1
MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK
PENGATURAN PUTARAN MOTOR DC
MENGGUNAKAN MODUL PAC C PADA ROLLER TABLE
ROUGHING MILL - FINISHING MILL
Dinas Perawatan Listrik Pabrik Baja Lembaran Panas (Hot Strp Mill) Irwan Iryanto¹, Tejo Sukmadi²
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto, SH Tembalang, Semarang
Abstrak: Pada divisi Hot Strip Mill (HSM), terdapat lima proses penting dalam pembuatan baja lembaran panas yaitu reheating furnace, sizing press, roughing mill, finishing mill, dan down coiler. Tentu saja selama proses ini berlangsung, peran penting dari roller table sangatlah besar yaitu berfungsi untuk membawa baja panas dari satu stand ke stand yang lain selama proses produksi. Dalam proses transfer bar ini roller table digerakan oleh motor DC dengan ukuran yang berbeda-beda antara satu stand dengan stand yang lain. Laporan Kerja Praktek ini membahas mengenai pengaturan putaran motor DC yang terdapat diantara proses roughing mill sampai finishing mill menggunakan Modul PAC C (Programmable Automation Controller) di Dinas Perawatan Listrik Pabrik Baja Lembaran Panas (Hot Strip Mill) PT. Krakatau Steel Cilegon.
Kata kunci : modul PAC C, roller table, motor DC
PT. Krakatau Steel merupakan perusahaan
yang bergerak dalam bidang industri manufaktur
yang menjalankan proses pengecoran baja. PT.
Krakatau Steel telah banyak menghasilkan produk
seperti: kawat baja, baja profil, plat baja maupun
beja beton.
Pada Pabrik Baja Lembaran Panas (Hot
Strip Mill) terdiri dari beberapa stand proses,
diantaranya adalah stand
roughing mill
dan
finishing mill. Selama proses produksi, peran dari
roller table sangatlah penting karena berfungsi
untuk membawa baja panas dari satu stand ke stand
yang lain dan untuk menggerakan roller table ini
digunakanlah suatu motor dc.
I. TUJUAN
Makalah kerja praktek ini bertujuan untuk
mengetahui prinsip pengaturan putaran motor DC
menggunakan modul PAC C secara umum pada
Pabrik Baja Lembaran Panas (Hot Strp Mill) PT.
Krakatau Steel Cilegon.
II. BATASAN MASALAH
Dalam laporan kerja praktek ini membahas
hal-hal yang bersifat umum tentang penggunaan
Modul PAC C untuk pengaturan putaran motor DC
khususnya pada roller table antara proses Roughing
Mill sampai Finishing Mill di Divisi Hot Strip Mill
(HSM) PT. Krakatau Steel Cilegon.
III. DASAR TEORI
Unit Produksi PT. Krakatau Steel
PT. Krakatau Steel, Cilegon sebagai pabrik
baja terpadu memiliki unit-unit yang saling
mendukung dan terintegrasi, yang kesemua dari
proses produksi baja tersebut saling berkaitan dari
divisi/pabrik yang satu dengan yang lainnya.
Pembagian divisi /pabrik pada PT. Krakatau Steel,
meliputi :
1. Pabrik Besi Spons (Direct Reduction Plant /
DRP)
2. Pabrik Billet Baja (Billet Steel Plant / BSP)
3. Pabrik Baja Slab (Slab Steel Plant / SSP)
4. Pabrik Baja Lembaran Panas (Hot Strip Mill /
HSM)
5. Pabrik Baja Batang Kawat ( Wire Rod Mill /
WRM )
6. Pabrik Baja Lembaran Dingin (Cold Rolling
Mill / CRM)
Alur produksi dari proses produksi baja
pada PT. Krakatau Steel dapat dilihat pada gambar
1 berikut ini.
Gambar 1. Alur produksi baja di PT. Krakatau Steel
Hot Strip Mill (HSM)
Pada Divisi HSM, untuk menghasilkan
produk-produknya digunakan bahan baku berupa
baja slab dengan ukuran penampang tebal 180-230
mm, lebar 600-2080 mm dan panjang maksimal
12.000 mm. Serta deberat maksimal hingga 30 ton.
Proses utama produksi slab menjadi baja
lembaran panas dibagi menjadi 5 tahap, yaitu
1)
Tahap Reheating Furnace (pemanasan)
Pada tahap ini, slab dipanaskan dalam
furnace dengan suhu mencapai 1200
oC –
1300
oC. Dengan kapasitas masing-masing
furnace yaitu 300 ton/jam.
2)
Sizing Press
Setelah dipanaskan, slab yang keluar dari
proses
furnace,
disemprot
oleh
air
bertekanan tinggi untuk menghilangkan
kerak. Kemudian slab panas yang telah
dibersihkan
dikurangi
ukuran
lebarnya
dengan melakukan pressing (pukulan) pada
kedua sisi slab.
3)
Roughing Mill
Pada Roughing Mill, slab akan dikurangi
ketebalannya dengan proses pengerolan.
Bagian ini menggunakan
stand
dengan
metode pengerolan bolak-balik. Slab akan
di-roll beberapa kali (pass), tergantung dari
ketebalan yang diinginkan.
4)
Finishing Mill
Pada Finishing Mill, slab akan di-roll untuk
memperoleh ketebalan strip yang sesuai
dengan pesanan.
5)
Down Coiler
Sebelum strip (hasil dari Finishing Mill)
masuk ke down coiler, slab melewati laminar
cooling yang berfungsi untuk mendinginkan
strip. Setelah strip mencapai temperatur yang
sesuai maka proses yang selanjutnya adalah
menggulung strip menjadi coil di down
coiler.
Motor DC
Prinsip Kerja
Pada motor DC terdapat dua elemen utama
yaitu
rotor
(armature/jangkar)
dan
stator
(field/medan). Tegangan DC dialirkan ke kumparan
jangkar melalui sikat karbon yang menempel pada
komutator. Pada saat tegangan dialirkan ke
kumparan medan di stator dengan kutub utara dan
selatan buatan (elektromagnet) akan dihasilkan
medan magnet statis. Adapun susunan komponen
utama motor DC dapat dilihat pada gambar 2 di
bawah ini.
Gambar 2 Komponen utama motor DC
Motor DC berputar sebagai akibat adanya
gaya Lorentz. Adapun arah gaya didasarkan pada
kaidah tangan kanan Lorentz dimana arah gaya
dipengaruhi oleh arah medan magnet dan arah arus
pergerakan elektron seperti terlihat pada gambar 3
di bawah ini.
Gambar 3 Kaidah Tangan Kanan Lorentz
Konstruksi
Motor DC terdiri dari beberapa komponen
diantaranya Armatur, Stator, Commutator, Brushes,
Shaft, Bearing, Fan, End Bracket, dan Frame yang
tersusun seperti gambar 4 berikut.
Gambar 4 Konstruksi Motor DC
Kecepatan Putar Motor DC
Hubungan antara kecepatan, flux medan
dan
tegangan
armatur
ditunjukkan
dalam
persamaan berikut:
Gaya elektromagnetik
:
E = K ∅ n
Torque
:
T = K
∅ I
aKecepatan
:
n =
. ∅Dimana :
E = Gaya elektromagnetik
∅ = Flux medan
n = Kecepatan (rpm)
T = Torque elektromagnetik
I
a= Arus armatur
K = Konstanta
Operasi 4 Kuadran pada Sistem Drive
Jika tegangan motor diturunkan secara
tiba-tiba maka akan timbul torsi negatif yang
disebabkan oleh inersia yang terhubung ke beban.
Motor bekerja seperti halnya generator yang
mengubah energi gerak rotor menjadi energi listrik
yang dikembalikan ke drive. Hal ini sama seperti
mengemudikan sebuah mobil downhill, dimana
mesin mobil akan bekerja sebagai rem. Pengereman
terjadi pada kuadran II dan IV.
Gambar 5 Operasi 4 kuadran
Kuadran I
Torsi dan kecepatan keduanya positif,
motor berputar dengan kecepatan (n) yang searah
dengan torsinya. Daya motor dihasilkan oleh
kecepatan dan torsi, dimana P=T.ω sehingga daya
motor bernilai positif. Energi dikonversi dari
bentuk listrik menjadi benuk mekanik yang
digunakan untuk memutar motor. Mode operasi ini
dikenal dengan forward motoring.
Kuadran II
Kecepatan dalam arah maju tetapi torsi
motor berlawanan arah atau bernilai negatif. Torsi
yang dihasilkan oleh motor digunakan untuk
pengereman putaran motor. Energi mekanik selama
pengereman diubah menjadi energi listrik, ini
berarti terjadi perubahan energi dari sistem
mekanik menjadi sistem elektrik. Produk dari torsi
dan kecepatan adalah negatif yang berarti daya juga
bernilai negatif sehingga motor beroperasi pada
mode pengereman. Mode operasi ini disebut
dengan forward braking.
Kuadran III
Kecepatan dan torsi motor berarah sama
tetapi keduanya negatif. Pengembalian torsi elektrik
digunakan untuk memutar motor dalam arah yang
berkebalikan. Daya yang merupakan hasil dari torsi
dan kecepatan bernilai positif dan ini berarti motor
beroperasi pada mode motoring. Energi dikonversi
dari bentuk elektrik menjadi benuk mekanik yang
digunakan untuk memutar motor. Mode operasi ini
dikenal dengan reverse motoring.
Kuadran IV
Kecepatan
berada
pada
arah
yang
berlawanan, tetapi torsinya bernilai positif. Torsi
motor ini digunakan untuk mengerem putaran
motor yang berlawanan. Energi mekanik diperkuat
selama pengereman yang dikonversi menjadi
bentuk elektrik, ini berarti terjadi perubahan energi
dari sistem mekanik menjadi sistem elektrik.
Produk dari torsi dan kecepatan adalah negatif yang
berarti daya juga bernilai negatif sehingga motor
beroperasi pada mode pengereman. Mode operasi
ini disebut dengan reverse braking.
Pengendali PID
Sistem kendali adalah proses pengaturan
atau pengendalian terhadap satu atau beberapa
besaran (variabel) sehingga berada pada suatu
harga atau suatu rangkuman harga (range) tertentu.
Ditinjau dari segi peralatan, sistem kendali terdiri
dari berbagai susunan komponen fisis yang
digunakan untuk mengarahkan aliran energi ke
suatu mesin atau proses agar dapat menghasilkan
prestasi yang diinginkan.
Gambar 5 Diagram Sistem Kendali
Di dalam suatu sistem kendali dikenal
adanya beberapa macam aksi kendali, diantaranya
yaitu aksi kendali proporsional, aksi kendali
integral dan aksi kendali derivatif.
Masing-masing aksi kontrol ini mempunyai
keunggulan-keunggulan tertentu, dimana aksi
kendali
proporsional
mempunyai keunggulan
risetime yang cepat, aksi kendali
integral
mempunyai
keunggulan
untuk
memperkecil
kesalahan, dan aksi kendali derivatif mempunyai
keunggulan untuk memperkecil kesalahan atau
meredam overshot/undershot.
Gambar 6 Jenis Respon keluaran
Setiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, hal ini terlihat pada tabel 1 di
bawah ini.
Pengendali Proses Umpan Balik Gangguan Pembanding Set Point + + + -GalatTabel 1 Respon kendali PID terhadap perubahan konstanta Closed-Loop Response Rise Time Over Shoot Settling Time SS Error
Kp Decrease Increase Small
change Decrease Ki Decrease Increase Increase Eliminate Kd Small
change Decrease Decrease
Small change
Parameter-parameter tersebut tidak bersifat
independent sehingga pada saat salah satu nilai
konstantanya diubah, maka mungkin sistem tidak
akan bereaksi seperti yang diinginkan. Tabel 1 di
atas hanya dipergunakan sebagai pedoman jika
akan melakukan perubahan konstanta. Untuk
merancang
suatu
kendali
PID,
biasanya
dipergunakan metode trial and error sehingga
perancang harus mencoba kombinasi pengatur
beserta konstantanya untuk mendapatkan hasil
terbaik yang paling sederhana.
Setiap kekurangan dan kelebihan dari
masing-masing
kendali
PID
dapat
saling
menutupi dengan menggabungkan ketiganya
secara paralel menjadi kendali proposional,
integral, dan derivatif (kendali PID).
Elemen-elemen kendali PID masing-masing secara
keseluruhan bertujuan untuk mempercepat reaksi
sebuah
sistem,
menghilangkan
offset
dan
menghasilkan perubahan awal yang besar.
Gambar 7 Blok diagram kendali PID analog
IV. ROLLER TABLE DAN PENGGUNAAN
MOTOR
Roller table merupakan kumpulan dari
beberapa motor yang disusun secara parallel yang
berfungsi
untuk
proses
transfer
bar
yaitu
mengantarkan strip baja dari stand satu ke stand
lainnya.
Roller table
yang berada diantara
Roughing Mill sampai Finishing terdiri dari 5 group
yang berbeda yang terdiri dari :
a)
Group 1 sebanyak 24 buah memiliki tipe :
39 kW, 176 rpm
b)
Group 2 sebanyak 15 buah memiliki tipe :
19 kW, 265 rpm
c)
Group 3 sebanyak 20 buah memiliki tipe :
8,2 kW, 265 rpm
d)
Group 4 sebanyak 32 buah Memiliki tipe :
12 kW, 265 rpm
e)
Group 5 sebanyak 32 buah memiliki tipe :
12 kW, 265 rpm
V. MODUL PAC C
Modul PAC (Programmable Automation
Controller) adalah sebuah modul pengontrol
terprogram yang bekerja close loop yang terdiri
dari enam buah modul dengan fungsi yang berbeda
dan saling berhubungan.
Gambar 8 Modul PAC C
Prinsip Kerja Modul PAC C
Modul ini bekerja close loop yang terdiri
dari dua loop yaitu Speed Loop dan Current Loop.
Kedua loop ini berfungsi untuk mengontrol putarn
motor DC agar sesuai dengan set point atau
referensi.
Gambar 9 Diagram blok modul PAC C
Speed Controller menerima masukan speed
reference dan menghasilkan current reference
sebagai masukan Current Controller. Plant (motor
DC) akan berputar sesuai dengan keluaran Current
Controller. Apabila terdapat error pada plant
(kecepatan tidak sesuai dengan referensi) maka
plant akan memberikan umpan balik yang akan
diolah oleh transducer sebgai masukan dari Speed
Controller sdan Current Controller.
Bagian-Bagian Modul PAC C
Modul PAC C yang digunakan terdiri dari
enam buah modul yang masing masing memiliki
Speed Transduc er Speed Controler Current Transduc er Current Controlle r Plant Current Reference Current Loop Speed Loop Current Tabel 1 Respon kendali PID terhadap perubahan
konstanta Closed-Loop Response Rise Time Over Shoot Settling Time SS Error
Kp Decrease Increase Small
change Decrease Ki Decrease Increase Increase Eliminate Kd Small
change Decrease Decrease
Small change
Parameter-parameter tersebut tidak bersifat
independent sehingga pada saat salah satu nilai
konstantanya diubah, maka mungkin sistem tidak
akan bereaksi seperti yang diinginkan. Tabel 1 di
atas hanya dipergunakan sebagai pedoman jika
akan melakukan perubahan konstanta. Untuk
merancang
suatu
kendali
PID,
biasanya
dipergunakan metode trial and error sehingga
perancang harus mencoba kombinasi pengatur
beserta konstantanya untuk mendapatkan hasil
terbaik yang paling sederhana.
Setiap kekurangan dan kelebihan dari
masing-masing
kendali
PID
dapat
saling
menutupi dengan menggabungkan ketiganya
secara paralel menjadi kendali proposional,
integral, dan derivatif (kendali PID).
Elemen-elemen kendali PID masing-masing secara
keseluruhan bertujuan untuk mempercepat reaksi
sebuah
sistem,
menghilangkan
offset
dan
menghasilkan perubahan awal yang besar.
Gambar 7 Blok diagram kendali PID analog
IV. ROLLER TABLE DAN PENGGUNAAN
MOTOR
Roller table merupakan kumpulan dari
beberapa motor yang disusun secara parallel yang
berfungsi
untuk
proses
transfer
bar
yaitu
mengantarkan strip baja dari stand satu ke stand
lainnya.
Roller table
yang berada diantara
Roughing Mill sampai Finishing terdiri dari 5 group
yang berbeda yang terdiri dari :
a)
Group 1 sebanyak 24 buah memiliki tipe :
39 kW, 176 rpm
b)
Group 2 sebanyak 15 buah memiliki tipe :
19 kW, 265 rpm
c)
Group 3 sebanyak 20 buah memiliki tipe :
8,2 kW, 265 rpm
d)
Group 4 sebanyak 32 buah Memiliki tipe :
12 kW, 265 rpm
e)
Group 5 sebanyak 32 buah memiliki tipe :
12 kW, 265 rpm
V. MODUL PAC C
Modul PAC (Programmable Automation
Controller) adalah sebuah modul pengontrol
terprogram yang bekerja close loop yang terdiri
dari enam buah modul dengan fungsi yang berbeda
dan saling berhubungan.
Gambar 8 Modul PAC C
Prinsip Kerja Modul PAC C
Modul ini bekerja close loop yang terdiri
dari dua loop yaitu Speed Loop dan Current Loop.
Kedua loop ini berfungsi untuk mengontrol putarn
motor DC agar sesuai dengan set point atau
referensi.
Gambar 9 Diagram blok modul PAC C
Speed Controller menerima masukan speed
reference dan menghasilkan current reference
sebagai masukan Current Controller. Plant (motor
DC) akan berputar sesuai dengan keluaran Current
Controller. Apabila terdapat error pada plant
(kecepatan tidak sesuai dengan referensi) maka
plant akan memberikan umpan balik yang akan
diolah oleh transducer sebgai masukan dari Speed
Controller sdan Current Controller.
Bagian-Bagian Modul PAC C
Modul PAC C yang digunakan terdiri dari
enam buah modul yang masing masing memiliki
Speed Transduc er Speed Controler Current Transduc er Current Controlle r Plant Current Reference Current Loop Speed Loop Current Tabel 1 Respon kendali PID terhadap perubahan
konstanta Closed-Loop Response Rise Time Over Shoot Settling Time SS Error
Kp Decrease Increase Small
change Decrease Ki Decrease Increase Increase Eliminate Kd Small
change Decrease Decrease
Small change
Parameter-parameter tersebut tidak bersifat
independent sehingga pada saat salah satu nilai
konstantanya diubah, maka mungkin sistem tidak
akan bereaksi seperti yang diinginkan. Tabel 1 di
atas hanya dipergunakan sebagai pedoman jika
akan melakukan perubahan konstanta. Untuk
merancang
suatu
kendali
PID,
biasanya
dipergunakan metode trial and error sehingga
perancang harus mencoba kombinasi pengatur
beserta konstantanya untuk mendapatkan hasil
terbaik yang paling sederhana.
Setiap kekurangan dan kelebihan dari
masing-masing
kendali
PID
dapat
saling
menutupi dengan menggabungkan ketiganya
secara paralel menjadi kendali proposional,
integral, dan derivatif (kendali PID).
Elemen-elemen kendali PID masing-masing secara
keseluruhan bertujuan untuk mempercepat reaksi
sebuah
sistem,
menghilangkan
offset
dan
menghasilkan perubahan awal yang besar.
Gambar 7 Blok diagram kendali PID analog
IV. ROLLER TABLE DAN PENGGUNAAN
MOTOR
Roller table merupakan kumpulan dari
beberapa motor yang disusun secara parallel yang
berfungsi
untuk
proses
transfer
bar
yaitu
mengantarkan strip baja dari stand satu ke stand
lainnya.
Roller table
yang berada diantara
Roughing Mill sampai Finishing terdiri dari 5 group
yang berbeda yang terdiri dari :
a)
Group 1 sebanyak 24 buah memiliki tipe :
39 kW, 176 rpm
b)
Group 2 sebanyak 15 buah memiliki tipe :
19 kW, 265 rpm
c)
Group 3 sebanyak 20 buah memiliki tipe :
8,2 kW, 265 rpm
d)
Group 4 sebanyak 32 buah Memiliki tipe :
12 kW, 265 rpm
e)
Group 5 sebanyak 32 buah memiliki tipe :
12 kW, 265 rpm
V. MODUL PAC C
Modul PAC (Programmable Automation
Controller) adalah sebuah modul pengontrol
terprogram yang bekerja close loop yang terdiri
dari enam buah modul dengan fungsi yang berbeda
dan saling berhubungan.
Gambar 8 Modul PAC C
Prinsip Kerja Modul PAC C
Modul ini bekerja close loop yang terdiri
dari dua loop yaitu Speed Loop dan Current Loop.
Kedua loop ini berfungsi untuk mengontrol putarn
motor DC agar sesuai dengan set point atau
referensi.
Gambar 9 Diagram blok modul PAC C
Speed Controller menerima masukan speed
reference dan menghasilkan current reference
sebagai masukan Current Controller. Plant (motor
DC) akan berputar sesuai dengan keluaran Current
Controller. Apabila terdapat error pada plant
(kecepatan tidak sesuai dengan referensi) maka
plant akan memberikan umpan balik yang akan
diolah oleh transducer sebgai masukan dari Speed
Controller sdan Current Controller.
Bagian-Bagian Modul PAC C
Modul PAC C yang digunakan terdiri dari
enam buah modul yang masing masing memiliki
Speed Transduc er Speed Controler Current Transduc er Current Controlle r Plant Current Reference Current Loop Speed Loop Current
fungsi yang berbeda-beda. Funsi dari modul-modul
ini antara lain adalah untuk mengatur gate atau
pemicuan thyristor pada rectifier armature dan
sebagai
proteksi
untuk
melindungi
sistem
pengemudian motor. Enam buah modul tersebut
diantaranya adalah:
Modul A1 (Power Supply)
Modul ini berfungsi sebagai pemberi supply
tegangan pada kelima modul lainnya pada Modul
PAC C.
Modul A2 (Current Control)
Pada Modul PAC, modul A2 adalah Current
Control
outstage 1
yang berfungsi sebagai
pengontrol arus untuk torsi motor yang bernilai
positif. Pada modul ini terdapat rangkaian PI
Controller dengan current feedback sebagai umpan
baliknya.
Modul A3 (Current Control)
Seperti halnya modul A2, modul ini berungsi
sebagai pengontrol arus, namun dengan arah torsi
yang berlawanan dengan arah torsi yang dikontrol
oleh modul A2.
Modul A4 (Speed Control)
Modul ini berfungsi sebagai pengontrol
kecepatan motor agar sesuai dengan kecepatan
referensi (set point). Pada modul A4 ini terdapat
rangkaian PI Controller untuk memperbaiki respon
perubahan kecepatan motor DC dengan umpan
balik berupa speed feedback yang berasal dari error
atau selisih tegangan armature dengan rugi-rugi
armature.
Modul A5 (Control Logic)
Modul ini berfungsi sebagai pengatur sinyal
gate yang digunakan sebagai input thyristor pada
rectifier armature. Modul A5 bekerja berdasarkan
current
control
dan
speed
control
yang
menghasilkan sudut picu thyristor.
Modul A6 (Proteksi)
Untuk
melindungi
system
diperlukan
mekanisme proteksi yang berada pada modul A6.
Modul ini dikoneksikan dengan beberapa kontaktor
proteksi yang lengkap dengan LED indicator
apabila terjadi
fault
saat system pengontrol
kecepatan bekerja.
VI. ARMATURE RECTIFIER
Pada driver ini digunakan penyearah 3 fasa
gelombang penuh terkontrol yang menggunakan 12
buah thyristor seperti terlihat pada gambar berikut :
Gambar 10 penyearah 3 fasa gelombang penuh terkontrol
Pada penyearah armature digunakan 2
group thyristor yang bekerja secara bergantian.
Group I berfungsi untuk penyearah mode Motoring
Bridge dimana motor akan berputar sesuai dengan
set point. Sedangkan pada thyristor Group II
berfungsi sebagai Regen Bridge yaitu fungsi
regenerative untuk memutar motor pada arah
sebaliknya.
VII. FIELD RECTIFIER
Untuk
penyearah
medan,
digunakan
penyearah tak terkontrol menggunakan empat buah
dioda sebagai berikut :
i4 vL N v1 v2 iS i1 LOAD i2 i3 iL D2 D3 D1 D4
Gambar 11 penyearah 1 fasa gelombang penuh tak terkontrol
Pada field rectifier hanya digunakan 1 fasa
dari tegangan jala-jala. Hal ini dimaksudkan untuk
lebih
menghemat
penggunaan
komponen
elektronika rangkaian simoreg. Penyearah ini tak
terkontrol, karena pengontrolan dilakukan pada
penyearah armature agar respon pengontrolan dapat
lebih cepat.
VIII.
HASIL SIMULASI
Ramp Fuction
Fungsi Ramp dalam modul PAC C dapat
diatur Ramp Up dan Ramp Down secara manual
dengan memutar resistor variabel. Simulasi
perubahan fungsi Ramp dapat divariasikan sebagai
berikut :
fungsi yang berbeda-beda. Funsi dari modul-modul
ini antara lain adalah untuk mengatur gate atau
pemicuan thyristor pada rectifier armature dan
sebagai
proteksi
untuk
melindungi
sistem
pengemudian motor. Enam buah modul tersebut
diantaranya adalah:
Modul A1 (Power Supply)
Modul ini berfungsi sebagai pemberi supply
tegangan pada kelima modul lainnya pada Modul
PAC C.
Modul A2 (Current Control)
Pada Modul PAC, modul A2 adalah Current
Control
outstage 1
yang berfungsi sebagai
pengontrol arus untuk torsi motor yang bernilai
positif. Pada modul ini terdapat rangkaian PI
Controller dengan current feedback sebagai umpan
baliknya.
Modul A3 (Current Control)
Seperti halnya modul A2, modul ini berungsi
sebagai pengontrol arus, namun dengan arah torsi
yang berlawanan dengan arah torsi yang dikontrol
oleh modul A2.
Modul A4 (Speed Control)
Modul ini berfungsi sebagai pengontrol
kecepatan motor agar sesuai dengan kecepatan
referensi (set point). Pada modul A4 ini terdapat
rangkaian PI Controller untuk memperbaiki respon
perubahan kecepatan motor DC dengan umpan
balik berupa speed feedback yang berasal dari error
atau selisih tegangan armature dengan rugi-rugi
armature.
Modul A5 (Control Logic)
Modul ini berfungsi sebagai pengatur sinyal
gate yang digunakan sebagai input thyristor pada
rectifier armature. Modul A5 bekerja berdasarkan
current
control
dan
speed
control
yang
menghasilkan sudut picu thyristor.
Modul A6 (Proteksi)
Untuk
melindungi
system
diperlukan
mekanisme proteksi yang berada pada modul A6.
Modul ini dikoneksikan dengan beberapa kontaktor
proteksi yang lengkap dengan LED indicator
apabila terjadi
fault
saat system pengontrol
kecepatan bekerja.
VI. ARMATURE RECTIFIER
Pada driver ini digunakan penyearah 3 fasa
gelombang penuh terkontrol yang menggunakan 12
buah thyristor seperti terlihat pada gambar berikut :
Gambar 10 penyearah 3 fasa gelombang penuh terkontrol
Pada penyearah armature digunakan 2
group thyristor yang bekerja secara bergantian.
Group I berfungsi untuk penyearah mode Motoring
Bridge dimana motor akan berputar sesuai dengan
set point. Sedangkan pada thyristor Group II
berfungsi sebagai Regen Bridge yaitu fungsi
regenerative untuk memutar motor pada arah
sebaliknya.
VII. FIELD RECTIFIER
Untuk
penyearah
medan,
digunakan
penyearah tak terkontrol menggunakan empat buah
dioda sebagai berikut :
i4 vL N v1 v2 iS i1 LOAD i2 i3 iL D2 D3 D1 D4
Gambar 11 penyearah 1 fasa gelombang penuh tak terkontrol
Pada field rectifier hanya digunakan 1 fasa
dari tegangan jala-jala. Hal ini dimaksudkan untuk
lebih
menghemat
penggunaan
komponen
elektronika rangkaian simoreg. Penyearah ini tak
terkontrol, karena pengontrolan dilakukan pada
penyearah armature agar respon pengontrolan dapat
lebih cepat.
VIII.
HASIL SIMULASI
Ramp Fuction
Fungsi Ramp dalam modul PAC C dapat
diatur Ramp Up dan Ramp Down secara manual
dengan memutar resistor variabel. Simulasi
perubahan fungsi Ramp dapat divariasikan sebagai
berikut :
fungsi yang berbeda-beda. Funsi dari modul-modul
ini antara lain adalah untuk mengatur gate atau
pemicuan thyristor pada rectifier armature dan
sebagai
proteksi
untuk
melindungi
sistem
pengemudian motor. Enam buah modul tersebut
diantaranya adalah:
Modul A1 (Power Supply)
Modul ini berfungsi sebagai pemberi supply
tegangan pada kelima modul lainnya pada Modul
PAC C.
Modul A2 (Current Control)
Pada Modul PAC, modul A2 adalah Current
Control
outstage 1
yang berfungsi sebagai
pengontrol arus untuk torsi motor yang bernilai
positif. Pada modul ini terdapat rangkaian PI
Controller dengan current feedback sebagai umpan
baliknya.
Modul A3 (Current Control)
Seperti halnya modul A2, modul ini berungsi
sebagai pengontrol arus, namun dengan arah torsi
yang berlawanan dengan arah torsi yang dikontrol
oleh modul A2.
Modul A4 (Speed Control)
Modul ini berfungsi sebagai pengontrol
kecepatan motor agar sesuai dengan kecepatan
referensi (set point). Pada modul A4 ini terdapat
rangkaian PI Controller untuk memperbaiki respon
perubahan kecepatan motor DC dengan umpan
balik berupa speed feedback yang berasal dari error
atau selisih tegangan armature dengan rugi-rugi
armature.
Modul A5 (Control Logic)
Modul ini berfungsi sebagai pengatur sinyal
gate yang digunakan sebagai input thyristor pada
rectifier armature. Modul A5 bekerja berdasarkan
current
control
dan
speed
control
yang
menghasilkan sudut picu thyristor.
Modul A6 (Proteksi)
Untuk
melindungi
system
diperlukan
mekanisme proteksi yang berada pada modul A6.
Modul ini dikoneksikan dengan beberapa kontaktor
proteksi yang lengkap dengan LED indicator
apabila terjadi
fault
saat system pengontrol
kecepatan bekerja.
VI. ARMATURE RECTIFIER
Pada driver ini digunakan penyearah 3 fasa
gelombang penuh terkontrol yang menggunakan 12
buah thyristor seperti terlihat pada gambar berikut :
Gambar 10 penyearah 3 fasa gelombang penuh terkontrol
Pada penyearah armature digunakan 2
group thyristor yang bekerja secara bergantian.
Group I berfungsi untuk penyearah mode Motoring
Bridge dimana motor akan berputar sesuai dengan
set point. Sedangkan pada thyristor Group II
berfungsi sebagai Regen Bridge yaitu fungsi
regenerative untuk memutar motor pada arah
sebaliknya.
VII. FIELD RECTIFIER
Untuk
penyearah
medan,
digunakan
penyearah tak terkontrol menggunakan empat buah
dioda sebagai berikut :
i4 vL N v1 v2 iS i1 LOAD i2 i3 iL D2 D3 D1 D4
Gambar 11 penyearah 1 fasa gelombang penuh tak terkontrol
Pada field rectifier hanya digunakan 1 fasa
dari tegangan jala-jala. Hal ini dimaksudkan untuk
lebih
menghemat
penggunaan
komponen
elektronika rangkaian simoreg. Penyearah ini tak
terkontrol, karena pengontrolan dilakukan pada
penyearah armature agar respon pengontrolan dapat
lebih cepat.
VIII.
HASIL SIMULASI
Ramp Fuction
Fungsi Ramp dalam modul PAC C dapat
diatur Ramp Up dan Ramp Down secara manual
dengan memutar resistor variabel. Simulasi
perubahan fungsi Ramp dapat divariasikan sebagai
berikut :
Ramp Up minimum – Ramp Down
minimum
Ket. 1 = Nilai aktual sebelum Ramp Up 2 = Nilai aktual setelah Ramp Up 3 = Nilai aktual sebelum Ramp Down 4 = Nilai aktual setelah Ramp Down
Gambar 12 Respon Ramp Up minimum – Ramp Down minimum
Meskipun nilai resistansi Ramp Up dan
Ramp Down diminimalkan, namun respon putaran
motor tidak tegak lurus seperti terlihat pada gambar
di atas. Hal ini karena motor dijaga agar tidak
terjadi over current karena perubahan arah putar
yang mendadak. Meski demikian, respon arah putar
dari clockwise menuju counterclockwise maupun
sebaliknya cukup cepat, hal ini karena kecilnya
resistansi Ramp Up dan Ramp Down.
Ramp Up minimum – Ramp Down
maksimum
Ket. 1 = Nilai aktual sebelum Ramp Up 2 = Nilai aktual setelah Ramp Up 3 = Nilai aktual sebelum Ramp Down 4 = Nilai aktual setelah Ramp Down
Gambar 13 Respon Ramp Up minimum – Ramp Down maksimum
Pada variasi ke dua, resistansi Ramp Down
diperbesar hingga mendekati maksimum sehingga
respon putaran motor terlihat seperti gambar di
atas. Pada saat grafik naik, saat motor berubah arah
dari counterclockwise menuju clockwise terjadi
sangat cepat (grafik hampir tegak lurus) namun
ketika arah putar diubah menjadi counterclockwise
kembali, respon menjadi lebih lambat (grafik
miring) yang disebabkan karena resistansi Ramp
Down yang besar.
Ramp Up maksimum – Ramp Down
minimum
Ket. 1 = Nilai aktual sebelum Ramp Up 2 = Nilai aktual setelah Ramp Up 3 = Nilai aktual sebelum Ramp Down 4 = Nilai aktual setelah Ramp Down
Gambar 14 Respon Ramp Up minimum – Ramp Down minimum
Sebaliknya apabila Resistansi Ramp Up
diperbesar hingga mendekati maksimum, sedang
resistansi Ramp Down diminimalkan maka respon
putaran motor akan terlihat seperti Gambar diatas.
Ramp Up maksimum – Ramp Down
maksimum
Ket. 1 = Nilai aktual sebelum Ramp Up 2 = Nilai aktual setelah Ramp Up 3 = Nilai aktual sebelum Ramp Down 4 = Nilai aktual setelah Ramp Down
Gambar 15 Respon Ramp Up maksimum – Ramp Down maksimum
Pada variasi ini resistansi Ramp Up dan
Ramp
Down
diperbesar
hingga
mendekati
maksimum, maka respon perubahan arah putar
motor dc akan terlihat seperti Gambar diatas.
Apabila suatu sistem dibuat seperti respon
tersebut, maka setiap kali terjadi perubahan arah
putar motor, maka akan berlangsung lambat.
PI Controller
Respon
perubahan
putaran
motor
ditentukan pula oleh besarnya konstanta
P
Controller (Kp) dan besarnya I Controller (Tn).
Besarnya Kp dan Tn dapat divariasikan sehingga
menghasilkan respon putaran motort DC sebagai
berikut :
0 V -V t 0 V -V t 0 V -V t 0 V -V t
Kp Minimum – Tn Minimum
Gambar 16 Respon putaran dengan Kp Minimum – Tn Minimum
Dengan meminimalkan nilai konstanta Kp
dan Tn maka respon putaran motor akan tampak
seperti Gambar diatas. Grafik kecepatan aktual
dengan kecepatan referensi memiliki perbedaan
dimana pada grafik kecepatan aktual terjadi osilasi
akibat nilai Tn yang terlalu rendah. Selain itu
grafik kecepatan aktual memiliki respon yang
lebih lambat mencapai kecepatan referensi, hal ini
disebabkan karena konstanta Kp yang terlalu
rendah.
Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan
kerusakan pada motor DC apabila sering
dioperasikan dengan respon seperti gambar di atas.
Oleh karena itu untuk memperbaikinya perlu
adanya perubahan terhadap besarnya konstanta Kp
dan Tn.
Kp Minimum – Tn Maksimum
Gambar 17 Respon putaran dengan Kp Minimum – Tn Maksimum
Dengan meminimalkan nilai konstanta
Kp dan memaksimalkan nilai konstanta Tn
maka respon putaran motor akan tampak
seperti gambar diatas. Grafik kecepatan aktual
dengan
kecepatan
referensi
memiliki
perbedaan dimana pada grafik kecepatan
aktual memiliki respon yang lambat untuk
mencapai
kecepatan
referensi,
hal
ini
disebabkan karena nilai konstanta Kp yang
kecil, sedangkan osilasi yang terjadi hanya
sedikit karena nilai konstanta Tn yang besar.
Kp Maksimum – Tn Minimum
Gambar 18 Respon putaran dengan Kp Maksimum – Tn Minimum
Dengan memaksimalkan nilai konstanta Kp
dan meminimalkan nilai konstanta Tn maka
respon putaran motor akan tampak seperti Gambar
diatas. Grafik kecepatan aktual dengan kecepatan
referensi memiliki sedikit perbedaan dimana pada
grafik kecepatan aktual terjadi osilasi hal ini
disebabkan karena nilai konstanta Tn yang kecil,
selain itu tampak bahwa grafik kecepatan aktual
memiliki respon yang cepat untuk mencapai
kecepatan referensi, hal ini disebabkan karena
nilai konstanta Kp yang besar.
Kp Maksimum – Tn Maksimum
Gambar 19 Respon putaran dengan Kp Maksimum – Tn Maksimum