Universitas Mercu Buana 7 Analisa Vibrasi
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Teori Dasar
Pompa adalah mesin atau peralatan mekanis yang digunakan untuk menaikkan cairan dari dataran rendah ke dataran tinggi atau untuk mengalirkan cairan dari daerah bertekanan rendah kedaerah yang bertekanan tinggi dan juga sebagai penguat laju aliran pada suatu sistem jaringan perpipaan. Hal ini dicapai dengan membuat suatu tekanan yang rendah pada sisi masuk atau suction dan tekanan yang tinggi pada sisi keluar atau discharge dari pompa.
Pada prinsipnya, pompa mengubah energi mekanik motor menjadi energi aliran fluida. Energi yang diterima oleh fluida akan digunakan untuk menaikkan tekanan dan mengatasi tahanan – tahanan yang terdapat pada saluran yang dilalui.
Pompa juga dapat digunakan pada proses - proses yang membutuhkan tekanan
hidraulik yang besar. Hal ini bisa dijumpai antara lain pada peralatan - peralatan
berat. Dalam operasi, mesin - mesin peralatan berat membutuhkan tekanan
discharge yang besar dan tekanan isap yang rendah. Akibat tekanan yang rendah
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi akibat tekanan yang tinggi pada sisi discharge akan memaksa fluida untuk naik sampai pada ketinggian yang diinginkan.
Dalam dunia industri biasanya pompa sentrifugal dapat beroperasi dengan maksimal dan tahan dioperasikan dalam waktu yang cukup lama, hal ini tidak terlepas dari jenis pompa apa yang kita pergunakan, pemasangan serta pengoperasian yang tepat sehingga akan bekerja sesuai dengan kegunaannya. Untuk menentukan apakah suatu peralatan bekerja sesuai dengan kondisi terbaiknya diperlukan indikator-indikator yang dapat bekerja dengan cepat dan efisien.
Vibrasi adalah salah satu indikator yang baik untuk menentukan apakah suatu peralatan beroperasi dalam keadaan baik. Semakin kecil nilai suatu vibrasi maka akan menjadi semakin baiklah peralatan itu, dan sebaliknya apabila suatu peralatan yang beroperasi mempunyai getaran yang besar atau tinggi, maka kondisi peralatan tersebut perlu diadakan pemeriksaan kembali. Oleh karena itu suatu peralatan yang beroperasi sebaiknya memiliki suatu nilai getaran standart dan batasan getaran yang diperbolehkan sesuai dengan standar dari pabrik pembuatnya, sehingga apabila nilai getaran yang terjadi diluar batasan yang diizinkan maka peralatan tersebut harus menjalani tindakan perawatan(maintenance).
2.2. Pengertian Vibrasi
Vibrasi adalah gearakan bolak balik dalam suatu interval waktu tertentu yang disebabkan oleh gaya, beberapa diantara gaya tersebut adalah
Torsi penggerak
Gaya reaksi karena adanya beban
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Dalam terminology dasarnya Vibrasi adalah sebuah gerakan yang kontiyu, random atau periodic dari sebuah objek. Atau sebuah impak dalam suatu durasi waktu tertentu yang singkat. Pemahaman dasar Vibrasi bisa kita proleh dari ilustrasi sederhana mengenai gerakan pegas seperti dibawah ini :
Gambar 2.1 Model Vibrasi Sederhana
Sumber: Pusat Pengembangan Bahan Ajar- UMB Dr.Ir.Abdul Hamid. M,Eng-Getaran Mekanis
Bola (massa) yang terikat ke pegas berada pada titik keseimbangannya di A, dikarenakan gaya luar maka bola akan bergerak ke B kembali ke titik keseimbangan di C dilanjutkan ke C dan kembali ke titik keseimbangan di E. Pergerakan masa dari A ke E dinamakan satu siklus dan dalam contoh diatas
membutuhkan waktu 4 detik. Dari pergerakan bolak-balik masa pada pegas diatas terdapat informasi berharga yang bisa kita simpulkan yang sebenarnya menggambarkan kondisi alami dari vibrasi.
Pergerakan di atas dinamakan periodic dan harmonic, dimana hubungan antara simpangan (X) dengan massa (m) dan waktu (t) dan hubungan antara perpindahn masa dengan waktu bisa diekspresikan dengan persamaan berikut ;
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 𝑿 = 𝑿𝒐𝐬𝐢𝐧 𝝎𝒕
X = perpindahan masa pada waktu tertentu Xo = perpindahan maksimum dari massa
𝝎 = 𝟐. 𝝅. 𝒇 f= frekuensi (cycle/s, Hertz, Hz)
t=time (second)
Kecepatan pergerakan masa dari titik keseimbangan ke titik maksimum (atas atau bawah) bisa dituliskan dengan rumus
𝒗𝒆𝒍𝒐𝒄𝒊𝒕𝒚𝒅𝑿
𝒅𝒕 = 𝑿𝒐. 𝝎. 𝐜𝐨𝐬 𝝎𝒕
Sedangkan persamaan percepatan bisa diturunkan dari persamaan kecepatan menghasilkan ;
𝒂𝒄𝒄𝒆𝒍𝒆𝒓𝒂𝒕𝒊𝒐𝒏 =𝒅(𝒗𝒆𝒍𝒐𝒄𝒊𝒕𝒚)
𝒅𝒕 = −𝑿𝒐. 𝝎
𝟐. 𝐬𝐢𝐧 𝝎𝒕
Pada gambar dibawah ini perpindahan (displacement) digambarkan dalam kurva sinus, kecepatan dalam cosinus dan percepatan dalam sinus.
Gambar 2.2 Waveform dari percepatan, perpindahan dan kecepatan Sumber: www.google.com
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Istilah istilah yang terkandung dalam waveform (gelombang) akan sering kita gunakan seperti siklus, panjang gelombang dan fasa merupakan tiga terminology utama untuk menggambarkannya.
Gambar 2.3 Terminologi Utama
Sumber: http://www.scribd.com/doc/80723664/MAKALAH-VIBRASI
2.2.1. Amplitudo
Amplitudo adalah simpangan vibrasi, yaitu seberapa jauh jarak dari titik keseimbangan masa jika dilihat pada gambar pegas dan diagram harmonic dibawah ini. Dan ada tiga cara untuk menggambarkan besarnya amplitude yaitu :
1. Displacement (perpindahan) satuannya adalah mills inch atau micron 2. Velocity (kecepatan) satuannya adalah inch per sekon atau mm/s 3. Accelerations (percepatan) satuannya adalah g, 𝑚𝑚/𝑠2, 𝑖𝑛𝑐ℎ/𝑠2
Frekuensi
Siklus perdetik/Cycles per second (Hz)
Siklus permenit/Cycles per minute (CPM)
Putaran per menit/ Rotation per minute (RPM)
Orders, 1 order sama dengan 1 x RPM (1xputaran poros mesin) Amplitido Displacement/perpindahan (mills,micron) Velocity/kecepatan (ips, mm/s) Accelerations/percepatan (g, 𝑚𝑚/𝑠2,𝑖𝑛𝑐ℎ/𝑠2) 1 g = 9,807 m/𝑠2 = 386,4 inch/𝑠2 Fasa
Degree (derajat) dimana satu putaran sama dengan 3600
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi
Gambar 2.4 Pegas
Sumber: Pusat Pengembangan Bahan Ajar- UMB Dr.Ir.Abdul Hamid. M,Eng-Getaran Mekanis
Gambar 2.5 Diagram Harmonic
Sumber: http://www.scribd.com/doc/80723664/MAKALAH-VIBRASI
Demikian pula dalam mempermudah untuk pembacaan Amplitudo Vibrasi (displacement, velocity, acceleration) dapat dinyatakan dalam peak to peak (Pk-Pk), Peak (Pk), Average, dan Root Mean Square (RMS). Namun dalam kelemahannya angka Peak to Peak tidak selalu bisa ditampilkan oleh setiap alat ukur vibrasi
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Gambar 2.6 Peak to Peak, Average dan Root Mean Square
Sumber : en.wikipedia.org/wiki/Root_mean_square
Dalam penjabarannya sendiri Average adalah nilai rata-rata mutlak dari waveform, peak adalah besaran gelombang sinus yang besarannya adalah 0,5 Peak. Dan Root Mean Square (RMS) adalah akar kuadrat dari rata-rata nilai kuadrat waveform, untuk gelombang sinus yang besarannya adalah 0.707 Peak. Nilai RMS dalam grafik bisa digambarkan seperti dibawah ini.
Gambar 2.7 Root Mean Square ( RMS )
Sumber : en.wikipedia.org/wiki/Root_mean_square
Organisasi Standarisasi Internasional (ISO) yang standarnya sudah dikenal dan diterima di dunia internasional menganjurkan untuk memakai RMS sebagai acuan tingkat keparahan vibrasi. Berkaitan dengan RMS dikenal juga parameter penting lainnya yaitu Crest Factor yang besarnya adalah perbandingan antara nilai peak (pk) gelombang terhadap nilai RMS dari gelombang. Crest Factor dari gelombang Sinus adalah 1.414 yaitu nilai Peak (Pk) value (nilai puncak) adalah 1.414 dikali nilai RMS. Dan Crest Factor adalah salah satu ciri-ciri penting yang dapat digunakan unruk perkembangan kondisi mesin.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.2.2. Frekuensi
Ketika rangkaian gelombang melewati titik-titik suatu medium maka sejumlah gelombang akan berada pada medium tersebut dalam unit waktu yang tertentu. Sebagai contoh, jika sebuah gabus pada gelombang air naik turun satu kali setiap detik maka gelombang membuat satu gerakan lengkap naik turun. Jumlah naik turun atau siklus dari rangkaian gelombang dalam satuan waktu disebut Frekuensi, besarannya dapat dinyatakan dalam siklus per detik (CPS) atau siklus per menit (CPM) dan diukur dalam satuan hertz (Hz). Jika lima gelombang melewati sebuah medium dalam waktu per detik maka frekuensi rangkaian gelombang adalah lima siklus per detik ( siklus per detik disingkat sebagai (CPS) Cycles Per Second ). Frekuensi vibrasi penting diketahui dalam analisa vibrasi mesin untuk menunjukan masalah yang terjadi pada mesin tersebut. Dengan mengetahui frekuensi vibrasi, akan memungkinkan untuk dapat mengidentifikasi bagian mesin yang rusak (fault) dan sekaligus masalah yang menyebabkannya
Istilah „siklus‟ digunakan untuk memahami positif dan indicator bagi perubahan gelombang, tetapi dalam saat lain istilah „hertz‟ adalah digunakan untuk memahami istilah terhadap apa yang tampaknya seolah-olah adalah hal yang sama. Kuncinya adalah hanya “indicator waktu”. Istilah siklus mengacu pada setiap urutan rangkaian gelombang yaitu perubahan positif dan indicator yang disebut “satu siklus” bagi setiap gelombang apapun. Istilah hertz mengacu pada “jumlah siklus” yang terjadi dalam “satu detik”. besarnya amplitudo berhubungan dengan besarnya tingkat severity dan besarnya frequency mengacu kepada penyebab atau sumber vibrasinya. Sebagai petunjuk table dibawah ini bisa dijadikan acuan dasar.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Tabel 2.1 Frekuensi Vibrasi dan Penyebabnya
Frekuensi dalam
RPM Penyebab Utama Kemungkinan Penyebab lainnya 1 X RPM Unbalance
(ketakseimbangan)
1. Eksentrisitas journal, gear atau puli. 2. Misalignment bila vibrasi aksial tinggi. 3. Buruknya sabuk bila 1 X RPM sabuk 4. Resonansi
5. Gaya Resiprok 6. Problema Listrik 2 X RPM Kelonggaran Mekanik
Mechanical Looseness
1. Misalignment bila vibrassi axial tinggi 2. Gaya reciprocating
3. Resonansi
4. Belt buruk bila 2X RPM belt
3X RPM Misalignment Pada umumnya kombinasi dari misalignment dan kelonggaran (looseness)
Kurang Dari 1X RPM
Oil Whirl
(terjadi pusaran oli)
1.putaran belt yang tidak teratur 2.resonansi sub-harmonik 3.vibrasi beat
Sinkron
(frekuensi sumber listrik/tegangan)
Electrical Problem (masalah listrik)
Secara umum adalah problema elektrikal seperti rotor patah/rusak, fase yang tidak balance pada sistem poly-phase
2X sinkron frekuensi Pulsa torsi Problema ini jarang sekali terjadi, kecuali resonansi yang ter-eksitasi
Beberapa kali RPM (frekuensinya berhubungan secara dinamik
Gear kondisi jelek Gaya aerodinamika Gaya hidrolik kelonggaran Gaya reciprocating
1. Jumlah gigi kali RPM dari gigi yang kurang memadai
2. Jumlah impeller vanes kali RPM
3. Dapat terjadi pada 2,3,4 kali RPM bahkan harmonic tinggi, bila terjadi looseness yang cukup parah
Frekuensi Tinggi (Non-harmonik)
Bearing dengan anti fisik yang kurang baik
1. Vibrasi bearing yang tidak steady, yaitu amplitude dan frekuensi
2. Cavitasi, sirkulasi, dan aliran turbulen yang menyebabkan random vibrasi dengan frekuensi tinggi
3. Lubrikasi yang tdak benar pada journal bearings (pendukung blok bantalan 4. Gesekan
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.2.3. Fase
Jika kita perhatikan kedua gelombang seperti yang digambarkan pada gambar 2.8 kita temukan bahwa kedua gelombang vibrasi memiliki amplitude dan frekuensi yang sama tetapi puncak gelombangnya berjarak sekitar 1
4 T. T
adalah priode yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu gelombang vibrasi sempurna yaitu satu puncak dan satu lembah atau 360°. Perbedaan waktu ini disebut “fase” dan dapat dinyatakan dengan sudut fase. Jadi dalam gambar 2.8 dibawah waktu “wave crest” gelombang kedua terlambat (lag) sebesar T/4 dari “wave crest” gelombang pertama. Waktu keterlambatan T adalah sudut fase sebesar 360° sehingga waktu keterlambatan T/4 akan menjadi fase sudut 90°. Dalam hal ini, biasanya kita mengatakan bahwa kedua gelombang tersebut berbeda dase sebesar 90°, sehingga 1
4T setara dengan 90°
Gambar 2.8 Fase diantara Dua Gelombang yang Identik Sumber :Getaran Mekanis: Dr.Ir Abdul Hamid. M,Eng
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.2.4. Harmonik
Gambar waveform dibawah ini member informasi yang bagus untuk memahami bagaimanakah cara membaca fenomena vibrasi. Sumbu Y adalah displacement (perpindahan) dan sumbu X adalah waktu (Time) dalam skala 1 detik. Gelombang seperti dibawah ini dinamakan juga gelombang ‟time domain‟ (fungsi waktu).
Gambar 2.9 Bentuk Gelombang Persegi Sumber :Getaran Mekanis: Dr.Ir Abdul Hamid. M,Eng
Keterangan gambar 2.9 nomor yang tertera menunjukan nomor dari gelombang sinusnya
Penjelasan dari gambar diatas sebagai berikut :
1. Gelombang pertama yang harus kita amati adalah gelombang (1), gelombang 1 adalah gelombang dengan satu siklus. Karena skala
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi waktunya adalah 1 detik, maka frekuensi dari gelombang 1 adalah 1 Hz.
2. Gelombang berikutnya adalah gelombang (3) dengan priode yang sama dengan gelombang 1, dengan jumlah siklus adalah 3, maka frekuensinya adalah 3 Hz
3. Ketiga adalah gelombang (5) memiliki 5 siklus. Sehingga pada priode yang sama yaitu 1 detik, gelombang 5 mempunyai frekuensi 5 Hz.
4. Berikutnya adalah gelombang (7) mempunyai 7 siklus selama priode 1 detik. Sehingga gelombang ini mempunyai frekuensi sebesar 7 Hz
5. Kemudian dengan cara yang sama gelombang (9) mempunyai 9 Hz
Jika semua gelombang pada gambar diatas dijumlahkan, maka akan menghasilkan satu gelombang yang Nampak seperti bentuk kotak yang lebih komplek. Gelombang dalam bentuk yang komplek sangat sulit dibaca dn dianalisa. Bentuk gelombang komplek ini bisa ditransformasi menjadi bentuk yang lebih sederhana dengan menggunakan operasi matematik yang dinamakan Fourier Fast Transform (FFT). Sehingga menghasilkan gambar yang lebih mudah dianalisa. Gambar dibawah ini adalah contoh dari Waveform sebagai fungsi dari waktu (time domain) yang komplek.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Gambar 2.10 waveform
Sumber :http://reliabilityweb.com/index.php/print/an_introduction_to_time_waveform_analysis 2.2.5. Fourier Fast Tranform (FFT)
FFT (Fourier Fast Transform) adalah varian tercepat dari pada varian lainnya seperti DFT (Discreete Fourier Transform). Dimana FFT menggunakan algoritma yang canggih untuk melakukan proses yang sama dengan DFT, namun perbedaannya FFT menggunakan waktu yang lebih singkat. Karena kecepatan dan sifat diskritnya inilah yang membuat FFT digunakan pada berbagai pengolahan sinyal digital termasuk yang paling utama kita gunakan adalah pengolahan sinyal vibrasi. Dengan menggunakan Fourier analysis atau spectrum analysis, gelombang berbasis waktu (time domain) dirubah menjadi gelombang sebagai fungsi dari frekuensi. Sehingga jika dilhat pada gambar dibawah ini; gelombang fungsi frekuensi dilihat sebagai fungsi amplitude (sumbu Y) dan frekuensi (sumbu Z). Proses transformasi dari gelombang berbasis waktu ke gelombang berbasis frekuensi dapat dilakukan oleh sebuah alat analyzer.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi
Gambar 2.11 Gelombang Frekuensi
Sumber: Pusat Pengembangan Bahan Ajar- UMB Dr.Ir.Abdul Hamid. M,Eng-Getaran Mekanis
Gelombang sebagai fungsi frekeunsi (FFT) secara dua dimensi akan terlihat seperti gambar dibawah ini ;
Gambar 2.12 FFT Dua Dimensi
Sumber: Pusat Pengembangan Bahan Ajar- UMB Dr.Ir.Abdul Hamid. M,Eng-Getaran Mekanis
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.2.6. Kegunaan FFT
Sebagai contoh grafik dibawah ini menunjukkan gambar gelombang fungsi waktu (Time Waveform) dari Turbin Uap berkapasitas 40 MW. Untuk menarik kesimpulan dari grafik ini sangat tidak mudah, kita tidak bisa menjawab pertanyaan apakah yang menyebabkan getaran, meskipun kita mungkin bisa memperoleh informasi tingkat keparahan dari vibrasi pada Turbin ini.
Gambar 2.13 Time Waveform Turbin
Sumber :http://reliabilityweb.com/index.php/print/an_introduction_to_time_waveform_analysis Gelombang komplek diatas kita rubah menjadi sinyal yang lebih sederhana dengan proses FFT. Proses penyederhanaan sinyal gelombang ini dilakukan oleh analyzer. Seorang analis yang mempunyai kemampuan matematik bisa melakukannya secara manual, tetapi akan sangat memakan waktu yang jauh lebih lama. Dengan perangkat teknologi sekarang semuanya bisa dilakukan oleh perangkat elektronik. Sinyal yang sudah disederhanakan berupa sinyal fungsi frekuensi seperti pada gambar.
Dengan grafik ini kita bisa melakukan analisa spketrum, dengan melihat frekuensi sebagai basis analisa. Frekuensi memberikan informasi apa yang menjadi penyebab vibrasi dan amplitude menunjukkan tingkat keparahannya.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Gambar 2.14 Spectrum Data
Sumber : www.google .com
Grafik dibawah ini menunjukkan perubahan dari gelombang waveform dari Turbin Uap yang dirubah dengan FFT menjadi gelombang berbasis frekuensi yang lebih sederhana dari bentuk grafik waveform data menjadi spectrum data.
Gambar 2.15 Transform FFT
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.3. Displacement, Velocity Atau Accelerations
Tingkat keparahan vibrasi ditentukan dengan seberapa besarnya amplitude. Dan frekuensi menunjukkan sumber atau penyebab dari vibrasi. Secara umum makin besar amplitudo vibrasi dari sebuah mesin maka kondisi getarannya makin parah, berarti kondisi mesin makin buruk.
Ada 3 jenis amplitudo yang sudah dikenalkan pda tulisan ini, dan alat ukur hanya mampu melihat satu untuk setiap kali pengukuran, karena masing-masing besaran amplitude membutuhkan sensor yang berbeda. Pertanyaannya adalah mana dari ketiga besaran amplitudo yang akan kita pilih ? grafik dibawah ini bisa dijadikan paduan.
Pergerakan dibawah 10 Hz (600 cpm), menghasilkan getaran yang sangat kecil dan berarti amplitudonya juga „kecil‟ dari sisi accelerations, „sedang‟ jika dilihat velocity-nya, dan ‟besar‟ jika dilihat Displacement-nya. Kesimpulannya untuk rentang dibawah 10 Hz lebih baik Displacement yang diukur.
Gambar 2.16 Hubungan antara Displacement,Velocity dan Accelaration Sumber: http://www.wilcoxon.com/technotes/lowfreq.html
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Untuk rentang frekuensi tinggi (lebih dari 1000 Hz atau 60 kcpm) akan lebih baik jika accelerations yang diukur. Secara umum disepakati bahwa antara 60 Hz s/d 1000 Hz , velocity adalah parameter terbaik. Karena secara umum Rotating Machine mempunyai frekuensi antara 10 Hz sampai 1000 Hz, maka velocity umum digunakan sebagai parameter pengukuran maupun analisa.
2.4.Sumber Frekuensi
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya vibrasi, diantaranya karena misalignment poros, pondasi yang kurang kokoh, masalah elektris pada motor, akibat kavitasi, cacat pada bantalan, unbalance pada impeller, ataupun ada benda asing yang menggangu operasi kinerja mesin, Gaya yang menyebabkan vibrasi dihasilkan dari gerak berputar elemen mesin. Gaya tersebut berubah dalam besar dan arahnya sebagaimana elemen putar berubah terhadap titik netral. Akibatnya, vibrasi yang dihasilkan akan mempunyai frekuensi yang bergantung pada kecepatan putar element yang telah mengalami kerusakan. Oleh kaena itu dengan mengetahui frekuensi vibrasi, akan dapat mengidentifikasi bagian dari mesin yang bermasalah.
Penting untuk diketahui juga, bahwa permasalahan yang berbeda pada suatu mesin menyebabkan frekuensi getaran yang berbeda pula, sehingga permasalahan dasar yang terjadi akan dapat diidentifikasi salah satunya memakai tiga sumber frekuensi seperti generated frequencies, exited frequencies dan frequency yang disebabkan oleh fenomena elektronis
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.4.1 Generated frequencies
Generated Frequencies sering juga dinamakan forcing frequencies, adalah frekuensi yang dibangkitkan oleh mesin. Beberapa contoh adalah unbalance, vane pass frequencies (jumlah vane dikalikan kecepatan), gearmesh frequencies (jumlah gigi dikalikan kecepatan), bermacam-macam frekuensi yang dibangkitkan oleh antifrictions bearings, ball passing frequency pada outer race bantalan, ball passing frequency pada inner race bantalan, ball spin frequency, dan fundamental train frequency. Generated frequency adalah besaran yang mudah untuk diindentifikasi sebab frekuensi ini bisa dihitung sepanjang dimensi dan kecepatan dari mesin diketahui. Seringkali frekuensi yang bisa dihitung tidak menyebabkan masalah vibrasi.
Frekuensi yang sudah dihitung hendaknya tidak dimodulasikan dengan frekuensi lain yang cukup signifikan. Jika frekuensi seperti ini muncul, maka akan menjadi masalah vibrasi.
Ketika sebuah komponen Rotating mengalami unbalance, akan memunculkan gelombang berbentuk sinus. Pada FFT atau spectrum analisis akan muncul satu garis lurus (spectral line) setiap unit kecepatan. Misalnya Fan yang mengalami unbalance , dengan kecepatan putar 1776 RPM akan memunculkan garis berdiri (spectral line) setiap 29,67 Hz.
Umumnya Pompa dan Fan dapat menghasilkan vane atau blade pass frequency, yaitu jumlah blade atau vane (sudu) dikalikan kecepatan. Vibrasi tinggi mungkin terjadi pada frekuensi ini ditimbulkan oleh sesuatu pada blade atau vane, misalnya karena ada benda yang menghantam blade atau ada bagian dsari blade yang hilang.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Berapakah blade pass frequency dari sebuah Fan yang memiliki kecepatan putar 1776 RPM, jumlah blade adalah 4 buah.
Jawab :
1776 𝑅𝑃𝑀
60 = 29.6 𝐻𝑧
29.6 Hz x 4 blades = 118,4 Hz
2.4.2 Exited Frequency
Exited frequency atau natural frequency adalah sifat alamiah dari sebuah system. Jika natural frequency menjadi besar karena bergabung dengan generated frequency maka akan terjadi apa yang disebut Resonansi, hal ini terjadi karena kedua frekuensi tersebut mengalami suatu keadaan yang tepat atau tune in. frekuensi natural seringkali dikenal sebagai frekuensi tunggal. Amplitudo dari frekuensi natural tergantung besarnya kepada factor peredaman (damping).
Istilah kecepatan kritis (critical speed) adalah berarti kecepatan putar dari suatu unit sama besarnya dengan frekuensi natural. Jika ini terjadi maka frekuensi natural tidak bisa diterima.
Damping adalah ukuran dari kemampuan mesin untuk menyerap energy. Oleh karena itu sinyal vibrasi yang relative tidak teredam akan memiliki amplitude yang tinggi dan rentang frekuensi (band) kecil. Sedangkan sinyal vibrasi yang relative teredam akan memiliki amlitudi relative rendah dalam rentang frekuensi lebar. Gambar dibawah ini menunjukkan contoh sinyal frekuensi yang relative tidak teredam. Fc adalah frekuensi tengah yang besarnya adalah 18 Hz, F1 adalah frekeunsi rendah pada kondisi 0.707 peak (setengah dari daya vibrasi) dan pada kasus ini besarnya 14 Hz. Sedangkan F2 adalah frekuensi tinggi pada 0707 peak dan
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi besaranya adalah 22 Hz. Dari informasi ini maka AF (amplifications Factor) dapat dihitung sebagai berikut ;
AF = 𝐹𝑐 𝐹2−𝐹1 =
18
(22−14) = 2.25 𝐻𝑧
Banyak pakar berpendapat bahwa AF seharusnya kurang dari 8. Catatan bahwa hasil perhitungan ini sama saja jika RPM menggantikan Hz.
Gambar 2.17 Natural Frequency
Sumber : http://www.wilcoxon.com/technotes/lowfreq.html 2.5. Faktor Penyebab Sinyal Vibrasi
Setelah dijelaskan diatas tentang sumber frekuensi yang menimbulkan frekuensi vibrasi yang menandakan adanya kerusakan berikut adalah beberapa faktor yang sering muncul sebagi penyebab utama dalam kegagalan diantaranya :
2.5.1 Unbalance
Ubalance ialah Keadaan tak seimbang yang terjadi apabila pusat massa sistem tak berimpit (presisi) dengan titik pusat perputaran, dimana hal ini terjadi karena beberapa sebab misalnya bahan yang digunakan tidak homogen dan perubahan posisi ketidakseimbangan dapat terjadi pada suatu bidang (disebut static unbalance) atau pada
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi beberapa bidang (couple unbalance). Kemudian bila Gabungan keduanya disebut dynamic unbalance.
Dalam keadaan unbalance sebuah vektor gaya yang berputar dengan poros menimbulkan vibrasi dengan frekuensi satu per putaran. Karakteristik ini sangat penting untuk membedakan unbalance dengan cacat atau kerusakan yang menghasilkan vibrasi serupa dengan vibrasi satu per putaran. Kerusakan akibat cacat yang sering disangka dari rotor biasanya mempunyai harmonik tingkat tinggi, tetapi perlu diingat bahwa bila gaya balansnya tak besar, harmonik tingkat tinggi dapat terjadi.
Hal yang sama terjadi pula bila kekakuan bantalan dalam arah vertikal dan horizontal jauh berbeda, karena gaya unbalance merupakan vektor berputar maka fasa getarannya relatif terhadap keyphasior tergantung pada lokasi transducernya. Amplitudo dalam hal ini berubah sedikit.
Unbalance dicirikan dengan sinyal yang muncul pada frekuensi tunggal, dengan amplitude yang sama besar pada keseluruhan arah radial. Pada unbalance murni, vibrasi akan muncul dalam bentuk gelombang sinus pada kecepatan mesin, dituliskan sebagai 1x RPM. Vibrasi terjadi ketika pusat masa dari suatu elemen yang berputar tidak sesumbu dengan susunan elemen putar. Amplitude akan terus membesar dengan terus bertambahnya kecepatan elemen dan akan mencapai kecepatan kritis dari elemen putar
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.5.2 Misaligment
Misalignment terjadi karena adanya pergeseran atau penyimpangan salah satu bagian mesin dari garis pusatnya. Misalignment sendiri mengakibatkan vibrasi dalam arah axial. Misalignment merupakan penyebab kedua terjadinya vibrasi meskipun telah digunakan flexible couplings dan self aligning bearing.
Para ahli sepakat bahwa penyebab dari 70 hingga 75 persen dari vibrasi disebabkan oleh misalignment. Dan seringkali vibrasi yang disebabkan oleh misalignment sering kali disalah artikan sebagai unbalance. Hal ini bisa anda pahami jika kita mengerti tahap-tahap terjadinya unbalance akibat munculnya misalignement seperti yang dijelaskan pada tahapan dalam contoh kasus berikut ini ;
1. Setiap elemen berputar (Rotating element) memiliki sejumlah unbalance. Setiap manufaktur memiliki toleransi terhadap unbalance ini. Untuk mencapai kondisi keseimbangan yang sempurna adalah sangat sulit dan mahal, yang hanya dilkukan untuk aplikasi-aplikasi tertentu seperti kapal selam nuklir misalnya.
2. Ketidakseimbangan yang kecil ini kemudian diredam atau diserap dengan menggunakan rolling element bearings yang memiliki clearance diantara bagian yang tetap dan bagian berputarnya sekitar 0.0005 “ atau bahkan untuk beberapa aplikasi praktis tidak ada clearance sama sekali.
3. Ketika unit-unitnya mengalami kondisi misalignment, elemen-elemennya mengalami tarikan dan tekanan melalui kopling dan menghasilkan keausan yang tidak dinginkan pada bearings. Dengan
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi segera keausan ini akan membuat clearance antara element putar dan race-nya membesar. Sehingga kemudian bearings tidak lagi mampu bertindak sebagai damper yang menjaga unbalance pada tingkat aman. 4. Tahap akhir dicapai ketika seorang yang memahami getaran menyimpulkan bahwa getaran terjadi akibat adanya unbalance, sehingga dilakukan langkah koreksi untuk memperbaiki keseimbangan elemen-elemen putar. Tanpa diagnose yang tepat masalah getaran ini akan kembali muncul, seperti yang dijelaskan pada tahap sebelumnya, bahwa misalignemetlah ternyata yang meneyebabkan timbulnya unbalance. Secara statistic menunjukkan bahwa sekitar 12% pekerjaan harus diulang dan biaya menjadi naik, karena salah diagnose.
Praktek yang baik adalah melakukan pemeriksaan ulang pada mesin yang telah mengalami perbaikan dan pengecekan diulang lagi setelah digunakan beberapa saat. Gambar diperoleh setelah seal pada pompa diperbaiki. Meskipun tanda-tanda misalignment diindikasikan, amplitude pada 2x RPM kurang dari 50% dari amplitude pada 1 x RPM sehingga hal ini masih bisa diterima. Seminggu kemudian amplitude pada 2x RPM . seminggu kemudian amplitudo pada 2x RPM meningkat melebihi amplitudo pada 1 x RPM, dan jelas terlalu tinggi. Amplitudo pada 2 x RPM makin besar sedangkan amplitude pada 1 x RPM relative tidak berubah seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Gambar 2.18 Getaran pada pompa yang diambil setelah perbaikan Sumber :
ww.c3cbm.com/how-to-spot-low-frequency-faults-with-pocket-vibra--c-trend.html
Gambar 2.19 Spketrum getaran pada pompa
Sumber : ww.c3cbm.com/how-to-spot-low-frequency-faults-with-pocket-vibra--c-trend.html
setelah munculnya misalignment.
Catatan disini adalah menentukan resolusi untuk mendapatkan hasil pengukuran yang bisa dibaca adalah penting. Perhatikan gambar diatas, masing-masing garis mewakili 240 CPM. Jika range yang kita pilih adalah 24000, maka garis diatas akan mewakili 100 CPM. Perhatikan juga dua garis amplitude disekitar 7200 CPM, salah satu garis amplitude berada tepat di angka 7200 CPM yang berjarak sekitar 100 CPM dengan garis amplitude tetangganya. Jika kita garis pada
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi sumbu CPM lebih besar katakanlah 300 CPM maka barangkali kita hanya akan mlihat satu garis amplitude pada 7200 CPM.
Misalignment tidak hanya berpengaruh terhadap rusaknya bearings seperti yang memang sering terjadi, tetapi yang sering luput dari pengamatan orang adalah misalignment juga mengakibatkan bertambahnya konsumsi energy untuk mengerakkan mesin seperti pompa dan motor. Menurut pengalaman mesin yang tidak sejajar (align) akan mengkonsumsi energy listrik 3-7 % lebih banyak dibandingkan dengan mesin dalam kondisi yang sejajar.
Contoh : sebuah motor dengan daya 100 HP dalam kondisi misalignment sehingga membutuhkan arus listrik 2 A lebih banyak dibandingkan seharusnya. Sehingga menimbulkan biaya ekstra sekitar 690 $ pertahun. Bayangkan jika di sebuah industry besar terdapat sekian ratus motor dan pompa dengan kondisi misalignment, sebuah kerugian yang banyak. Kerugian pada motor diatas dihitung dengan caras ebagai berikut ;
𝑚𝑜𝑡𝑜𝑟 3 𝑝ℎ𝑎𝑠𝑒 𝐾𝑤 = 𝑣𝑜𝑙𝑡 𝑎𝑚𝑝𝑒𝑟𝑒 𝑃. 𝐹. (1.732) 1000
(KW difference)($/Kw)(7200 hrs/year) = $ annual savings Angka 7200 hrs/years dengan asumsi waktu kerja 6 hari seminggu dan 50 minggu per tahun.
Misal kondisi awal (misalignment) arus awal = 27 dan setelah alignment arus awal = 25.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝐾𝑤 = 575 27 1.732 1000 = 21.5 𝐾𝑤 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑙𝑙𝑖𝑔𝑛𝑚𝑒𝑛𝑡 = 575 25 (1.732) 1000 = 19.9 𝐾𝑤 21.5 – 19.9 = 1.6 Kw. Difference. (1.6Kw)($0.06 /Kwh)(7200 Hrs/year) = $691.20/year 2.5.3 Mechanical Looseness
Komponen-komponen mesin yang dapat kendor antara lain bantalan (mount) atau tutup bantalan (bearing cap). Kekendoran ini hampir selalu menghasilkan sejumlah besar harmonik dalam spektrum frekuensinya, baik harmonik ganjil maupun tunggal. Komponen getaran yang dengan frekuensi lebih kecil dari kecepatan putar juga dapat terjadi. Teknik untuk mendeteksi kekendoran adalah dengan mengukur getaran pada beberapa titik (transducer kecepatan dapat berfungsi baik). Sinyal yang terukur akan mencapai maksimumnya pada arah getaran (biasanya arah vertikalmemberikan getaranyang lebih besar dari arah horizontal), atau disekitar lokasi kekendoran.
Karakteristik dominan dari kehilangan mekanis adalah munculnya multiple harmonic pada beberapa kecepatan operasi. Kecepatan operasi dari suatu komponen dituliskan sebagai 1X, misalnya adalah 1800 CPM. Harmonic ke-2 adalah 2X (3600 CPM) dan harmonic ke-3 adalah 3X (5400 PM), dan seterusnya.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Pada kasus kehilangan mekanis, amplitudo terbesar akan terjadi dekat dengan sumber masalah. Sebagai contoh pada gambar di bawah ini, amplitudo pada salah satu kaki yang hilang lebih besar dari ketiga kaki lainnya, ini menunjukkan bahwa amplitude besar pada sisi kehilangan mekanis.
Gambar 2.20 Spectrum vibrasi
pada motor yang salah satu kakinya tidak tersuport.
Sumber : http://www.vibanalysis.co.uk/vibanalysis/looseness/looseness.html
Gambar diatas terjadi pada motor ketika diukur vibrasinya pada outboard bearings. Ternyata salah satu baut pada kaki pemegangnya patah sehingga membuat sisiluar dari bearings bergerak. Pergantian baut membuat kondisi motor menjadi normal kembali seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Perlu dicatat disini bahwa garis amplitude mincul setiap kelipatan kecepatan putar.
Gambar 2.21 Spectrum Vibrasi pada yang sudah diganti bautnya. Sumber : http://www.vibanalysis.co.uk/vibanalysis/looseness/looseness.html
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi 2.5.4 Resonansi
Setiap komponen memiliki sebuah frekuensi natural yang besarnya tergantung pada mounting dari equipment tersebut. Suatu kasus mengenai resonansi ini terjadi ketika sebuah mesin Diesel yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan minyak menjalani pengujian, dan mengalami getaran pada semua strukturnya secara hebat, sehingga pengujian tidak mungkin dilakukan. Mesin ini diprogramkan untuk beroperasi pada 2000 RPM selama periode pengujian, dan diperkirakan mengalamai resonansi. Gambar 2.22 menunjukkan time-domain dari mesin ketika menjalani bump test dan menunjukkan fast decay. Sedangkan gambar 2.22 Adalah gambar domain frekeunsinya.
Gambar 2.22 Time Domain Bump Test
Sumber :http://reliabilityweb.com/index.php/print/an_introduction_to_time_waveform_analysis
Gambar 2.23 Domain frekuensi Bump Test Sumber : Alat Vibrometer 107B
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Spektrum frekuensi dari mesin yang mengalami bump test. Amplitude muncul pada frekuensi 2050 CPM yang merupakan salah satu kecepatan operasi mesin.
Perhatikan bahwa resonansy terjadi pada 2050 CPM. Satu-satunya cara untuk menghilangkan resonansi adalah dengan memeperkuat pegangan mesin dan menaikkan frekuensi natural sama dengan atau lebih besar dari 2400 CPM.
Harus dicatat bahwa adalah tidak mungkin untuk mengoperasikan peralatan yang mengalami resonansi pada kecepatan operasinya atau mengikatnya pada struktur yang beresonansi pada kecepatan operasinya. Dan juga adalah tidak mungkin untuk menyeimbangkan komponen rotor yang beroperasi dekat dengan frekuensi resonansinya.
2.6.Penguraian Sinyal Vibrasi
Sinyal adalah gambaran (deskripsi) tentang bagaimana suatu parameter mempengaruhi parameter lain. Sinyal yang diperoleh melalui sensor pada pengukuran suatu vibrasi mesin adalah suatu respon gabungan dari suatu mesin terhadap bermacam-macam gaya eksitasi, dari dalam maupun dari luar mesin tersebut. Kunci ke arah analisa yang efektif adalah, penguraian sinyal kompleks ini menjadi komponen-komponennya. Masing-masing komponen kemudian dikorelasikan dengan sumbernya dimana Analisa vibrasi bertujuan untuk menemukan korelasi antara tingkat vibrasi dengan penyebab vibrasi yang pada akhirnya mengarah kepada menemukan sebuah kerusakan pada komponen.
Telah dijelaskan diatas bahwa amplitudo vibrasi menunjukkan tingkat keparahan dari vibrasi dan juga berarti tingkat kerusakan pada mesin. Hanya saja
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi para analis kesulitan dalam menentukan pada tingkat amplitude berapakah yang masih diijinkan bagi mesin yang menimbulkan sinyal vibrasi untuk beroprasi ?
Yang harus diingat adalah bahwa para analisis bertujuan untuk menetapkan frekuensi pemeriksaan vibrasi terhadap mesin agar bisa mendeteksi kerusakan lebih awal, bukan menentukan berapa banyak getaran yang bisa diterima oleh mesin sebelum rusak.
Batasan vibrasi yang absolute akan tidak mungkin untuk didapatkan, sebab munculnya kerusakan pada mesin sangatlah komplek. Tetapi adalah mustahil bagi seorang analis untuk mengimplementasikan kegiatan monitoring vibrasi tanpa suatu petunjuk yang mungkin diperoleh dari pengalaman atau penelitian dari orang-orang yang sudah berpengalaman.
2.7. Standart ISO
Standar ISO dibangun oleh Komite Teknis yang terdiri dari para pakar yang dipinjam dari sector teknis, bisnis dan industry. Para pakar ini berpartisipasi sebagai perwakilan dari negara-negara anggota ISO (sekarang ini beranggota 145 negara). Komite Teknik bertemu,berdiskusi, berdebat, dan berargumentasi hingga mereka menetapkan consensus yang akan menjadi draft kesepakatan. Draft kesepakatan yang biasa dikenal sebagai Draft International Standard (DIS) ini diedarkan kesemua anggota ISO untuk dikomentari seringkali harus dilakukan pemilihan. DIS yang sudah disepakati dan sudah dimodifikasi menjadi draft final yang dikenal sebagai Final Draft International Standard (FDIS). Draft final diedarkan ke semua anggota dan lalu dilakukan pemilihan. Dokumen akhir menjadi International Standard.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Hampir semua standar vibrasi pada mesin disusun oleh komite teknis TC108 (Mechanical Vibrations and Shock). TC108 beranggotakan 22 negara dan peninjau dari 25 negara. Hingga bulan Mei 2003, TC108 menerbitkan 98 standar.
Berkenaan dengan vibrations severity, ISO mengeluarkan beberapa standar diantara bisa dilihat pada table dibawah ini.
Tabel 2.2 Standart ISO
Sumber:http://www.iso.org/iso/iso_catalogue/catalogue_ics/catalogue_detail_
ics.htm%3Fcsnumber%3D7212 2.7.1. ISO 2372
Standar yang paling banyak digunakan oleh seorang analisis sebagai indicator tingkat vibrasi adalah ISO 2372 (BS 4675). Standard ini dapat digunakan sebagai acuan batasan tingkat vibrasi yang bisa diterima oleh bermacam-macam mesin. Oleh karena itu untuk memakai standar ini harus dimulai dengan mengklasifikasikan terebih dahulu mesin yang akan kita ukur. Standard ini menggunakan parameter velocity-RMS untuk mengindikasikan tingkat keparahan vibrasi.
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Tabel. 2.3 ISO 2372
Sumber:http://www.iso.org/iso/iso_catalogue/catalogue_ics/catalogue_detail_
ics.htm%3Fcsnumber%3D7212 Keterangan gambar diatas :
Kelas I : komponen individu dari Engine atau Mesin yang secara integral terhubung dengan sebuah Mesin yang lebih komplek pada kondisi operasi normalnya (missal ; motor produksi dengan daya hingga 15 Kw)
Kelas II : Mesin berukuran medium (biasanya motor elektrik dengan kapasitas keluaran 15 – 75 Kw), tanpa pondasi special, atau mesin yang terikat kaku pada fondasi special (kaapasitas keluaran hingga 300 Kw)
Kelas III : Pengerak Utama (Prime Mover) besar dan mesin-mesin besar lainnya yang memiliki bagian yang berputar (Rotating Mass)
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi terikat secara kaku pada fondasi berat, yang relative kaku terhadap arah getaran.
Kelas IV : Pengerak Utama (Prime Mover) besar dan mesin-mesin besar lainnya yang memiliki bagian yang berputar (Rotating Mass) terikat pada fondasi, yng relative lunak terhadap arah pengukuran vibrasi (sebagai contoh Turbo generator dengan fondasi yang struktur bawahnyaa ringan).
2.7.2. ISO 10816-6
Standar ini digunakan untuk mengukur vibrasi pada mesin Reciprocating, seperti mesin bensin atau diesel pada mobil, motor, kompressoer torak, pompa torak dan lain-lain. Parameter yang diukur adalah nilai RMS dari akselerasi, velocity, dan displacement. Besaran ini diambil dengan meletakkan sensor pada ketiga arah sumbu di blok mesin. Jangkauan frekuensi yang dipakai biasanya berkisar antara 2 Hz hingga 1000 Hz.
Tabel 2.4 ISO 10816-6
Sumber:
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Keterangan untuk table diatas adalah ;
A : Mesin baru
B : pengoperasian kontinyu tanpa berhenti.
C : Tidak memungkinkan untuk pengoperasian kontinyu, kurangi jam operasi hingga dilakukan tindakan perbaikan pada skedul berikutnya.
D : vibrasi terlalu tinggi pada mesin. Kerusakan pada mesin tidak dapat dibiarkan.
2.7.3. ISO 10816-3
Standar ISO 10816-3 adalah salah satu standar turunan dari ISO series diatas yang paling banyak pula digunakan oleh seorang analisis sebagai indicator tingkat vibrasi dan sebagai acuan batasan tingkat vibrasi. Namun sebelum memakai standar ini harus dimulai dengan mengklasifikasikan terebih dahulu mesin yang akan kita ukur. Seperti salah satunya ialah melihat pondasi mesin yang seperti apa untuk mengklasifikasikannya dan type mesin tersebutnya.
Tabel 2.5 ISO 10816-3
Sumber:
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Keterangan Tabel di atas sebagai berikut :
1. Zona A berwarna hijau, getaran dari mesin sangat baik dan dibawah getaran yang diijinkan.
2. Zona B berwarna hijau muda, getaran dari mesin baik dan dapat dioperasikan tanpa larangan.
3. Zona C berwarna kuning, getaran dari mesin dalam batas toleransi dan hanya dioperasikan dalam waktu terbatas.
4. Zona D berwarna merah, getaran dari mesin dalam batas berbahaya dan dapat terjadi kerusakan sewaktu-waktu.
2.8. Titik Pengukuran
Secara umum dianjurkan untuk mengukur vibrasi dekat dengan sumbernya untuk meminimalisasi pengaruh-pengaruh yang dikhawatirkan akan merubah sinyal vibrasi. Titik pengkuran yang disukai biasanya adalah pada komponen yang kaku, seperti rumah bantalan atau gearbox. Untuk monitoring yang bersifat rutin ISO 10816-1 Sebagai acuan merekomendasikan pengukuran pada arah horizontal saja atau pada arah vertical sudah cukup memadai. Pada poros yang dipasang horizontal, titik pengukuran pada komponen kaku pada arah horizontal akan mendapatkan hasil pengkuran yang paling besar. Tetapi pengukuran vibrasi pada sambungan fleksibel pada mesin akan mendapatkan hasil yang besar pada arah vertikal.
Titik pengukuran pada pillow block bearings, harus dilakukan pada ketiga arah sumbu poros, seperti yang ditampilkan pada gambar dibawah ini ;
Universitas mercu Buana Analisa Vibrasi Gambar 2.24 Titik Pengukuran Pillow Block bearings
Sumber:
http://www2.pruftechnik.com/fr/condition-monitoring/telechargements/tech-info/iso-10816-standard...
Demikian juga pengukuran pada rumah motor, dilakukan pada ketiga arah sumbu seperti pada gambar dibawah ini ;
Gambar 2.25 Titik Pengukuran Rumah Motor
Sumber:
http://www2.pruftechnik.com/fr/condition-monitoring/telechargements/tech-info/iso-10816-standard...
Pada titik pengukuran secara vertical adalah menempatkan alat pada posisi vertical berbanding 90° dengan arah horizontal pada rumah motor, dan axial sejajar garis lurus dengan poros. Pengambilan pada tiga sumbu berfungsi untuk melihat kondisi vibrasi pada masing-masing sumbu seperti yang sudah dibahas diatas karena disetiap sumbu mempunyai vibrasi yang berbeda. Dan pada setiap kondisi dapat ditentukan karakteristik kerusakan dengan melihat sinyal vibrasi dari masing-masing sumbu pengukuran.