LAPORAN PRAKTIKUM
BIOEKOLOGI DAN MANAJEMEN GULMA
” ANALISIS VEGETASI”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Bioekologi dan Manajemen Gulma
Disusun oleh : Nama : Ayu julyany NIM : 4442200111 Kelas : I
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2023
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL... ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gulma ... 3
2.2 Analisis Vegetasi ... 3
2.3 Metode Kuadrat ... 4
2.4 Pengelolaan Gulma ... 5
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Tempat dan Waktu... 6
3.2 Alat dan Bahan ... 6
3.3 Cara Kerja ... 6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan ... 7
4.2 Pembahasan ... 8
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 10
5.2 Saran ... 10
DAFTAR PUSTAKA ... 11 LAMPIRAN
ii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perhitungan Analisis Vegetasi dengan Metode Kuadrat 7
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia memiliki tanah yang subur dikarenakan banyak mendapatkan sinar matahari dan juga curah hujannya yang tinggi. Hasil pertanian di Indonesia bermacam-macam mulai dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Beberapa hasil sektor pertanian yaitu terdiri dari padi, ketela, ubi, kentang, sayuran, kacang-kacangan dan sebagainya. Pada suatu lahan pertanian tanaman budidaya biasanya terdapat tanaman tumbuh dimana tanaman tersebut merupakan tanaman yang berbeda dari tanaman yang dibudidaya tanaman tersebut dapat disebut gulma. Gulma merupakan bagian dari organisme pengganggu tanaman (OPT) selain hama dan penyakit tanaman (Asyik dkk, 2019).
Gulma adalah tanaman yang tumbuh di tempat yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan, seperti pada tanaman budidaya atau area yang dibiarkan kosong. Gulma dapat merugikan pertanian karena bersaing dengan tanaman budidaya untuk sumber daya seperti air, nutrisi, dan cahaya. Selain itu, gulma juga dapat berfungsi sebagai inang bagi hama dan penyakit tanaman, sehingga dapat menyebabkan kerugian yang signifikan pada hasil panen (Ningsih dan Sulistyaningsih, 2020).
Analisis gulma adalah suatu proses untuk mengamati, mengidentifikasi, dan mengevaluasi jenis, jumlah, dan distribusi gulma dalam suatu lahan atau area tertentu.
Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi yang akurat tentang jenis gulma yang tumbuh, tingkat keparahan serangan gulma, dan dampaknya terhadap tanaman budidaya atau lingkungan sekitarnya. Analisis gulma sangat penting dalam upaya pengendalian gulma yang efektif dan efisien (Widiantoro, dkk, 2022).
Maka dari itu, praktikum dilakukan ntuk mengetahui populasi gulma pada petakan yang sudah ditentukan di Lahan Karangkitri. Analisis vegetasi gulma digunakan untuk mengetahui gulma yang dominan pada lahan petakan tersebut.
2 1.2 Tujuan
Adapun tujuan pada praktikum kali ini, yaitu:
1. Untuk memperoleh gambaran secara langsung mengenai hubungan di dalam penyebaran pertumbuhan gulma pada suatu lahan.
2. Untuk memperoleh gambaran jenis gulma utama yang harus dikendalikan.
3. Untuk menentukan cara pengendalian gulma yang efektif dan efisien pada lahan pengamatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gulma
Keberadaan gulma pada suara areal ditentukan oleh berbagai faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal (lingkungan) yang tidak menunjang bagi kehadiran dan perkembangan jenis gulma tersebut. Faktor eksternal yang memengaruhi termasuk suhu, kelembapan, curah hujan, kadar gas seperti O2 dan CO2, cahaya, dan air. Di sisi lain, faktor internal seperti resistensi mekanik pada kulit biji, embrio yang belum matang, serta pematangan juga memainkan peran penting dalam reproduksi gulma.
Keberadaan gulma di sekitar tanaman utama dapat menghambat proses-proses fisiologis seperti pembelahan sel, respirasi, penutupan stomata, dan sintesis protein.
Selain itu, gulma juga dapat menghasilkan senyawa racun yang disebut alelopati (Kholifa et al, 2018).
Gulma adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya, tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok (tanaman yang sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang tidak diinginkan oleh si penanam sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman lain yang ada di dekat atau disekitar tanaman pokok (Solfiyen, 2013).
2.2 Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi ialah suatu cara untuk mempelajari susunan dan komposisi vegetasi secara bentuk ataupun struktur vegetasi dari beberapa jenis gulma. Analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif mengenai struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan ataupun gulma. Analisis vegetasi yang dihitung yaitu kerapatan relatif, kerapatan mutlak, frekuensi relatif, frekuensi mutlak, dominansi relatif, dominansi mutlak dan indeks nilai penting. Vegetasi gulma ini adalah kumpulan gulma, biasanya terdiri dari beberapa jenis gulma yang hidup Bersamasama pada suatu tempat. Mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik itu diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri ataupun dengan organisme
4
lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi ini diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dan penyusun komunitas hutan tersebut, dengan analisis vegetasi ini dapat diperoleh informasi kuantitatif mengenai struktur dan komposisi dari suatu komunitas tumbuhan atau gulma (Sari et al., 2018).
Dalam mengerjakan analisis vegetasi terdaoat dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu nilai ekonomi dan nilai hayati (biologi). Nilai ekonomi suatu vegetasi dapat diketahui dari potensi vegetasi tersebut yang akan menghasilkan nilai ekonomi (devisa) dari tumbuh-tumbuhan dalam bentuk pohon atau tanaman yang dapat menghasilkan getah (karet) atau kayu. Sedangkan nilai biologi suatu vegetasi dapat dikaji dari peran dan fungsi ekologinya, sebagai contoh vegetasi hutan yang berperan sebagai habitat, sumber pakan bagi makhluk hidup, niche atau relung ekologi, pengatur iklim, pengatur tata guna tanah dan konservasi air, ataupun sebagai indicator ekologi untuk unsur tanah, keasaman atau pencemaran lingkungan (Yuliana et al., 2020).
2.3 Metode Kuadrat
Metode kuadrat adalah metode yang menganalisis vegetasi dengan pengamatan pada petak contoh yang luasnya di ukur dalam satuan kuadrat. Bentuk dari petak contoh dapat berupa persegi panjang, persegi empat maupun lingkaran. Lazimnya petak yang banyak dipakai oeleh para peneliti adalah metode kuadrat persegi empat (Pangabean, 2022).
Metode kuadrat sangat cocok digunakan dalam menganalisis vegetasi pada suatu canpuran gulma yang rapat dan tidak jelas batasnya. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan destruktif dan nondestruktif. Pengamatan destruktif merupakan pengamatan dengan cara mencabut, memotong gulma dan diamati jumlah serta berat biomassanya.
Sedangkan pada pengamatan nondestruktif merupakan pengamatan dengan cara menghitung jumlah dari masing jenis-jenis gulma yang ada ditempat pengamatan. Data hasil pengamatan berupa parameter, frekuensi dan dominansi (Pangabean, 2022).
2.4 Pengelolaan Gulma
Gulma ialah tumbuhan yang dapat tumbuh ditempat yang tidak dikehendaki oleh anusia atau tumbuhan yang kegunaannya belum diketahui. Hadirnya gulma pada suatu lahan pada dasarnya dapat menurunkan produksi. Hal ini dikarenakan gulma melakukan kompetisi dengan tanaman budidaya dalam memperebutkan air tanah, cahaya matahari, unsur hara, udara dan ruang tumbuh. Hal ini mengakibatkan tanaman budidaya terganggu pertumbuhannya, sehingga dapat menurunkan hasil produksi.
Selain itu juga, gulma juga dapat menurunkan mutu hasil tanaman akibat dari kontaminasi dengan bagian-bagian gulma. Gulma juga dapat menjadi inang bagi hama dan pathogen yang menyerang tanaman, mengganggu tata guna air, mengeluarkan senyawa alelopati yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan biaya usaha tani. Keberadaan gulma banyak menimbulkan dampak negatif pada usaha budidaya. Maka dari itu perlu adanya pengelolaan gulma yang teratur dan terencana (Nufvitarini et al., 2016).
Pengelolaan gulma adalah suatu tindakan pencegahan terhadap gulma, pengendalian gulma dengan cara yang sudah ditetapkan. Pengelolaan gulma yang dilakukan harus tepat agar tidak meningkatkan daya saing gulma. Pengelolaan gulma ini pada prinsipnya merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman budidaya dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman budidaya harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman budidaya (Nufvitarini et al., 2016).
6 BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 04 Mei 2023 pukul 13.00- 14.40 WIB. Bertempat di Kebun Percobaan Fakultas Petanian Jurusan Agroekoteknologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini, yaitu amplop coklat, gunting, tali rafia 50 cm x 50 cm, kayu patok/bambu 30 cm, alat dokumentasi, dan ATK. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu populasi gulma di lahan petakan.
3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum ini, yaitu :
1. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pengamatan analisis vegetasi gulma.
2. Dicari dan diamati vegetasi gulma yang berkriteria rapat.
3. Dipasang tali rafia dan frame berbentuk bujur sangkar pada vegetasi gulma yang ditemukan.
4. Dicabut gulma yang berada dalam frame, lalu dipisahkan setiap jenis gulmanya.
5. Dimasukkan gulma yang sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya ke dalam amplop coklat.
6. Dioven gulma selama 24 jam, setelah itu ditimbang berat keringnya.
7. Dicatat hasilnya dan dibuat laporan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Perhitungan Analisis Vegetasi dengan Metode Kuadrat
Nama Gulma Kerapatan Dominansi
KM KN DM DN FM FN NP SDR
1 2 3 1 2 3
Digitaria sanguinis 24 0 0 4,8 0 0 24 0,144 4,8 0,2 1 0,06 0,404 0,135 Salvia elegans vahl 2 0 0 0,62 0 0 2 0,012 0,62 0,026 1 0,06 0,098 0,033 Euphorbia nutans 3 0 0 0,08 0 0 3 0,018 0,08 0,003 1 0,06 0,081 0,027 Ballota nigra 32 0 0 0,4 0 0 32 0,193 0,4 0,017 1 0,06 0,27 0,09 Gomphrena serrata 21 0 3 2,33 0 0,25 24 0,144 2,58 0,109 2 0,12 0,373 0,124
Ageratum 0 1 30 0 0,53 1,51 31 0,187 2,04 0,086 2 0,12 0,393 0,131 Mimosa pudica 0 3 0 0 1,37 0 3 0,018 1,37 0,058 1 0,06 0,136 0,045 Galactica 0 2 0 0 2,41 0 2 0,012 2,41 0,102 1 0,06 0,174 0,058 Spodiopogon 0 7 0 0 0,83 0 7 0,042 0,83 0,035 1 0,06 0,137 0,045 Paspalum conjugatum 0 4 0 0 0,53 0 4 0,024 0,53 0,022 1 0,06 0,106 0,035 Cyperus rotundus 0 0 5 0 0 2,9 5 0,03 2,9 0,123 1 0,06 0,213 0,071 Asystasia gangetica 0 0 8 0 0 2,83 8 0,048 2,83 0,119 1 0,06 0,227 0,076 Cynodon dactylon 0 0 12 0 0 1,25 12 0,072 1,25 0,053 1 0,06 0,185 0,062
Euphorbia
heterophylla 0 0 9 0 0 0,96 9 0,054 0,96 0,04 1 0,06 0,154 0,051 Total 82 17 67 8,23 5,67 9,7 166 0,998 23,6 0,993 16 0.96 2,951 1,813
8 4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini membahas mengenai analisis vegetasi yang bertujuan untuk memperoleh gambaran secara langsung mengenai hubungan di dalam penyebaran pertumbuhan gulma pada suatu lahan, memperoleh gambaran jenis gulma utama yang harus dikendalikan, serta menentukan cara pengendalian gulma yang efektif dan efisien pada lahan pengamatan. Analisis vegetasi adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi dari tanaman. Hal ini juga sesuai dengan yang dijelaskan oleh Sari et al (2018) bahwa Analisis vegetasi ialah suatu cara untuk mempelajari susunan dan komposisi vegetasi secara bentuk ataupun struktur vegetasi dari beberapa jenis gulma. Analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif mengenai struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan ataupun gulma. Analisis vegetasi yang dihitung yaitu kerapatan relatif, kerapatan mutlak, frekuensi relatif, frekuensi mutlak, dominansi relatif, dominansi mutlak dan indeks nilai penting.
Metode analisis vegetasi yang digunakan pada praktikum kali ini adalah dengan metode kuadrat, yang dimana metode ini membuat suatu alat dengan diameter kuadrat yang telah ditentukan ukurannya dan dilakukan analisis pada tanaman yang terperangkap pada kuadrat tersebut, metode ini biasanya digunakan pada tempat yang kerapatannya sangat padat, pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Pangabean (2020) yang menyatakan bahwa metode kuadrat adalah metode yang menganalisis vegetasi dengan pengamatan pada petak contoh yang luasnya di ukur dalam satuan kuadrat. Bentuk dari petak contoh dapat berupa persegi panjang, persegi empat, Metode kuadrat sangat cocok digunakan dalam menganalisis vegetasi pada suatu canpuran gulma yang rapat dan tidak jelas batasnya.
Berdasarkan hasil analisis vegetasi gulma pada kebun percobaan karang kitri dapat dilihat pada Tabel 1. Pada Tabel 1. Merupakan hasil data yang diperoleh dari beberapa data kelompok yaitu kelompok 1, 2, dan 3. Dapat diketahui bahwa pada kebun percobaan karang kitri terdapat 14 jenis gulma dengan gulma yang termasuk ke dalam gulma dengan golongan rumput, teki dan daun lebar. Gulma yang ditemukan pada lahan yaitu Digitaria sanguinis, Salvia elegans vahl, Euphorbia nutans, Ballota nigra, Gomphrena serrata, Ageratum, Mimosa pudica, Galactica, Spodiopogon, Paspalum
conjugatum, Cyperus rotundus, Asystasia gangetica, Cynodon dactylon, dan Euphorbia heterophylla.
Pada Tabel 1. disajikan nilai kerapatan mutlak (KM), kerapatan nisbi (KN), dominansi mutlak (DM), frekuensi mutlak (FM), frekuensi nisbi (FN), nili penting (NP) dan SDR. Nilai tersebut merupakan nilai yang dapat dihitung dengan metode kuadrat. Dari hasil perhitungan yang yang telah dilakukan diketahui nilai SDR tertinggi yaitu terdapat pada gulma spesies Digitaria sanguinis yaitu (0,135%) sedangkan gulma yang memiliki nilai SDR terendah yaitu gulma Euphorbia nutans dengan nilai (0,027%). Dari hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa spesies Euphorbia nutans dan Digitaria sanguinis merupakan gulma yang paling dominan diantara gulma jenis lainnya.
Gulma yang tumbuh pada lahan yang telah dilakukan analisis vegetasi s berbeda- beda baik pada satu tempat maupun pada tempat lainnya baik pada jenis perkebunan yang sama maupun berbeda. Hal tersebut diperkuat oleh Sastroutomo (1990) menjelaskan bahwa komunitas gulma berbeda-beda pada satu tempat dengan tempat lainnya baik pada jenis perkebunan yang sama maupun berbeda. Pada umumnya gulma akan beradaptasi pada keadaan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhannya. Selain itu, faktor lingkungan abiotik seperti suhu, kelembaban, dan faktor edafik pada juga mempengaruhi hal ini.
Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gulmagulma tersebut yaitu bisa dilakukan dengan cara mekanik, kimia ataupun bioherbisida atau secara alami atau hayati. Selanjutnya juga dalam mengendalikan gulma juga dapat dilakukan dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran atau pun dengan mulsa. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengendalikan gulma di antaranya yaitu biologi gulma, daur hidup, perkembangbiakan gulma, cara penyebaran gulma serta cara tumbuh gulma.
10 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di kebun percobaan karang kitri didapatkan gulma sebanyak 14 spesies yaitu: Digitaria sanguinis, Salvia elegans vahl, Euphorbia nutans, Ballota nigra, Gomphrena serrata, Ageratum, Mimosa pudica, Galactica, Spodiopogon, Paspalum conjugatum, Cyperus rotundus, Asystasia gangetica, Cynodon dactylon, dan Euphorbia heterophylla. Gulma-guma tersebut termasuk ke dalam gulma golongan rumput, teki dan daun lebar. Dari hasil analisis vegetasi yang telah dilakukan perhitungan dengan metode kuadrat diketahui bahwa gulma yang memiliki nilai SDR tertinggi ialah Digitaria sanguinis yaitu (0,135%) sedangkan gulma yang memiliki nilai SDR terendah yaitu gulma Euphorbia nutans dengan nilai (0,027%).
5.2 Saran
Pada praktikum pertama ini diharapkan kepada praktikan dapat memahami apa yang telah dipelajari tentang analisis vegetasi gulma. Dan juga praktikan dapat mengikuti praktikum lebih baik lagi dengan membaca modul praktikum yang telah dibagikan sebelum praktikum dimulai.
DAFTAR PUSTAKA
Asyik, N.A., Rosmawati., dan Jamdin, Z. 2019. Refugia Ditinjau Dari Konsep Gulma Pengganggu Dan Upaya Konservasi Musuh Alami. Jurnal Biology Science dan Education. 8 (1) : 82-89.
Kholifah, N., Syaifudin , A.E., dan Sofian. 2018. Respon Perkecambahan dan Pertumbuhan Gulma Rumput Jawan (Echinochloa cruss-galli) pada Pemberian Ekstrak Kirinyuh (Chromolaena odorata (L.) R.M. Kingand H.E. Rob. ). Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab. 1(1) : 67-76
Ningsih, T. R., dan Sulistyaningsih, E. 2020. Pengaruh Penggunaan Pupuk Kandang Ayam dan Herbisida Terhadap Pertumbuhan Gulma dan Tanaman Padi. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 25 (2) : 77-83.
Nufvitarini, W., Zaman, S., dan Junaedi, A. 2016. Pengelolaan Gulma Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Studi Kasus di Kalimantan Selatan. Agrohorti, 4 (1) : 29-36.
Panggabean, N.H., Khairani, M., dan Nuzalifa, Y.U. 2022.
Sari, N.D., dan Wijaya, F.E. 2018. Analisis Vegetasi Tumbuhan Dengan Metode Transek (Line Transect) di Kawasan Hutan Deudap Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Biotik, 6 (1) : 165-173.
Sastroutomo. 1990. Ekologi Gulma. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Solfiyeni, S., Chairul, C., dan Muharrami, R. 2013. Analisis Vegetasi Gulma Pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.) di Lahan Kering dan Lahan Sawah di Kabupaten Pasaman. Prosiding SEMIRATA 2013. 1(1)
Widiantoro, B. I., Rohmana, Y., dan Wati, R. 2022. Keanekaragaman Dan Komposisi Gulma di Lahan Pertanian Padi Sawah di Desa Sirnagalih Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 27 (1) : 28-36.
Yuliana, I.A., dan Ami, S.M. 2020. Analisis Vegetasi dan Potensi Pemanfaatan Gulma Lahan Persawahan. Jombang: LPPM Unwaha.
LAMPIRAN
Gambar 1. Membuat frame bujur sangkar
Gambar 2. Pengambilan gulma
Gambar 3. Pemisahan spesies gulma
Gambar 4. Dokumentasi kelompok
Gambar 5. Hasil pemisahan antar spesies
Gambar 6. Gulma dimasukkan pada map
Gambar 7. Berat kering gulma