6.1 Kondisi Kini Unit Pengolahan Ikan Beku
6.1.1 Tingkat utilisasi
Seperti telah dikemukakan pada Bab 5 bahwa realisasi produksi seluruh unit pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian rata-rata adalah sebesar 503,9 ton per hari atau 56,47% dari kapasitas terpasang sebesar 892,3 ton per hari. Dengan demikian, terdapat kapasitas terbuang (idle capacity) sebesar 43,53%. Pengertian idle capacity adalah kapasitas produksi terpasang dikurangi kapasitas produksi yang terpakai (Djohar et al., 2003).
Faktor utama yang menyebabkan terjadinya idle capacity adalah karena pasokan bahan baku semakin terbatas, sebagai akibat menurunnya produksi beberapa komoditas hasil tangkapan/budidaya dan atau tidak terpenuhinya persyaratan mutu bahan baku yang ditetapkan oleh industri pengolahan ikan. Kondisi ini apabila berlangsung terus maka akan mengancam keberlangsungan operasi unit pengolahan ikan, karena pendapatan yang diperoleh tidak dapat menanggung beban usaha. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pasokan bahan baku dan nilai tambah produk yang dihasilkan oleh unit pengolahan ikan.
Faktor utama yang menyebabkan tidak terpenuhinya persyaratan mutu bahan baku adalah praktek penanganan ikan yang kurang baik dan benar yang dilakukan oleh nelayan, pembudidaya ikan, supplier dan lain sebagainya. Hal ini dipengaruhi oleh profitabilitas, resiko usaha, teknis dan pengetahuan, serta sosial budaya pelaku usaha tersebut (Purnomo et al., 2002).
Berdasarkan komoditas yang diolah, unit pengolahan ikan nila beku mencapai tingkat utilisasi tertinggi yakni 87,10%. Hal ini karena unit pengolahan ikan yang khusus mengolah ikan nila hanya satu unit, sehingga kompetisi untuk mendapatkan bahan baku relatif tidak ketat. Disamping itu, unit pengolahan tersebut terintegrasi dengan usaha pembudidayaan, sehingga pasokan bahan baku dapat diupayakan secara internal. Kondisi serupa dialami oleh unit pengolahan ikan layur beku yang mencapai
tingkat utilisasi sebesar 71,43%, dimana pelaku utamanya hanya dua perusahaan sehingga persaingan dalam memperoleh bahan baku tidak terlalu ketat. Hal lain yang mendukung adalah bahwa ikan layur kurang digemari konsumen dalam negeri, sehingga permintaan pasar domestik relatif kecil.
Sementara itu, unit pengolahan udang beku mencapai tingkat utilisasi yang cukup tinggi yakni sebesar 63,45%, karena unit pengolahan tersebut mendapat pasokan bahan baku dari luar Pulau Jawa (seperti Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat). Hal ini terjadi karena udang merupakan komoditas yang tinggi nilainya, sehingga biaya transportasi dari sumber bahan baku ke unit pengolahan dapat dialokasikan dari margin yang diperoleh dari proses pengolahan dan pemasaran.
Apabila dilihat per provinsi, unit pengolahan udang beku di Jawa Timur mencapai tingkat utilisasi tertinggi, yakni sebesar 66,82%, diikuti oleh DKI Jakarta (56,22%), Jawa Barat (50%) dan Jawa Tengah (36,26%). Kondisi tersebut terjadi karena unit pengolahan udang beku di Jawa Timur dan DKI Jakarta lebih mampu bersaing dalam pengadaan bahan baku dibandingkan dengan unit pengolahan udang beku di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hal ini terlihat dari adanya pasokan bahan baku dari luar Pulau Jawa, yaitu dari Lampung dan Bangka Belitung bagi unit pengolahan udang beku di DKI Jakarta, serta dari Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat bagi unit pengolahan udang beku di Jawa Timur.
Kemampuan bersaing unit pengolahan udang beku di DKI Jakarta dan Jawa Timur dalam memperoleh bahan baku diperoleh dari letak geografis ke dua daerah tersebut yang lebih dekat dengan sumber bahan baku di luar Pulau Jawa, sehingga biaya pengangkutan lebih rendah. Disamping itu, unit pengolahan udang beku di DKI Jakarta dan Jawa Timur pada umumnya telah mengembangkan produk-produk bernilai tambah tinggi (value added products), sehingga margin yang diperoleh juga tinggi. Dengan demikian, daya beli terhadap bahan baku unit pengolahan tersebut bisa lebih tinggi dibandingkan dengan daya beli unit pengolahan yang hanya menghasilkan produk-produk bernilai tambah rendah.
Dalam rangka menjamin keberlanjutan dan pengembangan usaha, unit pengolahan udang beku harus melakukan ekspansi ke luar Pulau Jawa dalam pengadaan bahan bakunya karena pasokan dari Pulau Jawa sulit diandalkan. Statistik perikanan budidaya menunjukkan bahwa produksi udang tambak di enam provinsi di Pulau Jawa pada tahun 2005 hanya mencapai 61.360 ton, sementara itu kebutuhan bahan baku 25 unit pengolahan udang beku yang masih aktif beroperasi diperkirakan mencapai 84.030 ton per tahun (dengan asumsi kapasitas produksi per hari sebesar 280,1 ton dan hari operasi selama satu tahun adalah 300 hari).
Unit pengolahan tuna beku menempati urutan ke empat dengan tingkat utilisasi sebesar 51,97%. Unit pengolahan produk ini hanya ada di Provinsi Jawa Timur dan DKI Jakarta, dengan tingkat utilisasi masing-masing sebesar 73,60% dan 46,67%. Rendahnya tingkat utilisasi unit pengolahan tuna beku di DKI Jakarta karena hanya mengandalkan pasokan bahan baku dari pendaratan tuna di Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta yang dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan kecederungan menurun. Sementara itu, unit pengolahan tuna beku di Jawa Timur memperoleh pasokan bahan baku dari beberapa PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) di pantai selatan Jawa, dari Bitung Sulawesi Utara dan bahkan kadang-kadang impor dari Jepang.
Peningkatan utilitas unit pengolahan tuna beku nampaknya sulit dilakukan karena selama 10 tahun terakhir ini produksi tuna di Indonesia relatif stagnan. Statistik Perikanan Tangkap menunjukkan bahwa selama periode 1999-2005, produksi ikan madidihang (yellowfin tuna) mengalami kenaikan rata-rata hanya 2,59% per tahun, yakni dari 101.688 ton pada tahun 1995 menjadi 151.926 ton pada tahun 2005 (Ditjen Perikanan Tangkap, 2007). Oleh karena itu, agar mampu bertahan di tengah-tengah kelangkaan bahan baku, unit pengolahan tuna beku harus melakukan reorientasi ke arah pengolahan produk-produk bernilai tambah tinggi seperti steak tuna dan saku tuna, serta ditunjang dengan penerapan sistem manajemen mutu dan keamanan produk secara mantap dan konsisten.
Pengolahan berbagai jenis komoditas atau multi komoditas merupakan tren baru dalam industri pengolahan ikan di Indonesia. Perkembangan positif ini dilandasi
pemikiran bahwa karena produksi perikanan bersifat musiman, maka dalam rangka menjamin keberlangsungan usaha, industri pengolahan ikan tidak dapat mengandalkan pasokan bahan baku dari jenis tertentu saja. Namun demikian, karena tren baru ini telah mendorong hampir setengah dari jumlah unit pengolahan ikan di Pulau Jawa untuk melakukan hal yang sama, maka kompetisi dalam memperebutkan bahan baku juga menjadi ketat. Dampaknya unit pengolahan ikan tersebut belum mampu beroperasi secara optimal, sehingga tingkat utilisasi yang dicapai baru sebesar 51,04%.
Dari seluruh unit pengolahan multi komoditas di Pulau Jawa, unit pengolahan yang berada di Provinsi Jawa Timur mencapai tingkat utilisasi tertinggi yakni sebesar 57,56%, diikuti DKI Jakarta (49,49%), Jawa Barat (42,95%), Banten (41,67%) dan Jawa Tengah (22,35%). Data ini makin memperjelas bahwa unit pengolahan ikan di Provinsi Jawa Timur dan DKI Jakarta lebih mampu bersaing dalam pengadaan bahan baku bila dibandingkan dengan unit pengolahan ikan di provinsi lain. Hal ini dimungkinkan karena di dua daerah tersebut telah berkembang produk-produk bernilai tambah tinggi dan secara geografis lebih dekat dengan sumber-sumber bahan baku di luar Pulau Jawa.
Tren lain dalam industri pengolahan ikan di Pulau Jawa adalah berkembangnya usaha pengolahan surimi beku, dengan menggunakan bahan baku ikan-ikan demersal yang bernilai ekonomis rendah seperti ikan tiga waja, beloso, julung-julung dan sebagainya. Pada tahun 2006, industri ini beroperasi hanya 36,58% dari kapasitas terpasang, karena pasokan bahan baku mengandalkan dari pendaratan ikan di Pantura yang tingkat kompetisinya sudah sangat ketat.
Peningkatan utilitas nampaknya sulit dilakukan apabila unit pengolahan surimi beku hanya mengandalkan pasokan bahan baku dari Pulau Jawa. Statistik perikanan tangkap menunjukkan bahwa selama 2001-2005, produksi perikanan laut di Pulau Jawa mengalami penurunan dengan laju rata-rata sebesar -4,64% per tahun, yakni dari 929.072 ton menjadi 755.650 ton (Tabel 32). Oleh karena itu, unit pengolahan surimi beku harus melakukan ekspansi ke luar Pulau Jawa dalam pengadaan bahan baku. Hal ini dapat dilakukan apabila industri tersebut dapat
Tabel 32 Produksi perikanan laut di Pulau Jawa, 2001-2005 No Provinsi 2001 2002 2003 2004 2005 Perubahan/ tahun (%) 1 Banten 108.109 64.966 52.871 53.535 25.233 -27,53 2 Jawa Barat 141.261 150.010 149.158 160.240 141.813 0,39 3 DKI Jakarta 107.136 106.668 120.827 123.869 132.024 5,48 4 Jawa Tengah 274.809 281.268 236.235 244.389 184.014 -8,73 5 DI Yogyakarta 1.339 1.641 1.775 1.444 1.773 8,71 6 Jawa Timur 296.418 394.586 414.653 320.691 270.793 0,00 Jumlah 929.072 999.139 975.519 904.168 755.650 -4,64 Sumber : - Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), diolah
- Ditjen Perikanan Tangkap (2007), diolah
meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, sehingga harganya juga meningkat, serta meningkatkan efisiensi. Peningkatan harga jual dan efisiensi diperlukan dalam rangka meningkatkan margin, agar pertambahan biaya transportasi yang timbul dalam pengadaan bahan baku tidak menurunkan tingkat kelayakan bisnis tersebut.
Tingkat utilisasi terendah dicapai oleh unit pengolahan kepiting beku, yakni hanya sebesar 8,57%. Hal ini dimungkinkan karena sumberdaya komoditas tersebut semakin langka dan permintaan pasar dalam negeri untuk konsumsi tanpa olahan semakin meningkat.
Apabila dilihat secara spasial menurut provinsi dari seluruh unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa, unit pengolahan ikan beku di Jawa Timur mencapai tingkat utilisasi tertinggi yaitu 64,27%, DKI Jakarta menempati urutan kedua yakni 50,05%, diikuti Jawa Tengah 44,92%, Jawa Barat 44,07% dan Banten 41,67%. Kondisi ini terjadi karena unit pengolahan ikan beku di Jawa Timur dan DKI Jakarta mampu memobilisasi bahan baku dari luar Pulau Jawa, sedangkan unit pengolahan ikan beku di provinsi lainnya hanya mengandalkan pasokan dari supplier lokal.
Dari uraian di atas terlihat bahwa agar dapat terus beroperasi dan berkembang, unit pengolahan ikan di Pulau Jawa harus berupaya untuk meningkatkan pasokan bahan baku dan atau meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan. Peningkatan pasokan bahan baku dapat dilakukan melalui out sourcing, baik dari luar pulau maupun luar negeri. Disamping itu, perlu dilakukan perbaikan dalam pengelolaan
rantai pasokan (supply chain management - SCM), karena selama ini terdapat kesenjangan antara pasokan dan permintaan dalam pengadaan bahan baku. Strategi SCM yang terdiri dari sourcing strategy, supply flow strategy, demand flow strategy, customer service strategy, dan supply chain integration terbukti dapat membangun keunggulan kompetitif (Djohar et al., 2003).
Sementara itu, peningkatan nilai tambah dapat dilakukan melalui pengembangan produk ke arah produk-produk yang siap saji/siap makan (Zugarramurdi, 2003). Hal itu karena didorong perubahan pola hidup masyarakat modern yang cenderung sibuk, sehingga bersedia membayar lebih mahal bagi produk-produk yang lebih siap untuk dikonsumsi.
6.1.2 Pengembangan produk
Industri pengolahan udang beku telah berkembang cukup lama dan tambah marak pada awal dekade tahun 1980-an, yakni pada saat terjadinya booming usaha pembudidayaan udang di Pulau Jawa dan beberapa daerah lain. Pada awal perkembangannya, produk yang dihasilkan oleh unit pengolahan udang beku hanya dua macam yaitu block frozen head-less shrimp dan block frozen head-on shrimp. Namun saat ini telah berkembang menjadi 15 macam produk, yakni delapan macam produk olahan dalam bentuk blok (block frozen less shrimp, block frozen head-on shrimp, block frozen peeled & devined shrimp, block frozen PDTO (peeled & devined tail-on) shrimp, block frozen eazy peeled shrimp, block frozen blancing/cooked shrimp, block frozen peeled undevined shrimp, dan block frozen cooked & peeled undevined shrimp) dan tujuh macam dalam bentuk individual (frozen breaded shrimp, IQF peeled & devined shrimp, frozen nobashi ebi, IQF peeled tail-on shrimp, IQF head-less shrimp, semi IQF head-on shrimp, dan IQF cooked shrimp).
Namun sayangnya keberagaman produk olahan tersebut di atas hanya dihasilkan oleh beberapa unit pengolahan ikan saja, terlihat dari data yang menunjukkan bahwa sebagian besar (88%) unit pengolahan ikan masih mengolah produk konvensional, yakni block frozen head-less shrimp. Hal ini memberi gambaran bahwa secara umum unit pengolahan ikan di Indonesia belum melakukan
pengembangan produk, padahal permintaan pasar dunia terhadap traditional block frozen fishery products termasuk block frozen head-less shrimp menunjukkan pertumbuhan yang negatif. Disisi lain, impor value added/prepared and preserved fishery products meningkat 20,5% dalam volume dan 26,0% dalam nilai selama periode 2001-2005 (Ferdouse, 2006). Kondisi ini apabila berlangsung terus maka posisi Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor udang utama di dunia akan terancam, karena kalah bersaing dengan negara produsen udang lainnya.
Secara umum, nilai tambah produk udang beku individual lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tambah produk udang beku blok, karena produk individual telah mengalami preparasi sedemikan rupa sehingga siap saji/dimakan, serta dikemas dalam bentuk consumer pack sehingga siap dipasarkan secara retail. Sementara itu, produk udang beku blok masih mengalami perlakuan/pengolahan lanjutan di negara pengimpor sebelum dipasarkan. Produk tersebut mengalami proses pelelehan (thawing), preparasi atau tanpa, pengepakan dalam bentuk consumer pack dan pembekuan kembali secara individual. Dengan demikian, nilai tambah dari proses pengolahan terbagi menjadi dua yakni dinikmati oleh eksportir dan importir.
Jika dilihat secara keseluruhan, tiga macam produk udang beku yang nilai tambahnya tertinggi adalah frozen breaded shrimp (37,70%), frozen nobashi ebi (36,54%) dan IQF head-less shrimp (35,33 %). Sedangkan tiga jenis yang terendah adalah block frozen cooked & peeled undevined shrimp (16,27%), block frozen head-less shrimp (16,60%) dan block frozen head-on shrimp (18,41%). Data ini mengindikasikan bahwa pengolahan udang beku dalam bentuk blok, terutama produk cooked & peeled undevined, head-less dan head-on sudah harus ditinggalkan. Sebaliknya produk yang nilai tambahnya tinggi seperti breaded shrimp dan nobashi ebi perlu dikembangkan secara lebih intensif.
Diversifikasi produk olahan komoditas lobster dan kepiting dapat dikatakan tidak ada, karena lobster hanya diolah menjadi produk lobster beku utuh (frozen lobster). Sedangkan kepiting diolah menjadi produk frozen soft shell crab dan frozen crab white body meat. Meskipun demikian, nilai tambah ke tiga jenis produk tersebut tergolong tinggi, yakni 52,54% untuk produk frozen lobster; 44,19% untuk produk
frozen soft shell crab dan 46,64% untuk produk frozen crab white body meat. Hal ini karena produk-produk tersebut termasuk langka dan pasarnya terbatas, sehingga termasuk produk eksklusif yang harganya mahal.
Pengolahan hewan lunak (cumi-cumi, sotong dan gurita) beku belum berkembang di Indonesia, sehingga produk yang dihasilkan juga belum beragam. Cumi-cumi hanya diolah menjadi produk utuh beku (frozen whole round squid), sotong juga hanya diolah menjadi produk utuh beku (frozen whole round cuttlefish), sedangkan gurita diolah menjadi produk utuh dan produk tanpa kepala (frozen whole round octopus dan frozen whole gutted octopus). Peluang pengembangan produk olahan komoditas ini cukup terbuka, karena di negara tujuan ekspor produk-produk tersebut diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk siap saji/makan seperti calamari (squid ring).
Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan produk frozen whole round squid dan frozen whole round cuttlefish tidak besar, yaitu 17,95% dan 24,37%. Sementara itu, nilai tambah ke dua produk olahan gurita lebih besar, yakni masing-masing 30,03% dan 35,69%. Tingginya nilai tambah produk tersebut dimungkinkan karena pasokan produk olahan gurita ke pasar dunia, terutama Jepang, mengalami penurunan yang sangat tajam, yakni dari 103.200 ton pada tahun 1999 menjadi 53.300 ton pada tahun 2004. Dampaknya harga produk gurita di pasar Jepang pada tahun 2004 mencapai US $ 12 per kg, meningkat dua kali lipat dibanding harga pada tahun 2001 (FAO, 2006).
Unit pengolahan tuna beku telah menghasilkan produk yang cukup beragam (lima macam produk), yaitu frozen whole round tuna, frozen loin tuna, frozen DWT (dressed without tail) tuna, frozen saku tuna, dan frozen steak tuna. Produk steak tuna mengalami perkembangan yang paling pesat karena permintaan pasar dunia terhadap produk tersebut menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, sebagai dampak makin populernya steak tuna di kalangan generasi muda di negara-negara barat (FAO, 2006). Dari lima macam produk olahan tuna beku, produk frozen saku tuna dan frozen steak tuna memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk lainnya. Data ini memperjelas bahwa bahwa produk yang paling siap
dikonsumsi atau tidak memerlukan pengolahan lanjutan merupakan produk yang paling tinggi nilai tambahnya.
Diversifikasi produk olahan ikan kakap merah dan ikan nila adalah sama, yakni frozen whole round, frozen fillet dan frozen WGGS (whole, gilled, gutted and scalled). Untuk produk yang sama, nilai tambah produk olahan ikan nila lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kakap merah. Hal ini dimungkinkan karena produsen/ eksportir ikan nila beku tidak banyak, sehingga tingkat kompetisi baik dalam pengadaan bahan baku maupun pemasaran tidak terlalu ketat. Jika dilihat per jenis produk, diketahui bahwa produk fillet bernilai tambah paling tinggi, diikuti produk WGGS dan produk utuh. Hal ini karena dua produk yang disebut terakhir masih memerlukan pengolahan lanjutan sebelum dikonsumsi, sebaliknya produk fillet telah siap disajikan/dimakan.
Selain terhadap komoditas yang disebut di atas, diversifikasi pengolahan hampir tidak ada karena produk yang dihasilkan pada umumnya dalam bentuk utuh beku. Nilai tambah produk olahan komoditas-komoditas dimaksud sangat variatif, berkisar antara 8,58% sampai 40,11%. Perbedaan nilai tambah tidak diketahui secara jelas, namun diperkirakan tergantung dari jenis ikan yang diolah dan permintaan pasar.
Perkembangan positif terjadi dalam pemanfaatan ikan-ikan demersal yang selama ini termasuk dalam kelompok ikan non ekonomis penting, seperti beloso, tiga waja dan mata goyang. Ikan-ikan tersebut diolah menjadi surimi beku, yaitu produk setengah jadi (intermediate product) yang merupakan bahan baku berbagai produk jelli ikan (fish jelly products) seperti bakso ikan, fish nugget, fish finger, otak-otak dan lain sebagainya serta berbagai produk imitasi seperti imitation crabmeat dan imitation shrimp. Perkembangan ini merupakan terobosan dalam industri pengolahan ikan, karena mampu memberi nilai tambah yang cukup besar yakni 26,87%. Disamping itu, pengolahan surimi beku dapat mendorong berkembangnya industri pengolahan produk-produk lanjutannya. Permintaan produk-produk dimaksud menunjukkan tren yang selalu meningkat, baik di pasar domestik maupun pasar internasional.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pengembangan produk (products development) dalam industri pengolahan ikan belum berlangsung secara signifikan, karena produk yang dihasilkan pada umumnya masih berbentuk produk primer (primary products). Padahal pengembangan produk mempunyai peranan penting dalam pembangunan perikanan, yakni : mendorong pemanfaatan sumberdaya perikanan, menghasilkan nilai tambah, memperluas pangsa pasar, menyediakan lapangan pekerjaan, memberi peluang bagi perolehan HaKI termasuk paten, dan meningkatkan pendapatan negara (Heruwati, 2003). Bagi perusahaan pengolahan ikan, pengembangan produk merupakan langkah strategis dalam menjamin keberlanjutan dan pertumbuhan perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Wolff & Pett (2006) menunjukkan bahwa pengembangan produk berhubungan secara positif dengan pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan berbagai upaya untuk mendorong pelaku bisnis pengolahan ikan agar melakukan reorientasi strategi bisnis ke arah produk-produk sekunder atau tersier.
Informasi yang cukup menggembirakan dari hasil penelitian ini adalah bahwa nilai tambah yang dihasilkan oleh industri pengolahan ikan di Indonesia hampir sama dengan nilai tambah yang dihasilkan oleh industri pengolahan ikan di negara lain. Studi yang dilakukan oleh INFOPESCA Project di Argentina menunjukkan bahwa nilai tambah produk block frozen head-less shrimp dan frozen breaded shrimp masing-masing adalah 18,82% dan 43,52% (Zugarramurdi, 2003). Sementara itu, nilai tambah ke dua produk tersebut di Pulau Jawa (Indonesia) masing-masing adalah 18,41% dan 37,70%. Data ini memberikan indikasi bahwa comparative advantages industri pengolahan ikan di Indonesia hampir sama dengan industri pengolahan ikan di Argentina.
6.1.3 Pemasaran produk
Data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh perusahaan pengolahan ikan beku di Pulau Jawa berorientasi pasar ekspor. Selama periode 2002-2006, total ekspor 69 perusahaan sampel penelitian mengalami peningkatan rata-rata sebesar 24,58% per tahun dalam volume dan 17,73% per tahun
dalam nilai. Peningkatan yang cukup besar tersebut terutama disebabkan oleh ekspor komoditas cumi-cumi, sotong dan gurita yang meningkat secara dramatis selama periode 2002-2004, yakni rata-rata sebesar 448,54% per tahun dalam volume dan 590,00% per tahun dalam nilai. Hal ini terjadi karena pada periode itu, permintaan komoditas gurita oleh Jepang mengalami peningkatan secara signifikan sehubungan dengan menurunnya pasokan dari negara produsen utama, yakni Maroko (FAO, 2006).
Disamping itu, disebabkan oleh meningkatnya kemampuan perusahaan-perusahaan pengolahan ikan di Pulau Jawa dalam memobilisasi bahan baku dari luar Pulau Jawa. Fenomena ini sesungguhnya merupakan dilema dalam pengembangan industri pengolahan ikan di Indonesia, karena di satu sisi dapat meningkatkan utilitas unit pengolahan di Pulau Jawa, namun di sisi lain berpotensi sebagai ancaman bagi keberlangsungan bisnis pengolahan ikan di luar Pulau Jawa.
Peningkatan total volume dan nilai ekspor yg cukup besar selama periode 2002-2006, ternyata tidak diikuti oleh meningkatnya harga rata-rata karena pada periode yang sama meningkat hanya sebesar 1,24% per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum nilai tambah produk-produk yang diekspor oleh unit pengolahan ikan tidak besar, sehingga memperkuat bukti bahwa pengembangan produk perikanan belum berlangsung sesuai harapan.
Kinerja ekspor yang cukup baik sebagaimana disebut di atas ternyata hanya berlangsung pada periode 2002-2005, karena ekspor pada tahun 2006 menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya. Total volume ekspor pada tahun 2006 sebesar 67.600 ton, padahal pada tahun 2005 mencapai 71.002 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 4,79%. Sedangkan nilainya turun sebesar 8,78%, yakni dari US $ 421.340 menjadi US $ 384.367. Menurunnya ekspor tersebut terutama dimungkinkan karena adanya ancaman embargo dan pengenaan ketentuan border control oleh Uni Eropa terhadap produk perikanan asal Indonesia, sehubungan dengan maraknya kasus RASFF (Rapid Allert System for Food and Feed). Disamping itu, disebabkan oleh turunnya produksi komoditas tuna dan sejenisnya, sebagai dampak tidak beroperasinya sekitar 50% dari total kapal tuna long-liner yang berpangkalan di
Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta dan Pelabuhan Benoa Bali pasca naiknya harga BBM.
Sementara itu, apabila dilihat dari strukturnya, kinerja ekspor industri pengolahan ikan beku di Pulau Jawa dapat dikatakan masih mengecewakan, karena : 1) Sampai dengan tahun 2006, udang merupakan komoditas yang sangat dominan
karena memberi kontribusi sebesar 75,60% dari total nilai ekspor (US $ 384,37 juta). Kondisi ini sangat membahayakan karena apabila terjadi gejolak dalam pemasaran udang di pasar internasional maka kinerja ekspor secara keseluruhan akan terpuruk;
2) Sebagian besar ekspor masih ditujukan ke pasar tertentu saja, yaitu Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Padahal hambatan perdagangan ke pasar tersebut, baik hambatan teknis maupun non teknis, semakin meningkat sehubungan dengan bergaungnya berbagai isu global seperti isu food safety, traceability, lingkungan, HAM dan lain sebagainya. Hambatan tersebut apabila tidak diatasi secara serius dan komprehensif maka dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan ekspor;
3) Produk yang diekspor pada umumnya masih merupakan produk primer yang nilai tambahnya rendah.
Uraian di atas menggambarkan bahwa dalam rangka peningkatan ekspor, diversifikasi komoditas, negara tujuan maupun produk yang diekspor perlu dilakukan secara lebih intensif. Diversifikasi komoditas dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas udang, sehingga apabila terjadi gejolak di pasar udang dunia maka kinerja ekspor secara keseluruhan tidak terganggu. Disamping itu dimaksudkan untuk mengantisipasi tren pasokan bahan baku udang yang semakin terbatas dan kurang terjamin kontinuitasnya.
Diversifikasi negara tujuan ekspor dimaksudkan untuk memperluas akses pasar dan mengurangi kasus-kasus penahanan/penolakan ekspor yang sering terjadi di pasar Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Diversifikasi dimaksud perlu diarahkan ke pasar potensial seperti RRC, Korea Selatan, negara-negara di Timur Tengah, Australia dan lain-lain. Diversifikasi produk perlu dilakukan untuk
meningkatkan nilai tambah dan mengantisipasi preferensi konsumen yang berkembang secara dinamis.
6.1.4 Penyerapan tenaga kerja
Industri pengolahan ikan beku dapat dikatakan sebagai bidang usaha yang padat karya karena menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, yaitu rata-rata sebanyak 315 orang per unit pengolahan ikan atau 43 orang per satu ton bahan baku. Apabila dilihat berdasarkan komoditas yang diolah, diketahui bahwa unit pengolahan udang beku menyerap tenaga kerja yang paling banyak yaitu 456 orang, diikuti unit pengolahan nilai beku sebanyak 298 orang, unit pengolahan multi komoditas beku sebanyak 296 orang, unit pengolahan layur beku sebanyak 288 orang, unit pengolahan surimi beku sebanyak 162 orang, unit pengolahan tuna beku sebanyak 57 orang dan unit pengolahan kepiting beku sebanyak 42 orang.
Jika dihitung per satuan produksi, penyerapan tenaga kerja per ton bahan baku berturut-turut adalah : pengolahan kepiting beku 240 orang, pengolahan udang beku 63 orang, pengolahan multi komoditas beku 49 orang, pengolahan surimi beku 18 orang, pengolahan tuna beku 12 orang, pengolahan nila beku 11 orang dan pengolahan layur beku 10 orang.
Perbedaan tingkat penyerapan tenaga kerja tersebut di atas ditentukan oleh realisasi produksi, penerapan teknologi pengolahan dan bentuk produk akhir yang dihasilkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak realisasi produksi yang dicapai maka semakin banyak tenaga kerja yang diserap, semakin rendah teknologi yang diterapkan maka semakin banyak tenaga kerja yang diserap, dan semakin siap produk akhir untuk dikonsumsi maka semakin banyak tenaga kerja yang diserap.
Pada pengolahan kepiting beku, produk akhir yang dihasilkan pada umumnya berupa daging kepiting beku, sehingga ada proses pengambilan daging dari cangkang. Proses tersebut tergolong rumit dan sampai saat ini masih dilakukan secara manual. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa tenaga kerja yang diperlukan dalam pengolahan produk tersebut paling banyak. Sementara itu, produk akhir yang
dihasilkan oleh unit pengolahan layur beku berupa frozen whole round, sehingga tenaga kerja yang terserap paling sedikit.
Dalam kaitannya dengan penerapan teknologi, ada dua opsi yang patut dipertimbangkan oleh pelaku bisnis pengolahan ikan, yakni (1) menerapkan teknologi maju yang mengarah kepada mekanisasi dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang rendah, atau (2) menggunakan teknologi sederhana dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Pilihan terhadap dua opsi tersebut akan membawa implikasi terhadap profitabilitas bisnis yang dijalankan, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
Data di atas menggambarkan bahwa keberadaan industri pengolahan ikan dapat membantu mengatasi masalah pengangguran. Oleh karena itu, agar kontribusinya terhadap penyediaan lapangan kerja meningkat, maka perlu dilakukan berbagai upaya agar industri pengolahan ikan dapat beroperasi sesuai kapasitas terpasang. Disamping itu, pengembangan produk kearah value added products perlu digalakkan, karena pengolahan produk-produk tersebut memerlukan proses yang lebih panjang sehingga tenaga kerja yang terserap semakin banyak.
Dari penelitian ini juga terungkap bahwa sebagian besar (70%) tenaga kerja yang terserap oleh industri pengolahan ikan adalah kaum perempuan. Dengan demikian, pengembangan industri tersebut dapat memberi kontribusi terhadap peningkatan ekonomi keluarga serta menunjang program pemberdayaan perempuan.
6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produk Perikanan Prima
Hasil analisis SEM sebagaimana disajikan pada Bab 5 memberikan gambaran model yang berisikan faktor-faktor yang dominan dalam mempengaruhi produk perikanan prima. Model tersebut apabila dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti lain di kemudian hari, diharapkan dapat dibentuk menjadi model yang layak dan selanjutnya dapat diverifikasi serta disimulasi untuk mendapatkan saran solusi yang optimum. Adapun gambaran model dimaksud dapat diuraikan pada sub bab sebagai berikut.
6.2.1 Hasil analisis kriteria produk perikanan prima
Hasil analisis dengan menggunakan SEM menunjukkan bahwa peubah mutu dan keamanan produk, peubah nilai tambah dan peubah daya saing berbeda nyata pada taraf 1%. Dengan demikian, ke tiga peubah tersebut dapat ditetapkan sebagai kriteria produk perikanan prima. Hasil analisis SEM juga menunjukkan bahwa kriteria produk perikanan prima yang paling kuat adalah daya saing, diikuti nilai tambah dan yang terakhir adalah mutu dan keamanan produk.
Daya saing menjadi kriteria yang paling kuat karena merupakan ukuran keunggulan suatu produk dalam meraih pangsa pasar secara signifikan dari konsumen dunia dibandingkan dengan produk dari negara/perusahaan lain (www.itcdonline. com/introduction/glossary). Pengertian pangsa pasar disini menunjuk kepada nilai ekspor, bukan volume ekspor. Oleh karena itu, agar dapat meraih pangsa pasar yang besar maka nilai ekspor harus ditingkatkan. Peningkatan nilai ekspor dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu melalui peningkatan volume ekspor, peningkatan nilai tambah produk atau kombinasi dari dua cara tersebut. Dengan demikian, nilai tambah produk merupakan salah satu faktor pembentuk daya saing.
Aspek lain yang berpengaruh terhadap besar kecilnya pangsa pasar adalah kelancaran ekspor, sehingga segala hambatan perdagangan (trade barrier), baik yang bersifat teknis maupun non teknis harus dapat diatasi. Dalam konteks ini, mutu dan keamanan produk mempunyai peranan yang penting, karena beberapa negara pengimpor sering menggunakan isu tersebut sebagai technical barrier untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Dengan demikian, mutu dan keamanan produk juga merupakan faktor pembentuk daya saing.
Uraian di atas menggambarkan bahwa daya saing mempunyai peranan yang paling penting dalam menentukan keprimaan suatu produk perikanan, serta menjadi faktor penarik (pull factor) bagi dua kriteria lainnya. Oleh karena itu, segala upaya perlu ditempuh, baik oleh pemerintah maupun dunia usaha, agar pangsa pasar produk perikanan Indonesia di pasar global semakin meningkat. Upaya tersebut harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari lini produksi sampai pemasaran.
Nilai tambah menempati urutan ke dua sebagai kriteria produk perikanan prima karena dapat menciptakan kesejahteraan dan salah satu kunci sukses dalam berkompetisi (Zugarramurdi, 2003). Penambahan nilai (value addition) pada produk perikanan menurut Dzung (2003) antara lain dapat dilakukan melalui : (1) penerapan responsible aquaculture dalam rangka environmental value addition, (2) penerapan organic farming dalam rangka ecological value addition, (3) pengentasan kemiskinan dalam rangka social value addition, (4) pengembangan species baru dalam budidaya, (5) perbaikan teknologi penangkapan/pemanenan, (6) penurunan losses, (7) penjualan kepada ceruk pasar (niche markets), (8) pendekatan “from pond to table” untuk mutu, kebersihan dan keamanan produk, (9) penerapan sistem penelusuran produk (traceability), (10) penurunan kompetisi internal dalam pasar bahan baku, (11) dan penurunan biaya produksi.
Melihat peranannya yang cukup penting sebagai kriteria produk perikanan prima, dan juga merupakan faktor penarik bagi peningkatan mutu dan keamanan produk, maka upaya-upaya ke arah peningkatan nilai tambah produk perlu lebih digalakkan. Justifikasi lain mengenai pentingnya peningkatan nilai tambah adalah karena merupakan salah satu langkah untuk mengatasi kelangkaan bahan baku yang menyebabkan unit pengolahan ikan mengalami idle capacity. Dengan meningkatnya nilai tambah, unit pengolahan ikan dimungkinkan masih dapat beroperasi meskipun di bawah kapasitas terpasang.
Sementara itu, meskipun peranannya sebagai kriteria produk perikanan prima paling lemah, bukan berarti peningkatan mutu dan keamanan produk tidak perlu dilakukan. Pemberitaan media massa yang ekstensif mengenai isu BSE (bovine spongiform encephalopathy), GMF (genetically modified foods), keberadaan residu pestisida dan dioxin dalam makanan, pencemaran mikroba (seperti Salmonella) dan penggunaan antibiotika dalam budidaya bahan pangan menambah kekhawatiran konsumen tentang keamanan produk yang mereka konsumsi (Huss et al., 2004). Kondisi ini mendorong negara-negara pengimpor hasil perikanan untuk menetapkan persyaratan mutu dan keamanan produk yang semakin ketat.
Pada saat ini, sistem manajemen mutu dan keamanan produk perikanan yang diakui secara internasional dan telah menjadi persyaratan di beberapa negara adalah Program HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Program tersebut merupakan pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan bahaya (hazards) yang signifikan terhadap keamanan pangan (CAC, 1997). Sejumlah negara yang telah mewajibkan penerapan konsepsi HACCP pada industri makanan (termasuk produk perikanan) adalah Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada dan beberapa negara ASEAN (temasuk Indonesia).
Berkaitan dengan hal di atas, maka perlu dilakukan berbagai upaya agar penerapan Program HACCP pada industri perikanan dapat diterapkan secara konsisten. Faktor yang sering menjadi penghambat dalam pengembangan dan penerapan HACCP adalah keterbatasan personil dan biaya. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 29% perusahaan makanan memerlukan tambahan personil atau tambahan peralatan untuk menerapkan HACCP (Timothy et al., 2007). Tambahan personil dan peralatan tersebut terutama diperlukan dalam aktivitas penyusunan HACCP Plan, pemantauan titik pengendalian kritis (monitoring) dan pencatatan (record keeping). Sehubungan dengan itu, agar dapat menerapkan HACCP secara baik, perusahaan pengolahan ikan perlu mengalokasikan personil dan biaya secara memadai.
Faktor lain yang juga menjadi penghambat dalam penerapan HACCP adalah persepsi para pelaku usaha, yaitu mimpi buruk birokrasi dalam penerapan HACCP (the bureaucratic nightmare of HACCP) (Taylor & Taylor, 2004). Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan penyederhanaan bikrokrasi dalam penerapan HACCP agar persepsi tersebut tidak ada lagi.
6.2.2 Faktor-faktor penentu produk perikanan prima
Seperti telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa berdasarkan hasil analisis SEM, peubah kebijakan publik, peubah orientasi kewirausahaan dan peubah kompetensi sumberdaya manusia berbeda nyata pada taraf 1%. Dengan demikian, ke tiga peubah tersebut dapat ditetapkan sebagai faktor penentu produk perikanan prima. Masing-masing faktor mempunyai peranan yang berbeda tingkatannya, yang paling
kuat adalah faktor orientasi kewirausahaan, selanjutnya faktor kebijakan publik dan yang paling lemah adalah faktor kompetensi sumberdaya manusia.
Orientasi kewirausahaan menjadi faktor penentu yang paling kuat karena merupakan faktor internal yang paling menentukan kinerja perusahaan, termasuk produk yang dihasilkan. Apabila semua dimensi orientasi kewirausahaan, yaitu proactiveness, innovativeness dan risk taking, melekat pada perusahaan pengolahan ikan dan berlangsung secara terus menerus, maka produk perikanan prima akan sangat mudah dihasilkan.
Sikap proaktif yang dikembangkan oleh perusahaan akan menjadikan perusahaan tersebut mendapat informasi lebih awal dibanding pesaing, sehingga dapat mengantisipasi keinginan, kebutuhan dan permasalahan konsumen. Informasi tersebut dan analisisnya merupakan sumber data untuk melakukan inovasi sehingga daya saing produk yang dihasilkan akan meningkat.
Inovasi banyak berkaitan dengan pengembangan atau terobosan teknologi, terutama untuk menghasilkan nilai tambah dan daya saing yang tinggi. Dalam pengembangan teknologi, terdapat tiga bentuk utama inovasi, yaitu inovasi pengembangan proses dan produk, inovasi pengembangan pengetahuan dan ketrampilan, dan inovasi pengembangan metode dan sistem organisasi (Sharif, 1993). Dengan demikian, melalui inovasi dapat dilakukan pengembangan produk ke arah value added products, sehingga keberlanjutan dan pertumbuhan perusahaan dapat ditingkatkan.
Keberanian mengambil resiko (risk taking) adalah keberanian dalam mengalokasikan sumberdaya dan keberanian mengambil keputusan dalam situasi ketidakpastian. Hal itu sangat diperlukan karena untuk menghasilkan produk perikanan prima, pada tahap awal kemungkinan perusahaan harus mengeluarkan biaya yang relatif besar, misalnya perbaikan fasilitas unit pengolahan ikan, menyelenggarakan pelatihan bagi karyawan dan lain-lain. Sementara itu, dampak positif dari pengembangan produk perikanan prima belum tentu diperoleh dalam waktu dekat.
Kebijakan publik menempati urutan kedua dalam peranannya terhadap pengembangan produk perikanan prima, karena efektivitas pelaksanaan kebijakan publik pada suatu perusahaan pengolahan ikan sangat ditentukan oleh orientasi kewirausahaan perusahaan yang bersangkutan. Hal ini karena secara internasional disepakati bahwa tanggung jawab untuk menghasilkan makanan yang bermutu dan aman dikonsumsi ada di tangan produsen (Huss et al., 2004). Tanggung jawab tersebut menuntut manajemen suatu perusahaan perikanan untuk memahami dan mendukung penerapan HACCP pada unit pengolahan ikan yang dikelolanya. Oleh karena itu, mereka harus memahami manfaat, biaya dan sumberdaya yang diperlukan dalam penerapan HACCP.
Dalam pengembangan HACCP Plan diperlukan persetujuan dari manajemen senior, karena seringkali diperlukan perbaikan atau penggantian/perubahan terhadap konstruksi atau tata letak (lay-out) fasilitas dan perlengkapan yang digunakan dalam proses pengolahan (Huss et al., 2004). Hal ini tentunya dapat menimbulkan biaya dan akan menjadi masalah ketika terdapat keterbatasan anggaran, karena modifikasi apapun yang diperlukan untuk menjamin keamanan pangan harus dilakukan dengan segera.
Pemerintah sebagai salah satu komponen dalam pelaksanaan kebijakan publik juga mempunyai peranan yang penting dalam implementasi HACCP, yakni sebagai fasilitator, enforcers atau pelatih (Motarjemi & Schothorst, 1999). Sebagai fasilitator, pemerintah harus membantu perusahaan dalam memahami tujuan dan cakupan HACCP, serta menyediakan tenaga ahli dalam penyusunan HACCP Plan atau verifikasinya. Sebagai enforcers, pemerintah bertugas mengevaluasi implementasi HACCP Plan. Sedangkan sebagai pelatih, pemerintah harus menyelenggarakan pelatihan dan berpartisipasi dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh dunia usaha. Disamping itu, faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan dalam penerapan HACCP yaitu pengetahuan, sikap (attitude) dan perilaku personil dalam perusahaan juga perlu diperhatikan oleh pemerintah (Gilling et al., 2001).
Semua fungsi pemerintah tersebut akan terlaksana dengan baik, apabila pihak manajemen perusahaan mempunyai komitmen yang kuat terhadap implementasi
HACCP. Komitmen dimaksud tidak akan muncul manakala pihak perusahaan tidak mempunyai sikap proaktif, inovatif dan keberanian mengambil resiko.
Kompetensi sumberdaya manusia menjadi faktor penentu ke tiga karena peranannya dalam pengembangan produk perikanan prima dipengaruhi oleh faktor penentu lainnya. Orientasi kewirausahaan merupakan faktor pendorong berkembangnya kompetensi sumberdaya manusia, karena kompetensi merupakan karakteristik dasar dari seseorang yang memungkinkan orang tersebut mengeluarkan kinerja superior dalam pekerjaannya, sehingga tidak dapat berkembang apabila kondisi lingkungannya tidak kondusif. Kompetensi dibutuhkan oleh seseorang agar dapat melaksanakan tugas secara efektif dan sukses. Hal ini dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, penugasan/pengalaman ataupun bakat bawaan (talent).
Sikap proaktif yang dikembangkan oleh perusahaan merupakan wahana untuk pembelajaran dan mengasah talenta bagi karyawan. Demikian juga sikap inovatif, karena untuk dapat melakukan inovasi diperlukan sumberdaya manusia yang mempunyai ketrampilan, pengetahuan dan motivasi kerja yang memadai. Sementara itu, keberanian mengambil resiko (risk taking) akan mendorong perusahaan untuk mengalokasikan sumberdaya manusia yang berkompeten guna melaksanakan strategi bisnis yang ditempuh.
Kebijakan publik juga merupakan faktor pendorong meningkatnya kualitas kompetensi sumberdaya manusia, karena melalui kebijakan publik pemerintah menetapkan regulasi dan memberikan pelayanan umum. Dalam kerangka regulasi, pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan atau ketentuan yang mau tidak mau harus diadopsi menjadi kebijakan perusahaan. Sebagai contoh, kebijakan tentang penerapan HACCP dalam pengolahan ikan. Kebijakan ini mengharuskan perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan karyawannya mengenai konsepsi dan penerapan HACCP, sehingga kompetensi karyawan yang bersangkutan juga meningkat.
Sementara itu, dalam kerangka pelayanan umum, pemerintah menyediakan program pelatihan, magang dan sejenisnya yang dapat diikuti oleh karyawan
perusahaan pengolahan ikan. Berbagai program tersebut tentunya mempunyai andil dalam peningkatan kualitas kompetensi sumberdaya manusia.
6.2.3 Dekomposisi faktor-faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima
6.2.3.1 Kebijakan publik
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa seluruh peubah terukur pada faktor kebijakan publik berbeda nyata pada taraf 1 %, sehingga dapat ditetapkan sebagai indikator efektivitas pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 tentang Sistem Manajemen Mutu Terpadu Hasil Perikanan. Urutan pengaruh dari seluruh indikator tersebut berdasarkan hasil analisis SEM adalah : (1) dukungan sumberdaya manusia dalam pelaksanaan kebijakan publik, (2) kelengkapan dan kebenaran informasi dalam perumusan kebijakan, (3) dukungan anggaran dalam pelaksanaan kebijakan, (4) rasionalitas tujuan dan alasan diadakannya kebijakan, (5) legitimasi kebijakan yang digulirkan, (6) kerealistisan asumsi dalam perumusan kebijakan, (7) advokatif tidaknya apabila terjadi perbedaan di lapangan dalam pelaksanaan kebijakan, (8) kepatuhan karyawan perusahaan terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam kebijakan, (9) ekspektasi masyarakat terhadap tujuan kebijakan, (10) dukungan informasi dalam pelaksanaan kebijakan, (11) dukungan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan kebijakan, (12) sosialisasi tentang manfaat kebijakan kepada masyarakat, (13) antisipatif tidaknya terhadap perubahan dalam pelaksanaan kebijakan, (14) partisipasi publik dalam pelaksanaan kebijakan, (15) kepatuhan aparat Dinas Kelautan dan Perikanan terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam pelaksanaan kebijakan, dan (16) kepatuhan aparat DKP terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam pelaksanaan kebijakan.
Dalam manajemen publik, sumberdaya manusia tidak hanya sekedar obyek kebijakan, akan tetapi berperan juga sebagai subyek kebijakan. Oleh karena itu, ketersediaan sumberdaya manusia secara memadai, baik dalam jumlah maupun kompetensi merupakan faktor terpenting yang menentukan kinerja kebijakan. Dalam kaitannya dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002
tentang Sistem Manajemen Mutu Terpadu Hasil Perikanan, sumberdaya manusia yang berasal dari pemerintah diperlukan untuk melaksanakan fungsinya sebagai fasilitator, enforcers atau pelatih dalam pengembangan program HACCP yang dilakukan oleh unit pengolahan ikan serta ketentuan-ketentuan lain yang termuat dalam kebijakan dimaksud (Motarjemi & Schothorst, 1999).
Sementara itu, sumberdaya manusia yang berasal dari perusahaan diperlukan untuk melaksanakan semua ketentuan yang tertuang dalam kebijakan tersebut di atas secara konsisten dan konsekuen. Hal ini karena tanggung jawab untuk menghasilkan makanan yang aman ada di tangan produsen (Huss et al., 2004). Bertitik tolak fungsi sumberdaya manusia dalam pelaksanaan kebijakan, maka kasus-kasus penolakan atau penahanan produk perikanan Indonesia oleh negara pengimpor serta maraknya penggunaan bahan berbahaya pada pengolahan ikan dimungkinkan karena kurang memadainya dukungan sumberdaya manusia dalam pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut di atas. Hal itu sejalan dengan hasil penelitian ini, dimana sebagian besar responden ragu-ragu menyatakan setuju terhadap pernyataan bahwa dukungan sumberdaya manusia dalam pelaksanaan kebijakan dimaksud telah memadai.
Dalam penelitian ini juga terungkap bahwa kelengkapan dan kebenaran informasi dalam perumusan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 diragukan oleh responden. Padahal kekurangan dan ketidak akuratan informasi pada saat formulasi kebijakan dapat mengakibatkan kekeliruan atau ketidakcocokan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut (Abidin, 2006). Sebaliknya, kebijakan yang dirumuskan berdasarkan informasi yang lengkap dan benar akan menghasilkan kinerja kebijakan yang baik.
Dalam pelaksanaan kebijakan, dukungan anggaran juga memegang peranan yang penting. Anggaran yang dialokasikan, baik oleh pemerintah maupun perusahaan dalam pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 dianggap cukup memadai. Anggaran yang berasal dari pemerintah digunakan untuk kegiatan-kegiatan fasilitasi, inspeksi, pelatihan dan lain sebagainya.
Sementara itu, anggaran yang berasal dari perusahaan digunakan untuk pelaksanaan GMP dan pengembangan program HACCP (Huss et al., 2004).
Persepsi publik terhadap rasionalitas tujuan dan alasan diadakannya suatu kebijakan juga berdampak terhadap kinerja kebijakan tersebut. Kebijakan yang memberi manfaat bagi kehidupan publik akan dapat terlaksana dengan baik. Hal ini karena pada hakekatnya suatu kebijakan ditujukan untuk melakukan intervensi terhadap kehidupan publik guna meningkatkan kualitas kehidupan publik itu sendiri (Dwijowijoto, 2004).
Dalam kaitannya dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002, tujuan yang ditetapkan adalah untuk mencapai tingkat pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan secara berdaya guna dan berhasil guna serta sekaligus, melindungi konsumen dari hal-hal yang merugikan dan membahayakan kesehatan, praktek-praktek yang bersifat penipuan dan pemalsuan dari produsen, membina produsen serta untuk meningkatkan daya saing produk perikanan. Tujuan ini oleh perusahaan pengolahan ikan dianggap cukup rasional, namun mereka meragukan apakah tujuan tersebut dapat memberi kontribusi bagi pertumbuhan perusahaan.
Legitimasi terhadap kebijakan diperlukan agar dalam pelaksanaan kebijakan tersebut tidak berbenturan dengan kebijakan lain, terutama yang secara hirarki berada di atasnya. Perangkat kebijakan yang terkait dengan pembinaan dan pengawasan mutu serta keamanan produk perikanan antara lain adalah Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000 Tentang Standar Nasional Indonesia dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Peraturan perundangan tersebut menjadi konsideran bagi Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002, sehingga muatan-muatan yang terkandung di dalamnya selaras dengan Keputusan Menteri tersebut.
Sungguhpun demikian, dalam penelitian ini terungkap bahwa asumsi yang digunakan dalam perumusan kebijakan itu dianggap kurang realistis. Padahal suatu kebijakan dianggap berkualitas dan dapat dilaksanakan apabila asumsi yang
digunakan dalam perumusan kebijakan realistis atau tidak mengada-ada. Hal ini barangkali yang menjadi salah satu penyebab belum efektifnya pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002, karena asumsi menentukan tingkat validitas suatu kebijakan (Abidin, 2006).
Dalam pelaksanaan kebijakan di atas, aparat pemerintah (pembina/pengawas mutu) dianggap cukup advokatif apabila terjadi perbedaan pandangan di lapangan. Namun sayangnya pendekatan yang dilakukan pada umumnya bersifat regulatif, sehingga perusahaan pengolahan ikan cenderung hanya memenuhi peraturan atau ketentuan yang termuat dalam kebijakan. Padahal yang diperlukan adalah membangun kesadaran akan arti penting adanya kebijakan bagi kelangsungan dan pengembangan bisnisnya.
Jouve et al. (1998) dalam Huss et al. (2004) mengatakan bahwa TQM (Total Quality Management) mencerminkan pendekatan budaya organisasi dan secara bersama-sama dengan sistem mutu menanamkan filosofi, budaya dan disiplin yang diperlukan untuk membangun komitmen semua orang dalam organisasi dalam rangka mencapai semua tujuan organisasi yang berhubungan dengan mutu. Bertitik tolak dari pandangan ini, pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002, seharusnya tidak bersifat regulatif karena kebijakan tersebut substansinya merupakan TQM.
Secara sekilas, kepatuhan karyawan perusahaan terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 cukup tinggi. Hanya saja seperti yang diungkapkan di atas, kepatuhan tersebut tidak didasarkan atas kebutuhan adanya kebijakan. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan perubahan pendekatan dalam pelaksanaan kebijakan dimaksud.
Hal lain yang sangat penting dalam pelaksanan kebijakan publik adalah bahwa tujuan kebijakan yang digulirkan harus diinginkan (desirable) oleh masyarakat. Suatu kebijakan dianggap diinginkan apabila mendapat dukungan dari banyak pihak, karena kebijakan publik menyangkut kepentingan banyak pihak (Abidin, 2006). Dalam penelitian ini terungkap bahwa tujuan digulirkannya
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 tidak sepenuhnya diinginkan oleh perusahaan pengolahan ikan, sehingga perlu dilakukan reformulasi tujuan atau sosialisasinya ditingkatkan.
Pelaksanaan atau implementasi kebijakan dalam konteks manajemen berada di dalam kerangka organizing-leading-controlling, sehingga ketika suatu kebijakan sudah dibuat maka tugas selanjutnya adalah mengorganisasikan, melaksanakan kepemimpinan dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan tersebut (Dwijowijoto, 2004). Untuk melaksanakan fungsi dimaksud diperlukan dukungan informasi yang memadai, baik menyangkut sumberdaya organisasi, faktor-faktor penghambat, masalah-masalah yang mungkin timbul dan lain sebagainya.
Dukungan informasi dalam pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 sudah cukup memadai, namun apakah informasi tersebut telah dimanfaatkan secara baik untuk melaksanaan fungsi-fungsi tersebut di atas, nampaknya masih patut dipertanyakan. Hal ini karena secara empiris pelaksanaan kebijakan tersebut belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.
Dukungan sarana dan prasarana juga merupakan aspek yang penting dalam pelaksanaan kebijakan, tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai suatu kebijakan mustahil dapat dilaksanakan Dukungan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 sudah cukup memadai, namun nampaknya kebijakan tersebut belum disesuaikan dengan dukungan sarana dan prasarana yang tersedia sehingga pelaksanaannya sering menghadapi kendala. Hal ini karena inti permasalahan dalam implementasi kebijakan adalah bagaimana kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan sumberdaya yang tersedia (Dwijowijoto, 2004).
Sosialisasi tentang manfaat kebijakan kepada masyarakat nampaknya belum dilaksanakan secara intensif, sehingga wajar jika tujuan atau alasan diadakannya kebijakan kurang diinginkan oleh masyarakat. Padahal pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan merupakan salah satu syarat dalam melakukan implementasi kebijakan (Dwijowijoto, 2004).
Dalam pelaksanaan kebijakan juga diperlukan langkah antisipatif terhadap tantangan perubahan di lapangan. Pemerintah sebagai aktor utama dalam pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 dinilai positif oleh perusahaan pengolahan ikan dalam mengelola perubahan. Hal ini antara lain tercermin dari pelibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, karena masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dan seringkali berujung pada perlunya diadakan perubahan.
Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 relatif sudah baik, namun pada umumnya karena dimobilisasi atau diorganisir oleh pemerintah. Partisipasi yang baik adalah yang timbul secara spontan dari masyarakat, karena lebih menjamin efektivitas pelaksanaan kebijakan.
Aspek yang paling lemah pengaruhnya pada faktor kebijakan publik adalah kepatuhan aparat pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hal ini mengandung makna bahwa aktor yang paling menentukan efektivitas pelaksanaan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep. 01/Men/2002 adalah pihak internal perusahaan pengolahan ikan, yakni karyawan. Oleh karena itu, pembinaan dan pengawasan oleh aparat pemerintah perlu dilakukan secara intensif agar kepatuhan karyawan perusahaan pengolahan ikan terhadap ketentuan dalam kebijakan dapat meningkat. 6.2.3.2 Orientasi kewirausahaan
Penelitian ini nampaknya mendukung penelitian sebelumnya karena seluruh peubah terukur pada faktor orientasi kewirausahaan berbeda nyata pada taraf 1%. Peubah tersebut berdasarkan urutan pengaruhnya adalah : (1) tindakan kompetitif, (2) jenis-jenis produk baru, (3) teknik-teknik baru dalam pengolahan ikan, (4) keberanian menghadapi lingkungan bisnis, (5) kepemimpinan dalam riset dan pengembangan, (6) perubahan produk, (7) sikap kompetitif dalam menghadapi persaingan, dan (8) kecenderungan mengambil resiko.
Pada saat ini tindakan kompetitif dalam menghadapi pesaing sangat diperlukan karena persaingan dalam bisnis pengolahan ikan, terutama dalam pengadaan bahan baku, sangat ketat. Persaingan tersebut terjadi karena unit
pengolahan ikan beku di Pulau Jawa dapat dikatakan sudah jenuh mengingat jumlahnya banyak (189 unit), disisi lain pasokan bahan baku semakin terbatas. Oleh karena itu, perusahaan pengolahan ikan harus menerapkan strategi tertentu baik dalam memperoleh maupun memanfaatkan sumberdaya dalam proses bisnis (Penrose, 1959, 1995 dalam Rachmadi, 2005). Strategi yang umum dilakukan dalam bisnis perikanan adalah peningkatan daya beli terhadap bahan baku melalui efisiensi, peningkatan margin dan mengembangkan kemitraan dengan nelayan, pembudidaya ikan dan atau pemasok (supllier).
Dalam penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar perusahaan pengolahan ikan belum melakukan tindakan-tindakan kompetitif sebagaimana disebutkan di atas. Akibatnya sumberdaya yang diperoleh atau dimanfaatkan sangat terbatas, sehingga perusahaan tidak dapat beroperasi secara optimal. Kondisi ini jika berlangsung terus maka perusahaan tidak akan mampu bertahan atau dengan kata lain akan mengalami kemunduran, bahkan berhenti beroperasi.
Jenis-jenis produk baru adalah hasil dari suatu inovasi yang dilakukan oleh perusahaan pengolahan ikan. Kebutuhan dan preferensi konsumen atas produk perikanan yang berkembang secara dinamis, menuntut perusahaan untuk melakukan pengembangan produk (product development). Dengan demikian, kemampuan bersaing suatu perusahaan pengolahan ikan salah satunya ditentukan oleh kemampuannya dalam menciptakan produk-produk baru guna menarik dan mempertahankan konsumen (pelanggan).
Schumpeter (1942) dalam Rachmadi (2005) berpendapat bahwa aktivitas dari inovasi dapat meningkatkan nilai perusahaan dan mendorong pertumbuhan perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, perusahaan pengolahan ikan akan bertahan dan mengalami pertumbuhan apabila melakukan berbagai bentuk inovasi, termasuk diversifikasi produk Namun sayangnya, dalam penelitian ini terungkap bahwa tidak semua perusahaan melakukan langkah tersebut, terlihat dari produk-produk yang dihasilkan, yakni hanya berupa produk-produk konvensional yang masih merupakan bahan baku bagi proses pengolahan selanjutnya.
Teknik-teknik baru (new techniques) yang dikembangkan oleh perusahaan pengolahan ikan merupakan salah satu sikap proaktif dalam mengantisipasi kebutuhan, keinginan konsumen dan permasalahan yang dihadapi konsumen serta antisipasi terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pesaing. Melalui aktivitas ini dapat dihasilkan produk yang memenuhi tuntutan konsumen dan mempunyai daya saing yang tinggi. Disamping itu, perusahaan akan menjadi pionir dalam pengembangan teknologi pengolahan maupun penerapan manajemen mutu.
Perusahaan yang mengembangkan teknik-teknik baru pada umumnya adalah perusahaan yang melakukan pengolahan udang dan tuna. Hal ini terlihat dari diversifikasi olahan udang yang telah mencapai 16 jenis produk dan tuna sebanyak lima jenis produk. Sementara itu, perusahaan yang mengolah komoditas lain secara umum hanya mengolah sesuai permintaan pembeli.
Dalam penelitian ini terungkap bahwa sebagaian besar perusahaan pengolahan ikan cukup berani dalam menghadapi lingkungan bisnis yang sangat kompetitif. Keberanian dimaksud adalah salah satu sikap dari risk taking, karena perusahaan akan masuk dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Dinamika lingkungan industri yang berkembang secara cepat menuntut perusahaan untuk mengalokasikan sejumlah sumberdaya, sementara itu hasil yang diperoleh belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, analisis terhadap lingkungan eksternal (industri) khususnya pesaing, pelanggan dan produk substitusi harus dilakukan secara cermat dan menjadi rujukan utama dalam perancangan bisnis. Melalui analisis tersebut diharapkan setiap keputusan yang diambil benar-benar akan meningkatkan nilai perusahaan.
Kepemimpinan dalam riset dan pengembangan (R & D leadership) yang dilakukan oleh perusahaan pengolahan ikan, terutama yang mengolah udang, sudah cukup baik. Hal ini akan menjadikan perusahaan tersebut lebih unggul dibanding perusahaan lain, karena melalui riset dan pengembangan, perusahaan dapat melakukan technological innovativeness dan product market innovativeness sehingga mampu memanfaatkan kesempatan-kesempatan baru yang muncul di pasar. Perusahaan tidak akan dapat bertahan apabila menerapkan strategi yang sama untuk
untuk jangka waktu yang lama, karena pemahaman continuity (produk maupun proses produksi dapat bertahan dalam jangka panjang) telah diganti dengan discontinuity (produk maupun proses produksi berubah dengan cepat) sehubungan dengan terjadinya pergeseran-pergeseran di pasar sebagai akibat munculnya teknologi baru (Foster & Kaplan, 2001).
Perubahan produk (product changes) adalah hasil dari riset dan pengembangan yang dilakukan oleh perusahaan. Perubahan tersebut diperlukan sebagai respon atas fenomena discontinuity, sebagai implikasi dinamika preferensi konsumen yang berkembang secara cepat. Dalam konteks pengolahan ikan, perubahan produk harus mengarah kepada value added products, karena dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Namun sayangnya, perusahaan pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian pada umumnya melakukan perubahan produk setelah ada permintaan pasar, sehingga akses pasarnya terbatas karena telah ada rintangan (barrier).
Hal lain yang terungkap dalam penelitian ini adalah bahwa sebagian besar perusahaan pengolahan ikan tidak mempunyai sikap kompetitif (competitive posture). Padahal sikap tersebut harus melekat pada suatu perusahaan guna menghadapi persaingan yang semakin ketat. Dalam konteks orientasi kewirausahaan, sikap kompetitif harus diartikulasikan dalam strategi binis yang akan dijalankan. Huseini (2004) mengemukakan bahwa perusahaan yang menganut pendekatan pasar (market based), strategi bersaingnya adalah bagaimana memproteksi pasar dengan cara membuat rintangan agar pesaing sulit memasuki pasar (barrier to entry). Sementara itu, perusahaan yang menganut aliran resources based meletakkan strategi bersaingnya dengan cara menciptakan inovasi melalui sumberdaya yang dimiliki untuk ditingkatkan kemampuan bersaingnya melalui pemilihan kompetensi inti (core competency) sehingga menjadi penghambat bagi pesaingnya untuk meniru (barrier to imitation). Dengan demikian, kompetensi inti merupakan kunci sukses bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan (Maria et al, 2007).
Kecenderungan mengambil resiko sebagai salah satu sikap risk taking tetap diperlukan dalam bisnis pengolahan ikan, meskipun mempunyai pengaruh yang
paling kecil terhadap faktor orientasi kewirausahaan. Kecenderungan ini kurang nampak dalam perusahaan pengolahan ikan, padahal kegiatan produksi yang menghasilkan produk berisiko tinggi, seringkali berpeluang untuk mendapat keuntungan yang besar. Sebagai contoh, pengolahan produk yang siap dimakan sangat rentan terhadap kontaminasi lingkungan sehingga beresiko ditolak oleh konsumen, namun nilai tambah dari produk-produk seperti itu pada umumnya tinggi.
Kondisi di atas dimungkinkan karena sebagian besar pengambil keputusan dalam perusahaan pengolahan ikan bukan pemilik saham perusahaan, sehingga kurang berani mengambil resiko. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hung & Mondejar (2005) menunjukkan bahwa preferensi dalam pengambilan resiko (risk taking) ditentukan oleh status para pengambil keputusan dalam perusahaan. Jika pengambil keputusan adalah seseorang yang memiliki saham dalam perusahaan, maka cenderung lebih berani mengambil resiko.
6.2.3.3 Kompetensi sumberdaya manusia
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa seluruh peubah terukur pada faktor kompetensi sumberdaya manusia berbeda nyata pada taraf 1%, sehingga dapat ditetapkan sebagai indikator peubah laten kompetensi sumberdaya manusia. Urutan pengaruh dari seluruh peubah terukur tersebut adalah : (1) rencana karier bagi karyawan, (2) komunikasi antar personil dalam perusahaan, (3) kesempatan berkembang bagi karyawan, (4) reward bagi karyawan, (5) gaji/upah bagi karyawan, (6) ketrampilan mengenai teknologi pengolahan, (7) pengetahuan mengenai teknologi pengolahan, (8) pengetahuan mengenai HACCP, dan (9) ketrampilan mengenai HACCP.
Rencana karier (carrier plan) merupakan salah satu aspek yang mendorong motivasi kerja, karena seseorang memerlukan kepastian tentang apa yang akan didapat ketika berprestasi. Karier pada hakekatnya adalah mencapai jenjang yang lebih tinggi, sehingga seseorang dapat lebih mengaktualisasikan dirinya dalam rangka membangun kredibilitas. Dengan demikian, berprestasi merupakan suatu kebutuhan seseorang dalam bekerja. Murray (1938) dalam Usmara (2006) memberi definisi kebutuhan berprestasi (need for achivement) sebagai kebutuhan untuk menyelesaikan
sesuatu yang sulit; untuk menguasai, menggunakan atau mengatur sasaran fisik, makhluk hidup atau gagasan; untuk mengerjakannya secepat dan sebebas mungkin; untuk mengatasi hambatan dan mencapai standar yang tinggi; untuk menandingi dan melampaui orang lain; dan untuk meningkatkan harga diri dengan keberhasilan yang mengasah bakat.
Sebagaian besar karyawan unit pengolahan ikan beku menilai bahwa rencana karier yang dikembangkan di masing-masing perusahaan tempat mereka bekerja sudah cukup baik. Hal ini tentunya harus dipertahankan karena akan meningkatkan motivasi kerja.
Aspek lain yang tidak kalah pentingnya dalam membangun motivasi kerja adalah hubungan dan komunikasi antar personil dalam perusahaan. Deeprose (2006) mengatakan bahwa semua peneliti tentang motivasi mengakui kebutuhan manusia akan persahabatan di tempat kerja. Dalam teori Maslow disebutkan bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan kasih sayang. Herzberg (1987) menyebutkan bahwa hubungan dengan manajer, rekan kerja dan bawahan sebagai faktor higieni dan tidak adanya faktor ini menjamin timbulnya ketidakpuasan dalam pekerjaan. Sementara itu, McClelland (1973) mengajukan sebuah teori bahwa kebutuhan primer adalah kebutuhan afiliasi, kebutuhan kekuasaan dan kebutuhan pencapaian.
Dalam penelitian ini terungkap bahwa hubungan antar personil, baik secara vertikal maupun horizontal, dalam perusahaan pengolahan ikan beku adalah baik. Hubungan yang baik dan dapat membangkitkan energi dibangun atas dasar kepercayaan, kepedulian, saling menghargai, saling menghormati dan komunikasi yang berlanjut (Deeprose, 2006).
Motivasi kerja juga dipengaruhi oleh kesempatan atau peluang bagi seseorang untuk berkembang atau tumbuh. Dalam perusahaan pengolahan ikan yang menjadi obyek penelitian, peluang dimaksud ada meskipun tidak besar. Adapun cara yang biasa dilakukan oleh perusahaan adalah dalam bentuk memberi kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan, job-training, magang serta pengkayaan pekerjaan/tugas (job enrichment).
Penghargaan (reward) yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan merupakan aspek lain yang mempengaruhi motivasi kerja, karena dapat memberikan energi kepada karyawan. Deeprose (2006) menyebutkan ada empat alasan reward dapat membangkitkan energi, yaitu : (a) reward menegaskan kembali perasaan memiliki kompetensi karyawan, (b) reward memperlihatkan bahwa organisasi menghargai karyawan, (c) reward merupakan hadiah yang sangat diinginkan oleh karyawan, dan (d) reward memperlihatkan kepada karyawan apa yang dianggap bernilai oleh perusahaan. Dalam penelitian ini terungkap bahwa pada perusahaan pengolahan ikan, pemberian reward bagi karyawan yang kinerjanya baik telah menjadi perhatian pihak manajemen. Disamping itu, gaji/upah yang diberikan oleh perusahaan dianggap telah sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan.
Hal lain yang terungkap dalam penelitian ini adalah bahwa pengetahuan dan ketrampilan karyawan unit pengolahan ikan beku mengenai teknologi pengolahan dan manajeman mutu (HACCP) pada umumnya rendah. Padahal ke dua aspek ini sangat menentukan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produk perikanan prima. Oleh karena itu perlu dilakukan segala upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan karyawan, baik oleh pihak perusahaan maupun pemerintah. Disamping itu, perlu dilakukan evaluasi secara terus menerus terhadap pengetahuan karyawan mengenai HACCP karena hal ini dapat digunakan untuk memprediksi efektivitas penerapan HACCP dalam suatu perusahaan (Carol et al., 2005).
6.2.4 Korelasi antar faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima
Korelasi antar faktor yang paling kuat pengaruhnya terhadap produk perikanan prima adalah korelasi antara faktor orientasi kewirausahaan dengan faktor kompetensi sumberdaya manusia. Selanjutnya, korelasi antara faktor kebijakan publik dengan faktor orientasi kewirausahaan dan yang paling lemah adalah korelasi antara faktor kebijakan publik dengan faktor kompetensi sumberdaya manusia.
Korelasi antara faktor orientasi kewirausahaan dengan faktor kompetensi sumberdaya manusia mempunyai pengaruh paling kuat karena ke dua faktor tersebut merupakan faktor internal perusahaan pengolahan ikan. Lumpkin & Dess (1996) mengatakan bahwa orientasi kewirausahaan adalah suatu proses, praktik dan aktivitas
pengambilan keputusan yang menghasilkan suatu terobosan baru. Sementara itu, kompetensi sumberdaya manusia merupakan karakteristik yang mendasari seseorang yang memungkinkan orang tersebut menunjukkan kinerja superior dalam suatu pekerjaan, tugas atau situasi (Shermon, 2004). Kata kunci dari ke dua faktor tersebut adalah “terobosan baru” dan “kinerja superior”, keduanya merupakan syarat utama dihasilkannya produk perikanan prima.
Korelasi antara faktor kebijakan publik dengan faktor orientasi kewirausahaan menjadi urutan ke dua dalam mempengaruhi produk perikanan prima karena kebijakan publik merupakan faktor eksternal yang berfungsi hanya sebagai pendorong bagi perusahaan pengolahan ikan untuk menghasilkan produk perikanan prima. Disamping itu, kebijakan publik tidak akan efektif manakala perusahaan tidak mempunyai orientasi kewirausahaan yang baik.
Sementara itu, korelasi antara faktor kebijakan publik dengan faktor kompetensi sumberdaya manusia mempunyai pengaruh paling lemah terhadap produk perikanan prima karena ke dua faktor tersebut tidak akan berfungsi tanpa adanya orientasi kewirausahaan.
6.3 Opsi Kebijakan Pembangunan Industri Pengolahan Ikan
Hasil penelitian sebagaimana diuraikan di atas merupakan dasar untuk menentukan opsi kebijakan pengembangan industri pengolahan ikan yang perlu ditempuh oleh pemerintah guna menghasilkan produk perikanan prima. Opsi kebijakan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kebijakan yang berkaitan dengan kriteria produk perikanan prima, dan kebijakan tentang faktor penentu produk perikanan prima. Bentuk-bentuk kebijakan dimaksud diuraikan sebagai berikut : 6.3.1 Kebijakan yang terkait dengan kriteria produk perikanan prima
Seperti telah disebutkan di atas bahwa hasil analisis SEM menunjukkan bahwa daya saing merupakan kriteria produk perikanan prima yang paling menonjol, dibandingkan dengan dua kriteria lainnya, yakni nilai tambah produk serta mutu dan keamanan produk. Oleh karena itu, prioritas utama kebijakan pengembangan industri
pengolahan ikan seharusnya adalah peningkatan daya saing produk perikanan di pasar global.
Sampai saat ini, kebijakan yang didesain secara khusus untuk meningkatkan daya saing produk perikanan di pasar internasional nampaknya belum ada, padahal Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 mengamanatkan bahwa salah satu tujuan pengelolaan perikanan adalah meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah dan daya saing. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan, baik dalam kerangka regulasi maupun pelayanan publik, yang komprehensif mengingat aspek daya saing dalam perdagangan internasional menyangkut daya saing harga (price competitiveness), daya saing teknologi (technological competitiveness) dan daya saing komersial (commercial competitiveness).
Daya saing harga ditentukan oleh interaksi dari empat faktor yang menentukan persaingan harga di pasar dunia, yaitu biaya-biaya input riil (harga bahan baku, tingkat upah dan biaya modal), produktivitas, marjin keuntungan dan nilai tukar. Daya saing teknologi menunjukkan kemampuan dalam menyediakan kapabilitas teknis, karakteristik kinerja yang superior, kehematan energi dan kualitas produk yang dihasilkan. Sementara itu, daya saing komersial merefleksikan kekuatan, kreativitas dan efektivitas dari aktivitas kewirausahaan, termasuk pemasaran dan distribusi serta ketepatan pelayanan yang meningkatkan nilai pembeli.
Berkaitan dengan hal di atas, kebijakan peningkatan daya saing yang dapat ditempuh antara lain adalah :
1. Stabilisasi harga bahan baku melalui introduksi sistim penyangga, guna memperkecil disparitas harga ikan pada saat musim dan pada saat paceklik;
2. Penetapan sistem pengupahan yang proporsional, dalam arti tidak memberatkan dunia usaha, namun tetap memperhatikan kesejahteraan karyawan;
3. Penetapan suku bunga yang kompetitif dengan negara lain; dan
4. Pengaturan distribusi margin yang adil bagi seluruh pelaku bisnis perikanan Sementara itu, kebijakan yang perlu ditempuh dalam rangka peningkatan nilai tambah produk perikanan, antara lain adalah :