• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BIOGRAFI DAN KARYA MUHAMMAD YAMIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III BIOGRAFI DAN KARYA MUHAMMAD YAMIN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

46 A. Biografi Mr. Muhammad Yamin

1. Profil Mr. Muhammad Yamin

Mr. Muhammad Yamin merupakan sosok Pahlawan Nasional yang telah mempersatukan para suku bangsa untuk kemerdekaan Indonesia. Mr. Muhammad Yamin mendambakan Indonesia yang lebih besar dari pada Sriwijaya atau Majapahit. Menghadapi Indonesia yang mungkin porak poranda, ia pun menciptakan ikon Gadjah Mada, yang pernah bersumpah untuk menyatukan Nusantara. Lebih dari sekedar memetik dari gagasan Gadjah Mada.Ia memungutnya dari gambar yang tertera pada celengan terakota yang dipercaya datang dari era Majapahit. Raut itulah yang kita panglima perang Majapahit itu, Mr. Yamin merasa perlu mencari raut wajah kenal sekarang sebagai wajah Gadjah Mada Mr. Muhammad Yamin adalah orang Minang yang terpesona pada Jawa dan kebesaran Majapahit. Ia mempelajari kebudayaan Jawa dan menguasai bahasa Sansakerta. Ia menggagas wilayah Indonesia hingga Semenanjung Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, Irian dan Papua Nugini. Ia memimpikan persatuan Indonesia lebih dari yang pernah dibayangkan Hatta dan Sjahrir. Sejarah barangkali memiliki kegilaannya sendiri. Karena itu, revolusi Indonesia harus dipandang secara lebih rileks. Tak perlu ada glorifikasi karena mozaik itu disusun oleh manusia biasa. Mr. Muhammad Yamin hanya salah satunya (Gunawan dalam Majalah Tempo Edisi tentang Muhammad Yamin, yang dirilis tanggal 18 Agustus 2013).

Muhammad Yamin juga adalah pencetus Sumpah Pemuda yang telah menciptakan naskah Sumpah Pemuda, yaitu:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

(2)

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Menggagas konsep sumpah pemuda, Mr. Muhammad Yamin terlibat aktif dalam Kongres Pemuda I (30 April-2 Mei 1926). Dalam pertemuan pertama itu pun Mr. Yamin mengusulkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Mr. Muhammad Yamin memang gandrung pada persatuan dan kebesaran Indonesia yang telah mana juga diobsesikan oleh Soekarno. Tak sekadar menggagas wilayah Indonesia dan mengusulkan Sumpah Pemuda, Yamin memiliki andil dalam pembuatan lambang Garuda Pancasila dan syair Indonesia Raya juga dipercaya menemukan kata “Pancasila” itu sendiri.

Mr. Muhammad Yamin lahir di Sawah Lunto (Sumatra), Ia dilahirkan pada tanggal 22 Agustus 1903, ia merupakan putra dari Ustman Baginda Khatib dan Sa’adah yang masing-masing berasal dari Sawah Lunto dan Padang Panjang. Ayahnya mempunyai enam belas anak dari lima istri, yang hampir keseluruhnya kelak menjadi intelektual yang berpengaruh. Saudara-saudara Mr. Muhammad Yamin antara lain: Mr. Muhammad Yaman (seorang pendidik), Djamaludin Adinegoro (seorang wartawan termuka), dan Ramana Ustman (pelopor korps diplomatic Indonesia). Selain itu Mohammad Amir sepupunya merupakan tokoh Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Mr. Muhammad Yamin menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmodjo, ia memiliki seorang anak laki-laki yang tumbuh di tengah generasi muda yang idealis semacam Muhammad Hatta (Ainuttijar: 2014 diunduh pada tanggal 12 Mei 2015).

Riwayat pendidikanya di HIS, Normal School (Sekolah Guru), kemudian pernah sekolah pertanian di Bogor. Setelah itu, ia meneruskan pendidikanya pada AMS bagian A hingga lulus. Gelar kesarjanaanya adalah meester in de rechten. Jalan panjang menuju meester Yamin berpindah-pindah sekolah karena cepat bosan. Tak banyak pilihan buat Mr. Muhammad Yamin melanjutkan pendidikan setelah lulus AMS (Algemene Middelbare School). Fadjar Ibnu Tufail, kerabat Yamin

(3)

mengatakan satu-satunya perguruan tinggi yang menampung alumnus AMS hanya Rechts Hogeschool(Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta. Mr. Yamin masuk perguruan tinggi pertama di Indonesia itu pada tahun 1927. Sebelumnya, jenjang pendidikan kesarjanaan atau Universitas hanya ada di Belanda, misalnya Universitas Leiden. Namun Universitas di negeri Kincir Angin itu hanya menerima alumnus Hogere Burgerschool, sekolah sejenis AMS yang khusus menampung siswa anak keturunan Belanda, Tionghoa, dan elite pribumi. AMS dinilai sekolah kelas dua yang didirikan pemerintah Hindia Belanda untuk pribumi bukan priayi. Terlepas dari persyaratan itu, Mr. Yamin termasuk anak keluarga terpandang yang tidak memuja pendidikan barat.Padahal mayoritas orang minang memiliki orientasi pendidikan berkiblat ke Barat. Kuliah di Perguruan Tinggi Hukum bukan berarti Mr. Yamin gandrung ilmu hukum, bagi dia daya tarik mengenyam pendidikan di sekolah hukum karena ada mata kuliah ilmu filsafat (Thufail dalam Majalah Tempo Edisi Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 66-67).

Mr. Yamin tergolong telat dalam pendidikan tinggi. Penyebabnya adalah Mr. Yamin sering berpindah sekolah saat pendidikan dasar karena harus mengikuti orang tua dan kerabat yang membesarkanya. Mr. Muhammad Yamin pernah mendapatkan beasiswa untuk belajar di sekolah Dokter hewan. Rupanya dia tidak tertarik pada pelajaran tentang binatang dan penyakitnya. Dari mempelajari fauna, Mr. Yamin coba beralih membedah kehidupan flora dengan pindah ke sekolah Pertanian di Bogor, Jawa Barat. Ternyata rasa betah tak kunjung berubah. Kendati Mr. Yamin menyukai alam pegunungan dan hamparan sawah menghijau, pelajaran tentang agronomi tak lantas menarik perhatianya, dan lagi-lagi ia tidak bertahan lama. Dahaga ilmu Mr. Yamin mulai terpuaskan sejak pindah ke AMS di Yogyakarta. Di sekolah inilah dia bertemu dengan pelajaran yang ia minati, seperti budaya, bahasa, dan sejarah (Rahman

(4)

dalam Majalah Tempo Edisi Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 66-67).

Mr. Yamin baru menyelesaikan studi di AMS setelah menginjak usia 24 tahun. Dalam keadaan normal rata-rata seseorang menamatkan pendidikan menengah atas pada usia 19-21 tahun. Selama kuliah Mr. Yamin tinggal bersama-sama teman mahasiswa lain yang berasal dari beragam daerah. Mereka tinggal di asrama Indonesische Clubgebouwdi jalan keramat raya 106, Jakarta. Gedung asrama itu dipugar pemerintah DKI Jakarta pada 1974 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Selama menjadi mahasiswa, Mr. Yamin masih kerap menerima kiriman uang dari keluarganya. Namun karena ia royal, uang kiriman itu pun cepat ludes. Pengeluaran rutin adalah mentlaktir teman-temannya makan di warung padang dan menonton bioskop dan kerap memborong buku. Dan kemudian Mr. Yamin dapat menamatkan studi di sekolah tinggi hukum tepat waktu lima tahun. Pada 1932, Mr. Yamin lulus dan sejak saat itu ia berhak memakai gelar meester in de richten dan nama lengkapnya menjadi Mr. Muhammad Yamin. Tak hanya mengenyam ilmu, Mr. Yamin juga aktif berpolitik dengan gaya kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mr. Yamin bekerja sebagai penulis dan wartawan saat sekolah di AMS. Setelah bergelar sarjana hukum ia menjadi pengajar di sekolah Jurnalistik dan Pengetahuan Umum yang diberikan usaha Persatuan Jurnalistik Indonesia di Jakarta. Mata pelajaran yang dibawakan Mr. Yamin adalah kebebasan dan pelanggaran pers (Kutoyo dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 66-67) setamat kuliah selain mengajar, Mr. Yamin juga sempat bekerja sebagai pengacara dan procureuratau ahli hukum swasta di Jakarta.

Mr. Muhammad Yamin adalah orang yang sangat gemar membaca, Dari kegemaranya itu membuat ia menguasai bahasa melayu. Selain gemar membaca, ia pun gemar menulis. Di rumahnya di Jalan Diponegoro, Jakarta Mr. Yamin kerap menulis dimeja kerjanya yang

(5)

terletak di ruang tengah.Ia lebih banyak menulis dengan tulisan tangan sebelum tulisanya itu dipindahkan lewat mesin ketik. Mr. Yamin memang penulis yang produktif. Kegemaranya menulis telah tumbuh sejak belia saat iatinggal di Sumatera. Namun, saat di Jawalah tulisanya mulai dipublikasikan. Pada tahun 1920, puisinya berjudul “Tanah Airku” dimuat di majalah milik Jong Sumantranen Bond. Yamin yang saat itu belum genap 17 tahun dan kala itu ia tengah belajar di sekolah kedokteran hewan di Bogor. Mr. Yamin-lah yang mempelopori tulisan berbahasa melayu di majalah tersebut. Sebelumnya tulisan-tulisan yang terbit di majalah yang digagas oleh mahasiswa asal Sumatera Timur di STOVIA selalu berbahasa Belanda. Kegemaranya dalam membaca buku dan penguasaan bahasa Inggris, Jerman dan Sanskerta menambah kelihaianya dalam menulis dan memperkaya isi tulisanya. Penulisanya Mr. Yamin berkembang tak sebatas puisi, dia juga menulis sonata (Indonesia Tumpah Darahku: 1929) dan naskah drama (Ken Arok dan Ken Dedes: 1934), juga menerjemahkan karya Tagore dan Shakespeare, serta genre lain seperti novel sejarah Gadjah Mada (1948) dan masih banyak lainya. Yang menjadi rujukan selama lebih dari 30 tahun dan tetap kontroversial.Hingga akhir hayatnya tercatat setidaknya ada 44 buku yang ditulis Mr. Yamin. Gairah penulisan Yamin memang tak kenal waktu dan tempat (Kusumo dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 62).

Mr. Muhammad Yamin juga belajar sastra timur di jantung Jawa.Di kampus dekat Stasiun Jebres pada zaman penjajahan Belanda pernah berdiri AMS bagian A1, sekolah yang setara dengan sekolah menengah atas ini mempelajari sastra Timur. Di sekolah ini Muhammad Mr. Yamin pernah menempuh pendidikan pada tahun 1926 dan lulus pada tahun 1927. Mr. Yamin menjejakkan kaki di Solo pada tahun 1925, pada periode itu Solo merupakan jantung Pulau Jawa. Mr. Yamin tumbuh bersama pelajar dari Ambon, Madura, Padang, Aceh, Sumatera, Bali dan Jawa bagian tengah, serta kelompok Tionghoa dan Belanda. Di

(6)

AMS ini Mr. Yamin belajar kebudayaan dan sejarah kesenian. Dia juga mempelajari kesusastraan Jawa dan Melayu. Raden Tumenggung Yasawidagda, pengarang sastra Jawa yang sangat produktif di zaman penerbit Balai Pustaka adalah guru sastra Jawa yang menuntun Mr. Yamin belajar adat, tata cara, dan bahasa Jawa. Kemampuan Mr. Yamin menguasai sejumlah bahasa juga terasah di AMS Solo.Dia fasih berbahasa Belanda, Jerman, dan Prancis. Yang menariknya selain menguasai bahasa-bahasa asing, ia pun belajar dan menguasai bahasa sansakerta. Karena pada saat itu Mr. Yamin merasakan rumitnya berinteraksi dengan masyarakat setempat (Solo) karena mereka menggunakan bahasa Jawa yang bertingkat.Ada bahasa Jawa Bagongan (yang digunakan di dalam Keraton), ada Jawa Krama Inggil, Jawa Krama Alus, Jawa Ngoko Alus, dan Jawa Ngoko Lugu. Bahasa Jawa ini bersifat feudal tidak egaliter dan inilah pijakan Mr. Yamin mengusulkan Melayu agar jadi dasar bahasa Indonesia dalam Kongres Pemuda pada tahun 1928. Mr. Yamin wafat di usia 59 pada tahun 1962, hingga wafatnya Mr. Yamin setia kepada bahasa Indonesia yang ia usulkan sebagai bahasa persatuan (Priyatmokodalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 62).

Setelah meninggal, nama dan peninggalan Mr. Yamin diabadikan dalam berbagai bentuk. Dari anugerah konstitusi sampai pataka Kostrad. Bangunan beraksitektur Minang Kabau itu berdiri gagah di tengah taman berpagar tembok. Dua belas pilar kayu kokoh menjangga atap bongonjong atau atas khas rumah Minang yang menukik lancip ke atas mirip tanduk kerbau. Di bawah naungan atap megah itu, ada dua makam. Di sebelah kanan adalah makam Mr. Muhammad Yamin dan di sebelah kiri adalah makam ayah handanya Oesman Baginda Chatib. Mr. Yamin yang menjadi Mentri Kehakiman pada Kabinet Sukiman-Suwirjo (1951-1952) memang mendapat bintang Mahaputra Republik Indonesia dan dinobatkan sebagai pahlawan Nasional pada tahun 1973. Kebesaran Mr. Yamin tidak hanya tampak pada bangunan saja, kunjungan warga yang

(7)

tak pernah putus setiap hari juga menandakan tingginya penghirmatan kepada sosok negarawan ini (Rahman dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 114) selain mengirim do’a para pengunjung biasanya mengunjungi atau mampir ke perpustakaan Mr. Muhammad Yamin yang ada di kompleks makam ini. Jaraknya hanya beberapa puluh meter di belakang makam, selain berisi koleksi buku Mr. Yamin perpustakaan itu menyimpan sejumlah barang peninggalan Mr. Yamin, seperti jas putih dan tongkat yang dulu biasa ia gunakan. Tak banyak yang tahu bahwa makam asli Mr. Yamin tidak di sana, jasadnya dipindahkan ke kompleks megah ini pada tanggal 10 November 1966.

Mr. Yamin mendapat penghargaan PUSaKO (Pusat Studi Konstitusi) pada tahun 2013, penghargaan itu dinamakan “Anugerah Konstitusi Mr. Muhammad Yamin”. Alasanya karena Yamin berjasa mendesain dasar hukum tata Negara Indonesia. Sebagaian gagasan Mr. Yamin menjadi bagian dari batang tubuh UUD Negara Repulik Indonesia 1945 (Saldi dalam Tempo: 2014). Tak hanya itu, dari berbagai riset ditemukan bahwa Mr. Yamin juga pencetus ide adanya pengujian Undang-Undang terhadap UU Dasar.Gagasan itu dilontarkan Mr. Yamin dalam BPUPKI pada 15 Juli 1945) pada saat itu ide Mr. Yamin ditolak, namun kini pemikiran Mr. Yamin justru diadopsi menjadi pilar penting dalam hukum ketatanegaraan Indonesia dan dilaksanakan oleh Mahkamah Konstitusi.

(8)

Penghargaan Mr. Yamin juga tidak hanyak itu, ia juga mendapat banyak penghargaan, diantaranya: 1) Gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1973 sesuai dengan SK Presiden RI No. 088/TK/1973. 2) Gelar Bintang Maha Putra RI. 3) Gelar Tanda Penghargaan dari Corps Polisi Militer sebagai pencipta lambing Gadjah Mada dan Pancadarma Corps. 4) Gelar Tanda Penghargaan Panglima Kostrad atas jasanya menciptakan Petaka Komando Strategi Angkatan Darat (TT: 2014 diunduh tanggal 12 Mei 2015)

2. Riwayat Perjuangan Mr. Muhammad Yamin

Mr. Muhammad Yamin adalah orang yang pertama kali mengetengahkan rumusan dasar Negara Indonesia Merdeka. Taufik Abdullah menempatkanya sebagai sejarawan terbesar abad ini. Mengikuti jejak saudara-saudara tirinya, ia aktif di organisasi pemuda asal Sumatera, serta ikut mendirikan perkumpulan Indonesia muda. Ia pernah menjadi ketua Jong Sumateranen Bond (1926-1928). Jong Sumateranen merupakan salah satu tonggak keterlibatan pemuda Andalas dalam gerakan persatuan Indonesia.dikelompok inilah Mr. Muhammad Yamin mula-mula mengenal organisasi dan belajar berpolitik. Organisasi ini didirikan pada 9 Desember 1917 oleh pelajar sekolah kedokteran STOVIA asal Sumatera di Jakarta. Mereka mengikuti jejak pemuda Jawa yang mendirikan Tri Koro Dharmo yang artinya Tiga Tujuan Mulia: sakti, budi, bakti pada tahun 1915, yang belakangan ini berubah menjadi Jong Java. Tujuan Jong Sumateranen diantaranya memperkukuh ikatan antar pelajar asal Sumatera yang juga membangun kesadaran bahwa mereka kelak akan menjadi pemimpin (Bachtiar: 2006 diunduh pada 03 Mei 2015)

Mr. Yamin mengenal Jong Sumateranen dari Nazir Datuk Pamuntjak. Pada masa di Jawa ia mulai aktif terlibat dalam Jong Sumateranen. Mula-mula berkecimpung di Jong Sumateranen pada awal 1920-an, ia belum meyakini paham kebangsaan Indonesia. Wawasan politik dan kebangsaanya masih sekitar Andalas. Tapi dengan

(9)

bertambahnya usia dan semakin luasnya pergaulan, cakrawala pemikiran Mr. Muhammad Yamin terbuka. Ketika Lustrum I Jong Sumatera Bond digelar di Jakarta pada tahun 1923, ia mulai menggelorakan semangat keindonesiaan. Dalam pidanya yang berjudul “De maleische taal in het verleden, heden en toekomst” (Bahasa Melayu di masa lampau, sekarang dan masa datang), ia mengemukakan idenya mengenai penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan Indonesia meskipun pidatonya sendiri masih dibawakan dalam bahasa Belanda. Sesuai Lustrum tersebut Mr. Yamin dipercaya menjadi ketua Jong Sumateranen Bond periode 1926-1928.Padahal dia belum lulus dari AMS. Pada periode tersebut pengaruh Mr. Yamin di Jong Sumateranen Bond sangat penting. Ia juga berpengaruh dalam Kongres Pemuda I dan II. Oleh karena itu ia dijuluki dengan Nahkoda terakhir Jong Sumatera Bond (Gunawan dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 70-71).

Perjuangan Mr. Muhammad Yamin tidak hanya mempersatukan pemuda Indonesia, setelah ia diangkat menjadi Mentri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo sejak 30 Juli 1953 sampai 12 Agustus 1955. Selain diwarnai kebijakkan kontroversial, ketika menduduki posisi itu Mr. Yamin memiliki sumbangan besar terhadap pelestarian kebudayaan Nasional. Ketika melawat ke Belanda dan Negaralain bersama kepala Jawatan kebudayaan yaitu Soedarsono, Mr. Yamin merintis pengembalian benda-benda bersejarah dan benda-benda budaya Indonesia di Negara-negara tersebut. Dari proyek ini Mr. Yamin menginventarisasi 1.151 benda bersejarah dan bernilai udaya di berbagai museum di Belanda serta 31 benda bersejarah lain di Jerman, Denmark dan Belgia. Belakangan ini, benda-benda bernilai sejarah itu kembali ke Tanah Air, antara lain tengkorak Sangiran, keropak Nagarakretagama, patung asli Prajnaparamita, serta naskah kesastraan Melayu, Jawa dan Madura.Selain dibidang kebudayaan, selama menjadi menteri kabinet Ali ini Mr. Yamin

(10)

menciptakan gebrakan dibidang pendidikan. Dia merintis pendirian perguruan tinggi perguruan tinggi pendidikan guru.Kelak perguruan tinggi guru ini menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang sejak 1999 berubah statusnya menjadi Universitas. Gagasan mendirikan perguruan tinggi guru ini berawal dari kegundahan Mr. Yamin terhadap rendahnya mutu tenaga guru di sekolah menengah tingkat pertama dan atas. Perguruan tinggi seperti ini juga disiapkan untuk mendukung program kewajiban belajar yang dicanangkan Mr. Yamin selama 10 tahun dan membuka lebih banyak sekolah disetiap Provinsi, termasuk kebutuhan guru di Irian Barat yang sebagian dipasok dari sekolah guru B. perguruan tinggi pendidikan guru pertama didirikan Mr. Yamin di Batusangkar, Ibu Kota Tanah Datar, Sumatera Barat, tak jauh dari Sawah Lunto tanah kelahiranya. Kampus ini diresmikan Mr. Yamin pada 1 September 1954.Sebulan berselang pendidikan tinggi serupa didirikan di Bandung, setelah itu baru di Malang Jawa Timur. Saat itu ada 18 perguruan tinggi seperti ini di berbagai kotabesar di Indonesia (Kutoyo dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014 Hal. 92-93).

Perhatian besar juga mulai diberikan Mr. Yamin dalam pengembangan Universitas. Ia juga merintis pendirian Universitas di berbagai Ibu Kota Provinsi, termasuk Universitas Andalas di Padang.Kekurangan dosen dan guru besar dibeberapa daerah di pasok dari Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mr. Yamin juga meminta setiap Universitas tidak segan-segan mengundang dosen Luar Negeri. Dia turun langsung menjadi dosen luar biasa dan dosen terbang dibeberapa perguruan tinggi daerah. Dia juga memberi dukungan besar terhadap pemuda Indonesia yang hendak belajar di Luar Negeri. Salah satunya Bacharuddin Jusuf Habibie, yang belakangan menjadi Presiden ke-3 indonesia. yamin memberi masukan kepada Habibie agar memilih jurusan Kontruksi Pesawat Terbang ketika mendapatkan beasiswa belajar di Jerman. Padahal ketika itu banyak teman seangkatan Habibie

(11)

yang mendapatkan beasiswa di Jerman memilih jurusan Perkapalan.Saran itu disampaikan Mr. Yamin ketika Habibie menemuinya sebelum bertolak ke Jerman. Ketika itu, ia mengelus-ngelus kepala Habibie sembari berkata, “kamu ini adalah harapan Bangsa”. Pesan Mr. Yamin benar-benar dijalankan oleh Habibie.Belakangan, pilihan Habibie menimba ilmu di Jurusan Kontruksi Pesawat tidak keliru. Dengan latar belakang pendidikan seperti itu, kelak Habibie menciptakan pesawat tipe CN-235. Mr. Yamin juga memberikan penghargaan kepada para pelajar yang ikut berjuang mempertahankan proklamasi. Bentuknya: beasiswa dan ikatan dinas di kantor-kantor pemerintah. Selama mengisi posisi mentri ini, Mr. Yamin telah meletakkan dasar-dasar pengembangan pendidikan yang lebih merata dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Program rencana 10 tahun pemberantasan buta huruf juga menjadi proyek besar pemerintah masa itu, termasuk penyusunan Undang-Undang pokok pendidikan. Karena masa jabatan Mr. Yamin sebagai mentri pendidikan hanya sekitar 2 tahun, tidak semua proyeknya terwujud. Salah satunya proyek besar mendirikan Universitas di Papua seperti yang diminta Soekarno. Setelah lengser dari posisi mentri, karir politik Mr. Yamin sempat redup.Ketika Soekarno mengangkat kembali Ali Sastroamidjojo sebagai Perdana Mentri, Agustus 1955-Maret 1956, Mr. Yamin ditunjuk menjadi Mentri Negara. Pada era kabinet demokrasi terpimpin, karir Mr. Yamin melejit kembali. Selain menjabat Mentri Negara, ia menjadi pimpinan Dewan Nasional, yang bertugas memberi nasihat kepada Presiden.Pada masa itu, Mr. Yamin juga ditunjuk sebagai Ketua Dewan Perancang Nasional. Ia merumuskan proyek pembangunan Semesta Nasional. Inilah posisi terakhir Mr. Yamin sebelum ia meninggal pada Okterber 1962 (Gunawan: dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 92-93).

Pada tahun 1931 Mr. Yamin masuk ke partai Indonesia yang bersikap kooperatif dengan penjajah. Setelah partai ini bubar ia

(12)

mendirikan Partai Gerakan Rakyat Indonesia bersama Wilopo, Amir Syarifuddin, Sumanang, Adnan Kapaugani dan Adam malik pada tahun 1936. Dengan taktik politik kooperatif tetapi ia sebenarnya menyusun strategi untuk melawan belanda yang akhirnya mengantarkan ke volksraad (dewan rakyat bentukan Belanda). Pada masa sidang 1939-1943 Yamin membentuk Partai Persatuan Indonesia dan pada tahun 1939 ia membentuk golongan Nasional Indonesia dalam volksraad. Ia pernah menjadi mentri dalam beberapa Kabinet, dan ia juga pernah terpilih menjadi anggota DPR, menjadi staf pembantu Panglima Besar Komando tertinggi Operasi Ekonomi seluruh Indonesia dan anggota pembina jiwa revolusi serta ketua Dewan Pengawas Lembaga kantor berita Nasional antara 1991-1962 (Hamid dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014).

Jasa besar Mr. Yamin terutama adalah rumusan dasar Negara Indonesia.yamin sebagai salah satu dari 62 anggota Badan Rakyat Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pemerintah Jepang. Pada sidang badan tersebut tanggal 29 Mei 1945, pada bagian pertama dari persidangan Mr. Muhammad Yamin membuka pidatonya antara lain dengan kata-kata sebagai berikut:

“Kewajiban yang dipikul di atas kepala dan kedua bahu kita, yakni suatu kewajiban yang sangat teristimewa kewajiban untuk ikut menyelidiki bahan-bahan yang akan menjadi dasar dan susunan Negara yang akan terbentuk dalam suasana kemerdekaan”

Dalam pidato itu ia membahas mengenai dasar Negara dan bersangkutan dengan dasar Negara. Di dalam pidato selanjutnya Mr. Muhammad Yamin mengemukakan lima Azas Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia, sebagai berikut: 1) Peri Kebangsaan, 2) Peri Kemanusiaan, 3) Peri Ke-Tuhanan, 4) Peri Kerakyatan, dan 5) Kesejahteraan Rakyat. Jasa Yamin juga tidak lepas dari pembentukan Piagam Jakarta sebagai ruh dari UUD 1945 dan Pancasila. Piagam Jakarta itu lahir dari prakarsa panitia kecil yang berjumlah 9 orang. Oleh Mr. Muhammad Yamin merumuskan hasil Panitia Sembilan itu diberi

(13)

nama Jakarta Charter atau biasa disebut Piagam Jakarta (Ahzadalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014).

Dalam riwayat perjuanganya juga Mr. Muhammad Yamin berperan dalam merancang lambang Negara. Pada akhir 1949, sukacita merebak di segala penjuru Tanah Air. Pada pengunjung Konverensi Meja Bundar di Den Haag, pemerintah kerajaan Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang diproklamasikan empat tahun sebelumnya. Perjuangan panjang mempertahankan kemerdekaan berbuah manis. Setelah itu, presiden Soekarno bergegas berbenah, menyiapkan segala perangkat tata Negara yang sebelumnya terbengkalai. Pada tahun 1945, panitia persiapan Kemerdekaan Indonesia menugasi lembaga itu untuk meneliti pola dan lambang dalam peradaban Indonesia. Panitia Indonesia Raya kemudian diminta mengusulkan satu lambang sebagai simbol Negara baru ini. Setelah mendapat mandat untuk mencari lambang negara dari Sultan Hamid II, Mr. Yamin menggandeng Ki Hajar Dewantara untuk menyelusuri situs-situs purbakala dan mempelajari kesusastraan kuno dibeberapa wilayah di Indonesia. akhirnya mereka menemukan sosok burung Garuda di Candi Kidal, Candi Prambanan, dan Candi Mendut (Hidayat dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 54-55) selain karena sosoknya yang perkasa, garuda dipilih karena ada mitologi yang mendukung keberadaanya sebagai pelindung Negara. Mr. Yamin dan Ki Hajar kemudian meminta bantuan seorang seniman, Basuki Reksobhowo untuk membuat sketsa dari berbagai relief tersebut (Nanang dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 54-55).

Upaya perumusan lambang Negara ini terhenti karena gentingnya situasi politik dan keamanan pada tahun-tahun pertama pasca kemerdekaan itu.Pada tahun 1947, upaya itu bergulir kembali ketika pemerintah mengundang para seniman mengikuti sayembara pembuatan

(14)

lambang Negara. Para seniman yang tergabung dalam kelompok seniman Indonesia muda dan kelompok seni lain beramai-ramai mengikuti lomba. Setelah sudah terpilih, barulah pada akhir 1949 ketika kondisi politik, sosial, dan ekonomi mulai stabil, proses pemilihan lambang Negara dimulai lagi. Kali ini Sultan Hamid II yang dipercaya untuk menuntaskan proses pemilihan lambang Negara sampai rampung. Setelah berkonsultasi dengan Mr. Yamin, Sultan Hamid bergerak cepat. Berbekal petunjuk Mr. Yamin, ia menghubungi Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Semua sketsa burung Garuda dari Candi-candi di Jawa yang dulu dibuat Basuki Reksobhowo segera diboyong ke Jakarta (Hidayat: dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 54-55).

Mr. Yamin juga membentuk panitia lambang Negara, yang bertugas melaksanakan proses perumusan lambang Negara. Untuk menjamin kesinambungan dengan penelusuran Panitia Indonesia Raya, empat tahun sebelumnya Mr. Yamin ditunjuk menjadi ketua panitia. Panitia lambang Negara ini dibentuk segera setelah Hamid berkonsultasi dengan Mr. Yamin dan Ki Hajar Dewantara. Uniknya panitia ini tidak bisa menghasilkan suara bulat untuk mengajukan satu rancangan kepada presiden Soekarno. Mereka akhirnya mengajukan dua rancangan utama satu buatan Sultan Hamid dan satunya buatan Mr. Yamin (Turiman: 2014, hal. 54-55). Rancangan Hamid dan Mr. Yamin sebenarnya tak berbeda jauh, pada rancangan Hamid perisai garuda digambarkan polos dengan satu garis tebal melintang yang melambangkan garis khatulistiwa. Adapun perisai garuda yang dirancang Mr. Yamin penuh dengan simbol, ada matahari dan bulan dengan lima garis sinar, ada pohon kelapa, da nada tujuh garis yang melambangkan tujuh pulau atau kepulauan utama Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara). Hatta yang ketika itu menjabat sebagai perdana mentri, membawa kedua rancangan itu ke sidang kabinet.Para mentri diminta memutuskan rancangan mana yang dipilih,

(15)

buatan Sultan Hamid atau Mr. Yamin. Pada akhir keputusan lambang burung garuda ini diambil dari rancangan keduanya, penyempurnaan lambang itu dilakukan panitia khusus yang dibentuk pemerintah (Nanang dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 54-55). Di sinilah sumbangsi Mr. Muhammad Yamin dalam menyumbangkan kesenianya yang sekarang kita kenal sebagai lambang Pancasila Negara Indonesia.

Gagasan bernegara juga tak luput dari sosok Mr. Yamin. Transisi dari pendudukan Jepang ke era Indonesia merdeka merupakan salah satu periode penting munculnya ide-ide besar perkembangan sejarah ketatanegaraan Indonesia.pada periode ini para pendiri Negara tidak hanya sebatas memikirkan dasar Negara Indonesia merdeka, tetapi juga hukum dasar sebagai grand design hidup bernegara. Bentuk pemerintahan dan susunan Negara menjadi salah satu tema sentral selama proses persiapan Indonesia merdeka dan sekaligus pembahasan naskah konstitusi (hukum dasar). Dalam hal ini Mr. Muhammad Yamin diantara sosok yang secara eksplisit menyatakan keberatan dengan bentuk pemerintahan monarki. Dari lima alasan yang dikemukakan, keberatan utama Mr. Yamin, monarki tidak memberikan kepastian kuat untuk memerintah Negara. Tidak hanya itu, baginya memilih monarki sama saja dengan menolak datangnya Indonesia merdeka. Karena itu, menurut Mr. Yamin bentuk pemerintahan Negara yang paling cocok adalah berbentuk republik. Tidak berhenti sampai bentuk pemerintahan, Mr. Yamin juga menghendaki republik yang berada dalam bingkai Negara kesatuan dan secara tegas menolak pola hubungan pemerintah pusat dan daerah berbentuk Negara serikat. Ia menyatakan alasan utamanya: “kita tidak mempunyai kekuatan untuk membentuk beberapa Negara”. Selain itu, dia menunjuk kekayaan dan kesabaran penduduk Indonesia yang tidak merata berpotensi menghadirkan kekacauan dengan memilih bentuk Negara serikat. Apalagi gagasan Negara kesatuan memang ide dasar mewujudkan persatuan Indonesia selama hampir 40

(16)

tahun menuju Indonesia merdeka (Isra dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 120).

Mr. Yamin memiliki dasar argumentasi yang sulit dimentahkan, paling tidak ia memiliki andil besar dalam merumuskan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Ia berupaya keras mencari titik temu diantara bentangan kebinekaan kita dengan gagasan persatuan.Selain bentuk pemerintah dan bentuk Negara, ia juga membentuk gagasan organ atau lembaga Negara di tingkat pusat. Ia mengemukakan enam lembaga, yaitu Presiden dan wakil Presiden, Dewan Perwakilan, Majelis Permusyawaratan, Kementrian, Majelis Pertimbangan, dan Mahkamah Agung. Bukan itu saja, Mr. Yamin sekaligus membuktikan kedalaman pemahamanya mengenai pentingnya judicial review sebagai mekanisme check and balances dalam penyelenggaraan Negara. Mr. Yamin memang bukan sosok yang sempurna, bukunya yang berjudul “Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945” banyak menuai kontroversi dan kritik, namun dari kontroversi dan kritik tersebut tidak akan menghapus gagasan-gagasan besar Mr. Yamin sejak pergerakan menuju kemerdekaan sampai penyusunan desain Negara menjelang proklamasi 17 Agustus 1945. Sebagai pemikir visioner, beberapa gagasan Mr. Yamin akan selalu menjadi bagian penting dalam membangun dan menjalankan praktek bernegara ke depan.

Sesuai pernyataan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam memperjuangkan Bangsa Indonesia Mr. Muhammad Yamin seperti memperjuangkan hidup dan matinya. Ia selalu siap siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Mr. Muhammad Yamin bahkan sampai saat ini selalu menjadi inspirasi para pemuda Indonesia dalam semangatnya memperjuangkan bangsa Indonesia.

3. Penggila Indonesia yang Dihujat dan Dipuja

Perihal mitos dan kontroversi Mr. Muhammad Yamin, betapapun kontroversialnya Mr. Muhammad Yamin adalah bagian dan kekayaan sejarah Indonesia.ketika ratusan pemuda pada kongres 1926 berdebat

(17)

perihal bahasa, Mr. Yamin saat itu baru 23 tahun, ia mengusulkan bahasa Melayu bukan Jawa atau yang lain sebagai bahasa persatuan. Dua tahun kemudian dalam kongres pemuda II dari tangannya lahir teks Sumpah Pemuda. Gagasannya tentang bentuk Negara RI terbit dari romantisismenya pada kerajaan-kerajaan tempo dulu ia menggali sejarah Sriwijaya dan Majapahit. Kemudian dalam sidang BPUPKI Mr. Yamin menegaskan bentuk Negara yang tepat bagi Indonesia adalah Kesatuan.Ia menolak bentuk federasi seperti yang diusulkan oleh Mohammad Hatta. Kekagumanya terhadap masa lampau, sekaligus ketakutanya terhadap disintegrasi bangsa, boleh jadi telah membuatnya berlebihan menakar Indonesia. Mr. Yamin tidak hanya mengusulkan wilayah Indonesia meliputi Semenanjung Malaya, Timor Portugis, hingga Papua Nugini, tapi juga menciptakan ikon wajah persatuan dari Negara Majapahit yaitu Gadjah Mada. Ia menuai caci maki dari temuanya itu, tetapi hingga saat ini tidak ada ahli sejarah yang menyatakan seperti apa wajah Gadjah Mada itu yang sebenarnya (Opini Tempo pada tanggal 18-24 Agustus 2014, hal. 31).

Kontroversi Mr. Yamin yang paling ramai dibicarakan adalah perihal bukunya yang berjudul: “Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945” yang terbit pada tahun 1959. Dalam buku itu, dia mengklaim telah menyampaikan pidato pada 29 Mei 1945 tentang Rancangan UUD yang sistematik dan isinya mirip dengan UUD 1945. Bung Hatta pun berang atas pernyataan atau bualan itu. Patut disayangkan Order Baru mengambil keuntungan atas klaim sepihak Yamin. Dalam semangat mengerdilkan peran soekarno, tak lama setelah jatuhnya penguasa Orde Lama itu, Suharto menyatakan Mr. Yamin-lah yang berjasa membuat UUD 1945. Gagasan Mr. Yamin dan Soekarno tentang Negara kesatuan, betapapun urgennya pada konteks masa itu menghadapi apa yang sebelumnya telah dicemaskan Hatta, yaitu pemberontakan daerah. Mendukung Soekarno tentang perlunya pemerintah yang kuat, Mr. Yamin menyongkong penyerahan pasukan

(18)

pusat ke Sumatera Barat untuk memadamkan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Dengan tindakkan Mr. Yamin tersebut, justru ia dibenci oleh penduduk negeri tempat ia dilahirkan. Walaupun begitu, Mr. Muhammad Yamin bukanlah semata-mata si licik istilah yang dilontarkan oleh Hatta, melainkan Mr. Yamin pernah menggagas ide tentang perlunya lembaga hukum untuk mengoreksi produk Undang-Undang yang bisa saja dilahirkan karena kepentingan politik tertentu. Pasca reformasi, amendemen ketiga UUD 1945 telah menetapkan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yang menjalankan tugas tersebut. Harus diakui, pemikiran Mr. Muhammad Yamin telah melampaui zamanya.Mimpi Mr. Yamin tentang kejayan masa lalu juga tak boleh ditelan mentah-mentah. Indonesia hari ini adalah Indonesia yang kedaulatanya dipagari kedaulatan bangsa lain. Pandangan tentang kebesaran Indonesia perlu dikombinasikan dengan sikap rendah hati dan menghargai Negara berbeda. Hari ini Indonesia adalah warga dunia yang kejayaanya bukan ditentukan oleh victory of the past, melainkan oleh komintmen terhadap persaudaraan, pluralisme, dan penghargaan kepada perbedaan. Mr. Yamin memang tokoh kontroversial, tapi justru disitulah uniknya. Ia adalah bagian kecil dari kisah para pendiri Republik. Bersama Soekarno, Hatta, Sjahril, Tan Malaka, Natsir, D.N. Aidit. Mr. Yamin membuktikan bahwa sejarah Indonesia bukanlah sesuatu yang lempang. Indonesia hari ini Indonesia yang setiap senti meter sejarahnya dibangun di atas pertentangan dan pergulatan dan ada idialisme di situ, mungkin juga pragmatisme. Karena itu, perlu lebih rileks memandang masa lalu. Seperti masa kini, ia juga banyak cacatnya (Opini Tempo tanggal 18-24 Agustus 2014, hal. 31).

B. Karya dan Kiprah Mr. Muhammad Yamin

1. Karya Mr. Muhammad Yamin yaitu Gadjah Mada

Mr. Muhammad Yamin mungkin lahir pada era ketika Indonesia hanya punya dua pilihan yaitu bersatu atau porak poranda sama sekali.

(19)

Karena itu, ia menciptakan ikon: Gadjah Mada, maha patih yang pernah bersumpah untuk menyatukan nusantara. Lebih dari sekedar memetik gagasan panglima perang majapahit itu, Yamin merasa perlu mencari raut wajah Gadjah Mada. Ia memungutnya dari gambar yang tertera pada celengan tera kota yang dipercaya datang dari era Majapahit. Raut itulah yang kita kenal sekarang sebagai wajah Gadjah Mada.

Wajah Gadjah Mada yang dipopulerkan Mr. Yamin dan disosialisasikan ke sekolah-sekolah itu dianggap salah kaprah oleh para arkeolog. Wajah pada salah satu celengan terakota yang ada di Museum Majapahit di Trowulan, Jawa Timur itu berpipi gembil dan bermata sipit, alis kanan dan kirinya tersambung melengkung dramatis seperti ombak, sedangkan bagian bibirnya tersenyum samar melebarkan dagu yang tebal. Itulah celengan yang beberapa puluh tahun lalu dilihat Mr. Muhammad Yamin dan kemudian dibuatnya sebagai paras Gadjah Mada. Wajah itu menurut penyair Sapardi Djoko Damono, mirip dengan raut muka Mr. Yamin sendiri. Wajah Gadjah Mada yang disodorkan Mr. Yamin menjadi ketetapan umum setelah ia menjabat Mentri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1953. Saat itulah tafsir Mr. Yamin soal wajah Gadjah Mada masuk kurikulum pendidikan dan menyusup ke buku-buku sejarah. Karena Mr. Yamin sudah memberi intruksi, ketetapan wajah Gadjah Mada secara legal kuat sekali, jadi walaupun ia salah apa yang diucapkanya mempengaruhi opini masyarakat (Djafar dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 102).

Dalam segepok literature soal Majapahit, Mr. Yamin makin jatuh hati pada karakter Gadjah Mada.Ia pun kian getol menambang informasi soal Gadjah Mada baik dari prasasti maupun datang langsung ke Trowulan. Semangat nasionalisme Mr. Yamin ini dinilai sejalan dengan kondisi Indonesia yang ketika itu tengah butuh sejarah untuk modal pergerakkan nasional. Bagi Mr. Yamin benar atau tidaknya sejarah yang dia dapat itu urusan belakangan, yang penting sejarah tersebut bisa

(20)

dipakai untuk acuan pergerakan nasional.Interprestasi Mr. Yamin terhadap wajah Gadjah Mada bermula dari ketidaksengajaan. Pada awal 1940-an, ia menyambangi situs Majapahit di Trowulan, namun ia datang bukan untuk mencari wajah Gadjah Mada melainkan karena penasaran terhadap tempat berdirinya kerajaan yang dikaguminya itu. ketika menjelajahi Trowulan itulah Mr. Yamin menemukan pecahan-pecahan celengan. Salah satunya adalah wajah pria berambut ikal dan berpipi tembem. Di mata Mr. Yamin, yang faham ilmu fisiologi atau ilmu membaca karakter seseorang dari wajah, guratan wajah pada terakota tersebut merepresentasikan Gadjah Mada, yakni sosok yang tabah, berkemauan keras, dan gagah berani. Mr. Yamin menganggap Gadjah Mada cocok berwajah seperti itu (Munandar dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 104).

Sepulang dari Trowulan, Mr. Yamin meminta seniman Henk untuk melukis wajah Gadjah Mada berdasarkan wajah pria dicelengan. Lukisan itu lalu dipampangkan Mr. Yamin sebagai sampul bukunya, yang berjudul “Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara” yang diterbitkan Balai Pustaka pertama kali pada tahun 1945. Jika ada yang tidak sepakat dengan tafsirnya, Mr. Yamin meminta mereka balik membuktikan bahwa wajah pada terakota bukan rupa si Gadjah Mada. Menurut Hasan, tafsir Yamin tidak tepat karena mustahil wajah tokoh sebesar Gadjah Mada dipampang di celengan, yang memungkinkan ialah Gadjah Mada dibuatkan arca, tapi hingga kini tidak terindefikasi. Adapun Agus Aris, penulis Gadjah Mada: Biografi Politik, menganggap patung Bima dan Brajanata lebih mewakili sosok Gadjah Mada. Brajanata adalah tokoh cerita rakyat zaman Majapahit.Ia digambarkan sebagai sosok kakak pelindung Raden Panji yang diduga sebagai personifikasi Hayam Wuruk Raja Majapahit yang tersohor. Ada pula yang berpendapat wajah Gadjah Mada lebih mirip Bima yang diarcakan itu.menurutnya menjelang keruntuhan Majapahit pada abad ke-15 di

(21)

Trowulan banyak di baut arca Bima. Sosok Bima yang berperawakan besar dan berkekuatan luar biasa menyimbolkan Gadjah Mada.

Kendati demikian, Agus menilai tafsir Mr. Yamin terhadap wajah Gadjah Mada tak perlu berlebihan dipertentangkan. Apalagi sampai menuduh Mr. Yamin sengaja memilih wajah pada terakota yang mirip wajah dirinya sebagai personifikasi Gadjah Mada. Agus juga meyakini pada dasarnya Mr. Yamin adalah pengabdi republic yang terkagum-kagum pada Majapahit dan Gadjah Mada karena cita-cita persatuan nusantaranya.

Gambar 2.2 Wajah Gadjah Mada yang di Ciptakan Mr. Yamin

Di bawah ini adalah salah satu isi dari karya Mr. Muhammad Yamin dalam bukunya yang berjudul Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara (Yamin: 1960), yaitu:

BAGIAN I

Hidup Yang Penuh Perjuangan Untuk Melaksanakan Persatuan Tumpah Darah Dan Negara.Dialiran sungai Berantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah Selatan daratan Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai, maka disanalah agaknya orang-orang Indonesia berdarah rakyat dilahirkan pada permulaan abad ke-14. Ahli sejarah tidak dapat menyusul hari lahirnya dengan pasti ibu bapak dan keluarganya tidak mendapat perhatian kenang-kenangan riwayat: begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak zaman dahulu. Asal usul Gadjah Mada semuanya

(22)

dilupakan dengan lalim oleh sejarah.Barang kali keadaan itu selaras pula dengan perbawadan nasib Gadjah Mada.Dia tidak bertopang kepada darah keturunan dan namanya terpaku dalam lembaran emas sejarah. Karena tujuan hidup yang tinggi dan maju ke depan atas tenaga usaha sendiri. Dia kelahiran rakyat jelata, dan rakyat murba acapkali dilangkahi saja oleh sejarah yang berpihak kepada yang dianggapnya lebih menarik perhatian.

Menurut kepercayaan orang Bali, seperti tertulis dalam kitab Usana Jawa, maka Gadjah Mada tidak mempunyai ibu dan bapak, melainkan terpencar dari dalam buah kelapa. Sebagai penjelmaan sang hiayang narajana keatas dunia. Jikalau sekiranya cerita itu benar, maka Gadjah Mada berasal dari tanah pulau Bali seperti Prabu Air Langga (990-1042), yang mendirikan kerajaan Darmawangsa setelah keratin dibakar dan Negara diruntuhkan oleh kekuasaan Wurawari-Sriwijaya dalam tahun 1007 M.

Kota Malang singgasari sejak dahulu banyak didapat tanda-tanda memperingati nama Gadjah Mada dan oleh karena dalam tahun 1321 dia telah berusia cukup untuk menjadi patih disuatu daerah, maka keluarlah persangkaan yang memberi alasan bahwa dia agaknya kelahiran aliran sungai beramas, dilahirkan kira-kira dalam tahun 1300, sebagai pemuda dia tidak mempunyai hidup mewah dan bahagia, melainkan dibesarkan sebagai anak desa yang bersatu dalam kemelaratan sehari-hari dengan alam yang kaca-kaca. Dan zaman pemuda Gadjah Mada ialah pula serentak dengan naiknya suatu kerajaan baru.Dari pemuda rakyat yang lebih tua dari padanya, dia pasti mendengar bagaimana runtuhnya kerajaan Singasari dengan pembakaran Keraton dan pembunuhan bangsawan pada tempat yang layaknya dekat disebelah Utara, yang pada waktu itu tentu masih jelas bekas-bekasnya. Dan juga dari penduduk desanya dia pasti mendengar kabar bahwa kekuasaan Jaya Katuang di tanah Kediri telah runtuh, dan suara menderu dari kiri dan kanan, bagaimana suatu kerajaan baru berdiri dengan tenaga rakyat yang mendapat kemenangan dalam peperangan dan atas usaha peluh keringat sendiri. Keadaan Negara turun dan Negara naik itu mengisi kepala dada pemuda Gadjah Mada, yang mempunyai panggilan hidup yang luar biasa.Suruhan suci lahirlah ke dalam dadanya.Pemuda yang bercita-cita itu lalu menjadi ahli Negara yang maha tangkas.Jiwa dan raga, waktu dan seluruh tenaga dikerahkanya untuk membesarkan Negara yang baru terbentuk.Di dalam tangannya Negara itu menjadi brjiwa dan bersemangat, dan naik ketingkat keluhuran di atas dasar persatuan yang hidup dalam tangan pemimpin besar yang berasal anak desa itu.

Dalam perpustakaan, maka Gadjah Mada kenamaan juga dengan memakai nama lain, seperti empu Mada, Jaya Mada, atau Dwirada Mada menurut agama namanya: Lembu Muksa, sebagai

(23)

penjelmaan maha dewa wisnu. Gadjah Mada artinya gajah yang galak, tangkas, penuh dengan kegiatan pada ketika sedang mundam atau berahi. Barang kali perkataan Gadjah Mada atau Mada kari itu hanyalah suatu gelaran saja nama kecilnya tidak dikenal.

Lebih dari 40 tahun Gadjah Mada memegang dan bekerja segenap waktu untuk persatuan dan kepentingan Negara.Kitab para raton memberi rencana tentang perjalanan rancangan hidup Gadjah Mada menurut garis-garis besar.Lekaslah dia mendapat perhatian pegawai tinggi karena berundak sebagai pemuda yang penuh cita-cita membangun kerajaan dan jiwa kepala Negara 1328, dan kemudian memberi ketetapan yang pasti kepada mahkota yang hampir runtuh adalah yang mempersatukan kepulauan nusantara.Dalam tahun1361 gajah mada meninggal dunia tidak ketahuan di mana badannya tersimpan dalam pangkuan bumi.Kata sebagian orang dia meninggal di Maja Pahit.Kata sebagian orang lagi dia menenggelamkan diri kedalam lautan Indonesia.Dialah orang-orang besar Indonesia, yang tidak diketahui tempat lahir dan tempat wafatnya. Walaupun demikian nama dan perjuanganya tinggal hidup selama-lamanya dalam hati sanubari Rakyat sesudahnya, dan mendapat ingatan mulia dalam sejarah kebangsaan.

Karangan Mr. Yamin tentang Gadjah Mada ini peneliti dapat menyimpulkan bahwasanya Mr. Yamin sangat menginginkan bangsa Indonesia ini dapat memperjuangkan kemerdekaanya dan setia melaksanakan persatuan tumpah darah dan Negara agar bangsa Indonesia selalu senantiasa merdeka, bersatu dan jaya. Perjuangan yang lamanya empat puluh tahun itu akan mendapat penerangan. Tulisan ini akan menurunkan jejak-jejak yang dapat diselidiki di atas jalan yang dirintis pemimpin kebangsaan itu di atas lebuh persatuan menuju kebesaran nusa, bangsa dan Negara. Itulah salah satu isi dari karya Mr. Muhammad Yamin yang menceritakan Gadjah Mada beserta perjuangannya di Majapahit.

Mr. Yamin menulis ribuan halaman tentang tata Negara Majapahit.Sudah sejak mahasiswa Mr. Yamin membulatkan nazar membuat buku tentang macam-macam praktek tata Negara yang pernah berlangsung di wilayah Nusantara. Sudah lama pula ia menyimpan hasrat menulis sejarah Nusantara dalam bahasa Indonesia. memang pada

(24)

saat itu belum ada buku sejarah yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Walaupun ia telah menciptakan banyak buku tentang sejarah majapahit yang kurang akurat dalam terjemahanya dan Mr. Yamin menuai banyak kritik, tetapi ia berperan sekali dalam penulisan sejarah Majapahit. Yamin juga berjasa karena sudah membuka jalan kepada sejarawan dan arkeolog lain untuk menulis sejarah dalam bahasa Indonesia. Untuk ukuran sejarawan otodidak, karya Mr. Yamin bisa dibilang prestisius dan luar biasa (Dwi dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 106) .

2. Pelopor Soneta-soneta Nasionalis

Mr. Muhammad Yamin adalah perintis puisi Indonesia modern.Dalam perkembangan sastra dialah penyair yang mempopulerkan bentuk soneta.

Pada batasan, Bukit Barisan

Memandang aku, ke bawah memandang Tampaklah hutan, rimba, dan ngarai Lagipun sawah, sungai yang permai Serta gerakan, lihatlah pula

Langit yang hijau bertukar warna Oleh pucuk, daun kelapa

Itulah tanah, tanah airku

Sumatera namanya, tumpah darahku

Bait pertama dari tiga bait puisi legendaris karya Mr. Muhammad Yamin itu berjudul “Tanah Air”. Puisi yang ia tulis ketika ia berusia 17 tahun ini menyuarakan gagasanya tentang konsep tanah air dan tumpah darah yang dibayangkanya. Muatan pesan puisi itu menekankan semangat cinta tanah air tapi dalam puisi tersebut masih merujuk ke Sumatera bukan Indonesia.Tanah air menjadi tonggak perjalanan Yamin sebagai sastrawan. Dan ketika muncul di Jong Sumatera majalah yang berbahasa Belanda yang diterbitkan organisasi pemuda sumatera, Jong Sumateranen Bond, Nomor IV tahun III, 1920, puisi itu menyentak jagad sastra di tanah air. Mr. Yamin memperkenalkan bentuk puisi baru yang tidak mengikuti pakem lama yang berjumlah enam atau delapan baris. Puisi “Tanah Air” terdiri atas tiga bait. Satu bait bisa Sembilan baris,

(25)

atau jumlah ganjil bukan genap. Bunyi rima barisnya juga aa-bb-cc-dd dan bukan ab-ab (Pradopo dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 98).

Bentuk puisi baru yang disuguhkan Mr. Yamin dikenal dengan soneta. Ini merupakan sajak yang lahir di Italia pada sekitar abad ke-12 dan berkembang di Eropa hingga sekarang. Yamin adalah pelopor yang mengimpor soneta dan kemudian mempopulerkanya di jagad sastra Indonesia. Saat itu para penyair di Tanah Air baik penyair Melayu ataupun Melayu Tionghoa belum ada secara serius memilih bentuk soneta dalam sajak-sajaknya. Yamin-lah orang pertama yang paling setia dengan bentuk soneta dalam karya-karya puisinya. Pilihan Mr. Yamin pada bentuk soneta juga cukup nyeleneh. Pada saat itu, banyak penyair di Tanah Air yang terpukau oleh gaya puisi prosa Rabindranath Tagore, sastrawan asal india. Tapi Mr. Yamin tetap memilih bentuk soneta asal Italia dan ia berhasil dengan pilihan tersebut. Soneta memaksa penulisnya bisa mengendalikan perasaan. Sebab penulis harus mengikuti aturan ketat dan bentuk yang rumit dari soneta. Misalnya aturan rima dan jumlah baris dalam setiap baitnya. Mr. Yamin sangat rapih dalam menulis puisi, dan jelas itu tidak mudah tetapi yamin tetap memilih bentuk tersebut. Karena itu, sumbangan Mr. Yamin yang sangat penting dalam dunia sastra Indonesia adalah bentuk soneta yang digunakan dalam sajak-sajaknya. Soneta-soneta Mr. Yamin dimuat di Jong Sumatera pada tahun 1920-an. Selain membuat puisi “Tanah Air”, Mr. Yamin menulis soneta seperti puisi “Permintaan”, “Cita-cita” dan “ Niat”. “Tanah Air” sendiri kemudian diterbitkan dalam buku puisi yang berjudul Tanah Air pada 9 Desember 1922. Buku ini terdiri atas 30 bait dan tiap bait terdiri atas 9 baris. Penerbitan buku ini dipersembahkan Yamin untuk menyambut peringatan lima tahun berdirinya Jong Sumateranen Bond (Damono dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 98).

(26)

Pada 26 Oktober 1928, dua hari menjelang kongres pemuda, yang melahirkan Sumpah Pemuda, Mr. Yamin menerbitkan buku puisinya yang kedua: “Indonesia Tumpah Darahku”. Buku itu terdiri atas 88 bait dan tiap bait terdiri atas 7 baris. Yang menarik puisi-puisi Mr. Yamin dalam buku yang kedua terjadi perubahan pesan tema nasionalisme yang disampaikanya. Di dalamnya tanah air dan tanah tumpah darah Mr. Yamin tidak lagi sebatas Sumatera, tapi berubah menjadi Indonesia.

Karya-karya soneta Mr. Yamin pun kemudian kian populer dan diikuti oleh para penyair Pujangga Baru, yang muncul bersamaan dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada Juli 1933, yang dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana. Bisa dikatakan Mr. Yamin adalah salah satu pelopor puisi Indonesia modern. Sebab jauh sebelum majalah Pujangga Baru terbit, dia telah menulis puisi dengan pakem modern. Bila di petakan dalam jagad sastra Indonesia, Mr. Yamin berada diantara sastrawan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Kesamaan Mr. Yamin dengan para penyair Pujangga Baru, kecenderungan kea rah romantisisme Eropa. Romantisisme itu mengagungkan alam, jadi alam merupakan tumpuan dan pemikiran mereka. Alam sebagai satu kesatuan yang utuh. Di dalamnya ada pohon, hewan, manusia, dan kekuatan adikodrati (Sapardi dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014, hal. 98).

Kecintaan Mr. Yamin pada dunia sastra bertunas saat dia masih sejak belia. Lingkungan Nagari Talawi, Sawahlunto Minangkabau, tempat kelahiran Mr. Yamin, ikut berpengaruh. Mr. Yamin kecil tumbuh dalam lingkungan tradisi yang telah mengakar, Mr. Yamin juga tumbuh dalam tradisi bercerita tambo atau hikayat (Abdullah dalam Majalah Tempo Edisi Mr. Muhammad Yamin yang dirilis 18 Agustus 2014).Sejak kecil Mr. Yamin memang gemar sekali membaca. Terlebih buku yang ditulis menggunakan gaya bahasa nan indah. Dia tidak mau melepaskan buku itu sebelum selesai dibaca. Saat malam hari ia kerap membaca buku di bawah lampu penerangan di pinggir jalan. Dan kecintaan Mr.

(27)

Yamin terhadap sastra kian menemukan jalannya ketika ia memasuki AMS di Surakarta pada tahun 1929. Mr. Yamin sangat tertarik pada mata pelajaran sastra romantik yang telah berkembang di Eropa. Mr. Yamin juga aktif menerjemahkan karya penulis asing salah satunya karya klasik William Shakespeare dan menerjemahkan karya-karya barat lainya. Sayangnya, periode Mr. Yamin dalam dunia sastra relative singkat, sejak masuk dalam anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda) pada tahun 1939, ia tidak lagi banyak menulis karya sastra, terutama puisi. Karena waktunya kemudian lebih banyak dicurahkan di dunia politik.

3. Mr. Muhammad Yamin, Bahasa dan Bangsa

Salah satu bait sajak Mr. Muhammad Yamin yang ditulis ketika usianya masih belasan tahun di majalah Jong Sumatera berbunyi:

Sampai mati berkalang tanah Lupa ke bahasa tiadakan pernah Ingat pemuda, Sumatera malang Tiada bahasa, bangsa pun hilang

Ada tiga kata kunci dalam kutipan itu: “bahasa”, “Sumatera”, dan “Bangsa”. Majalah yang memuat sajak Mr. Yamin itu adalah media dari sebuah organisasi pemuda asal Sumatera, yang pada awalnya memang mendasarkan pandanganya pada prinsip teritorialisme dan bukan primodialisme. Sumatera adalah sebuah teritori yang mencangkup sejumlah suku bangsa yang masing-masing memiliki adat, bahasa dan teritori.

Masalah dasar yang boleh diperkarakan berkenaan dengan organisasi itu adalah justru aspek bahasa. Jong Sumateranen Bond itu merupakan bahasa Belanda, bahasa yang disuratkan dalam sajak Yamin tentulah bahasa melayu. Sajak itu mengajak pemuda Sumatera menggunakan bahasa Melayu dalam komunikasi, bukan bahasa Belanda yang mereka pelajari di sekolah, meski tetap digunakan sebagai nama organisasi.

(28)

Bangsa yang dikaitkan dengan bahasa dalam sajak itu adalah Melayu. Bahasa itu dianggap berlaku untuk semua suku bangsa karena dalam kenyataanya suku-suku bangsa yang memiliki bahasa berlainan harus sepakat menggunakan sebuah bahasa sebagai sarana komunikasi. Dalam sajak yang sama Mr. Yamin menulis:

Dalam bahasa sambungan jiwa Di mana Sumatera, di situ bangsa Di mana perca, di situ bahasa

Mula-mula memang demikian adanya bahasa yang diperjuangkan agar menjadi pilihan pemuda dalam organisasinya hanya dikaitkan dengan Sumatera dan Perca. Namun, pikiran yang masing kosong diisinya dengan pengetahuan, pengalaman, dan penghayatan baru yang pada akhirnya mengubah pikiranya hingga ketahap yang paling mendasar. Bahasa adalah komunikasi, kebudayaan adalah komunikasi, jadi bahasa adalah kebudayaan. Itulah sebenarnya masalah kita saat ini, yang dicoba diselesaikan dalam kongres pemuda pada tahun 1928 dengan menyatakan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu sebabnya harus dijunjung tinggi. Butir ketiga keputusan kongres itu adalah “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Kongres tidak pernah mengatakan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa. Mr. Yamin sangat berperan dalam memecahkan masalah gawat tersebut, ketika itu ia merupakan sekertaris kongres pemuda dengan ketua Djojopoespito. Dalam proses semacam itu, yamin bisa dijadikan contoh mewakili anak muda cerdas yang datang dari berbagai daerah ke Jawa untuk belajar. Ia belajar segala jenis ilmu yang disediakan pemerintah. Masa lampau memang berlangsung di mana-mana tapi di Jawa para pujangga sejak mengenal aksara telah merekamnya lebih dari yang terjadi di daerah lain. Itu tentu tak lain argumentasi yang bisa diberikan mengapa Mr. Yamin menulis buku seperti: Gadjah Mada, Pangeran Di Ponegoro, Ken Arok dan Ken Dedes dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata.Namun, sumbangan ia yang sangat penting bagi perkembangan sastra Indonesia adalah bentuk soneta yang digunakannya dalam

(29)

sebagian besar sajaknya. Sejak Mr. Yamin menyiarkan sajak soneta-sonetanya dalam majalah Jong Sumatera pada 1920-an, hampir tidak ada penyair di majalah Pujangga Baru yang luput dari ciptanya.

Karya-karya dan kiprah Mr. Muhammad Yamin yang sangat luar biasa itu membuat penulis dan semua rakyat Indonesia bangga akan semua jasa-jasa beliau. Dalam perkembangan sastra Indonesia, beliau adalah sosok yang pertama kali mempopulerkan bentuk soneta dalam sajak-sajaknya.Sebagai sejarawan dan penyair, beliau dapat dibilang sangat produktif.

Gambar

Gambar 2.1 Makam Muhammad Yamin di Talawi
Gambar 2.2 Wajah Gadjah Mada yang di Ciptakan Mr. Yamin

Referensi

Dokumen terkait