• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH VARIASI BENTUK LAUK NABATI TERHADAP DAYA TERIMA PADA PASIEN ANAK DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH VARIASI BENTUK LAUK NABATI TERHADAP DAYA TERIMA PADA PASIEN ANAK DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH VARIASI BENTUK LAUK NABATI TERHADAP DAYA

TERIMA PADA PASIEN ANAK DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI

BANTUL

Hilma Ika Muhlisina

1

, Yeni Prawiningdyah

2

, Yeny Sulistyowati

3 INTISARI

Latar belakang : Berdasarkan hasil laporan kegiatan perhitungan comstock yang dilaksanakan oleh bagian instalasi gizi di RSUD Panembahan Senopati Bantul bahwa sisa lauk nabati pada pasien anak adalah 50 %. Dan berdasarkan data yang diperoleh sebelumnya menunjukan bahwa persentasi sisa lauk nabati tinggi dibandingkan dengan nasi, sayur, lauk hewani dan buah. Untuk itu perlu dilakukan variasi bentuk dengan tujuan pasien merasa tidak bosan dengan bentuk monoton lauk nabati yang disajikan dan untuk meningkatkan nafsu makan pasien.

Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak di RSUD Panembahan Senopati Bantul.

Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah experimen dengan rancangan penelitian cross sectional yang artinya pengambilan data dalam waktu yang bersamaan yaitu melalui wawancara dengan pengisian kuesioner. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada bulan Maret 2012 dengan sampel pasien anak. Analisis yang digunakan adalah uji Chi-Square dengan menggunakan program komputer.

Hasil : Analisis Chi-Squre yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menguji signifikasi hubungan antara pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak sebesar p = 0,625, maka tidak ada pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak di RSUD Panembahan Senopati Bantul, artinya pasien yang diberi lauk nabati dengan bentuk binatang dan boneka sama-sama suka.

Kesimpulan dan Saran : Tidak ada hubungan yang bermakna antara pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak.

Kata Kunci : variasi bentuk, lauk nabati, daya terima, pasien anak

1 Mahasiswa Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Respati Yogyakarta

2 Dosen Universitas Gadjah Mada

(2)

2

EFFECTS OF VARIATION OF VEGETAL SIDE DISH FORMS ON THE

ACCEPTANCE OF CHILDREN PATIENTS AT RSUD PANEMBAHAN

SENOPATI BANTUL

Hilma Ika Muhlisina

1

, Yeni Prawiningdyah

2

, Yenny Sulistyowati

3 ABSTRACT

Background: Based on the result report of comstock counting activities conducted by section of nutrition installation at RSUD Panembahan Senopati Bantul showed that there were 50 % leftovers vegetal side dishes; and based on previously acquired data showed that the percentage were higher than the rice, vegetables, dishes from animal products and fruits. For the reasons it needed to varying the forms in order that the patients not get bored with the monotonous vegetal side dishes served and to enhance the patients’ appetite.

Objective: Knowing the effects of variation of vegetal side dish forms on the acceptance of children patients at RSUD Panembahan Senopati Bantul.

Method of research: This research was an experimental research with cross sectional research design, which meant to acquire data by interviews and questionnaire simultaneously. This research was conducted at RSUD Panembahan Senopati Bantul on March 2012 with children patients as samples. Data analyzed with Chi-square test on a computer program.

Results: Ci-square analysis used in identifying and testing the significance of relationship between variations of vegetal side dish forms with acceptance of children patient showing p = 0,625, and from the result then the result were nothing or rejected.

Conclusion and suggestion: There were no significant relationships between effect of vegetal side dish forms on the acceptance of children patients.

Keywords: form variation, vegetal side dishes, acceptance, children patients

1 Student of S1 Nutrition Science at Respati University Yogyakarta 2

Lecturer at Gadjah Mada University 3

(3)

3

PENDAHULUAN

Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan keadaan pasien dan berdasarkan keadaan klinis, status gizi dan status metabolisme tubuhnya.1

Makanan, selain mengandung nilai terapi juga mempunyai nilai ekonomi yang cukup besar dalam pembiayaan rumah sakit sehingga perlu dikelola secara efisien dan efektif.2 Menurut3 jenis kelamin, tingkat pendidikan, kelompok umur dan cita rasa pasien juga mempengaruhi seseorang dalam memilih makanan yang dikonsumsi.

Menurut 4 dalam penelitiannya tentang penerapan Continous Quality Improvement (CQI) pada pelayanan gizi

klinik pasien rawat inap di RSU Cibabat Cimahi, menunjukkan bahwa sisa makanan untuk lauk nabati paling tinggi yaitu 35,3% dibandingkan dengan sayur 30,8%, nasi 27,4% dan buah 19,4%.

Menurut3 dalam penelitiannya tentang Analisis Zat Gizi Dan Biaya Sisa Makanan Pada Pasien Dengan Makanan Biasa di RS Dr. Sarjito Yogyakarta, bahwa sisa makanan lauk nabati di RS Dr. Sarjito Yogyakarta adalah 63,89 %.

Sisa makanan (Waste) yaitu bahan makanan yang hilang karena tidak dapat diolah atau tercecer dan berarti palate waste yaitu makanan yang terbuang karena setelah disajikan tidak habis dikonsumsi. Data sisa makanan umumnya digunakan untuk mengevaluasi efektifitas program penyuluhan gizi, penyelenggaraan dan pelayanan

makanan, serta kecukupan konsumsi makanan pada kelompok atau perorangan.3

Berdasarkan hasil laporan kegiatan perhitungan comstock yang dilaksanakan oleh bagian instalasi gizi di RSUD Panembahan Senopati Bantul bahwa sisa lauk nabati pada pasien anak adalah 50 %. Untuk itu perlu dilakukan variasi bentuk dengan tujuan pasien merasa tidak bosan dengan bentuk monoton lauk nabati yang disajikan dan untuk meningkatkan nafsu makan pasien. Variasi bentuk adalah pengembangan bentuk makanan

menjadi berbagai macam bentuk.5

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah experimen dengan rancangan penelitian cross sectional yang artinya pengambilan data dalam waktu yang bersamaan yaitu melalui wawancara dengan pengisian kuesionar.

Lokasi penelitian dilakukan di bangsal anak RSUD Panembahan Senopati Bantul dengan jumlah sampel 44 orang, penelitian berlangsung dari bulan Maret-April 2012.

Jenis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data dengan subyek menandatangani surat kesedian menjadi responden, peneliti memberikan kuesioner dan responden mengisi.

(4)

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Karakteristik Responden

Responden pada penelitian ini adalah semua pasien anak yang berusia ≥ 5 tahun dan bersedia menjadi responden. Selama pelaksanaan penelitian didapat responden sebanyak 44 orang yang memenuhi kriteria. Dibawah ini terdapat tabel karakteristik responden berdasarkan umur dan jenis kelamin yaitu :

Tabel 2. Karakteristik Responden berdasarkan jenis kelamin dan umur

Karakteristik n % Jenis kelamin Pria Wanita 25 19 56,8 43,2 Total 44 100,0 Umur 5-7 tahun 8-10 tahun >10 tahun 28 11 5 63,6 25,0 11,4 Total 44 100,0

Sumber: Data primer diolah, 2012.

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa 25 orang (56,8%) berjenis kelamin pria dan sisanya 19 orang (43,2%) adalah wanita, sedangkan berdasarkan umur yang berumur antara 5-7 tahun adalah sebanyak 28 orang (63,6%), umur 8-10 tahun sebanyak 11 orang (25,0%), sedangkan yang berumur >10 tahun sebanyak 5 orang (11,4 %).

Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah responden yang diteliti adalah 44 orang dan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (56,8%), sedangkan berdasarkan umur dengan rentan umur antara 5-7 tahun sebanyak (63,6%).

2. Penilaian Responden Terhadap Variasi Bentuk

Tabel.3 Penilaian responden terhadap variasi bentuk

Variasi Bentuk n %

Binatang 25 56,8

Boneka 19 43,2

Total 44 100

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 3 bentuk binatang banyak disukai dengan jumlah (56,8%) dibandingan dengan bentuk boneka (43,2%).

Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk variasi bentuk lauk nabati yang paling banyak disukai adalah bentuk binatang (25 orang), dibandingkan dengan bentuk boneka (19 orang). Hasil penelitian ini didukung oleh

Susanti (2009)6 tentang “Pengaruh pemberian bubur tempe modifikasi terhadap asupan makan, lama rawat inap,

Frekuensi dan durasi diare pada pasien diare rawat inap anak di RSUD Wirosaban Yogyakarta “ dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa (58,3%) suka terhadap modifikasi yang dilakukan dibandingkan dengan menu dari rumah sakit. Hal ini disebabkan karena dilakukannya variasi bentuk dengan tujuan untuk

(5)

5

menghindari kebosanan pada anak dengan menu yang disajikan, dan meningkatkan selera makan. Selain bentuk yang unik, warna yang menarik juga harus diperhatikan aroma dan rasa makanan itu sendiri (Anggarani, 2011). 3. Penilaian Responden Terhadap Rasa Lauk Nabati

Tabel 4. Penilaian responden terhadap rasa lauk nabati

Rasa lauk nabati n %

Suka Tidak suka 36 8 81,8 18,2 Total 44 100

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 4 yang suka terhadap variasi bentuk lauk nabati lebih banyak (81,8%) dibandingkan yang tidak suka (18,2%).

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari segi rasa yang suka sebanyak (81,8%) dan yang tidak suka

sebanyak (18,2%). Hasil penelitian ini didukung oleh Juariah (2007)7 tentang “Faktor-faktor yang

mempengaruhi sisa makanan biasa pada pasien kelas III rawat inap di RSUD DR. SOEDARSO PONTIANAK” dimana hasil penelitiannya penunjukkan bahwa (55,6%) suka terhadap rasa lauk nabati. Rasa makanan ditimbulkan karena terjadinya rangsangan terhadap berbagai indera dalam tubuh manusia, terutama indera penglihatan, indera penciuman dan indera pengecap. Makanan yang memiliki cita rasa tinggi adalah makanan yang disajikan dengan menarik, menyebarkan bau yang sedap, dan memberikan rasa yang lezat sehingga memuaskan bagi yang memakannya. Tingkat penerimaan rasa yang baik tergantung pada teknik pemasakannya, sedangkan untuk tingkat penerimaan yang rendah dapat dipengaruhi oleh tidak selera makan, sakit, dan pola makan pasien dirumah yang tidak terbiasa mengkonsumsi lauk nabati. Pasien dalam keadaan sakit akan terjadi penurunan nafsu makan, begitu pula dengan pasien anak yang kesehariannya anak terlihat aktif, riang, cerewet, maka pada saat sakit mereka akan terlihat malas-malasan, rewel dan pendiam.

4. Penilaian Responden Terhadap Penampilan Lauk Nabati Tabel 5. Penilaian responden terhadap penampilan lauk nabati

Penampilan lauk nabati n %

Suka Tidak suka 20 24 45,5 54,5 Total 44 100,0

Sumber : Data primer diolah, 2012.

Berdasarkan tabel 5 yang suka penampilan variasi bentuk lauk nabati lebih sedikit (45,5%) dibandingkan dengan yang tidak suka (54,5%).

Hasil analisis menunjukkan dari segi penampilan yang suka terhadap penampilan variasi bentuk lauk nabati sebanyak (45,5%) dan yang tidak suka (54,5%). Penampilan makanan yang menarik akan meningkatkan selera makan pasien dalam mengkonsumsi makanan yang dihidangkan oleh rumah sakit. Penampilan makanan ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: warna, tekstur, bentuk, porsi, penyajian.

(6)

6

5. Penilaian Responden Terhadap Warna Lauk Nabati Tabel 6. Penilaian responden terhadap warna lauk nabati

Warna lauk nabati n %

Suka Tidak suka 38 6 86,4 13,6 Total 44 100,0

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 6 yang menyukai warna dari variasi bentuk lauk nabati lebih banyak (86,4%) dibandingkan dengan yang tidak suka (13,6%).

Hasil analisis menunjukkan dari segi warna variasi bentuk lauk nabati yang suka sebanyak (86,4%) dan yang tidak suka (13,6%). Warna makanan memegang peranan utama dalam penampilan makanan. Warna daging yang sudah berubah menjadi coklat kehitaman, sayuran yang sudah berubah menjadin pucat akan menjadi sangat tidak menarik dan menghilangkan selera makan.

6. Penilaian Responden Terhadap Porsi Lauk Nabati

Tabel 7. Penilaian responden terhadap porsi lauk nabati

Porsi lauk nabati n %

Suka Tidak suka 37 7 84,1 15,9 Total 44 100,0

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 7 yang menyukai porsi dari variasi bentuk lauk nabati lebih banyak (84,1%) dibandingkan dengan yang tidak suka (15,9%).

Hasil analisis dari segi porsi yang suka (86,1%) dan yang tidak suka (15,9%). Pentingnya porsi makanan bukan saja berkenan dengna penampilan makanan, waktu yang disajikan, perencanaan dan perhitungan pemakaian bahan.

7. Penilaian Responden Terhadap Tekstur Lauk Nabati

Tabel 8. Penilaian responden terhadap tekstur lauk nabati

Tekstur lauk nabati N %

Suka Tidak suka 40 4 90,9 9,1 Total 44 100,0

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 8 yang menyukai tekstur dari variasi bentuk lauk nabati lebih banyak (90,9%) dibandingkan yang tidak suka (9,1%).

Hasil analisis menunjukkan untuk segi tekstur yang suka sebanyak (90,9%) dan yang tidak suka sebanyak (9,1%).

Tekstur makana juga merupakan komponen yang turut menentukan cita rasa makanan karena sensitivitas indera cita rasa dipengaruhi oleh konsistensi makanan.

(7)

7

8. Penilaian Responden Terhadap Temperatur/Suhu Lauk Nabati

Tabel 9. Penilaian responden terhadap temperatur/suhu lauk nabati

Kehangatan lauk nabati n %

Suka Tidak suka 33 11 75,0 25,0 Total 44 100,0

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 9 yang menyukai suhu atau temperatur dari variasi bentuk lauk nabati lebih banyak (75,0%) dibandingkan dengan yang tidak suka (25,0%).

Hasil analisis menunjukkan untuk segi temperatur, suhu atau tingkat kehangatan yang suka sebanyak (75,0%) dan yang tidak suka (25,0%). Temperatur makanan, waktu yang disajikan memegang peranan penting dalam menentukan cita rasa makanan.

9. Penilaian Responden Terhadap Daya terima Variasi Bentuk Lauk Nabati

Di bawah ini terdapat tabel hasil daya terima variasi bentuk lauk nabati Tabel 10. Penilaian responden terhadap daya terima variasi bentuk lauk nabati

Daya terima lauk nabati n %

Baik < 25% Kurang > 25% 25 19 56,8 43,2 Total 44 100,0

Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 10 untuk daya terima variasi bentuk lauk nabati yang dilihat dari sisa makanan menunjukan yang baik < 25% sebanyak 25 orang (56,8%), dan yang kurang >25% ada 19 orang (43,2%).

Pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak yang dilihat dari sisa makanan, untuk bentuk binatang yang baik <25% sebanyak 15 pasien dan yang kurang >25% 10 pasien, sedangkan untuk bentuk boneka yang sisa makanannya baik <25% 10 pasien dan yang kurang >25% sebanyak 9 pasien. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sisa lauk nabati itu banyak dan sedikit, untuk yang sisanya banyak disebabkan karena menurut pasien lauk nabati itu tidak enak dan rasanya aneh , jadi pasien lebih tertarik pada lauk hewani dan persepsi seperti itu menurut pasien bukan karena lauk nabati yang berada di rumah sakit saja tetapi dirumah pun demikian, kemudian alasan yang kedua karena faktor stres yang disebabkan oleh sakit jadi semua makanan yang disajikan di rumah sakit hanya dimakan sedikit sekali. Untuk yang sisanya sedikit, pasien beranggapan kalau kita makannya banyak berarti pasien akan cepat sembuh dan cepat pulang dari rumah sakit.

(8)

8

10. Daya Terima Variasi Bentuk Lauk Nabati Yang Di Lihat Dari Sisa Makanan

Tabel 11. Daya terima variasi bentuk lauk nabati yang di lihat dari sisa makanan Variasi

Bentuk

Sisa makanan Total P

Baik <25% Kurang > 25% n % N % n % Binatang Boneka 15 10 60 40 10 9 52.63 47.37 25 19 56.82 43.18 0,625 Total 25 100 19 100 44 100 Sumber : Data primer diolah, 2012

Berdasarkan tabel 11 menunjukkan hasil uji statistik menggunakan Chi-Square P = 0,625 maka tidak ada pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak di RSUD Panembahan Senopati Bantul, artinya pasien yang diberi lauk nabati dengan bentuk binatang dan boneka sama-sama suka.

KESIMPULAN

1. Variasi bentuk lauk nabati yang paling disukai adalah bentuk binatang (25 orang) dibandingkan bentuk boneka (19 orang)

2. Daya terima dari segi rasa yang suka sebanyak 36 pasien (81,8%) yang tidak suka 8 pasien (18,2%), penampilan yang suka sebanyak 20 pasien (45,5%) yang tidak suka 24 pasien (54,5%), warna yang suka sebanyak 38 pasien (86,4%) yang tidak suka 6 pasien (13,6%), porsi yang suka sebanyak 37 pasien (84,1%) yang tidak suka 7 pasien (15,9%), tekstur yang suka sebanyak 40 pasien (90,9%) yang tidak suka 4 pasien (9,1%), dan kehangatan yang suka sebanyak 33 pasien (75,0%) yang tidak suka sebanyak 11 pasien (25,0%)

3. Pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak dengan analisis Chi-Squre sebesar p = 0,625, maka tidak ada pengaruh variasi bentuk lauk nabati terhadap daya terima pada pasien anak di RSUD Panembahan Senopati Bantul, artinya pasien yang diberi lauk nabati dengan bentuk binatang dan boneka sama-sama suka

SARAN

1. Bagi Rumah Sakit

Sebagai pertimbangan bagi pengelola Instalasi Gizi di RS untuk menerapkan variasi bentuk lauk nabati pada pasien anak.

2. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman yang akan digunakan sebagai masukan di Instansi (rumah sakit) saat bekerja nanti, pada pasien anak.

3. Bagi Peneliti Lainnya

Dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan dan literatur penelitian bagi peneliti yang akan melakukan penelitian sejenis.

(9)

9

DAFTAR PUSTAKA

1.

Depkes RI. 2006. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit Cetakan ketiga. Jakarta : Direktorat Bina Kesehatan

Masyarakat.

2.

Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

3.

Djamaluddin, Mihir. 2002 Analisis Zat Gizi dan Biaya Zat Gizi Pada Paien Dengan Makanan Biasa Di Rumah

Sakit Dr Sardjito Yogyakata. Tesis. Program Pascasarjana UGM Yogyakarta.

4.

Soenardi, Tuti. 2005. Makanan Selingan Balita. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

5.

Widiastuty, Yuni. 2005. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sisa Makanan Nabati Dan Analisis Biaya Sisa Makanan Nabati Pasien Di RSUD Kota Yogya. Skripsi. Program Sarjana UGM Yogyakarta.

6.

Susanti, Erna 2009. .Pengaruh Pemberian Bubur Tempe Modifikasi Terhadap Asupan Makan, Lama Rawat Inap, Frekuensi Dan Durasi Diare Pada Pasien Diare Rawat Inap Anak Di RSUD Wirosaban Yogyakarta. Skripsi. Program Sarjana UGM Yogyakarta.

7.

Juariah, J. 2007 .Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sisa Makanan Biasa Pada Pasien Kelas III Rawat Inap RSUD Dr. Soedarso Pontianak. Skripsi. Program Sarjana UGM Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya website ini diharapkan menjadi media informasi yang tepat untuk mencari informasi yang tidak terbatas oleh waktu, tidak terbatas oleh tempat dan secara cepat. Bahasan

Atas partisipasinya dalam penyelenggaraan lljian Tulis seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (sNMprN) universitas. Negeri Yogyakarta Tahun 2009, sebagai

 Lima dari tujuh kelompok pengeluaran yang ada mengalami kenaikan indeks, yakni berturut-turut: kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,19 persen;

Hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar % setelah diberi tindakan yaitu pembelajaran melalui media power Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan oleh guru dan

Objek yang dijadikan penelitian adalah busana Besutan Jombang yang didalamnya akan dikaji tentang busana Besutan Jombang ditinjau dari busana pokok dan pelengkap sesuai

sehingga termotivasi meningkatkan status kesehatannya, (b) Membuat pasien kanker dan keluarga di Yayasan Kanker Indonesia Cabang Jawa Timur agar lebih produktif

Konteks yang terdapat pada iklan dengan kata クエッ kue serta tampilan gambar yang saling berhubungan pada iklan tersebut memiliki implikatur yang ingin disampaikan bahwa

Karena terdapat peningkatan hasil belajar Siswa pada kelas yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran PBL ( Problem Base Learning ) dengan media gambar