkan yang ke dua memiliki keahlian (skill) dan bertanggungjawab atas pengelolaan dana/ manajemen usaha (proyek) halal tertentu
3. Produk penyaluran Murabahah, di mana BMT bertindak sebagai pembeli sekaligus penjual barang halal tertentu yang dibutuhkan nasabah
4. Produk penyaluran dana Musharakah yaitu suatu produk yang hampir sama dengan Mudharabah yaitu kerjasama kemitraan, yang membedakannya adalah kalau Mudharabah kerjasama antara pemilik modal dengan pengelola modal sedangkan pada Musharakah kedua belah pihak sama-sama menyertakan modal dan masing-masing dapat terjun langsung secara bersama-sama dalam proses manajemen.
Dari semua produk-produk tersebut pembagian keuntungan dan kerugian berdasarkan prinsip bagi hasil, jika untung bagi hasil dalam keuntungan dan jika rugi bagi hasil dalam kerugian. (Ilmi, 2002).
Sebagai sebuah lembaga keuangan masyarakat BMT memiliki kegiatan usaha dan kegiatan manajerial BMT. Dalam kegiatan usaha, kegiatan yang dilakukan meliputi :
1. Mendidik anggota untuk menyimpan/menabung dengan menyediakan pelayanan tabungan/simpanan anggota.
2. Memberi pelayanan pembiayaan untuk pengembangan usaha; 3. Membimbing anggota dalam perencanaan dan pengembangan usaha; 4. Membimbing anggota dalam pemanfaatan pembiayaan;
6. Memberikan latihan manajemen usaha dan latihan teknik pengembangan usaha; 7. Memberikan pembinaan rohani dan pengkajian keIslaman bagi seluruh anggota. Sedangkan dalam kegiatan manajerial BMT memiliki sub-sub kegiatan seperti dalam hal permodalan BMT :
1. Memiliki ketentuan tertulis mengenai penetapan besarnya simpanan pokok, simpanan wajib, pemupukan modal dari cadangan laba serta tatacara pelaksanaannya;
2. Memiliki ketentuan mengenai perlakuan terhadap inventaris, investasi dan harta lembaga lainnya berkenaan dengan alokasi modal;
3. Memiliki ketentuan mengenai tingkat kelancaran pembiayaan (aturan kolektibilitas);
4. Memiliki aturan tertulis mengenai Cadangan Penghapusan Piutang (CPP);
5. Memiliki kebijakan menyisihkan sebagian labanya untuk memperkuat permodalan;
6. Memiliki aturan yang mengatur mengenai penghapus bukuan pinjaman yang macet;
7. Senantiasa memantau kondisi finansial yang berkaitan langsung dengan kecukupan modal BMT;
8. Memiliki aturan tertulis mengenai aturan modal hibah, modal penyertaan serta alokasinya.
Dalam Asset, BMT :
1. Memiliki kebijakan/aturan tertulis mengenai pinjaman kepada pihak internal (pengelola, pengurus, pemeriksa dan dewan syariah);
2. Memiliki prosedur pembiayaan tertulis mulai dari proses permohonan, pencairan pinjaman, pengadministrasian dan pengawasannya ;
3. Memiliki sistem dan prosedur tertulis mengenai penetapan penilaian dan pengikatan agunan;
4. Memiliki strategi tertentu yang tertulis dalam menangani pembiayaan bermasalah;
5. Senantiasa memantau konsistensi dan mematuhi penggunaan/prosedur pembiayaan;
6. Tidak melanggar Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) ;
7. Tidak memperkenankan penetapan persyaratan yang lebih ringan untuk fasilitas pembiayaan kepada pihak internal;
8. Mengadministrasikan agunan dengan baik dan aman.
Dalam pengelolaan, BMT:
1. Pelaksanaan BMT konsisten dengan sistem syariah
2. Memiliki kebijaksanaan umum tertulis yang mencakup kegiatan utamanya (simpan pinjam)
3. Memiliki rencana anggaran (proyeksi finansial) yang mencakup: penghimpunan dana masyarakat, target lending (pemberian pinjaman), pendanaan, pendapatan
4. Memiliki perencanaan mengenai pengembangan/peningkatan kualitas SDM; 5. Mengadakan perencanaan mingguan dan bulanan
6. Melakukan evaluasi terhadap capaian target dari perencanaan
7. Secara reguler mengadakan rapat manajemen, operasional dan marketing 8. Memiliki brankas untuk menyimpan uang dan jaminan
9. Memiliki kantor yang terpisah dengan pihak lain. 10. Memiliki struktur organisasi dan job description tertulis 11. Memiliki peraturan kekaryawanan
12. Memiliki peraturan yang menjamin keamanan operasional BMT 13. Melaksanakan rapat pengurus
14. Memiliki sisdur simpan dan pinjam yang tertulis dan disahkan
15. Memiliki kebijakan mengenai pengeluaran uang yang tertulis dan disahkan 16. Memiliki sistem dan kebijakan akuntansi yang tertulis dan disahkan
17. Memberikan kompensasi gaji kepada pegawai sesuai dengan struktur kepegawaiannya (Zaenal , 2001)
Ada tiga kinerja yang harus dapat dipertanggungjawabkan dari lembaga keuangan masyarakat ini yaitu, pertama, tingkat keuntungan lembaga keuangan tersebut, kedua, manfaat lembaga keuangan bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan usaha atau peningkatan kesejahteraan, ketiga, ketergantungan (akses) masyarakat terhadap sumberdana, yang menyangkut ketersediaan dana
dalam jumlah yang mencukupi, biaya modal yang harus dibayar dan kemudahan dalam pelayanan (Antonio dkk. 2006).
Usaha pendirian BMT biasanya di motori oleh para tokoh masyarakat baik yang berada di lingkungan mesjid, organisasi kemasyarakat Islam, ataupun pesantren. Kemunculan BMT merupakan usaha-usaha pemberdayaan umat yang selama ini berada dalam kondisi di bawah garis kesejahteraan. Tujuan berdirinya BMT adalah guna meningkatkan kualitas usaha ekonomi bagi kesejahteraan anggota, yang merupakan jamaah mesjid lokasi BMT berada pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Kerangka Pemikiran
Kemiskinan merupakan suatu perwujudan dari sebuah ketidakberdayaan masyarakat terhadap aspek-aspek yang menyangkut kebutuhan hidup, salah satu aspek kebutuhan hidup masyarakat yang penting adalah ekonomi selain aspek-aspek lainnya seperti aspek-aspek pendidikan dan kesehatan serta lingkungan hidup.
Aspek ekonomi sangat erat kaitannya dengan penghasilan atau pendapatan yang dapat menunjang kebutuhan hidup sehari-hari, itulah sebabnya meningkatnya jumlah pengangguran pada masyarakat sebagai dampak dari krisis multidimensional menyebabkan semakin meningkat jumlah masyarakat yang jatuh dalam kemiskinan.
Kunci keberhasilan dalam penanggulangan kemiskinan terletak pada masyarakat itu sendiri yaitu sejauh mana mereka mau meningkatkan keberdayaannya agar dapat lepas dari masalah kemiskinannya. Keberdayaan menunjukkan arah pada peningkatan kualitas, upaya untuk meningkatkan kualitas adalah melalui suatu kegiatan yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan. Dengan bertambahnya pengetahuan dan keterampilan dapat memunculkan suatu bentuk kemampuan (Capacity). Kemampuan dalam menanggulangi masalah kemiskinan adalah kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Suatu lembaga yang dapat mendorong keberdayaan masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai
kemampuannya dalam meningkatkan kesejateraan ekonominya adalah lembaga ekonomi masyarakat.
Untuk mengkaji sejauh mana kapasitas lembaga ekonomi masyarakat di daerah kajian dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat, diperlukan suatu analisis terhadap keragaan (performance) kelembagaan ekonomi masyarakat tersebut. Dalam kegiatan kajian ini analisis terhadap keragaan (performace) kelembagaan ekonomi masyarakat dilakukan pada kelembagaan BMT Nurul Ummah, BMT Nurul Ummah merupakan keterpaduan dua kelembagaan sosial masyarakat yaitu Baituttamwil dan Baitul Maal yang bertujuan untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat dalam upaya menanggulangi masalah kemiskinan di perkotaan.
Keragaan (performance) Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai lembaga ekonomi masyarakat ditunjukkan oleh kemampuan (kapasitas) kelembagaannya, kemampuan (kapasitas) nasabahnya dalam kegiatan Baituttamwil dan Baitul
Maal. Dalam pelaksanaannya kelembagaan BMT sebagai lembaga komersil
(Baituttamwil), BMT memiliki dua kegiatan yaitu kegiatan usaha dan kegiatan manajerial, dalam kegiatan usaha BMT tidak hanya menyediakan pelayanan tabungan atau pinjaman nasabah tetapi juga memberikan pelayanan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan sebagai penunjang keberhasilan usaha nasabah, menyediakan sarana produktif untuk nasabah. Pada pelaksanaan kelembagaan sebagai lembaga sosial (Baitul Maal) BMT melakukan penghimpunan dan penyaluran ZIS baik nasabah maupun anggota dan melakukan kegiatan rohani dan pengkajian ke Islaman bagi nasabah.
Untuk mengkaji sejauh mana kemampuan kelembagaan BMT Nurul Ummah dalam kegiatan usaha (Baituttamwil), analisis dilakukan pada kemampuan Kelembagaan BMT dalam memberikan pelayanan simpanan/pinjaman nasabah, meningkatkan keterampilan usaha nasabah meliputi (1) proses perencanaan pengembangan usaha, (2) pemanfaatan biaya, (3) mengelola usaha dan (4) teknik pengembangan usaha. Selanjutnya analisis juga dilakukan pada kemampuan lembaga di dalam melakukan pemupukan modal meliputi kemampuan dalam memanfaatkan sumberdaya dan sumberdana masyarakat dan di dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan kemacetan
pengembalian pinjaman dari nasabah. Analisis juga dilakukan pada kemampuan kelembagaan di dalam menjalin kerjasama kolaboratif dengan stakeholders terkait meliputi keterlibatan peran-peran stakeholders di dalam kegiatan BMT dan pemanfaatan yang telah dilakukan BMT terhadap peran-peran stakeholders tersebut. Untuk menganalisis kemampuan kelembagaan di dalam melibatkan partisipasi nasabahnya dilihat dari kemampuan nasabah di dalam memfasilitasi kegiatan BMT, kemampuan di dalam mendukung kegiatan sosial BMT baik dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi maupun dalam pemecahan masalah. Di dalam meningkatkan kemampuan sumberdaya masyarakat dalam organisasinya analisis dilakukan pada motivasi kerja, disiplin kerja dan etika kerja pegawai BMT.
Untuk mengkaji kemampuan kelembagaan dalam melaksanakan kegiatan
Baitul Maal, selanjutnya analisis pun akan dilakukan pada kegiatan
penghimpunan dan penyaluran ZIS.
Suatu kelembagaan tidak dapat berjalan tanpa adanya anggota, kemampuan anggota juga menunjukkan performance kelembagaan. Untuk mengkaji sejauh mana kemampuan (kapasitas) nasabah dalam kelembagaan BMT, analisis akan dilakukan pada pengetahuan dan pemahaman nasabah mengenai ketentuan simpan pinjam, kemampuan nasabah dalam mengembangkan usahanya yang dilihat dari kemampuan (1) proses perencanaan pengembangan usaha, (2) pemanfaatan biaya, (3) mengelola usaha dan (4) teknik pengembangan usaha. Selain itu analisis juga dilakukan pada sikap nasabah dalam kegiatan menabung dan meminjam. Untuk mengakaji sejauhmana kemampuan nasabah tersebut dilihat dari kemandirian dan keswadayaan usahanya dan dalam kemampuan nasabah dalam mengantisipasi perubahan.
Sementara untuk mengkaji kemampuan nasabah dalam kegiatan Baitul Maal analisis dilakukan pada pengetahuan nasabah mengenai ketentuan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) dan sikap nasabah dalam menyerahkan ZIS nya.
Dari kemampuan yang dimiliki kelembagaan akan mengaktualisasikan hasil yang dicapai, hasil yang dicapai tersebut merupakan kinerja kelembagaan di dalam melaksanakan kegiatannya. Untuk mengetahui kinerja dari keragaan (performance) kelembagaan BMT kajian dilakukan pada (1) pencapain tujuan
pokok dalam kegiatan Baitul Maal maupun dalam kegiatan Baituttamwil, (2) efisiensi pemanfaatan sumberdaya (3) dukungan stakeholders dan (4) pada pencapaian tujuan saat kegiatan analisis yang dibandingkan dengan pencapaian pada tahun sebelumnya (perbandingan).
Kinerja BMT dalam pencapaian tujuan pokok kegiatan Baituttamwil, analisis dilakukan pada pencapaian nasabah yang menabung dan nasabah yang meminjam. Selanjutnya kinerja BMT dalam pencapaian kegiatan Baitul Maal analisis dilakukan pada pencapaian penghimpunan ZIS dan penyalurannya. Kajian pada kinerja BMT dalam efisiensi pemanfaatan sumberdaya , analisis dilakukan pada efisiensi BMT di dalam pemanfaatan sumberdaya masyarakat, efisiensi dalam pemanfaatan sumberdana masyarakat, efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia di dalam organisasinya.
Untuk mengkaji kinerja BMT sejauh mana dukungan stakeholders terhadap BMT, analisis dilakukan pada kegiatan jejaring usaha yang telah dilaksanakan dalam hal ketersediaan kebutuhan usaha dan konsumsi nasabah, pada jejaring sosial dalam hal terhimpun dan tersalurkannya dana ZIS. Sementara untuk mengkaji kinerja BMT dalam perkembangan pencapaian tujuan, analisis dilakukan dengan membandingkan hasil kerja tahun lalu dengan tahun sekarang.
Dari hasil analisis tersebut diharapkan dapat diketahui bagaimana kapasitas kelembagaan BMT tersebut, hal ini sangat berpengaruh pada strategi yang akan dirumuskan secara partisipatif bersama-sama dengan nasabah, pengurus BMT dan stakeholders terkait.
Selain analisis terhadap keragaan (performance) kelembagaan BMT, untuk melengkapi informasi sebagai bahan perumusan strategi, analisis juga dilakukan pada faktor-faktor lain yang diduga berpengaruh pada keberhasilan BMT. Kegiatan BMT Nurul Ummah dilaksanakan di Kelurahan Sekeloa Kecamatan Coblong Kota Bandung, dengan demikian komunitas lingkungan sosial BMT Nurul Ummah merupakan lingkungan komunitas perkotaan. Komunitas perkotaan memiliki karakteristik yang khas yang disebut dengan karakteristik masyarakat perkotaan. Karakteristik masyarakat merupakan modal sosial kelembagaan karena di dalam karakteristik masyarakat terdapat sikap-sikap yang ditunjukkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Karakteristik masyarakat perkotaan
diduga berpengaruh pada keragaan suatu kelembagaan ekonomi masyarakat, oleh karena itu untuk mengkaji sejauhmana karakteristik masyarakat perkotaan tersebut berpengaruh pada kelembagaan BMT perlu dilakukan analisis terhadap karakteristik masyarakat perkotaan baik yang diadopsi oleh nasabah maupun oleh pengurus BMT. Tujuannya adalah untuk mengetahui karakteristik perkotaan yang bagaimana yang diduga berpengaruh pada keragaan (performance) BMT Nurul Ummah.
Untuk mengkaji karakteristik masyarakat perkotaan yang diadopsi nasabah, analisis dilakukan pada partisipasinya pada BMT, kepedulian sosial terhadap kegiatan BMT, kepercayaan pada BMT dan kepatuhan pada norma-norma yang ditetapkan BMT. Sementara karakteristik perkotaan yang diadopsi pengurus, analisis dilakukan pada kepedulian pengurus pada lingkungan sosial BMT, solidaritas pengurus terhadap nasabah, interaksi pengurus dengan nasabah.
Dilihat dari permasalah yang terjadi pada BMT Nurul Ummah, strategi yang akan dirumuskan secara partisipatif diarahkan pada upaya peningkatan kapasitas kelembagaan. Hasil dari perumusan strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kelembagaan BMT yang ditunjukkan dengan meningkatnya kapasitas pengurus dalam pengelolaan Baituttamwil dan Baitul
Maal, meningkatnya kapasitas usaha nasabah, terjalinnya jejaring sosial dan
jejaring usaha kolaboratif dengan stakeholders dan termanfaatkannya sumberdaya dan sumber dana masyarakat secara optimal.
Meningkatnya kapasitas kelembagaan BMT, diharapkan BMT akan mampu melakukan pemupukan modal secara optimal dan mampu menghimpun dana ZIS baik dari nasabah maupun dari masyarakat lainnya. Kemampuan BMT dalam menghimpun dana ZIS didukung oleh adanya modal sosial masyarakat muslim di Kelurahan Sekeloa yang kapasitasnya mencapai 96 % dan memiliki kepatuhan yang cukup tinggi dalam menunaikan ZIS nya.
Adanya kemampuan tersebut diharapkan BMT dapat mewujudkan kemandirian dan keswadayaannya dalam menanggulangi kemiskinan yang ditunjukkan dengan meningkatnya kesejateraan nasabah dan tersedianya modal usaha produktif bagi masyarakat miskin dilingkungan sosialnya.
Untuk lebih jelasnya skema kerangka pemikiran dapat ditampilkan dalam Gambar 1 berikut: