• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LARANGAN BAGI KONSULTAN DAN FASILITATOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR LARANGAN BAGI KONSULTAN DAN FASILITATOR"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

_______________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________ 1

D

AFTAR LARANGAN BAGI KONSULTAN DAN FASILITATOR

Untuk mendukung terlaksananya tugas dan tanggung jawab dalam melakukan Fasilitasi maka konsultan dan fasilitator dilarang:

1.1. Mengambil keputusan, melakukan negosiasi, dan melakukan kompromi yang menjadi hak masyarakat, serta melakukan tindakan apa pun yang merugikan masyarakat.

1.2. Menerima apa pun dari pihak mana pun dengan tujuan:

2.1.1. Memengaruhi proses seleksi desa dalam penetapan alokasi dana PNPM; 2.1.2. Memengaruhi pemilihan jenis kegiatan, lokasi, dan spesifikasi kegiatan PNPM

dalam proses perencanaan;

2.1.3. Sebagai hadiah, kompensasi, komisi, tanda terima kasih, atau apa pun dalam

kaitannya dengan profesi sebagai fasilitator.

1.3. Bertindak sebagai pemasok bahan dan alat, menunjuk salah satu pemasok, atau berfungsi sebagai perantara;

1.4. Bertindak sebagai juru bayar, menerima titipan uang, atau merekayasa pembayaran atau administrasi atas nama UPK, Tim Pengelola Kegiatan, atau kelompok masyarakat;

1.5. Membantu atau menyalahgunakan dana PNPM untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok;

1.6. Meminjam dana PNPM dengan alasan apa pun, baik atas nama pribadi, keluarga, maupun kelompok;

1.7. Memalsukan arsip, tanda tangan, atau laporan yang merugikan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung;

1.8. Dengan sengaja mengurangi kualitas atau kuantitas pekerjaan dalam upaya mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok;

1.9. Dengan sengaja membiarkan, tidak melaporkan, atau menutupi proses penyimpangan yang terjadi, yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat dan program;

1.10. Menjadi pengurus partai politik dan calon legistatif yang ditetapkan oleh instansi yang

berwenang serta terlibat dalam tim sukses Pilkada dan Legistatif;

1.11. Pelanggaran terhadap salah satu poin di atas dapat berakibat pada Pemutusan

(2)

DAFTAR SINGKATAN

1. AD : Anggaran Dasar

2. ADD : Alokasi Dana Desa

3. AP : Administrasi Pusat

4. APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 5. APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

6. ART : Anggaran Rumah Tangga

7. BA : Berita Acara

8. BBM : Bahan Bakar Minyak

9. BASPK : Berita Acara Status Pelaksanaan Kegiatan

10. Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

11. Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

12. BKAD : Badan Kerja sama Antar Desa

13. BLM : Bantuan Langsung Masyarakat

14. BM : Buku Material

15. BOS : Bantuan Operasional Sekolah

16. BPD : Badan Permusyawaratan Desa

17. BPK : Badan Pemeriksa Keuangan

18. BPKP : Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan

19. BP-UPK : Badan Pengawas UPK

20. BP : Badan Pemeriksa

21. CSR : Corporate Social Responsibility

22. DAU : Daftar Alokasi Umum

23. DU-RKPDes : Daftar Usulan Rencana Kegiatan Pembangunan Desa

24. DIPA : Daftar Isian Penggunaan Anggaran

25. DPA : Dokumen Pelaksanaan Anggaran

26. DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

27. FK : Fasilitator Kecamatan

28. FT : Fasilitator Teknik

29. Faskab : Fasilatator Kabupaten

30. Fastkab : Fasilitator Teknik Kabupaten

31. Faskeu : Fasilitator Keuangan

32. HOK : Hari Orang Kerja

33. Kades : Kepala Desa

34. KM-Nas : Konsultan Manajemen (tingkat) Nasional

35. KMW : Konsultan Manajemen (tingkat) Wilayah

36. KM-Prov : Koordinator Manajemen Provinsi

37. KPMD/K : Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan

38. KPPN : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

39. KUA : Kebijakan Umum APBD

40. KUB : Kelompok Usaha Bersama

41. KSP : Kelompok Simpan Pinjam

42. LKM : Lembaga Keuangan Mikro

43. LKPj : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban 44. LPPD : Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa

45. LP2K : Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan

46. LPD : Laporan Pengunaan Dana

47. LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat

48. MAD : Musyawarah Antar Desa

49. MDKP : Musyawarah Desa Khusus Perempuan

50. MKP : Musyawarah Dusun Khusus Kelompok Perempuan

51. Musdes : Musyawarah Desa

52. Musrenbang : Musyawarah Perencanaan Pembangunan

(3)

54. PAP : (dana) Pembinaan dan Administrasi Proyek

55. PNPM MPd : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri

Perdesaan

56. Perda : Peraturan Daerah

57. PerDes : Peraturan Desa

58. PIK : Paket Informasi Kecamatan

59. PjOK : Penanggung Jawab Operasional Kegiatan

60. PjOKab : Penanggung Jawab Operasional Kabupaten

61. PjOProv : Penanggung Jawab Operasional Provinsi

62. PKK : Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga

63. PL : Pendamping Lokal

64. PMD : Pemberdayaan Masyarakat Desa

65. Pokmas : Kelompok Masyarakat

66. PPAS : Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara

67. PPM : Penanganan Pengaduan dan Masalah

68. PUK : Paket Usulan Kegiatan

69. PTO : Petunjuk Teknis Operasional

70. RAB : Rencana Anggaran Biaya

71. RBM : Ruang Belajar Masyarakat

72. Renja : Rencana Kerja

73. Renstra : Rencana Strategis

74. RKA : Rencana Kerja Anggaran

75. RKB : Rencana Kegiatan dan Biaya

76. RKP : Rencana Kerja Pemerintah

77. RKPD : Rencana Kerja Pemerintah Daerah

78. RKPDes : Rencana Kerja Pembangunan Desa

79. RKTL : Rencana Kerja Tindak Lanjut

80. RPD : Rencana Penggunaan Dana

81. RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah

82. RPJMDes : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa

83.

RTRWK/K : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota

84. RT : Rukun Tetangga

85. RW : Rukun Warga

86. SDM : Sumber Daya Manusia

87. SE : Surat Edaran

88. SEB : Surat Edaran Bersama

89. SetDa : Sekretariat Daerah

90. Semiloka : Seminar dan Lokakarya

91. SKMP : Surat Kesanggupan Menyelesaikan Pekerjaan

92. SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah

93. SPP : Simpan Pinjam Perempuan

94. SPP-SPPN : Sistem Pembangunan Partisipatif Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional

95. SP2 : Surat Perjanjian Pendanaan

96. SP3K : Surat Pernyataan Penyelesaian Pelaksanaan

Kegiatan

97. SPC : Surat Penetapan Camat

98. SPM : Surat Perintah Membayar

99. SPPB : Surat Perjanjian Pemberian Bantuan

100. SPP-LS : Surat Permintaan Pembayaran Langsung

101. TA : Tahun Anggaran

102. TKPKD : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah

103. TK-PNPM MPd : Tim Koordinasi-PNPM MPd

104. TOT : Training Of Trainer

105. TBM : Tempat Belajar Masyarakat

(4)

107. TPM : Tenaga Pelatih Masyarakat

108. TP3 : Tim Pengelola dan Pemelihara Prasarana

109. TPU : Tim Penulis Usulan

110. TV : Tim Verifikasi

111. UEP : Usaha Ekonomi Produktif

112. UPK : Unit Pengelola Kegiatan

(5)

BAB I

KEBIJAKAN POKOK

1.1. Latar Belakang

Indonesia menghadapi permasalahan kemiskinan, pengangguran, dan ketergantungan. Kemiskinan di Indonesia dapat dilihat melalui tiga pendekatan, yaitu kemiskinan alamiah, kemiskinan struktural, dan kesenjangan antarwilayah. Persoalan pengangguran lebih dipicu oleh rendahnya kesempatan dan peluang kerja bagi angkatan kerja di perdesaan. Strategi untuk penanggulangan dan penyelesaiannya harus menggunakan pendekatan multi disiplin yang berdimensi pemberdayaan. Pemberdayaan yang tepat harus memadukan aspek-aspek penyadaran, peningkatan

kapasitas, pendayagunaan, dan penempatan masyarakat sebagai subjek

pembangunan.

Mulai tahun 2007, Pemerintah Indonesia mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang terdiri dari PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa tertinggal. PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Pendekatan PNPM Mandiri Perdesaan merupakan pengembangan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang selama ini dinilai berhasil. Beberapa keberhasilan PPK antara lain berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin, efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat.

Visi PNPM Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin perdesaan. Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisasi diri untuk memobilisasi sumber daya yang ada di lingkungannya, mampu mengakses sumber daya di luar lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan. Misi PNPM Mandiri Perdesaan adalah: (1) peningkatan kapasitas

masyarakat dan kelembagaannya; (2) pelembagaan dan pengintegrasian

pembangunan partisipatif; (3) pengefektifan fungsi dan peran pemerintahan lokal; (4) peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana sosial dasar serta ekonomi masyarakat; (5) pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan.

Dalam rangka mencapai visi dan misi PNPM Mandiri Perdesaan, strategi yang dikembangkan PNPM Mandiri Perdesaan adalah menjadikan masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran, menguatkan sistem dan pengintegrasian pembangunan partisipatif, serta mengembangkan kelembagaan kerja sama antar desa. Berdasarkan visi, misi, dan strategi yang dikembangkan, PNPM Mandiri Perdesaan lebih menekankan pentingnya pemberdayaan sebagai pendekatan yang dipilih. Melalui PNPM Mandiri Perdesaan, masyarakat diharapkan dapat menuntaskan tahapan pemberdayaan, yaitu tercapainya kemandirian dan keberlanjutan setelah tahapan pembelajaran dilakukan melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK).

1.2. Tujuan

Tujuan Umum PNPM Mandiri Perdesaan adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan yang berkelanjutan. Tujuan khususnya meliputi:

1.2.1. Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat miskin

(6)

keputusan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pelestarian pembangunan;

1.2.2. Menyatupadukan sistem pembangunan partisipatif model PNPM MPd dan

program sejenis ke dalam sistem pembangunan reguler;

1.2.3. Melembagakan pengelolaan pembangunan partisipatif dengan mendayagunakan sumber daya manusia dan sumber daya alam lokal dengan mempertimbangkan kelestariannya;

1.2.4. Mengembangkan kapasitas kelembagaan masyarakat, pemerintahan

khususnya pemerintahan desa, dalam fasilitasi pengelolaan pembangunan partisipatif yang berwawasan lingkungan;

1.2.5. Menyediakan sarana dan prasarana sosial dasar dan ekonomi yang

diprioritaskan oleh masyarakat;

1.2.6. Melembagakan pengelolaan dana bergulir;

1.2.7. Mendorong terbentuk dan berkembangnya kerjasama antardesa;

1.2.8. Mengembangkan kerja sama antarpemangku kepentingan dalam upaya

penanggulangan kemiskinan perdesaan dan perbaikan lingkungan hidup.

1.3. Keluaran Program

1.3.1. Terjadinya peningkatan keterlibatan Rumah Tangga Miskin (RTM) dan

kelompok perempuan serta kelompok masyarakat adat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan/pengawasan, sampai dengan pelestarian.

1.3.2. Adanya keterpaduan sistem pembangunan partisipatif model PNPM MPd dan

program sejenis ke dalam sistem pembangunan reguler.

1.3.3. Terlembaganya sistem pembangunan partisipatif di desa dan antardesa.

1.3.4. Terjadinya peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat, kelembagaan

pemerintahan lokal, khususnya pemerintahan desa, dalam fasilitasi

pembangunan partisipatif yang berwawasan lingkungan.

1.3.5. Berfungsi dan bermanfaatnya hasil kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan bagi

masyarakat.

1.3.6. Terlembaganya pengelolaan dana bergulir dalam peningkatan pelayanan sosial

dasar dan ketersediaan akses ekonomi terhadap RTM.

1.3.7. Terbentuk dan berkembangnya kerja sama antardesa dalam pengelolaan

pembangunan.

1.3.8. Terjadinya peningkatan peran serta dan kerja sama para pemangku

kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan di perdesaan.

1.4. Prinsip Dasar PNPM Mandiri Perdesaan

Pedoman Umum, PNPM Mandiri Perdesaan mempunyai prinsip atau nilai-nilai dasar yang selalu menjadi landasan atau acuan dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan yang akan diambil dalam pelaksanaan rangkaian kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan. Nilai-nilai dasar tersebut diyakini mampu mendorong terwujudnya tujuan PNPM Mandiri Perdesaan. Prinsip-prinsip itu meliputi:

1.4.1. Bertumpu pada pembangunan manusia. Pengertian prinsip bertumpu pada

pembangunan manusia adalah masyarakat hendaknya lebih memilih kegiatan yang berdampak langsung terhadap upaya pembangunan manusia daripada pembangunan fisik semata.

(7)

1.4.2. Otonomi. Pengertian prinsip otonomi adalah masyarakat memiliki hak dan

kewenangan mengatur diri secara mandiri dan bertanggung jawab, tanpa intervensi negatif dari luar.

1.4.3. Desentralisasi. Pengertian prinsip desentralisasi adalah memberikan ruang

yang lebih luas kepada masyarakat untuk mengelola kegiatan penyelarasan pembangunan sektoral dan antardesa yang bersumber dari pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kapasitas masyarakat.

1.4.4. Berorientasi pada masyarakat miskin. Pengertian prinsip berorientasi pada

masyarakat miskin adalah segala keputusan yang diambil berpihak kepada masyarakat miskin.

1.4.5. Partisipasi. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara

aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materiil.

1.4.6. Kesetaraan dan keadilan gender. Pengertian prinsip kesetaraan dan keadilan

gender adalah masyarakat, baik laki-laki dan perempuan, mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahapan program dan dalam menikmati manfaat kegiatan pembangunan. Kesetaraan juga dalam pengertian kesejajaran kedudukan pada saat situasi konflik.

1.4.7. Demokratis. Pengertian prinsip demokratis adalah masyarakat mengambil

keputusan pembangunan secara musyarawah untuk mufakat.

1.4.8. Transparansi dan Akuntabel. Pengertian prinsip transparansi dan akuntabel

adalah masyarakat memiliki akses terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif.

1.4.9. Prioritas. Pengertian prinsip prioritas adalah masyarakat memilih kegiatan yang

diutamakan dengan mempertimbangkan kemendesakan dan kemanfaatan untuk pengentasan kemiskinan serta upaya perbaikan lingkungan.

1.4.10. Keterpaduan, keselarasan, dan kesatupaduan kebijakan. Pengertian prinsip

ini menekankan bahwa arah kebijakan dan atau tindakan dari berbagai aspek kegiatan program lebih menekankan sistem penyelarasan perencanaan politik, teknokratis dengan tetap mengacu pada perencanaan partisipatif yang diintegrasikan kedalam sistem reguler.

1.4.11. Keberlanjutan. Pengertian prinsip keberlanjutan adalah bahwa dalam setiap

pengambilan keputusan atau tindakan pembangunan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pemeliharaan kegiatan harus telah mempertimbangkan sistem pelestariannya.

1.5. SASARAN PNPM MANDIRI PERDESAAN 1.5.1. Lokasi Sasaran

Lokasi sasaran PNPM Mandiri Perdesaan meliputi seluruh kecamatan perdesaan di Indonesia yang dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan tidak termasuk kecamatan-kecamatan kategori kecamatan bermasalah dalam PPK/PNPM Mandiri Perdesaan.

1.5.2. Kelompok Sasaran

a. Masyarakat miskin dan masyarakat adat di perdesaan, b. Kelembagaan masyarakat di perdesaan,

(8)

1.6. Pendanaan

PNPM Mandiri Perdesaan merupakan program Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah. Artinya, program ini direncanakan, dilaksanakan, dan didanai bersama-sama berdasarkan persetujuan dan kemampuan yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.

1.6.1. Sumber dan Ketentuan Alokasi Dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan

Sumber dana berasal dari:

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) c. Swadaya masyarakat

d. Partisipasi dunia usaha/swasta/Corporate Social Responsibility (CSR) dan, e. Sumber lain yang tidak mengikat.

1.6.2. Kriteria Alokasi

Alokasi dana BLM per kecamatan ditetapkan oleh Pemerintah yang diatur dengan ketentuan tersendiri.

1.6.3. Mekanisme Pencairan Dana

Pencairan dana diatur sebagai berikut.

a. Pencairan dana BLM yang bersumber dari APBN mengacu pada petunjuk teknis pencairan dana dan peraturan lain yang diterbitkan oleh Pemerintah. b. Pencairan dana yang berasal dari Pemerintah Daerah, dilakukan melalui

mekanisme APBD sesuai aturan yang berlaku di daerah dan peraturan lain yang ditetapkan oleh Pemerintah.

c. Pencairan BLM yang bersumber diluar APBN dan APBD dapat dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan BKAD dengan melibatkan UPK dan TPK.

d. Besaran dana BLM dari APBD yang dicairkan ke masyarakat harus utuh tidak termasuk pajak, retribusi, atau biaya lainnya.

1.6.4. Mekanisme Penyaluran Dana

Penyaluran dana adalah proses penyaluran dari rekening kolektif BLM yang dikelola Unit Pengelola Kegiatan (UPK) kepada Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di desa. Mekanisme penyaluran dana sebagai berikut.

a. Pembuatan Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB) antara UPK dengan TPK dengan diketahui oleh Camat dan Kepala Desa/Lurah.

b. TPK menyiapkan Rencana Penggunaan Dana (RPD) sesuai kebutuhan yang dilampiri dengan dokumen-dokumen perencanaan kegiatan (gambar desain, RAB, dan lampirannya).

c. Penyaluran berikutnya perlu dilengkapi dengan Laporan Penggunaan Dana (LPD) sebelumnya dan dilengkapi dengan bukti-bukti yang sah.

d. Jika dana telah dipergunakan semuanya maka TPK wajib memberikan laporan penggunaan dana sebagai bagian dari laporan akhir.

(9)

Alur Penyaluran Dana PNPM dari Rekening Kolektif ke Desa Uang masuk ke Kas TPK UPK Catatan kegiatan yang harus dibayar

Pembayaran Bukti-bukti Pembukuan Saldo Kas Penyiapan masih habis Tahap pencairan SPPB+ RPD+LPD + KW 2 + SKMP tahap akhir Proses penyelesaian tahap terkahir 1,2,dst.

1.6.5. Dana Operasional UPK dan Operasional TKP

Dana operasional UPK maksimal sebesar dua persen (2%) dari dana bantuan PNPM Mandiri Perdesaan yang dialokasikan di kecamatan tersebut. Dana operasional TPK/desa maksimal sebesar tiga persen (3%) dari dana PNPM Mandiri Perdesaan yang dialokasikan sesuai hasil Musyawarah Antar Desa Penetapan Kegiatan menurut Surat Penetapan Camat (SPC) untuk desa yang bersangkutan.

1.7. Ketentuan Dasar PNPM Mandiri Perdesaan

Ketentuan dasar PNPM Mandiri Perdesaan merupakan ketentuan-ketentuan pokok yang digunakan sebagai acuan bagi masyarakat dan pelaku lainnya dalam melaksanakan kegiatan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemeliharaan, sampai dengan pelestarian. Ketentuan dasar PNPM Mandiri Perdesaan dimaksudkan untuk mencapai tujuan secara lebih terarah. Ketentuan dasar tersebut meliputi :

1.7.1. Desa Berpartisipasi

Seluruh desa/kelurahan atau nama lain di kecamatan penerima PNPM Mandiri Perdesaan berhak berpartisipasi dalam seluruh tahapan program. Untuk dapat berpartisipasi dalam PNPM Mandiri Perdesaan, dituntut adanya kesiapan dari masyarakat dan desa dalam menyelenggarakan pertemuan-pertemuan musyawarah secara swadaya dan menyediakan kader-kader desa yang bertugas secara sukarela serta adanya kesanggupan untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan dalam PNPM Mandiri Perdesaan.

Untuk mengoptimalkan pengelolaan program, kecamatan dengan jumlah desa lebih dari 20 disarankan untuk menggabungkan desa-desa tersebut menjadi sekurang-kurangnya 10 satuan desa cluster. Penggabungan tersebut didasarkan atas kesepakatan desa-desa dengan mempertimbangkan

(10)

kedekatan wilayah. Proses pembentukan desa cluster dilakukan dalam MAD Sosialisasi.

1.7.2. Kriteria dan Jenis Kegiatan

a. Kegiatan yang akan dibiayai melalui dana BLM dan dana bergulir

diutamakan untuk kegiatan yang memenuhi kriteria:

1) Lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin; 2) Memenuhi kebutuhan antardesa dan/atau antarkecamatan;

3) Berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin;

4) Berdampak langsung terhadap perkembangan ekonomi perdesaan; 5) Dapat dikerjakan oleh masyarakat;

6) Didukung oleh sumber daya yang ada;

7) Memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan;

8) Mendukung kualitas lingkungan hidup dengan tidak merusak lingkungan hidup.

b. Jenis-jenis kegiatan yang dibiayai melalui BLM PNPM Mandiri Perdesaan

adalah sebagai berikut.

1) Kegiatan pembangunan atau perbaikan sarana dan prasarana dasar yang dapat memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang secara ekonomi bagi masyarakat miskin, rumah tangga miskin di dalam desa, antardesa/kelurahan, atau sebutan lainnya.

2) Kegiatan peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, termasuk kegiatan pelatihan pengembangan keterampilan masyarakat (pendidikan nonformal).

3) Kegiatan peningkatan kapasitas/keterampilan kelompok usaha ekonomi, terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumber daya lokal (tidak termasuk penambahan modal).

4) Penambahan permodalan Simpan Pinjam untuk Kelompok Perempuan (SPP).

5) Kegiatan Usulan Pengganti bagi lokasi kecamatan yang tidak memenuhi kriteria bisa mengajukan dana SPP. Dana tersebut mencakup pembiayaan, penyediaan sarana atau prasarana usaha, dan modal kerja yang dilakukan oleh kelompok usaha yang dikelola oleh perempuan.

6) Kegiatan pembangunan atau perbaikan sarana dan prasarana yang berhubungan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Ketentuan yang terkait dengan kegiatan ini dijelaskan lebih lanjut dalam PTO Penjelasan XIII.

c. Jenis-jenis kegiatan yang dibiayai melalui dana bergulir adalah:

1) Pendanaan permodalan Simpan Pinjam untuk Kelompok Perempuan (SPP) dapat didanai dari alokasi SPP dan UEP yang telah diputuskan melalui MAD.

2) Pendanaan kegiatan permodalan bagi Usaha Ekonomi Produktif (UEP) hanya dapat didanai dari alokasi UEP yang sudah ada.

(11)

1.7.3. Mekanisme usulan kegiatan

Setiap desa dapat mengajukan 3 (tiga) usulan yang dapat didanai dengan BLM PNPM Mandiri Perdesaan. Setiap usulan harus merupakan 1 (satu) jenis kegiatan/satu paket kegiatan yang saling berkaitan langsung.

Tiga usulan yang dimaksud adalah:

a. Usulan kegiatan sarana dan prasarana dasar atau kegiatan peningkatan kualitas hidup masyarakat (kesehatan atau pendidikan) atau peningkatan kapasitas/keterampilan kelompok usaha ekonomi yang ditetapkan oleh Musyawarah Desa Khusus Perempuan.

b. Usulan kegiatan Simpan Pinjam bagi Kelompok Perempuan (SPP) yang ditetapkan oleh Musyawarah Desa Khusus Perempuan. Alokasi dana kegiatan SPP ini maksimal sebesar 25% dari BLM kecamatan. Tidak ada batasan alokasi maksimal per desa, tetapi harus mempertimbangkan hasil verifikasi kelayakan kelompok atau usulan penggati SPP bagi kecamatan yang terkena sangsi pendanaan.

c. Usulan kegiatan sarana dan prasarana dasar, kegiatan peningkatan kualitas hidup masyarakat (kesehatan atau pendidikan), dan peningkatan kapasitas/keterampilan kelompok usaha ekonomi yang ditetapkan oleh Musyawarah Desa Perencanaan. Kegiatan sarana dan prasarana yang diutamakan adalah kegiatan yang secara langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan membuka lapangan kerja baru.

Usulan yang dimaksud dalam butir a,b, dan c di atas merupakan kegiatan yang wajib ditetapkan berdasarkan hasil Musrenbangdes sesuai Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDes) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Kecamatan yang memiliki jumlah desa sedikit dengan jumlah alokasi BLM maksimal, memiliki kemungkinan setiap desanya bisa mengajukan lebih dari 3 usulan.

Jika usulan non-SPP dari musyawarah khusus perempuan sama dengan usulan musyawarah desa campuran maka kaum perempuan dapat mengajukan usulan pengganti sehingga usulan kegiatan dari musyawarah desa perencanaan tetap berjumlah tiga usulan.

Nilai maksimal satu usulan kegiatan yang dapat didanai BLM PNPM Mandiri Perdesaan diatur sebagai berikut:

a. Jawa & Bali Rp350 juta, dan usulan antardesa maksimal Rp500 juta. b. Luar Jawa & Bali Rp500 juta.

Khusus untuk kegiatan antardesa di luar Jawa dan Bali tidak dilakukan pembatasan maksimal. Akan tetapi, usulan antardesa harus mengacu kepada kesepakatan kerja sama desa untuk mewujudkan pembangunan desa dan antardesa. Usulan yang diajukan tersebut harus sudah masuk dalam RKPDes dan RPJMDes yang melakukan kerja sama dengan kriteria jenis kegiatan yang tetap mengacu kepada ketentuan kelayakan usulan. Jika nilai usulan antardesa melebihi 1,5 miliar rupiah maka sebelum diputuskan, usulan tersebut harus mendapat persetujuan tertulis dari Satker Kabupaten dan Tim Faskab.

Usulan kegiatan pendidikan atau kesehatan harus mempertimbangkan rencana induk dari instansi pendidikan atau kesehatan di kabupaten, dan memberitahukan secara tertulis kepada instansi terkait sebagai informasi agar tidak terjadi overlapping (tumpang tindih) perencanaan dan pendanaan.

(12)

1.7.4. Swadaya Masyarakat

Swadaya adalah kemauan dan kemampuan masyarakat yang disumbangkan sebagai bagian dari rasa ikut memiliki terhadap program. Swadaya masyarakat merupakan salah satu wujud partisipasi dalam pelaksanaan tahapan PNPM Mandiri Perdesaan. Swadaya bisa diwujudkan dengan menyumbangkan tenaga, dana, maupun material pada saat pelaksanaan kegiatan. Dasar swadaya adalah kerelaan masyarakat sehingga harus dipastikan bebas dari tekanan atau keterpaksaan.

1.7.5. Kesetaraan dan Keadilan Gender

Pengertian pencapaian kesetaraan dan keadilan gender sebagai salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan pemihakan kepada perempuan. Pemihakan tersebut memberi makna berupa upaya pemberian kesempatan bagi perempuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, ekonomi, dan politik serta mengakses dan memiliki kendali atas aset produktif.

Salah satu wujud keberpihakan kepada perempuan adalah PNPM Mandiri Perdesaan mengharuskan adanya keterlibatan perempuan sebagai pengambil keputusan dan pelaku dalam semua tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. Kepentingan perempuan harus terwakili secara memadai dengan mendorong masyarakat menciptakan ruang di mana perempuan bisa terlibat secara aktif.

1.7.6. Jenis Kegiatan yang Dilarang (Negative List)

Jenis kegiatan yang tidak boleh didanai oleh PNPM Mandiri Perdesaan adalah sebagai berikut.

a. Pembiayaan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan militer atau angkatan

bersenjata, pembiayaan kegiatan politik praktis/partai politik;

b. Pembangunan/rehabilitasi bangunan kantor pemerintah dan tempat ibadah; c. Pembelian chainsaw, senjata, bahan peledak, asbes, dan bahan-bahan lain

yang merusak lingkungan (pestisida, herbisida, obat-obat terlarang, dan lain-lain);

d. Pembelian kapal ikan yang berbobot di atas 10 ton dan perlengkapannya; e. Pembiayaan gaji pegawai negeri;

f. Pembiayaan kegiatan yang mempekerjakan anak-anak di bawah usia kerja; g. Kegiatan yang berkaitan dengan produksi, penyimpanan, atau penjualan

barang-barang yang mengandung tembakau;

h. Kegiatan pengolahan tambang atau pengambilan dan penggunaan terumbu

karang;

i. Kegiatan yang berhubungan pengelolaan sumber daya air dari sungai yang

mengalir dari atau menuju negara lain;

j. Kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan jalur sungai;

k. Kegiatan yang berkaitan dengan reklamasi daratan yang luasnya lebih dari

50 Hektar (Ha);

l. Pembangunan jaringan irigasi baru yang luasnya lebih dari 50 Ha;

m. Kegiatan pembangunan bendungan atau penampungan air dengan

kapasitas besar, lebih dari 10.000 meter kubik;

n. Kegiatan konstruksi dan pemanfaatan lahan di wilayah kawasan konservasi

dan hutan lindung tanpa izin tertulis dari instansi pemangku kawasan/pihak yang berwenang, kecuali untuk desa-desa yang sudah masuk dalam kawasan konservasi (enclave);

o. Kegiatan yang mengarah kepada perdagangan tumbuhan dan satwa yang

(13)

1.7.7. Pengamanan Sosial dan Lingkungan Hidup (Safeguards)

Kebijakan ”safeguards” atau “pengamanan” sosial dan lingkungan hidup merupakan upaya dari kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan dalam melakukan pencegahan, pengelolaan, dan penanganan risiko terjadinya potensi dampak yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kegiatan yang didanai. Kebijakan pengamanan tidak hanya untuk menghindari dampak sosial dan lingkungan hidup yang merugikan sebagai akibat adanya suatu kegiatan yang didanai oleh program, tetapi juga meminimalkan risiko dampak negatif tersebut. Jika dampak-dampak negatif tidak dapat dihindarkan, program harus merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah penanggulangan perbaikan serta kompensasi jika diperlukan.

Kebijakan pengamanan sosial dan lingkungan hidup sepenuhnya dijelaskan dalam PTO Penjelasan XIV.

1.7.8. Sanksi

Sanksi adalah salah satu bentuk pemberlakuan kondisi karena adanya pelanggaran atas peraturan dan tata cara yang telah ditetapkan di dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Sanksi bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan.

Sanksi dapat berupa:

a. Sanksi masyarakat, yaitu sanksi yang ditetapkan melalui kesepakatan

dalam musyawarah masyarakat. Semua kesepakatan sanksi dituangkan secara tertulis dan dicantumkan dalam berita acara pertemuan,

b. Sanksi hukum, yaitu sanksi yang diberikan sesuai dengan peraturan

perundangan yang berlaku,

c. Sanksi program adalah pemberhentian bantuan jika kecamatan atau desa

yang bersangkutan tidak dapat mengelola PNPM Mandiri Perdesaan dengan baik, seperti menyalahi prinsip-prinsip, menyalahgunakan dana atau wewenang, melakukan penyimpangan prosedur, hasil kegiatan tidak terpelihara, atau hasil kegiatan tidak dapat dimanfaatkan. Kecamatan tersebut akan dianggap sebagai kecamatan bermasalah sehingga dapat dilakukan penundaan pencairan dana yang sedang berlangsung, serta tidak dialokasikan untuk tahun berikutnya.

1.7.9. Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Lembaga, dan Pemerintahan Lokal

Dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat, lembaga, dan pemerintahan lokal menuju kemandirian maka:

a. Di setiap desa, dipilih, ditetapkan, dan dikembangkan: Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (KPMD/K dengan kualifikasi teknik, pemberdayaan, dan ekonomi), Tim Penulis Usulan (TPU), Tim Pengelola Kegiatan (TPK), Tim 11 yang membantu pemerintah desa dalam penyusunan/pengkajian ulang rancangan RPJMDes dan RKPDes, Tim Pemandu dan Tim Delegasi/Utusan Musrenbang, Tim Pemantau, baik untuk memantau program yang sedang dilaksanakan maupun memantau pelestarian dan dana bergulir, serta Tim Pemelihara. Diperlukan kepastian keterlibatan perempuan dalam tim-tim yang ada.

b. Di kecamatan, dibentuk dan dikembangkan: Badan Kerja Sama Antar Desa

(BKAD), Badan Pengawas UPK (BP UPK), Tim Verifikasi, UPK, Tim Penyehatan Pinjaman, Pendamping Lokal (PL), Tim Pemandu dan Tim Delegasi/Utusan Musrenbang, serta Tenaga Pelatih Masyarakat (TPM). Keterlibatan perempuan dalam tim-tim ini perlu didorong dan dipastikan.

(14)

c. Di kabupaten, dibentuk dan dikembangkan kemandirian Ruang Belajar

Masyarakat (RBM). RBM perlu dikembangkan sebagai tempat belajar warga masyarakat yang murah dan dikembangkan dalam wadah Tempat Belajar Masyarakat (TBM). Karena itu, RBM menjadi suatu kultur atau perilaku belajar yang terorganisir, terstruktur, dan sistematis melalui kegiatan belajar bersama. Selain itu, RBM juga bertujuan untuk meningkatkan/mengembangkan kapasitas pelaku dan masyarakat (pelaku PNPM Mandiri Perdesaan), Fasilitator Kabupaten-Kecamatan, aparat pemerintahan di kabupaten/kota yang terlibat dalam PNPM Mandiri Perdesaan.

Pada awalnya, organisasi kerja yang dibangun adalah lembaga-lembaga di desa dan antardesa yang dibentuk untuk kebutuhan fungsional program. Dalam PNPM Mandiri Perdesaan, organisasi kerja tersebut diharapkan mampu mengelola secara mandiri hasil-hasil program, baik yang telah dikerjakan melalui PPK maupun yang dikerjakan melalui PNPM Mandiri Perdesaan. Untuk melakukan kemandirian dan keberlangsungan kelembagaan, perlu dilakukan kebijakan penataan kelembagaan. Kebijakan penataan menyesuaikan perkembangan yang terjadi di lapangan dan dukungan kebijakan serta peraturan perundangan yang ada.

Penataan sebagaimana di atas memadukan aspek statuta dan payung hukum. Statuta menuntaskan status hak milik, keterwakilan dalam delegasi, serta lingkup kewenangan untuk merepresentasikan kepentingan masyarakat.

Pokok-pokok kebijakan penataan organisasi kerja/kelembagaan masyarakat desa dan antardesa dalam kaitan PNPM Mandiri Perdesaan adalah sebagai berikut.

a. Kebijakan diarahkan kepada kebutuhan pengintegrasian perencanaan dan

pembangunan partisipatif, pelestarian, dan pengembangan hasil-hasil program yang mendapatkan kepastian kebijakan dari pemerintahan lokal;

b. Melakukan pembentukan kerja sama desa, yaitu suatu rangkaian kegiatan

bersama antardesa atau desa dengan pihak ketiga dalam bidang

pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang perlu

ditindaklanjuti dengan Penetapan Keputusan Bersama atau Perjanjian Bersama;

c. Legalisasi pembentukan BKAD, penetapan Anggaran Dasar dan Anggaran

Rumah Tangga (AD/ART);

d. Keberadaan Badan Pengawas dapat diperluas perannya dan berfungsi

melakukan evaluasi BKAD beserta Unit/ Tim Kerja di bawah BKAD;

e. Penetapan kedudukan UPK dan Unit/Tim Kerja dalam wadah BKAD;

f. Pola hubungan UPK dan Unit/Tim Kerja dalam bentuk kesepakatan kerja

sama antardesa melalui BKAD;

g. Pola hubungan BKAD dengan lembaga-lembaga lain di desa, antardesa,

dan pihak ketiga;

h. Penguatan Badan Pengawas UPK, UPK, dan Unit/Tim Kerja BKAD dalam

menjalankan peran, fungsi, dan keberlanjutannya;

i. Dalam menjalankan fungsinya Badan Pengawas UPK, UPK, dan Unit/Tim

kerja BKAD wajib mempunyai Standard Operating Procedure (SOP). Standar prosedur dibuat dan dikembangkan dengan mengacu kepada AD/ART BKAD yang telah ditetapkan oleh MAD;

j. UPK memiliki fungsi pokok dan fungsi pengembangan. Fungsi pokok UPK

(15)

Fungsi pengembangan UPK adalah berkewajiban dalam pembinaan kelompok dan penanganan pinjaman bermasalah;

k. Unit/Tim Kerja BKAD, baik bersifat tetap maupun bersifat sementara,

memiliki tugas dan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan BKAD dalam menjalankan tugasnya;

l. Kelompok usaha ekonomi dan SPP terbagi menjadi dua kelompok, yakni

kelompok usaha bersama dan kelompok simpan pinjam. Pembagian perlu ditindaklanjuti dengan penguatan kapasitas lembaga kelompok usaha ekonomi dan SPP, Penguatan kapasitas kelembagaan LPM Desa, serta dapat mengakomodinir Tim Pelaksana Kegiatan (TPK), KPMD, TKD, dan Kader-Kader Program masuk dalam salah satu Unit/Tim Kerja LPM Desa;

m. Penguatan Kapasitas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan adanya

kelembagaan ekonomi lokal sebagai salah satu alternatif dalam pelembagaan pelestarian program;

n. Penguatan kelembagaan kelompok masyarakat (Pokmas) dilaksanakan

dengan strategi pendampingan yang bersifat partisipatif, kolektif, dan representatif.

1.7.10. Pendampingan Masyarakat dan Pemerintahan Lokal

Masyarakat, kelompok masyarakat, dan pemerintahan lokal dalam

melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan mendapatkan pendampingan dari fasilitator. Peran pendampingan ditujukan bagi penguatan atau peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal. Pendampingan yang

dilaksanakan adalah pendampingan perencanaan, pelaksanaan, dan

pemantauan pembangunan desa serta kawasan perdesaan secara mandiri di wilayahnya.

Fasilitator yang akan mendampingi masyarakat dan pemerintahan lokal adalah sebagai berikut.

a. Di setiap kecamatan disediakan Tim Fasilitator Kecamatan; b. Di setiap kabupaten disediakan Tim Fasilitator Kabupaten.

1.7.11. Kerja Sama Antarprogram

Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan di pedesaaan didorong untuk mewujudkan kerja sama dan sinergi antarprogram pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan. Kerja sama ini bertujuan:

a. Mendorong Pemda dalam merumuskan kebijakan dalam kerja sama antarprogram,

b. Memperkuat kapasitas kelembagaan program PNPM MPd dengan program lainnya di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa dalam pengendalian sistem perencanaan dan pembangunan partisipatif,

c. Mengembangkan jejaring antarpelaku program dalam fasilitasi pengelolaan program pemberdayaan agar fungsi dan peran kelembagaan di desa, kecamatan, dan kabupaten menjadi optimal,

d. Secara teknis, kerja sama antarprogram menjadi bagian dari strategi berbagi urusan, berbagi wilayah dampingan, mengembangkan jejaring, team work para pendamping, fasilitasi kebijakan lokal terkait dengan kerja sama antarprogram.

(16)

BAB II

PERAN PELAKU-PELAKU

Masyarakat adalah pelaku utama PNPM Mandiri Perdesaan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. Sedangkan pelaku-pelaku lainnya di desa, kecamatan, kabupaten, dan seterusnya berfungsi sebagai pelaksana, fasilitator atau pendamping profesional, pembimbing, dan pembina agar tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur, dan mekanisme PNPM Mandiri Perdesaan tercapai serta dilaksanakan secara benar dan konsisten.

2.1. Pelaku di Desa

Pelaku di desa adalah pelaku-pelaku yang berkedudukan dan berperan dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di wilayah desa. Pelaku di desa meliputi:

2.1.1. Kepala Desa (Kades)

Kepala Desa berperan sebagai pembina dan pengendali kelancaran serta keberhasilan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di desa. Kepala Desa bersama BPD menyusun peraturan desa yang relevan dan mendukung terjadinya proses pelembagaan prinsip dan prosedur PNPM Mandiri Perdesaan sebagai pola perencanaan dan pembangunan partisipatif, pengembangan, serta pelestarian aset PNPM Mandiri Perdesaan yang telah ada di desa. Kepala desa juga berperan untuk mewakili desanya dalam pembentukan Kerja sama Antar Desa yang ditetapkan dengan Keputusan Bersama dalam Badan Kerja sama Antar Desa (BKAD) atau istilah sejenis.

2.1.2. Badan Permusyawarahan Desa (BPD atau sebutan lainnya)

BPD, atau sebutan lainnya dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, berperan sebagai lembaga yang mengawasi proses dari setiap tahapan PNPM Mandiri Perdesaan, termasuk sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian di desa. Selain itu, BPD juga berperan dalam melegalisasi atau mengesahkan peraturan desa yang berkaitan dengan pelembagaan dan pelestarian PNPM Mandiri Perdesaan di desa. BPD juga bertugas mewakili masyarakat bersama Kepala Desa dalam pembentukan Kerja sama Antar Desa yang ditetapkan dengan Keputusan Bersama dalam Badan Kerja sama Antar Desa (BKAD) atau istilah sejenis.

2.1.3. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (LPMD/K)

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah lembaga atau wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai mitra Pemerintah Desa beserta Lurah dalam menampung dan mewujudkan aspirasi serta kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. LPMD/K berperan menyusun rencana

pembangunan secara partisipatif, melaksanakan, mengendalikan,

memanfaatkan, memelihara, dan mengembangkan pembangunan secara partisipatif.

2.1.4. Tim Pengelola Kegiatan (TPK)

TPK terdiri dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa sosialisasi. TPK mempunyai fungsi dan peran untuk mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan di desa dan mengelola administrasi serta keuangan PNPM Mandiri Perdesaan. TPK sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Bendahara, dan Sekretaris. Keanggotaan TPK akan dilengkapi pada saat Musyawarah Desa Informasi hasil MAD dan dilengkapi dengan Ketua Bidang yang menangani suatu jenis kegiatan yang akan dilaksanakan.

(17)

Untuk pengelolaan kegiatan yang diusulkan oleh beberapa desa perlu dibentuk TPK antardesa yang berkedudukan di salah satu desa dan dipilih oleh wakil-wakil desa. Tugas, peran, dan fungsi TPK antardesa, serupa/sama dengan TPK di tingkat desa.

2.1.5. Tim Penulis Usulan (TPU)

TPU berasal dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa.

Tim Penulis Usulan berperan menyiapkan dan menyusun semua

gagasan/usulan kegiatan yang telah ditetapkan dalam musyawarah desa dan musyawarah khusus perempuan. TPU bersama Tim 11 juga menyiapkansemua dokumen perencanaan yang diperlukan untuk musrenbang reguler, termasuk RPJMDes dan RKPDes.

Anggota TPU dipilih oleh masyarakat berdasarkan keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan jenis kegiatan yang diajukan masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, TPU bekerja sama dengan kader-kader desa yang ada. Setelah MAD II, TPU bersama kader teknis menyiapkan desain teknis secara detail, termasuk perhitungan rencana anggaran belanja (RAB).

2.1.6. Tim 11

Tim 11 adalah tim yang dibentuk untuk membantu masyarakat dan pemerintah desa dalam penyusunan rancangan dokumen RPJMDes dan RKPDes. Jumlah anggota Tim Penyusun sekurang-kurangnya 11 (sebelas) orang, yang terdiri dari: a) Kepala Desa; b) Sekretaris Desa, c) Sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Pengurus LPMD, dan apabila belum terbentuk LPMD maka digantikan oleh wakil dari pengurus Ormas dan/atau LSM yang ada di desa yang bersangkutan; d) Sekurang-kurangnya 2 (dua) orang KPMD, yang salah satunya adalah perempuan; e) Sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Kepala dusun; dan f) Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang wakil masyarakat yang satu di antaranya adalah perempuan dan Kader Teknik Desa.

2.1.7. Tim Pemantau

Tim Pemantau menjalankan fungsi pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan yang ada di desa. Tim Pemantau berasal dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa. Jumlah anggota Tim Pemantau sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan saat musyawarah dan wajib melibatkan perempuan di dalamnya. Hasil pemantauan kegiatan disampaikan saat musyawarah desa, antardesa, atau musyawarah sejenis. Tim Pemantau dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan diharapkan dapat bekerja sama dengan BPD.

Tim Pemantau bekerja/menjalankan fungsi pemantauan kegiatan yang sedang dilaksanakan. Tim Pemantau juga dibentuk dalam rangka untuk melakukan pemantuan proses pelaksanaan pembangunan secara menyeluruh di tingkat desa. Pemantauan difokuskan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan, baik yang berupa sarana dan prasarana, peningkatan kualitas hidup, maupun pengelolaan dana bergulir. Khusus untuk pemantau pengelolaan dana bergulir, Tim Pemantau dipilih berdasarkan keterwakilan dari kelompok-kelompok Simpan Pinjam dan Usaha Ekonomi produktif.

2.1.8. Tim Pengelola dan Pemelihara Prasarana Desa (TP3D)

Tim Pengelola dan Pemelihara Prasarana Desa berperan menjalankan fungsi pemeliharaan terhadap hasil-hasil kegiatan yang ada di desa, termasuk perencanaan, kegiatan, dan pelaporan. Keanggotaannya berasal dari anggota masyarakat yang dipilih melalui musyawarah desa perencanaan. Jumlah anggota tim pengelola dan pemelihara prasarana perdesaan sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan saat musyawarah. Hasil laporan pemeliharaan

(18)

disampaikan saat musyawarah desa dan antardesa. Tim Pemeliharaan dalam menjalankan fungsinya didukung dengan dana yang telah dikumpulkan atau yang berasal dari swadaya masyarakat setempat.

2.1.9. Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (KPMD/K)

KPMD/K adalah warga desa terpilih yang memfasilitasi atau memandu masyarakat dalam mengikuti atau melaksanakan tahapan perencanaan pembangunan partisipatif dan secara khusus PNPM Mandiri Perdesaan di desa serta kelompok masyarakat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan.

Peran dan tugas KPMD/K adalah membantu pengelolaan pembangunan di desa dan diharapkan tidak terikat oleh waktu. Jumlah KPMD/K disesuaikan dengan kebutuhan desa dengan mempertimbangkan keterlibatan atau peran serta kaum perempuan. KPMD/K diharapkan dari unsur yang mempunyai kemampuan pemberdayaan, teknik, dan kualifikasi pendampingan kelompok ekonomi. I KPMD/K terdiri dari 5 (lima) orang, sekurang-kurangnya 2 orang dari unsur perempuan.

Kader dengan kualifikasi kemampuan teknik atau Kader Teknik Desa (KTD) bertugas untuk memfasilitasi dan membantu TPU membuat penulisan usulan dan membantu pelaksanaan kegiatan prasarana infrastruktur yang diusulkan masyarakat. Kualifikasi keterlibatan kader perempuan adalah perwujudan kebijakan untuk lebih berpihak, memberi peran, dan akses dalam kegiatan pembangunan bagi perempuan, terutama dalam meningkatkan mutu fasilitasi musyawarah khusus perempuan.

Kualifikasi kemampuan kader pemberdayaan masyarakat terutama untuk memfasilitasi dan membantu Fasilitator Kecamatan dalam perencanaan partisipatif, tahapan kegiatan, dan pendampingan kelompok masyarakat. Kader dengan kualifikasi pengembangan ekonomi berguna untuk memfasilitasi dan membantu masyarakat atau kelompok dalam pengembangan ekonomi masyarakat dan BUMDes.

2.1.10. Panitia Pengadaan

Panitia pengadaan adalah tim yang merencanakan, melaksanakan,

bertanggung jawab, dan akuntabel terhadap kegiatan pengadaan. Panitia ini dibentuk melalui Musyawarah Desa 2 yang terdiri dari minimal 3 orang, yaitu 2 orang wakil masyarakat dan 1 orang wakil TPK, dan harus terdapat minimal 1 orang wakil perempuan.

2.1.11. Kelompok Masyarakat

Kelompok masyarakat adalah kelompok yang terlibat dan mendukung kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan, baik kelompok sosial, kelompok ekonomi, maupun kelompok perempuan. Kategori atau unsur kelompok masyarakat, misalnya kelompok arisan, pengajian, kelompok ibu-ibu PKK, kelompok SPP, kelompok usaha ekonomi, kelompok pengelola air, kelompok pengelola pasar desa, dan sebagainya.

2.1.12. Kelompok Kerja (Pokja)

Khusus bagi desa yang mendapatkan alokasi dana tahun jamak (multiyears) dibentuk Kelompok Kerja (Pokja). Kepengurusan Pokja terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara atau sesuai kebutuhan, dan dipilih dari anggota masyarakat yang memiliki kompetensi serta pengalaman sesuai jenis kegiatan tahun jamak yang didanai. Misalnya, untuk Pokja kegiatan pendidikan dapat diambil dari Komite Sekolah dan sebagainya.

(19)

2.2. Pelaku di Kecamatan 2.2.1. Camat

Camat atas nama Bupati berperan sebagai pembina pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan kepada desa-desa di wilayah kecamatan. Selain itu, camat juga bertugas untuk membuat Surat Penetapan Camat (SPC) tentang usulan-usulan kegiatan yang telah disepakati musyawarah antardesa untuk didanai melalui PNPM Mandiri Perdesaan.

2.2.2. Penanggung jawab Operasional Kegiatan (PjOK)

PjOK adalah seorang Kasi pemberdayaan masyarakat atau pejabat lain yang mempunyai tugas pokok sejenis di kecamatan yang ditetapkan berdasar Surat Keputusan Bupati dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan serta keberhasilan seluruh kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan.

2.2.3. Tim Verifikasi (TV)

Tim Verifikasi adalah tim yang dibentuk dari anggota masyarakat yang memiliki pengalaman dan keahlian khusus di bidang teknik prasarana, simpan pinjam, pendidikan, kesehatan, atau pelatihan keterampilan masyarakat sesuai usulan kegiatan yang diajukan masyarakat dalam musyawarah desa perencanaan. Peran TV adalah melakukan pemeriksaan serta penilaian usulan kegiatan semua desa peserta PNPM Mandiri Perdesaan dan selanjutnya membuat rekomendasi kepada musyawarah antardesa sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan. TV menjalankan tugas ini berdasarkan penugasan yang diperoleh dari MAD/BKAD.

2.2.4. Unit Pengelola Kegiatan (UPK)

Peran UPK adalah sebagai unit pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan antardesa. Pengurus UPK sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara serta ditambahkan minimal 1 orang yang mengelola kegiatan dana bergulir pada Kecamatan PNPM MPd yang memiliki total kas, bank, dan pinjaman kegiatan dana bergulir minimal 2 miliar rupiah.

Berkaitan dengan kelancaran pelaksanan program, kepengurusan UPK harus bebas dari keterikatan dengan partai politik, atau pengurusnya tidak menjadi pengurus partai politik, tim sukses pemilihan kepala daerah, atau pemilihan legistatif.

2.2.5. Badan Pengawas UPK

Badan Pengawas UPK hanya dipergunakan untuk kepentingan program PNPM dan mempunyai tugas utama mengawasi pengelolaan kegiatan, administrasi, dan keuangan yang dilakukan oleh UPK. Badan Pengawas UPK dibentuk melalui musyawarah antardesa, sekurang-kurangnya tiga orang, terdiri dari ketua dan anggota. Badan Pengawas UPK menjalankan tugas ini berdasarkan penugasan yang diperoleh dari Keputusan Bersama Kerja sama Antar Desa diputuskan dalam MAD/BKAD. Namun demikian, keberadaan dapat diperluas perannya dalam mengawasi BKAD termasuk Unit/Tim Kerja di bawah BKAD.

2.2.6. Pendamping Lokal (PL) Pemberdayaan

Pendamping Lokal Pemberdayaan adalah tenaga pendamping dari masyarakat yang membantu Fasilitator Kecamatan untuk memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan perencanaan pembangunan partisipatif, tahapan, dan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. Di setiap kecamatan akan ditempatkan minimal satu orang pendamping lokal.

(20)

2.2.7. Pendamping Lokal (PL) UPK

Pendamping Lokal (PL) Kegiatan Dana Bergulir adalah tenaga pendamping dari masyarakat yang membantu fasilitator untuk memfasilitasi kelompok dan masyarakat dalam pelaksanaan, pelestarian, dan pengembangan kegiatan dana bergulir.

2.2.8. Tim Pengamat

Tim pengamat adalah anggota masyarakat yang dipilih untuk memantau dan mengamati jalannya proses musyawarah antardesa. Tim Pengamat juga memberikan masukan dan saran agar MAD dapat berlangsung secara transparan, akuntabel, dan partisipatif.

2.2.9. Tenaga Pelatih Masyarakat (TPM)

Tenaga Pelatih Masyarakat (TPM) adalah sekelompok warga masyarakat setempat yang memiliki kemampuan/kompetensi khusus di bidang tertentu terkait pembangunan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat. TPM berperan memfasilitasi kegiatan pelatihan masyarakat. TPM adalah seorang pelatih dari unsur masyarakat yang secara sukarela memfasilitasi masyarakat. TPM merupakan pelatih dari unsur masyarakat, agar di antara masyarakat saling belajar, mempunyai kemampuan dalam merumuskan strategi penyelesaian masalah, dan peningkatkan kualitas dari mereka sendiri. Fungsi TPM, yaitu: a) fasilitasi penguatan kapasitas dan pelatihan masyarakat; dan b) peningkatan kapasitas perlindungan dan pelestarian untuk penataan kelembagaan.

Keanggotaan TPM berdasarkan kemampuan dan/atau keahlian di bidang teknis tertentu atau keahlian khusus yang terkait dengan kegiatan pembangunan dan pelatihan partisipatif. Keanggotaan TPM menjadi bagian dari unsur Tim Ruang Belajar Masyarakat dan memperkuat serta mengembangkan kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kapasitas pelaku di kecamatan dan desa.

2.2.10. Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD)

Kelembagaan BKAD merupakan hasil keputusan bersama dari kerja sama desa. Kerja sama desa merupakan rangkaian kegiatan bersama antardesa atau desa dengan pihak ketiga dalam bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Sementara itu, kerja sama desa dengan pihak ketiga ditetapkan dengan perjanjian bersama.

Pembentukan BKAD PNPM MPd pada awalnya dibentuk untuk melindungi dan melestarikan hasil-hasil program dalam bentuk kelembagaan, seperti UPK dan Unit/Tim Kerja lainnya. Melestarikan hasil-hasil kegiatan dalam bentuk sarana dan prasarana, hasil kegiatan bidang pendidikan, hasil kegiatan bidang kesehatan, peningkatan kualitas hidup, dan perguliran dana.

BKAD berkembang sebagai lembaga pengelola perencanaan pembangunan partisipatif, pengelola kegiatan masyarakat, pengelola aset produktif dan sumber daya alam, serta program/proyek dari pihak ketiga yang bersifat antardesa/kawasan perdesaan. Keberadaan BKAD dalam keberlanjutan, perlu dukungan kemandirian legalitas maka diperlukan adanya kepastian kebijakan yang disesuaikan dengan kebijakan yang ada. Kebijakan tersebut, antara lain Undang-Undang Desa, Peraturan Pemerintah, Permendagri, dan Perda Kabupaten. Kepastian kebijakan BKAD inilah yang menjadi agenda strategis dalam perlindungan pelestarian dan kemandirian kelembagaan.

Kepastian kebijakan ini juga untuk mengatur hubungan dengan Unit/Tim Kerja (BP, UPK, TV, TPK, dan Unit/Tim Kerja lainnya). Perlu ada upaya yang strategis terkait dengan keberadaan BKAD, tentang status legalitas

(21)

kelembagaan, kepemilikan aset, operasional dana bergulir, keterwakilan, dan kewenangan. Dengan begitu, legalitas BKAD menjadi jalan keluar dari masalah statuta dan payung hukum.

Berkaitan dengan keberadaan UPK maka fungsi BKAD menjalankan mandat hasil keputusan bersama antardesa untuk merumuskan, membahas, dan menetapkan rencana strategis pengembangan UPK. Pengembangan UPK bergerak dalam bidang pengelolaan dana bergulir, pelaksanaan program, dan pelayanan usaha kelompok. BKAD bersama BP UPK juga berperan dalam pengendalian, pengawasan, pemeriksaan, serta evaluasi kinerja UPK.

BKAD, dalam melaksanakan program melalui Unit/Tim Kerja, melakukan fasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pengoordinasian kegiatan pemeliharaan antardesa/kawasan perdesaan. BKAD juga berperan melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan pelaksanaan program/kegiatan, perkembangan penanganan masalah, serta pengawasan antardesa.

2.2.11. Aparat Pemerintah/Setrawan Kecamatan

Aparat Pemerintah/Setrawan Kecamatan adalah pegawai negeri sipil yang dibekali kemampuan khusus untuk menggerakkan perubahan sikap mental di lingkungan pemerintah dan perubahan tata kepemerintahan yang berpihak pada kepentingan masyarakat, serta mendampingi masyarakat khususnya dalam manajemen pembangunan partisipatif.

Aparat Pemerintah/Setrawan, dalam hal tertentu, dapat ditugaskan di kecamatan sebagai setrawan kecamatan. Aparat Pemerintah/Setrawan dalam kaitan dengan PNPM MPd dapat dibuat kebijakan untuk melibatkan diri dalam proses kegiatan pada perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan.

2.3. Pelaku di Kabupaten 2.3.1. Bupati

Bupati merupakan pembina Tim Koordinasi PNPM Mandiri Kabupaten, Penanggung jawab Operasional Kegiatan (PjOK), dan bertanggung jawab atas pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di kabupaten. Bupati bersama dengan DPRD, bertanggung jawab untuk melakukan kaji ulang dan perubahan peraturan daerah yang berkaitan dengan kebijakan pendukung perencanaan dan pembangunan partisipatif, penyerahan kewenangan, swakelola oleh masyarakat, serta kebijakan tata kelola desa yang sesuai dengan komitmen awal.

2.3.2. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD)

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten (TKPKD) dibentuk untuk melakukan koordinasi sektoral dan lintas para pemangku penanggulangan kemiskinan di tingkat kabupaten. Tim ini dibentuk dan mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada Bupati. Kebijakan atau peraturan perundang-undangan mengatur peran TKPKD sebagai wadah koordinasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan.

Penyelenggaraan koordinasi dilakukan melalui sinkronisasi, harmonisasi, dan integrasi penanggulangan kemiskinan. Penguatan dan peningkatan peran TKPKD Kabupaten/Kota menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam koordinasi dan pemantauan program pemberdayaan masyarakat. TKPKD diharapkan mengonsolidasikan dan mengintegrasikan perencanaan serta pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

(22)

2.3.3. Tim Koordinasi PNPM-Mandiri Kabupaten (TK PNPM Kab)

Tim Koordinasi PNPM Mandiri Kabupaten dibentuk oleh Bupati untuk melakukan pembinaan pengembangan peran serta masyarakat, pembinaan administrasi, dan memfasilitasi pemberdayaan masyarakat di seluruh tahapan program PNPM Mandiri Perdesaan. TK-PNPM Mandiri Kab juga berfungsi untuk memberikan dukungan koordinasi teknis program antarinstansi, pelayanan, dan proses administrasi di tingkat kabupaten. TK PNPM Mandiri Kab dalam melaksanakan fungsi dan perannya dibantu oleh Sekretariat PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten.

2.3.4. Penanggung jawab Operasional Kabupaten (PjOKab)

PjOKab adalah seorang pejabat di lingkungan Badan Pemberdayaan Masyarakat atau pejabat lain yang mempunyai tugas pokok sejenis di kabupaten yang berperan sebagai pelaksana harian TK PNPM Mandiri kabupaten. PjOKab ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati.

2.3.5. Aparat Pemerintah/Setrawan Kabupaten

Setrawan Kabupaten adalah pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah kabupaten yang dibekali kemampuan khusus untuk dapat melaksanakan tugas akselerasi perubahan sikap mental di kalangan lingkungan pemerintah dan perubahan tata kepemerintahan, mengoordinasi, dan memfasilitasi setrawan kecamatan, serta mendampingi masyarakat, khususnya dalam manajemen pembangunan partisipatif.

2.3.6. Kelompok Kerja Ruang Belajar Masyarakat (Pokja RBM)

Pokja RBM adalah kelompok kerja yang menjalankan peran dan fungsi Ruang Belajar Masyarakat di tingkat kabupaten. Pokja RBM akan diperkuat dengan Tempat Belajar Masyarakat (TBM) dan Tenaga Pelatih Masyarakat (TPM). Pokja RBM dibentuk berdasarkan kebutuhan PNPM Mandiri Perdesaan, kebutuhan perencanaan pembangunan partisipatif, dan mengonsoilidasi para pemangku kepentingan yang mempunyai kepedulian pembangunan swakelola oleh masyarakat. Kabupaten diharapkan menyesuikan kebutuhan program, perencanaan, dan pembangunan daerah yang dilakukan secara partisipatif.

2.4. Pelaku di Provinsi dan Nasional

2.4.1. Pelaku di Provinsi dan Nasional

Selain pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di desa, kecamatan, dan kabupaten, terdapat juga pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya di tingkat provinsi dan nasional. Pelaku tersebut, antara lain:

a. Gubernur sebagai pembina dan penanggung jawab pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di tingkat Provinsi,

b. TK PNPM Mandiri Provinsi adalah tim yang dibentuk oleh Gubernur yang berperan dalam melakukan pembinaan administrasi dan peran serta masyarakat, serta memberikan dukungan pelayanan dan proses administrasi di tingkat Provinsi,

c. Penanggung jawab Operasional Provinsi (PjOProv) adalah seorang pejabat di lingkungan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa atau pejabat lain yang mempunyai tugas pokok sejenis di provinsi yang berperan sebagai pelaksana harian TK PNPM Mandiri Provinsi. PjOProv ditetapkan dalam Surat Keputusan Gubernur,

d. Tim Pengendali PNPM Mandiri yang berperan dalam melakukan pembinaan kepada Tim Koordinasi PNPM Mandiri di Provinsi dan Kabupaten yang

(23)

meliputi pembinaan teknis serta administrasi. Dalam menjalankan tugasnya, Tim Pengendali PNPM Mandiri Perdesaan didukung oleh Satuan Kerja PNPM Mandiri Perdesaan.

2.4.2. Tenaga Profesional

Tenaga profesional adalah fasilitator pendamping pemberdayaan masyarakat. Fasilitator tersebut adalah tenaga profesional yang memiliki kompetensi perencanaan dan penganggaran pembangunan desa serta daerah dan bertugas memfasilitasi proses kemandirian serta kedaulatan masyarakat dalam pembangunan. Proses fasilitasi tersebut melibatkan stakeholder (pemangku kepentingan) melalui kegiatan penyadaran, pembelajaran, penguatan kapasitas, dan kelembagaan masyarakat. Kedaulatan masyarakat berarti bahwa pengelolaan program pembangunan dilakukan oleh, dari, dan untuk masyarakat melalui proses partisipasi dan demokrasi.

Peran fasilitator pendamping pemberdayaan masyarakat adalah membantu proses pemastian masyarakat dalam mencapai tujuan, terkait dengan one village, one plan, one budgeting. Fasilitator pendamping pemberdayaan masyarakat bertugas memfasilitasi terjadinya koordinasi dan konsolidasi antarprogram di wilayah kerjanya.

Fasilitator pendamping secara teknis memastikan kelancaran pelaksanaan program dan memberikan pendampingan kepada masyarakat serta aparat dan pemerintah lokal. Adapun tenaga professional sebagai berikut.

a. Tenaga Profesional Tingkat Kecamatan

Di setiap kecamatan lokasi program ditempatkan tenaga profesional untuk

mendampingi masyarakat dan aparat pemerintahan lokal dalam

melaksanakan program agar terlaksana sesuai azas, kebijakan dasar, tujuan, prinsip, dan mekanisme. Tenaga profesional yang ditempatkan meliputi:

1) Fasilitator Kecamatan

Fasilitator Kecamatan adalah pendamping masyarakat dalam mengikuti atau melaksanakan pemberdayaan masyarakat desa. Peran Fasilitator Kecamatan adalah memfasilitasi masyarakat dalam setiap tahapan PNPM Mandiri Perdesaan pada tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. Selain itu juga berperan dalam membimbing kader-kader desa atau pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di desa dan kecamatan.

2) Fasilitator Teknik Kecamatan

FKT merupakan pendamping masyarakat yang mempunyai keahlian teknik dan berperan memfasilitasi masyarakat dalam setiap proses tahapan, mulai dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian serta membimbing KPMD atau pelaku-pelaku lainnya di desa dan kecamatan, khususnya dalam bidang teknis.

b. Tenaga Profesional Tingkat Kabupaten

Tenaga profesional tingkat kabupaten adalah Tim Fasilitator Kabupaten yang berkedudukan di tingkat kabupaten dan berada di setiap kabupaten lokasi program. Tim Fasilitator bertugas mendampingi masyarakat dan aparat pemerintahan lokal dalam melaksanakan program agar terlaksana sesuai azas, kebijakan dasar, tujuan, prinsip, dan mekanisme. Peran Fasilitator Kabupaten adalah sebagai supervisor atas pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

(24)

Fasilitator Kabupaten terdiri dari Fasilitator Kabupaten Pemberdayaan, Fasilitator Kabupaten Teknik, Fasilitator Kabupaten Keuangan, Fasilitator Kabupaten Perguliran, dan Fasilitator Kabupaten Pengembangan Usaha. Adapun uraian tugas dan tupoksi (tugas, pokok, fungsi) Tim Fasilitator kabupaten, yaitu:

1) Fasilitator Kabupaten Pemberdayaan (Faskab Pemberdayaan)

Fasilitator Kabupaten (Faskab Pemberdayaan) mempunyai fungsi untuk memastikan seluruh proses tahapan kegiatan, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian berjalan dengan baik serta memberikan bimbingan atau dukungan teknis dan manajemen kepada pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan dan desa. Faskab juga berperan sebagai fasilitator bagi pemerintahan daerah dalam melakukan kajian terhadap peraturan-peraturan daerah yang relevan dengan PNPM Mandiri Perdesaan. Faskab Pemberdayaan dalam menjalankan perannya harus melakukan koordinasi dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten yang ada di wilayah kerjanya.

2) Fasilitator Kabupaten Teknik (Faskab Teknik)

Fasilitator Kabupaten Teknik berfungsi sebagai supervisor atas hasil kualitas teknik kegiatan prasarana infrastruktur perdesaan, mulai dari perencanaan desain dan RAB, survei dan pengukuran, pelaksanaan serta operasional, dan pemeliharaan. Faskab Teknik juga berperan sebagai fasilitator bagi pemerintahan daerah dalam melakukan perencanaan yang berbasis antardesa/kawasan perdesaan yang diselaraskan dengan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK/K) dan kebijakan yang ada. Faskab Teknik dalam menjalankan perannya harus melakukan koordinasi dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten yang ada di wilayah kerjanya.

3) Fasilitator Kabupaten Keuangan (Faskab Keuangan)

Fasilitator Kabupaten Keuangan (Faskab Keuangan) mempunyai cakupan tugas secara khusus untuk bidang keuangan yang berkaitan secara langsung dengan implementasi pengelolaan dana program (termasuk melakukan audit internal) serta memberikan bimbingan atau dukungan teknis dan manajemen kepada pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di kecamatan dan desa. Faskab Keuangan dalam menjalankan perannya harus melakukan koordinasi dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten yang ada di wilayah kerjanya.

4) Fasilitator Kabupaten Perguliran dan Pengembangan Usaha (Faskab PPU)

Fasilitator Kabupaten Perguliran dan Pengembangan Usaha (PPU) mempunyai tugas untuk memperkuat pendampingan dan meningkatkan kinerja pengelolaan dana bergulir di setiap kabupaten dengan minimal 4 kecamatan sebagai lokasi PNPM MPd. Faskab Perguliran dalam menjalankan perannya harus melakukan koordinasi dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten yang ada di wilayah kerjanya.

5) Asisten Fasilitator Kabupaten

Asisten Fasilitator Kabupaten mempunyai tugas membantu Tim Fasilitator di Kabupaten. Asisten Fasilitator Kabupaten terdiri dari: a)

(25)

Asisten Fasilitator Kabupaten dan b) Asisten Fasilitator Teknik Kabupaten. Ketentuan kebutuhan Fasilitator Kabupaten didasarkan pada lokasi kabupaten dengan jumlah kecamatan tertentu.

6) Asisten Manajemen Informasi Sistem (Asisten MIS)

Asisten Manajemen Informasi Sistem bertugas membantu Tim Fasilitator Kabupaten untuk meningkatkan kualitas pengelolaan data menggunakan Sistem Aplikasi database PNPM Mandiri Perdesaan.

c. Tenaga Profesional di Provinsi

Tenaga profesional di provinsi adalah Tim Konsultan Manajemen Provinsi yang terdiri dari beberapa spesialis yang dipimpin oleh seorang Konsultan Manajemen Provinsi di setiap Provinsi lokasi program. Tim Konsultan Manajemen Provinsi dalam menjalankan tugasnya harus melakukan koordinasi dengan Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi di wilayah kerjanya.

d. Tenaga Profesional di Wilayah

Tenaga Profesional di Wilayah adalah beberapa tenaga ahli yang tergabung dalam Konsultan Manajemen Wilayah yang disediakan oleh program. Konsultan Manajemen Wilayah, berkedudukan di Jakarta yang membawahi beberapa Provinsi dipimpin oleh Koordinator Wilayah.

e. Tenaga Profesional Tingkat Nasional

Tenaga Profesional Tingkat Nasional adalah beberapa tenaga ahli yang dipimpin oleh seorang Ketua Tim Konsultan Manajemen Nasional (KT-KM Nas) yang disediakan di tingkat nasional.

(26)

BAB III ALUR KEGIATAN

Perencanaan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan telah terintegrasi dengan perencanaan daerah. Oleh karena itu, pelaksanaan tahapan kegiatannya perlu disinkronkan dengan agenda perencanaan pembangunan daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004, Permendagri 66 Tahun 2007, dan beberapa dukungan kebijakan dalam pelaksanaan operasionalnya. Alur kegiatan merupakan bagian dari strategi untuk menata sistematika pelaksanaan teknis kegiatan program dengan penyelarasan perencanaan pembangunan daerah. Alur kegiatan ini dapat berfungsi secara maksimal apabila alur tersebut menjadi bagian dari kebijakan lokal kabupaten. Dengan begitu, Tim Fasilitator Kabupaten perlu memndorong agar alur kegiatan tersebut menjadi bagaian dari kebijakan perencanaan pembangunan daerah.

Alur kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan, dan pelestarian kegiatan. Alur tahapan perencanaan PNPM Mandiri Perdesaan pada prinsipnya tidak berubah dengan PTO sebelumnya, tetapi pelaksanaan

tahapannya terintegrasi dengan mekanisme Sistem Pembangunan Partisipatif Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPP-SPPN) yang berpedoman pada skema perencanaan (N + 1).

3.1. Perencanaan Kegiatan

Proses pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan dalam Tahun Anggaran berjalan akan melakukan fasilitasi kegiatan secara paralel, yaitu:

3.1.1 Fasilitasi kegiatan penyelarasan/pengintegrasian perencanaan pembangunan

daerah dalam skenario SPP-SPPN yang dimulai dari: a) proses preparasi/persiapan dengan melakukan pengkajian ulang RPJMDes dan penyusunan rancangan RKPDes (N+1) sebagai dasar perencanaan dan b) penyelarasan Musrenbang tingkat (desa, kecamatan dan kabupaten).

3.1.2. Tahapan dan agenda dalam basis desa, yaitu: a) Skenario Tahapan atau

Siklus Perencanaan (N) untuk Kepentingan Program PNPM MPd/Program Ad hoc dan Integrasi perencanaan (N+1); b) Fasilitasi penguatan Kapasitas Tim 11 dalam rumusan Rancangan Perencanaan Pembangunan Desa (PPD); c) Fasilitasi penyusunan RPJMDes dan RKPDes; d) Pengkajian Keadaan Desa; e) Fasilitasi Perumusan Village Visioning/Visi Desa; f) Fasilitasi penyusunan Rancangan RPJMDes dan RKPDes; dan f) Fasilitasi pembahasan Rancangan RPJMDes dan RKPDes.

3.1.3. Tahapan dan agenda dalam basis kecamatan meliputi: a) Skenario Tahapan

atau siklus perencanaan (N) untuk kepentingan PNPM Mandiri Perdesaan/program ad hoc dan Integrasi perencanaan (N+1) untuk seluruh desa dalam satu kecamatan; b) Fasilitasi Kegiatan Antar Desa/Kawasan Perdesaan; c) Fasilitasi Rancangan Renstra Kewilayahan.

3.1.4. Tim Faskab dan Tim FK, sesuai kewenangannya perlu memfasilitasi dan

memastikan bahwa dokumen RPJMDes-RKPDes yang telah dimiliki Desa, perlu di-pengkajian ulang dan wajib dilakukan evaluasi/penilaian kelayakan terhadap dokumen tersebut dengan menggunakan Instrumen Evaluasi yang telah ditetapkan oleh Petunjuk Teknis Perencanaan Pembangunan Desa (PPD) dan menggunakan Formulir Rekapitulasi yang terlampir, dengan skor minimal rata-rata 60 = Layak, dan di bawah 60 = Tidak Layak.

Referensi

Dokumen terkait