LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS VEGETASI
MATA KULIAH EKOLOGI TERAPAN
LOKASI :
TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE-PANGARANGO
KETINGGIAN HM-5
OLEH KELOMPOK II :
KURNIAWATI PURWAKA PUTRI P. 052130074 GERADUS M EKOHARTOYO P. 0521300….
ARIS DWI CAHYANTO P. 0521300…. ENTIN KARTINI P. 0521300…. JERREMIAS NDOEN P. 052130904
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
Kehadiran vegetasi pada suatu area akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem. Namun pengaruhnya akan bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Untuk memperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan dilakukan analisis vegetasi. Tujuan praktikum lapang adalah mempelajari komposisi dan dominansi serta struktur komunitas dari masyarakat tumbuh-tumbuhan (vegetasi) yang ada di kawasan HM 5 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Metode pengamatan yang dilakukan adalah kombinasi antara metode jalur dan garis berpetak. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerapatan populasi semua spesies untuk masing-masing tingkatan vegetasi adalah 135 pohon/hektar; 340 tiang/hektar; 25.000 semai/hektar; 120.000 individu semak herba/hektar; 18.500 individu paku-pakuan/hektar; 4.000 batang palma/hektar. Dominansi semua spesies pada areal HM 5-TNGP untuk tingkat pohon sebesar 25 m2/hektar; dan untuk tingkat tiang sebesar
7,19 m2/hektar. Spesies yang dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya di kawasan HM 5 TNGP untuk tingkat pohon, tiang, pancang, semai, semak herba, paku-pakuan dan palma berturut-turut adalah Altingia excelsa (INP= 82,4 %); Ficus variegata (INP = 43,91 %) dan Schima walichi (INP = 39,38 %); Hedyotis diggusa (INP = 25,23 %); Ficus ribes (INP = 22,82 %); Elafostema strigosum (INP = 60,4 %); Cyathea latebrosa (INP = 93,02 %); dan Daemonorops rubra (INP = 146,67 %).
Vegetasi tingkat semai menunjukkan tingkat keanekaragaman yang tinggi (H’>3).
Tingkat keanekaragaman sedang (H’ = 1-3) ditunjukkan oleh vegetasi tingkat pohon, tiang, pancang, semak-herba dan paku-pakuan. Vegetasi palem memiliki tingkat
keanekaragaman rendah (H’<1).
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmatNya sehingga praktikum Analisa Vegetasi pada Hutan Hujan Tropis
Gede Pangarango Pada Ketingian HM-5 dapat terselesaikan dengan baik.
Praktikum ini merupakan bagian dari matakuliah Ekologi Terapan pada
Sekolah Pascasarja Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Linkungan Institut
Pertanian Bogor.
Pada kesepatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada para pihak
yang telah membantu terselesaikanya praktikum ini diantaranya :
1. Prof. Andri ……. Sebagai koordinator matakuliah ekologi terapan sekaligus pembimbing praktikum
2. Petugas Gunung Gede Pangaranago
3. Pengenal Pohon… 4. Asisten ….
5. Teman-teman seperjuangan angkatan 2013 Pascasarjana PSL –IPB Akhir kata semoga praktikum ini demi masa depan bumi dan generasi
masa depan.
Bogor,…Desember 2013
ii
1.4 Sitematika Penyajian Laporan ………. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………. 4
iii Hal
Hal
3.4 Analisa Data ………. 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 18
4.1 Analisis Kuantitatif ………. 18
4.1.1 Vegetasi Tingkat Pohon ………. 18
4.1.2 Vegetasi Tingkat Tiang ………. 21
4.1.3 Vegetasi Tingkat Pancang ………. 23
4.1.4 Vegetasi Tingkat Semai ………. 25
4.1.5 Vegetasi Semak Herba ………. 27
4.1.6 Vegetasi Paku-Pakuan ………. 29
4.1.7 Vegetasi Palma ………. 30
4.2 Indeks Diversitas Jenis ………. 31
BAB V KESIMPULAN ………. 34 LAMPIRAN :
Lampiran 1. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Pohon di Hm 5- TNGP
Lampiran 2. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Tiang di HM 5- TNGP.
Lampiran 3. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Pancang di HM 5- TNGP.
Lampiran 4. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Semai di HM 5-TNGP
Lampiran 5. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Semak Herba di HM 5-TNGP
Lampiran 6. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Paku-Pakuan di HM 5-TNGP
iv
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 1. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat
Pohon di HM 5 TNGGP.
……… 19
Tabel 2. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat
Tiang di HM 5 TNGP
……… 22
Tabel 3. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat
Pancang di HM 5 – TNGP.
……… 24
Tabel 4. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat
Semai di HM 5 –TNGP.
……… 26
Tabel 5. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat
Semak dan Herba di HM 5 – TNGP.
……… 28
Tabel 6. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Paku-
Pakuan di HM 5 TNGGP
Diversitas Shanon-Wiener pada berbagai
tingkat vegetasi di HM 5 TNGP
v
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 1. Lokasi (Bukan peta lokasi ……… 12
Gambar 2. Kompas ……… 13
Gambar 3. Hagameter ……… 13
Gambar 4. Kamera ……… 14
Gambar 5. Roll meter ……… 14
Gambar 6. Lay Out Antara Cara Jalur dan Cara Garis Berpetak ……… 15
Gambar 7. Vegetasi tingkat herba di HM 5 TNGP; A. Herba sp1 (Sirip penyu) ; B. Strobilanthes cemua Blume ……… 28
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kawasan Gunung Gede Pangrango, memiliki peranan yang sangat
penting dan strategis bagi kehidupan manusia dalam lingkup lokal, regional,
nasional, maupun global. Kawasan tersebut menjadi daerah hulu untuk
beberapa daerah aliran sungai (DAS) sehingga termasuk kawasan konservasi
yang secara teori tidak dapat diubah fungsinya menjadi bentuk pemanfaatan
lahan lainnya.
Kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan
dengan berbagai macam spesies seperti spesies anggrek hutan dan bahkan
terdapat beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah,
seperti jamur yang bercahaya. Di dalam kawasan hutan TNGP juga ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp). Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGP juga
merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa, sejenis
kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing Hutan,
Macan Tutul, Sigung, dll, serta sekitar 250 jenis burung. Kawasan ini juga
merupakan habitat Owa Jawa, Surili, Lutung dan Elang Jawa yang populasinya
hampir mendekati punah. Oleh karena itu UNESCO menetapkan kawasan
Gunung Gede Pangrango sebagai cagar biosfer yang diarahkan untuk fungsi
konservasi plasma nutfah, pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan ilmu
pengetahuan. Mengingat fungsi dan keberadaannya tersebut, maka dalam
pengelolaan kawasan TNGP harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan
berkelanjutan.
Kehadiran vegetasi pada suatu area akan memberikan dampak positif
2 ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan
oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan
tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada
suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya akan bervariasi
tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu.
Berkaitan dengan kehadiran vegetasi, penting untuk menganalisa vegetasi
dengan mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi
atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari
susunan (komposisi) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan, 2005). Analisis vegetasi dapat
digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuan yang meliputi mempelajari tegakan hutan yaitu tegakan
tingkat pohon dan permudaannya (tingkat tiang, pancang, dan semai) dan
mempelajari tegakan tumbuhan bawah yaitu jenis vegetasi dasar yang terdapat
di bawah tegakan hutan selain permudaan pohon, padang rumput/ilalang dan
belukar. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang
struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.
Sehubungan dengan fungsi dan peranan TNGP terutama sebagai
kawasan penyangga sistem DAS dan sebagai pelestari keanekaragaman
hayati, maka diperlukan pengetahuan dan kemampuan untuk memahami
struktur dan komposisi vegetasi yang ada di TNGP dengan menginventarisasi
vegetasi yang berada didalamnya. Hal inilah yang melatarbelakangi
dilakukannya kegiatan praktikum lapangan analisis vegetasi di kawasan Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) untuk mengetahui berbagai
tingkatan pertumbuhan di TNGP dari mulai semai, pancang, tiang hingga pohon
serta vegetasi lainnya yang terdapat pada pohon seperti liana dan lainnya.
1.2 Tujuan Kegiatan Praktikum
Mempelajari komposisi dan dominansi serta struktur komunitas dari
masyarakat tumbuh-tumbuhan (vegetasi) yang ada di kawasan Taman
3 1.3 Ruang Lingkup
Lokasi kegiatan pratikum adalah Taman Nasional Gunung Gede
Pangarango pada ketinggian HM 5. Lingkup kegiatannya adalah pratikum
analisis vegetasi untuk mempelajari komposisi dan dominansi serta struktur
komunitas dari masyarakat tumbuh-tumbuhan (vegetasi) yang ada di kawasan.
1.4 Sitematika Penyajian Laporan Pratikum
Laporan ini terdiri dari 5 Bab yakni :
Bab I Pendahuluan : berisi latar belakang, tujuan serta sistematika penyajian laporan praktikum.
Bab II Tinjauan Pustaka : berisi uraian tentang uraian mengenai Taman Nasional Gede Pangarango, serta teori tentang vegetasi.
Bab III Metodologi : mengambarkan tentang metode pelaksanaan pratikum yakni waktu dan lokasi, bahan dan alat, prosedur survey dan
analisis data.
Bab IV Hasil dan Pembahasan : menguraikan tentang hasil analisis kuantitatif vegetasi serta Indeks Diversitas Jenis
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
2.1.1 Sejarah dan Perkembangan
Penetapan Gunung Gede Pangrango sebagai lokasi suaka alam
sebenamya telah dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1889
dengan menetapkan kawasan yang ada di puncak Gunung Gede Pangrango
(Kabupaten Cianjur) sebagai kawasan hutan seluas 150 km2. Selanjutnya
Pemerintah Indonesia mengubah status wilayah Gede Pangrango menjadi
Taman Nasional pada tahun 1980 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian
tahun 1980.
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources
(IUCN) dalam McKinnon, et al (1990) mendeskripsikan taman nasional sebagai
kawasan dengan tujuan utama pengelolaannya adalah :
1. Mempertahankan contoh ekosistem dalam kondisi alaminya
2. Mempertahankan keanekaragaman ekologis dan pengaturan lingkungan
3. Melestarikan sumberdaya plasma nutfah
4. Melestarikan kondisi kawasan tangkap air
5. Menyediakan pelayanan rekreasi dan pariwisata
6. Melindungi obyek dan tempat warisan budaya, sejarah, dan purbakala
7. Melindungi keindahan alam serta tempat terbuka
8. Mendorong pemanfaatan rasional serta bekelanjutan dari kawasan
merjinal dan pembangunan pedesaan.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu dari
enam cagar biosfer di Indonesia yang telah diresmikan oleh MAB UNESCO
pada tahun 1977. Peresmian tersebut dilakukan bersamaan pada empat cagar
biosfer, yaitu TN Gunung Gede Pangrango, TN Tanjung Putting, TN Lore Lindu,
5 perpaduan tiga fungsi, yaitu : (i) kontribusi konservasi lanskap, ekonomi, jenis,
dan plasma nutfah, (ii) menyuburkan pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya, dan (iii) mendukung logistik
untuk penelitian, pemantauan, pendidikan, dan pelatihan yang terkait dengan
masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokak, regional,
nasional, maupun global (Soejito dan Rustiami, 2003).
2.1.2 Letak Kawasan
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dengan luasan 21.975 hektar merupakan kawasan Taman Nasional yang ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan. Kawasan yang berjarak ± 100 km dari Jakarta tersebut berada pada ketinggian 1200-1500 m dpl. Secara administrasi pemerintahan, kawasan TNGP berada pada 3 wilayah kabupaten di Jawa Barat, yaitu Cianjur, Bogor, dan Sukabumi.
2.1.3 Kondisi Fisik Lapangan
Kondisi hutannya relative masih sangat baik sehingga kawasan TNGGP disebut sebagai perwakilan ekosisitem hutan hujan tropis pegunungan di Pulau Jawa. Berdasarkan ketinggian, formasi hutan di kawasan TNGGP dibedakan menjadi 3 (tiga) ekosistem utama yaitu : Sub Montana (1000 – 1500 m dpl); Montana (1500 – 2400 m dpl); Sub Alpin (> 2400 m dpl).
Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango termasuk dalam tipe
hutan dengan zona sub pegunungan atas. Hutan sub zona tersebut dicirikan
dengan adanya lima lapisan vegetasi, tingginya kekayaan jenis, pertumbuhan
tanaman yang relatif cepat, daun-daun tumbuhan yang berdaun lebar,
Lingkungan hutan cenderung hangat dan lembab dengan tanah yang berhumus
tebal serta tingkat persaingan yang tinggi dengan jenis-jenis pohon terutama
dari kelompok FAGO-LAURACEODS. Ahli ekologi membuat klasifikasi
ekosistem hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ke dalam tiga
tipe vegetasi berdasarkan ketinggian, yaitu :
1. Montana Bawah/Submontana (1000-1500 mdpl)
Tipe vegetasi ini dapat ditemukan saat mulai memasuki kawasan TNGP
6 vegetasi hutan daratan rendah dan hutan pegunungan sehingga seringkali
disebut sebagai ekosistem submontana.
2. Montana (1.500-2.400 mdpl)
Zona ini disebut juga “Hutan Pegunungan Atas”. Ekoton antara vegetasi hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas biasanya sangat
jelas. Tajuk pohon di hutan pegunungan biasanya memeliki ketinggian
yang sama, yaitu 20 meter.
3. Sub Alpin (2.400-3.019 mdpl)
Hutan di zona sub alpin hanya terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan
pohon-pohon kerdil, rapat dengan batang pohon-pohon yang kecil, dan lantai hutan
dengan tumbuhan bawah yang jarang. Hanya ditemukan sedikit jenis
vegetasi yang telah beradaptasi dengan lingkungan yang beriklim ekstrim,
hal ini terkait kondisi tanah yang miskin hara dengan jenis tanah berbatu
sedikit dan menipis, dan kelembaban makin rendah, serta ketersediaan nutrisi
tanah juga sedikit.Hal ini menyebabkan keanekaragaman jenis tumbuh semakin
rendah dan struktur hutan sudah tidak lengkap, tidak ada pohon tinggi.
2.1.5 Iklim
Kawasan Gunung Gede Pangrango merupakan kawasan yang terbasah
di pula Jawa dan sebagai konsekuensinya hutan di kawasan ini sangat kaya
dengan keanekaragaman jenis flora. Bulan Desember-Maret merupakan bulan
terbasah, dimana hujan turun hampir setiap hari.Tetapi antara bulan
maret-september merupakan musim kering/kemarau, daun-daun kering banyak
berjatuhan dan potensial untuk menyebabkan kebakaran, namun kelembaban
7 hijau dan bertumbuh.Pada bagian pegunungan, temperatur udara semakin
turun dan hutan sekitarnya sering ditutupi kabut, dan kelembaban udara yang
rendah di daerah ini merupakan habitat ideal bagi tumbuhan pemanjat dan
lumut.
2.1.6 Keanekaragaman Flora dan Fauna
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keanekaragaman
jenis baik tumbuhan maupun hewan yang sangat menarik. Di dalam kawasan
TNGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar, berjenis-jenis anggrek hutan dan bahkan ada beberapa
jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang
bercahaya. Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGP juga
merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa sejenis
kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti kijang, pelanduk, anjing hutan,
macan tutul, sigung, dll serta 250 jenis burung. Kawasan ini juga merupakan
habitat Owa Jawa, surili, lutung, dan elang jawa yang populasinya hampir
mendekati punah. (www.gedepangrango.org)
Secara umum, peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan
pengaturan keseimbangan karbondioksida dan oksigen di udara, perbaikan
sifat fisik, kimia, dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah,dan lain-lain.
Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan
dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi; tergantung pada struktur dan
komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut.
Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik
yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar,
dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi
oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi
yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan
pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami
perubahan dastrik karena pengaruh anthropogenik (Sundarapandian dan
8 2.2 VEGETASI
Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam
lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam
lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Dalam
mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa
vegetasi merupakan suatu pengelompokan tumbuh-tumbuhan yang hidup
bersama terutama yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai
komponenya, maupun oleh kombinasi dan struktur sifat-sifatnya yang
mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fungsional.
Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi
dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu (1) pendugaan komposisi vegetasi
dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal
lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga
tentang keragaman jenis dalam suatu areal; dan (3) melakukan korelasi antara
perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor
lingkungan (Greig-Smith, 1983).
Mulyana et al. (2005) mengemukakan bahwa struktur suatu vegetasi
merupakan organisasi dalam ruang, tegakan, tipe vegetasi atau asosiasi
tumbuhan dengan unsur utamanya adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi,
dan penutupan tumbuhan. Lebih jauh, struktur vegetasi hutan dapat dibagi
menjadi tiga komponen, yaitu (1) struktur vertikal (stratifikasi berdasarkan
lapisan tajuk), (2) struktur horisontal (stratifikasi berdasarkan penyebaran
spasial individu suatu jenis dalam populasi), dan (3) kelimpahan jenis.
Disamping ketiga komponen tersebut, masih terdapat struktur didalam satuan
waktu, yaitu suksesi dan klimaks yang hanya dipusatkan pada struktur spasial
yang merupakan struktur yang berhubungan dengan waktu.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk
menganalisis dan juga sintesis sehingga akan membantu dan mendiskripsikan
suatu vegetasi sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan.
Untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode
Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur,
9 Titik pusat kwadran, Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode
Bitterlich) (Kusuma, 1997).
Selanjutnya, Indriyanto (2006) mengatakan bahwa berdasarkan analisis
vegetasi dapat ditentukan beberapa besaran yang dapat memberikan
gambaran tentang keseluruhan kondisi kawasan pengamatan, yaitu :
1. Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR)
Kerapatan adalah perbandingan jumlah individu suatu jenis terhadap luas
petak contoh yang digunakan. Berdasarkan kerapatan suatu individu
dapat ditentukan pula Kerapatan Relatif masing-masing jenis individu,
yaitu kerapatan individu suatu jenis dibanding dengan kerapatan seluruh
jenis yang ditemukan.
2. Frekuensi (F) dan Frekuensi Relatif (RF)
Frekuensi adalah jumlah petak yang berisi suatu spesies dibandingkan
dengan jumlah seluruh petak contoh. Berdasarkan frekuensi suatu individu
dapat ditentukan pula Frekuensi Relatif masing-masing jenis individu
suatu jenis dibanding dengan frekuensi seluruh jenis.
3. Luas Penutupan atau dominansi (D) dan Dominansi Relatif (DR)
Luas penutupan atau dominansi (coverage) adalah proporsi antara luas
tempat yang ditutupi oleh spesies tumbuhan dengan luas total habitat.
Luas penutupan dapat dinyatakan dengan menggunakan luas penutupan
tajuk atau luas bidang dasar (basal area). Sedangkan luas penutupan atau
dominansi relatif merupakan perbandingan antara dominansi jenis yang
lain.
Indeks nilai penting (INP) adalah parameter kuantitatif yang dapat dipakai
untuk menyatakan tingkat dominansi atau penguasaan spesies-spesies dalam
suatu komunitas tumbuhan (Gopal dan Bhardwaj (1979) dalam Indriyanto
(2006). Berdasarkan Soerianegara dan Indrawan (2005), jumlah nilai maksimal
INP pada tingkat pohon dewasa adalah 300% yaitu jumlah parameter KR, FR,
dan DR. Sedangkan jumlah nilai maksimal INP pada tingkat permudaan adalah
10 Indeks-indeks lainnya yang dapat menggambarkan kondisi suatu
kawasan, antara lain : Perbandingan Nilai Penting (Summed Dominance Ratio),
Indeks Dominansi (Index of Dominance), Indeks Keanekaragaman (Index of
Difersity) yang biasa ditentukan dengan Indeks Shannon dan/atau Indeks
Mmargalef (Indriyanto, 2006).
Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan tetumbuhan secara
vertikal di dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan. Pada tipe
ekosistem hutan hujan tropis stratifikasi biasanya tersusun secara lengkap
terdiri dari lima strata (storey). Tiap lapisan di dalam stratifikasi disebut stratum
atau strata. Menurut Soerianegara dan Indrawan (2005), stratifikasi yang
terbentuk di dalam masyarakat tumbuhan disebabkan oleh dua hal, yaitu :
1. Persaingan
Persaingan terjadi akibat adanya kompetisi yang berlangsung di dalam
suatu masyarakat tumbuhan antar spesies pohon yang ada. Akibat
kompetisi ini akan muncul pohon yang mampu bersaing, memiliki
pertumbuhan yang kuat dan menjadi spesies yang dominan atau lebih
berkuasa dari individu lain. Individu pohon-pohon dominan yang terbentuk
tersebut akan mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. Contoh
spesies tersebut antara lain jenis Shorea spp. Yang dominan di
hutan-hutan pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang menyusun stratum
teratas (A) sehingga membentuk kelompok hutan Dipterocarpaceae.
2. Semi toleransi spesies
Sifat toleransi spesies ini sangat dipengaruhi oleh intensitas matahari.
Spesies-spesies pohon yang intoleran mendapatkan kesempatan ruang
tumbuh dengan radiasi matahari penuh, sehingga proses pertumbuhannya
akan lebih cepat dan menjadi lebih tinggi.jenis individu intoleran tidak
tahan berada dibawah naungan, karena menyebabkan pertumbuhannya
menjadi lambat bahkan dapat mengakibatkan kematian. Pada individu
pohon dengan sifat toleran akan bertahan di bawah naungan jenis
11 Stratifikasi yang ada dalam hutan tropis adalah sebagai berikut :
a. Stratum A : Lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon dengan tinggi
totalnya lebih dari 30 meter. Umunya tajuk diskontinyu, batang pohon
tinggi dan lurus dengan batang bebas cabang yang tinggi. Jenis-jenis
pohon dari stratum ini pada masa mudanya, tingkat semai hingga pancang
memerlukan naungan sekedarnya, tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya
perlu cahaya yang cukup banyak.
b. Stratum B : Terdiri dari pohon-pohon dengan tinggi antara 20-30 meter,
tajuk umumnya kontinyu, batang bercabang banyak dengan batang bebas
cabang tidak terlalu tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini kurang
memerlukan cahaya dan tahan naungan.
c. Stratum C : terdiri dari pohon dengan tinggi 4-20 meter, tajuk kontinyu,
pohon rendah dan banyak bercabang.
d. Stratum D : Lapisan perdu dan semak dengan tinggi 1-4 meter
e. Stratum E : tumbuh-tumbuhan penutup tanah dengan tinggi antara 0-1
meter.
Selanjutnya dikatakan pula bahwa tidak semua hutan tropika mempunyai ketiga
12
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Lokasi
Kegiatan analisis vegetasi dilakukan pada hari Minggu, tanggal 15
Desember 2013, yang bertempat di HM 5 Kawasan Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango (TNGGP). Taman Nasional Gunung Gede Pangrango secara
geografis terletak antara 106051’-107002’ BT dan 6041 LS. Denah lokasi penelitian disajikan pada Gambar 1. …………kalau mau ditambah…Pak eko punya peta lokasi dll ??
13 3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan untuk pengamatan dan pengukuran adalah
vegetasi yang ada di lokasi yang meliputi semai, pancang, tiang, pohon, semak
herba, paku-pakuan dan palem.
Peralatan yang digunakan selama pelaksanaan penelitian antara lain
GPS, kompas, roll meter, meteran jahit, Christen-meter/haga, meteran,
tambang, kamera, patok, kamera dan alat tulis menulis. Untuk lebih jelasnya
beberapa peralatan yang digunakan disajikan pada Gambar 2 sampai dengan
5.
Gambar 2. Kompas
14 Gambar 4. Kamera
Gambar 5. Roll meter
3.3 Prosedur Kegiatan Analisa Vegetasi
1. Analisis vegetasi dilakukan di dalam plot-plot pengamatan di kawasan
Taman Nasinola Gunung Gede Pangrango dengan menggunakan
metoda Kombinasi antara cara jalur dan cara garis berpetak pada unit
contoh yang berbentuk jalur sepanjang 100 m, dengan arah tegak lurus
kontur berdasarkan derajat (azimut) yang diukur dengan menggunakan
kompas. Dasar pertimbangan menggunakan metode tersebut adalah
representative dan cukup akurat untuk melakukan teknik sampling analisa
vegetasi serta dapat mewakili populasi yang berada di dalam areal hutan
yang diamati. Di dalam plot pengamatan pohon dibuat petak-petak
berbentuk bujur sangkar yang lebih kecil untuk tumbuhan yang lebih kecil
dan permudaan (Gambar 6).
15 Gambar 6. Lay Out Antara Cara Jalur dan Cara Garis Berpetak
Keterangan : Petak A = Petak ukur untuk Semai (2 x 2 m2) Petak B = Petak ukur untuk Pancang (5 x 5 m2) Petak C = Petak ukur untuk Tiang (10 x 10 m2) Petak D = Petak ukur untuk Pohon (20 x 20 m2)
2. Setelah menentukan titik awal pengamatan untuk membuat jalur, kemudian menarik tambang atau tali sepanjang 100 m untuk menentukan panjang jalur, serta 20 meter untuk menentukan lebar jalur. Pemasangan patok untuk pembuatan petak-petak pengamatan.
3. Membuat petak pertama berukuran 20 x 20 meter. Di dalam petak tersebut, buatkan juga sub petak berukuran 10 x 10 meter, sub-sub petak berukuran 5 x 5 meter, serta petak 2 x 2 meter yang digunakan untuk pengamatan anakan.
4. Pengukuran bisa dimulai dari petak 20 x 20 untuk pohon (diameter ≥ 20 cm), 10 x 10 untuk tiang (diameter 10-<20 cm), 5 x 5 untuk pancang (diameter <10 cm, tinggi > 1.5 m), epifit, liana, tumbuhan bawah, serta 2 x 2 meter untuk semai (anakan pohon yang baru tumbuh hingga anakan pohon yang mempunyai tinggi hingga 1,5 m).
5. Data yang dicatat dalam pengamatan vegetasi pada seluruh tingkat pertumbuhan parameter yang diukur pada setiap petak contoh, meliputi:
Jenis, jumlah, tinggi bebas cabang, tinggi total dan diameter tingkat bawah yaitu tumbuhan selain permudaan pohon misalnya rumput,
16 3.4 Analisa Data
Data vegetasi hutan yang terkumpul selanjutnya dianalisis dan dihitung
nilai-nilai : kerapatan, kerapatan relative, frekwensi, frekuensi relative,
dominansi, dominansi relatif dan indeks nilai penting dari masing-masing jenis,
dengan .menggunakan rumus-rumus sebagai berikut :
Kerapatan
Jumlah petak terisi suatu jenis
17 Khusus untuk tingkat pancang, semai dan tumbuhan bawah, Indeks Nilai Penting (INP) cukup dihitung berdasarkan rumus :
Indeks Nilai Penting (INP) = KN + FN
Keanekaragaman Hayati
Pengolahan selanjutnya adalah menghitung Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener dan Indeks Shannon (Shannon Index of Diversity). Untuk menghitung Indeks Keanekaragaman Shannon (Shannon Index of Diversity) digunakan rumus sebagai berikut (Pileou, 1969; Magurran, 1988):
(H’) = - Σ [ pi Log pi] dimana pi = ni / N
Keterangan:
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon (Shannon Index of Diversity) ni = Indeks Nilai Penting suatu jenis
N = Jumlah Indeks Nilai Penting dari seluruh jenis
Sedangkan untuk menghitung Indeks Keanekaragaman Shannon- Wiener
digunakan rumus sebagai berikut:
H’) = - Σ [ pi Log pi] dimana pi = ni / N
Keterangan:
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener ni = Kerapatan spesies ke-i
N = Jumlah total spesies yang ditemukan
Kategori penilaian untuk keanekaragaman jenis adalah :
H’ < 1 : Keanekaragaman rendah, penyebaran rendah, kestabilan komunitas rendah
1 <H’<3 : Keanekaragaman sedang, penyebaran sedang, kestabilan komunitas sedang
18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Kuantitatif
Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan, oleh
karenanya kondisi masyarakat tumbuh-tumbuhan (vegetasi) di dalam hutan
baik komposisi spesies, dominansi spesies, kerapatan maupun keadaan
penutupan tajuknya perlu dianalisis.
Analisis kuantitatif yang dilakukan terhadap vegetasi di dalam plot
pengamatan meliputi penghitungan Indeks Nilai Penting (INP). Untuk
penghitungan INP tersebut terlebih dahulu menghitung kerapatan, frekuensi,
dan dominansi untuk setiap jenis pada tiap tingkat vegetasi. Nilai dominansi
dapat ditentukan untuk tiap jenis pada tingkat vegetasi yang memiliki data untuk
pengukuran Luas Bidang Dasar (LBDS) sehingga untuk analisis dominansi
hanya dapat dilakukan pada vegetasi tingkat pohon dan tiang.
Hasil analisis kuantitatif vegetasi tingkat pohon dan permudaannya (tingkat
tiang, pancang, dan semai) serta vegetasi semak herba, paku, palma dan rotan
di HM 5 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) adalah sebagai
berikut :
4.1.1 Vegetasi Tingkat Pohon
Pengukuran pohon adalah pengukuran tumbuhan berdiameter lebih dari
20 cm yang dilakukan pada petak ukur (plot) berukuran 20 x 20 meter. Data
yang diambil pada pengamatan vegetasi tingkat pohon meliputi diameter
batang, tinggi pohon, spesies/jenis pohon, dan jumlah individu tiap spesies.
19 Sedangkan hasil perhitungan kerapatan, kerapatan relatif, frekwensi, frekwensi
relatif, dominasi, dominasi relatif, dan indeks nilai penting disajikan pada Tabel
1.
Hasil analisis (Tabel 1) menunjukkan bahwa nilai kerapatan dari 16
spesies yang terdapat di HM 5 TNGP cukup bervariasi. Nilai kerapatan suatu
spesies menunjukkan jumlah individu spesies bersangkutan pada satuan luas
tertentu, sehingga nilai kerapatan yang dihasilkan dalam kegiatan ini
merupakan gambaran mengenai jumlah jenis bersangkutan yang ada di HM 5
TNGP atau lebih luasnya untuk zona sub-montana hutan di TNGP. Total
kerapatan pohon dari 16 spesies tersebut adalah 135 pohon/hektar dengan nilai
kerapatan tertinggi sebesar 25 pohon/hektar dan kerapatan relative 18,5 %
dicapai oleh spesies A. excelsa (rasamala) dan M. glauca (manglid).
Selanjutnya diikuti oleh spesies F. fistulosa (kondang beunying), M. rehizinoides
(manggong) dan C. tunggurrut (tunggeureut) dengan nilai kerapatan
masing-masing sebesar 10 pohon/hektar dan kerapatan relatif sebesar 7,4 %.
Sedangkan 11 spesies lainnya menunjukkan nilai kerapatan jenis terendah
yaitu masing-masing sebesar 5 pohon/hektar dengan kerapatan relatif sebesar
3,70 %.
Tabel 1. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat Pohon di HM 5 TNGGP.
20
Perbedaan nilai kerapatan masing-masing spesies tersebut disebabkan
adanya perbedaan kemampuan reproduksi, penyebaran dan daya adaptasi
terhadap lingkungan. Akan tetapi nilai kerapatan tersebut hanya dapat
memberikan informasi tentang kehadiran tumbuhan tertentu dalam suatu plot
dan belum dapat memberikan gambaran tentang bagaimana distribusi dan pola
penyebarannya. Gambaran mengenai distribusi individu pada suatu jenis
tertentu dapat dilihat dari nilai frekuensinya.
Nilai frekuensi tertinggi (Tabel 1) ditemukan pada spesies M. glauca
(manglid) yaitu sebesar 0,8 yang berarti dari total 5 plot yang diamati di lokasi
penelitian, 4 plot di antaranya terdapat jenis M. glauca (manglid). Spesies lain
dengan nilai frekuensi yang relatif tinggi adalah A. excelsa (rasamala) yaitu
sebesar 0,6 atau ditemukan pada 3 plot dari 5 sampel plot yang diamati. Hal
ini menunjukkan bahwa karakteristik habitat di HM 5 - TNGP cukup sesuai
dengan karakteristik spesies M. glauca (manglid) dan A. excelsa (rasamala),
sehingga kedua spesies tersebut mampu beradaptasi dengan baik yang
tercermin dari tingkat kerapatannya serta tersebar pada hampir seluruh lokasi
penelitian.
Nilai dominasi setiap spesies yang terdapat di HM 5 – TNGP juga sangat bervariasi. Dominansi terendah sebesar 0,2 m2/hektar ditemukan pada spesies
21 dominasi tertinggi sebesar 14,76 m2/ha terdapat pada spesies A. excelsa
(rasamala). Bervariasinya nilai dominansi tersebut disebabkan perbedaan
tingkat kerapatan dan ukuran rata-rata diameter batang dari masing-masing
spesies. Spesies A. excelsa (rasamala) menunjukkan nilai dominansi tertinggi
disebabkan ukuran diameter batangnya yang besar disamping nilai kerapatan
yang tinggi. Sedangkan spesies M. glauca walaupun nilai kerapatannya sama
dengan spesies rasamala, tetapi memiliki rata-rata diameter batang setinggi
dada spesies M. glauca (manglid) relative lebih rendah dibanding spesies A.
excelsa (rasamala).
Indeks nilai penting (INP) merupakan hasil penjumlahan nilai relatif ketiga
parameter (kerapatan, frekuensi dan dominasi) yang telah diukur sebelumnya.
Menurut Sundarapandian dan Swamy (2000), Indeks Nilai Penting (INP)
merupakan salah satu parameter yang dapat memberikan gambaran tentang
peranan spesies yang bersangkutan dalam komunitasnya atau pada lokasi
penelitian. Dalam penelitian ini diketahui bahwa spesies A. excelsa (rasamala)
merupakan spesies yang mendominasi di areal HM 5 – TNGP karena memiliki nilai INP tertinggi yaitu sebesar 82,4 %. Hal ini menunjukkan bahwa spesies A.
excelsa (rasamala) merupakan jenis yang dominan dalam ekosistem HM 5 -
TNGP. Keberhasilan spesies A. excelsa untuk hidup serta mampu
mendominasi di di wilayah tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi yang
cukup tinggi dengan kondisi lingkungan pada seluruh wilayah penelitian.
Kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan Kreb (1994) yang menyebutkan
bahwa keberhasilan setiap jenis untuk mengokupasi suatu area dipengaruhi
oleh kemampuannya beradaptasi secara optimal terhadap seluruh faktor
lingkungan fisik (temperatur, cahaya, struktur tanah, kelembapan, dan
sebagainya), faktor biotik (interaksi antar jenis, kompetisi, parasitisme, dan
lain-lain), serta faktor kimia yang meliputi ketersediaan air, oksigen, pH, nutrisi
dalam tanah dan lainnya yang saling berinteraksi.
4.1.2 Vegetasi Tingkat Tiang
Pengukuran tiang adalah pengukuran tumbuhan dengan diameter antara
22 dengan pohon, parameter pengukuran tiang adalah diameter tiang, tinggi tiang,
jumlah spesies tiang, dan jumlah individu tiap spesies. Hasil pengamatan
vegetasi tingkat tiang disajikan pada Lampiran 2. Data hasil analisis kuantitatif
pada vegetasi tingkat tiang di HM 5 -TNGP dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat Tiang di HM 5 TNGP NAMA JENIS
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui terdapat 13 spesies tingkat tiang
yang berhasil diidentifikasi di HM 5-TNGP dengan total kerapatan sebesar 340
tiang/hektar (Tabel 2). Nilai kerapatan tertinggi dicapai oleh spesies F. fistulosa
(kondang beunying) yaitu sebesar 60 tiang/hektar (17,65%). Akan tetapi nilai
frekuensi tiang tertinggi justru ditunjukkan oleh spesies S. walichi (puspa) yaitu
23 dari 5 sampel plot yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan
spesies S. walichi cenderung lebih tersebar dibandingkan spesies lainnya.
Nilai dominansi tertinggi untuk tingkat tiang ditunjukkan oleh spesies F.
fistulosa (kondang beunying) yaitu sebesar 1.38 m2/hektar (19,12 %). Hal ini
disebabkan oleh total luas bidang dasar (LBDS) yang lebih besar dibandingkan
dengan nilai LBDS spesies-spesies lain. Selain itu juga dipengaruhi oleh nilai
kerapatan spesies F. fistulosa (kondang beunying) yang relatif tinggi (60
tiang/hektar), sehingga kedua parameter ini juga cukup berpengaruh terhadap
nilai dominansi yang dihasilkan.
Kehadiran suatu spesies pada daerah tertentu menunjukkan kemampuan
spesies tersebut untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat,
sehingga jenis yang mendominasi suatu areal dapat dinyatakan sebagai jenis
yang memiliki kemampuan adaptasi dan toleransi yang lebar terhadap kondisi
lingkungan. Secara kuantitatif, jenis vegetasi yang dominan dalam suatu
komunitas ini diantaranya dapat diukur dengan parameter Nilai Indeks Nilai
Penting (INP).
Dalam pengamatan kali ini, spesies yang menunjukkan INP tertinggi untuk
tingkat tiang adalah F. fistulosa (kondang beunying) yaitu sebesar 43,91 %.
Nilai INP spesies tersebut mendapatkan sumbangan terbesar dari nilai
dominansi dan kerapatannya yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
spesies lainnya. Berdasarkan nilai INP tersebut diketahui bahwa F. fistulosa
merupakan spesies yang dominan dalam ekosistem HM -5 TNGP untuk tingkat
tiang. Spesies tiang lainnya yang juga cukup dominan adalah S. walichii
(puspa) dengan nilai INP sebesar 39,38 %. Nilai INP tersebut mendapatkan
sumbangan terbesar dari nilai frekuensinya yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan spesies lainnya, disamping nilai kerapatan dan
dominansinya.
4.1.3 Vegetasi Tingkat Pancang
Pancang adalah regenerasi pohon dengan ukuran lebih tinggi dari 1,5
meter serta diameter batang kurang dari 10 cm. Ukuran petak yang digunakan
24 dan pohon, untuk tingkat pancang pengukuran hanya dilakukan pada jumlah
individu dan jumlah spesies saja tidak dilakukan pengukuran diameter batang.
Hal ini dikarenakan pada tahap pertumbuhan pancang yang paling penting
untuk diketahui adalah kerapatan dan frekuensi. Hasil pengamatan vegetasi
tingkat pancang disajikan pada Lampiran 3. Hasil analisis kuantitatif untuk
vegetasi tingkat pancang di HM 5 TNGP disajikan pada Tabel 3.
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui terdapat 20 spesies tingkat
pancang yang berhasil diidentifikasi di HM 5-TNGP dengan total kerapatan
pohon sebesar 4.160 pancang/hektar (Tabel 3). Nilai kerapatan tertinggi
dicapai oleh spesies H. diggusa (ki kopi leutik) dan F. fistulosa (kondang
beunying/hijau) yaitu masing-masing sebesar 560 pancang/hektar (13,5%).
Nilai frekuensi tertinggi hanya ditunjukkan oleh spesies H. diggusa (ki kopi
leutik) yaitu sebesar 0,8 yang berarti bahwa spesies tersebut relative lebih
tersebar dibandingkan spesies lainnya karena ditemukan di 4 plot dari 5 sampel
plot yang diamati. Spesies lainnya yang juga menunjukkan nilai frekuensi relatif
besar adalah V. rubescens (nangsi) yaitu sebesar 0,6. Sedangkan spesies F.
fistulosa (kondang beunying/hijau) cenderung kurang tersebar luas karena
hanya ditemukan di 2 plot saja dengan nilai frekuensi yang dihasilkan sebesar
0,4.
Nilai Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan bahwa spesies H. diggusa
(ki kopi leutik) merupakan spesies yang mendominasi untuk tingkat pancang di
HM 5 – TNGP dengan nilai INP sebesar 25,53 %. Spesies lainnya yang juga cenderung cukup dominan adalah F. fistulosa (kondang beunying/hijau)
dengan nilai INP sebesar 19,34 %.
Tabel 3. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat Pancang di HM 5 – TNGP.
25
meter. Sebagaimana pancang, tahap pertumbuhan semai hanya dihitung
jumlah individu tiap spesies dan jumlah spesies. Hasil pengamatan vegetasi
tingkat pohon disajikan pada Lampiran 4. Hasil analisis kuantitatif untuk
26 Tabel 4. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Tingkat Semai di HM 5 –TNGP.
27 Dari hasil pengamatan terdapat 26 spesies yang berhasil diidentifikasi di
HM 5-TNGP dengan total kerapatan mencapai 25.000 semai/hektar (Tabel 4).
Nilai kerapatan semai tertinggi (3.500 semai/hektar atau 14 %) dicapai oleh
spesies F. ribes (walen). Selain nilai kerapatannya, F. ribes (walen) juga
menunjukkan nilai frekuensi terbesar yangmana spesies tersebut ditemukan di
3 plot dari 5 plot sampel yang diamati. Berdasarkan nilai kerapatan dan
frekuensi tertinggi yang dihasilkan spesies F. ribes (walen) tersebut,
menggambarkan kemampuan adaptasi dari spesies teresebut yang lebih baik
dibandingkan spesies-spesies lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
karakteristik habitat di HM 5 - TNGP cukup sesuai dengan karakteristik spesies
F. ribes (walen) untuk tingkat semai.
4.1.5 Vegetasi Semak Herba
Semak dan Herba termasuk dalam kelompok tumbuhan bawah yaitu
tumbuhan-tumbuhan yang hidup di lantai hutan, kecuali regenerasi pohon
seperti anakan dan pancang. Vegetasi tersebut merambat di tanah, namun
tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki
bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai
lembut yang kadang-kadang keras.
Ukuran petak yang digunakan untuk pengukuran vegetasi semak herba
adalah 2 x 2 meter. Hasil pengamatan vegetasi tingkat semak herba yang
terdapat di HM 5 -TNGP disajikan pada Lampiran 5. Contoh jenis herba yang
ditenukan di HM 5-TNGP disajikan pada Gambar 7, sedangkan hasil analisis
kuantitatifnya disajikan pada Tabel 5.
Pada tingkat semak herba jumlah jenis vegetasi yang ditemukan sebanyak
15 jenis dengan total individu sebanyak 240 individu. Spesies dengan nilai INP
tertinggi adalah spesies E. strigosum (sirip penyu) (60,42 %), sehingga dapat
dikategorikan sebagai spesies yang mendominasi tingkat vegetasi semak herba
di HM 5 - TNGP. Tingginya nilai INP tersebut berasal dari nilai kerapatan
(120.000 individu/hektar) dan frekuensinya (0,8) yang relatif lebih tinggi
28
A B
29 4.1.6 Vegetasi Paku-Pakuan
Paku-pakuan (Fern) adalah tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya
memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut
keluar tangkai daun. Ukuran petak yang digunakan untuk pengukuran vegetasi
pakuan adalah 2 x 2 meter. Hasil pengamatan vegetasi tingkat
paku-pakuan disajikan pada Lampiran 6. Sedangkan hasil analisis kuantitatif vegetasi
tingkat paku-pakuan disajikan dalam Tabel 6.
Hasil analisis diketahui bahwa terdapat 6 spesies paku-pakuan di lokasi
HM 5-TNGP yaitu Curculiga capitulata, Asplenium nidus, Cyathea latebrosa,
paku andam, paku pohon dan paku tiang. Total kerapatan paku-pakuan per
hektar sebesar 18.500 dengan nilai kerapatan tertinggi sebesar 9.500
individu/hektar (51,35 %) dicapai oleh spesies C. latebrosa (pakis haji) (Tabel
6). Selain kelebihannya untuk tumbuh lebih baik dibandingkan spesies lainnya,
spesies C. latebrosa (pakis haji) juga mampu menyebar secara luas, yang
terbukti spesies tersebut ditemukan disemua plot-plot sampel yang diamati.
Tingginya nilai kerapatan dan frekuensi tersebut selanjutnya menjadikan nilai
INP spesies C. latebrosa (pakis haji) terbesar (93,02 %), yang menggambarkan
kemampuan spesies tersebut untuk mendominasi di kawasan HM 5-TNGP.
Tabel 6. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Paku- Pakuan di HM 5 TNGGP
30 4.1.7 Vegetasi Palma
Palma merupakan salah satu komponen penyusun vegetasi hutan di
antara tumbuhan yang hidup di TNGP. Vegetasi palma adalah tumbuhan yang
tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang
sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi
dalam banyak anak daun. Palma (Arecaceae) biasanya berbentuk pohon,
semak atau perdu dengan batang yang jarang bercabang dan tumbuh tegak ke
atas. Tumbuh secara berbatang tunggal (umpamanya kelapa) dan juga ada
yang berumpun (umpamanya salak). Beberapa anggotanya setengah
merambat atau memanjat (umpamanya rotan). Akar palem biasanya
menghunjam dalam ke tanah, sehingga mampu menopang batang yang
tumbuh menjulang tinggi (hingga 20 m atau bahkan lebih).
Ukuran petak yang digunakan untuk pengukuran palma dalam analisis
vegetasi adalah 5 x 5 meter. Hasil analisis kuantitatif sebagaimana yang tersaji
pada Tabel 7 menunjukkan bahwa hanya ditemukan dua spesies yaitu D. rubra
(rotan setan) dan P. conorata (palem bombing) dengan total kerapatan sebesar
400 batang/hektar. Spesies D. rubra (rotan setan) adalah spesies yang
mendominasi kawasan HM 5 – TNGP yang terbukti dari INP yang tertinggi 146,67 %.
Tabel 7. Hasil Analisis Kuantitatif Vegetasi Palmae di HM 5 TNGGP
Jenis Nama lokal n K KR F FR INP
Secara keseluruhan data-data yang dihasilkan untuk masing-masing
tingkatan vegetasi tersebut menunjukkan komposisi dan struktur tumbuhan
yang nilainya bervariasi pada setiap jenis, karena adanya perbedaan dari
31 dipengaruhi oleh vertilitas dan fekunditas yang berbeda pada setiap spesies,
sehingga terdapat perbedaan struktur dan komposisi masing-masing spesies.
Menurut Kimmins (1987) variasi struktur dan komposisi tumbuhan dalam suatu
komunitas dipengaruhi antara lain oleh fenologi, dispersal, dan natalitas.
Spesies yang mampu mendominasi suatu kawasan merupakan spesies yang
memiliki tingkat kelimpahan populasi yang tinggi dan mempunyai persebaran
merata di seluruh areal lokasi pengamatan.
Altingia excelsa merupakan spesies yang memiliki nilai INP tertinggi pada
tingkat pohon sehingga menunjukkan bahwa spesies ini dapat beradaptasi
dengan baik terhadap lingkungannya di HM 5 TNGP. Namun untuk tingkat
permudaannya yaitu tingkat pancang dan semai, tidak ditemukan spesies
Altingia excelsa di semua plot yang diamati. Kondisi tersebut kemungkinan
berkaitan dengan karakteristik spesies Altingia excelsa yang akan tumbuh
pada tempat yang terkena sinar matahari langsung. Pada tingkat semai,
spesies yang menduduki urutan INP teratas adalah Ficus ribes sehingga
spesies tersebut di masa yang akan datang dapat menjadi bagian dari tingkat
vegetasi yang lebih tinggi yaitu tingkat tiang dan pohon.
4.2 Indeks Diversitas Jenis
Indeks diversitas jenis merupakan gambaran tingkat keanekaragaman
jenis di dalam suatu komunitas. Hasil analisis kuantitatif Indeks Diversitas
Shanon dan Indeks Diversitas Shanon-Wiener pada berbagai tingkat vegetasi
di HM 5 TNGP disajikan dalam Tabel 8.
Hasil perhitungan Indeks Diversitas (Gambar 8) menunjukkan bahwa dari
tujuh tingkat vegetasi yang diamati, vegetasi tingkat semai adalah jenis vegetasi
yang memiliki keanekaragaman paling tinggi dengan nilai Indeks Diversitas
Shanon sebesar 3,13 dan Indeks Diversitas Shanon-Wiener sebesar 3,03.
Sedangkan vegetasi palem adalah tingkat vegetasi yang memiliki
keanekaragaman terendah yaitu 0,58 untuk Indeks Diversitas Shanon dan 0,50
untuk Indeks Diversitas Shanon-Wiener. Perbedaan ini disebabkan oleh
perbedaan parameter yang digunakan untuk menentukan indeks diversitas atau
32 keanekaragaman diperhitungkan melalui parameter INP, sedangkan pada
Indeks Diversitas Shanon-Wiener digunakan parameter jumlah individu atau
kerapatan.
Gambar 8. Indeks Diversitas Shanon dan Indeks Shanon-Wiener di HM 5 - TNGP.
Berdasarkan kriteria diversitas (Barbour et al., 1987), maka vegetasi
tingkat semai yang terdapat di HM 5-TNGP menunjukkan tingkat keanekaragaman yang tinggi (H’>3). Keanekaragaman spesies untuk vegetasi tingkat pohon, tiang, pancang, semak-herba dan paku-pakuan yang ada di HM
5-TNGP termasuk kategori sedang (H’ = 1-3), sedangkan vegetasi palem memiliki tingkat keanekaragaman rendah (H’<1). Tingginya keanekaragaman spesies untuk tingkat semai juga dapat dilihat dari jumlah spesies yang relatif
lebih banyak (26 spesies) dibandingkan dengan tingkat pohon (16 spesies),
tiang (13 spesies), pancang (20 spesies), semak dan herba (15 spesies),
paku-pakuan (6 spesies) dan palmae (2 spesies).
Secara keseluruhan nilai indeks diversitas tersebut menggambarkan
kekayaan spesies untuk masing-masing tingkatan vegetasi yang berada pada
HM 5-TNGP. Semakin besar keanekaragaman suatu komunitas maka semakin
besar kompleksitas komunitas tersebut, karena dalam komunitas tersebut
33 merupakan cerminan dari stabilnya suatu komunitas, artinya setiap spesies
atau bahkan individu telah memiliki tempat tersendiri dalam habitatnya (niche),
sehingga jika terdapat gangguan sekecil apapun akan menyebabkan
34
BAB V
KESIMPULAN
1. Kerapatan populasi semua spesies untuk masing-masing tingkatan vegetasi adalah 135 pohon/hektar; 340 tiang/hektar; 25.000 semai/hektar; 120.000 individu semak herba/hektar; 18.500 individu paku-pakuan/hektar; 4.000 batang palma/hektar.
2. Dominansi semua spesies pada areal HM 5-TNGP untuk tingkat pohon sebesar 25 m2/hektar; dan untuk tingkat tiang sebesar 7,19 m2/hektar.
3. Spesies yang dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya sehingga mampu mendominasi kawasan HM 5 TNGP adalah Altingia excelsa (INP= 82,4 %) untuk tingkat pohon; Ficus variegata (INP = 43,91 %) dan Schima walichi (INP = 39,38 %) untuk tingkat tiang; Hedyotis diggusa (INP = 25,23 %) untuk tingkat pancang; Ficus ribes (INP = 22,82 %) untuk tingkat semai; Elafostema strigosum (INP = 60,4 %) untuk semak herba; Cyathea latebrosa (INP = 93,02 %) untuk vegetasi paku-pakuan; dan Daemonorops rubra (INP = 146,67 %) untuk vegetasi palma.
DAFTAR PUSTAKA
Barbour, M. G., J.H. Burk., and W.P. Pitts. 1987. Terrestrial Plant Ecology. The Benjamin/Cumming Publishing Company Ins, California.
Greig-Smith P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Blackwell Scientific Publications. Oxford.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Cetakan Pertama. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. MacMillan Publishing Company, New York.
Krebs, C.J. 1989. Ecological Methodology. Harper Collins Publisher, Inc. New York.
Kusmana C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Penerbit Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Mulyana, M., T.Hardjanto dan G.Hardiansyah. 2005. Membangun Hutan Tanaman. Meranti. Membedah Mitos Kegagalan Melanggengkan Tradisi Pengusahaan Hutan. Wana Aksara Serpong Tangerang.
MacKinnon., et al . 1990. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika (Terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Soerianegara dan Indrawan. 2013. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sundarapandian, SM. and P.S. Swamy. 2000. Forest ecosystem structure and composition along an altitudinal gradient in the Western Ghats, South India. Journal of Tropical Forest Science 12 (1):104-123.
Lampiran 3. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Pancang di HM 5- TNGP.
Alaeocarpus ganitrus ganitri 1 1
Ardisia marginata BL ki ajag 1 1 2
Turpenia montana BL ki bancet 1 1
Dichroa sylvanica Reinw. kicarang 1 1
Solanum verbascifolium L ki jogo/teter 3 2 5
Macaranga rehizinoides manggong 1 1
Villebrunea rubescens nangsi 1 1 1 3
Trevesia sundaica panggang
cucuk 3 2 5
Lithocarpus elegans (BL)
Horsus pasang batu 1 2 3
Castanopsis acuminatissima riung anak 1 1 Schefflera lutescens (BL) romo giling 1 1 Pygeum latifolium Mig. salam hutan 1 1 2
Captanopsis tunggurut tunggereuk 1 1
Talauma condollei tunjung 2 2
Lampiran 5. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Semak Herba di HM 5-TNGP
1 Eupatorium sordidum Babakoan besar 40 40 2 Eupatorium riparium Babakoan kecil 4 5 3 12
verbascifolium L teter/kijogo 15 15
15 Hedychium roxburghii tongkat kecil 4 2 6
Total 43 27 49 62 59 240
Lampiran 6. Hasil Pengamatan Vegetasi Tingkat Paku-Pakuan di HM 5-TNGP
LAMPIRAN 7.
FOTO DOKUMENTASI PRAKTIKUM ANALISA VEGETASI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
MINGGU, 16 DESEMBER 2013 (Kameramen : Aris Dwi Cahyanto)
Foto 1. Film Dokumenter Taman Nasional Gunung Gede Pangrago
Foto 3. Denah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Foto 5. Di Depan Kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (duduk dari ki – ka : Alfian, Aris DC, Eka, berdiri dari ki – ka : Jerry, Eko, Entin, Nia, Rismun, Endang,
Hengky)
Foto 7. Briefing (rapat kilat di dalam hutan)
Foto 9. Mengukur Panjang Plot
Foto 11. Di Plot 1
Foto 12. Romi (Assisten Analisa Vegetasi)
Foto 14. Pak Eko menggunakan kompas untuk membuat plot
Foto 16. Bu Nia di Plot 4
Foto 18. Pak Eko dan Mas Romi membuat dan mengukur plot
Foto 19. Vegetasi 1 dan 2
Foto 21. Vegetasi 5 dan 6
Foto 23. Vegetasi 9 dan 10