• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODIFIKASI KERNEL PCA PADA KELASIFIKASI AROMA MULTIKELAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODIFIKASI KERNEL PCA PADA KELASIFIKASI AROMA MULTIKELAS"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MODIFIKASI KERNEL PCA

PADA KELASIFIKASI AROMA MULTIKELAS

Zuherman Rustam1,Benyamin Kusumoputro2, Belawati Widjaja3

1. Fakultas MIPA , Jurusan Matematika ,Universitas Indonesia 2. Fakultas Ilmu Komputer , Universitas Indonesia. 3. Laboratorium Komputasi Intelejensia , Universitas Indonesia

Abstrak

Masalah kelasifikasi aroma merupakan masalah yang tidak mudah untuk diselesaikan , karena data aroma memiliki karakteristik dan pola yang sangat unik. Beberapa pengujian telah dilakukan antara lain dengan menggunakan metode-metode yang berbasis pada Neural network , metode yang berbasis pafa Fuzzy-Neuro dan metode-metode yang berbasis pembelajaran statistika. Penggunaan PCA pada kelasifikasi aroma dapat dikatakan gagal, karena metode ini hanya dapat menyelesaikan masalah kelasifikasi untuk data yang linier. Untuk data nonlineir ,nonseparable dan terdiri dari multikelas , metode PCA perlu dimodifikasi. Pada makalah ini akan digunakan Kernel PCA yang telah dimodifikasi sehingga dapat digunakan untuk kelasifikasi aroma multikelas.

Kata Kunci : PCA , Kelasifikasi , Kernel.

PENDAHULUAN

Masalah pembelajaran adalah masalah pembentukan suatu fungsi berdasarkan data yang ada , se-demikian sehingga fungsi yang telah terbentuk dapat digunakan untuk me-naksir dengan tepat nilai dari fungsi tersebut untuk input data yang lain [Vapnik,1999]. Pada masalah kelas-ifikasi pola, salah satu metode yang menunjukkan kinerja yang cukup baik adalah Linear Discriminant Analysis (LDA) [Fukunaga,1990]. Metode ini berbasis pada metode statistika klasik Prinsip kerja dari metode ini adalah merubah masalah kelasifikasi menjadi masalah eigen-value.Tetapi metode ini menemui kesulitan untuk

me-nyelesaikan masalah kelasifikasi non-linier yaitu data tidak dapat dipisahkan dengan menggunakan bidang linier. Untuk mengatasi hal ini Vapnik , me-ngajukan konsep Structural Risk

Minimization. yang berbasis pada Statistical Learning Theory. Metode

yang ditemukan oleh Vapnik ini , me-rupakan titk awal munculnya metode-metode baru untuk menyelesaikan masalah kelasifikasi pola , salah satu diantaranya adalah Principal

Com-ponents Analysis (PCA) [Jollife,1996].

Karena kinerja PCA belum menunjuk-kan keoptimalannya pada kelasifikasi pola, salah satu penyebabnya adalah data yang akan dikelasifikan tidak dapat dipisahkan secara linier. Untuk

(2)

mengatasi hal ini maka muncul metode Kernel PCA (KPCA). Kernel PCA merupakan PCA yang di-applikasikan pada input data yang telah ditransformasikan ke ruang

feature. Namun sampai saat ini KFCA

baru berhasil untuk menyelesaikan masalah kelasifikasi biner. Pada makalah ini KPCA akan diperluas atau dimodifikasi sehingga dapat di-gunakan untuk menyelesaikan masa-lah kelasifikasi multikelas, khususnya pada kelasifikasi aroma. Untuk pem-bahasan selanjutnya metode ini di-singkat dengan nama MKPCA (Modifikasi KPCA).

Pada tahun terakhir ini , pengujian kelasifikasi aroma telah dilakukan dengan menggunakan beberapa metode antara lain : metode Pro-babilistik Neural Network (PNN) [Kusumoputro dan Herry , 2002 ; Jatmiko dan Kusumoputro, 2001a] , dengan Jaringan Neural Buatan [Jatmiko dan Kusumoputro , 2001b] , Kelasifikasi SVM [Rustam, Kusumoputro, 2003] dan Fuzzy-Neuro LVQ [Kusumoputro et al , 2002] .

Sistimatika penulisan makalah ini sebagai berikut , pada bagian kedua akan dibahas tentang dasar-dasar KPCA, pada bagian berikutnya akan dibahas tenetang KPCA Multikelas , pada bagian akhir akan diperlihatkan aplikasi KPCA multikelas pada masalah kelasifikasi aroma.

KERNEL PCA

Misalkan

x

i

R

n ,

m

i=1,2,.. merupakan input data. Matriks kovariansi untuk input data tersebut diruang

R

n adalah

=

=1 /

1

i

x

i

x

i

m

A

. Berdasarkan prinsip kerja dari PCA, untuk menyelesaikan masalah kelasifikasi pola sama artinya dengan menyelesaikan masalah

eigenvalue

Av

=

λ

v

. Matriks kovariansi umumnya tidak diketahui , untuk mendapatkan digunakan taksir-an berdasarktaksir-an input data. Hal ini dapat dilakukan jika input data terdiri dari dari satu kelas. Untuk masalah multikelas diperlukan struktur PCA yang lebih kompleks. Sedangkan untuk data nonliner dan nonseparable, PCA tidak dapat digunakan. Salah satu satu cara agar PCA dapat di-gunakan adalah dengan melakukan transformasi semua input data ruang

feature.

Misalkan

φ

:

R

n

F

fungsi yang memetakan semua input data

n

i

R

x

keruang feature F. Untuk setiap input data

x

i

R

n, berlaku

F

x

i

φ

(

)

. Berdasarkan transformasi ini , terlihat bahwa ruang feature

dibangun vektor-vektor )} ( ),..., ( ), ( {φ x1 φ x2 φ xm . Sehingga semua vektor di ruang feature dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier

dari vektor-vektor

)}

(

),...,

(

),

(

{

φ

x

1

φ

x

2

φ

x

m . Dengan de-mikian maka, matriks kovariansi di ruang feature untuk vektor

)}

(

),...,

(

),

(

{

φ

x

1

φ

x

2

φ

x

m dapat ditulis-kan sebagai: ) ( ) ( 1 1 j t j m j x x m C= ∑ φ φ = (1)

(3)

dan masalah eigen-value di ruang feature F dapat dinyatakan sebagai :

Cv

v

=

λ

(2) atau

Cv

x

v

x

k

),

(

k

),

(

=

φ

φ

λ

,

m

k

=

1

,

2

,..,

(3)

Karena semua vektor di ruang

feature F dapat dinyatakan sebagai

kom-binasi linier dari vektor-vektor

)}

(

),...,

(

),

(

{

φ

x

1

φ

x

2

φ

x

m , maka

eigenvektor , yang merupakan solusi dari masalah eigenvalue

λ

v

=

Cv

,

juga dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari vektor-vektor

)}

(

),...,

(

),

(

{

φ

x

1

φ

x

2

φ

x

m . Hal ini berarti, ada konstanta-kontanta

α

i dimana

i

=

1

,

2

,..

m

, sedemikian se-hingga

α

φ

=

= m i i

x

i

v

1

(

)

(4)

Dengan mensubstitusikan persamaan (1) dan (4) ke persamaan (3) akan dihasilkan persamaan :

)

(

)]

(

)

(

][

)

(

[

1

)

(

)

(

1 1 1 k t j t m j j m i i i m i k t i i

x

x

=

m

α

φ

x

∑ φ

x

φ

x

φ

x

α

φ

φ

λ

= = = , ,

m

k

=

1

,

2

,..,

(5) Misalkan

)

(

)

(

)

,

(

t j i ij j i

x

k

x

x

x

k

=

=

φ

φ

(6)

dan

K

=

[

k

ij

]

matriks ukuran mxm.

Jika pada persamaan (5) dilakukan pergantian semua suku dalam bentuk

)

(

)

(

t j i

x

x

φ

φ

dengan bentuk

k

ij ,

maka dapat dibuktikan bahwa per-samaan (5) akan menjadi perper-samaan (7):

α

α KK

mK =

λ (7) dimana

α

adalah vektor kolom dengan entry α1,α2,,αm.

Solusi dari persamaan (7) ini, dapat dihitung dengan cara menyelesaikan persamaan :

α

α K

m

λ

=

(8)

Misalkan

α

k adalah eigenvektor

ke-k dari masalah eigenvalue pada persamaan (7). Jika semua vektor

F

v

dilakukan normalisasi, yaitu harus memenuhi

v

t

v

=

1

, maka

dengan menggunakan persamaan (4), (6) dan (8) akan dihasilkan per-samaan (9):

=

α

α

φ

φ

=

= m j i j t i k j k i t

v

x

x

v

1 ,

)

(

)

(

)

=

λ

k k

=

1

k k t k

K

α

)

α

t (9)

Untuk mengekstraksi kompo-nen prinsipal, maka semua peta dari input vektor

z

,yaitu

φ

(z

)

, harus diproyeksikan ke vektor

v

yang telah dinormalisasi. Untuk menghitung pro-yeksi tersebut digunakan persamaan :

∑ α

=

φ

= m i i k i t

z

k

x

z

v

1

(

,

)

)

(

(10)

KERNEL PCA UNTUK MASALAH MULTIKELAS

(4)

Pada pembahasan diatas di-asumsikan input data terdiri dari dua kelas.Untuk masalah multikelas , for-mula dan persamaan yang telah di-bahas diatas perlu disesuaikan. Misal-kan X himpunan input data dan banyaknya input data adalah

m

buah. Himpunan input data

X

terdiri dari

n

buah kelas X1,X2,...,Xn , di-mana masing-masing kelas terdiri dari

l

n

buah elemen.

Misalkan

x

lkmenunjukkan elemen ke

k

dari kelas ke l. Fungsi

F Rn

φ: , memetakan semua

in-put data

x

lk

R

n ke ruang feature F. Berdasarkan hal ini,maka ruang

feature F untuk masalah multikelas

dibangun oleh kumpulan vektor-vektor

)}

(

{

φ

x

ij , dimana

i

=

1

,

2

,

n

,

dan . , 2 , 1 nl

j=  Sehingga semua vektor di

ruang feature F dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari vektor-vektor

{

φ

(

x

ij

)}

.

Untuk setiap pasang kelas

p

dan kelas

q

, fungsi kernel dinyatakan dalam bentuk : pq ij qj t pi qj pi

x

x

x

k

x

k

(

,

)

=

φ

(

)

φ

(

)

=

(

)

. Sedangkan matriks kernel

K

untuk multikelas dapat dinyatakan sebagai:

]

[

K

pq

K

=

, (11) dimana

K

pq

=

[(

k

ij

)

pq

]

, p

n

i

=

1

,

2

,...,

,

j

=

1

,

2

,...,

n

q

n

p

=

1

,

2

,...,

,

q

=

1

,

2

,...,

n

Untuk masalah multikelas, matriks kovariansi diruang feature adalah :

∑ φ

φ

=

φ

∑ φ

=

= = = n l lk t n k lk j t m j

x

j

x

m

x

x

m

C

l 1 1 1

(

)

(

)

1

)

(

)

(

1

(12) Sedangkan matriks antar kelas

adalah:

1

(

)

(

)

1 l t n l

n

l

x

l

x

m

B

=

∑ φ

φ

= ,(13) dimana :

(

)

1

(

)

1

∑ φ

=

φ

= l n l ll l l

x

n

x

.

Dengan telah terbentuknya matriks kovariansi dan matriks antar kelas , maka seperti halnya dengan LDA, untuk menyelesaikan masalah kelasifikasi pola adalah dengan me-maksimumkan inersia interkelas dan meminumkan inersia intrakelas. Proses pengoptimalan tersebut

eki-valen dengan mencari solusi dari masalah eigenvalue :

Bv

Cv

=

λ

(14)

Karena eigenvektor

v

, yang me-rupakan solusi dari persamaan (14), terletak di ruang feature F maka eigenvektor

v

dapat dinyatakan se-bagai kombinasi linier dari vektor-vektor

{

φ

(

x

ij

)}

.Dengan perkataan

lain ada konstanta-konstanta

α

pq ,

n

p

=

1

,

2

,...,

dan

q

=

1

,

2

,...,

n

sedemikian sehingga

(5)

∑ ∑

α

φ

=

= = n p n q pq pq p

x

v

1 1

(

)

(15)

Dengan melakukan substitusi persamaan-persamaan (12),(13) dan (15) ke persamaan (14) , maka masalah eigenvalue pada persamaan (14) dapat dituliskan sebagai :

α = α λKK KWK (16) atau

λ

K

α

=

WK

α

, (17) dimana

W

=

[

W

l

]

l=1,2,..n, matriks ) 1 ( l l diag n W = berukuran

n

l

xn

l, dan n p p

]

1,2,..,

[

α

=

=

α

, p n q pq p

=

[

α

]

=1,2,..,

α

,

Eigenvalue terbesar dari persamaan (16) dapat dihitung berdasarkan formula Fisher : α α α α = λ KK KWK / / (18) Misalkan matriks kernel K di-komposisi menjadi K =QDQ/ ,

di-mana Q adalah matriks orthogonal, vektor kolom dari Q merupakan

eigenvector dari matriks

K

, dan

D

adalah matriks diagonal dengan elemennya merupakan eigenvalue yang bersesuaian .

Jika matriks K =QDQ/

disub-stitusikan ke persamaan (18) akan di-dapatkan bentuk:

β

β

β

β

=

α

α

α

α

=

α

α

α

α

=

α

α

α

α

=

λ

/ / / / / / / / / / / / / / / / / / / /

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

WQ

Q

DQ

DQ

DQ

WQ

Q

DQ

DQ

Q

Q

DQ

DQ

WQ

Q

DQ

KK

KWK

, dimana

α

=

β

DQ

/ (19)

Selanjutnya jika persamaan (19) dan matriks

K

=

QDQ

/ disubstitusi-kan ke persamaan (17) , maka adisubstitusi-kan dihasilkan persamaan eigenvalue dalam bentuk :

β

=

λ β

Q

/

WQ

(20)

Dari persamaan (20) ini , dapat dihitung eigenvektor

β

. Selanjutnya untuk menghitung vektor

α

, diguna-kan persamaan (19) yang dapat di-nyatakan sebagai

β

=

α

QD

−/ (21)

Selanjutnya vektor

α

dinormali-sasi sedemikian sehingga

v

t

v

=

1

.

1

)

(

)

(

1 1 1 1 1 1

φ

=

∑ ∑

α

α

=

α

α

=

∑ ∑

∑ ∑

α

α

φ

=

= = = = = =

x

x

K

K

v

v

t l l p n p n l lk n p n q pq t lk pq n l n k t p l l (22) Persamaan (22) menyatakan bahwa

untuk menormalisasi vektor

v

, dapat dilakukan dengan cara membagi vektor

α

dengan

α

t

K

α

.

Dengan telah didapatkannya vektor

v

di F , maka untuk meng-ekstraksi komponen prinsipal, semua peta dari input vektor

z

, yaitu

φ

(z

)

, harus diproyeksikan ke vektor

v

.

(6)

Untuk menghitung proyeksi tersebut digunakan persamaan :

∑ ∑ α

=

φ

= = n p n q pq pq t

z

p

k

x

z

v

1 1

(

,

)

)

(

(23) EKSPERIMEN

Untuk mengetahui kinerja MKPCA, dilakukan pengujian dengan data aroma yang dimiliki oleh Laboratoium Kecerdasan Komputasi-onal Universitas Indonesia. Data aroma yang digunakan terdiri dari 3 jenis aroma A, B dan C , setiap jenis aroma terbagi atas 6 kelas. Pem-bagian setiap jenis aroma menjadi 6 kelas ini berdasarkan pada kon-sentrasi alkohol yang dicampurkan ke-dalam masing-masing aroma tersebut. Konsentrasi alkohol pada masing-masing aroma adalah 0%, 15%, 25%, 35%, 40% dan 70%. Sehingga total aroma yang akan diklasifikasikan ter-diri sebanyak 18 kelas. Untuk masing-masing kelas tersedia 200 data ber-dimesi 8. Jenis aroma selengkapnya dapat dilihat pada table.1. Banyaknya data training ,yang digunakan dalam setiap percobaan , adalah 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, dan 50% dari data yang ada dari setiap kelas. Sedangkan data yang tersisa , untuk setiap kelas, digunakan sebagai data testing.

Pengujian dibagi atas 3 tahap pe-ngujian :

1).

Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pengujian terhadap aroma A,B dan C, yang

masing-masing terdiri dari 6 kelas. Untuk masing-masing pengujian pada setiap jenis aroma , MKPCA akan mengkelasifikasikan aroma ber-dasarkan kelas yang ada di aroma tersebut.

2).

Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali yaitu untuk setiap pasang aroma yang berbeda AB, AC dan

BC, yang masing-masing

melibat-kan 12 kelas . Untuk setiap pe-ngujian akan dilihat kemampuan MKPCA untuk mengkelasifikasi-kan aroma berdasarmengkelasifikasi-kan jenis aroma dan kelas yang ada di aroma tersebut.

3).

Pengujian dilakukan sebanyak 1 kali yaitu semua data jenis aroma A,B, dan C dikumpulkan menjadi satu. Pengujian ini me-libatkan 3 jenis aroma dengan banyaknya kelas ada 18 buah. Pada pengujian ini akan dilihat kemampuan MKPCA untuk mengkelasifikasikan aroma ber-dasarkan jenis aroma dan kelas yang ada di aroma tersebut. Sehingga total pengujian yang di-lakukan sebanyak 7 kali.

Fungsi kernel yang digunakan dalam percobaan ini adalah kernel RBF dengan parameter sigma 2 dan Kernel Polinomial berderajat 4. Kinerja dari metode MKPCA diukur berdasar-kan kemampuan untuk mengklasi-fikasikan data pengujian pada kelas yang tepat. Hasil dari percobaan dapat dilihat pada tabel :

(7)

Tabel 1. Hasil dari percobaan

Persentase pengenalan data aroma Tahap Data Aroma Kernel Dengan menggunkan data training sebanyak :

Rata-rata 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 50% 1. A ( 6kelas) Polinomial 68,33 82,22 83,33 84,67 85,00 80,00 92,92 90,00 83,31 RBF 68,33 82,22 83,33 84,67 85,00 80,48 92,92 90,00 83,37 B ( 6kelas) Polinomial 85,00 85,56 91,67 92,67 96,11 93,81 97,92 97,33 92,51 RBF 85,00 85,56 91,67 92,67 96,67 94,76 98,33 98,00 92,83 C ( 6kelas) Polinomial 76,67 83,33 86,67 86,00 91,11 82,86 92,92 92,67 86,53 RBF 78,33 83,33 87,50 86,00 90,56 83,33 92,92 92,33 86,79 2. AB (12kelas) Polinomial 79,17 78,33 83,75 87,00 90,56 90,95 92,92 94,50 87,15 RBF 80,00 78,89 84,17 86,67 91,39 91,43 93,13 94,83 87,56 AC (12kelas) Polinomial 76,67 73,33 80,83 83,67 87,50 84,52 90,42 93,00 83,74 RBF 76,67 73,89 80,83 83,67 87,22 84,76 90,42 93,00 83,81 BC (12kelas) Polinomial 81,67 74,44 85,00 87,33 89,44 90,24 93,54 95,83 87,19 RBF 82,50 75,56 86,25 88,33 90,00 90,95 93,96 96,17 87,96 3. ABC (18kelas) Polinomial 72,78 77,04 81,11 89,78 88,15 88,73 87,50 91,00 84,51 RBF 73,89 77,41 81,67 89,78 88,33 88,73 87,36 91,22 84,80 PENUTUP

Berdasarkan hasil hasil percoba-an , MKPCA dengan menggunakan fungsi Kernel RBF akan memberikan hasil yang lebih

baik dibandingkan dengan

menggunakan fungsi Kernel

Polinomial. Disamping itu adanya ke-cendrungan memberikan hasil yang meningkat ,jika data training yang di-gunakan makin meningkat, hal ini ber-beda dengan kernel Polinomial yang memberikan hasil yang berfluktuasi. Berdasarkan banyaknya data training yang digunakan , MKPCA akan mem-berikan hasil yang sangat baik jika digunakan data training lebih dari 40% dari data yang tersedia.Pada

per-cobaan ini , parameter yang terdapat pada fungsi kernel, sudah dipilih yang optimal dari semua nilai yang mungkin dari parameter tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

B. Kusumoputro & Herry, 2002 . Kinerja PNN-Teroptimasi Ber-basis Algoritma Genetika Dalam Pengenalan Aroma Dua Campuran. Prosiding SNKK III. Jakarta.

B. Kusumoputro et al , 2002, Fuzzy-Neuro LFQ and its Comparison With Fuzzy Algorithm LFQ in Artificial Odor Discriminat System, ISA Transactions.

(8)

I.T. Jollife. 1986. Principal Component Analysis. Springer-Verlag. New York.

K. Fukunaga.1990. Introduction to statistical Pattern Recognition . Academic Press, Inc.

V.N. Vapnik .1999. The Nature of Statistical Learning Theory. Springer-Verlag. Berlin.

W.Jatmiko & B. Kusumoputro, 2001,

Pengenalan Aroma Campuran dengan PNN Pada Sistem Penciuman Elektronik,Jurnal Ilmu

Komputasi dan Teknologi Informasi,vol1:1,Jakarta.

_________. 2001. Karakteristik Sistem Penciuman Elektronik Dalam mengenal Aroma Campuran dan Aroma Kom-posisi Menggunakan Algoritma Jaringan Neural Buatan. vol 1:2. Jakarta.

Z.Rustam, B. Kusumopura, , B.Widjaya. 2003. Kelasifikasi Aroma Multikelas dengan Menggunakan SVM. Prosiding Seminar Nasional Intelejensia Komputasional dan Teknologi Informasi. 4 Agustus 2003. ITS. Surabaya.

Gambar

Tabel 1. Hasil dari percobaan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk memberikan solusi mengenai strategi yang digunakan pemerintah desa dalam meningkatkan pendapatan masyarakat melalui sektor

Pada transformator daya yang populer dan ekonomis dalam pemakaian pengubah sadapan berbeban adalah pengaturan pada belitan tegangan tinggi tiga fasa dan terhubung bintang

5) Eksternalisasi (externalizing), yaitu kecenderungan inidividu mengaitkan masalah-masalah yang dihadapi dengan semua tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Dengan

Hal ini dimaksudkan adalah untuk menghindari terjadi permasalahan hukum di kemudian hari (timbul sengketa). Apabila pembeli telah mengetahui bahwa tanah tersebut

Duvall dan Miller (1985), menambahkan bahwa salah satu faktor yang mendasari pemilihan pasangan adalah faktor homogamy , yakni kesesuaian dengan pasangan baik secara

Pengambilan data pasang dan surut menggunakan ADCP mobile untuk memperoleh nilai hambur balik dari kolom perairan dilakukan pada waktu yang berbeda,... Perjalanan

pada seorang remaja pelaku bullying, yang berlangsung dalam situasi alamiah dan tidak berusaha untuk memanipulasi hasil penelitian atau pun melakukan intervensi

Hasil pengujian hipotesis (H3) ditemukan bahwa variabel personal selling dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan nasabah tabungan Britama Bank