Laporan Kegiatan Laporan Kegiatan
Survey Budaya Keselamatan Pasien Survey Budaya Keselamatan Pasien RSUP Sanglah Denpasar
RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2017
Tahun 2017
Disusun oleh: Disusun oleh:
Tim Keselamatan Pasien Tim Keselamatan Pasien Unit Penjaminan Mutu Unit Penjaminan Mutu
RSUP Sanglah Denpasar RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2017
Kata Pengantar Kata Pengantar
Puji syukur
Puji syukur kami panjakami panjatkan tkan Kehadapan Kehadapan Tuhan YanTuhan Yang Maha g Maha Esa , yEsa , yang telahang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya Kepada kita semua, sehingga Laporan Survey Budaya melimpahkan rahmat dan hidayahNya Kepada kita semua, sehingga Laporan Survey Budaya Keselamat
Keselamatan Pasien an Pasien RS Budi RS Budi Kemuliaan Batam Kemuliaan Batam dapat terselesaikadapat terselesaikan dengan n dengan tepat waktutepat waktu Laporan Survey Budaya Keselamatan Pasien RS Budi Kemuliaan Batam ini disusun Laporan Survey Budaya Keselamatan Pasien RS Budi Kemuliaan Batam ini disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran umum budaya karyawan/staff RS Budi dengan tujuan untuk memberikan gambaran umum budaya karyawan/staff RS Budi Kemuliaan Batam dalam melaksanakan keselamatan pasien. Laporan ini berisi tentang Kemuliaan Batam dalam melaksanakan keselamatan pasien. Laporan ini berisi tentang definisi, elemen budaya keselamatan pasien, factor-faktor yang mempengaruhi budaya definisi, elemen budaya keselamatan pasien, factor-faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan pasien serta instrumen survey budaya keselamatan pasien. Semoga Laporan keselamatan pasien serta instrumen survey budaya keselamatan pasien. Semoga Laporan ini dapat digunakan dalam proses peningkatan mutu khususnya dalam mewujudkan ini dapat digunakan dalam proses peningkatan mutu khususnya dalam mewujudkan keamanan pelayanan dan
keamanan pelayanan dan keselamatkeselamatan an pasien di pasien di Rumah Sakit Budi Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam.Kemuliaan Batam.
Tim Penyusun, Tim Penyusun, Tim Keselamatan pasien Rumah Sakit Tim Keselamatan pasien Rumah Sakit
Rumah Sakit Budi
Daftar Isi Daftar Isi
Kata
Kata PenPengantagantar r ... . iiii
Dafta Daftar r Isi Isi ... ... iiiiii Dafta Daftar r Tabel Tabel ... ... iviv BAB I PENDAHULUAN ... 1 BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 1.2 TujuaTujuan n ... ... 22 BAB BAB II II KAJIAKAJIAN N TEORI ...TEORI ... ... 33 2.1 2.1 PenPengertigertian an ... ... 33 2.2 Elemen budaya keselamatan pasien ... 3
2.2 Elemen budaya keselamatan pasien ... 3
2.3 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi buday 2.3 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi budaya keselamatan pasien ...a keselamatan pasien ... 4... 4
2.4 Instrumen survey budaya keselamatan pasien ... 5
2.4 Instrumen survey budaya keselamatan pasien ... 5
BAB III METODE SURVEY ... 12
BAB III METODE SURVEY ... 12
3.1 Desain dan Definisi Operasional ... 12
3.1 Desain dan Definisi Operasional ... 12
3.2 Instrumen Survey ... 13
3.2 Instrumen Survey ... 13
3.3 Uji validitas dan reliabilitas Instrumen ... 14
3.3 Uji validitas dan reliabilitas Instrumen ... 14
BAB IV HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN... 15
BAB IV HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN... 15
4.1 Karakteristik Responden ... 15
4.1 Karakteristik Responden ... 15
4.1.1 Karakteristik Res 4.1.1 Karakteristik Responden Berdasaponden Berdasarkan Jenis Kelamin rkan Jenis Kelamin ... 1... 155 4.1.2 Karakteristik Respo 4.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umunden Berdasarkan Umur r ... 15... 15
4.1.3 Karakteristik Responde 4.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan n Berdasarkan Pendidikan ... 16... 16
4.1.4 Karakteristik Res 4.1.4 Karakteristik Responden Berdasaponden Berdasarkan Lama Bekerja ...rkan Lama Bekerja ... 17... 17
4.1.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Profesi ... 17
4.1.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Profesi ... 17
4.1.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Pelatihan KP-RS 4.1.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Pelatihan KP-RS ... 18... 18
4.2. Hasil Budaya Keselamatan Pasien Secara Umum ... 18
4.2. Hasil Budaya Keselamatan Pasien Secara Umum ... 18
4.3 Hasil Budaya Keselamatan Pasien Berdasarkan Area... 19
4.3 Hasil Budaya Keselamatan Pasien Berdasarkan Area... 19
4.4 Analisis Dimens 4.4 Analisis Dimensi Budaya Keselai Budaya Keselamatan Pasien matan Pasien ... 21. 21 BAB V SIMPU BAB V SIMPULAN DAN RLAN DAN REKOMENDASEKOMENDASI I ... 28... 28
5.1 5.1 SimpSimpulan ulan ... ... 2828 5.2 Rekomendasi ... 29
5.2 Rekomendasi ... 29 Refe
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keselamatan pasien adalah pondasi utama dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sejalan dengan perkembangan sistem pelayanan rumah sakit yang semakin kompleks, menciptakan pelayanan yang aman bagi pasien di rumah sakit merupakan tantangan bagi setiap manajemen rumah sakit. Membuat pelayanan rumah sakit menjadi lebih aman dan mempertahankan keamanan tersebut merupakan hal yang sama beratnya untuk diimplementasikan. (Vincent, 2011).
Penyelenggaraan keselamatan pasien khususnya dalam manajemen kesalahan manusia (management of human error), dapat dikatakan mahir apabila telah dilaksanakan dengan proses belajar kolektif dari kesalahan yang telah terjadi, baik belajar dari kejadian nyaris cedera ataupun kejadian yang mengakibatkan kerugian yang sebenarnya bagi pasien. Untuk mempromosikan budaya belajar dari kesalahan, manajemen rumah sakit harus dapat mengidentifikasi budaya keselamatan pasien yang komprehensif. Budaya keselamatan pasien ini terkait dengan motivasi pelaporan kejadian keselamatan pasien yang dilaksanakan dengan penuh kejujuran dan tanpa budaya menyalahkan (blame free culture). (Mark, 2001)
Berdasarkan SNARS edisi 1 , diharapkan setiap rumah sakit membuat peningkatan mutu dan keselamatan pasien yang mengintegrasikan semua kegiatan penyusunan ukuran,termasuk ukuran budaya keselamatan pasien dan pelaporan KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).Integrasi semua sistem ukuran akan memberikan kesempatan adanya penyelesaian dan perbaikan yang berkesinambungan. Untuk itu, Sejak tahun 2018 Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam mulai mengadopsi ukuran budaya keselamatan pasien yang diimplementasikan kepada seluruh staf rumah sakit dari beberapa sumber untuk langkah awal program keselamatan pasien yang baik.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum :
Secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempelajari budaya keselamatan pasien Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018.
1.2.2 Tujuan Khusus :
a. Survey ini bertujuan untuk mengetahui opini staf mengenai isu keselamatan pasien, kesalahan medis dan laporan kejadian di lingkungan rumah sakit.
b. Untuk mengetahui kesalahan medis di lingkungan rumah sakit. c. Untuk mengetahui laporan kejadian di lingkungan rumah sakit.
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian
Budaya keselamatan pasien adalah kepercayaan, sikap dan nilai sebuah organisasi kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan berdasarkan struktur, praktek, peraturan dan kontrol keselamatan pasien. Budaya ini mencakup tiga komponen yaitu budaya kerja, budaya pelaporan (insiden) dan budaya belajar (Croll, Coburn, & Pearson, 2012).
Budaya keselamatan pasien terfokus pada nilai, kepercayaan, dan asumsi staf terhadap iklim organisasi (pelayanan kesehatan) dalam peningkatan program keselamatan pasien (The Health Foundation, 2013).
Budaya keselamatan pasien adalah produk dari nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola perilaku dari individu dan kelompok dalam sebuah organisasi (pelayanan kesehatan) yang menentukan komitmen, gaya dan kemahiran dalam manajemen keselamatan pasien. Organisasi (pelayanan kesehatan) yang memiliki budaya keselamatan pasien yang cenderung positif dapat dilihat dari komunikasi saling percaya (mutual trust) antar komponen, dengan persepsi yang sama tentang pentingnya keselamatan, dan dengan keyakinan akan besarnya manfaat tindakan pencegahan (Agency for Healthcare Research and Quality, 2004).
2.2 Elemen budaya keselamatan pasien
Berbagai definisi terkait budaya keselamatan pasien mencakup banyak elemen umum dalam pelayanan kesehatan. Elemen budaya keselamatan pasien mengacu pada peningkatan kepercayaan dan perilaku dari staf dalam mengidentifikasi dan belajar dari kesalahan (Jones, Skinner, Xu, & Sun, 2007). Menurut The Institute Of Medicine (IOM) dalam Jones, Skinner, Xu, & Sun (2007), budaya keselamatan pasien membutuhkan tiga elemen penting yaitu :
1. Kepercayaan, walaupun proses pelayanan kesehatan memiliki risiko yang tinggi, namun dirancang kegiatan yang dapat mencegah kesalahan.
2. Komitmen, dari organisasi untuk mengidentifikasi dan belajar dari kesalahan
3. Lingkungan kerja, kedisiplinan manajer yang dirasakan saat staf diketahui meningkatkan risiko cedera pasien dan keluarga.
Budaya keselamatan dapat dilihat dari kehandalan rumah sakit yang memiliki karakteristik kompleks, proses pelayanan yang sangat berisiko namun dapat menekan angka insiden kesalahan. Rumah sakit yang dapat menyandang gelar handal/ mahir hanya jika dapat
“bekerja sama” dengan kesalahan, peka terhadap staf yang dapat mempengaruhi proses
pelayanan, memberikan kesempatan kepada orang-orang yang benar-benar tahu proses untuk mengambil keputusan dan anti budaya menyalahkan pada saat terjadi kesalahan pada proses yang kompleks.
2.3 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi budaya keselamatan pasien
Menurut Geller dalam Chooper (2000), tentang Total Safety Culture, menyebutkan bahwa ada tiga kelompok faktor yang dapat mempengaruhi budaya keselamatan pasien, yaitu sebagai berikut : (Chooper, 2000)
a. Faktor personal yaitu cenderung dari orang/ manusia yang bekerja dalam suatu orgaisasi rumah sakit. Faktor personal ini terdiri dari:
1) Pengetahuan 2) Sikap
3) Motivasi 4) Kompetensi 5) Kepribadian
b. Faktor perilaku organisasi yaitu kondisi lingkungan kerja yang diukur dari segi organisasi pelayanan kesehatan secara umum. Faktor perilaku organisasi yaitu:
1) Kepemimpinan
3) Komunikasi 4) Kerja Tim 5) Stress 6) Kelelahan 7) Kepemimpinan Tim 8) Pengambilan Keputusan
c. Faktor lingkungan merupakan pendukung proses pelayanan dalam organisasi kesehatan, yang terdiri dari :
1) Perlengkapan 2) Peralatan 3) Mesin 4) Kebersihan 5) Teknik
6) Standar prosedur operasional
2.4 Instrumen survey budaya keselamatan pasien
Salah satu survey budaya keselamatan yang dikembangkan oleh Agency for Health Care Research and Quality (AHRQ) adalah The Hospital Survey on Patient Safety dengan 12 elemen yang dikembangkan sejak tahun 2004 untuk mengukur budaya keselamatan pasien dari perspektif staf. Adapun beberapa penjelasan terkait instrumen survey budaya keselamatan pasien adalah sebagai berikut :
a. Responden
Responden yang dapat mengisi instrumen survey budaya keselamatan pasien adalah seluruh jenis staf yang berada di pelayanan rumah sakit. Survey ini sangat cocok dilaksanakan pada:
1) Staf rumah sakit yang secara langsung bersentuhan dengan pasien (staf klinik seperti dokter, perawat, fisiotherapist. Staf non klinik seperti billing ruangan dan lain-lain).
2) Staf rumah sakit yang kemungkinan tidak bersentuhan langsung dengan pasien, namun pelayanannya dapat mempengaruhi pasien (staf farmasi, analis laboratorium, dan lain-lain)
3) Pimpinan, manajer dan petugas administrasi rumah sakit. b. Dimensi pertanyaan
Survey budaya keselamatan pasien terdiri dari 12 dimensi pertanyaan yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yang dituangkan kedalam 9 bagian pada kuesioner yang telah dilaksanakn uji validitas dan reliabilitas. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1) Kelompok outcome (hasil) yang terdiri dari dua dimensi pertanyaan, yaitu sebagai berikut: a) Keseluruhan persepsi tentang keselamatan pasien
b) Frekuensi pelaporan kejadian/ insiden
2) Kelompok budaya keselamatan yang terdiri dari 10 dimensi pertanyaan, yaitu sebagai berikut :
a) Teamwork dalam unit
b) Ekspektasi dan aksi pimpinan dalam mempromosikan keselamatan pasien c) Proses belajar organisasi, perbaikan berkelanjutan
d) Dukungan manajemen rumah sakit dalam keselamatan pasien e) Umpan balik dan komunikasi kejadian kesalahan
f) Keterbukaan komunikasi
g) Teamwork antar unit dalam rumah sakit h) Staffing
i) Handoffs (serah terima) dan transisi
j) Respon tidak menyalahkan terhadap kejadian kesalahan
Adapun item soal dalam setiap dimensi pertanyaan dari survey budaya keselamatan pasien tersebut akan dijelaskan pada tabel dibawah ini:
DIMENSI NOMOR ITEM SOAL JENIS
SOAL PILIHAN JAWABAN Grade Keselamatan E1 Berilah peringkat keselamatan pasien di ruangan Anda, beri satu
Positif Sempurna, Sangat Bagus,
Pasien (tambahan)
jawaban dengan
memberi tanda rumput
pada kotak (√)
Cukup, Kurang, Buruk Jumlah pelaporan kejadian (tambahan) G1Dalam 12 bulan terakhir, menurut pengetahuan Anda, kira-kira berapa kejadian keselamatan pasien yang dilaporkan di ruangan Anda? Tulis angka jawaban Anda pada kotak yang disediakan.
Terbuka Menulis angka
Teamwork dalam unit
A1
Setiap orang saling mendukung satu sama lain di ruangan kami
Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A3
Ketika suatu pekerjaan harus diselesaikan dengan cepat, kami bekerja sama sebagai suatu tim untuk
mengerjakannya Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A4
Di ruangan ini, setiap orang memperlakukan satu sama lain dengan hormat Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A11
Ketika suatu area di ruangan ini sibuk, yang lain akan membantu
Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Ekspektasi dan aksi pimpinan dalam mempromosikan keselamatan pasien B1
Atasan saya mengatakan bagus ketika beliau
melihat pekerjaan diselesaikan sesuai dengan prosedur keselamatan pasien Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju B2
Atasan saya sangat serius menanggapi saran staf untuk mengembangkan keselamatan pasien Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju B3
Ketika ada tekanan, atasan saya ingin sekali bekerja cepat, walaupun dengan jalan pintas
Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju B4 Atasan saya mengabaikan masalah keselamatan pasien yang terjadi berulang Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju
Proses belajar organisasi, perbaikan berkelnjutan
A6
Kami selalu aktif bekerja untuk meningkatkan keselamatan pasien Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A9 Setiap kesalahan menjadikan perbuahan yang baik bagi ruangan ini Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A13
Setelah kami melakukan perubahan untuk mengembangkan keselamatan pasien, kami mengevaluasi keefektifannya Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Dukungan manajemen rumah sakit dalam keselamatan pasien F1
Manajemen rumah sakit mengembangkan budaya kerja yang berfokus pada keselamatan pasien Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F8 Tindakan manajemen rumah sakit memperlihatkan bahwa keselamatan pasien adalah prioritas utama
Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F9
Manajemen rumah sakit terlihat antusias terhadap keselamatan pasien hanya ketika terjadi kejadian yang tidak diharapkan (KTD) Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Keseluruhan persepsi tentang keselamatan pasien A15
Keselamatan pasien tidak pernah dikorbankan dalam menyelesaikan banyak pekerjaan Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A18
SPO dan sistem kami sudah baik untuk mencegah terjadinya kesalahan Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A10
Hanya suatu kebetulan bahwa kesalahan yang serius tidak terjadi disini
Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A17
Kami punya masalah keselamatan pasien di ruangan ini Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Umpan balik dan
komunikasi C1
Kami selalu diberikan
umpan balik tentang Positif
Selalu, Sering, Jarang, Jarang
kejadian kesalahan
perubahan yang terjadi berdasarkan laporan kejadian Sekali, Tidak Pernah C3 Kami selalu diinformasikan tentang kesalahan yang terjadi di ruangan ini Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah C5
Di Ruangan ini kami berdiskusi tentang cara mencegah kesalahan terjadi lagi Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah Keterbukaan komunikasi C2
Staf bebas berbicara tentang sesuatu jika hal tersebut dapat
memberikan efek negatif kepada pasien Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah C4
Staf bebas untuk
menanyakan keputusan atau tindakan di luar kewenangannya Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah C6
Staf takut untuk
mengajukan pertanyaan ketika sesuatu berjalan tidak semestinya Negatif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah Frekuensi pelaporan kejadian/ insiden D1
Ketika kesalahan terjadi, tapi sudah diketahui dan diperbaiki sebelum
berimbas pada pasien (Kejadian Nyaris Cedera/ KNC), seberapa sering hal tersebut dilaporkan
Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah D2
Ketika kesalahan terjadi, tapi tidak potensial
mencederai pasien (Kejadian Potensial Cedera/ KPC), seberapa sering itu dilaporkan
Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah D1
Ketika kesalahan terjadi, dan dapat mencederai pasien, namun tidak terjadi cedera (Kejadian Tidak Cedera/ KTC), seberapa sering terlaporkan Positif Selalu, Sering, Jarang, Jarang Sekali, Tidak Pernah Teamwork antar unit dalam rumah
sakit F4
Terjadi kerjasama yang baik antar ruangan dalam rumah sakit untuk
melakukan tugas bersama Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F10
Ruangan dalam rumah sakit bekerja sama dengan baik untuk mewujudkan pelayanan terbaik kepada pasien
Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju
F2
Ruangan dalam rumah sakit tidak berkoordinasi dengan baik satu sama lain Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F6
Sangat sering terjadi ketidaknyamanan saat bekerja di ruangan lain dalam rumah sakit
Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Staffing A2
Kami memiliki cukup staf/ tenaga untuk menyelesaikan beban kerja kami Positif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A5
Staf di ruangan ini
bekerja lewat dari waktu kerja, demi memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A7 Kami menggunakan karyawan tidak tetap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A14
Kami bekerja seperti
dalam ‘situasi krisis’,
mencoba melakukan pekerjaan yang terlalu banyak dan terlalu cepat
Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Handoffs (serah terima) dan transisi F3
Saat melakukan transfer pasien antar ruangan merupakan kondisi yang sangat berisiko untuk terjadinya insiden Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F5
Informasi penting pasien sering hilang pada saat pergantian shift Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F7
Masalah sering terjadi dalam pertukaran
informasi antar ruangan
Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju F11 Perubahan shift
merupakan masalah bagi pasien di rumah sakit ini
Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Respon tidak menyalahkan terhadap kejadian kesalahan A8
Apabila terjadi kesalahan, staf merasa seolah
segala akibat dari kesalahan mereka
Negatif
Sangat setuju, Setuju, Ragu,
ditimpakan kepada mereka sendiri
Sangat tidak Setuju
A12
Ketika suatu kejadian dilaporkan, sepertinya inti laporannya adalah
orangnya, bukan pada masalahnya Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju A16
Staf khawatir jika kesalahannya tercatat dalam catatan kepegawaian Negatif Sangat setuju, Setuju, Ragu, Tidak Setuju, Sangat tidak Setuju Sumber : (AHQR, 2004)
BAB III
METODE SURVEY
3.1 Desain dan Definisi Operasional
Secara umum kegiatan ini merupakan penelitian observasional deskriptif, yaitu penelitian pengamatan (survey) yang mencoba mencari gambaran variabel tanpa melakukan intervensi kepada target penelitian (Setiadi, 2007). Desain yang digunakan adalah potong lintang (cross-sectional), yaitu peneliti hanya melakukan observasi dan pengukuran variabel dalam suatu saat tertentu saja. Pengukuran variabel tidak terbatas harus tepat waktu bersamaan, namun mempunyai makna bahwa setiap subjek hanya dikenai satu kali pengukuran, tanpa dilakukan tindak lanjut atau pengulangan pengukuran (Saryono & Anggraeni, 2012). Adapun definisi operasional dari variable budaya keselamatan pasien
iniadalah sebagai berikut :
VARIABEL DEFINISI
OPERASIONAL CARA UKUR ALAT UKUR
HASIL UKUR SKALA Budaya keselamatan pasien Skor rata-rata produk dari nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola perilaku dari staf perawat di ruang rawat inap RSUP Sanglah Denpasar, yang menentukan komitmen, gaya dan kemahiran dalam manajemen keselamatan pasien yang diukur dari perspektif staf Dilihat dari hasil survey menggunaka n kuesioner Survey Budaya Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Agency for Healthcare Research and Quality, 2004 Skor total jawaban kuesioner Interval
3.2 Instrumen Survey
Instrumen menggunakan survey budaya keselamatan pasien yang telah baku digunakan di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam sejak tahun 2018, yang merupakan adopsi dari Hospital Survey on Patient Safety Culture Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). Survey Budaya Keselamatan Pasien Rumah Sakit diciptakan November 2004, yang didesain untuk mengidentifikasi opini staf rumah sakit tentang isu keselamatan pasien, kesalahan medikasi, dan pelaporan kejadian. Survey budaya keselamatan pasien terdiri dari 12 dimensi pertanyaan yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yang dituangkan kedalam 9 bagian pada kuesioner yang telah dilaksanakn uji validitas dan reliabilitas. (Agency for Healthcare Research and Quality, 2004). Adapun aturan pengisian kuesioner survey ini adalah sebagai berikut :
1. Survey ini bertujuan untuk mengetahui opini staf mengenai isu keselamatan pasien, kesalahan medis dan laporan kejadian di lingkungan rumah sakit.
2. Survey ini terdiri dari Sembilan bagian, yang pengisiannya membutuhkan waktu 10-15 menit.
3. Pada bagian A, B, C dan F keterangan pilihan jawaban tertutup adalah sebagai berikut, 1) STS : Sangat Tidak Setuju
2) TS : Tidak Setuju 3) RG : Ragu
4) ST : Setuju
5) SS : Sangat Setuju
4. Pada bagian D keterangan pilihan jawaban tertutup adalah sebagai berikut, 1) TP : Tidak Pernah
2) JS : Jarang Sekali 3) JR : Jarang
4) SR : Sering 5) SL : Selalu
5. Pada bagian E, G dan H pilihan jawaban telah tertera secara jelas.
6. Pada bagian I responden bisa menuliskan jawaban secara terbuka (namun tidak akan dianalisis secara kuantitatif).
7. Nilai untuk setiap pertanyaan adalah antara rentang 1 sampai dengan 5. Jika pertanyaan pos
itif di jawab dengan jawaban “selalu” atau “ sangat setuju”, maka nilainya adalah 5.
Jika pertanyaan positif dijawab dengan “tidak pernah” atau “sangat tidak setuju” maka
nilainya adalah 1, begitu pula sebaliknya dengan pertanyaan negatif.
8. Jumlah pertanyaan yang akan dianalisis adalah 44 pertanyaan, sehingga nilai maksimum adalah 44 x 5 = 220 poin, dan nilai minimum adalah 44 x 1 = 44 poin .
3.3 Uji validitas dan reliabilitas Instrumen
Penelitian ini menggunakan instrumen survey budaya keselamatan pasien yang telah baku digunakan di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam sejak tahun 2018, yang merupakan adopsi dari Hospital Survey on Patient Safety Culture Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ). Untuk itu, peneliti tidak melaksanakan uji validitas dan reliabilitas ulang terhadap instrumen tersebut.
BAB IV
HASIL SURVEY DAN PEMBAHASAN
Survey ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2018 dengan melibatkan 339 responden. Adapun hasil survey yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut :
4.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang akan dijabarkan adalah berdasarkan, jenis kelamin, umur, pendidikan, lama bekerja, profesi dan pengalaman pelatihan KP-RS, adapun hasilnya adalah sebagai berikut :
4.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil survey 339 responden, maka dapat ditampilkan karakteristik responden yang mengisi survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut :
Tabel 1 Karakteristik Responden Yang Mengisi Survey Budaya Keselamatan Pasien Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Jenis Kelamin
No Frekuensi (n) Persentase (%)
1 Laki-Laki 76 22.4
2 Perempuan 263 77.6
Total 339 100
Berdasarkan tabel 1 terlihat jika sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu 263 orang (77,6%).
4.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Berdasarkan hasil survey 339 responden, maka dapat ditampilkan karakteristik responden yang mengisi survey budaya keselamatan pasien di
Rumah Sakit Budi
Kemuliaan Batam
tahun 2018 berdasarkan umur adalah sebagai berikut :Tabel 2 Karakteristik Responden Yang Mengisi Survey Budaya Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Umur
No. Kriteria frekuensi
1 Mean 35.19 2 Median 32.00 3 Mode 27 4 Std. Deviation 9.189 5 Minimum 23 6 Maximum 59
Berdasarkan tabel 2 tampak bahwa median umur responden adalah 32 tahun, dimana umur yang paling banyak adalah 27 tahun, umur terendah adalah 23 tahun dan umur tertinggi adalah 59 tahun.
4.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan hasil survey 339 responden, maka dapat ditampilkan karakteristik responden yang mengisi survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 berdasarkan pendidikan adalah sebagai berikut :
Tabel 3 Karakteristik Responden Yang Mengisi Survey Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%)
1 SLTA 42 12.4
2 Diploma 180 53.1
3 Sarjana 117 34.5
Total 339 100
Berdasarkan tabel 3 terlihat jika sebagian besar responden berpendidikan diploma, yaitu 180 orang (53,1%)
4.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Berdasarkan hasil survey 339 responden, maka dapat ditampilkan karakteristik responden yang mengisi survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 201 berdasarkan lama bekerja adalah sebagai berikut :
Tabel 4 Karakteristik Responden Yang Mengisi Survey Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Lama Bekerja
No Lama Bekerja Frekuensi (n) Persentase (%)
1 < 1 tahun 15 4.4
2 1-5 tahun 168 49.6
3 6-10tahun 84 24.8
4 11-15 tahun 34 10.0
5 16-20 tahun 21 6.2
6 21 tahun atau lebih 17 5.0
Total 339 100
Berdasarkan tabel 4 terlihat sebagian besar responden telah bekerja di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam selama 1-5 tahun, yaitu 168 orang (49,6%).
4.1.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Profesi
Berdasarkan hasil survey 339 responden, maka dapat ditampilkan karakteristik responden yang mengisi survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 berdasarkan profesi adalah sebagai berikut :
Tabel 5 Karakteristik Responden Yang Mengisi Survey Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Profesi
No Profesi Frekuensi (n) Persentase (%)
1 dokter 42 12.4 2 perawat 218 64.3 3 apoteker 9 2.7 4 asisten apoteker 10 2.9 5 ahli gizi 3 .9 6 analis kesehatan 10 2.9 7 radiografer 8 2.4
8 lain- lain (CS, pramusaji) 39 11.5
Total 339 100
Berdasarkan tabel 5 tampak sebagai besar responden merupakan profesi perawat, yaitu 218 orang (64,3%)
4.1.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jam Kerja
Berdasarkan hasil survey 339 responden, maka dapat ditampilkan karakteristik responden yang mengisi survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 berdasarkan jam kerja adalah sebagai berikut :
Tabel 6 Karakteristik Responden Yang Mengisi Survey Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Jam Kerja
No Jam kerja Frekuensi (n) Persentase (%)
1 < 20 jam seminggu 1 0.3
2 20-39 jam seminggu 91 26.8
3 40 jam atau lebih seminggu 247 72.9
Total 339 100
Berdasarkan tabel 6 terlihat sebagai besar responden bekerjan 40 jam atau lebih dalam seminggu yaitu 247 orang (72,9%)
4.2. Hasil Budaya Keselamatan Pasien Secara Umum
Secara umum dapat dianalisis skor keseluruhan nilai budaya keselamatan pasien untuk 339 responden adalah sebagai berikut:
Tabel 7 Ukuran pemusatan skor keseluruhan survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2017
No Ukuran Skor 1 Mean 159.81 2 Median 160.00 3 Mode 156.00 4 Minimum 109.00 5 Maximum 193.00
Berdasarkan tabel 7 terlihat jika nilai median skor keseluruhan survey budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 adalah 160,00 jika dipersentasekan dengan nilai maksimum 220 maka akan dapat hasil 160/220*100% = 72,72%. Ini membuktikan bahwa Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam berada pada posisi
menengah keatas dalam hal budaya keselamatan pasien. Hasil penelitian ini cenderung sama jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bea, Pasinringi, & Noor
(2013) dengan judul “Gambaran Budaya Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Universitas
Hasanuddin Tahun
2013”. Hasil penelitian terdahulu menemukan bahwa budaya keselamatan
pasien Rumah Sakit Universitas Hasanuddin tergolong kuat dengan persentasi 71,57%. Penelitian terdahulu tersebut menggunakan alat ukur yang sama, yaitu kuesioner budaya keselamatan pasien diadaptasi dari kuesioner Hospital Survey on Patient Safety Culture dipublikasikan oleh The Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) tahun 2004. 4.3 Hasil Budaya Keselamatan Pasien Berdasarkan AreaJika nilai hasil budaya keselamatan pasien di jabarkan berdasarkan area maka akan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 8 Penjabaran nilai hasil budaya keselamatan pasien Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018 Berdasarkan Area
No Nama Ruangan Nilai Median Nilai Rata-Rata
1 Ratna 158.50 158.00 2 Medikal Surgikal 158.50 161.80 3 Triage 142.00 147.20 4 Anggrek 152.00 155.67 5 Pudak 146.00 149.90 6 cempaka III 159.00 156.42 7 Bakung Barat/Timur 156.00 151.87 8 Cempaka II Gyn 149.00 149.70 9 Cempaka II Obs 158.00 159.62 10 Angsoka I 151.00 155.57 11 Angsoka 2 163.00 162.00 12 Angsoka 3 160.00 160.64 13 Kamboja 162.00 159.90 14 Nusa Indah 166.50 168.58 15 Mawar 171.00 169.00
16 Lely 167.00 168.00 17 ICU Timur 166.50 168.50 18 ICU Barat 168.00 166.22 19 Flamboyan 166.00 167.27 20 Wijaya Kusuma 183.00 176.00 21 Mahottama 168.00 169.67 22 Sanjiwani 164.50 163.08 23 Wing amertha 154.50 152.40 24 PJT 154.00 150.19 25 Farmasi 162.00 162.81 26 IRJ 157.00 155.11 27 IBS 172.50 172.70 28 Rehab Medik 158.00 154.00 29 laboratorium 151.00 155.50 30 radiologi 146.00 150.20
Jika dilihat dari 30 area penyebaran kuesioner terlihat lebih banyak ruangan yang nilai median budaya keselamatan pasien responden yang mewakilinya lebih rendah dari median keseluruhan, yaitu 16 area (53,3%), sedangkan yang lebih tinggi dari median keseluruhan yaitu 14 area (46,7%).
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih perlu dilaksanakan perbaikan-perbaikan terkait keseragaman program keselamatan pasien di masing-masing area tersebut. Namun, secara umum perlu diketahui terlebih dahulu faktor yang menyebabkan ketidakseragaman tersebut. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi, beberapa faktor yang dapat dilakukan analisis lebih mendalam sesuai dengan penelitian terdahulu adalah motivasi perawat dan gaya kepemimpinan kepala ruangan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dhinamita Niv
alinda, M.C. Inge Hartini, Agus Santoso tahun 2013 dengan judul : “Pengaruh Motivasi
Perawat Dan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Terhadap Penerapan Budaya KeselamatanPasien Oleh Perawat Pelaksana Pada Rumah Sakit Pemerintah Di Semarang”, menjelaskan
sebesar 10,3%, ada pengaruh gaya kepemimpinan kepala ruang terhadap penerapan budaya keselamatan pasien sebesar 36,8%. Ada pengaruh secara bersama-sama antara motivasi perawat dan gaya kepemimpinan kepala ruang terhadap penerapan budaya keselamatan pasien sebesar 39,2%. (Nivalinda, Hartini, & Santoso, 2013)
Penelitian terdahulu yang lebih spesifik menjelaskan terkait hal yang dapat menyebabkan ketidakseragaman budaya keselamatan pasien tersebut adalah dari faktor pengetahuan dan motivasi perawat yang mempengaruhi sikap mendukung penerapan program keselamatan pasien, dilakukan oleh Ariyani (2009) di Instalasi Perawatan Intensif RSUD DR Moewardi Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan motivasi terhadap sikap mendukung penerapan program patient safety (p < 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya pengaruh bersama-sama antara pengetahuan (p = 0,006, Exp B = 2,322), motivasi ( p = 0,020, Exp B = 2,093) terhadap sikap mendukung penerapan program patient safety di I nstalasi Perawatan Intensif RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Untuk itu, dapat dijadikan pedoman di RSUP Sanglah Denpasar untuk menelusuri terlebih dahulu faktor yang dapat menyebabkan ketidak seragaman nilai median budaya keselamatan pasien di setiap area, sehingga dapat dibuat program spesifik terkait perbaikan-perbaikan dalam program keselamatan pasien pada tahun berikutnya .
4.4 Analisis Dimensi Budaya Keselamatan Pasien
Sesuai dengan dimensi instrumen survey budaya keselamatan pasien, maka dari 339 responden dapat dianalisis masing-masing jawaban responden untuk setiap pertanyaan adalah sebagai berikut :
Tabel 9 Analisis Rata-Rata Skor Masing-Masing Dimensi dan Pertanyaan Survey Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam tahun 2018
DIMENSI NO
SOAL ITEM SOAL
FREKUENSI SKOR TOTAL
SKOR RATA -RATA 1 2 3 4 5 Grade Keselamata n Pasien (tambahan) E1 Berilah peringkat keselamatan pasien di ruangan Anda, beri satu jawaban dengan
memberi tanda rumput pada kotak
(√)
1 33 75 22 3 7 1219 3.59 Jumlah pelaporan kejadian (tambahan) G1 Dalam 12 bulan terakhir, menurut pengetahuan Anda, kira-kira berapa kejadian keselamatan pasien yang dilaporkan di ruangan Anda? Tulis angka jawaban Andapada kotak yang disediakan. 99 35 33 20 2 358 1.05 Teamwork dalam unit A1
Setiap orang saling mendukung satu sama lain di ruangan kami 3 1 39 19 1 11 4 1429 4.21 A3 Ketika suatu pekerjaan harus diselesaikan dengan cepat, kami bekerja sama sebagai suatu tim untuk mengerjakannya 2 1 30 19 3 11 3 1431 4.22 A4 Di ruangan ini, setiap orang memperlakukan satu sama lain dengan hormat 2 7 33 18 6 11 1 1414 4.17 A11
Ketika suatu area di ruangan ini sibuk, yang lain akan membantu
15 59 10
4
12
Ekspektasi dan aksi pimpinan dalam mempromo sikan keselamata n pasien B1 Atasan saya mengatakan bagus ketika beliau melihat pekerjaan diselesaikan sesuai dengan prosedur keselamatan pasien 1 25 92 19 4 27 1238 3.65 B2 Atasan saya sangat serius menanggapi saran staf untuk mengembangkan keselamatan pasien 1 10 64 22 8 36 1305 3.84 B3 Ketika ada tekanan, atasan saya ingin sekali bekerja cepat, walaupun dengan jalan pintas 3 39 62 20 8 27 1234 3.64 B4 Atasan saya mengabaikan masalah keselamatan
pasien yang terjadi berulang 4 26 62 20 7 40 1270 3.74 Proses belajar organisasi, perbaikan berkelnjuta n A6
Kami selalu aktif bekerja untuk meningkatkan keselamatan pasien 1 2 27 22 7 82 1406 4.14 A9 Setiap kesalahan menjadikan perbuahan yang baik bagi ruangan ini 4 12 22 22 8 73 1371 4.04 A13 Setelah kami melakukan perubahan untuk mengembangkan keselamatan pasien, kami mengevaluasi keefektifannya 3 3 26 23 8 69 1384 4.08 Dukungan manajemen rumah sakit dalam keselamata n pasien F1 Manajemen rumah sakit mengembangkan budaya kerja yang berfokus pada keselamatan pasien
2 10 37 23
F8 Tindakan manajemen rumah sakit memperlihatkan bahwa keselamatan pasien adalah prioritas utama 5 4 19 20 4 10 7 1421 4.19 F9 Manajemen rumah sakit terlihat antusias terhadap keselamatan pasien hanya ketika terjadi
kejadian yang tidak diharapkan (KTD) 5 47 42 20 8 37 1242 3.66 Keseluruha n persepsi tentang keselamata n pasien A15 Keselamatan pasien tidak pernah dikorbankan dalam menyelesaikan banyak pekerjaan 6 19 14 20 3 97 1383 4.07 A18
SPO dan sistem kami sudah baik untuk mencegah terjadinya kesalahan 2 16 29 25 7 34 1321 3.8 A10 Hanya suatu kebetulan bahwa kesalahan yang serius tidak terjadi disini 54 18 7 26 67 5 799 2.35 A17 Kami punya masalah keselamatan pasien di ruangan ini 12 57 66 18 5 19 1159 3.41 Umpan balik dan komunikasi kejadian kesalahan C1 Kami selalu diberikan umpan balik tentang perubahan yang terjadi berdasarkan laporan kejadian 12 13 12 6 13 8 1218 3.59 C3 Kami selalu diinformasikan tentang kesalahan yang terjadi di ruangan ini 3 15 83 14 2 96 1330 3.92 C5 Di Ruangan ini kami berdiskusi tentang cara mencegah 4 5 56 13 3 13 0 1408 4.15
kesalahan terjadi lagi Keterbukaa n komunikasi C2 Staf bebas berbicara tentang sesuatu jika hal tersebut dapat memberikan efek negatif kepada pasien 27 33 73 14 3 63 1199 3.53 C4
Staf bebas untuk menanyakan keputusan atau tindakan di luar kewenangannya 10 23 92 14 9 65 1253 3.69 C6
Staf takut untuk mengajukan pertanyaan ketika sesuatu berjalan tidak semestinya 9 22 67 12 0 12 1 1339 3.94 Frekuensi pelaporan kejadian/ insiden D1 Ketika kesalahan terjadi, tapi sudah diketahui dan diperbaiki sebelum berimbas pada pasien (Kejadian Nyaris Cedera/ KNC), seberapa sering hal tersebut dilaporkan
11 37 83 14
4 64 1230 3.62
D2
Ketika kesalahan terjadi, tapi tidak potensial
mencederai pasien (Kejadian Potensial Cedera/ KPC), seberapa sering itu dilaporkan
12 22 65 15
0 90 1301 3.83
D3
Ketika kesalahan terjadi, dan dapat mencederai
pasien, namun tidak terjadi cedera (Kejadian Tidak Cedera/ KTC), seberapa sering terlaporkan 20 30 73 13 1 85 1248 3.68
Teamwork antar unit dalam
rumah sakit F4
Terjadi kerjasama yang baik antar ruangan dalam rumah sakit untuk melakukan tugas bersama 4 14 52 22 8 41 1305 3.84 F10 Ruangan dalam rumah sakit bekerja sama dengan baik untuk mewujudkan pelayanan terbaik kepada pasien 2 7 28 20 9 93 1401 4.13 F2 Ruangan dalam rumah sakit tidak berkoordinasi dengan baik satu sama lain 5 43 70 16 8 53 1238 3.65 F6 Sangat sering terjadi ketidaknyamanan saat bekerja di ruangan lain dalam rumah sakit 1 24 58 21 4 42 1289 3.80 Staffing A2 Kami memiliki cukup staf/ tenaga untuk
menyelesaikan beban kerja kami
7 64 73 15
2 43 1177 3.47
A5
Staf di ruangan ini bekerja lewat dari waktu kerja, demi memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien
48 11 3 10 7 65 6 885 2.61 A7 Kami menggunakan karyawan tidak tetap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien 38 14 8 48 93 12 910 2.68 A14 Kami bekerja seperti dalam
‘situasi krisis’,
mencoba melakukan pekerjaan yang terlalu banyak dan terlalu cepat28 15
Handoffs (serah terima) dan transisi F3 Saat melakukan transfer pasien antar ruangan merupakan kondisi yang sangat berisiko untuk terjadinya insiden 9 37 10 4 16 3 26 1177 3.47 F5 Informasi penting pasien sering hilang pada saat pergantian shift 4 31 67 18 5 52 1267 3.73 F7 Masalah sering terjadi dalam pertukaran informasi antar ruangan 5 26 99 18 7 22 1212 3.57 F11 Perubahan shift merupakan masalah bagi pasien di rumah sakit ini 2 15 20 21 5 87 1387 4.09 Respon tidak menyalahka n terhadap kejadian kesalahan A8 Apabila terjadi kesalahan, staf merasa seolah segala akibat dari kesalahan mereka ditimpakan kepada mereka sendiri 6 52 57 19 6 28 1205 3.55 A12 Ketika suatu kejadian dilaporkan, sepertinya inti laporannya adalah orangnya, bukan pada masalahnya 17 49 46 18 7 40 1201 3.54 A16
Staf khawatir jika kesalahannya tercatat dalam catatan kepegawaian 30 15 8 61 81 9 893 2.64
Jika ditelusuri dari masing masing dimensi dan pertanyaan survey budaya keselamatan pasien yang memiliki nilai rata-rata < 3 poin maka ditemukan dimensi dan pertanyaan yang membutuhkan perhatian secara nyata adalah sebagai berikut :
Tabel 10 Analisis Rata-Rata Skor Masing-Masing Dimensi dan Pertanyaan Survey Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Budi Kemuliaan tahun 2018 yang lebih kecil dari <3 poin
DIMENSI
NO SOA
L
ITEM SOAL
FREKUENSI SKOR TOTAL
SKOR RATA -RATA 1 2 3 4 5 Jumlah pelaporan kejadian (tambahan) G1 Dalam 12 bulan terakhir, menurut pengetahuan Anda, kira-kira berapa kejadian keselamatan pasien yang dilaporkan di ruangan Anda? Tulis angka
jawaban Anda pada kotak yang disediakan. 99 35 33 20 2 358 1.05 Keseluruha n persepsi tentang keselamata n pasien A10 Hanya suatu kebetulan bahwa kesalahan yang serius tidak terjadi disini
54 18
7 26 67 5 799 2.35
Staffing
A5
Staf di ruangan ini bekerja lewat dari waktu kerja, demi memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien
48 11 3 10 7 65 6 885 2.61 A7 Kami menggunakan karyawan tidak tetap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien 38 14 8 48 93 12 910 2.68 A14 Kami bekerja seperti dalam
‘situasi krisis’,
mencoba melakukan pekerjaan yang terlalu banyak dan terlalu cepat 28 15 6 67 76 12 905 2.66 Respon tidak menyalahka n terhadap kejadian kesalahan A16Staf khawatir jika kesalahannya tercatat dalam catatan kepegawaian 30 15 8 61 81 9 893 2.64
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Simpulan
1. Karakteristik : sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu 263 orang (77,6%).Sebagian besar responden berada pada usia 27 tahun. Sebagian besar responden berpendidikan berpendidikan diploma, yaitu 180 orang (53,1%). Sebagian besar responden telah bekerja di RSUP Sanglah selama 1-5 tahun, yaitu 168 orang (49,6%). Sebagai besar responden merupakan profesi perawat, yaitu 218 orang (64,3%). Sebagai besar responden bekerjan 40 jam atau lebih dalam seminggu yaitu 247 orang (72,9%)
2. Nilai median skor keseluruhan survey budaya keselamatan pasien di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2017 adalah 160,00 jika dipersentasekan dengan nilai maksimum 220 maka akan dapat hasil 160/220*100% = 72,72%. Ini membuktikan bahwa RSUP Sanglah berada pada posisi menengah keatas dalam hal budaya keselamatan pasien.
3. Jika dilihat dari 30 area penyebaran kuesioner terlihat lebih banyak ruangan yang nilai median budaya keselamatan pasien responden yang mewakilinya lebih rendah dari median keseluruhan, yaitu 16 area (53,3%), sedangkan yang lebih tinggi dari median keseluruhan yaitu 14 area (46,7%).
4. Jika ditelusuri dari masing masing dimensi dan pertanyaan survey budaya keselamatan pasien yang memiliki nilai rata-rata < 3 poin maka ditemukan dimensi dan pertanyaan yang membutuhkan perhatian secara nyata adalah Jumlah pelaporan kejadian (tambahan), Keseluruhan persepsi tentang keselamatan pasien, Staffing, Respon tidak menyalahkan terhadap kejadian kesalahan dengan kondisi yang perlu ditingkatkan adalah kondisi dengan opini :
a. Kesadaran tentang jumlah pelaporan insiden
b. Kesadaran tentang pencegahan terjadinya insiden, karena tidak terjadinya insiden dalam suatu unit bukan disebabkan oleh kebetulan.
c. Kondisi di ruangan dimana bekerja lewat dari waktu kerja, demi memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien
d. Jumlah staf/ tenaga untuk menyelesaikan beban kerja RS
e. Penggunaan karyawan tidak tetap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien f.
Kondisi kerja seperti dalam ‘situasi krisis’, mencoba melakukan pekerjaan yang
terlalu banyak dan terlalu cepat
g. Kekhawatiran staf jika kesalahannya tercatat dalam catatan kepegawaian 5.2 Rekomendasi
1. Kepada manajemen RSUP Sanglah untuk menelusuri terlebih dahulu faktor yang dapat menyebabkan ketidak seragaman nilai median budaya keselamatan pasien di setiap area, sehingga dapat dibuat program spesifik terkait perbaikan-perbaikan dalam program keselamatan pasien pada tahun brikutnya.
2. Memperbaiki kondisi dibawah ini (dengan membuat keputusan/ langkah langkah strategis) :
a. Kesadaran tentang jumlah pelaporan insiden
b. Kesadaran tentang pencegahan terjadinya insiden, karena tidak terjadinya insiden dalam suatu unit bukan disebabkan oleh kebetulan.
c. Kondisi di ruangan dimana bekerja lewat dari waktu kerja, demi memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien
d. Jumlah staf/ tenaga untuk menyelesaikan beban kerja RS
e. Penggunaan karyawan tidak tetap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien f.
Kondisi kerja seperti dalam ‘situasi krisis’, mencoba melakukan pekerjaan yang terlalu
banyak dan terlalu cepat
Referensi
Agency for Healthcare Research and Quality. (2004). Hospital Survey on Patient Safety Culture. (R. Westat, J. Sorra, & V. Nieva, Eds.). Rockville: Services, Agency for Healthcare Research and Quality U.S. Department of Health and Human.
AHQR. (2000). Hospital Survey on
Patient Safety Culture : Items and Dimensions, 4–
6.Ariyani. (2009). Analisis Pengetahuan Dan Motivasi Perawat Yang Mempengaruhi Sikap Mendukung Penerapan Program Patient Safety Di Instalasi Perawatan Intensif RSUD Dr Moewardi Surakarta Tahun 2008 . Universitas Diponegoro.
Ayudyawardani, S. D. (2012). Pengembangan Model Budaya Keselamatan Pasien Yang Sesuai Di Rumah Sakit Ibu Anak Tumbuh Kembang Cimanggis Tahun 2012 . Universitas Indonesia.
Bea, I. F., Pasinringi, S. A., & Noor, N. B. (2013). Gambaran Budaya Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Tahun 2013. Bagian Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS, Makassar , 1
–
14.Beginta, R. (2012). Pengaruh Budaya Keselamatan Pasien, Gaya Kepemimpinan, Tim Kerja, Terhadap Persepsi Pelaporan Kesalahan Pelayanan oleh Perawat Di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Umum daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2011. Universitas Indonesia. Chooper, M. D. (2000). Towards a model of safety culture. Safety Science Journal , 36 , 111
–
136.
Croll, Z. T., Coburn, A. F., & Pearson, K. B. (2012). Promoting a Culture of Safety : Use of the
Hospital Survey on Patient Safety Culture in Critical Access Hospitals. Flex Monitoring Team, (April).
Departemen Kesehatan RI. (2006). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit . Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan RI. (2008a). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Kedua). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan RI. (2008b). Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (Kedua). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Elrifda, S. (2011). Budaya Patient Safety dan Karakteristik Kesalahan Pelayanan : Implikasi
Kebijakan di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Jambi. Jurnal Kesehatan Mssyarakat Nasional , 6, No. 2 (Oktober), 67
–
76.Hasan, I. (2004). Analisis Data Penelitian dengan Statistik . Jakarta: Bumi Aksara.
Jati, S. K. (2013). Pengaruh Peningkatan Mutu Layanan Dan Fasilitas Fisik Terhadap Budaya Dan Insiden Keselamatan Pasien Di RS Paru Jember . Universitas Jember.
Jones, K. J., Skinner, A., Xu, L., & Sun, J. (2007). The AHRQ Hospital Survey on Patient
Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit (2009). Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. Permenkes Nomor 1691/ MENKES/ PER/ VIII/ 2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit (2011). Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Marella, W. M. (2007). Why Worry About Near Misses? Patient Safety & Quality Healthcare Journal , (October), 1.
Mark, D. (2001). Patient Safety and the “ Just Culture :” A Primer For Health Care Executives ;
Medical Event Reporting System
–
Transfusion Medicine (MERS-TM). National Institutes of Health Journal , (April), 3.Mustikawati, Y. H. (2011). Analisis Determinan Kejadian Nyaris Cedera Dan Kejadian Tidak Diharapkan Di Unit Perawatan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta . Universitas Indonesia.
Nivalinda, D., Hartini, M. C. I., & Santoso, A. (2013). Pengaruh Motivasi Perawat Dan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Terhadap Penerapan Budaya Keselamatan Pasien Oleh Perawat Pelaksana Pada Rumah Sakit Pemerintah Di Semarang. Departemen DKKD PSIK FK Universitas Diponegoro, 1(November), 138
–
145.Nurmalia, D. (2012). Pengaruh Program Mentoring Keperawatan Terhadap Penerapan Budaya Keselamatan Pasien Di Ruang Rawat Inap RS Islam Sultan Agung Semarang . Universitas Indonesia.
Pujilestari, A., Maidin, A., & Anggraeni, R. (2013). Gambaran Budaya Keselamatan Pasien Oleh Perawat Dalam Melaksanakan Pelayanan Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Tahun 2013. Bagian Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS, Makassar , 1
–
13.Rachmat, M. (2012). Buku Ajar Biostatistik: Aplikasi pada Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.
Rachmawati, E. (2011). Model Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien Di Rs Muhammadiyah-
‘Aisyiyah Tahun 2011.
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, 11–
34.Ranji, S. R., & Shojania, K. G. (2008). Implementing Patient Safety Interventions In Your Hospital: What To Try And W hat To Avoid. The Medical Clinics of North America Journal , 92 (2), 275
–
93, vii–
viii. doi:10.1016/j.mcna.2007.10.007Saryono, & Anggraeni, M. D. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan (1st ed.). Yogyakarta: Graha Ilmu. Setiowati, D. (2010). Hubungan Kepemimpinan Efektif Head Nurse Dengan Penerapan
Budaya Keselamatan Pasien Oleh Perawat Pelaksana Di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Universitas Indonesia.