57
IMUNOLOGI
DASAR
Karnen Garna
Baratawidjaja,
Iris
RengganisPertahanan Fisik
Kulit,
selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin dapat mencegah berbagai kuman patogen masuk ke dalamtubuh.
Kulit
yang
rusakmisalnya oleh luka
bakar danselaput
lendir
yang rusakoleh
karena asaprokok
akan meningkatkan risiko infeksi.Pertahanan Larut
Pertahanan Biokimia.
Bahanyang
disekresi mukosa saluran napas,kelenjar
sebaseuskulit,
kelenjar
kulit,
telinga, spermin dalam
semen merupakan bahan yangberperan dalampertahanan tubuh. Asam
hidroklorik
dalamcairan lambung,
lisosim
dalam keringat,ludah, ait
matadan air susu dapatmelindungi tubuh terhadap kuman Gram
positif
denganjalan
menghancurkan
dinding
kuman
tersebut.
Air
susuibu
mengandungpula laktoferin
danasam
neuraminik yang mempunyai
sifat
antibakterial
terhadap E. coli dan stafilokok.Lisozim yang dilepas makrofag dapat menghancurkan
kuman
negatif-Gram
dengan
bantuan
komplemen.
Laktoferin dan transferin dalam serum dapat mengikat zat
besi yang dibutuhkan
untuk
hidup kuman pseudomonas(Gambar2).
Udara yang
kita
hirup,
kulit
dan saluran
cerna'mengandung banyak mikroba, biasanya berupa bakteri dan
virus,
kadangjamur
atauparasit.
Sekresi
kulit
yang bakterisidal, asam lambung, mukus dansilia di
salurannapas membantu menurunkan jumlah mikroba yang masuk
tubuh, sedang epitel yang sehat biasanya dapat mencegah
mikroba masuk ke dalam tubuh. Dalam darah dan sekresi
tubuh, enzim lisosom membunuh banyak bakteri dengan mengubah dinding selnya. IgA juga merupakanpertahanan permukaanmukosa.
Pertahanan
Humoral
Komplemen.
Komplemen
mengaktifkan fagosit
danPENDAHULUAN
Imunologi dasar pada tulisan berikut
ini
diuraikan dalam 3 bab,yaitu
sistemilmun,
antigen dan antibodi, dan reaksihipersensitivitas.
SISTEM IMUN
Keutuhan
tubuh
dipertahankanoleh
sistem pertahanan yangterdiri
atas sistem imun nonspesifrk (natural/innate) danspesifik
(adaptive/acquired). Komponen-komponensistem
imun nonspesifik
dan
spesifik terlihat
dalamGambarl.
Gambar 1. Sistem lmun. NK= Natural Kller; Tdlh = T delayed
type hypersensitivity;
CTLtfc
=
Cytotoxic T Lymphocyte/T cytotoxic-/ T cytolytic; Ts = T supresor; Tr =
I
regulatorSISTEM IMUN NONSPESIFIK
Sistem
imun
nonspesifik
merupakan pertahanan tubuhterdepan
dalam
menghadapi serangan
berbagai
mikroorganisme, karena sistem imun spesifft memerlukanwaktu sebelum memberikan responsnya. Sistem tersebut
disebut nonspesifik, karena
tidak ditujukan
terhadapmikroorganisme tertentu.
368
ALERGIIMUNOI.OGIOrganisme penyebab infeksi
Udara ..:- ''- =.
Virus 4., Bak teri Jamur
Makanan dan air' ---Viru s Bak teri Jamur Protozoa C ac ing Kulit &- - -- --Bakleri Jamur Proiozo a Cacing lJsus ,r-- '- ----Viru s Bakteri Protozoa C ac ing Pe ptid a
a nliba kte ria I
..-
- -* lJrine pH asam
Pertahanan
..-", Mata dan Dara
Lis oz im lgA - .1 Saluran napas mu kus silia -"r Kulit Asam Lemak
Gambar 2. Pertahanan eksternal tubuh
membantu
destruksi
bakteri
danparasit
denganjalan
opsonisasi
(Gambar
3).l.
Komplemen dapat menghancurkan sel membran banyak bakteri (C8-9)2.
Komplemen dapat berfungsi sebagai faktor kemotaktikyang mengerahkan makrofag ke tempat bakteri (C5-6-7)
3.
Komplemen dapat diikat pada permukaan bakteri yang memudahkan makrofag untuk mengenal (opsonisasi)dan memakannya (C3b, C4b).
Kejadian-kejadian tersebut di atas adalah fungsi sistem imun nonspesifft, tetapi dapat pula te{adi atas pengaruh respons imun spesifik.
Interferon. Interferon
adalah suatuglikoprotein
yangdihasilkan berbagai sel
manusia
yang
mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadapinfeksi
vi-rus. Interferon mempunyai sifat antivirus
denganjalan
menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus
tersebut.
Di
samping
itu,
interferon
dapat pula
mengaktifkan natural
killer
cel// selNK
untuk membunuhvirus dan sel neoplasma
(Gambar
4).Sel
NK
membunuh selterinfeksi
virus
intraselular,sehingga dapat menyingkirkan reservoir infeksi.
Sel
NK
memberikan
respons terhadaplL-12
yang
diproduksi makrofag dan melepas IFN-yyang mengaktifl<anmakrofag
untuk
membunuh mikroba yang
sudahdimakannya.
C-Reactive
Protein
(CRP).
CRP dibentuk tubuh padainfeksi.
Peranannyaialah
sebagaiopsonin dan
dapat mengaktifkan komplemen (Gambar 5).Gambar 5. C-Reactive Profern (CRP)
Pertahanan Selular
Fagositimakrofag, sel
NK
dan sel sistem imun nonspesifik selular.Fagosit. Meskipun berbagai
selmelakukan fagositosis, sel
utamamast berperun dalam
dalam
tubuh
dapatyang
berperan pada Gambar 4. Fungsi sel NK369
pertahanan nonspesifik adalah sel mononuklear (monosit
dan makrofag) serta sel polimorfonuklear seperti neutrofil.
Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietik yang sama.
Fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman, akan dapat mencegah
timbulnya
penyakit. Proses fagositosisterjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut: kemotaksis, menangkap, membunuh dan mencerna.
Naturst
Killer
ceZ (sel NIQ. SelNK
adalah sel limfosit tanpaciri-ciri sel limfoid sistem imun spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi. Oleh karena itu disebutjuga sel non B non T atau
sel populasi
ke
tiga
atannull cell. Morfologis,
selNK
merupakanlimfosit
dengan granul besar, oleh karenaitu
disebut jugaZ arge Granular Ll,mphocyte/I-Gl. Sel NK dapat
menghancurkan sel yang
mengandungvirus
atau
selneoplasma.
Interferon
mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik selNK.
Sel mast. Sel
zasl
berperan dalam reaksi alergi danjuga
dalam pertahanan pejamu yang jumlahnya menurun padasindrom imunodefisiensi.
Selmast
jtga
berperan padaimunitas terhadap parasit dalam usus dan terhadap invasi bakteri. Berbagai faktor nonimun seperti latihan jasmani, tekanan, trauma, panas dan dingin dapat pula mengaktifl<an dan menimbulkan degranulasi sel mast.
SISTEM
IIl/IUN
SPESIFIK
Berbeda dengan sistem
imun nonspesifik,
sistemimun
spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda
yang dianggap asing
bagi dirinya.
Benda asing
yangpertama
timbul
dalam badan yang segera dikenal sistemimun
spesifik,
akan mensensitasisel-sel sistem imun
tersebut.
Bila
sel sistem tersebut terpajanulang
dengan benda asing yang sama, yang akhir akan dikenal lebih cepatdan dihancurkannya. Oleh karena
itu
sistem
tersebut disebut spesifik.Sistem
imun spesifik
dapatbekerja sendiri untuk
menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi badaa, tetapi pada umumnya terj alin kerj a sama yang b aik antaraantibodi, komplemen, fagosit dan antara sel T-makrofag.
Komplemen
turut'diaktifkan
dan
ikut
berperan dalam menimbulkan inflamasi yang terjadi pada respons imun.Sistem lmun
Spesifik
Humoral
l.
Sistem imun spesifft humoral. Berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B. Sel Btersebut berasal dari sel asal multipoten dalam sumsum
tulang. Pada unggas sel asal tersebut berdiferensiasi
menjadi sel
B di
dalam alat yang disebut
Bursa
Fabricius
yang
letaknya dekat
cloaca.
Bila
sel
Bdirangsang benda asing, sel tersebut akan berproliferasi dan berdiferensiasi
menjadi
sel plasmayang
dapatmembentuk antibodi.
Antibodi
yang dilepas
dapat ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virusdan menetralisasi toksin.
2.
Sistem imrm spesifik sehrlar. Berperan dalam sistem imunspesifft
selular adalahlimfosit
T atau sel T. Fungsi selTumumnyaialah:
.
membantu sel B dalam memproduksi antibodi.
mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksivirus
.
mengaktifkan makrofag dalam fagositosis.
mengontrol ambang dankualitas sistem imunSel T
juga
dibentuk dalam
sumsumtulang,
tetapidiferensiasi dan proliferasinya terjadi dalam kelenjar timus
atas pengaruh berbagai faktor asal timus. Sembilan puluh
sampai sembilan
puluh lima
persen
semuasel timus
tersebut
mati
dan hanya 5-l0Yo menjadi matang
danmeninggalkan timus untuk masuk ke dalam sirkulasi dan
kelenjar getah bening. Fungsi utama sistem
imun
selularialah
pertahanan terhadap mikroorganismeyang
hidup intraselular sepertivirus, jamur,
parasit dan keganasan.Berbeda dengan
sel
B,
sel
T terdiri
atas beberapa selsubset
seperti sel
T
naif,
Thl,Th2,T
Delayed
TypeHypersensitivity
(Tdti),
Cytotoxic T Lymphocyte(CTL)
atau Tcytotixic
ataru Tcytolytic (Tc)
danT
supresor (Ts) atau T regulator(Tr).
Sel
T Naif (virgin).
SelT
naif
adalah sellimfosit
yarlgmeninggalkan timus, namun belum berdiferensiasi, belum pemahterpajan dengan antigen dan menunjukkan molekul permukaan CD45RA. Sel ditemukan dalam organ
limfoid
perifer.
SelT naif
yang
terpajan denganantigen
akanberkembang
menjadi
sel
ThOyang
selanjutnya
dapatberkembang menjadi sel efektor Th1 dan
Th2yatgdapat
dibedakan
atas
dasar
jenis-jenis
sitokin
yang
diproduksinya. Sel ThO memproduksi sitokin dari ke 2 jenissel tersebut seperti
IL-2, IFN
danIL-4.
Sel T CD4*
(Thl
dan Th2). Sel T naifCD4* masuk sirkulasi dan menetap di dalam organlimfoid
seperti kelenj ar getahbening untuk
bertahun-tahun sebelum terpajan denganantigen atau
mati.
Sel tersebut mengenal antigen yangdipresentasikan bersama molekul
MHC-II
oleh APC danberkembang
menjadi
subset
sel
Thl
atau sel Tdth
(Delayed Type
Hypersensitivity)
atau
Th2
yartg
tergantung
dari sitokin
lingkungan. Dalamkondisi
yangberbeda dapat
dibentuk
dua
subsetyang
berlawanan(GambarQ.
IFN-Ydan IL-12 yang diproduksiAPC seperti makrofag
dan sel
dendritik yang diaktifkan mikroba
merangsangdiferensiasi sel
CD4* menjadi
Thl/Tdth
yang
berperandalam reaksi hipersensitivitas lambat (reaksi
tipe 4 Gell
dan Coombs). Sel
Tdth
berperanuntuk
mengerahkan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat terjadinya370
ALERGIIMUNOI.OGI/t
V
a ktifkan Se Td M a krofag diaktifkan, sel dendritik I n? Sel Th2 Sel Th1Gambar 6. Diferensiasi Sel Naif CD4 Menjadi Th
l
dan Th2Atas pengaruh
sitokin
IL-4,IL-s,IL-10, L-13
yang dilepas selmastyangterpajan dengan antigen atau cacing,ThO berkembang menjadi sel Th2 yang merangsang sel B
untuk
meningkatkanproduksi
antibodi. Kebanyakan sel Th adalah CD4* yang mengenal arfigen yang dipresentasikandi
permukaan sel APC yang berhubungan dengan molekulMHC-tr.
Sel T CD8* (Cytotoxic T Lymphocyte
/
CTL
/
Tcytotoxic/Tcytolytic/
Tc/.
Sel T CD8*naif
yang keluar dari timusdisebut
juga
CTLlTc. Sel tersebut mengenal antigen yang dipresentasikan bersama molekulMHC-I
yang ditemukanpada semua sel tubuh yang bernukleus. Fungsi utamanya
ialah menyingkirkan sel yang
terinfeksi virus
dengan menghancurkan sel yang mengandung virus tersebut. SelCTL/To
akanjuga
menghancurkan sel
ganasdan
selhistoimkompatibel yang menimbulkan
penolakan pada transplantasi. Dalam keadaan tertentu,CTLITI
dapatjuga
menghancurkan sel yang
terinfeksi bakteri
intraselular.Istilah
sel
T
inducer
digunakan
untuk
menunjukkan
aktivitas sel Th dalam mengaktifkan sel subset T lainnya. Sel
Ts
(T
supresor)
atau
selTr
(T regulator).
Sel Ts (supresor)yang}uga
disebut selTr
(regulator) atau Th3berperan menekan aktivitas sel efektor T yang lain dan sel
B. Menurut fungsinya, sel Ts dapat dibagi menjadi sel Ts
spesifik
untuk
antigen tertentu
dan
sel
Tsnonspesifik.Tidak
ada petandaunik
pada selini,
tetapipenelitian
menemukan adanya petandamolekul CD8'.
Molekul CD4t
kadang dapat pula supresif.Kerja
sel T regulator diduga dapat mencegah responssel
Thl.
APC
yang mempresentasikan antigenke
sel Tnaif
akan
melepas
sitokin
lL-12
yang
merangsang diferensiasi selT naif
menjadi sel efektorThl.
SelThl
memproduksi IFN-y yang mengaktifl<an makrofag dalam fase efektor. Sel T regulator dapat mencegah aktivasi sel T
melalui
mekanisme
yang
belum jel,as
(kontak
yang
diperlukan
antarasel regulator dan sel
T
atau APC).Beberapa sel
T
regulator melepassitokin
imunosupresif sepertiIL-10
yang mencegahfungsi APC
dan aktivasi makrofag dan TGF-B yang mencegah proliferasi sel T dan aktivasi makrofag.ANTIGEN
DAN
ANTIBODI
Antigen
Antigen poten
alamiah terbanyak adalahprotein
besar denganberatmolekul lebih dari 40.000 dalton dankompleks polisakarida mikrobial. Glikolipid dan lipoprotein dapat jugaber-sifat imunogenik, tetapi tidak demikian halnya dengan
lipid
yang dimurnikan. Asam nukleat
dapatbertindak
sebagai imunogen dalam penyakit autoimun tertentu, tetapitidak dalam keadaan normal. PembagianAntigen
L
Pembagian antigen menurut epitopa.
Unideterminan, univalen. Hanya
satu
jenis
determinan/epitop pada satu molekul.b.
Unideterminan, multivalen. Hanya
satujenis
determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul.
c.
Multideterminan, univalen. Banyak epitop
yangbermacam-macam
tetapi hanya
satudari
setiap macamnya (kebanyakan protein).d.
Multideterminan, multivalen. Banyak
maCam determinan dan banyak dari setiap macam pada satumolekul (antigen dengan berat molekul yang
tinggi
dan kompleks secara kimiawi). (Gambar 7)
2.
Pembagian antigen memrrut spesifisitasa.
Heteroantigen, yangdimiliki
oleh banyak spesiesb.
Xeno antigen, y ang hanyadimiliki
spesies tertentuc.
Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk
individu
dalam satu spesiesd.
Antigen organ spesifik, yang hanyadimiliki
organtertenfu
e.
Autoantigen, yangdimiliki
alat tubuh sendiri3.
Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap371
IMUNOI.OGIDASARUnideterminan
Hapten univelanUnideterminan
Polisakarida m ultivalenMultideterminan
Protein univalenMultideterminan
Kimia komPleksm ultivalen
Gambar
7.
Berbagai antigen dan epitopa.
T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan responsantibodi.
Kebanyakan antigenprotein
termasukdalam golongan
ini
b.
T independen, yang dapat merangsang selB
tanpabantuan
sel
T
untuk
membentuk antibodi.
Kebanyakan antigen golonganini
berupa molekulbesar polimerik yang dipecah di dalam tubuh secara
perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida,
ficoll,
dekstran, levan, fl agelin polimerik bakteri
4.
Pembagianantigenmenurutsifatkimiawi
a.
Hidrat
arang(polisakarida).
Hidrat
arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein yang merupakan bagian permukaan sel banyak mikoorganisme dapat menimbulkan respons imrur terutama pembentukanantibodi.
Contohlain
adalah responsimun
yang ditimbulkan golongan darahABO, sifat antigen dan spesif,rsitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merahb.
Lipid. Lipid
biasanyatidak
imunogenik,
tetapi menjadi imunogenikbila
diikat protein pembawa.Lipid
dianggap sebagai hapten, contohnya adalahshngolipid
c.
Asam nukleat. Asam nukleat tidak imrurogenik, tetapidapat menj adi imunogenik bila diikat protein molekul
pembawa.
DNA
dalam bentuk heliksnya biasanyatidak
imunogenik. Responsimun
terhadapDNA
terjadi
pada pasien denganLupus
EritematosusSistemik(LES)
d.
Protein. Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan univalen.Imunogen dan Hapten. Antigen
yang
juga
disebut
imunogen adalah bahan yang dapat merangsang respons
imun
atau bahanyang
dapat bereaksi dengan antibodiyang
sudah ada tanpa memperhatikan kemampuannyauntuk
merangsangproduksi antibodi.
Secara fungsionalantigen dibagi menjadi imunogen dan hapten. Bahan
kimia
ukuran
kecil
sepertidinitrofenol
dapatdiikat
antibodi,tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat mengaktifkan sel
B
(tidak
imunogenik).Untuk
memacu respons antibodi, bahankecil
tersebutperlu diikat
oleh
molekul
besar.Kompleks yang terdiri atas molekul kecil (disebut hapten)
danmolekul besar (disebut
carrier
ataumolekul pembawa) dapat berperan sebagai imunogen. Contoh hapten ialahberbagai golongan antibiotik dan obat lainnya denganberat
molekul
kecil.
Hapten biasanya
dikenal oleh sel
B,
sedangkan molekul pembawa oleh sel T. Molekul pembawa sering digabung dengan hapten daJam usaha memperbaikiimunisasi.
Hapten membentuk
epitop
pada
molekul
pembawa
yang
dikenal
sistem
imun
dan
merangsang pembentukan antibodi(Gambar
8).GambarS. Respons sel B terhadap hapten
Respons
sel
B
terhadap haptenyang
memerlukanprotein
pembawa(carrier)
untuk
dapat dipresentasikan ke sel Th.Epitop.
Epitop atau determinan antigen adalah bagian dari antigen yang dapat membuat kontakfisik
dengan reseptor antibodi, meng-induksi pembentukan antibodi; dapat diikatdengan
spesifik oleh bagian dari antibodi
atau
olehreseptor antibodi. Makromolekul dapat
memiliki
berbagai epitop yang masing-masing merangsang produksi antibodispesifik yang berbeda. Paratop ialah bagian dari antibodi
yang mengikat epitop. Respons imun dapat terjadi terhadap semua golongan bahan
kimia
seperti hidrat arang, proteindan asam nukleat
(Gambar
9).Lokasi epitop dan paratop (bagian dari antibodi) dalam
interaksi artara antigen dan TCR dan reseptor sel B.
372
ALERGIIMUNOI]OGIEpitop
adalahbagian
dari
antigen yang
membuat kontakfisik
denganreseptorAb:
antibodi;Ag:
antigen.Superantigen. Superantigen
(Gambar
10) adalah molekulyang sangat poten terhadap mitogen sel T.
Mungkin
lebihbaik bila disebut supermitogen, oleh karena dapat memacu
mitosis sel CD4*tanpa
bantuan
APC.
Superantigen
berikatan dengan berbagai regio dari rantai p -reseptor sel T. Ikatan tersebut merupakan sinyal poten unhrk mitosis,dapat mengaktifkan sejumlah besar populasi sel T. Sampai
20o/o dari semua sel T dalam darah dapat
diaktifkan
olehsatu
molekul
superantigen. Contoh superantigen adalah enterotoksin dan toksin yang menimbulkan sindrom syoktoksin
yang
diproduksi stafilokokus
aureus.Molekul
tersebut dapat memacu penglepasan sejumlah
besarsitokin seperti IL-
I
dan TNF dari sel T yang berperan dalampatologi jaringan lokal pada syok anafilaktik
oleh
stafilokokus.
ANTIBOD!
Antibodi
atau imunoglobulin (Ig) adalah golongan proteinyang dibentuk sel plasma (proliferasi sel
B)
setelah terjadi kontak dengan antigen.Antibodi
ditemukan dalam serum danjaringan
dan mengikat antigen secara spesifik.Bila
serum protein dipisahkan secara elekftoforetik, Ig ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin g meskipun ada beberapa yang ditemukan juga dalam fraksi globulin a dan b.
Semua molekul Ig mempunyai 4 polipeptid dasar yang
teridiri
atas 2 rantaiberat (hea,vy chain)dat2rantai
ringan(light chain)
yang
identik,
dihubungkan satu
dengan lainnya oleh ikatan disulfida(Gambar
11).Unit
dasar antibodi yangterdiri
atas 2 rantaiberat dan 2rantaiitrganyang
identik, diikat menjadi satu oleh ikatandisulfida yang
dapat
dipisah-pisah dalam
berbagai
fragmen.A:
rantai berat (berat molekul: 50.000-77.000) B:
rantai ringan (berat molekul: 25.000)C:
ikatan disulfrdaAda
2jenis rantai ringan
(kappa dan lambda) yangterdiri
atas 230 asam amino serta 5 jenis rantai berat yang tergantung pada kelimajenis
imunoglobulin,yaitu IgM,
IgQ
IgE,IgAdanIgD (Gambar
12).lgG
IgG
merupakan
komponen
utama
(terbanyak)
imunoglobulin
serum, dengan beratmolekul
160.000. Kadarnya dalam serum yang sekitar 13 mglml merupakan75%o dari semua
Ig. IgG
ditemukanjuga
dalam berbagaicairan
lain
antaranya cairan saraf sentral (CSF) danjuga
urin. IgG
dapat menembus plasenta dan masuk kejanin
dan berperan pada imunitas bayi sampai umur 6-9 bulan.IgG
dapat
mengaktifkan
komplemen, meningkatkan
pefiahanan badan melalui opsonisasi dan reaksi inflamasi.IgG
mempunyaisifat
opsonin yangefektif
oleh
karenamonosit dan makrofag
memiliki
reseptor untuk fraksi Fcdari
IgG
yang dapat mempererat hubungan antara fagositdengan
sel
sasaran.Selanjutnya opsonigasi dibantu
reseptor untuk komplemen pada permukaan fagosit. IgG terdiri atas 4 subkelasyaiti-lgl,Ig2,Ig3
dan Ig4.Ig4
dapatdiikat
oleh sel mast dan basofil.lgA
IgA
ditemukan dalamjumlah
sedikit dalam serum, tetapikadarnya dalam cairan sekresi saluran napas, saluran cema, saluran kemih, air mata, keringat, ludah dan kolostrum lebih tinggi sebagai
IgA
sekretori (sIgA). BaikIgA
dalam serum maupun dalam sekresi dapat menetralisir toksin atau virusdan atau mencegah kontak antara toksirVvirus dengan alat sasaran.
sIgA
diproduksi lebih dulu dari padaIgA
dalamserum dan
tidak
menembus plasenta.sIgA
melindungi
Gambar 12. Berbagai kelas antibodiGambar 10. Superantigen
373
MI.JNOI.OGIDASAR
tubuh dari
patogenoleh
karena dapat bereaksi denganmolekul adhesi dari patogen potensial sehingga mencegah
adherens
dan
kolonisasi
patogen tersebut
dalam
sel pejamu.IgA
juga bekerja
sebagai
opsonin, oleh
karena
neutrofil,
monosit dan makrofagmemiliki
reseptor untukFca (Fca-R) sehingga dapat meningkatkan efek bakteriolitik
komplemen
danmenetralisir
toksin. IgA juga
didugaberperan pada imunitas cacing pita.
lgM
IgM
(M
berasal darimakroglobulin)
mempunyai rumusbangun pentamer
dan
merupakan
Ig
terbesar.
Kebanyakan sel B mengandungIgM
pada permukaannyasebagai reseptor antigen.
IgM
dibentuk
paling
dahulupada respons imun primer tetapi tidak berlangsung lama,
karena
itu
kadar
IgM
yang tinggi
merupakan
tandaadanya
infeksi dini.
Bayi yang baru dilahirkan hanya mempunyai
IgM
10% dari kadarIgM
dewasa oleh karenaIgM
tidak menembus plasenta. Fetus umur 12 minggu sudah dapat membentukIgM bila
selB
nya
dirangsangoleh
infeksi
intrauterin
seperti
sifilis
kongenital, rubela, toksoplasmosis danvi-rus
sitomegalo.Kadar
IgM
anak mencapai kadarIgM
dewasapada
usia
satu
tahun.
Kebanyakan
antibodi
alamiah seperti isoaglutinin, golongan darahAB,
antibodiheterofil
adalah
IgM. IgM
dapat mencegah
gerakan mikroorganisme patogen, memudahkan fagositosis danmerupakan aglutinator kuat terhadap
butir
antigen.IgM
juga
merupakan
antibodi
yang
dapat mengikat
komplemen
dengan
kuat
dan
tidak
menembus
plasenta.
lgD
IgD
ditemukan dengan kadar yang sangat rendah dalam darah (1% dari total imunoglobulin dalam serum)' IgD tidakmengikat komplemen, mempunyai
aktivitas
antibodi
terhadap antigen berbagai makanan dan
autoantigen seperti komponen nukleus. SelanjutnyaIgD
ditemukanbersama
IgM
pada permukaan sel B sebagai reseptor anti-gen pada aktivasi sel B.lgE'
IgE
ditemukan dalam serum dalamjumlah
yang sangatsedikit.
IgE
mudah
diikat
mastosit,
basofil,
eosinofil,
makrofag dan trombosit yang pada permukaannyamemiliki
reseptor
untuk fraksi Fc dari IgE. IgE
dibentuk
juga
setempat oleh sel plasma dalam selaput lendir saluran napas dan cerna. KadarIgE
serum yangtinggi ditemukanpada
alergi,
infeksi
cacing, skistosomiasis,penyakit
hidatid,trikinosis.
Kecuali pada alergi,IgE
diduga juga berperanpada
imunitas
parasit.IgE
padaalergi dikenal
sebagaiantibodi reagin.
REAKSI HIPERSENSITIVITAS
Hipersensitivitas adalah respons
imun
yang berlebihan danyang
tidak
diinginkan
karena dapat menimbulkankerusakan
jaringan
tubuh. Reaksi tersebut olehGell
dan Coombs dibagi dalam 4 tipe reaksi menurut kecepatannya dan mekanisme imun yang terjadi. Reaksiini
dapat terjadi sendiri-sendiri, tetapi di dalamklinik
dua ataulebihjenis
reaksi tersebut sering terjadi bersamaan.Reaksi
Tipe I atau
Reaksi
CePat
Reaksi
Tipe
I
yang
disebut
juga reaksi
cepat,
reaksi anfilaksis atau reaksialergi
dikenal sebagai reaksi yang segeratimbul
sesudah alergen masukke
dalam tubuh. Istilah alergi yang pertama kali digunakan Von Pirquet pada tahun 1906 diartikan sebagai "reaksi pejamu yang berubah"bila
terjadi kontak dengan bahan yang sama untuk keduakali atau lebih.
Antigen yang masuk tubuh akan ditangkap oleh fagosit, diprosesnya lalu dipresentasikan ke sel
TM.
Sel yang akhirmelepas sitokin yang merangsang sel B untuk membentuk IgE. IgE akan diikat oleh sel yang
memiliki
reseptor untukIgE (Fce-R) seperti sel zasr, basofil dan eosinofil. Bila tubuh
terpajan ulang dengan alergen yang sama, alergen yang masuk tubuh akan diikat IgE (spesif,ft) pada permukaan sel mast yarrg menimbulkan degranulasi sel mast. Degranulasi
tersebut mengeluarkan berbagai mediator
antaralain
histamin yang didapat
dalam
granul-granul sel
danmenimbulkan
gejala pada reaksi hipersensitivitastipe I
(Gambar13).
Sel mast
Gambar 13. Tipe
l:
Alergen, lgE, sel mast, mediatorPenyakit-penyakit yang
timbul
segera sesudah tubuh terpajan dengan alergen adalah asmabronkial, rinitis,
urtikaria
dandermatitis atopik.
Di
samping histamin, mediator lain seperti prostagladin danleukotrin
(SRS-A) yang dihasilkan metabolisme asam arakidonat, berperanpada fase
lambat dari reaksi
tipe
I
yang
seringtimbul
beberapajam sesudah kontak dengan alergen.
Reaksi
Tipe
ll
atau Reaksi
Sitotoksik
374
ALERGIIMI,JNOI.OGIoleh karena dibentuk antibodi jenis IgG atau
IgM
terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Ikatan antibodidengan antigen yang merupakan bagian
dari
sel pejamutersebut dapat mengaktifkan komplemen dan menimbulkan
lisis (Gambar
14).
Lisis
sel dapatpula terjadi
melaluisensitasi sel
NK
sebagai efektor Antibody DependentCell
Cytotoxicity (ADCC). Contoh reaksi tipeII
adalah destruksisel
darahmerah akibat reaksi transfusi
danpenyakit
anemia
hemolitik
padabayi
yang baru dilahirkan
dandewasa. Sebagian kerusakan
jaringan
padapenyakit
autoimun seperti miastenia gravis dan tirotoksikosis
juga
ditimbulkan melalui
mekanisme reaksitipe
II.
Anemiahemolitik
dapatditimbulkan oleh
obat seperti penisilin,kinin
dan sulfonamid.Gambar 15. Reaksi Tipe
lll:
Kompleks imun yang terdiri atas antigen dalam sirkulasi dan lgM atau lgG3 yang diendapkan dalam membran basal vaskularSebab Antigen Tempat kompleks mengendap
lnfeksi
Antigenmikroba
Organ yang diinfeksi,persisten
ginjalAutoimunitas
Antigensendiri
Ginjal, sendi, pembuluh darah, kulitEkstrinsik Antigen
Parulingkungan
dimusnahkan dalam hati. Kompleks yang larut terjadi bila antigen
ditemukanjauh lebih
banyak dari pada antibodi yangsulit untuk
dimusnahkan dan oleh karenaitu
dapatlebih lama ada dalam sirkulasi. Kompleks imun yang ada
dalam
sirkulasi
meskipun untuk
jangka waktu
lama,biasanya tidak berbahaya. Permasalahan akan
timbul bila
kompleks imun menembus dinding pembuluh darah dan mengendap di
jaringan.
Gangguan fungsi fagosit diduga dapat merupakan sebab mengapakompleks
imun
sulit
dimusnahkan.Reaksi
Tipe
IV
atau
Reaksi Hipersensitivitas
Lambat
Reaksi
tipe
IV
yangjuga
disebut reaksi hipersensitivitas lambat, timbul lebih dari 24 jam setelahtubuh terpajan dengan antigen. Dewasa ini, reaksi Tipe 4 dib agi dalarn Delayed TypeHyper-sensitivity yang teq'adi melalui sel
CD4*
dan T cellMediated Cytolysis yang terjadi
melalui
sel
CD8*
(GambarlQ.
Sel T
Gambar
16.
Reaksi hipersensitivitas lambatGambar 14. Tipe ll: lgM, lgG terhadap permukaan sel atau antigen matriks ekstraselular
Reaksi
Tipe
lll
atau
Reaksi
Kompleks
Imun
Reaksi
tipe
III
yangjuga
disebut reaksi kompleksimun
terjadi
akibat endapan kompleks antigen-antibodi dalamjaringan
atau pembuluh darah.Antibodi
di
sini biasanyajenis IgG
atauIgM.
Kompleks
tersebutmengaktifkan
komplemen yang kemudian melepas berbagai mediator
terutama macrophage chemo tacti c fac t or. Makrofag
yang
dikerahkan
ke
tempat tersebut akan merusakjaringan
sekitar tempat tersebut. Antigen dapat berasal dariinfeksi
kuman
patogenyang persisten (malaria),
bahan yangterhirup
(spora
jamur yang menimbulkan alveolitis
ekstrinsik alergi)
ataudari
jaringan
sendiri (penyakit
autoimun). Infeksi tersebut disertai dengan antigen dalam
jumlah
yang berlebihan,
tetapi tidak disertai
dengan responsantibodi
efektif.
Pembentukankompleks imun
yang terbetuk
dalam
pembuluh
darah
terlihat
pada Gambar15.Antigen
(Ag)
danantibodi (Ab)
bersatu membentukkompleks imun. Selanjutnya kompleks imun mengaktifkan
C yang melepas Cru dan Cru dan merangsang
basofil
dantrombosit melepas berbagai mediator antara
lainhistamin
yang meningkatkan permeabilitas vaskular. Sebab-sebab reaksi tipeIII
dan alat tubuh yang sering merupakan sasaranpenyakit kompleks imun terlihat pada Tabel 1.
Dalam keadaan normal kompleks imun dimusnahkan
oleh sel fagosit mononuklear terutama dalam hati,
limpa
dan
paru
tanpa bantuan
komplemen. Dalam
prosestersebut, ukuran kompleks imun merupakan faktorpenting.
IMUNOI.OGIDASAR
375
Delayed
TypeHypersensitivity
(DTH).
PadaDTH,
selCD4.Thl
yang mengaktifkan makrofag berperan sebagaisel efektor. CD4*Th1
melepas
sitokin (IFN-y)
yang mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi. PadaDTH,
kerusakan
jaringan disebabkan oleh produk
makrofag yang diaktifkan seperti enzimhidrolitik,
oksigenreaktif intermediet, oksida nitrat dan sitokin proinflamasi. Sel efektor yang berperan pada
DTH
adalah makrofag. Contoh-contoh reaksiDTH
adalah sebagaiberikut: l).
Reaksi tuberkulin. Reaksi tuberkulin adalah reaksi dermalyang berbeda dengan reaksi dermatitis kontak dan terjadi
20jam
setelah terpajan dengan antigen. Reaksi terdiri atasinfiltrasi sel mononuklear (50%o adalah limfosit dan sisanya
monosit). Setelah 48
iam, timbul infiltrasi limfosit
dalamjumlah
besar sekitar pembuluh darah
yang
merusakhubungan serat-serat kolagen
kulit.
Bila
reaksi menetap, reaksi tuberkulin dapat berlanjut menimbulkan kavitas atau granuloma. 2). Dermatitis kontak. Reaksi DTH dapat terjadisebagai respons terhadap bahan
yang
tidak
berbahayadalam lingkungan seperti
nikel
yang
menimbulkan
dermatitis kontak. Dermatitis kontak dikenal dalamklinik
sebagai dermatitis yangtimbul
padakulit
tempat kontakdengan alergen. Reaksi maksimal tet'adi setelah 48 jam dan merupakan reaksi epidermal. Sel Langerhats sebagai
anti-gen
presenling
cell
(APC), sel
Thl
dan makrofag
memegang
peranan pada
reaksi
tersebut.
3).
Reaksi granuloma. Pada keadaanyang paling
menguntungkanDTH
berakhir dengan hancurnya mikrooorganisme olehenzim
lisosom
danproduk
makrofag
lainnya
seperti peroksidradikal
dan superoksid. Pada beberapa keadaan terjadi hal sebaliknya, antigen bahkan terlindung, misalnya telur skistosoma dan mikobakteriumyang ditutupi kapsul lipid. DTH laonis sering menimbulkan fibrosis sebagai hasil sekresi sitokin dan gro wthfactor
oleh makrofdg yang dapat menimbulkan granuloma.Reaksi granuloma
merupakanreaksi
tipe
IV
yangdianggap paling penting oleh karenamenimbulkan banyak
efek
patologis.Hal
tersebutterjadi oleh
karena adanya antigen yang persistendi
dalam makrofag yang biasanya berupa mikroorganisme yang tidak dapat dihancurkan ataukompleks imun
yang menetap misalnya padaalveolitis
alergik.Reaksi granuloma
terjadi
sebagai usaha badan untukmembatasi kehadiran antigen yang persisten dalam tubuh,
sedangkan
reaksi tuberkulin
merupakan responsimun
selular yang terbatas. Kedua reaksi tersebut dapat terjadiakibat
sensitasi terhadap antigen mikroorganisme yangsama misalnya
M
tuberkulosis danM
lepra. Granulomaterjadi pula
padahipersensitivitas
terhadap zerkonium sarkoidosis dan rangsangan bahan non-antigenik sepertibedak
(talcum).
Dalam
hal
ini
makrofag
tidak
dapat memusnahkanbenda
inorganik
tersebut. Granuloma
nonimunologis dapat dibedakan dari yang imunologis oleh karena yang pertama tidak mengandung
limfosit.
Dalam reaksi granuloma ditemukan sel epiteloid yang
diduga berasal dari sel-sel makrofag. Sel-sel raksasayarrg
memiliki
banyak nukleus disebut sel raksasa Langhans. Sel tersebut mempunyai beberapa nukleus yang tersebar di bagian perifer sel dan oleh karena itu diduga sel tersebutmerupakan
hasil diferensiasi terminal sel monosit/
makrofag.Granuloma
imunologik
ditandai olehinti
yangterdiri
atas sel epiteloid dan makrofag, kadang-kadang ditemukan
sel raksasa yang
dikelilingi
oleh ikatan limfosit. Di sampingitu dapat ditemukan fibrosis (endapan serat kolagen) yang
terjadi akibat proliferasi f,rbroblas dan peningkatan sintesis
kolagen. Pada beberapa penyakit seperti tuberkolusis,
di
bagian sentral dapat ditemukan nekrosis dengan hilangnya struktur j aringan(Gambar
1 7).Gambar 17. Pembentukan granuloma
Sel
TH1
berhubungan dengantuberkulosis
bentukringan oleh karena
sitokin
TH1
mengerahkan
dan mengaktifkan makrofag(A),
menimbulkan terbentuknyagranuloma (B) yang mengandung kuman. S el TH 1 spesifi
k
diaktifkan oleh kompleks peptida MHC dan melepas sitokin
yang bersifat kemotaktik untuk
berbagai sel, termasuk monosit/makrofag. SitokinTHI
yang lain terutama IFN-1,mengaktifl<an makrofag di jaringan (A). Dalam bentuk
konik
atau
hipersensitivitas lambat,
terjadi
susunan sel-se1terorganisasi,
yang spesifik
dengan selT di
perifer
danmengaktifkan makrofag yang ada di dalam granuloma dan
menimbulkan kerusakan jaringan (B). Beberapa makrofag
berfusi menjadi sel datia
denganbanyak nukleus
atau berupa sel epiteloid.T
Cell Medisted Cytolysis. Dalam T
cell
mediated
cy t o ly s i s, kerusakan terj adi melalu
i
sel CD8*/
Cy t o t oxi cT
Lymphocyte
(CTL/Tc) yang
langsung membunuh
selsasaran.
Penyakit hipersensitivitas selular
diduga
merupakan sebab autoimunitas. Oleh karena itu, penyakityang ditimbulkan
hipersensitivitas selular
cenderungterbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya
tidak
sistemik. Pada penyakit virus hepatitis, virus sendiritidak
sitopatik, tetapi kerusakan ditimbulkan oleh respons
CTL
terhadap hepatosit yang terinfeksi.Sel
CD8* spesifik untuk
antigen atau sel autologus376
AI.ERGIIMT,JNOI.OGIpenyakit autoimun yang terjadi melalui mekanisme selular, biasanya ditemukan baik sel CD4* maupun CDS* spesifik
unttk self
antigen
dan keduajenis
sel tersebut
dapat menimbulkankerusakan.REFERENSI
Abbas AK, Lichtman AH. Basic immunology. 2nd edition. Philadel-phia: WB Saunders Company; 2004.
Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and molecular immu-nology. Philadelphia: WB Saunders Company; 2003.
Altnan LC, Becker JW, Williams PV. Allergy in primary care.
Phila-delphia: WB Saunders Company; 2000.
Anderson WL. Immunology. Madison: Fence Creek Publishing; 1999. Austen KF, Burakoff SJ, Rosen FS, Strom TB. Therapeutic
immu-nology. 2nd edition. Oxford: Blackwell Science; 2001. Baratawidjaja KB. Sistem imua. Imunologi dasar. Edisi ke-6. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 1-31.
Baratawidjaja KB. Sistem imun nonspesifik. Imunologi dasar. Edisi
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p.32-50.
Baratawidjaja KB. Sistem imun spesifik. Imunologi dasar. Edisi ke-6.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 5l-72.
Baratawidjaja KB. Antigen dan antibodi. Imunologi dasar. Edisi
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p.73-91.
Baratawidjaja KB. Reaksi hipersensitivitas. Imunologi dasar. Edisi
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. l7l-90.
Decker JM. Introduction
to
immunology. Oxford: BlackwellScience; 2000.
Kreier, JP. Infection, resistance and immunity. Edisi ke-2. An Arbor: Taylor and Francis; 2002.
Male D. Immunology, an illustrated outline. 3rd edition. London: M Mosby; 1998.
Playfair JHL, Lydyard PM. Medical immunology. 2nd Edition.
Edinburgh: Churchill Livingstone; 2000.
Roitt
I,
Rabson A. Really essential medical immunology. Oxford:58
PENDAHULUAN
Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit yang sering
dijumpai di masyarakat.
Diperkirakan
10-20% penduduk pernah 4tau sedang menderita penyakit tersebut.Alergi
dapat menyerang setiap organ tubuh,tetapi
organ yang seringterkena
adalah saluran napas,kulit,
dan saluran pencernaan. Samsuridjal dkk melaporkan penyakit alergi yang seringdijumpai
di
Bagian Penyakit Dalam RSCMJakarta adalah asma, rinitis, urtikaria, dan alergi makanan.
Di Medan, TanjungAmelaporkan bahwa manifestasi
klinis
pasien
alergi
saluran napas adalahinitis
41,9%o, asma 30,6%, asma dan rinitis25Yo, serta batukkronlk5o/o.Agar penanganan pasien alergi lebih tepat dan terarah,
diperlukan diagnosis tepat dan cepat supaya komplikasi
dapat dihindari.
Bila
seorang pasien yang datang dgngan kecurigaan menderita penyakit alergi, langkah pertama harus ditentukan terlebih dahulu apakah pasien memang menderita alergi. Selanjutnya baru dilakukan pemeriksaan-perneriksaan dalam rangka mencari alergen penyebab, selain jugafaktor-faktor non alergikyang mempengaruhi timbulnya gejala.
RIWAYAT
PENYAKIT
Pada anamnesis
umumnya ditanyakan
hal-hal
seperti berikut:a.
Kapan gejalatimbul
dan apakah mulainya mendadakatau berangsur. Umur permulaan timbulnya gejala dapat
menuntun
kita untuk
membedakan apakahkondisi
tersebut diperantaraiIgE
atautidak.
Sebagai contoh,lebih dari 90% pasien dengan gejala
rinitis
yang sudahmuncul sebelum umur 10 tahun menunjukkan tes
kulit
yang
positif,
sedangkan pada pasienyang
gejalanyatimbul
sesudah40 tahun kurang dari
40o/oyang
menunjukkan sensitivitas terhadap alergen.
PROSEDUR
DIAGNOSTIK
PENYAKIT ALERGI
Azhar
Tanjung,
EvyYunihastuti
d.
Karakter, lama, frekuensi dan beratnya gejala.
Urtikaria
akut lebih
mungkin
disebabkan
oleh
alergen
dibandingkan
urtikaria
yang
kronik.
Frekuensi dan beratnya gejala diperlukan untuk menentukan apakahdiperlukan pengobatan terus-menerus atau hanya saat
timbulnya gejala.
Saat
timbulnya
gejala. Apakah keluhan paling hebatdi
waktu pagi, siang, malam, atau tidak menentu.
Alergi
dapat
intermiten,
setiap tahun,
atau berhubungandengan musim.
Di
Indonesia, karena tidak ada musimgugur, semi, atau panas, keluhan lebih banyak menetap
sepanjang
tahun. Gejala yang menetap
sepanjangtahun biasanya dihubungkan dengan
aeroalergenseperti tungau debu rumah, kecoa, j amur, atau serpihan
kulit
binatang peliharaan.Pekerjaan dan hobi. Keluhan pasien dapat saja
timbul
saat berada di rumah, di sekolah, atau di tempat kerja. Sekitar 50% kasus asma berhubungan dengan tempat
kerja. Demikian juga dengan kejadian pajanan lateks,
binatang
percobaan, atauproduk kimia
di
tempatkerja.
Bagaimana perjalanan penyakit dari permulaan sampai sekarang, apakah bertambah baik, tidak berubah, atau
bertambah
berat.
Bagaimana pengaruh pengobatan sebelumnya.Adakah
jangka waktu
paling
lama
tanpa serangan, bilamana dan di mana.Apakah
timbul
keluhan setelah mengeluarkan tenaga.Faktor-faktor
yang mempengaruhi serangan pentingditanyakan dalam rangka penanganan pasien, misalnya
faktor
musim,
faktor
tempat,
faktor
hewan, faktor
kelelahan, kurang tidur, pergantian cuaca, hawa dingin, debu, makanan, obat, emosi, kehamilan, asap, bau-bauan, dan lain-lain.Kebiasaan merokok, dan berapa batang sehari.
Dalam usaha mencari alergen, hubungan antara gejala
o E'
h.
378
ALERGIIMUNOLOGIalergi dengan waktu dan tempat sangat penting. Dengan
mengenal
timbulnya
gejala
padawaktu
tertentu,
kecurigaan akan penyakit alergi lebih dipertegas. Begitujuga
halnya dengan faktor tempat. Dalam halini
kitaharus mempunyai
pengetahuan dengan alergen
sekeliling pasien.
Untuk itu
yang ditanyakan adalah tentang:.
keadaan rumah, apakah sudah fua, masih baru, dan kelembabannya.
kamar tidur, karena di tempatini
banyak dijumpai D. pteronyssinus.
keadaan sekeliling pasien, apakah banyak hewanpeliharaan seperti
anjing, kucing,
burung,
dan sebagainya.k
Padapasien
asmaatau
alergi
saluran napas
lain
ditanyakan
juga
tentang dahak:jumlahnya
(banyak,sedang,
sedikit),
warnanya
(putih, kuning,
hijau),
kekentalan (encer, kental).L
Pengaruh terhadapkualitas hidup. Apakah
keluhan tersebut mempengaruhi pekerjaan, absensi sekolah, mengganggu aktivitas olahragaatathobi
lainnya, atau mengganggu tidur.m
Perlujuga
ditanyakanriwayat
alergi pada keluarga, apakah ada keluarga sedarahyang
menderita asma,rinitis, eksim, alergi makanan, atau alergi obat.
PEMERIKSAAN FISIS
Pemeriksaan
fisis
yang lengkap
harusdibuat,
dengan perhatian ditujukan terhadap penyakit alergi bermanifestasikulit,
konjungtiva, nasofaring, dan paru. Kalau seseorang datang dengan keluhan hidung, maka perhatian lebih lanjutditujukan
lagi
terhadap pemeriksaan
hidung
dan kerongkongan,baik
dari luar maupun dari dalam rongga hidung.Kulit
Seluruh
kulit
harus diperhatikan apakah ada peradangankronik
seperti ekskoriasi, bekas garukan terutama daerahpipi
atau lipatanJipatankulit
daerah fleksor. Kelainanini
mungkin
tidak
dikeluhkan pasien, karena dianggaptidak
mengganggu ataupun
tidak
ada
hubungan
denganpenyakitnya.
Lihat
pula
apakah terdapatlesi urtikaria,
angioedema, dermatitis, danlikenifftasi.
Mata
Diperiksa terhadap hiperemia konjungtiva, edema, sekret mata yang berlebihan dan katarak yang sering dihubungkan
dengan
penyakit atopi, dan
kadangkaladisebabkan
pengobatan kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka lama. Padarinitis
alergi dapatdijumpai allergic shiners,yait:,t
daerah di bawah palpebra inferior yang menjadi gelap dan bengkakTelinga
Telinga tengah dapat merupakan penyulit penyakit alergi saluran napas,
perlu
dilakukan
pemeriksaan membran timpani untuk mencari otitis media. Demikian juga dengansinus paranasal
berupa sinusitis
yang
dapat diperiksasecara palpasi dan transiluminasi.
Hidung
Pada pemeriksaan hidung bagian luar di bidang alergi ada
beberapa
tatda
yang
sudah
baku, walaupun
tidak
patognomonik, misalnya:
allergic
salute,
yaitu
pasien dengan menggunakan telapak tangan menggosok ujung hidungnyake
arah atasuntuk
menghilangkan rasa gataldan melonggarkan sumbatan;
allergic crease,
garis
melintang akibat lipatan
kulit
ujung hidung;
kemudianallergic
facies, terdiri
dari
pernapasanmulut,
allergic
s hiners, dan kelainan
gigi-geligi.
Bagian dalam hidung diperiksa dengan menggunakan
spekulum
hidung
dengan bbntuan senteruntuk menilai
warna mukosa,
jumlah
dan bentuk sekret, edema,polip
hidung, dan abnormalitas anatomi seperti deviasi
septum.Mulut
dan
Orofaring
Pemeriksaan
ditujukan
untuk menilai
eritema,
edema,hipertrofi
tonsll, post nasal drip. Padarinitis
alergi, seringterlihat mukosa orofaring
kemerahan, edema,
ataukeduanya. O r al t ru s h juga perlu diperhatikan pada pasien
yang menggunakan kortikosteroid inhalasi. Palatum yang
cekung
ke
dalam, dagu yangkecil,
serta tulang maksila yangmenonjol
kadang disebabkan olehpenyakit
alergiyang
kronik.
Dada
Diperiksa secara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi,
baik
terhadap organ paru maupunjantung.
Pada waktuserangan asma
kelainan
dapat
berupa hiperinflasi,
penggunaan otot bantu pemapasan dan mengi, sedangkan dalam keadaan normal mungkin tidak ditemukan kelainan.Pemeriksaan
Lain
Jangan lupa memeriksa tekanan darahtya, karena tekanan
sistolik yang rendah (90- 1 I 0 mmHg) sering dijump aipada
penyakit alergi. Pada pengguna kortikosteroid perlu
dinilai
striae,
obesitas,miopati, hipertensi,
danefek
sampingkortikosteroid lainnya.
PEM
ERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan
laboratorium
hanyamemperkuat
dugaanadanya
penyakit
alergi,
jadi
tidak untuk
menetapkanPROSEDUR DIAGNOSTIK PENYAKIT ALERGI
379
untuk
pemantauan paSien,
misalnya untuk menilai
timbulnya
penlulit
penyakit dan hasil pengobatan.Jumlah Leukosit dan Hitung Jenis
Sel
Pada penyakit alergi jumlah leukosit normal, kecuali kalau disertai
infeksi. Eosinofrlia
seringdijumpai
tetapitidak
spesifik, sehingga dapat dikatakan eosinofilia tidak identikdengan alergi. Pada penyakit
alergi,
eosinofrlia berkisarantara 5-l5o/o beberapa hari setelah pajanan alergen, tetapi
pada pasien dengan pengobatan kortikosteroid dapat
timbul
eosinopenia.
Eosinofilia
merupakan
petanda
hipersensitivitas dan beratnya hipersensitivitas tersebut. Selain itu harus dipikirkan penyakit lain, misalnya
infeksi
parasit, keganasan,
imunodefisiensi,
akibat radioterapi,penyakit
jantung
bawaan,dan
lain-lain.
Sel eosinofil
normal, untuk dewasa 0-450 seVmm3.Sel
Eosinofil
pada Sekret
Konjungtiva,
Hidung
dan
Sputum
Semasa periode
simtomatik
seleosinofil
banyak dalamsekret, tetapi kalau ada
infeksi,
selneutrofil
yang lebihdominan.
Serum
lgE
Total
Meningkatnya serum lgE total menyokong adanya penyakit
alergi, tetapi sayang hanya didapatkan pada sekitar 60-80% pasien. Sebaliknya peningkatan kadar 1g
E total ini juga
dijumpai pada penyakit lain misalnya infeksi parasit, sirosis hati, monokleosis, penyakit autoimun, limfoma,HIV
danlain-lain. Oleh karena itu pemeriksaan serum lg E total saat
ini
mulai ditinggalkan, kecuali pada: a) Rarnalan alergi pada anak
yang orang tuanya menderita penyakit alergi, b) Ramalan alergi pada anak dengan bronkiolitis, c) Membedakan asma
dan rinitis alergik dengan non alergik, d). Membedakan
der-matitis atopik dengan dermatitis lainnya, e). Diagnosis dan
pengelolaan selanjutnya
aspergilosisbronkopulmoner
alergik.lg
E
Spesifik
Dilakukan untuk mengukur lgE terhadap alergen tertentu
secara in
vitro
dengan cara RAST (RadioAllergo
Sorbent Test)atatELISA(Enzym
Linked Immuno Sorbent Assay).Keuntungan pemeriksaan
lg
E
spesifik dibandingkan teskulit
adalah
risiko
pada pasien
tidak
ada, hasilnya
kuantitatif, tidak
dipengaruhi obat
atau keadaankulit,
alergen lebih stabil. Sedangkan kerugiannya adalah mahal, hasil tidak segera dapat dibaca, kurangsensitifdibanding
teskulit. Untuk
alergi makanan, pemeriksaanini
kurangmendukung, bahkan
jika
dibandingkan tes
kulit.
Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan
jika
teskulit
tidakdapat dilakukan, misalnya pada penyakit
kulit
yang luas, pasientidak
dapat menghentikan pengobatan, atau pada kasus alergi berat.TES KULIT
Tes
kulit
sebagai sarana penunjang diagnosis penyakit alergi, telahdilakukan
sejaklebih
100 tahun yang lalu,karena cara pelaksanaannya cukup sederhana dan terbukti
mempunyai korelasi yang baik dengan kadar lgE spesifik
atau
dengantes
provokasi.
Tujuannya adalah untuk
menentukan antibodi IgE spesifik dalamkulit
pasien, yang secaratidak
langsung menggambarkan adanya antibodiyang
serupapada organ
yang sakit.
Teskulit
hanya dilakukan terhadap alergen atau alergen-alergen lain yangdicurigai
rnerupakan penyebab
keluhan
pasien
danterhadap alergen-alergen
yang
ada padalingkungan
pasien. Di bidang alergi, cara-carateskulit
yang dilakukan adalahprick test. scratch test,friction
test,patch
test danintradermal
test.Di
antara berbagaites
ini
yang
lebihdisukai
adalah
cara
prick
test,
karena
mudah
melakukannya, murah, spesifik dan aman. Menurut laporanyang ada
di
Indonesia,prick
testini
hampir tidak pemah menimbulkan efek samping . Patch testbiasanya dilakukanpada pasien
dermatitis
kontak.
Selanjutnya
yang
dibicarakan adalah
tesprick
(tes tusuk)dantespatch
(testempel).
Tes
Tusuk
(Prick Testl
Mula-mula
kulit
bagian
volar dari
lengan
bawah
dibersihkan dengan alkohol, biarkan hingga kering. Tempat penetesan alergen ditandai secara berbaris denganjarak
2-3 cmdiataskulit
tersebut. Teteskan setetes alergenpaddtempat yang disediakan,
}ugakontrol positif
(larutanhistamin fosfat 0. 1%) dan kontrol negatif (larutan
phospate-buffered saline
dengan
fenol
0.4Yo).Dengan
jarum
disposibel ukuran 26, dilakukan tusukan dangkal melaluimasing-masing ekstrak yang telah diteteskan. Jarum yang digunakan harus baru pada tiap-tiap tusukan pada
masing-masing
tetesanuntuk
menjaga
supaya alergen jangan tercampur. Tusukan dljaga jangan sampai menimbulkanperdarahan.
Pembacaan
dilakukan
setelahl5-20 menit
denganmengukur diameter bentol dan eritema yang timbul,
juga
pseudopoda yang terjadi.
Hasil
yang negatif, didapatkanbila hasil tes sama dengan kontrol negatif. Hasil tes
positif
dinilai
berdasarkan bentol atau eritema dengan penilaian sebagai berikut:Hasil
negatif
:
sama dengan kontrolnegatif
Hasil+l --
zs%darikontrolpositif
Hasil
+2
50% dari kontrolPositif
Hasil+3
100%darikonholPositif
Hasil+4
2}}%daikontrolPositif
Harus diingat
sebelum melakukan teskulit,
pasiendiminta menghentikan konsumsi beberapa obat. Sebagian besar antihistamin generasi pertama harus dihindari
mini
mal
72jam
sebelum tes, sedangakanuntuk
antihistamingenerasi kedua harus
dihentikan
minimal
satuminggu
380
ALERGIIMUNOI.OGIsingkat dosis rendah
(<
20
mg prednison) dihentikan 3hari, dosis
tinggi
harus dihentikanI
minggu. Sedangkanpemakaian kortikosteroid
jangka
lamaperlu
dihentikanminimal 3 minggu
sebelum dapat dilakukan tes.Untuk
kortikosteroid
topikal
cukup dihentikanI
hari menjelangtes. Obat lain yangjuga harus dihindari adalah antidepresan
trisiklik
(1-2 minggu sebelum tes) dan beta adrenergik (1hari sebelumnya). Teofilin, obat-obat simpatomimetik, dan sodium kromoglikat karena tidak menghalangi reaksi tes
kulit,
tidak perlu dilarang.TesTempel
(Patch Test)
Dilakukan
dengan cara menempelkan suatu bahan yang dicurigai sebagai penyebab dermatitis alergi kontak. Jikapada penempelan bahan kulit menunjukkan reaksi, mungkin
pasien alergi terhadap bahan tersebut, ataupun bahan atau benda
lain
yang mengandung unsur tersebut.Bahan dan konsentrasi
yang
sering digunakan padates tempel adalah benzokain 5o%, merkapto benzotiazol loh,
kolofoni 20%, p. fenilendiamin l%o, imidazolidinll w ea 2o/o,
sinamik aldehid
l%,
lanolin alkohol 3\Yo,karbamiks 3%,neomisin sulfat
20oh,tiuran
miks
l%,
etilendiamin
dihidroklorid I 02, epoksi resin I o%,
quatemim
15,2%o,p.tert
butifenol
formaldehid resin 1o%, merkaptomix
lo/o, blackrubber mix0,60Z, potasium d1kronat0,25o/o, balsam ofPeru
25olo, nikel sulfat 2,5%o.
Cara melakukan tes tempel
yaitu
bahan-bahan yang akan dites ditaruh pada kertas saring, yang diletakkan diatas lembaran impermeabel. Kemudian ditempelkan pada
kulit
dengan
plester. Tempat
pemasangan
bisa di
punggung.
Pembacaan dilakukan setelah 48
jam.
Sesudah plester dilepas kemudian pasien diminta menunggu selama/z-l
jam, dengan maksud menghilangkan adanya faktor tekanan padakulit.
Sebaiknya pembacaan diulangi 96 jam sesudah pemasangan tes karena reaksialergi muncul
lebih jelassesudah 96 jam.
0
1+
2+ 3+
tidak ada reaksi
eritema ringan, meragukan
reaksi ringan (eritema dengan edema ringan)
reaksi kuat (papular eritema dengan edema) reaksi sangat kuat (vesikel atau bula)
TES
PROVOKASI
Tes provokasi adalah tes alergi dengan cara memberikan alergen secara langsung kepada pasien sehingga
timbul
gejala. Tesini
hanyadilakukanjika
terdapat kesulitandi-agnosis dan
ketidakcocokan artara
gambaran
klinis
dengan tes lainnya. Tes provokasi yang dapat dilakukan adalah tesprovokasi
nasal, tesprovokasi bronkial,
tesprovokasi konjungtival,
tes
eliminasi
dan provokasi
terhadap makanan.Tes
Provokasi
Nasal
Pada tes
ini
alergen diberikan pada mukosa hidung baikdengan disemprotkan atau mengisap alergen yang kering
melalui
satu lubanghidung
sedang lubang hidung yang lain ditutup. Tes dianggappositifbila
dalambeberapa menit timbul bersin-bersin, pilek, hidung tersumbat, batuk, ataupada kasus
yang berat menjadi gejala
sama.
Pada pemeriksaan mukosa hidung, tampak bengkak sehinggamenyumbat rongga hidung.
Tes
Provokasi Bronkial
Pasien asma
umumnya mempunyai kepekaal yang
berlebihan terhadap berbagai rangsangan,
baik
bersifat alergen maupunnon
alergen (kegiatan jasmani,bahan-bahan
kimia,
perubahan
cuacadan
lain-lain). Untuk
melakukan tes provokasi diperlukarin alat-alat yang cukuprumit,
tenaga
yang
berpengalaman
dan
sebaiknya
dilakukan
di
rumah sakit untuk
menjaga kemungkinan terjadinya penyulit (obstruksi laring, trakea atau bronkus)dapat diatasi segera.
Banyak cara untuk menimbulkan serangan asma, tetapi
yang
paling
seringdipahai
adalah tes kegiatan jasmani(exercise induced-asthma), tes inhalasi antigen, tes inhalasi
metakolin dan tes inhalasi histamin.
a.
Tes
kegiatan jasmani. Kegiatan jasmani
dapatmenimbulkan serangan asma. Sutopo dan kawan-kawan
(1984) melaporkan 42%o pasien asma memberikan tes kegiatan j asmani
positif.
b.
Tes inhalasi antigen. Pada tesini
diperlukanalatyang
dapat menyemprotkan larutan yang mengandung anti-gen dalamjumlah
yarrg tetap pada setiap semprotan(dosimeter) dan besar partikelnya harus sangat
kecil
antara 1-3 rnikron.c.
Tesinhalasi
histamin
dan metakolin.
Tes inhalasihistamin dan metakolin banyak dipakai untuk
menentukan reaktivitas saluran
napas., bahkan
dianjurkan sebagai salah satu
kriteria
diagnosis asma. karena lebih 90% pasien memberikan reaksi yang kuatterhadap tes ini.
PEM
ERIKSAAN.PEM ERIKSAAN LA!N
l.
Spirometri, untuk menentukan obstruksi saluran napasbaik
beratnya maupun reversibilitasnya, serta unfuk menilai hasil pengobatan asma (monitoring).Foto dada, untuk melihat komplikasi asma dan foto
si-nus paranasal untuk melihat komplikasi rinitis. Bila ada kecurigaan rinitis akut maupun kronik maka diperlukan
pemeriksaan scanning sinus.
Pemeriksaan tinja, untuk
melihat
cacing dan telurnyapada kasus urtikaria yang tidak bisa diterangkan, dan lain-lain.
381
PROSEDUR DAGNOSTIK PEITYAKTT ALERGI
laju endap darah meninggi kemturgkinan disertai infeksi.
5.
Tes penglepasan histamin dari basofil6.
Anti-tripsin
alfa 1.7.
IgGIgA,
tes kompleks imun dan stimulasilimfosit.
REFERENSI
Boguniewicz
M,
Beltrani VS. Atopic dermatitis and contact dermatitis. In: Adelman DC, Casale TB, Corren J, editors. Manualof allergy and clinical immunology. 4th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams
&
Wilkins; 2002.p.165-86.Demoly P, Piette V, Bousquet J. In vivo methods for the study of
allergy: skin tests, techniques and interpretation. In: Adkinson
NF, Yunginger JW, Busse WW, Boschner BS, Holgate ST,
Simmons FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6th edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc;
200) .p.632-43 .
Durham SR, Church MK. Principles of allergy diagnosis. In: Holgate
ST, Church MK, Lichtenstein LM, editors. Allergy. 2"d edition.
London: Mosby Int, Ltd; 2001. p. 3-16.
Fish JE. Peters SP. Bronchial provocation testing. In: Adkinson NF,
Yunginger JW, Busse W-W, Boschner BS, Hoigate
Sl
SimmonsFER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6'h
edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc; 2003. p.657-67.
Hamilton RG. Clinical laboratory assessment of IgE-dependent hypersensitivity. J Allergy Clin Immunol. 2003 ; I I I : 5687-701.
Hamilton R. Laboratory tests for allergic and immunodehciency diseases. In: Adkinson NF, Yunginger JW, Busse WW, Boschner BS, Holgate ST, Simmons FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6h edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc;2003.p.611-32.
Lachapelle JM, Maibach HI. Patch testing prick testing: a practical
guide. Berlin-Heidelberg: Springer-Verlag; 2003.
Li
JT. Allergy testing. Am Fam Physician. 2002;66:621-4,6.Rajakulasingam K. Nasal provocation testing. In: Adkinson NF,
Yunginger JW, Busse WW, Boschner BS, Holgate ST, Simmons
FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6'h
edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc;2003.p.644-56. Ring J. Allergy diagnosis. In: Ring J, editor. Allergy in practice.
Berlin-Heidelberg: Springer-Verlag; 2005. p. 60-73. Sanico AM, Bochner BS, Saini SS. Immediate hypersensitivity:
approach to diagnosis. In: Adelman DC, Casale TB, Corren J,
editors. Manual of allergy and clinical immunology. 4s ed.
Phila-delphia: Lippincott Williams
&
Wilkins; 2002.p.24-43. Yungioger JW, Ahlstedt S, Eggleston PA, Hornburger HA, NelsonHS, Ownby DR, et al. Quantitative IgE antibody assays in allergic diseases. J Allergy Clin Immunol. 2000;105:1077-84.