ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN
TANAH DI INDONESIA: 2009-2019
ANALYSIS OF LAND USE CHANGES
IN INDONESIA: 2009-2019
Donna Savitri
1, Andri Supriatna
2 12Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Jakarta, Indonesia Koresponden E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Luas tanah pada dasarnya relatif tetap, sehingga ketersediaan tanah terbatas. Di samping itu, setiap bidang tanah mempunyai karakteristik yang beragam dan saling berhubungan pada sebuah lanskap, sehingga kemampuan tanah dalam mendukung kehidupan sangat beragam dan terbatas. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat mendorong peningkatan kebutuhan tanah untuk pembangunan pemukiman, pertanian, dan kebutuhan lainnya. Peningkatan kebutuhan tanah ini berdampak pada penggunaan dan pemanfaatan tanah yang tidak sesuai dengan rencana peruntukannya, sehingga menyebabkan ketidakteraturan. Kebutuhan akan tanah bersifat dinamis yang dipengaruhi oleh kebutuhan manusia dan pembangunan. Untuk itu, dalam perencanaan pembangunan yang dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah perlu mengidentifikasi penggunaan tanah eksisting serta perubahannya, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan tanah untuk pembangunan sebagai bentuk ketersediaan atas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi ketersediaan tanah yang merupakan perimbangan antara penguasaan, pemilikan, dan penggunaan dan pemanfaatan tanah pada rencana peruntukan tata ruang wilayah (fungsi kawasan) yang memberikan gambaran peluang dan kendala dalam pembangunan. Dalam penelitian ini, penggunaan tanah dan perubahannya dibandingkan dalam rentang waktu 10 tahun (2009 - 2019) dan digunakan sebagai dasar dalam analisis ketersediaan tanah. Metode penelitian yang digunakan merupakan hasil analisis data spasial dan tabular yang bersumber dari laporan di setiap daerah (Kantor Pertanahan dan Kantor Wilayah BPN) tahun 2009 dan 2019. Data-data tersebut diotomasi dan dikonversi ke dalam bentuk data digital sesuai persyaratan aplikasi yang dibangun. Secara umum, kaidah konversi data (otomasi data) akan menggunakan metode-metode; digitasi, scanning, Coordinate Geometry
(COGO), generate, entry data atribut dan tabular.
Kata kunci : Tanah, Penggunaan Tanah, Perubahan Penggunaan Tanah
ABSTRACT
The land area is relatively fixed, so the availability of land is limited. In addition, each plot of land has diverse and interconnected characteristics in the landscape so that the ability of the soil to support life is very diverse and limited. Population growth that continues to increase encourages an increase in the need for land for residential development, agriculture, and other needs. This increase in land demand has an impact on the use and utilization of land that is not by following by under the designation plan, causing irregularities. The need for land is dynamic which is influenced by human needs and development. Therefore, in the development planning, as outlined in the Regional Spatial Plan, it is necessary to identify the use of existing land and its changes so that it can accommodate the need for land for development as a form of land availability. This research aims to provide land availability resulted from scale analysis of possession, use and exploitation of land in any designated spatial planning. This analysis depicts potential use and obstacle for development. In this study, land use and its changes were compared over 10 years (2009 - 2019) and used as the basis for the analysis of land availability. The research method used is the result of analysis of spatial and tabular data sourced from reports in each region (Land Office and BPN Regional Office) in
2009 and 2019. The data is automated and converted into digital data according to the requirements of the application being built. The data is converted into digital and the conversion of data encompasses digitation, scanning, Coordinate Geometry (COGO), generalization, attribute, and tabular data entry.
Kata kunci : Land, Land Use, Land Use Change
I. PENDAHULUAN
Kehidupan manusia terkait erat dengan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sebagai sumber daya agraria. Eratnya kehidupan manusia dengan tanah pada ruang yang dipahami sebagai lahan menjadikan manusia tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada lahan tersebut. Definisi tanah menurut UU No. 5 Tahun 1960 merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia yang dikuasai oleh Negara yang bertujuan untuk kepentingan hidup orang banyak baik yang telah dikuasai atau dimiliki oleh seseorang maupun sekelompok orang. Menurut Barlowe (1986), tanah memiliki pengertian sebagai salah satu aspek penentu yang dapat mempengaruhi persebaran penggunaan lahan. Menurut Dass (1995), berkaitan dengan fungsinya sebagai sumber hara, tanah merupakan faktor fisik sering mengalami perubahan agar penggunaan tanah dapat digunakan secara maksimal. Hal ini dapat diketahui bahwa tanah dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan pemanfaatan yang akan digunakan. Saat ini, tanah menjadi suatu komponen penting bagi keberlangsungan hidup setiap manusia.
Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang pesat menyebabkan bertambahnya kebutuhan masyarakat akan lahan, seringkali mengakibatkan benturan kepentingan atas penggunaan lahan, serta terjadinya ketidaksesuaian antara penggunaan lahan dengan rencana peruntukannya (Khadiyanto, 2005). Sedangkan, lahan itu sendiri bersifat terbatas dan tidak bisa ditambah kecuali dengan kegiatan reklamasi (Sujarto, 1985). Hal ini menyebabkan penggunaan tanah kurang memperhatikan kelestariannya. Perkembangan penggunaan tanah berkaitan erat dengan berkembangnya kebutuhan manusia dan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi oleh negara maju maupun negara berkembang (Foley dkk., 2005). Penggunaan tanah berkaitan dengan aspek dari pemanfataan tanah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Sandy (1985), penggunaan tanah merupakan suatu parameter yang dapat
merepresentasikan aktivitas masyarakat di tempat. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tanah sebagai suatu bentuk akhir dari intervensi manusia di permukaan bumi yang bersifat dinamis yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup (Arsyad, 1989).
Penataan ruang yang sudah diamanatkan melalui Peraturan Undang-Undang bertujuan untuk memberikan arahan kegiatan pembangunan maupun sebagai tindakan terhadap perkembangan wilayah yang tidak teratur (Sutaryono, 2007). Namun demikian, pembangunan wilayah yang dilakukan dapat menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan tanah (Lisdiyono, 2004). Dengan demikian, dapat diketahui saat ini keterbatasan sumber daya dikesampingkan untuk alasan peningkatan kualitas hidup manusia.
Alih fungsi tanah atau perubahan penggunaan tanah, pada dasarnya tidak dapat dihindarkan dalam pelaksanaan pembangunan (Lisdiyono, 2004). Alih fungsi tanah pertanian merupakan tanah pertanian yang beralih fungsi dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. Dengan kata lain, tanah tersebut yang tadinya digunakan untuk kegiatan pertanian beralih fungsi digunakan menjadi kegiatan pembangunan seperti pembangunan pabrik, gedung, perumahan, maupun infrastruktur lainnya (Mustopa, 2011). Terkait dengan penggunaan tanahnya, daerah pinggiran merupakan wilayah yang banyak mengalami perubahan penggunaan tanah terutama perubahan penggunaan tanah pertanian menjadi non-pertanian yang disebabkan adanya pengaruh perkembangan kota di dekatnya (Rahayu, 2009). Penurunan luas tanah pertanian di wilayah ini perlu mendapat perhatian khusus mengingat hal ini akan membawa dampak negatif terhadap kehidupan kekotaan maupun kehidupan kedesaan. Mengingat wilayah ini merupakan wilayah yang akan berubah menjadi kota sepenuhnya di masa mendatang, maka perlu komitmen dari penentu kebijakan untuk mengelola dan menata agar menjadi kota yang ideal sesuai dengan konsep kota yang berkelanjutan (Yunus, 2008).
Dalam kajian tentang perubahan penggunaan tanah di Pulau Jawa (Verburg et al., 1999), menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk yang sangat cepat berakibat pada perluasan areal dan intensifikasi pertanian di Pulau Jawa. Kajiannya tersebut juga menduga pola perubahan penggunaan tanah pada periode 1994-2010 dan menunjukkan bahwa perubahan penggunaan tanah akan intensif terutama di wilayah dataran rendah. Dalam kajian lain, menjelaskan bahwa perubahan penggunaan tanah juga disebabkan oleh dorongan bisnis properti atau untuk kepentingan bisnis, sehingga mendorong para investor untuk mengubah tutupan lahan dari penggunaan tanah pertanian menjadi non-pertanian. Munculnya pembangunan properti seringkali disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk perkotaan yang meningkat.
Di sisi lain, ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Untuk meningkatkan efisiensi pada kerterbatasan tersebut, perlu dilakukan optimalisasi. Optimalisasi tersebut berupa penggunaan lahan dengan mendirikan sebuah properti yang dapat memberikan keuntungan, sehingga nilai pasar dari suatu lahan menjadi tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Budiharjo,1993), bahwa pertambahan penduduk kota yang drastis baik secara alami maupun migrasi harus dapat diimbangi dengan perkembangan dan pertumbuhan kota yang dinamis, yang biasanya selalu dikuti dengan perubahan penggunaan tanah. Perubahan guna lahan dapat terjadi karena faktor yang dominan dalam mempengaruhinya.
Terkait dengan faktor dominan yang mempengaruhi perubahan penggunaan tanah, Cullingswoth (1997), mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan, khususnya di perkotaan, yakni:
1. Adanya konsentrasi penduduk dengan segala aktivitasnya;
2. Aksesibilitas terhadap pusat kegiatan dan pusat kota;
3. Jaringan jalan dan sarana transportasi;
4. Orbitasi, yakni jarak yang menghubungkan suatu wilayah dengan pusat-pusat pelayanan yang lebih tinggi.
Seiring dengan faktor di atas, Chapin (1979) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan yaitu topografi, penduduk, nilai lahan, aksesbilitas, sarana dan prasarana, serta daya dukung lingkungan. Perubahan penggunaan lahan dapat timbul dari suatu aktivitas manusia dengan segala macam bentuk aktivitasnya pada ruang yang menyebabkan perubahan lahan suatu kota yang meliputi Bintarto (1989):
1. Proses Perubahan Perkembangan (Development Change)
Perubahan yang terjadi tanpa memerlukan suatu perpindahan karena masih terdapat ru-ang dan fasilitas-fasilitas yru-ang ada pada tempat tersebut;
2. Proses Perubahan Lokasi (Locational Change) Perubahan yang mengakibatkan perpindahan sejumlah penduduk ke daerah lain karena suatu tempat tidak mampu menangani suatu masalah serta sumber daya yang ada ditempat tersebut; 3. Proses Perubahan Perilaku (Behavioral
Change)
Pada proses perubahan ini karena adanya perkembangan yang terjadi sehingga sebagian besar penduduknya berusaha untuk mengubah perilaku untuk dapat menyesuaikan dengan pe-rubahan yang ada.
II. METODE
Dalam penelitian ini, jenis data yang digunakan merupakan data spasial dan tabular. Data tersebut berasal dari laporan di setiap daerah (Kantor Pertanahan dan Kantor Wilayah BPN) tahun 2009 dan 2019. Selain itu, pelaksanaan pengumpulan data dilakukan dengan meninjau sumber data sekunder sebagai informasi tambahan.
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2020 Gambar 1 Metode Penelitian
Dengan berkembangnya teknologi komputer digital, maka semua bentuk sajian data, termasuk data keruangan (spasial) dapat disajikan dalam format digital (format yang dapat diolah oleh komputer digital). Data spasial digital ini dapat disimpan, diolah, dimanipulasikan, serta diintegrasikan dengan data lain secara digital oleh komputer atas perintah pemakai komputer tersebut. Integrasi data spasial dan tekstual dilakukan pada skala peta 1 berbanding 100.000 dengan jenis data yang digunakan antara lain data penggunaan tanah yang berasal dari laporan di setiap daerah (Kantor Pertanahan dan Kantor Wilayah BPN) tahun 2009 dan 2019, Kebijakan Satu Peta (KSP), dan Peta Rupa Bumi (Badan Infromasi Geospasial/BIG) berupa data/ peta wilayah administrasi provinsi, data penggunaan tanah tahun 2009, dan data penggunaan tanah tahun 2019. Data-data tersebut harus diotomasi dan dikonversi ke dalam bentuk data digital sesuai persyaratan aplikasi yang akan dibangun. Secara umum kaidah konversi data (otomasi data) akan menggunakan metode-metode; digitasi, scanning,
Coordinate Geometry (COGO), generate, entry data
atribut dan tabular.
Kemudian, data-data yang didapat disusun dan diolah dengan cara pembuatan tabel agar lebih mudah saat data disajikan dalam bentuk spasial dan diinterpretasikan melalui peta hasil. Setelah selesai melakukan pengolahan data, langkah selanjutnya adalah proses analisis data. Penelitian
ini menggunakan analisis secara spasial deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematik, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diteliti. Analisis spasial deskriptif digunakan untuk menceritakan keterkaitan antarvariabel sehingga peneliti dapat mengetahui perubahan penggunaan tanah melalui hasil analisa data penggunaan tanah tahun 2009 dengan data penggunaan tahun 2019. Pada tahap hasil, peneliti dapat memvisualisasikan hasil penelitian dengan peta, sehingga lebih mudah dalam menjelaskan hasil penelitian.
III. HASIL ANALISIS DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil Analisis
1. Analisis Penggunaan Tanah 2009
Berdasarkan pengolahan data, tanpa mem-perhatikan kawasan industri dapat diketahui bahwa penggunaan tanah nasional tahun 2009 memiliki luas sebesar 187.259.669,74 Ha. Hutan memiliki luas paling dominan sebesar 102.180.581,76 Ha (54,57%). Lalu diikuti den-gan penggunaan tanah pertanian tanah kering semusim dengan luas sebesar 20.377.609,67 Ha (10,88%) dan padang memiliki luas sebe-sar 19.599.059,31 Ha (10,47%). Selain itu, untuk penggunaan tanah yang paling minim terdapat di pertambangan dengan luas sebe-sar 373.142,60 Ha (0,20%). Untuk lebih lengka-pnya dijelaskan melalui tabel dan grafik berikut: Tabel 1 Penggunaan Tanah Tahun 2009
Penggunaan
Tanah Luas (Ha) Persentase
Hutan 102.180.581,76 54,57% Kebun 16.948.268,65 9,05% Padang 19.599.059,31 10,47% Perairan Darat 5.068.970,97 2,71% Perkebunan 7.961.644,20 4,25% Permukiman 3.544.689,59 1,89% Persawahan 6.335.855,00 3,38% Pertambangan 373.142,60 0,20% Pertanian Tanah Kering Semusim 20.377.609,67 10,88% Tanah Terbuka 4.869.847,98 2,60%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2020
Gambar 2 Presentase Penggunaan Tanah Tahun 2009 Dalam melakukan analisis pada tahun 2010, tidak mencari perubahan penggunaan tanah, melainkan hanya mengetahui total luas keselu-ruhan, luas dominan atau minimal serta pen-ingkatan maupun penurunan dari jenis peng-gunaan tanah.
2. Analisis Penggunaan Tanah 2019
Penggunaan tanah nasional tahun 2019 memiliki luas sebesar 189.703.465,90 Ha. Hutan memiliki luas paling dominan 93.260.712,51 Ha (49,16%). Lalu diikuti den-gan penggunaan tanah perkebunan memi-liki luas sebesar 21.641.334,56 Ha (11,41%). Dapat diketahui bahwa perkebunan menjadi luas terbesar kedua setelah hutan. Selain itu, penggunaan tanah dominan lainnya, yaitu ke-bun memiliki luas sebesar 18.105.862,26 Ha (9,54%). Selanjutnya, penggunaan tanah yang paling minim terdapat di industri yang memiliki luas 53.899,72 (0,03%). Lebih lanjut tertera pada tabel dan grafik berikut:
Tabel 2 Penggunaan Tanah Tahun 2019 Penggunaan
Tanah Luas (Ha) Persentase
Hutan 93.260.712,51 49,16% Industri 53.899,72 0,03% Kebun 18.105.862,26 9,54% Padang 19.923.211,39 10,50% Perairan Darat 5.394.310,82 2,81% Perkebunan 21.641.334,56 11,41% Permukiman 4.829.614,09 2,55% Persawahan 7.107.028,19 3,75% Penggunaan
Tanah Luas (Ha) Persentase
Pertambangan 552.882,13 0,29%
Pertanian Tanah
Kering Semusim 16.534.539,70 8,72%
Tanah Terbuka 2.368.304,34 1,25%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2020
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2020
Gambar 3 Presentase Penggunaan Tanah Tahun 2019 3. Perubahan Penggunaan Tanah Menurut Jenis
Penggunaan Tanah
Alih fungsi tanah dalam arti perubahan peng-gunaan tanah, pada dasarnya tidak dapat di-hindarkan dalam pelaksanaan pembangunan yang mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan tanah. Berikut perubahan peng-gunaan tanah menurut jenis pengpeng-gunaan tan-ahnya berdasarkan hasil analisis, yaitu: a. Penggunaan Tanah berupa Hutan
Penggunaan tanah berupa hutan tahun 2009 memiliki luas sebesar 102.180.581,76 Ha (54,57%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah hutan paling dominan ialah Provinsi Pap-ua selPap-uas 25.461.483,16 Ha. Selain itu, pada ta-hun 2019 memiliki luas sebesar 93.260.712,51 Ha (49,16%). Provinsi yang memiliki penggu-naan tanah hutan paling dominan ialah Provinsi Papua seluas 21.194.560,67 Ha. Menurut Ke-menterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, dari segi geografis Provinsi Papua didomi-nasi oleh hutan sekitar 67% dibandingkan total luas keseluruhan.
b. Penggunaan Tanah berupa Industri
Terdapat keterbatasan data dan informasi, pada tahun 2009 tidak tersedia data penggunaan tanah berupa industri. Sementara itu, penggu-naan tanah berupa industri pada tahun 2019 memiliki luas 53.899,72 Ha (0,03%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah industri pal-ing dominan ialah Provinsi Jawa Barat seluas 21.209,80 Ha. Menurut Kementerian Perin-dustrian RI, dengan adanya pertumbuhan sek-tor perindustrian Provinsi Jawa Barat menjadi menjadi penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2014 ketiga terbesar atau mencapai 14,07 persen, setelah DKI Jakarta (16,40 persen), dan Jawa Timur (14,88 persen). c. Penggunaan Tanah berupa Kebun
Pada tahun 2009, kebun memiliki luas sebesar 16.948.268,65 Ha (9,05%). Provinsi yang me-miliki penggunaan tanah kebun paling dominan terdapat di Provinsi Kalimantan Barat seluas 5.237.350,55 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 kebun memiliki luas sebesar 18.105.862,26 Ha (9,54%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah kebun paling dominan tetap terdapat di Provinsi Kalimantan Barat seluas 4.300.392,04 Ha. Hal ini diperkuat berdasarkan Badan Lit-bang Pertanian (2012), bahwa Kalimantan Barat mempunyai potensi yang cukup besar di sektor pertanian.
d. Penggunaan Tanah berupa Padang
Penggunaan tanah berupa padang pada ta-hun 2009 memiliki luas sebesar 19.599.059,31 Ha (10,47%). Provinsi yang memiliki penggu-naan tanah padang paling dominan terdapat di Provinsi Kalimantan Timur seluas 4.094.088,01 Ha. Sedangkan pada tahun 2019 padang me-miliki luas sebesar 19.923.211,39 Ha (10,50%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah pa-dang paling dominan terdapat di Provinsi Pap-ua selPap-uas 3.368.034,69 Ha. Berdasarkan laman portal penghubung Provinsi Papua, keadaan topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipadati dengan hutan tropis, padang rumput, dan lembah dengan alang-alangnya.
e. Penggunaan Tanah berupa Perairan Darat
Pada tahun 2009, perairan darat memiliki luas sebesar 5.068.970,97 Ha (2,71%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah perairan darat paling dominan terdapat di Provinsi Pap-ua selPap-uas 1.129.320,64 Ha. Selain itu, pada ta-hun 2019 perairan darat memiliki luas sebesar 5.326.077,02 Ha (2,81%). Melalui laman portal penghubung Provinsi Papua, selain memiliki predikat provinsi terluas di Indonesia, Papua juga memiliki hamparan perairan darat yang luas.
f. Penggunaan Tanah berupa Perkebunan Penggunaan tanah berupa perkebunan tahun 2009 mempunyai luas sebesar 7.961.644,20 Ha (4,25%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah perkebunan paling dominan terdapat di Provinsi Riau seluas 2.275.879,02 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 perkebunan memiliki luas sebesar 21.641.334,56 Ha (11,41%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah perkebunan paling dominan terdapat di Provinsi Riau seluas 4.989.304,98 Ha. Menurut BPS (2019), Provin-si Riau merupakan provinProvin-si yang memiliki luas perkebunan paling dominan dengan kelapa sa-wit sebagai tanaman paling utama sebesar 2,8 juta hektar.
g. Penggunaan Tanah berupa Permukiman Penggunaan tanah berupa permukiman tahun 2009 memiliki luas sebesar 3.544.689,59 Ha (1,89%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah permukiman paling dominan terdapat di Provinsi Jawa Tengah seluas 429.854,15 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 4.829.614,09 Ha (2,55%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah permukiman paling dominan terdapat di Provinsi Jawa Ten-gah seluas 612.930,97 Ha. Dalam hal ini, Jawa Tengah menduduki posisi kelima dari aspek ke-padatan penduduk di Indonesia, yaitu dengan angka 1.058 jiwa/km². Keadaan ini menjadi per-hatian bagi Pemda Disperakim untuk mening-katkan rumah layak huni bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan pembiayaan perumahan. h. Penggunaan Tanah berupa Persawahan
Pada tahun 2010 penggunaan tanah berupa persawahan memiliki luas sebesar 6.335.855,00
Ha (3,38%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah persawahan paling dominan terdapat di Provinsi Jawa Barat seluas 1.073.317,82 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 persawahan me-miliki luas sebesar 7.107.028,19 Ha (3,75%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah per-mukiman paling dominan terdapat di Provinsi Jawa Tengah seluas 612.930,97 Ha. Menurut data BPS, selama periode 2003-2015, Provinsi Jawa Timur selalu menduduki peringkat per-tama dalam hal luas lahan sawah. Komoditas terbesar yang dihasilkan Jawa Timur, di antara lain seperti padi, jagung, kacang-kacangan, cabai, bawang merah, dan berbagai sayur. i. Penggunaan Tanah berupa Pertambangan
Penggunaan tanah berupa pertambangan ta-hun 2009 memiliki luas sebesar 373.142,60 Ha (0,20%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah pertambangan paling dominan terdapat di Provinsi Sumatera Selatan seluas 90.908,61 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 pertambangan memiliki luas sebesar 552.882,13 Ha (0,29%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah per-tambangan paling dominan terdapat di Provinsi Papua seluas 192.067,85 Ha. Menurut laman portal Provinsi Papua, sejak 1972 Provinsi Pap-ua sudah menjadi potensi sumber daya alam serta mulai mengekspor konsentrat tembaga dan terus berkembang setiap tahunnya. Hingga saat ini, pertambangan masih menjadi daya tarik investasi utama di Papua.
j. Penggunaan Tanah berupa Pertanian Tanah Kering Semusim
Penggunaan tanah berupa pertanian tanah ker-ing semusim tahun 2010 memiliki luas sebesar 20.377.609,67 Ha (10,88%). Provinsi yang me-miliki penggunaan tanah pertanian tanah kering semusim paling dominan terdapat di Provinsi Lampung seluas 2.007.386,00 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 penggunaan tanah
terse-but memiliki luas sebesar 16.534.539,70 Ha (8,72%). Provinsi yang memiliki penggunaan tanah pertanian tanah kering semusim paling dominan terdapat di Provinsi Sumatera Utara seluas 2.648.344,71 Ha. Menurut BPS Provinsi Sumatera Utara, total tegalan terluas pada ta-hun 2019 berada di Kabupaten Karo. Sedang-kan, total ladang terluas berada di Kabupaten Tapanuli Utara.
k. Penggunaan Tanah berupa Tanah Terbuka Penggunaan tanah berupa tanah terbuka ta-hun 2010 memiliki luas sebesar 4.869.847,98 Ha (2,60%). Provinsi yang memiliki tanah ter-buka paling dominan terdapat di Provinsi Su-matera Utara seluas 905.802,69 Ha. Selain itu, pada tahun 2019 tanah terbuka memiliki luas sebesar 2.368.304,34 Ha (1,25%). Provinsi yang memiliki tanah terbuka paling dominan terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah seluas 404.953,90 Ha. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebagian lahan di Kalimantan tengah dijadikan proyek lahan gambut (PLG). Pembangunan dari salu-ran peraisalu-ran PLG tersebut mengubah sekitar 400.000 hektare hutan tropika basah (tropical
rain forest) menjadi lahan terbuka.
Berdasarkan hasil analisis di atas, analisis pada tahun 2019, tidak mencari perubahan penggu-naan tanah, melainkan hanya mengetahui total luas keseluruhan, luas dominan atau minimal, serta peningkatan maupun penurunan dari jenis penggunaan tanah. Hal ini disebabkan karena tahun 2019 memiliki skala yang detail, sehing-ga jika dilakukan perubahan penggunaan tanah akan menghilangkan kelengkapan informasi data dan mengakibatkan data menjadi general. Rekapitulasi penggunaan tanah per provinsi tahun 2019 dapat dilihat di Tabel 3 dan Peta Penggunaan Tanah Tahun 2019 dapat dilihat pada Gambar 4.
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2020
Gambar 4 Peta Penggunaan Tanah Tahun 2019
Tabel 3 Hasil Penurunan dan Peningkatan Luas Penggunaan Tanah Tahun 2010 dan 2019 (Pulau) Pulau Hutan Industri Kebun Padang Perairan
Darat Perkebunan Permukiman Persawahan Pertamba-ngan Tanah Kering Pertanian Semusim
Tanah
Terbuka Luas (Ha) Sumatera - 1.004.367,34 5.712,11 2.131.642,07 62.785,79 - 362.887,35 7.710.934,65 -93.066,09 351.238,92 -131.845,02 - 5.821.834,52 - 2.175.688,22 672.625,08 Jawa - 1.617.174,87 39.606,20 333.936,14 223.831,18 - 26.670,26 197.091,01 666.780,90 - 280.843,83 11.073,95 369.050,75 75.834,96 - 7.483,88 Bali, NTB, NTT - 839.448,63 118,37 - 246.211,45 919.088,55 21.072,40 28.078,62 140.961,29 63.705,60 - 71,77 99.410,55 - 122.424,23 64.279,29 Kalimantan - 2.917.573,35 4.897,22 - 2.896.509,31 - 522.654,85 71.957,01 5.175.121,13 214.502,08 318.826,81 98.879,30 528.327,41 - 216.888,89 - 141.115,44 Sulawesi 233.474,67 1.919,85 842.024,12 - 233.685,24 195.843,45 214.900,50 335.439,82 256.389,35 6.975,38 -1.453.589,89 194.593,94 594.285,93 Maluku 1.114.086,64 388,49 - 75.724,16 255.895,62 - 6.649,19 56.964,74 -19.734,55 16.676,09 4.363,62 57.678,33 11.915,86 1.415.861,47 Papua - 3.888.866,36 1.645,99 1.068.436,17 - 381.109,01 364.440,03 296.599,68 40.041,04 45.180,23 190.364,09 2.377.887,41 - 268.887,06 - 154.656,27 Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2020
Dapat diketahui berdasarkan tabel di atas, hasil penurunan dan peningkatan luas dari penggunaan tanah pada tahun 2010 dan 2019 per-Pulau. Untuk angka yang memiiliki tanda minus mempunyai arti mengalami penurunan luas penggunaan tanah. Selain itu, untuk angka yang tidak memiliki tanda minus mempunyai arti mengalami peningkatan luas penggunaan tanah.
4. Perubahan Penggunaan Tanah (Pembahasan per-Pulau)
Alih fungsi tanah dalam arti perubahan peng-gunaan tanah, pada dasarnya tidak dapat di-hindarkan dalam pelaksanaan pembangunan yang mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan tanah. Berikut perubahan peng-gunaan tanah menurut jenis pengpeng-gunaan tan-ahnya berdasarkan hasil analisis per-provinsi, yaitu:
a. Pulau Sumatera
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh perkebunan seluas 7.710.934,65 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah perkebunan mengalami peningkatan sebesar 16,04% dari tahun sebelumnya. Selan-jutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang memiliki penurunan paling besar adalah perta-nian tanah kering semusim seluas 5.821.834,52 Ha. Dapat diketahui bahwa penggunaan tanah pertanian tanah kering semusim mengalami pe-nurunan sebesar 12,60%.
b. Pulau Jawa
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh permukiman seluas 666.780,90 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah permukiman mengalami peningkatan sebesar 5,03% dari tahun sebelumnya. Selan-jutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang memiliki penurunan paling besar adalah hutan seluas 1.617.174,87 Ha. Dapat diketahui bah-wa penggunaan tanah hutan mengalami penu-runan sebesar 12,18%.
c. Pulau Bali, NTB, NTT
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh padang seluas 919.088,55 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah padang mengalami peningkatan sebesar 12,51% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang memi-liki penurunan paling besar adalah hutan seluas 839.448,63 Ha. Dapat diketahui bahwa peng-gunaan tanah hutan mengalami penurunan sebesar 12,03%.
d. Pulau Kalimantan
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh perkebunan seluas 5.175.121,13 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah padang mengalami peningkatan sebesar 9,69% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang memi-liki penurunan paling besar adalah kebun se-luas 2.896.509,31 Ha. Dapat diketahui bahwa penggunaan tanah hutan mengalami penu-runan sebesar 5,38%.
e. Pulau Sulawesi
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di-dominasi oleh kebun seluas 842.024,12 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah padang mengalami peningkatan sebe-sar 4,28% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang memi-liki penurunan paling besar adalah pertanian tanah kering semusim seluas 1.453.589,89 Ha. Dapat diketahui bahwa penggunaan tanah hu-tan mengalami penurunan sebesar 8,30%. f. Pulau Sulawesi
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh kebun seluas 842.024,12 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah padang mengalami peningkatan sebe-sar 4,28% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang
memi-sebesar 11,41%. Jika dibandingkan dengan tahun 2010, perkebunan mengalami peningkatan sebesar 7,16%. Provinsi yang memiliki penggunaan tanah perkebunan paling dominan terdapat di Provinsi Riau dengan luas sebesar 4.989.304,98 Ha. Dapat diketahui bahwa perkebunan menjadi luas terbesar kedua setelah hutan. Selain itu, penggunaan tanah dominan lainnya, yaitu kebun yang memiliki persentase 9,54%. Provinsi yang memiliki penggunaan tanah kebun paling dominan adalah Provinsi Kalimantan Barat dengan luas sebesar 4.300.392,04 Ha. Untuk penggunaan tanah yang paling minim terdapat di pertambangan dan industri yang memiliki persentase sebesar 0,29% dan 0,03%. Merangkum pendapat dari penulis di atas, mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan, tingkah laku, serta tindakan manusia merupakan faktor penentu perubahan penggunaan lahan. Hal ini disebabkan tingkah laku manusia yang sudah menjadi hukum alam untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia yang terkait kehidupan ekonomi dan sosial. Kegiatan pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dideskripsikan secara tidak langsung akan mempengaruhi penggunaan lahan yang pada akhirnya akan mengarah ke perubahan penggunaan lahan yang berbeda dari kondisi awalnya. Dengan adanya perubahan kebutuhan manusia yang dinamis dan tidak sejalan dengan ketersediaan tanah di Indonesia, terjadilah perubahan penggunaan tanah yang signifikan di Indonesia.
Berkaitan dengan penguasaan dan penatagunaan tanah oleh negara bertepatan dengan sila ke-5 (lima) yaitu bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan adanya hal itu, penguasaan tanah perlu memperhatikan kepentingan masyarakat secara umum.
IV. KESIMPULAN
1. Luas total penggunaan tanah pada tahun 2009 sebesar 187.259.669,74 Ha dan tahun 2019 memiliki luas 189.703.456,90 Ha. Dapat diketahui bahwa pada tahun 2009 dan 2019 memiliki perbedaan luas sebesar 1,29%. Hal ini disebabkan oleh terdapat perbedaan sumber peta dan sistem proyeksi yang digunakan pada liki penurunan paling besar adalah pertanian
tanah kering semusim seluas 1.453.589,89 Ha. Dapat diketahui bahwa penggunaan tanah hu-tan mengalami penurunan sebesar 8,30%. g. Pulau Maluku
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh hutan seluas 1.114.086,84 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah padang mengalami peningkatan sebe-sar 2,70% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang me-miliki penurunan paling besar adalah kebun seluas 75.724,16 Ha. Dapat diketahui bahwa penggunaan tanah hutan mengalami penu-runan sebesar 2,88%.
h. Pulau Papua
Berdasarkan data penggunaan tanah tahun 2010 dan 2019, peningkatan paling besar di dominasi oleh pertanian tanah kering semusim seluas 2.377.887,41 Ha. Hal itu dapat dipahami bahwa penggunaan tanah padang mengalami peningkatan sebesar 5,76% dari tahun sebel-umnya. Selanjutnya, penggunaan tanah 2010 dan 2019 yang memiliki penurunan paling be-sar adalah hutan seluas 3.888.866,36 Ha. Da-pat diketahui bahwa penggunaan tanah hutan mengalami penurunan sebesar 9,11%.
B. Pembahasan
Data/peta penggunaan tanah 2010 dan 2019 memiliki skala yang berbeda-beda, sehingga menggunakan skala 1:100.000 untuk menyetarakan antara keduanya. Setelah melakukan pengolahan data pada tahun 2019, dapat diketahui luas jenis penggunaan tanah dari setiap provinsi.
Berdasarkan tabel dan grafik yang telah disajikan di atas, penggunaan tanah nasional tahun 2019 memiliki luas sebesar 189.703.465,90 Ha. Pada tahun 2019, hutan tetap memiliki persentase yang paling dominan, yaitu sebesar 49,16%. Provinsi yang memiliki penggunaan tanah hutan paling dominan terdapat di Provinsi Papua dengan luas sebesar 21.194.560,67 Ha. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2010, hutan mengalami penurunan sebesar 5,41%. Lalu diikuti dengan penggunaan tanah perkebunan yang memiliki persentase
tahun 2010 dan 2019.
2. Penggunaan tanah berupa hutan tahun 2009 memiliki luas sebesar 102.180.581,76 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 93.260.712,51 Ha. Berdasarkan hal itu, dapat diketahui bahwa terjadi penurunan seluas 8.919.869,25 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 5,41%.
3. Karena keterbatasan data dan informasi, pada tahun 2009 tidak tersedia data penggunaan tanah berupa industri. Sementara itu, penggunaan tanah berupa industri pada tahun 2019 memiliki luas 53.899,72 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,03%.
4. Penggunaan tanah berupa kebun tahun 2009 memiliki luas sebesar 16.948.268,65 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 18.105.862,26 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan seluas 1.157.593,61 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,49%.
5. Penggunaan tanah berupa padang pada tahun 2009 memiliki luas sebesar 19.599.059,31 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 19.923.211,39 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan seluas 324.152,08 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,03%.
6. Penggunaan tanah berupa perairan darat tahun 2009 memiliki luas sebesar 5.068.970,97 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 5.326.077,02 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan seluas 325.339,85 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,10%.
7. Penggunaan tanah berupa perkebunan tahun 2009 mempunyai luas sebesar 7.961.644,20 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 21.641.334,56 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan seluas 13.679.690,36 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 7,16%.
8. Penggunaan tanah berupa permukiman tahun 2009 memiliki luas sebesar 3.544.689,59 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki
peningkatan seluas 1.284.924,50 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,66%.
9. Penggunaan tanah berupa persawahan tahun 2009 memiliki luas sebesar 6.335.855,00 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 7.107.028,19 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan seluas 771.173,19 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,37%.
10. Penggunaan tanah berupa pertambangan tahun 2009 memiliki luas sebesar 373.142,60 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 552.882,13 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan seluas 179.739,53 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 0,09%.
11. Penggunaan tanah berupa pertanian tanah kering semusim tahun 2009 memiliki luas sebesar 20.377.609,67 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 16.534.539,70 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi penurunan seluas 3.843.069,97 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 2,16%. 12. Penggunaan tanah berupa tanah terbuka
tahun 2009 memiliki luas sebesar 4.869.847,98 Ha, sedangkan pada tahun 2019 memiliki luas sebesar 2.368.304,34 Ha. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa terjadi penurunan seluas 2.501.543,64 Ha atau jika dipersentasekan sebesar 1,35%.
13. Kompilasi Data Perubahan Penggunaan Tanah Tahun 2019 merupakan salah satu data dan informasi dalam memberikan arah metafora dari kondisi eksisting menuju kondisi ideal dalam penyusunan neraca penatagunaan tanah sektoral dan regional.
14. Seiring dengan perkembangan peraturan dan kebijakan terkini, Neraca penatagunaan tanah menjadi salah satu input dalam penyusunan dan/atau revisi Rencana Tata Ruang (Kabupaten/Kota/KSN) sesuai dengan mandat Perauran Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang Pasal 18, 21, dan 35.
Arsyad, S. (1989). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Badan Pusat Statistik. (2019). Provinsi Riau dalam
Angka Tahun 2019. Riau: Badan Pusat
Statistik.
Badan Pusat Statitistik. Luas Lahan Sawah Menurut Provinsi (ha), 2003–2015. Dalam portal https://bps.go.id/linkTableDinamis/view/ id/895 (diakses pada 4 November 2020). Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara.
(2019). Luas Lahan Tegal/Kebun, Ladang/ Huma, dan Lahan Yang sementara Tidak Diusahakan Menurut Kabupaten/ Kota (ha). Dalam portal https://sumut. bps.go.id/statictable/2020/06/10/1959/ luas-lahan-tegal-kebun-ladang-huma-dan- lahan-yang-sementara-tidak-diusahakan-menurut-kabupaten-kota-ha-2019.html (diakses pada 4 November 2020).
Barlowe R. (1986). Land Resources Economic: The
Economics of Real Estate Fourth Edition.
Englewood Cliffs: Prentice-Hall.
Bintarto, R. (1989). Interaksi Desa Kota dan
Permasalahanya. Jakarta: Penerbit Ghalia.
Budiharjo, E., & Sudanti, H. (1993). Kota Berwawasan
Lingkungan. Bandung: Penerbit Alumni.
Chapin F. S., & Edward, J. K. (1979). Urban Landuse Planning. United States America: The Board of Trustees of The University.
Cullingswoth, B. (1997). Planning in the USA: Policies, Issues and Processes. New York: Routledge.
Dass, B. M. (1995). Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip
Rekayasa Geoteknis). Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim). Tujuan dan Sasaran. Dalam portal http://disperakim.jatengprov.go.id/ profil/tujuan_sasaran (diakses pada 3 November 2020).
Foley, J. A., DeFries, R., Asner, G. P., Barford, C., Bonan, G., Carpenter, S. R., & Helkowski, J. H. (2005). Global consequences of land use. Science. 309 (5734): 570-574. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Provinsi Papua. Dalam portal http://incas. menlhk.go.id/id/data/special-region-of-papua/ (diakses pada 3 November 2020). Kementerian Perindustrian Republlik Indonesia.
(2014). Berita Industri. Dalam portal https:// kemenperin.go.id/artikel/9664/Jabar-Jantung-Industri-Nasional.html (diakses pada 3 November 2020).
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Perencanaan Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan Eks Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG). Dalam portal https://www.bappenas.go.id/id/profil- bappenas/unit-kerja/deputi-bidang-kemiskinan-ketenagakerjaan-dan-ukm/ direktorat-penanggulangan-kemiskinan/ contentsdirektoratpenanggulangank e m i s contentsdirektoratpenanggulangank i n a n / 9 7 5 p e r e n c a n a a n p e n g e m b a n g a n d a n p e n g e l o l a a n - kawasan-eks-proyek-pengembangan-lahan-gambut-plg-/
Khadiyanto, P. (2005). Tata Ruang Berbasis pada
Kesesuaian Lahan. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Lisdiyono. (2004). Penyimpangan Kebijakan Alih Fungsi Lahan Dalam Pelestarian Lingkungan Hidup. Majalah Ilmiah Hukum
dan Dinamika Masyarakat, 91-107.
Mustopa, Z. (2011). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengarui Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kabupaten Demak. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.
Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian. (2012). Prospek Lahan Kering. Dalam portal http://www.litbang.pertanian.go.id/
buku/Lahan-Kering-Ketahan/BAB-V-6.pdf (diakses pada 10 Desember 2020).
Penghubung Papua. Potensi Daerah. Dalam portal https://penghubung.papua.go.id/potensi-daerah/ (diakses pada 3 November 2020). Provinsi Papua. Daerah Pertambangan. Dalam
portal https://www.papua.go.id/view-detail-page-30/daerah-pertambangan.html (diakses pada 3 November 2020).
Rahayu, H. P. (2009). Banjir dan Upaya penanggulanganya. Bandung: Promise Indonesia.
Sandy, I. M. (1985). Republik Indonesia Geografi Regional. Jakarta: Depdikbud.
Sujarto. (1985). Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan dan Wilayah. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Sutaryono. (2007). Dinamika Penataan Ruang dan
Peluang Otonomi Daerah. Yogyakarta: Tugu Jogja Grafika.
Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Untoro, H. H. (2006). Perubahan Fungsi Lahan
Pertanian menjadi Non Pertanian di Kecamatan Godean. Jurnal Pembangunan Wilayan & Kota. 8(4): 330-340.
Verburg, P.H., T.A. Veldkamp, & J. Bouma. (1999). Land use change under the conditions of high population pressure. Global Environmental Change. 9 (4): 303-312. Wahyunto, S. H., Agus, F., & R. L. Watung. (2001).
Environmental Consequences of Land Use Changes in Indonesia. Jurnal Conserving Soil and Water for Society Sharing Solutions. 954 (1): 1-4.
Yunus, H. S. (2008). Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.