ANALISA VEGETASI TINGKAT PANCANG DAN TIANG
PADA HUTAN SEKUNDER
DI KAMPUS POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Oleh :
MARTINI NENENG MATARAU NIM. 080500044
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
S A M A R I N D A 2012
DI KAMPUS POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Oleh :
MARTINI NENENG MATARAU NIM. 080500044
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
S A M A R I N D A 2012
ANALISA VEGETASI TINGKAT PANCANG DAN TIANG
PADA HUTAN SEKUNDER
DI KAMPUS POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
Oleh :
MARTINI NENENG MATARAU NIM. 080500044
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
S A M A R I N D A 2012
Hutan Sekunder Di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Nama : Martini Neneng Matarau NIM : 080 500 044
Program Studi : Manajemen Hutan Jurusan : Manajemen Pertanian
Pembimbing Ir. Suparjo,MP NIP. 19621817 199803 1 003 Penguji I Ir. Hasanudin,MP NIP. 19630805 198903 1 005 Penguji II Rudi Djatmiko,S.Hut,MP NIP.190015 199512 1 001 Meyetujui
Ketua Program Studi ManajemenHutan
Ir. M. Fadjeri, MP
NIP. 19610812 198803 1 003
Mengesahkan
Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
Ir. Hasanudin, MP NIP.19630805 198903 1 005
MARTINI NENENG MATARAU . Analisa Vegetasi Tingkat Pancang dan Tiang Pada Hutan Sekunder Di Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (di bawah bimbingan Suparjo).
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh yang memuat sub plot untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan keragaman jenis vegetasi tingkat pancang dan tingkat tiang di hutan sekunder Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Pengamatan ini dilaksanakan di Hutan Sekunder Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Waktu penelitian selama 2 bulan di mulai dari tanggal 21 Mei 2012 – 21 Juli 2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode plot tunggal. Dimana ukuran plot penelitian tersebut adalah 40m x 40m (1600 m²). Didalam plot pengamatan terdapat sub plot pengamatan dengan ukuran 10m x 10m untuk pengamatan tingkat Tiang, dan dalam sub plot ukuran 10m x 10m terdapat sub plot dengan ukuran 5m x 5m untuk pengamatan tingkat pancang. Adapun dasar penentuan luas plot 40m x 40m tidak ditentukan berdasar kurva spesies area untuk menentukan luas minimum sampling, tapi merujuk pada hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Sihombing (1994) yang melakukan analisis vegetasi pada hutan sekunder bekas terbakar di Lempake menggunakan luas sampling 0,16 ha (40 x 40 m).
Dari hasil perhitungan Nilai Penting Jenis pada tingkat Pancang dan tiang dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Permudaan tingkat pancang dengan Nilai Penting Jenis (NPJ) terbesar di duduki oleh jenis Hevea braziliensis (NPJ = 88,54%), selanjutnya diikuti oleh jenis
Artocarpous, sp (NPJ = 68,29%), NPJ 79,83% untuk jenis Tabernae montana,sp,
yang terakhir di duduki oleh jenis Maranthes corymbosa BI (NPJ = 63,32%).
2. Permudaan tingkat tiang dengan Nilai Penting Jenis terbesar adalah jenis Hevea
braziliensis (NPJ = 121,75%), sedangkan pada urutan kedua di duduki oleh jenis Artocarpus,sp (82,67%).
Martini Neneng Matarau. Lahir pada tanggal 18 April 1989 di Desa Baopukang, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Petrus Sugi Matarau dan Ibu Magdalena Halina.
Pendidikan SD dimulai dari Sekolah Dasar Negeri 062 Nunukan pada tahun 1997 lulus pada tahun 2003. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Nunukan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan Nunukan dan memperoleh ijasah pada tahun 2008.
Pendidikan tinggi pada tahun 2008 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Program Studi Manajemen Hutan, Jurusan Manajemen Pertanian. Tanggal 7 Maret 2012 sampai dengan 7 Mei 2012 mengikuti Praktek Kerja Lapang di PT. Wana Adiprima Mandiri Kabupaten Malinau.
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini tepat pada waktu yang telah ditetapkan.
Penyelesaian Karya Ilmiah ini banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Keluarga yang telah memberikan dukungan dan doa kepada Penulis
2. Ir. Suparjo, MP selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah yang mengarahkan penulis mulai dari persiapan sampai penyusunan karya ilmiah.
3. Bapak Ir. Hasanudin,MP selaku dosen penguji I dan Bapak Rudy Djatmiko.S.Hut.Mp selaku dosen penguji II, yang telah banyak memberikan masukan dan pengarahan guna menyelesaikan Karya Ilmiah ini.
4. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian. 5. Bapak Ir.M. Fadjeri, MP selaku Ketua Program Studi Manajemen Hutan.
6. Rekan – rekan mahasiswa yang telah banyak membantu dalam menyelelesaikan karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan sehingga Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan Karya Ilmiah ini, harapan Penulis Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Penulis Kampus Sei Keledang Juni 2012
KATA PENGANTAR ...
V
DAFTAR ISI ...
VI
DAFTAR TABEL ... VII
DAFTAR GAMBAR ... VIII
DAFTAR LAMPIRAN ... IX
ABSTRAK
... X
I. PENDAHULUAN ... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA ...
3
A. Pengertian Hutan ... 3
B. Uraian Umum Tentang Hutan Sekunder ... 4
C. Permudaan Tingkat Tiang dan Pancang ... 7
D. Metode Pengambilan Contoh ... 8
E. Analisa Vegetasi ... 9
III. METODE PENELITIAN ... 10
A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 10
B. Alat dan Bahan Penelitian ... 10
C. Prosedur Kerja ... 11
D. Pengolahan Data ... 14
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16
A. Hasil ... 16
B. Pembahasan ... 17
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 19
A. Kesimpulan ... 19
B. Saran ... 19
DAFTAR PUSTAKA ... 20
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh Utama Halaman
1 Tally Sheey Pengamatan ... 18 2 Hasil Perhitungan Nilai Penting Jenis (NPJ)
Permudaan Tingkat Pancang, yang disusun
berdasarkan 6 jenis yang Mendominasi ... 21 3 Hasil Perhitungan Nilai Penting Jenis (NPJ)
Permudaan Tingkat Tiang, yang disusun
berdasarkan 4 jenis yang Mendominasi ... 21
Lampiran
1 Gambar Tata letak plot dan sub plot pengamatan ... 28 2 Tabel Distribusi Tingkat Pancang ... 29 3 Tabel Distribusi Tingkat Tiang ... 29 4 Data Hasil Perhitungan Vegetasi tingkat pancang
di Lapangan ... 30 5 Data Hasil Perhitungan Vegetasi tingkat Tiang
di Lapangan ... 32 6 Tabel Data Perhitungan LBD Tingkat Pancang ... 34 7 Tabel Data Perhitungan LBD Tingkat Tiang ... 36
Nomor Lampiran Halaman 1 Gambar 2. Contoh Pengukuran Diameter Vegetasi
Tingkat Pancang Dan Tiang ... 38 2 Gambar 3. Contoh Pengukuran Diameter Vegetasi
Tingkat Tiang... 38 3 Gambar 4. Contoh Pengukuran Diameter Vegetasi
Tingkat Tiang ... 38 4 Gambar 5. Contoh Pengukuran Diameter Vegetasi
PENDAHULUAN
Hutan sebagai sumber daya perlu dipertahankan, dibina dan dikelola agar diperoleh keseimbangan alam dan keserasian lingkungan hidup. Selain itu, pengelolaan sumber daya hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar mukin bagi kemakmuran bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut maka upaya pengelolaan hutan perlu ditingkatkan.
Hutan tersusun oleh berbagai komponen makhluk hidup antara lain, tumbuhan, hewan dan termasuk di dalamnya manusia. Dalam dunia ilmu pengetahuna tumbuhan termasuk ke dalam kelompok vegetasi. Vegetasi penyusun ekosistem hutan berbeda-beda tegantung letaknya secara geografi. Sebagai contoh vegetasi penyusun hutan di daerah tropis akan berbeda dengan vegetasi penyusun hutan di daerah empat musim. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa vegetasi penyusun hutan sangat dipengaruhi oleh tipe hutan yang bersangkutan.
Selain itu jenis vegetasi penyusun tegakan hutan mengalami fase-fase pertumbuhan, diantaranya fase semai, fase pancang, fase tiang dan fase pohon. Di hutan alam ada kecenderungan bahwa pase semai cenderung melimpah keberadaannya jika dibandingkan fase pancang, tiang dan pohon. Demikian pula fase pancang cenderung lebih melimpah jika dibandingkan dengan fase tiang dan pohon. Demikian seterusnya sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah individu per satuan luas cenderung mengalami penurunan seiring dengan meningkatkan umur vegetasi, karea terdapat individu yang mengalami kematian selama masa proses pertumbuhan dari semai menuju dewasa (pohon).
Untuk mengetahui komposisi jumlah dan jenis vegetasi pada suatu tempat diperlukan adanya kegiatan inventarisasi. Kegiatan inventarisasi memiliki tujuan yang berbeda-beda diantaranya untuk pengetahui potensi tegakan, untuk mengetahui biomassa dan untuk mengetahui komposisi jenis pada setian fase pertumbhuan tegakan atau sering disebut dengan Analisa Vegetasi.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh yangmemuat sub plot untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Dari keterangan tersebut penulis melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui komposisi dan keragaman jenis vegetasi tingkat pancang dan tingkat tiang di hutan sekunder Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Sedangkan hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi mengenai komposis dan keragaman jenis yang terdapat di Hutan Sekunder Politeknikp Pertanian Negeri Samarinda.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hutan
Menurut Undang-Undang RI No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan bahwa Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Hutan merupakan suatu ekosistem yang dibentuk atau tersusun oleh berbagai komponen yang tidak bisa berdiri sendiri, tidak dapat dipisah-pisahkan, bahkan saling mempengaruhi dan saling bergantung. Pendapat lain mendefinisikan Hutan sebagai lapangan yang ditumbuhi pepohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem (Kadri dkk., 1992).
Soerianegara dan Indrawan (1982) mengemukakan Hutan adalah
masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan. Sedangkan Arief (1994) menulis bahwa Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan dinamis. Walaupun berbagai pendapat dikemukakan namun semuanya itu mengadung pengertian yang sama.
B. Uraian Umum Tentang Hutan Sekunder
Luas hutan sekunder di Indonesia di perkirakan 23 juta hektar, sedangkan di Kalimantan Timur, luas hutan sekunder kurang lebih 2.369.653 hektar dengan perincian sebagai berikut: 1. 316. 305 hektar di luar kawasan hutan tetap, sedangkan 1. 053. 348 hektar lagi berada dalam.
(Abdullah, 1950 dalam Fadjeri, 1992).
Umur vegetasi hutan sekunder biasanya pendek, seringkali pada umur 18 tahun dan hanya sedikit sekali yang bisa hidup sampai 30 tahun atau lebih. Jenis-jenis vegetasi hutan sekunder umumnya sangat membutuhkan cahaya dengan intensitas cahaya paling tidak 75% dalam satu hari penuh. Anakan takkan hidup di bawah naungan, pertumbuhan cepat pertambahan tinggi bisa mencapai empat meter/tahun dan pertambahan diameter mencapai 2-4 cm/tahun (Abdullah 1980 dalam
Anonim 1992). Dan persentasi kematian dalam hutan sekunder lebih
besar dibandingkan kematian di hutan primer (whitemore 1975).
Lamprech 1982, yang dikutip Firdaus 1985 memberi gambaran
mengenai sifat kehidupan jenis-jenis pada hutan sekunder sebagai berikut: 1. Umumnya menghasilkan jumlah biji sangat banyak dengan ukuran kecil. 2. Anakan tidak tahan terhadap naungan.
3. Selama hidup tetap memerlujan cahaya yang cukup. 4. Pertumbuhan cepat dan berumur pendek.
5. Umumnya struktur dan komposisi sederhana kurang didapat tajuk yang berukuran besar.
Sesudah pengembangan di hutan tropis terbentuk hutan sekunder. Walaupun demikian ekosistem ini dijumpai juga di daerah-daerah hutan
5
musim, di dataran rendah dan perbukitan. Disamping itu hutan sekunder dapat juga terbentuk dari perkembangan hutan-hutan muda bekas ladang berpindah. (Wirakusumah, 1980).
Richard (1964), mengemukakan bahwa tipe bahwa tipe vegetasi
hutan sekunder akibat, perladangan atau tebang habis akan berbeda dengan tipe hutan vegetasi, hutan sekunder akibat penebangan dengan sistem tebang pilih. Tipe ini menurut Whitemore (1975) disebutkan tegakan sisa penebangan (“Depleted Forest”) yang komposisinya adalah jenis-jenis sekunder atau jenis-jenis primer dalam bentuk kelompok-kelompok.
Tidak benar bahwa hutan sekunder tidak alami lagi, yang benar istilahnya adalah “Hutan Alam Sekunder” untuk membedakannya dari hutan alam primer Sifat-sifat hutan sekunder :
1. Komposisi dan struktur tidak saja tergantung tapak namun juga tergantung pada umur.
2. Tegakan muda berkomposisi dan struktur lebih seragam dibandingkan hutan aslinya.
3. Tidak berisi jenis niagawi. Jenis-jenis yang lunak dan ringan, tidak awet, kurus, tidak laku.
4. Persaingan ruangan dan sinar yang intensif sering membuat batang bengkok. Jenis-jenis cepat gerowong.
5. Riap awal besar, lambat laun mengecil.
6. Karena struktur, komposisi dan riapnya tidak akan pernah stabil, sulit merencanakan pemasaran hasilnya.
Definisi-definisi yang diberikan mengenai ”Hutan Sekunder” dilihat dari ciri dan berbagai faktor pembentukannya adalah sebagai berikut : 1. Brown & Lugo (1990)
Hutan-hutan sekunder “terbentuk sebagai suatu konsekensi dari dampak manusia terhadap kawasan-kawasan hutan” Hutan-hutan yang terbentuk sebagai suatu konsekensi dari pengaruh manusia, biasanya setelah adanya kegiatan pertanian di areal-areal hutan yang ditebang-habis, tidak termasuk disini. Dalam konteks ini, hutan-hutan sekunder merupakan suatu komponen penting dari perladangan berpindah.
2. Catterson (1994)
Suatu bentuk hutan dalam proses suksesi yang mengkolonisasi areal-areal yang sebelumnya rusak akibat sebab-sebab alami atau manusia, dan yang suksesinya tidak dipengaruhi oleh vegetasi asli disekitarnya karena luasnya areal yang rusak. Bentuk-bentuk formasi vegetasi berikut ini dapat terbentuk: lahan kosong / padang-padang rumput buatan / areal areal bekas-tebangan baru / areal-areal bekas tebangan yang lebih tua.
3. Corlett (1994)
Ciri-ciri utama dari hutan-hutan sekunder adalah terjadinya interupsi dari penutupan hutan yang kontinyu, ketergantungan dari luar dalam pembentukan hutan kembali, dan kenyataan bahwa ciri-ciri ini dapat dikenali pada struktur dan/atau komposisi vegetasi hutan. Pendefinisian hutan-hutan sekunder seperti biasanya adalah suatu
7
C. Permudaan Tingkat Tiang Dan Pancang
Permudaan alam adalah suatu proses silvikultur yang segala sesuatunya diatur oleh alam itu sendiri. Namun tidak semua perubahan alam dari jenis alam dapat berhasil atau tumbuh dengan baik. Hal ini karena banyaknya kerusakan dan gangguan dari faktor alam lainnya yang berada di sekitanya. Diantaranya faktor linhkungan fisiologi, edafis, klimatis, fisiografis, dan biotis (Djiun, 1953 dalam Haidir, 1998).
Terjadinya perubahan lingkungan hutan akan mengakibatkan kerusakan yang langsung terhadap masyarakat hutan sekunder, baik yang terjadi lambat maupun terjadi secara cepat. Komunitas masyarakat hutan sekunder terjadi perubahan dari hutan primer karena terbukanya tajuk yang relatif besar pada celah antara tajuk, sehingga dengan cepat kesempatan ini di tumbuhi oleh tumbuhan jenis pioneer (Bratawinata, 1982 dalam Haidir,
1998).
Permudaan adalah proses timbulnya atau tumbuhnya generasi baru di hutan alam, semua aktivitas sepenuhnya ketergantungan pada alam, tidak dengan bantuan manusia untuk kehadiran permudaan di hutan alam
(Bratawinata 1987). Menurut Indriyanto 2005) yang dimaksud dengan
permudaan tingkat permudaan tingkat tiang adalah pohon yang berdiameter 20 cm sampai dengan 20 cm. Sedangkan tingkat pancang adalah permudaan dengan tinggi 1,5 meter sampai berdiameter batang kurang dari 10 cm.
D. Metode Pengambilan Contoh
Pengambilan contoh dalam analisis komunitas tumbuhan dapat dilakuakan dalam metode plot (petak), metode jalur, ataupun metode kuadran (Indriyanto, 2006).
1. Metode Petak
Metode Petak merupakan produk yang paling umum digunakan untuk pengambilan contoh berbagai tipe organisme termasuk komunitas tumbuhan. Petak yang digunakan dapat berbentuk segi empat, persegi, atau lingkaran. Disamping itu, untuk kepentingan analisis komunitas tumbuhan dapat digunakan petak tunggal atau petak ganda.
a. Petak tunggal
Di dalam metode petak tunggal, hanya dibuat satu petak contoh dengan ukuran tertentu yang mewakili suatu tegakan hutan atau suatu komunitas tumbuhan. Luas minimum petak contoh itu ditetapkan dengan dasar bahwa penambahan luas petak tidak menyebabkan kkenaikan jumlah spesies lebih dari 5% ( Indriyanto, 2006 )
b. Petak ganda
Pengambilan contoh vegetasi pada metode petak ganda dilakukan dengan menggunakan banyak petak contoh yang letaknya tersebar merata pada areal yang dipelajari, dan peletakkan petak contoh sebaiknya secara sistematik. Ukuran setiap petak contoh disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan bentuk tumbuhannya. Menurut Kusmana ( 1997 ), ukuran petak contoh untuk pohon dewasa adalah 20 m x 20 m, fase tiang adalah 10 m x 10 m, fase pancang adalah 5m x 5 m, dan untuk fase
9
semai serta tumbuhan bawah menggunakan petak contoh berukuran 1 m x 1 m, atau 2 m x 2 m (Indriyanto, 2006).
Gambar 1. Secara Acak Gambar 2. Secara Sistematis 2. Metode Jalur
Metode jalur merupakan metode yang paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut kondisi tanah, topografi dan elevasi. Jalur-jalur contoh dibuat memotong garis kontur ( garis tinggi/garis topografi ) dan sejajar satu deengan yang lainnya. Pendekatan, cara itu untuk aplikasi dilapangan misalnya jalur-jalur contoh dibuat tegak lurus garis pantai, memotong sungai, atau naik/turun lereng gunung. Jumlah jalur contoh disesuaikan dengan intensitas samplingnya. Jalur contoh yang berukuran lebar 20 m dapat dibuat dengan intensitas sampling 2%-10% ( Soerianegara dan Indrawan, 1982 dalam Indriyanto, 2006). Berikut adalah gambar bentuk dan ukuran petak pengamatan serta peletakkannya pada setiap garis rintis.
B
C
A Arah rintis
Gambar 3. Desain Petak Contoh Di Lapangan Dengan Metode Jalur ( Indriyanto, 2006 )
Keterangan :
Jalur A : lebar 20 m dengan petak-petak berukuran 20m x 20m untuk pengamatan pohon.
Jalur B : lebar 10 m dengan petak-petakberukuran 10m x 10m untuk pengamatan poles dan sampling.
Jalur C : lebar 2 m dengan petak-petak berukuran 2m x 2m atau 2m x 5m untuk pengamatan seedling dan tumbuhan bawah. Pada metode jalur semua parameter kuantitatif dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus seperti yang telah diuraikan.
3. Metode Garis Berpetak
Metode ini dianggap sebagai modifikasi dari metode petak ganda atau metode jalur, yaitu dengan cara melompati satu atau lebih petak dalam jalur, sehingga sepanjang garis rintis terdapat petak-petak pada jarak tertentu yang sama.
11
Berikut adalah gambar bentuk dan ukuran ukuran petak pengamatan serta peletakannya pada setiap garis rintis.
arah rintis
Gambar 4. Desain Petak Contoh Di Lapangan Dengan Metode Garis Berpetak ( Indriyanto, 2006 ).
Keterangan :
Petak A : petak berukuran 20m x 20m untuk pengamatan pohon Petak B : petak berukuran 10m x 10m untuk pengamatan tingkat poles Petak C : petak berukuran 5m x 5m pengamatan sampling
Petak D : petak berukuran 2m x 2m untuk pengamatan seedling dan tumbuhan bawah
4. Metode Kombinasi
Metode kombinasi yang dimaksudkan adalah kombinasi antara metode jalur dan garis berpetak. Di dalam metode tersebut, risalah pohon dilakukan dengan metode jalur, yaitu pada jalur-jalur yang lebarnya 20m, sedangkan untuk fase pemudaan ( fase poles, sapling, dan seedling ), serta tumbuhan bawah digunakan metode garis berpetak. Berikut adalah gambar bentuk dan ukuran petak pengamatan serta peletakkan pada setiap garis rintis.
A
B C
A
D
Arah Rintis
Gambar 5. Desain Petak Contoh Di Lapangan Dengan Metode Kombinasi ( Indriyanto, 2006 )
Keterangan :
Petak A : Petak berukuran 20m x 20m untuk pengamatan pohon. Petak B : Petak berukuran 10m x 10m untuk pengamatan poles. Petak C : Petak berukuran 5m x 5m untuk pengamatan sapling. Petak D : Petak berukuran 2m x 2m untuk pengamatan seedling dan
tumbuhan bawah. 5. Metode Kuadran
Metode Kuadran umumnya dipergunakan untuk pengambilan contoh vegetasi tumbuhan jika hanya vegetasi fase pohon yang menjadi objek kajiannya. Metode itu mudah dikerjakan, dan lebih cepat jika akan dipergunakan untuk mengetahui komposisi jenis, tingkat dominansi, dan menaksir volume pohon. Syarat penerapan metode kuadran adalah distribusi pohon yang akan diteliti harus acak. Metode ini kurang tepat dipergunakan bila populsi pohon berdistribusi mengelompok ataupun seragam (Sugianto, 1994 dalam Indriyanto, 2006 ).
Metode kuadran atau metode titik pusat kuadran merupakan metode sampling tanpa petak contoh yang dapat dilakukan secara efisien karena dalam pelaksanaannya dilapangan tidak memerlukan waktu lama dan mudah di kerjakan ( Kusmana 1997 dalam Indriyanto, 2006 ).
B C D
13
Didalam metode kuadran, pada setiap titik pengukuran dibuat garis absis dan ordinat khayalan, sehingga pada setiap titik pengukuran terdapat empat buah kuadran. Pilih satu pohon disetiap kuadran yang letakknya paling dekat dengan titik pengukuran dan ukur jarak dari masing-masing pohon ke titik pengukuran. Perlu diperhatikan bahwa pengukuran dimensi pohon hanya dilakukan terhadap keempat pohon yang terpilih pada tiap-tiap kuadran.
d1 d4 d5 d8 arah rintis d2 d3 d6 d7
Gambar 6. Desain Titik Pengukuran Dan Letak Pohon Yang Diukur Dengan Metode Kuadran ( Indriyanto, 2006 ).
E. Analisa Vegetasi
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan ( komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut.
Pertak tunggal merupakan salah satu cara yang umum digunakan dalam analisa vegetasi. Dalam cara ini hanya di pelajari satu petak contoh yang mewakili tegakan. Ukuran minimum dari suatu petak tunggal tergantung dari kerapatan tegakan dan jumlah jenis yang ada. Makin jarang tegakannya atau makin banyak jenisnya, makin besar ukuran petak tunggal yang digunakan ( Oosting 1958, Soerianegara dan Indrawan 1876 dalam
15
BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Waktu penelitian selama 2 bulan dimulai dari tanggal 21 Mei 2012 – 21 Juli 2012 , meliputi orientasi lapangan, penulisan proposal, persiapan alat dan bahan, pengamatan dan pengambilan data, pengolahan data dan penyusunan laporan penelitian.
B. Alat dan Bahan Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut: a) Alat tulis menulis
b) Kalkulator untuk menghitung dalam pengolahan data c) Kamera untuk dokumentasi
d) Parang
e) Meteran dengan ukuran 50m f) Buku tally sheet
g) Phiband
Bahan yang digunakan dalam pengamatan ini adalah vegetasi permudaan alam tingkat Pancang dan Tiang.
C. Prosedur Kerja
Prodesur pengamatan ini meliputi tahap-tahap sebagai berikut: 1. Studi Pustaka
Pelaksanaan pengamatan diawali dengan studi pustaka yang bertujuan untuk mendapatkan sumber-sumber dan data penunjang pengamatan.
2. Orentasi Lapangan
Orientasi lapangan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui secara langsung letak dan kondisi areal hutan yang akan diamati/diteliti dengan pertimbangan antara lain:
a) Menempatkan plot sedapat mungkin pada areal yang dianggap baik/cocok yang bias menggambarkan kondisi hutan setempat. b) Karena titik berat penelitian ini berhubungan dengan keragaman
jenis, maka diusahakan menempatkan plot terletak pada areal yang dianggap kaya akan jenis.
3. Pembuatan Plot Pengamatan
Pembuatan plot pengamatan dimulai dengan membuat batas plot tunggal seluas 40m x 40m pada areal yang sudah dipilih dalam orientasi lapangan. Plot tersebut dibagi dalam 16 sub plot dengan ukuran 10 x 10m untuk pengamatan tingkat tiang. Dalam sub plot ukuran 10 x10m dibuat sub plot dengan ukuran 5 x5m untuk pengamatan tingkat sapih (pancang). Adapun dasar penentuan luas plot 40m x 40m tidak ditentukan berdasar kurva spesies area untuk menentukan luas minimum sampling, tapi merujuk pada hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Sihombing (1994) yang
17
melakukan analisis vegetasi pada hutan sekunder bekas terbakar di Lempake menggunakan luas sampling 0,16 ha (40 x 40 m).
4. Pengambilan data
Data yang diambil dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut: a) Tingkat Pancang/sapih 1. Jenis 2. Jumlah individu 3. Kehadiran (Frekuensi) 4. Diameter b) Tingkat Tiang 1. Jenis 2. Jumlah individu 3. Kehadiran 4. Diameter batang 5. Identifikasi Jenis
Untuk identifikasi jenis bagi jenis yang sudah diketahui maka akan langsung dilakukan pencatatan jenis pada lokasi pengamatan. Sedangkan untuk jenis yang belum diketahui di lapangan maka di ambil sebagai sempel herbarium dan di bawa ke Laboratorium Dendrologi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda untuk diamati atau diidentifikasi.
6. Pengamatan
Melakukan pengamatan pada plot yang telah dibagi dalam 16 sub plot. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan tally sheet sebagai berikut:
Tabel 1. Tally sheet pengamatan tingkat Pancang dan Tiang Nomor
Jenis/Spesies Diameter( Ø)
Sub Plot Individu
5. Pengambilan Gambar
Melakukan pengambilan gambar terhadap kondisi obyek pengamatan
D. Pengolahan Data
Data hasil pengukuran di lapangan diolah sedemikian rupa sehingga diketahui informasi mengenai jumlah individu, kehadiran (frekuensi), bidang dasar dan Nilai penting jenis. Berikut dicantumkan rumus-rumus untuk mengetahui beberapa parameter yang berhubungan dengan pengolahan data.
1. Luas bidang dasar
Luas bidang dasar adalah besarnya luas penampang batang pohon. Luas bidang dasar per pohon dirumuskan sebagai berikut: LBD = ¼. !. "²
19
Dimana:
D = diameter batang
!
= Konstanta (3,1415)2. Permudaan tingkat pancang dan tiang.
Dari data hasil pengukuran vegetasi permudaan tingkat sapihan yang meliputi jenis, jumlah individu, kehadiran dan diameter diolah dengan menggunakan pola perhitungan NPJ.
Nilai penting jenis (NPJ) yang didapat dengan menggunakan rumus seperti dikemukakan oleh Curtis dan Cottam (1964) sebagai berikut:
NPJ% = FR % + KR% + DR% Dimana FR (%) = J$%&'( )*+,$+-./ 0'*/ .'1$ 2+-/. J$%&'( )*+,$+-./ .+&$*$( 2+-/. x 100% KR (%) = J$%&'( /-0/3/0$ .$'1$ 2+-/. J$%&'( /-0/3/0$ .+&$*$( 2+-/. x 100% DR (%) = J$%&'( 4/0'-5 0'.'* .$'1$ 2+-/. J$%&'( 4/0'-5 0'.'* .+&$*$( 2+-/. x 100% Keterangan:
NPJ = Nilai Penting Jenis KR = Kerapatan Relatif FR = Frekuensi Relatif DR = Dominasi Relatif
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
Dari data hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan, maka data-data tersebut dihitung dan diolah sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dimana data-data ini memberikan informasi mengenai Frekuensi Tiap Jenis, kehadiran tiap jenis pada sub plot pengamatan, Basal Areal, Frekuensi Relatif, Kerapatan Relatif, Dominansi Relatif dan Nilai Penting Jenis (NPJ). Data-data yang diambil dilapangan disajikan dalam tabel-tabel berikut: 1. Hasil Pengamatan Permudaan Tingkat Sapihan
Tabel.2 Nilai Penting Jenis (NPJ) Permudaan Tingkat Pancang.
No Jenis F N BA FR KR DR NPJ M² % % % 1 Artocarpus, sp 9 16 0.0362 25.71 30.18 28.39 84.29 2 Aquilaria malaccensis 2 2 0.0049 5.71 3.77 3.84 13.33 3 Hevea braziliensis 12 21 0.0496 34.28 39.62 38.90 112.81 4 Marantes corymbosa BI 6 5 0.0052 17.14 9.43 4.07 30.65 5 Milletia spendidissima Blume 3 5 0.0132 8.57 9.43 10.35 28.35
6 Jenis C 3 4 0.0184 8.57 7.54 14.43 30.54
35 53 0.1275
Sedangkan untuk pengamatan tingkat Tiang memiliki hasil sebagai berikut: Tabel.3 Nilai Penting Jenis (NPJ) Permudaan Tingkat Tiang.
No Jenis F N BA FR KR DR NPJ M² % % % 1 Artocarpus,sp 9 14 0.3002 25 21.87 21.41 68.29 2 Hevea braziliensis 11 21 0.3529 30.55 32.81 25.17 88.54 3 Maranthes corymbosa BI 8 15 0.2476 22.22 23.43 17.66 63.32 4 Tabernae montana,sp 8 14 0.5009 22.22 21.87 35.73 79.83 36 64 1.4016
21
B. Pembahasan
1. Distribusi jenis tumbuhan permudaan tingkat pancang
Distribusi tingkat pancang memperlihatkan bahwa jumlah individu dan kehadiran terkonsentrasi pada jenis Hevea braziliensis yaitu 21 individu dan 12 frekuensi, sedangkan urutan kedua terkonsentrasi pada jenis Artocarpus,sp 16 individu dan Frekuensi 9. Sedangkan untuk jenis-jenis yang lain memiliki kehadiran dan Frekuensi dalam jumlah kecil. Terkonsentrasinya jumlah individu dan kehadiran tersebut dimungkinkan oleh tinggi daya hidup serta habitat yang cocok bagi pertumbuhan jeni-jenis tersebut pada areal penelitian, dimana faktor lingkungan tidak membatasi kelangsungan hidupnya (Djatmiko 1994).
2. Distribusi jenis tumbuhan permudaan tingkat tiang
Distribusi tingkat tiang yang disajikan dalam Tabel 3 memperlihatkan bahwa jumlah individu yang mendominasi atau kehadiran terkonsentrasi pada jenis Hevea braziliensis yaitu 21 individu dan hadir di 11 plot. Pada tingkat konsentrasi kedua didominasi oleh jenis Artocarpus,sp dengan 14 individu dan 9 kehadiran. Sedangkan untuk urutan selanjutnya didominasi oleh jenis Maranthes corymbosa BI dan Tabernae montana,sp masing-masing 8 individu serta 14 dan 15 untuk masing-masing kehadiran pada sub plot pengamatan.
Pada sub plot pengamatan yang telah dibuat dan di teliti terdapat juga jenis-jenis tanaman lain yang tumbuh. Dimana jenis tanaman ini memberikan warna pada lantai hutan sekunder. Jenis-jenis yang tidak diteliti ini juga akan mendominasi keberadaannya pada lantai hutan. Namun membutuhkan waktu tumbuh yang lama karna kondisi hutan
sekunder yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuh-tumbuhan sehingga dalam hal memperoleh unsur hara, sinar matahari akan sangat sulit.
23
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil perhitungan Nilai Penting Jenis pada tingkat Pancang dan tiang distribusi vegetasi masing-masing fase pertumbuhan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Permudaan tingkat pancang dengan Nilai Penting Jenis (NPJ) terbesar di duduki oleh jenis Hevea braziliensis (NPJ = 88,54%), selanjutnya diikuti oleh jenis Artocarpous, sp (NPJ = 68,29%), NPJ 79,83% untuk jenis Tabernae montana,sp, yang terakhir di duduki oleh jenis Maranthes corymbosa BI (NPJ = 63,32%).
2. Permudaan tingkat tiang dengan Nilai Penting Jenis terbesar adalah jenis Hevea braziliensis (NPJ = 121,75%), sedangkan pada urutan kedua di duduki oleh jenis Artocarpus,sp (82,67%).
B. Saran
1. Perlu dilakukan penelitian serupa khususnya pada tingkat semai dan pohon. Hal ini untuk mengetahui penyebaran semai terbanyak dan dapat memperoleh informasi pohon yang dapat dijadikan pohon induk pada lahan Hutan Sekunder Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. 2. Perlunya penanganan khusus untuk Lokasi Hutan Sekunder pada
Lahan Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda untuk kepentingan Penelitian, Praktek Perkuliahan dan sebagai Lahan Percontohan Hutan Sekunder.
DAFTAR PUSTAKA
Ande, M. 2009. Bagaimana Mempelajari Analisa Vegetasi. Diunduh pada Tanggal 2 juli 2012.
Andre. 2009. http://boymarpaung.wordpress.com. Diunduh pada Tanggal 3 Juli 2012.
Dedy. 2010. http://dydear.multiply.com/journal/item/15/Analisa_Vegetasi
Diunduh pada Tanggal 3 juli 2012.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Penerbit Bumi Angsara. Jakarta.
Michael, M. 1992. Ekologi Umum. Jakarta: Universitas Indonesia. Diunduh
pada Tanggal 3 juli 2012.
Simanung. 2009. http://bpkaeknauli.org/index.php?option. Diunduh pada
Tanggal 3 juli 2012.
Swanarno, H. 1996. Pengantar Ilmu Lingkungan. Malang:
Universitas Muhammadyah. Diunduh pada Tanggal 3 juli 2012.
Wahyu, I. 2009. http://biologi08share.blogspot.com/2009_04_01. Diunduh pada Tanggal 3 juli 2012.
28
Lampiran 1.
Gambar 1. Tata Letak Plot dan Sub Plot Pengamatan
10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m 10x10m Keterangan: Luas plot 40m x 40m (1600 m2)
Petak 5m x 5m untuk pengamatan (pengukuran) vegetasi tingkat pancang Petak 10m x 10m untuk pengamatan (pengukuran) tingkat tiang
5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m 5x5 m
Lampiran 2. Distribusi Tingkat Pancang dan Tiang Tabel 2. Distribusi Tingkat Pancang
No Jenis F N BA FR KR DR NPJ M² % % % 1 Artocarpus, sp 9 16 0.0362 25.71 30.18 28.39 84.29 2 Aquilaria malaccensis 2 2 0.0049 5.71 3.77 3.84 13.33 3 Hevea braziliensis 12 21 0.0496 34.28 39.62 38.90 112.81 4 Marantes corymbosa BI 6 5 0.0052 17.14 9.43 4.07 30.65
5 Milletia spendidissima Blume 3 5 0.0132 8.571 9.43 10.35 28.35
6 Jenis C 3 4 0.0184 8.57 7.54 14.43 30.54
35 53 0.1275
Tabel 3. Distribusi Tingkat Tiang
No Jenis F N BA FR KR DR NPJ M² % % % 1 Artocarpus,sp 9 13 0.2789 25.71 20.63 23.63 69.98 2 Hevea braziliensis 10 21 0.3685 28.57 33.33 31.23 93.13 3 Maranthes corymbosa BI 8 15 0.2698 22.85 23.80 22.86 69.53 4 Tabernae montana,sp 8 14 0.2627 22.85 22.22 22.26 67.34 35 63 1.1799
30
Lampiran 4. Pengukuran Tingkat Pancang
Tabel 4. Data Pengukuran Vegetasi Tingkat Pancang. No Jenis Diameter Sub Plot Individu Ø I 1 Hevea braziliensis 6.6 2 Hevea braziliensis 6.6 3 Marantes corymbosa BI 5.7 4 Marantes corymbosa BI 3.8 5 Milletia spendidissima blume 7
II 1 Artocarpus,sp 4.4 2 Hevea braziliensis 3.1 3 Hevea braziliensis 6 4 Marantes corymbosa BI 4.1 III 1 Hevea braziliensis 7.6 2 Hevea braziliensis 3.9 3 Hevea braziliensis 7.3 4 Jenis C 6 IV 1 Aquilaria malaccensis 5.8 2 Artocarpus,sp 4.9 V 1 Hevea braziliensis 5.4 2 Hevea braziliensis 3.9 VI 1 Hevea braziliensis 4.7 2 Marantes corymbosa BI 4.6 3 Marantes corymbosa BI 4.6 VII 1 Artocarpus,sp 4.7 2 Artocarpus,sp 4.6 3 Artocarpus,sp 3.1 4 Hevea braziliensis 5.3 5 Milletia spendidissima blume 5.8
VIII
1 Artocarpus,sp 7
2 Jenis C 9.2
3 Milletia spendidissima blume 4.7 4 Milletia spendidissima blume 5.7
IX 1 Artocarpus,sp 3.5 2 Artocarpus,sp 3.1 3 Artocarpus,sp 3.5 4 Hevea braziliensis 4.1 X 1 Artocarpus,sp 3.5 2 Hevea braziliensis 5 3 Hevea braziliensis 4.4
Tabel 4. Lanjutan XI 1 Hevea braziliensis 4.4 2 Hevea braziliensis 5.2 3 Hevea braziliensis 3.5 4 Marantes corymbosa BI 3.8 XII 1 Hevea braziliensis 4.1 2 Milletia spendidissima blume 3.1 3 Milletia spendidissima blume 3.5
XIII 1 Aquilaria malaccensis 5.4 2 Artocarpus,sp 4.4 3 Hevea braziliensis 3.8 4 Hevea braziliensis 3.6 XIV 1 Artocarpus,sp 8.2 2 Artocarpus,sp 6.8
3 Milletia spendidissima blume 5 4 Milletia spendidissima blume 5.8 XV 1 Artocarpus,sp 6.3 2 Artocarpus,sp 5.4 3 Artocarpus,sp 9 XVI 1 Hevea braziliensis 4.4 2 Jenis C 7 3 Jenis C 8.1
32
Lampiran 5. Pengukuran Tingkat Tiang
Tabel 5. Data Hasil Pengukuran Vegetasi Tingkat Tiang. No Jenis Diameter Sub Plot Individu Ø I 1 Tabernae montana,sp 18.1 2 Tabernae montana,sp 14.6 3 Tabernae montana,sp 14.3 4 Hevea braziliensis 18.4 5 Hevea braziliensis 18.1 6 Artocarpus,sp 18.7 II 1 Artocarpus,sp 15.9 2 Maranthes corymbosa BI 14.3 3 Hevea braziliensis 14.9 4 Hevea braziliensis 15.7 III 1 Hevea braziliensis 13
2 Artocarpus,sp 16.2 IV 1 Hevea braziliensis 14.3 2 Maranthes corymbosa BI 14.9 V 1 Tabernae montana,sp 19 2 Maranthes corymbosa BI 15.5 3 Hevea braziliensis 14.3 4 Hevea braziliensis 14.9 5 Hevea braziliensis 14.9 VI 1 Hevea braziliensis 12.7 2 Hevea braziliensis 11.3 3 Maranthes corymbosa BI 12.7 4 Hevea braziliensis 14.3 5 Hevea braziliensis 15.9 6 Maranthes corymbosa BI 15.5 VII 1 Hevea braziliensis 9.7 2 Hevea braziliensis 12.7 3 Hevea braziliensis 14.9 4 Tabernae montana,sp 15.9 VIII 1 Maranthes corymbosa BI 15.5 2 Maranthes corymbosa BI 16.8
Tabel 5. Lanjutan IX 3 Artocarpus,sp 18.4 1 Artocarpus,sp 16.8 2 Artocarpus,sp 18.1 3 Artocarpus,sp 19 4 Tabernae montana,sp 13.6 5 Tabernae montana,sp 15.2 X 1 Hevea braziliensis 18.4 2 Tabernae montana,sp 14.3 3 Tabernae montana,sp 12.7 4 Artocarpus,sp 11.7 5 Artocarpus,sp 10.1 XI 1 Maranthes corymbosa BI 14 2 Maranthes corymbosa BI 15.9 3 Maranthes corymbosa BI 12.4 4 Artocarpus,sp 18.7
XII 1 Hevea braziliensis 13.6 2 Tabernae montana,sp 17.5 XIII 1 Maranthes corymbosa BI 15.1 2 Tabernae montana,sp 16.3 3 Tabernae montana,sp 13.3 XVI 1 Maranthes corymbosa BI 13.6 2 Maranthes corymbosa BI 17.5 3 Maranthes corymbosa BI 15.5 4 Artocarpus,sp 17.8 5 Hevea braziliensis 13.3 6 Hevea braziliensis 13.6 XV 1 Hevea braziliensis 15.1 XIV 1 Tabernae montana,sp 17.3 2 Tabernae montana,sp 12.4 3 Artocarpus,sp 15.1 4 Artocarpus,sp 15.5 5 Maranthes corymbosa BI 16.7
34
Lampiran 6
Tabel 6. Data Perhitungan LBD Tingkat Pancang No
Jenis
Diameter Luas Bidang Sub
Plot Individu Ø Dasar (M²)
I
1 Hevea braziliensis 6.6 0.0034 2 Hevea braziliensis 6.6 0.0034 3 Marantes corymbosa BI 5.7 0.0026 4 Marantes corymbosa BI 3.8 0.0011 5 Milletia spendidissima blume 7 0.0038
II 1 Artocarpus,sp 4.4 0.0015 2 Hevea braziliensis 3.1 0.0008 3 Hevea braziliensis 6 0.0028 4 Marantes corymbosa BI 4.1 0.0013 III 1 Hevea braziliensis 7.6 0.0045 2 Hevea braziliensis 3.9 0.0012 3 Hevea braziliensis 7.3 0.0042 4 Jenis C 6 0.0028 IV 1 Aquilaria malaccensis 5.8 0.0026 2 Hevea braziliensis 5.4 0.0023 V 1 Artocarpus,sp 5.4 0.0023 2 Hevea braziliensis 3.9 0.0012 VI 1 Hevea braziliensis 4.7 0.0017 2 Marantes corymbosa BI 4.6 0.0017 3 Marantes corymbosa BI 4.6 0.0017 VII 1 Artocarpus,sp 4.7 0.0017 2 Artocarpus,sp 4.6 0.0017 3 Artocarpus,sp 3.1 0.0008 4 Hevea braziliensis 5.3 0.0022 5 Milletia spendidissima blume 5.8 0.0026
VIII
1 Artocarpus,sp 7 0.0038
2 Artocarpus,sp 5.7 0.0026
3 Milletia spendidissima blume 4.7 0.0017
4 Jenis C 9.2 0.0066 IX 1 Artocarpus,sp 3.5 0.0010 2 Artocarpus,sp 3.1 0.0008 3 Artocarpus,sp 3.5 0.0010 4 Hevea braziliensis 4.1 0.0013 X 1 Artocarpus,sp 3.5 0.0010 2 Hevea braziliensis 5 0.0020 3 Hevea braziliensis 4.4 0.0015
Tabel 6. Lanjutan XI 1 Hevea braziliensis 4.4 0.0015 2 Hevea braziliensis 5.2 0.0021 3 Hevea braziliensis 3.5 0.0010 4 Marantes corymbosa BI 3.8 0.0011 XII 1 Hevea braziliensis 4.1 0.0013 2 Milletia spendidissima blume 3.1 0.0008 3 Milletia spendidissima blume 3.5 0.0010
XIII 1 Aquilaria malaccensis 5.4 0.0023 2 Artocarpus,sp 4.4 0.0015 3 Hevea braziliensis 3.8 0.0011 4 Hevea braziliensis 3.6 0.0010 XIV 1 Artocarpus,sp 8.2 0.0053 2 Artocarpus,sp 6.8 0.0036
3 Milletia spendidissima blume 5 0.0020 4 Milletia spendidissima blume 5.8 0.0026 XV 1 Artocarpus,sp 6.3 0.0031 2 Artocarpus,sp 5.4 0.0023 3 Artocarpus,sp 9 0.0064 XVI 1 Hevea braziliensis 4.4 0.0015 2 Jenis C 7 0.0038 3 Jenis C 8.1 0.0052 0.1298
36
Lampiran 7.
Tabel 7. Data Hasil Perhitungan Luas Bidang Dasar (LBD) Tingkat Tiang. No
Jenis Diameter Luas Bidang Dasar M²
Sub Plot Individu Ø
I 1 Artocarpus,sp 18.7 0.0275 2 Hevea braziliensis 18.4 0.0266 3 Hevea braziliensis 18.1 0.0257 4 Tabernae montana,sp 18.1 0.0257 5 Tabernae montana,sp 14.6 0.0167 6 Tabernae montana,sp 14.3 0.0161 II 1 Artocarpus,sp 15.9 0.0199 2 Maranthes corymbosa BI 14.3 0.0161 3 Hevea braziliensis 14.9 0.0174 4 Hevea braziliensis 15.7 0.0194 III 1 Hevea braziliensis 13 0.0133
2 Artocarpus,sp 16.2 0.0206 IV 1 Hevea braziliensis 14.3 0.0161 2 Maranthes corymbosa BI 14.9 0.0174 V 1 Tabernae montana,sp 19 0.0284 2 Maranthes corymbosa BI 15.5 0.0189 3 Hevea braziliensis 14.3 0.0161 4 Hevea braziliensis 14.9 0.0174 5 Hevea braziliensis 14.9 0.0174 VI 1 Hevea braziliensis 12.7 0.0127 2 Hevea braziliensis 11.3 0.0100 3 Maranthes corymbosa BI 12.7 0.0127 4 Hevea braziliensis 14.3 0.0161 5 Hevea braziliensis 15.9 0.0199 6 Maranthes corymbosa BI 15.5 0.0189 VII 1 Hevea braziliensis 9.7 0.0074 2 Hevea braziliensis 12.7 0.0127 3 Hevea braziliensis 14.9 0.0174 4 Tabernae montana,sp 15.9 0.0199 VIII 1 Maranthes corymbosa BI 15.5 0.0189 2 Maranthes corymbosa BI 16.8 0.0222 3 Artocarpus,sp 18.4 0.0266
Tabel 7. Lanjutan IX 1 Artocarpus,sp 16.8 0.0222 2 Artocarpus,sp 18.1 0.0257 3 Artocarpus,sp 19 0.0284 4 Tabernae montana,sp 13.6 0.0145 5 Tabernae montana,sp 15.2 0.0181 X 1 Hevea braziliensis 18.4 0.0266 2 Tabernae montana,sp 14.3 0.0161 3 Tabernae montana,sp 12.7 0.0127 4 Artocarpus,sp 11.7 0.0108 5 Artocarpus,sp 10.1 0.0080 XI 1 Maranthes corymbosa BI 14 0.0154 2 Maranthes corymbosa BI 15.9 0.0199 3 Maranthes corymbosa BI 12.4 0.0121 4 Artocarpus,sp 18.7 0.0275 XII 1 Hevea braziliensis 13.6 0.0145 2 Tabernae montana,sp 17.5 0.0241 XIII 1 Maranthes corymbosa BI 15.1 0.0179 2 Tabernae montana,sp 16.3 0.0209 3 Tabernae montana,sp 13.3 0.0139 XVI 1 Maranthes corymbosa BI 13.6 0.0145 2 Maranthes corymbosa BI 17.5 0.0241 3 Maranthes corymbosa BI 15.5 0.0189 4 Artocarpus,sp 17.8 0.0249 5 Hevea braziliensis 13.3 0.0139 6 Hevea braziliensis 13.6 0.0145 XV 1 Hevea braziliensis 15.1 0.0179 XIV 1 Tabernae montana,sp 17.3 0.0235 2 Tabernae montana,sp 12.4 0.0121 3 Artocarpus,sp 15.1 0.0179 4 Artocarpus,sp 15.5 0.0189 5 Maranthes corymbosa BI 16.7 0.0219 1.1636
38
Lampiran Gambar-gambar Pengambilan Data DiLapangan
Gambar 2. Contoh pengukuran Diameter
Gambar 4. Contoh pengukuran Diameter Tingkat Tiang