• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPDI 57-67 Alergi Imunologi Klinik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PAPDI 57-67 Alergi Imunologi Klinik"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

57

IMUNOLOGI

DASAR

Karnen Garna

Baratawidjaja,

Iris

Rengganis

Pertahanan Fisik

Kulit,

selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin dapat mencegah berbagai kuman patogen masuk ke dalam

tubuh.

Kulit

yang

rusak

misalnya oleh luka

bakar dan

selaput

lendir

yang rusak

oleh

karena asap

rokok

akan meningkatkan risiko infeksi.

Pertahanan Larut

Pertahanan Biokimia.

Bahan

yang

disekresi mukosa saluran napas,

kelenjar

sebaseus

kulit,

kelenjar

kulit,

telinga, spermin dalam

semen merupakan bahan yang

berperan dalampertahanan tubuh. Asam

hidroklorik

dalam

cairan lambung,

lisosim

dalam keringat,

ludah, ait

mata

dan air susu dapatmelindungi tubuh terhadap kuman Gram

positif

dengan

jalan

menghancurkan

dinding

kuman

tersebut.

Air

susu

ibu

mengandung

pula laktoferin

dan

asam

neuraminik yang mempunyai

sifat

antibakterial

terhadap E. coli dan stafilokok.

Lisozim yang dilepas makrofag dapat menghancurkan

kuman

negatif-Gram

dengan

bantuan

komplemen.

Laktoferin dan transferin dalam serum dapat mengikat zat

besi yang dibutuhkan

untuk

hidup kuman pseudomonas

(Gambar2).

Udara yang

kita

hirup,

kulit

dan saluran

cerna'

mengandung banyak mikroba, biasanya berupa bakteri dan

virus,

kadang

jamur

atau

parasit.

Sekresi

kulit

yang bakterisidal, asam lambung, mukus dan

silia di

saluran

napas membantu menurunkan jumlah mikroba yang masuk

tubuh, sedang epitel yang sehat biasanya dapat mencegah

mikroba masuk ke dalam tubuh. Dalam darah dan sekresi

tubuh, enzim lisosom membunuh banyak bakteri dengan mengubah dinding selnya. IgA juga merupakanpertahanan permukaanmukosa.

Pertahanan

Humoral

Komplemen.

Komplemen

mengaktifkan fagosit

dan

PENDAHULUAN

Imunologi dasar pada tulisan berikut

ini

diuraikan dalam 3 bab,

yaitu

sistem

ilmun,

antigen dan antibodi, dan reaksi

hipersensitivitas.

SISTEM IMUN

Keutuhan

tubuh

dipertahankan

oleh

sistem pertahanan yang

terdiri

atas sistem imun nonspesifrk (natural/innate) dan

spesifik

(adaptive/acquired). Komponen-komponen

sistem

imun nonspesifik

dan

spesifik terlihat

dalam

Gambarl.

Gambar 1. Sistem lmun. NK= Natural Kller; Tdlh = T delayed

type hypersensitivity;

CTLtfc

=

Cytotoxic T Lymphocyte/

T cytotoxic-/ T cytolytic; Ts = T supresor; Tr =

I

regulator

SISTEM IMUN NONSPESIFIK

Sistem

imun

nonspesifik

merupakan pertahanan tubuh

terdepan

dalam

menghadapi serangan

berbagai

mikroorganisme, karena sistem imun spesifft memerlukan

waktu sebelum memberikan responsnya. Sistem tersebut

disebut nonspesifik, karena

tidak ditujukan

terhadap

mikroorganisme tertentu.

(3)

368

ALERGIIMUNOI.OGI

Organisme penyebab infeksi

Udara ..:- ''- =.

Virus 4., Bak teri Jamur

Makanan dan air' ---Viru s Bak teri Jamur Protozoa C ac ing Kulit &- - -- --Bakleri Jamur Proiozo a Cacing lJsus ,r-- '- ----Viru s Bakteri Protozoa C ac ing Pe ptid a

a nliba kte ria I

..-

- -* lJrine pH asam

Pertahanan

..-", Mata dan Dara

Lis oz im lgA - .1 Saluran napas mu kus silia -"r Kulit Asam Lemak

Gambar 2. Pertahanan eksternal tubuh

membantu

destruksi

bakteri

dan

parasit

dengan

jalan

opsonisasi

(Gambar

3).

l.

Komplemen dapat menghancurkan sel membran banyak bakteri (C8-9)

2.

Komplemen dapat berfungsi sebagai faktor kemotaktik

yang mengerahkan makrofag ke tempat bakteri (C5-6-7)

3.

Komplemen dapat diikat pada permukaan bakteri yang memudahkan makrofag untuk mengenal (opsonisasi)

dan memakannya (C3b, C4b).

Kejadian-kejadian tersebut di atas adalah fungsi sistem imun nonspesifft, tetapi dapat pula te{adi atas pengaruh respons imun spesifik.

Interferon. Interferon

adalah suatu

glikoprotein

yang

dihasilkan berbagai sel

manusia

yang

mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap

infeksi

vi-rus. Interferon mempunyai sifat antivirus

dengan

jalan

menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus

tersebut.

Di

samping

itu,

interferon

dapat pula

mengaktifkan natural

killer

cel// sel

NK

untuk membunuh

virus dan sel neoplasma

(Gambar

4).

Sel

NK

membunuh sel

terinfeksi

virus

intraselular,

sehingga dapat menyingkirkan reservoir infeksi.

Sel

NK

memberikan

respons terhadap

lL-12

yang

diproduksi makrofag dan melepas IFN-yyang mengaktifl<an

makrofag

untuk

membunuh mikroba yang

sudah

dimakannya.

C-Reactive

Protein

(CRP).

CRP dibentuk tubuh pada

infeksi.

Peranannya

ialah

sebagai

opsonin dan

dapat mengaktifkan komplemen (Gambar 5).

Gambar 5. C-Reactive Profern (CRP)

Pertahanan Selular

Fagositimakrofag, sel

NK

dan sel sistem imun nonspesifik selular.

Fagosit. Meskipun berbagai

sel

melakukan fagositosis, sel

utama

mast berperun dalam

dalam

tubuh

dapat

yang

berperan pada Gambar 4. Fungsi sel NK

(4)

369

pertahanan nonspesifik adalah sel mononuklear (monosit

dan makrofag) serta sel polimorfonuklear seperti neutrofil.

Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietik yang sama.

Fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman, akan dapat mencegah

timbulnya

penyakit. Proses fagositosis

terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut: kemotaksis, menangkap, membunuh dan mencerna.

Naturst

Killer

ceZ (sel NIQ. Sel

NK

adalah sel limfosit tanpa

ciri-ciri sel limfoid sistem imun spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi. Oleh karena itu disebutjuga sel non B non T atau

sel populasi

ke

tiga

atan

null cell. Morfologis,

sel

NK

merupakan

limfosit

dengan granul besar, oleh karena

itu

disebut jugaZ arge Granular Ll,mphocyte/I-Gl. Sel NK dapat

menghancurkan sel yang

mengandung

virus

atau

sel

neoplasma.

Interferon

mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik sel

NK.

Sel mast. Sel

zasl

berperan dalam reaksi alergi dan

juga

dalam pertahanan pejamu yang jumlahnya menurun pada

sindrom imunodefisiensi.

Sel

mast

jtga

berperan pada

imunitas terhadap parasit dalam usus dan terhadap invasi bakteri. Berbagai faktor nonimun seperti latihan jasmani, tekanan, trauma, panas dan dingin dapat pula mengaktifl<an dan menimbulkan degranulasi sel mast.

SISTEM

IIl/IUN

SPESIFIK

Berbeda dengan sistem

imun nonspesifik,

sistem

imun

spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda

yang dianggap asing

bagi dirinya.

Benda asing

yang

pertama

timbul

dalam badan yang segera dikenal sistem

imun

spesifik,

akan mensensitasi

sel-sel sistem imun

tersebut.

Bila

sel sistem tersebut terpajan

ulang

dengan benda asing yang sama, yang akhir akan dikenal lebih cepat

dan dihancurkannya. Oleh karena

itu

sistem

tersebut disebut spesifik.

Sistem

imun spesifik

dapat

bekerja sendiri untuk

menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi badaa, tetapi pada umumnya terj alin kerj a sama yang b aik antara

antibodi, komplemen, fagosit dan antara sel T-makrofag.

Komplemen

turut'diaktifkan

dan

ikut

berperan dalam menimbulkan inflamasi yang terjadi pada respons imun.

Sistem lmun

Spesifik

Humoral

l.

Sistem imun spesifft humoral. Berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B. Sel B

tersebut berasal dari sel asal multipoten dalam sumsum

tulang. Pada unggas sel asal tersebut berdiferensiasi

menjadi sel

B di

dalam alat yang disebut

Bursa

Fabricius

yang

letaknya dekat

cloaca.

Bila

sel

B

dirangsang benda asing, sel tersebut akan berproliferasi dan berdiferensiasi

menjadi

sel plasma

yang

dapat

membentuk antibodi.

Antibodi

yang dilepas

dapat ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus

dan menetralisasi toksin.

2.

Sistem imrm spesifik sehrlar. Berperan dalam sistem imun

spesifft

selular adalah

limfosit

T atau sel T. Fungsi sel

Tumumnyaialah:

.

membantu sel B dalam memproduksi antibodi

.

mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi

virus

.

mengaktifkan makrofag dalam fagositosis

.

mengontrol ambang dankualitas sistem imun

Sel T

juga

dibentuk dalam

sumsum

tulang,

tetapi

diferensiasi dan proliferasinya terjadi dalam kelenjar timus

atas pengaruh berbagai faktor asal timus. Sembilan puluh

sampai sembilan

puluh lima

persen

semua

sel timus

tersebut

mati

dan hanya 5-l0Yo menjadi matang

dan

meninggalkan timus untuk masuk ke dalam sirkulasi dan

kelenjar getah bening. Fungsi utama sistem

imun

selular

ialah

pertahanan terhadap mikroorganisme

yang

hidup intraselular seperti

virus, jamur,

parasit dan keganasan.

Berbeda dengan

sel

B,

sel

T terdiri

atas beberapa sel

subset

seperti sel

T

naif,

Thl,Th2,T

Delayed

Type

Hypersensitivity

(Tdti),

Cytotoxic T Lymphocyte

(CTL)

atau T

cytotixic

ataru T

cytolytic (Tc)

dan

T

supresor (Ts) atau T regulator

(Tr).

Sel

T Naif (virgin).

Sel

T

naif

adalah sel

limfosit

yarlg

meninggalkan timus, namun belum berdiferensiasi, belum pemahterpajan dengan antigen dan menunjukkan molekul permukaan CD45RA. Sel ditemukan dalam organ

limfoid

perifer.

Sel

T naif

yang

terpajan dengan

antigen

akan

berkembang

menjadi

sel

ThO

yang

selanjutnya

dapat

berkembang menjadi sel efektor Th1 dan

Th2yatgdapat

dibedakan

atas

dasar

jenis-jenis

sitokin

yang

diproduksinya. Sel ThO memproduksi sitokin dari ke 2 jenis

sel tersebut seperti

IL-2, IFN

dan

IL-4.

Sel T CD4*

(Thl

dan Th2). Sel T naifCD4* masuk sirkulasi dan menetap di dalam organ

limfoid

seperti kelenj ar getah

bening untuk

bertahun-tahun sebelum terpajan dengan

antigen atau

mati.

Sel tersebut mengenal antigen yang

dipresentasikan bersama molekul

MHC-II

oleh APC dan

berkembang

menjadi

subset

sel

Thl

atau sel Tdth

(Delayed Type

Hypersensitivity)

atau

Th2

yartg

tergantung

dari sitokin

lingkungan. Dalam

kondisi

yang

berbeda dapat

dibentuk

dua

subset

yang

berlawanan

(GambarQ.

IFN-Ydan IL-12 yang diproduksiAPC seperti makrofag

dan sel

dendritik yang diaktifkan mikroba

merangsang

diferensiasi sel

CD4* menjadi

Thl/Tdth

yang

berperan

dalam reaksi hipersensitivitas lambat (reaksi

tipe 4 Gell

dan Coombs). Sel

Tdth

berperan

untuk

mengerahkan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat terjadinya

(5)

370

ALERGIIMUNOI.OGI

/t

V

a ktifkan Se Td M a krofag diaktifkan, sel dendritik I n? Sel Th2 Sel Th1

Gambar 6. Diferensiasi Sel Naif CD4 Menjadi Th

l

dan Th2

Atas pengaruh

sitokin

IL-4,IL-s,IL-10, L-13

yang dilepas selmastyangterpajan dengan antigen atau cacing,

ThO berkembang menjadi sel Th2 yang merangsang sel B

untuk

meningkatkan

produksi

antibodi. Kebanyakan sel Th adalah CD4* yang mengenal arfigen yang dipresentasikan

di

permukaan sel APC yang berhubungan dengan molekul

MHC-tr.

Sel T CD8* (Cytotoxic T Lymphocyte

/

CTL

/

Tcytotoxic

/Tcytolytic/

Tc/.

Sel T CD8*

naif

yang keluar dari timus

disebut

juga

CTLlTc. Sel tersebut mengenal antigen yang dipresentasikan bersama molekul

MHC-I

yang ditemukan

pada semua sel tubuh yang bernukleus. Fungsi utamanya

ialah menyingkirkan sel yang

terinfeksi virus

dengan menghancurkan sel yang mengandung virus tersebut. Sel

CTL/To

akan

juga

menghancurkan sel

ganas

dan

sel

histoimkompatibel yang menimbulkan

penolakan pada transplantasi. Dalam keadaan tertentu,

CTLITI

dapat

juga

menghancurkan sel yang

terinfeksi bakteri

intraselular.

Istilah

sel

T

inducer

digunakan

untuk

menunjukkan

aktivitas sel Th dalam mengaktifkan sel subset T lainnya. Sel

Ts

(T

supresor)

atau

sel

Tr

(T regulator).

Sel Ts (supresor)

yang}uga

disebut sel

Tr

(regulator) atau Th3

berperan menekan aktivitas sel efektor T yang lain dan sel

B. Menurut fungsinya, sel Ts dapat dibagi menjadi sel Ts

spesifik

untuk

antigen tertentu

dan

sel

Ts

nonspesifik.Tidak

ada petanda

unik

pada sel

ini,

tetapi

penelitian

menemukan adanya petanda

molekul CD8'.

Molekul CD4t

kadang dapat pula supresif.

Kerja

sel T regulator diduga dapat mencegah respons

sel

Thl.

APC

yang mempresentasikan antigen

ke

sel T

naif

akan

melepas

sitokin

lL-12

yang

merangsang diferensiasi sel

T naif

menjadi sel efektor

Thl.

Sel

Thl

memproduksi IFN-y yang mengaktifl<an makrofag dalam fase efektor. Sel T regulator dapat mencegah aktivasi sel T

melalui

mekanisme

yang

belum jel,as

(kontak

yang

diperlukan

antara

sel regulator dan sel

T

atau APC).

Beberapa sel

T

regulator melepas

sitokin

imunosupresif seperti

IL-10

yang mencegah

fungsi APC

dan aktivasi makrofag dan TGF-B yang mencegah proliferasi sel T dan aktivasi makrofag.

ANTIGEN

DAN

ANTIBODI

Antigen

Antigen poten

alamiah terbanyak adalah

protein

besar denganberatmolekul lebih dari 40.000 dalton dankompleks polisakarida mikrobial. Glikolipid dan lipoprotein dapat juga

ber-sifat imunogenik, tetapi tidak demikian halnya dengan

lipid

yang dimurnikan. Asam nukleat

dapat

bertindak

sebagai imunogen dalam penyakit autoimun tertentu, tetapi

tidak dalam keadaan normal. PembagianAntigen

L

Pembagian antigen menurut epitop

a.

Unideterminan, univalen. Hanya

satu

jenis

determinan/epitop pada satu molekul.

b.

Unideterminan, multivalen. Hanya

satu

jenis

determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul.

c.

Multideterminan, univalen. Banyak epitop

yang

bermacam-macam

tetapi hanya

satu

dari

setiap macamnya (kebanyakan protein).

d.

Multideterminan, multivalen. Banyak

maCam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu

molekul (antigen dengan berat molekul yang

tinggi

dan kompleks secara kimiawi). (Gambar 7)

2.

Pembagian antigen memrrut spesifisitas

a.

Heteroantigen, yang

dimiliki

oleh banyak spesies

b.

Xeno antigen, y ang hanya

dimiliki

spesies tertentu

c.

Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk

individu

dalam satu spesies

d.

Antigen organ spesifik, yang hanya

dimiliki

organ

tertenfu

e.

Autoantigen, yang

dimiliki

alat tubuh sendiri

3.

Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap

(6)

371

IMUNOI.OGIDASAR

Unideterminan

Hapten univelan

Unideterminan

Polisakarida m ultivalen

Multideterminan

Protein univalen

Multideterminan

Kimia komPleks

m ultivalen

Gambar

7.

Berbagai antigen dan epitop

a.

T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respons

antibodi.

Kebanyakan antigen

protein

termasuk

dalam golongan

ini

b.

T independen, yang dapat merangsang sel

B

tanpa

bantuan

sel

T

untuk

membentuk antibodi.

Kebanyakan antigen golongan

ini

berupa molekul

besar polimerik yang dipecah di dalam tubuh secara

perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida,

ficoll,

dekstran, levan, fl agelin polimerik bakteri

4.

Pembagianantigenmenurut

sifatkimiawi

a.

Hidrat

arang

(polisakarida).

Hidrat

arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein yang merupakan bagian permukaan sel banyak mikoorganisme dapat menimbulkan respons imrur terutama pembentukan

antibodi.

Contoh

lain

adalah respons

imun

yang ditimbulkan golongan darahABO, sifat antigen dan spesif,rsitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah

b.

Lipid. Lipid

biasanya

tidak

imunogenik,

tetapi menjadi imunogenik

bila

diikat protein pembawa.

Lipid

dianggap sebagai hapten, contohnya adalah

shngolipid

c.

Asam nukleat. Asam nukleat tidak imrurogenik, tetapi

dapat menj adi imunogenik bila diikat protein molekul

pembawa.

DNA

dalam bentuk heliksnya biasanya

tidak

imunogenik. Respons

imun

terhadap

DNA

terjadi

pada pasien dengan

Lupus

Eritematosus

Sistemik(LES)

d.

Protein. Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan univalen.

Imunogen dan Hapten. Antigen

yang

juga

disebut

imunogen adalah bahan yang dapat merangsang respons

imun

atau bahan

yang

dapat bereaksi dengan antibodi

yang

sudah ada tanpa memperhatikan kemampuannya

untuk

merangsang

produksi antibodi.

Secara fungsional

antigen dibagi menjadi imunogen dan hapten. Bahan

kimia

ukuran

kecil

seperti

dinitrofenol

dapat

diikat

antibodi,

tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat mengaktifkan sel

B

(tidak

imunogenik).

Untuk

memacu respons antibodi, bahan

kecil

tersebut

perlu diikat

oleh

molekul

besar.

Kompleks yang terdiri atas molekul kecil (disebut hapten)

danmolekul besar (disebut

carrier

ataumolekul pembawa) dapat berperan sebagai imunogen. Contoh hapten ialah

berbagai golongan antibiotik dan obat lainnya denganberat

molekul

kecil.

Hapten biasanya

dikenal oleh sel

B,

sedangkan molekul pembawa oleh sel T. Molekul pembawa sering digabung dengan hapten daJam usaha memperbaiki

imunisasi.

Hapten membentuk

epitop

pada

molekul

pembawa

yang

dikenal

sistem

imun

dan

merangsang pembentukan antibodi

(Gambar

8).

GambarS. Respons sel B terhadap hapten

Respons

sel

B

terhadap hapten

yang

memerlukan

protein

pembawa

(carrier)

untuk

dapat dipresentasikan ke sel Th.

Epitop.

Epitop atau determinan antigen adalah bagian dari antigen yang dapat membuat kontak

fisik

dengan reseptor antibodi, meng-induksi pembentukan antibodi; dapat diikat

dengan

spesifik oleh bagian dari antibodi

atau

oleh

reseptor antibodi. Makromolekul dapat

memiliki

berbagai epitop yang masing-masing merangsang produksi antibodi

spesifik yang berbeda. Paratop ialah bagian dari antibodi

yang mengikat epitop. Respons imun dapat terjadi terhadap semua golongan bahan

kimia

seperti hidrat arang, protein

dan asam nukleat

(Gambar

9).

Lokasi epitop dan paratop (bagian dari antibodi) dalam

interaksi artara antigen dan TCR dan reseptor sel B.

(7)

372

ALERGIIMUNOI]OGI

Epitop

adalah

bagian

dari

antigen yang

membuat kontak

fisik

dengan

reseptorAb:

antibodi;

Ag:

antigen.

Superantigen. Superantigen

(Gambar

10) adalah molekul

yang sangat poten terhadap mitogen sel T.

Mungkin

lebih

baik bila disebut supermitogen, oleh karena dapat memacu

mitosis sel CD4*tanpa

bantuan

APC.

Superantigen

berikatan dengan berbagai regio dari rantai p -reseptor sel T. Ikatan tersebut merupakan sinyal poten unhrk mitosis,

dapat mengaktifkan sejumlah besar populasi sel T. Sampai

20o/o dari semua sel T dalam darah dapat

diaktifkan

oleh

satu

molekul

superantigen. Contoh superantigen adalah enterotoksin dan toksin yang menimbulkan sindrom syok

toksin

yang

diproduksi stafilokokus

aureus.

Molekul

tersebut dapat memacu penglepasan sejumlah

besar

sitokin seperti IL-

I

dan TNF dari sel T yang berperan dalam

patologi jaringan lokal pada syok anafilaktik

oleh

stafilokokus.

ANTIBOD!

Antibodi

atau imunoglobulin (Ig) adalah golongan protein

yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel

B)

setelah terjadi kontak dengan antigen.

Antibodi

ditemukan dalam serum dan

jaringan

dan mengikat antigen secara spesifik.

Bila

serum protein dipisahkan secara elekftoforetik, Ig ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin g meskipun ada beberapa yang ditemukan juga dalam fraksi globulin a dan b.

Semua molekul Ig mempunyai 4 polipeptid dasar yang

teridiri

atas 2 rantaiberat (hea,vy chain)

dat2rantai

ringan

(light chain)

yang

identik,

dihubungkan satu

dengan lainnya oleh ikatan disulfida

(Gambar

11).

Unit

dasar antibodi yang

terdiri

atas 2 rantaiberat dan 2

rantaiitrganyang

identik, diikat menjadi satu oleh ikatan

disulfida yang

dapat

dipisah-pisah dalam

berbagai

fragmen.

A:

rantai berat (berat molekul: 50.000-77.000) B

:

rantai ringan (berat molekul: 25.000)

C:

ikatan disulfrda

Ada

2

jenis rantai ringan

(kappa dan lambda) yang

terdiri

atas 230 asam amino serta 5 jenis rantai berat yang tergantung pada kelima

jenis

imunoglobulin,

yaitu IgM,

IgQ

IgE,IgAdanIgD (Gambar

12).

lgG

IgG

merupakan

komponen

utama

(terbanyak)

imunoglobulin

serum, dengan berat

molekul

160.000. Kadarnya dalam serum yang sekitar 13 mglml merupakan

75%o dari semua

Ig. IgG

ditemukan

juga

dalam berbagai

cairan

lain

antaranya cairan saraf sentral (CSF) dan

juga

urin. IgG

dapat menembus plasenta dan masuk ke

janin

dan berperan pada imunitas bayi sampai umur 6-9 bulan.

IgG

dapat

mengaktifkan

komplemen, meningkatkan

pefiahanan badan melalui opsonisasi dan reaksi inflamasi.

IgG

mempunyai

sifat

opsonin yang

efektif

oleh

karena

monosit dan makrofag

memiliki

reseptor untuk fraksi Fc

dari

IgG

yang dapat mempererat hubungan antara fagosit

dengan

sel

sasaran.

Selanjutnya opsonigasi dibantu

reseptor untuk komplemen pada permukaan fagosit. IgG terdiri atas 4 subkelas

yaiti-lgl,Ig2,Ig3

dan Ig4.

Ig4

dapat

diikat

oleh sel mast dan basofil.

lgA

IgA

ditemukan dalam

jumlah

sedikit dalam serum, tetapi

kadarnya dalam cairan sekresi saluran napas, saluran cema, saluran kemih, air mata, keringat, ludah dan kolostrum lebih tinggi sebagai

IgA

sekretori (sIgA). Baik

IgA

dalam serum maupun dalam sekresi dapat menetralisir toksin atau virus

dan atau mencegah kontak antara toksirVvirus dengan alat sasaran.

sIgA

diproduksi lebih dulu dari pada

IgA

dalam

serum dan

tidak

menembus plasenta.

sIgA

melindungi

Gambar 12. Berbagai kelas antibodi

Gambar 10. Superantigen

(8)

373

MI.JNOI.OGIDASAR

tubuh dari

patogen

oleh

karena dapat bereaksi dengan

molekul adhesi dari patogen potensial sehingga mencegah

adherens

dan

kolonisasi

patogen tersebut

dalam

sel pejamu.

IgA

juga bekerja

sebagai

opsonin, oleh

karena

neutrofil,

monosit dan makrofag

memiliki

reseptor untuk

Fca (Fca-R) sehingga dapat meningkatkan efek bakteriolitik

komplemen

dan

menetralisir

toksin. IgA juga

diduga

berperan pada imunitas cacing pita.

lgM

IgM

(M

berasal dari

makroglobulin)

mempunyai rumus

bangun pentamer

dan

merupakan

Ig

terbesar.

Kebanyakan sel B mengandung

IgM

pada permukaannya

sebagai reseptor antigen.

IgM

dibentuk

paling

dahulu

pada respons imun primer tetapi tidak berlangsung lama,

karena

itu

kadar

IgM

yang tinggi

merupakan

tanda

adanya

infeksi dini.

Bayi yang baru dilahirkan hanya mempunyai

IgM

10% dari kadar

IgM

dewasa oleh karena

IgM

tidak menembus plasenta. Fetus umur 12 minggu sudah dapat membentuk

IgM bila

sel

B

nya

dirangsang

oleh

infeksi

intrauterin

seperti

sifilis

kongenital, rubela, toksoplasmosis dan

vi-rus

sitomegalo.

Kadar

IgM

anak mencapai kadar

IgM

dewasa

pada

usia

satu

tahun.

Kebanyakan

antibodi

alamiah seperti isoaglutinin, golongan darah

AB,

antibodi

heterofil

adalah

IgM. IgM

dapat mencegah

gerakan mikroorganisme patogen, memudahkan fagositosis dan

merupakan aglutinator kuat terhadap

butir

antigen.

IgM

juga

merupakan

antibodi

yang

dapat mengikat

komplemen

dengan

kuat

dan

tidak

menembus

plasenta.

lgD

IgD

ditemukan dengan kadar yang sangat rendah dalam darah (1% dari total imunoglobulin dalam serum)' IgD tidak

mengikat komplemen, mempunyai

aktivitas

antibodi

terhadap antigen berbagai makanan dan

autoantigen seperti komponen nukleus. Selanjutnya

IgD

ditemukan

bersama

IgM

pada permukaan sel B sebagai reseptor anti-gen pada aktivasi sel B.

lgE'

IgE

ditemukan dalam serum dalam

jumlah

yang sangat

sedikit.

IgE

mudah

diikat

mastosit,

basofil,

eosinofil,

makrofag dan trombosit yang pada permukaannya

memiliki

reseptor

untuk fraksi Fc dari IgE. IgE

dibentuk

juga

setempat oleh sel plasma dalam selaput lendir saluran napas dan cerna. Kadar

IgE

serum yang

tinggi ditemukanpada

alergi,

infeksi

cacing, skistosomiasis,

penyakit

hidatid,

trikinosis.

Kecuali pada alergi,

IgE

diduga juga berperan

pada

imunitas

parasit.

IgE

pada

alergi dikenal

sebagai

antibodi reagin.

REAKSI HIPERSENSITIVITAS

Hipersensitivitas adalah respons

imun

yang berlebihan dan

yang

tidak

diinginkan

karena dapat menimbulkan

kerusakan

jaringan

tubuh. Reaksi tersebut oleh

Gell

dan Coombs dibagi dalam 4 tipe reaksi menurut kecepatannya dan mekanisme imun yang terjadi. Reaksi

ini

dapat terjadi sendiri-sendiri, tetapi di dalam

klinik

dua atau

lebihjenis

reaksi tersebut sering terjadi bersamaan.

Reaksi

Tipe I atau

Reaksi

CePat

Reaksi

Tipe

I

yang

disebut

juga reaksi

cepat,

reaksi anfilaksis atau reaksi

alergi

dikenal sebagai reaksi yang segera

timbul

sesudah alergen masuk

ke

dalam tubuh. Istilah alergi yang pertama kali digunakan Von Pirquet pada tahun 1906 diartikan sebagai "reaksi pejamu yang berubah"

bila

terjadi kontak dengan bahan yang sama untuk kedua

kali atau lebih.

Antigen yang masuk tubuh akan ditangkap oleh fagosit, diprosesnya lalu dipresentasikan ke sel

TM.

Sel yang akhir

melepas sitokin yang merangsang sel B untuk membentuk IgE. IgE akan diikat oleh sel yang

memiliki

reseptor untuk

IgE (Fce-R) seperti sel zasr, basofil dan eosinofil. Bila tubuh

terpajan ulang dengan alergen yang sama, alergen yang masuk tubuh akan diikat IgE (spesif,ft) pada permukaan sel mast yarrg menimbulkan degranulasi sel mast. Degranulasi

tersebut mengeluarkan berbagai mediator

antara

lain

histamin yang didapat

dalam

granul-granul sel

dan

menimbulkan

gejala pada reaksi hipersensitivitas

tipe I

(Gambar13).

Sel mast

Gambar 13. Tipe

l:

Alergen, lgE, sel mast, mediator

Penyakit-penyakit yang

timbul

segera sesudah tubuh terpajan dengan alergen adalah asma

bronkial, rinitis,

urtikaria

dan

dermatitis atopik.

Di

samping histamin, mediator lain seperti prostagladin dan

leukotrin

(SRS-A) yang dihasilkan metabolisme asam arakidonat, berperan

pada fase

lambat dari reaksi

tipe

I

yang

sering

timbul

beberapajam sesudah kontak dengan alergen.

Reaksi

Tipe

ll

atau Reaksi

Sitotoksik

(9)

374

ALERGIIMI,JNOI.OGI

oleh karena dibentuk antibodi jenis IgG atau

IgM

terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Ikatan antibodi

dengan antigen yang merupakan bagian

dari

sel pejamu

tersebut dapat mengaktifkan komplemen dan menimbulkan

lisis (Gambar

14).

Lisis

sel dapat

pula terjadi

melalui

sensitasi sel

NK

sebagai efektor Antibody Dependent

Cell

Cytotoxicity (ADCC). Contoh reaksi tipe

II

adalah destruksi

sel

darah

merah akibat reaksi transfusi

dan

penyakit

anemia

hemolitik

pada

bayi

yang baru dilahirkan

dan

dewasa. Sebagian kerusakan

jaringan

pada

penyakit

autoimun seperti miastenia gravis dan tirotoksikosis

juga

ditimbulkan melalui

mekanisme reaksi

tipe

II.

Anemia

hemolitik

dapat

ditimbulkan oleh

obat seperti penisilin,

kinin

dan sulfonamid.

Gambar 15. Reaksi Tipe

lll:

Kompleks imun yang terdiri atas antigen dalam sirkulasi dan lgM atau lgG3 yang diendapkan dalam membran basal vaskular

Sebab Antigen Tempat kompleks mengendap

lnfeksi

Antigen

mikroba

Organ yang diinfeksi,

persisten

ginjal

Autoimunitas

Antigen

sendiri

Ginjal, sendi, pembuluh darah, kulit

Ekstrinsik Antigen

Paru

lingkungan

dimusnahkan dalam hati. Kompleks yang larut terjadi bila antigen

ditemukanjauh lebih

banyak dari pada antibodi yang

sulit untuk

dimusnahkan dan oleh karena

itu

dapat

lebih lama ada dalam sirkulasi. Kompleks imun yang ada

dalam

sirkulasi

meskipun untuk

jangka waktu

lama,

biasanya tidak berbahaya. Permasalahan akan

timbul bila

kompleks imun menembus dinding pembuluh darah dan mengendap di

jaringan.

Gangguan fungsi fagosit diduga dapat merupakan sebab mengapa

kompleks

imun

sulit

dimusnahkan.

Reaksi

Tipe

IV

atau

Reaksi Hipersensitivitas

Lambat

Reaksi

tipe

IV

yang

juga

disebut reaksi hipersensitivitas lambat, timbul lebih dari 24 jam setelahtubuh terpajan dengan antigen. Dewasa ini, reaksi Tipe 4 dib agi dalarn Delayed Type

Hyper-sensitivity yang teq'adi melalui sel

CD4*

dan T cell

Mediated Cytolysis yang terjadi

melalui

sel

CD8*

(GambarlQ.

Sel T

Gambar

16.

Reaksi hipersensitivitas lambat

Gambar 14. Tipe ll: lgM, lgG terhadap permukaan sel atau antigen matriks ekstraselular

Reaksi

Tipe

lll

atau

Reaksi

Kompleks

Imun

Reaksi

tipe

III

yang

juga

disebut reaksi kompleks

imun

terjadi

akibat endapan kompleks antigen-antibodi dalam

jaringan

atau pembuluh darah.

Antibodi

di

sini biasanya

jenis IgG

atau

IgM.

Kompleks

tersebut

mengaktifkan

komplemen yang kemudian melepas berbagai mediator

terutama macrophage chemo tacti c fac t or. Makrofag

yang

dikerahkan

ke

tempat tersebut akan merusak

jaringan

sekitar tempat tersebut. Antigen dapat berasal dari

infeksi

kuman

patogen

yang persisten (malaria),

bahan yang

terhirup

(spora

jamur yang menimbulkan alveolitis

ekstrinsik alergi)

atau

dari

jaringan

sendiri (penyakit

autoimun). Infeksi tersebut disertai dengan antigen dalam

jumlah

yang berlebihan,

tetapi tidak disertai

dengan respons

antibodi

efektif.

Pembentukan

kompleks imun

yang terbetuk

dalam

pembuluh

darah

terlihat

pada Gambar15.

Antigen

(Ag)

dan

antibodi (Ab)

bersatu membentuk

kompleks imun. Selanjutnya kompleks imun mengaktifkan

C yang melepas Cru dan Cru dan merangsang

basofil

dan

trombosit melepas berbagai mediator antara

lainhistamin

yang meningkatkan permeabilitas vaskular. Sebab-sebab reaksi tipe

III

dan alat tubuh yang sering merupakan sasaran

penyakit kompleks imun terlihat pada Tabel 1.

Dalam keadaan normal kompleks imun dimusnahkan

oleh sel fagosit mononuklear terutama dalam hati,

limpa

dan

paru

tanpa bantuan

komplemen. Dalam

proses

tersebut, ukuran kompleks imun merupakan faktorpenting.

(10)

IMUNOI.OGIDASAR

375

Delayed

Type

Hypersensitivity

(DTH).

Pada

DTH,

sel

CD4.Thl

yang mengaktifkan makrofag berperan sebagai

sel efektor. CD4*Th1

melepas

sitokin (IFN-y)

yang mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi. Pada

DTH,

kerusakan

jaringan disebabkan oleh produk

makrofag yang diaktifkan seperti enzim

hidrolitik,

oksigen

reaktif intermediet, oksida nitrat dan sitokin proinflamasi. Sel efektor yang berperan pada

DTH

adalah makrofag. Contoh-contoh reaksi

DTH

adalah sebagai

berikut: l).

Reaksi tuberkulin. Reaksi tuberkulin adalah reaksi dermal

yang berbeda dengan reaksi dermatitis kontak dan terjadi

20jam

setelah terpajan dengan antigen. Reaksi terdiri atas

infiltrasi sel mononuklear (50%o adalah limfosit dan sisanya

monosit). Setelah 48

iam, timbul infiltrasi limfosit

dalam

jumlah

besar sekitar pembuluh darah

yang

merusak

hubungan serat-serat kolagen

kulit.

Bila

reaksi menetap, reaksi tuberkulin dapat berlanjut menimbulkan kavitas atau granuloma. 2). Dermatitis kontak. Reaksi DTH dapat terjadi

sebagai respons terhadap bahan

yang

tidak

berbahaya

dalam lingkungan seperti

nikel

yang

menimbulkan

dermatitis kontak. Dermatitis kontak dikenal dalam

klinik

sebagai dermatitis yang

timbul

pada

kulit

tempat kontak

dengan alergen. Reaksi maksimal tet'adi setelah 48 jam dan merupakan reaksi epidermal. Sel Langerhats sebagai

anti-gen

presenling

cell

(APC), sel

Thl

dan makrofag

memegang

peranan pada

reaksi

tersebut.

3).

Reaksi granuloma. Pada keadaan

yang paling

menguntungkan

DTH

berakhir dengan hancurnya mikrooorganisme oleh

enzim

lisosom

dan

produk

makrofag

lainnya

seperti peroksid

radikal

dan superoksid. Pada beberapa keadaan terjadi hal sebaliknya, antigen bahkan terlindung, misalnya telur skistosoma dan mikobakteriumyang ditutupi kapsul lipid. DTH laonis sering menimbulkan fibrosis sebagai hasil sekresi sitokin dan gro wth

factor

oleh makrofdg yang dapat menimbulkan granuloma.

Reaksi granuloma

merupakan

reaksi

tipe

IV

yang

dianggap paling penting oleh karenamenimbulkan banyak

efek

patologis.

Hal

tersebut

terjadi oleh

karena adanya antigen yang persisten

di

dalam makrofag yang biasanya berupa mikroorganisme yang tidak dapat dihancurkan atau

kompleks imun

yang menetap misalnya pada

alveolitis

alergik.

Reaksi granuloma

terjadi

sebagai usaha badan untuk

membatasi kehadiran antigen yang persisten dalam tubuh,

sedangkan

reaksi tuberkulin

merupakan respons

imun

selular yang terbatas. Kedua reaksi tersebut dapat terjadi

akibat

sensitasi terhadap antigen mikroorganisme yang

sama misalnya

M

tuberkulosis dan

M

lepra. Granuloma

terjadi pula

pada

hipersensitivitas

terhadap zerkonium sarkoidosis dan rangsangan bahan non-antigenik seperti

bedak

(talcum).

Dalam

hal

ini

makrofag

tidak

dapat memusnahkan

benda

inorganik

tersebut. Granuloma

nonimunologis dapat dibedakan dari yang imunologis oleh karena yang pertama tidak mengandung

limfosit.

Dalam reaksi granuloma ditemukan sel epiteloid yang

diduga berasal dari sel-sel makrofag. Sel-sel raksasayarrg

memiliki

banyak nukleus disebut sel raksasa Langhans. Sel tersebut mempunyai beberapa nukleus yang tersebar di bagian perifer sel dan oleh karena itu diduga sel tersebut

merupakan

hasil diferensiasi terminal sel monosit/

makrofag.

Granuloma

imunologik

ditandai oleh

inti

yang

terdiri

atas sel epiteloid dan makrofag, kadang-kadang ditemukan

sel raksasa yang

dikelilingi

oleh ikatan limfosit. Di samping

itu dapat ditemukan fibrosis (endapan serat kolagen) yang

terjadi akibat proliferasi f,rbroblas dan peningkatan sintesis

kolagen. Pada beberapa penyakit seperti tuberkolusis,

di

bagian sentral dapat ditemukan nekrosis dengan hilangnya struktur j aringan

(Gambar

1 7).

Gambar 17. Pembentukan granuloma

Sel

TH1

berhubungan dengan

tuberkulosis

bentuk

ringan oleh karena

sitokin

TH1

mengerahkan

dan mengaktifkan makrofag

(A),

menimbulkan terbentuknya

granuloma (B) yang mengandung kuman. S el TH 1 spesifi

k

diaktifkan oleh kompleks peptida MHC dan melepas sitokin

yang bersifat kemotaktik untuk

berbagai sel, termasuk monosit/makrofag. Sitokin

THI

yang lain terutama IFN-1,

mengaktifl<an makrofag di jaringan (A). Dalam bentuk

konik

atau

hipersensitivitas lambat,

terjadi

susunan sel-se1

terorganisasi,

yang spesifik

dengan sel

T di

perifer

dan

mengaktifkan makrofag yang ada di dalam granuloma dan

menimbulkan kerusakan jaringan (B). Beberapa makrofag

berfusi menjadi sel datia

dengan

banyak nukleus

atau berupa sel epiteloid.

T

Cell Medisted Cytolysis. Dalam T

cell

mediated

cy t o ly s i s, kerusakan terj adi melalu

i

sel CD8*

/

Cy t o t oxi c

T

Lymphocyte

(CTL/Tc) yang

langsung membunuh

sel

sasaran.

Penyakit hipersensitivitas selular

diduga

merupakan sebab autoimunitas. Oleh karena itu, penyakit

yang ditimbulkan

hipersensitivitas selular

cenderung

terbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya

tidak

sistemik. Pada penyakit virus hepatitis, virus sendiri

tidak

sitopatik, tetapi kerusakan ditimbulkan oleh respons

CTL

terhadap hepatosit yang terinfeksi.

Sel

CD8* spesifik untuk

antigen atau sel autologus

(11)

376

AI.ERGIIMT,JNOI.OGI

penyakit autoimun yang terjadi melalui mekanisme selular, biasanya ditemukan baik sel CD4* maupun CDS* spesifik

unttk self

antigen

dan kedua

jenis

sel tersebut

dapat menimbulkankerusakan.

REFERENSI

Abbas AK, Lichtman AH. Basic immunology. 2nd edition. Philadel-phia: WB Saunders Company; 2004.

Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and molecular immu-nology. Philadelphia: WB Saunders Company; 2003.

Altnan LC, Becker JW, Williams PV. Allergy in primary care.

Phila-delphia: WB Saunders Company; 2000.

Anderson WL. Immunology. Madison: Fence Creek Publishing; 1999. Austen KF, Burakoff SJ, Rosen FS, Strom TB. Therapeutic

immu-nology. 2nd edition. Oxford: Blackwell Science; 2001. Baratawidjaja KB. Sistem imua. Imunologi dasar. Edisi ke-6. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 1-31.

Baratawidjaja KB. Sistem imun nonspesifik. Imunologi dasar. Edisi

ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p.32-50.

Baratawidjaja KB. Sistem imun spesifik. Imunologi dasar. Edisi ke-6.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. 5l-72.

Baratawidjaja KB. Antigen dan antibodi. Imunologi dasar. Edisi

ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p.73-91.

Baratawidjaja KB. Reaksi hipersensitivitas. Imunologi dasar. Edisi

ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. p. l7l-90.

Decker JM. Introduction

to

immunology. Oxford: Blackwell

Science; 2000.

Kreier, JP. Infection, resistance and immunity. Edisi ke-2. An Arbor: Taylor and Francis; 2002.

Male D. Immunology, an illustrated outline. 3rd edition. London: M Mosby; 1998.

Playfair JHL, Lydyard PM. Medical immunology. 2nd Edition.

Edinburgh: Churchill Livingstone; 2000.

Roitt

I,

Rabson A. Really essential medical immunology. Oxford:

(12)

58

PENDAHULUAN

Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit yang sering

dijumpai di masyarakat.

Diperkirakan

10-20% penduduk pernah 4tau sedang menderita penyakit tersebut.

Alergi

dapat menyerang setiap organ tubuh,

tetapi

organ yang sering

terkena

adalah saluran napas,

kulit,

dan saluran pencernaan. Samsuridjal dkk melaporkan penyakit alergi yang sering

dijumpai

di

Bagian Penyakit Dalam RSCM

Jakarta adalah asma, rinitis, urtikaria, dan alergi makanan.

Di Medan, TanjungAmelaporkan bahwa manifestasi

klinis

pasien

alergi

saluran napas adalah

initis

41,9%o, asma 30,6%, asma dan rinitis25Yo, serta batukkronlk5o/o.

Agar penanganan pasien alergi lebih tepat dan terarah,

diperlukan diagnosis tepat dan cepat supaya komplikasi

dapat dihindari.

Bila

seorang pasien yang datang dgngan kecurigaan menderita penyakit alergi, langkah pertama harus ditentukan terlebih dahulu apakah pasien memang menderita alergi. Selanjutnya baru dilakukan pemeriksaan-perneriksaan dalam rangka mencari alergen penyebab, selain juga

faktor-faktor non alergikyang mempengaruhi timbulnya gejala.

RIWAYAT

PENYAKIT

Pada anamnesis

umumnya ditanyakan

hal-hal

seperti berikut:

a.

Kapan gejala

timbul

dan apakah mulainya mendadak

atau berangsur. Umur permulaan timbulnya gejala dapat

menuntun

kita untuk

membedakan apakah

kondisi

tersebut diperantarai

IgE

atau

tidak.

Sebagai contoh,

lebih dari 90% pasien dengan gejala

rinitis

yang sudah

muncul sebelum umur 10 tahun menunjukkan tes

kulit

yang

positif,

sedangkan pada pasien

yang

gejalanya

timbul

sesudah

40 tahun kurang dari

40o/o

yang

menunjukkan sensitivitas terhadap alergen.

PROSEDUR

DIAGNOSTIK

PENYAKIT ALERGI

Azhar

Tanjung,

Evy

Yunihastuti

d.

Karakter, lama, frekuensi dan beratnya gejala.

Urtikaria

akut lebih

mungkin

disebabkan

oleh

alergen

dibandingkan

urtikaria

yang

kronik.

Frekuensi dan beratnya gejala diperlukan untuk menentukan apakah

diperlukan pengobatan terus-menerus atau hanya saat

timbulnya gejala.

Saat

timbulnya

gejala. Apakah keluhan paling hebat

di

waktu pagi, siang, malam, atau tidak menentu.

Alergi

dapat

intermiten,

setiap tahun,

atau berhubungan

dengan musim.

Di

Indonesia, karena tidak ada musim

gugur, semi, atau panas, keluhan lebih banyak menetap

sepanjang

tahun. Gejala yang menetap

sepanjang

tahun biasanya dihubungkan dengan

aeroalergen

seperti tungau debu rumah, kecoa, j amur, atau serpihan

kulit

binatang peliharaan.

Pekerjaan dan hobi. Keluhan pasien dapat saja

timbul

saat berada di rumah, di sekolah, atau di tempat kerja. Sekitar 50% kasus asma berhubungan dengan tempat

kerja. Demikian juga dengan kejadian pajanan lateks,

binatang

percobaan, atau

produk kimia

di

tempat

kerja.

Bagaimana perjalanan penyakit dari permulaan sampai sekarang, apakah bertambah baik, tidak berubah, atau

bertambah

berat.

Bagaimana pengaruh pengobatan sebelumnya.

Adakah

jangka waktu

paling

lama

tanpa serangan, bilamana dan di mana.

Apakah

timbul

keluhan setelah mengeluarkan tenaga.

Faktor-faktor

yang mempengaruhi serangan penting

ditanyakan dalam rangka penanganan pasien, misalnya

faktor

musim,

faktor

tempat,

faktor

hewan, faktor

kelelahan, kurang tidur, pergantian cuaca, hawa dingin, debu, makanan, obat, emosi, kehamilan, asap, bau-bauan, dan lain-lain.

Kebiasaan merokok, dan berapa batang sehari.

Dalam usaha mencari alergen, hubungan antara gejala

o E'

h.

(13)

378

ALERGIIMUNOLOGI

alergi dengan waktu dan tempat sangat penting. Dengan

mengenal

timbulnya

gejala

pada

waktu

tertentu,

kecurigaan akan penyakit alergi lebih dipertegas. Begitu

juga

halnya dengan faktor tempat. Dalam hal

ini

kita

harus mempunyai

pengetahuan dengan alergen

sekeliling pasien.

Untuk itu

yang ditanyakan adalah tentang:

.

keadaan rumah, apakah sudah fua, masih baru, dan kelembabannya

.

kamar tidur, karena di tempat

ini

banyak dijumpai D. pteronyssinus

.

keadaan sekeliling pasien, apakah banyak hewan

peliharaan seperti

anjing, kucing,

burung,

dan sebagainya.

k

Pada

pasien

asma

atau

alergi

saluran napas

lain

ditanyakan

juga

tentang dahak:

jumlahnya

(banyak,

sedang,

sedikit),

warnanya

(putih, kuning,

hijau),

kekentalan (encer, kental).

L

Pengaruh terhadap

kualitas hidup. Apakah

keluhan tersebut mempengaruhi pekerjaan, absensi sekolah, mengganggu aktivitas olahraga

atathobi

lainnya, atau mengganggu tidur.

m

Perlu

juga

ditanyakan

riwayat

alergi pada keluarga, apakah ada keluarga sedarah

yang

menderita asma,

rinitis, eksim, alergi makanan, atau alergi obat.

PEMERIKSAAN FISIS

Pemeriksaan

fisis

yang lengkap

harus

dibuat,

dengan perhatian ditujukan terhadap penyakit alergi bermanifestasi

kulit,

konjungtiva, nasofaring, dan paru. Kalau seseorang datang dengan keluhan hidung, maka perhatian lebih lanjut

ditujukan

lagi

terhadap pemeriksaan

hidung

dan kerongkongan,

baik

dari luar maupun dari dalam rongga hidung.

Kulit

Seluruh

kulit

harus diperhatikan apakah ada peradangan

kronik

seperti ekskoriasi, bekas garukan terutama daerah

pipi

atau lipatanJipatan

kulit

daerah fleksor. Kelainan

ini

mungkin

tidak

dikeluhkan pasien, karena dianggap

tidak

mengganggu ataupun

tidak

ada

hubungan

dengan

penyakitnya.

Lihat

pula

apakah terdapat

lesi urtikaria,

angioedema, dermatitis, dan

likenifftasi.

Mata

Diperiksa terhadap hiperemia konjungtiva, edema, sekret mata yang berlebihan dan katarak yang sering dihubungkan

dengan

penyakit atopi, dan

kadangkaladisebabkan

pengobatan kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka lama. Pada

rinitis

alergi dapat

dijumpai allergic shiners,yait:,t

daerah di bawah palpebra inferior yang menjadi gelap dan bengkak

Telinga

Telinga tengah dapat merupakan penyulit penyakit alergi saluran napas,

perlu

dilakukan

pemeriksaan membran timpani untuk mencari otitis media. Demikian juga dengan

sinus paranasal

berupa sinusitis

yang

dapat diperiksa

secara palpasi dan transiluminasi.

Hidung

Pada pemeriksaan hidung bagian luar di bidang alergi ada

beberapa

tatda

yang

sudah

baku, walaupun

tidak

patognomonik, misalnya:

allergic

salute,

yaitu

pasien dengan menggunakan telapak tangan menggosok ujung hidungnya

ke

arah atas

untuk

menghilangkan rasa gatal

dan melonggarkan sumbatan;

allergic crease,

garis

melintang akibat lipatan

kulit

ujung hidung;

kemudian

allergic

facies, terdiri

dari

pernapasan

mulut,

allergic

s hiners, dan kelainan

gigi-geligi.

Bagian dalam hidung diperiksa dengan menggunakan

spekulum

hidung

dengan bbntuan senter

untuk menilai

warna mukosa,

jumlah

dan bentuk sekret, edema,

polip

hidung, dan abnormalitas anatomi seperti deviasi

septum.

Mulut

dan

Orofaring

Pemeriksaan

ditujukan

untuk menilai

eritema,

edema,

hipertrofi

tonsll, post nasal drip. Pada

rinitis

alergi, sering

terlihat mukosa orofaring

kemerahan, edema,

atau

keduanya. O r al t ru s h juga perlu diperhatikan pada pasien

yang menggunakan kortikosteroid inhalasi. Palatum yang

cekung

ke

dalam, dagu yang

kecil,

serta tulang maksila yang

menonjol

kadang disebabkan oleh

penyakit

alergi

yang

kronik.

Dada

Diperiksa secara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi,

baik

terhadap organ paru maupun

jantung.

Pada waktu

serangan asma

kelainan

dapat

berupa hiperinflasi,

penggunaan otot bantu pemapasan dan mengi, sedangkan dalam keadaan normal mungkin tidak ditemukan kelainan.

Pemeriksaan

Lain

Jangan lupa memeriksa tekanan darahtya, karena tekanan

sistolik yang rendah (90- 1 I 0 mmHg) sering dijump aipada

penyakit alergi. Pada pengguna kortikosteroid perlu

dinilai

striae,

obesitas,

miopati, hipertensi,

dan

efek

samping

kortikosteroid lainnya.

PEM

ERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan

laboratorium

hanya

memperkuat

dugaan

adanya

penyakit

alergi,

jadi

tidak untuk

menetapkan

(14)

PROSEDUR DIAGNOSTIK PENYAKIT ALERGI

379

untuk

pemantauan paSien,

misalnya untuk menilai

timbulnya

penlulit

penyakit dan hasil pengobatan.

Jumlah Leukosit dan Hitung Jenis

Sel

Pada penyakit alergi jumlah leukosit normal, kecuali kalau disertai

infeksi. Eosinofrlia

sering

dijumpai

tetapi

tidak

spesifik, sehingga dapat dikatakan eosinofilia tidak identik

dengan alergi. Pada penyakit

alergi,

eosinofrlia berkisar

antara 5-l5o/o beberapa hari setelah pajanan alergen, tetapi

pada pasien dengan pengobatan kortikosteroid dapat

timbul

eosinopenia.

Eosinofilia

merupakan

petanda

hipersensitivitas dan beratnya hipersensitivitas tersebut. Selain itu harus dipikirkan penyakit lain, misalnya

infeksi

parasit, keganasan,

imunodefisiensi,

akibat radioterapi,

penyakit

jantung

bawaan,

dan

lain-lain.

Sel eosinofil

normal, untuk dewasa 0-450 seVmm3.

Sel

Eosinofil

pada Sekret

Konjungtiva,

Hidung

dan

Sputum

Semasa periode

simtomatik

sel

eosinofil

banyak dalam

sekret, tetapi kalau ada

infeksi,

sel

neutrofil

yang lebih

dominan.

Serum

lgE

Total

Meningkatnya serum lgE total menyokong adanya penyakit

alergi, tetapi sayang hanya didapatkan pada sekitar 60-80% pasien. Sebaliknya peningkatan kadar 1g

E total ini juga

dijumpai pada penyakit lain misalnya infeksi parasit, sirosis hati, monokleosis, penyakit autoimun, limfoma,

HIV

dan

lain-lain. Oleh karena itu pemeriksaan serum lg E total saat

ini

mulai ditinggalkan, kecuali pada: a) Rarnalan alergi pada anak

yang orang tuanya menderita penyakit alergi, b) Ramalan alergi pada anak dengan bronkiolitis, c) Membedakan asma

dan rinitis alergik dengan non alergik, d). Membedakan

der-matitis atopik dengan dermatitis lainnya, e). Diagnosis dan

pengelolaan selanjutnya

aspergilosis

bronkopulmoner

alergik.

lg

E

Spesifik

Dilakukan untuk mengukur lgE terhadap alergen tertentu

secara in

vitro

dengan cara RAST (Radio

Allergo

Sorbent Test)

atatELISA(Enzym

Linked Immuno Sorbent Assay).

Keuntungan pemeriksaan

lg

E

spesifik dibandingkan tes

kulit

adalah

risiko

pada pasien

tidak

ada, hasilnya

kuantitatif, tidak

dipengaruhi obat

atau keadaan

kulit,

alergen lebih stabil. Sedangkan kerugiannya adalah mahal, hasil tidak segera dapat dibaca, kurang

sensitifdibanding

tes

kulit. Untuk

alergi makanan, pemeriksaan

ini

kurang

mendukung, bahkan

jika

dibandingkan tes

kulit.

Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan

jika

tes

kulit

tidak

dapat dilakukan, misalnya pada penyakit

kulit

yang luas, pasien

tidak

dapat menghentikan pengobatan, atau pada kasus alergi berat.

TES KULIT

Tes

kulit

sebagai sarana penunjang diagnosis penyakit alergi, telah

dilakukan

sejak

lebih

100 tahun yang lalu,

karena cara pelaksanaannya cukup sederhana dan terbukti

mempunyai korelasi yang baik dengan kadar lgE spesifik

atau

dengan

tes

provokasi.

Tujuannya adalah untuk

menentukan antibodi IgE spesifik dalam

kulit

pasien, yang secara

tidak

langsung menggambarkan adanya antibodi

yang

serupa

pada organ

yang sakit.

Tes

kulit

hanya dilakukan terhadap alergen atau alergen-alergen lain yang

dicurigai

rnerupakan penyebab

keluhan

pasien

dan

terhadap alergen-alergen

yang

ada pada

lingkungan

pasien. Di bidang alergi, cara-carates

kulit

yang dilakukan adalahprick test. scratch test,

friction

test,

patch

test dan

intradermal

test.

Di

antara berbagai

tes

ini

yang

lebih

disukai

adalah

cara

prick

test,

karena

mudah

melakukannya, murah, spesifik dan aman. Menurut laporan

yang ada

di

Indonesia,

prick

test

ini

hampir tidak pemah menimbulkan efek samping . Patch testbiasanya dilakukan

pada pasien

dermatitis

kontak.

Selanjutnya

yang

dibicarakan adalah

tesprick

(tes tusuk)

dantespatch

(tes

tempel).

Tes

Tusuk

(Prick Testl

Mula-mula

kulit

bagian

volar dari

lengan

bawah

dibersihkan dengan alkohol, biarkan hingga kering. Tempat penetesan alergen ditandai secara berbaris dengan

jarak

2-3 cmdiatas

kulit

tersebut. Teteskan setetes alergenpadd

tempat yang disediakan,

}uga

kontrol positif

(larutan

histamin fosfat 0. 1%) dan kontrol negatif (larutan

phospate-buffered saline

dengan

fenol

0.4Yo).

Dengan

jarum

disposibel ukuran 26, dilakukan tusukan dangkal melalui

masing-masing ekstrak yang telah diteteskan. Jarum yang digunakan harus baru pada tiap-tiap tusukan pada

masing-masing

tetesan

untuk

menjaga

supaya alergen jangan tercampur. Tusukan dljaga jangan sampai menimbulkan

perdarahan.

Pembacaan

dilakukan

setelah

l5-20 menit

dengan

mengukur diameter bentol dan eritema yang timbul,

juga

pseudopoda yang terjadi.

Hasil

yang negatif, didapatkan

bila hasil tes sama dengan kontrol negatif. Hasil tes

positif

dinilai

berdasarkan bentol atau eritema dengan penilaian sebagai berikut:

Hasil

negatif

:

sama dengan kontrol

negatif

Hasil+l --

zs%darikontrolpositif

Hasil

+2

50% dari kontrol

Positif

Hasil+3

100%

darikonholPositif

Hasil+4

2}}%daikontrolPositif

Harus diingat

sebelum melakukan tes

kulit,

pasien

diminta menghentikan konsumsi beberapa obat. Sebagian besar antihistamin generasi pertama harus dihindari

mini

mal

72jam

sebelum tes, sedangakan

untuk

antihistamin

generasi kedua harus

dihentikan

minimal

satu

minggu

(15)

380

ALERGIIMUNOI.OGI

singkat dosis rendah

(<

20

mg prednison) dihentikan 3

hari, dosis

tinggi

harus dihentikan

I

minggu. Sedangkan

pemakaian kortikosteroid

jangka

lama

perlu

dihentikan

minimal 3 minggu

sebelum dapat dilakukan tes.

Untuk

kortikosteroid

topikal

cukup dihentikan

I

hari menjelang

tes. Obat lain yangjuga harus dihindari adalah antidepresan

trisiklik

(1-2 minggu sebelum tes) dan beta adrenergik (1

hari sebelumnya). Teofilin, obat-obat simpatomimetik, dan sodium kromoglikat karena tidak menghalangi reaksi tes

kulit,

tidak perlu dilarang.

TesTempel

(Patch Test)

Dilakukan

dengan cara menempelkan suatu bahan yang dicurigai sebagai penyebab dermatitis alergi kontak. Jika

pada penempelan bahan kulit menunjukkan reaksi, mungkin

pasien alergi terhadap bahan tersebut, ataupun bahan atau benda

lain

yang mengandung unsur tersebut.

Bahan dan konsentrasi

yang

sering digunakan pada

tes tempel adalah benzokain 5o%, merkapto benzotiazol loh,

kolofoni 20%, p. fenilendiamin l%o, imidazolidinll w ea 2o/o,

sinamik aldehid

l%,

lanolin alkohol 3\Yo,karbamiks 3%,

neomisin sulfat

20oh,

tiuran

miks

l%,

etilendiamin

dihidroklorid I 02, epoksi resin I o%,

quatemim

15,2%o,

p.tert

butifenol

formaldehid resin 1o%, merkapto

mix

lo/o, black

rubber mix0,60Z, potasium d1kronat0,25o/o, balsam ofPeru

25olo, nikel sulfat 2,5%o.

Cara melakukan tes tempel

yaitu

bahan-bahan yang akan dites ditaruh pada kertas saring, yang diletakkan di

atas lembaran impermeabel. Kemudian ditempelkan pada

kulit

dengan

plester. Tempat

pemasangan

bisa di

punggung.

Pembacaan dilakukan setelah 48

jam.

Sesudah plester dilepas kemudian pasien diminta menunggu selama

/z-l

jam, dengan maksud menghilangkan adanya faktor tekanan pada

kulit.

Sebaiknya pembacaan diulangi 96 jam sesudah pemasangan tes karena reaksi

alergi muncul

lebih jelas

sesudah 96 jam.

0

1+

2+ 3+

tidak ada reaksi

eritema ringan, meragukan

reaksi ringan (eritema dengan edema ringan)

reaksi kuat (papular eritema dengan edema) reaksi sangat kuat (vesikel atau bula)

TES

PROVOKASI

Tes provokasi adalah tes alergi dengan cara memberikan alergen secara langsung kepada pasien sehingga

timbul

gejala. Tes

ini

hanya

dilakukanjika

terdapat kesulitan

di-agnosis dan

ketidakcocokan artara

gambaran

klinis

dengan tes lainnya. Tes provokasi yang dapat dilakukan adalah tes

provokasi

nasal, tes

provokasi bronkial,

tes

provokasi konjungtival,

tes

eliminasi

dan provokasi

terhadap makanan.

Tes

Provokasi

Nasal

Pada tes

ini

alergen diberikan pada mukosa hidung baik

dengan disemprotkan atau mengisap alergen yang kering

melalui

satu lubang

hidung

sedang lubang hidung yang lain ditutup. Tes dianggap

positifbila

dalambeberapa menit timbul bersin-bersin, pilek, hidung tersumbat, batuk, atau

pada kasus

yang berat menjadi gejala

sama.

Pada pemeriksaan mukosa hidung, tampak bengkak sehingga

menyumbat rongga hidung.

Tes

Provokasi Bronkial

Pasien asma

umumnya mempunyai kepekaal yang

berlebihan terhadap berbagai rangsangan,

baik

bersifat alergen maupun

non

alergen (kegiatan jasmani,

bahan-bahan

kimia,

perubahan

cuaca

dan

lain-lain). Untuk

melakukan tes provokasi diperlukarin alat-alat yang cukup

rumit,

tenaga

yang

berpengalaman

dan

sebaiknya

dilakukan

di

rumah sakit untuk

menjaga kemungkinan terjadinya penyulit (obstruksi laring, trakea atau bronkus)

dapat diatasi segera.

Banyak cara untuk menimbulkan serangan asma, tetapi

yang

paling

sering

dipahai

adalah tes kegiatan jasmani

(exercise induced-asthma), tes inhalasi antigen, tes inhalasi

metakolin dan tes inhalasi histamin.

a.

Tes

kegiatan jasmani. Kegiatan jasmani

dapat

menimbulkan serangan asma. Sutopo dan kawan-kawan

(1984) melaporkan 42%o pasien asma memberikan tes kegiatan j asmani

positif.

b.

Tes inhalasi antigen. Pada tes

ini

diperlukan

alatyang

dapat menyemprotkan larutan yang mengandung anti-gen dalam

jumlah

yarrg tetap pada setiap semprotan

(dosimeter) dan besar partikelnya harus sangat

kecil

antara 1-3 rnikron.

c.

Tes

inhalasi

histamin

dan metakolin.

Tes inhalasi

histamin dan metakolin banyak dipakai untuk

menentukan reaktivitas saluran

napas., bahkan

dianjurkan sebagai salah satu

kriteria

diagnosis asma. karena lebih 90% pasien memberikan reaksi yang kuat

terhadap tes ini.

PEM

ERIKSAAN.PEM ERIKSAAN LA!N

l.

Spirometri, untuk menentukan obstruksi saluran napas

baik

beratnya maupun reversibilitasnya, serta unfuk menilai hasil pengobatan asma (monitoring).

Foto dada, untuk melihat komplikasi asma dan foto

si-nus paranasal untuk melihat komplikasi rinitis. Bila ada kecurigaan rinitis akut maupun kronik maka diperlukan

pemeriksaan scanning sinus.

Pemeriksaan tinja, untuk

melihat

cacing dan telurnya

pada kasus urtikaria yang tidak bisa diterangkan, dan lain-lain.

(16)

381

PROSEDUR DAGNOSTIK PEITYAKTT ALERGI

laju endap darah meninggi kemturgkinan disertai infeksi.

5.

Tes penglepasan histamin dari basofil

6.

Anti-tripsin

alfa 1.

7.

IgGIgA,

tes kompleks imun dan stimulasi

limfosit.

REFERENSI

Boguniewicz

M,

Beltrani VS. Atopic dermatitis and contact dermatitis. In: Adelman DC, Casale TB, Corren J, editors. Manual

of allergy and clinical immunology. 4th edition. Philadelphia:

Lippincott Williams

&

Wilkins; 2002.p.165-86.

Demoly P, Piette V, Bousquet J. In vivo methods for the study of

allergy: skin tests, techniques and interpretation. In: Adkinson

NF, Yunginger JW, Busse WW, Boschner BS, Holgate ST,

Simmons FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6th edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc;

200) .p.632-43 .

Durham SR, Church MK. Principles of allergy diagnosis. In: Holgate

ST, Church MK, Lichtenstein LM, editors. Allergy. 2"d edition.

London: Mosby Int, Ltd; 2001. p. 3-16.

Fish JE. Peters SP. Bronchial provocation testing. In: Adkinson NF,

Yunginger JW, Busse W-W, Boschner BS, Hoigate

Sl

Simmons

FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6'h

edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc; 2003. p.657-67.

Hamilton RG. Clinical laboratory assessment of IgE-dependent hypersensitivity. J Allergy Clin Immunol. 2003 ; I I I : 5687-701.

Hamilton R. Laboratory tests for allergic and immunodehciency diseases. In: Adkinson NF, Yunginger JW, Busse WW, Boschner BS, Holgate ST, Simmons FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6h edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc;2003.p.611-32.

Lachapelle JM, Maibach HI. Patch testing prick testing: a practical

guide. Berlin-Heidelberg: Springer-Verlag; 2003.

Li

JT. Allergy testing. Am Fam Physician. 2002;66:621-4,6.

Rajakulasingam K. Nasal provocation testing. In: Adkinson NF,

Yunginger JW, Busse WW, Boschner BS, Holgate ST, Simmons

FER, editors. Middleton's allergy: principles and practices. 6'h

edition. St Louis: Mosby-Year Book, Inc;2003.p.644-56. Ring J. Allergy diagnosis. In: Ring J, editor. Allergy in practice.

Berlin-Heidelberg: Springer-Verlag; 2005. p. 60-73. Sanico AM, Bochner BS, Saini SS. Immediate hypersensitivity:

approach to diagnosis. In: Adelman DC, Casale TB, Corren J,

editors. Manual of allergy and clinical immunology. 4s ed.

Phila-delphia: Lippincott Williams

&

Wilkins; 2002.p.24-43. Yungioger JW, Ahlstedt S, Eggleston PA, Hornburger HA, Nelson

HS, Ownby DR, et al. Quantitative IgE antibody assays in allergic diseases. J Allergy Clin Immunol. 2000;105:1077-84.

Gambar

Gambar  1. Sistem  lmun.  NK=  Natural  Kller;  Tdlh  =  T  delayed type  hypersensitivity;  CTLtfc  =  Cytotoxic  T  Lymphocyte/
Gambar  2. Pertahanan eksternal  tubuh
Gambar  6.  Diferensiasi  Sel  Naif  CD4  Menjadi  Th  l  dan  Th2
Gambar  9.  Epitop
+7

Referensi

Dokumen terkait