• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Salatiga adalah salah satukota kecil yang berada di Jawa tengah. Terletak di selatan Kota Semarang atau sering diberi julukan “Indonesia Mini”, pemberian julukan tersebut oleh masyarakat karena kota kecil ini dihuni oleh hampir semua suku bangsa di Indonesia. Julukan ini diperkuat dengan hadirnya salah satu Universitas Swasta tertua di Indonesia yaitu Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang mana sebagaian besar mahasiswanya adalah berasal dari Luar Kota Salatiga dan Jawa pada umumnya. Di kampus ini jugalah yang menjadi icon keragaman yang mewakili julukan Indonesia Mini.karena keragaman etnis yang ada di UKSW maka pihak kampus berkerja sama dengan pemerintah daerah setiap tahun mengelar kegiatan yang bertajuk budaya, yang lazim dikenal di kalangan mahasiswa yaitu Expo budaya.

Kehadiran kampus UKSW tidak hanya menjadikan Salatiga menjadi kota yang mejemuk, tetapi juga berimplikasi pada aspek ekonomi sosial dan budaya. Dalam konteks ekonomi masyarakat Salatiga tentunya di untungkan karena banyaknya peluang bisnis misalkan bisnis kos-kosan, warung makan, percetakan dll, sementara pada aspek sosial masyarakat Salatiga diperhadapkan dengan pola perilaku yang pastinya berbeda baik itu dari komunikasi gaya hidup yang di munculkan oleh mahasiswa yang berbeda latar belakang budaya. Aspek sosial juga tentunya berkorelasi dengan kebudayaan masyarakat.Hal ini sejalan dengan pemikiran Koentjaraningrat, bahwa keragaman selalu memiliki konsekuensi yang bersifat positif dan negatif karena perbedaan latar belakang budaya.

Kendala utama yang harus di hadapi oleh mahasiswa yang berasal dari luar daerah yaitu adaptasi atau yang lebih dikenal dengan istilah Culture Shock (gegar budaya).Di mana para mahasiswa biasanya melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan setempat, penyesuaian ini biasanya membutuhkan waktu yang relatif lama karena perlunya adaptasi dengan suasana dan kondisi yang baru.Selain culture shock, masi banyak lagi hal-hal yang harus mereka hadapi selama berada di lingkungan baru tersebut. Salah satunya adalah rentan terhadap konflik yang terjadi di antara mahasiswa karena mungkin perbedaan sikap dan perilaku dan tentunya perbedaan latar belakang budaya, selain itu juga persepsi buruk yang juga bisa saja muncul dari

(2)

sesama mahasiswa yang berbeda etnis dan bahkan warga setempat yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan daerah asal mereka.

Ambil contoh di Kota Salatiga tepatnya di Domas, pada bulan Juli 2015 kos-kosan yang dihuni oleh beberapa mahasiswa yang berasal dari luar Jawa di minta warga sekitar kos-kosan untuk pindah ke tempat lain karena meresahkan warga. Di mana dari keterangan mas Imam salah satu warga Domas memberi keterangan bahwa, hampir setiap malam mereka suka minum dan tidak bisa mengontrol suara yang pada akhirnya menggangu kenyamanan warga sekitar. Di bulan yang sama terjadi insiden karena beberapa mahasiswa yang berasal dari luar Jawa tiba-tiba datang bergerombol mendatangi kos-kosan yang berada di Domas, karena salah satu anak kos di sini membuat masalah di luar dan yang menjadi sasaran amarah dari yang bersangkutan adalah kos-kosan sini, yang pada akhirnya membuat warga gerah dan memutuskan

untuk memberi teguran dengan meminta mereka pindah kos”1

Sementara pada bulan Oktober 2015 dalam wawancara yang dilakukan peneliti dengan Pak Arif, menuturkan sebuah peristiwa yang terjadi di Kemiri 1 di mana salah seorang mahasiswa yang bersal dari luar Jawa memukul salah seorang pengendara motor di duga mahasiswa tersbut dalam keadaan mabuk, berikut pernyataannya waktu itu saya baru mau nutup pagar tiba-tiba warga di sekitar Burjo rame, saya kesana menanyakan ternyata salah seorang pengendara motor sedang adu mulut dengan mahasiswa tersebut karena katanya ia di pukul oleh mahasiswa luar Jawa, tapi untung masalahnya cepat diredam karena yang mukul ini segera disuruh pulang ke kosnya, tapi kan tentu warga sini menjadi kurang nyaman karena sudah sering kali terjadi, bahkan ada salah seorang warga yang mengatakan kalau saya juga bisa mabuk tapi

tidak mukul sembarang orang, apa memang di kampungnya seperti itu.2

Sementara pada bulan Oktober 2015 salah seorang teman datang di sebuah kos-kosan tepatnya di Kemiri barat bermaksud untuk menanyakan kamar kos yang masih kosong, karena kebetulan ia butuh kos baru, di saat yang sama pemilik kos pun mulai membuka pembicaraan dengan menawarkan kamar yang masih kosong, yang menarik adalah saat pernyataan terakhir dari pemilik kos, ia mengatakan „mas orang dari mana? teman saya menjawab saya dari Blora, sembari teman saya menjawab sekaligus ia menyelipkan sedikit pertanyaan ada apa bu? pemilik kos tersebut langsung menjawab kalau kos di sini tidak menerima mahasiswa dari luar jawa

1

Wawancara 29 Oktober dengan Imam warga Domas

2

(3)

dengan alasan yaitu belajar dari kos-kosan yang lain kayak di Domas dan Cungkup di sana kan sebagian besar yang sering bikin masalah ya paling anak-anak mahasiswa yang datang dari luar Jawa. Pada bulan yang sama peneliti melakukan wawancara awal dengan salah satu pemilik kos-kosan di daerah Turen di mana sebagian besar penghuninya di dominasi oleh mahasiswa luar Jawa, dalam wawancaranya Pak Dodo mengatakan, saya buka kos-kosan di sini sudah sejak tahun 2007, dan itu yang nge kos di sini pasti selalu ada orang luar Jawa, ada anak Ambon, anak Batak, sama Kalimantan, mereka biasa aja sejauh ini mereka belum pernah buat keributan, baik itu dalam kos maupun di luar kos, mereka paling kalau di kos minum trus sambil nyanyai itu aja yang mungkin menganggu bagi tetangga tapi bagi saya sudah biasa, tapi kalau jam malam saya pasti saya peringati kalau terlalu ribut, mereka juga orangnya sopan-sopan yah tergantung

pribadinya orang sih sebrnarnya”.3

Dari uraian singkat di atas penulis tertarik meneliti terkait dengan bagaimana persepsi Warga Kemiri terhadap sikap dan perilaku mahasiswa asal Papua yang ada di kota Salatiga. Dengan melihat berbagai persepsi yang terjadi dalam masyarakat terkhusus di Salatiga maka penelitian ini di beri judul, “Persepsi Warga Kemiri Terhadap Mahasiswa asal Papua di Kota Salatiga (StudiDeskriptiftentangPersepsiWargaTerhadapSikapdanPerilaku Mahasiswa Asal Papua di Kemiri dalam Konteks Komunikasi Antar Budaya)”

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah, Bagaimana persepsi Warga Kemiri di terhadap sikap dan perilaku mahasiswa asal Papuadi Kota Salatiga?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Merujuk pada rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah,

Untuk menggambarkan persepsi warga Kemiri terhadap sikap dan perilaku mahasiswa asal Papuadi Kota Salatiga

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan mempunyai manfaat sebagai berikut

3

(4)

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan penulis mengenai kehidupan sosial budaya terlebih kepada bagaimana persepsi itu terjadi dalam sebuah masyarakat Secara akademisi, memberikan tambahan ilmu pengetahuan dalam bidang Komunikasi Antarbudaya dalam kajian Ilmu Komunikasi.

2. Manfaat praktis, memberikan pengetahuan dan masukan-masukan kepada setiap orang yang akan melakukan komunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda khususnya budaya Jawa dan Luar Jawa.

1.5. Batasan Penelitian

Untuk memudahkan klarifikasi, maka perlu ditetapkan batas ruang lingkup kajian penelitian. Oleh karena itu, peneliti melakukan pengkajian dalam satu bidang fenomena komunikasi yaitu

1. Subjek penelitian adalah Mahasiswa asal Papua, yang ada di Salatiga. Peneliti menetapkan subjek penelitian karena, berdasarkan fakta di lapangan dan beberapa laporan dari warga bahwa mahasiswa asal Papua sering kali memicu terjadinya keributan karena mereka sering keluar kos-kosan pada saat mabuk, dan juga jika ditegur oleh warga sebagian dari mereka salah pengertian yang pada akhirnya

berujung pada keributan. 4

2. Objek penelitian dalam hal ini adalah warga di sekitar kampus UKSW , yakni, Kemiri, yang mana tempat ini yang sering kali terjadi insiden yang meresahkan warga.

3. Penelitian bersifat analisis deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan situasi secara apa adanya mengenai variabel, gejala atau keadaan yang berkaitan dengan penilaian terhadap variabel tanpa mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka atau metode statistika.

4. Studi yang digunakan adalah emic research yang bertujuan untuk menelaah makna kultural dari “dalam”, analisisnya bersifat idiografik, jadi hasilnya tidak akan dikuantifikasikan dan tidak akan digeneralisasikankepada seluruh masyarakat di wilayah Kota Salatiga.

4

(5)

Referensi

Dokumen terkait

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila

Pada Bulan Oktober mulai terjadi peningkatan curah hujan, hampir sebagian wilayah di Kalimantan Selatan mulai berada dalam kriteria normal dan kriteria kering masih terjadi

Sedangkan pada media online viva.co.id, membingkai berita peristiwa kasus suap korupsi yang terjadi di Mahkamah Konstitusi ini membuktikan bahwa MK memang lembaga negara

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan mewawancarai dosen dan 5 orang mahasiswa pendidikan akuntansi angkatan 2020 Fakultas Ekonomi

Tujuan wawancara yaitu untuk mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati orang lain (S. Subjek yang diajak wawancara oleh peneliti adalah produsen wastra

Resti, dkk (2015) menemukan hasil bahwa arus kas operasi tidak memberikan pengaruh terhadap revaluasi aset tetap, sedangkan peneliti lain menemukan hasil bahwa

Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua UKM Basket Andry Dwi Perkasa pada 12 Oktober 2016 diketahui bahwa hal yang menjadikan kinerja pemain basket Universitas Widyatama

Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Materi Peristiwa Alam Yang Terjadi di Indonesia dan Dampaknya Bagi Makhluk Hidup dan Lingkungan